Category: Psychology

Why Do We Dream? Kuliah Umum ITB S2 – 1

Why Do We Dream? Kuliah Umum ITB S2 – 1

Kuliah Umum di ITB kali ini telah lanjut ke siklus keduanya. Bersambung dari tema kuliah nomor 5 tentang kesadaran, kita masuk ke subyek mimpi.

Sebelum masuk ke penjelasan tentang kuliahnya sendiri.

  1. Ini adalah kuliah keempat yang aku ikuti, dan ini pertama kalinya kuliahnya membahas hal secara tidak faktual. Benar-benar tidak faktual… Tentunya aku memaksudkan ini sebagai hal yang bagus karena beberapa subjek memang tidak bisa dihampiri dari sudut pandang yang faktual, topik ini termasuk salah satunya. Alih-alih memberikan data dan teman-teman dari data tersebut (seperti nama peneliti, dsb.), diberikan penjelasan tentang konsep-konsep yang nyata tetapi belum tentu telah dibuktikan secara ilmiah.
  2. Slideshow yang diberikan oleh pemateri kuliah hanya berisi 8 slide. Sekali lagi, ini hal yang bagus, karena hampir seluruh materi dan konteks kuliah disampaikan dalam bentuk cerita. Meskipun tidak ada “jangkar” atau patokan untuk topik presentasi, ilmu yang didapat tetap sampai, hanya saja dengan cara yang berbeda.
  3. Pemateri kita kali ini adalah seorang neurosurgeon. Mungkin pernah lihat atau dengar di Twitter… Namanya Dr. Ryu Hasan.

150 kata kemudian, kita akhirnya bisa masuk ke cerita tentang kuliahnya.

Out of Topic…

Sekitar 70% dari kuliah kemarin keluar dari topik utama yaitu alasan kita bermimpi. Kuliahnya menarik, disampaikan dengan elegan dan memberikan ilmu yang substansial, hanya saja sebagian besar kuliahnya hanya terhubung oleh benang merah ke topik “Why Do We Dream?” itu sendiri.

Selain itu, aku yang datang dan mencatat memberikan simbol khusus untuk menandai bagian mana yang on topic dengan pertanyaan Why Do We Dream, dan bagian mana yang off-topic.

Silahkan skip ke bagian berikutnya jika anda tidak sabar ingin tahu tentang alasan kita bermimpi.

Catatan kasar saja, untuk memberikan perspektif…

  • Berdasarkan pengamatanku, ada 9 pernyataan off-topic yang disampaikan, tepatnya tentang kedokteran dan ilmu biologi itu sendiri, sebelum masuk ke pembuka tentang alasan kita bermimpi.
  • Lalu ada 3 pertanyaan yang umum ditanyakan orang mengenai alasan kita bermimpi sebagai landasan dasar topik.
  • Disusul dengan 6 pernyataan off-topic tentang pengetahuan manusia, psikologi, kenyamanan manusia dan juga iman serta kepercayaan.
  • 6 fakta tentang mimpi, halusinasi, dan emosi secara ilmiah.
  • 1 pernyataan di luar topik tentang narasi dan kematian. Kembali ke subyek mimpi dengan 1 pernyataan lagi.
  • 2 Pernyataan off-topic lagi… Kali ini tentang Einstein dan Darwin.
  • Lalu 6 pernyataan yang menutup kuliah umum, sesuai dengan topik.

Dr. Ryu Hasan memberikan kuliah tanpa struktur yang jelas, tetapi dengan referensi yang bagus dan tepat, membentuk hubungan antara subyek yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mimpi, dan menghubungkannya dengan cara yang seharusnya bisa dimengerti anak SMP. Ini juga dilengkapi dengan candaan yang lucu (meski memang jika dilakukan di forum publik akan terdengar agak kontroversial, sehingga aku tidak akan memasukkan sebagian lelucon tersebut), sehingga kuliahnya tidak terasa membosankan.

Lalu sekarang anda ingin bertanya… Jadi Azriel, kapan kuliahnya dibahas?

Ada sedikit masalah di sini… Karena tidak ada struktur dasar kuliah secara verbal, aku mengalami sedikit kesulitan menuliskannya. Aku merasa ada klarifikasi dasar yang penting dan yang perlu diberikan untuk kejelasan tulisan. Oh iya, tulisan kuliah kali ini mencapai 1500 kata, jadi, tenang saja.

Mimpi Tidak Bermakna?

Salah satu miskonsepsi terbesar tentang mimpi adalah perubahan kata tersebut menjadi impian. Tapi aku loncat terlalu jauh, jadi sebentar dulu.

Hal-hal yang dilakukan manusia secara rasional, membutuhkan tindakan sadar. Sedangkan, hal-hal yang intuitif dilakukan berdasarkan emosi.

Otak manusia sendiri yakin pada hal-hal yang membuatnya merasa nyaman, bukan pada hal yang rasional. (ini disebutkan Nietzsche, Mark Manson [yes, him], dan masih banyak lagi)

Berdasarkan dua hal ini saja, bermimpi merupakan hal yang bergantung pada emosi, dan biasanya bersifat intuitif. Kita tidak punya kontrol akan mimpi kita, terkecuali lucid dreaming.

Jadi, kita akan masuk ke pernyataan pembuka. Tidak ada definisi biologis atau neurologis yang BAKU untuk mimpi. Kita tahu cukup banyak hal tentang mimpi, tetapi tidak ada definisi yang baku untuknya.

Untuk menambah pertanyaan pada awal kuliah. Mimpi tidak berguna, dan tidak berhubungan dengan subconscious. Freud semacam merusak fakta bahwa mimpi ada hubungan dengan subconscious, tetapi faktualnya tidak seperti itu.

Istilah impian sendiri ada di Bahasa Indonesia, tetapi Impian seharusnya tidak ada, dan gunakan saja kata Cita-Cita, karena itu memberikan terlalu banyak makna ke hal yang secara biologis tidak ada maknanya.

Kita percaya Mimpi bermakna lebih banyak daripada fakta biologisnya karena itu merupakan hal yang membuat kita merasa nyaman, bukan dengan kenyataan yang ada.

Rasionalisme… Membela Diri…

Oke, mungkin secara biologis tidak ada makna pada mimpi. Ada makna untuk tidur secara biologis, tetapi mimpi? Gak. Gak ada. Nah, bagaimana untuk makna secara psikologis? Lagi-lagi, perlu diingat bahwa mimpi juga merupakan produk dari otak yang bisa dipandang dari 4 sudut pandang berbeda, Biologi, Psikologi, Spiritual serta Filosofis. Untuk itu, kita coba masuk ke suatu subyek psikologis yang berperan mirip dengan mimpi saat kita masih bangun.

Mekanisme pembelaan ego (ini juga referensi ke Nietzsche dan Mark Manson [Mark Manson menuliskan psikologi jadul dengan gaya modern, jadi wajar kalau aku yang kelahiran 2002 ini menyebut namanya terus] lagi) adalah cara kita membuat diri kita sendiri lebih nyaman.

Sebagai contoh…

“Aku tidak pernah belajar sebelum ujian. Pada ujian tengah semester kemarin, nilai ujianku jelek karena aku tidak belajar. Sebelum ujian akhir semester, Ibuku sedang sakit. Ujian akhir semesterku berakhir dengan nilai yang jelek. Bagaimana aku bisa belajar? Ibuku lagi sakit, wajar kalau nilainya jelek.”

Pada dasarnya, otak kita berusaha mencari-cari alasan untuk membuat kita sendiri merasa lebih nyaman. Meskipun secara rasional, tidak ada relasinya sama sekali. Terkadang relasi itu dibuat murni hanya untuk membela ego dan memberikan makna yang lebih dalam dan penting untuk sesuatu.

Ini merupakan poin yang agak off-topic tapi ternyata berhubungan dari Dr. Ryu.

Namun Freud mengatakan bahwa mimpi tersebut memiliki makna yang lebih dalam dari seharusnya. Seolah-olah mereka terhubung. Semakin ke sini juga, mimpi semakin sering dielaborasi agak berlebihan oleh (mengutip kata per kata Dr. Ryu Hasan) “Ahli Nujum”.

Karena kita menghabiskan banyak sekali waktu bermimpi, banyak elaborasi tidak diperlukan untuk membela ego manusia tentang bermimpi itu sendiri. Ini akan dibahas lagi sedikit di bawah, tetapi masih ada sedikit fakta yang pembaca perlu ketahui terlebih dahulu.

So… Err… WHY DO WE DREAM?

Karena tidak ada jawaban dari sudut pandang psikologis, Dr. Ryu berpaling ke sudut pandang Biologis.

Pertama, 80% Mamalia (meski tidak disebut, aku cukup yakin yang dimaksud adalah jumlah spesies alih-alih jumlah populasi) merupakan hewan Nokturnal (Nokturnal berarti aktif di malam, diambil dari Latin untuk malam, yaitu Nox, dan Turnalia yaitu momen atau waktu. Noxturnalia adalah Latin untuk Momen Malam). Kelelawar, Kucing Besar, beberapa jenis Kera, beberapa Mamalia laut…

Kita termasuk 20% dari mamalia yang tidak nocturnal tersebut. Mungkin ini alasan kita bermimpi, otak mamalia kita yang mayoritas nocturnal ini memerintahkan kita untuk beraktivitas, dan aktivitas itu terjadi di otak, menciptakan mimpi.

Kedua, mimpi terjadi pada fase REM. Rapid Eye Movement Sleep. REM ini adalah fase di mana kita sudah tidur lebih dari 6 jam. Kita masuk ke fase REM ketika kita sudah perlu bangun.

Mungkin terdengar agak-agak kontraproduktif. Halo? Di Dunia Mimpi kemarin malam aku hampir sukses menguasai dunia dengan robot yang aku curi dari ruang bawah tanah seorang profesor yang bekerja buat pemerintahan (Wow, I dream like a 7 year old)! Kenapa aku dibangunin? Kenapa mimpi yang justru membuat kita ingin tidur lebih lama… malah berfungsi untuk membangunkan kita? Ini kan… Agak … Konyol.

REM sleep sendiri sebenarnya bukan seperti jam alarm yang menyuruh kita bangun, tetapi lebih cocok jika disamakan dengan cara kita melakukan pemanasan tubuh sebelum masuk kolam renang, agar kita tidak kram. Kalau kita tidak melakukan pemanasan, ada kemungkinan kita cepat lelah. REM Sleep dan mimpi berfungsi untuk memulai aktifitas otak kita (dengan cara mengkhayal) sebelum otak kita mengaktifkan kesadaran.

Dua poin sudah ada, sekarang poin ketiga secara biologis…

Mimpi adalah halusinasi. Karena kita mendapatkan reaksi dan kognisi tanpa adanya stimulasi, itu adalah halusinasi. Mimpi berfungsi sebagai batasan dunia halusinasi, dan untuk membatasi kita dari mengkhayal di dunia nyata.

Secara biologis, fungsi mimpi lebih cocok untuk disambungkan dengan semacam ruang pemanasan dan persiapan hari, seperti misalnya beli kopi sebelum ke kantor, atau pipis sebelum mandi pagi, mimpi seperti pemanasan…

Namun, ada riset yang masih kurang jelas menemukan korelasi mimpi dengan psikologi.

The Dream Clinic.

Sebuah riset menyatakan bahwa orang yang ekstrovert punya kemampuan menceritakan mimpinya, meski tidak bisa mengingatnya dengan jelas ataupun runut, sementara orang yang introvert tidak bisa menceritakan mimpinya, namun memiliki ingatan yang lebih jelas padanya.

Bermimpi juga merupakan cara otak kita mendifusi emosi. Semakin sering kita bermimpi yang penuh cerita, semakin rendah kemungkinan orang tersebut depresi. Sedangkan, semakin abstrak mimpinya seseorang, semakin besar kemungkinan orang tersebut mengalami depresi.

Riset ini tidak dilakukan spesifik mengenai mimpinya sendiri, tetapi lebih ke survei mengenai depresi dan bermimpi itu sendiri. Metode risetnya agak induktif, namun tampaknya ada korelasi ke mimpi dengan psikologis, hanya saja tidak  dengan cara yang diharapkan psikolog Freudian atau Jungian.

Aku tidak punya kepercayaan diri dan/atau kredibilitas untuk membuktikan riset ini, tetapi aku akan tetap memasangnya di sini, hanya sebagai informasi tambahan.

Kesimpulan.

