Category: Jaja

Tiga Teori Probabilitas.

Tiga Teori Probabilitas.

Kemungkinan sesuatu terjadi secara acak sangat tinggi, dan sangat memungkinkan ada aspek kehidupanmu yang terpengaruh karena hal yang acak tersebut. Itu hal yang sudah cukup umum, dan terkadang, orang-orang menyepelekan hal-hal acak ini terjadi. Mulai dari hp-mu menjadi target bombing SMS, hingga mengocok dadu, probabilitas sesuatu hal buruk, atau baik terjadi, umumnya sama.

Tulisan hari ini tidak akan mengupas terlalu banyak tentang probabilitas, tetapi ia akan mengupas cara manusia mempersepsikan hal-hal yang terjadi secara acak, dan hal-hal yang benar-benar terjadi secara nyata.

Ketiga teori yang akan aku tuliskan di sini bukan berupa hukum dan tidak absolut, tetapi setidaknya anda pernah menjadi korban salah satu teoriku, baik disadari atau tidak.

Inspirasi: Fooled by Randomness by Nassim Nicholas Taleb.

Teori 1: Sesuatu yang tidak absolut, akan dipercayai sebagai mungkin

Teori pertama adalah alasan orang-orang masih membeli tiket lotre. Selama kemungkinan sesuatu terjadi masih ada, orang-orang akan terus mempercayai kemungkinan tersebut terjadi pada mereka, mau seberapa tidak mungkin hal tersebut terjadi.

Hal sekecil 0.00000000001% terjadi akan dipersepsikan sebagai kemungkinan yang nyata. Mau seberapa kecil kemungkinannya, kemungkinan tersebut tetap ada, dan dipercayai sebagai hal yang bisa dan/atau akan terjadi.

Tentunya, kemungkinan hal-hal yang tampak tidak mungkin terjadi itu memang ada, dan memang pernah terjadi. Bisa dilihat dari pemenang lotre yang benar-benar menang, hingga ke cerita klub kecil dengan peluang menang rendah dengan magisnya mengambil piala terbesar di liga lokal, sampai ke cerita-cerita miskin ke kaya yang sering muncul… harapan untuk hal tersebut terjadi akan selalu ada.

Manusia akan terus percaya dan berharap akan ditemukannya alien sampai ada bukti pasti bahwa alien tersebut tidak ada. Tetapi, karena hukum yang sama, manusia tidak akan pernah percaya akan adanya burung Dodo yang sudah punah, dan itu adalah hal yang absolut. Hal yang pasti, dan hal yang tidak bisa diulangi.

Harapan adalah hal yang berbahaya, begitu kita berharap akan suatu hal, mau secara logis probabilitas hal tersebut tidak bisa direalisasi, maka kita tidak akan melihatnya sebagai probabilitas 1/100000. Kita akan melihatnya sebagai suatu hal yang mungkin terjadi, baik kemungkinannya kecil, atau besar.

Teori 2: Ketika hal baik terjadi, manusia akan melihatnya sebagai bagian dari kemampuan yang mereka miliki.

Teori kedua terdengar panjang, aku tahu. Sebelum masuk dan menjelaskan teori ini, aku perlu memberi klarifikasi bahwa Taleb terdengar seperti orang sok tahu ketika menuliskan Fooled by Randomness. Ralat, aku cukup yakin bahwa hampir semua buku Taleb yang telah kubaca membuatnya tampak seperti orang sok tahu, walaupun yang ia katakan memang benar. Di Fooled by Randomness, Taleb menyatakan bahwa teori 2 dan 3 (yang aku pisahkan dan klarifikasi sendiri tentunya) adalah hal yang absolut, dan cara manusia mempersepsikan kedua hal ini terjadi akan selalu seperti itu, seolah-olah tidak ada kemungkinan mereka melakukannya secara positif. Aku menuliskannya sebagai teori dengan alasan bahwa ini tidak 100% pasti terjadi.

Kembali ke topik. Teori kedua adalah teori yang menyatakan bahwa ketika manusia menerima keberuntungan dalam mengerjakan sesuatu, mereka akan melihatnya sebagai bentuk lain dari skill yang mereka miliki, seolah-olah mereka mampu mengerjakan hal tersebut tanpa adanya bantuan dari Fortuna, alias Nyonya Keberuntungan.

Ketika seorang pegawai -tanpa melihat watak orang tersebut sombong atau rendah hati atau campuran keduanya-  melihat bahwa ia mampu mengerjakan tugas A, meskipun ia melakukannya hanya karena ia beruntung, ia akan melakukan tugas A lagi dengan asumsi bahwa ia bisa melakukannya. Ketika Fortuna tidak datang untuk kedua kalinya, mereka akan kesulitan, karena mereka punya asumsi bahwa mereka bisa melakukan tugas tersebut.

Usaha yang diberikan mungkin sama, mungkin berbeda, bagiku itu irelevan, karena yang dibahas adalah cara mempersepsikan sesuatu, bukan kenyataannya.

Persepsi yang ditangkap ini bisa menjadi berbahaya bukan hanya untuk orang yang menjadi korban ke mispersepsinya sendiri, tetapi juga orang lain yang mengambil persepsi kepada orang tersebut.

Lalu, berikutnya, kita akan bahas yang diketahui dengan ekspektasi.

Ketika seseorang diminta bosnya mengerjakan Tugas A tadi, lalu bosnya menilai hanya dari satu sampel saja, bos tersebut yakin bahwa jika ada pekerjaan yang membutuhkan tugas A, ia bisa memberikannya ke pegawai tersebut, dengan harapan ia bisa mengulangi kesuksesannya lagi.

Ketika kesuksesan tersebut gagal terjadi… barulah ada relevansinya dengan karakter bos-nya. Apakah bosnya orang yang rasional atau yang menilai secara emosional?

Bagaimanapun juga, ketika ada hal yang baik terjadi, dan kesuksesan mengerjakan suatu tugas, anda jangan mau terjebak sendiri oleh mispersepsi ini, dan nilailah dengan objektif sesudah mengerjakan suatu tugas, ujian, atau semacamnya… apakah aku dibantu oleh keberuntungan?

Teori 3: Ketika hal buruk terjadi, manusia akan menilai dan menciptakan alasan bahwa itu terjadi karena mereka sedang tidak beruntung, bukan karena inkompetensi.

Teori ketiga adalah inversi (alias pembalikan) dari teori kedua.

Esensi kedua teori sama, namun kali ini, overestimasi itu terjadi dengan penciptaan alasan, entah itu “aku sedang mengalami hari yang buruk”, atau “aku lagi kurang beruntung” dan sebagainya.

Sebagai contoh, pegawai lain di kantor yang sama dengan pegawai di teori dua tadi diminta bos-nya mengerjakan tugas B. Ia sukses mengerjakan tugas B tanpa adanya masalah, dan dengan minim bantuan keberuntungan, ia bisa mengerjakan tugas B, murni karena kompetensi dan kapasitasnya sebagai seorang pekerja.

Keesokan harinya, sesudah melihat pegawai tersebut dan kehandalannya mengerjakan tugas B, ia meminta orang tersebut mengerjakan tugas B+. Tugas B+ membutuhkan skill dan waktu yang kurang lebih sama dengan tugas B, dengan pengecualian bahwa tugas B+ membutuhkan satu langkah tambahan ketika proses pengerjaannya sudah beres.

Pegawai tersebut menganalisa pekerjaannya setengah matang dan tidak menyadari bahwa ia perlu melakukan langkah tambahan dari tugas B, dan ia melupakannya karena inkompetensi.

Ketika melaporkan ke bos-nya, dan ditanyakan kenapa ia gagal melakukan tugas tersebut, ia membuat alasan bahwa (misalnya) ia lupa minum kopi hari itu, atau anaknya sedang menangis sangat keras pada malam sebelumnya sehingga ia kekurangan tidur, tanpa menyadari bahwa ia melakukan hal tersebut karena adanya inkompetensi dari kemampuan analisanya.

Sesudah ini, bos tersebut mengasumsikan bahwa pegawainya ini tidak mampu mengerjakan tugas B+, padahal hanya ada perbedaan satu langkah kecil di akhir proses dari tugas B.

Jika isu dari teori kedua adalah overestimasi kemampuan yang tidak nyata, isu dari teori ketiga terletak di overestimasi kemampuan berdasarkan faktor yang tidak nyata. Kemampuan yang ia miliki memang kurang (sebagai contoh) di bidang analisa tadi, tetapi, ia malah menggunakan emosinya untuk menilai dan memberikan alasan bahwa ia tidak mampu mengerjakan tugas tersebut, alih-alih menilainya secara rasional.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang irasional, tetapi rasional.

Kita menyetir dengan otak, atau dengan hati. Ketika kita menyetir dengan otak, kita dapat melewatkan hal-hal sederhana dan yang harusnya disadari manusia dengan kesadaran tertentu. Ketika menyetir dengan hati, pada sisi lain, kita melewatkan hal-hal yang seharusnya disadari secara logis.

Kesalahan terbesar manusia adalah kegagalan untuk menemukan keseimbangan antara kedua hal ini.

Taleb menunjukkan dan mengingatkan bahwa kita sering salah mempersepsikan kejadian dan menyalahkannya atau menyembunyikan fakta bahwa ada keberuntungan yang berperan di situ.

Aku menjelaskan bahwa kita butuh keseimbangan yang tepat untuk bisa menganalisa hal-hal tersebut dengan netral, dan dengan rasional.

Sampai lain waktu.

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Klopp mulai menjadi pelatih Bundesliga pada tahun 2005. Aku tidak akan membahas terlalu banyak tentang karirnya sebagai pelatih di musim pertama. Intinya, Mainz sukses bertahan dan mengalahkan Dortmund yang lagi berantakan karena hutang, Schalke, serta menahan Bayern seri di kandang. Ini semua sudah dibahas di artikel bagian ketiga.

Artikel keempat ini adalah titik penentu terbesar di karir Klopp, dan juga titik balik kehidupan pribadi Klopp. Ini adalah momen, di mana Klopp, seseorang yang baru saja mulai melatih di Bundesliga, menjadi seseorang dengan suara yang kuat untuk sepakbola di seluruh Jerman.

SAT1 dan Mainz

Pada awal karirnya di Mainz sebagai pelatih, teman dekatnya yang berada sebagai anggota pemilik Mainz membangun SAT1 (seperti Sky Sports milik orang Jerman) pernah merekomendasikan untuk Klopp menjadi host utama di acara sepakbola mingguan untuk membahas tiap pertandingan Bundesliga. Tahun-tahun tersebut, SAT1 masih perusahaan televisi kecil, dan temannya cukup serius jika Klopp memang ingin berhenti melatih, ia selalu bisa bekerja bersamanya di televisi.

SAT1 sendiri terletak di kota yang sama dengan FSV Mainz, dan mendominasi penyiaran pertandingan di distrik Rhineland-Palantine.

Tentunya, pembaca sudah cukup kenal akan kepribadian Kloppo untuk tahu bahwa ia tidak ingin menjadi seorang host selama ia masih bisa menjadi seorang pelatih. Ia menyukai interaksi dengan pemainnya dan merasa bahwa melatih adalah bagian dari hidupnya.

Namun, karir televisi Klopp yang tampaknya tidak akan dilanjutkan justru menjadi alasan ia bisa jadi pemegang piala Champions League tahun ini, serta alasan ia bisa menjuarai Bundesliga dua kali.

Pada akhir tahun 2005 dan hak siar Piala Dunia tahun 2006 mulai dibahas, SAT1 yang baru menyiarkan sepersepuluh pertandingan Bundesliga (dan semuanya dari klub papan tengah) menerima investasi serta rekomendasi untuk menyiarkan turnamen tersebut.

Ini bukan sekedar liga champions, atau Bundesliga. Ini Piala Dunia. Turnamen di mana orang-orang yang tidak menyukai bola tetap berusaha mengejar semua pertandingan yang disiarkan. Turnamen di mana seluruh keluarga duduk di depan televisi untuk menonton pertandingan antara dua negara, apalagi negaranya sendiri.

