Category: Uncategorized

Ninja-Ninja Beneran…

Ninja-Ninja Beneran…

Anda bisa bertanya padaku tentang Mitologi Yunani, Romawi, Skandinavia, Mesir, Maya, Hindu (sedikit setidaknya), Korea, China, dan aku akan menjawab dengan cukup akurat.

Tapi kalau anda ingin bertanya tentang mitologi Jepang… Aku cukup clueless. Aku tahu tentang Amaterasu, Izanagi, Izanami, Tsukuyomi, Susano’o, dan beberapa dewa perang lainnya, namun ketika disuruh membandingkan mitologi tersebut dengan kehidupan nyata, aku akan kesulitan.

Terutama di Mitologi Romawi yang penuh dengan prajurit/pahlawan pemberani seperti Romulus, Horatius, dan Octavian, beberapa dari mitologi tersebut menjadi aspek kenyataan yang asli dan merupakan fakta sejarah…

Jepang memiliki gaya mitologi yang mirip, namun ternyata lebih banyak ninja yang nyata, kebanding yang fiktif… Aku sempat mengira bahwa ninja-ninja heroik hanyalah karya fiksi seperti Romulus, bukan seperti Julius Caesar, atau Octavian, namun itu miskonsepsi terbesarku sampai aku membaca buku berjudul Ninja Attack, karya Hiroko Yoda, dan Matt Alt. Link ke Goodreads

Selamat menikmati dan menambah ilmu tentang ninja-ninja yang heroik, dan faktual!

Seorang Ninja

Ninja bukan hanya mata-mata atau pembunuh bayaran. Sebenarnya definisi Ninja sendiri lebih cocok untuk masuk ke definisi bahwa mereka seseorang yang merupakan anggota Klan, dan bekerja untuk seorang Warlord, pemimpin klan.

Mereka bisa saja merupakan jendral, pembunuh bayaran, mata-mata, pencuri, penyihir, tukang bersih-bersih toilet sekalipun… Selama mereka bekerja untuk suatu klan, secara teknis, mereka adalah ninja.

Tsunokuma Sekisu

 

Salah satu ninja yang merupakan bagian dari sejarah secara absolut adalah orang yang satu ini. Mungkin dia tidak seterkenal Jiraiya (yang fiktif) atau diketahui orang-orang sebanyak Oda Nobunaga (yang memang raja, dan bukan Ninja) tetapi Tsunokuma Sekisu ini merupakan ninja yang cukup terkenal.

Ia bukan Ninja dalam sudut pandang mata-mata, atau pembunuh bayaran seperti yang orang-orang anggap sebagai Ninja, tetapi Sekisu adalah seorang Jendral, dan juga Peramal.

Ceritanya tentang Ninja yang satu ini ada di fakta bahwa ia memulai karirnya sebagai orang yang terkenal dan pintar membaca kertas-kertas sebagai pertanda dari dewa. Walau kita tidak sepenuhnya tahu bahwa ini adalah hal yang ilmiah atau bukan, Sekisu memanfaatkan ini sebagai permainan psikologis ketika merencanakan serangan.

Ninja bukan hanya mata-mata, tetapi juga ada Ninja macam prajurit, Sekisu memimpin dan membantu Prajurit Klan Ninja-nya, Klan Kyushu dengan kemampuannya meramal cuaca (yang seringkali akurat) serta membantu strategi ketika ingin menyerang suatu kota.

Tsunokuma Sekisu merupakan Ninja yang agak tidak ortodoks, tetapi kemampuannya memainkan pertanda dan ramalan dari dewa serta menciptakan keraguan dari musuhnya sangat-sangat berharga bagi Klan Kyushu.

Ia juga diketahui sebagai seorang penyihir, ahli ilusi. Mungkin diketahui oleh Fans Naruto sebagai Genjutsu, dan ia sering menciptakan ilusi yang tidak bisa dijelaskan ahli sejarah, seolah-olah ada hujan atau tornado berisi pedang dan shuriken.

Tsunokuma Sekisu sendiri merupakan Jendral paling sukses Klan Kyushu, sampai turunnya pemimpin yang ia dukung di masa kejayaannya. Sesudah turunnya Warlord pertama yang ia dukung, takhta tersebut diberikan orang yang agak skeptis akan kemampuan mistis Sekisu, seorang bernama Otomo Serin.

Otomo Serin ini bertemu dengan seorang pendeta Katolik dan tidak lagi mempercayai ramalan cuaca, pertanda dewa dan ilusi milik Sekisu. Ketika sedang memerintahkan sebuah penyerangan, Sekisu memberikan saran bahwa cuaca hari tersebut akan buruk, dan akan ada seseorang amat penting yang tidak selamat saat penyerangan tersebut.

Otomo Serin yang skeptis memerintahkan Sekisu sendiri (yang tetap berharga karena masih memiliki kemampuan ilusi) untuk menyerang, sebagai bukti bahwa pertandanya tidak selalu benar.

Sekisu tidak pulang lagi. Ia terbunuh pada penyerangan tersebut, dan penyerangan tersebut gagal. Pada akhir hari, ramalan Sekisu selalu benar, meski ia terbunuh oleh ramalannya sendiri.

Sugitani Zenjubo

(gambar dari buku Ninja Attack)

Sebuah mitos menyatakan bahwa Ninja adalah orang-orang yang tidak menyukai senjata modern. Zenjubo adalah bukti bahwa Ninja tidak hanya bergantung pada senjata modern saja. Sugitani Zenjubo adalah seorang… Sniper.

Di zaman di mana senjata api bukan hal yang umum, Zenjubo menguasai penggunaan Rifle yang masih menggunakan percikan api sederhana, dan ia tidak pernah meleset. Ketika ada target yang perlu ia tembak, ia akan menembaknya dengan tepat.

Pada awal era Oda Nobunaga (orang yang bilang bahwa Ninja itu gak boleh jadi bagian dari Jepang) Klan Koga mengirimkan pembunuh bayaran terhebat mereka sebelum Nobunaga mampu melakukan apa-apa yang mengambil alih kekuasaan mereka.

Zenjubo dikirimkan untuk mengintersepsi rute yang diambil Nobunaga untuk pindah dari satu kota ke kota lainnya. Ia membawa senjata kesukaannya. Sebuah pistol rifle sederhana, yang hanya bisa menembak sekali sebelum perlu mengisi ulang selama sekitar 10 menit (ini senjata jadul, bersabarlah, penggunaannya sulit) namun untuk menambah kemungkinan tembakan tersebut kena, Zenjubo memodif pelurunya agar bisa menembak dua peluru besar sekaligus tanpa perlu isi ulang.

Ia bersiap, memanjat pohon yang tinggi, tiba beberapa jam sebelum Nobunaga lewat (untung ia bukan orang bosenan, mungkin sambil nungguin lewat dia udah langganan Netflix dulu) memastikan bahwa ia bisa menembak Nobunaga dengan akurat.

Ketika orang yang ditunggu-tunggu lewat, Zenjubo mengambil nafas yang dalam dan mencari bagian mana yang perlu ia incar. Nobunaga menggunakan baju zirah yang tebal, hanya membiarkan leher dan mukanya terbuka. Zenjubo tahu ia hanya punya satu kesempatan, dan jika ia gagal, ia akan dicari habis-habisan hingga bahkan klannya tidak mampu menyelamatkannya.

Ia menembak. Yakin bahwa dia tidak akan meleset. Ia belum pernah meleset seumur hidupnya. Suara keras memberikan posisinya… Keheningan muncul sesudahnya, bersama asap yang amat tebal dari senjatanya.

Satu hela nafas lagi, menghilangkan asap, Zenjubo harus memastikan ia sukses. Pelurunya kena. Tepat ke leher Nobunaga.

Aku yakin anda sudah tahu bahwa Zenjubo gagal karena Nobunaga memusnahkan hampir semua Ninja yang ada pada akhir eranya. Namun Zenjubo tidak pernah meleset. Ia tidak meleset kali itu. Hanya saja, Nobunaga menggunakan zirah tambahan di lehernya, tertutup oleh kain.

Zenjubo tertangkap, dan tentunya… Ia dieksekusi sesudah siksaan 10 hari, lehernya dilukai dengan bambu yang tumpul, dan dipotong sesudah bambu itu dipertajam oleh lehernya sendiri. Yikes. Kukira eksekusi Romawi sudah brutal… Ini parah… Eesh.

Tetapi yang ia lakukan jelas-jelas berani dan ia menjadi salah satu ninja paling terkenal di sejarah.

Hattori Hanzo

(gambar dari Wikipedia)

Sesudah Jiraiya (ninja klasik yang fiktif, diciptakan di tahun 1800-an) Hattori Hanzo adalah ninja klasik paling terkenal. Masukkan ninja modern dan Hattori Hanzo mungkin tidak masuk top 10, karena ada Naruto, Shogun, TMNT, Ronin, Wolverine (yang ternyata terinspirasi oleh Ninja), dan seterusnya… tetap saja… Hattori Hanzo amat terkenal.

Sebenarnya Hanzo sendiri tidak melakukan banyak hal yang aneh-aneh.

Namun ia merupakan Jonin (ninja pangkat kedua tertinggi, sesudah Warlord sebuah klan) dari klan Iga yang akhirnya dimusnahkan Nobunaga.

Selain kematiannya, Hattori Hanzo melakukan banyak pemberontakan pada Nobunaga, seperti membakar bangunan yang Nobunaga buat, mengatur penculikan dan pemerasan, dan seterusnya.

Sebelum anda berpikir hal seperti “Oke, jadi aku membaca artikel tentang orang-orang ‘hebat’ yang membunuh, menculik, memeras, dan percaya sama hal-hal yang gak ilmiah, kenapa aku baca artikel ini?” coba ingat bahwa walau Ninja ini agak kejam, Oda Nobunaga jauh lebih kejam.

Hattori Hanzo tidak melakukan satu saja hal yang sangat hebat, melainkan banyak hal yang mengancam Nobunaga… Bahkan kematian legendarisnya (ini mungkin mitos, karena ada kemungkinan bahwa Hanzo meninggal karena usia tua) dilakukan sebagai pemberontakan pada Nobunaga.