Pada akhir hari, mimpi tersebut sendiri tidak memiliki satu pun hasil ataupun inti mengenai mimpinya sendiri. Tetapi, mimpi memiliki cukup banyak hasil akhir walaupun mimpinya sendiri hampa akan makna.

Tiga Teori Probabilitas.

Tiga Teori Probabilitas.

Kemungkinan sesuatu terjadi secara acak sangat tinggi, dan sangat memungkinkan ada aspek kehidupanmu yang terpengaruh karena hal yang acak tersebut. Itu hal yang sudah cukup umum, dan terkadang, orang-orang menyepelekan hal-hal acak ini terjadi. Mulai dari hp-mu menjadi target bombing SMS, hingga mengocok dadu, probabilitas sesuatu hal buruk, atau baik terjadi, umumnya sama.

Tulisan hari ini tidak akan mengupas terlalu banyak tentang probabilitas, tetapi ia akan mengupas cara manusia mempersepsikan hal-hal yang terjadi secara acak, dan hal-hal yang benar-benar terjadi secara nyata.

Ketiga teori yang akan aku tuliskan di sini bukan berupa hukum dan tidak absolut, tetapi setidaknya anda pernah menjadi korban salah satu teoriku, baik disadari atau tidak.

Inspirasi: Fooled by Randomness by Nassim Nicholas Taleb.

Teori 1: Sesuatu yang tidak absolut, akan dipercayai sebagai mungkin

Teori pertama adalah alasan orang-orang masih membeli tiket lotre. Selama kemungkinan sesuatu terjadi masih ada, orang-orang akan terus mempercayai kemungkinan tersebut terjadi pada mereka, mau seberapa tidak mungkin hal tersebut terjadi.

Hal sekecil 0.00000000001% terjadi akan dipersepsikan sebagai kemungkinan yang nyata. Mau seberapa kecil kemungkinannya, kemungkinan tersebut tetap ada, dan dipercayai sebagai hal yang bisa dan/atau akan terjadi.

Tentunya, kemungkinan hal-hal yang tampak tidak mungkin terjadi itu memang ada, dan memang pernah terjadi. Bisa dilihat dari pemenang lotre yang benar-benar menang, hingga ke cerita klub kecil dengan peluang menang rendah dengan magisnya mengambil piala terbesar di liga lokal, sampai ke cerita-cerita miskin ke kaya yang sering muncul… harapan untuk hal tersebut terjadi akan selalu ada.

Manusia akan terus percaya dan berharap akan ditemukannya alien sampai ada bukti pasti bahwa alien tersebut tidak ada. Tetapi, karena hukum yang sama, manusia tidak akan pernah percaya akan adanya burung Dodo yang sudah punah, dan itu adalah hal yang absolut. Hal yang pasti, dan hal yang tidak bisa diulangi.

Harapan adalah hal yang berbahaya, begitu kita berharap akan suatu hal, mau secara logis probabilitas hal tersebut tidak bisa direalisasi, maka kita tidak akan melihatnya sebagai probabilitas 1/100000. Kita akan melihatnya sebagai suatu hal yang mungkin terjadi, baik kemungkinannya kecil, atau besar.

Teori 2: Ketika hal baik terjadi, manusia akan melihatnya sebagai bagian dari kemampuan yang mereka miliki.

Teori kedua terdengar panjang, aku tahu. Sebelum masuk dan menjelaskan teori ini, aku perlu memberi klarifikasi bahwa Taleb terdengar seperti orang sok tahu ketika menuliskan Fooled by Randomness. Ralat, aku cukup yakin bahwa hampir semua buku Taleb yang telah kubaca membuatnya tampak seperti orang sok tahu, walaupun yang ia katakan memang benar. Di Fooled by Randomness, Taleb menyatakan bahwa teori 2 dan 3 (yang aku pisahkan dan klarifikasi sendiri tentunya) adalah hal yang absolut, dan cara manusia mempersepsikan kedua hal ini terjadi akan selalu seperti itu, seolah-olah tidak ada kemungkinan mereka melakukannya secara positif. Aku menuliskannya sebagai teori dengan alasan bahwa ini tidak 100% pasti terjadi.

Kembali ke topik. Teori kedua adalah teori yang menyatakan bahwa ketika manusia menerima keberuntungan dalam mengerjakan sesuatu, mereka akan melihatnya sebagai bentuk lain dari skill yang mereka miliki, seolah-olah mereka mampu mengerjakan hal tersebut tanpa adanya bantuan dari Fortuna, alias Nyonya Keberuntungan.

Ketika seorang pegawai -tanpa melihat watak orang tersebut sombong atau rendah hati atau campuran keduanya-  melihat bahwa ia mampu mengerjakan tugas A, meskipun ia melakukannya hanya karena ia beruntung, ia akan melakukan tugas A lagi dengan asumsi bahwa ia bisa melakukannya. Ketika Fortuna tidak datang untuk kedua kalinya, mereka akan kesulitan, karena mereka punya asumsi bahwa mereka bisa melakukan tugas tersebut.

Usaha yang diberikan mungkin sama, mungkin berbeda, bagiku itu irelevan, karena yang dibahas adalah cara mempersepsikan sesuatu, bukan kenyataannya.

Persepsi yang ditangkap ini bisa menjadi berbahaya bukan hanya untuk orang yang menjadi korban ke mispersepsinya sendiri, tetapi juga orang lain yang mengambil persepsi kepada orang tersebut.

Lalu, berikutnya, kita akan bahas yang diketahui dengan ekspektasi.

Ketika seseorang diminta bosnya mengerjakan Tugas A tadi, lalu bosnya menilai hanya dari satu sampel saja, bos tersebut yakin bahwa jika ada pekerjaan yang membutuhkan tugas A, ia bisa memberikannya ke pegawai tersebut, dengan harapan ia bisa mengulangi kesuksesannya lagi.

Ketika kesuksesan tersebut gagal terjadi… barulah ada relevansinya dengan karakter bos-nya. Apakah bosnya orang yang rasional atau yang menilai secara emosional?

Bagaimanapun juga, ketika ada hal yang baik terjadi, dan kesuksesan mengerjakan suatu tugas, anda jangan mau terjebak sendiri oleh mispersepsi ini, dan nilailah dengan objektif sesudah mengerjakan suatu tugas, ujian, atau semacamnya… apakah aku dibantu oleh keberuntungan?

Teori 3: Ketika hal buruk terjadi, manusia akan menilai dan menciptakan alasan bahwa itu terjadi karena mereka sedang tidak beruntung, bukan karena inkompetensi.

Teori ketiga adalah inversi (alias pembalikan) dari teori kedua.

Esensi kedua teori sama, namun kali ini, overestimasi itu terjadi dengan penciptaan alasan, entah itu “aku sedang mengalami hari yang buruk”, atau “aku lagi kurang beruntung” dan sebagainya.

Sebagai contoh, pegawai lain di kantor yang sama dengan pegawai di teori dua tadi diminta bos-nya mengerjakan tugas B. Ia sukses mengerjakan tugas B tanpa adanya masalah, dan dengan minim bantuan keberuntungan, ia bisa mengerjakan tugas B, murni karena kompetensi dan kapasitasnya sebagai seorang pekerja.

Keesokan harinya, sesudah melihat pegawai tersebut dan kehandalannya mengerjakan tugas B, ia meminta orang tersebut mengerjakan tugas B+. Tugas B+ membutuhkan skill dan waktu yang kurang lebih sama dengan tugas B, dengan pengecualian bahwa tugas B+ membutuhkan satu langkah tambahan ketika proses pengerjaannya sudah beres.

Pegawai tersebut menganalisa pekerjaannya setengah matang dan tidak menyadari bahwa ia perlu melakukan langkah tambahan dari tugas B, dan ia melupakannya karena inkompetensi.

Ketika melaporkan ke bos-nya, dan ditanyakan kenapa ia gagal melakukan tugas tersebut, ia membuat alasan bahwa (misalnya) ia lupa minum kopi hari itu, atau anaknya sedang menangis sangat keras pada malam sebelumnya sehingga ia kekurangan tidur, tanpa menyadari bahwa ia melakukan hal tersebut karena adanya inkompetensi dari kemampuan analisanya.

Sesudah ini, bos tersebut mengasumsikan bahwa pegawainya ini tidak mampu mengerjakan tugas B+, padahal hanya ada perbedaan satu langkah kecil di akhir proses dari tugas B.

Jika isu dari teori kedua adalah overestimasi kemampuan yang tidak nyata, isu dari teori ketiga terletak di overestimasi kemampuan berdasarkan faktor yang tidak nyata. Kemampuan yang ia miliki memang kurang (sebagai contoh) di bidang analisa tadi, tetapi, ia malah menggunakan emosinya untuk menilai dan memberikan alasan bahwa ia tidak mampu mengerjakan tugas tersebut, alih-alih menilainya secara rasional.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang irasional, tetapi rasional.

Kita menyetir dengan otak, atau dengan hati. Ketika kita menyetir dengan otak, kita dapat melewatkan hal-hal sederhana dan yang harusnya disadari manusia dengan kesadaran tertentu. Ketika menyetir dengan hati, pada sisi lain, kita melewatkan hal-hal yang seharusnya disadari secara logis.

Kesalahan terbesar manusia adalah kegagalan untuk menemukan keseimbangan antara kedua hal ini.

Taleb menunjukkan dan mengingatkan bahwa kita sering salah mempersepsikan kejadian dan menyalahkannya atau menyembunyikan fakta bahwa ada keberuntungan yang berperan di situ.

Aku menjelaskan bahwa kita butuh keseimbangan yang tepat untuk bisa menganalisa hal-hal tersebut dengan netral, dan dengan rasional.

Sampai lain waktu.

Sang Penulis Idealis

Sang Penulis Idealis

Banyak sekali orang melewatkan fakta bahwa Nietzsche memiliki banyak idea dan konsep fundamental di buku On the Genealogy of Morals miliknya… tentang seorang penulis idealis.

Tentunya kalau ada ratusan kalimat dari Nietzsche yang begitu ekstrim dan terdengar fanatik seperti Superman (dan gak, kita gak bicara tentang Clark Kent di sini), God is Dead, serta pembunuhan konsep dan evolusi yang Nietzsche ciptakan, wajar kalau kebanyakan penulis memutuskan untuk melewatkan ide-ide Nietzsche akan seorang seniman/sastrawan.

Tetapi, bagiku, Nietzsche bukan buku pertama di mana aku membaca tentang Superman, Dead God, dan pembunuhan konsep serta evolusi manusia yang umum dilihat di filsafat Post-modern yang Nietzsche ciptakan. Banyak buku yang mencatat Nietzsche sebagai sumber, dan melengkapi ide-idenya dengan opininya sendiri.

Jadi, melihat Nietzsche yang tampak di tulisannya sebagai fanatik, aku cukup takjub bahwa ia mempunyai ide yang indah (setidaknya berdasarkan standar indahnya Nietzsche, yang… ya… err… gitu lah ya…) akan seorang seniman dan sastrawan.

Selamat menikmati!

(Off topic: aku harus berterimakasih pada Word ketika mengecek ejaan Nietzsche, karena meskipun namanya kusebut belasan kali, aku masih saja ada salah ejaan)

Achilles, Jon, dan Tony.

Homer. George R. R. Martin. Stan Lee. Apa kesamaan yang ketiga penulis ini punya?

Mereka bertiga berbeda jauh dari karakter paling ideal yang mereka ciptakan.

Aku akan membahas ketiganya secara terpisah.

Homeric Epic

Homer (terlepas dari eksistensi Homer berdasarkan sejarah) menciptakan Achilles, Hector, Priam, Helen, Ajax, Menelaus, Paris, dan Odysseus dari satu sudut pandang. Tetapi, nyatanya, pahlawan dari seluruh pihak, Ithaca, Yunani, Sparta, Troya, bahkan Olympus (hampir semua dewa berperan penting di Epik skala besar ini) sekalipun, memiliki mentalitas yang berbeda.

Achilles dari Yunani, terobsesi dengan harga dirinya, sangat narsistik, dan punya masalah amarah yang sangat parah. Ia diciptakan dengan satu kelemahan secara fisik, yakni mata kaki miliknya, tetapi dengan ratusan kelemahan mental.

Heck, aku pernah ditanyakan seorang teman tentang ide nama yang diawali dengan huruf A. Ada yang memberi ide Achilles. Komentarku sederhana “Are you crazy? Entar dia punya anger issue atuh…” meski aku menyukai nama Achilles… sebagai karakter, ia sangat tidak utuh dan lemah.

