Category: Jaja

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Tidak perlu disangkal lagi, Indonesia memiliki budaya literasi yang buruk. Sayangnya kata relatif tidak mudah untuk diberikan, karena kita berada di posisi ke 70 dari 74 negara, dan untuk patokan negara maju, angka itu buruk.

Mau dilihat dari beberapa sisi pun, sepertinya sangat sulit untuk menaikkan angka literasi milik kita. Jika kita mau membandingkan angka ini secara langsung dengan negara-negara berkembang lainnya, hampir tidak ada gunanya melakukan hal tersebut, karena kita akan jauh di atas mereka. Mayoritas negara di Afrika memiliki persentase literasi di bawah 75%, dan kita sudah mencapai angka 81% (negara-negara maju berada di angka 98% ke atas), jadi, apa sisi positif yang bisa kita ambil dari angka tersebut?

Tentunya, sisi positif termudah untuk di ambil adalah, angka literasi kita selalu naik, dan tidak akan turun begitu saja, tetapi, pada suatu titik, kita akan mulai untuk berpikir. Untuk apa kita punya angka literasi tinggi, jika budaya milik kita tidak menyokong literasi?

Bingung kah? Baca lebih lanjut saja yuk.

Budaya Baca vs Budaya Lisan

Kasarnya, tiap negara memiliki budaya baca dan budaya lisan. Indonesia lebih kuat di budaya lisan, dan sejujurnya, kedua budaya ini saling silang dan menolak satu sama lain.

Untuk melihat, mari kita bandingkan.

Budaya Baca

  • Terbiasa menerima informasi dari tulisan sejak zaman dahulu.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Bisa lebih mudah untuk kritis.
  • Tidak akan begitu saja mau membantu orang.
  • Dapat lebih tenang dan mampu mengatur emosi.

Budaya Lisan

  • Menerima informasi dari mulut ke mulut alih-alih dari tulisan.
  • Mudah untuk berkumpul dan lebih supel.
  • Lebih cepat menerima fakta.
  • Mudah bergotong royong.
  • Mudah terbawa perasaan.

Budaya baca di negara-negara luar mempermudah orang-orangnya untuk berhenti dan berpikir. Mempermudah orang-orang untuk menyerap informasi dan mencernanya alih-alih langsung menelannya.

Di negara-negara dengan budaya lisan yang kuat, informasi semua berupa opini, dan tidak begitu faktual. Perlunya berkumpul bersama membuat negara-negara dengan budaya lisan kuat juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Semua orang lebih kenal dengan satu sama lain, semua orang juga lebih ramah.

Sayangnya, dengan mendapatkan keramahan, kehangatan, dan kedekatan antar orang, ada hal negatif yang tercipta. Perasaan dekat tersebut membuat kita mudah percaya dan langsung menelan opini yang diberikan.

Pada titik inilah, budaya baca dibutuhkan untuk menetralkan keinginan kita menelan fakta secara langsung.

Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah kemampuan yang dibutuhkan, dan sayangnya kita sangat kurang dalam bidang ini.

Untuk bisa berpikir kritis, kita cukup melakukan dua hal. Satu adalah berhenti, dan kedua adalah berpikir. Berpikir kritis tidak jauh berbeda dari berpikir, dan aku yakin siapapun yang cukup pintar dalam mencerna informasi dapat melakukannya.

Kurangnya bangsa dengan budaya lisan yang kuat adalah kemampuannya untuk berhenti dulu untuk mencerna. Terkadang, orang-orang yang baru saja menerima informasi dari luar, (terutama jika dalam kondisi tatap muka) harus mencerna perasaannya terlebih dahulu. Jika perasaan orang tersebut cocok dengan informasi yang diberikan, ia akan mudah setuju. Sebaliknya, jika perasaan orang tersebut tidak cocok dengan informasi yang diberikan, ia bisa langsung menolaknya.

Perasaan mengendalikan otak kita dari menggunakan logika dan kita tidak sempat berhenti. Kita keburu termakan perasaan, dan perasaan tersebut menjadi awan yang menghalangi logika kita untuk sampai ke kesimpulan yang benar.

Ini alasan kita bisa dengan mudah terjebak dalam frame, serta hoax yang diberikan orang-orang pada kita. Emosi kita mengambil alih fungsi dan fokus kita, dan kita tidak diberikan ruang untuk berhenti. Kita langsung gas ke kesimpulan sesudah mobil (analogi untuk logika) kita diberikan Nitrogen Oksida (atau fakta), rem kita tidak berjalan lagi.

Melodramatisme

Bagian ini menerima editan dari draft awal artikel. Mungkin sekitar 50% dari kontennya diubah (termasuk judul dan istilah karena aku baru saja mendapat istilah yang tepat)

Melodramatisme. Sejak zaman Yunani, ada banyak sekali drama yang didesain untuk orang-orang (maaf) rendah. Jika para Raja, pedagang, filsuf, penyair, dan para petinggi negara mengikuti teater Dionysus, berisi drama dengan konten kompleks dan mengharukan, para warga diberikan cerita mulut ke mulut yang hanya berisi drama saja tanpa konten kompleks yang perlu dipikirkan. Penikmat melodrama menginginkan sensasi yang enak tanpa perlu mencerna informasi yang bergizi bagi mereka.

Melodrama masih dijumpai sampai sekarang, dalam bentuk Drama Korea yang arus ceritanya njelimet tapi mengharukan, dan sinetron yang juga mengharukan tapi ceritanya… Ya, tahu sendiri lah.

Melodrama juga, dapat dibagi menjadi beberapa level. Ada melodrama paling rendah, seperti sinetron, dan juga ada melodrama yang hanya menjadi melodrama karena persepsi orang-orangnya, seperti film Keluarga Cemara.

Sensasi haru, amarah, gembira, dan semacamnya mudah sekali memengaruhi judgement seseorang. Dan jika orang bisa menikmati melodrama yang hanya memanfaatkan sensasi sebagai nilai jual, maka akan mudah bagi orang-orang tersebut untuk terpengaruhi oleh hoax dan berita palsu.

Bangsa yang melodramatis tidak akan membuang waktu untuk berhenti, dan akan langsung saja menerima suatu fakta secara bulat, tanpa berpikir dua kali.

Dan menyimpulkan.

Bukan kesimpulan kali ini, aku hanya akan menyimpulkan, juga jangan lupa untuk simpulkan artikel ini sendiri ya.

Kabar Buruk.

Sayangnya, dari masih banyaknya bangsa melodramatis seperti beberapa negara Asia tenggara lainnya, budaya negara kita mendapat campuran dari bangsa melodrama, dan bangsa lisan.

Akan sangat mudah bagi seorang warga Indonesia untuk menerima suatu fakta palsu, atau suatu kebohongan, atau janji seseorang yang tidak mungkin dikabulkan dan semacamnya.

Untuk memperburuk ini, dengan senjata melodramatisme sedikit, dan juga dengan fakta bahwa kita memang (mohon maaf) kurang pintar dalam mencerna info karena negara kita memiliki budaya lisan… Hoax akan mudah memakan kita. Just make it dramatic, and people would believe it.

Kabar Baik.

Ada untungnya kok.

Budaya lisan yang mudah percaya dan supel ini mampu membuat orang-orang mudah percaya dengan ikon. Kita akan dengan mudah percaya perkataan seorang… (misal) menteri, kebanding teman.

Dengan memanfaatkan ikon untuk membawa kabar baik, jujur, tidak begitu negatif dalam memberi tahu sesuatu, kita akan percaya.

Selain itu, bangsa kita juga mau bergotong royong dan membantu, serta informasi juga dapat mengalir dengan lebih cepat, bahkan sebelum adanya internet informasi dapat mengalir dengan cepat, apalagi sesudah adanya internet.

Kabar Buruk dari kabar baik.

Oh tidak.

Kabar baik tadi juga ada kabar buruknya.

Jika seorang ikon mau memperdaya seseorang dengan berita palsu, orang-orang kita juga akan menerimanya dengan cepat.

Karena mudahnya percaya, dan mudahnya informasi mengalir, jika sedikit saja limbah pabrik, atau berita palsu dituangkan dalam air sungai yang jernih, seluruh sumber mata air dari gunung akan rusak dengan cepat.

Ya, sayangnya, kekuatan kita dalam cepat menyebar dan cepat percaya serta sangat-sangat mudah terlibat dengan orang lain juga bisa jadi kelemahan jika ada yang menyalahgunakan.

Jangan salahgunakan kekuatan dan logika anda ya!

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Jadi, pagi ini, aku perlu membuat suatu tulisan, dan sejujurnya, aku sedang bingung, apa yang bisa kulakukan. Aku berusaha mencari ide, namun tidak dapat, dan, ya sudah, aku mau menulis mengenai taktik-taktik sepakbola yang digunakan olehku dan timku ketika latihan.

Taktik yang dibahas disini bukan taktik yang sudah diaplikasikan, melainkan masih bersifat teoretikal, dan tidak memberikan nama pemain atau tim yang memanfaatkan taktik ini.

Selamat menikmati.

Catatan

Aku suka menghabiskan waktu luang ketika tidak ada serial untuk ditonton, atau pop culture buzz yang nongol di internet dengan mencari dan mengintip beberapa taktik-taktik sepakbola. Untungnya, tidak ada orang yang membuat artikel seperti ini dalam bahasa Indonesia, jadi, kurasa tidak ada salahnya jika aku membuat serial ini.

Gegenpressing 101

Gegenpress adalah taktik yang sangat mudah dijelaskan.

Pada dasarnya, Gegenpress berarti memanfaatkan dua pemain terdekat dengan bola untuk lari dan menekan pemain yang membawa bola. Sesederhana itu.

Pro Gegenpress

Jika situasi di atas dapat dilakukan dengan benar, pemain-pemain lini depan yang biasa bermain di garis yang cukup tinggi dapat menyerang dengan cepat, dan memaksa pemain bertahan lawan bergerak dengan cepat, sehingga membuka ruang.

Hampir dapat dipastikan bahwa kedua bek tengah harus siap untuk berlari dan mengintersepsi bola, ataupun melakukan marking. Jika ini dilakukan, akan ada ruang yang diciptakan, dan dapat menciptakan skenario seperti ini.

Dengan adanya banyak opsi untuk menyerang, pemain nomor 9 cukup memberikan bola ke pemain nomor 7, 8, 10, atau 11, dan dari situ, setidaknya sebuah kesempatan dapat tercipta.

Selain itu, Pro terbesar gegenpress adalah efek psikologis yang diberikan ke lawan-lawan tim. Jika ada tekanan dari pemain yang banyak (secara harfiah, dan figuratif), akan ada kebingungan dalam menentukan arah bola, dan jika passing dilakukan dengan labil, bola akan mudah dimenangkan kembali, dan serangan balik akan tercipta.

Kontra Gegenpress

Sayangnya, meski taktik ini mudah sekali untuk dijelaskan, penerapannya sangat sulit…

Butuh fokus, stamina, dan dia memiliki resiko yang sangat besar semakin banyak orang yang dimanfaatkan untuk menekan. Umumnya, Gegenpress menekan menggunakan dua orang, tetapi pada suatu titik, berdasarkan taktik yang lawanmu lakukan, bisa ada 4-5 orang berusaha memenangkan bola dari pemegang bola. Jika itu terjadi…

Seperti kita lihat di sini, karena pergerakan pemain menekan ke arah bola… Jika pemain lawan cukup tenang, mereka bisa memberikan bola ke pemain yang sekarang kosong.