Hanzo mengatur penyerangan ke sebuah gedung milik Nobunaga, dan ia gagal. Daripada ia membiarkan penyiksaan dan penangkapan prajuritnya, ia meminta mereka melakukan Seppuku (alias bunuh diri secara mulia) dan… Ketika semua prajuritnya sudah mati dengan mulia… Ia mengambil minyak, dan membakar semua bangunan penting dan anggota dewan yang mendukung Nobunaga dalam satu gerakan sederhana.

Kematian ini mungkin mitos, tetapi bahkan jika Hanzo tidak mati karena ini… Ia merupakan ninja yang ideal… Mulia, pintar, licik, dan tidak mau kalah.

Kesimpulan

Oke. Satu hal.

Aku membaca 3 Ninja ini dari sebuah buku yang ada di atas ya… Jadi aku berpikir untuk menawarkan buku ini untuk pembaca yang menginginkannya. Untuk membelinya, bisa komentar atau email, atau buka link tokopedia ini.

Ini buku bekas, tetapi masih bagus, harganya kutaruh 125 ribu (open for negotiation), jika anda membeli baru, anda perlu mengeluarkan 298 ribu.

Selain 3 Ninja ini, masih banyak ninja lagi di buku ini, dilengkapi dengan ilustrasi yang amat indah! Terima kasih telah membaca!

PLAY, sebuah tulisan. Part 2

PLAY, sebuah tulisan. Part 2

It is a happy talent to know how to play.” -Ralph Waldo Emerson

 

Setelah membaca tentang hasil-hasil riset berkaitan dengan menurunnya kesempatan main pada anak-anak serta fakta bahwa anak-anak sangat menyukai bermain di luar ruangan, maka saya akan melanjutkan menceritakan bagian terakhir dari jurnal The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent – Peter Gray. Menurut saya, bagian terakhir ini adalah bagian yang paling menarik dan bermakna mendalam.

 

Bagian yang akan saya ceritakan adalah bagian yang berisi tentang ‘Bagaimana bermain mendukung kesehatan mental anak-anak’. Peter Gray menulis bahwa, bermain membantu anak-anak untuk:

  1. Mengembangkan minat intrinsic dan kompetensi
  2. Mempelajari cara membuat keputusan, menyelesaikan masalah, mengupayakan pengendalian diri, dan mengikuti aturan
  3. Mengendalikan emosi mereka
  4. Berteman dan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain yang setara
  5. Merasakan kebahagiaan

Melalui ke-5 hal diatas lah bermain menjadi hal yang mendukung kesehatan mental anak-anak.

 

Kembali saya ulas bahwa dalam konteks bermain dari jurnal Peter Gray ini adalah bermain sebagai free play, yang diartikan oleh penulisnya, aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini.

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MENGEMBANGKAN MINAT INTRINSIC DAN KOMPETENSI-KOMPETENSI.

Aktivitas yang berorintensi secara intrinsic, secara definisi adalah bermain atau FREE PLAY. Karena bermain itu sendiri dilakukan untuk bermain, kepentingan utama dalam bermain adalah bermain itu sendiri, tidak ada goal lain atau tujuan extrinsic (tujuan yang diarahkan keluar, bukan dari dalam, misal mendapatkan pujian, mendapatkan nilai, mendapatkan hasil nyata atau terukur atau jelas, sementara tujuan intrinsic adalah kebalikannya, dalam tujuan intrinsic maka hasilnya hanya dapat dirasakan oleh si individu sendiri, oleh karena itu hasil tersebut bisa jadi tidak nyata, tidak terukur bahkan tidak jelas, misalnya rasa puas, bahagia, senang).

 

Bila kita dapat mengapresiasi nilai dari kegiatan anak bermain bebas, maka kita memberikan simpulan bagi anak bahwa anak dapat mengejar tujuan intrinsic, bahwa adalah boleh melakukan yang ingin kamu lakukan, bahwa keputusan kamu bernilai. Sedangkan sebaliknya, bila anak berada dalam dunia yang berorintasi mendapatkan resume, hasil dan nilai, maka dalam masa depannya simpulan anak adalah ‘dunia ini penuh dengan tugas, selalu ada yang beban yang menanti di masa depan dan beban ini adalah sesuatu yang muncul dari pandangan orang lain, kamu pun tak tahu apa beban tersebut, dan tidak ada jaminan kamu akan berhasil memenuhi beban tersebut’. Perlu kita ketahui bersama bahwa uncertainty, ketidak pastian yang sangat kaya dalam pendapat kedua adalah sumber timbulnya depresi dan stress.

Bila saya bayangkan, anak-anak yang tumbuh dengan mengejar tujuan extrinsic, sesuatu yang sangat nyata dan dibentuk lewat pandangan orang lain, bukan pandangan dirinya sendiri, mungkin dapat menjadi anak yang sangat sukses, kompetitif, mampu bersaing, anak-anak yang mendominasi keberhasilan di ruang kelas, atau dalam kompetisi, namun hal yang perlu kita cermati adalah pada waktu tertentu sumbu tersebut akan habis terbakar. Bayangkan bila hidup kita adalah sebuah marathon, ketika kita berlari sangat cepat melibas semua yang berlari disamping kita maka besar kemungkinan nafas kita akan habis sebelum mencapai garis finis, namun sebaliknya bila anak-anak menikmati masa kanak-kanak mereka dengan lembut dan perlahan, tanpa tergesa-gesa, tanpa tekanan akan tujuan extrinsic, maka mereka akan lebih mampu menghadapi hidup dikemudian hari dengan tujuan intrinsic sebagai panduan keberhasilan mereka sendiri.

Dalam kegiatan persekolahan umumnya anak berupaya untuk mendapat pujian, nilai yang baik, atau prestasi yang disematkan oleh orang dewasa, juga dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, atau bahkan dalam kegiatan olah raga, mereka berupaya untuk tujuan extrinsic yang ditentukan oleh penilaian dan pandangan orang lain. Tetapi, dalam FREE PLAY, anak-anak melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan hasil baik yang mereka dapat, apakah itu pembelajaran maupun perkembangan psikologis, adalah suatu produk sampingan dan bukan tujuan sadar dari kegiatannya.

 

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MEMPELAJARI CARA MEMBUAT KEPUTUSAN, MENYELESAIKAN MASALAH, MENGUPAYAKAN PENGENDALIAN DIRI, DAN MENGIKUTI ATURAN.

Bila meningkatnya gangguan kecemasan, stress dan depresi berhubungan dengan perasaan kehilangan kendali akan diri sendiri, maka FREE PLAY adalah obat yang sangat sesuai. FREE PLAY merupakan kegiatan yang diatur dan dikendalikan oleh para pemainnya sendiri. Sementara dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, olah raga dan bahkan kegiatan persekolahan pada umumnya, orang dewasa yang menentukan apa yang harus anak-anak lakukan, kapan anak-anak melakukannya, dan bila ada tantangan yang muncul dalam perjalanan tersebut, maka orang dewasa lah yang menyelesaikan.

Tapi dalam bermain, dalam FREE PLAY, anak-anaklah yang menentukan apa yang akan dilakukan dan bagaimana, lalu mereka sendiri yang menyelesaikan masalah yang timbul. Termasuk masalah-masalah yang muncul dalam permainan, yang terkadang dalam kacamata orang dewasa tampak pointless, tidak bertujuan, tidak jelas. Sebagai contoh permainan kejar-kejaran, yang sering dilakukan anak-anak, akan membuat mereka mencari strategi terbaik untuk tidak tertangkap, atau bahkan permainan petak umpet anak berupaya mencari solusi terbaik, tempat persembunyian yang ideal, dan mereka terus belajar dari pengalaman sebelumnya (pengalaman yang mungkin pengalaman mereka tapi juga pengalaman orang lain, pengalaman teman mereka). Selain itu, masalah lain yang muncul diluar permainan, misal bagaimana bila ada anak yang jatuh dan terluka, mereka mencari solusi atas masalah itu sebagai bagian dari kegiatan bermain.

Dalam FREE PLAY, anak-anak belajar mengendalikan hidup mereka sendiri dan mengelola lingkungan sosial dan fisikal disekitar mereka. Mereka juga belajar dan berlatih banyak keterampilan yang penting dalam keseharian dengan itu mereka mengembangkan kompetensi atas keterampilan tersebut dan juga memupuk kepercayaan diri.

Lev Vygotsky, seorang psikolog perkembangan anak, menulis dalam essaynya, bahwa hal utama dalam kegiatan anak bermain terletak pada kesempatan melatih self-control. Beliau menyampaikan bahwa semua kegiatan bermain (FREE PLAY), ada aturan yang muncul dan para peserta yang ikut bermain secara sadar akan mengendalikan diri mereka mengikuti aturan ini. Meski aturannya tidak harus tertulis atau bahkan tidak disampaikan secara jelas, aturan-aturan ini adalah aturan-aturan yang berpedoman pada intuisi (dalam hal ini intuisi anak tentunya).

Sebagai contoh, kala anak bermain berantem-beranteman, maka mereka akan mengendalikan kekuatan yang mereka pakai untuk memastikan tidak menyakiti pemain lain, bahkan ketika si anak satunya jauh lebih kuat dari anak lain, maka ia akan mengendalikan dirinya untuk mengatur kekuatannya dengan upaya tidak menyakiti temannya, atau kala bermain menjadi superhero, maka si superhero akan kuat untuk tidak menangis atau mengeluh, meskipun terjatuh.

Permainan lain yang beberapa waktu lalu menjadi permainan anak-anak Jagad Alit adalah permainan kucing-kucingan, yang cukup menarik, kami sebagai orang tua ketika mendengar dari anak kami bahwa mereka bermain kucing-kucingan langsung membuat kesimpulan bahwa permainan tersebut melibatkan seseorang menjadi kucing dan yang lain berlari menghindari tertangkap, namun alangkah kelirunya kami, ternyata permainan tersebut adalah seseorang menjadi kucing, si kucing akan diikat menggunakan tali, dan karena dia telah menjadi kucing, maka dia akan berjalan dengan 4 kaki, dan bersuara dengan mengeong, serta tidak pergi dari tempat dimana ia ditalikan oleh pemiliknya, dalam kesempatan tertentu si kucing diikat di pegangan pintu dan kesempatan lain kucing terikat di bawah kaki kursi. Peraturan tidak tertulis dan tidak disampaikan secara jelas, tapi dimengerti oleh seluruh pemainnya, bahkan anak lain yang awalnya tidak terlibat permainan akan tidak sengaja terlibat ketika lewat lalu mengelus-elus si kucing dan si anak yang menjadi kucing akan mengeong senang.

