Category: Sepakbola

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Klopp mulai menjadi pelatih Bundesliga pada tahun 2005. Aku tidak akan membahas terlalu banyak tentang karirnya sebagai pelatih di musim pertama. Intinya, Mainz sukses bertahan dan mengalahkan Dortmund yang lagi berantakan karena hutang, Schalke, serta menahan Bayern seri di kandang. Ini semua sudah dibahas di artikel bagian ketiga.

Artikel keempat ini adalah titik penentu terbesar di karir Klopp, dan juga titik balik kehidupan pribadi Klopp. Ini adalah momen, di mana Klopp, seseorang yang baru saja mulai melatih di Bundesliga, menjadi seseorang dengan suara yang kuat untuk sepakbola di seluruh Jerman.

SAT1 dan Mainz

Pada awal karirnya di Mainz sebagai pelatih, teman dekatnya yang berada sebagai anggota pemilik Mainz membangun SAT1 (seperti Sky Sports milik orang Jerman) pernah merekomendasikan untuk Klopp menjadi host utama di acara sepakbola mingguan untuk membahas tiap pertandingan Bundesliga. Tahun-tahun tersebut, SAT1 masih perusahaan televisi kecil, dan temannya cukup serius jika Klopp memang ingin berhenti melatih, ia selalu bisa bekerja bersamanya di televisi.

SAT1 sendiri terletak di kota yang sama dengan FSV Mainz, dan mendominasi penyiaran pertandingan di distrik Rhineland-Palantine.

Tentunya, pembaca sudah cukup kenal akan kepribadian Kloppo untuk tahu bahwa ia tidak ingin menjadi seorang host selama ia masih bisa menjadi seorang pelatih. Ia menyukai interaksi dengan pemainnya dan merasa bahwa melatih adalah bagian dari hidupnya.

Namun, karir televisi Klopp yang tampaknya tidak akan dilanjutkan justru menjadi alasan ia bisa jadi pemegang piala Champions League tahun ini, serta alasan ia bisa menjuarai Bundesliga dua kali.

Pada akhir tahun 2005 dan hak siar Piala Dunia tahun 2006 mulai dibahas, SAT1 yang baru menyiarkan sepersepuluh pertandingan Bundesliga (dan semuanya dari klub papan tengah) menerima investasi serta rekomendasi untuk menyiarkan turnamen tersebut.

Ini bukan sekedar liga champions, atau Bundesliga. Ini Piala Dunia. Turnamen di mana orang-orang yang tidak menyukai bola tetap berusaha mengejar semua pertandingan yang disiarkan. Turnamen di mana seluruh keluarga duduk di depan televisi untuk menonton pertandingan antara dua negara, apalagi negaranya sendiri.

SAT1 mendapatkan hak siar untuk turnamen level tersebut. Tetapi, kekurangan uang yang mereka habiskan untuk investasi berarti mereka harus berusaha berpikir lebih kreatif dan mencari pundit-pundit dengan harga murah. Jadi tentunya, CEO SAT1 yang memegang sebagian kepemilikan Mainz meminta pelatihnya sendiri untuk menjadi pundit.

Meskipun didirkan tahun 1985, dan SAT1 adalah stasiun pertama di Jerman yang dimiliki secara pribadi, SAT1 sendiri baru menjadi stasiun besar pada tahun 2006 sesudah sukses menyiarkan piala dunia. Mereka sudah mulai menyiarkan sebagian pertandingan Bundesliga pada tahun 2004, dan melakukan gaya yang tidak umum dilakukan di Jerman… Mereka menayangkan muka istri dan pacar pemain, mengingatkan tanggal ulang tahun, dan semacamnya. Docu-soap sepakbola ini merupakan langkah awal SAT1 menjadi stasiun yang menyiarkan piala dunia 2006.

Kembali ke Klopp… Ketika ia menerima pekerjaan menjadi pundit untuk piala dunia 2006, bersama Miss Bundesliga Ulla Sandrock, ia membuat statement bahwa ia siap menawarkan analisa yang menyenangkan. Menurut Klopp, pertandingan-pertandingan di analisa dengan gaya yang terlalu “What-if”. Bagaimana jika mereka berlari lebih sedikit dan tidak mendapat offside, bagaimana jika wasit menyatakan bahwa itu adalah sebuah penalty, bagaimana jika tendangan sudut ditendang oleh pemain kidal alih-alih pemain dengan kaki kanan dominan?

Klopp menginginkan dan menawarkan analisa yang what-if, tetapi lebih realistis dan tidak terlalu fokus ke masa lalu. Jika seorang pundit di stasiun lain fokus ke potensi-potensi kejadian yang terjadi jika bola langsung diumpan, Klopp fokus ke opsi-opsi realistis yang pemain tersebut bisa lakukan.

Selain itu, Klopp selalu menjelaskan hal dengan gaya yang mudah dimengerti. Ia tahu bahwa penonton-penonton yang menonton piala dunia bukan orang yang memang menyukai sepakbola dan mungkin masih kebingungan apa yang membedakan pemberian corner alih-alih Goal Kick, dan semacamnya.

Banyak Pundit menggunakan istilah membingungkan seperti counter, overload, offside trap, dan seterusnya tanpa menjelaskan apa itu overloading, apa itu offside, dan hanya menjelaskan apa yang mungkin bisa terjadi jika taktik tersebut tidak digunakan.

Ketika Klopp menggunakan istilah membingungkan, misalnya seperti pressing, Klopp menjelaskan terlebih dahulu, apa itu pressing, dan apa yang bisa didapatkan serta ditujukan oleh sang pelatih dalam memberikan instruksi tersebut, baru masuk ke kemungkinan taktik lain yang digunakan.

Kritikan, serta Pengakuan.

Klopp mendapatkan kritikan dari banyak pundit lain yang menganggap bahwa opini dari pelatih yang baru saja menyelesaikan musim pertamanya di Bundesliga ini tidak masuk akal, dan cukup dangkal sehingga tidak begitu berpengaruh bagi orang yang memang mengikuti sepakbola secara rutin, tetapi, kritisisme ini ditolak atas pengakuan dari dua orang.

Orang pertama adalah Franz Beckenbauer, seorang sweeper (posisi yang sudah tidak ada lagi di sepakbola modern) yang diketahui dengan panggilan Der Kaiser.

Beckenbauer adalah seorang dewa di mata pecinta sepakbola Jerman karena kesuksesannya membawa piala tersebut kembali ke Jerman. Jika Beckenbauer menganggap bahwa hal yang Klopp bilang bisa digunakan untuk professional juga dan orang-orang harusnya mendengar apa yang ia katakan, maka Klopp berbicara secara logis. Klopp baru saja membuat hal yang kompleks menjadi hal sederhana, dan mendapatkan pengakuan dari salah satu pemain terbaik Jerman sepanjang masa.

Orang kedua yang memberikan Klopp pengakuan adalah Miss Bundesliga tadi. Ulla Sandrock. Jika anda mencari namanya di internet, Ulla adalah istri Klopp, dan anda sering melihat pelatih Jerman tersebut memberikan simbol hati ke penonton, khusus untuk istrinya.

Ulla Sandrock seperti Donna Agnesia-nya orang Jerman, ia seorang perempuan yang memiliki kecintaan pada sebuah pekerjaan yang didominasi lelaki, dan masih saja bisa memiliki opini yang membuat para laki-laki ini berpikir kembali.

Klopp bukan sekedar mendapatkan pengakuan dari Ulla, ia juga sukses mendapatkan hatinya, dan pada tahun 2005, Klopp menikah lagi sesudah perceraiannya di tahun 2001. Ini sedikit irelevan dengan konteks karir, tetapi Ulla sering membantu Klopp memotivasi pemain sesudah kekalahan, seperti yang Ulla lakukan ketika ia turun dan membantu suaminya sesudah kekalahan atas Real Madrid di final Champions League di Kiev. Selain itu, Ulla juga bertemu Klopp pada pekerjaannya di sini.

Klopp mendapatkan image baik sesudah Piala Dunia 2006 dan ia mulai dilihat oleh banyak klub-klub papan tengah Jerman.

Sayangnya, kesuksesan Klopp di karirnya sebagai pundit di televisi ini langsung ditimpa kabar buruk dari klubnya.

Klopp ditinggal 7 pemain pada bursa transfer musim 2006/2007… Hasil akhir dari musim ini berakhir dengan Mainz terelegasi pada posisi ketujuhbelas.

Banyak kejadian relevan pada musim di mana Mainz terelegasi, tetapi aku mau mengingatkan bahwa Klopp tidak pasrah, dan dewan klub bahkan tidak berpikir untuk memecat Klopp. Fans dan dewan begitu cinta pada Klopp sehingga mereka tidak bisa berpikir untuk mengusirnya. Akhirnya Klopp pergi sendiri, tetapi tetap dengan kecintaannya pada Mainz, dan ia pergi untuk Dortmund, membawa klub tersebut ke kesuksesan tingkat Eropa.

Pada musim berikutnya, ia belum meninggalkan klub tersebut, tetapi cerita pelatih favorit kita yang satu ini, disudahi terlebih dahulu.

Bersambung.

Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Tiap kali bursa transfer terbuka atau tertutup, muncul banyak pertanyaan. Bagaimana cara sebuah klub papan tengah di Liga Inggris mampu untuk membeli calon bintang, atau bahkan bintang dari sebuah klub papan atas (top 6) di liga Eropa lainnya?

