Category: Poetry

Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Spoiler Alert: Ternyata Museum MACAN bukan Museum tentang Macan, melainkan singkatan dari Modern and Contemporary Art in Nusantara. Jadi jangan terlalu berharap untuk menemukan sejarah kehidupan tentang Macan, atau fosil-fosil Macan purba.

Aku sendiri yakin bahwa Reader sudah lihat foto di sosmed, entah itu di Timeline (or… yah, itu lah ya, tergantung sosmed kan namanya, padahal bendanya itu-itu aja) atau di Story. Atau, kalau anda saya, dan tidak main sosmed, mungkin nemunya di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status.

Entah kenapa aku gagal menemukan satu pun gambar di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status mengenai Exhibit Blockbuster Museum MACAN tahun ini. Tetapi, sejujurnya, buat apa menikmati gambar di sosial media yang dipasang dengan tujuan untuk pamer (no offense Bubi, atau Babah). Tujuan dari Seni bukan untuk dipasang di Sosial Media lagian ๐Ÿ™‚ tetapi untuk dinikmati.

Jadi, kumohon, jika Reader belum, dan ingin ke sini, tolong nikmati seni disini, bukan menikmati komentar dan Likes dari follower anda ya.

Nah, jadi sebenarnya, aku tahu tentang pameran Museum MACAN ini dari mana? Jadi begini… Aku menemukan sebuah tulisan di JakartaGlobe tentang pameran di Museum MACAN ini yang… Yah, aku gak mau bahas itu sejujurnya. Silahkan baca saja sendiri ya, yang ada aku jadi gregetan nih hehehe. http://jakartaglobe.id/features/instagram-slaves-damage-artworks-museum-macans-yayoi-kusama-exhibition/

Langsung saja ke artikelnya yah. Ini akan membahas sedikit banyak gaya seni Yayoi Kusama, serta sedikit riwayat hidupnya.

(FYI, yes, I am currently in Jakarta, and this post is written here, sementara berpisah dari Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, dan berjumpa dengan Museum Fatahilah [yang aku gak jadi datengin sayangnya] dan juga Museum MACAN)

Panorama Kusama

Yayoi Kusama terobsesi dengan titik-titik. Sepertinya hampir semua karya seni miliknya dicoreng titik di sana dan sini, dan semua karya miliknya yang populer bermain dengan polkadot, dan cenderung abstrak. Tetapi, tentu saja orang-orang sudah tahu tentang kedua hal ini.

Ada beberapa hal yang mungkin ingin anda ketahui, dan dari mana inspirasi Yayoi Kusama ini…

Pertama-tama, ia sering berhalusinasi. Ia sering membayangkan bahwa tanaman berbicara padanya, dan segala sesuatu yang ia lihat, sedikit demi sedikit menjadi abstrak, dan menjadi penuh dengan titik-titik warna-warni. Nah, jadi yang mungkin kita pandang sebagai karya seni dan lukisan, atau patung… Bagi Yayoi Kusama, mungkin itu adalah benda atau pandangan dunianya sehari-hari.

Dan uniknya, ia dan keluarganya tahu bahwa dia sedikit bermasalah.

Bahkan, ada satu titik di dalam karirnya, dimana Kusama memasukkan dirinya ke Rumah Sakit Jiwa, dan membeli tanah di sebrang rumah sakit jiwa tersebut. Kusama kemudian membangun studio di tanah yang ia beli, dan tiap hari, ia ditemani oleh suster untuk berkarya di studio tersebut.

Jadi, jika ingin ditanyakan, iya, Kusama memang gila.

Titik. Titik. Warna. Warni.

Semua lukisan Yayoi Kusama yang terbilang Family Friendly (ehem, beliau memiliki satu daftar karya seni mengenai kehidupan seorang “remaja” perempuan… Enough said) bermain dengan titik-titik dan warna dasar. Pada dasarnya, ia mewarnai sebuah kanvas dan membuat titik-titik di atas warna dasar tersebut.

Tiap titik menciptakan sebuah ilusi dan menumpuk dengan titik lain. Jika melihat gambarannya secara langsung, kamu mungkin akan pusing.

Selain itu, jika anda memang tahan melihat sesuatu yang begitu abstrak untuk waktu yang lama, akan ditemukan bahwa dalam setiap frame, ketebalan dan kontras cat yang digunakan konsisten. Gambar di atas ini menggambarkan titik merah yang tebal di bagian bawah, dan seiring naiknya lukisan, semakin tipis, dan semakin tipis.