SAT1 mendapatkan hak siar untuk turnamen level tersebut. Tetapi, kekurangan uang yang mereka habiskan untuk investasi berarti mereka harus berusaha berpikir lebih kreatif dan mencari pundit-pundit dengan harga murah. Jadi tentunya, CEO SAT1 yang memegang sebagian kepemilikan Mainz meminta pelatihnya sendiri untuk menjadi pundit.

Meskipun didirkan tahun 1985, dan SAT1 adalah stasiun pertama di Jerman yang dimiliki secara pribadi, SAT1 sendiri baru menjadi stasiun besar pada tahun 2006 sesudah sukses menyiarkan piala dunia. Mereka sudah mulai menyiarkan sebagian pertandingan Bundesliga pada tahun 2004, dan melakukan gaya yang tidak umum dilakukan di Jerman… Mereka menayangkan muka istri dan pacar pemain, mengingatkan tanggal ulang tahun, dan semacamnya. Docu-soap sepakbola ini merupakan langkah awal SAT1 menjadi stasiun yang menyiarkan piala dunia 2006.

Kembali ke Klopp… Ketika ia menerima pekerjaan menjadi pundit untuk piala dunia 2006, bersama Miss Bundesliga Ulla Sandrock, ia membuat statement bahwa ia siap menawarkan analisa yang menyenangkan. Menurut Klopp, pertandingan-pertandingan di analisa dengan gaya yang terlalu “What-if”. Bagaimana jika mereka berlari lebih sedikit dan tidak mendapat offside, bagaimana jika wasit menyatakan bahwa itu adalah sebuah penalty, bagaimana jika tendangan sudut ditendang oleh pemain kidal alih-alih pemain dengan kaki kanan dominan?

Klopp menginginkan dan menawarkan analisa yang what-if, tetapi lebih realistis dan tidak terlalu fokus ke masa lalu. Jika seorang pundit di stasiun lain fokus ke potensi-potensi kejadian yang terjadi jika bola langsung diumpan, Klopp fokus ke opsi-opsi realistis yang pemain tersebut bisa lakukan.

Selain itu, Klopp selalu menjelaskan hal dengan gaya yang mudah dimengerti. Ia tahu bahwa penonton-penonton yang menonton piala dunia bukan orang yang memang menyukai sepakbola dan mungkin masih kebingungan apa yang membedakan pemberian corner alih-alih Goal Kick, dan semacamnya.

Banyak Pundit menggunakan istilah membingungkan seperti counter, overload, offside trap, dan seterusnya tanpa menjelaskan apa itu overloading, apa itu offside, dan hanya menjelaskan apa yang mungkin bisa terjadi jika taktik tersebut tidak digunakan.

Ketika Klopp menggunakan istilah membingungkan, misalnya seperti pressing, Klopp menjelaskan terlebih dahulu, apa itu pressing, dan apa yang bisa didapatkan serta ditujukan oleh sang pelatih dalam memberikan instruksi tersebut, baru masuk ke kemungkinan taktik lain yang digunakan.

Kritikan, serta Pengakuan.

Klopp mendapatkan kritikan dari banyak pundit lain yang menganggap bahwa opini dari pelatih yang baru saja menyelesaikan musim pertamanya di Bundesliga ini tidak masuk akal, dan cukup dangkal sehingga tidak begitu berpengaruh bagi orang yang memang mengikuti sepakbola secara rutin, tetapi, kritisisme ini ditolak atas pengakuan dari dua orang.

Orang pertama adalah Franz Beckenbauer, seorang sweeper (posisi yang sudah tidak ada lagi di sepakbola modern) yang diketahui dengan panggilan Der Kaiser.

Beckenbauer adalah seorang dewa di mata pecinta sepakbola Jerman karena kesuksesannya membawa piala tersebut kembali ke Jerman. Jika Beckenbauer menganggap bahwa hal yang Klopp bilang bisa digunakan untuk professional juga dan orang-orang harusnya mendengar apa yang ia katakan, maka Klopp berbicara secara logis. Klopp baru saja membuat hal yang kompleks menjadi hal sederhana, dan mendapatkan pengakuan dari salah satu pemain terbaik Jerman sepanjang masa.

Orang kedua yang memberikan Klopp pengakuan adalah Miss Bundesliga tadi. Ulla Sandrock. Jika anda mencari namanya di internet, Ulla adalah istri Klopp, dan anda sering melihat pelatih Jerman tersebut memberikan simbol hati ke penonton, khusus untuk istrinya.

Ulla Sandrock seperti Donna Agnesia-nya orang Jerman, ia seorang perempuan yang memiliki kecintaan pada sebuah pekerjaan yang didominasi lelaki, dan masih saja bisa memiliki opini yang membuat para laki-laki ini berpikir kembali.

Klopp bukan sekedar mendapatkan pengakuan dari Ulla, ia juga sukses mendapatkan hatinya, dan pada tahun 2005, Klopp menikah lagi sesudah perceraiannya di tahun 2001. Ini sedikit irelevan dengan konteks karir, tetapi Ulla sering membantu Klopp memotivasi pemain sesudah kekalahan, seperti yang Ulla lakukan ketika ia turun dan membantu suaminya sesudah kekalahan atas Real Madrid di final Champions League di Kiev. Selain itu, Ulla juga bertemu Klopp pada pekerjaannya di sini.

Klopp mendapatkan image baik sesudah Piala Dunia 2006 dan ia mulai dilihat oleh banyak klub-klub papan tengah Jerman.

Sayangnya, kesuksesan Klopp di karirnya sebagai pundit di televisi ini langsung ditimpa kabar buruk dari klubnya.

Klopp ditinggal 7 pemain pada bursa transfer musim 2006/2007… Hasil akhir dari musim ini berakhir dengan Mainz terelegasi pada posisi ketujuhbelas.

Banyak kejadian relevan pada musim di mana Mainz terelegasi, tetapi aku mau mengingatkan bahwa Klopp tidak pasrah, dan dewan klub bahkan tidak berpikir untuk memecat Klopp. Fans dan dewan begitu cinta pada Klopp sehingga mereka tidak bisa berpikir untuk mengusirnya. Akhirnya Klopp pergi sendiri, tetapi tetap dengan kecintaannya pada Mainz, dan ia pergi untuk Dortmund, membawa klub tersebut ke kesuksesan tingkat Eropa.

Pada musim berikutnya, ia belum meninggalkan klub tersebut, tetapi cerita pelatih favorit kita yang satu ini, disudahi terlebih dahulu.

Bersambung.

Mortalitas

Mortalitas

Iya. Judul artikel ini aku pepet dalam satu kata. Mortalitas.

Ceritanya aku lagi bosan di rumah, dan aku sudah menulis dua tulisan hari ini, lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Avengers: End Game (there goes 3 hours of my life). Kenapa End Game? Film yang ada hanya itu… Aku harus membeli USB 32 giga agar bias banyak kopi film dalam sekali jalan dari teman.

Anggap sajatulisan yang di bawah 1000 kata ini adalah bonus.

Tragedi

Ya. Aku sudah menuliskan cukup banyak tentang tragedi, tetapi belum pernah ada satu pun artikel yang khusus disiapkan mengenai tragedi.

Manusia sepertinya menyukai akhir yang tragis seiring mereka bertambah umur. Mitologi-mitologi dari zaman dahulu kala jelas mencerminkan itu. Kita melihat sedikit happy-ending seperti yang terjadi pada Perseus, pada Horus, pada Romulus, pada orang lain yang namanya tidak berakhir dengan –us. Tetapi, mayoritas mitologi (dan aku cukup yakin film di zaman sekarang) lebih laku dan diingat jika memiliki ending yang tragis.

Ini mungkin alasan aku masih menonton End Game pada bulan September.

Padaakhirhari, cerita yang dialami Perseus, Horus dan Romulus hanya memberikan image yang baik untuk anak kecil. Semakin dewasa seseorang, semakin besar cintanya pada tragedi.

Shakespeare menuliskan Antony and Cleopatra, Julius Caesar, tetapi tidak menuliskan tentang Octavian (Augustus Caesar mungkin lebih sering diingat karena ia menyukai dipanggil Caesar) karena berdasarkan sejarah Antony, Caesar, dan Cleopatra mendapatkan ending yang sedih.

Selain drama-drama yang diberikan oleh Shakespeare (ekuivalen film Superhero terbaru di zaman dahulu kala), tentunya juga ada drama Dionysian. Drama yang diberikan sebagai persembahan untuk dewa tersebut menyukai tokoh-tokoh seperti Oedipus, Hercules, Theseus, dan semacamnya… karena cerita tersebut berakhir dengan tragis. Tidak ada satu pun happy ending (Hercules menjadi dewa, tapi tetap, pahlawan selevel dia tidak pantas dibunuh oleh istrinya sendiri dengan racun karena istrinya mengira ia sedang selingkuh).

Kurang lebih, film PG-13 yang tragis sesuai dengan drama Dionysian, dan cerita-cerita dengan happy ending tersebut sesuai dengan film PG, yang mengizinkan anak-anak menonton.

Heroisme

Heroisme telah mati, dan Mortalitas muncul.

Heroisme bergantung erat pada konsep seseorang yang ideal, seseorang yang rela melakukan hal-hal bodoh dan/atau berani untuk kepentingan orang lain. (klik disini untuk detil lebih banyak tentang penulis)

Apa yang seorang remaja, atau manusia dewasa pikirkan jika jenius selevel Tony Stark mati pada sebuah pertarungan hanya karena ia menjentikkan jarinya? Apa yang akan dipikirkan oleh seorang calon prajurit di militer kota ketika petarung seperti Achilles dipanah sampai mati?

Manusia tampaknya tidak akan pernah bisa menerima kematian, karena segala bentuk hiburan yang disajikan, terutama yang sukses, kembali lagi dan mengungkit kematian tersebut. Kematian tersebut juga terjadi bukan pada manusia biasa, tetapi ke “Superman“ (bukan Clark Kent, maksudku konsep punya Nietzsche)

Komik yang sold out dalam durasi terpendek adalah Death of Superman dari DC. Film dengan penjualan box office terbesar adalah Avengers: Endgame. Dan drama Shakespeare paling populer sampai hari ini adalah Macbeth, serta Romeo and Juliet.

Macbeth berakhir dengan kematian karena tokoh utamanya menjadi gila sesudah membunuh sahabatnya dan tidak bias menerima masa depannya yaitu akan dibunuh (wow, kata-kata yang menyenangkan) oleh anak sahabatnya tadi sebagai balas dendam dan pada akhirnya ia menjadi paranoid dan terbunuh oleh anak sahabatnya tadi.

Romeo and Juliet berakhir dengan bunuh diri.

Manusia ideal saja bias mati kapan saja, dengan tujuan yang sempurna. Apa yang akan kita bias lakukan sebagai manusia?

Mortalitas

Freud tampak kurang akurat. Freud mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bias menerima kematian. Aku bukan seorang psikolog, tetapi aku yakin bahwa yang Freud katakan terlalu absolut.

Tapi tentunya ini berasal dari bocah berusia 16 tahun yang baru saja membuang 3 jam hidupnya menonton ulang film yang ia sudah ketahui akhirnya, jadi jangan benar-benar dengarkan diriku juga.

Mortalitas adalah hal yang manusia tidak akan pernah bias terima, terutama jika itu terjadi pada orang lain. Tampaknya, kita tidak akan pernah bias menerima kematian yang terjadi pada Tony Stark. (oke, kontrak miliknya habis, tetapi, anda mengerti maksudnya)

Kita berusaha hidup dengan pengetahuan penuh bahwa pada akhirnya, siapapun kita, seberapa hebatnya kita, seberapa banyak uang yang kita kumpulkan, pada akhirnya, kita hanya akan meninggalkan dunia, dengan bayang-bayang kehidupan yang kita miliki.

