Category: Jaja

Membiarkan Sebuah Bangsa Tumbuh…

Membiarkan Sebuah Bangsa Tumbuh…

Dari mana aku mulai? Sesudah menelan habis buku milik Daron Acemoglu (Why Nations Fail?) aku semacam ingin menuliskan artikel seperti ini. Tentang politik, dan cara sebuah bangsa, atau negara bisa tumbuh dari negara yang masih developing, menjadi negara yang sudah developed.

P.S. Istilah negara maju dan negara berkembang bukan hal yang aku sukai, karena katanya tidak mirip dengan satu sama lain.

Mungkin orang terdekat yang aku bisa ambil dari sini adalah Bubi (Ibuku)… karena aku melihat banyak sekali similaritas dari gaya Parenting Waldorf dengan gaya sebuah bangsa berkembang. Tetapi, tulisan hari ini lebih berbau politik kebanding psikologi, jadi kalau ada kemiripan di sini dengan tulisan-tulisan milik Bubi, anda tahu alasannya.

Sekarang, masuk ke topik!

Lingkaran Kebaikan.

Romawi adalah contoh pertama, dan mungkin contoh terbaik yang ada di dunia kuno.

Republik pertama di dunia yang memiliki sebuah hak untuk membunuh pemimpin paling atas dari sebuah negara. Membunuh kaisar yang tidak disukai anggota-anggota dewan dan anggota-anggota militer adalah hal yang legal di Romawi.

Mungkin kata membunuh dan kebaikan tidak akan pernah diletakkan di satu kalimat yang sama, tetapi yang Romawi lakukan di sini sebenarnya sangat sesuai dengan aspek Lingkaran Kebaikan (atau tepatnya, Virtuous Circle) yang dijelaskan Acemoglu.

Sebuah negara bisa memiliki Lingkaran Kebaikan jika negara itu membiarkan warganya berpikir secara mandiri dan demokratis serta menentukan pemimpin yang terbaik bagi negeri itu, dan tidak ada pemimpin paling atas, alias pemimpin di posisi teratas BISA dan BOLEH digusur oleh anggota-anggota dewan atau warga.

Memang, Romawi mengganti kata penggusuran dengan pembunuhan (yikes), tetapi fakta bahwa Praetorian Guard, atau lebih tepatnya Jendral sebuah Legiun boleh mengambil aksi untuk membunuh Kaisar ketika mendapatkan dukungan dari warga, dan juga para Senator memberikan nilai plus bagi liberalisme di Romawi!

Selain itu, motto Romawi adalah Senatus Populusque Romanus. Artinya “Untuk Orang-orang serta Senat Romawi.” Prajurit Romawi berperang bukan untuk Kaisar, tetapi untuk bangsa dan anggota dewan yang tidak begitu sering korup karena selalu ada penggantian tiap tahunnya!

Kembali ke topik… Apa itu Lingkaran Kebaikan?

Menurut Daron Acemoglu, proses terciptanya sebuah Lingkaran Kebaikan ada di hadirnya organisasi politik yang tidak terkekang dan bebas dari intervensi militer atau intervensi kepentingan politik. Organisasi politik ini tidak semestinya peduli akan kepentingan anggotanya, dan harus bisa diikuti siapapun pada tingkatan sosial apapun.

Organisasi politik seperti itu bisa membuka jalan untuk organisasi lain, seperti misalnya pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan semacamnya, yang tidak terkekang militer atau kepentingan politik, dan memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi warga untuk menentukan kebutuhan mereka akan hal tersebut.

Kata kunci dari penjelasan tersebut ada di bebas dari intervensi. (ini bagian yang aku maksudkan mirip dengan pendidikan Waldorf, membiarkan anak-anak tumbuh tanpa adanya intervensi dari luar) Kebebasan dari intervensi ini membiarkan tiap negara tumbuh dengan jelas tanpa adanya kehilangan identitas dari pertumbuhan individu di negara tersebut, dan identitas negara tersebut.

Nilai Rapor Republik Romawi mungkin agak jatuh di bagian “Bebas dari Intervensi” karena… Umm… Ini daftar Kaisar Romawi yang dibunuh oleh anggota dewan atau Jendral… Bahkan pemimpin yang baik-nya pun tetap mati karena ada intervensi…

  1. Julius Caesar (seandainya dia tidak dibunuh tulisan hari ini akan ditulis di Bahasa Latin)
  2. Mark Antony (sama, seandainya dia tidak dibunuh, tulisan hari ini mungkin ditulis di Bahasa Latin, atau mungkin Mesir kuno)
  3. Tiberius
  4. Caligula
  5. Nero (Untungnya sesudah Nero ada 5 good emperors yang semuanya baik, jadi HORE!)
  6. Commodus
  7. Hadrian (kalau dia tidak dibunuh mungkin tidak ada Tembok Besar Cina, adanya Tembok Besar Italia)
  8. Dan masih banyak lagi orang yang tidak sepopuler 7 orang di atas!

Tetapi Romawi adalah salah satu contoh pertama dan mungkin contoh terbaik di dunia zaman dahulu kala dalam konteks membebaskan warga.

Layaknya sebuah balita (Ibuku pasti nyengir-nyengir baca ini), negara harus dibiarkan tumbuh tanpa intervensi agar sumber daya manusia dan ekonomi negara tersebut berjalan secara mandiri, dan negara tersebut memiliki identitas.

Revolusi.

Arc De Triomphe. Sebuah monumen indah di kota Paris. Mungkin Arc De Triomphe sendiri tidak seterkenal Menara Eiffel, dan fansnya tidak sesetia Notre Dame yang umumnya menyukai Arsitektur Gothic. Tetapi Arc De Triomphe adalah salah satu monumen paling terkenal di Prancis.

Monumen tersebut menyimbolkan revolusi. Sebuah perubahan yang terjadi begitu cepat, begitu tiba-tiba dan (tentunya) melibatkan pembunuhan (sekali lagi… Yikes!).

Marie Antoinette, Louis XIV, Prancis membuang mereka berdua dan dalam sekejap, hadirlah Prancis yang baru. Negara Prancis yang tidak melihat lagi ke sebuah kerajaan, dan melihat takhta kekuatan di negara tersebut sebagai hasil usaha demokrasi alih-alih hasil keturunan darah sebuah monarki.

Dampak Revolusi Prancis ini biasanya terdengarnya itu-itu lagi, dan aku yakin jika orang ingat pelajaran sejarah di SMA (bener gak ya…) atau sesekali nonton film yang membahas ini, pasti tahu bahwa ini sangat berpengaruh bagi Prancis sebagai negara. Dampaknya jelas, dan sampai sekarang identitas Prancis sebagai negara yang sudah developed jelas. Bahkan sampai hari ini orang-orang memberikan orang Prancis cap stereotipe sebagai orang liberal.

Tetapi, pernahkah orang berpikir dampak dari revolusi Prancis bukan untuk negara tersebut, tapi justru untuk negara lain?

Prancis muncul dengan ide untuk menggulingkan Louis XIV si Raja Matahari, dan Marie Antoinette, tetapi hal yang sama, ide revolusi tersebut tidak berhenti di Prancis. Ide yang diciptakan Prancis muncul berkali-kali dan secara berulang di negara lain… Jerman, Belgia, dan seterusnya mendapatkan ide yang sama untuk memberontak dan mengubah negaranya agar lebih demokratis, bergantung pada apa yang orang-orang di negara tersebut katakan alih-alih keturunan.

Pada akhirnya, revolusi di Prancis memulai revolusi di negara lain, dan itu muncul bukan karena warga-warganya tidak punya ide, tetapi mereka tidak yakin bahwa itu mungkin.

Satu orang melakukan, semuanya ikutan.

Dan sebenarnya, revolusi tersebut mungkin tidak tercipta jika Louis XIV dan Marie Antoinette cukup peduli pada warganya. Justru karena mereka tidak peduli, warga tersebut jadi lebih pintar dan jadi berani mengambil keputusan sendiri.

Jadi… Abaikan warga anda agar negaranya bisa maju?

Dunia Modern

Di dunia modern, masih saja ada negara yang membiarkan dirinya terekspos oleh kebalikan dari Virtuous Circle, yaitu Vicious Circle (Lingkaran Kekejaman) sebuah lingkaran yang membiarkan warganya tinggal dalam ignorance alih-alih membiarkan mereka tumbuh.

Ignorance mereka bukan berarti mereka tidak bahagia, tetapi lebih tepatnya mereka merasa tidak yakin akan keluar dari zona nyaman mereka, dan mungkin berusaha kabur dari Vicious Circle negara mereka bukan hal yang logis untuk dilakukan…

Tentunya Indonesia bukan satu negara seperti ini. Justru menurutku yang menciptakan Vicious Circle ini bukan pemerintah atau militer tapi orang-orang yang ingin merebut kekuasaannya sendiri…

Ya, pada akhir hari, dunia ini semakin membaik, tetapi terkadang… Kita memberikan terlalu banyak intervensi di hal-hal yang seharusnya bisa dibiarkan tumbuh sendiri…

Data Abuse. Bagaimana cara seseorang memanfaatkan data?

Data Abuse. Bagaimana cara seseorang memanfaatkan data?

Pernahkah anda kehabisan buku untuk dibaca? Orang sepertiku yang mengalaminya selama 1 bulan terakhir memutuskan untuk membaca 3 buku dengan sangat lambat. Umumnya aku membaca 3 buku dalam satu minggu. Kali ini, aku hanya membaca 3 buku dalam satu bulan.

Lebih lucunya lagi, aku tidak sekalipun mencari daftar buku terlebih dahulu. Aku mencari buku yang ada di situs berbagi Ebook di Internet, dan aku memasukkannya langsung ke Kindle milikku (yang sekarang hanya punya sisa 30 megabyte ruang) lalu aku baru beres membacanya hari Senin kemarin.

Aku bukannya membaca buku lebih sedikit, tetapi aku memperlambat proses membacanya agar aku tidak perlu begitu bingung mencari judul buku lagi yang dicari.

Dan ternyata… dua dari tiga buku yang aku baca saling terhubung.

Tulisan hari ini tentang data. Sesudah beres basa-basi, selamat menikmati tulisannya!

Dataclysm.

Cataclysm. Sebuah kata yang berarti kekacauan, kerusakan, kehancuran.

Christian Rudder dengan pintar memainkan kata tersebut menjadi Dataclysm. Buku ini dikeluarkan tahun 2013 dan aku menyukainya!

Bayangkan sebuah dunia di mana data adalah aset paling berharga (klise dari semua seminar programming dan computer science yang aku dapatkan biasanya “Data is the New Oil”) memang iya, data itu berharga, tapi dalam buku ini, Rudder tidak menjelaskan semua hal yang membuat aku pergi dan mengurangi belajar computer science… Rudder tidak menjelaskan cara mendapatkan data, melainkan cara memanfaatkannya.

Christian Rudder ini orang yang sangat-sangat geeky. Dalam buku ini, dia menceritakan bahwa hobi miliknya adalah bermain Board Game dan mengumpulkan kartu koleksi, dan kegiatannya sehari-hari adalah menjalankan sebuah dating site yang ia miliki bernama OkCupid.