One more thing, lukisan itu hanya satu dari sembilan lukisan dengan kanvas yang terhubung dengan satu sama lain.

Oke, mungkin itu terlalu gampang (untuk sekarang), jadi kita akan kasih lukisan lain…

Bentuk ini menjadi ilusi optik yang sangat sering ditemukan. Karya ini disebut Infinity Nets (hey, we have that now! It’s called the Internet) dan bukan Infinity War. . . *krik*

Tiap jaring menimpa jaring lain, dan sekali lagi, membuat anda pusing.

(2 jam di pameran ini, aku bergoyang ke kanan dan kiri…)

Kali ini, Kusama tidak menggambarkan pola yang konsisten, dan benar-benar hanya menggunakan garis, bentuk, serta warna untuk menyampaikan pikirannya.

Sebuah karya yang mirip dengan Infinity Nets di atas, adalah Infinity Nets lain, kali ini, berdasarkan beberapa sumber dan teks di Museum, terinspirasi dari bisikan laut di Jepang.

Sekali lagi, titik-titik. Kusama terobsesi dengan ini.

Mungkin tidak tampak dengan jelas, tetapi, seiring kita bergerak ke ujung lukisan ini, semakin mudah kita akan menyadari bahwa, jumlah titik lebih banyak, tetapi garis lebih sedikit.

Jika tiap blok yang terpisah dengan garis adalah simbolisasi untuk ombak, dan titik adalah air… Maka, kurasa, Kusama memberikan interpretasi bahwa sebuah ombak akan makin kuat semakin banyaknya ombak itu berisi dengan air, dan semakin erat ikatan antar gelombang yang bersatu untuk membuat ombak tersebut.

Manusia juga seharusnya seperti itu… Semakin banyak jenis dan orang, semakin kuat jika semakin bisa mengapresiasi perbedaan. HA! Selipan filsafat!

Speaking of Manusia… Ini adalah sebuah gambaran dari Kusama… Menggunakan gaya polkadot miliknya, dan juga dengan kawat besi dicat berwarna kuning untuk membelah mata kita lebih lanjut.

Aku tidak menangkap lebih banyak lagi dari karya yang ini… Tetapi, aku akan berikan Reader sebuah tantangan kecil… Bagi yang sukses memecahkan tantangan ini, akan diberikan hadiah berupa tiket akses ke Dikakipelangi.com secara gratis yang memang sudah dari sananya gratis. Jadi ya, lelucon ini garing, aku captain obvious, dan… EHEM, sorry, kembali ke topik utama.

Apa yang reader lihat di lukisan ini? CLUE: Anda sudah melihatnya.

Dan jika ini pameran… Ini adalah hal pertama yang anda lihat di Museum.

Staring into Infinity

Pernahkah reader ke mall dan berdiri di antara dua kaca yang bersebrangan?

Aku sendiri pernah, dan aku masih saja amazed ketika melihat ada jumlah bayangan dari cermin tersebut yang tak terhingga. Aku pertama menyadari itu ketika aku berumur 7 tahun, dan aku masih saja tercengang dan takjub ketika cahaya sedang bermain dengan pikiran kita.

Ini mungkin karya seni yang membuat Kusama paling terkenal.

Memanfaatkan cahaya dan cermin untuk membuat sebuah pantulan yang tidak akan pernah habis.

Aku mau cerita sedikit, bahwa sebagai anak kecil (7-8 tahun) aku sangat senang dengan cahaya, dan awalnya, aku bahkan tidak tahu tentang cahaya dan apa itu. Aku hanya ingat bahwa cahaya itu selalu menyenangkan untuk dimainkan. Jadi, ketika di sekolah aku membuat periskop dengan cermin, aku menggunakan senter kecil dan memanfaatkan periskop tersebut sebagai pemantul cahaya.

Dengan bantuan cermin, aku pernah menggunakan si periskop untuk menyentuh target di belakangku dengan cahaya kecil itu.

Those were good times.

Dan sekarang, aku bertemu dengan karya seni indah ini.

Cahaya masuk ke mata kita dan dipantulkan oleh cermin. Cahaya yang masuk ke mata kita, tetapi, sudah dipantulkan oleh cermin lain sebelum diproses otak. Dan itu terjadi terus menerus, dalam kecepatan cahaya…

Efek tersebut menciptakan sebuah ruang tanpa batas dalam sebuah segi enam dengan luas tidak lebih dari 15 meter.

Kusama sendiri pernah mengalami sebuah saat dalam hidupnya di mana Kusama harus mengintip melalui titik kecil, dan katanya, ia melihat cahaya yang dipantulkan terus menerus. Jadi, dengan jiwa seni miliknya, ia ingin membagi pengalaman tersebut dengan Infinity Room miliknya ini.