Ditulis pula oleh Vygotsky, bahwa keinginan kuat dari anak-anak untuk bermain dan memastikan permainan tetap dapat berlangsung, membawa mereka untuk menerima batasan-batasan yang tidak mudah mereka terima dalam kehidupan nyata. Dan ini adalah fakta bahwa anak-anak mengupayakan self-control yang sangat penting untuk kehidupan sosial di dunia nyata kelak. Dalam bermain anak mempelajari bahwa self-control itu sendiri adalah sumber kesenangan dan kepuasan.

Sangat masuk akal bila kemudian kekurangan kesempatan bermain akan membawa individu kelak kehilangan rasa memiliki kesempatan pengendalian diri. Anak-anak yang tidak mendapat kesempatan untuk mengendalikan tindakan mereka sendiri, untuk membuat dan melaksanakan keputusan mereka sendiri, untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, dan mempelajari bagaimana mengikuti aturan dalam lingkup bermain (FREE PLAY), tumbuh dewasa dengan merasa mereka tidak memiliki kendali atas hidup mereka dan takdir mereka sendiri. Mereka dapat tumbuh dengan merasa bahwa mereka bergantung pada keberuntungan dan kebaikan orang lain, dan betapa menakutkan kala mereka menyadari bahwa keberuntung sejalan dengan upaya dan kebaikan orang lain tidak selalu mereka dapatkan.

 

Sekian dulu, masih ada 3 hal penting lagi yang belum saya bahas yaitu tentang bagaimana bermain anak belajar meregulasi emosi mereka, dan juga bagaimana bermain anak-anak mendapat kesempatan berteman dan belajar untuk hidup bersama dengan temannya secara setara.

Stand-Up Comedy #1. Identitas Komedian.

Stand-Up Comedy #1. Identitas Komedian.

Sebagai seseorang yang senang mempelajari hal baru, aku sempat mendalami stand-up comedy dengan cukup semangat. Bukan cara menampilkan (sayangnya aku terlalu payah dalam mengatur intonasi dan aku tidak ingin menjadi komedian yang garing apalagi yang kontroversial) tetapi cara menuliskan, serta teknik-teknik yang umum digunakan.

Oh iya, juga perlu diingat aku suka mengubah hal menyenangkan jadi hal membosankan jadi… Hahaha! Rasain!

Aku sedang berusaha menuliskan satu rutin untuk ayahku, namun menuliskan rutin untuk diri sendiri saja bukan hal yang mudah, apalagi untuk orang lain, jadi ya, aku masih berusaha.

Jadi ada serial baru, yang kutuliskan untuk menjelaskan serta membantu orang-orang menulis stand-up comedy-nya masing-masing! Selamat menikmati!

Persona, Identitas, Schtick, Image.

Teknik paling mendasar dan paling wajib diketahui seseorang yang berniat untuk membuat rutin stand-up adalah teknik-teknik yang berhubungan erat dengan identitas. Kasarnya, semua stand-up sukses sudah punya persona-nya masing-masing, identitas yang mereka bawa dengan tujuan mencerminkan image mereka sendiri, dan identitas tersebut mereka  gunakan untuk membuat orang tertawa.

Hampir semua stand up sukses bergantung pada dasar persona mereka untuk membuat orang tertawa, dan kecuali kau orang yang mampu improvisasi 100% dalam sebuah rutin (tidak disarankan) persona itu hal pertama seseorang menulis rutin.

Kamu tidak mungkin mendengar komedian seperti Jimmy Fallon mengeluh tentang sesuatu seperti sedotan, tetapi Jerry Seinfeld mungkin melakukan lelucon seperti itu.

Ini adalah beberapa contoh umum.

The Fool/Dummy

Teknik ini adalah teknik yang sering digunakan orang-orang seperti Joey Tribbiani di Friends, Luke Dunphy di Modern Family dan juga sering digunakan stand-up comedian seperti Sarah Silverman (iya, Vanellope dari Wreck-it-Ralph), atau Dodit Mulyanto.

*out of topic note: Dodit adalah satu-satunya stand up lokal yang aku sebutkan karena identitasnya cukup erat dan nempel untuk bisa menjadi contoh yang baik tanpa penjelasan lebih lanjut. Tidak menutup mata untuk Sule, Pandji, dan stand-up lainnya tentunya.

The Fool merupakan identitas di mana penampil memainkan tokoh yang melakukan hal bodoh atau mengatakan hal konyol tanpa menyadari bahwa hal yang dia katakan itu bermasalah, atau bodoh. Terkadang identitas fool ini tidak harus bodoh, tetapi tetap berhubungan dengan frasa “tanpa menyadari” (seperti yang Silverman lakukan). Ia bisa mengatakan hal-hal seperti “I think white women are jerks” walaupun dirinya sendiri adalah perempuan berkulit putih.

Tentunya aksi menutup sebelah mata ini tidak nyata, tetapi penampil yang bagus bisa melakukannya dengan sempurna. Sebagai contoh, mari kita masukkan sebuah lelucon yang melibatkan Joey dari Friends. (lelucon di bahasa Inggris, semoga anda tidak keberatan)

  • Chandler: Okay, I have a challenge for you all! I have a very special test that my boss used to test someone’s general memory and knowledge. Who can name all 50 states in the United States in a piece of paper?
  • Ross: That’s easy.
  • C: Good luck, pal.
  • Joey: Here, let me try!
  • *theme song plays*
  • C: You guys done?
  • R: I have 47, this is a piece of cake.
  • C: Wait till you reach 49 *canned laughter from audience*
  • J: Yeah, I almost have em’ all!
  • C: How many you’ve got?
  • Joey: 56!

Lelucon utamanya dalam bold. Naskah tidak seratus persen pas. Cari saja episode-nya di google dan nonton sendiri, itu episode yang sangat bagus untuk membangun persona The Fool karena Joey membuat banyak sekali lelucon bagus.

Persona The Fool ini adalah persona yang cocok jika anda cukup pintar (aku serius) untuk bisa memainkan seseorang yang bodoh tanpa menampakkannya. Identitas The Fool tidak terlepas dari kemampuan seseorang mengatakan hal yang bodoh, tapi tidak terlalu bodoh, dan memastikan reaksi orang adalah tawaan, alih-alih tatapan “Apakah dia sebodoh itu?”

Catatan: Seorang Fool tidak harus bodoh, tetapi harus clueless. Lihat Sheldon Cooper, seorang jenius dan juga Fool di saat yang sama.

The Snob

Gaya Snob ini adalah cara memainkan sebuah tokoh juga, dasarnya… anda menjadi seorang douche, yang mengatakan statement sombong dengansengaja, untuk membuat orang tertawa.

Tidak seperti fool yang membiarkan orang-orang tertawa karena anda melewatkan suatu fakta umum, snob adalah teknik di mana karakter anda memang mengatakan satu hal dengan sombong dan dengan sadar dengan tujuan membuat orang tertawa.

Teknik ini sering digunakan Barney Stinson dari How I Met Your Mother, Steve Martin, Ricky Gervais dan masih banyak stand-up comedian lagi. Sebagai contoh, ini adalah salah satu rutin yang pernah dilakukan Ricky Gervais di awal sebuah acara, ketika ia baru datang (p.s. ini tidak begitu lucu di kertas, jadi, gunakan saja sebagai contoh).

  • Datang dengan suara tepuk tangan dari penonton.
  • Thank you everyone! Thank’s for waiting for me! *Tepuk tangan lagi*
  • I know, you guys are bored, but don’t worry, you guys spent money for your tickets for a good reason. Even if you guys are not laughing, I am here. *penonton tertawa*
  • You guys spent money and waited for a while to see… me. *penonton tertawa lagi*
  • I am someone really important. *tawaan sedikit lalu Gervais bernafas* Like Jesus. *penonton tertawa lebih keras dari 3 kali tawaan sebelumnya*
  • Di saat yang sama ketika aku melihat ini aku tertawa sambil memikirkan… wow, ini orang parah banget bercandanya.

Raditya Dika juga pernah melakukan hal yang mirip di opening act SUCRD-nya, dengan gaya yang lebih cocok untuk selera humor lokal. Tentunya seorang komedian harus beradaptasi.

Gaya ini dapat dimanfaatkan dengan pintar selama penampil tidak membawa dirinya sebagai douche dan mengatakan hal yang mungkin dikatakan di dunia nyata. Snob ini hanya bisa sukses jika seseorang melebih-lebihkan hal normal yang dia katakan, dan sukses menciptakan hal yang membuat orang berpikir… “what, ada orang kaya gini di dunia?” dan membuat mereka tertawa karena pikiran tersebut.

Jika tindakan atau pernyataan douche yang dikatakan terlalu realistis dan dibawa secara salah, kemungkinan orang-orang akan melirik dengan horror alih-alih tertawa.

The Grump/The Complainer

Sedikit backstory. Sampai tahun 70-an akhir dan 80-an awal, persona grump atau orang yang mengeluh untuk komedi hampir tidak pernah tampak. Lalu, muncullah komedian legendaris yang merubah dan mendesain ulang makna dari melawak dan mengubah keluhan menjadi komedi.

Orang tersebut dikenal dengan nama Jerry Seinfeld.

Sampai hari ini, Grump sebenarnya salah satu persona mendasar paling umum yang dibuat seseorang. Karena percaya padaku, mengeluh adalah hal yang semua orang lakukan. Beberapa orang cukup pintar untuk mendapat duit dari keluhan tersebut.

Dasarnya, Seinfeld menciptakan persona ini dengan memutar hal-hal setiap hari seperti misalnya makan di restoran, pergi ke dokter, atau menginap di hotel, dan mengubah hal yang orang-orang sering tuliskan di ulasan (seperti yang dilihat di Amazon sekarang, tetapi Seinfeld melakukan ini di kertas) menjadi lelucon.

Keluhan yang dibuat cenderung semi-realistis dan memiliki kecenderungan utama yaitu terdengar konyol, realistis, dan sebenarnya membuatmu berpikir (sambil tertawa tentunya)… “Hey, this guy’s got a fair point.”

