Category: Why You Should Series

Why You Should: Learn History

Why You Should: Learn History

Kembali lagi ke serial Why you Should, atau kenapa kamu sebaiknya (tapi gak enak didengar sayangnya), jadi serial ini akan membahas kenapa sebaiknya kamu belajar, atau melakukan sesuatu.

Kali ini, aku akan membahas sejarah, kenapa kamu harus atau sebaiknya belajar sejarah. Karena sebenarnya, orang-orang belajar sejarah biasanya untuk ulangan, dan juga sifatnya menghafal alur waktu, kalender serta tanggal. Padahal, sejarah itu, sebuah pelajaran yang menarik… Karena seharusnya dibahas dalam sudut pandang cerita, bukannya sudut pandang hafalan.

Jadi, pertama-tama aku akan meluruskan sedikit hal ke sejarah yang seharusnya dipelajari, serta mengapa kita seharusnya belajar sejarah.

Sejarah? Apa yang dimaksud?

Gini lho… sejarah itu sekarang biasanya bermaksud ke sejarah menghafal, alih-alih cerita, atau intrik di balik tirai fakta dan tanggal itu. Sedangkan, sejarah bisa dikemas melalui cerita, dan akan menjadi jauh lebih menarik lagi. Tentunya tiada salah dari memasukkan tanggal dan fakta empirik dengan cerita itu, tapi prioritasnya cerita.

Cerita akan lebih menarik dan seharusnya, sejarah itu tentang cerita dan intrik personal, layaknya membaca sebuah riwayat hidup, dengan gaya cerita pribadi serta motif alih-alih tentang menghafal.

Jadi tolong catat, sejarah yang sebaiknya dipelajari dan dibahas adalah sejarah yang fokus ke sebuah orang, atau tokoh dalam kejadian, serta apa yang ingin dicapai, dan dilakukan tokoh itu, persaingan tokoh itu dengan rivalnya, serta juga, motif dan perspektif tokoh tersebut.

Aku sendiri lebih suka melihat hal-hal dalam perspektif seseorang, daripada perspektif sebuah kejadian. Jadi, sekarang mari masuk saja ke artikelnya, dan membahas kenapa sih kita sebaiknya belajar sejarah.

Sebuah sudut pandang baru

Siapa disini yang tahu rumus gravitasi? Gak? Oke, sebenernya dikit sih yang tahu, tapi, mungkin, disini tahu semua siapa yang memunculkan gravitasi, atau mungkin membuktikan adanya gravitasi.

Isaac Newton… Kalau kita belajar tentang dia, kita akan tahu bahwa nyatanya, dia “mungkin” saja cuman kena apel di kepalanya karena dia ngarang itu.

Sebenarnya sih, Isaac Newton itu contoh yang buruk… tapi sudut pandang baru ini bisa saja diambil dari sudut lain. Kita dapat belajar sejarah untuk mengetahui sebenarnya, apa yang terjadi, dan apa yang dipikirkan seseorang.

Misal, perang dunia 1, terpicu gara-gara dibunuhnya pewaris takhta Austria. Siapa yang gak tahu itu? Kebangetan sebenernya kalau gak. Tapi, apakah tahu untuk apa dibunuhnya pewaris takhta Austria? Nah, itu sebenarnya bisa diketahui motif, dan intrik dan koneksinya melalui sejarah. Sudut pandang yang diambil tentunya tidak pasti, dia bukan fakta, atau sebuah dokumen. Sudut pandang ini opini, dan tentunya bisa berbeda-beda.

Tentunya, terkadang tidak semuanya langsung diberi tahu, ada saat dimana kita harus menyimpulkan satu dan lain hal untuk mengetahui fakta itu. Untuk itu, kita akan masuk ke poin kedua…

Menganalisa

Misal, kita membaca barisan ini, (dikutip dari wikipedia, karena, kenapa tidak? semua orang menggunakan sumber itu lagian) [bercanda, tolong, jangan gunakan wikipedia saja, itu buruk], oh dan maaf dalam bahasa inggris.

As related by Livy, in her meeting with Octavian, Cleopatra told him candidly, “I will not be led in a triumph”  but Octavian only gave her a cryptic answer that her life would be spared. He did not offer her any specific details about his plans for Egypt or her royal family. When a spy informed Cleopatra that Octavian intended to bring her back to Rome to be paraded as a prisoner in his Roman triumph, she decided to avoid this humiliation and take her own life at age 39, in August 30 BC. Plutarch elaborates how Cleopatra approached her suicide in an almost ritual process, preceded by bathing and then a fine meal including figs brought to her in a basket.