Oh, dan ternyata dia juga punya hobi melakukan stand-up comedy walau ia tidak begitu terkenal karena hobinya tersebut. Langsung saja kita bahas buku miliknya!

Standar Relatif dan Stereotipe.

“Aku tinggi kok! Buat orang Asia…”

Satu hal yang Rudder ungkit mengenai data adalah seberapa konyolnya hal-hal yang orang-orang lakukan ketika menilai sesuatu. Diberikan sebuah data, Rudder menjelaskan dengan sederhana bahwa orang Asia, Hispanik, African-American, dan Caucasian di OkCupid memiliki banyak penjelasan dan penggunaan kata-kata yang konyol.

Ketika kata “Hip-Hop” muncul lebih banyak dari kata “The” untuk orang African-American, dan ketika kata “SAT Scores” muncul lebih sering dari kata “How” untuk orang Asia di OkCupid ketika berusaha membuat smalltalk dengan calon pacar… Anda tahu kenapa ada banyak stereotipe yang diberikan kepada orang-orang berdasarkan ras mereka. Sayangnya stereotipe tersebut seringkali benar.

Orang-orang menilai satu sama lain berdasarkan standar dan cara mereka melihat orang tersebut. Pertanyaan ketika menilai orang bukanlah “What” melainkan “How”.

Orang African-American punya kecenderungan untuk tidak menyukai orang dari ras lain jika ada yang menyindir mereka dengan lelucon “Do you like Fried Chicken?” Tetapi ketika lelucon tersebut muncul dari orang african american lain, mereka tidak merasa tersinggung.

Aku bisa bicara cukup banyak (mungkin terlalu banyak malah) tentang ironisnya data dan konyolnya data yang diberikan Rudder dari situs kencan online yang ia miliki… Tetapi kurasa cukup jika aku bilang bahwa stereotipe orang ada benarnya. Hanya saja jika orang lain yang menilai stereotipe tersebut (dalam kasus ini orang dari ras berbeda) kita merasa tersinggung.

P.S. Do you like fried chicken adalah lelucon tidak sopan dan gelap karena pada era perbudakan di U.S. makanan yang diberikan pada budak-budak berkulit hitam adalah ayam goreng.

Rudder menjelaskan (dan akan aku jelaskan di bawah) bahwa data sering disalahgunakan… Tetapi untuk sementara, kita ke judul buku nomor 2!

Infinite Mindset

Simon Sinek menulis buku ini. Aku juga tidak ada tujuan sedikitpun untuk mencari Infinite Mindset, hanya saja buku ini pernah muncul di atas daftar e-book sharing site yang aku gunakan, dan… Aku mendownload-nya saja.

Buku ini lebih modern dari Dataclysm dan lebih banyak membahas tentang bisnis kebanding datanya sendiri…

Metrik-Non-Metrik

Sebuah mobil mampu berjalan 500 km/ jam. Mobil dari merek lain mampu berjalan dengan kecepatan 550 km/jam dengan harga yang sama, desain yang sama bagus, dan penggunaan bensin yang sama. 1 bulan kemudian, mobil 550 km/jam tersebut tidak lagi diproduksi karena tidak laku.

Perusahaan mobil yang mendesain mobil 500 km/jam tersebut (ini angkanya agak gak realistis ya… maafkan) mengeluarkan mobil baru. Kecepatannya hanya 400 km/jam, tetapi desainnya amat bagus, dan didesain oleh desainer interior paling terkenal dari Italia.

Perusahaan B yang mendesain mobil 550 km/jam melakukan hal yang sama, dengan kecepatan yang sama, tetapi dengan desain yang lebih bagus. Perusahaan A tetap lebih laku.

Banyak sekali bisnis dan perusahaan yang menggunakan metrik sebagai patokan kesuksesan mereka. Padahal tidak ada hubungan metrik sama sekali dengan kesuksesan. Orang-orang yang menggunakan metrik sebagai patokan kesuksesan adalah orang-orang yang menganggap bahwa untuk bisa bahagia, butuh uang yang banyak.

Sinek membahas cukup dalam tentang kepentingan seseorang untuk tidak memanfaatkan metrik sebagai tanda kesuksesan.

Walau terdengar agak-agak oxymoron mengingat tulisan hari ini tentang data, dan data hampir 100% berhubungan dengan metrik… Itu yang ingin aku bahas. Penggunaan data adalah hal yang amat sering jadi miskonsepsi oleh orang-orang…

Aku tidak berhak mengkritik orang-orang yang memiliki bisnis tentunya… tetapi dari pengalamanku selama ini belajar computer science dan sudah hampir 2 tahun blog ini berjalan… Itu satu hal yang aku yakin, orang-orang menggunakan data untuk hal-hal yang salah, atau setidaknya, belum memanfaatkan data ke potensi maksimalnya.

Penggunaan Data

Ada perusahaan penyedia jasa telekomunikasi seluler yang terkenal akan keseringannya membocorkan data.

Seringkali orang-orang membahas tentang penggunaan data dan klise yang aku sebut di awal (data is the new oil) sampai kadang aku berpikir orang-orang yang menjual data secara harfiah menganggap bahwa data is the new oil adalah klise yang harfiah. Seperti minyak, kita perlu menjualnya ke orang-orang yang mampu membeli.

Memang pernyataan “Data is the new oil” tadi agak-agak sering digunakan sehingga bukannya terdengar inspiratif malah terdengar menyebalkan, tetapi aku yakin 100% bahwa kalimat tersebut benar. Minyak tidak hanya digunakan sebagai komoditas atau sebagai bentuk lain dari uang. =

Minyak, selain bisa dijual, juga bisa digunakan untuk menjalankan mesin dan meningkatkan efisiensi serta daya kerja sebuah pabrik. Itu yang terjadi pada awal revolusi industri. Revolusi Industri kali ini (4.0) juga memanfaatkan sebuah komoditas ala-ala minyak, dengan cara yang salah.

The Metric Overuse.

Simon Sinek dan Christian Rudder menjelaskan tentang data dari dua sudut pandang berbeda. Christian Rudder mengambilnya dari sudut pandang IT, sematematis mungkin. Simon Sinek, di sisi lain mengambilnya dari sudut pandang buku self-help, atau buku yang mengambil sisi bisnis.

Tetapi keduanya setuju akan satu hal.

Kita terlalu berlebihan bergantung pada metrik yang jelas-jelas finite (alias terbatas).

Nilai di sebuah ujian, kecepatan sebuah mobil, jumlah angka popularitas, (iya, popularitas juga bisa diukur sekarang, ada software untuk itu) bahkan hal-hal yang baik seperti indeks kebahagiaan semua diambil dari sudut pandang yang empirikal tetapi terbatas.

Dunia mulai salah dari sudut pandang tersebut. Seperti biasa aku mengkritik orang-orang yang membiarkan gaya berpikir mereka terbatas ke sebuah angka.

Kalau kita membatasi diri kita ke sebuah angka, sementara banyak hal yang bisa diukur lainnya… well… Tanya Einstein saja.

Ia sudah menjelaskannya dengan cara paling elegan dan sederhana, aku rasa tidak ada yang bisa diperbaiki dari quote yang satu ini.

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Kembali lagi ke serial kuliah umum. Kuliah umum kali ini berasal dari Reinard Primulando. Membahas tentang… Materi. Like, you know… Stuff.

Pemateri kita kali ini adalah DR. Reinard Primulando dari fisika Unpar.

Mungkin terdengar agak sederhana, tetapi aku berjanji, kuliah kali ini adalah kuliah dengan materi paling berat! Pertanyaan Why Is There Stuff ini mungkin terdengar sangat sederhana, seperti menentukan membeli Oreo Double Stuff atau yang biasa (Oh iya, Double Stuff gak enak, terlalu manis), tetapi, dalam proses menjawab pertanyaan ini, DR. Reinard menyebutkan dan memberikan referensi tentang Anti-Matter, Descartes, Big Bang, Particle Decay, dan masih banyak lagi!

Tentunya aku akan berusaha menjelaskan dengan cara yang sesederhana mungkin, karena seperti yang Einstein katakan… “It is possible to explain the laws of physics to a barmaid.” (tanpa tujuan menyindir barmaid).

Descartes si Fisikawan

Ketika kita browsing tentang nama Isaac Newton di Google, lalu kita pindah ke bagian News alih-alih All, Images, atau Video… akan muncul setidaknya satu artikel dengan judul clickbait seperti “Newton was Wrong! Here’s Why.” atau “Newton made a mistake that rewrote the laws of physics.” Dan semacamnya.

Konyolnya, artikel-artikel tersebut menjelaskan cara Newton melihat hal-hal yang baru ada di abad 20 akhir atau 21 awal. Hukum gravitasi Newton tidak salah, hanya saja ada hukum yang Newton tulis yang kurang akurat, sehingga perlu ada perbaikan yang minor agar bisa sesuai dengan fisika modern.

Jadi, jika anda melihat kata-kata seperti Hukum Fisika Gagal, atau Newton Salah di judul sebuah artikel, jangan langsung percaya.

Namun, kali ini, kegagalan hukum fisika agak konyol, dan dia konyol bukan karena ada hal yang tidak akurat sesudah bertambahnya ilmu di dunia.

Masuklah René Descartes. Kalimat paling terkenal yang ia katakan (sama seperti Apel milik Newton, E=Mc2 Einstein, cuma tentang filsafat) adalah “Aku berpikir, maka aku ada.” Dalam bahasan fisika, berpikir berarti melakukan hitungan atau prediksi.

Berdasarkan hitungan fisika, seharusnya, kita tidak ada. Jadi, kalimat Descartes tersebut tampak seperti lelucon. “Saya berpikir, berarti saya ada. Tapi hasil berpikir saya, saya harusnya tidak ada.”

Kuliah dari Dr. Reinard dimulai dengan pertanyaan ini!

Backtrack

Kita bisa dan telah memprediksi kehidupan di alam semesta dengan cukup akurat sampai ke 10 menit kehidupan awalnya. Alam semesta sudah ada untuk waktu yang lama dalam sudut pandang manusia, tetapi kita tidak bisa mengingat 10 menit pertamanya saja…

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi pada 10 menit pertama tersebut? 10 menit pertama diteorikan sebagai proses terjadinya Big Bang. Ada nukleosintesis (ketika membahas fisika dengan orang-orang awam, gunakan kata ini, anda akan tampak pintar) yang menciptakan unsur-unsur dengan cara yang sejujurnya aku masih belum mengerti.

Mungkin juga terdengar agak konyol bahwa kita bisa memprediksi dengan akurasi yang signifikan bahwa masa depan alam semesta bukan rahasia yang jelas. Tetapi 10 menit (bagi alam semesta yang usianya 10 pangkat 34 tahun, 10 menit seperti kedipan mata di hidup manusia) awalnya hal yang gak jelas.