Tentunya, pengalaman ini juga dibagi ke feed dan story semua orang yang posting, so… yeah…

Imagination itself nows no bounds.

Coba tebak ada berapa balon berisi lampu di ruangan ini yang benar-benar asli, dan bukan pantulan cermin…

Bingung?

Kuhitung sampai 3 ya… 1, 2, 3.

Ada total, 3 balon berlampu, yang berputar dalam cahaya tanpa batas ini… Ya, ini membuat puyeng.

Ketahui bahwa anda hanya punya waktu 60 detik untuk menikmati, jadi tolong, manfaatkan sebaik mungkin, dan jangan rusak bola lampu di dalam benda tersebut.

Semua titik dan bola yang Kusama buat sepertinya hanya fragmen dari imajinasinya… Dan, sekarang, ada satu aspek lagi dari imajinasi beliau yang belum di eksplor… Tanaman yang berbicara.

Speak to me, Nature…

Alam mendapat seorang messenger berupa Yayoi Kusama, yang mengakui pernah mendengar tanaman berbicara. Sejujurnya, ini mungkin saja sekarang jika kita menemukan alat untuk menerjemahkan keinginan si tanaman (which currently… we only have a prototype). Tetapi, Yayoi mendengar tanaman berbicara saat ia masih anak kecil… Sebelum ada teknologi ini.

Kusama sangat senang dengan Labu (fakta samping, lukisan pertama miliknya, adalah lukisan labu dengan titik-titik polkadot), dan sepertinya, Labu adalah juara 3 di hatinya, sesudah titik dan cermin. Bahkan labu buatan beliau masih harus ada titik-titik polkadot khas Kusama, agar kita tahu itu karya milik siapa ๐Ÿ˜‰

Pada penghujung pameran, kita bertemu dengan beberapa patung tanaman buatannya, yang… Ha, hold that thought.

Selain pahatan dan lukisannya yang sesuai dengan tanaman berbintik, Kusama sering memberikan satu dua selipan bentuk atau corak tanaman di lukisan infinity net atau lukisan abstrak miliknya. Gambar di atas ini memiliki corak bunga.

Dan, jika reader bingung, foto merah di atas, sesuai dengan gambar pertama yang reader lihat di artikel ku hari ini… ๐Ÿ˜‰ Gotcha! Sukses menebak? Try this then…

 

Lukisan ini memiliki corak warna yang sesuai dengan salah satu patung di atas, dan seharusnya, hanya dalam sekilas mata, pembaca tahu yang mana…

Tampak mirip kah?

Indah kan?

Hehehe…

Renungan.

One Man’s Junk, is Another Man’s Treasure.

Coba bayangkan setiap hari, kamu harus menggunakan kacamata baru dan melihat dunia dari sudut pandang baru. Mungkin kamu akan lebih dari lelah… Tetapi, tentunya, kita harus mau melihat dunia dari sudut pandang orang lain… Jadi, mari kita intip sudut pandang beberapa pengunjung museum…

  • Instagram Slave
    • Bagi para Instagram Slave, mungkin semua karya seni di atas hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan like, ataupun follower, atau mungkin story yang bagus, atau DP yang bagus untuk WA (Oke, ngaku dulu dikit, aku ganti DP aku pake foto infinity room, peace). Sebuah karya seni hanya sebatas… momen itu saja, dan hanya alat. Layaknya buruh, atau mesin pabrik yang menghasilkan sebuah produk.
  • Museum Addicts
    • Bagi para orang yang kecanduan museum, atau mungkin, penggiat museum… Mereka melihat dan mampu mengapresiasi tiap pameran. Belum tentu mereka bisa melihat apa arti atau intisari dari tiap karya, tetapi, hampir bisa dipastikan bahwa, seharusnya, mereka bisa respek dan mau ikut menjaga karya museum tersebut. Setiap pameran adalah bagian dari sejarah yang perlu dijaga, layaknya sebuah artifak, atau seorang… umm, aktor? mungkin? Tentunya, untuk dilihat, dan dinikmati.
  • Artists, Dreamers
    • Bagi para seniman dan juga para pemimpi… Mereka akan melihat dan memanfaatkan tiap karya seni untuk tentunya, melakukan kegiatan seni, serta menikmati satu dua hal. Mereka akan senang, terinspirasi, serta mereka juga akan menjaga dan menghormati tiap karya seni. Mereka juga akan berkontemplasi dan menimbang, melihat setiap karya dari banyak sudut pandang. Tiap karya berperan sebagai buku, dan sebagai mentor bagi mereka.
  • Yayoi Kusama
    • Membayangkan semua seni ini dalam mata Kusama… Aku sejujurnya merasa bahwa, bagi Kusama sendiri yang mengakui kegilaannya, tiap karya seni miliknya hanyalah interpretasi dari tiap tindakan dan tiap kali ia melihat sesuatu. Dunia seni miliknya yang unik dan menakjubkan ini hanyalah sebuah perspektif sehari-hari baginya… Then again, who knows?