Dalam bursa transfer terakhir saja, Moise Kean dari Juventus pindah ke Everton untuk 29 Juta Euro, Sebastian Haller dari Frankfurt pindah ke West Ham untuk 40 juta Euro, Ismaila Sarr dari Rennes pindah ke Watford untuk 26 juta Euro, Joelinton dari Hoffenheim pindah ke Newcastle untuk 40 juta Euro, dan seterusnya. Dan daftarnya masih terus bertambah panjang

Haller yang bisa bermain di Champions League untuk Frankfurt di musim 2019/20 memutuskan untuk pindah ke Inggris
Kean yang membantu Juventus menjuarai Serie A memutuskan pindah ke Everton

Pembelian rekor klub-klub papan tengah EPL ini setara dengan pembelian rekor klub-klub papan atas (posisi 3-6) di Liga Italia (pengecualian khusus untuk Inter dan Roma tentunya, kedua klub ini menghasilkan banyak sekali uang dari sponsor), Liga Jerman, dan Liga Prancis.

Pertanyaan besar yang muncul adalah, bagaimana mereka bisa mengeluarkan uang untuk ini, dan mengapa pemain rela pindah dari klub papan atas, ke klub papan tengah di Inggris?

Kita bicara tentang seorang striker berbakat dengan usia di bawah 20 tahun, masa depan timnas Italia yang lagi berantakan, dan membantu Juventus memastikan gelar Serie A tetap jatuh ke tangannya… pindah ke klub di Liga Inggris yang bahkan tidak bisa selesai di 50% teratas pada akhir musim lalu, dan akan selalu dibayang-bayangi klub sekotanya.

Kenapa ya?

Like, seriously. Money.

Oke. Faktor paling sederhana dan mudah untuk seorang pemain pindah adalah uang.

Kenapa tim-tim posisi ketiga hingga keenam liga Eropa lainnya kesulitan untuk membeli atau setidaknya menyimpan pemain-pemain yang mereka hasilkan atau temukan?

Liga Inggris membagi 8.66 Milyar USD (income yang sangat besar) pada tahun 2018 ke 20 tim dengan rasio… 50% diberikan bulk di awal, secara rata antara keduapuluh klub. 25% diberikan secara gradual tiap kali ada pertandingan yang dimainkan, juga secara rata. Lalu 25% sisanya dibagikan berdasarkan posisi klub di akhir tabel. Pembagiannya juga tidak begitu berbeda jauh, kecuali kau membandingkan tim paling atas dengan ketiga tim relegasi.

Nah, mari kita masukan angka itu ke dalam perspektif dan membandingkannya dengan liga-liga lain.

  • La Liga, liga nomor 2 di Eropa menghasilkan 4.7 milyar USD tiap tahunnya, hanya sedikit di atas 50% uang yang dihasilkan klub di Inggris,
  • Serie A, menghasilkan 3.9 milyar USD tiap tahunnya,
  • Bundesliga menghasilkan 3.4 milyar USD per tahun
  • Ligue 1 menghasilkan 2 milyar USD tiap tahun.

Sekarang, mari kita bandingkan angka tersebut berdasarkan tempat klub-klub tersebut berdiri pada akhir musim.

Huddersfield yang finis di posisi terbawah Liga Inggris mendapatkan uang SETARA dengan uang yang Barcelona terima sebagai Juara Liga Spanyol. Huddersfield juga mendapatkan lebih banyak dari Atletico, Juventus, Bayern, dan PSG secara mentah dari Liga.

Uang ini tidak menghitung sponsor atau tiket tentunya, karena jika sponsor dihitung, kita akan melihat angka yang sangat berbeda di sini, mengingat Bayern dan Juventus mendapatkan stadion yang cukup penuh tiap kali ada pertandingan.

Coba pembaca pikirkan sedikit terlebih dahulu. Sebuah klub yang sukses bermain di Liga Inggris bisa kalah lebih dari 30 pertandingan dalam satu musim yang berlangsung 38 pertandingan, dan menghasilkan uang lebih banyak dari tim yang memenangkan 33 pertandingan dalam satu musimnya.

Meninggalkan Jejak

Sekarang, mari kita lihat dari sudut pandang seorang pemain. Tentunya, pemain sepakbola ingin meninggalkan jejak, atau catatan sebagai pemain, dan memenangkan piala sebagai satu klub.

Tapi secara realistis, jumlah klub unik dari lima liga besar Eropa yang memenangkan piala (baik liga, liga Eropa, atau turnamen gugur) hanya ada 9. Manchester City, Liverpool, Chelsea, Barcelona, Valencia, Juventus, Bayern, PSG dan Rennes. Sedangkan, secara total, ada 10 klub papan tengah di semua liga kecuali Liga Jerman, plus 9 klub papan tengah Bundesliga.

Berarti, ada 49 klub papan tengah dari total 98 tim yang ada di lima liga besar Eropa.

Jika seseorang tidak punya kemampuan yang cukup untuk bermain di salah satu dari klub yang juara, walaupun bisa berkompetisi di liga Eropa (seperti yang terjadi untuk Frankfurt) apakah seorang pemain rela bermain di klub yang kemungkinan akan nyangkut di 4 besar dan kesulitan menjadi juara?

Tentu tidak. Mending manfaatkan karir yang pendek ini untuk menghasilkan uang saja. Alhasil, pemain-pemain yang berbakat tersebut, yang semuanya sudah kubahas tadi, memutuskan untuk pindah ke klub papan tengah, tetapi dengan gaji yang setara, bahkan lebih dengan klub papan atas di liga-liga lainnya.

Survival Specialist

Ini menciptakan efek yang menarik tentunya.

Apa yang dicari dari seorang manajer klub papan tengah klub liga Inggris?

Tidak seperti di Eropa, di mana manajer klub papan tengahnya adalah manajer yang mampu bekerja dan memberikan hasil maksimum atau bahkan kualifikasi Eropa (seperti yang kita lihat dengan Atalanta, Getafe, dan Frankfurt pada musim kemarin) di Inggris, manajer papan tengah yang ideal adalah manajer yang bisa memberikan musim yang aman.

Jika anda bisa masuk top delapan, atau bermain di Europa League pada musim depannya, bagus! Tetapi, target terbesar dari seorang manajer adalah untuk selamat dari relegasi, dan memastikan bahwa musim berikutnya, klub masih menerima income yang selevel dengan juara Spanyol.

Ini alasan terciptanya pelatih macam Roy Hodgson, David Moyes, Sam Allardyce dan juga Tony Pulis. Ketiga pelatih ini mampu menyelamatkan timnya dari relegasi, tanpa mencapai hasil yang spektakuler. Hodgson menggunakan tim Crystal Palace-nya sebagai tim yang mempunyai struktur defensif yang bagus dan memukul cepat dan keras pada serangan balik ketika momennya muncul pada musim lalu. Moyes juga memiliki tim Everton yang memanfaatkan serangan udara dengan umpan-umpan dari Leighton Baines. Sedangkan, Pulis… Ugh, Stoke City yang ia pimpin terkenal akan kemampuannya bertanding fisik.

Strategi seperti itu bukan strategi yang bisa diterapkan oleh klub papan tengah di liga lain, karena mereka mengharapkan hasil dan income yang lebih tinggi, kemungkinan munculnya income ada di sponsor (yang akan kalah jika membandingkannya dengan klub lain) serta dengan bermain di liga-liga Eropa.

Menjadi Juara

Lalu, bagaimana cara klub-klub enam besar Liga Inggris bisa bersaing dengan satu sama lain?

Pada putaran tahun 2004, hanya 15 tahun yang lalu, klub dominan di Inggris hanya ada empat. Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea. Sekarang, angka tersebut telah menggelembung menjadi 6, Spurs dan Manchester City menjadi tambahan terbaru. Inggris sendiri punya 7 tim yang berkompetisi di UCL dan Europa League, jadi kalau kita ingin menganggap Wolverhampton sebagai tim papan atas, kita tidak salah.

Untuk memastikan ada kemampuan bersaing finansial antara keenam tim ini, hal termudah bisa terjadinya persaingan finansial ada di kompetisi Eropa.

Jika sebuah tim Big Six gagal mencapai kompetisi Eropa seperti yang terjadi pada musim saat Leicester City juara… Maka bisa dipastikan bahwa mereka akan menghadapi finansial yang sulit.

Apakah Liga Inggris Masih Sehat?

Tulisan hari ini akan ditutup dengan sebuah pertanyaan.

Jika anda bertanya padaku, aku harus cukup jujur dan lurus menyatakan bahwa secara internal, liga inggris adalah liga yang sangat sehat.

Namun, kalau kita merambah kepada empat liga di Eropa lainnya, muncullah pertanyaan, seberapa disruptif Liga Inggris yang menghambat pertumbuhan dan kualitas pemain di klub-klub tersebut?

Jika klub selevel Everton (dan camkan bahwa ini muncul dari fans Liverpool) bisa membeli bintang muda dari klub selevel Juventus karena memberikan gaji yang tinggi, apa yang enam klub-klub besar (dan juga menghasilkan banyak dari sponsor dan kompetisi Eropa tentunya) akan bisa lakukan untuk merusak pasar di liga lain?

Sepakbola tidak bisa sekedar nyangkut pada urusan uang, dan dengan level disrupsi yang diberikan liga Inggris sekarang, pertanyaan itu akan muncul jika tidak secara kontinental, maka setidaknya, pada tingkatan domestik keempat liga lainnya.

Jürgen Klopp: Sampai Bunyi Peluit Terakhir

Jürgen Klopp: Sampai Bunyi Peluit Terakhir

Jika anda sudah membaca dua artikel sebelumnya, maka anda tahu bahwa akhir musim sebelumnya berakhir dengan tragis. Kloppo gagal mencapai promosi karena sebuah propaganda pada pertandingan derbi lokal.