Plutarch reports that Octavian ordered his freedman Epaphroditus to guard her and prevent her from committing suicide.  However, Cleopatra was able to deceive Epaphroditus and kill herself nevertheless. When Octavian received a note from Cleopatra requesting that she be buried next to Antony, he had his messengers rush to her and break down her door, but they were too late.

Plutarch states that she was found dead, her handmaiden Iras dying at her feet, and handmaiden Charmion adjusting Cleopatra’s diademed crown before she herself fell. It is unclear from primary sources if their suicides took place within the palace or inside Cleopatra’s tomb. Cassius Dio claims that Octavian quickly called on trained snake charmers of the Psylli tribe of Ancient Libya to attempt an oral venom extraction and revival of Cleopatra, but their efforts failed. Although Octavian was outraged by these events and “was robbed of the full splendor of his victory” according to Cassius Dio, he had Cleopatra interred next to Antony in their tomb as requested, and also gave Iras and Charmion proper burials.

Mark Antony sendiri bunuh diri sebelum Cleopatra ya. Dan dari sini sebenarnya gak dibilang kenapa Cleopatra bunuh diri… Tapi apakah bisa dianalisa? Tentunya analisa tiap orang beda-beda. Anggap saja ini latihan menganalisa dan mengambil kesimpulan, apa yang menurutmu benar, apa yang menurutmu jadi motif Cleopatra melakukan bunuh dirinya?

Namun ada saat dimana, sejarah yang empirikal itu, terkesan tidak bisa dipercaya. Itu juga saat kita perlu menganalisanya… Karena sejujurnya, kita gak disitu, kenapa kita mau aja percaya sama itu?

Kembali ke Isaac Newton ya.

Alice, pohon apel yang ada di Kebun Woolsthorpe milik ibunda Newton, menjatuhkan sebuah apel dan memberi Sir Isaac Newton sebuah petunjuk, yang membuatnya terkenal. (Mungkin kalau dia gak membuktikan gravitasi itu ada, yang ada dia malahan dibenci anak SMA karena dia yang nemuin kalkulus)

Tapi apakah fakta ini bisa dibuktikan? Sejujurnya gak bisa sih, Newton bisa aja cuman ngarang fakta dimana dia kena apel di kepalanya, bahkan ada sebuah riset dimana katanya Newton bilang di kerjaannya dia bahwa dia tuh kepalanya gak kebentur apel, dia hanya sengaja ngarang, demi cerita lucu.

Ada kalau gak salah catatannya di catatan miliknya… Dia (Newton) ngarang biar orang jadi inget cerita lucu, dan ada sebuah “gimmick” untuk orang mengingat rumus yang sekarang masih dipakai buatan Newton itu.

Jadi? Hanya sebagai food for thought aja, apakah Newton beneran kena apel di kepalanya?

Melihat gambar keseluruhan

Tentunya, ada banyak hal yang gak lengkap, dan juga terkesan… bolong dalam sebuah, kejadian historikal. Selain melihat dari sebuah sudut pandang baru, kita dapat melihat banyaknya masalah, konflik, dan kejadian yang tidak tampak, atau tercatat dalam sebuah kejadian. Ada contoh yang sudah lumayan umum.

Misalnya, orang Indonesia, BANDUNG apalagi, harusnya cukup tahu bahwa ada konferensi asia afrika di tahun 1955. Nah, itu dilaksanakan di Gedung Merdeka… Tapi ada yang tahu di acara yang megah, dan tentunya menjadi batu pijakan dalam gerakan anti blok, dan anti kolonialisme itu, Bung Karno protes gara-gara Gedung Merdeka “kurang cantik” desain arsitekturnya.

Dia mengadu ke Roeslan Abdulgani karena Ali Sastroamidjojo gak bisa milih arsitek yang cukup sesuai dengan selera miliknya, karena Bung Karno sendiri merupakan arsitek. Jadi, dengan tenggat waktu dua bulan, Sekjen Konferensi Asia Afrika itu, bingung banget. Apakah dia mengambil resiko dimaki sama Ali Sastroamidjojo karena dia memaksakan tenggat waktu cukup parah itu, atau dia mengambil resiko dicurhatin sama Bung Karno yang menurutnya, “Ali tuh, gak punya selera bangunan”.

Ini masalah mendasar, tapi jadi… Ya, gimana ya, lucu gitu nemuin intrik kecil-kecil gini di sebuah acara yang tampaknya super keren itu. Contoh lain dengan sebuah acara historik yang sama (Konferensi Asia Afrika) adalah pas Roeslan Abdulgani ngopi bareng semua pemimpin negara yang ikut KAA. Sambil ngopi, katanya, dia merasa rada panasnya Chou En Lai yang merupakan bagian dari blok komunis, dengan negara yang blok kapitalis.