Jika bola sudah sampai ke suatu pemain, pada umumnya, akan ada lebih banyak pemain yang dikorbankan untuk mengejar bola.

Kondisi Pressing berat ini dapat membiarkan setidaknya satu lawan tanpa ada pemain yang melakukan marking, dan ini bisa membuka ke situasi satu lawan satu dengan kiper jika pemain-pemain lain tidak cukup fokus atau disiplin untuk melakukan marking.

Tentunya board di atas sangat-sangat teoretikal, masih ada beberapa pemain yang belum melakukan marking, juga ada lawan yang belum di mark dengan benar, tetapi, dalam beberapa kondisi, Gegenpress dapat membuka situasi seperti ini.

Taktik untuk digabungkan dengan Gegenpress

Gegenpress sendiri tidak cukup untuk dimanfaatkan sebagai taktik standalone.

Bek Sayap

Biasanya Gegenpress digunakan di tim-tim yang memiliki bek sayap yang mampu maju mundur dan membantu serangan serta menjadi orang tambahan untuk membantu merebut bola di tempat yang tinggi.

Anggap saja, serangan berujung gagal, dan kiper melempar bola dengan cepat ke pemain nomor 4.

Pemain nomor 4 dapat menerimanya dengan mudah, dan sebelum ada tekanan lebih lanjut dari pemain nomor 9, 8 atau, 10, ia memberinya ke pemain nomor 8 yang menemukan ruang kosong.

Melihat ini, 3 pemain langsung menekan pemain nomor 8 sebelum ia bisa mengeluarkan umpan.

Jika pemain nomor 8 menerima tekanan hanya dari pemain nomor 8 dan 11 saja, besar kemungkinan akan ada ruang yang dapat dimanfaatkan unutk memainkan operan lagi. Bek kanan (3) yang bermain di posisi tinggi dapat membantu merebut bola dan membantu menyerang dari sisi sayap, dengan pemain nomor 8 dan 11 masuk ke kotak penalti, dan mencari posisi untuk mencetak gol

Tentunya jika 3 pemain telah dikorbankan, dan bola masih lolos, kondisi buruk dapat dijamin terjadi. Pemain nomor 7 berada di posisi kosong, dan dengan pemain nomor 9 dan 11 untuk membantu serangan, jika pressing ini tidak cukup, hanya tersisa bek tengah dan gelandang bertahan untuk memotong umpan.

Cara Mengatasi Gegenpress

Sejujurnya, aku tidak tahu.

Taktik ini bukan taktik yang dapat diatasi dengan taktik lain. Cara terbaik untuk mengatasinya cukup dengan ketenangan dan kemampuan memberikan operan yang rapih alih-alih dengan taktik.

Jika Gegenpress dengan 3 orang atau lebih tidak dapat memenangkan bola kembali, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan tim mengenai hal tersebut. Terlalu banyak ruang akan terbuka begitu saja jika bola sudah melewati orang yang ditekan.

Kriteria.

Taktik ini sulit digunakan karena butuhnya kriteria fisik yang berat.

  • Stamina yang cukup
  • Kecepatan mengejar bola, dan pemain bertahan yang berada di posisi tinggi
  • Kedisiplinan dan kesabaran dalam menentukan kapan menekan, dan kapan tidak perlu menekan.
  • Marking yang bagus dan kemampuan memotong operan yang baik
  • Kemungkinan besar, butuhnya kiper yang handal dalam kondisi 1 lawan 1 jika tekanan mengakibatkan ruang terbuka yang banyak.

Meski kriterianya banyak, Gegenpress dapat menjadi taktik bertahan yang dimanfaatkan untuk menyerang jika pemain-pemainmu cukup untuk melakukan hal tersebut.

Tim yang menggunakan:

  • Liverpool F.C.
    • Liverpool mungkin tim terbesar yang menggunakan taktik ini. Juergen Klopp membuat sistem dengan pemain-pemain cepat yang memiliki stamina bagus untuk melakukan taktik melelahkan seperti Gegenpress. Mulai dari tekanan di depan oleh striker tengah Firmino, gelandang-gelandang yang mampu naik turun barisan dengan cepat, dan bek-bek tercepat di Eropa, Gegenpress di Liverpool bisa dibilang berjalan sangat sukses.
  • Borussia Dortmund di bawah Juergen Klopp
    • Jika membahas Gegenpressing, Juergen Klopp mungkin pionirnya. Baik Liverpool atau Dortmund, keduanya menjadi tim yang sangat-sangat fokus ke passing jarak dekat dan kecepatan serta stamina. Di bawah Klopp, Dortmund fokus ke permainan menekan dari depan dan passing rapih oleh Gotze atau Gundogan, sebelum bola sampai ke Lewandowski dan masuk ke gawang. Dortmund di bawah Klopp bermain di posisi tinggi, dan tidak mudah terkena serangan balik. Tekanan yang konstan dan menyebalkan serta pertahanan rapat dan bek-bek muda serta cepat dalam Mats Hummels dan Neven Subotic memberikan lawan-lawan Dortmund sangat sedikit ruang untuk menyerang.
  • Bayern Munich di bawah Pep Guardiola.
    • Sebelum Bayern sekarang yang memiliki pemain-pemain yang hanya meluangkan waktu untuk pensiun di lini depan dan belakang, Pep Guardiola memanfaatkan Gegenpress dan mendominasi Liga Jerman dengan taktik tersebut. Meski Pep tidak memiliki striker-striker yang sedisiplin trio striker Liverpool dalam bertahan, Robben dan Ribery juga melakukan tugas bertahan yang cukup baik. Inti Gegenpress Guardiola berada di gelandang-gelandangnya. Guardiola memiliki Thiago Alcantara, Javi Martinez, dan Xabi Alonso yang mampu mengejar bola dengan cepat.

Kesimpulan

Komitmen manajer untuk menggunakan sistem Gegenpress cukup berat, terutama mengingat kebutuhan pemain dengan fisik yang cukup kuat, pribadi yang disiplin (PSG sebenarnya memiliki kualitas pemain yang cukup untuk melakukan Gegenpress, sayangnya, tidak banyak pemain yang cukup disiplin untuk menjalankan sistem tersebut) untuk menjalankan sistem tersebut, jadi, tidak banyak tim dapat memanfaatkan Gegenpress dengan efisien dan baik.

Kasarnya, Gegenpress adalah taktik High Risk, High Skill, High Reward yang perlu pengaturan pemain dan pemanfaatan sempurna oleh pelatih untuk hasil paling efisien.

Sampai lain waktu!

Template tactical board dari tactical-board.com

Prabowo Menaikkan Gaji PNS? Cek Fakta.

Prabowo Menaikkan Gaji PNS? Cek Fakta.

Debat kemarin tampak cukup abstrak bagiku. Ya, sedikit disayangkan bahwa dari hasil mayoritas survei sebenarnya perdebatan antara kedua paslon tidak akan merubah terlalu banyak dari pemilih. Mungkin debat dapat mempengaruhi 12-18% dari data survei yang masih belum menentukan atau memutuskan untuk tidak menjawab.

Namun, dari debat kemarin, hal yang paling menarik bagiku ada di tiga aspek. Aku hanya akan membahas salah satu aspek tersebut, karena aspek ini yang dapat dipertanggung jawabkan dengan lebih mudah, dan lebih tepat.

Sejujurnya, berusaha menulis mengenai politik secara netral itu cukup sulit. Hampir tidak mungkin untuk menulis dari kedua sisi dengan framework netral, dan data yang dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu, aku hanya akan menulis dari sudut pandang satu paslon, agar framework yang kubuat tidak bertujuan membodohi, ataupun mengimplikasikan superioritas satu paslon ke paslon yang lain.

Rekap

Sedikit merekap, 3 poin debat yang menarik bagiku pada hari kemarin adalah…

  • Prabowo bilang akan menaikkan gaji PNS
  • Jokowi menyatakan bahwa adanya perbedaan pendapat antar menteri sebagai hal baik dan adanya korespondensi serta saling inspeksi yang transparan, bukti bahwa kinerja menteri memang ada
  • Jokowi menyindir kasus Ratna Sarumpaet. (ini lebih ke lucu bagiku, kebanding suatu konten yang solid)

Angka-angka dalam debat
Cek Fakta

Di bagian ini adalah angka-angka yang Bapak Prabowo, atau Bapak Sandiaga Uno sendiri sebut ketika ingin menaikkan gaji PNS + pejabat.

  • Prabowo menyebut bahwa Tax Ratio Indonesia yang dimanfaatkan untuk gaji PNS berada di angka 10% .
    • Fakta ini betul. Berdasarkan statik yang didapat dari pelacakan Nota Keuangan Kemenkeu, rasio pajak yang memang dimanfaatkan berada di bawah 10%. Tepatnya, ada di angka 8.91% pada tahun 2016.
    • Angka ini sebenarnya sudah cukup tinggi, mengingat bahwa sejak 2014, tax ratio yang dimanfaatkan untuk gaji PNS berada di rata-rata 9.32% . Pada masa jabatan SBY, 2004-2014, rata-rata tax ratio yang dimanfaatkan untuk gaji PNS berada di angka 8.92%
    • Ini berarti, ada kenaikan rata-rata 0.40%
  • Jika Prabowo menaikkan Tax Ratio ke angka 16%, total uang yang dihasilkan mencapai lebih dari USD 60 Milyar.
    • Pada tahun 2016, total pendapatan via pajak mencapai 102 milyar dollar. 16% dari angka tersebut adalah 16 milyar dollar.
    • Fakta ini salah.
    • Catatan: Maafkan menggunakan fakta 2016, kebanding 2017, atau 2018. Data yang ada hanya sebatas tahun 2016.
  • Seorang Gubernur dari provinsi (misalnya) Jawa Tengah mengelola provinsi yang lebih besar dari Malaysia
    • Luas Malaysia 330.803 Km kuadrat . Luas Jawa Tengah, 32.801 Km kuadrat.
    • Fakta ini salah
    • Mungkin yang Prabowo maksudkan adalah Malaysia tanpa menghitung laut, dan hanya negaranya saja, tanpa menghitung Malaysia Timur yang berada di pulau yang sama dengan Kalimantan… Dalam kasus ini… Luas Malaysia adalah 127.072 Km kuadrat
    • Sekali lagi, fakta ini… salah
  • Gaji Gubernur hanya 8 Juta
    • Gaji Gubernur berkisar dari 5.5 juta, sampai 9 juta.
    • Fakta ini tidak sepenuhnya salah mengingat pendapatan APBD provinsi membedakan gaji yang diberikan.
    • Selain itu, dalam konteks debat bahwa Prabowo menganggap gaji 8 juta sebagai kecil, dan “mewajarkan” korupsi karena kurangnya gaji dari seorang Gubernur. Kurasa meski ada angka meleset sedikit, konteksnya masih tepat, bahwa gaji gubernur (dalam mata Pak Prabowo) kecil.

Angka-Angka Teoretikal
Menghitung

Bagian ini akan menghitung serta mengecek beberapa konteks dan konten yang disindir Prabowo, meski tidak menyebutkannya, dan membandingkan apa yang Prabowo akan lakukan seandainya dia dilantik, dan angka yang didapat ketika ada korupsi.