Hector, dari Troya pada sisi lain… Sempurna secara mental. Ia punya ketenangan, kesabaran, kestabilan emosi, dan juga rasa cinta yang sangat besar untuk prajurit, keluarga, dan kerajaannya. Namun, secara fisik, ia kalah jauh dengan Achilles.

Odysseus adalah pahlawan yang masih memiliki corak karakter lain. Ia tenang, sabar, dan stabil seperti Hector, namun tidak sekuat Pangeran Troya tersebut, tetapi, ia punya kemampuan strategi, dan kelicikan tingkat tinggi yang lebih dari cukup untuk memenangkan seluruh pertarungan yang ia hadapi.

Membahas semua karakter dari Epik Homerik kali ini akan butuh waktu yang sangat banyak.

Jadi, ayo move on!

Game of Thrones

Aku sendiri belum pernah baca Game of Thrones, tapi aku cukup aware tentang beberapa referensi dan aliansi yang diciptakan dari beberapa board game yang dimainkan.

Tetapi, referensi ini tetap dibutuhkan, karena GoT adalah hal terdekat ke Homeric Epic di era modern, jadi… ya, begitulah.

Dari banyaknya karakter yang aku ketahui… Sudut pandang penulis bertambah cukup banyak, dan tidak ada jahat atau baik, sama seperti di Iliad milik Homer.

Berdasarkan framework cerita, GoT, menciptakan banyak kelemahan tiap karakter, serta, tidak seperti Epic Homeric yang berakhir tragis bagi SEMUA protagonis, kecuali Odysseus (YAY!), GoT memberi akhir tragis bagi karakter yang disukai orang-orang.

Level tragis dari GoT berkurang kalau dibandingkan dengan Iliad dan Odyssey, namun, pada akhirnya, tiap karakter tidak ada yang bisa memenuhi idealisme penulis.

(Off-topic lagi: Jika anda mengira GoT sudah cukup tragis, ayo dicatat karakter-karakter yang mengalami ending tragis di Mitologi/Sejarah Yunani dan Romawi: Hercules, Theseus, Orpheus, Jason, Bellerophon, Achilles, Phaeton, Daedalus, Atalanta, Meleager, Remus, Julius Caesar, dan sebagainya. Happy Ending? Perseus, Psyche, Romulus. Ya, simpulkan saja sendiri)

Avengers…

Bagi yang mengetahui aku dengan dekat, atau setidaknya, pernah melihat kaos-kaos yang aku kenakan. Bisa disimpulkan aku menyukai DC lebih dari Marvel.

Tetapi, aku juga menyukai Marvel, karena sejujurnya, apa salahnya menyukai keduanya?

Avengers memberikan framework baru kepada gaya menulisnya seorang idealis.

Mau dilihat dari sudut pandang apapun, Stan Lee (rest in peace) memiliki sudut pandang yang unik pada tiap tokoh. Selain fakta bahwa Tony Stark mengalami ending yang tragis, (karena isu kontrak) dan juga Civil War yang terjadi sebelum Infinity War dan End Game, Avengers memperkenalkan konsep Villain yang jelas.

Penonton dapat melihat siapa yang baik, dan siapa yang jahat.

Namun, MCU serta komik-komik yang menginspirasi MCU, memastikan bahwa “penjahat” yang hadir di karya-karya tersebut adalah penjahat yang tidak benar-benar jahat, dan sebenarnya memiliki niatan baik, tetapi dilakukan dengan metode yang salah.

Aku tidak perlu membahas terlalu banyak tokoh, bahkan Thor, Captain America, dan Iron Man juga diciptakan dari tiga framework berbeda. Salah satu mengalami kehidupan yang bahagia, tetapi merasa tidak bisa hidup ke ekspektasinya sendiri. Salah satu mengambil tugas yang diberikan padanya, dan percaya akan tugas, dan nasionalisme. Dan yang terakhir mengalami kejadian tragis dan berniat untuk menciptakan dunia yang ideal, yang lebih sesuai dengan gambarannya atas metodenya sendiri.

Bisa dilihat, tiga tokoh utama MCU fase pertama dan kedua sangat kontras dan berbeda dengan satu sama lain.

Jadi, di mana peran Friedrich Nietzsche di sini?

Terpisah. Ideal. Sempurna.

Homer tidak mungkin menciptakan Achilles atau Hector jika kepribadiannya sama dengan kedua protagonis tersebut.

George R.R. Martin juga tidak mungkin menciptakan Jon Snow, Daenerys, dan… ada siapa lagi di GoT? Kalau ia sama dengan tokoh utama tersebut.

Sama juga dengan Stan Lee. Tony Stark, Steve Rogers, Peter Parker, T’Challa, dan seterusnya tidak mungkin bisa diciptakan kalau Stan Lee memiliki kepribadian yang sama dengan ketiga tokoh tersebut.

Jadi, di mana letak para penulis dan seniman yang disebutkan ini?

Untuk bisa melihat idealisme seorang karakter, penulis atau seniman harus bisa membersihkan diri dari idealisme karakter yang akan diciptakan. Seseorang yang agresif tidak mampu menggambarkan sisi itu darinya secara negatif, dan seseorang yang narsistik juga tidak mampu menggambarkan sisi tersebut darinya secara negatif.

Kelemahan karakter yang paling tampak pun, tidak mungkin bisa dijelaskan jika tidak dilihat dari satu sudut pandang yang netral.

Bagi Nietzsche, seorang penulis bukanlah orang yang mampu menciptakan karya, namun orang yang telah memasukkan imajinasinya dari sudut pandang netral dan bersih. Orang yang terdiskoneksi dan berperan murni sebagai pencerita dalam kisah besar.

Seperti, misal, Vyasa yang berperan dalam penulisan Mahabharata. Vyasa sendiri merupakan tokoh yang canon dan memiliki peran di dalam cerita. Perannya murni untuk menuliskan dan merekap cerita, serta sedikit membantu pahlawan dari kedua belah pihak. Homer, dan George R.R. Martin tidak melakukan ini, namun aku tidak perlu membahas terlalu dalam karena Vyasa adalah contoh paling mentah dan sempurna, hal yang R.R. Martin dan Homer lakukan sudah sesuai, hanya saja tidak semudah dilihat Vyasa.

Bagaimana dengan Stan Lee? Dapat diasumsikan bahwa Stan Lee yang menginginkan cameo di tiap film MCU merupakan hal yang mirip dengan hal yang Vyasa lakukan. Kurasa, kita tidak akan pernah tahu…

Sampai lain waktu… (masukkan sound effect jeng-jeng. Lalu, cut!)

Peran Probabilitas dalam Tes Terstandarisasi

Peran Probabilitas dalam Tes Terstandarisasi

Tulisan ini aku buat untuk sesama murid SMA yang ingin diterima di PTN-nya masing-masing. Selamat menikmati.

Salah satu materi UTBK-SBMPTN (karena UTBK aja atau SBMPTN aja kurang panjang) yang aku paling senangi adalah Probabilitas. Aku bisa menjawabnya dengan sekedar satu jentikkan jari, aku tidak perlu berpikir panjang, dan aku bisa meluangkan waktuku untuk hal lain. Menghitung probabilitas secara manual adalah hal yang mudah.

Sayangnya, tulisan kali ini tidak membahas probabilitas secara matematis, tapi secara filosofis. Jadi, bersiap-siap, karena tulisan kali ini akan membuat sekedar memilih A,B,C,D, atau E menjadi hal yang sangat membingungkan. Eh sebentar. Memilih A,B,C,D atau E sudah membingungkan. Untuk apa kita persulit.

Konsep Probabilitas

Probabilitas adalah kemungkinan kejadian yang terjadi secara acak untuk terjadi pada kondisi yang ditentukan.

Sayangnya, konsep probabilitas secara filosofis tidak sesederhana itu. Aku punya dua statement untukmmu pembaca yang mungkin ingin tahu sedikit lebih banyak tentang konsepnya probabilitas.

  • Semua Angsa berwarna Putih. Semua angsa yang aku pernah lihat (anggap saja, misal, 10.000 ekor) berwarna putih.
  • Di Benua Australia, ditemukan 20 ekor angsa berwarna hitam. Pernyataan pertama otomatis SALAH!

Tiap kali kita melihat angsa, ada kemungkinan 0.001% bahwa angsa tersebut… berwarna hitam.

Masalah terbesar dari probabilitas adalah, mau seberapa kecil probabilitasnya, kita tidak bisa sedikitpun memutuskan untuk tidak nekat melakukan sesuatu, kecuali kita tahu pasti bahwa jawabannya 100% pasti itu. Apapun yang dilakukan, mau itu sekedar mengocok kartu lalu menebak kartu mana yang kita ambil, atau menjawab soal UTBK, kecuali kita yakin 100% bahwa hasilnya akan A, atau Queen Hati, ada peluang untuk salah.

Bahkan jika dari 200.000 ekor angsa di alam liar sekarang hanya 20 yang berwarna putih, peluang sekecil 0.001% pun tetap berfungsi sebagai probabilitas.

Secara abstrak dan dari sudut pandang filosofis, mau sekecil apapun peluang anda salah, anda tetap punya peluang untuk salah.

Hal-Hal Teknis…

Hal-hal yang seseorang mungkin ketahui untuk tes. Soalnya pilihan ganda, ada 5 pilihan, ada  4 mata pelajaran (untuk anak-anak Saintek, sepertiku) dan terakhir, ada 80 soal tes potensi skolastik.

Hal yang anda tidak ketahui kecuali memang mengikuti atau ingin mengikuti. Bobot nilai tiap soal, bergantung berdasarkan jumlah orang yang mampu menjawab satu pertanyaan.

Jika anda menjawab soal di mana seluruh pesaing di seluruh Indonesia tidak bisa menjawab dengan benar, dan anda bisa… maka bobot dari soal tersebut sangat tinggi. Tapi, jika anda bisa menjawab 50 soal, namun semua soal tersebut dapat dijawab oleh 80% peserta tes, maka kemungkinan besar, bobot anda menjadi yang 0.001% tapi hanya satu soal yang benar lebih baik.

Sayangnya, bobot tiap soal semakin tidak jelas, jadi sejujurnya, tidak ada yang tahu berapa nilai menjawab soal yang semua orang bisa jawab…

Sistem ujian saringan (yang namanya udah berubah lebih sering dari ada reboot power rangers) kali ini, mencari angsa berwarna hitam, bukan angsa putih yang sehat.

Jadi?

Dari mana kita bisa memanfaatkan hukum probabilitas untuk meraih bobot nilai maksimum? Sejujurnya, tidak ada. Soal-soal didapat secara acak dari kolam 40, atau 50 soal, dan tiap orang mendapat soal berbeda.

Lalu, untuk apa aku menulis tulisan ini?

Menebak, nebak.

Jujur, aku baru saja melewati TO UTBK di bimbingan belajarku, dan aku memutuskan untuk menebak semua soal matematika, karena itu kelemahanku, (aku bisa mengerjakan fisika, kimia, biologi, apalagi TPS, tapi math… euh…) dan aku cukup yakin, jika aku bisa  mendapatkan tebakan yang hanya satu saja benar, tetapi di soal yang kebanyakan orang yang tidak menebak tidak bisa menjawab, bobot murni dari soal tersebut akan tinggi.

Memanfaatkan Probabilitas…

Ini sekedar trik untuk orang-orang di sana yang merasa bahwa penjawaban beberapa soal begitu sulit sehingga ada keperluan untuk menebak… dimohon untuk menebak dengan pintar, dan dengan logika… Aku menyiapkan dua metode untuk menebak secara logis dan memanfaatkan kelemahan sistem ini secara statistika.

Mata Pelajaran

Metode ini memintamu untuk menjawab asal semua soal dari satu mata pelajaran dimana kamu paling lemah, dengan harapan mendapatkan jawaban tinggi dari satu mata pelajaran.

  • Pilih mata pelajaran dimana kamu lemah. Misal, Matematika.
  • Mata pelajaran Matematika menyajikan 20 soal, 10 soal dari itu terhitung mudah dan bisa dijawab 80% peserta ujian, 6 soal terhitung sedang dan bisa dijawab 50% peserta ujian, 4 soal terhitung sulit dan hanya bisa dijawab 20% peserta ujian.
  • Dengan memutuskan untuk menebak secara acak, aku memiliki peluang untuk menjawab 4 soal dengan benar, (hanya 20%)
  • Dari 4 soal tersebut yang benar, aku memiliki peluang 1/5 per soal untuk mendapatkan soal yang terhitung sulit, 3/10 per soal untuk mendapatkan soal sedang, dan ½ per soal untuk mendapatkan soal mudah.
  • Seandainya aku cukup beruntung untuk mendapatkan soal sulit, aku bisa mendapat bobot tinggi tanpa usaha sama sekali.

