Category: Webstories

Happy Birthday Percy Jackson!

Happy Birthday Percy Jackson!

Selamat ulang tahun bagi karakter tercinta kita yang satu ini!

Ulang tahun ke-berapa? Err…

Seharusnya sih, Percy berusia 12 tahun pada 2005, sekarang berarti 26 di dunia nyata!

Untungnya, Percy di buku Riordan terakhir masih berusia 17. Timeline buku tersebut masih stuck di tahun 2012, bulan Februari jika aku tidak salah. (silahkan salahkan Riordan yang memendekkan timeline dari Son Of Neptune sampai ke Blood of Olympus untuk berlangsung hanya dalam 2 bulan, lalu salahkan Riordan lagi yang hanya memberikan Hidden Oracle ke Tyrant’s Tomb untuk berlangsung hanya dalam 1 bulan)

Happy Birthday Percy!

18th August 2019

Menemukan Kebahagiaan.

Menemukan Kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah salah satu konsep paling membingungkan yang pernah diciptakan manusia.

Di satu sisi, kebahagiaan merupakan hal yang baik, sebuah tujuan yang perlu dicapai dalam kehidupan seseorang. Di sisi lain, banyak orang yang mencari tujuan tersebut (yang tidak ada spesifikasi tujuan yang mudah dimengerti) dan karena mereka mencarinya, tujuan tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Kita menciptakan konsep untuk memberikan makna dan kebahagiaan bagi diri kita sendiri, tetapi karena konsep tersebut sangat sulit untuk dicari, orang-orang malah melucuti makna yang mereka seharusnya miliki tadi, dan tidak mungkin lagi untuk mencapainya.

Jadi, daripada bingung sendirian, kita bingung bersama-sama saja.

Apa sih kebahagiaan?

Inspirasi:

  • Stumbling on Happiness: Daniel Gilbert
  • Hope is F*cked: Mark Manson.

Ignoramus Harmonius

Ignoramus adalah kata dalam bahasa Inggris.

Wow. Jujur, aku mengira itu bukan kata yang nyata, dan hanya slang yang sering digunakan, tetapi… wow.

Salah satu hal terbaik dan termudah untuk mendapatkan perasaan bahagia dan nyaman, adalah dengan mengabaikan sekitar. Iya. Ini hal yang terdengar absurd bagi sebagian orang, mungkin mayoritas pembaca akan merasa, kalau aku mengabaikan hal, aku tidak bakalan…

  • Mendapat hasil atau gambaran yang sempurna sesuai dengan Misal, ruangan ini harus rapih, tiap kali makan harus ada porsi ekstra seandainya ada yang mampir ke rumah.
  • Menjadi orang yang lebih Misal, aku harus focus untuk belajar demi ulangan, dan tidak mungkin aku mengabaikan belajar bukan?
  • Bisa bersenang-bersenang. Misal, Mengabaikan undangan dari temanku untuk ke pesta malam

Dan seterusnya.

Tetapi, kalau ditinjau kembali, dari tiga hal tersebut, ada satu hal yang berhubungan akan semuanya. Semuanya perlu dicapai. Dan seandainya, mereka tidak dicapai, ada perasaan tidak puas, perasaan tidak puas itu muncul juga ke perasaan tidaknyaman, dan jika seseorang tidak nyaman ataupun tidak puas, mereka tidak bahagia.

Kalau kita bisa mengabaikan hal-hal dengan mudah, maka akan semakin mudah baginya untuk merasa puas. Kepuasan bukan kebahagiaan, tetapi, jika seseorang sudah merasa puas, tidak akan ada tekanan lebih lanjut untuk memenuhi kepuasan yang dicari.

Langkah termudah untuk mendekati (mendekati, bukan mencapai) kebahagiaan adalah dengan mengabaikan hal-hal di sekitar anda.

But WAIT!

Sayangnya, kita tinggal di dunia manusia modern. Kita tidak bisa sekedar mengabaikan hal-hal untuk merasa puas dengan diri kita. Itu hal yang bodoh, dan sejujurnya, aku tidak yakin itu sehat untuk dilakukan.

Hal yang lucu adalah, walaupun tidak ada indeks kebahagiaan resmi di Korea Utara, warga-warga Korut merasa bahagia dengan keadaan mereka. Ini adalah tanda yang nyata bahwa materi tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan dan jika seseorang mengabaikan kondisi mereka, dan tidak pernah perlu merasa iri dengan orang lain, mereka akan bahagia.

Coba pikirkan apa yang mungkin terjadi jika misalnya… Warga Korut diberitahu oleh pemimpin mereka (harus oleh pemimpin mereka, perkataan orang lain tidak akan mempan) bahwa di dunia luar ada sekumpulan orang yang mendapat makanan lebih banyak dari mereka, dan boleh mendesain rumah mereka sendiri, dan ya, hal-hal bagus dari dunia kapitalis lah… Mereka mungkin merasa iri. Iri tersebut tumbuh menjadi perasaan tidak puas, dan ketidakpuasan itu menjadi sumber hilangnya kebahagiaan.

Kita tidak bisa 100% mengabaikan diri di dunia luar, maksudku, kita memang masihtinggal di dunia yang cukup kapitalis (bukan dalam sudut pandang serakah, tetapi sudut pandang nilai benda) dan seandainya dunia ini beralih ke sosialisme, baru kita bisa beralih sedikit ke gaya mengabaikan ini.

Sampai dunia ini menjadi sosialis (aku tidak mendukungnya, tolong dicatat, tapi namanya juga what-if) kita masih harus punya perhatian dan dorongan untuk melakukan hal. Tekanan memang diperlukan.

Kepuasan

Kita tidak akan pernah puas selama kita masih merasa iri, dan selama kita masih mencari sesuatu. Seperti kusebut di atas, selama kita tidak merasa puas (dan perlu diingat, perasaan puas adalah sebuah konsep juga, yang mendasari konsep lain yang kita kenal sebagai kebahagiaan) kita tidak akan merasa bahagia.

Sebuah riset untuk memperjelas hal. Sejumlah peserta eksperimen diminta memilih berlibur di salah satu antara dua tempat, dengan harga yang sama. Pulau Avg, dan Pulau Xtreme. Pulau Avg ini memiliki makanan yang enak, kamar yang enak, pantai yang enak, serta pelayanan yang ramah. Pulau Xtreme pada sisi lain, memiliki makanan yang tidak enak, kamar yang sangat enak, pantai yang sangat enak, dan pelayanan yang tidak ramah.

Logikanya, jika peserta diminta memilih lalu menolak satu pulau, mereka akan memilih pulau yang berbeda bukan? Mereka akan memilih pulau Xtreme, dan pada pertanyaan berikutnya, mereka akan menolak pulau Avg, atau sebaliknya, tergantung preferensi.

Konyolnya, hampir semua orang memilih pulau Xtreme, lalu menolaknya kembali.

Manusia mencari hal yang bagus ketika memilih, dan mencari hal yang buruk ketika menolak. Kita akan selalu menemukan hal-hal untuk mengurangi kepuasan kita.

Jadi, apa solusinya? Selain mengabaikan hal-hal kecil? Jangan memilih… 😀

Mencari Makna

Oh boy.

Kebahagiaan merupakan hal yang berhubungan dengan makna. Ada yang tidak setuju? Silahkan komentar.

Jadi, apakah ini akan terdengar aneh, kalau misalnya aku mengingatkan pembaca bahwa semakin banyak perasaan sakit atau perasaan merana yang seseorang rasakan, semakin banyak makna yang dibutuhkan untuk mencari alasan yang mulia dan rasional untuk menghilangkan perasaan merana tersebut.

Faktanya, manusia adalah makhluk sosial, dan juga makhluk yang menciptakan konsep fana untuk membuat diri kita senang.

Makna yang tidak tentu itu dicari dan ditemukan, dan dicari, dan ditemukan kembali, selama kita masih membutuhkannya.

Terkadang, makna dicari bukan sebagai hal atau sumber kebahagiaan itu sendiri, tetapi makna dicari untuk membuat hal-hal di sekitar kita tampak rasional, dan sesudah hal tersebut tampak rasional, tidak perlu lagi penjelasan, karena ketika hal sudah tampak rasional, kita merasa puas, dan dari perasaan puas itu, kita mampu mendapat sebagian dari kebahagiaan.

Huh, pusing gak tuh?

Intinya, manusia mencari alasan untuk membuat hal-hal yang mereka lakukan bermakna, dan masuk akal. Mereka… eh, maaf, KITA akan mencari alasan untuk mendapatkan jawaban dan logika yang rasional sebagai sebuah bentuk dari… placebo untuk mendapatkan kenyamanan akan hal buruk yang sedang dirasakan.

Lain kali anda sedang kesulitan melakukan sesuatu, carilah alasan besar untuk mendasari perasaan buruk anda.

Unik? Gak

Bagaimana kalau aku ingatkan anda bahwa anda merasa terlalu unik.

Apakah anda seperti kebanyakan orang? Jawabannya, tidak. Tentunya, orang macam apa yang akan merasa puas kalau mereka seperti kebanyakan orang.

Apakah kemampuan anda pada bidang di mana anda bekerja lebih baik daripada rata-rata? Jawabannya, adalah iya. Anda merasa seperti itu.

Lucunya. Kalau kebanyakan orang merasa bahwa mereka unik, dan mereka merasa lebih baik dari rata-rata. Tidak ada yang namanya rata-rata.

Sedangkan, kalau kita mengambilnya dari sudut pandang statistik, manusia rata-rata ada lebih banyak dari manusia luar biasa. Peluang anda menjadi manusia luar biasa lebih kecil dari peluang anda menjadi manusia rata-rata.

Tetapi, rasionalisasi manusia kembali menjadi faktor. Manusia berbohong pada dirinya sendiri untuk menghindari percakapan canggung dengan subconscious mereka.

Dan untuk kali ini. Kebohongan tersebut aku terima. Kita tidak akan pernah merasa puas kalau kita menyadari bahwa kita tidak unik.

Dewa-Dewi Yunani vs Romawi

Dewa-Dewi Yunani vs Romawi

Ini adalah tulisan yang akan membandingkan perbedaan antara Dewa-Dewi besar di Yunani dan di Romawi. Dewa-dewi kedua negeri ini cukup berbeda, sebenarnya.

Meskipun bangsa Romawi bertahan jauh lebih lama kebanding kerajaan-kerajaan Yunani, dan di Yunani ada perbedaan bahwa tiap kota memiliki dewa-dewi favoritnya, kedua bangsa tersebut memiliki dewa yang sangat mirip. Hanya saja, pemanfaatan dewa-dewa tersebut cukup berbeda.

Aku hanya akan memasukkan keduabelas dewa-dewi Olympus, plus Hades/Pluto. Kurasa, cukup menarik untuk bisa dinikmati, bahkan jika anda tidak mengikuti mitologi sebanyak aku.

Plus, aku sangat bosan menunggu Tyrant’s Tomb keluar September nanti. (Kalau anda mengikuti Trials of Apollo. Aku siap bertaruh satu paket Oreo isi tiga dan segelas susu untuk mencelup kue-kue tersebut bahwa Frank atau Hazel akan mati, karena… bukunya harusnya keluar pada Mei! Dan tahun lalu, serta tahun-tahun sebelumnya, Riordan juga mengerjakan Magnus Chase, dan ia tidak meminta delay 4 bulan untuk mengeluarkan bukunya. Ya, lebih baik daripada dikerjakan buru-buru dan ceritanya jadi tidak bagus)

Kembali ke topik. Maaf…

Zeus vs Jupiter

Siapa dia? Keduanya sama-sama berperan sebagai Dewa Langit dan Raja para Dewa, memiliki petir, mengatur keadilan di Olympus, dan seterusnya.