Kematian tidak bias diterima selama kita hidup dalam bayang-bayangnya. Itu pesan hari ini. Para pahlawan yang pernah ada, mereka semua sudah paham besar risiko yang mereka ambil jika mereka gagal. Kematian adalah hal yang kita perlu pahami. Lagian, hidup ini adalah proses, sepertinya ketakutan akan kematian terjadi pada pahlawan fiktif ini membuat kita bingung. Tragedi adalah tragedi karena kita bukan dewa. Kita perlu menerima realita pahit ini.

Seorang pahlawan menjadi pahlawan ketika mereka bisa menerima bahwa mereka akan mati dalam tugas. Ini alasan kita mencintai tragedi dan takut akan mortalitas. Kita tidak bisa menerima kematian dan tidak akan pernah menjadi pahlawan…

So… Aku menyimpulkan bahwa…pesan terakhir dari End Game adalah… “Selamat, anda baru saja menghabiskan 3 jam kehidupan anda hanya untuk mengetahui bahwa pada akhirnya, anda akan mati. Semoga anda cukup beruntung untuk bisa menemukan 3 jam tersebut kembali.” (No amount of money would ever buy a second of time right?)

Untukku, aku baru saja membuang 6 jam karena aku menontonnya dua kali… Ya sudahlah, sudah ada 2 tulisan yang dibuat hari ini.

“So, I’d thought it would be good for me if I record a little greeting, in the case of an untimely death. On my part. I mean, not that death at any time is untimely. Then again, that’s part of the hero gig isn’t it? Part of the journey is the end.” –Tony Stark.

Sang Penulis Idealis

Sang Penulis Idealis

Banyak sekali orang melewatkan fakta bahwa Nietzsche memiliki banyak idea dan konsep fundamental di buku On the Genealogy of Morals miliknya… tentang seorang penulis idealis.

Tentunya kalau ada ratusan kalimat dari Nietzsche yang begitu ekstrim dan terdengar fanatik seperti Superman (dan gak, kita gak bicara tentang Clark Kent di sini), God is Dead, serta pembunuhan konsep dan evolusi yang Nietzsche ciptakan, wajar kalau kebanyakan penulis memutuskan untuk melewatkan ide-ide Nietzsche akan seorang seniman/sastrawan.

Tetapi, bagiku, Nietzsche bukan buku pertama di mana aku membaca tentang Superman, Dead God, dan pembunuhan konsep serta evolusi manusia yang umum dilihat di filsafat Post-modern yang Nietzsche ciptakan. Banyak buku yang mencatat Nietzsche sebagai sumber, dan melengkapi ide-idenya dengan opininya sendiri.

Jadi, melihat Nietzsche yang tampak di tulisannya sebagai fanatik, aku cukup takjub bahwa ia mempunyai ide yang indah (setidaknya berdasarkan standar indahnya Nietzsche, yang… ya… err… gitu lah ya…) akan seorang seniman dan sastrawan.

Selamat menikmati!

(Off topic: aku harus berterimakasih pada Word ketika mengecek ejaan Nietzsche, karena meskipun namanya kusebut belasan kali, aku masih saja ada salah ejaan)

Achilles, Jon, dan Tony.

Homer. George R. R. Martin. Stan Lee. Apa kesamaan yang ketiga penulis ini punya?

Mereka bertiga berbeda jauh dari karakter paling ideal yang mereka ciptakan.

Aku akan membahas ketiganya secara terpisah.

Homeric Epic

Homer (terlepas dari eksistensi Homer berdasarkan sejarah) menciptakan Achilles, Hector, Priam, Helen, Ajax, Menelaus, Paris, dan Odysseus dari satu sudut pandang. Tetapi, nyatanya, pahlawan dari seluruh pihak, Ithaca, Yunani, Sparta, Troya, bahkan Olympus (hampir semua dewa berperan penting di Epik skala besar ini) sekalipun, memiliki mentalitas yang berbeda.

Achilles dari Yunani, terobsesi dengan harga dirinya, sangat narsistik, dan punya masalah amarah yang sangat parah. Ia diciptakan dengan satu kelemahan secara fisik, yakni mata kaki miliknya, tetapi dengan ratusan kelemahan mental.

Heck, aku pernah ditanyakan seorang teman tentang ide nama yang diawali dengan huruf A. Ada yang memberi ide Achilles. Komentarku sederhana “Are you crazy? Entar dia punya anger issue atuh…” meski aku menyukai nama Achilles… sebagai karakter, ia sangat tidak utuh dan lemah.

Hector, dari Troya pada sisi lain… Sempurna secara mental. Ia punya ketenangan, kesabaran, kestabilan emosi, dan juga rasa cinta yang sangat besar untuk prajurit, keluarga, dan kerajaannya. Namun, secara fisik, ia kalah jauh dengan Achilles.

Odysseus adalah pahlawan yang masih memiliki corak karakter lain. Ia tenang, sabar, dan stabil seperti Hector, namun tidak sekuat Pangeran Troya tersebut, tetapi, ia punya kemampuan strategi, dan kelicikan tingkat tinggi yang lebih dari cukup untuk memenangkan seluruh pertarungan yang ia hadapi.

Membahas semua karakter dari Epik Homerik kali ini akan butuh waktu yang sangat banyak.

Jadi, ayo move on!

Game of Thrones

Aku sendiri belum pernah baca Game of Thrones, tapi aku cukup aware tentang beberapa referensi dan aliansi yang diciptakan dari beberapa board game yang dimainkan.

Tetapi, referensi ini tetap dibutuhkan, karena GoT adalah hal terdekat ke Homeric Epic di era modern, jadi… ya, begitulah.

Dari banyaknya karakter yang aku ketahui… Sudut pandang penulis bertambah cukup banyak, dan tidak ada jahat atau baik, sama seperti di Iliad milik Homer.

Berdasarkan framework cerita, GoT, menciptakan banyak kelemahan tiap karakter, serta, tidak seperti Epic Homeric yang berakhir tragis bagi SEMUA protagonis, kecuali Odysseus (YAY!), GoT memberi akhir tragis bagi karakter yang disukai orang-orang.

Level tragis dari GoT berkurang kalau dibandingkan dengan Iliad dan Odyssey, namun, pada akhirnya, tiap karakter tidak ada yang bisa memenuhi idealisme penulis.

(Off-topic lagi: Jika anda mengira GoT sudah cukup tragis, ayo dicatat karakter-karakter yang mengalami ending tragis di Mitologi/Sejarah Yunani dan Romawi: Hercules, Theseus, Orpheus, Jason, Bellerophon, Achilles, Phaeton, Daedalus, Atalanta, Meleager, Remus, Julius Caesar, dan sebagainya. Happy Ending? Perseus, Psyche, Romulus. Ya, simpulkan saja sendiri)

Avengers…

Bagi yang mengetahui aku dengan dekat, atau setidaknya, pernah melihat kaos-kaos yang aku kenakan. Bisa disimpulkan aku menyukai DC lebih dari Marvel.

Tetapi, aku juga menyukai Marvel, karena sejujurnya, apa salahnya menyukai keduanya?

Avengers memberikan framework baru kepada gaya menulisnya seorang idealis.

Mau dilihat dari sudut pandang apapun, Stan Lee (rest in peace) memiliki sudut pandang yang unik pada tiap tokoh. Selain fakta bahwa Tony Stark mengalami ending yang tragis, (karena isu kontrak) dan juga Civil War yang terjadi sebelum Infinity War dan End Game, Avengers memperkenalkan konsep Villain yang jelas.

Penonton dapat melihat siapa yang baik, dan siapa yang jahat.

Namun, MCU serta komik-komik yang menginspirasi MCU, memastikan bahwa “penjahat” yang hadir di karya-karya tersebut adalah penjahat yang tidak benar-benar jahat, dan sebenarnya memiliki niatan baik, tetapi dilakukan dengan metode yang salah.

Aku tidak perlu membahas terlalu banyak tokoh, bahkan Thor, Captain America, dan Iron Man juga diciptakan dari tiga framework berbeda. Salah satu mengalami kehidupan yang bahagia, tetapi merasa tidak bisa hidup ke ekspektasinya sendiri. Salah satu mengambil tugas yang diberikan padanya, dan percaya akan tugas, dan nasionalisme. Dan yang terakhir mengalami kejadian tragis dan berniat untuk menciptakan dunia yang ideal, yang lebih sesuai dengan gambarannya atas metodenya sendiri.

Bisa dilihat, tiga tokoh utama MCU fase pertama dan kedua sangat kontras dan berbeda dengan satu sama lain.

Jadi, di mana peran Friedrich Nietzsche di sini?

Terpisah. Ideal. Sempurna.

Homer tidak mungkin menciptakan Achilles atau Hector jika kepribadiannya sama dengan kedua protagonis tersebut.

George R.R. Martin juga tidak mungkin menciptakan Jon Snow, Daenerys, dan… ada siapa lagi di GoT? Kalau ia sama dengan tokoh utama tersebut.

Sama juga dengan Stan Lee. Tony Stark, Steve Rogers, Peter Parker, T’Challa, dan seterusnya tidak mungkin bisa diciptakan kalau Stan Lee memiliki kepribadian yang sama dengan ketiga tokoh tersebut.

Jadi, di mana letak para penulis dan seniman yang disebutkan ini?

Untuk bisa melihat idealisme seorang karakter, penulis atau seniman harus bisa membersihkan diri dari idealisme karakter yang akan diciptakan. Seseorang yang agresif tidak mampu menggambarkan sisi itu darinya secara negatif, dan seseorang yang narsistik juga tidak mampu menggambarkan sisi tersebut darinya secara negatif.

Kelemahan karakter yang paling tampak pun, tidak mungkin bisa dijelaskan jika tidak dilihat dari satu sudut pandang yang netral.

Bagi Nietzsche, seorang penulis bukanlah orang yang mampu menciptakan karya, namun orang yang telah memasukkan imajinasinya dari sudut pandang netral dan bersih. Orang yang terdiskoneksi dan berperan murni sebagai pencerita dalam kisah besar.

Seperti, misal, Vyasa yang berperan dalam penulisan Mahabharata. Vyasa sendiri merupakan tokoh yang canon dan memiliki peran di dalam cerita. Perannya murni untuk menuliskan dan merekap cerita, serta sedikit membantu pahlawan dari kedua belah pihak. Homer, dan George R.R. Martin tidak melakukan ini, namun aku tidak perlu membahas terlalu dalam karena Vyasa adalah contoh paling mentah dan sempurna, hal yang R.R. Martin dan Homer lakukan sudah sesuai, hanya saja tidak semudah dilihat Vyasa.

Bagaimana dengan Stan Lee? Dapat diasumsikan bahwa Stan Lee yang menginginkan cameo di tiap film MCU merupakan hal yang mirip dengan hal yang Vyasa lakukan. Kurasa, kita tidak akan pernah tahu…

Sampai lain waktu… (masukkan sound effect jeng-jeng. Lalu, cut!)

Jürgen Klopp: Sampai Bunyi Peluit Terakhir

Jürgen Klopp: Sampai Bunyi Peluit Terakhir

Jika anda sudah membaca dua artikel sebelumnya, maka anda tahu bahwa akhir musim sebelumnya berakhir dengan tragis. Kloppo gagal mencapai promosi karena sebuah propaganda pada pertandingan derbi lokal.

Jika belum. Artikel 1 dan Artikel 2

Tetapi, jika kebanyakan pelatih akan menyerah, atau akan meminta uang tambahan untuk mendapatkan pemain, Klopp tidak melakukan itu. Klopp melakukan hal yang sangat-sangat tampak belakangan ini, ia mengajak pemainnya untuk bangkit, dan tidak sekedar berhenti begitu saja.

Hal pertama yang ia lakukan pada pra-musim adalah mengajak berkemah, seperti biasa.