Salah satu tip terbaik dari guru-guru stand up komedi sukses adalah, tuliskan hal yang kau benci, dan ubah itu menjadi komedi. Ini adalah bentuk umum dan mudah dimengerti.

Untuk contoh lelucon, aku tidak bisa memberikan secara langsung di sini, tetapi aku bisa memberikan orang pertama yang memberikan komentar sebuah ebook buku Jerry Seinfeld. Itu buku yang sangat bagus untuk mencari ide dan membangun konsep dasar persona Grump.

The Happy-Go-Lucky Guy

Tidak ada orang yang dapat menjelaskan persona yang satu ini selain Jimmy Fallon dan James Corden.

Anda tahu macam orangnya. Orang-orang yang sebenarnya tidak begitu peduli mengenai apapun, dan dapat memberikan lelucon tentang apapun dengan konyol dan tetap disenangi orang.

Orang-orang seperti ini memasukkan melakukan hal-hal konyol dalam bagian dari persona-nya. (Seperti Corden yang sering melakukan Carpool Karaoke, pernah menjawab iya ketika ia akan ditendang bola oleh Thierry Henry, dan juga seperti Fallon yang sering melakukan games seperti Truth or Truth dengan tamu-tamu show-nya) Kekonyolan yang mereka rela lakukan, dan aura menyenangkan yang mereka punya lebih dari cukup untuk menjadi persona sendiri.

Untuk jenis lelucon yang mereka berikan, sejujurnya mereka bisa memberikan lelucon apapun selama masih berhubungan erat dengan identitas mereka. Corden yang merupakan orang London sepertinya tidak mungkin bercanda tentang British Royal Family tanpa menerima tabokan dan kritikan dari orang-orang satu negaranya, dan Fallon yang liberal tidak mungkin punya lelucon tentang Hillary Clinton.

Secara keseluruhan, tonton saja The Tonight Show atau The Late Late Show dan dapatkan gambarannya.

The Storyteller

Entah mengapa, persona terakhir ini adalah persona yang sangat disukai Netflix.

Banyak orang yang mempunyai Netflix Original memiliki persona storyteller dan bukan Grump, Fool, Happy Go-Lucky, atau Snob.

Kelinci dari Secret Life of Pets (Kevin Hart), Hasan Minhaj, Trevor Noah, dan masih banyak lagi.

Seperti namanya, Storytelling adalah gaya stand-up comedy yang menempelkan dirinya pada sebuah cerita, dan tidak langsung terkait dengan bercandaan. Sebagian storyteller memanfaatkan hal serius untuk diberitahu pada penonton, lalu menjelaskan hal serius tersebut dengan lelucon. Sebagiannya lagi bercerita tentang hal lucu.

Dalam opiniku, ini adalah persona yang paling mudah dimodif karena tidak jarang, persona storyteller dicampur dengan 4 persona yang paling umum dilihat sebelumnya.

Tentunya persona ini tidak bisa berdiri sendiri dan terkadang disertai identitas orang tersebut, seperti misalnya, Hasan Minhaj yang merupakan anak seorang imigran dari India membuat lelucon atas identitas tersebut (seperti urusan dimarahi ayahnya ketika skor yang ia dapatkan hanya A-), serta juga persona-nya sebagai orang yang agak Happy-Go-Lucky.

Persona ini makin banyak muncul, dan makin banyak orang mengetahui cara memanfaatkannya dengan baik, padahal dari zaman dahulu persona ini kembali lagi ke seseorang yang menceritakan cerita, entah itu serius, atau sepenuhnya lucu, sambil diselingi lagi dengan lelucon.

Kesimpulan

Aku berusaha selama untuk menarik kesimpulan yang lucu. Tapi aku tidak bisa.

Intinya, jangan remehkan komedi, karena menulisnya sangat-sangat susah. Sampai ketemu di episode dua di mana aku membahas jenis lelucon sebagai komplemen dari persona!

127 Hari Tanpa Smartphone

127 Hari Tanpa Smartphone

The human spirit must prevail over technology. –Albert Einstein

Kalau 129 hari yang lalu saya ditanya apalkah bisa hidup tanpa smartphone selama 100 hari atau bahkan 30 hari atau mungkin 1 hari, kala itu jawaban saya pasti “tidak”. Tapi hari ini ternyata sudah 127 hari terlalui tanpa benda kotak yang luar biasa pintar itu.

Sebelumnya, saya pikir punya smartphone pasti memudahkan hidup, semua serba mudah, dan bisa membuat waktu jadi efektif. Ternyata kenyataannya berbeda ya. Dan baru terasa saat betul-betul si smartphone tidak lagi saya miliki.
Saat ini sudah lebih dari 60 judul buku yang selesai saya baca. Angka yang luarbiasa bila saya melihat 5 tahun terakhir dimana paling 1 buku bisa saya selesaikan dalam 1 bulan, karena si smarthone lebih banyak menyita perhatian saya, Smartphone lah sumber entertainment saya. Akhir-akhir ini, buku lah sumber kesenangan, puas sekali membaca satu demi satu dan selesai dengan cepatnya.

Dulu, mau pergi kemana-mana, pasti saya cek google map dulu, sekarang ya mana bisa. Maka saya pergi saja menikmati rute ala kadarnya berdasarkan intuisi dan itu cukup. Beberapa kali juga saya nyasar, lalu ya lakukan dengan cara lama, tanya sama orang lewat tentunya. Kalau kena macet berarti baru saya pakai telepon-tidak-pintar saya untuk menelepon pakjek dan tanya “ada apa sih ko macet banget”.

Oh iya, saya paham kekhawatiran orang-orang, bahwa tanpa smartphone maka akan susah dihubungi. Sebetulnya tidak juga, saya tetap bisa di sms dan di telepon. Tapi memang sms dan telepon tidak senyaman chat di Whatsapp atau ngobrol di grup WA misalnya. Akhirnya betul-betul kalau dibutuhkan baru seseorang akan mengkontak. Minimalism kan. Sejujurnya itu juga hal pertama yang saya rasakan tanpa smartphone. Dulu kayanya orang-orang itu apa-apa nanya yaa. Apa-apa saya juga ingin memberi komentar dan mendapat komentar, sekarang sangat berkurang.

Ini belum membahas tentang ‘social media’ tanpa smartphone saya ga bisa banyak intip-intip socialmedia. Saya juga ga tau banyak tentang tren terbaru, gosip terbaru, apa yang lagi keren saat ini, dan seterusnya. Saya masih suka intip sih via laptop, tapi yang bisa dilakukan di laptop terbatas ya. Jadi ya keponya juga terbatasi. Seru kok. Buat saya tren mah ngga terlalu pengaruh karena saya masih setia dengan pakai baju merah kemana-mana, modelnya ya ga penting.

Telepon genggam manis saya yang baru warnanya merah, setelah 1 bulan tidak pakai smartphone baru saya membelinya. Jadi 1 bulan pertama saya tidak bawa telepon apa-apa, ternyata nyaman nyaman saja kok. Kadang mikir juga gimana kalau ada “apa-apa” di jalan, ya aklau itu terjadi saya tinggal cari orang terdekat dan pinjem teleponnya. Gitu aja kok repot.

Setelah 1 bulan, saya membeli telepon genggam lagi, tapi saya sudah berniat untuk tidak beli smartphone. Telepon genggambaru saya tidak pintar tapi sebetulnya cukup pintar juga, bisa dipakai telepon, bisa buat kirim dan terima sms (maksimal hanya bisa simpan 20 sms, kalau lebih maka sms lama harus dihapus supaya sms baru bisa masuk), ada kalkulatornya (bermanfaat sekali buat hitung-hitung), ada kamera juga (meski hanya bisa simpan 6 foto saja dan hasil fotonya cukup banget buat layar hp saya), ada bluetooth (saya pernah coba kirim foto dan sukses lho, memang menghabiskan waktu agak lama, tapi bisa), ada games snakes yang lumayan seru (kalau bosan bisa juga main ini). Semua fitur ini cukupan lah buat saya.

Dirumah masih ada laptop, yang seperti sekarang ketika saya mau “kerja” ya masih support. Saya masih mengerjakan jualan pasir online (bisa banget lho, di laptop juga bisa), saya cek laptop biasanya 1 atau 2x sehari, dan itu cukup. Email-email yang masuk juga saya kelola pakai laptop. Diluar itu juga saya masih bantu-bantu “bikin” sekolah. Sekolah Arunika yang dirintis dan diupayakan bersama banyak teman-teman lain, jadi bagian keseharian saya juga.

Dulu smartphone itu saya pegang paling awal ketika bangun tidur (bahkan pada saat mata belum membuka sepenuhnya) dan jadi benda terakhir yang saya pegang sebelum tidur (jadi kalau mau tidur liat smartphone dulu sampai puas baru lepas contact lens dan tidur). Itupun kalau tengah malam kebangun, ya yang dicari pertama tetap smartphone, duh sungguh parah sekali ya saya ini. Sekarang peduli amat si telepon manis yang tidak terlalu pintar itu seringkali saya lupakan, karena ada banyak hal yang lebih penting yang saya kecup sebelum tidur dan saya peluk ketika bangun. -AdminBubi

The River Of Time: A Piece Of Poetry

The River Of Time: A Piece Of Poetry

To increase my poetic skills, and harnessing that inner poet in me, I’m going to try to make a poet in English, every Thursday. In Bandung here, we have a special day each day, and Thursday’s special event is Kamis Inggris, or English Thursdays.

Special thanks to random topic generation for granting me the flow of time, or life as the subject for today’s article.

I personally love the randomly generated topic because of my personal interest to Science fiction, and also Albert Einstein’s relativity theory.

Enjoy the poetry! It’s relatively short actually…

Indonesian Version Of The Opening:

Untuk menambah kepuitisan di Bahasa Inggris, aku akan mencoba, dan juga berusaha untuk membuat sebuah puisi di Bahasa Inggris setiap hari Kamisnya dalam rangka Kamis Inggris.

Terima kasih pada random topic generator untuk memberi aku ide puisi mengenai aluran waktu, atau kehidupan.

Sebenernya ini menurutku cocok buatku yang emang doyan Science Fiction, dan juga teori relativitasnya Albert Einstein.

Sesudah pembukaan, ini adalah sebuah puisi yang relatif pendek, dalam Bahasa Inggris.