Mana yang lebih kuat? Jupiter. Kalau kekuatan Raja para Dewa mengikuti ukuran dan jumlah pengikutnya, pengikut Jupiter di Romawi jauh mengalahkan pengikut Zeus di Yunani. Juga, Jupiter punya gelar Jupiter Maximus, Zeus gak.

Perbedaan Visual: Selain fakta bahwa umumnya dewa Yunani mengenakan toga, dan dewa Romawi mengenakan baju zirah, Jupiter dikenal punya Elang-elang Romawi di bajunya. Simbol utamanya pindah dari petir menjadi elang.

Sebuah figurin dari Jupiter… dan bukan Zeus.

Yunani:

  • Terkenal akan kebiasaannya melakukan tantrum kalau sedang kesal (dengan efek samping menciptakan badai petir) atau memacari cewe cantik karena ia tidak setia dengan Istrinya.
  • Digambarkan bijak tetapi tidak tampak sedikitpun bijak jika ia berada di sebuah cerita.

Romawi:

  • Memacari cewe cantik dan selingkuh dari Istrinya (sama juga sih) tapi dengan alasan menciptakan pahlawan dan prajurit kuat bagi Republik. Nice Save!
  • Lebih bijak, tidak begitu impulsif, tetapi masih memiliki sedikit isu amarah. Para dewa-dewi Yunani dan Romawi butuh Dewi Terapi Keluarga sepertinya. Juga lebih paranoid. (pantas saja ia paranoid. Para Kaisar Romawi banyak sekali yang dibunuh oleh “teman”-nya sendiri)

Hera vs Juno

Siapa dia? Hera dan Juno sama-sama bertugas sebagai Dewi pernikahan, dan keduanya juga sama-sama Ratu Olympus. Istri dari Zeus/Jupiter.

Mana yang lebih kuat? Juno. Alasan yang sama dengan Jupiter.

Perbedaan Visual: Hera terbiasa membawa tongkat dengan logo burung merak, dan kedua simbol utama Hera adalah Merak (makhluk indah dan anggun), serta Sapi (makhluk yang menjaga anaknya dengan baik). Juno, pada sisi lain, lebih menyukai kambing gunung sebagai simbol utamanya. Umumnya Juno digambarkan dengan kepala dari kambing gunung karena para wanita di Yunani digambarkan dengan simbol tersebut.

Yunani:

  • Pekerjaan Hera sehari-hari. Memastikan tidak ada satupun dari pacar Zeus yang sedang hidup senang.
  • Memiliki kebiasaan marah-marah, namun, sebagai seorang Ibu dan Ratu, memastikan tidak banyak konflik di Olympus.

Romawi:

  • Oke, sejujurnya, hampir tidak ada perbedaan langsung di antara keduanya, tapi Juno menjadi sumber penerima doa dari para istri prajurit. Tidak seperti di Yunani. Selain itu, ia menjadi lebih pandai dan tidak begitu banyak marah-marah (selama Jupiter sedang setia). Seperti yang diharapkan seorang Suami yang merupakan prajurit pada kebanyakan Istri mereka.

Poseidon vs Neptune

Siapa dia? Dewa laut, baik di Yunani atau Romawi.

Mana yang lebih kuat? Poseidon. Prajurit Romawi tidak suka dengan lautan. Neptunus menjadi jauh lebih lemah kebanding dengan Poseidon. (ia masih ditakuti, tapi tidak diapresiasi)

Perbedaan Visual: Tidak banyak. Selain perbedaan umum yaitu, Toga vs Baju Zirah, sedikitnya patung Neptune di Romawi tidak begitu membantu.

Yunani:

  • Terkenal akan kemampuannya menciptakan gelombang air, membuat kerajaan yang tidak menghargainya terkena badai serta gempa bumi, dan seterusnya.
  • Sistem kerajaan terpisah di Yunani membuat Poseidon sangat disukai oleh kerajaan di tepian laut. Sebagian besar kota yang memiliki nelayan mempunyai kuil ekstra besar untuknya.

Romawi:

  • Menjadi lebih lemah,tidak mendapat banyak dukungan, dan fakta bahwa Romawi menuntut tiap bagian pasukannya untuk mendukung dewa yang sama membuat Neptune tidak diapresiasi sebanyak Poseidon.
  • Oh iya, anak-anak Neptune dianggap sebagai kabar buruk oleh prajurit Romawi, karena mereka menganggap perjalanan dengan kapal sebagai perjalanan yang memiliki potensi kematian terbesar. Plus, mengingat bahwa Romawi merupakan keturunan dari Troya, dan Poseidon sangat-sangat anti-Troya di perang tersebut… Ya, intinya, orang Romawi tidak bisa menghargai Neptune.

Demeter vs Ceres

Siapa dia? Dewi agrikultur dalam bentuk Yunani, meses coklat dalam bentuk Romawi.

Mana yang lebih kuat? Demeter. Romawi merupakan bangsa berperang. Ketika mereka ingin makan, mereka tidak menumbuhkan makanannya. Ceres tidak begitu diapresiasi kecuali memang dibutuhkan.

Perbedaan Visual: Tidak banyak patung untuk membantuku menjelaskan.

Yunani:

  • Cerita yang cukup umum di Yunani kuno adalah penculikan anak Demeter, Persephone, oleh Hades. Jika anda belum pernah mendengarnya, intinya, resolusi konflik dan negosiasi sesudah penculikan tersebut adalah, para bangsa Yunani tidak bisa menumbuhkan makanan ketika musim gugur.
  • Demeter ditakuti saat musim gugur (ia lagi bad mood, jangan dipaksa), dan ia diapresiasi saat tanaman bisa tumbuh. Orang macam apa yang tidak mengapresiasi dewi yang menumbuhkan makanan.

Romawi:

  • Ya… Warga Romawi tidak butuh makanan dari Agrikultur. Cukup sampai situ saja.

Hades vs Pluto

Siapa dia? Dewa kematian serta bawah tanah dalam bentuk Yunani. Dewa kematian, bawah tanah, dan mineral berharga dalam bentuk Romawi.

Mana yang lebih kuat? Pluto.

Perbedaan Visual: Pluto selalu digambarkan memegang koin emas dan memiliki baju zirah yang dibuat dari emas. Para penyair Romawi selalu menggambarkan Pluto sebagai dewa terkaya di Yunani.

Yunani:

  • Hades menyeramkan. Ia menjaga jiwa-jiwa yang sudah mati, dan hidupnya cukup menderita. Aku tidak bisa dan perlu menjelaskan lebih lanjut tanpa membahas hal-hal menyeramkan, jadi, cukup sampai situ.

Romawi:

  • Sebagai dewa kekayaan dan kematian, para prajurit Romawi yang mengharapkan kematian bagi lawannya, menghargai Pluto lebih banyak daripada para warga Yunani. Oh, dan, Pluto digambarkan sebagai pemilik mafia, jadi, walaupun ia cukup kejam dan creepy, ia tetap kaya. Orang-orang suka uang.

Athena vs Minerva

Siapa dia?Athena adalah dewi peperangan (sisi taktis dan strategi) serta dewi kebijaksanaan. Minerva hanyalah dewi kebijaksanaan saja.

Mana yang lebih kuat? Athena. Ada kota di Yunani bernama Athens untuk mengingatkan anda akan hal tersebut. Plus, Minerva bukan dewi peperangan lagi, jadi, ya…

Perbedaan Visual: Minerva tidak pernah digambarkan sebagai Dewi yang memegang senjata. Iya. Itu sesederhana itu.

Yunani:

  • Athena memiliki sebuah kota dinamakan untuknya, dan dicintai karena menciptakan zaitun yang menjadi sumber ekonomi penting di sebagian besar kota.
  • Athena juga menjadi penerima doa para prajurit dan jendral di Yunani.

Romawi:

  • Minerva hanya dipuja oleh para cendekiawan di Romawi. Bangsa sebesar itu tidak punya banyak cendekiawan, sayangnya.

Seperti di penjelasan… Tidak ada satupun senjata yang para warga Romawi izinkan Minerva pegang.

Ares vs Mars

Siapa dia? Dewa perang!!!!!!!!!

Mana yang lebih kuat? Mars. (gelarnya, Mars Ultor. Ares tidak punya gelar) Tidak perlu penjelasan lebih lanjut.

Perbedaan Visual: Ares lebih menyukai pedang dan perisai, dengan pedang sebagai simbol utamanya. Mars, pada sisi lain, menyukai tombak, kadang menggunakan dua tombak untuk berperang. Baju zirahnya memiliki banyak simbol elang digambarkan untuk menandakan superioritas Republik Romawi. Simbol Mars adalah dua tombak.

Yunani:

  • Ares kasarnya merupakan dewa yang tidak dibutuhkan setiap waktu, bagi kerajaan-kerajaan di Yunani, mereka hanya benar-benar memuja Ares ketika butuh perang. Sebagian besar waktu malah, kekejaman Ares di peperangan tidak begitu disukai para prajurit Yunani, mereka memilih intelegensia dari Athena.

Romawi:

  • Mars, pada sisi lain… Merupakan dewa ketiga paling kuat sesudah Jupiter dan Juno. Jenis perang yang Mars dukung mengambil intelegensia milik Athena, serta kekejaman dari Ares di zaman Yunani. Jika Athena melemah drastis, Mars jadi jauh lebih menyeramkan.
  • Selain itu, Mars juga merupakan ayah dari Romulus dan Remus. Kedua demigod yang menciptakan Romawi.

Sesuai tebakan anda, ini adalah patung dari Mars. Pertama, ada serigala, simbol prajurit Romawi, dan Elang di perisai-nya…

Apollo vs Apollo

Siapa dia? Dewa musik, Dewa pemanah, Dewa… Ah, males ah, buka aja tulisan ini.

Mana yang lebih kuat? Apollo. 😀 Sebenarnya, sama sih, mereka sama-sama kuat, hanya memiliki sedikit perbedaan tugas.

Perbedaan Visual: Hampir persis. (Masalahnya Apollo sering digambarkan tanpa pakaian apa-apa jadi… perbedaan pakaian umum pun, tidak selalu berpengaruh)

Yunani

  • Apollo lebih banyak dipuja oleh para penyair serta para musikus di Yunani. Ia dicintai semua orang, memang betul, namun, pemuja utamanya merupakan penyair, musikus, dan pemanah.

Romawi:

  • Apollo di Romawi tidak sama. Pertama-tama, prajurit Romawi menyukai tombak dan pedang kebanding panah, dan mereka tidak butuh musik sebanyak para orang Yunani. Namun, Apollo tetap dipuja oleh semua orang, dan ia mendapat lebih banyak fans di dewan. Dewan Romawi sangat memuja Apollo karena ia juga merupakan dewa peramal. Lebih dipuja dalam segi meramal kebanding oleh para orang Yunani, karena seluruh Republik Romawi mengikuti ramalan yang sama.

Dionysus vs Bacchus

Siapa dia? Dewa anggur dan pesta pora!