Seperti yang fisikawan ketahui… Kalau ada hal gak jelas, berarti itu hal-hal yang penting! 10 menit alam semesta ini pasti penting! (Anak SMA di 70 tahun ke depan mungkin harus mempelajari ini untuk masuk kuliah)

Kabar baiknya adalah… Hukum fisika berjalan dengan sempurna sejak 10 menit tersebut, dan belum ada satupun saat di mana alam semesta berfungsi tanpa adanya hukum fisika. Kita juga mengetahui bahwa sampai 10 menit pertama tersebut, hukum fisika belum berlaku.

Seperti percakapan yang ada di Avengers: End Game.

  • Thanos: I’ll destroy this universe, and create a new one with the stones
  • Captain America: A Universe… Born out of blood?
  • Thanos: They’ll never know it. Because you won’t be around to tell them!

Mengingat bahwa kita tidak mengetahui 10 menit pertama alam semesta kita, ada kemungkinan bahwa Thanos menciptakannya… (Or you know, the big bang theory is right…)

Antimatter.

10 menit pertama dilewati tanpa adanya jawaban (Aku mendukung teori Thanos!), kita masuk ke fase di mana alam semesta masih bayi… Ketika belum ada apa-apa yang tercipta sepertinya.

Sebagai geek (parah) aku punya hobi menonton film science fiction tentunya. Ada beberapa film science fiction yang membahas hal-hal seperti yang akan terjadi jika Azriel Muhammad bertemu Anti Azriel Muhammad.

Jenis personality-nya mungkin gak usah dibahas karena kayanya itu tidak diperlukan untuk artikel kali ini, tetapi semua film science fiction itu salah karena kalau aku bertemu dengan anti diriku sendiri, dan kita bersentuhan, kita berdua akan hilang, hanya menyisakan seberkas cahaya. Seperti yang DR. Reinard jelaskan, ada film di Netflix (aku tidak tahu apa itu Netflix Originals atau bukan) berjudul Angels and Demons dan film tersebut ada bagian yang memasukkan Bomb dari Anti Materi.

Fisikanya secara kasar dan agak tidak ilmiah seperti itu. Anti Materi bertemu materi, maka akan saling menghilangkan, meninggalkan cahaya, dan energi.

Mengingat bahwa di dunia nyata ada materi yang sangat banyak! Kalau ada anti materi terlalu banyak, hasilnya akan Boom-Boom dan kita tidak akan mampu melihat banyak hal. Kita sudah off-topic agak terlalu jauh, jadi mari kembali ke jalan yang benar…

Kalau Anti materi bertemu materi menciptakan energi dan cahaya, ini berarti bahwa energi yang ada di alam semesta kita berhubungan dengan reaksi antimateri tersebut.

Hal yang agak konyol dari reaksi materi dan anti materi ini adalah, logikanya, alam semesta tercipta dengan jumlah materi dan anti materi yang sama bukan? Kenapa masih ada materi yang tersisa kalau reaksi akan anti materi dan materi berperan dalam penciptaan alam semesta menjadi bentuknya sekarang? Ke mana perginya materi tersebut?

Sayangnya, kita mungkin tidak pernah tahu.

Paritas.

Bagi yang sudah bingung. Kusarankan pergi sekarang. Scroll ke bagian kesimpulan saja. Pertanyaan Why is There Stuff sudah kurang lebih terjawab di bagian antimateri dan materi. Ini hanya intermezzo yang terlalu menarik untuk dilewati dan tidak kutulis.

Bagian di sini agak membingungkan (dan seluruh artikel ini SUDAH membingungkan), dan kalau aku sedang bersemangat, harusnya paritas ini bisa jadi artikel lain, mungkin hanya 500-600 kata, tetapi aku lagi agak hemat, jadi paritas kubiarkan menjadi bagian sejumlah 200 kata di sini.

Energi dan medan bergerak ke satu arah di dunia nyata kan? Mereka bergerak ke arah sesuai berdasarkan posisi mereka. Medan yang menembus sebuah bidang secara vertikal pasti gerak searah jarum jam, medan yang menembus sebuah bidang secara horizontal bergerak melawan arah jarum jam.

Bahkan jika anda tidak memperhatikan guru fisika anda pas SMA, medan selalu berfungsi seperti itu, sampai ada istilah Right Hand Rule. Jempol anda menjadi penunjuk arah sebuah medan di sebuah gambar. Tidak usah pusing gerakkan tangan, percaya saja samaku.

Pernahkah anda bercermin? Mau cewek, mau cowo, mau seberapa gak peduli anda pada penampilan anda, pasti anda pernah bercermin.

Jika melihat sebuah cermin… Logikanya, medan tetap bergerak ke arah yang sama kan?

Nah, justru itu. Paritas di sini berhubungan dengan medan di dunia cermin. Energi di dunia cermin tidak bergerak dengan cara yang sama dengan energi di dunia nyata. Cerminan seseorang tidak mengalirkan energi atau menerima medan dengan cara yang sama dengan yang ada di dunia nyata! Sekarang anda tahu!

Kesimpulan.

Thanos created this universe. We just don’t know. Tony Stark didn’t actually finish Thanos’ Army… He died in the universe before this…

His blood is in our hands…

Hahaha, bercanda kok. Itu kan cuman fiksi *WINK WINK*

Unicorn! Menurut Bangsa Celtic.

Unicorn! Menurut Bangsa Celtic.

Unicorn. Nama itu pasti memberikan bayangan kuda-kuda berbulu putih menggemaskan dengan satu tanduk. Nama itu juga mungkin memberikan bayangan kuda dengan tanduk yang sering muncul di kaos anak-anak perempuan (dari usia 4-18, karena sepertinya anak-anak SMA masih menyukai Unicorn) dan juga stiker-stiker, beserta banyak merchandise lainnya.

Kabar baik dari Unicorn sebagai metode branding dan merchandising… mereka tidak bergantung sama sekali akan Trademark untuk membentuk merchandise. Tidak seperti Star Wars, Disney Princess, dan semacamnya lagi. Orang-orang bebas mendesain Unicorn seperti yang mereka mau. Bisa dibuat menggemaskan, mulia, bahkan agak gila (Serius, ada permainan bernama Unstable Unicorns, kusarankan mainkan dulu board game tersebut sebelum membaca tulisan ini).

Tetapi, bahkan untuk standard menyeramkan milik Unicorn, makhluk itu tidak akan pernah tampak sebagai makhluk yang… berbahaya.

Tentunya Kuda Nil (Fun Fact: Hippopotamus berasal dari bahasa Yunani Hippo (Kuda) dan Potamus yaitu Dewa Sungai, Kuda Nil juga berasal dari kata-kata tersebut, maksudnya Sungai Nil) tidak tampak sebagai makhluk menyeramkan tetapi jumlah kematian tahunan atas serangan hewan dipuncaki Kuda Nil selama belasan tahun.

Jadi… Sebelum anda ingin mendapatkan gambaran negative akan Unicorn, bermainlah Unstable Unicorns dulu selama (mungkin) 5-6 kali, baru baca tulisan ini. Aku bukan orang kejam yang ingin merusak gambaran indah makhluk imut ini, tetapi aku mungkin saja merusak gambaran indah dari makhluk ini.

Asal Usul Mitologi

Sebelum membahas secara unik mengenai Unicorn di Skotlandia dan menurut orang Celt, kita bahas dulu asal Unicorn di mitologi dunia.

Unicorn sendiri merupakan istilah Latin. Jika ada hubungannya dengan Latin berarti Unicorn berasal dari Romawi. Unicorn sendiri diciptakan oleh Julius Caesar, aku tidak perlu menjelaskan siapa dia… dan Caesar yang merupakan ilmuwan dan sejarawan yang pintar memutuskan untuk mencatat penemuannya akan sebuah badak di Afrika.

Penjelasan yang ia buat? “Bertanduk Satu, tampak seperti Kuda” Ia menamakan Badak ini  Unicorn, Latin untuk “Satu Tanduk”

Caesar memang salah satu orang terpintar di Romawi, baik secara ilmu filosofis atau ilmu empirikal seperti sains dan sejarah… Namun Caesar-pun belum pernah melihat Badak sebelumnya. Satu-satunya hal yang Caesar lihat mirip dari Badak adalah kakinya yang ada 4 dan kebiasaannya berlari. Dari situ, ia berasumsi bahwa Badak adalah Kuda dengan cula.

Maju bertahun-tahun dari era Romawi dan pindah dari penanggalan AUC, penanggalan Caesar, penambahan bulan Juli dan Agustus, lalu muncullah bangsa Celtic. Mereka juga mengadopsi Unicorn dengan cara mereka sendiri.

Tidak ada catatan sejarah resmi yang aku temukan di buku-buku mitologiku (aku punya banyak, percaya aja deh… 😀 ) namun, aku punya 3 teori asal orang Celtic mampu menemukan catatan akan Unicorn.

Satu, ada kebetulan bahwa mereka memang mempunyai legenda yang sama tentang Unicorn, namun karena kurangnya catatan serta kepopuleran dari mitologi Celtic, catatan yang diprioritaskan sejarawan berasal dari Romawi. Kedua, mereka menemukan atau bertemu dengan prajurit Romawi dan mendapat cerita tentang Unicorn. Ketiga, mereka melakukan pengamatan yang sama dengan yang Caesar lakukan.

Masalah dengan teori ketiga ada di fakta bahwa bangsa Celtic tidak memiliki catatan empirik pernah sampai ke Afrika. Untuk teori kedua, mereka memang bertemu dengan prajurit Romawi. Tetapi pertemuan yang tercatat pernah terjadi adalah pasukan yang dipimpin oleh Ratu Boudicca. Mengingat bahwa kota-kota mereka dan prajurit mereka kalah melawan kemampuan militer Romawi… Aku tidak begitu terkejut bahwa mereka mengadopsi mitologi Romawi secara gelap.

The Original Unicorn!

Unicorn sendiri dicatat sebagai makhluk yang dicintai bangsa Romawi. Tanduknya bias diparut dan bubuk dari tanduk unicorn bias menyembuhkan penyakit (katanya). Kedatangannya membawa keberuntungan baik, dan mereka sangat suka makan rumput yang masih terkena embun pagi.

Tetapi… Orang Celtic semacam memutar cerita itu.

Oh iya, tolong ketahui bahwa tidak ada kuda bersayap dan bertanduk di mitologi Romawi ataupun Yunani. Itu hanya ciptaan Pop Culture, menggabungkan Pegasus dan Unicorn.

Padahal itu tidak mungkin karena Pegasus adalah mitologi Yunani yang tidak diadopsi oleh orang Romawi (ceritanya panjang) dan Unicorn tidak ada di mitologiYunani.

Dari titik ini, apa yang anda putuskan untuk baca tidak bisa ditarik lagi. Jangan mau menyesal di kemudian hari.

Oke. Anda yakin?

Unicorn! New and Improved!

Orang Yunani dan Orang Romawi memiliki banyak cerita Kuda yang menyeramkan dan mengganggu.

