Category: Psychology

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Tidak perlu disangkal lagi, Indonesia memiliki budaya literasi yang buruk. Sayangnya kata relatif tidak mudah untuk diberikan, karena kita berada di posisi ke 70 dari 74 negara, dan untuk patokan negara maju, angka itu buruk.

Mau dilihat dari beberapa sisi pun, sepertinya sangat sulit untuk menaikkan angka literasi milik kita. Jika kita mau membandingkan angka ini secara langsung dengan negara-negara berkembang lainnya, hampir tidak ada gunanya melakukan hal tersebut, karena kita akan jauh di atas mereka. Mayoritas negara di Afrika memiliki persentase literasi di bawah 75%, dan kita sudah mencapai angka 81% (negara-negara maju berada di angka 98% ke atas), jadi, apa sisi positif yang bisa kita ambil dari angka tersebut?

Tentunya, sisi positif termudah untuk di ambil adalah, angka literasi kita selalu naik, dan tidak akan turun begitu saja, tetapi, pada suatu titik, kita akan mulai untuk berpikir. Untuk apa kita punya angka literasi tinggi, jika budaya milik kita tidak menyokong literasi?

Bingung kah? Baca lebih lanjut saja yuk.

Budaya Baca vs Budaya Lisan

Kasarnya, tiap negara memiliki budaya baca dan budaya lisan. Indonesia lebih kuat di budaya lisan, dan sejujurnya, kedua budaya ini saling silang dan menolak satu sama lain.

Untuk melihat, mari kita bandingkan.

Budaya Baca

  • Terbiasa menerima informasi dari tulisan sejak zaman dahulu.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Bisa lebih mudah untuk kritis.
  • Tidak akan begitu saja mau membantu orang.
  • Dapat lebih tenang dan mampu mengatur emosi.

Budaya Lisan

  • Menerima informasi dari mulut ke mulut alih-alih dari tulisan.
  • Mudah untuk berkumpul dan lebih supel.
  • Lebih cepat menerima fakta.
  • Mudah bergotong royong.
  • Mudah terbawa perasaan.

Budaya baca di negara-negara luar mempermudah orang-orangnya untuk berhenti dan berpikir. Mempermudah orang-orang untuk menyerap informasi dan mencernanya alih-alih langsung menelannya.

Di negara-negara dengan budaya lisan yang kuat, informasi semua berupa opini, dan tidak begitu faktual. Perlunya berkumpul bersama membuat negara-negara dengan budaya lisan kuat juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Semua orang lebih kenal dengan satu sama lain, semua orang juga lebih ramah.

Sayangnya, dengan mendapatkan keramahan, kehangatan, dan kedekatan antar orang, ada hal negatif yang tercipta. Perasaan dekat tersebut membuat kita mudah percaya dan langsung menelan opini yang diberikan.

Pada titik inilah, budaya baca dibutuhkan untuk menetralkan keinginan kita menelan fakta secara langsung.

Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah kemampuan yang dibutuhkan, dan sayangnya kita sangat kurang dalam bidang ini.

Untuk bisa berpikir kritis, kita cukup melakukan dua hal. Satu adalah berhenti, dan kedua adalah berpikir. Berpikir kritis tidak jauh berbeda dari berpikir, dan aku yakin siapapun yang cukup pintar dalam mencerna informasi dapat melakukannya.

Kurangnya bangsa dengan budaya lisan yang kuat adalah kemampuannya untuk berhenti dulu untuk mencerna. Terkadang, orang-orang yang baru saja menerima informasi dari luar, (terutama jika dalam kondisi tatap muka) harus mencerna perasaannya terlebih dahulu. Jika perasaan orang tersebut cocok dengan informasi yang diberikan, ia akan mudah setuju. Sebaliknya, jika perasaan orang tersebut tidak cocok dengan informasi yang diberikan, ia bisa langsung menolaknya.

Perasaan mengendalikan otak kita dari menggunakan logika dan kita tidak sempat berhenti. Kita keburu termakan perasaan, dan perasaan tersebut menjadi awan yang menghalangi logika kita untuk sampai ke kesimpulan yang benar.

Ini alasan kita bisa dengan mudah terjebak dalam frame, serta hoax yang diberikan orang-orang pada kita. Emosi kita mengambil alih fungsi dan fokus kita, dan kita tidak diberikan ruang untuk berhenti. Kita langsung gas ke kesimpulan sesudah mobil (analogi untuk logika) kita diberikan Nitrogen Oksida (atau fakta), rem kita tidak berjalan lagi.

Melodramatisme

Bagian ini menerima editan dari draft awal artikel. Mungkin sekitar 50% dari kontennya diubah (termasuk judul dan istilah karena aku baru saja mendapat istilah yang tepat)

Melodramatisme. Sejak zaman Yunani, ada banyak sekali drama yang didesain untuk orang-orang (maaf) rendah. Jika para Raja, pedagang, filsuf, penyair, dan para petinggi negara mengikuti teater Dionysus, berisi drama dengan konten kompleks dan mengharukan, para warga diberikan cerita mulut ke mulut yang hanya berisi drama saja tanpa konten kompleks yang perlu dipikirkan. Penikmat melodrama menginginkan sensasi yang enak tanpa perlu mencerna informasi yang bergizi bagi mereka.

Melodrama masih dijumpai sampai sekarang, dalam bentuk Drama Korea yang arus ceritanya njelimet tapi mengharukan, dan sinetron yang juga mengharukan tapi ceritanya… Ya, tahu sendiri lah.

Melodrama juga, dapat dibagi menjadi beberapa level. Ada melodrama paling rendah, seperti sinetron, dan juga ada melodrama yang hanya menjadi melodrama karena persepsi orang-orangnya, seperti film Keluarga Cemara.

Sensasi haru, amarah, gembira, dan semacamnya mudah sekali memengaruhi judgement seseorang. Dan jika orang bisa menikmati melodrama yang hanya memanfaatkan sensasi sebagai nilai jual, maka akan mudah bagi orang-orang tersebut untuk terpengaruhi oleh hoax dan berita palsu.

Bangsa yang melodramatis tidak akan membuang waktu untuk berhenti, dan akan langsung saja menerima suatu fakta secara bulat, tanpa berpikir dua kali.

Dan menyimpulkan.

Bukan kesimpulan kali ini, aku hanya akan menyimpulkan, juga jangan lupa untuk simpulkan artikel ini sendiri ya.

Kabar Buruk.

Sayangnya, dari masih banyaknya bangsa melodramatis seperti beberapa negara Asia tenggara lainnya, budaya negara kita mendapat campuran dari bangsa melodrama, dan bangsa lisan.

Akan sangat mudah bagi seorang warga Indonesia untuk menerima suatu fakta palsu, atau suatu kebohongan, atau janji seseorang yang tidak mungkin dikabulkan dan semacamnya.

Untuk memperburuk ini, dengan senjata melodramatisme sedikit, dan juga dengan fakta bahwa kita memang (mohon maaf) kurang pintar dalam mencerna info karena negara kita memiliki budaya lisan… Hoax akan mudah memakan kita. Just make it dramatic, and people would believe it.

Kabar Baik.

Ada untungnya kok.

Budaya lisan yang mudah percaya dan supel ini mampu membuat orang-orang mudah percaya dengan ikon. Kita akan dengan mudah percaya perkataan seorang… (misal) menteri, kebanding teman.

Dengan memanfaatkan ikon untuk membawa kabar baik, jujur, tidak begitu negatif dalam memberi tahu sesuatu, kita akan percaya.

Selain itu, bangsa kita juga mau bergotong royong dan membantu, serta informasi juga dapat mengalir dengan lebih cepat, bahkan sebelum adanya internet informasi dapat mengalir dengan cepat, apalagi sesudah adanya internet.

Kabar Buruk dari kabar baik.

Oh tidak.

Kabar baik tadi juga ada kabar buruknya.

Jika seorang ikon mau memperdaya seseorang dengan berita palsu, orang-orang kita juga akan menerimanya dengan cepat.

Karena mudahnya percaya, dan mudahnya informasi mengalir, jika sedikit saja limbah pabrik, atau berita palsu dituangkan dalam air sungai yang jernih, seluruh sumber mata air dari gunung akan rusak dengan cepat.

Ya, sayangnya, kekuatan kita dalam cepat menyebar dan cepat percaya serta sangat-sangat mudah terlibat dengan orang lain juga bisa jadi kelemahan jika ada yang menyalahgunakan.

Jangan salahgunakan kekuatan dan logika anda ya!

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Jadi, pagi ini, aku perlu membuat suatu tulisan, dan sejujurnya, aku sedang bingung, apa yang bisa kulakukan. Aku berusaha mencari ide, namun tidak dapat, dan, ya sudah, aku mau menulis mengenai taktik-taktik sepakbola yang digunakan olehku dan timku ketika latihan.

Taktik yang dibahas disini bukan taktik yang sudah diaplikasikan, melainkan masih bersifat teoretikal, dan tidak memberikan nama pemain atau tim yang memanfaatkan taktik ini.

Selamat menikmati.

Catatan

Aku suka menghabiskan waktu luang ketika tidak ada serial untuk ditonton, atau pop culture buzz yang nongol di internet dengan mencari dan mengintip beberapa taktik-taktik sepakbola. Untungnya, tidak ada orang yang membuat artikel seperti ini dalam bahasa Indonesia, jadi, kurasa tidak ada salahnya jika aku membuat serial ini.

Gegenpressing 101

Gegenpress adalah taktik yang sangat mudah dijelaskan.

Pada dasarnya, Gegenpress berarti memanfaatkan dua pemain terdekat dengan bola untuk lari dan menekan pemain yang membawa bola. Sesederhana itu.

Pro Gegenpress

Jika situasi di atas dapat dilakukan dengan benar, pemain-pemain lini depan yang biasa bermain di garis yang cukup tinggi dapat menyerang dengan cepat, dan memaksa pemain bertahan lawan bergerak dengan cepat, sehingga membuka ruang.

Hampir dapat dipastikan bahwa kedua bek tengah harus siap untuk berlari dan mengintersepsi bola, ataupun melakukan marking. Jika ini dilakukan, akan ada ruang yang diciptakan, dan dapat menciptakan skenario seperti ini.

Dengan adanya banyak opsi untuk menyerang, pemain nomor 9 cukup memberikan bola ke pemain nomor 7, 8, 10, atau 11, dan dari situ, setidaknya sebuah kesempatan dapat tercipta.

Selain itu, Pro terbesar gegenpress adalah efek psikologis yang diberikan ke lawan-lawan tim. Jika ada tekanan dari pemain yang banyak (secara harfiah, dan figuratif), akan ada kebingungan dalam menentukan arah bola, dan jika passing dilakukan dengan labil, bola akan mudah dimenangkan kembali, dan serangan balik akan tercipta.

Kontra Gegenpress

Sayangnya, meski taktik ini mudah sekali untuk dijelaskan, penerapannya sangat sulit…

Butuh fokus, stamina, dan dia memiliki resiko yang sangat besar semakin banyak orang yang dimanfaatkan untuk menekan. Umumnya, Gegenpress menekan menggunakan dua orang, tetapi pada suatu titik, berdasarkan taktik yang lawanmu lakukan, bisa ada 4-5 orang berusaha memenangkan bola dari pemegang bola. Jika itu terjadi…

Seperti kita lihat di sini, karena pergerakan pemain menekan ke arah bola… Jika pemain lawan cukup tenang, mereka bisa memberikan bola ke pemain yang sekarang kosong.

Jika bola sudah sampai ke suatu pemain, pada umumnya, akan ada lebih banyak pemain yang dikorbankan untuk mengejar bola.

Kondisi Pressing berat ini dapat membiarkan setidaknya satu lawan tanpa ada pemain yang melakukan marking, dan ini bisa membuka ke situasi satu lawan satu dengan kiper jika pemain-pemain lain tidak cukup fokus atau disiplin untuk melakukan marking.

Tentunya board di atas sangat-sangat teoretikal, masih ada beberapa pemain yang belum melakukan marking, juga ada lawan yang belum di mark dengan benar, tetapi, dalam beberapa kondisi, Gegenpress dapat membuka situasi seperti ini.