Bagaimana kalau aku bisa menjawab semua soal mudah dan hanya ingin menebak soal sedang dan sulit? Ini bagian di mana kekonyolannya mulai terdengar.

  • Menebak 10 soal, dengan kemungkinan 2/3 mendapat soal sedang, dan 1/3 mendapat soal sulit.
  • 1/5 per tebakan, berarti hanya ada 2 soal yang dijawab dengan benar.
  • Peluang 1 dari 3 per 2 soal, lebih kecil dan lebih tidak mungkin daripada 4 soal untuk peluang 1 dari 5. Akan lebih baik jika anda menebak semuanya (jika mencari bobot soal sulit) kebanding menebak 10 soal saja.

Bingung kah? Intinya, probabilitas mendapat soal sulit dengan benar lebih tinggi jika anda menebak semuanya. Jika ada mata pelajaran di mana anda kesulitan menjawab soal sulit dan soal sedang, tebak saja semuanya… Bobot soal sulitnya harusnya cukup tinggi.

Sampel yang bisa diambil akan sama saja, mengingat bahwa cara menjawab tiap soal, baik itu mudah atau sedang atau sulit sama dengan memasukkan A, B, C, D, atau E… Lebih baik jika peluang kecil kita mendapat sesuatu dengan benar dihabiskan untuk soal sulit saja.

Ini baru metode nomor satu.

Semua Soal Sulit

Metode ini tidak bisa digunakan semua orang, karena sayangnya, kebanyakan orang sudah mulai kesulitan di soal sedang, dan ingin nilai maksimum dari semua soal.

Jika anda bisa semua mata pelajaran, tetapi tidak yakin mengenai soal sulit dari 2-4 mata pelajaran, hal termudah yang anda bisa lakukan, adalah menggunakan metode ini…

  • Dari 4 soal sulit 4 mata pelajaran yang anda yakin anda tidak bisa jawab, tebak saja.
  • Berarti, dari 16 soal dengan bobot tinggi, ada kemungkinan 1/5 bahwa anda benar.
  • Kurang lebih, 3 soal sulit dapat dijawab dengan benar.

Data hitungan berdasarkan jumlah mapel di mana anda menebak…

  • 4 mapel, 16 soal, 3.2 dijawab benar.
  • 3 mapel, 12 soal, 2.4 dijawab benar.
  • 2 mapel, 8 soal, 1.6 dijawab benar.
  • 1 mapel, 4 soal. 0.8 dijawab benar.

Saranku adalah untuk membulatkannya dan tidak hanya menebak untuk 2 mapel, melainkan 2 mapel plus 2 soal dari mapel lain, dan secara matematis murni, anda mendapat 2 jawaban benar, bukan 1.6

Apakah strategi ini efektif?

TIDAK.

Jangan berharap anda bisa masuk PTN impian dengan strategi ini. Ini adalah strategi yang bisa dimanfaatkan untuk menebak soal dengan lebih pintar, bukan untuk mendapatkan bobot maksimum. Namun, kalau kita bicara sekedar menebak soal, itu pun bisa dilakukan dengan lebih efektif, memaksimalkan nilai maksimum yang bisa didapat dari menebak, secara statistika.

Memang iya, mungkin saja anda menebak semua soal, dan mendapatkan tiket ke Kedokteran UI, tapi besar kemungkinan, anda menebak semua soal dan hanya mendapat kampus Akreditasi C, malahan, kemungkinan untuk menebak semua soal dan masuk Akreditasi C lebih besar.

Jika anda bergantung murni pada keberuntungan, maka anda gagal. Jangan bergantung pada keberuntungan, justru, anda harus memainkan keberuntungan itu agar dipakai secara efektif… Sistem-sistem bisa ditipu kok, percaya sama aku.

Sampai lain waktu.

Disclaimer: Angka tidak resmi, dan hanya sekedar estimasi.

Konsep Nilai.

Konsep Nilai.

Seiring waktu, konsep Harga dan Nilai suatu benda semakin berubah dan menjadi semakin fluktuatif.

Benda dengan harga 10.000 rupiah dapat memiliki nilai yang sangat berharga bagi seseorang, entah secara sentimental, ataupun fungsi. Sebaliknya, benda senilai, misal, 300 juta US dollar dapat memiliki nilai emosional, visual, dan fungsi yang sangat rendah. Jika anda menginginkan contoh, benda yang kumaksud adalah Trump Tower.

Untuk itu, aku ingin memecahkan konsep nilai dan harga di mata seseorang, karena sayangnya, sebuah benda tidak bisa memiliki harga yang padat jika tidak memiliki nilai, dan benda yang bernilai bisa saja tidak berharga.

Definisi Nilai dan Harga

Harga berarti suatu benda secara ekonomis. Secara mentah. Tentunya harga dapat mengalami fluktuasi, dan sangat bergantung pada pembeli, supply and demand, serta seratus ribu faktor lainnya mengenai pasar di dunia kapitalistik yang kita tinggali ini.

Namun, harga tidak akan pernah lepas dari uang. Itu yang membuat harga dari suatu benda sebagai faktor absolut. Fluktuatif, iya, tapi bagaimanapun juga absolut. Sebuah Beng-Beng (karena aku doyannya beng-beng, bukan karena aku dibayar Beng-Beng) yang dibeli di toko yang sama akan sama-sama berharga 2000 rupiah. Butuh lembaran dengan warna dan nilai yang sama untuk mendapatkannya.

Karena kita tinggal di dunia yang memiliki banyak negara, dan tiap negara punya preferensi ekonominya masing-masing, terciptalah sebuah masalah/solusi yang memberi anak-anak IPS kesulitan untuk masuk ke PTN yang mereka inginkan… (out of topic, aku ingin masuk ITB, jadi sebenarnya aku tidak mengalami masalah ini, aku harus mengalami masalah rumus yang logikanya lebih parah, tapi ya, gitu lah) mata uang.

Mata uang sendiri bisa dibeli, dengan mata uang lain seolah-olah mereka tidak ada perbedaannya dengan, misal, sekantong Beng-Beng. Namun, secara filosofis dan logis, kebutuhan mata uang untuk membeli benda dapat menciptakan kebingungan, karena kalau kita bicara kepraktisan dan kebutuhan logis, satu mata uang harusnya cukup untuk membeli segala hal bukan?

Sayangnya, dunia tidak bekerja seperti itu. Hadirnya banyak mata uang juga memberikan kompleksitas lebih dalam kehidupan sehari-hari seorang warga dunia. Berjualan mata uang dapat menghasilkan keuntungan, iya, tetapi ia juga bisa menjadi sumber penurunan kualitas, alasan bagi oposisi di suatu negara untuk mengutuk pemimpin yang sekarang (meski sebenarnya itu belum tentu salah si pemimpinnya), dan juga menaikkan uang masuk dari perjanjian perdagangan, turisme, dan sebagainya.

Ini mulai off-topic, jadi kurasa kita harus kembali ke titik awal yaitu definisi harga dan nilai.

Seperti aku telah bilang, sebuah benda bisa memiliki nilai yang tidak bisa diukur…

Harga adalah faktor absolut, dan tidak bisa berubah begitu saja. Nilai, pada sisi lain, bersifat sangat fleksibel.

Nilai suatu benda tergantung penuh pada mata orang yang melihatnya. Dan hanya dari dua konsep mendasar ini, terciptalah dunia ekonomi modern yang kita tinggali sekarang. Benda yang sama dapat memiliki nilai berbeda di antara dua orang. Sebagai contoh…

Bagi seseorang yang sangat lapar, atau ngidam Beng-Beng ketika Beng-Beng di minimart terdekatnya sudah habis, ia mungkin memiliki perasaan lebih untuk ingin membeli Beng-Beng. Beng-Beng yang diproduksi dalam jumlah banyak ini tiap harinya memiliki nilai lebih karena seseorang sangat ingin memakannya. Ia tidak bisa mendapatkannya untuk sekedar 2000 rupiah di minimarket karena sedang kosong…

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia membeli Beng-Beng dari temannya dengan harga 3000 rupiah.

Baginya, Beng-Beng tersebut memiliki nilai lebih, karena ia sangat menginginkannya, jadi ia rela mengeluarkan uang ekstra untuk membelinya, karena tidak ada Beng-Beng di minimarket terdekat, harga Beng-Beng yang ia ingin makan meningkat senilai 50%.

Harga dan Nilai ini yang secara tidak langsung ataupun langsung merubah dunia ekonomi yang kita tinggali ini. Karenanya, nilai absolut barang (catatan, aku dapat menggunakan istilah nilai absolut sebagai sinonim untuk harga, bukan untuk nilai, terkadang ada momen di mana istilah nilai absolut akan lebih cocok dengan konteks) dapat berubah.

Supply and Demand

Pada akhirnya, menentukan nilai suatu benda kembali ke titik yang satu ini… Aku bukan seorang ekonomis (dan dengan asumsi beberapa hal ke depan, sepertinya aku tidak akan jadi seorang ekonomis) tetapi, melihat nilai dan harga suatu benda dapat berubah murni berdasarkan cara seseorang melihatnya dari sudut pandang apa.

Supply and demand adalah satu-satunya hukum yang tidak akan pernah hengkang dari faktor suatu benda.

Bahkan, suatu perusahaan dapat memanfaatkan supply and demand untuk meningkatkan nilai dari suatu benda.

Perusahaan yang kumaksud adalah Supreme.

Like, seriously. Murni dengan melakukan cost-pressing dan memastikan suatu benda tidak pernah diproduksi lagi, benda menjadi bernilai secara irasional karena demand yang tinggi dan supply yang sangat sedikit, sebuah brand dapat menciptakan efek kelangkaan yang fiktif dan mendapatkan untung dari hal tersebut.

Tapi, sayangnya, tulisan kali ini bukan tulisan yang akan membahas Supreme (percaya padaku, anda tidak ingin membahas brand tersebut), aku di sini untuk membongkar dan memutar alasan suatu benda bisa memiliki nilai tersebut.

Seperti disebut di atas, suatu benda bisa memiliki nilai fiktif yang tinggi karena supply yang sedikit dan demand yang tinggi. Jadi, kalau kita bicara secara logis, apakah ada cara yang lebih praktis untuk mendapatkan nilai maksimum suatu benda, selain dari menekan supply dari barang tersebut?

Konsep Supply

Supply sendiri merupakan suatu konsep.

Salah satu hal termudah (jika anda menanyakan seorang ekonomis, bukan psikolog) untuk menaikkan atau menurunkan harga barang ketika sedang melakukan jual beli, adalah dengan menjelaskan bahwa barang yang kita miliki adalah barang yang langka, barang yang supply-nya sedikit.

Dan sayangnya, supply sendiri memiliki nilai yang psikologis.

Suatu benda yang “langka” belum tentu “langka” selain fakta bahwa benda tersebut dipersepsikan sebagai langka oleh orang yang memasarkannya. Supply sendiri juga relatif dalam anggapan bahwa, apakah benda yang ada ini dimiliki 1 dari 100 orang sebagai benda yang langka? atau 1 banding 100.000?

Terkadang, suatu benda yang dipasarkan langka dengan cara berbeda, dapat menciptakan efek berbeda.

Konyolnya, manusia juga lebih ingin menjadi yang terbaik di sukunya, kebanding menjadi manusia yang sangat baik. Sebagai contoh…

Budi tinggal di apartemen dengan isi orang-orang yang menghasilkan 200.000 dollar setahunnya, dan aku hanya menghasilkan 180.000 dollar setahunnya. Di apartemenku, aku menghasilkan uang paling sedikit.

Lalu, Budi memutuskan untuk pindah. Ia pindah ke tempat di mana orang-orang rata di apartemennya, menghasilkan 50.000 dollar setahun, dan penghasil terbesar di apartemen tersebut menghasilkan 120.000 dollar setahun. Budi hanya pindah ke situ karena gajinya dipotong, dari 180.000 setahun, menjadi 150.000 dollar setahun. Budi lebih bahagia.

Faktanya, manusia rata-rata merasa lebih bahagia menjadi orang terbaik dari kelompoknya, kebanding orang sangat baik secara umum. Kalau kita melihat gajinya secara harga, tentunya, orang-orang akan memilih menghasilkan 180.000 kebanding 150.000 bukan? Ya, tetapi, semua itu tergantung berdasarkan kelompok yang kita tinggali sekarang.