Ada Kuda milik Ares yang mampu menyemburkan api, ada kuda yang dikendarai Helios dan Apollo untuk mengantarkan matahari, ada kuda yang ditangkap Hercules karena kuda tersebut menyukai daging manusia. Ada kuda yang merupakan anak dari Poseidon dan Demeter, ada kuda bersayap juga (Pegasus) yang merupakan anaknya Poseidon, dengan Medusa sebagai Ibunya, dan masih lebih banyak lagi kuda yang lahir karena Poseidon.

Tetapi, dari seluruh mitologi mengganggu dan jijik itu, Unicorn belum pernah sekalipun dijadikan bahan candaan atau bahan hinaan. Mereka selalu tampak sebagai makhluk bahagia, tanpa sedikitpun peduli tentang dunia nyata.

Catatan terpenting untuk orang Celt bagi Unicorn ada di cerita pahlawan terbesar mereka, yaitu Cu Chulainn. Cu Chulainn ini adalah seorang demigod yang dididik sebagai prajurit, tetapi punyamasalah amarah besar. Ketika marah, ia menjadiversi lain dirinya yang lebih kejam, dan beberapa cerita menyatakan bahwa ia menjadi monster.

Kasarnya, Cu Chulainn adalah campuran dari Hulk dan Hercules.

Pekerjaan yang Cu Chulainn lakukan cukup banyak, dan aku tidak perlu menjelaskan terlalu banyak, namun, salah satu pertarungan terberat Cu Chulainn adalah saat ia melawan seekor Unicorn.

Unicorn di mitologi Skotlandia/Irlandia/Celtic memiliki kemungkinan 1 banding 2 untuk menjadi Unicorn jahat. Ada banyak nama untuk itu, tetapi yang paling umum digunakan adalah Vector.

Vector ini sama seperti Unicorn, tetapi, mereka tidak menyukai rumput yang masih ada embun paginya. Mereka memilih untuk memakan mayat kucing (mereka tidak membunuh kucingnya dulu, tapi kalau kucingnya sudah mati, baru mereka makan) dan… Jantung Manusia.

Karena orang Celtic termasuk orang zaman dahulu yang agak gila, mereka YAKIN 100% bahwa tanduk Unicorn digunakan sebagai senjata. Umumnya, sama seperti seseorang menggunakan tombak, Unicorn Jahat (alias Vector) menggunakan tanduknya untuk menusuk jantung, lalu memakannya seperti kita memakan Sate Ayam.

Oke, itu agak kebangetan, tapi, anda mengerti maksudku apa.

Selain itu, sebagai Unicorn, tanpa masalah kepribadian Vector juga, mempunyai air liur yang menciptakan efek hipnosis. Mereka tidak menggunakan ini untuk menyerang karena makanan yang mereka sukai juga sebenarnya tidak perlu diburu, tetapi mereka menggunakan ini untuk kabur.

Namun jika Unicorn itu mulai schizophrenic, baru ia akan menggunakan air liur miliknya sebagai senjata dan alat untuk berburu.

Kesimpulan.

Sesudah hari ini, apakah anda masih ingin membelikan anak perempuan anda, atau keponakan perempuan anda sebuah kaos bergambar Unicorn? MUHAHAHAHAHAH

(P.S. Jika anda merasa tidak nyaman dengan mengetahui ini, bagilah tulisan ini keteman-teman anda. Seenggaknya anda tidak sendirian…)

 

 

What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

Pada tulisan ketiga tentang kuliah umum di ITB, aku menemukan 3 hal baru.

  1. Aku akan memberikan angka di judul tulisannya.
  2. Aku menemukan bahwa materi terakhir di siklus pertama (yang aku lewatkan dua pertemuan awalnya) pernah kupelajari dari sudut pandang filsafat selama 12 pertemuan.
  3. Aku baru mengetahui bahwa orang yang terbiasa mempelajari hal secara empirik, akan kebingungan jika bertemu dengan subyek yang butuh banyak sekali khayalan, tetapi tidak sebaliknya.

Pemateri kita kali ini berasal dari Jakarta, DR. Agnes, seorang Doktor di bidang Psikologi.

Kesadaran Filosofis.

Sekali lagi. Kuliah Sains kali ini telah mengambil subjek yang sangat abstrak dan mengubahnya menjadi subyek yang empirik. Jika sebelumnya Prof. Djoko dapat menjawab pertanyaan filosofis “What Makes Us Human?” dengan sangat efisien menggunakan ilmu empirik, DR. Agnes bertemu dengan pertanyaan yang lebih sulit dijawab secara empirik, karena bahkan secara filosofis jawabannya tidak ada.

Selama 2 millennia, bahkan sebelum kalendar milik Caesar diresmikan dan digunakan 2019 tahun yang lalu, pertanyaan yang sama telah ditanyakan oleh Plato, Aristotle, dan nama-nama Yunani lainnya.

Pada abad-abad 15, 16, 17 ada Benedictus Spinoza, Thomas Aquinas, dan banyak filsuf berbasis Gereja Katolik lainnya memperdebatkan hal tersebut. Oh, juga ada Descartes, jangan lupakan dia.

Pada akhir hari, jawabannya bahkan belum tampak akan muncul.

Kabar baiknya, kita bisa menjawab pertanyaan mengenai kesadaran secara empirik lebih mudah daripada secara filosofis. Sejujurnya, ini adalah momen-momen di mana aku setengah menyesal memutuskan untuk belajar filsafat karena terlanjur berpikir rumit bin ribet bin ajaib tetapi tidak melihat secara faktual terlebih dahulu.

  1. Agnes menjelaskan kesadaran sebagai bagian dari proses otak. Memang iya, penjelasannya tidak seefisien dan praktis kuliah pada minggu sebelumnya. Tetapi, mengingat bahwa sudah ada filsuf yang memperdebatkan ini selama 3000 tahun, aku rasa ini jawaban yang sempurna dan sederhana.

Namun melihat kanan dan kiri ke sesama peserta kuliah, aku menebak bahwa mereka tidak bisa menerima jawaban yang agak kurang empirik semudah aku.

Tapi ya, itu hanya firasat, aku tidak punya bukti empirik.

Respon, Memori, Kesadaran.

Kesadaran adalah sebuah “hub” yang menerima dan terdiri dari bagian-bagian sebuah proses yang berjalan di otak kita. Kesadaran terpisah dari Wakefulness (berapa persen dari proses di otak orang tersebut berjalan) serta Awareness (seberapa sadar orang tersebut akan sesuatu)

Dari sini, yang menentukan Awareness dan Wakefulness ada di Respon seseorang.

Respon menentukan seberapa aware seseorang akan suatu kejadian. Jika orang tersebut tidak merespon, berarti mereka tidak awas akan kejadian itu terjadi. Pesan sponsor: Jika anda ingin meminta tolong tentang sesuatu, pastikan orang yang anda minta tolong itu menjawab “IYA” atau “Sebentar” atau semacamnya. Berarti mereka memang benar-benar sadar.

Respon tumbuh menjadi pengalaman yang terdiri dari ingatan dan sensasi akan suatu kejadian.

Dari hal yang masih cukup empirikal ini, baru kita mulai mengkhayal. Aku tidak lihat kanan kiri tetapi aku sendiri yang sudah biasa mengkhayal kebingungan.

Statement yang memulai proses mengkhayal ini adalah “Pengalaman Subjektif, berbeda dengan proses fisikal.” Contoh pengalaman subjektif. ‘Kuliah hari ini menarik.’, ‘Aku tidak bisa belajar jika aku tidak menggunakan bantal leher’, ‘Aku tidak suka gudeg yang dibeli di jalan Mangga.’… Contoh proses fisikal. ‘Ketika aku kuliah, aku duduk di kursi berwarna merah.’ ‘Aku belajar dari pukul 12.00 siang.’, ‘Gudeg yang dibeli di jalan Mangga rasanya manis.’

Mungkin membedakannya bukan hal yang mudah, tetapi keduanya adalah hal yang memang berbeda. Agar tidak bingung, coba pikirkan dalam sudut pandang bahwa salah satu menggunakan opini, sedangkan yang lain membutuhkan fakta.

Kesadaran kita menganggap pengalaman subjektif dan proses fisikal sebagai dua hal berbeda.

British Detective.

Sebelum masuk ke bagian yang agak berbau Sherlock Holmes (terutama dalam membaca dan mengatur kesadaran…) ada sebuah iklan yang menarik.

Iklan ini menceritakan ada seorang pemilik rumah yang terbunuh, dan rumahnya sedang diinvestigasi seorang detektif, jelas dari Inggris sesudah mendengar logat. 3 orang menjadi tersangka dan masing-masing ditanyakan sebuah pertanyaan.

Dari proses menanyakan pertanyaan hingga pertanyaan tersebut dijawab oleh 3 tersangka (koki, maid, dan butler) ada lebih dari 20 hal yang berubah di adegan. Namun, adegan tersebut baru ditunjukkan berubah pada akhir video.

Aku sukses menyadari 7 dari 29 (kalau tidak salah ada 29) jadi… hore?

Oh iya, iklan ini adalah iklan layanan masyarakat dari London ya… Untuk meminta pengemudi mobil lebih berhati-hati dan lebih awas akan orang-orang yang menaiki sepeda.

Sekilas iklan ini mirip dengan eksperimen di mana peserta eksperimen diminta mengingat warna titik di tengah layar, dan catat berapa kali titik tersebut berubah warna, serta menjadi warna apa saja. Ketika ditanyakan, mayoritas orang dapat menjawab perubahan warna dengan benar, jumlahnya juga benar, tetapi mereka tidak menyadari bahwa ada gorilla yang muncul di video yang sama, dan gorilla tersebut muncul selama 10 detik.

Justru orang-orang yang menyadari adanya gorilla tersebut (minoritas orang) adalah orang-orang yang tidak menjawab perubahan warna dengan benar.

Intinya, “We don’t notice things that we are not looking for.”

Sistem Kesadaran.

Pada akhir hari… Sedikit konyol bahwa kita memiliki setidaknya 5 indra, namun kita tidak bisa memanfaatkan indra tersebut dengan maksimal.

  1. Agnes memberikan sebuah gambar yang menjelaskan secara imajinatif-empirik (gabungan keduanya, tetapi tidak lengkap jika tidak ada keduanya) bagaimana cara kita memproses sesuatu.

Gambaran tersebut agak begitu rumit untuk diingat, serta digambarkan ulang di sini, tetapi pesan utamanya adalah… “Kesadaran kita ada batasnya.”

Jika kesadaran kita adalah sebuah workspace, maka tiap indra, syaraf, dan perasa yang berfungsi adalah alat berbeda, untuk memproses hal-hal secara berbeda.

Sama seperti di dunia nyata, tidak ada manusia yang bisa menggunakan lebih dari satu alat secara bersamaan tanpa mengurangi efektivitas pekerjaan tersebut.

Ini kembali ke pesan Holmesian yang ada di tulisanku tentang berpikir seperti Sherlock… Kita harus secara sadar memerintah otak kita untuk mengerjakan suatu tugas jika ingin mengerjakannya dengan perhatian yang penuh.