Jika belum. Artikel 1 dan Artikel 2

Tetapi, jika kebanyakan pelatih akan menyerah, atau akan meminta uang tambahan untuk mendapatkan pemain, Klopp tidak melakukan itu. Klopp melakukan hal yang sangat-sangat tampak belakangan ini, ia mengajak pemainnya untuk bangkit, dan tidak sekedar berhenti begitu saja.

Hal pertama yang ia lakukan pada pra-musim adalah mengajak berkemah, seperti biasa.

Klopp mengajak pemainnya di FSV. Mainz ke sebuah perkemahan di dekat rumah di mana ia tumbuh, di hutan yang dikenal turis-turis berbahasa inggris sebagai “Black Forest” jika anda mengira itu nama kue, aku akan memasang muka… “Really? Aku sudah membahasnya di artikel sebelumnya”

Sejujurnya, Black Forest sendiri makin berkurang bagian hutannya. Banyak daerah di Black Forest ini yang dirubah menjadi perumahan, namun Klopp dan pemainnya di FSV masih sempat merasakan ketenangan dari hutan di belahan Jerman yang satu ini.

Cerita banyak ditukar, hiking, berlari, latihan fisik, dan tentunya, memasak makanan sendiri.

Kloppo membangun jaringan antar pemain yang kuat, dan hanya dengan tambahan 2 pemain, Mainz harusnya siap menjadi tim yang naik ke Bundesliga. Bukan sekedar bicara Mainz sebagai klub tentunya, seluruh kota, dan seluruh belahan Jerman menginginkan tim yang memiliki strategi menegangkan ini untuk naik ke Bundesliga, dan bisa disaksikan semua orang!

Masalah finansial yang tadinya ada bisa dibilang hilang. Bukan cuma karena sponsor lokal memperpanjang kontrak, dan sales dari tiket pra-musim habis dalam hitungan hari, tetapi juga karena banyak orang yang bukan fans dari FSV, ataupun warga di kota Mainz, penasaran ingin menonton pertandingan sepakbola Jerman yang sangat rusuh, hal yang tidak umum dilihat di sebuah klub Bundesliga.

Gegenpress yang Klopp miliki belum pudar, belum ditemukan obatnya, dan tentunya, mencapai hasil.

Mainz pergi ke pertandingan pertama dengan perasaan semangat! Hasil pertandingan pertama? Sapu bersih 4-0. Mainz memenangkan pertandingan kedua dan ketiga dengan selisih skor yang cukup jauh juga. Baru pada pertandingan keempat, Mainz gagal mencapai kemenangan pada derbi lokal, dengan skor 2-2.

Optimisme Klopp tidak tampak akan pudar, tentunya, pelatih macam apa yang mengharapkan hasil bagus dari pertandingan awal untuk berhenti? Mainz mencapai paruh musim pada bulan Desember hanya dengan 2 kekalahan, dan 3 kali seri. Sisanya dimenangkan, walau memang iya, ada dua pertandingan dimana ada kesalahan wasit dalam memberikan offside, tetapi, keberuntungan merupakan faktor yang dibutuhkan untuk juara bukan?

Paruh musim Bundesliga 2 yang berlangsung sepanjang 34 pertandingan itu memberikan Mainz 39 poin pada istirahat bulan Desember, di peringkat kedua, peringkat promosi tanpa perlu pertandingan playoff (final antar tim posisi ketiga terendah di divisi pertama, dengan tim ketiga di divisi kedua, pemenang akan bermain di divisi pertama pada musim berikutnya). Mengenal Klopp, momen ini lah momen paling tepat untuk berpesta!

Jika anda tidak mengikuti kabar atau informasi tentang Klopp, maka, aku perlu memberitahu bahwa pelatih Jerman ini bertindak sangat-sangat manusiawi di hadapan timnya. Video selebrasi Kloppo ketika pawai bis sesudah memenangkan final Champions League melihatnya meminum bir, dan tampak pusing serta mabuk. Tidak ada pelatih lain yang akan melakukan itu tanpa takut image-nya di hadapan pemain turun. Klopp mampu melakukannya.

Meskipun secara teknis tidak mencapai “apa-apa” Kloppo masih merasa ini adalah momen tepat untuk berpesta. Jadi, ia berpesta bersama timnya dengan harapan hasil lebih baik dapat dicapai!

Bulan Januari tiba, dan tentunya, Klopp memimpin pasukannya dengan semangat. Pertandingan 18, pertandingan pertama pada kalender baru? Menang. Kedua? Menang.

Namun, amat disayangkan. Pada pertandingan kedua tersebut, bek tengah andalan Klopp, cedera. (catat bahwa jika aku sebutkan namanya, anda pun gak akan tahu, jadi… ya, aku sebut posisi saja)

Cedera ini kurang lebih merusak rekor Klopp untuk 6 pertandingan ke depan. Mainz yang dikenal energetik dalam bertahan, tapi tetap rapih secara struktur, rusak. Klopp yang meraih 6 poin dalam 2 pertandingan sebelumnya, hanya bisa meraih 6 poin dalam 6 pertandingan, dengan satu kali menang, tiga kali seri, dan dua kali kalah.

Pada pertandingan ke 26, Klopp berada di posisi keempat dengan 45 poin (diluar zona promosi, bahkan zona playoff) dengan selisih 1 poin dari tim yang berada di posisi ketiga, serta selisih 3 poin dari puncak klasemen. Pertandingan ke 26 tersebut tidak bisa muncul di momen yang lebih pas. Klopp akan bermain melawan tim yang berada di puncak… Menang, maka Klopp bisa dipastikan menyusul tim yang di puncak.

Namun, sayangnya, keberuntungan Klopp tampak habis. Sebuah gol dari posisi offside diberikan wasit untuk lawannya, dan pertandingan tersebut berakhir seri.

46 poin, pertandingan 27 dari 34. Tim-tim pada umumnya harus meraih promosi dengan rata-rata 73 poin, atau dengan memenangkan 24 pertandingan plus satu seri (kombinasi menang kalah seri bisa apapun tapi kita bicara kondisi ideal).

Dengan sisa 8 pertandingan, poin terbanyak yang Klopp bisa raih adalah 70 poin. Satu kali menang di bawah rata-rata promosi musim-musim sebelumnya.

Tetapi. Aku di sini memberitahu anda bahwa Klopp sukses.

Ia masih memegang rekor promosi ke Bundesliga tanpa playoff, dengan poin tersedikit sepanjang sejarah. Sampai tahun ini, belum ada yang bisa promosi ke Bundesliga tanpa pertandingan playoff hanya dengan 67  poin. Klopp memenangkan 7 pertandingan dan kalah satu, ketika dua saingan promosinya melawan satu sama lain, dan terselip ketika momennya penting.

Mainz menjadi tim yang memanfaatkan kejar-kejaran tegang antara kedua tim tersebut, dan mencapai promosi karena kegagalan keduanya.

Klub Karnival yang Klopp bawa ke seluruh Jerman ini, dengan bis gratis untuk pemegang tiket semusim, dengan syarat rusuh, sukses promosi.

Klopp merayakan kemenangan ini dengan cara yang sangat… Klopp. Pesta. Dengan seluruh kota. Ia tahu ketika musim ini telah beres, ia ada tugas penting untuk dilakukan. Klub didikannya harus menghadang Bundesliga. Namun, ada saat untuk bekerja, ada saat untuk berpesta. Kita tidak bisa melakukan keduanya bersamaan bukan? Mereka harus dikerjakan sambil berdampingan

Awal Mula Bundesliga

Jika anda mengira bahwa Klopp memulai musim pertama Bundesliga-nya dengan berantakan… anda salah. Justru, sebaliknya.

Pada musim pertama Mainz 05 berada di Bundesliga, mereka sukses mengalahkan Schalke 04, dan Dortmund pada pertandingan kandang, dan secara magis, mereka juga bisa menahan seri kedua klub tersebut di pertandingan tandang.

Tolong diingat bahwa kedua klub dari distrik Ruhr di Jerman ini merupakan klub nomor 2 dan 3 di Jerman untuk waktu yang cukup lama, dengan Schalke yang baru-baru ini tergusur menjadi klub papan bawah sesudah naiknya kekuatan RB Leipzig.

Tetapi, di saat yang sama, Mainz juga merupakan klub yang unik. Tidak ada tim yang keberatan jika mereka di kalahkan oleh Mainz. Kurang lebih, pikiran mereka tertulis seperti ini… “Ah well, kalahnya sama tim yang itu, gapapa kok, toh posisi di tabel gak terlalu berubah.”

Musim pertama Klopp di Bundesliga, Mainz menyelesaikan Bundesliga pada posisi ke-9 dari 18 tim. Ia juga menerima ratusan liputan televisi, karena pada masa mudanya, Klopp hampir pasti mengikuti pawai bis Mainz yang sudah dibeli.

Karir Klopp naik besar pada tahun 2006. Sesudah banyaknya liputan televisi yang diterima oleh klub Mainz secara keseluruhan, temannya yang bekerja di sebuah stasiun televisi, membayarnya untuk menjadi seorang pundit. Itu adalah titik penentu terbesar di karir Klopp, tanpanya, aku bisa memastikan bahwa Klopp tidak akan berada di posisinya sekarang.

Bersambung.

Jürgen Klopp: Menuju Bundesliga

Jürgen Klopp: Menuju Bundesliga

Artikel ini adalah artikel sambungan dari artikel tentang Klopp sebelumnya. Mohon baca laman tersebut di sini, sebelum membaca artikel ini.

Sebagai pelatih, Jürgen Klopp adalah orang yang akan berusaha sangat keras untuk menjaga hubungan baik dengan pemainnya. Itu adalah hal yang alamiah ketika kita ingin melatih tim yang isi pemainnya hanyalah sekumpulan orang yang namanya sulit untuk dikenali. Faktanya, bahkan pelatih yang memiliki masalah emosi separah Mourinho harus melakukan itu agar timnya memiliki semangat perlawanan yang besar.