Klopp mengajak pemainnya di FSV. Mainz ke sebuah perkemahan di dekat rumah di mana ia tumbuh, di hutan yang dikenal turis-turis berbahasa inggris sebagai “Black Forest” jika anda mengira itu nama kue, aku akan memasang muka… “Really? Aku sudah membahasnya di artikel sebelumnya”

Sejujurnya, Black Forest sendiri makin berkurang bagian hutannya. Banyak daerah di Black Forest ini yang dirubah menjadi perumahan, namun Klopp dan pemainnya di FSV masih sempat merasakan ketenangan dari hutan di belahan Jerman yang satu ini.

Cerita banyak ditukar, hiking, berlari, latihan fisik, dan tentunya, memasak makanan sendiri.

Kloppo membangun jaringan antar pemain yang kuat, dan hanya dengan tambahan 2 pemain, Mainz harusnya siap menjadi tim yang naik ke Bundesliga. Bukan sekedar bicara Mainz sebagai klub tentunya, seluruh kota, dan seluruh belahan Jerman menginginkan tim yang memiliki strategi menegangkan ini untuk naik ke Bundesliga, dan bisa disaksikan semua orang!

Masalah finansial yang tadinya ada bisa dibilang hilang. Bukan cuma karena sponsor lokal memperpanjang kontrak, dan sales dari tiket pra-musim habis dalam hitungan hari, tetapi juga karena banyak orang yang bukan fans dari FSV, ataupun warga di kota Mainz, penasaran ingin menonton pertandingan sepakbola Jerman yang sangat rusuh, hal yang tidak umum dilihat di sebuah klub Bundesliga.

Gegenpress yang Klopp miliki belum pudar, belum ditemukan obatnya, dan tentunya, mencapai hasil.

Mainz pergi ke pertandingan pertama dengan perasaan semangat! Hasil pertandingan pertama? Sapu bersih 4-0. Mainz memenangkan pertandingan kedua dan ketiga dengan selisih skor yang cukup jauh juga. Baru pada pertandingan keempat, Mainz gagal mencapai kemenangan pada derbi lokal, dengan skor 2-2.

Optimisme Klopp tidak tampak akan pudar, tentunya, pelatih macam apa yang mengharapkan hasil bagus dari pertandingan awal untuk berhenti? Mainz mencapai paruh musim pada bulan Desember hanya dengan 2 kekalahan, dan 3 kali seri. Sisanya dimenangkan, walau memang iya, ada dua pertandingan dimana ada kesalahan wasit dalam memberikan offside, tetapi, keberuntungan merupakan faktor yang dibutuhkan untuk juara bukan?

Paruh musim Bundesliga 2 yang berlangsung sepanjang 34 pertandingan itu memberikan Mainz 39 poin pada istirahat bulan Desember, di peringkat kedua, peringkat promosi tanpa perlu pertandingan playoff (final antar tim posisi ketiga terendah di divisi pertama, dengan tim ketiga di divisi kedua, pemenang akan bermain di divisi pertama pada musim berikutnya). Mengenal Klopp, momen ini lah momen paling tepat untuk berpesta!

Jika anda tidak mengikuti kabar atau informasi tentang Klopp, maka, aku perlu memberitahu bahwa pelatih Jerman ini bertindak sangat-sangat manusiawi di hadapan timnya. Video selebrasi Kloppo ketika pawai bis sesudah memenangkan final Champions League melihatnya meminum bir, dan tampak pusing serta mabuk. Tidak ada pelatih lain yang akan melakukan itu tanpa takut image-nya di hadapan pemain turun. Klopp mampu melakukannya.

Meskipun secara teknis tidak mencapai “apa-apa” Kloppo masih merasa ini adalah momen tepat untuk berpesta. Jadi, ia berpesta bersama timnya dengan harapan hasil lebih baik dapat dicapai!

Bulan Januari tiba, dan tentunya, Klopp memimpin pasukannya dengan semangat. Pertandingan 18, pertandingan pertama pada kalender baru? Menang. Kedua? Menang.

Namun, amat disayangkan. Pada pertandingan kedua tersebut, bek tengah andalan Klopp, cedera. (catat bahwa jika aku sebutkan namanya, anda pun gak akan tahu, jadi… ya, aku sebut posisi saja)

Cedera ini kurang lebih merusak rekor Klopp untuk 6 pertandingan ke depan. Mainz yang dikenal energetik dalam bertahan, tapi tetap rapih secara struktur, rusak. Klopp yang meraih 6 poin dalam 2 pertandingan sebelumnya, hanya bisa meraih 6 poin dalam 6 pertandingan, dengan satu kali menang, tiga kali seri, dan dua kali kalah.

Pada pertandingan ke 26, Klopp berada di posisi keempat dengan 45 poin (diluar zona promosi, bahkan zona playoff) dengan selisih 1 poin dari tim yang berada di posisi ketiga, serta selisih 3 poin dari puncak klasemen. Pertandingan ke 26 tersebut tidak bisa muncul di momen yang lebih pas. Klopp akan bermain melawan tim yang berada di puncak… Menang, maka Klopp bisa dipastikan menyusul tim yang di puncak.

Namun, sayangnya, keberuntungan Klopp tampak habis. Sebuah gol dari posisi offside diberikan wasit untuk lawannya, dan pertandingan tersebut berakhir seri.

46 poin, pertandingan 27 dari 34. Tim-tim pada umumnya harus meraih promosi dengan rata-rata 73 poin, atau dengan memenangkan 24 pertandingan plus satu seri (kombinasi menang kalah seri bisa apapun tapi kita bicara kondisi ideal).

Dengan sisa 8 pertandingan, poin terbanyak yang Klopp bisa raih adalah 70 poin. Satu kali menang di bawah rata-rata promosi musim-musim sebelumnya.

Tetapi. Aku di sini memberitahu anda bahwa Klopp sukses.

Ia masih memegang rekor promosi ke Bundesliga tanpa playoff, dengan poin tersedikit sepanjang sejarah. Sampai tahun ini, belum ada yang bisa promosi ke Bundesliga tanpa pertandingan playoff hanya dengan 67  poin. Klopp memenangkan 7 pertandingan dan kalah satu, ketika dua saingan promosinya melawan satu sama lain, dan terselip ketika momennya penting.

Mainz menjadi tim yang memanfaatkan kejar-kejaran tegang antara kedua tim tersebut, dan mencapai promosi karena kegagalan keduanya.

Klub Karnival yang Klopp bawa ke seluruh Jerman ini, dengan bis gratis untuk pemegang tiket semusim, dengan syarat rusuh, sukses promosi.

Klopp merayakan kemenangan ini dengan cara yang sangat… Klopp. Pesta. Dengan seluruh kota. Ia tahu ketika musim ini telah beres, ia ada tugas penting untuk dilakukan. Klub didikannya harus menghadang Bundesliga. Namun, ada saat untuk bekerja, ada saat untuk berpesta. Kita tidak bisa melakukan keduanya bersamaan bukan? Mereka harus dikerjakan sambil berdampingan

Awal Mula Bundesliga

Jika anda mengira bahwa Klopp memulai musim pertama Bundesliga-nya dengan berantakan… anda salah. Justru, sebaliknya.

Pada musim pertama Mainz 05 berada di Bundesliga, mereka sukses mengalahkan Schalke 04, dan Dortmund pada pertandingan kandang, dan secara magis, mereka juga bisa menahan seri kedua klub tersebut di pertandingan tandang.

Tolong diingat bahwa kedua klub dari distrik Ruhr di Jerman ini merupakan klub nomor 2 dan 3 di Jerman untuk waktu yang cukup lama, dengan Schalke yang baru-baru ini tergusur menjadi klub papan bawah sesudah naiknya kekuatan RB Leipzig.

Tetapi, di saat yang sama, Mainz juga merupakan klub yang unik. Tidak ada tim yang keberatan jika mereka di kalahkan oleh Mainz. Kurang lebih, pikiran mereka tertulis seperti ini… “Ah well, kalahnya sama tim yang itu, gapapa kok, toh posisi di tabel gak terlalu berubah.”

Musim pertama Klopp di Bundesliga, Mainz menyelesaikan Bundesliga pada posisi ke-9 dari 18 tim. Ia juga menerima ratusan liputan televisi, karena pada masa mudanya, Klopp hampir pasti mengikuti pawai bis Mainz yang sudah dibeli.

Karir Klopp naik besar pada tahun 2006. Sesudah banyaknya liputan televisi yang diterima oleh klub Mainz secara keseluruhan, temannya yang bekerja di sebuah stasiun televisi, membayarnya untuk menjadi seorang pundit. Itu adalah titik penentu terbesar di karir Klopp, tanpanya, aku bisa memastikan bahwa Klopp tidak akan berada di posisinya sekarang.

Bersambung.

Konsep Nilai.

Konsep Nilai.

Seiring waktu, konsep Harga dan Nilai suatu benda semakin berubah dan menjadi semakin fluktuatif.

Benda dengan harga 10.000 rupiah dapat memiliki nilai yang sangat berharga bagi seseorang, entah secara sentimental, ataupun fungsi. Sebaliknya, benda senilai, misal, 300 juta US dollar dapat memiliki nilai emosional, visual, dan fungsi yang sangat rendah. Jika anda menginginkan contoh, benda yang kumaksud adalah Trump Tower.

Untuk itu, aku ingin memecahkan konsep nilai dan harga di mata seseorang, karena sayangnya, sebuah benda tidak bisa memiliki harga yang padat jika tidak memiliki nilai, dan benda yang bernilai bisa saja tidak berharga.

Definisi Nilai dan Harga

Harga berarti suatu benda secara ekonomis. Secara mentah. Tentunya harga dapat mengalami fluktuasi, dan sangat bergantung pada pembeli, supply and demand, serta seratus ribu faktor lainnya mengenai pasar di dunia kapitalistik yang kita tinggali ini.

Namun, harga tidak akan pernah lepas dari uang. Itu yang membuat harga dari suatu benda sebagai faktor absolut. Fluktuatif, iya, tapi bagaimanapun juga absolut. Sebuah Beng-Beng (karena aku doyannya beng-beng, bukan karena aku dibayar Beng-Beng) yang dibeli di toko yang sama akan sama-sama berharga 2000 rupiah. Butuh lembaran dengan warna dan nilai yang sama untuk mendapatkannya.

Karena kita tinggal di dunia yang memiliki banyak negara, dan tiap negara punya preferensi ekonominya masing-masing, terciptalah sebuah masalah/solusi yang memberi anak-anak IPS kesulitan untuk masuk ke PTN yang mereka inginkan… (out of topic, aku ingin masuk ITB, jadi sebenarnya aku tidak mengalami masalah ini, aku harus mengalami masalah rumus yang logikanya lebih parah, tapi ya, gitu lah) mata uang.

Mata uang sendiri bisa dibeli, dengan mata uang lain seolah-olah mereka tidak ada perbedaannya dengan, misal, sekantong Beng-Beng. Namun, secara filosofis dan logis, kebutuhan mata uang untuk membeli benda dapat menciptakan kebingungan, karena kalau kita bicara kepraktisan dan kebutuhan logis, satu mata uang harusnya cukup untuk membeli segala hal bukan?

Sayangnya, dunia tidak bekerja seperti itu. Hadirnya banyak mata uang juga memberikan kompleksitas lebih dalam kehidupan sehari-hari seorang warga dunia. Berjualan mata uang dapat menghasilkan keuntungan, iya, tetapi ia juga bisa menjadi sumber penurunan kualitas, alasan bagi oposisi di suatu negara untuk mengutuk pemimpin yang sekarang (meski sebenarnya itu belum tentu salah si pemimpinnya), dan juga menaikkan uang masuk dari perjanjian perdagangan, turisme, dan sebagainya.

Ini mulai off-topic, jadi kurasa kita harus kembali ke titik awal yaitu definisi harga dan nilai.