Ada penjelasannya secara Neurobiologis ternyata. Jika otak kita menerima sebuah sensasi atau impuls, (terutama sensasi atau impuls yang minor) kita harus secara sadar memerintahkan impuls tersebut untuk mendorongnya ke ujung otak dan menerima informasinya secara utuh.

Jika impuls tersebut tidak didorong dan tidak diproses oleh semua alat yang ada di workspace kita, maka impuls tersebut tidak dibaca, seolah-olah tidak pernah terjadi.

Kesimpulan

Kesimpulan tulisan ini adalah… Berpikir seperti Sherlock?

Tidak juga sih. Pada akhir presentasi (yang sayangnya sedikit tergesa-gesa karena kurang waktu) DR. Agnes memberikan sebuah pernyataan bahwa individualitas dan identitas adalah bagian dari kesadaran tersebut.

Orang yang benar-benar sadar akan dirinya memiliki identitas yang sudah utuh. Jadi, jika anda masih melakukan plagiat, copy-paste, nyolong trend, dan semacamnya, anda belum sadar atau kenal akan diri anda sendiri…

Post Script.

Jika anda bertanya padaku apa bagian yang paling menyenangkan pada kuliah hari ini. Aku harus jujur, itu ada di muka-muka Kakak-kakak mahasiswa yang juga ikut kuliah umum. Sesudah terbiasa belajar empirik selama mereka sekolah, aku punya firasat mereka sedikit kebingungan ketika bertemu dengan informasi yang ada khayalan seperti ini.

Pak Hendra, penyelenggara/pencetus kuliah umum Sains ini khusus memberikan pernyataan jika masih ada yang kebingungan, itu karena ilmu mengenai kesadaran ini sendiri juga masih belum benar-benar jelas dan belum cukup empirik untuk bisa dimengerti secara faktual.

Toh, kesadaran merupakan sebuah pertanyaan…

Post Post Script.

Aku ada satu tulisan lagi tentang kuliah umum, dua minggu yang lalu, tanggal 15 Oktober. Tapi err, ada permintaan dari Prof. Hendra untuk tunda pengeluaran tulisan tersebut. Jadi, aku akan mengeluarkan tulisan kuliah tanggal 22 Oktober (mungkin hari Senin atau Selasa) sebelum tulisan tanggal 15.

Nonlinearitas.

Nonlinearitas.

Aku sudah mencoba 2 ejaan berbeda. Nonlinieritas, dan nonlinearitas, namun sayangnya tidak ada yang masuk di KBBI, karena istilah ilmiah ini bukan hal yang “resmi” seperti Gravitasi, Atom, dan semacamnya. Jadi, aku akan gunakan huruf A untuk mengisi katanya ya.

Nonlinearitas adalah sebuah konsep yang dijelaskan oleh Nassim Nicholas Taleb. Kembali pada konsep statistika yang Taleb sering tuliskan.

Karena ada sedikit isu pengaturan jadwal menulis (dan fakta bahwa aku belum menulis apa-apa minggu ini), tulisan hari ini tidak akan begitu panjang, hanya sedikit di atas 1000 kata, tetapi masih bisa dinikmati seperti biasa.

Batu Milik Raja

Ceritanya seperti ini. Ada seorang Raja di daerah Babilonia yang harus menghukum anaknya karena ia melanggar hukum. Ia menyatakan pada warganya bahwa hukuman tetap harus sama dengan warga biasa, bahwa ia akan ditimpa satu batu raksasa karena telah melanggar hukum tersebut.

Hukum apa? Jangan tanya aku. Kenapa hukumannya itu? Jangan tanya aku juga.

Pada hari penghukuman, ternyata si anak raja tidak bersalah, atau Raja tersebut merubah pikirannya, tergantung versi. Jadi, ia bertanya pada penasehatnya, apa yang bisa ia lakukan tanpa kehilangan muka di depan rakyatnya karena ia plin-plan.

Penasehat tersebut memberikan ide untuk membelah batu tersebut menjadi 1000 bagian berbeda. Jadi jika batu tersebut seberat 1 ton secara utuh, ia akan ditimpa 1000 batu seberat 1 kilogram. Menyakitkan? Iya. Membunuh? Tidak.

Di sinilah dijelaskan nonlinearitas. Batu yang sama hanya akan memberikan efek fatal jika diberikan secara utuh. Dipecah menjadi 1000 bagian yang sama, tetapi terpisah, efek fatal tersebut hilang.

Di sinilah masuk nonlinearitas. Banyak benda dinilai tidak secara linear, dan nilainya akan drop (atau justru naik) ketika ia terpecah belah. Sayangnya menilai barang di pasar dengan cara ditimbang tidak seperti menilai suatu benda di perekonomian nyata.

Semangka yang secara utuh beratnya 1 kilogram seharga 10.000 rupiah, dan jika dipotong 200 gram masing-masing, harganya masih tetap 10.000 per kilogram, dengan tambahan sekitar 500 perak untuk ongkos potong.

Cukup tentang ekonomi tetapi, aku bukan orang yang bisa menjelaskan ini dengan jelas dan tepat, aku ingin membahas nonlinearitas untuk kehidupan sehari-hari, dan tidak satupun berkaitan dengan menghabiskan uang.

Olahraga, Diet, dan Puasa

Ketiga hal ini menjadi hal yang unik untuk dibahas di tulisan hari ini, karena ketiganya sangat nonlinear tanpa membahas satuan harga atau energi. Cukup dengan waktu saja kita bisa membahasnya.

Olahraga

Dua orang yang tinggal di rumah bersebelahan diberikan deadline untuk sampai ke kantor yang sama dengan cara jalan kaki. Jarak ke kantor hanya 2 kilometer kok. Mereka harus sampai pukul 8.00 pagi.

Orang pertama berjalan kaki dari pukul 7.30 dan sampai tepat waktu. Orang kedua, pada sisi lain, bersantai di rumah, dan lari dari rumah pukul 7.50, lalu sampai tepat waktu juga.

Energi yang dihabiskan jelas berbeda kan? Orang yang lari, meski hanya berlari 10 menit untuk menempuh 2 kilometer jelas menghabiskan energi lebih banyak daripada orang yang berjalan selama 30 menit untuk menempuh 2 kilometer yang sama.

Ini alasan pertama adanya nonlinearitas. Energi dan olahraga tidak dinilai secara linear. Kita berlari selama 1 jam dengan kecepatan 5 kilometer per jam, tetap akan menghabiskan energi lebih banyak daripada berjalan selama 5 jam dengan kecepatan 1 kilometer per jam.

Tidak ada rumus, grafik, atau ogive yang bisa dibentuk untuk menilai penggunaan energi, semua orang harus menilai energi mereka sendiri, dan menghabiskannya sepantasnya.

Puasa

Masih dalam topik kesehatan, aku mau masuk ke puasa.

Mana yang lebih efektif sebenarnya. Puasa senin-kamis dalam setahun, tetapi tidak berpuasa selama satu bulan pada bulan Ramadhan (walau aku yakin tidak ada orang yang melakukan ini, dan tolong jangan pikir dari sudut pandang agama saja, tapi justru dari sudut pandang medis dan kesehatan) atau justru puasa Ramadhan saja, tanpa puasa senin-kamis? (seperti kebanyakan orang)

Ini hal yang tidak bisa dinilai secara linear. Orang yang hanya berpuasa Senin-Kamis akan berpuasa selama 102 hari secara konsisten tiap tahunnya, tetapi dibagi rata, satu bulan berpuasa 8-10 hari. Orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan saja, berpuasa secara utuh selama 30 hari berturut-turut, mengistirahatkan tubuh penuh selama bulan tersebut.

Kalau kita adalah sebuah mobil, anggap saja dalam satu tahun, ada satu bulan di mana mobil A tidak dinyalakan, selama mobil B hanya dinyalakan 5 hari dalam seminggu. Istirahat satu bulan penuh lebih berharga daripada istirahat 2 hari tiap minggunya.

Setidaknya dalam pandanganku. Silahkan berdebat kembali mengenai ini, tetapi ambil sudut pandang ilmiahnya tentunya.

Diet

Diantara ketiga konsep di atas, Diet ini menjadi yang paling membingungkan.

Sebelum masuk, aku sudah membaca setidaknya tiga buku tentang psikologi, dan statistika yang menyatakan bahwa diet hanya sukses untuk 1 dari 10 orang, tetapi aku belum sekalipun membaca buku tentang kesehatan yang menjelaskan tentang dietnya sendiri.

Kalau anda bertanya kenapa aku Kekeuh tetap mau menulis tentang diet… Buku kesehatan (misal) membahas tentang manfaat dan kegunaan dari dietnya sedangkan buku statistika dan psikologi membahas keinginan dan kemampuan kita untuk melakukan diet tersebut. Berbeda dengan manfaat, ia menjelaskan cara orang dapat mengumpulkan dorongan psikologis untuk melakukan diet tersebut. Jadi, iya, walau aku tidak tahu tentang manfaat sebuah diet, aku tahu secara kasar usaha yang dibutuhkan untuk melakukan diet, dan terkadang, tahu alasan usahanya muncul lebih penting kebanding manfaatnya.

Jadi, dengan asumsi bahwa diet tidak bisa berjalan untuk 9 orang yang melaksanakannya, mari kita bahas dietnya sendiri.

Diet sendiri bergantung pada orang untuk menentukan apa yang ia makan dan tidak makan bukan, beserta menghitung kalori yang ia dapatkan dari makanan yang ia konsumsi.

Masalah terbesar dari diet dari sudut pandang statistika ada di penggunaan kalori.

Mayoritas diet meminta orang-orang untuk mengonsumsi maksimal sejumlah kalori, dan kalori tersebut tidak boleh didapatkan dari jenis makanan misalnya, telur, tepung, daging, dan seterusnya.

Tetapi, diet ini begitu abu-abu dalam meminta makanannya dikonsumsi sehingga kalori yang perlu dinilai secara nonlinear, dilihat secara linear.

Misalnya seseorang dibatasi ke konsumsi 100 kalori untuk sarapan. Ia memutuskan, daripada ia mengkonsumsi 100 kalori dari 2 roti gandum yang rasanya gak enak, ia akan mengkonsumsi 3 Beng-Beng yang masing-masing berisi 25 kalori. Ia hanya mengkonsumsi 75 kalori, lebih sedikit dari roti gandum, dan rasanya enak…

Namun, jika kita melihat kalori secara linear, alias murni dengan angka, kita akan melewatkan fakta bahwa kalori yang didapat dari roti gandum adalah kalori yang sehat. Sedangkan, kalori dari Beng-Beng, tidak sehat. Jadi, dari sini datanglah masalah ke satuan kalori sendiri untuk makanan.

Kalau diet hanya membatasi kalori beserta jenis makanan untuk menerima kalori tersebut, kita tidak akan bisa melihatnya secara nonlinear, kita akan selalu melihatnya berdasarkan angka saja, sedangkan sama seperti kasus di awal, 1000 batu seberat 1 kilogram tidak memiliki efek yang sama dengan 1 batu seberat 1000 kilogram.