Mana yang lebih kuat? Sama-sama saja…

Perbedaan Visual: Hampir persis. Bacchus pun tidak begitu sering berperang, tetapi ia dicintai dengan caranya sendiri

Yunani:

  • Pesta, drama, dan acara semacamnya merupakan tempat kesukaan Dionysus. Ia berpesta dan berpesta sesering mungkin…

Romawi:

  • Bacchus, pada sisi lain, tidak menganjurkan pesta pora jika tidak ada kemenangan. Intisari perbedaan Bacchus dan Dionysus ada di fakta bahwa Dionysus berpesta sepanjang waktu, dan Bacchus mendorong pesta sebagai bentuk selebrasi akan kemenangan.

Sisanya…

Selain kesembilan dewa tersebut, ada sisa…

Hephaestus/Vulcan (Dewa pandai besi), Hermes/Mercury (Dewa pengantar pesan), Aphrodite/Venus (Dewi cinta), dan Artemis/Diana (Dewi perburuan serta perawan).

Keempat dewa ini, hampir sama persis dalam bentuk Yunani serta Romawi. Mereka tidak punya perbedaan krusial atau semacamnya, dan bisa dibilang bahwa tugas mereka sama pentingnya dalam kedua sisi. Mungkin bentuk Romawi mereka lebih kuat dengan alasan yang sama Jupiter dan Juno lebih kuat, jadi bahkan jika tugas mereka sama, mereka punya lebih banyak pengikut, tapi aku tidak bisa dan juga tidak mau berkomentar terlalu banyak.

Kesimpulan

Oke… Aku sudah cukup banyak menerima orang-orang yang menyatakan bahwa Dewa Yunani dan Romawi sama saja. Gak. Mereka berubah. Cukup parah malah perubahannya bagi sebagian besar dewanya. Banyak sekali orang berpikir bahwa kedua peradaban tersebut sangat similer, padahal budayanya jelas berbeda, alhasil, dewa yang mereka puja juga berbeda… Eesh…

Sampai lain waktu!

What do the Stranger Things Books Mean For The Show?

What do the Stranger Things Books Mean For The Show?

So… Today’s writing will be in English, in consideration of reaching more people, though I might consider a rewrite in Bahasa if there’s plenty of local traffic for the Hit Netflix Show.

All 3 books have been finished by yours truly… within 3 weeks of the third season’s release. (a bit slow by my standards, but still…)

This article contains spoilers for all three seasons, so watch those first if you want to read this article. Oh, and it also contains spoilers for all 3 books. Suspicious Minds, (narrated by Eleven’s Mother, her friends, and Dr. Martin Brenner) being the first, Darkness on The Edge of Town (narrated by Jim Hopper) being the second, and Runaway Max (narrated by none other than Maxine Mayfield) being the third.

This article is purposed to help those who don’t want to bother buying and/or reading the book but wants to know the plots revealed and the potential seeds for a story in the fourth season that are revealed in this book.

Enjoy!

Suspicious Minds.

Written by Gwenda Bond.

This book takes place at the year 1969 and 1970. It does not alternate in timeline, but it does have multiple characters narrating the story.

This book exploits and creates the most plotlines when compared to the other two books, being set way before the first season and before Eleven’s birth.

The main plotline explains how Dr. Martin Brenner experiments on a bunch of girls, mostly at college level, as he uses his tech and knowledge to create potential weapons. Among the three experimented girls (do note that they receive a decent sum of money and had no idea they had a sociopathic, insane doctor leading the experiments) are Gloria Flowers, Alice Johnson, and Terry Ives, who is El’s mother, and is now insane and deeply traumatized thanks to some of the events that occurred in this book. That Martin Brenner, what a nice guy!

It explains how Kali, also known as Eight, (made an appearance in season 2, when El ran away, you should already know that) managed to see Brenner’s lab in Hawkins as evil, and how she was kept in custody. Kali was also trained by Brenner, and she was mentioned by Terry when visited by Hopper and Joyce in the second season. So, that’s good news, Kali escaped.

Those three girls eventually gained some psychic/strange/mental powers, which includes peeking into the future, and Astral Projection, (the thing that El does to look for someone using a blindfold and static noise) it is also noted that these 3 girls played a role in El’s powers.

They peeked into the future at some points, and saw El. In the future, which caused them to assume that Brenner has a second child in captive. So, this naturally sparked their curiosity.

After receiving experiments, and forms of ways to activate mental powers, and also seeing how Kali is kept captive through face to face meetings in the lab and (DUH!) Astral Projection, they realized something’s wrong… (took them a while)

They obviously snuck around the lab in an attempt to cut themselves loose of Brenner’s experiments and free Kali, as they did this, they happened to meet some files. Files of a Project INDIGO and a Project Mk ULTRA. The project INDIGO involves 10 of Brenner’s subjects, from Project 1-10. Project Mk ULTRA however, was about administering electric shocks to the potent Alice Johnson in an attempt to trigger mental powers.

These Project INDIGO files aren’t revealed, because of something I like to call a Writer’s excuse… (you know, the story forces the protagonist to rush, while in reality the writers are trying to hide stuff for future plotlines, so only some are revealed, we writers like doing that, wink, wink)

There are no subject 11, at least not yet, and the girls assumed (correctly) that they saw a glimpse of the future. They got a look at Kali’s files, and encountered information that revealed Kali’s powers.

At the climax of the book, as well as the end, three important things happened. The girls cut loose of their bonds with Brenner, Alice Johnson fled to Canada with Terry Ives’s help. And lastly… Terry gave birth to Jane Ives (fathered by her Boyfriend, Andrew Rich, who died in Vietnam) AKA Eleven, who was taken by Brenner, and receives mental training, isolation, and abuse. Brenner is officially Father of the Year here.

Plotholes

The reveal of projects 9 and 10, maybe 1-7 as well, the return of Alice Johnson, and/or Gloria Flowers, as well as their psychic friend that helped, Ken. Also, the rest of Project Mk ULTRA being revealed. I would want that.

Darkness on the Edge of the Town.

Written by Adam Christopher.

I’ll just skip most of the story since they don’t really matter to the canon Stranger Things world. However, since Jim Hopper does die (unless he comes back, stupid cliffhangers!) in season 3, if you want to get some El and Hopper moments, and some more badass cop moments, read this book.

It has 3 narrators, Hopper, Lisa Sargeson, a psychic/psychologist, and Hopper’s partner, Rosaria Delgado. It’s timeline alternates when Hopper has some flashbacks, or when Eleven, who is hearing this story from Hopper at during Christmas, 1984, asks a question. Main timeline, year 1977.

It tells about Hopper’s exploits in New York City, when he still had his daughter Sara, and he and his wife, Diane, is together.

Point is. He tries to catch an insane serial killer + cult leader named Saint John. Saint John’s biggest plan is to destroy New York City, and Hopper stopped him.

During the way, he does meet a special agent, and his case was stopped by this special agent, but Hopper being Hopper kept pushing on, and… he was told to go undercover and pretend to be a… Runaway cult member.

He blew his cover during the Saint John Cult (name of this organization, Vipers) /Gang -because being a cult leader is not enough for the guy- so called Armageddon and he helped kill him when his partner was endangered.

Saint John happens to be a War Veteran who actually believed in the Day of The Serpent, or his version of Armageddon lead by Satan himself, and is not just using that story to inspire hope and fear to his followers.

It is a thrilling tale, and I do suggest you just read it. At certain points of the story, Hopper told El that Rosaria Delgado survived, and they had a happy-ish ending as partners, and Hopper also had a happy ending as a Father and Husband. Okay, at least… before Sara died, and… yeah, so, it was partially happy.

Come to think of it, Guy’s a lot like Hercules. A miserable dude with anger issues who loses his family and goes insane and more miserable as he tries to redeem himself.

Plotholes

The most obvious plothole to leak out of this book is the return of Rosaria Delgado in the wake of Hopper’s death. That is, if Hopper IS dead… I think it’s the only one that’s explicit here. Maybe some of the surviving gang members that befriended Hopper and helped him might also return… but… you know, I’m not taking any chances.

Runaway Max.

Written by Brenna Yovanoff

Apparently. This book is very short. And it is only narrated by Max.

It’s not even half the length in words to the other two books.

The book is a bit complicated to explain, it does alternate a bit in timeline, but it mostly revolves during the events of the second season of Stranger Things. It retells the story, but in Max’s point of view.

I’ll just tell you the key points.

  • Max’s father is a guy who makes Fake ID’s and also arranges sport bets. He lives in San Diego, and Max goes to her mother during the divorce.
  • Max might dislike Billy, but, apparently, he sees his stepbrother as a womanizing jerk who happened to protect him when needed, and is usually right when he makes a point. Kind of like Barney Stinson from HIMYM if you ask me…
  • Billy receives lots of torture and physical abuse from his dad. Thought you might want to know. Considering… He’s dead. And if you’re also confused why the heck did Max cry when he resented and disliked his stepbrother anyway.
  • Max tries to run away right before the incident that involves Steve, Dustin, and Lucas attempting to burn a demodog down. She doesn’t believe the existence and the stuff Lucas told her. So, it’s a good thing Lucas came just in time to show her proof.
  • Most of the book doesn’t have much to add to the story, but it does seem enticing to try and hear it from her Point of View.

Plotholes

The only important one is when Max ran away, and just before she did, Lucas came knocking down her window to prove his story regarding the Upside Down and the Demodogs.

So, enjoy, and I certainly hope you guys got helped by this article, and saved some reading time! Until next time!

 

Antifragility Concept

Antifragility Concept

Manusia semakin menyukai adanya kekacauan.

Dengan adanya kekacauan, ada hal yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mendapat keuntungan, dari orang-orang yang berusaha meminimalisir kekacauan tersebut.

Tulisan hari ini akan erat kaitannya dengan konsep Disruption dan Zombie Company yang diperkenalkan oleh Rhenald Kasali, serta dengan konsep Anti Fragile dari Nassim Nicholas Taleb.

Selamat menikmati.

Braaaaains.

Zombi. Oke, aku tahu ini kata serapan, jadi tolong jangan komentar Ba-Bi-Bu dulu kalau aku mengejanya gak pake E ya. Eesh.

Sebelum aku bisa masuk ke konsep anti fragile yang agak (mungkin ada yang bilang sangat) membingungkan itu, ada sebuah konsep filosofis dan ekonomis lain yang perlu dimengerti.

Konsep disrupsi dari Rhenald Kasali ini meminta orang-orang yang memiliki bisnis untuk mengganggu bisnis lain, atau memiliki bisnis yang terganggu. Konsepnya sendiri cukup sederhana, namun Kasali telah mengadaptasi konsep ini menjadi Self-Disruption, dan banyak orang juga berusaha mencari cara untuk terus mendisrupsi (dalam konteks positif) diri untuk meningkatkan produktivitas.

Disrupsi sendiri merupakan kata yang amat sangat sederhana bukan? Sebuah gangguan. Mau seberapa kecil gangguan itu, atau seberapa besar gangguannya, artinya akan bermakna.

Kita melihat bisnis-bisnis tua macam Taksi Blue Bird menerima disrupsi yang berat karena ia merasa terlalu nyaman dengan gaya mereka yang lama itu, dan akhirnya mereka menjadi tidak tergunakan lagi di era Go-Jek dan Grab ini.