Suka atau tidak, manusia adalah makhluk yang amat sangat kompetitif.

Ini adalah trik yang sangat mudah untuk menaikkan nilai relatif sebuah barang, dan tentunya, jika nilai relatif sudah dilihat tinggi, maka, nilai absolutnya akan meningkat juga.

Ini adalah alasan kenapa…

  1. Pajero bisa menjadi mobil yang laku. Ia menjadi mobil pilihan yang meningkatkan status sosial karena pemiliknya relatif jarang, seolah-olah di jalan, ini bisa menjadi bukti fiktif seolah-olah anda seorang alfa dengan memilikinya.
  2. Supreme (lagi) bisa menjadi brand efisien, hanya dengan 5 (tidak yakin dengan angka, hanya estimasi) toko seluruh dunia, ia bisa menjual barang secara tinggi, mencapai nilai pasar puluhjutaan dollar.
  3. Ada saja orang yang membeli benda hanya karena orang lain membelinya, entah itu makan di suatu kafe, atau membeli tas dengan brand tertentu, dan sebagainya…

Kesimpulan

Aku akan menyimpulkan artikel ini dengan sederhana.

Stop menilai sesuatu dengan nilai relatif jika dibandingkan dengan orang lain.

Nilai relatif adalah hal yang bagus jika anda membandingkannya dengan benda lain yang anda miliki, atau benda lain dari genre yang sama (misal membandingkan ayam goreng KFC, McD, dan ayam goreng di Masjid Salman). Begitu anda melibatkan orang lain dalam penilaiannya, anda tidak akan pernah merasa bahagia, karena anda tidak akan merasa bahwa anda telah mencapai titik sukses, selama bandingannya masih saja orang lain…

Mindset Sherlock Holmes

Mindset Sherlock Holmes

Sherlock Holmes.

Nama yang hampir bisa dipastikan menciptakan image sebuah detektif yang sedikit sok tahu, (oke, sangat sok tahu) tampak sangat canggung dan anti-sosial, dan tentunya… pandai.

Sesudah menghabiskan 50 buku dari daftar yang aku pegang sejak tahun 2018, plus beberapa buku yang disebutkan sebagai sumber dari kelimapuluh buku tersebut, aku belum sempat menemukan serta mendapatkan buku-buku nonfiksi lain.

Jadi tentunya, aku mengutak-atik satu dua buku, mencari buku fiksi, membaca ulang buku yang sudah kubaca sebelumnya, dan juga mencari inspirasi dari buku-buku fiksi yang sudah lama tersimpan tapi belum sempat kubaca.

Lalu, sesudah sekitar 12 judul buku fiksi dengan kepanjangan yang tak menentu. Datanglah Sherlock. Aku sudah ingin membaca tentang cara berpikir Holmes (ada buku pendek ditulis oleh Daniel Smith dan buku panjang ditulis oleh Maria Konnikova) sejak tahun 2018 awal, dan sekarang ketika kita sudah ada di pertengahan 2019, dan daftar bukuku sudah habis… aku kerjakan juga.

Ya, namanya juga sering lupa (hal yang harusnya berkurang sesudah membaca kedua buku tersebut), mau gimana lagi. Bagaimanapun juga, selamat menikmati 5 tips sederhana (silahkan baca buku untuk versi panjang) untuk memiliki kemampuan analisa serta memori yang similer ke Sherlock Holmes.

Gudang Otak

Gudang otak. Istilah yang digunakan kedua buku ini adalah Brain Attic, namun meski jika diterjemahkan secara harfiah Attic berarti loteng, kurasa dalam konteks bahasa kali ini, istilah gudang akan lebih tepat.

Bagi sebagian besar orang, seperti aku (terutama sebelum membaca buku ini) dan kemungkinan besar pembaca… informasi disetor secara acak.

Hal paling fundamental untuk mendapatkan gaya berpikir yang lebih mirip dengan Sherlock adalah dengan memiliki gudang otak yang tertata dengan rapih.

Gudang otak di sini bukan berarti kapasitas otak seseorang dalam menyimpan memori, karena lucunya kita hampir tidak mungkin melupakan sesuatu, yang ada bukan hilang ingatan, tetapi ingatan tersebut ada di tempat yang sulit dijangkau.

Holmes menyimpan secara otomatis informasi yang ia butuhkan di atas. Ibarat sebuah gudang, jika Holmes ingin mengambil informasi yang punya potensi membantunya memecahkan sebuah kasus, ia cukup membuka pintu gudangnya, dan mengambil barang yang lokasinya sudah tepat di depan pintu.

Ini alasan, bagi Holmes, informasi yang seharusnya diketahui anak kelas 1 SD bahwa bumi mengitari matahari dan bukan sebaliknya tidak ada kepentingannya bagi Holmes. Baginya, tidak ada bedanya jika seandainya bumi mengitari matahari atau matahari mengitari bumi, kasus yang ia pecahkan tidak akan berubah sedikitpun jika ia mengetahui informasi ini.

Baginya, informasi seperti ini tidak penting, dan ia simpan jauh di dalam, untuk ia ambil ketika ia butuhkan di lain hari, seandainya ada kasus yang membutuhkannya, ia hanya perlu membuang waktu ekstra untuk mendapatkan informasi tersebut, dan ia lakukan ini ketika ia sedang hilang jauh dalam pikirannya.

Hal penting lain yang perlu diketahui ketika ingin menyusun ulang informasi sesuai ke Gudang Otak seseorang ada di fakta bahwa, seberapa besar atau buruk ingatanmu, jika gudang otakmu tertata rapih, tidak ada orang yang akan mengalami kesulitan mencari jawaban akan sesuatu.

Jumlah informasi yang seseorang mampu setor tidak mempengaruhi secepat apa seseorang dapat mendapatkan informasi tersebut.

Sebagai contoh. Aku memiliki komputer dengan memori 32 giga byte, dan temanku memiliki komputer dengan memori 128 giga byte. Tidak sepertinya, aku menyimpan file dan aplikasi yang aku butuhkan di desktop, dan file-file yang aku jarang gunakan di dalam folder dan tertata dengan rapih, tidak ada file yang tidak terletak di luar folder. Temanku, pada sisi lain, memasukkan apapun tanpa memfilternya di desktop, dan semua filenya ia biarkan secara berantakan.

Mungkin ia bisa menyetor file dan aplikasi 4 kali lipat lebih banyak dariku, tetapi jika ia butuh waktu 1 menit untuk mencari file, aku cukup diberikan waktu 3 detik untuk mencari file.

Mengerti?

Amati dan Amati

Seorang anak memiliki kemampuan mengamati yang lebih baik daripada seorang dewasa pada umumnya.

Holmes menghabiskan kemampuan otaknya yang terbatas untuk mengamati, ia tahu bahwa ia mudah terdistraksi (hal yang Holmes sendiri kadang akui meski dengan cara yang sombong) jadi ia menghabiskan energi dan sebagian kesadarannya untuk menyuruh otaknya secara langsung untuk mengamati. Holmes menggunakan seluruh indranya (tergantung berapa indra yang kau percaya kau miliki, karena, aku yakin ada orang yang juga percaya pada indra keenam, ke 12, dan seterusnya) untuk mendapatkan informasinya, dan secara sadar memanfaatkan semuanya ketika sedang mengamati sesuatu.

Jika Sherlock Holmes saja perlu menyuruh otaknya mengamati, apalagi orang-orang seperti aku dan pembaca. Bagi Holmes, sistem mengatur gudang otaknya sudah otomatis, tetapi untuk mengamati, ia masih perlu memberikan energi dan kesadarannya untuk melakukan hal tersebut. Ketika ia sedang mengamati sesuatu, ia menghabiskan seluruh kesadarannya ke hal yang ia sedang amati, seperti yang ia lakukan ketika ia bertemu orang. Ia mencari informasi yang menurutnya relevan, dan ia simpan di desktop agar ia tidak perlu mengalami kesulitan untuk mencari kembali informasi tersebut.

Orang yang mengamati adalah orang yang ikut berkontribusi dan menambah ilmu, hadir sendiri sudah tidak cukup jika ingin mendapatkan pengalaman dan informasi yang utuh, informasi yang lengkap.

Korelasi dan Analisa

Mengamati tidak sebatas mendapatkan informasi saja.

Bagi Holmes, ia perlu ikut mendapatkan dan terus membandingkan hal yang ia dapatkan tadi untuk mencari penyebab, dan mencari akibat dari suatu informasi.

Berhenti di mengamati dan menyimpan informasi bukan hal yang buruk, tetapi informasi yang didapatkan tadi tidak akan pernah lengkap, dan tidak akan punya makna berdampak lama jika Holmes tidak tahu apa yang ia perlu lakukan dengan informasi tersebut.

Ia mencari hubungan dari informasi yang ia dapatkan dengan hal-hal yang baru ini terjadi, mencari apa alasan seseorang melakukan sesuatu, dan mencari apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?

Bagi Holmes, proses ini adalah proses yang menentukan benar atau salahnya suatu hipotesa, benar atau salahnya suatu informasi.

Seolah-olah Holmes mengerjakan suatu eksperimen secara tidak sadar dan otomatis di dalam otaknya. Ia selalu berteori, selalu butuh menanyakan pertanyaan, lalu mencari informasi dan bukti untuk memastikan masalah tersebut, dan membandingkannya dengan hasil analisa serta pengamatan yang ia telah lakukan, dan informasi yang disetor dengan rapih di dalam gudang otak miliknya.

Kurangi Makan ketika ingin Berpikir

Manusia rata-rata hanya menggunakan 10% dari otak mereka. Katanya mah. Walaupun ada kontroversi dan banyak eksperimen baru yang berusaha membuktikan 10% informasi tersebut sebagai salah… Ada hal yang aku tahu dengan pasti.

Mayoritas dari proses otak seseorang berada diluar alam bawah sadar mereka. Seperti misalnya, bernafas, memastikan jantung tetap berdetak, menyalurkan darah, dan yang paling terakhir, mencerna makanan.

Ketiga hal tersebut tidak mungkin digantikan, tetapi, kalau untuk memastikan seseorang tidak mencerna makanan, aku rasa itu bukan hal yang salah.

Mencerna makanan merupakan hal yang ‘berat’ untuk dilakukan dan memberikan efek yang memperlambat gaya berpikir seseorang hingga 4 jam sesudah makanan dikonsumsi.

Lalu anda akan bertanya… “Tapi Azriel, aku gak bisa mikir kalau belum makan.” Meski ini memang nyata bagi sebagian orang, ini terjadi bukan karena tidak ada kendali atas otak, melainkan karena Gudang Otak yang tidak rapih, memprioritaskan sensasi kebanding logika. Awalnya ini akan sulit, tetapi kalau anda perlu berpikir sampai level Sherlock, aku yakin pengorbanan ini akan dilakukan.

Ketahui Batasan Anda

Meski Holmes sering tampak bahwa ia mendorong dirinya terlalu jauh dengan tidak makan selama 8 jam, dengan memutuskan untuk mencari tahu sesuatu tanpa istirahat, dan tanpa rasa cukup, Holmes melakukan semua ini secara sadar.

Ia tahu bahwa ia masih bisa mendorong dirinya sendiri lebih lanjut, dan kurasa bahkan Holmes sekalipun tahu bahwa ia harus istirahat dan menyimpan berpikirnya untuk lain hari.

Ini adalah penutup yang pas karena sebenarnya, Holmes adalah manusia, dan jangan pernah berpikir untuk mengalahkannya, karena meskipun Holmes adalah karakter fiksi (yang memang punya portret karakter yang tergantung pada aktornya masing-masing seperti Cumberbatch dengan gaya smug geek-nya dan Robert Downey Jr. dengan gayanya yang penuh dengan swag) kita tidak bisa berharap untuk mengalahkannya dalam ini.

Pernahkah anda berpikir untuk mengalahkan Achilles dalam pertarungan1 lawan 1? Pernahkah anda berpikir untuk mengalahkan Messi atau Ronaldo dalam menggiring bola? Pernahkah anda berpikir bahwa anda bisa mengalahkan Jaden Smith dalam membuat tweet bodoh? (oke, untuk yang terakhir aku rasa tidak ada salahnya mencoba)

Holmes adalah manusia (meskipun fiktif) terhebat dalam analisa, pengamatan, dan manajemen memori, dan bahkan, menggunakan kemampuannya sebagai batasan kita mendorong diri kita saja tidak terdengar realistis…

Ketahui batasanmu. Lagian, anda juga sebenarnya kan masih manusia (dan tidak seperti Holmes… anda nyata)

Antifragility Concept

Antifragility Concept

Manusia semakin menyukai adanya kekacauan.