Jadi, diet tidak bisa bekerja dengan baik karena energi dihitung berdasarkan satuan linear. Sementara, kalori sendiri pertama-tama digunakan untuk menghitung energi di sebuah mesin, seperti pemanas, pendingin, dan semacamnya. Jadi… Sistem kalori tidak bekerja?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kembali lagi ke seri Kuliah Umum di ITB. Topik di tulisan hari ini membahas tentang manusia. Ada kabar baik dan buruk yang perlu diberikan sebelum membaca dan masuk ke artikel ini.

Kabar baiknya, siklus satu sudah habis! Ini adalah materi kedua dari terakhir, dan aku masih punya hutang tulisan karena aku sakit minggu lalu, dan tidak sempat menulis. Kabar buruknya, ini berarti aku tertinggal satu minggu, karena ada materi yang menjelaskan tentang kesadaran, yang diberikan hari selasa kemarin, tanggal 1 Oktober.

Kabar baik lainnya karena minggu depan kuliah umum Sains di ITB sedang istirahat… aku bisa mengejar tulisan tersebut tanpa ada tambahan tunggakan.

Sekarang, masuk ke topik, selamat menikmati.

Filosofis? Biologis?

Aku sempat kebingungan dan memberikan ekspektasi yang salah pada kuliah kali ini. Jangan anggap aku meremehkan, justru kuliah kali ini mengalahkan ekspektasi dengan jauh. Hanya saja dari sudut berbeda.

Sesudah kuliah umum sekitar 20 kali tentang Filsafat, dan sesudah membaca banyak mitologi dan sedikit sastra dari seluruh dunia dan banyak era, pertanyaan ini sering kupikirkan, tetapi tidak sekalipun aku tanyakan dari sudut pandang biologi.

Ternyata, aku berpikir terlalu kompleks. Ketika aku membandingkan manusia dengan hewan dari sudut pandang filosofis, dan yang tidak empirik sama sekali, aku akan mencari cara untuk menjelaskan alasan kita menyukai seni, kita menyukai sains, kita percaya pada pemimpin, kenapa ada agama, dan blablabla yang sangat panjang.

Jawaban yang diberikan Prof. Djoko dari SITH (calon dosen pas nanti kuliah berarti… Amin) tidak lebih kompleks dari kromosom dan kode genetika. Pelajaran SMA. Jadi untuk pertama kalinya, aku memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjelaskan tentang sains di blog ini!

Mengabaikan lelucon, aku yakin 100% aku berpikir terlalu jauh ketika aku ingin menanyakan pertanyaan, apa yang membuat kita manusia? Prof. Djoko tidak menjelaskan dengan rumit. Ia hanya menjelaskan bahwa 98% dari kode genetika manusia sama dengan simpanse, dan kode genetika kita juga sama dengan 40-60% dari lalat.

Lalu, kenapa 2% dari kode genetika tersebut menjadi pembeda yang signifikan? Kenapa kita pintar, bisa bicara, bisa menulis tulisan seperti ini, bisa menghitung dan mengkhayal, sementara simpanse tidak?

Oke, memang betul, Enzim penyusun simpanse berbeda jauh dengan manusia, tetapi kalau kita membandingkan makhluk yang enzim penyusunnya paling mirip dengan manusia, kita akan memandang diri kita lebih rendah lagi. (Makhluk dengan enzim penyusun paling mirip dengan manusia, mencapai 92% kesamaannya adalah… Babi.)

Untuk orang yang bingung, kita anggap saja bahwa enzim penyusun adalah bahan bangunan, sementara kode genetika adalah struktur yang dibangun.

Simpanse merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan kayu, Manusia merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan batu, sementara Babi merupakan rumah berbentuk bulat yang dibuat dengan batu. Bahan penyusun sama, dibentuk secara berbeda dalam kasus Babi, bahan penyusun beda, dirancang secara sama dalam kasus simpanse.

Jadi, sekedar 2% dari kode genetika dan 8% dari enzim penyusun yang membentuk manusia menjadi faktor yang sangat penting. Kenapa kita pintar, sedangkan simpanse dan babi tidak sepintar kita? (oke, sejujurnya kalau membaca komentar orang di situs-situs di Internet, aku khawatir simpanse lebih pintar dari kita, tapi anda mengerti maksudku)

Rahang, Otak, dan Telinga.

2% kode genetika tersebut lebih dari cukup untuk mengubah bentuk rahang, telinga, dan punggung. Hanya sekedar dua persen saja membuat kita pintar, karena dua persen tersebut adalah dua persen yang mengubah hal-hal yang tepat.

Rahang kita masuk lebih dalam, telinga kita dapat mengatur keseimbangan, dan punggung kita tegak.

Kubahas satu-satu.

Rahang

Ukuran rahang yang semakin dalam memberikan kepala yang ukurannya umum sama dengan primate lainnya, untuk memberikan tengkorak yang lebih besar. Tengkorak yang lebih besar, berarti ukuran otak yang bisa disimpan dalam tengkorak tersebut, lebih besar juga.

Tanpa kehilangan fungsi penting dari rahang untuk mengunyah daging serta sayuran, kita memiliki otak yang cukup besar untuk memproses informasi yang kompleks.

Dengan kehilangan gigi tonggos dan rahang maju, kita telah membuat diri kita sebagai manusia yang lebih intelijen

*OUT OF TOPIC: Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika manusia diberikan waktu untuk evolusi lebih lanjut, mungkin kita akan seperti professor X tetapi tidak punya mulut, dan mendapat nutrisi dari sumber lain, karena kepala kita terlalu besar untuk menyisakan tempat untuk mulut.

Telinga

Telinga kita berevolusi agar kita punya keseimbangan ketika kita berjalan. Ya. Telinga kita memiliki saluran untuk menjaga keseimbangan di seluruh tubuh.

Bagi orang-orang yang suka bermain game, atau tahu tentang senjata perang, ini alasan Flashbang mampu membuat seseorang bingung parah. Suaranya cukup untuk mengganggu saluran keseimbangan di telinga, dan membuat mereka jatuh sampai saluran tersebut kembali normal.

Ini subjek sensitif bagiku. Kenapa? Aku punya sedikit masalah keseimbangan. Maksudku, aku tidak bisa naik sepeda, aku punya masalah jalan di blok kayu tanpa terjatuh, dan isu kognitif lainnya.

Jadi, ketika aku mendengar bahwa saluran keseimbangan adalah salah satu alasan kita bisa menjadi lebih pintar, aku mengerti jelas kenapa diriku yang kecil punya isu dalam bergerak, dan tidak suka bermain seperti anak-anak lainnya yang tidak diberikan Gadget atau Televisi.

Kembali ke topik lagi. Kita butuh saluran keseimbangan ini untuk turun dari pohon dan tidak lagi perlu tinggal di pohon, dan pindah ke gua, lalu ke rumah. Ketika mulai berburu, kita bisa meninggalkan jejak dan berinteraksi lebih lanjut, dan kita menjadi manusia yang lebih pintar.

Punggung

Sesudah telinga kita mendapat update untuk menjaga keseimbangan. Tulang punggung kita beradaptasi agar tubuh kita lebih kaku, tetapi juga tambah kuat.

Kita memang tidak selentur simpanse, tetapi karena kita mulai bisa berjalan tegak, kelenturan itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga kita menjadi lebih kaku, lebih kuat, dan lebih terstruktur.

Stamina kita bertambah, dan kekuatan kita bertambah, karena sekarang, kita punya tubuh yang mampu menahan keseimbangan ketika berjalan dengan tegak, tidak seperti Gorilla, atau Simpanse lagi. Dari sudut pandang fisik murni, tanpa latihan atau semacamnya, manusia sebagai spesies harusnya lebih kuat dari Gorilla dalam kasus berdiri atau bergerak.

Bagaimana kalau berantem? Kamu mau coba sendiri? Silahkan, tetapi aku tidak mau tanggung jawab.

Sebelum mengakhiri dengan beberapa statement di bagian selanjutnya ada klarifikasi terlebih dahulu tentang enzim penyusun, Enzim penyusun irelevan kalau kita membahas intelegensia, karena hal-hal yang diatur enzim adalah hal yang semua makhluk hidup harus miliki, seperti kemampuan bernafas, bergerak, makan, pipis, dan pup.

Perbedaan Etnis

Kalau kita membandingkan perbedaan antara spesies lain, setidaknya kita akan menemukan 2% bukan? Kerabat terdekat Homo sapiens yang sudah pintar seperti kita adalah simpanse, tetapi, berapa banyak perbedaan antara dua ras Homo sapiens?

Perbedaan tersebut hanya mencapai 0.02%. Sebuah perbedaan yang tidak dilihat oleh anak kecil, dan baru dilihat ketika sudah mencapai usia remaja.

Pesan untuk guru-guru TK dan SD: Jika anak-anak memilih-milih teman, tolong salahkan orangtua mereka. Secara genetik DAN evolusioner, mereka tidak mungkin memilih-milih teman.

Lalu kenapa angka intoleransi meningkat secara drastis?

Prof. Djoko menggunakan kata yang ia berikan disclaimer sebagai kata yang “kasar” yaitu cuci otak.

Prof. Djoko bukan ahli dalam bidang perbedaan budaya, itu diluar ranah biologi miliknya, namun ia yakin bahwa jika ada perbedaan etnis, atau ras, manusia tidak akan melihatnya kecuali ada yang menunjukkan hal tersebut. Ia tahu bahwa manusia melihat perbedaan secara budaya, bukan secara etnis.

Mulai dari paragraf ini, kata-kata di sini aku tambahkan sendiri ya, tidak ada kata dari Prof. Djoko atau Pak Hendra sebagai koordinator kuliah umum Sains ini. Aku menanggung semua kata-kata sesudah paragraf ini. (Oh iya, mengenai struktur enzim yang mirip dengan babi juga aku mengambil tanggung jawab penuh, itu atas riset sendiri)

Ini mungkin alasan partai-partai konservatif biasanya tidak menggunakan perbedaan etnis atau ras sebagai alasan utama mereka menciptakan “Boogeyman”, tetapi mereka menggunakannya sebagai pembeda, dan akhirnya turun dari pembeda tersebut stereotipe berdasarkan ras. Sama seperti yang Trump lakukan dengan Meksiko.

Contoh saja ya. Trump menyatakan bahwa imigran Meksiko merupakan kriminal dan berbahaya bagi negara Amerika. Ini merupakan tuduhan budaya, bukan tuduhan ras. Trump lalu menyatakan bahwa ia harus melindungi Amerika dari isu ini. Ini juga merupakan tuduhan budaya. Pendukungnya menyimpulkan bahwa orang-orang meksiko merupakan orang kriminal. Dari tuduhan budaya tersebut, muncullah tuduhan ras, sesudah ada kesadaran akan perbedaan budaya.

Permainan ini merupakan hal yang pintar, dan licik, karena orang yang memercik api pertama tidak berusaha untuk menyalahkan ras, tetapi menyalahkan tindakan yang dilakukan, dan menggantungkan penyalahan ras-nya oleh pendukung atau penerima informasi.