Taktik untuk digabungkan dengan Gegenpress

Gegenpress sendiri tidak cukup untuk dimanfaatkan sebagai taktik standalone.

Bek Sayap

Biasanya Gegenpress digunakan di tim-tim yang memiliki bek sayap yang mampu maju mundur dan membantu serangan serta menjadi orang tambahan untuk membantu merebut bola di tempat yang tinggi.

Anggap saja, serangan berujung gagal, dan kiper melempar bola dengan cepat ke pemain nomor 4.

Pemain nomor 4 dapat menerimanya dengan mudah, dan sebelum ada tekanan lebih lanjut dari pemain nomor 9, 8 atau, 10, ia memberinya ke pemain nomor 8 yang menemukan ruang kosong.

Melihat ini, 3 pemain langsung menekan pemain nomor 8 sebelum ia bisa mengeluarkan umpan.

Jika pemain nomor 8 menerima tekanan hanya dari pemain nomor 8 dan 11 saja, besar kemungkinan akan ada ruang yang dapat dimanfaatkan unutk memainkan operan lagi. Bek kanan (3) yang bermain di posisi tinggi dapat membantu merebut bola dan membantu menyerang dari sisi sayap, dengan pemain nomor 8 dan 11 masuk ke kotak penalti, dan mencari posisi untuk mencetak gol

Tentunya jika 3 pemain telah dikorbankan, dan bola masih lolos, kondisi buruk dapat dijamin terjadi. Pemain nomor 7 berada di posisi kosong, dan dengan pemain nomor 9 dan 11 untuk membantu serangan, jika pressing ini tidak cukup, hanya tersisa bek tengah dan gelandang bertahan untuk memotong umpan.

Cara Mengatasi Gegenpress

Sejujurnya, aku tidak tahu.

Taktik ini bukan taktik yang dapat diatasi dengan taktik lain. Cara terbaik untuk mengatasinya cukup dengan ketenangan dan kemampuan memberikan operan yang rapih alih-alih dengan taktik.

Jika Gegenpress dengan 3 orang atau lebih tidak dapat memenangkan bola kembali, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan tim mengenai hal tersebut. Terlalu banyak ruang akan terbuka begitu saja jika bola sudah melewati orang yang ditekan.

Kriteria.

Taktik ini sulit digunakan karena butuhnya kriteria fisik yang berat.

  • Stamina yang cukup
  • Kecepatan mengejar bola, dan pemain bertahan yang berada di posisi tinggi
  • Kedisiplinan dan kesabaran dalam menentukan kapan menekan, dan kapan tidak perlu menekan.
  • Marking yang bagus dan kemampuan memotong operan yang baik
  • Kemungkinan besar, butuhnya kiper yang handal dalam kondisi 1 lawan 1 jika tekanan mengakibatkan ruang terbuka yang banyak.

Meski kriterianya banyak, Gegenpress dapat menjadi taktik bertahan yang dimanfaatkan untuk menyerang jika pemain-pemainmu cukup untuk melakukan hal tersebut.

Tim yang menggunakan:

  • Liverpool F.C.
    • Liverpool mungkin tim terbesar yang menggunakan taktik ini. Juergen Klopp membuat sistem dengan pemain-pemain cepat yang memiliki stamina bagus untuk melakukan taktik melelahkan seperti Gegenpress. Mulai dari tekanan di depan oleh striker tengah Firmino, gelandang-gelandang yang mampu naik turun barisan dengan cepat, dan bek-bek tercepat di Eropa, Gegenpress di Liverpool bisa dibilang berjalan sangat sukses.
  • Borussia Dortmund di bawah Juergen Klopp
    • Jika membahas Gegenpressing, Juergen Klopp mungkin pionirnya. Baik Liverpool atau Dortmund, keduanya menjadi tim yang sangat-sangat fokus ke passing jarak dekat dan kecepatan serta stamina. Di bawah Klopp, Dortmund fokus ke permainan menekan dari depan dan passing rapih oleh Gotze atau Gundogan, sebelum bola sampai ke Lewandowski dan masuk ke gawang. Dortmund di bawah Klopp bermain di posisi tinggi, dan tidak mudah terkena serangan balik. Tekanan yang konstan dan menyebalkan serta pertahanan rapat dan bek-bek muda serta cepat dalam Mats Hummels dan Neven Subotic memberikan lawan-lawan Dortmund sangat sedikit ruang untuk menyerang.
  • Bayern Munich di bawah Pep Guardiola.
    • Sebelum Bayern sekarang yang memiliki pemain-pemain yang hanya meluangkan waktu untuk pensiun di lini depan dan belakang, Pep Guardiola memanfaatkan Gegenpress dan mendominasi Liga Jerman dengan taktik tersebut. Meski Pep tidak memiliki striker-striker yang sedisiplin trio striker Liverpool dalam bertahan, Robben dan Ribery juga melakukan tugas bertahan yang cukup baik. Inti Gegenpress Guardiola berada di gelandang-gelandangnya. Guardiola memiliki Thiago Alcantara, Javi Martinez, dan Xabi Alonso yang mampu mengejar bola dengan cepat.

Kesimpulan

Komitmen manajer untuk menggunakan sistem Gegenpress cukup berat, terutama mengingat kebutuhan pemain dengan fisik yang cukup kuat, pribadi yang disiplin (PSG sebenarnya memiliki kualitas pemain yang cukup untuk melakukan Gegenpress, sayangnya, tidak banyak pemain yang cukup disiplin untuk menjalankan sistem tersebut) untuk menjalankan sistem tersebut, jadi, tidak banyak tim dapat memanfaatkan Gegenpress dengan efisien dan baik.

Kasarnya, Gegenpress adalah taktik High Risk, High Skill, High Reward yang perlu pengaturan pemain dan pemanfaatan sempurna oleh pelatih untuk hasil paling efisien.

Sampai lain waktu!

Template tactical board dari tactical-board.com

Melambat.

Melambat.

Inspirasi: Thank You For Being Late, ditulis oleh Thomas L. Friedman

Sebuah lelucon disebar di internet, call it a meme, or anything. Dalam 30 tahun, hanya akan ada 3 pekerjaan lagi bagi makhluk hidup dalam sebuah pabrik. Satpam, manusia biasa, dan anjing. Satpam menjaga anjing dan memastikan tidak ada pencuri, anjing menggongong tiap kali manusia biasa berusaha menyentuh mesin, dan manusia biasa untuk pergi ketika gonggongan anjing mengganggu mereka.

Aku sedang mengalami sedikit masalah dan kebingungan antara aku akan mencoba masuk ujian saringan kuliah di Indonesia yang menyulitkan (terutama karena aku payah dalam mengerjakan tes), atau mencoba untuk langsung bekerja saja.

Bagaimanapun juga, otakku berpikir cukup keras dan aku memutuskan untuk menulis dulu mengenai bahan ini. Mungkin aku akan mendapat solusi sesudah menulis ini.

Kecepatan

Thomas Friedman adalah seorang wartawan Yahudi yang tumbuh di daerah yang penuh akan perbedaan, tetapi tetap harmonis.

Ia tumbuh dengan kecepatan yang tenang, di sekolah yang low-pressure, dan menyimpulkan saat ia kecil… Amerika adalah negara yang dipenuhi banyak orang biasa.

Seiring aku membaca buku buatannya, aku menyadari bahwa dirinya mengganggap bahwa, jika kamu berusaha untuk menjadi orang yang average saja, kamu akan sukses, dan selamat. Setidaknya sampai abad ke-21 ini.

Manusia, jika kamu sudah berada di tingkat ekonomi menengah, atau tingkat ekonomi atas… Kamu cukup menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Finansialmu akan terpenuhi, kebutuhan hidupmu juga akan terpenuhi. Kamu tidak perlu khawatir rumahmu akan disita selama kamu tidak membuat keputusan bodoh, dan kamu mungkin bisa menikmati hidup lebih lanjut, seperti berlibur, makan di luar rumah, dan masih banyak lagi.

Apapun itu, kamu cukup menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Yah, yang amat disayangkan… Abad 21 mempersulit ini semua.

Adanya teknologi yang mempermudah beberapa tugas (tugas, bukan pekerjaan), membuat orang pada umumnya tidak bisa lagi menjadi orang yang biasa-biasa. Kamu harus memiliki hal spesial tentang dirimu.

Untungnya, cepatnya dunia ini tidak hanya membuatmu perlu menginjak gas. Selain kecepatan mobil ini membuatmu bingung karena kamu harus memutuskan sesuatu sebelum pintu keluar tol, ada banyak jalur dan opsi rute yang dapat anda ambil, rute-rute ini tidak akan ada jika kita berjalan selambat sebelumnya.

Sebagai contoh… Pekerjaan seperti menjadi seorang Akuntan akan menjadi lebih sulit, karena adanya artificial intelligence untuk membantumu melakukan beberapa tugas dalam pekerjaan tersebut. Tapi, cepatnya arus teknologi tidak sepenuhnya menghapus tugas seorang akuntan. Ada banyak hal yang hanya bisa dilakukan manusia dalam daftar tugas-tugas seorang akuntan.

Oke, jika anda bingung, baca saja lebih lanjut

(sebenarnya tulisan ini hanya celotehan tanpa maksud yang kemungkinan besar akan mendapat 0 views sepanjang adanya tulisan ini, dan aku akan bercerita tanpa henti karena aku ingin melakukannya, tanpa tujuan tertentu. Bagaimanapun juga, jika anda sudah disini, lanjut baca saja)

Injak Gas? Injak Rem?

Kesalahan orang, ketika ingin berjalan dan memutuskan jalur karir agar bisa selamat di dunia, adalah, mereka menginjak gas terlalu banyak dan melewatkan pintu keluar yang mereka inginkan, atau mereka menginjak rem terlalu banyak dan tidak bisa menyusul.

Pada suatu titik, kita perlu melakukan keduanya, tapi jangan sampai membuat keputusan yang salah. Seperti disebutkan, kita tidak bisa lagi menjadi biasa-biasa saja, dan ini… Hehehe.

Ketika sudah berada di bagian “Kehidupan Bekerja” di jalan tol milik anda, anda harus terus memperbaharui diri. Tidak ada lagi akuntan biasa, karena nanti, tugas akuntan normal sudah diambil mesin. Tiap akuntan harus memiliki spesialisasinya masing-masing. Oh iya, juga tidak ada lagi pengacara, dokter, mekanik, atau apapun itu yang termasuk biasa-biasa saja. Kita HARUS menjadi spesial, atau unik. Kemampuan yang anda dapatkan di kuliah? Oh iya, kemampuan itu hanyalah kertas yang anda masih perlu isi lagi nanti.

Di sini adalah tempat orang-orang membuat kesalahan.

Mereka dapat berjalan terlalu lambat di saat mereka perlu menginjak gas, atau mereka juga bisa berjalan terlalu cepat di saat mereka perlu menginjak rem. Ketika melewatkan hal yang mereka perlu lakukan, kesempatan itu tidak muncul lagi.

Mesinmu melambat semakin lama kamu berada di tol, dan… Tidak ada lagi saat dimana kamu cukup mempelajari subjek yang kamu sukai ketika kamu kuliah, dunia kerja hanya diisi dengan praktek. Tidak, sekarang bekerja pun mesti diisi dengan belajar.

Oke, aku mulai pusing karena aku baru menyadari seberapa dekat topik buku ini ke dillemma kecilku. Aku perlu membuat keputusan tepat.

Berpikir

Dunia ini tidak bisa dijalani dengan menginjak gas terus. Kita akan berlari terlalu cepat dan melupakan segalanya. Kita juga perlu menginjak rem untuk berpikir, kapankah saya akan belok?

Beberapa orang tidak memutuskan untuk berpikir, dan sejujurnya, aku rasa aku sudah terjebak dalam saat dimana aku terlalu menikmati menginjak gas, dan rem tanpa alasan yang jelas.

Ini membuatku bingung, lagi.

Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang perlu aku lakukan?