Klopp melakukan hal yang sama. Seperti yang kutuliskan di artikel sebelumnya, ia merekrut pemain yang masih merupakan “papan kosong” yang berpotensi untuk ia latih, jadikan teman, dan dimanfaatkan sebagai pemain. Ia tidak ingin merekrut pemain dengan ego yang besar, karena itu dapat mendisrupsi semangat permainan utuh dari tim yang ia latih.

Salah satu tindakan khas yang ia lakukan pada pra-musim selama ia di divis dua adalah mengadakan 1 minggu latihan di mana setiap pemain harus berkemah. Tempat perkemahan yang Klopp pilih juga terletak di daerah di mana dia tumbuh, di sebuah tempat bernama Black Forest, dan bukan… itu bukan toko kue.

Perkemahan yang ia laksanakan di pra-musim itu bertujuan untuk mencontreng salah satu kotak terpenting dalam latihan pra-musim yang Klopp lakukan, yaitu interaksi antar pemain.

Bagi pemain sepakbola yang sedang tidak bermain (alias ketika jeda 3 bulan antara dua musim), mereka mengisi waktu mereka untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat, serta bermalas-malasan, latihan pra-musim bertujuan untuk membantu pemain-pemain kembali fit dan kembali mendapatkan kemampuan teknis yang sudah lama sejak mereka gunakan.

Klopp mengambil 1 minggu dari 1 bulan latihan pra-musim untuk mengatur ulang fisik pemain, menghilangkan kemanjaan dan kebiasaan pemain miliknya ke makanan yang gak sehat tapi enak itu, dan membangun ulang interaksi antar pemain.

Klopp sudah resmi mendapat pekerjaan sebagai pelatih Mainz 05 secara full-time, dan bukan hanya sebagai pelatih pengurus seperti yang ia lakukan pada musim sebelumnya. Ia akan mengambil target realistis yang perlu dilakukan oleh semua tim di divisi dua, terutama mengingat tidak ada perbedaan uang begitu banyak antara semua tim. Ia harus mencapai promosi. Untuk itu, ia perlu membuat sebuah festival cukup besar.

Supporter dan Harapan.

Pertandingan pertama yang ia latih sebagai pelatih full-time berakhir dengan skor 1-0. Pada akhir pertandingan tersebut, stadion kota jelek dan biasanya hanya terisi setengah itu, terisi penuh, bahkan kepenuhan. Petasan merah, warna dari Mainz dinyalakan di seluruh kota (karena pada tahun 2002, petasan masih legal di Jerman) ia mendapatkan jawaban terpenting sepanjang karirnya sebagai pelatih. Sebuah klub bola membutuhkan pendukung. Pendukung yang cukup banyak untuk bisa bertahan.

Sudah diketahui bahwa Klopp sering mengadakan acara di balai kota untuk mendapatkan dan meningkatkan penjualan tiket. Tetapi Klopp tidak bisa berhenti di situ. Ia tidak puas dengan mendapatkan fans sepakbola fanatik dari kota Mainz. Ia ingin seluruh penduduk di kota tersebut menjadi fans sepakbola.

Ketika acara di balai kota sudah cukup untuk menarik pendukung fanatik untuk menonton kembali pertandingan sepakbola, mau seberapa buruk tim miliknya bermain, ia perlu metode lain untuk mengajak orang yang tidak begitu menyukai sepakbola untuk menonton. Setidaknya untuk menonton di TV jika tiket di stadion  sudah habis. Juga perlu diingat bahwa stadion baru sedang di bangun, dengan kapasitas 30.000, dua kali lipat lebih banyak dari stadion mungil yang hampir terbengkalai yang timnya gunakan. Setidaknya kapasitas stadion baru tersebut perlu dipenuhi. Itu hal terkecil yang Klopp bisa lakukan untuk membayarkan uang yang diberikan sponsor dan pemerintah kota untuk membangunnya.

Sebelum lanjut ke tindakan berikutnya, Klopp memulai Bundesliga 2 dengan 7 kali menang dan 2 kali seri sebelum akhirnya kalah. Taktik yang ia gunakan adalah Gegenpress yang masih sangat kasar.

Menurutku, tindakan berikutnya yang Klopp lakukan terdengar sedikit seperti… umm… Bandar narkoba. No offense.

Untuk sebuah pertandingan derby kandang yang dimainkan di distrik Rhine, Klopp menyiapkan 5000 tiket gratis! Asalkan anda belum pernah menonton sepakbola di stadion sebelumnya. Ia membagikan tiket ini di acara balai kota bulanannya, dan ia meminta orang-orang untuk berkomitmen datang ketika sudah mendapatkan tiket.

Ini mungkin hal yang aneh, namun bagi Klopp ini tampak sebagai tindakan yang bijak.

Khusus untuk pertandingan derby yang ia bagikan tiketnya dengan gratis, Klopp menyiapkan sebuah strategi khusus untuk membuat pertandingan tersebut menjadi sebuah pertandingan yang pantas ditonton dengan ketegangan luar biasa. Pertandingan dengan Gegenpress sendiri bisa memberikan thrill yang unik.

Tiap kali ada pemain yang berlari untuk merebut bola, para penonton berharap bahwa bola bisa dimenangkan dan hanya dengan 1-2 operan lagi, sebuah gol bisa tercipta. Tiap kali pemain lawan ingin bernafas dan meminta semua pemain bertahannya bertukar operan sampai ada ruang tercipta, ada satu dua orang melemparkan tubuhnya untuk mengambil bola dan lawan tidak bisa bernafas. Tidak ada momen untuk bernafas jika anda melawan Mainz yang dilatih Klopp. Sedikit ruang yang mereka berikan harus dimanfaatkan dengan optimal, atau skornya akan berubah.

Jika anda belum familier dengan Gegenpress, maka silahkan klik link ini. Terima kasih.

Tentunya, ia mendapatkan 5000 fans kasual, sekumpulan orang yang merasa bangga bahwa mereka bisa mendukung FSV Mainz. Dari semua fanatik dan fans kasual yang Klopp dapatkan, ia menciptakan sebuah pesta yang unik. Sebuah pesta yang belum pernah sebelumnya dilihat di Semua divisi sepakbola Jerman.

Klopp hanya perlu memberikan satu sentuhan terakhir untuk membawa pesta yang terjebak di Mainz ini, agar ia dapat menyebar ke seluruh pelosok Jerman.

Ia membeli sebuah bis untuk membawa supporter klub tersebut keliling kota untuk pawai kemenangan, dan juga mengantarkan para supporter untuk pertandingan tandang. Bahkan untuk klub selevel Mainz yang tidak memiliki uang begitu banyak, harga satu bis masih masuk akal dan bisa dibayar dengan anggaran.

Supporter yang senang, merchandise klub terjual, uang masuk. Bagi Klopp, kunci kehidupan sebuah klub berasal dari supporternya, dan bukan hanya karena uang yang mereka berikan ke klub.

Promosi? Atau Tidak?

Pada pertengahan titik musim Bundesliga, Mainz 05 berada di posisi pertama Bundesliga 2. Mereka berada di posisi aman jika ingin mengejar promosi, dengan selisih 7 poin dari tim yang berada di posisi keempat, dan tentu saja, mereka bisa bertanding untuk menjadi juara divisi dua, dengan perbedaan selisih gol dari tim yang berada di posisi kedua.

Sebelum anda lanjut membaca, aku perlu menjelaskan sedikit tentang konsep promosi di Jerman. Kedua tim yang berada di peringkat 17 dan 18 di Bundesliga akan turun ke Bundesliga 2 dan mendapat uang lebih sedikit. Kedua tim tersebut digantikan juara, serta runner up di Bundesliga 2. Sementara itu, tim di posisi 16 akan bertanding dalam dua laga, satu di kandang dan tandang, dengan tim di posisi ketiga Bundesliga 2, untuk menentukan siapa yang berhak bermain di Bundesliga. Pertandingan penentu degradasi dan promosi tersebut dapat berujung buruk karena pada dasarnya, performa sepanjang musim, dan masa depan klub tersebut bergantung pada dua pertandingan. Bermain aman bukan hal yang baik dilakukan di Bundesliga 2, karena tim perlu mengejar posisi pertama dan kedua jika ingin punya kesempatan mendapat gaji lebih banyak.

Pada istirahat musim di bulan Desember, sesuai dengan kalender sepakbola Jerman, Klopp dan pemainnya berpesta dengan harapan hasil ini dapat terus berlanjut. Perlu diingat bahwa Klopp punya kebiasaan berpesta dengan Dortmund dan Mainz pada istirahat bulan Desember ini, dan Klopp bisa mengubah hasil yang buruk menjadi hasil yang baik sesudah pesta di bulan Desember ini. Hasil yang baik juga bisa jadi lebih baik lagi tentunya…

Istirahat tersebut beres, dan Mainz langsung bertanding 18 mampu Klopp sikat dengan mudah, dan jika hasil-hasil pertandingan masih berlangsung seperti ini, ia bisa juara dari Bundesliga! Fans di Kota Mainz berteriak “Jürgen! Jürgen! Jürgen!” untuk memuji pelatih jenius dari Jerman ini. Pada titik ini, selain kemampuannya menciptakan taktik yang mematikan strategi counter-attack di Jerman, ia juga membuktikan bahwa dirinya adalah seorang investor bagi klub yang bijaksana, mampu meningkatkan sales tiket tanpa mengeluarkan banyak uang.

Para Supporter Mainz yang berbondong-bondong pergi menonton pertandingan di atas bis milik klub tersebut membuat para fans dari klub lawan menerima seandainya mereka dikalahkan. Mainz menjadi sejenis klub yang bukan hanya dicintai para netral. Mainz juga menjadi klub yang membuat fans klub lawan berpikir… “Ah, gapapa deh kalau kalahnya sama klub yang itu.”