Banyak lah hal yang kecil-kecil dan jadi kelewat gara-gara sanking besarnya si gajah (agenda historik), kita tuh jadi lupa sebenarnya… Mereka masih manusia, dan mereka, masih melakukan hal yang manusiawi, misalnya, ngopi, berantem, sebel, curhat, dan lain-lain.

Itu yang membuatku masuk ke poin terakhir, dan menariknya juga sama!

Berkenalan dengan si Tokoh

Misalnya, pembaca penasaran sama Al Capone. Tentunya kesan pertamanya, Al Capone itu gangsta, kriminal, pembunuh, serta orang kaya… Tapi, Alphonse Caponi ini, sebenarnya seorang “family man”. Orang dia niat tiap malam masakin spaghetti buat Ibunya yang masih tinggal bareng dia, dan juga 3 kakaknya, serta 3 adiknya.

Kadang, kita tuh suka melewatkan detil yang gak ada kalau kita terjebak dalam stereotipe gangsta pada umumnya. Ini juga alasan kita harus menghindari stereotyping. Tentunya, ini juga alasan sebelum kita menilai orang, kenalan lebih dulu! Gak ada salahnya kok!

Jadi, camkan sebuah cerita dapat membuatmu berkenalan sama si tokoh, dan sejujurnya, sesudah berkenalan sama tokoh-tokoh ini, kamu akan mendapat kesan yang super buruk dari tokoh yang tadinya tampak sangat keren. Atau justru sebaliknya, tokoh jahat dapat memberikan kesan baik sesudah kamu kenalan.

Contoh…

  • Soekarno: Tentunya, siapa sih yang ga ngefans, atau setidaknya berterima kasih dan takjub sama Bung Karno ini? Tapi tahu gak…
    • Bung Karno nyari istri udah segampang minta ajudannya tolong tulisin surat. Bisa-bisa dia dapet istri baru dalam 2-3 bulan sekali.
  • Isaac Newton: Pinter? Tentu, jenius bahkan! Niat? Tentu juga, Newton itu sangat-sangat “driven” dalam melakukan sesuatu. Tapi, dibalik kejeniusan dan niatnya untuk melakukan sesuatu…
    • Newton itu kurang ajar, dia pernah membakar pekerjaan hidup seseorang yang dia benci
    • Newton itu gak punya temen, istri, atau bahkan pacar yang bener-bener deket. Temen deketnya paling… dibawah 5 orang
  • Bram Stoker: Pintar memainkan kata, dan imajinatif, Bram Stoker ini tentunya kadang suka dilupakan dia siapa, tapi Bram Stoker adalah penulis buku Dracula…
    • Ada teori dimana Bram Stoker itu homoseksual, yang direpresi pemerintahan, jadi menulis buku horror dalam format Dracula untuk mengeluarkan… hasrat tak benar miliknya

Sudah cukup yang jelek-jelek dan buka aib-nya, sekarang kita buka yang bagus…

  • Al Capone. IDIH! Serem deh, udah mah kejam, kriminal, serta pembunuh pula
    • Tapi, Al Capone ini selain merupakan family man, juga suka membantu orang-orang yang butuh makan lho! 15% penghasilannya ia pakai untuk membuka sebuah restoran gratis untuk orang-orang yang kurang beruntung. Setiap hari jika ingin makan di Chicago, cukup datang saja ke salah satu restoran gratis miliknya!
  • Attila The Hun. Attila ini pemimpin bangsa Hun yang nomadik untuk menaklukkan cukup banyak dari Eropa… Dengan kejam tentunya, membakar kota, memotong kepala, menyiksa, dan lain-lain.
    • Attila ini meski kejam, memiliki perkaitan dan tali persaudaraan yang sangat kuat. Ia rela mati untuk orang yang ia cintai, dan ia tidak pernah keberatan untuk harus berhenti atau pergi dari rute demi membantu sebangsa Hun juga. Meski ia kejam, dalam lingkaran kecil, ia sangat-sangat baik

Oke maaf, susah nyari contoh untuk orang jahat yang sebenarnya rada baik. Tapi, harusnya udah cukup untuk memberikan alasan ya…

Kesimpulan

Catat bahwa, sejarah adalah perspektif, dia bukan sebuah fakta empirik, meski terkadang dia merupakan fakta… Tidak ada yang namanya suatu opini atau motif yang beneran pasti.

Sejarah itu relatif, tapi solid, dan satu hal yang pasti adalah, kita harus belajar sejarah… Karena itu membantu kita menganalisa, dan mengetahui satu dan lain hal, memastikan kita bisa mengantisipasi hal-hal kejam, atau benar lainnya di alur waktu ini. Sampai lain waktu!