Apakah aku perlu menyesal bahwa aku tidak mengikuti keputusan mainstream dan mempersulit apa yang dilakukan orang-orang pada umumnya? Apakah aku perlu menyesal bahwa aku tidak mempersiapkan diri untuk mengambil ujian sampai waktunya dekat? (Oke, ujianku diambil 2020, tapi bagaimanapun juga, jika Ibuku sendiri saja sangsi dan tidak yakin aku akan lulus… Kurasa… Eh.)

Opsi yang bisa diambil adalah belok, dan sekarang, waktuku untuk berjalan lambat hampir tiada. Apakah aku lebih memilih untuk menginjak gas selama 1 tahun, lalu bisa sedikit lebih santai selama 4 tahun saat kuliah, lalu mengejar karir (apapun itu) dengan langsung menginjak gas? Atau akankah menginjak gas sambil diselingi dengan rem lebih mudah bagiku? Aku memang ingin menjadi seorang penulis. Perlukah gelar untuk mempermudah itu? Atau… tidak?

Hmm…

Keputusan harus segera diambil. Waktu berpikir menipis.

Aku mulai berpikir dan aku hanya berpikir, aku harus berhenti berpikir dan mulai bertindak. Semoga tulisan ini menjalankan dan membuat otakku kemampuan untuk menimbang faktor-faktor yang perlu diambil.

Sampai lain waktu.

Catatan

Ini terdengar seperti bab dalam buku ber-genre Consciousness Stream… Ha.

Psikologi: Shortcut Slip-up

Psikologi: Shortcut Slip-up

Selamat pagi lagi, kembali dengan tulisan dariku.

Aku memutuskan untuk pause dulu sebentar serial Road Trip-nya, dan kembali ke sedikit tulisan psikologi.

Dengan era Google Maps, Waze, dan aplikasi pencari rute kita biasa menemukan jalan-jalan kecil yang kemudian kita ingat kembali dan gunakan di kemudian hari ketika sedang tidak menggunakan aplikasi tersebut. Bahkan, suka ada saat dimana kita memilih untuk menggunakan jalan potong meski sebenarnya kita tidak perlu memotong jalan.

Namun, ada efek psikologis yang meliput jalan potong (atau shortcut) tersebut. Terkadang, kita merasa terlambat, terkadang kita merasa kita perlu memotong jalan, meski waktu yang dihabiskan sama saja.

Bingung? Mari diperjelas di bawah…

Time Scarce

Waktu, tidak semua orang punya waktu yang cukup untuk melakukan semua hal, dan terkadang, kita panik jika kita merasa kekurangan. Kepanikan ini sering kubahas ketika menggunakan S-word di atas (scarce/scarcity, bukan yang satunya lagi), dan seharusnya sudah bisa dimengerti.

Ketika kita kekurangan waktu, kita panik, ketika kita panik, kita bisa dan akan membuat keputusan yang salah. Ketika kita membuat keputusan salah ya… πŸ™‚

Nah, jadi, anggap saja kita biasa melewati jalan potong, dan kita merasa bahwa kita menghemat 5 menit karena kita melewati jalan potong tersebut alih-alih melewati rute utama yang cenderung padat. Karena kita memutuskan untuk memotong jalan sebelum berangkat, kita bisa berangkat lebih telat, menggunakan waktu 5 menit tadi untuk sarapan.

(Tentunya tidak semua orang menggunakan waktu 5 menit untuk sarapan, dan juga tidak semua orang memiliki kemampuan dan rela untuk merencanakan sesuatu sampai titik menit yang cukup detil)

Ya, jalan potong dan rute alternatif membantu kita.

Meski, perasaan terbantu itu nyata, hampir tidak ada perbedaan jika jalanan berada dalam kondisi kosong. Mayoritas jalan potong hanya menghemat 100-500 meter, dan kurang lebih, itu menghemat 1-2 menit, mungkin lebih sedikit. Ada statistik yang menyatakan, bahwa jalan potong tidak sebenarnya membantu waktu tempuh yang kita gunakan.

Namun, statistik itu tidak diambil di Indonesia, (apalagi kota kaya Jakarta) jadi, sejujurnya, jalan potong memang membantu, namun, ketika jalanan kosong, fungsi jalan potong adalah sebagai “obat” atau “modifier” untuk membuat kita merasa lebih baik, dan santai.

Shortcut Slack

Slack. (sekali lagi, aku belum menemukan padanan bahasa Indonesianya). Perasaan yang kita dapatkan ketika kita punya suatu sumber daya, dan jumlahnya lebih dari yang kita butuhkan. Slack yang pas membuat kita merasa tenang. Sayangnya, terlalu banyak? Kita jadi malas dan tidak membuat keputusan yang dipikirkan luar-dalam. Terlalu sedikit? Kita jadi panik dan membuat keputusan dengan terburu-buru.

Dan, seandainya perasaan ini adalah uang, kita bisa membelinya dengan melakukan hal-hal yang mengurangi konsumsi sumber daya. Contohnya, dengan… Ya, menggunakan jalan potong.

Pengguna jalan potong (pada umumnya), atau pengguna aplikasi pencari rute, biasanya merasa terburu-buru, mereka merasa bahwa mereka kekurangan Slack, mereka tidak tenang, mereka takut mereka akan terkena macet, atau datang terlambat, jadi mereka memberikan kepala mereka sebuah obat dengan melewati sebuah jalan potong untuk menghilangkan perasaan panik tersebut.

Are we Clever?

Jika kita berbicara mengenai umat Indonesia, terutama yang tinggal di kota-kota macet seperti Jakarta, atau Bekasi, mayoritas manusia akan mengeluarkan respon dan rencana yang mirip.

Mereka tidak ingin merasa terburu-buru, kecuali memang sedang terpaksa, mereka tidak ingin merasa kesulitan, dan mereka ingin semua hal berada dalam kondisi sebaik mungkin.

Seperti disebutkan di atas, mayoritas orang yang menggunakan jalan potong memilih rute tersebut karena mereka memang sedang merasa tergesa-gesa, dan perasaan tergesa-gesa hanya terjadi karena perencanaan yang buruk.

Untungnya, perencanaan buruk tersebut bisa dirasakan, dan mesti didapat dari perasaan. Tidak ada cara absolut untuk menghindari perasaan terburu-buru atau panik. Berikut adalah 3 jenis orang yang menggunakan jalan potong. Sayangnya, ketiga pengguna jalan potong ini memiliki kekurangannya masing-masing… Dan, komentar serta tangkapanku… hanya satu dari 3 jenis yang bisa terbilang “pintar” .

The Emergency Runners

Jika anda terpaksa, atau memilih untuk melewati jalan potong sesekali, dan hanya melewati jalan potong ketika terburu-buru, anda masuk ke golongan pertama.

Golongan Emergency Runners ini merasa segala sesuatu perlu dikerjakans saat itu juga karena mereka tidak pernah merencanakan apa-apa dengan benar. Mereka selalu panik, selalu khawatir akan hal buruk, dan tidak berhenti untuk berpikir sebelum mengerjakan sesuatu.

Mereka tidak merencanakan rute yang mereka akan lewati, mereka akan menentukan rute ketika sudah berangkat, atau ketika sudah di jalan dan bingung akan pilihan yang mereka akan ambil.

Emergency Runners akan selalu merasa hal yang mereka perlu lakukan urgent dan mereka hanya akan melihat satu langkah ke depan, setiap masalah diselesaikan satu per satu dengan panik.

Mereka tidak pernah mendapatkan perasaan scarcity, tetapi, mereka akan menyelesaikan segalanya dengan benar, dan (semoga) on-time, meski, ya, dengan terburu-buru dan tanpa perasaan santai. Hidup mereka akan cepat stres jika tidak dimanage dengan baik…

Jalan potong digunakan emergency runner karena mereka merasa perlu melewatinya. Jika mereka tidak melewati jalan potong, mereka akan terlambat.

The Slack Creator

Slack Creator.

Jika Emergency Runners melihat hal hanya 1 hal ke depan, slack creators memutuskan untuk memanfaatkan semua slack yang mereka punya sekarang, untuk menciptakan momen-momen slack ke depannya.

Mereka butuh waktu diam 5-10 menit sebelum ada kesempatan untuk melihat apa yang akan mereka lakukan sampai siang atau malam hari. Mereka akan sedikit bernapas, lalu mereka akan menilai, mana opsi yang paling baik?

Para Slack Creator memutuskan untuk melewati jalan potong kapanpun mereka bisa, meski sebenarnya, mereka tidak perlu untuk memotong jalan.

Jika bingung, kuberikan saja contoh skenario.

  • Rudi harus sampai ke kantor pukul 8.00 pagi.
  • Ia bangun pukul 6.45 .
  • Karena ia ingin mandi dengan santai, ia memutuskan untuk mengambil jalan potong saja. Ia tidak menghitung, tapi karena ia butuh perasaan santai, ia akan melewati jalan potong. Semua jalan potong yang bisa ia lewati.
    • Dalam perasaannya, ia bisa sampai kantor dalam 15 menit perjalanan kebanding 25 menit yang biasa ia tembuh.
  • Karena ia merasa ia dapat sampai kantor dalam 15 menit, ia mandi sampai pukul 7.00 .
  • Ia siap berangkat pukul 7.10. Hmm, ada waktu cukup banyak.
  • Ah, sarapan dulu deh. Bikin yang rada repot juga gapapa.
  • Ia memasak… Umm, pancake misal! 10 menit untuk memasak, dan sekarang jam berada di 7.20. Hmm, aku santai. Makannya 10 menit juga bisa.
  • Karena ia makan dengan santai, ia melakukan cek-cek sosmed (yang tidak diperlukan) saat makan, dan waktu makan bertambah 5 menit lagi. 7.35 ia beres makan.
  • Ia berangkat langsung pada 7.37 sesudah memanaskan mobil dan sampai kantor tepat waktu.
    • Perubahan dari jalan potong hampir insignifikan, hanya berbeda 2 menit

Tetapi, jika ada sedikit kesalahan dari rencana ini, misalnya, perlu mengisi bensin, atau ada kemacetan yang tidak diduga, seluruh rencana ini buyar karena terlalu banyak slack yang digunakan oleh para slack creator.

Mereka merencanakan segala sesuatu agar bisa dikerjakan dengan santai, mereka sudah siap dan bisa melihat kapan ada waktu yang bisa dihemat, meski nyatanya, penghematan waktu itu hampir tidak ada, dan mereka merasa terlalu santai… Sedikit tekanan diberikan, dan POP! Balon mereka meledak.

Jalan potong berada untuk menghemat waktu dan memberikan ketenangan psikologis, agar mereka tidak perlu tergesa-gesa.

The Logical Planner

Ah, planner. Menurutku, jenis orang yang memanfaatkan slack seperti Planner tidak begitu buruk. Mereka merencanakan sesuatu dengan cermat, dan mereka adalah campuran antara kedua golongan. Mereka tidak punya sistem

Mereka merencanakan segala sesuatu dan benar-benar mengecek berapa banyak waktu yang bisa dihemat jika memotong jalan.

Huh, jalanan kosong… Aku memotong hanya akan melewat 2 menit, ah, ya sudahlah.

Tidak seperti kedua jenis orang lain, mereka akan mencoba menggunakan jalan potong dan benar-benar mengukur perbedaan waktunya, karena mereka berusaha mematikan psychological bias milik mereka, keputusan yang mereka buat lebih logis dan normal.

Biasanya mereka juga punya rencana emergency seandainya mereka terlambat, dan mereka siap untuk menghemat waktu dan menciptakan slack (bahkan dalam tekanan) kapanpun mereka bisa…

Kesimpulan

Yah, terlambat itu terasa payah, tetapi, sekarang, anda perlu menyadari… Jika jalanan kosong, jangan mau tertipu oleh Shortcut Slip-up dan terpeleset ketika anda merasa perlu mendapat bantuan psikologis.

Nyatanya, jika anda menggunakan logis-mu, anda tidak akan terlambat. Berencanalah dengan lebih baik πŸ˜‰

Anti Aktivis: Melawan Insting Urgensi

Anti Aktivis: Melawan Insting Urgensi

Aktivis. Terkadang kita melihat seorang aktivis sebagai sumber keributan, kemacetan, dan banyak lagi kekacauan. Terkadang lagi, aktivis dapat kita lihat sebagai tanda bahwa ada hal yang perlu dibenahi pada saat itu juga!