  • Angka Angka total korupsi
    • Menurut ICW, laporan korupsi pada tahun 2016 telah mencapai angka 1.5 Triliun Rupiah. Dalam Dollar, ini mencapai angka 105 juta dollar .
  • Membandingkan angka 16% di atas dengan angka total korupsi.
    • Sekilas saja, angka 16%, yang berarti kenaikan dari 8.91% di atas, hanya lebih dari 16 milyar dollar.
    • Angka 16% itu hanya dihitung mentah-mentah saja, bukan dihitung dari selisih persentase kenaikan. Jika dihitung dari selisih 8.91% ke 16%, kenaikan 7.09% akan mencapai 7 milyar dollar, angka yang akan tampak insignifikan sesudah 7 milyar itu dipecah belah ke seluruh PNS dan pejabat. Makin insignifikan lagi jika dibandingkan dengan kerugian dari korupsi.
  • Total korupsi vs pendapatan pajak.
    • Satu hal lagi sebelum menyimpulkan… Pendapatan pajak tahun 2016, hampir mencapai 102 milyar dollar. Angka korupsi pada tahun 2016, sudah lebih dari 105 juta dollar.
    • Mungkin 16% dari 102 milyar itu (sedikit di atas 16 milyar) akan menjadi insignifikan di mata beberapa gubernur yang memang sudah berencana untuk melakukan korupsi jika terpilih. 105 juta dollar yang diambil dari korupsi terbagi ke beberapa narapidana, dan jika kenaikan gaji Pejabat serta PNS dipecah dan dibagi untuk seluruh PNS+pejabat kurang lebih mencapai angka 6 juta orang, dengan 4.5 juta PNS, dan 1.5 juta pejabat, dari angka tersebut, jika 16 milyar dollar dibagi ke 6 juta orang, gaji per PNS atau pejabat dapat menghasilkan angka 2666 dollar per orangnya
      • Tentunya ini hitungan yang tidak menghitung per pejabat, per pns, tingkatan, bonus, atau semacamnya.
    • Tapi, jika seandainya saja ada 1 juta pejabat yang berkorupsi, 16 milyar dollar itu akan menghasilkan angka 160 ribu dollar. Jauh lebih besar kebanding 2666 dollar.
      • Sekali lagi, ini terkaan yang kasar, namun, maksudnya harusnya tertangkap.

Kesimpulan dari data

Prabowo membuat cukup banyak blunder, dan tidak tampak untuk cukup memperhitungkan angka dengan cakap.

Menurutku, dan statistik yang tadi disuguhkan, sepertinya, orang-orang korupsi bukan karena gaji mereka kecil, atau karena mereka mengeluarkan banyak uang demi menjabat. Mereka melakukan korupsi murni karena mereka serakah.

Kenaikan gaji sepertinya tidak akan merubah itu, karena angka total korupsi saja lebih besar kebanding angka pendapatan pajak, sedangkan Prabowo hanya akan memberikan sepeser dari pendapatan pajak Indonesia yang sudah cukup banyak.

Apakah sistem dan solusi yang Prabowo berikan cukup realistis?

Sejujurnya, tidak. Dalam mataku, Prabowo menangkap bahwa orang melakukan korupsi karena mereka tidak menerima gaji yang cukup, bukan karena mereka serakah.

Angka-angka dan pengetahuan umum mengenai luasnya Malaysia vs Jawa Tengah saja menjadi sebuah kesalahan yang ia buat, bagaimana kita bisa mempercayai angka yang ia suguhkan pada kita mengenai finansial negara?

Sampai lain waktu!

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

Hanya 2 lagi sisa tulisan road trip yang perlu dibuat olehku sebelum membuat post kesimpulan, meski aku tertarik untuk membuat satu tulisan ekstra karena kayanya aku belum cukup meliput mengenai subjek ini.

Artikel hari ini akan membahas kisah hidup laksamana Cheng Ho dan bagaimana ia bisa menjadi laksamana di lautan. Akan ada sedikit bercandaan ala dikakipelangi yang menyodorkan teknologi zaman sekarang di cerita sejarah, namun mayoritas konten akan faktual, dan lebih serius, karena ini memang akan membahas dari sudut pandang sejarah.

Aku sudah berencana menulis tentang Sam Poo Kong dimana aku pertama menemukan fakta-fakta serta cerita mengenai laksamana ternama ini, dan tulisan ekstra yang akan aku buat akan menceritakan lebih banyak tentang kisah perjalanan Cheng Ho ketika ia sudah berlayar. Namun untuk kali ini, kita akan ceritakan kisah hidupnya sebelum ia menjadi laksamana.

Muslim Mongol

Cheng Ho lahir di tempat yang tepat, namun juga salah di saat yang sama. Ia lahir di Kunyang, sebuah daerah yang kecil di Yunnan, pada tahun 1371.

Jika ia bukan seorang keturunan Mongol dan tidak lahir di Yunnan, pada tahun dimana kerajaan Mongolia sedang diserang berulang kali oleh Dinasti Ming, ia tidak akan pernah menjadi seorang laksamana. Tetapi, karena ia masih anak-anak (Kunyang jatuh ke tangan Dinasti Ming pada tahun 1381) ketika serangan tersebut terjadi, ia dibiarkan hidup.

Sampai menjadi laksamana, Cheng Ho menjalani hidupnya sebagai pengawal permaisuri Kekaisaran Ming. Ia telah dikebiri, dan harus hidup sebagai Eunuch (orang kasim) seumur hidupnya, atau, langsung mati saat itu juga.

Seperti sering dibahas oleh banyak orang, Cheng Ho merupakan seorang Muslim. Sayangnya, orang-orang juga suka melewatkan sedikit fakta mengenai keluarganya. Cheng Ho berada 5 generasi di bawah Gubernur Yunnan yang memang beragama Muslim, namun, yang orang-orang sering lewatkan, keluarga inti, atau keluarga dekatnya, tidak begitu religius.

Catatan menuliskan bahwa generasi terakhir yang melakukan Ibadah Haji adalah Gubernur Yunnan yang merupakan Great-Great-Great Grandfather-nya. Tidak juga banyak catatan bahwa keluarga inti Cheng Ho melakukan puasa, berkurban, atau semacamnya. Catatan terakhir keturunan langsung dari Cheng Ho yang melakukan ibadah-ibadah Islam seperti Berkurban, Puasa, dan Zakat hanyalah Kakeknya.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana ia bisa menjadi seseorang yang cukup religius? Ia memang mengetahui bahwa ia seorang Islam, tentunya keturunan dan keluarga yang ia dapatkan sudah memperjelas hal tersebut, namun, alasan ia menjadi pribadi yang taat akan agama belum pernah dijelaskan, karena meski ayahnya memegang gelar Haji yang diturunkan dari beberapa generasi sebelumnya, belum ditemukan catatan bahwa ia sudah melakukan pengembaraan ke Mekah.

Tentunya, kita bisa berasumsi bahwa ia dekat dengan Kakeknya selama 10 tahun pertama hidupnya, dan Dinasti Ming juga bukan dinasti yang memiliki masalah akan adanya perbedaan agama. Selain itu juga perlu diingat bahwa Ma He (nama asli Laksamana Cheng Ho) tidak pernah punya keterkaitan dengan keluarganya sesudah tempat tinggalnya diserang, mungkin Agama satu-satunya cara ia mengingat hal tersebut.

Catatan: Ma = Mohamed dalam bahasa Cina, He = Mulia dalam bahasa China. Fun Fact: Secara teknis, Ma He (Cheng Ho) dan Moh. Salah, memiliki arti nama yang salah. Mohamed yang Mulia. (Salah juga berarti mulia dalam bahasa arab)

Budak Ming

Budak muda yang dikebiri dengan nama Ma He kemudian diberikan ke seorang pangeran. Untuk seorang Budak, atau mungkin seorang manusia pada umumnya, ia cukup karismatik. Ma He memenangkan hati sang pangeran dengan candaannya dan aura fun yang ia miliki. Ia tidak pernah diberikan tugas budak, atau hanya sebatas jadi penjaga permaisuri, kepintaran, dan karisma yang ia miliki membuat Pangeran Zhu Di dari Yan mengangkatnya sebagai asisten pribadi miliknya.

Alih-alih dimanfaatkan sebagai budak konvensional, ia disuruh untuk mengikuti sekolah militer. Pangeran Zhu Di tahu ia akan membutuhkan bantuan seorang Mongol untuk menyerang kerajaan tersebut, jadi ia memutuskan untuk menunggu waktu beberapa tahun, sampai Ma He siap untuk membantunya.

Catatan: Bukan sebagai “asisten”, sebenarnya, tugas Ma He yang masih muda tersebut, adalah mengawal dan memberi nasihat akan kerajaan Mongol berdasarkan pengetahuannya ketika pangeran muda tersebut merencanakan serangan.

Zhu Di sendiri tidak terlalu tua. Ia pangeran muda yang berani, pintar, dan nekat untuk menyerang kerajaan Mongol. Pada usia 26 tahun, dengan bantuan Ma He yang masih berusia 16 tahun, ia menyerang pusat militer Mongolia, dan membuat jendral besar dari kerajaan Mongol, Naghachu, menyerah.

Naga Chu… Pft… Nama macam apa itu… Naga bersin… HAHAHA, pantesan kalah! Ehem, maaf.

Selama ia masih di Mongol, ia belum pernah mendapatkan catatan apapun mengenai agamanya, jadi untuk sekarang, masih jadi sedikit misteri bagaimana ia bisa menjadi pribadi yang religius.

Perebutan Takhta

Sejujurnya, tidak seratus persen kehidupan Cheng Ho dipenuhi dengan hal-hal baik. Bagian dari cerita ini mungkin bagian kehidupan miliknya yang paling dipenuhi dengan tindakan buruk.

Ma He muda diberikan tugas terakhir. Sebuah tantangan. Ia diminta membantu Zhu Di merebut takhta dan mengambil posisi sebagai maha kaisar Dinasti Ming. Metode yang dilakukan dan direncanakan Zhu Di dipenuhi dengan pembunuhan, penggeseran, serta fitnah-fitnah untuk memecah kerajaan utama.

Cheng Ho, yang masih merupakan Kasim tingkat menengah, belum punya hak untuk mengubah ide dan metode dari Zhu Di, ia pun belum bisa menolak untuk membantu Zhu Di.

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia melakukan hal-hal keji tersebut, hingga Zhu Di menjadi Raja.

Untungnya, Zhu Di memberikan Ma He hadiah. Ia menaikkan pangkatnya sebagai Mahakasim. Tingkat Mahakasim ini, sebenarnya baru diciptakan di tahun yang sama Zhu Di naik takhta. Dalam pikiranku, tujuan tingkat Mahakasim ini dibuat oleh Zhu Di untuk menutup malu-nya jika ia mengangkat seorang Kasim yang dulunya warga Yunnan sebagai laksamana.

Ya, pada dasarnya, Mahakasim = Laksamana / Penasehat versi orang Kasim. Hak yang didapat seorang mahakasim sama persis dengan hak seorang menteri, laksamana, ataupun penasehat. Oke, ada satu hak yang tidak dimiliki, tapi kurasa aku tidak perlu membahasnya.

Dengan adanya gelar Mahakasim ini, Zhu Di memberikan Ma He nama baru. Ia sekarang dikenal dengan Zheng He.

The Treasure Fleet

Tahun 1403, Zheng He diberikan tugas untuk mengawasi pembangunan kapal.

Menurut beberapa cerita, Zheng He sejak kecil selalu memiliki perasaan wah ketika melihat kapal. Ia merasa begitu terpesona tiap melihat kapal megah dan besar melewati air, jadi, secara alamiah, ia dapat mempelajari cara kerja dan cara pembangunan kapal dengan begitu cepat.