Dengan adanya kekacauan, ada hal yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mendapat keuntungan, dari orang-orang yang berusaha meminimalisir kekacauan tersebut.

Tulisan hari ini akan erat kaitannya dengan konsep Disruption dan Zombie Company yang diperkenalkan oleh Rhenald Kasali, serta dengan konsep Anti Fragile dari Nassim Nicholas Taleb.

Selamat menikmati.

Braaaaains.

Zombi. Oke, aku tahu ini kata serapan, jadi tolong jangan komentar Ba-Bi-Bu dulu kalau aku mengejanya gak pake E ya. Eesh.

Sebelum aku bisa masuk ke konsep anti fragile yang agak (mungkin ada yang bilang sangat) membingungkan itu, ada sebuah konsep filosofis dan ekonomis lain yang perlu dimengerti.

Konsep disrupsi dari Rhenald Kasali ini meminta orang-orang yang memiliki bisnis untuk mengganggu bisnis lain, atau memiliki bisnis yang terganggu. Konsepnya sendiri cukup sederhana, namun Kasali telah mengadaptasi konsep ini menjadi Self-Disruption, dan banyak orang juga berusaha mencari cara untuk terus mendisrupsi (dalam konteks positif) diri untuk meningkatkan produktivitas.

Disrupsi sendiri merupakan kata yang amat sangat sederhana bukan? Sebuah gangguan. Mau seberapa kecil gangguan itu, atau seberapa besar gangguannya, artinya akan bermakna.

Kita melihat bisnis-bisnis tua macam Taksi Blue Bird menerima disrupsi yang berat karena ia merasa terlalu nyaman dengan gaya mereka yang lama itu, dan akhirnya mereka menjadi tidak tergunakan lagi di era Go-Jek dan Grab ini.

Kita melihat restoran mengambil disrupsi secara positif dengan lebih konservatif dalam menyewa jasa antar makanan karena adanya Go-Food.

Intinya, disrupsi memaksa bisnis-bisnis untuk terus berkembang dan terus memiliki hal baru untuk menghindari adanya bisnis baru yang lebih baik lagi.

Tidak seperti konsep anti-fragility, tetapi, Disrupsi bisa muncul dari perusahaan “Zombi” . Dalam kata Rhenald Kasali sendiri, perusaahan zombi adalah perusahaan yang hidup dan bermanfaat juga tidak, namun tidak mau mati.

Disrupsi paling mendasar dari perusahaan zombi ini mulai dari fakta bahwa mereka membuatbranding, konsumen, dan persentase ekonomi yang termakan. Sampai ke hal-hal yang lebih kompleks seperti ekonomi bertumbuh lebih “lambat” dan memakan ruang yang bisa dimanfaatkan perusahaan baru tumbuh di reruntuhannya

Perusahaan zombie (oke, aku menyerah, terima kasih autocorrect) ini bukan hanya mengambil ruang dan tempat secara ekonomis dari sebuah perusahaan baru untuk bertumbuh, tetapi juga jadi sumber disrupsi dan lokasi dimana terjadinya disrupsi tingkat berat terjadi.

Disrupsi menciptakan ketidaknyamanan, dari ketidaknyamanan itu, manusia akan mencari cara untuk membuatnya tampak lebih nyaman, dan bertumbuh lebih baik. Seperti yang kita telah lakukan selama manusia tumbuh menjadi spesies dominan di bumi ini.

Disrupsi positif

Tidak semua disrupsi berasal dari hal yang negatif.

Faktanya, juga ada disrupsi yang positif. Disrupsi positif ini diperkenalkan Kasali sebagai Self-Disruption. Dengan mencari kesalahan di diri sendiri, kita menciptakan ketidaknyamanan yang akan mendorong kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih baik.

Dari disrupsi diri sendiri ini, kita bisa menjadi orang yang lebih baik, mulai dari sebuah perusahaan menemukan inovasi baru, (seperti misalnya, pencipta OVO kesulitan membayar makanan ketika sedang buru-buru dan menunggu adanya kembalian, jadi mereka menciptakan Electronic Currency untuk mempermudah proses tersebut) hingga orang-orang memiliki produktivitas yang lebih baik.

Sebelum membahas anti-fragility, ini ada pesan sponsor sedikit, bagaimana cara meningkatkan produktivitas? (P.S. ini sebenarnya bukan pesan sponsor di mana aku dibayar untuk menuliskannya, jadi jangan langsung scroll karena takut ada seminar apa ngiklan di sini)

Disrupsi yang paling sederhana dan termudah untuk dilakukan adalah disrupsi yang diarahkan ke diri kita sendiri. Anggap anda seorang penulis, yang kesulitan menuliskan lebih dari 2000 kata dalam satu hari. Apa yang dapat anda lakukan sebagai manusia untuk meningkatkan produktivitas anda?

Anda akan mencari, dan kalau dalam kasusku, sepertinya itu terjadi karena aku sering malaweung (Bahasa Belanda ya :P) ketika menulis, dan aku mematikan jam-jam dan momen-momen di mana aku produktif untuk malaweung.

Kadang ini bisa dipecahkan kopi, tapi itu ada efek samping di mana malamnya aku baru tidur pukul 1.00 pagi (kadang 1 jam lebih cepat sih, tapi ngerti lah maksudnya) dan aku menghabiskan pagiku (yang seharusnya juga bisa produktif) untuk mengumpulkan tenaga dan kembali fokus.

Kopi menjadi solusi jangka pendek yang bagus, aku mungkin bisa meningkatkan produktivitasku secara jangka pendek hingga 2 kali lipat, mencapai 4000 kata dalam satu hari.

Tetapi esok harinya, jumlah kata tersebut turun menjadi 1000 karena adanya jam produktif yang terlewat. Plus aku tidak boleh dan tidak mau minum kopi 2 hari berturut-turut, meski itu punya potensi meningkatkan produktivitas.

Mungkin memang cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan meminimalisir distraksi. Seperti menulis dengan mouse yang baterainya penuh, dan wireless jadi tidak terganggu oleh kabel, mematikan internet untuk menghindari adanya distraksi dari artikel-artikel,pastikan laptop sudah tercharge penuh ketika sedang menulis, eh bentar, aku harus charge dulu, sisa 17% batre-nya nih… bentar, bentar…

Nah, dari sini, kita bisa melihat bahwa satu disrupsi kecil saja berarti banyak ya. Self-Disruption sederhana seperti ini saja sudah menunjukkan bahwa dengan mencari kesalahan di diri kita sendiri, kita akan berusaha untuk menghilangkan kesalahan tersebut, dan meningkatkan produktivitas.

Aku mulai meningkat kata-kata per hari kalau aku sedang mood dan punya ide untuk dituliskan. 3000 kata secara konstan bukan angka yang buruk kan? Morgan Stark juga bilang-nya I Love You 3000.

Dan aku terdisrupsi karena sekarang aku sedih karena Tony Stark mati. Gee, thanks Marvel.

Finally! An Avengers End Game reference!

Ehm, ke konsep Anti Fragile!

Anti-Fragility

Konsep Anti-Fragility milik Nassim Nicholas Taleb ini cukup rapih penjelasannya hingga dalam mataku ia bisa hidup di dunia yang penuh dengan disrupsi seperti yang diusulkan Rhenald Kasali.

Anti-Fragility sendiri merupakan sebuah konsep bisnis atau orang yang mengambil keuntungan dari adanya disrupsi, dan mereka secara tidak langsung membuat diri mereka imun dari disrupsi lain, karena mereka hanya bisa hidup dalam kekacauan.

Start-Up sendiri saja yang banyak orang ingin bikin itu punya angka sukses yang buruk sekali. Namun masih banyak orang yang membuatnya karena selalu ada kekacauan untuk dibereskan, dan toh, jika mereka gagal, tidak akan ada banyak kekacauan yang tumbuh dari situ. Mereka tumbuh dari adanya kekacauan, dengan harapan menghilangkan kekacauan tersebut, tanpa bisa dikacaukan.

Mereka tidak kuat ataupun kokoh, tetapi di saat yang sama mereka tidak akan pernah menjadi bisnis atau orang yang rapuh.

Tidak semua bisnis baru yang didesain dengan konsep anti-fragile ini dapat tumbuh dengan sukses, justru lebih banyak yang tumbang malah, tetapi jika anda dapat menjadi bisnis anti-fragile yang sukses, anda aman. Anda sudah masuk di fase di mana anda imun dari gangguan, meski mungkin saja hanya untuk sementara.

Bisnis anti-fragile sukses dapat tumbang atas kekacauan yang begitu besar, atau justru tumbuh lebih banyak karena adanya kekacauan tersebut. Sebagai contoh, dengan adanya marketplace dan perusahaan macam Bukalapak, dan Tokopedia, ada 2 bisnis anti-fragile yang sudah terlalu nyaman, dan akhirnya mereka mendapat disrupsi. Yang satu bertumbuh, yang satu malah melambat.

Dengan adanya E-commerce, tempat belanja jelas mulai terhambat, mereka yang tadinya sudah anti-fragile dapat bernafas dengan aman. Semua orang butuh (atau setidaknya ingin) berbelanja. Mereka imun karena banyaknya kekacauan seperti itu terjadi. Lalu, imunitas mereka hilang, dan dari kekacauan yang sebelumnya mereka nikmati itu, mereka terhambat.

Bisnis anti-fragile satunya lagi yang justru terdukung oleh E-commerce adalah bisnis kurir. Sebuah bisnis yang sekarang makin imun dan akan semakin anti-fragile. Kekacauan dalam keinginan orang-orang menerima benda baru, atau paket sesegera mungkin meningkatkan pemasukan mereka, karena jasa yang mereka tawarkan dekat ke tidak tergantikan. Mereka tumbuh dari kekacauan dan menerima kekacauan tersebut secara positif, dan sekarang, mereka imun dari kekacauan tersebut.

Anti-fragility adalah sebuah konsep yang sangat abstrak, dan ini hanya interpretasiku padanya, semoga ini cukup untuk membuat anda mengerti.

Sampai lain waktu!

 

Masalah Konsistensi

Masalah Konsistensi

Where were we?

Empat bulan kosong, mungkin lebih, dari mana kita? Apakah aku ada hutang serial yang perlu dibayarkan? Hmm.

Sepertinya membuat artikel mengenai Aladdin, atau, film apapun itu yang sedang ada di bioskop, bias jadi ide menarik. Tetapi untuk sementara, kita simpan saja dulu idenya.

Aku sudah menghabiskan bulan-bulan ini untuk menyerap ratus ribuan loc dan halaman dari buku-buku (oke, secara teknis memang E-Book, jadi hanya ratus ribuan location Kindle) tetapi buku tetaplah buku.

Ooh aku juga sudah menulis buku, dan kecepatanku menulisnya tidakburuk! Kurasa ia bisa beres sebelum 17 Agustus… Hmm…

Diantara banyak buku yang sudah kubaca, aku menemukan suatu jenis buku yang menggambarkan banyak ironi dan kekeliruan dari cara manusia berpikir.

Mungkin anda pernah mendengar tentang seorang psikologis yang memenangkan Nobel di bidang Ekonomi, namanya tidak lain dari Daniel Kahneman, dan almarhum sobatnya, Amos Tversky. Kahneman menggambarkan miskonsepsi-miskonsepsi dan “Blunder” sederhana yang sering dilewatkan oleh orang-orang.

Banyakalasan orang-orang menjadikorban blunder ini. Mungkin karena mereka terlalu percaya diri, memang tidak tahu, dantidakberpikirsecararasionalsaja, tetapi, adabanyakalasan blunder-blunder initerjadi.

Dan hari ini, aku akan membahas salah satu blunder paling sederhana. Mengenai performa dan konsistensi. Kurasa ini artikel yang tepat, mengingat aku sudah hilang empat bulan lebih.

Fortuna’s Sprint

Seorang Komedian pernah bercanda, resep sukses? Oh, mudah!

Sukses = Bakat + Keberuntungan

Sukses skala besar = Bakat + Banyak sekali keberuntungan.

Pada kenyataannya, kita bisa merubah sedikit dari lelucon itu, dan menambahkan kerja keras dalam resep itu, dan kurasa, formula itu dapat diaplikasikan secara konsisten. Semakin beruntung seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan sukses.