Jadi, apa pendapat anda tentang ini? Selamat merenung dan berpikir…

Tyrant’s Tomb by Rick Riordan. Rekap dengan Spoiler

Tyrant’s Tomb by Rick Riordan. Rekap dengan Spoiler

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Jadi anda datang ke sini ya. HAHAHA!

Ingat ini versi dengan spoiler, dan tulisannya hanya sedikit sama dengan versi bebas spoiler karena aku bisa mereferensikan kejadian tanpa khawatir merusak pengalaman membacamu.

Baca dengan peringatan bahwa ini mengandung sangat banyak spoiler.

HAPPY ENDING

Aku melakukan kesalahan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk ending tragis sekali lagi, padahal di Percy Jackson, dan di Heroes of Olympus, Riordan selalu membuat buku ketiga buku yang paling tragis, dan buku keempat dengan ending yang happy, tetapi masih menggantung.

Hore! CALIGULA MATI! RASAIN! Commodus juga, tapi… yeah…

Lubang-Lubang Cerita?

Riordan meminta 6 bulan untuk menutupi lubang yang ia ciptakan.

Frank Zhang membakar kayu yang katanya mengikat hidupnya. Kayu itu habis terbakar, hidupnya juga habis, dan ia akan terbakar juga.

Reyna yang katanya tidak akan pernah sembuh hatinya, menjadi sembuh, dan mengikuti Hunters of Artemis.

Rick Riordan melakukan hal yang sangat nekat dengan menggali satu lubang besar di Tyrant’s Tomb. Untungnya, lubang ini adalah lubang yang positif. Ini sebuah lubang yang Riordan khusus ciptakan untuk menghapus fakta bahwa ramalan dan takdir bisa ditulis ulang.

Selama 13 buku lainnya yang Riordan tulis. 19 jika menghitung Magnus Chase dan Kane Chronicles… Riordan memastikan hanya ada satu hal yang pasti, ramalan dan takdir tidak bisa ditulis ulang.

Frank Zhang

Frank menerima ramalan bahwa ia akan meninggal begitu sepotong kayu dari perapian rumah keluarganya (yang ia ambil tentunya) terbakar. Namun, ia membakar kayu tersebut dan mengakhiri habis ramalan bahwa ia akan terbakar bersama kayu tersebut, ketika akhirnya, Frank masih hidup.

Pada akhirnya, aku harus membayarkan Oreo ke temanku karena kita sudah bertaruh bahwa Frank akan mati, ternyata ia masih hidup.

Ya sudah. Sejujurnya Frank merupakan salah satu karakter kesukaanku di Riordanverse jadi kalau aku perlu membayar 3 buah Oreo tetapi ia masih hidup, aku rasa itu harga yang patut.

Tips: Ketika ingin bertaruh seorang karakter akan mati, pilih karakter favorit anda. Jika dia tidak mati, anggap saja itu kompensasi kehidupan karakter tersebut, jika dia mati, anggap saja itu kompensasi kesedihan untuk kematian karakter tersebut. Itu win-win.

Riordan melakukan hal yang nekat dengan ini, karena ini memberikan sebuah kemungkinan untuk penulisan ulang ramalan, hal yang seharusnya tidak mungkin di mitologi secara umum. Kurasa ini hal yang bagus sih, semakin sering membaca buku Rick Riordan, semakin sadar aku bahwa banyak karakter yang hidupnya bergantung pada ramalan yang diutarakan beberapa buku sebelumnya, dan itu menjadi hal menyebalkan kadang.

Aku sempat berpikir bahwa Frank akan benar-benar mati ketika ia sudah membakar dirinya dan Caligula di Caldecott Tunnel. Aku tahu bahwa Riordan sudah serius ketika ia membunuh Jason di Burning Maze, itu berarti bahwa tidak ada tokoh utama yang selamat dari kematian.

Maksudku, jika Riordan benar-benar membunuh Frank, aku merasa ia sudah mengambil satu langkah terlalu jauh. Begini ya…

Jason Grace adalah Captain America. Ia bertanggung jawab, ia “sempurna” dan ia adalah pahlawan yang kematiannya membangunkan dan membuat orang-orang menyadari mereka membuat kesalahan. Di komik Civil War, Civil War sendiri berhenti begitu Captain America mati. Para pahlawan menyadari bahwa ada kesalahan yang terjadi. Kamu ingin membuat seseorang dewasa, bunuh Jason, atau bunuh Captain America.

Frank Zhang, pada sisi lain… seperti Spider-Man. Ia kuat, ia bertanggung jawab, ia mulia juga. Tetapi ia lebih kekanak-kanakan. Ia karakter yang dicintai semua orang, ia memang sering dijelaskan sebagai orang yang imut sejak ia dimunculkan di Son of Neptune, dan Frank memang menggemaskan kadang.

Frank memang pahlawan juga, sama seperti Jason, tetapi membunuh Spider-Man tidak akan menciptakan efek yang sama seperti membunuh Captain America. Keduanya akan disambut dengan sedih, tetapi kesedihan yang terjadi jika Spider-Man mati, adalah kesedihan murni, tanpa perasaan penebusan diri yang didapat jika Captain America mati.

Jadi sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan Frank Zhang mati.

Tower of Nero?

September 2020 akan menutup Trials of Apollo, dan 2021 akan membuka cerita baru lagi, dan Riordan tidak akan menggunakan Greek/Roman mythology sebagai cerita utama, tidak lagi. Ia akan beralih ke Norse/Egyptian.

Tetapi, sementara itu, apa yang akan terjadi di Tower of Nero?

Ramalannya berbunyi…

O Son Of Zeus the final challenge face

The To’er of Nero two alone ascend

Defeat the beast that has usurped thy place

Dan hanya itu.

Sebuah ramalan yang sangat sederhana. Riordan tidak ingin orang-orang banyak berasumsi hal akan terjadi seperti yang tampak sesudah prophecy 14 baris di Dark Prophecy, dan prophecy cryptic di Burning Maze.

Ketiga baris itu sangat obvious (pertama hanya penjelasan singkat, kedua tentang tower of nero, dan ketiga tentang Python yang dibangkitkan Gaia di Blood of Olympus), mengingat judul buku kelima sudah keluar dan judulnya memang Tower of Nero. Untungnya, walau barisnya sangat obvious, Riordan memberikan kesempatan untuk orang-orang berasumsi ada baris lain.

Terza Rima yang Dante ciptakan di The Inferno menjadi skema ramalan kali ini.

Berarti, tiga baris berikutnya akan berhubungan dengan baris ini, dan baris satu dan tiga akan berirama dengan Ascend. Apa yang mungkin terjadi ya? (Aku menyesal bacanya terlalu cepat eh…)

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Ini adalah REVIEW tanpa spoiler tentunya. Jika anda ingin diberikan spoiler, atau ingin recap singkat cerita, silahkan klik link ini, dan diam.

Dari Mana Ceritanya Bersambung?

Oke, ada sedikit sekali spoiler yang wajib untuk memberikan review yang menyeluruh. Cerita bersambung sesudah berapa lama?

Burning Maze berakhir ngegantung dengan kematian dari Jason Grace dan munculnya Leo Valdez yang kembali dari Camp Jupiter sesudah mengantarkan kabar. Apollo berangkat naik pesawat ke Camp Jupiter di San Francisco dengan tujuan mengantarkan mayat temannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Cerita ini bersambung sekitar… 2 jam sesudah bab terakhir dari Burning Maze. Aku sendiri tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari Los Angeles ke San Francisco, tetapi aku tahu jaraknya tidak begitu jauh. Intinya, bab terakhir Burning Maze berlangsung di hari yang sama dengan bab pertama Tyrant’s Tomb.

Jadi, jika anda ingin bertanya… Apakah timeline di bukunya lama? Jawabannya tidak. Riordanverse masih nyangkut di tahun 2012. Percy masih berusia 17 tahun dan belum lulus SMA.

Menegangkan, tetapi Lambat.

Cerita Tyrant’s Tomb berlangsung dengan cukup pelan sejujurnya.

Sebelum membangun ulang plot baru untuk buku selanjutnya, dan membereskan pertanyaan yang muncul pada Dark Prophecy dan Burning Maze, Riordan memulai dengan santai dan menjelaskan isi Camp Jupiter, (hal yang ia belum pernah lakukan di Heroes of Olympus) memastikan semua hal aman, dan plot-plot tersambung dengan rapih.

Kurang lebih, plot Tyrant’s Tomb berjalan seperti puisi ABAB. Tegang 4 bab, tenang 4 bab lagi, Tegang, Tenang, Tegang, Tenang. Dalam konteks cerita, Apollo tidak mengalami hari-hari santai sebanyak yang ia alami di Hidden Oracle, tetapi ia juga tidak berusaha dibunuh sesering yang ia alami di Burning Maze dan Dark Prophecy.

Plot berjalan dengan lambat sampai 8 bab terakhir, tetapi Riordan memastikan bahwa pembaca tetap merasa tegang sesekali.

Aku melakukan Speed-Reading tingkat parah sesudah bab 35, meskipun aku membaca 34 bab sebelumnya dengan sangat santai.

Plot Twists?

Aku tahu pembaca akan kebingungan jika aku bilang… “BUKU INI BANYAK PLOT TWIST-NYA”

Aku juga berpikir hal yang sama sesudah membacanya. Sesudah plot twist terbesar sepanjang tulisan Riordan yang terjadi di Burning Maze, aku tidak mengira Riordan masih mampu menciptakan plot twist lebih banyak lagi.

Tetapi, aku mengingat bahwa ada sekitar 3 plot twist yang menutup Tyrant’s Tomb di akhir bukunya.

Oh iya, catatan sangat penting. Jika anda belum membaca bukunya, anda tidak ingin membaca Tyrant’s Tomb dengan spoiler. Itu akan menjadi keputusan yang sangat buruk. Berbeda dengan di Burning Maze di mana anda yakin 100% bahwa Jason Grace telah mati satu bab sesudah dia dibunuh Caligula, Tyrant’s Tomb memberikan plot twist yang unik.

Anda akan merasa tegang jika anda tidak mengetahui bagaimana ceritanya berakhir, jadi, jangan baca bab-bab terakhir sampai gelombang ketegangan terakhirnya telah lewat.

Mitologi?

Seperti buku Trials of Apollo lainnya, Riordan langsung mengenalkan monster baru di bab-bab awal, dan langsung memberikan kerepotan khusus bagi Apollo dan Meg McCaffrey. Jadi, indeks monster mitologis anda tetap bertambah di Tyrant’s Tomb, jangan khawatir.

Selain itu, sumber ramalan yang dituju Apollo pada buku keempat ini adalah buku Sibylline yang ditulis Sibyl of Cumae ketika Romawi masih berupa sebuah kerajaan, sebelum Julius Caesar, sebelum Octavian, sebelum Caligula, dan sebelum Marcus Aurelius.

Buku Sibylline sendiri dikira telah dibakar oleh kaisar Theodosius ketika ia memimpin, namun pada Son of Neptune, Percy, Frank, dan Hazel bertemu dengan seekor Harpy yang memiliki memori fotografis bernama Ella, yang pernah membaca buku yang telah hilang tersebut.