Ia menggunakan teknologi paling maju, tentunya modal Dinasti Ming tidak begitu mudah habis. Kapal-kapal buatannya, sebanyak 400 kapal memiliki sistem cloud untuk mencatat barang dagangan secara otomatis, menggunakan sistem autopilot, dan tentunya, memiliki sangat-sangat banyak barang dagangan.

Kasarnya, kapal yang dibuatkan untuk Zheng He, adalah kapal yang paling canggih.

2 tahun kemudian, sesudah projek itu beres…

Zhu Di meminta Zheng He, yang memang mengawasi projek tersebut, untuk menjadi ambassador, serta laksamana utama dari perjalanan tersebut. Investasi long-term ini tentunya akan memberikan cukup banyak uang bagi Zhu Di, namun…

Bersambung

Kesimpulan

Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa karena cerita ini belum beres.

Namun, kesimpulan hari ini akan diubah dengan beberapa spoiler kecil.

  1. Seperti diketahui banyak orang. Zheng He meninggal di jalan. Ia berangkat pada usia 34, dan meninggal pada usia 60.
  2. Zheng He disebut Cheng Ho oleh orang Indonesia untuk mempermudah.
  3. Ia berkeliling ke seluruh dunia, tentunya.
Bumblebee: Seberapa Baguskah Film Ini?

Bumblebee: Seberapa Baguskah Film Ini?

Ya, Bumblebee bukan film yang aku harapkan untuk tonton sesegera mungkin sesudah film tersebut keluar. Tetapi bukan juga film yang aku tidak akan tonton. (aku hanya berpikir film ini pantas ditonton setelah ia mendapat 93% di Rotten Tomatoes, meski nilai IMDB-nya jelek)

Jadi, bagaimanapun juga, aku ingin membandingkan serta menilai, apakah Bumblebee merupakan film yang memang bagus? Atau ia hanya bagus karena di sebelah kanan dan kirinya, ada film yang jauh lebih buruk.

Boom, Boom, Boom, Dalam Angka

Terima kasih! Siapapun yang memutuskan untuk tidak memberikan Michael Bay peran sebagai sutradara di film ini. Jika Michael Bay menjadi sutradara, dan bukan sebatas produser, film ini akan menjadi film yang tidak akan kutonton sebagus apapun naskahnya, atau rating-nya, karena aku tahu, setiap 10 detik, akan ada sebuah BOOM! BOOM!

Bagaimanapun juga, keputusan terbaik dalam film ini ada di pemilihan sutradara. Not Michael Bay. Sepertinya itu satu-satunya solusi untuk menambal bolong-bolong yang ada pada rating film-film Transformers sebelumnya. Budget juga dipotong, dan berada di angka relatif kecil (terutama mengingat butuhnya helikopter untuk diledakkan, mobil, dan juga CGI), karena Michael Bay masih berperan sebagai produser, dan jika ada leeway budget terlalu banyak… Ya, akan ada Boom-boom di sana dan di sini, sehingga inti utama dari film akan mudah terlupakan.

Sejujurnya, menurutku pemotongan budget drastis ini adalah keputusan yang baik selama Michael Bay masih berada dan berperan dalam proses pembuatan film.

Sebagai perbandingan

  • Transformers, 57% Rotten Tomatoes, 147 Juta dollar Budget, 325 juta dollar box office, 208 ledakan.
  • Transformers 2, 19% Rotten Tomatoes, 207 juta dollar Budget, 618 juta dollar box office, 276 ledakan.
  • Transformers 3, 28% Rotten Tomatoes, 196 juta dollar Budget, 1.123 juta dollar box office, dan… Wait for it… 357 ledakan.
  • Bumblebee, pada sisi lain. 93% Rotten Tomatoes, 100 juta dollar Budget, 305 juta dollar Box Office (and still kind of growing), dan hanya 93 ledakan.

Jadi, semakin banyak ledakan, semakin banyak penghasilan, dan semakin jelek rating. Oke, film ketiga merupakan sedikit pengecualian. Tetapi rating 28% tetap sampah.

Spinoff ini bermanfaat untuk merubah stigma orang-orang pada franchise film yang mendekati mati untuk orang-orang yang memang suka film dan tidak hanya menontonnya demi menonton film tersebut.

Naskah

Oke, aku bukan orang yang 100% menyukai naskah Bumblebee, tetapi… Jika kita membandingkan naskah film tersebut dengan film Transformers lainnya, aku tidak bisa berkata-kata lebih lanjut. Dasarnya, tidak ada opsi yang lebih baik untuk gaya penulisan naskah yang dilakukan oleh Bumblebee.

Gaya ini juga perlu diikuti oleh film Transformers lainnya.

Kasarnya, aku cukup menuliskan pros and cons-nya saja.

Pros:

  • Naskah ini tidak dihina oleh penulisnnya sendiri, ataupun sutradaranya
    • Bay pernah menghina karakter ciptaannya secara terbuka dalam interview mengenai film Transformers yang keempat
  • Naskah ini punya jalan cerita yang jelas, dan tiap adegannya berkorelasi
  • Banyak lelucon dan pesan-pesan yang bermakna. Lucu disini bukan karena kejadian konyol seperti seorang satpam yang menyetrum dirinya sendiri pada film kedua (aku tidak ingat film keberapa, namun tetap, itu terjadi).
  • Referensi pop culture yang cukup bagus.
  • Film ini slow-paced. Tolong, lakukan ini lagi, setidaknya kesempatan merusak film action slow pace tidak semudah merusak film fast paced. Korelasi akan jauh lebih mudah jika film beralur dengan lambat.

Cons:

  • Mungkin sedikit terlalu banyak referensi yang dilemparkan mengenai zaman si film itu sendiri. Feel bahwa kejadian film ini terjadi pada tahun 80-an hanya terasa dari referensi di naskah, dan sedikit kurang di penyutradaraan.

Adegan Action

Yeay. Adegan action di film ini jauh dari sampah. Tidak ada lagi seorang manusia yang melakukan tindakan bodoh dan secara magis membunuh robot raksasa. Tidak ada lagi boom-boom yang merusak arus film dan adegan tersebut karena ledakan ditembak dari 5 sudut berbeda.

Kembali lagi ke Pros and Cons.

Pros:

  • Akhirnya, adegan action mempunyai makna, dan masih masuk akal.
  • Adegan action tidak membosankan.
  • Tidak ada banyak ledakan! πŸ˜€

Cons:

  • Tidak ada banyak ledakan… πŸ™
    • Nggak, sih, sebenarnya satu-satunya hal yang membuatku merasa senang ketika ada banyak ledakan, adalah tertawa ketika ledakan tersebut begitu lebay dan ditembak dari 5 sudut berbeda. Ini memberikan aku komedi di naskah yang begitu serius tapi garing.

Setting dan Tokoh-Tokoh

Aku belum lama membaca beberapa orang menolak film-film Michael Bay karena tokoh-tokoh di film tersebut dibuat sesuai dengan stereotip, tetapi di frame dari sudut pandang negatif.

Hence, adanya cewek yang di oversexualize, hippie yang hobinya mabuk melulu, rich bad guy yang tahu-tahu jadi baik, atau rich bad guy yang tahu-tahu mati karena melakukan hal bodoh. Oh iya, jangan buat aku masuk ke ilmuwan yang selalu gila dan kekeuh ke seorang jendral yang gak pernah mau mendengar, atau tokoh utama yang dulunya screw-up lalu jadi menemukan jati diri karena… Yeah, you get me already.

Meskipun aku tidak sepenuhnya setuju ke membuat tokoh yang 100% berlawanan dengan stereotip, atau dengan tujuan empowerment demi mengikuti sebuah gerakan, perubahan kecil ini enak dilihat.

Setting juga cukup cocok, meski ada sedikit keluhan mengenai naskah tadi.

Pros:

  • Tokoh yang kuat, dan tidak sepenuhnya mengikuti stereotip.
  • Persahabatan dan pembuatan karakter yang sesuai, termasuk perubahan jati diri dalam karakter.
  • Setting 80-an dengan bantuan musik, sebenarnya cukup menyenangkan.
  • Tokoh tidak akan dihina atau dijadikan bahan bercandaan oleh penciptanya lagi. Phew.

Cons:

  • Melihat Michael Bay menerima interview dan menghina tokoh ciptaannya sendiri. Aku tidak akan pernah melihat ini lagi. πŸ™ NOOOOOOO!

Kesimpulan

Untuk menyimpulkan, apakah Bumblebee sebagus itu?

Sejujurnya, kurasa rating di atas 90% pada Rotten Tomatoes, seperti yang didapat Wonder Woman, atau film-film yang telah menjadi classic tidak pantas diberikan untuk Bumblebee.

Namun, sekali lagi, film ini adalah franchise Transformers, dan perubahan drastis yang perlu kita ingat, film ini fokus ke persahabatan bukan ledakan dan tonjok-tonjokan, disutradrai oleh Travis Knight, standar harapan kita bagi film akan jelas turun. Kurasa, wajar jika ia mendapat rating tinggi.

Namun, jika Bumblebee keluar duluan, dan bukan spinoff atau last resort untuk mengganti serta memberikan film Transformers sudut pandang cerita, kurasa ia akan hanya mendapat nilai yang mirip-mirip dengan Aquaman.

Sampai lain waktu! Don’t end this movie in a bang.

Post Script.

Michael Bay mungkin sedang membuat surat, atau sedang memulai rapat. Alasan rapat? Oh iya, kurangnya ledakan mengurangi uang yang dihasilkan film ini!

How Dumb Is Social Media?

How Dumb Is Social Media?

Eesh, aku harus mengakui aku sedikit menyesal mencari kata Egg di Google hari ini. Aku mendapat hasil yang anehΒ  bin ajaib ketika baru 46 menit yang lalu, Fox News menulis artikel mengenai most-liked post di Instagram.

Sebuah telur. Like, what?

(jika anda pembaca setia, semoga anda belum bosan mendengar celotehanku tentang sosmed. Ini subjek ultra sensitif bagiku)

Sejujurnya ini sedikit membingungkan ketika banyak wartawan dan penulis yang fokus menulis mengenai tren di Sosial Media. Belum lama, ketika aku mengoogle Cristiano Ronaldo hasil yang keluar bukan hal-hal mengerikan (atau, menakjubkan, tergantung cara kau melihatnya) yang ia lakukan bersama Juventus untuk merusak Serie A yang dulunya kompetitif, tapi fakta bahwa ia telah menyalip Selena Gomez sebagai orang dengan akun paling banyak pengikut followers di Instagram. Which is weird.

Maksudku, sekarang sudah ada blog, dan beberapa wartawan dari perusahaan media besar yang menjadi spesialis pencari tren di Instagram dan menuliskan artikel mengenai tren tersebut. Ini mulai terasa redundan ketika ada sekelompok orang yang bertugas mencari, menjabarkan dan menuliskan hal-hal yang orang-orang pada umumnya lakukan untuk mengisi waktu ketika menggunakan sosial media.

Ehem, sebenarnya ini mulai off-topic.

Aku menulis artikel ini untuk mempertanyakan alasan sosial media digunakan, dan juga, mengapa menurutku sosial media adalah hal yang bodoh, dan bodoh disini bukan hanya bodoh karena cara penggunaannya, beberapa penggunanya, tetapi juga cara sosial media merubah pemikiran dan hal-hal yang dilakukan orang-orang.