River Of Time

By: Azriel M.A.H.

Silence. Listen carefully
To the time stream
Flowing with your destiny
Carrying your dream

Quickly, it flows one way
As one moves with the current
So does one’s history lay
And what’s left is certain

Never will you know surely
What secrets it may bear
Where the river would journey
Nor why it took you there

Flow in the rivers
The current becomes greater
Accept the water’s shiver
And you’ve become better

To the wrong path you swayed
And prejudice shall follow
To the right path you stay true
Awaits for you, a better tomorrow

Memories carry your success
And names, etched through the stones
These stones marked those who excelled
For determination lies in their bones

Joy flows with the waters
As it flows, love lies somewhere
They shall complete you after
For love is what the river can spare

Through your long journey
The waters shall become passive
Rest, no longer shall you be in a hurry
Slowly, comfort be with your passage.

Hopes, dreams, and desires
Have they become real?
All your life, are they acquired?
Or are they just visions of what’s ideal?

Your journey must end today
You’ve triumphed, suffered, and fought
For this is a fate that cannot be delayed
We hope, your name will not be lost

In Conclusion

Did you like it? Is it good? I’m really-really still learning to make some poetry so any feedback would be greatly appreciated… Thanks for reading.

Kalibre Backpack Review

Kalibre Backpack Review

HWAAAA Sudah 5 hari ga ada post… (Excluding yesterday)

Anyways, I had some form of camping trip a while ago. Tapi tidak seperti camping trip pada umumnya, aku jalan kaki dari Taman Malabar ke Gunung Puntang. Sesudah dibelikan Carrier yang proper sama Tante-ku tercinta tahun lalu, aku memutuskan untuk memakainya. And here’s a review of that carrier, and how it kinda helped me get through my 12 hour 27 kilometer hike.

Pertama-tama model yang ku review adalah Kalibre Metroplex 01, mine is blue and orange, tapi aku yakin ada banyak warna lain. Anyways, let us climb upwards to the article!

Pros!

Produk Kalibre yang ini sepertinya punya banyak hidden trinket, kaya ada hidden pocket, banyak flap kecil dan lubang untuk sedotan, selain itu, Kalibre juga memberikan user-nya cukup banyak metode untuk packing dengan mudah, karena ada banyak zipper disana sini, yang eventually juga nyambung sama tas utama.

Apart from that, tas ini juga punya tempat diluar tasnya untuk menyimpan matras, menaruh sleeping bag, dan of course, tempat menaruh botol minum. Oh dan andaikan kita punya walking stick yang ukurannya ga gede-gede amat, kita bisa selipin walking stick itu ke tali dengan velcro untuk mengunci si tali dengan tas-nya. With that, we don’t really need to hold it tight, dan kita ga perlu khawatir si tongkat itu akan kebawa air, atau jatuh.

Oh, juga ada raincover yang cukup waterproof, dan dapat menempel ke tas-nya dengan cukup kencang! (masih kalah sama air yang bukan air hujan sih…)

Selain banyaknya mini trinket disana sini, Kalibre Metroplex 01 dengan ukuran 45 liter ini masih punya fungsi yang optimal sebagai carrier.

Selama perjalanan, tas ini tidak memberiku sakit punggung of any sort, dan overall cukup enak dipakai, bisa diatur ukurannya untuk fit pengguna, dan mudah untuk dikencengin.

Iya sebenernya aku ga tahu di review backpack ada apa saja yang perlu dibahas, maklum ini review pertamaku, dan aku bukan orang yang terlalu peka atau kadang bahkan aku ga peduli sama yang namanya kenyamanan… That is sampai aku merasa kesakitan.

Jadi sebenernya kalau untuk toolbox yang disediain sama si Tas Kalibre Metroplex ini, sudah cukup banyak untuk packing se compact mungkin (kecuali skill packingmu seperti aku, yang cemen)… Comfort yang diberikan dengan padding, support dan jetrekan (atau itu lah istilahnya), juga sudah cukup nyaman.

Overall, untuk sisi positif dari tas Kalibre ini bisa di sum up dengan… Tas ini nyaman, dan punya banyak fitur tambahan untuk dimanfaatkan agar bisa membuat packing lebih compact.

Cons (or what could be better)

Well, tas ini punya sedikit (or actually a lot) masalah dengan jetrekan untuk memastikan tas tertutup. Tas ini punya sekitar 6 cliplock (tadi googling dulu hehe), masing-masing berfungsi untuk secure suatu benda, kaya ada yang buat matras, ada yang buat menutup upper lid tas-nya, dan juga untuk Compartment Sleeping Bag, dan banyak we lah.

Well, dari banyaknya cliplock yang ngunci trinkets tadi, memastikan barang bawaan tas-nya aman, seringkali cliplock ini copot-copot dan aku perlu meminta tolong temanku untuk membenarkannya. Cliplock yang ga enak dan gampang copot ini ada rada banyak sih, bahkan kayanya semuanya, termasuk yang di Waist Pad.

Masalahnya adalah kalau cliplock ini suka copot-copot, di daerah yang secure barang, itu akan sedikit memakan waktu untuk membenarkannya berkali-kali karena cliplock ini kurang enak, atau bahkan jika misalnya kita lagi menyusuri sungai dengan carrier, karena keadaan memaksa, cliplock yang copot bisa berujung ke Sleeping Bag yang terbawa arus, atau matras yang hampir hanyut.

Untungnya itu tidak terjadi kemarinnya…

My biggest concern with the cliplocks are that… some of these cliplocks are meant to secure the bag. Cliplock-nya ada untuk memastikan si tas ini tidak terbawa arus, dan tetap bisa dipakai dengan kencang. Sayangnya, aku kadang harus waspada dan merasa tidak aman karena seringnya cliplock ini copot.

Tapi untungnya masih lebih banyak lagi hal baik yang diberikan oleh tas Kalibre ini, namun sedikit mengecewakan saja mereka menggunakan cliplock yang kurang kenceng, karena penggunanya juga pasti akan merasa jauh lebih enak lagi dengan sesuatu yang hanya merupakan minor improvement.

Overall, menurutku Kalibre seharusnya menggunakan cliplock yang lebih baik karena sangat disayangkan experience menggunakan tas yang banyak fungsi sampingan dan nyaman itu rusak karena sebuah jetrekan yang simpel. Cliplock ini juga membuat penggunanya merasa sedikit tidak aman karena desain yang sudah compact dan efisien ini disecure dengan beberapa cliplock, yang sekali lagi… kurang ngejetrek… jadinya gitu deh.

In Conclusion

Well, sebenernya tas dan peralatan itu cuman alat. Mungkin kita bisa punya tas yang sangat baik dan compact, heck, tas yang jauh lebih bagus dari tas Kalibre ini, tetapi ketika kita sudah di alam, segalanya kembali ke persiapan dan skill yang kita miliki.

Mau kita pake tas yang bagus, lengkap dengan peralatan yang bisa ini bisa itu, atau apa lah… Kalau kita tidak punya skill yang cukup untuk memanfaatkannya, jadinya tetep saja, tas yang “mahal” dan “bagus” itu jadi tidak ada nilainya.

My conclusion is a way of saying that, tas yang bagus memang penting, tetapi preparasi jauh lebih penting kalau kita terpaksa untuk melakukan perjalanan dan menghadapi alam. Andaikan kita kurang preparasi, atau kurang skill, jadinya… ya… hal buruk akan terjadi.

Which is also why you should look a bit lower of yourself and remain humble. Don’t compare yourself with others, even if you think you’re better than them.

Semoga artikel ini dapat dinikmati!

The Greatest Showman Soundtracks Part 1

The Greatest Showman Soundtracks Part 1

The Greatest Showman bagus banget… Probably the first real musical I’ve watched, and it seems that it’s pretty memorable and good.

Ironically aku tuh ga nonton film-nya dulu. Aku dengerin every single song terlebih dahulu. Terus karena namanya juga kepo, aku baru tonton film-nya.

Filmnya juga kutonton lebih karena aku pengen nyari konteks beneran dari si lagu, bukan cuma karena aku penasaran filmnya gimana.

Well jadi artikel berfungsi sebagai review dari… Lagu-lagu di album Greatest Showman ini, dan sebagus apa dia dimasukkan dalam konteks si film.

The Greatest Show

Wooooh, Woooh, Woooh…

Lagu ini diplay sebelum si film ini bahkan dimulai. Ketika 20th Century Fox clip-nya, instead the typical sound effects, mulai lah Woooh Woooh dan Woooh

Signifying that this show is indeed the Greatest Show.

Like most musical songs I’ve heard, which isn’t a lot actually 😅, it starts with a quiet and storytelling style of music.

Until the chorus, which is BURSTING with energy, and it really does make sense.

Jarak diantara chorus pertama dan chorus kedua udah mulai lebih energetic. With Hugh Jackman’s aggressive voice, audience harusnya merasa rada wah, and shunned pas bagian ini.

Ketika mencapai chorus kedua, hampir lirik dan musiknya sama persis, kecuali satu bagian…

Where it’s covered in all the colored lights/Where the runaways will run the night/Impossible comes true/It’s Taking over you

Untuk chorus kedua, It’s Taking Over You berubah menjadi intoxicating you, karena musik dan aura dari si sirkus ini udah masuk dan hanya berusaha meracuni dan membuat orang pengen dateng lagi.

Overall, my favourite part of the song is when Zac Efron took over. Bagian ini signify pas di akhir-akhir film, PT Barnum (tokoh utamanya) memberikan si sirkus ke Ringmaster yang dia hire. Splitting the circus earnings half and half.

Overall this song is energetic, and has enough oomph in it to wake up someone. Tepat untuk bagian-bagian berikutnya di film sesudah orang itu bangun dengan musik dan amazement dari acts circus yang ada di film-nya.

A Million Dreams

Lagu ini jadi lagu favorite si tuan putri mungil.

Kenapa? Lagu ini baru dinyanyiin pas PT masih anak-anak. In fact di Greatest Show sebelum lagu ini, PT rada-rada mengingat masa traumatis pas dia masih anak-anak.

PT sang this song to his future wife, Charity. Well konten di filmnya akan sedikit spoiling tapi yeah dengerin aja lagunya dulu, its really good.

Lagu ini dimulai dengan relatif sedih, dan, pas awal-awal yang rada kebayang adalah Child PT Barnum sudah punya mimpi untuk affect the world.