Kita melihat restoran mengambil disrupsi secara positif dengan lebih konservatif dalam menyewa jasa antar makanan karena adanya Go-Food.

Intinya, disrupsi memaksa bisnis-bisnis untuk terus berkembang dan terus memiliki hal baru untuk menghindari adanya bisnis baru yang lebih baik lagi.

Tidak seperti konsep anti-fragility, tetapi, Disrupsi bisa muncul dari perusahaan “Zombi” . Dalam kata Rhenald Kasali sendiri, perusaahan zombi adalah perusahaan yang hidup dan bermanfaat juga tidak, namun tidak mau mati.

Disrupsi paling mendasar dari perusahaan zombi ini mulai dari fakta bahwa mereka membuatbranding, konsumen, dan persentase ekonomi yang termakan. Sampai ke hal-hal yang lebih kompleks seperti ekonomi bertumbuh lebih “lambat” dan memakan ruang yang bisa dimanfaatkan perusahaan baru tumbuh di reruntuhannya

Perusahaan zombie (oke, aku menyerah, terima kasih autocorrect) ini bukan hanya mengambil ruang dan tempat secara ekonomis dari sebuah perusahaan baru untuk bertumbuh, tetapi juga jadi sumber disrupsi dan lokasi dimana terjadinya disrupsi tingkat berat terjadi.

Disrupsi menciptakan ketidaknyamanan, dari ketidaknyamanan itu, manusia akan mencari cara untuk membuatnya tampak lebih nyaman, dan bertumbuh lebih baik. Seperti yang kita telah lakukan selama manusia tumbuh menjadi spesies dominan di bumi ini.

Disrupsi positif

Tidak semua disrupsi berasal dari hal yang negatif.

Faktanya, juga ada disrupsi yang positif. Disrupsi positif ini diperkenalkan Kasali sebagai Self-Disruption. Dengan mencari kesalahan di diri sendiri, kita menciptakan ketidaknyamanan yang akan mendorong kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih baik.

Dari disrupsi diri sendiri ini, kita bisa menjadi orang yang lebih baik, mulai dari sebuah perusahaan menemukan inovasi baru, (seperti misalnya, pencipta OVO kesulitan membayar makanan ketika sedang buru-buru dan menunggu adanya kembalian, jadi mereka menciptakan Electronic Currency untuk mempermudah proses tersebut) hingga orang-orang memiliki produktivitas yang lebih baik.

Sebelum membahas anti-fragility, ini ada pesan sponsor sedikit, bagaimana cara meningkatkan produktivitas? (P.S. ini sebenarnya bukan pesan sponsor di mana aku dibayar untuk menuliskannya, jadi jangan langsung scroll karena takut ada seminar apa ngiklan di sini)

Disrupsi yang paling sederhana dan termudah untuk dilakukan adalah disrupsi yang diarahkan ke diri kita sendiri. Anggap anda seorang penulis, yang kesulitan menuliskan lebih dari 2000 kata dalam satu hari. Apa yang dapat anda lakukan sebagai manusia untuk meningkatkan produktivitas anda?

Anda akan mencari, dan kalau dalam kasusku, sepertinya itu terjadi karena aku sering malaweung (Bahasa Belanda ya :P) ketika menulis, dan aku mematikan jam-jam dan momen-momen di mana aku produktif untuk malaweung.

Kadang ini bisa dipecahkan kopi, tapi itu ada efek samping di mana malamnya aku baru tidur pukul 1.00 pagi (kadang 1 jam lebih cepat sih, tapi ngerti lah maksudnya) dan aku menghabiskan pagiku (yang seharusnya juga bisa produktif) untuk mengumpulkan tenaga dan kembali fokus.

Kopi menjadi solusi jangka pendek yang bagus, aku mungkin bisa meningkatkan produktivitasku secara jangka pendek hingga 2 kali lipat, mencapai 4000 kata dalam satu hari.

Tetapi esok harinya, jumlah kata tersebut turun menjadi 1000 karena adanya jam produktif yang terlewat. Plus aku tidak boleh dan tidak mau minum kopi 2 hari berturut-turut, meski itu punya potensi meningkatkan produktivitas.

Mungkin memang cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan meminimalisir distraksi. Seperti menulis dengan mouse yang baterainya penuh, dan wireless jadi tidak terganggu oleh kabel, mematikan internet untuk menghindari adanya distraksi dari artikel-artikel,pastikan laptop sudah tercharge penuh ketika sedang menulis, eh bentar, aku harus charge dulu, sisa 17% batre-nya nih… bentar, bentar…

Nah, dari sini, kita bisa melihat bahwa satu disrupsi kecil saja berarti banyak ya. Self-Disruption sederhana seperti ini saja sudah menunjukkan bahwa dengan mencari kesalahan di diri kita sendiri, kita akan berusaha untuk menghilangkan kesalahan tersebut, dan meningkatkan produktivitas.

Aku mulai meningkat kata-kata per hari kalau aku sedang mood dan punya ide untuk dituliskan. 3000 kata secara konstan bukan angka yang buruk kan? Morgan Stark juga bilang-nya I Love You 3000.

Dan aku terdisrupsi karena sekarang aku sedih karena Tony Stark mati. Gee, thanks Marvel.

Finally! An Avengers End Game reference!

Ehm, ke konsep Anti Fragile!

Anti-Fragility

Konsep Anti-Fragility milik Nassim Nicholas Taleb ini cukup rapih penjelasannya hingga dalam mataku ia bisa hidup di dunia yang penuh dengan disrupsi seperti yang diusulkan Rhenald Kasali.

Anti-Fragility sendiri merupakan sebuah konsep bisnis atau orang yang mengambil keuntungan dari adanya disrupsi, dan mereka secara tidak langsung membuat diri mereka imun dari disrupsi lain, karena mereka hanya bisa hidup dalam kekacauan.

Start-Up sendiri saja yang banyak orang ingin bikin itu punya angka sukses yang buruk sekali. Namun masih banyak orang yang membuatnya karena selalu ada kekacauan untuk dibereskan, dan toh, jika mereka gagal, tidak akan ada banyak kekacauan yang tumbuh dari situ. Mereka tumbuh dari adanya kekacauan, dengan harapan menghilangkan kekacauan tersebut, tanpa bisa dikacaukan.

Mereka tidak kuat ataupun kokoh, tetapi di saat yang sama mereka tidak akan pernah menjadi bisnis atau orang yang rapuh.

Tidak semua bisnis baru yang didesain dengan konsep anti-fragile ini dapat tumbuh dengan sukses, justru lebih banyak yang tumbang malah, tetapi jika anda dapat menjadi bisnis anti-fragile yang sukses, anda aman. Anda sudah masuk di fase di mana anda imun dari gangguan, meski mungkin saja hanya untuk sementara.

Bisnis anti-fragile sukses dapat tumbang atas kekacauan yang begitu besar, atau justru tumbuh lebih banyak karena adanya kekacauan tersebut. Sebagai contoh, dengan adanya marketplace dan perusahaan macam Bukalapak, dan Tokopedia, ada 2 bisnis anti-fragile yang sudah terlalu nyaman, dan akhirnya mereka mendapat disrupsi. Yang satu bertumbuh, yang satu malah melambat.

Dengan adanya E-commerce, tempat belanja jelas mulai terhambat, mereka yang tadinya sudah anti-fragile dapat bernafas dengan aman. Semua orang butuh (atau setidaknya ingin) berbelanja. Mereka imun karena banyaknya kekacauan seperti itu terjadi. Lalu, imunitas mereka hilang, dan dari kekacauan yang sebelumnya mereka nikmati itu, mereka terhambat.

Bisnis anti-fragile satunya lagi yang justru terdukung oleh E-commerce adalah bisnis kurir. Sebuah bisnis yang sekarang makin imun dan akan semakin anti-fragile. Kekacauan dalam keinginan orang-orang menerima benda baru, atau paket sesegera mungkin meningkatkan pemasukan mereka, karena jasa yang mereka tawarkan dekat ke tidak tergantikan. Mereka tumbuh dari kekacauan dan menerima kekacauan tersebut secara positif, dan sekarang, mereka imun dari kekacauan tersebut.

Anti-fragility adalah sebuah konsep yang sangat abstrak, dan ini hanya interpretasiku padanya, semoga ini cukup untuk membuat anda mengerti.

Sampai lain waktu!

 

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Sudah lama kayanya ya sejak ada tulisan mitologi. 1 tahun? Lebih? Anyway, dengan pengecualian tulisan mengenai The Burning Maze tulisan Rick Riordan, kayanya aku perlu menambahkan satu atau dua tulisan mengenai mitologi di sini.

Serial ini tidak terbatas ke Dewa-dewi yang umum anda temui, seperti Zeus, atau Ra, atau Thor, dan seterusnya, tetapi juga akan membuka jembatan ke dewa-dewi yang tidak begitu umum, macam… ya, nikmati saja dulu episode ini ya.

Oke, pertama-tama, sebagai pembuka serial, aku akan masukkan dewa Yunani favoritku, Apollo. Jika anda bertanya kenapa aku menyukai Apollo, alasannya ada banyak, tapi alasan utamanya sebenarnya cukup sederhana. Untuk seorang dewa lelaki, Apollo sangat feminin. Aktivitas favoritnya termasuk (tapi tidak terbatas ke) bermain musik, menulis puisi, dan juga memanah, yang merupakan metode bertarung yang sangat tidak “manly”.

Selamat menikmati.

Bagaimanakah dia bisa menjadi dewa?

Oke, ini akan menyulitkan. Ayah Apollo tidak lain dari Zeus, dan ibunya merupakan seorang Titan (sejenis dewa yang lebih kuno dari para dewa-dewa Olympia) bernama Leto, yang menjadi dewa para Ibu di Yunani sesudah drama kehamilan panjang lebar di bawah ini.

Seperti yang banyak orang ketahui, Zeus adalah (secara tidak resmi) dewa poligami di Yunani kuno. Jumlah pacar yang ia miliki sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat… banyak. Mungkin anda akan mendebat dan mengingatkanku bahwa itu hanya cara interpretasi para penulis mitologi di zaman dahulu kala karena banyak orang mengaku bahwa mereka adalah anak Zeus, tetapi bahkan jika kita tidak menghitung anak-anak Zeus dengan seorang manusia, pacar miliknya tidak sedikit.

Leto dan Zeus memutuskan untuk memiliki anak, dan ya, Leto hamil…

7 bulan kemudian sesudah Leto hamil dengan KEMBAR, ia menyadari bahwa ia sudah sampai ke fase melahirkan. Lalu Apollo lahir. Happy Ending! YAY! Oh, sebentar, ini mitologi Yunani, selamat menikmati plot twist brutal.

Ha. Terima kasih sudah menambah bebanku menulis cerita ini.

Perjalanan Apollo menjadi dewa di Olympus sebenarnya rumit, karena ibunya memiliki masalah kehamilan yang termasuk keliling dunia saat hamil, dikejar-kejar ular piton yang katanya gede banget, masuk ke gua yang berada di tengah-tengah Yunani kuno, dan tentunya, mencari sebuah pulau yang punya kemampuan teleportasi karena pulau itu satu-satunya pulau yang bisa menjadi tempat melahirkan bagi ibunya.

Leto tentunya menghadapi kutukan dari Istri Zeus yang sudah merasa muak akan ketidaksetiaan suaminya. Jadi, tentunya, karena suaminya tidak mungkin dihukum begitu parah, ia melakukan hal yang paling wajar. Ia melampiaskan amarahnya ke pacar suaminya.