Seperti aku telah bilang, sebuah benda bisa memiliki nilai yang tidak bisa diukur…

Harga adalah faktor absolut, dan tidak bisa berubah begitu saja. Nilai, pada sisi lain, bersifat sangat fleksibel.

Nilai suatu benda tergantung penuh pada mata orang yang melihatnya. Dan hanya dari dua konsep mendasar ini, terciptalah dunia ekonomi modern yang kita tinggali sekarang. Benda yang sama dapat memiliki nilai berbeda di antara dua orang. Sebagai contoh…

Bagi seseorang yang sangat lapar, atau ngidam Beng-Beng ketika Beng-Beng di minimart terdekatnya sudah habis, ia mungkin memiliki perasaan lebih untuk ingin membeli Beng-Beng. Beng-Beng yang diproduksi dalam jumlah banyak ini tiap harinya memiliki nilai lebih karena seseorang sangat ingin memakannya. Ia tidak bisa mendapatkannya untuk sekedar 2000 rupiah di minimarket karena sedang kosong…

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia membeli Beng-Beng dari temannya dengan harga 3000 rupiah.

Baginya, Beng-Beng tersebut memiliki nilai lebih, karena ia sangat menginginkannya, jadi ia rela mengeluarkan uang ekstra untuk membelinya, karena tidak ada Beng-Beng di minimarket terdekat, harga Beng-Beng yang ia ingin makan meningkat senilai 50%.

Harga dan Nilai ini yang secara tidak langsung ataupun langsung merubah dunia ekonomi yang kita tinggali ini. Karenanya, nilai absolut barang (catatan, aku dapat menggunakan istilah nilai absolut sebagai sinonim untuk harga, bukan untuk nilai, terkadang ada momen di mana istilah nilai absolut akan lebih cocok dengan konteks) dapat berubah.

Supply and Demand

Pada akhirnya, menentukan nilai suatu benda kembali ke titik yang satu ini… Aku bukan seorang ekonomis (dan dengan asumsi beberapa hal ke depan, sepertinya aku tidak akan jadi seorang ekonomis) tetapi, melihat nilai dan harga suatu benda dapat berubah murni berdasarkan cara seseorang melihatnya dari sudut pandang apa.

Supply and demand adalah satu-satunya hukum yang tidak akan pernah hengkang dari faktor suatu benda.

Bahkan, suatu perusahaan dapat memanfaatkan supply and demand untuk meningkatkan nilai dari suatu benda.

Perusahaan yang kumaksud adalah Supreme.

Like, seriously. Murni dengan melakukan cost-pressing dan memastikan suatu benda tidak pernah diproduksi lagi, benda menjadi bernilai secara irasional karena demand yang tinggi dan supply yang sangat sedikit, sebuah brand dapat menciptakan efek kelangkaan yang fiktif dan mendapatkan untung dari hal tersebut.

Tapi, sayangnya, tulisan kali ini bukan tulisan yang akan membahas Supreme (percaya padaku, anda tidak ingin membahas brand tersebut), aku di sini untuk membongkar dan memutar alasan suatu benda bisa memiliki nilai tersebut.

Seperti disebut di atas, suatu benda bisa memiliki nilai fiktif yang tinggi karena supply yang sedikit dan demand yang tinggi. Jadi, kalau kita bicara secara logis, apakah ada cara yang lebih praktis untuk mendapatkan nilai maksimum suatu benda, selain dari menekan supply dari barang tersebut?

Konsep Supply

Supply sendiri merupakan suatu konsep.

Salah satu hal termudah (jika anda menanyakan seorang ekonomis, bukan psikolog) untuk menaikkan atau menurunkan harga barang ketika sedang melakukan jual beli, adalah dengan menjelaskan bahwa barang yang kita miliki adalah barang yang langka, barang yang supply-nya sedikit.

Dan sayangnya, supply sendiri memiliki nilai yang psikologis.

Suatu benda yang “langka” belum tentu “langka” selain fakta bahwa benda tersebut dipersepsikan sebagai langka oleh orang yang memasarkannya. Supply sendiri juga relatif dalam anggapan bahwa, apakah benda yang ada ini dimiliki 1 dari 100 orang sebagai benda yang langka? atau 1 banding 100.000?

Terkadang, suatu benda yang dipasarkan langka dengan cara berbeda, dapat menciptakan efek berbeda.

Konyolnya, manusia juga lebih ingin menjadi yang terbaik di sukunya, kebanding menjadi manusia yang sangat baik. Sebagai contoh…

Budi tinggal di apartemen dengan isi orang-orang yang menghasilkan 200.000 dollar setahunnya, dan aku hanya menghasilkan 180.000 dollar setahunnya. Di apartemenku, aku menghasilkan uang paling sedikit.

Lalu, Budi memutuskan untuk pindah. Ia pindah ke tempat di mana orang-orang rata di apartemennya, menghasilkan 50.000 dollar setahun, dan penghasil terbesar di apartemen tersebut menghasilkan 120.000 dollar setahun. Budi hanya pindah ke situ karena gajinya dipotong, dari 180.000 setahun, menjadi 150.000 dollar setahun. Budi lebih bahagia.

Faktanya, manusia rata-rata merasa lebih bahagia menjadi orang terbaik dari kelompoknya, kebanding orang sangat baik secara umum. Kalau kita melihat gajinya secara harga, tentunya, orang-orang akan memilih menghasilkan 180.000 kebanding 150.000 bukan? Ya, tetapi, semua itu tergantung berdasarkan kelompok yang kita tinggali sekarang.

Suka atau tidak, manusia adalah makhluk yang amat sangat kompetitif.

Ini adalah trik yang sangat mudah untuk menaikkan nilai relatif sebuah barang, dan tentunya, jika nilai relatif sudah dilihat tinggi, maka, nilai absolutnya akan meningkat juga.

Ini adalah alasan kenapa…

  1. Pajero bisa menjadi mobil yang laku. Ia menjadi mobil pilihan yang meningkatkan status sosial karena pemiliknya relatif jarang, seolah-olah di jalan, ini bisa menjadi bukti fiktif seolah-olah anda seorang alfa dengan memilikinya.
  2. Supreme (lagi) bisa menjadi brand efisien, hanya dengan 5 (tidak yakin dengan angka, hanya estimasi) toko seluruh dunia, ia bisa menjual barang secara tinggi, mencapai nilai pasar puluhjutaan dollar.
  3. Ada saja orang yang membeli benda hanya karena orang lain membelinya, entah itu makan di suatu kafe, atau membeli tas dengan brand tertentu, dan sebagainya…

Kesimpulan

Aku akan menyimpulkan artikel ini dengan sederhana.

Stop menilai sesuatu dengan nilai relatif jika dibandingkan dengan orang lain.

Nilai relatif adalah hal yang bagus jika anda membandingkannya dengan benda lain yang anda miliki, atau benda lain dari genre yang sama (misal membandingkan ayam goreng KFC, McD, dan ayam goreng di Masjid Salman). Begitu anda melibatkan orang lain dalam penilaiannya, anda tidak akan pernah merasa bahagia, karena anda tidak akan merasa bahwa anda telah mencapai titik sukses, selama bandingannya masih saja orang lain…

Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Roberto Firmino adalah seorang anomali. Dia seorang pemain kelas dunia, bermain di posisi yang jarang dimanfaatkan pelatih (False 9), dan bahkan dalam posisi tersebut, ia masih sebuah anomali.

Keanehan dan keunikan posisi di mana Firmino bermain ini cukup untuk memberikan posisi miliknya namanya sendiri. “The Firmino Role” menjadi sebuah posisi di mana seorang False Nine melakukan pengaturan struktur tim dan mengatur pressing. Struktur pressing sendiri umumnya ditentukan bukan oleh Striker tengah, tetapi oleh Gelandang Box-to-Box, atau Gelandang Bertahan.

Seperti orang-orang lihat, struktur Pressing Liverpool dalam struktur 4-3-3 memanfaatkan Firmino untuk pengaturan gerakan seluruh timnya. Strukturnya dalam formasi 4-2-3-1 berubah total, tapi, sekarang bukan waktu untuk membahas hal tersebut.

Kalau anda ingin tahu sebenarnya seberapa teraturnya kekacauan dan kehebohan di Anfield, lanjut baca. Karena sebenarnya, dibalik kehebohan dan kerusuhan pressing yang Klopp manfaatkan, semuanya sebenarnya terstruktur.

Pressing Posisi

Musim 2018/19 mengubah total gaya pressing Liverpool. Iya, mereka masih memanfaatkan Gegenpressing, iya, mereka masih sebuah tim yang memiliki kemampuan serangan balik lebih baik daripada serangan terstruktur ketika memegang bola, tetapi, gaya pressing yang diterapkan Liverpool berubah total.

Hard-Pressing, alias, berlari untuk merebut bola, hampir tidak pernah dilakukan kecuali benar-benar diperlukan, dan alih-alih memaksa lawan untuk memainkan bola di bawah tekanan, Liverpool memaksa lawan untuk bermain bola dengan pintar, dengan cara mematikan hampir seluruh opsi operan yang ada.

Pressing ini diketahui dengan Pressing Posisi. Melakukan pressing, tanpa perlu bergerak, dan hanya dengan mengatur ulang posisi tiap kali lawan bergerak. Ini mengurangi kebutuhan stamina untuk bermain dalam sistem pressing Liverpool. Memang masih butuh banyak stamina, tetapi lebih sedikit dari musim 2017/18.

Firmino mengatur posisi tim secara keseluruhan, mulai dari gelandang, hingga bek kanan dan kiri, semuanya mengikuti Firmino untuk keseluruhan struktur.

Sebagai contoh…

Firmino berada di antara Gelandang Bertahan (Fabinho) dan kedua bek tengah lawan (kedua CB) langsung memotong jalur operan antara keduanya. Lawan hanya bisa mengoper ke Bek Kanan (RB), Bek Kiri (LB), atau Bek tengah yang lain.

Namun, berdasarkan posisi Firmino, Salah dan Mané juga berada di posisi yang cukup, tapi tidak terlalu sentral untuk bisa memotong jalur operan antara kedua bek sayap, tanpa menghalanginya secara langsung, memberikan godaan bagi pemain yang memegang bola.

Selain itu, Robertson, dan Trent (Trent Alexander-Arnold) berada di posisi yang cukup dekat untuk lari ke depan seandainya Salah atau Mané gagal memotong bola, memberikan tekanan yang cukup untuk memenangkan bola, serta memberikan orang tambahan dan menyulitkan lawan.

Ketiga gelandang cukup sentral untuk bisa menjadi pemain tambahan di posisi lebar, seandainya lawan sukses memberikan umpan lambung untuk melewati seluruh struktur Liverpool.

Ketika itu terjadi, struktur tim berubah, dan seandainya lawan memiliki bek tengah yang mampu memberikan bola berkualitas tinggi tanpa dipotong Van Dijk, Liverpool dalam bahaya.

Ini alasan kenapa salah satu pertandingan terbaik musim kemarin (dalam opiniku) merupakan Chelsea vs Liverpool di Stamford Bridge. Kemampuan David Luiz bagi Chelsea cukup untuk sesekali melewati pressing posisi Liverpool.

Wow. Ini semua perlu dijelaskan dengan dua gambar dan 5 paragraf, padahal bola hanya ditendang sekali.

Transisi Press

Oke, lalu, bagaimana cara terjadi transisi dari pressing posisi ke hard press?

Jalur lari ideal seandainya bola dimenangkan…

Ketika Firmino merasa bahwa lawan telah menunda untuk waktu yang cukup lama, atau mulai kebingungan, ia melakukan pressing.

Ketika itu terjadi, posisi Firmino yang tadinya berada di zona antara gelandang dan kedua sayap, maju, dan posisi yang mungkin tampak sebagai 4-3-1-2, kembali menjadi 4-3-3 yang sentral, dengan kedua sayap memotong ke dalam, siap menerima bola dan membantu tekanan ke keempat pemain bertahan.