Ini adalah hal yang salah secara mendasar. Sejujurnya, aktivis tidak dapat menjadi lebih menyebalkan lagi daripada aktivis yang kita miliki sekarang. Metode yang mereka gunakan tidak efektif, mereka sering mengeluarkan komen irelevan, dan banyak orang yang merasa kesal karena hal-hal yang mereka lakukan membuat mereka kesal, meski memang betul, kekesalan itu didapat secara tidak langsung.

Jadi, artikel ini membahas mengenai alasan insting urgensi yang diciptakan, atau mungkin, diistilahkan oleh Hans Rosling, dan mengapa aktivis perlu mengurangi bertindak sesegera mungkin. Karena percaya padaku, mereka mulai menjadi lebih menyebalkan daripada efektif.

Inspirasi:

  • Factfulness: Ten Reasons We’re Wrong About The World, and Why Everything is Better Than You Think. Ditulis oleh Hans Rosling, Ola Rosling, dan Anna Rosling-Ronlund

Insting Urgensi

Seperti yang banyak politikus lakukan untuk merubah mindset seseorang… Ada 10 insting di dalam buku Factfulness (yang kebetulan sudah cukup sejalan dengan yang aku pikirkan), dan insting nomor 8 ini, (kalau aku tidak salah) adalah insting yang paling mudah dimanfaatkan agar orang-orang membuat keputusan yang salah.

Pada dasarnya, insting urgensi membuat kita berpikir ada sebuah masalah Long-Term yang perlu diselesaikan dengan solusi Short-Term (atau sebaliknya, intinya sama-sama konyol dan tidak pada tempatnya), seolah-olah tidak ada usaha sedikitpun untuk berusaha menghilangkan masalah tersebut secara sedikit demi sedikit.

Masalah long term seperti ini bisa dilihat dalam gerakan-gerakan revolusi yang dimanfaatkan oleh aktivis dan demonstran (?) agar pemerintah, atau orang-orang ikut bergerak dan mendukung perubahan yang sedang disuarakan.

Iya, memang betul, konteks yang aku aplikasikan di sini terkesan dan memang lebih condong ke sisi negatif.

Tetapi, yang aktivis, atau politikus berusaha lakukan adalah untuk merubah mindset seseorang dengan tempo secepat-cepatnya dan membuat mereka bertindak tanpa berpikir secara menyeluruh. Kukira masalah seperti ini hanya terjadi di media Indonesia dan juga di beberapa partai yang ingin menunjuk dan menunjuk ke suatu masalah jangka pendek yang perlu diselesaikan secara jangka panjang (atau sebaliknya) namun, ternyata, kasus media dunia seperti ini.

Percaya padaku, sedikit saja ada kesalahan, mereka akan guncarkan sesuai dengan metode dan nilai-nilai yang ingin dibandingkan olehnya, dan BUM! Seolah-olah tidak ada kemajuan sama sekali oleh pemerintah kita, pemerintah sebelah sana, dan pemerintahan lainnya.

Intinya, insting urgensi sendiri berusaha menyempitkan dunia kita ke satu sudut pandang yang diberikan oleh orang-orang (karena itu yang ada di depan mata) dan memaksa otak kita untuk segera bertindak dan menyelesaikan masalah tersebut.

Sedikit Perbandingan

Memang betul, insting urgensi ini dimanfaatkan aktivis serta politikus di seluruh dunia (Looking at you, Trump, Greenpeace, Feminists) tetapi, ketiga penulis buku ini berasal dari… Swedia. Mengingat bahwa mayoritas orang Swedia (minus Zlatan, oops) cukup baik pada satu sama lain, tidak ada banyak hoax atau fake news, atau frame yang memang sengaja dibuat agar orang-orang bertindak.

Di Indonesia, Amerika, atau beberapa negara berkembang lainnya yang memiliki konflik politik yang berjalan terus menerus dan menerus, insting urgensi akan berperan lebih banyak kebanding negara yang politiknya berjalan lebih lancar, atau negara yang tidak terlalu liberal. (Cough, Prancis, Cough)

Gerakan Anti-Aktivis

Oh hey! Ini ironis! Gerakan yang anti penggerak!

Aku sudah cukup sering memberikan ceramahan dalam bentuk artikel mengenai bahayanya framework sebuah media pada konsumennya, dan mengapa kita harus lebih pintar dan membaca framework tiap media secara netral, dan memilih media yang jelas-jelas tidak bias. Namun, insting urgensi ini membuat aku merasa lebih banyak hal yang perlu dibenahi mengenai cara kita berpikir mengenai sesuatu.

Memang, dibenahinya tidak perlu dilakukan pada saat ini juga sih.

Begini, intinya, aktivis memanfaatkan kelengahan kita, dan kita akan menerima satu atau dua berita buruk (yang disengaja) sesekali. Tidak lama sesudah itu, ada gerakan aktivis yang bilang “Lanjutkan Subsidi BBM” atau, “VIVE LA REVOLUTION!!!” dengan 100 tanda seru, mungkin juga kita akan menemui “Kembali Syariah”Β Β Β  -_-”Β Β Β  dan terakhir, “Make America Smart Again” . Aku sebenarnya mendukung yang terakhir, presiden US sekarang itu… Yeaaaahhh begitulah.

Aktivis dari negara manapun, mengenai bidang apapun sangat menyukai satu berita buruk, karena begitu ada berita buruk, insting urgensi manusia langsung TENG-TONG dan ketika insting urgensi kita menyala, kita melihat dunia dari sudut pandang yang jauh lebih negatif kebanding positif. Oleh karena itu, aktivis, atau politikus apapun akan lebih sering menakut-nakuti dan memberikan konteks negatif demi mengaktifkan insting milik kita ini.

Sesudah ada konteks negatif? Kita akan dengan cepat melihat ada masalah, dan kita akan mencari solusi begitu ada masalah. Terkadang, solusi tercepat adalah memilih pemimpin baru karena satu atau dua kesalahan kecil yang ia buat (pemimpin tetap manusia), dan terkadang solusi tercepat adalah ikut menjadi aktivis dan ikut pro kepada masalah tersebut juga. Sesudah ada dukungan pada masalah ini, maka akan ada lebih banyak suara yang ingin merujuk pada perubahan tersebut, dan semakin banyak suara, semakin cepat adanya perubahan instan, seperti yang mereka inginkan.

Kesimpulan

Oh perubahan, kau begitu membuatku bingung. Ketika ada perubahan yang jelas-jelas positif, mengapa banyak sekali orang yang melihat sisi negatifnya saja?

Sedikit hal negatif, langsung diberikanlah banyak sekali sisi negatif sebagai suplemen dan juga framework.

Aktivis yang bergerak dalam kebanyakan bidang, terutama yang menghabiskan beberapa tahun, jika bukan puluhan tahun untuk satu perubahan, selalu melihat hal dari sudut pandang awal. Dari sudut pandang tersebut, ia akan maju dan terus mendorong yang ia lihat, dan mungkin membuat 3, 40, 500, 6 juta orang merasa kesal, dan ikut dalam perubahan yang ia dorong.

Tidak mungkin ada perubahan instan, dan tiap kali adanya demonstrasi, yang mereka lakukan malah cenderung kontra produktif karena membuat orang-orang merasa kesal kebanding merasa perlu adanya perubahan.

Berhenti berpikir seolah-olah dunia ini tidak berubah sedikit pun, perubahan ada, meski memang lambat.

Terima kasih!

Self Help Series: Tujuan

Self Help Series: Tujuan

Introspeksi adalah sebuah masalah unik.

Beberapa orang terlahir, atau terlatih dengan kepercayaan diri yang membuat mereka bisa melakukan hal seperti ini dengan sederhana, dan tanpa merasa gugup sedikit pun. Tetapi, juga ada sangat banyak orang yang tidak bisa melakukan hal sederhana ini.

Bagi mereka yang penasaran, aku memberikan sebuah petunjuk sederhana, dan tidak bersifat ala motivator yang (maaf) naif, secara ekstrim, mungkin aku akan menganggap teknik ini sebagai teknik yang counter-intuitive, dan terkesan ironis jika dilihat dari satu sudut pandang.

Introspeksi, siapkah anda untuk berintrospeksi ria sesudah membaca artikel ini?

Jadi, mari baca artikel ini sebelum anda dimakan oleh nafsu dan melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas.

Kausalitas

Untuk apa seseorang butuh Tujuan?

Dasarnya, dunia ini penuh dengan kausalitas (kausalitas = bahasa snob/nerd/filsuf untuk sebab akibat). Dunia ekonomi dipenuhi dengan sebab akibat, dunia kimia pada dasarnya juga dipenuhi dengan sebab akibat, dan hampir semua ilmu, atau tindakan, sangat berhubungan dengan sebab akibat. Jadi, sebelum kita lanjut, mari bertanya… Apa tujuan dari tujuan?

Tujuan adalah sebab anda melakukan sesuatu. Misalnya, gua mau kerja di kantor yang gajinya tinggi. Oke, dalam tindakan itu (yang berupa sebuah akibat) anda memiliki sebab. Sebab tersebut, ternyata, Karena gua kepengen punya Pajero.

Ya, sejujurnya aku tidak memberikan jempol pada orang di atas, tetapi, jika itu tujuan hidup anda, maka saya akan menghargainya, sebagaimana tiap makhluk hidup perlu dihargai.

Sebelum anda melakukan tindakan, anda harus memiliki sebab akibat terlebih dahulu. Percaya padaku, keputusan buruk tidak akan terjadi jika anda berpikir lebih tenang dan bertanya kepada diri anda sendiri. Jika anda punya sebab, anda bisa lebih mendalami hal yang anda lakukan, karena anda berharap bahwa sebab anda akan tercapai, sehingga, lebih banyak usaha akan ada keluarkan untuk memenuhi sebab tersebut.

Akibat tiap sebab akan berujung sama. Akibatnya adalah kesadaran diri. Ini akan aku bahas lebih lanjut di bawah.

Bagaimana anda mendapat sebab? Bertanya. Semudah itukah?

HA! (awalnya aku ingin mengisi ini dengan meme, tetapi aku tidak menemukan sebab yang cukup substantif)

Sayangnya, rasa takut untuk bertanya sering dialami semua orang. Bagi beberapa orang, mereka takut menyuarakan atau menanyakan pendapat mereka bagi orang lain. Bagi beberapa orang lain, mereka tidak ingin bertanya pada diri mereka sendiri.

Mereka merasa takut untuk mengetahui tujuan mereka sendiri.

Rasa Takut.

Catatan: EHEM. Maaf, aku akan terdengar seperti motivator naif dalam paragraf pembuka bagian dari artikel ini.

Courage is not the absence of fear. But the ability to act in spite of it.

-Mark Twain

Jadi, anda takut? Bagus. Rasakan perasaan itu. Lawan. Masalah anda akan beres. Perasaan takut bukan hal yang bisa dihindari, karena takut sendiri, akan selalu mengejar anda. Pada suatu titik, anda harus mau untuk berdiri dan berusaha melawan perasaan tersebut.

Nah, sekarang masuk ke opini yang semi sarkastis dan kontra intuisi milikku.

Coba tanyakan pada diri anda pertanyaan “Kenapa?” sebelum anda bertindak. Pertanyaan “Kenapa?” adalah pertanyaan yang penting jika anda ingin melakukan hal-hal yang lebih produktif, bermanfaat, dan juga untuk mengurangi efek samping. Terkadang, pertanyaan sederhana ini juga bisa membuahkan solusi yang anda cari-cari. “Kenapa?” hanyalah sebuah sebab, dan jawabannya adalah akibat. Jika kita berbicara dari sudut pandang kausalitas, tanyakan “Kenapa?” pada diri anda sendiri dan siap-siap untuk menertawakan beberapa hal-hal bodoh yang anda lakukan.

Anda akan tertawa karena anda tidak punya alasan yang baik, atau alasan anda sebenarnya konyol. Atau, kasus paling parah. Anda melakukan sesuatu dan meluangkan energi, serta sumber daya, untuk melakukan sesuatu yang tidak memiliki tujuan.