Leto dikutuk, tentunya. Tidak ada satupun pulau, atau tanah yang memiliki akar, yang boleh menjadi tempat untuk melahirkan bagi Leto. Langit, lautan, dan juga dunia bawah tanah juga tidak bisa digunakan, karena ketiga penguasa daerah itu juga takut dengan Hera. (Zeus, Poseidon, dan Hades tidak ingin masalah dengan ratu para dewa tentunya… Terutama bagi Zeus yang cukup apes untuk memiliki istri yang galak seperti itu)

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia mencari tempat perlindungan di gua milik ibunya, Phoebe. Phoebe adalah seorang Titan yang mampu melakukan peramalan. Namun, sayangnya, gua tersebut dihinggapi seekor ular piton raksasa bernama Python karena tidak ada nama yang lebih kreatif dari itu.

Jadi, Leto kabur.

Dalam kondisi hamil kembar 7 bulan.

Dikejar-kejar seekor ular python raksasa.

Tanpa ayah dari kedua anak tersebut.

Dan dalam beberapa versi, juga dikejar kanibal raksasa yang dikirim oleh Hera. Untungnya aku baik, jadi dalam versiku, Leto tidak dikejar kanibal raksasa yang dikirim Hera.

Sesudah menerima ramalan yang berisi Syarat dan Ketentuan dari kutukan Hera, Leto menyadari bahwa hanya ada satu tempat dimana dia bisa melahirkan. Di sebuah pulau bernama Delos. Pulau tersebut merupakan satu-satunya pulau yang tidak memiliki akar.

Sayangnya, menurut hukum sains zaman baheula di Yunani, pulau yang tidak punya akar akan tertiup dan tergeser posisinya tiap harinya, dengan mudah ombak dapat menghempaskannnya dan memindahkannya.

Jadi akan butuh waktu yang sangat panjang untuk menemukannya.

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia membayar seorang pelaut, dan memintanya untuk berlayar sampai Delos dapat ditemukan.

Lalu Delos ditemukan. Cerita Apollo lahir sudah beres, Apollo dilahirkan di situ, bersama kembarannya, Artemis, dan kelahirannya disaksikan para dewi Olympia minus Hera.

Begitu lahir, Apollo langsung meminta sebuah gitar, dan sebuah busur serta panah.

Hal pertama yang ia lakukan? Bermain musik untuk mengisi keheningan di dunia ini, dan ia menjadi dewa terpenting bagi para seniman di dunia.

Oh iya, untuk orang-orang yang ingin tahu tanggal lahir Apollo. Tanggal 7, bulan 7, ketika ibunya hamil 7 bulan. 7 menjadi angka yang sakral bagi Apollo.

Ada beberapa versi menyatakan Artemis lahir terlebih dahulu dan membantu kelahiran kembarannya, dan juga ada beberapa versi dimana Apollo lahir sebelum Artemis lahir, dan ia memainkan sebuah lagu untuk menenangkan ibunya. Pilih saja yang mana.

Sesudah itu, Apollo melakukan hal yang dewa apapun akan lakukan sesudah lahir tentunya. Ia membalaskan dendam. Ular Piton yang tadinya mengejar ibunya ketika hamil… Woosh, ia bunuh dengan sekejap. Ia terbang ke depan gua di mana ular tersebut tidur, dan menembaknya dengan sebuah panah. Masalah selesai, ular tersebut mati!

Sesudah itu, apa yang ia lakukan? Ia terbang ke Gunung Olympus, rambut pirangnya berkilau, dengan gitar (karena Lira yang menjadi simbolnya belum diciptakan) di satu tangan, dan busur serta panah di tangan yang lain, menggedor pintu, dan meminta kursi Dewan Olympia.

Tiada yang berani menolak. Apollo tampak seperti seorang dewa, dan tentunya ia menjadi dewa yang amat penting. Artemis juga mendapatkan kursi dewan, namun dengan metode berbeda, dan aku tidak ingin mengetik terlalu banyak tentang itu.

Oke, dari lahir hingga ia menjadi anggota dewan Olympia. Sekarang, mari kita lihat hal-hal yang Apollo lakukan, dan seperti apakah tingkah lakunya?

Kepribadian, dan kekuatan.

Apollo adalah dewa laki-laki yang paling moody yang anda akan temukan.

Selain menjadi seorang dewa yang punya begitu banyak kekuatan dan domain kekuasaan, Apollo juga merupakan dewa yang sangat bergantung pada mood-nya untuk melakukan sesuatu. Ia dapat dengan mudah terdistraksi, dan ia juga dewa yang sangat sering melakukan hal yang ia sesali di kemudian hari.

Sama seperti tema angka 7 tadi, domain kekuasaan utama Apollo ada 7.

Musik, Memanah, Puisi, Ramalan (ceritanya panjang), Penggembalaan, Obat-obatan, dan Matahari.

Oh, Apollo dan Artemis juga merupakan dewa paling dihormati di Troya, jadi keduanya berperan cukup banyak dalam menjaga bangsa tersebut ketika sedang diserang oleh Prajurit Yunani.

Apollo sendiri baru menjadi dewa matahari sesudah banyak warga Yunani dan Romawi yang kebingungan dan menyalahkan dirinya sebagai dewa Matahari. Memberikan tugas tersebut dari Helios, ke Apollo. Apollo yang sangat flashy sebagai dewa membingungkan para raja Yunani kuno.

Mengingat bahwa ia sangat mudah bosan dan sangat Moody, (ia dapat dengan mudah terperangkap dalam satu emosi dan melupakannya beberapa hari kemudian) mari kita rekap beberapa kebodohan yang ia telah lakukan, dan emm, coba evaluasi sendiri mana yang kira-kira ia sesali.

  • Memerintahkan dan mengarahkan panah dari Pangeran Paris ke tumit dari Achilles.
  • Menguliti seekor/seorang Satyr (setengah kambing setengah manusia) bernama Marsyas karena ia kalah padanya dalam sebuah pertandingan musik.
  • Mengutuk Eros, (atau lebih dikenal dengan nama Cupid) dan menghinanya.
  • Mengejar seorang nymph bernama Daphne yang dikutuk oleh Eros untuk tidak pernah mencintai Apollo.
  • Mengusir dewa angin bernama Zephyros ketika sedang rebutan perhatian untuk seorang pasangan. Pasangan tersebut mati keesokan harinya karena Zephyros mengendalikan angin untuk melemparkan sebuah piringan besi ke pinggiran kepala pasangannya.
  • Dan masih banyak lagi.

Apollo begitu keras kepala dan sangat meledak-ledak ketika melakukan sesuatu hingga ia tidak dapat fokus dan serius seratus persen dalam melakukan sesuatu.

Selain itu, Apollo yang sudah jelas inkonsisten ini sering melakukan banyak hal yang ia tidak ingin lakukan, hanya karena mood-nya sedang jelek.

Sekarang, anda ingin menanyakan kenapa aku masih menyukai dewa ini?

Meski ia sangat moody, Apollo banyak disukai orang. Orang-orang akan selalu membutuhkannya, kapanpun, dan dimanapun.

Seorang seniman jelas membutuhkannya, seorang petani membutuhkannya karena ia dewa para gembala juga, seorang jendral membutuhkannya untuk memberikan keberuntungan bagi para pemanahnya dan para mediknya, dan terakhir, seorang raja juga membutuhkannya karena dia dapat memberikanmu informasi tidak jelas akan masa depanmu.

Apollo disukai warga Yunani dari pangkat apapun, dan apapun pekerjaannya.

Selain itu, walau Apollo moody dan sombong, ia bukan dewa yang sombong karena dia memang sombong dari sananya. Ia menjadi sombong dan merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus karena semua orang membutuhkannya, bukan karena karakternya memang sombong.

Ia tidak seperti beberapa dewa lain yang karakternya dibentuk semacam tragedi, justru sebaliknya. Karakter Apollo dibentuk atas hal yang bahagia, dan karakternya yang tidak stabil itu menciptakan banyak tragedi.

Sampai lain waktu!

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Tidak perlu disangkal lagi, Indonesia memiliki budaya literasi yang buruk. Sayangnya kata relatif tidak mudah untuk diberikan, karena kita berada di posisi ke 70 dari 74 negara, dan untuk patokan negara maju, angka itu buruk.

Mau dilihat dari beberapa sisi pun, sepertinya sangat sulit untuk menaikkan angka literasi milik kita. Jika kita mau membandingkan angka ini secara langsung dengan negara-negara berkembang lainnya, hampir tidak ada gunanya melakukan hal tersebut, karena kita akan jauh di atas mereka. Mayoritas negara di Afrika memiliki persentase literasi di bawah 75%, dan kita sudah mencapai angka 81% (negara-negara maju berada di angka 98% ke atas), jadi, apa sisi positif yang bisa kita ambil dari angka tersebut?

Tentunya, sisi positif termudah untuk di ambil adalah, angka literasi kita selalu naik, dan tidak akan turun begitu saja, tetapi, pada suatu titik, kita akan mulai untuk berpikir. Untuk apa kita punya angka literasi tinggi, jika budaya milik kita tidak menyokong literasi?

Bingung kah? Baca lebih lanjut saja yuk.

Budaya Baca vs Budaya Lisan

Kasarnya, tiap negara memiliki budaya baca dan budaya lisan. Indonesia lebih kuat di budaya lisan, dan sejujurnya, kedua budaya ini saling silang dan menolak satu sama lain.

Untuk melihat, mari kita bandingkan.

Budaya Baca

  • Terbiasa menerima informasi dari tulisan sejak zaman dahulu.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Bisa lebih mudah untuk kritis.
  • Tidak akan begitu saja mau membantu orang.
  • Dapat lebih tenang dan mampu mengatur emosi.

Budaya Lisan

  • Menerima informasi dari mulut ke mulut alih-alih dari tulisan.
  • Mudah untuk berkumpul dan lebih supel.
  • Lebih cepat menerima fakta.
  • Mudah bergotong royong.
  • Mudah terbawa perasaan.

Budaya baca di negara-negara luar mempermudah orang-orangnya untuk berhenti dan berpikir. Mempermudah orang-orang untuk menyerap informasi dan mencernanya alih-alih langsung menelannya.

Di negara-negara dengan budaya lisan yang kuat, informasi semua berupa opini, dan tidak begitu faktual. Perlunya berkumpul bersama membuat negara-negara dengan budaya lisan kuat juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Semua orang lebih kenal dengan satu sama lain, semua orang juga lebih ramah.

Sayangnya, dengan mendapatkan keramahan, kehangatan, dan kedekatan antar orang, ada hal negatif yang tercipta. Perasaan dekat tersebut membuat kita mudah percaya dan langsung menelan opini yang diberikan.

Pada titik inilah, budaya baca dibutuhkan untuk menetralkan keinginan kita menelan fakta secara langsung.

Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah kemampuan yang dibutuhkan, dan sayangnya kita sangat kurang dalam bidang ini.

Untuk bisa berpikir kritis, kita cukup melakukan dua hal. Satu adalah berhenti, dan kedua adalah berpikir. Berpikir kritis tidak jauh berbeda dari berpikir, dan aku yakin siapapun yang cukup pintar dalam mencerna informasi dapat melakukannya.