Jika ini terjadi, Fabinho maju, dan memberikan tekanan secara langsung ke gelandang bertahan lawan (CDM), dengan tujuan mematikan opsi operan tersebut.

Kedua gelandang tengah juga tetap berusaha mematikan opsi operan ke gelandang lawan,  memberikan ruang bagi kedua bek sayap untuk bias melakukan overlap dan menambah jumlah orang dalam serangan.

Pada momen inilah, Liverpool paling rentan ke operan lambung yang bagus. Sebuah bola terobosan lambung yang dapat dikendalikan oleh seorang penyerang dapat menciptakan situasi serangan 3 penyerang, melawan 2 pemain bertahan.

Jalur lari yang setengah terpotong jika bola gagal dimenangkan dan ada operan bagus tercipta.

Selain itu, perlu diketahui bahwa Henderson yang tadinya bermain di posisi gelandang bertahan, (ketika fisik Fabinho masih disiapkan oleh Klopp) merasa kurang nyaman dengan kurangnya gerakan, mengingat Henderson adalah seorang gelandang Box-To-Box.

Sampai Fabinho mampu bermain dengan stabil, Liverpool punya kesulitan menangani serangan balik. Peran Firmino juga sangat mengatur pressing di sini.

Isu Serangan Balik

Fabinho mampu mengisi peran gelandang bertahan di Liverpool dengan sempurna. Fungsinya di struktur tim yang sedang melakukan hard-pressing murni untuk mendaur ulang bola, dan menghentikan serangan balik.

Fabinho tidak melakukan hard-pressing seperti yang Firmino lakukan, yaitu untuk memenangkan bola ketika lawan sedang perlu bertransisi, Fabinho melakukan hal yang berbeda. Ia memotong jalur umpan transisi lawan yang paling cepat, dan memastikan bola tersebut dapat ia kendalikan, atau setidaknya, tidak sampai menciptakan serangan balik.

Umpan terpotong, bola disundul…

Begitu bola tersebut ia kendalikan, ia melakukan hal paling sederhana yaitu mengopernya kembali ke pemain kosong terdekat.

Keuntungan dari sprint jarak dekat untuk memotong jalur umpan yang Fabinho terapkan ini, ada di… jika serangan balik tidak tercipta, para pemain serang, gelandang, dan bek sayap yang ikut maju, tidak perlu berpikir untuk mundur lagi demi mengurangi jumlah lawan yang lolos dalam serangan balik.

Seperti yang ada di gambar ini… Jika Fabinho tidak mencapai bola tersebut, karena itu merupakan umpan lambung, terlalu cepat, atau semacamnya, Matip, dapat melakukan hard pressing untuk membantunya mendaur ulang serangan. Aku juga cukup yakin bahwa tidak banyak pemain mampu melewati van Dijk dengan mudah, jadi, secara logika dan sistem, Pressing Klopp ini, hanya bisa dihilangkan oleh kreativitas, atau taktik yang khusus didesain untuk mengalahkan pressing Klopp.

Kesimpulan

Ya, taktik pressing Klopp yang berdasarkan kedua pemain Brazil yang sentral dalam system Klopp (maaf Alisson, tapi peranmu hampir full teknis dan fisik, alih-alih taktis), semoga ini dapat menjadi sedikit pencerahan bagi anda yang ingin tahu mengenai kerusuhan di sebuah stadion di Merseyside, karena sebenarnya, kerusuhan ini hanya tampak rusuh. Aslinya dia terstruktur dengan rapih.

Sampai lain waktu!

Dewa-Dewi Yunani vs Romawi

Dewa-Dewi Yunani vs Romawi

Ini adalah tulisan yang akan membandingkan perbedaan antara Dewa-Dewi besar di Yunani dan di Romawi. Dewa-dewi kedua negeri ini cukup berbeda, sebenarnya.

Meskipun bangsa Romawi bertahan jauh lebih lama kebanding kerajaan-kerajaan Yunani, dan di Yunani ada perbedaan bahwa tiap kota memiliki dewa-dewi favoritnya, kedua bangsa tersebut memiliki dewa yang sangat mirip. Hanya saja, pemanfaatan dewa-dewa tersebut cukup berbeda.

Aku hanya akan memasukkan keduabelas dewa-dewi Olympus, plus Hades/Pluto. Kurasa, cukup menarik untuk bisa dinikmati, bahkan jika anda tidak mengikuti mitologi sebanyak aku.

Plus, aku sangat bosan menunggu Tyrant’s Tomb keluar September nanti. (Kalau anda mengikuti Trials of Apollo. Aku siap bertaruh satu paket Oreo isi tiga dan segelas susu untuk mencelup kue-kue tersebut bahwa Frank atau Hazel akan mati, karena… bukunya harusnya keluar pada Mei! Dan tahun lalu, serta tahun-tahun sebelumnya, Riordan juga mengerjakan Magnus Chase, dan ia tidak meminta delay 4 bulan untuk mengeluarkan bukunya. Ya, lebih baik daripada dikerjakan buru-buru dan ceritanya jadi tidak bagus)

Kembali ke topik. Maaf…

Zeus vs Jupiter

Siapa dia? Keduanya sama-sama berperan sebagai Dewa Langit dan Raja para Dewa, memiliki petir, mengatur keadilan di Olympus, dan seterusnya.

Mana yang lebih kuat? Jupiter. Kalau kekuatan Raja para Dewa mengikuti ukuran dan jumlah pengikutnya, pengikut Jupiter di Romawi jauh mengalahkan pengikut Zeus di Yunani. Juga, Jupiter punya gelar Jupiter Maximus, Zeus gak.

Perbedaan Visual: Selain fakta bahwa umumnya dewa Yunani mengenakan toga, dan dewa Romawi mengenakan baju zirah, Jupiter dikenal punya Elang-elang Romawi di bajunya. Simbol utamanya pindah dari petir menjadi elang.

Sebuah figurin dari Jupiter… dan bukan Zeus.

Yunani:

  • Terkenal akan kebiasaannya melakukan tantrum kalau sedang kesal (dengan efek samping menciptakan badai petir) atau memacari cewe cantik karena ia tidak setia dengan Istrinya.
  • Digambarkan bijak tetapi tidak tampak sedikitpun bijak jika ia berada di sebuah cerita.

Romawi:

  • Memacari cewe cantik dan selingkuh dari Istrinya (sama juga sih) tapi dengan alasan menciptakan pahlawan dan prajurit kuat bagi Republik. Nice Save!
  • Lebih bijak, tidak begitu impulsif, tetapi masih memiliki sedikit isu amarah. Para dewa-dewi Yunani dan Romawi butuh Dewi Terapi Keluarga sepertinya. Juga lebih paranoid. (pantas saja ia paranoid. Para Kaisar Romawi banyak sekali yang dibunuh oleh “teman”-nya sendiri)

Hera vs Juno

Siapa dia? Hera dan Juno sama-sama bertugas sebagai Dewi pernikahan, dan keduanya juga sama-sama Ratu Olympus. Istri dari Zeus/Jupiter.

Mana yang lebih kuat? Juno. Alasan yang sama dengan Jupiter.

Perbedaan Visual: Hera terbiasa membawa tongkat dengan logo burung merak, dan kedua simbol utama Hera adalah Merak (makhluk indah dan anggun), serta Sapi (makhluk yang menjaga anaknya dengan baik). Juno, pada sisi lain, lebih menyukai kambing gunung sebagai simbol utamanya. Umumnya Juno digambarkan dengan kepala dari kambing gunung karena para wanita di Yunani digambarkan dengan simbol tersebut.

Yunani:

  • Pekerjaan Hera sehari-hari. Memastikan tidak ada satupun dari pacar Zeus yang sedang hidup senang.
  • Memiliki kebiasaan marah-marah, namun, sebagai seorang Ibu dan Ratu, memastikan tidak banyak konflik di Olympus.

Romawi:

  • Oke, sejujurnya, hampir tidak ada perbedaan langsung di antara keduanya, tapi Juno menjadi sumber penerima doa dari para istri prajurit. Tidak seperti di Yunani. Selain itu, ia menjadi lebih pandai dan tidak begitu banyak marah-marah (selama Jupiter sedang setia). Seperti yang diharapkan seorang Suami yang merupakan prajurit pada kebanyakan Istri mereka.

Poseidon vs Neptune

Siapa dia? Dewa laut, baik di Yunani atau Romawi.

Mana yang lebih kuat? Poseidon. Prajurit Romawi tidak suka dengan lautan. Neptunus menjadi jauh lebih lemah kebanding dengan Poseidon. (ia masih ditakuti, tapi tidak diapresiasi)

Perbedaan Visual: Tidak banyak. Selain perbedaan umum yaitu, Toga vs Baju Zirah, sedikitnya patung Neptune di Romawi tidak begitu membantu.

Yunani:

  • Terkenal akan kemampuannya menciptakan gelombang air, membuat kerajaan yang tidak menghargainya terkena badai serta gempa bumi, dan seterusnya.
  • Sistem kerajaan terpisah di Yunani membuat Poseidon sangat disukai oleh kerajaan di tepian laut. Sebagian besar kota yang memiliki nelayan mempunyai kuil ekstra besar untuknya.

Romawi:

  • Menjadi lebih lemah,tidak mendapat banyak dukungan, dan fakta bahwa Romawi menuntut tiap bagian pasukannya untuk mendukung dewa yang sama membuat Neptune tidak diapresiasi sebanyak Poseidon.
  • Oh iya, anak-anak Neptune dianggap sebagai kabar buruk oleh prajurit Romawi, karena mereka menganggap perjalanan dengan kapal sebagai perjalanan yang memiliki potensi kematian terbesar. Plus, mengingat bahwa Romawi merupakan keturunan dari Troya, dan Poseidon sangat-sangat anti-Troya di perang tersebut… Ya, intinya, orang Romawi tidak bisa menghargai Neptune.

Demeter vs Ceres

Siapa dia? Dewi agrikultur dalam bentuk Yunani, meses coklat dalam bentuk Romawi.

Mana yang lebih kuat? Demeter. Romawi merupakan bangsa berperang. Ketika mereka ingin makan, mereka tidak menumbuhkan makanannya. Ceres tidak begitu diapresiasi kecuali memang dibutuhkan.

Perbedaan Visual: Tidak banyak patung untuk membantuku menjelaskan.

Yunani:

  • Cerita yang cukup umum di Yunani kuno adalah penculikan anak Demeter, Persephone, oleh Hades. Jika anda belum pernah mendengarnya, intinya, resolusi konflik dan negosiasi sesudah penculikan tersebut adalah, para bangsa Yunani tidak bisa menumbuhkan makanan ketika musim gugur.
  • Demeter ditakuti saat musim gugur (ia lagi bad mood, jangan dipaksa), dan ia diapresiasi saat tanaman bisa tumbuh. Orang macam apa yang tidak mengapresiasi dewi yang menumbuhkan makanan.

Romawi:

  • Ya… Warga Romawi tidak butuh makanan dari Agrikultur. Cukup sampai situ saja.

Hades vs Pluto

Siapa dia? Dewa kematian serta bawah tanah dalam bentuk Yunani. Dewa kematian, bawah tanah, dan mineral berharga dalam bentuk Romawi.

Mana yang lebih kuat? Pluto.

Perbedaan Visual: Pluto selalu digambarkan memegang koin emas dan memiliki baju zirah yang dibuat dari emas. Para penyair Romawi selalu menggambarkan Pluto sebagai dewa terkaya di Yunani.

Yunani:

  • Hades menyeramkan. Ia menjaga jiwa-jiwa yang sudah mati, dan hidupnya cukup menderita. Aku tidak bisa dan perlu menjelaskan lebih lanjut tanpa membahas hal-hal menyeramkan, jadi, cukup sampai situ.