Sebagai contoh…

  • Kenapa saya makan di kafe ini? Harga menunya begitu mahal, makanannya gak enak, pelayanannya buruk… Kenapa sih?
  • Oh iya, saya diajak oleh teman-teman saya! Mungkin saya memilih untuk makan di sini karena saya ingin bertemu teman-teman saya.
  • Tetapi, Kenapa saya mau saja diajak teman-teman saya ke sini? Bukannya ada banyak opsi lain untuk makan.
  • Oh iya, saya mau diajak teman-teman saya ke sini karena mereka menyukai tempat ini.
  • Kenapa mereka menyukai tempat ini? Ini mungkin opsi yang buruk!
  • *terdengar suara cekrik, dan layar HP menunjukkan sebuah sosmed* OH! Karena itu!

Dari sini, kita bisa menemukan faktor. Faktor-faktor, sekali lagi, menyumbang ke sebab dalam dunia yang dipenuhi dalam kausalitas.

Faktor utama dari kasus di atas adalah karena tempat ini enak dilihat dan dapat menjadi sumbangan ke akun sosial media. Bagi beberapa orang, ini tentunya sudah biasa, namun, untuk beberapa orang yang ingin melakukan kontemplasi ala Nietzsche, mereka akan menyadari… seberapa bodohnya mereka.

Jika anda ingin mencari tujuan anda, anda harus menjadi seseorang yang cukup berani untuk menanyakan hal-hal yang anda rasa benar, pada diri anda sendiri.

Selamat menikmati mengobrol dengan batin anda, dan siap-siap merasa konyol.

Nilai-nilai

Kausalitas sendiri memiliki 3 bagian.

  • Sebab: Tujuan anda melakukan sesuatu, atau sebuah kejadian yang mengakibatkan kejadian lain.
  • Tindakan: Bagi beberapa filsuf tindakan adalah sebab, tapi karena akusedang membahas filsafat dan psikologi introspeksi, sebab masih belum nyata sampai adanya tindakan.
  • Akibat: Sekali lagi, akibat juga bisa dilihat sebagai tindakan bagi filsuf post-modern. Namun, karena ini filsafat dan psikologi introspeksi, akibat hanya ada satu jenis yang nyata. Yaitu, lebih mendalami.

Masalahnya, terkadang kita merasa takut (sekali lagi) pada apa yang orang lain akan pikirkan mengenai kita, atau berkata pada kita jika ada sebab, atau tindakan yang tidak cocok dengan pemikiran orang tersebut.

Jika anda merasa seperti itu, coba anda tanyakan lagi pada diri anda sendiri. “Kenapa?” saya peduli dengan pikiran orang lain? Sesudah anda bertanya, coba bandingkan tiap faktor tersebut dengan nilai-nilai yang anda sudah miliki, dan apakah itu sesuai? Apakah anda memiliki nilai yang baik? Mengapa anda memiliki nilai seperti itu?

Coba tanyakan lagi, dan sesuaikan diri anda dengan nilai-nilai yang anda miliki.

Kesimpulan

Obat kontemplasi adalah obat yang mampu bekerja dengan efektif, tapi dengan sedikit kelemahan berupa beberapa efek samping.

Efek samping dari melakukan metode introspeksi ini bisa berupa:

  • Berkontemplasi terlalu banyak dan melupakan bahwa anda punya pekerjaan yang seharusnya anda lakukan, tetapi karena anda terlalu banyak menanyakan mengapa saya melakukan ini… ups πŸ™ .
  • Tertawa terbahak-bahak dan merasa bahwa anda sangat bodoh karena melakukan hal-hal tanpa tujuan jelas.
  • Menyadari bahwa anda salah. (ini bisa dilihat sebagai efek baik melainkan efek samping)
  • Menyalahkan orang-orang di sekitar anda karena tidak mengingatkan anda bahwa sebenarnya anda punya banyak kesalahan.
  • Diberikan tatapan “really?” oleh orang-orang di sekitar anda karena mereka mengingatkan tetapi anda tidak ingin mendengar sampai anda mendengar suara batin anda sendiri.
  • Mencoba mengoreksi orang lain dan mengajak mereka untuk berkontemplasi juga, namun dengan cara memaksa.
  • Berdebat selama berjam-jam dengan pasangan berusaha memperebutkan, siapa yang memberikan ide baik untuk berkontemplasi begitu lama dan menemukan semua kesalahan dalam berkomunikasi, dan dalam mengerjakan hal-hal.
  • Dan terakhir. Menyadari bahwa anda berdebat berjam-jam hanya untuk ingat anda berkontemplasi karena artikel ini.

Harap gunakan obat kontemplasi ini dengan bijak dan tidak terlalu sering menggunakannya.

Tambahan

Mohon maaf karena blog ini hampir berdebu, akan segera diperbaiki. πŸ˜‰

Serial Self Help: Kekurangan.

Serial Self Help: Kekurangan.

Semua tempat dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jika anda punya waktunya.

Percaya atau tidak, manusia harus dan akan mengalami saat dimana anda kekurangan sesuatu, baik itu kekurangan teman, kekurangan waktu, kekurangan uang, kekurangan sabun, atau kekurangan energi.

Jika anda tidak memiliki satu saatpun dimana anda memiliki lebih sedikit dari yang anda butuhkan, anda tidak akan berusaha terlalu keras. Kita membutuhkan perasaan kurang, dan kita tidak boleh merasa cukup, atau merasa lebih dari cukup terlalu sering.

Tulisan self help ini akan terkesan kontradiktif dengan beberapa opiniku, namun, yang aku maksudkan dengan “perasaan kurang” disini adalah kekurangan hal-hal yang tidak termasuk dalam materi seperti sumber daya atau uang.

Mari kita masuk.

Jumlah Rata-rata

Apa yang seseorang akan lakukan jika anda perlu mencuci muka anda sehari dua kali, dimana satu botol berukuran 30 ml dapat bertahan selama 2 minggu?

Pada umumnya, jika botol tersebut memang memiliki volume 30 ml, orang-orang akan langsung berpikir bahwa tiap kali kita mencuci muka, kita menggunakan 1.07 ml (30 dibagi dengan 28, dimana 28 berasal dari 14 hari dan 2 kali penggunaan tiap harinya).

Nyatanya, tidak seperti itu.

Manusia pada umumnya menggunakan 20% lebih banyak ketika botol tersebut terisi dengan penuh, atau diatas 70%, menggunakan jumlah rata-rata, ketika isi botol berada dalam kisaran 25-65%, dan menggunakan 30% lebih sedikit ketika isi botol di bawah seperempat.

Perasaan aman memberikan sensasi seolah-olah kita tidak butuh menghemat, toh kita punya lebih banyak. Dan sesudah jumlahnya bersisa sedikit, anda akan mengurangi porsi anda lebih signifikan, demi memenuhi kuota kebutuhan, dan agar jumlah benda yang anda gunakan tidak habis.

Terdengar sederhana? Tentu saja. Ketika kita masih menggunakan angka seperti ini, kita masih bisa menganggap satu dan lain hal terlalu sedikit, dan hal yang lain terlalu banyak, karena biasanya kita merasa tenang saat ingin melakukan hal sepele seperti ini.

Bagaimana kalau kita merasa bahwa kita kekurangan waktu? Tidak seperti sabun muka, ketika anda tidak punya cukup waktu anda tidak bisa menghemat dan berharap tenggat waktu anda dapat bertahan sedikit lebih lama saja…

Terlalu sedikit? Tambahkan? Kurangi?

Waktu.

Tidak seperti uang, sabun, atau sumber daya, cara kita menghemat tidak dapat dengan mengurangi. Kita tidak bisa mengurangi waktu yang ada, atau waktu yang kita pakai. Jadi, bagaimana cara kita mencermati kurangnya waktu?

Oh, gampang.

Mungkin kita tidak bisa meminjam waktu, tidak sama seperti yang di atas sebagai solusi pendek, tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih efektif, suatu perasaan yang diberikan secara langsung oleh otak kita. Perasaan itu adalah tekanan. Tekanan ini mengubah dan mengatur anda, tergantung pada aktivitas yang anda sedang lakukan.

Seorang mahasiswa yang diberikan tugas pada tenggat waktu akan mengambil jatah waktu main, atau istirahat miliknya untuk mengerjakan tugas tersebut, dan tentunya, waktu yang akan diambil akan lebih banyak semakin sedikit dan cepat tenggat waktu yang diberikan.

Tekanan yang ada untuk mengerjakan tugas ini berdasarkan tenggat waktu akan mempercepat proses pengerjaan kita. Berdasarkan riset, mahasiswa yang diberikan tugas untuk membenarkan kesalahan gramatikal pada sebuah essay akan menemukan lebih banyak kesalahan jika waktu yang diberikan padanya lebih sedikit.

Riset pasnya memberikan data seperti ini.

  • Tenggat waktu: 2 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 37% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 1 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 52% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 3 hari, jumlah kesalahan yang ditemukan, 78% dari total kesalahan

Tekanan memberikan kita performa yang lebih tinggi dari seharusnya, dan tekanan ini adalah alasan anda bisa mengerjakan sebuah tugas yang pada kondisi santai membutuhkan waktu 6 jam, dalam waktu 1 jam. Namun sayangnya, tekanan yang sama dapat mengurangi performa anda juga.

Ketika anda tidak mengerjakan sebuah tugas yang sedang berada dalam tenggat waktu, otak anda akan terus menerus memberikan perintah untuk memulai pengerjaan tugas tersebut, dan sampai anda membereskan tugas tersebut, tidak akan ada hal yang membuat anda merasa nyaman, meskipun itu hal seperti memakan makanan favorit anda. Otak yang normal akan menyuruh anda untuk terus menerus kembali ke tugas tersebut sampai itu beres.

Senjata Makan Tuan

Sayangnya, kondisi ini bisa berujung buruk…

Pada kondisi biasanya, ini hal yang baik. Stimulus ini memberikan anda perintah untuk bekerja dan untuk menjadi lebih produktif. Namun, jika seseorang memiliki banyak pikiran dan banyak hal untuk dikerjakan, ini akan membuat anda masuk dalam proses yang namanya… Juggling. Pikiran anda akan terus menerus memberikan stimulus untuk mengerjakan suatu tugas. Sayangnya, sebelum tugas itu beres, anda sudah akan kembali lagi dan stimulus yang lain memberikan anda peringatan untuk mengatur uang di rumah tangga anda. Sebelum itu, stimulus yang lain memperingati anda untuk mengerjakan poster yang anda sudah akan kerjakan sebagai poster freelance.

Sebelum masalah ini beres, anda melempar masalah itu, dan selama bola tersebut di udara, anda diingatkan akan masalah baru.

Ini alasan manajemen waktu TIDAK sepenting manajemen kesadaran yang memang berada di level subconscious, tapi tanpa adanya peringatan dari kita sendiri untuk tidak melempar bola dan memutar masalah, kita hanya akan memperlambat produktivitas kita sendiri, dan kita tidak akan sempat mengatur waktu untuk melakukan suatu hal yang memang produktif.

Jadi, jika anda merasa tertekan untuk menyelesaikan 6 tugas sekaligus… Jangan pikirkan tugas lain saat mengerjakan satu tugas. Masukkan seluruh kesadaran anda ke satu tugas tersebut.

Terowongan

Tunneling.

Ketika anda tidak punya cukup waktu, tekanan bisa sekali lagi menjadi sebuah senjata makan tuan. Dalam proses bernama tunneling ini, anda akan melupakan hal yang seharusnya anda kerjakan segera, tapi karena adanya tekanan, anda membuat suatu kesalahan buruk, dan hasilnya, seluruh proses yang sudah anda rencanakan jadi hilang begitu saja, murni karena anda hanya bisa melihat satu cahaya, yaitu masalah besarnya, yang berada di ujung terowongan.

Tunneling adalah sebuah proses dimana otak kita berubah gaya berpikirnya dari pemikiran yang berbasis proses ke pemikiran berbasis hasil.

Ketika kita di dalam tekanan, kita tidak akan berpikir banyak mengenai proses, dan kita akan sepenuhnya berpikir ke hasil akhir. Ini dapat berakhir ke kita melakukan pilihan yang buruk, atau tidak membuat tindakan sama sekali ketika kita memang perlu bertindak.