Kurangnya bangsa dengan budaya lisan yang kuat adalah kemampuannya untuk berhenti dulu untuk mencerna. Terkadang, orang-orang yang baru saja menerima informasi dari luar, (terutama jika dalam kondisi tatap muka) harus mencerna perasaannya terlebih dahulu. Jika perasaan orang tersebut cocok dengan informasi yang diberikan, ia akan mudah setuju. Sebaliknya, jika perasaan orang tersebut tidak cocok dengan informasi yang diberikan, ia bisa langsung menolaknya.

Perasaan mengendalikan otak kita dari menggunakan logika dan kita tidak sempat berhenti. Kita keburu termakan perasaan, dan perasaan tersebut menjadi awan yang menghalangi logika kita untuk sampai ke kesimpulan yang benar.

Ini alasan kita bisa dengan mudah terjebak dalam frame, serta hoax yang diberikan orang-orang pada kita. Emosi kita mengambil alih fungsi dan fokus kita, dan kita tidak diberikan ruang untuk berhenti. Kita langsung gas ke kesimpulan sesudah mobil (analogi untuk logika) kita diberikan Nitrogen Oksida (atau fakta), rem kita tidak berjalan lagi.

Melodramatisme

Bagian ini menerima editan dari draft awal artikel. Mungkin sekitar 50% dari kontennya diubah (termasuk judul dan istilah karena aku baru saja mendapat istilah yang tepat)

Melodramatisme. Sejak zaman Yunani, ada banyak sekali drama yang didesain untuk orang-orang (maaf) rendah. Jika para Raja, pedagang, filsuf, penyair, dan para petinggi negara mengikuti teater Dionysus, berisi drama dengan konten kompleks dan mengharukan, para warga diberikan cerita mulut ke mulut yang hanya berisi drama saja tanpa konten kompleks yang perlu dipikirkan. Penikmat melodrama menginginkan sensasi yang enak tanpa perlu mencerna informasi yang bergizi bagi mereka.

Melodrama masih dijumpai sampai sekarang, dalam bentuk Drama Korea yang arus ceritanya njelimet tapi mengharukan, dan sinetron yang juga mengharukan tapi ceritanya… Ya, tahu sendiri lah.

Melodrama juga, dapat dibagi menjadi beberapa level. Ada melodrama paling rendah, seperti sinetron, dan juga ada melodrama yang hanya menjadi melodrama karena persepsi orang-orangnya, seperti film Keluarga Cemara.

Sensasi haru, amarah, gembira, dan semacamnya mudah sekali memengaruhi judgement seseorang. Dan jika orang bisa menikmati melodrama yang hanya memanfaatkan sensasi sebagai nilai jual, maka akan mudah bagi orang-orang tersebut untuk terpengaruhi oleh hoax dan berita palsu.

Bangsa yang melodramatis tidak akan membuang waktu untuk berhenti, dan akan langsung saja menerima suatu fakta secara bulat, tanpa berpikir dua kali.

Dan menyimpulkan.

Bukan kesimpulan kali ini, aku hanya akan menyimpulkan, juga jangan lupa untuk simpulkan artikel ini sendiri ya.

Kabar Buruk.

Sayangnya, dari masih banyaknya bangsa melodramatis seperti beberapa negara Asia tenggara lainnya, budaya negara kita mendapat campuran dari bangsa melodrama, dan bangsa lisan.

Akan sangat mudah bagi seorang warga Indonesia untuk menerima suatu fakta palsu, atau suatu kebohongan, atau janji seseorang yang tidak mungkin dikabulkan dan semacamnya.

Untuk memperburuk ini, dengan senjata melodramatisme sedikit, dan juga dengan fakta bahwa kita memang (mohon maaf) kurang pintar dalam mencerna info karena negara kita memiliki budaya lisan… Hoax akan mudah memakan kita. Just make it dramatic, and people would believe it.

Kabar Baik.

Ada untungnya kok.

Budaya lisan yang mudah percaya dan supel ini mampu membuat orang-orang mudah percaya dengan ikon. Kita akan dengan mudah percaya perkataan seorang… (misal) menteri, kebanding teman.

Dengan memanfaatkan ikon untuk membawa kabar baik, jujur, tidak begitu negatif dalam memberi tahu sesuatu, kita akan percaya.

Selain itu, bangsa kita juga mau bergotong royong dan membantu, serta informasi juga dapat mengalir dengan lebih cepat, bahkan sebelum adanya internet informasi dapat mengalir dengan cepat, apalagi sesudah adanya internet.

Kabar Buruk dari kabar baik.

Oh tidak.

Kabar baik tadi juga ada kabar buruknya.

Jika seorang ikon mau memperdaya seseorang dengan berita palsu, orang-orang kita juga akan menerimanya dengan cepat.

Karena mudahnya percaya, dan mudahnya informasi mengalir, jika sedikit saja limbah pabrik, atau berita palsu dituangkan dalam air sungai yang jernih, seluruh sumber mata air dari gunung akan rusak dengan cepat.

Ya, sayangnya, kekuatan kita dalam cepat menyebar dan cepat percaya serta sangat-sangat mudah terlibat dengan orang lain juga bisa jadi kelemahan jika ada yang menyalahgunakan.

Jangan salahgunakan kekuatan dan logika anda ya!

Sampai lain waktu!

Kampanye Vaksin Indomie

Kampanye Vaksin Indomie

Baru kemarin aku menemukan berita di kolom Tunggu Dulu milik Pikiran Rakyat mengenai Indomie di Nigeria dan hubungannya dengan vaksinasi.

Karena sedikit banyak kepo di Internet, sepertinya membuat artikel tentang Indomie di negara Afrika ini cukup menarik. Selamat menikmati!

Indonesia vs Nigeria

Indonesia dan Nigeria memiliki kemiripannya masing-masing lho! Kurasa, akan sangat menarik untuk melihatnya langsung di satu artikel.

  1. Kedua negara sama-sama memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, dan populasi yang tinggi. Nigeria memiliki sekitar 200 grup etnis berbeda, dan 371 suku berbeda (satu grup etnis bisa membuat beberapa suku berbeda), dan Indonesia memiliki lebih dari 300 grup etnis berbeda.
  2. Kedua negara sangat menyukai Indomie. 😛
  3. Keduanya memiliki populasi yang cukup banyak, dan luas negara yang besar.
  4. Sayangnya, keduanya juga memiliki isu-isu dan angka vaksinasi yang cukup buruk.
  5. Dan lagi, keduanya juga hanya sedang bertumbuh sebagai negara, pertumbuhannya dapat bertambah dengan cepat, namun, sekali lagi, keduanya sedang bertumbuh.

Kedua negara ini, cukup mirip tentunya. Dan, seperti kusebut di atas… Artikel hari ini akan mengupas kampanye vaksinasi di Nigeria.

Ekonomi Indomie di Nigeria

Pada tahun 1988, ketika Indofood memulai ekspor mie instan ke Nigeria, pasar Mie Instan di Nigeria tidak nyata, dan tidak bernilai.

5 tahun kemudian, pabrik pertama Indomie dibuka di Nigeria. Penghasilan dan branding yang naik tentunya membantu pertumbuhan pasar mie instan.

Hanya 25 tahun dari terbukanya pabrik lokal Indomie pertama, dan tumbuhnya pasar dan ruang pekerjaan yang disediakan oleh Indomie yang sudah bertumbuh sangat besar, dan, Indofood mendominasi 74% dari pasar Mie Instan di Nigeria, angka yang besar, terutama mengingat luasnya Nigeria.

Uniknya, angka 74% ini dapat dianggap sebagai penurunan bagi Indofood.

Perlu diingat, sampai tahun 2009, Indofood memegang hampir seluruh pasar mie instan di Nigeria. 97% dari pasar mie instan di Nigeria dimakan habis oleh Indomie yang sudah mulai memberikan pengaruhnya pada warga dan anak muda di daerah Nigeria.

Warga Nigeria mengonsumsi 8 juta paket Mie Instan tiap harinya, dan, dengan harga 15 sen per paket Mie Instan, tentunya, makanan amat enak ini mendominasi daerah Nigeria di Utara, yang masih dipenuhi dengan keluarga di level 1 (penghasilan total keluarga bernilai 2 dollar atau kurang per harinya).

Dengan naiknya harga gandum secara eceran, dan karbohidrat pada umumya di daerah Nigeria bagian utara, konsumsi Mie Instan jauh lebih murah dan mengenyangkan bagi keluarga-keluarga berpenghasilan rendah.

Mie Instan menjadi suplai karbohidrat yang begitu baik dan kuat untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Dalam kacamata ekonomi mendasar, gandum yang dibutuhkan Indofood tiap tahunnya yang sejumlah 500.000 ton, sekitar 7 kali lebih banyak dari gandum yang diproduksi oleh petani-petani di Nigeria per tahun.

Jumlah gandum yang diambil bulk, dan dimanfaatkan secara efektif oleh Indofood mampu menurunkan harga karbohidrat yang dibutuhkan oleh warga, dan memberikan warga opsi untuk makanan murah dan mengenyangkan.

Selain menjadi opsi karbohidrat yang murah, enak, dan mudah didapatkan bagi warga tingkat 1 (warga tingkat 1 di Nigeria mengonsumsi 2.2 kilogram Indomie), rasanya yang gurih, manis, dan tidak bisa didapatkan di tempat lain juga membuatnya populer di kalangan anak muda, dan warga lain. Konsumsi warga tingkat 2 ke atas, per capita, 1.1 kilogram.

Indofood mengambil dan mendominasi pasar Nigeria dengan rasanya yang sangat enak (percaya padaku, bahkan orang-orang yang biasa makan 100.000 rupiah per orang tiap kali makan, masih menyukai Indomie, dan tidak akan menolak untuk memakannya sesekali) dan fakta bahwa harganya terjangkau, menggulingkan takhta mie instan yang didominasi Indomie akan sangat menyulitkan.

Kampanye Mie di Nigeria

Sebagai warga Indonesia, tentunya, aku tumbuh dan dikelilingi oleh Indomie, dan banyaknya varian rasa dari mie instan tersebut. Namun, tidak banyak ada kampanye khusus yang dibuat oleh Indomie demi mempromosikan produknya.

Oke, selain Asian Games, tetapi, itu pengecualian karena tokohnya hanya memasang tokoh yang sudah diciptakan, bukan tokoh ciptaan sendiri.

Mungkin ada rasa baru, dan rasa tradisional (mie goreng aceh, soto tengkleng, dan semacamnya) tetapi, belum pernah ada karakter yang khusus dibuat seperti seri karakter Indomitables yang dilakukan di Nigeria.

Sachet karakter Indomitables dibuat khusus, bisa digunting, dan ada gambar karakter superhero di depannya. Jujur, sepertinya hal yang sama belum pernah dilakukan oleh Indomie di Indonesia.

Tapi ya sudahlah. Tanpa adanya banyak kampanye, Indomie sudah terkenal kok.

Dengan beberapa kampanye Indomie di Nigeria, ia makin terkenal, penjualan makin naik, pasar makin menginginkannya, sampai ke titik orang-orang Nigeria mengira bahwa Indomie berasal dari Afrika, dan ke titik sampai orang Nigeria menyebut mie sebagai Indomie.

Tetapi, selain kampanye karakter superhero yang dimasukkan ke sachet, lalu artwork khusus yang berubah, kampanye paling baru Indomie berada di vaksinasi.