Romawi:

  • Sebagai dewa kekayaan dan kematian, para prajurit Romawi yang mengharapkan kematian bagi lawannya, menghargai Pluto lebih banyak daripada para warga Yunani. Oh, dan, Pluto digambarkan sebagai pemilik mafia, jadi, walaupun ia cukup kejam dan creepy, ia tetap kaya. Orang-orang suka uang.

Athena vs Minerva

Siapa dia?Athena adalah dewi peperangan (sisi taktis dan strategi) serta dewi kebijaksanaan. Minerva hanyalah dewi kebijaksanaan saja.

Mana yang lebih kuat? Athena. Ada kota di Yunani bernama Athens untuk mengingatkan anda akan hal tersebut. Plus, Minerva bukan dewi peperangan lagi, jadi, ya…

Perbedaan Visual: Minerva tidak pernah digambarkan sebagai Dewi yang memegang senjata. Iya. Itu sesederhana itu.

Yunani:

  • Athena memiliki sebuah kota dinamakan untuknya, dan dicintai karena menciptakan zaitun yang menjadi sumber ekonomi penting di sebagian besar kota.
  • Athena juga menjadi penerima doa para prajurit dan jendral di Yunani.

Romawi:

  • Minerva hanya dipuja oleh para cendekiawan di Romawi. Bangsa sebesar itu tidak punya banyak cendekiawan, sayangnya.

Seperti di penjelasan… Tidak ada satupun senjata yang para warga Romawi izinkan Minerva pegang.

Ares vs Mars

Siapa dia? Dewa perang!!!!!!!!!

Mana yang lebih kuat? Mars. (gelarnya, Mars Ultor. Ares tidak punya gelar) Tidak perlu penjelasan lebih lanjut.

Perbedaan Visual: Ares lebih menyukai pedang dan perisai, dengan pedang sebagai simbol utamanya. Mars, pada sisi lain, menyukai tombak, kadang menggunakan dua tombak untuk berperang. Baju zirahnya memiliki banyak simbol elang digambarkan untuk menandakan superioritas Republik Romawi. Simbol Mars adalah dua tombak.

Yunani:

  • Ares kasarnya merupakan dewa yang tidak dibutuhkan setiap waktu, bagi kerajaan-kerajaan di Yunani, mereka hanya benar-benar memuja Ares ketika butuh perang. Sebagian besar waktu malah, kekejaman Ares di peperangan tidak begitu disukai para prajurit Yunani, mereka memilih intelegensia dari Athena.

Romawi:

  • Mars, pada sisi lain… Merupakan dewa ketiga paling kuat sesudah Jupiter dan Juno. Jenis perang yang Mars dukung mengambil intelegensia milik Athena, serta kekejaman dari Ares di zaman Yunani. Jika Athena melemah drastis, Mars jadi jauh lebih menyeramkan.
  • Selain itu, Mars juga merupakan ayah dari Romulus dan Remus. Kedua demigod yang menciptakan Romawi.

Sesuai tebakan anda, ini adalah patung dari Mars. Pertama, ada serigala, simbol prajurit Romawi, dan Elang di perisai-nya…

Apollo vs Apollo

Siapa dia? Dewa musik, Dewa pemanah, Dewa… Ah, males ah, buka aja tulisan ini.

Mana yang lebih kuat? Apollo. 😀 Sebenarnya, sama sih, mereka sama-sama kuat, hanya memiliki sedikit perbedaan tugas.

Perbedaan Visual: Hampir persis. (Masalahnya Apollo sering digambarkan tanpa pakaian apa-apa jadi… perbedaan pakaian umum pun, tidak selalu berpengaruh)

Yunani

  • Apollo lebih banyak dipuja oleh para penyair serta para musikus di Yunani. Ia dicintai semua orang, memang betul, namun, pemuja utamanya merupakan penyair, musikus, dan pemanah.

Romawi:

  • Apollo di Romawi tidak sama. Pertama-tama, prajurit Romawi menyukai tombak dan pedang kebanding panah, dan mereka tidak butuh musik sebanyak para orang Yunani. Namun, Apollo tetap dipuja oleh semua orang, dan ia mendapat lebih banyak fans di dewan. Dewan Romawi sangat memuja Apollo karena ia juga merupakan dewa peramal. Lebih dipuja dalam segi meramal kebanding oleh para orang Yunani, karena seluruh Republik Romawi mengikuti ramalan yang sama.

Dionysus vs Bacchus

Siapa dia? Dewa anggur dan pesta pora!

Mana yang lebih kuat? Sama-sama saja…

Perbedaan Visual: Hampir persis. Bacchus pun tidak begitu sering berperang, tetapi ia dicintai dengan caranya sendiri

Yunani:

  • Pesta, drama, dan acara semacamnya merupakan tempat kesukaan Dionysus. Ia berpesta dan berpesta sesering mungkin…

Romawi:

  • Bacchus, pada sisi lain, tidak menganjurkan pesta pora jika tidak ada kemenangan. Intisari perbedaan Bacchus dan Dionysus ada di fakta bahwa Dionysus berpesta sepanjang waktu, dan Bacchus mendorong pesta sebagai bentuk selebrasi akan kemenangan.

Sisanya…

Selain kesembilan dewa tersebut, ada sisa…

Hephaestus/Vulcan (Dewa pandai besi), Hermes/Mercury (Dewa pengantar pesan), Aphrodite/Venus (Dewi cinta), dan Artemis/Diana (Dewi perburuan serta perawan).

Keempat dewa ini, hampir sama persis dalam bentuk Yunani serta Romawi. Mereka tidak punya perbedaan krusial atau semacamnya, dan bisa dibilang bahwa tugas mereka sama pentingnya dalam kedua sisi. Mungkin bentuk Romawi mereka lebih kuat dengan alasan yang sama Jupiter dan Juno lebih kuat, jadi bahkan jika tugas mereka sama, mereka punya lebih banyak pengikut, tapi aku tidak bisa dan juga tidak mau berkomentar terlalu banyak.

Kesimpulan

Oke… Aku sudah cukup banyak menerima orang-orang yang menyatakan bahwa Dewa Yunani dan Romawi sama saja. Gak. Mereka berubah. Cukup parah malah perubahannya bagi sebagian besar dewanya. Banyak sekali orang berpikir bahwa kedua peradaban tersebut sangat similer, padahal budayanya jelas berbeda, alhasil, dewa yang mereka puja juga berbeda… Eesh…

Sampai lain waktu!

What do the Stranger Things Books Mean For The Show?

What do the Stranger Things Books Mean For The Show?

So… Today’s writing will be in English, in consideration of reaching more people, though I might consider a rewrite in Bahasa if there’s plenty of local traffic for the Hit Netflix Show.

All 3 books have been finished by yours truly… within 3 weeks of the third season’s release. (a bit slow by my standards, but still…)

This article contains spoilers for all three seasons, so watch those first if you want to read this article. Oh, and it also contains spoilers for all 3 books. Suspicious Minds, (narrated by Eleven’s Mother, her friends, and Dr. Martin Brenner) being the first, Darkness on The Edge of Town (narrated by Jim Hopper) being the second, and Runaway Max (narrated by none other than Maxine Mayfield) being the third.

This article is purposed to help those who don’t want to bother buying and/or reading the book but wants to know the plots revealed and the potential seeds for a story in the fourth season that are revealed in this book.

Enjoy!

Suspicious Minds.

Written by Gwenda Bond.

This book takes place at the year 1969 and 1970. It does not alternate in timeline, but it does have multiple characters narrating the story.

This book exploits and creates the most plotlines when compared to the other two books, being set way before the first season and before Eleven’s birth.

The main plotline explains how Dr. Martin Brenner experiments on a bunch of girls, mostly at college level, as he uses his tech and knowledge to create potential weapons. Among the three experimented girls (do note that they receive a decent sum of money and had no idea they had a sociopathic, insane doctor leading the experiments) are Gloria Flowers, Alice Johnson, and Terry Ives, who is El’s mother, and is now insane and deeply traumatized thanks to some of the events that occurred in this book. That Martin Brenner, what a nice guy!

It explains how Kali, also known as Eight, (made an appearance in season 2, when El ran away, you should already know that) managed to see Brenner’s lab in Hawkins as evil, and how she was kept in custody. Kali was also trained by Brenner, and she was mentioned by Terry when visited by Hopper and Joyce in the second season. So, that’s good news, Kali escaped.

Those three girls eventually gained some psychic/strange/mental powers, which includes peeking into the future, and Astral Projection, (the thing that El does to look for someone using a blindfold and static noise) it is also noted that these 3 girls played a role in El’s powers.

They peeked into the future at some points, and saw El. In the future, which caused them to assume that Brenner has a second child in captive. So, this naturally sparked their curiosity.

After receiving experiments, and forms of ways to activate mental powers, and also seeing how Kali is kept captive through face to face meetings in the lab and (DUH!) Astral Projection, they realized something’s wrong… (took them a while)

They obviously snuck around the lab in an attempt to cut themselves loose of Brenner’s experiments and free Kali, as they did this, they happened to meet some files. Files of a Project INDIGO and a Project Mk ULTRA. The project INDIGO involves 10 of Brenner’s subjects, from Project 1-10. Project Mk ULTRA however, was about administering electric shocks to the potent Alice Johnson in an attempt to trigger mental powers.

These Project INDIGO files aren’t revealed, because of something I like to call a Writer’s excuse… (you know, the story forces the protagonist to rush, while in reality the writers are trying to hide stuff for future plotlines, so only some are revealed, we writers like doing that, wink, wink)

There are no subject 11, at least not yet, and the girls assumed (correctly) that they saw a glimpse of the future. They got a look at Kali’s files, and encountered information that revealed Kali’s powers.

At the climax of the book, as well as the end, three important things happened. The girls cut loose of their bonds with Brenner, Alice Johnson fled to Canada with Terry Ives’s help. And lastly… Terry gave birth to Jane Ives (fathered by her Boyfriend, Andrew Rich, who died in Vietnam) AKA Eleven, who was taken by Brenner, and receives mental training, isolation, and abuse. Brenner is officially Father of the Year here.

Plotholes

The reveal of projects 9 and 10, maybe 1-7 as well, the return of Alice Johnson, and/or Gloria Flowers, as well as their psychic friend that helped, Ken. Also, the rest of Project Mk ULTRA being revealed. I would want that.

Darkness on the Edge of the Town.

Written by Adam Christopher.

I’ll just skip most of the story since they don’t really matter to the canon Stranger Things world. However, since Jim Hopper does die (unless he comes back, stupid cliffhangers!) in season 3, if you want to get some El and Hopper moments, and some more badass cop moments, read this book.

It has 3 narrators, Hopper, Lisa Sargeson, a psychic/psychologist, and Hopper’s partner, Rosaria Delgado. It’s timeline alternates when Hopper has some flashbacks, or when Eleven, who is hearing this story from Hopper at during Christmas, 1984, asks a question. Main timeline, year 1977.

It tells about Hopper’s exploits in New York City, when he still had his daughter Sara, and he and his wife, Diane, is together.

Point is. He tries to catch an insane serial killer + cult leader named Saint John. Saint John’s biggest plan is to destroy New York City, and Hopper stopped him.

During the way, he does meet a special agent, and his case was stopped by this special agent, but Hopper being Hopper kept pushing on, and… he was told to go undercover and pretend to be a… Runaway cult member.

He blew his cover during the Saint John Cult (name of this organization, Vipers) /Gang -because being a cult leader is not enough for the guy- so called Armageddon and he helped kill him when his partner was endangered.

Saint John happens to be a War Veteran who actually believed in the Day of The Serpent, or his version of Armageddon lead by Satan himself, and is not just using that story to inspire hope and fear to his followers.

It is a thrilling tale, and I do suggest you just read it. At certain points of the story, Hopper told El that Rosaria Delgado survived, and they had a happy-ish ending as partners, and Hopper also had a happy ending as a Father and Husband. Okay, at least… before Sara died, and… yeah, so, it was partially happy.

Come to think of it, Guy’s a lot like Hercules. A miserable dude with anger issues who loses his family and goes insane and more miserable as he tries to redeem himself.