Ya, berdoa saja ke Fortuna, dan berharap hari ini anda sedang beruntung. Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik yang sedikit di atas rata-rata. Namun, untuk mencapai titik sukses yang maksimal, anda perlu keberuntungan.

Kahneman menggambarkan situasi ini ketika ia sedang melatih sebuah pasukan pilot di militer Israel. (Don’t ask me how he got there, just read his book, Thinking: Fast, and Slow.).

Tetapi, untuk memberi bayangan angka yang lebih mudah, serta mempermudah analogi juga, kita bisa anggap Kahneman sedang melatih beberapa atlit sprint, hanya sebagai asisten.

Ia memberi sebuah instruksi sederhana dan menyatakan bahwa ia sudah menyiapkan hadiah bagi atlit yang paling sukses. Pelatih tersebut menyangkal dan menyatakan bahwa pemberian hadiah hanya menurunkan performa. Ia menyarankanuntuk menghukum atlit-atlit yang memiliki performa buruk.

Kahneman menyangkal.

Ia meminta sang pelatih untuk meminta tiap atlit untuk mengambil 5 sprint, dan melakukan hal yang sama keesokan harinya, dan juga esoknya lagi. Ia mengambil angka selama 3 hari, dan 5 sprint per harinya. Angka tersebut tidak disebutkan agar tidak ada tekanan untuk mengulangi hal yang sama.

Dan, ia mendapat hasil menarik. Anggap sajaada 5 atlitlari, danakuakanmemberinyanama-namaberbeda, danhasil yang miripdenganhasil yang Kahnemanjelaskan.

Catatan: Militer Israel tidakmemberikanizinuntukmengeluarkanangkanya, dan sebenarnya ia hanya menjelaskan performa di buku miliknya dengan 3 kata, baik, buruk, atau biasa. Angka disini sepenuhnya fiktif.

Catatan 2: Jika anda lupa, aku merubah angka di artikel ini menjadipelari sprint, untuk mempemudah pembuatan angka.

Di bawah 13.5detik = Baik

13.5-14.9 detik = Rata-rata

Di atas 15 detik = Buruk.

  • Atep
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.2 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 12.1 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.23 detik
  • Iwan
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 11.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 15.7 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.8detik
    • Rata-rata total: 14.1detik
  • Budi
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 13.6 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.8 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.26 detik
  • Kevin
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.5 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 12.9detik
    • Rata-rata total: 14.73detik
  • Ali
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.4detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.0 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.9detik
    • Rata-rata total: 14.43 detik

Dengan mudah dapat disimpulkan (dari rata-rata total) bahwa Iwan merupakan pelari paling berbakat di antara semuanya, dan Kevin merupakan pelari yang butuh lebih banyak kerja keras untuk bisa sukses.

Perlu dilihat, tetapi, di antara semua sprint ini, Budi yang memiliki konsistensi terbaik. Budi tidak pernah mendapat angka yang begitu buruk, ia hanya mendapat 3 hasil rata-rata. Pada sisi lain, Kevin juga satu-satunya pelari yang tidak menerima penurunan kualitas. Hasilnya selalu membaik, meski pada hari ketiga, ia tetap bukan yang tercepat, dan ia hanya mendapat hasil rata-rata.

Kahneman ingin menyampaikan bahwa, terkadang, kita terlalu cepat mengambil keputusan dan menyatakan bahwa kemampuan tiap pelari di bawah rata-rata, atau di atas rata-rata tanpa data yang cukup. Selain itu, juga ada fakta bahwa, pada akhir hari, semua orang pernah merasa menjadi rata-rata.

Melihat  dari hasil rata-rata tiap pelari, performa rata-rata mereka pada ketiga hari tidak begitu berbeda. (Oke, 0.3 detik mungkin perbedaan besar dalam sprint 100 meter, tapi, anda mengerti maksudku apa)

Kelima pelari tersebut memiliki bakat dan kerja keras yang berbeda tentunya, namun pada akhirnya, tidak ada pelari dengan bakat selevel Usain Bolt dari mereka berlima. Hanya ada yang lebih baik dari rata-rata, dan yang memang biasa-biasa saja.

Dewi pelit

Seberapa baik hasilanda, atau seberapa buruk hasil anda, berapapun angka anda, pasti akan ada perubahan.

Anda mungkin sedang beruntung, jadi anda mendapat hasil baik. Lalu, juga, jangan lupa, jika hasil anda buruk, sepertinya tidak mungkin angka tersebut bisa menurun lebih parah. Bagi orang yang mendapat hasil buruk, satu-satunya jalan adalah keatas.

Seberapa baik anda, seberapa berbakat anda, anda hanyalah manusia rata-rata. Bakat hanya bisa memberikan anda suatu hasil rata-rata yang lebih baik. Sisanya, kita perlu bergantung pada kerja keras, dan sayangnya, dewi yang pelit dan plin-plan… alias Fortuna.

Fortuna mungkin dewi yang disembah oleh para prajurit dan raja Romawi, namun, kata Fortuna sendiri juga dapat digunakan untuk perumpamaan keberuntungan.

Satu hari anda memiliki performa luar biasa. Hari lain? Performa anda biasa-biasa.

Orang yang begitu berbakat hanya muncul sesekali tiap generasi. Kecuali anda Cristiano Ronaldo, Michael Jordan, Taylor Swift, atau Albert Einstein, yang memiliki nilai rata-rata (dari bakat) yang begitu tinggi, serta dengan kerja keras yang cukup… Anda perlu bergantung pada keberuntungan, dan kerja keras.

The Law of Success

Bagian dari artikel ini semacam mendukung kepercayaan untuk tidak percaya pada motivator. Motivator biasanya mendukung fakta bahwa orang-orang istimewa.

Aku mendukung sebaliknya. Orang-orang yang memang istimewa akan sukses begitu mereka bekerja keras.

Untuk sukses, ada 4 unit yang perlu dijadikan faktor. Bakat, Kerja Keras, Keberuntungan, dan yang terakhir, skill.

Kurang lebih, rumusnya seperti ini.

Skill = Kerjakeras + bakat. Sukses = Skill + keberuntungan.

Keberuntungan dapat membuat anda sukses, tapi pada akhir harinya, anda perlu bakat dan kerja keras. Salah satu tidak cukup lagi…

Orang-orang sekarang mencari “The Next Google” dan mereka juga tertarik untuk membuat sebuah startup yang sukses. Sayangnya, ini tidak mungkin kecuali anda memiliki keberuntungan yang sangat banyak, atau bakat yang sangat banyak.

Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik di mana anda sedikit di atas rata-rata. Anda butuh kerja keras dan terus menerus belajar agar anda memiliki satu set skill yang dapat dimanfaatkan secara konsisten, dan bukan hanya saat beruntung.

Bagaimana cara anda sukses? Anda harus konsisten, dan anda berharap akan keberuntungan. Konsistensi yang cukup dapat memberi anda suatu bentuk kesuksesan kok.

Just don’t pray to be someone THAT special and work hard enough… Anda akan sukses.

Jadi, apa rahasia konsistensi? Kerja keras, dan kerja terus. Hasilnya tidak akan bohong.

Sampai lain waktu!

 

 

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Tidak perlu disangkal lagi, Indonesia memiliki budaya literasi yang buruk. Sayangnya kata relatif tidak mudah untuk diberikan, karena kita berada di posisi ke 70 dari 74 negara, dan untuk patokan negara maju, angka itu buruk.

Mau dilihat dari beberapa sisi pun, sepertinya sangat sulit untuk menaikkan angka literasi milik kita. Jika kita mau membandingkan angka ini secara langsung dengan negara-negara berkembang lainnya, hampir tidak ada gunanya melakukan hal tersebut, karena kita akan jauh di atas mereka. Mayoritas negara di Afrika memiliki persentase literasi di bawah 75%, dan kita sudah mencapai angka 81% (negara-negara maju berada di angka 98% ke atas), jadi, apa sisi positif yang bisa kita ambil dari angka tersebut?

Tentunya, sisi positif termudah untuk di ambil adalah, angka literasi kita selalu naik, dan tidak akan turun begitu saja, tetapi, pada suatu titik, kita akan mulai untuk berpikir. Untuk apa kita punya angka literasi tinggi, jika budaya milik kita tidak menyokong literasi?

Bingung kah? Baca lebih lanjut saja yuk.

Budaya Baca vs Budaya Lisan

Kasarnya, tiap negara memiliki budaya baca dan budaya lisan. Indonesia lebih kuat di budaya lisan, dan sejujurnya, kedua budaya ini saling silang dan menolak satu sama lain.

Untuk melihat, mari kita bandingkan.

Budaya Baca

  • Terbiasa menerima informasi dari tulisan sejak zaman dahulu.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Bisa lebih mudah untuk kritis.
  • Tidak akan begitu saja mau membantu orang.
  • Dapat lebih tenang dan mampu mengatur emosi.

Budaya Lisan

  • Menerima informasi dari mulut ke mulut alih-alih dari tulisan.
  • Mudah untuk berkumpul dan lebih supel.
  • Lebih cepat menerima fakta.
  • Mudah bergotong royong.
  • Mudah terbawa perasaan.

Budaya baca di negara-negara luar mempermudah orang-orangnya untuk berhenti dan berpikir. Mempermudah orang-orang untuk menyerap informasi dan mencernanya alih-alih langsung menelannya.

Di negara-negara dengan budaya lisan yang kuat, informasi semua berupa opini, dan tidak begitu faktual. Perlunya berkumpul bersama membuat negara-negara dengan budaya lisan kuat juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Semua orang lebih kenal dengan satu sama lain, semua orang juga lebih ramah.

Sayangnya, dengan mendapatkan keramahan, kehangatan, dan kedekatan antar orang, ada hal negatif yang tercipta. Perasaan dekat tersebut membuat kita mudah percaya dan langsung menelan opini yang diberikan.

Pada titik inilah, budaya baca dibutuhkan untuk menetralkan keinginan kita menelan fakta secara langsung.

Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah kemampuan yang dibutuhkan, dan sayangnya kita sangat kurang dalam bidang ini.

Untuk bisa berpikir kritis, kita cukup melakukan dua hal. Satu adalah berhenti, dan kedua adalah berpikir. Berpikir kritis tidak jauh berbeda dari berpikir, dan aku yakin siapapun yang cukup pintar dalam mencerna informasi dapat melakukannya.

Kurangnya bangsa dengan budaya lisan yang kuat adalah kemampuannya untuk berhenti dulu untuk mencerna. Terkadang, orang-orang yang baru saja menerima informasi dari luar, (terutama jika dalam kondisi tatap muka) harus mencerna perasaannya terlebih dahulu. Jika perasaan orang tersebut cocok dengan informasi yang diberikan, ia akan mudah setuju. Sebaliknya, jika perasaan orang tersebut tidak cocok dengan informasi yang diberikan, ia bisa langsung menolaknya.

Perasaan mengendalikan otak kita dari menggunakan logika dan kita tidak sempat berhenti. Kita keburu termakan perasaan, dan perasaan tersebut menjadi awan yang menghalangi logika kita untuk sampai ke kesimpulan yang benar.

Ini alasan kita bisa dengan mudah terjebak dalam frame, serta hoax yang diberikan orang-orang pada kita. Emosi kita mengambil alih fungsi dan fokus kita, dan kita tidak diberikan ruang untuk berhenti. Kita langsung gas ke kesimpulan sesudah mobil (analogi untuk logika) kita diberikan Nitrogen Oksida (atau fakta), rem kita tidak berjalan lagi.

Melodramatisme

Bagian ini menerima editan dari draft awal artikel. Mungkin sekitar 50% dari kontennya diubah (termasuk judul dan istilah karena aku baru saja mendapat istilah yang tepat)

Melodramatisme. Sejak zaman Yunani, ada banyak sekali drama yang didesain untuk orang-orang (maaf) rendah. Jika para Raja, pedagang, filsuf, penyair, dan para petinggi negara mengikuti teater Dionysus, berisi drama dengan konten kompleks dan mengharukan, para warga diberikan cerita mulut ke mulut yang hanya berisi drama saja tanpa konten kompleks yang perlu dipikirkan. Penikmat melodrama menginginkan sensasi yang enak tanpa perlu mencerna informasi yang bergizi bagi mereka.

Melodrama masih dijumpai sampai sekarang, dalam bentuk Drama Korea yang arus ceritanya njelimet tapi mengharukan, dan sinetron yang juga mengharukan tapi ceritanya… Ya, tahu sendiri lah.