Tapi, sayangnya. Nasib baik Klopp berakhir di sini.

Ia kalah 4 pertandingan berturut-turut. Mainz yang berada di posisi satu tadi, terjatuh ke posisi 5. Untungnya, selisih poin dari posisi pertandingan promosi di peringkat ke-3 dengan Mainz juga tidak begitu jauh. Hanya berbeda 3 poin.Ia juga berada di posisi 5 hanya karena perbedaan selisih gol dengan tim di posisi 4. Klopp perlu mencari ritmenya kembali. Ia berada di pertandingan ke 29 dari 34. 18 kemenangan, 5 kali seri, dan 6 kali kalah. 59 poin.

Ritme Mainz yang bergulir dari awal musim tampaknya akan berlanjut kembali meski ada 4 pertandingan buruk. Sesudah 4 kali kalah, ia memenangkan pertandingan berikutnya, dan naik ke peringkat 4. Ia butuh mengejar promosi ini…

Lalu… Datanglah kabar buruk. Pada pertandingan ke 31, sebuah media dari kota di mana Mainz akan bertanding menciptakan propaganda bagi warga dari kota tersebut. Aku sendiri tidak begitu mengerti alasannya, karena bagiku orang Jerman adalah orang yang kalem dan begitu kalkulatif, namun sepertinya, mereka bisa marah juga.

Bis supporter Mainz diserbu, begitu juga bis pemain. Para pemain di lapangan diserang begitu brutal oleh lawannya, dan pertandingan tersebut berakhir dengan skor, 1-3. Mainz kalah, dengan 2 pemain kunci terkena cedera. Klopp butuh kemenangan dan lawannya terselip dua kali untuk mendapatkan posisi playoff promosi.

Secara realistis… Itu sulit terjadi. Bahkan jika skuad miliknya lengkap, dan tanpa cedera krusial di gelandang serang serta sayap kiri, ia butuh sebuah keajaiban untuk mencapainya. Aku ingin di sini untuk memberi tahu bahwa Klopp mengejar promosi pertamanya dengan mantap dan mendapatkan skor 5-0 ketika saingan promosinya kalah 5-0 juga dan Klopp secara magis mampu mencapai promosi. Namun tidak.

Klopp gagal mencapai promosi dan harus puas berdiri di posisi keempat Bundesliga 2.

Ia harus menunggu tahun depan untuk bermain di divisi pertama.

Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Roberto Firmino adalah seorang anomali. Dia seorang pemain kelas dunia, bermain di posisi yang jarang dimanfaatkan pelatih (False 9), dan bahkan dalam posisi tersebut, ia masih sebuah anomali.

Keanehan dan keunikan posisi di mana Firmino bermain ini cukup untuk memberikan posisi miliknya namanya sendiri. “The Firmino Role” menjadi sebuah posisi di mana seorang False Nine melakukan pengaturan struktur tim dan mengatur pressing. Struktur pressing sendiri umumnya ditentukan bukan oleh Striker tengah, tetapi oleh Gelandang Box-to-Box, atau Gelandang Bertahan.

Seperti orang-orang lihat, struktur Pressing Liverpool dalam struktur 4-3-3 memanfaatkan Firmino untuk pengaturan gerakan seluruh timnya. Strukturnya dalam formasi 4-2-3-1 berubah total, tapi, sekarang bukan waktu untuk membahas hal tersebut.

Kalau anda ingin tahu sebenarnya seberapa teraturnya kekacauan dan kehebohan di Anfield, lanjut baca. Karena sebenarnya, dibalik kehebohan dan kerusuhan pressing yang Klopp manfaatkan, semuanya sebenarnya terstruktur.

Pressing Posisi

Musim 2018/19 mengubah total gaya pressing Liverpool. Iya, mereka masih memanfaatkan Gegenpressing, iya, mereka masih sebuah tim yang memiliki kemampuan serangan balik lebih baik daripada serangan terstruktur ketika memegang bola, tetapi, gaya pressing yang diterapkan Liverpool berubah total.

Hard-Pressing, alias, berlari untuk merebut bola, hampir tidak pernah dilakukan kecuali benar-benar diperlukan, dan alih-alih memaksa lawan untuk memainkan bola di bawah tekanan, Liverpool memaksa lawan untuk bermain bola dengan pintar, dengan cara mematikan hampir seluruh opsi operan yang ada.

Pressing ini diketahui dengan Pressing Posisi. Melakukan pressing, tanpa perlu bergerak, dan hanya dengan mengatur ulang posisi tiap kali lawan bergerak. Ini mengurangi kebutuhan stamina untuk bermain dalam sistem pressing Liverpool. Memang masih butuh banyak stamina, tetapi lebih sedikit dari musim 2017/18.

Firmino mengatur posisi tim secara keseluruhan, mulai dari gelandang, hingga bek kanan dan kiri, semuanya mengikuti Firmino untuk keseluruhan struktur.

Sebagai contoh…

Firmino berada di antara Gelandang Bertahan (Fabinho) dan kedua bek tengah lawan (kedua CB) langsung memotong jalur operan antara keduanya. Lawan hanya bisa mengoper ke Bek Kanan (RB), Bek Kiri (LB), atau Bek tengah yang lain.

Namun, berdasarkan posisi Firmino, Salah dan Mané juga berada di posisi yang cukup, tapi tidak terlalu sentral untuk bisa memotong jalur operan antara kedua bek sayap, tanpa menghalanginya secara langsung, memberikan godaan bagi pemain yang memegang bola.

Selain itu, Robertson, dan Trent (Trent Alexander-Arnold) berada di posisi yang cukup dekat untuk lari ke depan seandainya Salah atau Mané gagal memotong bola, memberikan tekanan yang cukup untuk memenangkan bola, serta memberikan orang tambahan dan menyulitkan lawan.

Ketiga gelandang cukup sentral untuk bisa menjadi pemain tambahan di posisi lebar, seandainya lawan sukses memberikan umpan lambung untuk melewati seluruh struktur Liverpool.

Ketika itu terjadi, struktur tim berubah, dan seandainya lawan memiliki bek tengah yang mampu memberikan bola berkualitas tinggi tanpa dipotong Van Dijk, Liverpool dalam bahaya.

Ini alasan kenapa salah satu pertandingan terbaik musim kemarin (dalam opiniku) merupakan Chelsea vs Liverpool di Stamford Bridge. Kemampuan David Luiz bagi Chelsea cukup untuk sesekali melewati pressing posisi Liverpool.

Wow. Ini semua perlu dijelaskan dengan dua gambar dan 5 paragraf, padahal bola hanya ditendang sekali.

Transisi Press

Oke, lalu, bagaimana cara terjadi transisi dari pressing posisi ke hard press?

Jalur lari ideal seandainya bola dimenangkan…

Ketika Firmino merasa bahwa lawan telah menunda untuk waktu yang cukup lama, atau mulai kebingungan, ia melakukan pressing.

Ketika itu terjadi, posisi Firmino yang tadinya berada di zona antara gelandang dan kedua sayap, maju, dan posisi yang mungkin tampak sebagai 4-3-1-2, kembali menjadi 4-3-3 yang sentral, dengan kedua sayap memotong ke dalam, siap menerima bola dan membantu tekanan ke keempat pemain bertahan.

Jika ini terjadi, Fabinho maju, dan memberikan tekanan secara langsung ke gelandang bertahan lawan (CDM), dengan tujuan mematikan opsi operan tersebut.

Kedua gelandang tengah juga tetap berusaha mematikan opsi operan ke gelandang lawan,  memberikan ruang bagi kedua bek sayap untuk bias melakukan overlap dan menambah jumlah orang dalam serangan.

Pada momen inilah, Liverpool paling rentan ke operan lambung yang bagus. Sebuah bola terobosan lambung yang dapat dikendalikan oleh seorang penyerang dapat menciptakan situasi serangan 3 penyerang, melawan 2 pemain bertahan.

Jalur lari yang setengah terpotong jika bola gagal dimenangkan dan ada operan bagus tercipta.

Selain itu, perlu diketahui bahwa Henderson yang tadinya bermain di posisi gelandang bertahan, (ketika fisik Fabinho masih disiapkan oleh Klopp) merasa kurang nyaman dengan kurangnya gerakan, mengingat Henderson adalah seorang gelandang Box-To-Box.

Sampai Fabinho mampu bermain dengan stabil, Liverpool punya kesulitan menangani serangan balik. Peran Firmino juga sangat mengatur pressing di sini.

Isu Serangan Balik

Fabinho mampu mengisi peran gelandang bertahan di Liverpool dengan sempurna. Fungsinya di struktur tim yang sedang melakukan hard-pressing murni untuk mendaur ulang bola, dan menghentikan serangan balik.

Fabinho tidak melakukan hard-pressing seperti yang Firmino lakukan, yaitu untuk memenangkan bola ketika lawan sedang perlu bertransisi, Fabinho melakukan hal yang berbeda. Ia memotong jalur umpan transisi lawan yang paling cepat, dan memastikan bola tersebut dapat ia kendalikan, atau setidaknya, tidak sampai menciptakan serangan balik.

Umpan terpotong, bola disundul…

Begitu bola tersebut ia kendalikan, ia melakukan hal paling sederhana yaitu mengopernya kembali ke pemain kosong terdekat.

Keuntungan dari sprint jarak dekat untuk memotong jalur umpan yang Fabinho terapkan ini, ada di… jika serangan balik tidak tercipta, para pemain serang, gelandang, dan bek sayap yang ikut maju, tidak perlu berpikir untuk mundur lagi demi mengurangi jumlah lawan yang lolos dalam serangan balik.