To think like a Genius makes you crazy, to think like an Idiot makes you confused… Think like yourself, it’s the only way to grow. -Azriel Muhammad

Eh, tapi jangan lupa ya… Bukan berarti kita tidak boleh berpikir dalam sudut pandang orang lain, tetapi jangan maksa saja…

Sampai, lain, waktu!

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. ๐Ÿ™‚

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

Bandung Dilanda Krisis Bahan Pokok!

Bandung Dilanda Krisis Bahan Pokok!

Judulnya bukan clickbait. Kalau memang dianggap clickbait, mohon maaf, tujuanku bukan membuat clickbait, hanya untuk membuat suatu artikel yang sedikit… urgent.

Serta tentunya, Komedik.

Bandung baru saja dilanda kebutuhan bahan pokok.

Entah kamu mau mencari ke Warung berjarak 50 meter dari rumah, ke minimarket berjarak 500 meter dari rumah, sampai ke supermarket terdekat… Kamu tidak bisa menemukan bahan pokok ini.

Dimanapun itu, Bandung sedang dilanda krisis. Krisis Beng Beng!

Dimulai Sejak Akhir Bulan Puasa

Malam itu dingin, sekitar pukul 19.00. Tepat sesudah shalat isya, aku dan teman-temanku yang sedang beritikaf, memutuskan untuk beristirahat dulu, lalu Tarawih. Sebelum tarawih tetapi, salah satu temanku bergumam. “Kayanya, Beng Beng Share-it enak nih”.

Jadi, aku yang sudah cukup senang diajak itikaf, dan diberikan makan berbuka serta sahur oleh masjid yang mengadakan itikaf tersebut, memutuskan untuk membelikan temanku itu beng-beng shareit. Namanya juga baik kan? Hehehe.

Jadi, aku berjalan, dan berjalan, malam ke 25 itu tidak terlalu dingin. Dari gedung sate, ada sebuah alfamart yang tidak terlalu jauh. Aku memasuki pintunya, maju mencari di setiap barisan makanan, di sana, di sini… tidak ada!

Jadi, aku menanyakan ke mas-mas yang menjaga kasir. “Mas, punten, Beng-beng share it nya habis ya?”

Ternyata betul, di alfamart tidak ada.

Ya sudah, mungkin di Supermarket ada.

Dengan lewat pintu belakang, dan memotong jalan sedikit, aku mencapai Supermarket dalam waktu sekitar 30 menit. Tidak ada juga… Haha. Di supermarket, tidak ada satupun beng beng share it… Mengapa? Oh tidak.

Menyusuri jalan Riau, aku mampir ke Indomaret, Alfamart lain, warung pinggir jalan, dan semuanya memberikan respon sama. “Habis.”

Dengan amat kecewa, aku mencoba keberuntunganku untuk terakhir kali, memasukki Circle K, dengan harapan mungkin saja ada.

KEBERUNTUNGANKU MASIH ADA! Aku sukses menemukan sebuah Beng-Beng Shareit, hanya tersisa satu lagi. Untungnya, aku masih memiliki cukup banyak waktu untuk kembali sebelum Tarawih. Dan aku pun mengantarkan parsel berharga itu sambil berceloteh…

“Guys, kalian gak bakal percaya aku ke berapa toko demi beli ini!”

Analisis ekonomiku mengatakan bahwa dengan naiknya keluarga berkumpul, cemilan enak dengan ukuran pas, harga ekonomis juga sangat cocok dinikmati bersama-sama keluarga. Jadi, sembako kesepuluh ini langsung cepat dihabiskan oleh orang-orang.

Lebaran

(FYI, ini di Jakarta, sedikit misinformasi di judul, mohon maaf)

Harapanku mencari Beng Beng masih ada, asa hampir hilang.

Malam Takbiran, aku diminta mencari cemilan untuk di hotel, yang bisa dinikmati bersama, tidak usah jauh-jauh, cukup ke Alfamart saja. Keluargaku sedang ngopi di dekat situ, tetapi aku diminta untuk membeli cemilan.