Plotholes

The most obvious plothole to leak out of this book is the return of Rosaria Delgado in the wake of Hopper’s death. That is, if Hopper IS dead… I think it’s the only one that’s explicit here. Maybe some of the surviving gang members that befriended Hopper and helped him might also return… but… you know, I’m not taking any chances.

Runaway Max.

Written by Brenna Yovanoff

Apparently. This book is very short. And it is only narrated by Max.

It’s not even half the length in words to the other two books.

The book is a bit complicated to explain, it does alternate a bit in timeline, but it mostly revolves during the events of the second season of Stranger Things. It retells the story, but in Max’s point of view.

I’ll just tell you the key points.

  • Max’s father is a guy who makes Fake ID’s and also arranges sport bets. He lives in San Diego, and Max goes to her mother during the divorce.
  • Max might dislike Billy, but, apparently, he sees his stepbrother as a womanizing jerk who happened to protect him when needed, and is usually right when he makes a point. Kind of like Barney Stinson from HIMYM if you ask me…
  • Billy receives lots of torture and physical abuse from his dad. Thought you might want to know. Considering… He’s dead. And if you’re also confused why the heck did Max cry when he resented and disliked his stepbrother anyway.
  • Max tries to run away right before the incident that involves Steve, Dustin, and Lucas attempting to burn a demodog down. She doesn’t believe the existence and the stuff Lucas told her. So, it’s a good thing Lucas came just in time to show her proof.
  • Most of the book doesn’t have much to add to the story, but it does seem enticing to try and hear it from her Point of View.

Plotholes

The only important one is when Max ran away, and just before she did, Lucas came knocking down her window to prove his story regarding the Upside Down and the Demodogs.

So, enjoy, and I certainly hope you guys got helped by this article, and saved some reading time! Until next time!

 

Antifragility Concept

Antifragility Concept

Manusia semakin menyukai adanya kekacauan.

Dengan adanya kekacauan, ada hal yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mendapat keuntungan, dari orang-orang yang berusaha meminimalisir kekacauan tersebut.

Tulisan hari ini akan erat kaitannya dengan konsep Disruption dan Zombie Company yang diperkenalkan oleh Rhenald Kasali, serta dengan konsep Anti Fragile dari Nassim Nicholas Taleb.

Selamat menikmati.

Braaaaains.

Zombi. Oke, aku tahu ini kata serapan, jadi tolong jangan komentar Ba-Bi-Bu dulu kalau aku mengejanya gak pake E ya. Eesh.

Sebelum aku bisa masuk ke konsep anti fragile yang agak (mungkin ada yang bilang sangat) membingungkan itu, ada sebuah konsep filosofis dan ekonomis lain yang perlu dimengerti.

Konsep disrupsi dari Rhenald Kasali ini meminta orang-orang yang memiliki bisnis untuk mengganggu bisnis lain, atau memiliki bisnis yang terganggu. Konsepnya sendiri cukup sederhana, namun Kasali telah mengadaptasi konsep ini menjadi Self-Disruption, dan banyak orang juga berusaha mencari cara untuk terus mendisrupsi (dalam konteks positif) diri untuk meningkatkan produktivitas.

Disrupsi sendiri merupakan kata yang amat sangat sederhana bukan? Sebuah gangguan. Mau seberapa kecil gangguan itu, atau seberapa besar gangguannya, artinya akan bermakna.

Kita melihat bisnis-bisnis tua macam Taksi Blue Bird menerima disrupsi yang berat karena ia merasa terlalu nyaman dengan gaya mereka yang lama itu, dan akhirnya mereka menjadi tidak tergunakan lagi di era Go-Jek dan Grab ini.

Kita melihat restoran mengambil disrupsi secara positif dengan lebih konservatif dalam menyewa jasa antar makanan karena adanya Go-Food.

Intinya, disrupsi memaksa bisnis-bisnis untuk terus berkembang dan terus memiliki hal baru untuk menghindari adanya bisnis baru yang lebih baik lagi.

Tidak seperti konsep anti-fragility, tetapi, Disrupsi bisa muncul dari perusahaan “Zombi” . Dalam kata Rhenald Kasali sendiri, perusaahan zombi adalah perusahaan yang hidup dan bermanfaat juga tidak, namun tidak mau mati.

Disrupsi paling mendasar dari perusahaan zombi ini mulai dari fakta bahwa mereka membuatbranding, konsumen, dan persentase ekonomi yang termakan. Sampai ke hal-hal yang lebih kompleks seperti ekonomi bertumbuh lebih “lambat” dan memakan ruang yang bisa dimanfaatkan perusahaan baru tumbuh di reruntuhannya

Perusahaan zombie (oke, aku menyerah, terima kasih autocorrect) ini bukan hanya mengambil ruang dan tempat secara ekonomis dari sebuah perusahaan baru untuk bertumbuh, tetapi juga jadi sumber disrupsi dan lokasi dimana terjadinya disrupsi tingkat berat terjadi.

Disrupsi menciptakan ketidaknyamanan, dari ketidaknyamanan itu, manusia akan mencari cara untuk membuatnya tampak lebih nyaman, dan bertumbuh lebih baik. Seperti yang kita telah lakukan selama manusia tumbuh menjadi spesies dominan di bumi ini.

Disrupsi positif

Tidak semua disrupsi berasal dari hal yang negatif.

Faktanya, juga ada disrupsi yang positif. Disrupsi positif ini diperkenalkan Kasali sebagai Self-Disruption. Dengan mencari kesalahan di diri sendiri, kita menciptakan ketidaknyamanan yang akan mendorong kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih baik.

Dari disrupsi diri sendiri ini, kita bisa menjadi orang yang lebih baik, mulai dari sebuah perusahaan menemukan inovasi baru, (seperti misalnya, pencipta OVO kesulitan membayar makanan ketika sedang buru-buru dan menunggu adanya kembalian, jadi mereka menciptakan Electronic Currency untuk mempermudah proses tersebut) hingga orang-orang memiliki produktivitas yang lebih baik.

Sebelum membahas anti-fragility, ini ada pesan sponsor sedikit, bagaimana cara meningkatkan produktivitas? (P.S. ini sebenarnya bukan pesan sponsor di mana aku dibayar untuk menuliskannya, jadi jangan langsung scroll karena takut ada seminar apa ngiklan di sini)

Disrupsi yang paling sederhana dan termudah untuk dilakukan adalah disrupsi yang diarahkan ke diri kita sendiri. Anggap anda seorang penulis, yang kesulitan menuliskan lebih dari 2000 kata dalam satu hari. Apa yang dapat anda lakukan sebagai manusia untuk meningkatkan produktivitas anda?

Anda akan mencari, dan kalau dalam kasusku, sepertinya itu terjadi karena aku sering malaweung (Bahasa Belanda ya :P) ketika menulis, dan aku mematikan jam-jam dan momen-momen di mana aku produktif untuk malaweung.

Kadang ini bisa dipecahkan kopi, tapi itu ada efek samping di mana malamnya aku baru tidur pukul 1.00 pagi (kadang 1 jam lebih cepat sih, tapi ngerti lah maksudnya) dan aku menghabiskan pagiku (yang seharusnya juga bisa produktif) untuk mengumpulkan tenaga dan kembali fokus.

Kopi menjadi solusi jangka pendek yang bagus, aku mungkin bisa meningkatkan produktivitasku secara jangka pendek hingga 2 kali lipat, mencapai 4000 kata dalam satu hari.

Tetapi esok harinya, jumlah kata tersebut turun menjadi 1000 karena adanya jam produktif yang terlewat. Plus aku tidak boleh dan tidak mau minum kopi 2 hari berturut-turut, meski itu punya potensi meningkatkan produktivitas.

Mungkin memang cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan meminimalisir distraksi. Seperti menulis dengan mouse yang baterainya penuh, dan wireless jadi tidak terganggu oleh kabel, mematikan internet untuk menghindari adanya distraksi dari artikel-artikel,pastikan laptop sudah tercharge penuh ketika sedang menulis, eh bentar, aku harus charge dulu, sisa 17% batre-nya nih… bentar, bentar…

Nah, dari sini, kita bisa melihat bahwa satu disrupsi kecil saja berarti banyak ya. Self-Disruption sederhana seperti ini saja sudah menunjukkan bahwa dengan mencari kesalahan di diri kita sendiri, kita akan berusaha untuk menghilangkan kesalahan tersebut, dan meningkatkan produktivitas.

Aku mulai meningkat kata-kata per hari kalau aku sedang mood dan punya ide untuk dituliskan. 3000 kata secara konstan bukan angka yang buruk kan? Morgan Stark juga bilang-nya I Love You 3000.

Dan aku terdisrupsi karena sekarang aku sedih karena Tony Stark mati. Gee, thanks Marvel.

Finally! An Avengers End Game reference!

Ehm, ke konsep Anti Fragile!

Anti-Fragility

Konsep Anti-Fragility milik Nassim Nicholas Taleb ini cukup rapih penjelasannya hingga dalam mataku ia bisa hidup di dunia yang penuh dengan disrupsi seperti yang diusulkan Rhenald Kasali.

Anti-Fragility sendiri merupakan sebuah konsep bisnis atau orang yang mengambil keuntungan dari adanya disrupsi, dan mereka secara tidak langsung membuat diri mereka imun dari disrupsi lain, karena mereka hanya bisa hidup dalam kekacauan.

Start-Up sendiri saja yang banyak orang ingin bikin itu punya angka sukses yang buruk sekali. Namun masih banyak orang yang membuatnya karena selalu ada kekacauan untuk dibereskan, dan toh, jika mereka gagal, tidak akan ada banyak kekacauan yang tumbuh dari situ. Mereka tumbuh dari adanya kekacauan, dengan harapan menghilangkan kekacauan tersebut, tanpa bisa dikacaukan.

Mereka tidak kuat ataupun kokoh, tetapi di saat yang sama mereka tidak akan pernah menjadi bisnis atau orang yang rapuh.

Tidak semua bisnis baru yang didesain dengan konsep anti-fragile ini dapat tumbuh dengan sukses, justru lebih banyak yang tumbang malah, tetapi jika anda dapat menjadi bisnis anti-fragile yang sukses, anda aman. Anda sudah masuk di fase di mana anda imun dari gangguan, meski mungkin saja hanya untuk sementara.

Bisnis anti-fragile sukses dapat tumbang atas kekacauan yang begitu besar, atau justru tumbuh lebih banyak karena adanya kekacauan tersebut. Sebagai contoh, dengan adanya marketplace dan perusahaan macam Bukalapak, dan Tokopedia, ada 2 bisnis anti-fragile yang sudah terlalu nyaman, dan akhirnya mereka mendapat disrupsi. Yang satu bertumbuh, yang satu malah melambat.

Dengan adanya E-commerce, tempat belanja jelas mulai terhambat, mereka yang tadinya sudah anti-fragile dapat bernafas dengan aman. Semua orang butuh (atau setidaknya ingin) berbelanja. Mereka imun karena banyaknya kekacauan seperti itu terjadi. Lalu, imunitas mereka hilang, dan dari kekacauan yang sebelumnya mereka nikmati itu, mereka terhambat.

Bisnis anti-fragile satunya lagi yang justru terdukung oleh E-commerce adalah bisnis kurir. Sebuah bisnis yang sekarang makin imun dan akan semakin anti-fragile. Kekacauan dalam keinginan orang-orang menerima benda baru, atau paket sesegera mungkin meningkatkan pemasukan mereka, karena jasa yang mereka tawarkan dekat ke tidak tergantikan. Mereka tumbuh dari kekacauan dan menerima kekacauan tersebut secara positif, dan sekarang, mereka imun dari kekacauan tersebut.

Anti-fragility adalah sebuah konsep yang sangat abstrak, dan ini hanya interpretasiku padanya, semoga ini cukup untuk membuat anda mengerti.

Sampai lain waktu!