Mohon maaf, awalnya aku ingin mengupload sachet Indomie di Nigeria, namun, sepertinya sistem gambar di WordPress sedang tidak berjalan dengan baik, mohon menunggu sebentar ya 🙂 .

Intermezzo

Baik Indonesia dan Nigeria memiliki masalah vaksinasi yang buruk

Ketika ada vaksin, di Indonesia langsung terjadi perdebatan panas dan banyak juga hoaks yang menyatakan bahwa pembuatan vaksin menggunakan plasenta bayi, rambut monyet, atau semacamnya lah. Selain itu, juga banyak ulama dan petinggi agama menyatakan bahwa vaksin adalah benda yang tidak halal. Untungnya, konflik itu sudah beres, dan sekarang kondisi vaksinasi di Indonesia membaik.

Di Nigeria, banyak warga di tingkatan ekonomi level 1, atau 2, termakan rumor adanya zat infertil di vaksin dan pemboikotan vaksin polio di tahun 2003.

Kekacauan pada negara, rusuhnya beberapa hal, dan rumor-rumor lebih lanjut pada vaksin membuat angka vaksinasi di Nigeria turun drastis. Sampai tahun 2018 setidaknya.

Kembali ke kampanye…

Kampanye vaksinasi

Pada akhir 2018, pemerintah Nigeria membeli 75.000 sachet Indomie, dengan harapan bahwa 75.000 sachet tersebut dapat digunakan sebagai bahan tawar untuk meminta warga melakukan vaksinasi.

Target awal pemerintah sedikit dibawah 60.000 anak (58.917 anak) mendapat vaksin polio, tetapi, hasil kampanye ini lebih sukses dari yang dibayangkan.

Kampanye yang awalnya hanya akan bertahan selama satu hari ini dan hanya ditujukan bagi anak-anak menjadi sangat populer. Orang dewasa pun meminta vaksin polio demi bisa makan Indomie secara gratis. Secara total, kampanye satu hari itu menjadi kampanye 5 hari. Target anak yang divaksin terpenuhi (hampir dua kali lipat dari target malah), dan ditambah juga dengan 150.000 warga dewasa menerima vaksinasi demi Indomie gratis.

The power of Indomie!

Kesimpulan.

Kita harus bangga menjadi warga Indonesia

Indomie yang (memang sih) tidak sehat itu membantu negara lain dengan menyediakan opsi karbohidrat yang enak dan murah. Bukan hanya disitu, indomie juga dapat dijadikan bahan tawar untuk membantu mencapai angka vaksinasi yang baik.

Terima kasih Indofood, dan Indomie!

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Jadi, pagi ini, aku perlu membuat suatu tulisan, dan sejujurnya, aku sedang bingung, apa yang bisa kulakukan. Aku berusaha mencari ide, namun tidak dapat, dan, ya sudah, aku mau menulis mengenai taktik-taktik sepakbola yang digunakan olehku dan timku ketika latihan.

Taktik yang dibahas disini bukan taktik yang sudah diaplikasikan, melainkan masih bersifat teoretikal, dan tidak memberikan nama pemain atau tim yang memanfaatkan taktik ini.

Selamat menikmati.

Catatan

Aku suka menghabiskan waktu luang ketika tidak ada serial untuk ditonton, atau pop culture buzz yang nongol di internet dengan mencari dan mengintip beberapa taktik-taktik sepakbola. Untungnya, tidak ada orang yang membuat artikel seperti ini dalam bahasa Indonesia, jadi, kurasa tidak ada salahnya jika aku membuat serial ini.

Gegenpressing 101

Gegenpress adalah taktik yang sangat mudah dijelaskan.

Pada dasarnya, Gegenpress berarti memanfaatkan dua pemain terdekat dengan bola untuk lari dan menekan pemain yang membawa bola. Sesederhana itu.

Pro Gegenpress

Jika situasi di atas dapat dilakukan dengan benar, pemain-pemain lini depan yang biasa bermain di garis yang cukup tinggi dapat menyerang dengan cepat, dan memaksa pemain bertahan lawan bergerak dengan cepat, sehingga membuka ruang.

Hampir dapat dipastikan bahwa kedua bek tengah harus siap untuk berlari dan mengintersepsi bola, ataupun melakukan marking. Jika ini dilakukan, akan ada ruang yang diciptakan, dan dapat menciptakan skenario seperti ini.

Dengan adanya banyak opsi untuk menyerang, pemain nomor 9 cukup memberikan bola ke pemain nomor 7, 8, 10, atau 11, dan dari situ, setidaknya sebuah kesempatan dapat tercipta.

Selain itu, Pro terbesar gegenpress adalah efek psikologis yang diberikan ke lawan-lawan tim. Jika ada tekanan dari pemain yang banyak (secara harfiah, dan figuratif), akan ada kebingungan dalam menentukan arah bola, dan jika passing dilakukan dengan labil, bola akan mudah dimenangkan kembali, dan serangan balik akan tercipta.

Kontra Gegenpress

Sayangnya, meski taktik ini mudah sekali untuk dijelaskan, penerapannya sangat sulit…

Butuh fokus, stamina, dan dia memiliki resiko yang sangat besar semakin banyak orang yang dimanfaatkan untuk menekan. Umumnya, Gegenpress menekan menggunakan dua orang, tetapi pada suatu titik, berdasarkan taktik yang lawanmu lakukan, bisa ada 4-5 orang berusaha memenangkan bola dari pemegang bola. Jika itu terjadi…

Seperti kita lihat di sini, karena pergerakan pemain menekan ke arah bola… Jika pemain lawan cukup tenang, mereka bisa memberikan bola ke pemain yang sekarang kosong.

Jika bola sudah sampai ke suatu pemain, pada umumnya, akan ada lebih banyak pemain yang dikorbankan untuk mengejar bola.

Kondisi Pressing berat ini dapat membiarkan setidaknya satu lawan tanpa ada pemain yang melakukan marking, dan ini bisa membuka ke situasi satu lawan satu dengan kiper jika pemain-pemain lain tidak cukup fokus atau disiplin untuk melakukan marking.

Tentunya board di atas sangat-sangat teoretikal, masih ada beberapa pemain yang belum melakukan marking, juga ada lawan yang belum di mark dengan benar, tetapi, dalam beberapa kondisi, Gegenpress dapat membuka situasi seperti ini.

Taktik untuk digabungkan dengan Gegenpress

Gegenpress sendiri tidak cukup untuk dimanfaatkan sebagai taktik standalone.

Bek Sayap

Biasanya Gegenpress digunakan di tim-tim yang memiliki bek sayap yang mampu maju mundur dan membantu serangan serta menjadi orang tambahan untuk membantu merebut bola di tempat yang tinggi.

Anggap saja, serangan berujung gagal, dan kiper melempar bola dengan cepat ke pemain nomor 4.

Pemain nomor 4 dapat menerimanya dengan mudah, dan sebelum ada tekanan lebih lanjut dari pemain nomor 9, 8 atau, 10, ia memberinya ke pemain nomor 8 yang menemukan ruang kosong.

Melihat ini, 3 pemain langsung menekan pemain nomor 8 sebelum ia bisa mengeluarkan umpan.

Jika pemain nomor 8 menerima tekanan hanya dari pemain nomor 8 dan 11 saja, besar kemungkinan akan ada ruang yang dapat dimanfaatkan unutk memainkan operan lagi. Bek kanan (3) yang bermain di posisi tinggi dapat membantu merebut bola dan membantu menyerang dari sisi sayap, dengan pemain nomor 8 dan 11 masuk ke kotak penalti, dan mencari posisi untuk mencetak gol

Tentunya jika 3 pemain telah dikorbankan, dan bola masih lolos, kondisi buruk dapat dijamin terjadi. Pemain nomor 7 berada di posisi kosong, dan dengan pemain nomor 9 dan 11 untuk membantu serangan, jika pressing ini tidak cukup, hanya tersisa bek tengah dan gelandang bertahan untuk memotong umpan.

Cara Mengatasi Gegenpress

Sejujurnya, aku tidak tahu.

Taktik ini bukan taktik yang dapat diatasi dengan taktik lain. Cara terbaik untuk mengatasinya cukup dengan ketenangan dan kemampuan memberikan operan yang rapih alih-alih dengan taktik.

Jika Gegenpress dengan 3 orang atau lebih tidak dapat memenangkan bola kembali, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan tim mengenai hal tersebut. Terlalu banyak ruang akan terbuka begitu saja jika bola sudah melewati orang yang ditekan.

Kriteria.

Taktik ini sulit digunakan karena butuhnya kriteria fisik yang berat.

  • Stamina yang cukup
  • Kecepatan mengejar bola, dan pemain bertahan yang berada di posisi tinggi
  • Kedisiplinan dan kesabaran dalam menentukan kapan menekan, dan kapan tidak perlu menekan.
  • Marking yang bagus dan kemampuan memotong operan yang baik
  • Kemungkinan besar, butuhnya kiper yang handal dalam kondisi 1 lawan 1 jika tekanan mengakibatkan ruang terbuka yang banyak.

Meski kriterianya banyak, Gegenpress dapat menjadi taktik bertahan yang dimanfaatkan untuk menyerang jika pemain-pemainmu cukup untuk melakukan hal tersebut.

Tim yang menggunakan:

  • Liverpool F.C.
    • Liverpool mungkin tim terbesar yang menggunakan taktik ini. Juergen Klopp membuat sistem dengan pemain-pemain cepat yang memiliki stamina bagus untuk melakukan taktik melelahkan seperti Gegenpress. Mulai dari tekanan di depan oleh striker tengah Firmino, gelandang-gelandang yang mampu naik turun barisan dengan cepat, dan bek-bek tercepat di Eropa, Gegenpress di Liverpool bisa dibilang berjalan sangat sukses.
  • Borussia Dortmund di bawah Juergen Klopp
    • Jika membahas Gegenpressing, Juergen Klopp mungkin pionirnya. Baik Liverpool atau Dortmund, keduanya menjadi tim yang sangat-sangat fokus ke passing jarak dekat dan kecepatan serta stamina. Di bawah Klopp, Dortmund fokus ke permainan menekan dari depan dan passing rapih oleh Gotze atau Gundogan, sebelum bola sampai ke Lewandowski dan masuk ke gawang. Dortmund di bawah Klopp bermain di posisi tinggi, dan tidak mudah terkena serangan balik. Tekanan yang konstan dan menyebalkan serta pertahanan rapat dan bek-bek muda serta cepat dalam Mats Hummels dan Neven Subotic memberikan lawan-lawan Dortmund sangat sedikit ruang untuk menyerang.
  • Bayern Munich di bawah Pep Guardiola.
    • Sebelum Bayern sekarang yang memiliki pemain-pemain yang hanya meluangkan waktu untuk pensiun di lini depan dan belakang, Pep Guardiola memanfaatkan Gegenpress dan mendominasi Liga Jerman dengan taktik tersebut. Meski Pep tidak memiliki striker-striker yang sedisiplin trio striker Liverpool dalam bertahan, Robben dan Ribery juga melakukan tugas bertahan yang cukup baik. Inti Gegenpress Guardiola berada di gelandang-gelandangnya. Guardiola memiliki Thiago Alcantara, Javi Martinez, dan Xabi Alonso yang mampu mengejar bola dengan cepat.