Sebagai contoh…

Tiap tahunnya, ada sekitar 80-100 petugas pemadam kebakaran yang harus “pergi” ketika bertugas di Amerika Serikat. Ironisnya, 60% dari pemadam kebakaran tersebut meninggal bukan karena kecelakaan pada bangunan yang sedang kebakaran, tetapi karena mereka tidak menggunakan sabuk pengaman, alias… seatbelt.

Oke, mungkin ini terkesan bodoh, atau tidak masuk akal, karena mereka dilatih hingga mereka cukup kompeten dan melupakan seatbelt adalah hal yang… seharusnya tidak terjadi.

Tetapi dalam kondisi darurat, seorang pemadam kebakaran tidak bisa (bukan tidak mau, memang tidak bisa) melihat proses lebih dari cahaya di ujung terowongan yang merupakan api yang perlu dipadamkan. Ini mengakibatkan mereka untuk melupakan hal-hal kecil tapi krusial seperti… seatbelt.

Jadi, jika ada pemadam kebakaran yang meninggal karena tidak menggunakan sabuk pengaman pada serial Fox ciptaan Brad Falchuk yang dikenal dengan 9-1-1 -yang memang dipenuhi kecelakaan tidak masuk akal- itu justru kecelakaan masuk akal!

Oke, mengheningkan cipta dulu sebentar…

Nah, dari sini, seharusnya kita bisa simpulkan bahwa dalam tekanan, kita tidak bisa memilih dan membuat keputusan krusial, terutama yang memiliki dampak long term paling sedikit. Pada umumnya, seorang manusia akan membuat keputusan yang relatif baik dan membenarkan solusi yang ada di depan mata, tanpa mengkalkukasi adanya kemungkinan bahwa solusi jangka pendek tersebut bisa berujung sangat buruk.

Oleh karena itu, jangan buat keputusan ketika anda sedang merasa tertekan, kemungkinan besar anda akan membuat keputusan yang buruk.

Kesimpulan

Kita harus merasa kekurangan.

Kurangnya waktu, kurangnya uang, kurangnya teman membuat kita ingin mencari lebih banyak, dan menghargai apa yang kita sudah punya sekarang, memastikan bahwa kita tidak akan menghilangkan terlalu banyak dari apa yang kita sudah punya.

Ini harusnya perasaan seseorang yang merasa kurang. Menghargai apa yang sudah dia punya dan menghematnya.

Reflek orang-orang yang kekurangan biasanya adalah suatu keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi, bukan menghargai dan menghemat yang sudah ada…

Sampai lain waktu, semoga artikel hari ini dapat dinikmati!

Self-Help Series: Pilihan

Self-Help Series: Pilihan

Pernahkah anda merasa terjebak dalam situasi yang anda optimis, apapun yang anda lakukan, atau anda pilih, opsi itu akan berujung pada ketidakbahagiaan? Sesudah belajar filsafat Tiongkok selama 6 minggu, kurasa ini waktu yang tepat untuk menuliskannya.

Apakah kebahagiaan itu, bagaimana cara mendapatkannya? Terkadang kita tidak diberi pilihan untuk mendapatkan rasa bahagia, dan karena konsep kebahagiaan akan cukup erat dengan filsafat, kurasa tidak akan terlalu banyak psikologi abad ke 21 pada artikel ini. Psikologi yang dimasukkan berada pada era-era Freud.

Semoga artikel ini bisa anda baca dengan perasaan bahagia!

The Ice Cream Parlor

Ya, mari kita masuk ke hal paling sederhana tapi membingungkan. Memilih rasa es krim di sebuah toko.

Ambil sebuah anggapan bahwa anda tidak punya pilihan sedikit pun sebelum anda memilih toko, dan ada dua toko yang lokasinya tepat bersebelahan, menggunakan AC, dan juga memiliki tempat duduk yang sama-sama nyaman. Hari sedang panas, jadi es krim yang dikonsumsi dalam ruangan ber-AC akan tentunya membuat kita merasa lebih nyaman.

Nah, dari kedua toko ini, ada sebuah toko yang menyajikan 4 pilihan rasa, yaitu Coklat, Vanilla, Stroberi, dan yang terakhir, Cookies and Cream (dalam teori original, tidak ada Cookies and Cream, jadi aku berasumsi siapapun yang membuat teori ini tidak punya selera es krim yang baik).

Toko yang lain, menyajikan… Coklat, Vanilla, Stroberi, Cookies and Cream, Rocky Road, Butter Pecan, Bubble Gum, Blueberry, Choco Chip, Mint Choco Chip, Matcha, dan Salted Caramel. 12 rasa secara total, berarti ada 3 kali lipat jumlah pilihan rasa kebanding yang sebelumnya.

Kira-kira, pilihan toko pertama, atau kedua yang akan membuatmu merasa lebih bahagia sebelum memesan, ketika memakan, dan sesudah memesan?

Jawabannya ternyata lebih sulit dari yang orang-orang kira-kira.

Mungkin orang akan beranggapan, “lebih banyak opsi, lebih banyak kemungkinan kita memilih rasa yang kita sukai alhasil lebih banyak juga orang-orang yang lebih happy karena mereka memilih rasa yang mereka memang sukai.” Padahal, kemungkinan kita memilih rasa yang tidak enak berkali-kali lipat lebih besar kebanding memilih rasa yang enak…

Orang-orang akan merasa lebih bahagia jika ia tidak harus memilih dari opsi yang begitu banyak. Kurang lebih, ini cara seseorang akan berpikir untuk memesan, saat memakan, dan sesudah memesan… Yang anda akan dengar sedikit ironis, tapi nyata.

  • Sebelum memesan, orang-orang akan jauh lebih bingung ketika perlu melihat dan memilih dari 12 opsi ketimbang 4. Ini mungkin hal yang paling obvious ketimbang fase-fase sesudahnya, tapi tetap layak disebutkan karena banyak orang pergi ke suatu restoran tanpa rencana sedikitpun ingin memesan menu apa. Nyatanya, meski benda yang dipesan sudah sama persis, yaitu Es krim, orang-orang tetap kebingungan memesan es krim apa…
    • Oh, iya, jangan lupa jenis orang yang pergi keluar rumah tanpa tahu ingin ke restoran apa… Itu juga sangat mungkin menjadi korban keplin-plan-an
  • Saat memakan es krim, ia akan berpikir… “Oh iya, tau gitu aku mesen es krim rasa … aja ya… es krim ini kayanya kalah enak sama yang itu.” Dengan jumlah opsi yang lebih dikit, flavor palette dan opsi yang bisa kita ambil jauh lebih sedikit. Coba ingat fakta bahwa, biasanya orang yang memesan es krim coklat tidak akan memesan es krim stroberi, kecuali memang lagi ngidam, dan juga pemesan cookies and cream tidak akan memesan es krim vanilla, karena pada dasarnya mereka sama persis dengan perbedaan adanya cookie yang sangat enak itu..
    • Dengan opsi yang banyak, penyesalan akan lebih mungkin terjadi, terutama jika citarasa dua es krim mirip dan kita memesan yang tidak sesuai dengan selera milik kita.
  • Sesudah memesan, jika opsinya memang banyak, kebanyakan orang akan langsung merencanakan kapan berikutnya ia akan kesana atau setidaknya, mereka akan merencanakan apa yang akan mereka pesan berikutnya. Jika opsi yang disediakan memang sedikit, orang-orang sudah tahu akan memesan apa berikutnya anda datang ke tukang es krim tersebut.
    • Tentunya, ini berarti penjualan di tukang es krim yang banyak opsi berpotensi lebih tinggi, tetapi, ia harus membayar dengan rasa kebingungan dan kebahagiaan si pembeli. Oh, ini alasan sampel disediakan, agar mereka makin bingung dan makin penasaran.

Jadi, ingat baik-baik…Β  Es Krim minimarket > Es krim toko.

Itu berlaku jika anda mengejar rasa kepuasan tentunya…

Memilih

Jadi, sesudah sebuah riset menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manusia akan merasa lebih puas ketika tidak ada banyak pilihan, ini tidak mengurangi fakta bahwa ketika kita diminta untuk memilih sesuatu, kita tetap akan memilih, baik itu karena kewajiban, atau itu karena keinginan.

Jadi, bagaimana cara kita menghindari pilihan yang buruk?

Ada dua cara untuk “menghindari” pilihan yang buruk, namun sayangnya, kedua cara tersebut tidak benar-benar bisa membuat kita bersih dari segala pilihan buruk. Karena tentunya, tanpa ada pilihan baik, tidak akan ada pilihan buruk, tanpa ada pilihan buruk, takkan ada pilihan baik, dan kita bisa merasakan kebahagiaan jika kita menikmati pilihan yang kita buat, dan menikmati proses pemilihan tersebut.

Ya, kedua metode ini bukan metode yang “inspiratif” atau yang “motivasional” seperti yang orang Indonesia biasanya inginkan. Tetapi jika buku Self Help dengan judul “Subtle art of not giving a F*** ” telah masuk Indonesia, kurasa ini momen yang tepat untuk benar-benar menulis buku self help yang orang Indonesia butuhkan. (Bukan seperti buku Chairul Tanjung pada umumnya)

Menerima

Cara menghindari pilihan yang buruk nomor satu adalah dengan menerima, dan tentunya, menyadari bahwa pilihan yang kita buat memang sebuah pilihan yang buruk.

Maksudku, kita selalu bisa mengantisipasi satu dan lain hal, tetapi pada akhirnya ketika kita mendapatkan sebuah pilihan buruk, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerimanya, ketika masalahnya tidak terlalu besar, apalagi untuk masalah kecil.

Kita punya energi yang sangat terbatas untuk digunakan, dan juga, kita tidak bisa peduli pada tiap hal, baik itu hal yang besar, atau yang kecil. Jadi, kemampuan untuk memilih hal apa yang bisa kita anggap “Masa Bodoh” adalah hal yang sangat penting.

Kita tidak ingin membuang energi kita dan ruang untuk berpikir kita hanya karena kita telah memilih restoran yang salah untuk makan siang. Ada restoran baik dan ada restoran buruk, terkadang kita perlu bersabar dan ingat untuk jangan pergi ke restoran tersebut lagi, karena, misalnya, porsinya kecil.

Intinya, pada sebuah tindakan yang bisa dibilang hampir irelevan dengan keputusan hidup, jika itu memang tidak penting, jangan anggap masalah sepele seperti itu sebagai tindakan yang krusial dan marah-marah ketika ada hal yang tidak ideal, atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika kita mau menerima bahwa kita membuat kesalahan atau membuat pilihan yang salah, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Memaafkan diri kita sendiri jauh lebih penting ketika ingin merasa tenang kebanding dengan berusaha terlalu keras untuk meminta maaf pada orang lain.

Bersabar

Kamu tidak akan pernah ingin membuat keputusan yang penting dan yang tidak bisa diterima atau disepelekan dengan terburu-buru.

Jika pilihan yang akan kamu lakukan memang benar-benar penting, maka bersabarlah. Lebih cepat bukan berarti lebih baik…

Pikirkan semua bentuk sumber daya yang kamu rela untuk habiskan dan gunakan demi memecahkan satu masalah, atau membuat satu keputusan… Jika sumber daya dan waktu tersebut memangΒ terasa pantas untuk digunakan dan dimanfaatkan demi keputusan tersebut… (misalnya, membuang 10 hari libur demi mencari lahan untuk rumah) lakukan.

Jika tidak… Ya… Jangan.

Keputusan yang buruk bisa dihindari, tetapi seandainya ia akan terjadi, anda akan merasa lebih baik jika anda tidak menggunakan terlalu banyak energi anda dari yang anda seharusnya gunakan. Jika anda sudah rela dan sudah menggunakan energi lebih banyak dari seharusnya… Pastikan keputusan yang anda buat memang benar πŸ˜‰

Kesimpulan

Kebahagiaan bukan hasil, melainkan proses. Keinginan untuk menerima dan menikmati proses suatu hal, baik itu proses memilih benda, atau proses menikmati suatu makanan, suatu sofa… itulah rasa puas yang nyata.