This is a long intro. Mulai saja deh!

Kenapa Aku Melakukan ini?

Baiklah, jadi, ada sebuah akun Instagram dengan nama World Record Egg, dan siapapun yang membuat akun itu sangat-sangat jenius!

Mungkin ia tidak suka Kylie Jenner, jadi ia memutuskan untuk membuat foto sederhana, foto sebuah TELUR! dan menuliskan caption agar orang-orang memberikan “Like” demi menggeser posisi Kylie Jenner dari rekor yang ia pegang sebelumnya.

Post tersebut telah mencapai lebih dari 20 juta likes, tetapi, kalau dipikir-pikir lagi… “Apa tujuan saya melakukan ini?”

Aku menemukan 3 alasan, tetapi, aku hanya melihat alasan yang bermakna di salah satunya…

  1. Kylie Jenner, UGH! Dia tidak pantas mendapat posisi nomor 1 untuk apa-apa. Aku merasa sebuah telur lebih pantas memegang posisi nomor 1 untuk post paling banyak di like.
  2. Ah well, semua teman-temanku melakukan ini, kenapa tidak?
  3. Hmm, ide bagus, caption bagus. Pencet like.

By the way. Aku hanya menyetujui alasan nomor 1, karena jika aku pengguna sosmed dan dapat “berpartisipasi” untuk menggulingkan rekor Kylie Jenner, kayanya aku akan melakukan hal yang sama.

Hal yang kosong seperti ini membuatku mempertanyakan kepentingan dari aspek like ini. Menurutku itu aspek kedua paling bodoh dari sosial media, karena tidak adanya batas penggunaan, orang-orang bebas melakukannya kapanpun mereka ingin, dan melepaskan kontrol dari diri mereka sendiri.

The Economy of Likes

Oke, mari kita anggap Like sebagai uang.

Anda seorang investor saham skala besar. Anda harus siap bekerja 24 jam jika ada gejolak ekonomi, dan kalau ada gejolak, anda bekerja dalam sebuah lingkungan kerja yang tinggi stress, dan penuh resiko.

Pada umumnya, anda menghasilkan 100 milyar Rupiah tiap bulannya. Untuk apa aku punya uang sebanyak itu? Hmm. Bagaimanapun juga, seberapa besar uang yang anda punya, uang itu bisa habis. Pada suatu titik, anda menyadari anda telah membeli mobil dan menghabiskan tiga perempat penghasilan anda pada bulan itu. Oh tidak. 1/4-nya lagi habis untuk kebutuhan pada umumnya. Seberapa besar uang anda, uang anda dapat habis.

Tentunya, stress, tekanan, modal, dan jam kerja seperti itu membutuhkan skill dan effort yang tinggi. Skill dan effort itu memberikan anda gaji yang sesuai dengan kemampuan dan usaha anda.

Anda seorang sales mobil merek asal Jepang. Anda bekerja 8 jam tiap harinya, dan bekerja dalam ruang kerja yang santai dan tidak banyak stress.

Pekerjaan anda biasanya menghasilkan 10 juta rupiah tiap bulannya, sekali lagi, jumlah uang itu dapat (dan akan) habis. Entah, mungkin anda terlalu banyak membeli baju mahal, atau anda terlalu banyak makan all you can eat seharga 200 ribu. Bagaimanapun juga, anda dapat menghabiskan uang milik anda, baik itu sejumlah 100 milyar, atau 10 juta, atau 100 ribu.

Gaji tersebut pantas untuk seorang sales mobil tentunya. Menjadi sales adalah sebuah pekerjaan medium skill, dan pantas jika penghasilannya juga medium.

Nah, Likes tidak seperti itu, namun diperebutkan oleh orang-orang seperti itu uang.

Kita dapat memberikan berapapun likes yang kita inginkan. Kita dapat memberikan 10 likes tiap harinya, kita dapat memberikan 1000 likes, kita dapat memberikan 100.000 (oke, ini ekstrim, namun nyatanya kita bisa melakukan itu tanpa melanggar sistem apapun) . Jika aku tidak salah, kita juga bisa memberikan like ke diri kita sendiri.

Tetapi, orang-orang memperebutkan Likes (yang fiktif) seperti “bekerja”

Let’s say, aku ingin mendapatkan 100 like dalam satu post hari ini. Untuk melakukan itu, aku perlu memposting foto selfie di kafe yang sepiringnya 300 ribu, dan segelas minumnya 75 ribu. Aku akan mengeluarkan uang sebanyak itu karena aku merasa seolah-olah aku membutuhkan 100 likes.

Supply and Demand

Hukum ekonomi paling mendasar adalah supply and demand, dan jika kita ingin melihat sosmed sebagai sebuah dunia ekonomi, kita harus liat 2 sumber daya utama mereka. Nomor 1, followers, nomor 2, baru likes.

Semakin banyak suplai, nilai benda akan turun, semakin banyak permintaan, nilai barang akan naik.

Masalahnya, jumlah likes yang bisa diberikan sistem ke kita memang tidak terbatas. Pada sisi lain, jumlah followers yang bisa diberikan sistem (bukan lingkaran sosial atau orang yang kita kenal, atau yang punya teman-teman sama dengan seorang pengguna) untuk kita, mendekati tidak terbatas.

(Oh iya, aku baru ingat, sekarang ada bisnis untuk membeli followers dan likes ya. Huh, ini terkesan makin bodoh.)

Sekali lagi, mau seberapa banyakpun ada Kayu, jika kita hanya mengonsumsi, jumlahnya dapat habis. Itu alasan pohon yang ditebang di tanam lagi, sehingga jumlah pohon yang ada tidak bergerak ke bawah saja, dan jumlahnya juga bisa naik.

Sosial media, terutama Instagram, pada sisi lain, hanya akan bergerak ke atas. Semakin banyak pengguna HP, berarti semakin banyak pengguna internet, semakin banyak pengguna internet, berarti semakin banyak pengguna sosmed. Dan sayangnya, belum ada sedikitpun penurunan pengguna sosial media yang signifikan.

Mengingat bahwa sistem sosial media ini tidak punya batas, dan jumlah suplai likes dan followers yang bisa anda klaim hanya akan bertambah, dan tidak bisa berkurang… Seluruh ekonomi yang mulai tumbuh di sosial media tidak akan pernah ada jika hanya berkutat di dunia fiktif tersebut.

Seriously, we’re getting dumber here.

Masalah berikutnya bagiku ada di fakta bahwa orang-orang sebenarnya tidak menggunakan sosial media karena mereka membutuhkannya, atau karena mereka punya alasan yang baik. Mereka TIDAK punya alasan yang baik, mereka hanya ikut-ikutan saja.

Tidak akan ada kampanye atau apapun yang bisa merubah ini, jika sesuatu dilakukan tanpa alasan, butuh cukup banyak alasan untuk merubah pemikiran itu.

Lebih banyak alasan…

Mari kita lemparkan alasan sebanyak-banyaknya!

Aku sejujurnya tidak ingin menulis rant mengenai sosial media lagi. Aku sendiri sudah tahu tidak mungkin ada orang yang berubah, dan aku juga tahu aku tidak akan pernah menggunakannya, setidaknya tidak dalam waktu dekat, dan aku hanya akan mungkin menjadi pengguna ketika aku memang membutuhkan akun sosial media (mungkin kalau aku jadi penulis, mempunyai akun resmi, akun twitter, atau fanpage facebook aku akan membutuhkannya), tetapi sekarang, tidak dulu.

Jadi, kecuali ada hal aneh bin ajaib lagi yang muncul dari internet, seperti World Record Egg tadi, aku akan mengeluarkan semua rant yang aku bisa pikirkan mengenai sosial media dan penggunanya sekarang juga.

  1. Penggunanya berisik, merusak arus jalan yang normal ketika sedang foto, dan mengganggu orang-orang yang sedang berusaha menikmati dunia nyata.
  2. Ada pengguna yang rela melakukan hal bodoh, dan juga uang demi mendapat likes.
  3. Pengguna sosmed jarang berinteraksi di dunia nyata, kecuali sedang membutuhkan foto bersama. Oh iya, mungkin mereka hanya mengobrol ketika sedang butuh foto.
  4. Pengguna sosmed sebagian besar tidak tahu diri ketika menggunakan sosial media. Mereka sering menceloteh hal-hal bodoh di bagian komen. Ini juga mungkin terbawa ke dunia nyata.
  5. Influencer. What’s that job again?
  6. Oh iya, ini menghilangkan rasa individualitas dan keunikan tiap manusia, sekarang mereka hanyalah arus data di dalam database milik instagram.
  7. Semua orang merasa berhak melakukan apapun di Internet. Sifat ini bisa terbawa ke dunia nyata.
  8. Banyak orang memamerkan hal yang tidak perlu.
  9. Orang membeli barang untuk memamerkan hal yang tidak perlu.
  10. Dan terakhir… Dunia sosial media itu tidak nyata.

Aku bisa berbicara sampai aku bosan, tapi kurasa ini cukup untuk sekarang. Aku akan menambahkan edit ketika aku kepikiran. Semua kecuali nomor terakhir, dan nomor 1-9 akan menjadi edit tambahan.

Sampai lain waktu!

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Who’s Murphy?

Nggak, serius, Murphy yang menciptakan Murphy’s Law, siapa dia?

Oke, meski sebenarnya banyak versi ke siapa yang menciptakan Murphy’s Law, aku ingin berpikir saja bahwa ada sedikit ironi bahwa pencipta hukum ini belum memastikan semua kondisi agar dia satu-satunya orang yang diingat sebagai pencipta Murphy’s Law.

Ya, bagaimanapun juga, aku ingin membahas sedikit banyak mengenai Murphy’s Law, karena terkadang, aku merasa bahwa efek dari Murphy’s Law ini lebih cenderung psikologis kebanding aktual. Seperti banyak hal di dunia ini (seperti perasaan nyaman, kasihan, dan dunia ekonomi sendiri), hukum Murphy hanyalah fiksi belaka yang diciptakan oleh otak manusia. Tentunya, otak kita yang begitu pintar ini mesti memiliki kelemahan, karena otak kita… sangat, sangat mudah ditipu.

Jadi, selamat menikmati!

Hukum Murphy?

“If something can go wrong, it will.”

Pada umumnya, ada 3 jenis interpretasi pada kalimat tersebut.

  1. Jika anda tidak memastikan sesuatu bisa berjalan dengan mulus sampai 100%, seberapa kecil kemungkinan ada kesalahan, maka kesalahan itu akan terjadi.
  2. Jika kalian sedang membuat kesalahan, itu akan muncul pada hari dan momen terburuk.
  3. Semua kesalahan yang mungkin terjadi, akan terjadi. (ini mungkin interpretasi paling harfiah, tapi, maknanya sedikit lebih dalam dari itu kok)

Interpretasinya tidak pernah diberikan istilah yang lebih mendalam atau jelas, tetapi aku akan memberi nama agar aku tidak menggunakan istilah interpretasi pertama, kedua, atau ketiga…

Interpretasi pertama akan kujelaskan dengan istilah Interpretasi Insinyur, nomor dua akan kusebutkan dengan istilah interpretasi keberuntungan, dan yang ketiga akan kusebut dengan interpretasi harfiah.