Seperti yang ada di gambar ini… Jika Fabinho tidak mencapai bola tersebut, karena itu merupakan umpan lambung, terlalu cepat, atau semacamnya, Matip, dapat melakukan hard pressing untuk membantunya mendaur ulang serangan. Aku juga cukup yakin bahwa tidak banyak pemain mampu melewati van Dijk dengan mudah, jadi, secara logika dan sistem, Pressing Klopp ini, hanya bisa dihilangkan oleh kreativitas, atau taktik yang khusus didesain untuk mengalahkan pressing Klopp.

Kesimpulan

Ya, taktik pressing Klopp yang berdasarkan kedua pemain Brazil yang sentral dalam system Klopp (maaf Alisson, tapi peranmu hampir full teknis dan fisik, alih-alih taktis), semoga ini dapat menjadi sedikit pencerahan bagi anda yang ingin tahu mengenai kerusuhan di sebuah stadion di Merseyside, karena sebenarnya, kerusuhan ini hanya tampak rusuh. Aslinya dia terstruktur dengan rapih.

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Kembali di serial Taktik Sepakbola, terutama mengingat bahwa belum ada pertandingan sepak bola yang dimainkan untuk menjadi contoh, ini adalah momen yang sempurna untuk membahas taktik yang sedang ngetren di dunia sepakbola.

Kali ini, taktik yang akan dibahas tidak lain dari Pressing.

Liga Champions 2018/2019 menunjukkan seberapa menyeramkan dan efektifnya tim-tim yang ahli dalam memanfaatkan pressing.        Keempat semifinalis di turnamen tersebut menggunakan sejenis variasi dari pressing sebagai bentuk dasar sistem. Kesuksesan ini tercerminkan dari keempat tim yang mencapai titik tersebut. Selain keempat semifinalis, Manchester City juga mencapai perempat final dengan menggunakan variasi pressing yang sangat sesuai dengan ideal pressing Cruyff.

Aku sudah membahas Gegenpress, dan untuk menghindari kebingungan, pressing dan gegenpress adalah dua hal yang berbeda. Counter-press atau Gegenpress merupakan variasi dari pressing mendasar yang diajarkan oleh Johan Cruyff pada akademi Ajax Amsterdam dan akademi La Masia milik Barcelona, tetapi keduanya berbeda.

Kelahiran Pressing

Sebagai bagian dari filosofi Total Football yang populer di Belanda pada era 1970-an, Rinus Michels dan Johan Cruyff merupakan pelatih pertama yang memfokuskan diri dalam bidang ini. Michels mendidik Cruyff, dan Cruyff yang memiliki karir pemain gemilang memperhalus dan menyempurnakan sistem ini.

Total Football sendiri menciptakan 3 pilar (anda bisa berargumen bahwa ada pilar keempat, dan itu akan kubahas di bawah) sendiri yang sayangnya sering dilihat secara terpisah oleh para pemain dan beberapa pelatih.

Pilar pertama Total Football ada di Possession play. Kebergantungan pada penguasaan bola untuk mendominasi lawan. Pilar kedua ada di Pressing, merebut bola untuk memastikan bahwa bola terus dikuasai dan lawan bisa didominasi. Pilar ketiga adalah kebebasan posisi. Era sepakbola awal-awal sangat fokus pada menyerang (dengan skor 9-5 anda mungkin berpikir bahwa ini pertandingan Hockey kebanding sepakbola) dan tampaknya pemain-pemain menjadi jauh lebih rigid dalam bergerak. Sepakbola Belanda mengubah itu, memberi fleksibilitas bagi para pemain untuk bertindak.

Seperti kusebut, ada pilar keempat, namun pilar ini bukan pilar yang begitu tampak sebagai pilar yang taktis. Pilar keempat Total Football ada di fakta bahwa pemain harus menikmati bertanding dalam sebuah pertandingan. Sampai sekarang saja (di era dimana fisik pemain diperhatikan gila-gilaan) tim-tim yang menggunakan varian dari Total Football kewalahan dan kelelahan, jika anda tidak menikmatinya, mungkin anda perlu bermain di tim lain saja.

Pada era Total Football pertama, Pressing berfungsi untuk merebut kembali bola, sesudah bola kembali dimiliki, perubahan posisi yang drastis serta penguasaan bola yang inteligen harus ikut bermain. Jika bola tidak dikuasai lagi, sistem Total Football pada era tersebut meminta pemain untuk berubah posisi, merebutnya kembali, dan berubah posisi lagi sambil menyerang.

Evolusi Dimulai                                

Total Football mendominasi. Ajax memenangkan 3 piala Eropa (sekarang menjadi Champions League) dalam 3 tahun.

Taktik ini cukup populer, dan Total Football sendiri terpecah menjadi 3 pilar yang kusebut di atas sebelum direvolusikan oleh budaya sepakbola tiap negara.

Spanyol memfokuskan diri pada penguasaan bola dan perubahan posisi yang konstan. Ini awal dari lahirnya Tiki Taka. (But, please… don’t call it that, it’s more complicated than just Tiki Taka) Ini alasan mengapa La Liga Modern sangat bergantung pada penguasaan bola. Masih banyak reaktivitas yang bergantung dan cara dua formasi terbentuk dengan satu sama lain, namun umumnya, penguasaan bola adalah cara paling sederhana mendominasi pertandingan.

Jerman memfokuskan diri pada perubahan struktur yang cepat. Bundesliga menjadi sebuah liga yang bergantung pada transisi, dan seberapa rapih, efisien, dan terstruktur sebuah tim bisa mengatur dirinya. (Ini kelahiran dari Gegenpressing punya Jürgen Klopp, kujelaskan di bawah)

Italia pada sisi lain, menciptakan sejenis… apa bahasanya ya… Struktur yang rapih. Struktur dan kepadatan di sebuah liga ini tidak begitu bergantung pada ketiga pilar Total Football. Justru, struktur yang rapih dan permainan bertahan yang tertutup di Italia melahirkan sejenis pertandingan yang defensif, dan membuka serangan balik yang berbahaya. Arrigo Sacchi memanfaatkan serangan balik dan struktur yang sempurna ini dengan sistem 4-4-2 miliknya.

Reaktivitas tim Italia tampak lambat. Selama Catenaccio masih hadir (diagram di bawah) mereka merupakan tim yang paling terkena oleh sistem Total Football ini. 1-4-2-3 atau 1-4-3-2 yang umum dilihat di sistem Catenaccio ini tidak bisa bergantung pada serangan balik khas Italia karena adanya banyak lubang di sistem pertahanan ini ketika bertemu dengan tim-tim yang mengaplikasikan Total Football. Formasi khas Italia yang memanfaatkan Libero ini sudah mati. Akan kujelaskan di artikel lain, anda cukup tahu bahwa Catenaccio sudah tidak ada.

Seperti dilihat di gambar, Catenaccio memasang 1 pemain bertahan ekstra untuk merapihkan kesalahan dan menghindari serangan balik tercipta. Offside tidak berlaku karena pada era Catenaccio, offside dihitung dari pemain nomor tiga dari belakang, bukan nomor dua. Dalam kasus ini, pemain nomor 6 adalah pemain yang menjadi garis offside, bukan pemain nomor 4 seperti pada era modern.

Berarti terakhir adalah…

Inggris… umm. Sebelum terciptanya Liga Primer Inggris, Inggris sendiri merupakan liga yang sangat… apa bahasanya ya… Tertutup. Strategi paling mendasarnya adalah dengan melempar bola ke tengah lapangan, lalu ke kotak penalti dan sundul atau tendang bola tersebut ke belakang kiper. Ceritanya panjang, tetapi juga ada kok tim yang bermain sepakbola dengan indah di Liga Inggris sebelum tahun 1992 dimana Liga Primer Inggris tercipta.

Catatan, struktur dan posisi adalah dua hal yang berbeda. Posisi di sini bermaksud pada pergerakan pemain, perubahan posisi bisa merubah struktur meski itu tidak selalu terjadi. Jika struktur berubah, misalnya sebuah tim bertahan dengan formasi 3-4-3, dengan gelandang bertahannya turun untuk menjadi bek ketiga, dan kedua bek sayapnya maju untuk mempercepat transisi… Namun, ketika menyerang, tim yang sama langsung merubah formasi menjadi 4-3-3, dengan si gelandang bertahan kembali ke tengah lapang.

Variasi Pressing

Total Football yang tadinya satu ini terpecah menjadi 3, ketiganya juga memiliki variannya masing-masing, dan sekarang, karena revolusi dan budaya yang berbeda, tiap pelatih yang ingin mengaplikasikan Total Football harus mempelajari ketiganya secara terpisah, lalu mencari cara untuk menyatukan varian mereka ke sistem yang sama.

Wah, terima kasih evolusi taktik , anda mempersulit hal yang sama, dengan mempisahnya menjadi 3 hal berbeda, hanya untuk perlu disatukan kembali!

EHEM… maaf. Kembali ke topik…

Pressing sendiri terevolusi menjadi… entah berapa puluh jenis dan variasi. Pelatih-pelatih yang memasukkan pressing dalam sistemnya, atau membangun sistem pressing sebagai intisari timnya ada 5. Jürgen Klopp (Liverpool), Mauricio Pochettino (Spurs), Erik Ten Hag (Ajax), Thomas Tuchel (PSG), dan Pep Guardiola (Manchester City).

Aku akan membahas ketiga tim yang setidaknya masuk semi-final liga Champions. Liverpool-nya Klopp, Spurs-nya Pochettino, dan Ajax-nya Ten Hag.