Micin, sudah ada.
Air, sudah ada.
Micin jenis lain? juga ada.
Apa yang kita kehilangan?
Gula! Manis-manis!

Alhamdulilah! Masih ada Beng-Beng Share-it! Hanya tersisa satu lagi saja, langsung, aku berlari dengan bahagia ke barisan itu, deretan coklat lain tidak menggoda, tetapi aku mencomot satu saja, dan itu adalah satu-satunya Beng-Beng yang tersisa, baik yang share it, atau yang besar.

Hari H lebaran, tidak ada lagi satupun Beng-Beng ketika aku mampir ke alfamart.

Sepertinya, semua yang tersisa sebelum Beng-Beng kehilangan semua driver pengantarnya, telah mudik. Stok telah dihabisi oleh orang-orang, dan sembako kesepuluh ini, telah habis.

Sesudah Lebaran

Bandung, baru saja Sabtu kemarin. Aku dan Ibuku mampir terlebih dahulu untuk membeli nasi goreng untuk makan malam. Tempatnya penuh, aku bosan. Untungnya, ada 3 koin 500 perak dalam kantongku. Cukup untuk membeli satu beng-beng saja.

Aku keluar, menghampiri warung yang berada tepat di sebelah restoran nasi goreng penuh tersebut. Tidak ada. Beng-Beng telah habis, sejak Lebaran… Beng-Beng sudah tiada.

Oh tidak.

Mengapa? Mungkin, hanya di warung ini saja, kupikir. Diriku berjalan ke warung di sebelahnya, tidak ada juga…

Bandung sudah resmi berada dalam sebuah krisis. Krisis Beng-Beng. Semua warung dalam radius 200 meter ++ dari restoran nasi goreng itu tidak ada satupun yang memiliki Sembako kesepuluh. Selamat tinggal temanku, ku akan merindukanmu.

25 Juni, hari ini.

Diriku masih menginginkan Beng-Beng.

Aku berjalan, baru saja sekitar 1 jam yang lalu. Menghampiri warung di ujung jalan rumahku, tiada.

Aku berjalan lagi, mendekati masjid, warung tepat di sebelah masjid, tiada.

Terus saja, aku berjalan, berjalan dan berjalan. Sudah tiba di sebuah minimarket, aku bahkan mencoba 3 minimarket berbeda. Tidak ada satupun yang ada.

Dimana Beng-Beng! Aku merindukanmu!

Kesimpulan

Maaf, penulis sedang sedih. Ia menginginkan sembako kesepuluhnya segera.

Beng-beng, dimana kau?

Sampai lain waktu… T-T

Book Memoir: Minggu Tiga

Book Memoir: Minggu Tiga

Judul serial ini dirubah menjadi Book Memoir untuk memberikan kesan… classy. ๐Ÿ˜›

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan 😉

Selamat menikmati!

Selama itikaf, aku mungkin mengurangi dosis buku. Oleh karena itu, buku ini berisi buku yang dibaca selama 2 minggu kemarin, dikarenakan aku tidak membaca buku (selain quran) selama 12-17 Juni. Jadi, buku disini adalah buku yang dibaca selama 5-11 Juni. Dengan pengecualian 7 bab terakhir dari salah satu buku yang kubaca, baru aku bereskan pukul 1 pagi, hari ini.

Jadi, minggu ketiga ini berisi buku yang kubaca ketika aku sempat tidak aktif. Selamat menikmati!

Daftar Buku

Senin, 5 Juni, sampai Senin 11 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Meskipun hanya dua buku, salah satu buku yang kubaca mencapai… *tarik nafas* 12000 loc. Oke, sebenarnya aku tidak baca 12000 loc-nya secara utuh mengingat sekitar 7000 loc dari 12000 loc itu merupakan komentar, dan aku mungkin hanya membaca sekitar… setengah dari komentar editor dan penerjemah. Kurang lebih, 8500 loc.

Ditotalkan, secara kasar aku mencapai 13000 loc, ini berarti kecepatan membacaku bertambah sekitar 1000 loc per minggu. Setiap 20 loc setara dengan 1 halaman buku berukuran 13X20 cm, jadi aku membaca sekitar 650 halaman. (aku membaca format Mobi dengan kindle)

Aku sebenarnya tidak terlalu banyak speedreading kali ini, karena bukunya sangat mudah dinikmati, dan terlalu membingungkan serta padat untuk dibaca dengan cepat.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Life of Pi karya Yann Martel (4500 loc)
  • Dante’s Divine Comedy, Part 1, the Inferno. Karya… Dante, terjemahan dan komentar dari Jean Hollander, seorang dosen yang secara eksklusif memberikan kuliah pada puisi tulisan Dante. (8500 loc)

Life of Pi

Mungkin film nya cukup menarik untuk ditonton, tetapi buku ini akan memberikan gambaran dan pesan yang lebih tepat kebanding filmnya.