Oh iya, jika anda sudah mengerti, silahkan scroll ke bawah dan baca 300++ kata mengenai judul di atas, tetapi, jika masih ingin penjelasan akan interpretasi yang akan aku gunakan, jangan di skip ya πŸ˜‰

Hari ini, aku akan menggunakan interpretasi keberuntungan…

Faktor Hoki

Apakah anda pernah berpikir bahwa anda sedang apes? Baru kemarin ada sedikit momen yang cocok dengan interpretasi kedua, dan terkadang, aku ingin berpikir mengenai faktor psikologis-nya…

Sebagai contoh…

“Sekarang pukul 10.20, kita perlu berangkat dari rumah pada pukul 10.45 sesudah memasak bekal. Jika tidak ada kesalahan apapun yang terjadi, makanan sudah akan siap pada 10.40. Sayangnya, gas di kompor habis. Ini berarti kita harus meluangkan waktu sekitar 10 menit untuk mengganti gas dan memastikan api di gas masih nyala. Gas pun diganti, dan waktu kita telah terbuang 10 menit.”

Berikutnya… Contoh-contoh yang ada dibawah ini lebih bisa diprediksi, tetapi sama-sama “apes”

“Aku terlambat masuk sekolah untuk pertama kalinya dalam satu tahun, saat berlari ke kelas, kebetulan, ada kepala sekolah yang memotong jalurku . Alhasil, aku dihukum dan mendapat 2 tugas ekstra sebagai hukuman.”

“Aku ingin pergi makan sate. Karena susah mendapat parkir, seorang pemesan yang membawa satenya pulang memesan 100 tusuk sebelum aku mendapat tempat duduk. Aku perlu menunggu 100 tusuk sate dimasak sebelum porsi punyaku dibuat.”

Intinya, banyak hal dapat terjadi pada momen apapun, namun, kita selalu melihat hal terburuk, dan mencari alasan untuk mengalihkan pikiran kita dari kabar buruk yang kita dapatkan. Kita mencari hal buruk agar kita bisa menjadi korban dan membuat diri kita merasa lebih baik.

Ya, alasan aku berasumsi bahwa momen-momen Hukum Murphy terkesan psikologis, lebih karena cara kita melihat suatu kejadian. Seperti sering dibahas oleh beberapa psikolog ternama, kita perlu 6 hal baik dalam 1 ingatan untuk menghapuskan 1 hal buruk dalam 1 ingatan. Tentunya, ini alasan perasaan puas susah didapatkan sesudah kita menghadapi satu kesalahan.

Psikologi Kesalahan

Tidak ada yang suka disalahkan untuk sesuatu. Terutama jika perasaan bersalah dan ditunjuk-tunjuk oleh orang itu mulai membuatmu merasa malu, atau membuatmu merasa lebih berantakan lagi dari seharusnya.

Ketika ada hal buruk terjadi, insting natural manusia adalah untuk menunjukkan jarinya pada orang lain, atau pada suatu pihak ketiga untuk menghilangkan ketidaknyamanan itu.

Anda perlu menunggu lebih lama untuk sate? UGH! Aku merasa kesal! Aku harus memberikan ketenangan pada kekesalanku. Oh iya, gara-gara tadi ada orang take-away 100 porsi tuh. HEUH! Sebel deh.

Huuu, aku gak pernah telat. Tetapi gara-gara aku telat pas kepala sekolah lagi lewat, aku jadi kena ekstra tugas deh. KESEL!

Yah, aku telat. Gas-nya abis sih! Tau gasnya abis kan masaknya lebih cepet!

Bagaimanapun seseorang ingin mengeluh, insting manusia untuk menenangkan diri mereka adalah mencari pihak ketiga (memang ada yang mencari orang lain untuk langsung disalahkan, tapi ini tidak umum dan sangat tidak sehat) untuk disalahkan agar ia dapat melepaskan diri dari tanggung jawab yang dibebankan oleh rasa bersalah dalam dirinya sendiri.

Nah, ini alasan aku melihat Murphy’s Law sebagai hal psikologis.

Orang yang tidak punya ketenangan dan pengendalian diri yang benar-benar baik hanya akan menenangkan diri mereka dengan menyalahkan orang lain dan melewatkan inti permasalah serta fakta-fakta yang sebenarnya ada di depan mata mereka.

Pada kasus keterlambatan tadi, mungkin memang tiap pagi, pada jam yang sama, kepala sekolah sedang lewat untuk memberikan berkas-berkas ke guru-guru lain.

Pada kasus gas, nyatanya gas kompor selalu diganti tiap bulannya, dan karena tidak ada yang memberikan jadwal atau rekapan gas yang jelas, gas perlu diganti secara tiba-tiba dan itu membuatmu merasa kaget mengingat momennya begitu tidak pas.

Pada kasus sate… Mungkin memang tiap Sabtu siang orang itu membeli 100 tusuk sate karena teman-temannya ingin datang, tetapi, anda tidak menyadari itu karena anda biasanya datang lebih cepat darinya.

Detil-detil kecil dan ringan ini sering dilewatkan orang-orang, karena mereka terlalu sibuk merasa kasihan pada diri mereka dan mengeluh. Orang-orang pada umumnya tidak akan melihat hal yang dapat diperbaiki, dan mereka melihatnya sebagai kejadian yang hanya terjadi sesekali, dan melupakannya begitu saja.

Ketenangan dan kepuasan yang didapat dari menyalahkan pihak ketiga, (dalam kasus ini, pihak ketiga yang paling sering kena tuduhan orang lain adalah keberuntungan) membuat orang-orang melupakan realita, serta fakta yang sedang mereka alami.

Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu, apakah hukum Murphy yang diinterpretasi seperti ini nyata? Ataukah itu hanya placebo untuk memberikan rasa tenang ketika kita sedang kesal akan sesuatu?

The Ultimate Placebo

Psikologi dan manusia sendiri dipenuhi oleh banyak hal-hal konyol dan tidak nyata.

Kita sangat mudah untuk ditipu orang dan terkadang, kita terbawa perasaan sehingga melupakan kenyataan yang sebenarnya ada.

Mungkin memang betul kita pintar, kita adalah spesies yang sangat pintar… Tapi, sayangnya, kita begitu emosional dan mudah ditipu, sehingga lebih dari setengah otak kita diisi oleh proses otomatis yang dibuat untuk menenangkan emosi-emosi yang kita miliki.

Pada akhirnya, daripada menyalahkan orang lain demi ketenangan jarak pendek, hal terbaik yang seorang manusia bisa lakukan adalah mencari solusi agar anda tidak perlu merasa tidak tenang untuk waktu yang terlalu banyak. Solusi jangka panjang lebih susah didapatkan, tetapi mendapatkannya memberikan kepuasan yang utuh, dan nyata. Kepuasan tersebut bukanlah placebo, karena anda telah sukses mendapatkannya tanpa perlu meyakinkan diri anda berkali-kali, kepuasan itu memang sudah ada di dalam diri kalian.

Psikologi: Shortcut Slip-up

Psikologi: Shortcut Slip-up

Selamat pagi lagi, kembali dengan tulisan dariku.

Aku memutuskan untuk pause dulu sebentar serial Road Trip-nya, dan kembali ke sedikit tulisan psikologi.

Dengan era Google Maps, Waze, dan aplikasi pencari rute kita biasa menemukan jalan-jalan kecil yang kemudian kita ingat kembali dan gunakan di kemudian hari ketika sedang tidak menggunakan aplikasi tersebut. Bahkan, suka ada saat dimana kita memilih untuk menggunakan jalan potong meski sebenarnya kita tidak perlu memotong jalan.

Namun, ada efek psikologis yang meliput jalan potong (atau shortcut) tersebut. Terkadang, kita merasa terlambat, terkadang kita merasa kita perlu memotong jalan, meski waktu yang dihabiskan sama saja.

Bingung? Mari diperjelas di bawah…

Time Scarce

Waktu, tidak semua orang punya waktu yang cukup untuk melakukan semua hal, dan terkadang, kita panik jika kita merasa kekurangan. Kepanikan ini sering kubahas ketika menggunakan S-word di atas (scarce/scarcity, bukan yang satunya lagi), dan seharusnya sudah bisa dimengerti.

Ketika kita kekurangan waktu, kita panik, ketika kita panik, kita bisa dan akan membuat keputusan yang salah. Ketika kita membuat keputusan salah ya… πŸ™‚

Nah, jadi, anggap saja kita biasa melewati jalan potong, dan kita merasa bahwa kita menghemat 5 menit karena kita melewati jalan potong tersebut alih-alih melewati rute utama yang cenderung padat. Karena kita memutuskan untuk memotong jalan sebelum berangkat, kita bisa berangkat lebih telat, menggunakan waktu 5 menit tadi untuk sarapan.

(Tentunya tidak semua orang menggunakan waktu 5 menit untuk sarapan, dan juga tidak semua orang memiliki kemampuan dan rela untuk merencanakan sesuatu sampai titik menit yang cukup detil)

Ya, jalan potong dan rute alternatif membantu kita.

Meski, perasaan terbantu itu nyata, hampir tidak ada perbedaan jika jalanan berada dalam kondisi kosong. Mayoritas jalan potong hanya menghemat 100-500 meter, dan kurang lebih, itu menghemat 1-2 menit, mungkin lebih sedikit. Ada statistik yang menyatakan, bahwa jalan potong tidak sebenarnya membantu waktu tempuh yang kita gunakan.

Namun, statistik itu tidak diambil di Indonesia, (apalagi kota kaya Jakarta) jadi, sejujurnya, jalan potong memang membantu, namun, ketika jalanan kosong, fungsi jalan potong adalah sebagai “obat” atau “modifier” untuk membuat kita merasa lebih baik, dan santai.

Shortcut Slack

Slack. (sekali lagi, aku belum menemukan padanan bahasa Indonesianya). Perasaan yang kita dapatkan ketika kita punya suatu sumber daya, dan jumlahnya lebih dari yang kita butuhkan. Slack yang pas membuat kita merasa tenang. Sayangnya, terlalu banyak? Kita jadi malas dan tidak membuat keputusan yang dipikirkan luar-dalam. Terlalu sedikit? Kita jadi panik dan membuat keputusan dengan terburu-buru.

Dan, seandainya perasaan ini adalah uang, kita bisa membelinya dengan melakukan hal-hal yang mengurangi konsumsi sumber daya. Contohnya, dengan… Ya, menggunakan jalan potong.

Pengguna jalan potong (pada umumnya), atau pengguna aplikasi pencari rute, biasanya merasa terburu-buru, mereka merasa bahwa mereka kekurangan Slack, mereka tidak tenang, mereka takut mereka akan terkena macet, atau datang terlambat, jadi mereka memberikan kepala mereka sebuah obat dengan melewati sebuah jalan potong untuk menghilangkan perasaan panik tersebut.

Are we Clever?

Jika kita berbicara mengenai umat Indonesia, terutama yang tinggal di kota-kota macet seperti Jakarta, atau Bekasi, mayoritas manusia akan mengeluarkan respon dan rencana yang mirip.

Mereka tidak ingin merasa terburu-buru, kecuali memang sedang terpaksa, mereka tidak ingin merasa kesulitan, dan mereka ingin semua hal berada dalam kondisi sebaik mungkin.

Seperti disebutkan di atas, mayoritas orang yang menggunakan jalan potong memilih rute tersebut karena mereka memang sedang merasa tergesa-gesa, dan perasaan tergesa-gesa hanya terjadi karena perencanaan yang buruk.