Ketika Chorus pertama, PT kecil masih menyanyikannya, sesuai dengan film. I think he’s a bit trying to convince Charity that it’s okay to dream.

Nah, pas bridge antar Chorus, dia mulai menceritakan dengan future life yang dia janjiin sama Charity… Which is a bit… Cute come to think of it 😙. Or well… Cheesy mungkin di zaman ini.

In fact, this song is what kept them together when Charity was sent to Boarding School. This song is the tune they sing when they write each other letters. Again, it’s rather cute and… Sweet…

Kayanya Bubi nangis di bagian itu…

Pada chorus kedua, yang menyanyikannya sudah bukan Little PT lagi, tapi sudah menjadi Grown Up PT, bersama istrinya yang sudah bukan anak-anak lagi.

Liriknya masih sama, tetapi dengan… Vibe suaranya Hugh Jackman, who I’m really still amazed at… Karena siapa yang ngira Wolverine bisa nyanyi? (I haven’t watched Les Miserables yet)

Bridge-nya dinyanyikan oleh Charity, who’s now his wife, played by Michelle Williams.

Bridge ini menceritakan dari si mimpi ini yang pas awalnya PT cuma berusaha convince his future wife to believe in him. Pas Bridge, Charity sudah percaya dan seneng, she’s glad that PT Barnum is taking her. And she really doesn’t care about the dreams of that ambitious man…

Asalkan dia tetap berada di hidupnya PT.

The song ends with another chorus, only it was sung in complete sync, and more emotion by the couple.

Di film ini lagunya dinyanyikan lagi sama kedua anak cewe-nya yang sekali lagi… Imutttt

Come Alive

Masih di tema shows and dreams, Come Alive adalah lagu ke 3 di film ini.

At first, sama kaya Greatest Show, lagu ini dimulai dengan tune kalem, tapi convincing. Awalnya lagu ini rada-rada desperate, in the sense that it’s… Saying that we believe in the judgements that people tell us.

Terus kita merasa desperate and as this song states, we are like a zombie, half dead, and trying to figure out the exit of a maze, as a zombie with bad sensory.

Karena kan circus ini emang isinya orang2 aneh, emang wajar kalau mereka di discriminate sama society. Jadi sebelum PT memulai dan membuka Grand Opening dari sirkusnya… Dia menyanyikan lagu ini untuk convince bahwa… Your dream can come true.

Di chorus lagu ini, ia menyanyikan… “dreaming with your eyes wide open” this is a poetic statement of saying… Your dream is coming true.

Sesudah chorus pertama, film ini pindah ke stage and WOW it really is cool.

Para inhabitants dari Sirkus ini mulai pede dan ikut nyanyi, percaya bahwa being unique and weird is okay. Pas Chorus kedua, these freaks in the circus are already convinced dan menjadi background singer-nya Hugh Jackman.

Ketika bridge, Hugh Jackman hitted a note that’s pretty long , dan lengkap dengan support dari circus members ini yang masih melanjutkan act-nya atau ikut menari di front stage, juga ikut mensupport suatu kata yang… Just… Amazing…

Kata yang aku bilang dinyanyiin dengan panjang ini adalah… BREAK FREEEEEEE

When you want to break free from your chains, you have to really mean it. Dan ketika mereka sudah memotong diri dari penjara yang mereka refer to as… Society. By being freaks and getting paid for it, kamu beneran bisa mendengarnya.

Bagian lain yang aku suka dari lagu ini adalah ketika lagu ini meld fantasy and dreams with real life. Chorus lagu ini completely signify that, we live in our own world, we’re living the dream, and if this really is just a dream, it still feels real to us.

In Conclusion

Overall the first 3 songs conclude in a happy ending

Tapi album ini berisi 9 lagu, dan sebenernya 3 lagu ini udah cukup untuk satu hari, entar akan kulanjut.

For now the songs are filled with joy and I’ll have to admit, it’s rather nice to see one’s dreams coming true.

I hope the same could be said with you guys!

Semoga kalian suka artikel ini!

Why I Enjoy Rick Riordan’s Books

Why I Enjoy Rick Riordan’s Books

Mungkin kalau udah ngikutin blog ini entah dari kapan tahu, udah tahu ya seberapa ngefans-nya aku sama Myths, and stuff that revolves around it. Well, probably this article is to give you a small image onto how Rick Riordan’s books give mythology a brand new image…

Aku dapet topik ini dari random topic generator actually… “A book that has affected you”

To prevent myself from bricking, jadi aku tulis tentang ini deh… Artikel ini kurang lebih bakalan tentang Modern Mythology ala Rick Riordan, writing style-nya dia dan cara ini merubah persepsi seseorang pada dunia. Or things like that. Anyways, just carry on, keep rowing your boat to the river Styx and enjoy the article!

Imagination

Menalar myth itu udah pasti butuh pake imajinasi, karena, dimana lagi coba kita bisa membayangkan makhluk humanoid (with powers) dengan personality yang vivid, dan masing-masing punya kerjaan masing-masing, sambil mereka invent hal baru dan govern things. Wait no… there’s X-Men…

Sure, the Alien freaks will say that these Greek Gods are all “Extraterresterial Beings, or Ancient Astronauts”… Whatever, I’ll stick to myths… Muhahahha

On topic… Jadi, sebenarnya, cara mereka govern universe mereka itu sangat… tidak masuk akal. Tapi, kalau orang mau berkhayal, ya, sebenernya sih tetep masuk akal ya… (or not).

Anyways, jadi, di buku-bukunya Rick Riordan (specifically Percy Jackson and Magnus Chase), dia bahas beberapa kali, bahwa kalau mau berimajinasi untuk menyatukan teknologi dan myth, pasti akan ketemu kok meeting point-nya. And once you do, you’ll find out that it does make sense.

Who else could’ve imagined that Valhalla is a hotel… Atau mungkin bahwa Mount Olympus itu lift yang dijangkau dari Empire State Building… Another fun thing to imagine is, the fact that Hermes’s delivery system, is a large shipping brand.

Blend dari both technology and mystic related things dari Buku Rick Riordan itu keren, dan kalau mau, bisa di terapin di dunia nyata, in ways that Rick Riordan hasn’t even done yet…

Gimana? Misalnya, kita mau berteori bahwa ada singer yang merupakan demigod. Well, basically, it’s all you need to enjoy the theory. Pikirin aja siapa dewa yang jadi ayah/ibu-nya, kenapa dia bisa jadi demigod, or things like that. Kalau iseng mau nyoba tinggal di bahas aja sebagai conversation topic.

Nah selain itu, kita bisa move on to the next topic, bahwa, sebenernya mythological prospect dari bukunya Rick Riordan ini masih kelihatan.

Staying True To The Myths

Nah, sebenernya, Rick Riordan ini refuse to change some things inside his books. Masih ada fakta bahwa senjata harus dikasih nama sesuai apa yang dibilang orang Norse, kalau senjatanya mau reach full potential.  According to the Greeks juga, Apollo uses a bow, dan ga boleh sampai dia jadi god of ballistics dan make meriam atau pistol apa… Meskipun ga sekepake dulu, Apollo masih stick to his weapon, the bow.

Selain itu, buku Rick Riordan juga ga sepenuhnya stay true to the myth’s sih. Tapi changes to some tradition yang di offer sama Rick Riordan itu sangat tolerable (even for myth fanatics… {bukan aku}). Like for instance, seseorang masuk Valhalla karena mati dengan heroik sambil bawa Rifle. He gets to keep the weapon he died with, dan setauku Valhalla juga ngestok beberapa jenis Rifle and guns deh…

Well, basically, buku-nya dia… masih mau stick to tradition sambil tetap mau improve dan provide new probable theories onto how this mystic thing is just a cover up of a technological marvel. Keren sih, imagination and ideas are good, and it kept me coming back for more.

Old Heroism-ish things

Heroism-ish… I have no idea what that means…

Jadi intinya, selain dia bisa stay true to mythological facts, while putting up an interesting perspective of modern day mythology… Heroism yang di present di buku-bukunya dia realistis, dan sangat bisa di apply di old Greek myths. Act-nya biasanya similar to the things heroes do in Greek Myth, dan juga masih ada act yang mirip-mirip dengan beberapa hal yang Greek Heroes like Hercules does…

Well, kembali lagi ke fakta bahwa Rick Riordan mau stick ke Greek myth facts, ada juga di Heroism-nya, dan memang cara membunuh beberapa monster masih persis sama dengan yang ada di real life myths. Alhasil, sekali lagi, blend antara kedua dunia ini tampak.

Selain itu, bisa dibilang bahwa heroism dan transisi karakter ini maturing ketika tahu dirinya lebih baik juga alasan bukunya kuanggap keren… Heroism dan transisi sebuah karakter bener-bener tampak. In every book, a character matures more, dan sadar beberapa hal… Some very teenage-y things, but, presented in the perspective of a person with superpowers and family issues.

Jokes, and Light References

Di hampir semua bukunya, Rick Riordan successfully present reference ke outside world, dan juga… banyak joke di buku-nya. Jokes in this book… kebetulan sajah… cocok dengan sense of humor-ku. Jadi ya wajar aku suka.

Kadang ada voice over (andaikan ini serial), sebuah karakter, yang bilang bahwa dirinya sendiri menyesali suatu action di buku-buku yang lalu. Indirect jokes yang aku kadang suka buat juga disini (like saying, wait, that doesn’t sound right), atau direct jokes, kaya pas ketemu Nike (goddess of victory), dan bilang “OH NO! I’m wearing Adidas shoes!”. Or things like that.

Kebetulan aja sih, gaya bercandanya mirip sama aku, jadi aku suka…

In Conclusion…

Wow, aku sebenernya ga terlalu tau mau conclude apa, in addition aku juga merasa artikel ini cuma escape temporal karena lagi ga ada ide mau bikin apa… 🙁

Jadi yaaaaa gitu deh….

Kalau kita ga konsisten juga ga bakalan sih, mungkin kelewatan artikel satu hari, bisa amplify jadi 10 hari, and end up ga bikin sama sekali lagi…

Jadinya aku bingung… I really am… Sebenernya apa yang bisa di conclude untuk hari ini…

Kalau mau ketemu Nike, don’t wear Adidas shoes, just… don’t

Hope you enjoyed the article… (It’s really short)

Philosophy’s Place In The Modern World

Philosophy’s Place In The Modern World

Yeay bahas filosofi lagi!