Sebenarnya aku membaca Inferno sebelum Life of Pi.  Tetapi aku hanyut diantara banyaknya metafora dan simbolisasi dengan puisi tulisan Dante (dengan komentar yang lebih panjang dari bukunya sendiri), jadi aku akan menjelasakan dan memberikan opini mengenai Life of Pi sebelum Inferno.

Jadi, seperti pembaca mungkin ketahui dari film-nya, Piscine Patel adalah seorang remaja “biasa”, dengan kedua orangtua yang memiliki sebuah kebun binatang di India.

Dari awal buku, Piscine (atau Pi, karena dia dibully dengan diberikan julukan Pissing) menjelaskan dirinya sebagai remaja yang biasa, tetapi yang menikmati hewan dan perhewanan. Selama ia masih di India, ia menemukan banyak agama, yang menurutnya pada intinya memiliki kepercayaan yang sama.

Sebagai seseorang yang hidup di India, kehidupannya dipenuhi dengan variasi agama, ada orang Muslim, ada orang Katolik, ada orang Kristen, serta orang Hindu tentunya. Tidak seperti remaja pada umumnya tetapi, Piscine menganut ketiga agama itu, dan ia menyadari bahwa dasarnya ketiga agama memiliki tujuan yang sama, untuk mencintai tuhan. Hanya saja, ritualnya berbeda.

Selama ia masih di India, Yann Martel membawa kita untuk melihat coexistence serta kehidupan mendasar Pi, yang mampu membuatnya tetap teguh dan akhirnya selamat dalam perjalanannya.

Skip saja, kita langsung dibawa ke lautan atlantik. Dimana Pi dan keluarganya harus pindah ke Toronto. Nasibnya di kapal sangat-sangat tidak beruntung. Ia sampai-sampai tersangkut dalam sebuah kapal penyelamat bersama Zebra, Orangutan, Hyena… dan Harimau.

Oh, kapalnya tenggelam ya.

Selama ia mengapung tanpa henti di lautan, ia menemui cukup banyak hal, semua hal yang ia temui disini merupakan simbolisasi ke sebuah situasi di dunia nyata, dan juga ke konflik batin si tokoh utama.

Sebagai contoh utama, Richard Parker, Harimau yang mengusir Hyena (Hyena tersebut juga membunuh Zebra dan Orangutan ya) tersebut, dan juga Harimau yang menjadi hiburan Piscine, serta tantangannya adalah sebuah simbol ketakutan, dan juga kehampaan.

Konflik dalam kapal tersebut yang membunuh si Zebra, Orangutan dan Hyena juga adalah sebuah simbol kepercayaan seseorang. Pada umumnya, seseorang akan harus memilih sebuah kepercayaan. Bukan berdasarkan amarah (Hyena), bukan berdasarkan cinta (orangutan), dan juga bukan karena keterpaksaan (Zebra). Jika seseorang memang harus memilih kepercayaan, (kecuali memutuskan untuk tidak percaya agama apapun), ia akan memilih berdasarkan ketakutan.

Buku ini melukis bagaimana seseorang mampu selamat dari suatu tragedi, dan buku ini juga sukses mengisahkan konflik batin yang “umum”, dengan sebuah metafora, menutupinya dengan gambar yang mampu diambil secara harfiah.

Secara keseluruhan, Buku ini adalah opsi yang baik untuk belajar perumpamaan, serta alegori mendasar dalam sastra. Bukunya sangat bagus, dan tentunya juga cukup menarik dan modern, karena tentunya buku ini baru ditulis di tahun 2001.

Dante’s Inferno

Ini buku bagus. Tapi membingungkan.

Dari mana aku mulai… Heeeuh.

Buku sebelumnya merupakan contoh sangat baik untuk metafora yang bisa diambil secara literal. Life of Pi super cocok untuk pemula sastra. Dante’s Inferno adalah opsi yang ratusan kali lebih menarik, serta, jika bicara religius… juga lebih religius. Brutal? Iya, Dante juga lebih brutal.

Nah… The Inferno adalah sebuah puisi, berisi 34 part, chapter, atau tepatnya untuk puisi, Canto. (Kanto? Mungkin untuk Bahasa Indonesia).