Untungnya, perencanaan buruk tersebut bisa dirasakan, dan mesti didapat dari perasaan. Tidak ada cara absolut untuk menghindari perasaan terburu-buru atau panik. Berikut adalah 3 jenis orang yang menggunakan jalan potong. Sayangnya, ketiga pengguna jalan potong ini memiliki kekurangannya masing-masing… Dan, komentar serta tangkapanku… hanya satu dari 3 jenis yang bisa terbilang “pintar” .

The Emergency Runners

Jika anda terpaksa, atau memilih untuk melewati jalan potong sesekali, dan hanya melewati jalan potong ketika terburu-buru, anda masuk ke golongan pertama.

Golongan Emergency Runners ini merasa segala sesuatu perlu dikerjakans saat itu juga karena mereka tidak pernah merencanakan apa-apa dengan benar. Mereka selalu panik, selalu khawatir akan hal buruk, dan tidak berhenti untuk berpikir sebelum mengerjakan sesuatu.

Mereka tidak merencanakan rute yang mereka akan lewati, mereka akan menentukan rute ketika sudah berangkat, atau ketika sudah di jalan dan bingung akan pilihan yang mereka akan ambil.

Emergency Runners akan selalu merasa hal yang mereka perlu lakukan urgent dan mereka hanya akan melihat satu langkah ke depan, setiap masalah diselesaikan satu per satu dengan panik.

Mereka tidak pernah mendapatkan perasaan scarcity, tetapi, mereka akan menyelesaikan segalanya dengan benar, dan (semoga) on-time, meski, ya, dengan terburu-buru dan tanpa perasaan santai. Hidup mereka akan cepat stres jika tidak dimanage dengan baik…

Jalan potong digunakan emergency runner karena mereka merasa perlu melewatinya. Jika mereka tidak melewati jalan potong, mereka akan terlambat.

The Slack Creator

Slack Creator.

Jika Emergency Runners melihat hal hanya 1 hal ke depan, slack creators memutuskan untuk memanfaatkan semua slack yang mereka punya sekarang, untuk menciptakan momen-momen slack ke depannya.

Mereka butuh waktu diam 5-10 menit sebelum ada kesempatan untuk melihat apa yang akan mereka lakukan sampai siang atau malam hari. Mereka akan sedikit bernapas, lalu mereka akan menilai, mana opsi yang paling baik?

Para Slack Creator memutuskan untuk melewati jalan potong kapanpun mereka bisa, meski sebenarnya, mereka tidak perlu untuk memotong jalan.

Jika bingung, kuberikan saja contoh skenario.

  • Rudi harus sampai ke kantor pukul 8.00 pagi.
  • Ia bangun pukul 6.45 .
  • Karena ia ingin mandi dengan santai, ia memutuskan untuk mengambil jalan potong saja. Ia tidak menghitung, tapi karena ia butuh perasaan santai, ia akan melewati jalan potong. Semua jalan potong yang bisa ia lewati.
    • Dalam perasaannya, ia bisa sampai kantor dalam 15 menit perjalanan kebanding 25 menit yang biasa ia tembuh.
  • Karena ia merasa ia dapat sampai kantor dalam 15 menit, ia mandi sampai pukul 7.00 .
  • Ia siap berangkat pukul 7.10. Hmm, ada waktu cukup banyak.
  • Ah, sarapan dulu deh. Bikin yang rada repot juga gapapa.
  • Ia memasak… Umm, pancake misal! 10 menit untuk memasak, dan sekarang jam berada di 7.20. Hmm, aku santai. Makannya 10 menit juga bisa.
  • Karena ia makan dengan santai, ia melakukan cek-cek sosmed (yang tidak diperlukan) saat makan, dan waktu makan bertambah 5 menit lagi. 7.35 ia beres makan.
  • Ia berangkat langsung pada 7.37 sesudah memanaskan mobil dan sampai kantor tepat waktu.
    • Perubahan dari jalan potong hampir insignifikan, hanya berbeda 2 menit

Tetapi, jika ada sedikit kesalahan dari rencana ini, misalnya, perlu mengisi bensin, atau ada kemacetan yang tidak diduga, seluruh rencana ini buyar karena terlalu banyak slack yang digunakan oleh para slack creator.

Mereka merencanakan segala sesuatu agar bisa dikerjakan dengan santai, mereka sudah siap dan bisa melihat kapan ada waktu yang bisa dihemat, meski nyatanya, penghematan waktu itu hampir tidak ada, dan mereka merasa terlalu santai… Sedikit tekanan diberikan, dan POP! Balon mereka meledak.

Jalan potong berada untuk menghemat waktu dan memberikan ketenangan psikologis, agar mereka tidak perlu tergesa-gesa.

The Logical Planner

Ah, planner. Menurutku, jenis orang yang memanfaatkan slack seperti Planner tidak begitu buruk. Mereka merencanakan sesuatu dengan cermat, dan mereka adalah campuran antara kedua golongan. Mereka tidak punya sistem

Mereka merencanakan segala sesuatu dan benar-benar mengecek berapa banyak waktu yang bisa dihemat jika memotong jalan.

Huh, jalanan kosong… Aku memotong hanya akan melewat 2 menit, ah, ya sudahlah.

Tidak seperti kedua jenis orang lain, mereka akan mencoba menggunakan jalan potong dan benar-benar mengukur perbedaan waktunya, karena mereka berusaha mematikan psychological bias milik mereka, keputusan yang mereka buat lebih logis dan normal.

Biasanya mereka juga punya rencana emergency seandainya mereka terlambat, dan mereka siap untuk menghemat waktu dan menciptakan slack (bahkan dalam tekanan) kapanpun mereka bisa…

Kesimpulan

Yah, terlambat itu terasa payah, tetapi, sekarang, anda perlu menyadari… Jika jalanan kosong, jangan mau tertipu oleh Shortcut Slip-up dan terpeleset ketika anda merasa perlu mendapat bantuan psikologis.

Nyatanya, jika anda menggunakan logis-mu, anda tidak akan terlambat. Berencanalah dengan lebih baik πŸ˜‰

[Road Trip]: Arsitektur Semarang

[Road Trip]: Arsitektur Semarang

Untuk waktu yang sangat lama Indonesia dijajah oleh Bangsa Belanda. Selama penjajahan itu, Belanda menyumbang sedikit banyak dari bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur mereka.

Sekarang, aku akan membahas mengenai gaya arsitektur dan era bangunan-bangunan di Semarang. Sebagai orang Bandung, gedung dan bangunan asli Belanda juga cukup banyak di kota asalku, namun, sepertinya kedua kota punya waktu pembangunan dan gaya arsitektur masing-masing.

Era-era Bangunan

Era-era arsitektur yang ada di Semarang cukup spesifik, dan hanya terbagi menjadi dua era berbeda, meski masing-masing era memiliki pengaruh dari gaya lain dan era lain dari Eropa.

Pertama-tama ada Era Classical Indische dimana mayoritas bangunan berupa pabrik, kantor, stasiun, atau benda lain yang dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai gedung yang memberikan efek ekonomi, dan kedua adalah era dimana kota Semarang tidak lagi menjadi pusat ekonomi, dan sudah menjadi kota besar, yaitu pada Era Transisi (penjelasan lebih lanjut di bawah). Lawang Sewu dibuat pada era transisi ini, dan mayoritas gedung disini digunakan untuk membuang-buang uang Kerajaan Belanda yang mulai kebanyakan.

Classical Indische

Gedung-gedung di era Classical Indische lebih sering dibuat untuk tujuan berbisnis, dan era ini yang memberikan jalan agar Semarang bisa menjadi kota yang lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.

Seperti disebutkan di atas, gedung-gedung yang dibuat pada era ini berupa pabrik, jalur perdagangan (stasiun, pelabuhan), pasar dan juga ruang penyimpanan.

Gedung-gedung di Semarang, baik dari era manapun itu, menyukai desain yang menggunakan banyak jendela, pintu, dan ruang terbuka. Biasanya ada beberapa gedung, dan di antara kedua gedung tersebut, ada taman di tengah.

Stasiun Semarang merupakan salah satu contoh dari ini, kedua sayap stasiun adalah ruang terbuka, dan mereka memiliki banyak pintu, meski sebenarnya pintu sebanyak itu tidak dibutuhkan. (setidaknya desain ini membuat bangunannya jauh lebih enak dilihat πŸ˜€ )

Namun, era ini dapat dilihat sebagai era yang relatif “kosong” sebagian besar dari Semarang masih berupa sawah, desa, dan tanah kosong. Bangunan yang dibuat oleh Belanda pada zaman ini berfungsi untuk menjembatani beberapa desa berbeda yang berada di satu daerah. Tentunya mendapatkan tenaga kerja yang optimal akan jauh lebih mudah jika daerah tersebut terhubung antar satu sama lain.

Selama Belanda membangun bangunan di Semarang, mereka menyediakan lahan pekerjaan, transportasi, serta ruang untuk dimanfaatkan. Semarang mampu melewati era yang bertahan untuk waktu yang cukup lama (1678-1870) ini, karena adanya mesin ekonomi yang diberikan (maaf, dipinjamkan, mengingat metodenya sedikit kejam) oleh bangsa Belanda.

“Pasar” juga dibuatkan oleh Belanda dan pasar ini adalah gerigi utama untuk mengaktifkan serta menggeser mesin ekonomi yang sedang mereka buat di kota pelabuhan ini. Awalnya, pasar ini adalah pemberian agar mereka bisa memanipulasi ekonomi di daerah Semarang, dan mereka sukses dalam melakukan hal ini. Pasar-pasar kecil yang mereka buat (serta sebuah pasar besar, meski aku belum mengunjungi, dan masih belum tahu landmark apa yang situs-situs sejarah maksudkan sebagai “The Great Market”) mengajarkan pribumi di Semarang untuk berdagang.

Kalau dipikir-pikir kembali, penjajahan bukan hal yang begitu buruk bagi sebuah bangsa jika kita melihatnya sebagai isu long-term.

Intermezzo

The Great Market yang sering disebutkan di situs-situs sejarah mungkin saja adalah Simpang Lima pada zaman dahulu kala, ide ini cukup masuk akal mengingat bahwa Simpang Lima terhubung ke seluruh penghujung kota dan merupakan lahan luas yang berada di pusat kota.

Aku perlu baca lebih lanjut untuk memberikan konfirmasi. Namun, di Kota Lama Semarang ada banyak bangunan “terbengkalai” yang dulunya berfungsi sebagai ruang penyimpanan.

Era Transisi

Membedakan gedung dari era transisi dan era Classical Indische bukan hal yang mudah.

Era transisi adalah “jalur” bagi Semarang yang telah menjadi kota besar untuk menjadi kota yang mewah dan megah juga. Seperti Lawang Sewu, gedung-gedung di sini biasanya merupakan eksperimen bagi arsitek dan orang-orang “penting” di Belanda untuk menguji teknologi baru yang mereka punya, dan mengaplikasikan teknologi tersebut.

Bangunan-bangunan pada era ini mulai hedonistik, meski ada beberapa yang memang dimanfaatkan sebagai kantor. Selain itu, seperti disebutkan sebelumnya, bangunan pada era ini suka menambahkan pintu dan jendela meski sebenarnya tidak dibutuhkan.

Semarang bisa merubah dirinya dari kota yang sebelumnya kota pelabuhan dan kota pasar menjadi kota yang besar karena adanya jalan raya pos. Pada tahun 1847, Semarang mulai mendapat pedagang dari luar desa-desa awal yang ekonominya sedang dikendalikan bangsa Belanda. Perdagangan antar pribumi meningkat, dan juga persediaan barang untuk diberikan ke Kerajaan Belanda juga bertambah.