Jürgen Klopp (Gegenpressing/Counter Pressing)

Klopp merupakan pelatih yang memanfaatkan pressing bukan sebagai metode untuk membangun serangan kembali. Melainkan untuk menyerang. Seperti disebut di atas, Bundesliga adalah Liga yang bergantung pada transisi dan perubahan struktur. Dengan kecepatan pemain yang ia miliki di Dortmund, Klopp memaksa lawannya untuk bertransisi atau menerima satu gol. Ketika pembangunan serangan melalui penguasaan bola gagal, ia ingin lawannya untuk terus bermain dan membangun serangan. Perubahan posisi yang tidak rapih dan struktur yang tidak jelas justru merupakan hal yang bagus. Klopp memenangkan 2 gelar Bundesliga dengan sistem yang “berantakan” ini.

Ada satu artikel khusus buatanku untuk Gegenpressing, jadi baca itu saja. Aku tidak akan banyak membahasnya.

Gegenpressing Klopp di Liverpool berbeda dengan di Dortmund yang mengandalkan posisi berantakan, alih-alih, Pressing Klopp bergantung pada struktur yang rapih dan pembangunan serangan yang bagus juga jika lawan memberikan bola-nya pada Liverpool.

Dasarnya, kau menyerang, kami bertahan (mereka punya Van Dijk  toh) lalu kami serang balik, dan kami sangat bagus dalam menyerang balik. Kau bertahan? Kami menyerang, dan kami bagus dalam menyerang.

Seperti tampak di diagram, Gegenpress meminta dua pemain (atau lebih) terdekat untuk melemparkan tubuhnya ke pemain yang merebut bola dari sebuah serangan.

Garis Kuning merupakan jalur pertama yang dimanfaatkaan untuk memaksa lawan mengoper ke pemain nomor dua, lalu pemain nomor 9 akan mencari jalur dan lari ke pemain yang menerima operan. Firmino adalah pemain yang mengatur pressing Liverpool.

Jika lawan bertransisi dan melewati 2 orang yang sedang pressing, Fabinho yang dimainkan menjadi gelandang jangkar (meski Wijnaldum dan Keita juga pernah bermain di posisi tersebut dengan nyaman, cetakan pemain yang Klopp cari dipenuhi Fabinho) akan merebut bola dan mendaur ulang serangan yang sudah dibentuk. Firmino menjadi pemain utama yang menentukan dan membentuk struktur counter-pressing Liverpool.

Mauricio Pochettino (Pressing High)

Jika Klopp menggunakan Pressing dengan tujuan untuk merebut bola dan kembali menyerang menggunakan bola yang hampir pasti akan direbut, Pochettino fokus ke struktur dalam memaksa lawan terus bermain. Pochettino tidak begitu ingin pemainnya untuk merebut bola, setidaknya tidak sebanyak Klopp, namun Pochettino memanfaatkan pressing untuk memperkecil ruang lawan, dan membuat mereka pindah ke posisi yang tidak nyaman.

Pochettino memanfaatkan sistem yang mirip dengan Klopp di Southampton, namun di Tottenham Hotspurs, ia menggunakan sistem yang hampir seluruhnya berbeda.

Di Spurs, Pochettino meminta keempat penyerangnya (dalam 4-2-3-1, keempat penyerang adalah 3 dan 1 yang di depan) untuk melakukan Pressing sebagai satu struktur ke barisan belakang lawan. 3 pemain akan diam di tempat, dan satu pemain akan maju. Lawan harus melewati si pemain yang akan maju ini dengan mengoper bola, baik langsung ke depan, atau ke midfield mereka dulu.

Jika bola yang diberikan adalah bola lambung, Vertonghen atau Alderweireld akan menyundulnya dengan cepat, memberi bola untuk kedua gelandang jangkar, jika bola dioper melalui bawah, kedua gelandang jangkar atau 3 penyerang di depannya akan berusaha mengarah ke bola dan mendaur ulang serangan.

Pressing yang dilakukan Pochettino adalah Fake-Pressing. Mereka hanya melakukan pressing untuk memaksa lawan bermain, bukan karena mereka ingin memenangkan bolanya.

Pressing ini juga bermanfaat ketika menyerang, karena akan ada momen dimana lawan merubah posisi untuk melakukan zonal marking dan memberi jarak antara mereka dan lawan, dan memaksa lawan untuk menyisakan ruang dan garis-garis yang bisa dieksploitasi oleh ketiga penyerang tambahan Spurs (Dele Alli, Christian Eriksen, dan Son Heung Min biasa bermain di belakang Kane)

Seperti dilihat di gambar, pressing Pochettino sebenarnya tidak memiliki niatan untuk merebut bola, tetapi hanya untuk memaksa lawan terus memutar bola dan akhirnya mengirimkan pemain ke depan.

Dalam diagram ini, bek tengah bernomor 4 punya pilihan mengoper ke kiper, bek tengah yang lain, gelandang bertahan, atau bek kanan, semuanya dengan resiko bahwa striker nomor 9 atau pemain lainnya melanjutkan press.

Lawan akan memainkan bola jauh dan bek Spurs akan membuangnya untuk dikendalikan dan didaur ulang oleh kedua gelandang bertahan. Alderweireld sendiri (Nomor 4) memiliki angka kemenangan duel yang bagus, 69.6%, keempat paling besar di Liga Primer Inggris.

Erik Ten Hag. (Pass Lane Pressing).

Erik Ten Hag melakukan gaya pressing yang berbeda dari keduanya. Jika Pochettino berharap bahwa pressing digunakan untuk memaksa lawan membuat keputusan yang buruk, dan jika Klopp berharap bahwa pressing digunakan untuk merebut bola, Ten Hag meminta pemainnya melakukan pressing dalam situasi yang berbeda.

Ten Hag ingin pemainnya untuk melakukan marking yang rapih di midfield, lalu meminta salah seorang gelandang, atau sayapnya untuk meninggalkan orang yang ia mark, demi melakukan pressing ke pemegang bola. Ia juga meminta striker tengahnya untuk memaksa si pemegang bola untuk mengoper ke orang yang ditinggalkan tadi.

Dari situ, orang terdekat ke pemain tersebut akan melakukan press dengan cepat, dan memenangkan bolanya kembali.

Dasarnya ia memaksa lawan mengoper bola ke orang yang akan langsung dipressing, dan memenangkan bola.

Taktik ini membutuhkan pemainnya untuk memiliki penentuan waktu yang sempurna, dan intelegensia yang cukup serta kedisiplinan dalam memposisikan diri.

Karena marking yang rapih, lawan tidak memiliki opsi kecuali untuk mengoper ke pemain nomor 10. Begitu bola berjalan, 1 atau 2 pemain terdekat langsung berlari untuk merebut kembali bola dan mendaur ulang serangan.

DIAGRAM

Yap, 3 variasi taktiknya sudah dijelaskan, dan semoga anda tidak bosan membaca 1600 kata dari tulisanku… Sampai lain waktu!

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp. Salah satu pelatih terbaik dunia, dikenal karena gaya melatihnya yang tidak umum, jenggotnya yang tidak dicukur, dan kebiasaannya selebrasi dengan sangat lebay… hingga kacamatanya ia rusak. Akhir musim Liga Inggris kali ini melihat Klopp memecahkan rekor Runner Up dengan poin terbanyak sepanjang sejarah Liga Primer Inggris. Meski masih belum juara juga, (next year will be our year!) pasukan Liverpool pimpinannya merupakan satu-satunya tim Liverpool yang dapat memenangkan 30 pertandingan dalam satu musim Liga Inggris sejak tahun 1960.

Musim ini juga musim pertama dimana dia membawa pulang trofi Liga Champions ke Inggris. Meski ia tidak mampir dulu ke Manchester untuk memamerkannya, warga di Merseyside terus mendukungnya.

Serial (yang aku sudah entah memulai beberapa ratus namun belum pernah dibereskan, tolong doakan aku bisa bereskan serial ini) ini akan menceritakan dengan singkat karir Klopp dan kisah hidupnya. Selamat menikmati!

Bermain, Bertahan, dan Berlari

Klopp memulai karirnya sebagai pemain di Mainz 05, sebuah klub kecil yang bermain di divisi dua Jerman, belum pernah sekalipun, Mainz merasakan perasaan bermain di Divisi pertama. Meskipun begitu, karir pemainnya tidak begitu gemilang, karena sebagai pemain, ia hanya terperangkap di divisi dua Liga Jerman.

Kesempatan terbaiknya untuk mendapatkan promosi ke Bundesliga gagal karena kesalahan yang ia buat saat bermain menjadi bek kanan. Mainz kalah pada hari terakhir karena Klopp memberikan bola ke lawan di ujung kotak penalti. Skornya berada di 2-1, dan Mainz yang sedang mengumpulkan bola dan menciptakan begitu banyak peluang terpukul karena kesalahan Klopp. Skornya turun ke 3-1, dan seandainya mereka mencetak gol pun, perjalanan menuju kenaikan ke Bundesliga masih jauh, mereka masih butuh satu gol lagi.

Seandainya pertandingan tersebut berakhir dengan hasil seri, Mainz akan naik dan merasakan permainan di divisi satu Bundesliga. Mereka gagal.

Oke, ia membuat kesalahan, tetapi… Tidak perlu disangkal, ia merupakan salah satu pemain bertahan terbaik di divisi dua, terkenal akan stamina-nya, dan beberapa gol cantik yang ia sering cetak.Sangat aneh. Klopp sendiri memiliki kebiasaan menendang tendangan bebas meskipun ia bermain di posisi Bek Tengah atau Bek Kanan. Ini mungkin alasan salah satu penendang bebas favorit Klopp di Liverpool adalah seorang Bek Kanan muda, orang Scouse yang tumbuh di akademi Liverpool, tidak lain dariTrent Alexander-Arnold.