Jadi, buku ini sebenarnya bukan opsi terbaik untuk yang tidak siap mendapatkan bayangan kejam, dan tidak bisa dihapuskan dari kepala, selain itu, aku tidak menyarankan buku ini jika tidak ada niatan sedikit pun untuk mempelajari sedikit budaya nasrani.

Jadi, sejujurnya aku tidak akan mengerti buku ini menjelaskan apa jika tidak ada sedikitpun komentar dari Jean Hollander. Mengapa? Hehehe. Jadi, Inferno ini penuh dengan ratusan metafora, serta bahasa yang dengan sengaja dibuat untuk tidak bisa dicerna oleh orang-orang yang tidak ingin sedikitpun berimajinasi.

Selama Dante berusaha masuk dan melihat ke dalam neraka ini, ia ditemani seorang penyair asal romawi, namanya Virgil, penulis mitologi tentang Aeneas, pahlawan Romawi pertama, yang juga memulai kerajaan dan kekaisaran maha kuat tersebut.

Nah, jadi, tentunya gurunya Dante bukan orang yang main-main. Seorang (atau err, arwah dari) penyair terbaik dari kerajaan terkuat sepanjang masa tentunya mungkin salah satu guru terbaik yang seorang penyair bisa dapatkan.

Pada dasarnya sepanjang epik ini, Dante berusaha mengemas nasib orang-orang yang membuat sebuah dosa. Apapun dosanya, seberapa baik orangnya, jika ada sedikitpun dosa, maka ia akan masuk Inferno. Hukuman yang diterima oleh para pembuat dosa ini juga cukup kejam, dan disesuaikan secara spesifik ke dosanya. Misalnya, para orang serakah (Greed) dipaksa untuk berjalan dengan menggendong uang yang sangat berat.

Aku sejujurnya TIDAK menyarankan orang untuk membaca puisi/buku ini dengan santai. Jika anda memiliki niatan untuk membaca buku ini, harap lakukan dengan serius. Terlalu banyak adegan dan bayangan kejam yang tidak akan bisa ditoleransi oleh warga Indonesia.

(Tapi, hngg, buat apa orang baca buku ini kalau tidak diwajibkan oleh kampus lagian)

Selain banyaknya budaya nasrani dan kristianisme di puisi ini, juga ada guratan mitologi Romawi dan Yunani di buku ini. Misalnya, ada Raja Minos di tingkatan tertinggi neraka, untuk menentukan siapa yang dimasukkan ke tingkat apa. Juga ada Cerberus untuk menghukum para orang-orang yang rakus (Gluttony).

Secara keseluruhan, aku tidak bisa bercerita banyak mengenai Inferno tanpa melanggar beberapa kode etik pribadi mengenai apa yang layak dituliskan di blog ini dan apa yang tidak. Jika aku harus mengemas buku ini dalam sebuah kalimat pendek…

Buku ini terlalu membingungkan. Kebingungan yang didapat dari membacanya adalah alasan buku ini sangat bagus.

Terima kasih Professor Jean Hollander untuk E-Book Dante’s Inferno yang gratis dan lengkap dengan komentar yang membantuku mengerti apa yang sedang terjadi dalam untaian kata tulisan Dante Alighieri. Layaknya Virgil menuntun Dante dalam perjalanannya.

Kesimpulan

Jadi, sejujurnya perjalananku dalam Inferno tidak terlalu mulus. Namun, sangat beruntung aku dapat menemukan simbolisasi yang mirip, serta juga masih bisa ditarik benang merahnya dalam Life of Pi.

Hidup seperti itu (-_-“), jika kita kesusahan melakukan suatu hal, mungkin kita akan diberikan jalan lain yang mampu membuat hidup kita lebih mudah.

Oke, ini terkesan show-off.

Intinya, banyak jalan, banyak cara. Ingin belajar alegori? Bisa belajar ke Inferno! Bingung? Life of Pi saja! Itu dibiarkan ke kita untuk memilih jalan dan rute agar kita bisa mencapai yang kita ingin capai… dengan metode seefisien mungkin

Sampai lain waktu!

Wheel of Power: A Piece of Poetry

Wheel of Power: A Piece of Poetry

20 tahun yang lalu, Indonesia mengalami reformasi, dan sesudah kekacauan cukup brutal selama 3 hari, tepatnya 13-15 Mei… Kerusuhan ini membuat banyak orang paranoid, sekolah pun diliburkan (kayanya muridnya mah pada seneng sih) Tetapi, akhirnya pada 21 Mei, 1998, Pak Harto turun dari “takhta”-nya dari Istana Negara.