Bukan berusaha pamer ke orang bahwa anda mendapatkan benda itu, melainkan menikmati benda yang anda dapatkan…

Jangan salah gunakan rasa puas yang anda berhak nikmati untuk rasa puas ketika mendapat pengakuan dari orang lain.

9 Pertanyaan Uta Hagen

9 Pertanyaan Uta Hagen

Aku sedang mengikuti komunitas Teater sekarang, dan WAW! Ternyata teater sangat menyenangkan! *catatan, perasaan senang tidak dimasukkan dan dicampur dengan sensasi lelah tiap kali ada latihan fisik*

Meski ada perasaan lelah sesekali, salah satu bagian paling menarik dari akting adalah pembuatan karakter saat ingin melakukan voice over atau ingin mendalami peran.

Aku memang selalu suka berkhayal dan diberikan sebuah sistem untuk melihat hal dari sudut pandang orang lain akan menyenangkan!

Baru hari minggu lalu, salah satu tutor dari komunitas teater Baraya yang aku ikuti memberikan cara untuk terus membangun karakter dengan cara menanyakan 9 pertanyaan pada diri kita sendiri, dan mencoba untuk mendapatkan jawaban dari tokoh yang kita mainkan menggunakan khayalan.

Versi yang akan aku gunakan dan jelaskan di artikel hari ini adalah versi Uta Hagen, karena ada beberapa versi lain, tetapi aku paling menyukai versi milik Uta Hagen ini…

Fun Fact: Versi lain dari “kuesioner” karakter building ini ada yang digunakan sebagai bantuan untuk marketing juga lho!

The 9 Questions

  1. Siapakah aku?
  2. Kapankah ini?
  3. Dimanakah aku?
  4. Apa yang berada di sekitarku?
  5. Apa keadaannya?
  6. Apakah hubunganku?
  7. Apa yang aku inginkan?
  8. Apa yang menghalangiku?
  9. Bagaimana caraku mendapatkan yang aku inginkan?

Pertanyaan 1-5 mungkin perlu jawaban panjang, tetapi, pertanyaan ini terbilang mudah selama tidak ada kelainan mental di tokoh yang anda mainkan.

Pertanyaan 6-9 akan sulit untuk dijawab bahkan jika tokoh yang anda mainkan berpikir cukup sederhana, apalagi jika karakter yang anda mainkan memiliki kelainan.

Sisa artikel ini akan menjelaskan apa yang perlu anda cari dari tiap pertanyaan. Selamat menikmati

Siapakah Aku?

Ini pertanyaan paling terus terang yang ada diantara ke semuanya. Menjawabnya cukup mudah, tapi juga tidak mudah di saat yang sama… Aktor harus bisa melihatnya dari sudut pandang tokoh dan caranya melihat si tokoh. Tapi, aktor juga perlu melihatnya dari kenyataan, kehidupan, dan juga batasan fisik, seperti usia, pendidikan, dan… Nama πŸ˜€ .

Ini adalah hal-hal yang sebaiknya anda temukan dari pertanyaan ini sebelum masuk ke pertanyaan nomor dua…

  • Nama.
    • Jangan berikan tatapan… “Really?” nama dapat berarti amat banyak jika anda memainkan sebuah tokoh-tokoh yang konflik miliknya berhubungan dengan keturunan. Misalnya, seperti tokoh yang dimainkan Michael B. Jordan pada Black Panther, nama miliknya adalah simbol asli bahwa dia orang yang berasal dari Wakanda, padahal kenyataannya ia membenci keturunan miliknya tersebut.
  • Ciri-ciri Fisik.
    • Sangat penting jika tokoh yang anda mainkan memiliki kelainan fisik. Misal, Quasimodo, jangan mainkan si Hunchback of Notre Dame jika anda tidak mau menurunkan punggung anda.
  • Pendidikan.
    • Seharusnya menjelaskan dirinya sendiri. Gaya bicara seseorang akan sangat dicerminkan dari pendidikan yang ia terima. Jangan seperti sebuah sandiwara abal-abal yang sering dipercandakan oleh instruktur dimana tokoh utama, seorang tukang becak di daerah pasar cicaheum, menggunakan bahasa inggris.
  • Kepercayaan.
    • Cara seseorang berpikir akan sangat terkait dengan caranya memercayai sesuatu. Jangan berusaha memainkan tokoh seperti Isaac Newton jika anda tidak siap untuk berpikir klenik sesekali, bahkan sebagai ilmuwan. Mengetahui kepercayaan tokoh adalah gerbang pertama, dan paling mudah untuk berimprovisasi.
  • Ketakutan.
    • Winston pada buku 1984 amat takut dengan Tikus. Kamu bisa mencatatkan ketakutannya dengan cukup mudah, dan mungkin bisa menunjukkan ketakutan itu dengan lebih mudah jika anda mengetahui ketakutan dan kelemahan tokoh yang anda mainkan.
  • Caranya ia melihat diri sendiri.
    • Banyak adegan dramatik dimana ada orang yang menanyakan kepada tokoh misterius… “Who Are You?” Jawabannya bisa banyak, Green Arrow akan menjawab, “I’m a Vigilante”, Black Panther akan menjawab, “The protector of this nation” atau, “A king” dan Adolf Hitler akan menjawab “A leader”. Cara orang melihat dirinya sendiri mungkin cara paling sempurna untuk membangun karakter kita lebih dalam lagi.

600 kata kemudian, kita menjawab satu pertanyaan! YEAY! (tenang, pertanyaan sesudah ini akan dijawab dengan lebih pendek)

Kapankah Ini?

Pertanyaan ini sederhana… Seberapa pentingkah waktu bagi si tokoh? Inginkah ia sampai ke tempat pada tepat waktu? Apakah ia begitu sibuk sehingga ia akan selalu terburu-buru? Atau ia terlalu malas dan terjebak dalam fantasi miliknya sampai tidak peduli akan waktu?

Semua pertanyaan sederhana ini penting, dan aktor yang baik harus bisa menangkap waktu dalam sudut pandang si tokoh.

Dimanakah Aku?

Tenang, ini bukan tes untuk memastikan apakah seseorang memiliki amnesia atau tidak, pertanyaannya mungkin mirip, tapi bukan kok.

Pertanyaan ini semakin signifikan jika jumlah set yang ada lebih minim. Intinya, ini adalah cara tidak langsung bagi Uta Hagen untuk meminta aktor merasakan sebuah lokasi dan seberapa signifikan lokasi itu bagi si tokoh.

Apa yang berada di sekitarku?

Sekali lagi, ini adalah cara tidak langsung untuk meminta aktor merasakan aura benda-benda di sekitarnya, dan lihat bagaimana cara benda-benda tersebut dapat memengaruhi cara berpikir tokoh.

Contoh signifikan… Pada serial Komedi Big Bang Theory, tokoh utama Sheldon Cooper memiliki keterkaitan emosional pada tempat duduk miliknya. Coba sedikit bayangkan dalam mata Sheldon Cooper… apakah tempat duduk miliknya lebih signifikan daripada meja makan? Apakah itu lebih signifikan dari kulkas? Atau lebih signifikan dari action figure Green Lantern dimana ia menyimpan uang darurat senilai 100 dollar?

Apa keadaannya?

Ini pertanyaan penting, dan jawabannya akan selalu berubah-ubah.

Pada dasarnya, ingatlah…

  • Apa kondisi kita sebelum sekarang?
  • Apa kondisi kita sekarang?
  • Apa kondisinya sesudah ini?

Uta Hagen menyampaikan… kita harus selalu mengingat kondisi tiap detiknya, dan pikirkan apa yang si tokoh akan lihat atau rasakan dalam situasi sekarang.

Sebelum memulai adegan, terus bayangkan apa yang sedang terjadi dan bayangkan perasaan si tokoh mengenai kondisi yang belum terjadi, kondisi sebelum ini, dan kondisi sekarang agar garapan perasaan si tokoh selalu siap untuk berubah.

Apakah hubunganku?

Hubungan adalah hal yang penting.

Mungkin tokoh tidak akan selalu memandang benda sebagai suatu hal yang lebih penting kebanding makhluk hidup, tetapi, hubungan dengan objek bisa jadi lebih penting kebanding hubungan dengan orang.

Seorang kolektor akan memiliki hubungan emosional pada titik lebih tinggi pada objek, dan apa yang tokoh kita rasakan akan sangat berhubungan dengan objek.

Hal yang sama mungkin juga terjadi pada hewan peliharaan, atau mungkin teman.

Bayangkan seorang ksatria berkuda pada zaman King Arthur yang kehilangan kudanya. Tangkap perasaan itu, dan keluarkan.

Hubungan-hubungan tokoh dengan objek dan juga dengan orang lain bisa menjadi peran yang amat signifikan dalam sebuah cerita.

Apa yang aku inginkan.

Tujuan.

Apa tujuan sang tokoh? Apa yang ia inginkan.

Coba tangkap dari dua sudut pandang. Apa tujuan dia pada adegan ini, dan apa tujuan dia secara garis besar. Tujuannya secara garis besar akan selalu mempengaruhi tujuannya pada adegan ini, dan ini faktor perubahan yang cukup krusial.

Banyak situasi abu-abu dimana aktor-aktor tidak dapat menangkap apa tujuan utama pada adegan ini dan ia menangkap seluruhnya sekaligus. Menurut instruktur-instrukturku, akan terasa lebih realistis jika tujuan jangka pendeknya sangat sederhana dan sangat terbatas.

Secara garis besar, biasanya tujuannya tidak akan lebih dari satu kalimat.

Balas dendam, memperbaiki hidup, mengakhiri penderitaan… Terkadang hanya satu frasa saja, namun, frasa itu berperan sangat-sangat dalam pada hidup si tokoh.

Apa yang menghalangiku?

Kasarnya…

Tangkap adegan, cari halangan utama dan terbesar dalam adegan tersebut yang perlu dilewati oleh si tokoh.

Mau dijelaskan berulangkali, banyak orang menyimpulkan satu kalimat yang sama…

Bagaimana caraku mendapatkan yang aku inginkan?

Sebelum melakukan apa-apa… Jawablah pertanyaan ini.

Pertanyaan ini adalah kesimpulan dan penutupan ke sebuah tindakan yang si aktor akan lakukan. Tangkap 8 pertanyaan yang lain, cari jawaban untuk pertanyaan kesembilan ini dari 8 pertanyaan sebelumnya…

Jika sudah ingin melakukan sebuah drama, biasanya aktor akan menjawab pertanyaan ini dengan menulis tindakan, baik verbal, mental, atau fisik yang ia akan lakukan pada adegan tersebut.

Sederhana kan?

Kesimpulan

Percaya padaku, metode ini dapat dipakai untuk banyak hal lainnya.

Dan terkadang, kita melihat ke arah luar terlalu banyak sehingga kita lupa apa tujuan kita sebenarnya.

Cobalah sebentar untuk menjawab kuesioner 9 pertanyaan ini dan jawablah pertanyaan sederhana tapi menarik ini… Siapakah anda?

Sampai lain waktu!

Apa Itu Sebuah Symbiote?

Apa Itu Sebuah Symbiote?

Venom sudah keluar, tidak ada banyak hal yang perlu kubahas mengenai film tersebut, karena sejujurnya… Ada satu kesalahan yang berakibat cukup fatal pada kualitas filmnya (akting bagus, cerita bagus, penyutradaraan yang bagus, hanya satu kesalahan saja) dan itu terletak di kurangnya keseriusan dari Symbiote yang berada dalam Eddie Brock. Seandainya Venom lebih brutal dan lebih serius, maka kurasa film tersebut akan memberi perasaan yang lebih baik. Harusnya script tersebut menghapus humor dan lelucon yang diberikan oleh Venom.

Tapi ya, mau bagaimana lagi… Selain ada 25++ menit dari film tersebut yang dipotong (bagian favorit Tom Hardy), masih cukup banyak error di sana dan di sini, dan Venom telah resmi menjadi film terburuk Tom Hardy di Rotten Tomatoes, dengan 28%, mengalahkan film buruk sebelumnya dengan 54% pada film Marie Antoinette.