Ella berusaha memecahkan misteri dan merekonstruksi buku tersebut, mengakhiri bab terakhir Tyrant’s Tomb dengan sebuah pertanyaan, sama dengan ketiga buku sebelumnya.

Selain itu, aspek besar lainnya dari Tyrant’s Tomb ada di pengaruhnya Romawi sebagai republik. Bukan sebagai mitologi, tetapi aspek historiknya.

Jika di Camp Half-Blood semua tindakan pahlawan-pahlawan disitu terjadi secara acak, secara tidak terstruktur, dan kemungkinan terjadi karena ada ramalan, atau atas perintah Chiron… Camp Jupiter lebih demokratis dalam penentuannya.

Proses demokrasi ini semacam memperlambat plot, tetapi membacanya tetap menyenangkan, jadi jangan khawatir.

Lester?

Apollo jelas tumbuh sebagai karakter sesudah kematian Jason. Ini hal yang patut dibaca karena semakin ke sini, karakter Apollo sebagai dewa manja semakin hilang, dan walau ia masih suka mengeluh dan memang mengeluh beberapa kali, ia lebih dewasa dan heroik.

Pertumbuhan Apollo sebagai karakter jelas menjadi salah satu alasan Riordan menunda perilisan buku ini. Hanya dalam selang waktu beberapa hari sesudah Jason Grace terbunuh… karakter Apollo berubah drastis.

Apakah Tyrant’s Tomb Pantas Ditunggu Selama Ini?

IYA! Tyrant’s Tomb pantas ditunggu selama ini. Setidaknya, jika anda tidak puas dengan cerita, atau tidak menyukai plot yang relatif lamban ini… adanya deskripsi yang cukup detil tentang Camp Jupiter, New Rome, dan aktivitas demigod Romawi yang berbeda jauh dengan demigod Yunani cukup untuk memuaskan rasa penasaran anda.

Selain itu, pertemuan dengan Frank Zhang, Reyna, dan demigod Romawi lainnya juga menyenangkan, dan memberikan sebuah bentuk kepuasan tersendiri.

Ini review bebas spoiler, dan sejujurnya, buku ini sangat sulit dijelaskan tanpa spoiler, jadi… baca sendiri saja! Selamat menikmati!

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Aku kembali ikut kuliah umum berseri! Hore! Kali ini, aku ikut kuliah umum di ITB, dengan tujuan kembali ke dunia empirik sesudah banyak (banget) mengkhayal di Unpar.

Materi pertama yang kudapatkan di serial Kuliah Umum Sains arus 1 tentang… *masukkan drumroll* alien. Oke, mungkin bukan alien, istilah alien sendiri kurang tepat, lebih tepatnya kehidupan di planet lain.

Materi ini diberikan Ibu Avivah dari Langit Selatan.

(buat yang tidak berdomisili di Bandung, atau memang tidak tahu… Langit Selatan adalah sebuah organisasi yang lumayan sering mengadakan acara observasi bintang.)

Selamat menikmati recap + komentar dan opini dari kuliah umum kali ini!

Materi-Materi Pembentuk Kehidupan.

Sebelum masuk terlalu dalam ke konsep pencarian dan cara pencarian oleh astronom di dunia, pertama-tama mari kita masuk dan mencari apa yang sedang dicari.

Air

Materi nomor satu yang dicari. Air. Kenapa air? Dari zaman filsuf Yunani, tepatnya, Thales dari Miletus, salah satu bapak dari ilmu pengetahuan, air adalah benda yang paling krusial dalam pembentukan kehidupan.

Air berperan penting dalam kehidupan manusia, serta dalam suhu, serta tekanan udara di suatu planet.

Jika planet dapat menyokong air dalam bentuk cair, besar kemungkinan bisa ada makhluk hidup yang mampu tinggal di planet tersebut tanpa merasakan suhu terlalu panas, terlalu dingin, dan tanpa kehilangan oksigen.

Oksigen

Kehidupan yang similer, (walau berbeda bentuk) dengan manusia, kemungkinan besar menggunakan oksigen sebagai gas yang berperan dalam respirasi. Jika ada air, maka ada oksigen, dan jika ada oksigen, berarti ada makhluk hidup yang mampu memprosesnya.

Adanya air berarti adanya oksigen, walaupun tidak dalam bentuk murni, dan adanya oksigen berarti ada kemungkinan penyokongan air.

Alasan penggunaan air sebagai fluida dan Oksigen sebagai gas yang menjadi kriteria pencarian planet yang mungkin bisa menyokong kehidupan, ada di pentingnya air untuk kehidupan berbasis karbon. Faktanya, kehidupan berbasis karbon (seperti pada dasarnya semua makhluk hidup di bumi) membutuhkan air, dan tentunya oksigen untuk bisa hidup.

Pertanyaan, mungkin, apakah mungkin jika ada penyokongan kehidupan dengan unsur lain, selain karbon misalnya?

Meskipun tidak dicari (setidaknya tidak dalam demand sebesar karbon), jawabannya iya, ini hal yang mungkin. Sebagai contoh (yang memang borderline science fiction, tapi tetep…) kehidupan berbasis Silikon tidak butuh air ataupun oksigen. Kehidupan berbasis Silikon akan cenderung mekanikal/robotika.

Planet-Planet yang dicari?

Kita sudah tahu apa zat yang dicari… sekarang mari kita masuk ke planet-planet yang dicari.

Pertama-tama… Planet batuan, atau setidaknya, satelit dari planet batuan. Karena, kita tidak bisa berdiri di atas gas, dan planet es akan membekukan semua potensi kehidupan. Oh, dan gravitasi dari planet gas terlalu besar untuk bisa membiarkan kehidupan tumbuh.

Kedua, planet tersebut harus berada di zona Laik Kuning. Namun, karena nama Laik Kuning terdengar membosankan, kita akan mengenal zona Laik Kuning dengan istilah Zona Goldilocks, dinamakan dari cerita Goldilocks and the Three Bears. Not too hot, not too cold. Cari sup milik anak beruang, bukan Papa Beruang (yang terlalu panas), atau Mama Beruang (yang terlalu dingin).

Ketiga, kemungkinan besar, planet tersebut harus berada di tata surya dengan bintang berwarna merah atau kuning, dan tidak terlalu besar.

Kriteria pencarian sudah dicoret, sekarang mari kita masuk ke pencarian itu sendiri!

Tata Surya

Sebelum mencari terlalu jauh…

Kabar baik, di alam semesta ada tiga satelit yang memiliki potensi untuk punya air. Adanya air berarti adanya oksigen, dan ini memberikan kemungkinan adanya kehidupan, atau setidaknya bibit-bibit kehidupan yang bisa muncul dari hal tersebut.

Pertama-tama, ada dua Satelit Jupiter, Europa, serta Io. Keduanya diberi nama berdasarkan pacar dari Dewa Jupiter sendiri (seperti semua satelitnya yang lain, karena pacarnya Jupiter sangat banyak), dan Europa adalah alasan benua Eropa bernama Eropa.

Kedua satelit tersebut memiliki atmosfer serta tekanan udara yang cukup untuk menyokong air, dan tentunya oksigen, tetapi memiliki sedikit masalah karena terletak cukup jauh dari matahari, dan memiliki jumlah es yang tidak sedikit. Io, memiliki air di bawah lapisan es yang tebal…

Berikutnya, ada Enceladus, satelit dari Saturnus, dan diberi nama dari seorang raksasa yang merupakan adik dari Saturnus, yang lahir dari Ibunya, Terra. Enceladus lahir untuk melawan Dewi Kebijaksanaan Minerva (juga diketahui dengan nama Yunani-nya, Athena).

Enceladus sendiri tampak seperti bulan. Berwarna abu-abu, sedikit berdebu, dan memiliki beberapa jerawat…

Tetapi, Enceladus memiliki air, atau setidaknya cairan. Ada metana di bawah lapisan berdebu tersebut. Memang, tidak ada air, dan secara teknis, seharusnya tidak perlu pencarian karena tidak adanya air, tetapi, Enceladus begitu dekat sehingga tidak mungkin untuk mengabaikan fakta bahwa ada kemungkinan kehidupan muncul di satelit tersebut.

Mungkin pada titik ini anda akan bertanya… “Kalau ada alien di Enceladus, bentuknya seperti apa?” Aku akan masuk ke sini, tetapi… sabar sedikit.

The Rest of the Universe?

Selamat datang di bagian yang berisi banyak hitungan matematika yang sebenarnya tidak penting, dan tidak ada di kuliah umum, tetapi aku ingin melakukannya karena menurutku ini menyenangkan!

Jika ada 100.000.000.000 galaksi di alam semesta. (angka merupakan tebakan kasar dari banyak membaca buku dan sejujurnya, siapa yang tahu jumlah pastinya?)

Dalam tiap Galaksi, ada 100.000.000.000 Bintang. (Sama, tebakan kasar juga, lagian, siapa yang tahu?)

Jika kita asumsikan, satu Bintang memiliki 8 planet, berarti ada 800.000.000.000.000.000.000 planet yang memiliki potensi kehidupan. Sayangnya, bintang yang berwarna Merah atau Kuning, ataupun bintang katai merah (sedikit lebih kecil dari Matahari) hanya 1/10, mungkin lebih sedikit dari jumlah tersebut.

Berarti, kita ada 8.000.000 planet untuk dipikirkan. Berikutnya, dalam satu tata surya, hanya ada (paling banyak) 3 planet yang terletak di zona goldilocks. Berarti, dari 9-10 planet di satu tata surya, hanya 3 yang memiliki potensi kehidupan. Ini menyisakan 1.6 sekian juta…

Dari begitu banyak planet yang ada di tata surya… apakah anda bisa berpikir bahwa hanya di bawah dari 3% dari planet tersebut yang bisa menyokong kehidupan? Ini belum menghitung adanya oksigen atau air lho.

Jadi, apakah pencarian kehidupan merupakan hal yang realistis?

Hasil Pencarian…

Aku payah dalam mengingat angka.

Maaf.

Plus, aku belum sempat mendapatkan fotokopi karena masih terdaftar sebagai peserta sit-in.

Namun, total dari 9000-an planet yang dicari, ada sekitar 300 planet, mungkin lebih, yang mampu menyokong kehidupan, dan masih ada 50++ planet yang belum jelas kondisinya.

Lalu, datanglah pertanyaan besar. Bentuk kehidupan apa yang akan muncul dari planet-planet tersebut?

Sayangnya, ini masih science fiction. Tata surya kita tercipta dalam kondisi amat ideal, dan sayang sekali, masih banyak planet alam semesta yang belum bisa menciptakan bakteria terkecilpun dari lautannya yang mungkin luas.

Kehidupan semua berevolusi dari bakteria, dan jika tidak ada bakteria, berarti tidak ada moluska, tidak ada tumbuhan, tidak ada hewan, dan tidak ada manusia… Planet macam apa yang bisa menciptakan bakteria?

Jadi pikirkanlah. Seberapa beruntungnya manusia?