Melodrama juga, dapat dibagi menjadi beberapa level. Ada melodrama paling rendah, seperti sinetron, dan juga ada melodrama yang hanya menjadi melodrama karena persepsi orang-orangnya, seperti film Keluarga Cemara.

Sensasi haru, amarah, gembira, dan semacamnya mudah sekali memengaruhi judgement seseorang. Dan jika orang bisa menikmati melodrama yang hanya memanfaatkan sensasi sebagai nilai jual, maka akan mudah bagi orang-orang tersebut untuk terpengaruhi oleh hoax dan berita palsu.

Bangsa yang melodramatis tidak akan membuang waktu untuk berhenti, dan akan langsung saja menerima suatu fakta secara bulat, tanpa berpikir dua kali.

Dan menyimpulkan.

Bukan kesimpulan kali ini, aku hanya akan menyimpulkan, juga jangan lupa untuk simpulkan artikel ini sendiri ya.

Kabar Buruk.

Sayangnya, dari masih banyaknya bangsa melodramatis seperti beberapa negara Asia tenggara lainnya, budaya negara kita mendapat campuran dari bangsa melodrama, dan bangsa lisan.

Akan sangat mudah bagi seorang warga Indonesia untuk menerima suatu fakta palsu, atau suatu kebohongan, atau janji seseorang yang tidak mungkin dikabulkan dan semacamnya.

Untuk memperburuk ini, dengan senjata melodramatisme sedikit, dan juga dengan fakta bahwa kita memang (mohon maaf) kurang pintar dalam mencerna info karena negara kita memiliki budaya lisan… Hoax akan mudah memakan kita. Just make it dramatic, and people would believe it.

Kabar Baik.

Ada untungnya kok.

Budaya lisan yang mudah percaya dan supel ini mampu membuat orang-orang mudah percaya dengan ikon. Kita akan dengan mudah percaya perkataan seorang… (misal) menteri, kebanding teman.

Dengan memanfaatkan ikon untuk membawa kabar baik, jujur, tidak begitu negatif dalam memberi tahu sesuatu, kita akan percaya.

Selain itu, bangsa kita juga mau bergotong royong dan membantu, serta informasi juga dapat mengalir dengan lebih cepat, bahkan sebelum adanya internet informasi dapat mengalir dengan cepat, apalagi sesudah adanya internet.

Kabar Buruk dari kabar baik.

Oh tidak.

Kabar baik tadi juga ada kabar buruknya.

Jika seorang ikon mau memperdaya seseorang dengan berita palsu, orang-orang kita juga akan menerimanya dengan cepat.

Karena mudahnya percaya, dan mudahnya informasi mengalir, jika sedikit saja limbah pabrik, atau berita palsu dituangkan dalam air sungai yang jernih, seluruh sumber mata air dari gunung akan rusak dengan cepat.

Ya, sayangnya, kekuatan kita dalam cepat menyebar dan cepat percaya serta sangat-sangat mudah terlibat dengan orang lain juga bisa jadi kelemahan jika ada yang menyalahgunakan.

Jangan salahgunakan kekuatan dan logika anda ya!

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Jadi, pagi ini, aku perlu membuat suatu tulisan, dan sejujurnya, aku sedang bingung, apa yang bisa kulakukan. Aku berusaha mencari ide, namun tidak dapat, dan, ya sudah, aku mau menulis mengenai taktik-taktik sepakbola yang digunakan olehku dan timku ketika latihan.

Taktik yang dibahas disini bukan taktik yang sudah diaplikasikan, melainkan masih bersifat teoretikal, dan tidak memberikan nama pemain atau tim yang memanfaatkan taktik ini.

Selamat menikmati.

Catatan

Aku suka menghabiskan waktu luang ketika tidak ada serial untuk ditonton, atau pop culture buzz yang nongol di internet dengan mencari dan mengintip beberapa taktik-taktik sepakbola. Untungnya, tidak ada orang yang membuat artikel seperti ini dalam bahasa Indonesia, jadi, kurasa tidak ada salahnya jika aku membuat serial ini.

Gegenpressing 101

Gegenpress adalah taktik yang sangat mudah dijelaskan.

Pada dasarnya, Gegenpress berarti memanfaatkan dua pemain terdekat dengan bola untuk lari dan menekan pemain yang membawa bola. Sesederhana itu.

Pro Gegenpress

Jika situasi di atas dapat dilakukan dengan benar, pemain-pemain lini depan yang biasa bermain di garis yang cukup tinggi dapat menyerang dengan cepat, dan memaksa pemain bertahan lawan bergerak dengan cepat, sehingga membuka ruang.

Hampir dapat dipastikan bahwa kedua bek tengah harus siap untuk berlari dan mengintersepsi bola, ataupun melakukan marking. Jika ini dilakukan, akan ada ruang yang diciptakan, dan dapat menciptakan skenario seperti ini.

Dengan adanya banyak opsi untuk menyerang, pemain nomor 9 cukup memberikan bola ke pemain nomor 7, 8, 10, atau 11, dan dari situ, setidaknya sebuah kesempatan dapat tercipta.

Selain itu, Pro terbesar gegenpress adalah efek psikologis yang diberikan ke lawan-lawan tim. Jika ada tekanan dari pemain yang banyak (secara harfiah, dan figuratif), akan ada kebingungan dalam menentukan arah bola, dan jika passing dilakukan dengan labil, bola akan mudah dimenangkan kembali, dan serangan balik akan tercipta.

Kontra Gegenpress

Sayangnya, meski taktik ini mudah sekali untuk dijelaskan, penerapannya sangat sulit…

Butuh fokus, stamina, dan dia memiliki resiko yang sangat besar semakin banyak orang yang dimanfaatkan untuk menekan. Umumnya, Gegenpress menekan menggunakan dua orang, tetapi pada suatu titik, berdasarkan taktik yang lawanmu lakukan, bisa ada 4-5 orang berusaha memenangkan bola dari pemegang bola. Jika itu terjadi…

Seperti kita lihat di sini, karena pergerakan pemain menekan ke arah bola… Jika pemain lawan cukup tenang, mereka bisa memberikan bola ke pemain yang sekarang kosong.

Jika bola sudah sampai ke suatu pemain, pada umumnya, akan ada lebih banyak pemain yang dikorbankan untuk mengejar bola.

Kondisi Pressing berat ini dapat membiarkan setidaknya satu lawan tanpa ada pemain yang melakukan marking, dan ini bisa membuka ke situasi satu lawan satu dengan kiper jika pemain-pemain lain tidak cukup fokus atau disiplin untuk melakukan marking.

Tentunya board di atas sangat-sangat teoretikal, masih ada beberapa pemain yang belum melakukan marking, juga ada lawan yang belum di mark dengan benar, tetapi, dalam beberapa kondisi, Gegenpress dapat membuka situasi seperti ini.

Taktik untuk digabungkan dengan Gegenpress

Gegenpress sendiri tidak cukup untuk dimanfaatkan sebagai taktik standalone.

Bek Sayap

Biasanya Gegenpress digunakan di tim-tim yang memiliki bek sayap yang mampu maju mundur dan membantu serangan serta menjadi orang tambahan untuk membantu merebut bola di tempat yang tinggi.

Anggap saja, serangan berujung gagal, dan kiper melempar bola dengan cepat ke pemain nomor 4.

Pemain nomor 4 dapat menerimanya dengan mudah, dan sebelum ada tekanan lebih lanjut dari pemain nomor 9, 8 atau, 10, ia memberinya ke pemain nomor 8 yang menemukan ruang kosong.

Melihat ini, 3 pemain langsung menekan pemain nomor 8 sebelum ia bisa mengeluarkan umpan.

Jika pemain nomor 8 menerima tekanan hanya dari pemain nomor 8 dan 11 saja, besar kemungkinan akan ada ruang yang dapat dimanfaatkan unutk memainkan operan lagi. Bek kanan (3) yang bermain di posisi tinggi dapat membantu merebut bola dan membantu menyerang dari sisi sayap, dengan pemain nomor 8 dan 11 masuk ke kotak penalti, dan mencari posisi untuk mencetak gol

Tentunya jika 3 pemain telah dikorbankan, dan bola masih lolos, kondisi buruk dapat dijamin terjadi. Pemain nomor 7 berada di posisi kosong, dan dengan pemain nomor 9 dan 11 untuk membantu serangan, jika pressing ini tidak cukup, hanya tersisa bek tengah dan gelandang bertahan untuk memotong umpan.

Cara Mengatasi Gegenpress

Sejujurnya, aku tidak tahu.

Taktik ini bukan taktik yang dapat diatasi dengan taktik lain. Cara terbaik untuk mengatasinya cukup dengan ketenangan dan kemampuan memberikan operan yang rapih alih-alih dengan taktik.

Jika Gegenpress dengan 3 orang atau lebih tidak dapat memenangkan bola kembali, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan tim mengenai hal tersebut. Terlalu banyak ruang akan terbuka begitu saja jika bola sudah melewati orang yang ditekan.

Kriteria.

Taktik ini sulit digunakan karena butuhnya kriteria fisik yang berat.

  • Stamina yang cukup
  • Kecepatan mengejar bola, dan pemain bertahan yang berada di posisi tinggi
  • Kedisiplinan dan kesabaran dalam menentukan kapan menekan, dan kapan tidak perlu menekan.
  • Marking yang bagus dan kemampuan memotong operan yang baik
  • Kemungkinan besar, butuhnya kiper yang handal dalam kondisi 1 lawan 1 jika tekanan mengakibatkan ruang terbuka yang banyak.

Meski kriterianya banyak, Gegenpress dapat menjadi taktik bertahan yang dimanfaatkan untuk menyerang jika pemain-pemainmu cukup untuk melakukan hal tersebut.

Tim yang menggunakan:

  • Liverpool F.C.
    • Liverpool mungkin tim terbesar yang menggunakan taktik ini. Juergen Klopp membuat sistem dengan pemain-pemain cepat yang memiliki stamina bagus untuk melakukan taktik melelahkan seperti Gegenpress. Mulai dari tekanan di depan oleh striker tengah Firmino, gelandang-gelandang yang mampu naik turun barisan dengan cepat, dan bek-bek tercepat di Eropa, Gegenpress di Liverpool bisa dibilang berjalan sangat sukses.
  • Borussia Dortmund di bawah Juergen Klopp
    • Jika membahas Gegenpressing, Juergen Klopp mungkin pionirnya. Baik Liverpool atau Dortmund, keduanya menjadi tim yang sangat-sangat fokus ke passing jarak dekat dan kecepatan serta stamina. Di bawah Klopp, Dortmund fokus ke permainan menekan dari depan dan passing rapih oleh Gotze atau Gundogan, sebelum bola sampai ke Lewandowski dan masuk ke gawang. Dortmund di bawah Klopp bermain di posisi tinggi, dan tidak mudah terkena serangan balik. Tekanan yang konstan dan menyebalkan serta pertahanan rapat dan bek-bek muda serta cepat dalam Mats Hummels dan Neven Subotic memberikan lawan-lawan Dortmund sangat sedikit ruang untuk menyerang.
  • Bayern Munich di bawah Pep Guardiola.
    • Sebelum Bayern sekarang yang memiliki pemain-pemain yang hanya meluangkan waktu untuk pensiun di lini depan dan belakang, Pep Guardiola memanfaatkan Gegenpress dan mendominasi Liga Jerman dengan taktik tersebut. Meski Pep tidak memiliki striker-striker yang sedisiplin trio striker Liverpool dalam bertahan, Robben dan Ribery juga melakukan tugas bertahan yang cukup baik. Inti Gegenpress Guardiola berada di gelandang-gelandangnya. Guardiola memiliki Thiago Alcantara, Javi Martinez, dan Xabi Alonso yang mampu mengejar bola dengan cepat.

Kesimpulan

Komitmen manajer untuk menggunakan sistem Gegenpress cukup berat, terutama mengingat kebutuhan pemain dengan fisik yang cukup kuat, pribadi yang disiplin (PSG sebenarnya memiliki kualitas pemain yang cukup untuk melakukan Gegenpress, sayangnya, tidak banyak pemain yang cukup disiplin untuk menjalankan sistem tersebut) untuk menjalankan sistem tersebut, jadi, tidak banyak tim dapat memanfaatkan Gegenpress dengan efisien dan baik.

Kasarnya, Gegenpress adalah taktik High Risk, High Skill, High Reward yang perlu pengaturan pemain dan pemanfaatan sempurna oleh pelatih untuk hasil paling efisien.

Sampai lain waktu!

Template tactical board dari tactical-board.com