Kota ini memiliki lebih dari cukup banyak uang untuk membangun bangunan, dengan teknologi yang baru, dan juga dengan banyaknya lahan kosong.

Akhirnya, muncullah bangunan-bangunan seperti ini di Kota Lama.

Spiegel sendiri baru saja direnovasi, dan dulunya cukup berantakan. Dulunya Kota Lama Semarang memang hanya berisi ruang penyimpanan barang dagangan, dan banyak sekali lahan kosong.

Spiegel merupakan bangunan yang didirikan pada sekitar tahun 1895, dan dulunya tidak punya fungsi yang spesifik. Cocok untuk dimasukkan dalam era transisi.

Kota Lama semarang adalah contoh yang cukup baik untuk mempelajari kedua era, karena ada juga cukup banyak bangunan dari era Classical indische, seperti Gereja Mblenduk.

Bangunan tua ini adalah Gereja Katolik pertama di Semarang, dan didirikan pada tahun 1775. Ia terbilang cukup terawat sejak itu, dan tidak membutuhkan renovasi agar kejayaannya sebagai bangunan heritage tampak. Bisa dibilang, kejayaan gereja blenduk ini belum pernah hilang karena perawatannya yang konsisten.

Selain beberapa bangunan yang sejarahnya cukup jelas, aku tidak bisa sekedar menebak asal era antara kedua bangunan, kedua era memiliki gaya yang sangat-sangat mirip, dengan perbedaan kecil yang berada di fungsinya dulu, dan metode pembuatan. Jadi, ada beberapa bangunan seperti Bank yang di bawah ini…

Asal tahun dan era bangunan tersebut tidak begitu mudah ditebak.

What Happened?

Era Transisi tidak pernah bertransisi menjadi era arsitektur lain. Era tersebut hilang pada tahun 1922, sesudah Belanda puas dengan bereksperimen, dan mereka menemukan kota lain untuk dimanfaatkan.

Era Transisi bertransisi menjadi kemerdekaan negara dan sekarang bangunan-bangunan baru yang ditambahkan ke Semarang sudah tidak akan pernah menjadi peninggalan lagi karena… Ya, Belanda sudah pergi. πŸ™‚

“Eksperimen” mereka mengubah Semarang yang dulunya merupakan kota perdagangan dan pelabuhan menjadi kota besar. Influence Art Deco yang kuat, mulai terkenalnya Kota Bandung, serta makin tersebarnya ekonomi Indonesia mengambil jatah transisi Semarang, dan sekarang, pengaruh dari hasil uji coba arsitek Belanda di kota penuh sejarah ini dapat dilihat di kota asalku, Bandung.

Bandung mulai terkenal karena Boscha, kota yang dulunya hanya berisi pedagang dan perkebunan menjadi pusat hedonisme terbesar selama Belanda menjajah kita. Gedung Merdeka, Jalan Braga, dan sekitarannya dimanfaatkan untuk berpesta pora, dan tinggalnya kaum bourgeouis Belanda yang pergi ke Indonesia.

Jadi ya, amat disayangkan kota yang lahannya dimanfaatkan untuk eksperimen tidak pernah mendapatkan hasil eksperimen tersebut, meski mereka pantas mendapatkannya.

Sampai lain waktu!

Related to this Article : Lawang Sewu

[Road Trip]: Sejarah Lawang Sewu

[Road Trip]: Sejarah Lawang Sewu

Aku sedang berusaha keras untuk mencapai kuota 10 tulisan sehabis berlibur, tanpa perlu menuliskan apapun lagi mengenai makanan. Doakan kesuksesan aku dalam melakukan ini.

Sesudah pergi dari Kota Tegal, kami langsung ciao ke Semarang menggunakan Tol buatan Presiden kita, Joko Widodo. Mungkin akan ada beberapa foto, dan juga mungkin ada satu artikel. Tetapi, karena keluarga kami adalah turis yang tidak terlalu mainstream, kami pergi ke Lawang Sewu dan tidak mengambil satupun selfie, ataupun foto dengan orang di dalamnya. Alih-alih, kami menikmati saja desain bangunannya, dan juga belajar satu atau dua hal mengenai landmark dan heritage Belanda tersebut.

Desain Bangunan

Percaya padaku, anda tidak harus mengerti arsitektur untuk melihat rumah yang didesain dengan bagus. Sebenarnya sekilas melihat Lawang Sewu dari luar, aku melihat sosok Gereja, dari warna yang putih dan desain yang memanjang ke belakangnya itu, sinar lampu, kubah di atas, teras outdoor, serta kaca patri juga tidak membuatku berpikir bahwa dulunya Lawang Sewu bukanlah gereja…

Satu-satunya hal yang merubah pikiranku adalah namanya, Lawang Sewu, nama yang sangat Jawa. Oh, artinya 1000 pintu, jika anda membaca sedikit tulisan di dalam anda juga bisa mengetahui hal tersebut.

Tetapi, aku kemudian melihat bahwa bangunan ini milik PT. KAI, aku berubah pikiran. Ini bukan gereja. πŸ™‚

Oke, sekarang aku mengerti kenapa aku menganggap diriku sendiri sedikit konyol karena menganggap bangunan ini sebagai gereja tua, meski memang betul ada aspek ala gereja-nya di gedung ini.

Sebagai fakta sisipan, balkon di depan yang berada di luar kaca patri, dan di tiap tangga, ada sebuah kubah, berbentuk lingkaran pada tiap sudutnya… Lingkaran kecil tersebut adalah sebuah simbolisasi ular. Ular digunakan pada zaman (dan tahun) Lawang Sewu didirikan, karena orang Belanda tidak menggunakan Gargoyle untuk mengusir roh jahat dan memberikan perasaan aman ke suatu gedung. Jadi, dibuatlah batu-batu bulat itu sebagai penangkal roh jahat.

Sebelum Semarang menjadi kota, manusia di dalamnya harusnya punya banyak kisah seram, jadi, aku mengerti mengapa arsitek Belanda merasa tidak aman jika tidak membuat penangkal.

Arsitektur dan Pengaruh

Cosman Citroen adalah arsitek utama dalam proses desain bangunan ini untuk perusahaan Kereta Belanda.

Citroen ingin banyak bereksperimen dengan desain bangunan dan teknologi yang sedang hip pada zaman tersebut. Banyak batu digunakan di railing tangga, tembok, dan beberapa tempat lain karena memproses batu jauh lebih mudah pada zamannya. Dengan mudahnya proses pencetakan, desain bangunan bisa menggunakan lebih banyak bentuk yang sebelumnya mesti dipotong dan didesain secara manual dan satu persatu.

Citroen yang bereksperimen dengan penggunaan cetakan saat mendesain bangunan juga terinspirasi dan mendapat pengaruh yang cukup banyak dari arsitek asal Belanda lainnya, Hendrik Petrus Berlage. Desain bangunan Berlage biasanya dapat dikenali dari bangunan yang menggunakan lahan banyak, tidak terlalu tinggi, dan (tentu saja) memiliki banyak, (BANYAK) sekali pintu, serta jendela.

Karya paling populer dari Berlage adalah bangunan Beurs van Berlage yang berada di Amsterdam, dan sekarang digunakan sebagai Gedung Pertukaran Komoditas.

Sebenarnya, Lawang Sewu ini hanya sebatas eksperimen pembangunan dengan dana dan lahan yang begitu banyak karena kolonialisme. Lawang Sewu sendiri berperan cukup banyak dalam arsitektur Belanda karena dalam proses pembuatannya, Citroen membuktikan dan mempopulerkan metode pembuatan bahan yang lebih praktis. Metode ini dicontoh dan “dicontek” oleh beberapa arsitek lain di Belanda.

Selain menjadi bukti bahwa metode pencetakan batu, Lawang Sewu juga landmark yang membuktikan transisi dari era arsitektur klasik, dan era arsitektur modern. Era klasik ini masih terasa, dan wajar saja jika anda mengira Lawang Sewu adalah sebuah Gereja. Era modern dalam desain-nya mungkin belum terlalu tampak, terutama sesudah renovasi, (dan juga aku tidak terlalu mengerti arsitektur modern) tetapi, dapat dilihat sedikit aspek dari arsitektur modern di sana dan di sini.

Aspek Mitos

Maaf, kamera jelek.

Kaca Patri ini adalah (sekali lagi) simbolisasi dari sesuatu. Pendirian gedung ini, menyimbolkan 4 (atau 5, tergantung perspektif) hal yang signifikan.

Kaca paling Kiri (dari luar, bukan dalam) adalah simbol dari Kota Semarang. Sedangkan, kaca paling kanan adalah kota Jakarta. Ada beberapa simbol yang anda perlu lihat sendiri ketika anda melihat gedung ini, tetapi, simbol-simbol tersebut melambangkan kedua kota dengan cukup tepat pada zamannya.

Kaca tengah menjadi simbol ke 2 hal berbeda. Kaca tengah bagian atas adalah jalur. Ia berarti bahwa kedua kota sekarang terhubung karena adanya jalur kereta api yang menghubungkan kedua kota. Kaca bagian bawah, adalah simbol dari dua dewi.

Satu dewi melambangkan Venus. Venus melambangkan bahwa kedua kota sekarang dapat menjalin hubungan yang lebih baik. Mereka dapat mencintai satu sama lain dengan lebih mudah karena adanya jalur kereta tersebut. Venus di kaca patri ini digambarkan sedang mengandung bayi, menunjukkan bahwa cinta ini baru akan lahir, tetapi belum lahir. Dewi yang satunya adalah Fortuna. Melambangkan kesuksesan serta keuntungan yang didapat dengan terbukanya jalur ekonomi antar kedua kota tersebut.

Renovasi

Oke, sebelum tahun 2011, Lawang Sewu mendapat cap sebagai bangunan berhantu… OOOOHHH.

Bangunan ini cukup (dan memang) menyeramkan tanpa adanya lampu. Tetapi, sebelum adanya renovasi, bangunan ini lebih brutal lagi. Reporter dari Jakarta Post yang sedang menulis sindiran (atau satire, silahkan tentukan istilah yang lebih tepat sendiri) ke film horror Lawang Sewu yang tega membuat film horror ke sebuah landmark yang punya potensi menjadi museum yang bagus.

Simon Marcus Gower namanya… (kutipan ini di terjemahkan sedikit, silahkan baca artikel aslinya dari sini.)

Lawang Sewu memiliki banyak cerita untuk diceritakan tapi sekarang diabaikan secara tragis dan hanyalah sepotong dari film horror dan legenda urban. Bangunan ini berdiri dengan kosong dan dipenuhi dengan lumut. Cukup menyedihkan jika landmark indah ini mulai bobrok.

Lalu, renovasi terjadi pada tahun 2011, dan akhirnya, Lawang Sewu yang kita kenal ini menjadi bangunan indah seperti yang kita ketahui sekarang.

Aku kurang paham mengenai proses renovasinya sendiri, tetapi, kita perlu menghargai serta menyadari kepentingan bangunan landmark dan lama seperti ini. Cerita yang diberikan bangunan lama bukan hanya sekedar cerita hantu kok. Pasti ada kisah inspiratif, tragis, dan realistis selain kisah-kisah yang tidak jelas dan seringkali tidak bermakna itu.

Sampai lain waktu! *Episode berikutnya akan mengenai desain bangunan di Semarang yang lebih menyeluruh.