Kegagalannya sebagai pemain di Mainz tidak menutup karirnya untuk menjadi pelatih, justru, Klopp mendapat mentor terbaiknya di Mainz, bersama dengan Wolfgang Frank, dan pelatih Jerman yang satu ini menjadi figur terpenting dalam proses pembentukan Klopp sebagai pelatih. Ia sudah dilatih oleh Frank sejak ia masih menjadi pemain.

Frank merupakan seorang jenius dalam memanfaatkan sistem. Ia menciptakan sistem hardcore, heavy metal yang melelahkan tetapi efisien. Sebuah sistem yang sangat bergantung pada pressing. Dasarnya, Frank meminta pemainnya untuk melemparkan badannya ke pemain lawan yang merebut bola. Ini merupakan dasar dari taktik modern yang dikenal dengan Gegenpress.

Pada akhir karirnya sebagai pemain di usia 33 (umum bagi seorang pemain bertahan, terutama di divisi dua untuk bermain di usia ini) ia menjadi asisten pelatih untuk Wolfgang Frank.

Namun, hanya dalam tahun kedua Klopp menjadi asisten pelatih, Frank mendapatkan hasil buruk. Mainz mengalami krisis ketika pemain-pemain kuncinya dibeli oleh tim-tim di Bundesliga, dengan gaji yang jumlahnya tidak main, dan dengan kemampuan finansial klub tersebut yang di bawah rata-rata, bahkan untuk klub divisi dua, (ini ditandai dengan stadion yang biasa hanya terisi seperempatnya saja, sponsor hanya berasal dari perusahaan berbasis lokal, dan juga akademi yang pada dasarnya tidak berjalan dengan baik) mereka tidak dapat menemukan pengganti yang pantas.

Ini berujung buruk, tentunya. Awal Januari, ketika Bundesliga memulai pertandingan kembali sesudah istirahat 1 bulan, Mainz berada di posisi relegasi ke divisi 3, yang hanya berisi pemain semi-professional, dan hampir tidak mendapatkan uang sama sekali dari siaran Televisi, hanya dari tiket pertandingan dan sponsor. Frank pun dipecat. Klopp menjadi orang pertama yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Awal Mula…

Jürgen Klopp adalah orang yang karismatik, lucu, dan terkadang berapi-api. Selama ia menjadi asisten pelatih, Klopp menggunakan selera humor serta keterbukaannya untuk membujuk direktur Klub dalam memilih dia sebagai pengganti Frank. Dengan kemampuan finansial yang rendah, direktur klub tersebut setuju, asalkan ia tidak meminta gaji lebih tinggi dari Frank.

Hasil Klopp langsung tampak. Ia memanfaatkan sistem yang sama, dengan efisiensi lebih, dan gaya motivasi yang tidak dimiliki oleh Frank.

Tengah musim ia ditunjuk, hasil Mainz membaik dengan efisiensi sistem baru yang Klopp berikan, alih-alih melemparkan pemain ke muka lawan yang sedang memegang bola dan hanya melakukan High Pressing, Klopp meminta pemainnya untuk lebih percaya diri ketika memegang bola, dan langsung melakukan pressing ketika bola tersebut direbut. Ini menciptakan pertandingan yang sukses. Setidaknya, jika pertandingannya tidak dimenangkan, penontonnya mendapat pertandingan yang menegangkan.

Dampak strategi Klopp sepertinya tidak hanya berhenti di lapangan. Gaya pertandingan yang menyenangkan dan “Heavy-Metal” ini menarik sejumlah penonton, menaikkan jumlah orang yang menonton pertandingan di Mainz sampai 15%.

Klopp tidak berhenti di situ. Ia ingin memberikan pemainnya semangat lebih, dan ia tahu persis pertandingan seperti apa yang memberikannya semangat ketika ia masih menjadi pelatih. Pada derbi-derbi dengan klub di sekitar kota Mainz, hampir bisa dipastikan stadion penuh. Derbi terpenuh yang Klopp rasakan sebagai pemain merupakan musim dimana Mainz hampir meraih promosi, namun gagal.

Klopp merasa seolah-olah ia dapat berlari 5 kilometer lebih banyak jika ada supporter yang menyanyikan lagu, dan ia merasa bahwa pemain-pemainnya akan bisa bermain dengan semangat lebih banyak jika ada supporter yang menonton, apalagi yang mendukung.

Untuk ini, Klopp perlu (sekali lagi) memanfaatkan kemampuan sosialisasi dan karismanya. Ia tidak hanya membujuk sekedar teman-temannya saja… Ia membawa Mainz ke level baru. Gaya pertandingan yang dikenal dengan Carnival Club yang ia bawa dari Mainz.

Tiap hari Jumat, tepat satu hari sebelum pertandingan, atau hari Minggu, satu hari sesudah pertandingan FSV. Mainz 05 mengadakan sebuah acara di balai kota Mainz dengan tujuan mengajak orang untuk ikut ke stadion dan menonton sepakbola.

Pada awal-awal acara ini digelar, banyak orang merasa tersentuh. Klopp yang memang karismatik dan lucu ini membuat orang-orang merasa bahwa sebuah klub yang harusnya menghasilkan banyak uang masih cukup peduli untuk membuat acara seperti ini dengan tujuan mengajak orang untuk menonton pertandingannya.

Meski belum tampak, (dan belum ada orang yang benar-benar tahu ide Klopp secara jangka panjang) rencana Klopp sukses. Sanking suksesnya rencana ini, dan sering terjadinya stadion yang tiketnya terjual habis, Klopp meminta walikota untuk membuat stadion baru bagi Mainz. Permintaan tersebut awalnya ditolak, namun dengan bantuan sponsor (perusahaan asuransi asal kota Mainz) yang Klopp dapatkan, Stadion Mainz sekarang merupakan hasil dari Carnival Club milik Klopp ini.

Musim pertama Klopp di FSV Mainz belum benar-benar menunjukkan perbedaan dari permainan. Ia hanya fokus pada mental, fisik, dan finansial. Perubahan taktik drastis baru tampak ketika klub tersebut memiliki uang dan anggaran untuk mendapatkan pemain-pemain baru.

Revolusi Finansial

Klopp mengakhiri musim pertamanya (17 pertandingan) dengan sebuah kemenangan, memastikan bahwa Mainz selesai dalam posisi keenam Bundesliga 2.

Uang yang ia terima dari penjualan tiket musim lalu, dan tiket musiman, serta sponsor baru dari perusahaan asuransi lokal yang sudah memberikan uang untuk mendapatkan hak nama stadion dimanfaatkan untuk merenovasi stadion dan meningkatkan kapasitas.

Klopp siap berburu pemain di divisi dua. Apa yang Klopp cari? Klub-klub modern, biasanya di papan atas bergantung pada direktur olahraga untuk mencari pemain, namun Klopp belum bisa melakukan itu, ia harus bertahan dengan anggaran dan kemampuan finansial yang ia miliki.

Klopp memutuskan untuk mencari pemain berdasarkan kepribadian sebelum kemampuan. Aku yakin bahwa ia memercayai konsep nurture over nature dan ia yakin orang yang tepat dapat dibentuk menjadi pemain yang bagus.

Klopp selalu menanyakan 3 pertanyaan yang sama ke sebuah pemain, dan ketika wawancara, ia meminta pemain yang akan direkrut untuk membawa pacar atau istrinya. Pacar atau istri sang pemain diberikan tur kota oleh asisten pelatih, termasuk tempat-tempat turisme, tempat berbelanja, dan juga taman-taman.

Ini tampak seperti sebuah gerakan yang ia ambil dari Jean-Michel Aulas, presiden Lyon, yang bersikeras bahwa pemain harus dibuat senang dan tenang agar bisa memberikan performa yang baik. Aulas bersikeras untuk menghabiskan 10-15% anggaran untuk menyewa konselor untuk membantu pemain merasa senang di kota tinggal barunya, serta sesekali mengingatkan bahwa mereka sudah berjanji untuk mengajak istrinya nonton film.

Klopp melakukan hal yang mirip, dengan versi jangka pendek dan anggaran terbatas. Ia tidak bisa menyewa konselor begitu saja.

Dalam mata Aulas, pemain yang performanya buruk tinggal dijual ke klub yang lebih kecil untuk mengembalikan uang yang habis untuk gaji serta konselor, dan pemain yang performanya baik akan menghasilkan uang yang lebih dari uang yang didapat dari gaji serta konselor, memperbanyak nilai klub.

3 pertanyaan pertama Klopp adalah…

  1. Apakah kau menyukai latihan? Dan kau harus menyukai latihan untuk bisa bertahan di sistem Klopp, itu sistem yang sangat berat. Klopp tidak keberatan jika ia harus menolak pemain seperti Leo Messi jika ia tidak menyukai latihan.
  2. Kau tahu kami siapa?
  3. Apakah kau ingin bermain bagi kami?

Dari tampaknya, Carnival Club yang sedang dirancang Klopp ini tidak akan bertahan jika pemainnya tidak bangga untuk bermain bagi Mainz.

Klopp memiliki satu perbedaan krusial dari Aulas. Aulas melihat bahwa ia butuh uang dan ini dilakukan untuk membuat pemainnya bermain lebih baik, dan untuk menaikkan nilai pasar si pemain, ini adalah hal yang berbasis statistika…

Klopp melakukannya agar si pemain mencintai klab sepakbolanya dan rela melakukan performa yang baik, di sistem yang berat, karena itu dibutuhkan. Ini tindakan yang dilakukan karena cinta, bukan ilmiah.

Klopp baru memulai tugasnya sebagai pelatih di Mainz, dan ia tidak akan berhenti begitu saja. Lagipula, Carnival Club miliknya belum beres dibangun.

Bersambung