Now, sebenernya ini sesuatu yang confusing, dan face it, bukan hal yang paling logical di dunia. Especially considering common logic nowadays berhubungan dengan… empirical science. Mungkin jaman dulu Philosophy sendiri lebih berhubungan dengan logic daripada sekarang.

Of course, jaman sekarang mah, filosofi lebih digunakan untuk menyambungkan logic dan imagination. Even then, there is barely any contents of logic when philosophy comes back. Tapi, sebenernya, this “dead” knowledge still has a place in the modern world.

Dan no, it’s not dead, aku cuman bilang gitu soalnya dia far less practiced. Masih ada place untuk filosofi kok di dunia ini.

Logic Fodder

Filosofi selalu bisa dipakai sebagai fodder untuk sesuatu yang tidak ingin ditalar dengan logic.

Besides, kalau betul dunia ini harus ditalar dengan logic, kayanya ga mungkin banget deh. Kalau math aja mulai dari imagination… Yeah, math does come from Imagination.. Sebelum ada angka, orang-orang harus nalar dulu pake imajinasi mereka hitung menghitung itu apa.

And face it, not everything is logical. Untuk hal yang ga logical bisa ditalar dengan imajinasi, tapi masalah lagi, kita butuh logical fodder, karena ada orang yang refuse to accept imaginative proof. Philosophy will always work as a logical fodder when it is needed.

Kenapa bisa begini?

Well, kalau mau ditalar sih, simply, ada banyak hal yang ga logical, dan juga ga bisa fully imaginative juga. Jadi, kita butuh sesuatu untuk meet in the middle. Lagian, kalau mau be fully honest, even God isn’t logical. Bukan berarti kita ga percaya keberadaannya atau cuma imagine bahwa God exists.

Ga semua hal bisa dibayangkan, karena kita tahu itu ada, dan juga, ga semua hal bisa dihitung atau diestimate dengan logic.

Selain fakta yang potentially controversial (P.S. I truly apologize if I offended someone, that is definitely NOT my intention) di atas itu, masih ada banyak hal yang perlu ditalar dengan campuran dari logika dan imajinasi. Such as, purpose dari suatu hal.

Kita tahu bahwa misalnya, perbedaan (differences, belum nemu term yang lebih bagus di Bahasa Indonesia) ada purpose-nya. Tapi on the other hand, logically, dari apa yang udah terjadi, differences cuma bring out racism and war. Kalau kita cuman bayangin doang apa purpose dari perbedaan, mungkin sih kebayang, tapi kita ga bakal dapet inti utamanya dari perbedaan. Since after you throw out a dash of imagination, kalau ga diconfirm dengan logic, bisa aja kerasa ga ada artinya dimata beberapa orang.

Beyond Order

Not everything is pictured in an orderly state. Terlepas dari common order of things, dan how things work. Kita butuh suatu hal yang ga bisa kita lock dengan common day to day order of things. Philosophy in itself, has never followed common order.

Sebagai contoh, kalau orang-orang oppose common beliefs dan order of things di jaman dulu menggunakan philosophical thinking, atau sometimes logic… They get killed. (see Socrates)

Of course, dunia sekarang ga sekejam itu, dan somehow the world has become more free. Jadi, kita butuh philosophy untuk step outside of day to day order, dan maybe, kita juga bisa put it onto perspective karena filosofi.

In case reader bingung sekarang, yang aku maksud dengan day to day order itu, using our imagination to replace the opinion we have. Stepping out of daily order.

Okay ini sedikit membingungkan, intinya, Philosophy itu berguna untuk menunjukkan orang-orang melihat image lain dari sebuah perspektif. Pretty much, philosophy could take someone onto another world that doesn’t really exist in logic or imagination. Philosophy also doesn’t exist in our lives, but it’s up to us to make it more in line with our logic.

Analogies

Ini hal yang sangat penting… since a life without analogies are actually one that’s pretty bland.

Seriusan lho, bayangin kalau kita ga punya cukup philosophical thinking untuk membuat analogi.  Ini berarti tidak ada lirik musik yang catchy, terus ga ada lagi Tightrope ala Greatest Showman, yang entire song-nya analogi yang poetic. Terus, seriusan… Kebayang kalau kita ga bisa make metaphor, semua akan menjadi hal yang literal, something that’ll sound serious, atau bakalan bener-bener imajinatif, sampai susah untuk dianggap real.

Kita beneran butuh bridge diantara dunia nyata dan dunia imajinasi. Logic and imagination does go together, thank philosophy.

Philosophy somehow grounds high sky imaginations onto the earthly thought of logic and the real world.

Perspective

Well, banyak filosofi di zaman dahulu yang membahas the best way to live. Via filosofi, kita bisa see the world in a different light. Way of life yang ada di zaman dulu dan way of thought seseorang di zaman dahulu juga masih kepake lho sampai sekarang.

Even Star Wars is basically a philosophy. Kita bisa picture philosophical thought seseorang dengan membayangkan perspektif seseorang, whilst also using our logic to see that perspective like the person would want to see it.

Sampai sekarang philosophy dari way of life ini masih bisa kita pake kok. Untuk life yang peaceful, kita bisa ikutin Buddhist way of life or Confucius. Terus untuk persepsi cruelty, bisa liat Machiavelli.

Intinya, philosophy itu bisa jadi spice of life dan kalau kita mau liat dunia dengan mata orang lain, selalu bisa menggunakan filosofi lho… Everything is a matter of perspective.

Metaphysical Reality

Metaphysics…

Dunia ini sebenarnya selalu bisa dilihat dengan imajinasi, mulai dari existence kita yang ga bisa ditalar dengan logic, sampai ke terciptanya universe ini.

Semua hal punya philosophical purpose, dan karena emang ada kata “philosophical”-nya, ya pasti dong pake philosophy. It’s only up to us to find what is the purpose of something.

Now, sebenarnya, everything has a purpose, dan hampir semua philosophical work yang aku baca belum pernah ada satupun hal yang mereka leave out purposelessly.

Therefore, simply believe you have a purpose. Everything has a purpose, just, it’s only up to us to find our purpose.

In Conclusion

Artikel ini sebenernya rada pendek… Ga masuk flash writing juga karena udah 1000 kata, tapi tetep dia pendek.

Cerita dikit aja dulu, aku mau ngikutin Kuliah Umum di Unpar yang membahas filsafat untuk 12 minggu kedepan, dan sebenarnya ini semacam introduction, karena setiap kuliah akan kujadikan tulisan disini. (semoga aku ga ingkar janji).

Conclusion sebenernya dari artikel ini ada di titik tengah.

Semua hal bisa di mediasi dan ditemukan titik tengahnya, sekali lagi karena ini emang bahas filosofi, philosophically speaking, philosophy is that meeting point between both logic and imagination. Every 2 opposite sides can be found in its median.

Dalam kasus ini, mediasi antar logika dan imajinasi bisa ditemukan di filosofi.

Hope you enjoyed reading this article.

Fast Foods Are Bad For You…

Fast Foods Are Bad For You…

Hey, everybody, it’s captain obvious! Of course Fast foods are bad for us… No, who doesn’t know that? Bentar, ada banyak orang? Seriusan?

Hang on, kucek dulu… Okay, 75 Hamburger per detik… At this rate, McDonalds are selling burgers faster than new babies are born. Ini serius btw… Per detik ada 2-3 bayi lahir di sekitar dunia, dan ada 75 Hamburger yang kejual per detiknya, jadi, McDonalds menjual 75 burger per detik.

Well, at first aku ga yakin apa orang-orang, emang ga tahu bahwa Fast Food itu ga sehat buat kita… Or mungkin emang ada orang yang menggunakan itu as guilty pleasure. I’m sure there’s a combination of both. Tapi kayanya banyakan yang ga tahu bahwa Fast Foods are just baaaddd for us…

Well, aku rada penasaran ini kenapa, jadi aku bahas deh, since… I want to write something on a daily basis 😛

… dan kalau ga dikerjain sekarang ada kemungkinan ga kukerjain sama sekali… 🙂

DISCLAIMER: Ada chance bahwa data yang kudapat disini tidak apply dengan kondisi lokal, tapi tetep, keep your eyes open. We don’t know yet.

So, why are Fast Foods bad?

Okay, first of all, kalau aku ga ngasih empirical evidence, tapi bilang blah-blah-blah jangan makan fast food, atau blah-blah-blah kenapa orang makan fast food, tanpa actually ngasih evidence bahwa fast food itu ga baik, itu pointless… Jadi, ada bagian ini di artikel ini.

Well, for starters, they’re not and probably will never be freshly made. Iya, emang kayanya susah ngarep fast food yang freshly made. Well, to be fair, not all fast foods are fast foods. Masih ada restoran fast food yang punya cooked food. Tapi, mayoritas fast food kayanya emang deep fried, dan frozen, baru di unfreeze pas dimasak.

A majority of fast foods will be frozen foods, and won’t be freshly prepared. Aku ga punya angka/datanya sih, tapi ya mau gimana lagi atuh… Actual fast foods, kaya McDonalds atau KFC ga freshly prepared.

Mungkin itu rada cemen, dan sekali lagi ga empirical, karena ga ada solid evidence… Tapi, kalau kita bicara ingredients yang rada… kacau, and probably, terribly ga sehat.

Hey, there’s sand in some burgers… Sand = pasir btw… Yeah, ada PASIR di beberapa burger. Fungsi pasirnya itu untuk memprevent gumpalan dan mengeraknya sebuah daging, atau kaya sup-sup daging gitu. Yeah, pasir digunakan sebagai prevensi gumpalan… why? Can’t you use proper anti-caking ingredients?

Tapi, kalau berpikir sedikit kritis, daging macam apa yang bisa jadi kerak atau menggumpal ya? Well, funny story… common fast food burgers, hanya berisi 2-24% daging. Most of the times, jumlahnya lebih sedikit dari 10%. Jadi, hey, “Beef” Burgers can also be referred to as… 10% cow burger…

Eh, jadi sisanya apa dong kalau bukan daging? Itu, semacam Meat yang di mechanically separate to be as cheap as possible. Well, hang on, ini dulu sih, tapi ada saat MSM (Mechanically Separated Meat) ini memang dipakai di McDonalds. Isinya, umm, slime, kulit, dan blendered bones. Ewwwww

Most fast food companies claim mereka ga make ini lagi sejak 2012, tapi, who knows.