Menurutku sebuah kekacauan yang monumental seperti ini adalah sebuah momen pas untuk… Sebuah Puisi. Dalam bahasa Inggris tentunya. Puisi ini tentang reformasi dan perpindahannya kekuatan dalam sebuah kondisi politik… Selamat menikmati ๐Ÿ™‚

Wheel Of Power

By: Azriel Muhammad A.H.

A new leader rose to power
Control is what he sought
Their people feeling empowered
Smartly, he fought

From above, endless gazes rest
Issues, they attempt to solve
For a leader, truly knows best
With each obstacle, he evolves

Loved by his people
Respected by his rivals
Orders, echoed like a ripple
He triumphed every trial

Pointless it may seem
For fame, is followed with hate
And he becomes what people deem
His fall, is what people await

Frightened, he plans his move
For his fall must he evade
His worth must be proved
And his control doesn’t fade

His reign may seem short
And the wheel must turn
Revolutions, he must be alert
Or his power will be torn

Fear develops, hate grows
The riots have threatened all
Leaving his position exposed
Will he take his fall?

He mustn’t accept defeat
His homeland is in havoc
His ego is all that he needs to beat
Will he live a life so tragic?

Pride, kept him at his place
Never must he step down
But the future, he can’t race
And he must reach a sundown

When he’s not overthrown
Sooner, time will chase
The law will leave him dethroned
And his fate is beyond the gate

Accept this fate, Shall he?
He must make his move! Fast!
For this time, it is to be
A time that’s truly the last

The wheel has spun
A new leader has surfaced
Repeating what’s been done
Ready to promise his service

Kesimpulan

Semoga artikel dan puisi ini dapat dinikmati!

Cloud of Fear: Piece of Poetry

Cloud of Fear: Piece of Poetry

Selamat hari Senin… Hal buruk, banyak sekali hal buruk telah terjadi di tanah air tercinta di beberapa hari terakhir. Terrorisme sudah marak, dan membuat setiap detik di hari-hariku tegang, dan ketakutan sudah tersebar dimana-mana. Aku berharap bahwa orang-orang yang merencanakan terrorisme ini menyadari bahwa mereka sangat kejam.

Esok hari akan ada artikel tentang rantai informasi, dan perannya dalam revolusi, atau mungkin penggulingan sebuah pemerintahan, tapi untuk hari ini, puisi saja ya.

Oh, puisinya dalam bahasa inggris ya… Selamat menikmati!

Intro Bahasa Inggris:

Good evening to you on this Monday. Terrible things have been happening throughout Indonesia in these past few days. Terrorism is a canon, rather scary, and makes my day more tense… Fear is all over the place. I truly hope that those people would eventually realize that what they’re doing is terrible… No, I’ve no better wish.

I have a long article planned tomorrow, about the way information and networks could cause in a massive revolution, and overthrowing of a government, but for now… I’ll settle for a poetry. (note that the article would be written in Bahasa).

Enjoy!

Cloud of Fear

By: Azriel M.A.H.

For a moment, there was peace
Light flashed and chaos boomed
Notice! Silence ceased
Now it seems, we’ll be doomed

Destruction is all that seems
Flames, rubble, dust
Desperately, out comes a scream
Is this the world you trust?

No time can you question
What horrors lie beneath
This insane obsession
These puzzles are incomplete

Reveal to me what’s true!
Darkness is the answer
Clouds of fear are in your view
Inside it, must lie a disaster.

 Flames, are what’s apparent
Dancing inside the smoke
Blaze! Thoughts so abhorrent
Burn and consume all with a stroke

Blinded by the cloud
Doubtfully you live your life
Tension and fear shrouds
With it, hope shall strife

When everything seems glum
Once more flames struck
Your time will come
It’s only a matter of luck

Terror strikes, panic spreads
Flames consume and burn
Truly, the world dreads
Are you just going to mourn?

Move! Gather your forces!
Stand up and fight!
Face this threat so enormous
And put out every last light

Clouds of fear and judgement…
Shall blind us no more!
Together, we will be triumphant
For unity lies in our core!

In Conclusion

Today’s conclusion is simple… Society has its problems, that’s a cold hard truth. It is however up to us to stand up, unite and fight against it. Don’t let a chaotic, tense and fearful condition cause more chaos and conflict. Make this chaos an opportunity to unite once more, and fight (Fight is a metaphor for like, be together, don’t exactly fight) the way heroes fought for our independence!

Until next time!