RALAT: Film terburuk Tom Hardy berada di bawah Venom, dengan nilai 27%, dengan judul, Child 44.

Oke, kembali ke topik dan judul… Alasan aku di sini adalah untuk memberikan bahasan sesudah film mengenai beberapa orang, dan aku akan membahas asal usul, serta cara kerja sebuah Symbiote.

Catatan: Beberapa hal disini belum 100% akurat dengan film, dikarenakan sebagian besar sumber dari artikel ini berasal dari pembahasan comic book, dan juga thread reddit dari geek yang tidak punya kerjaan. Seperti saya. πŸ˜€

Spesies

Anggap saja ini adalah pelajaran biologi terlebih dahulu… Jadi, sebelum kita bisa menentukan cara kerja Symbiote Venom ini, kita masih perlu mengetahui spesies apakah Symbiote itu…

Secara spesies, Symbiote tinggal dalam sebuah planet yang lokasinya entah dimana, dan diciptakan oleh seorang Celestial (spesies dari ayahnya Peter Quill) bernama Knull. Knull yang iseng ini mencari planet kosong lalu memasukkan slime homemade ke dalam itu, dan dengan sedikit sihir di sana dan di situ… WHOOSH! Muncullah Symbiote!

Awalnya, sebelum mereka dikenal sebagai Symbiote… Mereka adalah sebuah ras dengan nama Klyntar. Sebelum mereka memiliki bentuk kesadaran apapun, layaknya sebuah spesies, tujuan utama Klyntar pertama adalah untuk berkembang biak, agar kelangsungan spesies baru ini bertahan.

Jadi, itu terjadi. Pada planet dingin, sunyi, dan hampa ini, mereka memakan apapun yang ada, dan terus menerus Klyntar memakan dan memakan dan memakan. (oke, memakan apa? Bukannya ini planet hampa? Jangan tanya aku terlebih dahulu, sejak kapan tahu jawaban ini belum diberikan oleh Marvel) Sampai akhirnya, Klyntar ini membelah diri. Seperti sebuah bakteri.

Muncullah dua Klyntar, lalu dari dua, menjadi empat, dan menjadi 8, 1600, 32.000, 640.000, 1.280.000 dan sampai ada puluhan juta dari slime homemade yang dibuat dengan tutorial YouTube tetapi dengan modifikasi resep Celestial.

Uniknya, tiap Klyntar memiliki corak warna berbeda, dan mereka terus menerus berusaha memakan, memakan, dan memakan sampai planet itu kehilangan sumber daya…

HMM! Aku pernah mendengar ini sebelumnya! Di dunia nyata… Mengapa Klyntar begitu mirip dengan manusia ya… Setidaknya aku tahu mengapa ras Klyntar paling cocok dengan manusia. Kedua spesies tersebut sama-sama rakus.

Sampai suatu titik, mereka menjadi sedikit lebih sadar. Planet hampa seperti itu tidak mampu meningkatkan level kehidupan superior seperti manusia di Bumi, Titan di planet… titan, atau dewa-dewa di Asgard… tetapi, planet tersebut menghasilkan juara dari seleksi alam, spesies yang lebih kuat, dan sama menariknya dengan spesies superior seperti manusia, titan, dan dewa.

Seleksi Alam

Kesadaran Klyntar tidak muncul secara tiba-tiba… Itu bermula dari Knull yang ingin membunuh celestial lain dan ia mengambil beberapa puluh ribu Symbiote yang masih tanpa memiliki pikiran pada masa awal evolusi spesies tersebut.

Knull membuat dirinya sebagai titik tengah atau nexus dari kesadaran tiap Symbiote dan membuat pasukan Symbiote yang jauh lebih menyeramkan kebanding Venom, atau Riot, atau Symbiote apapun itu… Ia membuat pasukan Symbiote yang tidak memerlukan inang untuk mencapai potensi penuhnya.

Jika sebelumnya seorang Symbiote bisa dilemahkan oleh suara dan kita bisa membunuh inangnya, kali ini, pasukan Symbiote pertama ini tidak dapat dihentikan. Celestial yang diincar oleh Knoll harus merasa takut.

Intinya, sesudah perang tersebut, Knoll mengembalikan Klyntar yang selamat, ke planet hampa tersebut. Klyntar-klyntar tersebut, telah berevolusi dan memiliki kesadaran, meski mereka kehilangan bentuk menyeramkan mereka, meski dari yang seorang mampu lihat, Klyntar ini tidak berbeda jauh dengan feses cair yang memiliki mulut raksasa, gigi sebanyak piranha, dan bisa memakan sesuatu.

Kurang lebih, beginilah tampak sebuah Klyntar yang berusaha memakan sesuatu

Ya, sesudah evolusi sederhana tapi bermakna tersebut, Klyntar ini menjadi spesies yang lebih kejam. Tentunya, sesudah mereka mencapai kesadaran dan evolusi yang amat lama, makanan di planet ini mulai berkurang. Jadi, mereka terpaksa memakan satu sama lain.

Sampai akhirnya ada banyak perang saudara di sana dan di situ, dan BAM!

Ada orang yang memberikan ide… “HEY SPESIES KLYNTAR! BROOOO! MARI KITA NAIKIN KOMET AJA! KITA CARI PLANET, MAKAN DI PLANET ITU! BIAR KITA KAGAK USAH BAYAR! Hashtag Low Budget!”

Ide tersebut disetujui oleh hampir semua orang.

Let The Invasion Begin!

Sabar ya, aku akan masuk ke cara kerja symbiote sebentar lagi… sesudah bab ini saja…

Jadi, dari situ, selain adanya Life Foundation di bumi, serta beberapa spesies extra terresterial yang ingin mencari bentuk kehidupan lain… para Symbiote mulai berangkat dengan numpang komet!

Karena tidak suka bayar tarif Komet, symbiote ini mengamen dan pindah komet tiap kali ada terminal. (I’m just kidding)

Sesudah ada planet, beberapa pengamen dari Klyntar (mungkin tiap planet dihuni 2-3 symbiote) mencari inang yang paling cocok dengan dirinya (sama seperti yang dilakukan oleh Riot saat menemukan Carlton Drake) menggunakan indra mereka, dan mereka melakukan proses simbiosis.

Kecuali ada spesies yang ingin mengambil symbiote, dalam sebuah planet, tidak akan ada terlalu banyak symbiote, karena keterbatasan anggaran transportasi yang ditulis oleh DPK (Dewan Perwakilan Klyntar), tidak terlalu banyak symbiote yang bisa dimanfaatkan.

Selain mencari inang yang cocok untuk melakukan simbiosis, tiap Klyntar juga berusaha menculik sebuah bentuk dari transportasi gratisan untuk menjemput Klyntar lainnya, dan membawa pasukan menyeramkan ke sebuah planet.

Dari transportasi gratis ini… Klyntar juga mendapat all you can eat (meski mungkin saja habis sesudah ratus ribuan tahun) gratis. Jadi, kalau dipikir-pikir, anggaran yang dikeluarkan DPK tidak perlu terlalu banyak ya… Hmm…

Proses Simbiosis

AKHIRNYA!

Intermezzo

OH TIDAK!

Oke, maaf, intermezzo ini dibutuhkan.

Symbiote adalah istilah yang digunakan manusia dan alien untuk menyebut sebuah Klyntar

Klyntar, pada sisi lain, adalah nama dari spesies tersebut.

Sebagai contoh, kita mengenal mamalia besar, berbelalai, kuping lebar, dan empat kaki sebagai gajah, dan bahasa Inggris mengenalnya sebagai elephant. Tapi, secara spesies, namanya adalah Elephas maximus.

Mengerti? Karena aku akan menggunakan istilah Symbiote yang lebih familier pada orang-orang mulai dari sekarang.

Langkah 1: Cari Inang.

Seperti yang kusebut di atas, sebuah Symbiote akan menggunakan indra keenamnya (ralat: indra keempatnya mungkin, mengingat ia tidak bisa melihat atau mencecap tanpa adanya inang) untuk mencari sebuah inang.

Sesudah ia menemukan inang yang cocok, kita bisa maju ke langkah 2… Tapi, jika inang tersebut tidak cocok… πŸ™‚ Maka, symbiote tidak bisa mengubah struktur genetik dan memperkuat sang inang, jadi, symbiote tersebut, yang kelaparan, akan mulai mencicipi sel-sel sang inang. Ia akan mencoba tiap sel, segigit, demi segigit, sampai sel tersebut mati karena seluruh sel-nya telah dihabisi oleh si symbiote.

Kemudian, si symbiote akan kembali mencari inang baru. Atau, jika symbiote itu pintar, ia akan menggunakan sang inang sebagai tumpangan untuk pergi ke inang yang sempurna, seperti yang dilakukan oleh Riot.

Alasan Carlton Drake bisa terbilang bodoh dalam mencari inang yang cocok…

  • Karena ia tidak mengetahui cara kerja Symbiote (makanya dia harus baca komik Venom -_-), ia mengisolasi sang symbiote, dan tidak membiarkan proses simbiosis berjalan secara natural.
  • Symbiote tidak diberi izin keluar dan mencari inang sempurna…
  • Ia memilih orang-orang miskin sebagai kelinci percobaan, padahal symbiote membutuhkan inang yang kuat untuk melakukan simbiosis yang utuh.

Untungnya, Riot menemukan Drake, dan ia mengetahui simbiosis yang sukses!

Langkah 2: MAKAN!

Sesudah inang sempurna, atau setidaknya kompatibel ditemukan menggunakan indra keenam sang symbiote…

Symbiote akan makan sebelum ia memperkuat sang inang. Jika ia berusaha memperkuat sang inang secara langsung, ia akan kesulitan untuk mendapat bensin, dan terpaksa memakan sedikit sel dari sang inang. Jadi, sang Symbiote akan membuat inang merasa lapar, dan lapar, dan lapar, dan lapar.

Tentunya, karena tidak suka panas, symbiote tersebut akan memilih makanan dingin.

Sesudah inang dan symbiote sama-sama kuat… kita bisa masuk ke langkah 3!

Langkah 3: Doping

Inang akan diberikan banyak doping dan steroid alien.

Symbiote akan memperkuat sang inang beratus-ratus kali lipat dengan cara membiarkan tubuh fisiknya muncul dengan harga energi sang inang.

Kasarnya, doping ini semacam… arus tiga arah.

  • Energi masuk ke inang
  • Energi inang diambil dan dilipat gandakan symbiote
  • Symbiote mengeluarkan bentuk fisik aslinya
  • Jika inang tidak punya cukup energi, symbiote akan mengambil sel sang inang sebagai bentuk energi cadangan.

Tapi, jika kamu tidak cukup kuat untuk menahan bentuk fisik sang symbiote, maka inang akan dirusak secara parah.

Untuk mempersulit proses simbiosis ini, baik inang atau symbiote perlu struktur psikologis yang sama. Ini alasan Carnage bersatu dengan seorang serial killer, Venom bersatu dengan sesama pecundang, dan Riot bersatu dengan seorang CEO gila.

Jika symbiote secara diam-diam tidak menyukai si inang, maka sang inang harus siap untuk disantap hidup-hidup, atau ditinggalkan, dan membuatmu mati.

JENG JENG!

Kesimpulan

Terkadang, teman terbaikmu berada jauh entah dimana… Dan terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah teman terbaikmu akan datang secepatnya padamu.

Mengerti korelasi antara kedua hal ini?

Nah…

Kita tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengambil sebuah symbiote. Selain Drake di Venom, pada komiknya juga ada banyak orang membeli sebuah Symbiote di pasar gelap dan memanfaatkannya agar dia bisa lebih kuat…

Sayangnya, semua orang yang melakukan ini langsung loncat dari lantai 10 atau lebih sebuah bangunan tinggi dan meninggal karena ia merasa gila.

Intinya, semakin kamu memaksakan kehendak, semakin besar kemungkinanmu menjadi gila ketika kehendak tersebut tidak terwujud… Jadi quote hari ini…

Don’t push your luck.

Sampai lain waktu!

P.S. Semua orang yang membuat artikel Venom menggunakan image yang ada di atas, dan aku tidak terkejut.