Kesimpulan

Komitmen manajer untuk menggunakan sistem Gegenpress cukup berat, terutama mengingat kebutuhan pemain dengan fisik yang cukup kuat, pribadi yang disiplin (PSG sebenarnya memiliki kualitas pemain yang cukup untuk melakukan Gegenpress, sayangnya, tidak banyak pemain yang cukup disiplin untuk menjalankan sistem tersebut) untuk menjalankan sistem tersebut, jadi, tidak banyak tim dapat memanfaatkan Gegenpress dengan efisien dan baik.

Kasarnya, Gegenpress adalah taktik High Risk, High Skill, High Reward yang perlu pengaturan pemain dan pemanfaatan sempurna oleh pelatih untuk hasil paling efisien.

Sampai lain waktu!

Template tactical board dari tactical-board.com

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Minggu malam kemarin, topik ini dibahas di klub debatku, dan menurutku, ini topik menarik, dan tidak harus spesifik digunakan pada ikon-ikon remaja atau anak, karena kurasa efek yang similer dapat dimanfaatkan dan dicoba pada anak-anak yang tidak menerima tekanan sebanyak “Ikon-ikon” yang dimaksud.

Ikon disini dimaksudkan sebagai atlet, penyanyi, aktor, selebgram (sayangnya iya… selebgram), atau remaja dan anak apapun yang menerima tekanan dari dunia luar dan memang terkenal.

Bagaimanapun juga, ini topik menarik, jadi langsung saja kita masuk. Aku akan memberikan tiga contoh, ketiganya punya efek masing-masing.

Michael Jackson

Ah. Him.

Namanya langsung menciptakan image orang yang melakukan moonwalk, penyanyi pop, dan kemungkinan besar, orang-orang sudah dapat gambaran mengenai dirinya sedetik sesudah namanya disebutkan.

Sebelum ia menjadi solo artist (yang hebat, tentunya), Michael Jackson memulai karirnya di Boyband yang diurus dan dimanage oleh ayahnya sendiri, Jackson 5. Anggotanya adalah kakak-kakak nya, dan, pada saat memulai karirnya, ia masih berkulit hitam (ya, maaf, aku tidak bisa menggunakan istilah yang lebih politically correct, aku tahu). Tentunya ia termasuk golongan African-American.

Michael adalah anak paling muda dari kelima anggota boyband tersebut. Ia juga yang paling berbakat, dan kasarnya, ia juga yang paling labil. Tetapi, perlakuan ayahnya pada Michael tidak jauh berbeda dari keempat kakaknya.

Ritme harian Michael Jackson yang sedang berusaha keras untuk mendapatkan uang, ketenaran, dan juga agar keluarganya tidak perlu hidup “sulit” lagi (kurang lebih) berjalan seperti ini.

  • Bangun
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan siang
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan malam
  • Latihan/merekam lagu
  • Tidur
  • Protes? PETAK! Punggungmu dipukul dengan sabuk, atau kamu ditendang oleh ayahmu sendiri.

Oh iya, juga ada saat sesudah ia terkenal, latihan/merekam lagu berubah menjadi tampil. Jadwal Jackson 5 sangat penuh, dan mereka tidak bisa berkomentar atau meminta perubahan jadwal sedikitpun kepada ayah mereka.

Ya, menjadi orang african-american pada zaman itu memang sulit. Apalagi jika kamu ingin menjadi selebritis african-american.

Tentunya, Michael juga ingin menjadi anak yang lebih normal. Ia ingin pergi ke Disneyland, ia ingin pergi ke Kebun Binatang, ia ingin banyak hal. Mungkin keinginan dia yang paling sederhana adalah minum milkshake bersama ayahnya.

Ia tidak pernah mendapat kesempatan tersebut.

Sesudah tur, ia merekam album baru dengan tingkatan abuse yang sama (jika bukan lebih)

Tekanan dari dunia, dari orang tua, dan dari studio memberikan Michael Jackson efek yang sangat buruk ketika ia sudah dewasa. Memang ada efek positif ketika ia membuat amusement park, dan kebun binatang, mungkin untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bersenang-senang ketika mereka masih punya waktunya.

Tetapi, efek negatifnya? Mulai dari merubah warna kulit (keluarganya sendiri menolak untuk menyatakan bahwa ia melakukan operasi karena ia tidak senang dengan kulitnya yang gelap. Oh tidak, keluarganya bilang ia memiliki kondisi kulit yang membuat warna hitam dari kulit tersebut memudar), sampai ke rumor-rumor kematiannya karena ia bunuh diri (albeit, there are other rumors).

Masa kecilnya begitu suram, sehingga hidup dewasanya terpengaruh.

Oh iya, satu hal lagi.

Ia tentunya sudah pernah juga hidup di zaman dimana dunia dapat lebih menerima orang-orang yang memiliki warna kulit berbeda. Aku berasumsi bahwa ia menyimpulkan jika ia tidak lahir dengan kulit hitam, atau lahir di zaman tersebut, ia akan memiliki hidup yang lebih bahagia.

Kesimpulan kasus

Terlalu banyak tekanan.

Macaulay Culkin

Oke, ini bukan kasus terkenal.

Tidak semua orang langsung tahu, siapa itu Macaulay Culkin. Tetapi, aku yakin, semua orang tahu, film Home Alone.

Ya, dia pemain di film tersebut, berperan jadi anak menyebalkan, tapi banyak akal.

Culkin terjerat narkoba pada tahun 2004. Ia juga kebetulan menjadi saksi atas kasus Michael Jackson.

Banyak laporan di sana dan di sini menjelaskan tentang cara ia terjerat narkoba, termasuk penggeledahan rumah, hotel, dan banyak lagi. Tentunya ia sudah masuk rehabilitasi narkoba, dan kurasa selama ia tidak berteman dengan orang-orang yang menjeratnya kembali, hidupnya akan mulus.

Kurasa Culkin adalah contoh yang pas untuk anak yang tidak diberikan tekanan yang cukup.

Ia dibiarkan melakukan apapun, dan orangtuanya tidak pernah memberikan tough love, atau tantangan. Ia juga kaya untuk hitungan anak berumur 10 tahun. Dan dalam beberapa wawancara ia juga pernah menyinggung fakta bahwa orangtuanya tidak pernah tampak peduli untuk apa yang ia lakukan di luar studio. (serius.)

Dari beberapa wawancara yang kusimpulkan, Culkin tidak jauh beda dari tokoh yang ia mainkan di film Richie Rich, dengan perbedaan bahwa ia sebenarnya memang bahagia karena tidak ada tekanan.

Dunia berkata lain sayangnya.

Ia bergaul di lingkaran yang salah dan menjadi pecandu narkoba. Ia juga mendapatkan jumlah kritikan yang tidak sedikit oleh fans-fans nya, karena sepertinya ia tidak pernah bermain di film lagi, dan, ya, ketenaran miliknya sudah hilang.

Untungnya ia sukses bounce back dari all time low miliknya… But, well, kita lihat saja nanti.

Kesimpulan Kasus

Tidak cukup banyak perhatian.

Kylian Mbappe

Ah, him.

Hanya 6 bulan yang lalu, ia memecahkan beberapa rekor. Rekor-rekor yang hanya Pele sendiri pernah penuhi. Ia menjadi remaja kedua (sesudah Pele) yang mencetak 2 gol dalam pertandingan piala dunia, dan ia juga menjadi remaja kedua (sekali lagi, sesudah Pele) yang mencetak gol di final piala dunia.

Baru minggu lalu, Pele mengaku bahwa ia percaya Mbappe dapat menjadi pemain yang lebih baik dari dirinya.

Kemarin, ia mencetak hat trick melawan Guingamp untuk PSG. Sayangnya, bola permainan diberikan ke Edinson Cavani yang mencetak gol ketiganya 11 menit sebelum Mbappe. Eh.

Oh iya, umurnya baru 20 tahun, dan… Kecepatan maksimalnya adalah 44.51 kilometer per jam, hanya 0.24 kilometer per jam lebih lambat dari Usain Bolt (sebelum berkomentar lebih lanjut mengenai siapa manusia tercepat di dunia, Usain Bolt dapat berlari sekitar 40 meter lebih jauh daripada sprint Mbappe pada umumnya)

Tentunya, ia memberikan kredit atas keberhasilannya sebagai atlit kepada kedua orangtuanya. Ketika menyindir jumlah uang yang ada di industri sepakbola dalam sebuah wawancara, ia sempat menyebutkan bahwa ia meminta sebuah jet pribadi untuk kedua orangtuanya.

Bagaimana ia bisa mendorong dirinya sejauh ini?

Tentunya, karena kedua orangtuanya.

Salah satu berperan sebagai orang yang mencintainya, dan yang lain berperan sebagai pendorong.

Ayahnya mendorongnya untuk menjadi pemain yang lebih bagus. Ayahnya menekannya untuk lebih fokus, memberikan target, memastikan target itu terpenuhi, dan ayahnya juga menjadi contoh yang baik untuknya.

Ibunya, pada sisi lain, (layaknya ibu untuk seorang anak laki-laki) mencintainya, tidak banyak berkomentar, dan memberikan dia izin untuk melakukan apa yang ia inginkan, selama permintaannya masih wajar tentunya.

Dan, Mbappe, sekarang menjadi salah satu pemain terbaik di dunia, sekaligus pemain muda yang masih bisa tumbuh dan menjadi lebih baik lagi. Just wait and see.

Kesimpulan Kasus

Tekanan dan cinta yang seimbang.

Banyak atlet mendapat perlakuan mirip seperti Mbappe, contoh: Tiger Woods…

The Vaccine Effect

Freud menjelaskan kesadaran dalam bentuk repressed memories, yang menjadi identitas kita, baik yang buruk, atau yang bagus. Identitas kita terbentuk dari ingatan yang tidak jelas, karena secara tidak sadar, ingatan tersebut kita tolak. Identitas terbagi menjadi 3 level. Ego, alias kepribadian/identitas yang jelas, Superego, alias kepribadian yang hanya tampak sesekali, tetapi ketika tampak, kepribadian tersebut lebih kuat. Yang terakhir, ID, ID atau Identitas adalah semua repressed memory yang menghasilkan diri kita, secara tidak sadar, semua keputusan yang kita buat diperintah oleh ID. Tiap kasus menciptakan identitas tiap pribadi masing-masing. Kepribadian tersebut yang mendorong mereka untuk membuat keputusan.

Seluruh kepribadian ini terbentuk pada usia 3-18, dan, memori yang ditekan ini mengatur cara seseorang sebenarnya berpikir. Pada fase pertumbuhan ini, orang tua harus memastikan anaknya mendapatkan tekanan yang cukup darinya sebagai… “vaksin” agar mereka siap mendapat tekanan dari dunia luar.

Kurang lebih vaksin yang dimaksud adalah tekanan ringan, agar anak nanti dapat siap untuk menerima tekanan yang mungkin memang berat, dari dunia luar.

Ini berpengaruh bukan hanya bagi ikon remaja atau anak, tetapi juga untuk semua anak. Mereka harus merasakan tekanan, serta juga mereka harus merasakan hal-hal yang memberikan hierarki, seperti bullying… Tanpa adanya tekanan tersebut, dan tanpa adanya bullying, atau dunia yang lebih keras… Kita akan lemah, dan tidak bisa ditekan sedikit pun.

This is bad of course.

Sampai lain waktu.