Andaikan sapi-nya juga sapi beneran, ada yang rada salah dari metode peternakannya, karena mereka menggunakan protokol yang tidak ecofriendly, dan pretty much memberikan sapinya makanan yang rada ga sehat. Since, they want profit. They don’t care, nor do they want the cows to be healthy. They see cows as assets, dan manusia sebagai konsumer. Kalau konsumer mau membeli asset, which, they still do, company yang punya asset-nya dapet duit.

Guess, that is all they care about…

Masih ada banyak dreaded ingredients-nya lagi lhoooo…

MSG! Yah, ini mah udah common di Indonesia. Tapi FYI aja, MSG ga sehat, tapi people keep coming back for more. Ini pressing matter juga di Indonesia, namun aku ga 100% yakin apa kita bisa actually manage through MSG problem, jadi, for now, karena orang-orang makan Micin/MSG di Indonesia bukan cuman dari Fast Food doang, ini ga aku bahas lebih dalam. Intinya, MSG itu, basically some ingredient to trick your brain and make you want more. Like a cigarette… Wait, itu juga masalah di Indonesia toh… Okay on topic…

Hey, ada antioxidant yang ditemukan di bensin! (No seriously though) Antioxidant ini namanya TBHQ, dan gunanya biar lemak di makanan ga ke oksidasi. Kalau ga kena oksidasi, maka ga basi-basi. Jadi… Umm, ini pengawet (which is already bad on its own), dan juga, jangan lupa, tambahin fakta bahwa ada konten bensin di sini… Jadi, ini double trouble! Btw dia disingkat TBHQ karena ngejanya susah pasti… Buka wikipedia dulu buat ngecek, bentar…

Tertiary butylhydro quinoa? quione? butylhydroquinone! Okay, ya intinya susah…

Next thing, some ice cream in fast food restaurants might contain… pulp kayu! Karena, pulp kayu bisa mengentalkan makanan. Pas aku bahas kertas, aku bilang bahwa ada cellulose dari tanaman untuk menciptakan kertas… and trust me, Cellulose is used to make paper. Jadi, kalau ada beberapa es krim di restoran fast food yang make Cellulose, secara tidak langsung, kita makan kertas…

Worst case scenario dari ini semua… Rambut… aku ga ngerti gunanya apa, tapi ada rambut yang dipake oleh beberapa restoran fast food, untuk dimakan… what?

Last but not least… Jangan lupa, meskipun masih ada hal aneh-aneh lain, ada juga proof bahwa fast food itu pake minyak, dan pretty much fatty, oily, bermicin, dan berkolesterol… Which is bad on its own. Bahkan, assuming ga ada TBHQ atau Cellulose, atau MSM, kita harus avoid oily and cholesterol-y food.

One question… jadi, kenapa kita masih makan fast food?

The Truth is Spoken

Di artikel ini, dan entah berapa puluh documentary atau artikel lain of course, the truth has been spoken… for entah berapa kali, I mean bahkan orang-orang yang udah tahu tentang cruelty yang involved dalam makanan seperti ini masih suka makan jarang-jarang mah. (as a confession, my family have eaten fast foods, and it does taste good, well we still eat them… rarely)

I mean, bukan cuma ga sehat buat kita, sapinya juga ga ditreat kaya makhluk hidup, dan barely get any sunlight, dengan makanan ga jelas yang ga sehat dan generate methane to accelerate global warming. Karena kita sangat butuh faktor lain untuk mempercepat climate change…

On topic…

Jadi, aku yakin ada aja orang yang ga tahu sih, tapi, kenapa orang yang udah tahu masih bisa aja keep coming back for more… I mean, itu kaya kita udah tahu kita punya temen yang ga ada manfaatnya buat kita, dan juga bad influence… Tapi tetep weee didatengin… karena, yeah, begitulah… Aku juga ga tahu.

Kaya lagu yang itu lho… “I keep coming back for more”

Keep Coming!

Mungkin ini misteri terbesar di dunia sesudah lokasi Infinity Stone ke 6…

Kenapa sih kita bolak balik ke restoran fast food. Ini spesifik ke orang yang udah tahu dan ga pura-pura nutup mata dari cold hard truth-nya. Kayanya Fast Food ini, something yang, pretty much irreplaceable… Since, no matter how bad it is, common person, or not so common person… mungkin mayoritas orang akan tetep balik ke restoran fast food.

This is me, a 15 year old trying to crack the code onto why fast foods keep their customers coming back… Wish me luck…

Certainty

Ini lho… Certainty. Certainty is something that only restaurants like fast foods could provide. Begitu liat logonya, kita punya semacam jaminan bahwa rasanya akan sama persis. Ini bukan cuma apply ke sesuatu yang lokal lho… Diluar negeri juga, meski mungkin ada produk berbeda, rasanya ga akan beda jauh. Dan trying out something new itu menakutkan untuk beberapa orang.

Jadi, aku yakin certainty itu termasuk faktor utama in terms of why they sell a lot.

Tapi, certainty ini bukan faktor yang massive sih sebenernya, dia faktor penting, tapi mungkin orang yang afraid to try something new bisa ke restoran lokal yang lebih sehat, jadi, meski ini faktor penting ini bukan faktor yang affects the numbers greatly.

MSG?

Yaaaa MSG itu pretty much a drug yang ga extreme. Considering produk Fast Food make MSG ga terlalu beda dari soft drug yang addictive. Jadi, sebenernya, ada biological factor juga kita keep coming back.

Tapi, again, ini bukan faktor yang massive in numbers, karena sebenarnya, source MSG untuk keep our heads in the ground dari fast food juga ada. Okay, MSG-nya sih ga sehat ya, tapi masih banyak source MSG lain, dan aku ga yakin ini faktor yang bener-bener penting, meskipun dia biologically trick our brains to have moreeeeeee.

Like you know, how a zombie eats a brain and makes the zombie want more. We’re basically zombies in the eyes of MSG.

Sebenernya rasanya juga enak sih, ga terlalu banyak explanation lain. Tapi, good food ga bakal jadi drug kecuali dikasih MSG. Nah, fast food-nya cause addiction (to some people) karena MSG.

Only Option…

There are times dimana bener-bener ga ada option lain buat makan apapun selain fast food, kalau semua restoran lain sudah tutup, atau memang kita misalnya lagi ke rest area yang isinya cuman fast food. And kita ga bawa bekel. Basically, there are times we need to consume food, and opsinya hanya tersisa fast food.

Not much help there. Tapi, dari perusahaan Fast Food-nya sendiri, mereka juga capitalize dan create opportunity ini dengan membuka restoran selama 24 jam… Jadi, ketika memang sudah malam, tapi belum makan dan lelah, memang hanya tersisa Fast food sebagai last resort dan opsi terakhir.

Sekali lagi, ini bukan faktor yang bener-bener gede, karena paling banyak ini invest ke orang-orang di jam yang malam, atau di rest area. Even then, meski ada orang yang merasa Fast Food adalah only option (while it’s not) itu kembali ke certainty and jaminan rasa yang jadi faktor pertama…

Jadi?

Well, sepertinya alasan di atas hanya bisa mencakup minoritas dari orang-orang yang memang tahu fast food itu buruk, jadi minimalize, tapi ga avoid altogether.

Tetep sih, donatur faktor terbesar di Fast Food itu, addicts, dan orang yang udah eat too much fast food, jadi lidahnya hanya merasa itu doang yang enak. Usually orang-orang itu… mmmm….. well, more shortlived.

Now, kayanya, faktor untuk mayoritas orang yang bener-bener apply adalah addicts yang mau makan banyak dengan harga relatif murah, dengan minuman super manis (yang mungkin kalorinya sebanyak kalori sebuah meal), with food that they deem good.

Intinya, sebenernya, semua orang come back ke Fast Food, karena biological factor, dan fakta bahwa harganya murah… Well, meski aku ga nyebut harga murah di atas, (dan ada fast food yang rada mahal), yang aku maksud murah itu, pas aku nonton documentary… Bilang bahwa fast food di US mengizinkan upsize dengan harga 50-75 sen. Which is about 6ribu rupiah – 9 ribu rupiah. (di kita juga ga beda jauh ya? My bad)

Now, kalau udah boleh upsize, harga yang murah itu trick orang-orang bahwa makanan ini punya value for money yang sangaaat baik. Which, I’ll admit, emang harga fast food itu murah, dan dengan porsi yang didapet, kita merasa kita spend uang kita untuk hal yang baik.

Pretty much, itu faktor utama dari para addicts…

Closed Eyes

Banyak orang yang basically leave their eyes closed. Mereka tertipu harga murah dan iklan, and maybe (maaf) underknowledged untuk even care bahwa makanan yang mereka makan itu ga sehat. Now, kayanya most fast food companies bilang bahwa mereka tercipta dari 100% daging, dan bahan mereka diadvertise di restorannya dengan cara yang super, well, I guess lying.

Since, honestly, who knows what’s the truth behind these companies.

Well, kalau kita liat banyak infografis yang well designed dan easy to the eyes untuk dibaca saat makan, kita mungkin akan merasa a bit fooled, thinking that the food we ate is healthy. Sometimes, we have to see things in a different light to notice what’s in the dark.

Basically, mulai dari alas yang dikasih sama fast food companies, iklan mereka, artwork di meja, sampai kertas bungkus burger, semuanya fungsinya sama aja. Untuk trick kita, dan eventually, we might actually be thinking that, what they say is true.

Aku ga ada intention buat buka aib orang, itu ga baik, tapi, kadang, di jaman seperti ini, yang makin banyak orang greedy, kita harus sedikit lebih cautious, dan ga bakalan apply lagi kalau kita mau menutup mata…

In Conclusion

Keep your eyes open. Be cautious… Bukan berarti harus kasih prejudice ke orang atau company. But if we do let the false light cast a shadow from the truth, we might actually forget the truth…

Waw, aku terdengar kaya preacher, atau conspiracy theorist…

Padahal teh tadi nulisnya dengan niatan santai… Semoga artikelnya diterima dengan baik!

Have a nice day