Category: Jaja

Novel Untuk Anak-Anak: A Series of Unfortunate Events

Novel Untuk Anak-Anak: A Series of Unfortunate Events

Kenapa kamu di sini? Pergi…

***

***

***

Masih di sini?

Hidupmu bisa diluangkan untuk membaca hal lain. Seperti buku-buku yang akan kuberikan spoiler, atau serial Netflix yang juga akan rusak karena spoiler dari buku ini.

Jadi, pergi…

***

Jika anda memaksa, ingat bahwa sudah ada peringatan dariku.

Rata. Jujur. Tragis.

Kesulitan menemukan kata biasanya jadi faktor seseorang memotong-motong dan menyempitkan kata-kata yang digunakan dalam sebuah tulisan.

Aku mempersempit pemikiran dasarku atas buku karya Lemony Snicket ini ketiga kata tersebut.

Rata

Rata. Sebuah kata yang di sini berarti “Tidak banyak perubahan emosi.”

Snicket menuliskan ketigabelas buku ASOUE dengan gaya yang rata, dan sama seperti narrator di serial Netflix-nya, tanpa emosi sama sekali.

Hampir semua lelucon, frasa, kata-kata, dan kalimat yang diucapkan oleh narrator tidak diucapkan dengan sedikitpun emosi, dan dikatakan seperti sosiopat, dengan tujuan murni menyampaikan fakta tanpa menyelipkan opini.

Emosi pertama dikeluarkan Snicket sebagai narrator pada buku ketujuh, Vile Village, dan emosi yang dikeluarkan lebih cocok dikatakan sebagai deskripsi, bukannya tragedi.

Gaya penulisan rata yang unik ini memberikan dinamika unik untuk ASOUE, dan menempatkannya di daftar buku anak-anak yang menurutku wajib dibaca dan bisa dibaca siapapun, pada umur apapun.

Snicket membawa gaya Deadpan ke tingkat baru, mengenalkannya untuk anak-anak juga,

Jujur

Tidak sekalipun Snicket berusaha menutupi tragedi yang tebal dan terjadi setidaknya 5 kali pada tiap buku dengan cara sugarcoating -sebuah kata yang di sini berarti “membohongi anak-anak”- dan memberikan perspektif bahagia bagi pembaca.

Snicket memberikan fakta dengan cara yang rata tanpa berbohong sekalipun.

Snicket, walaupun, memberikan satu kali “kebohongan” atau mungkin menutupi fakta dengan cara yang menyedihkan ketika ia mengingatkan pada akhir cerita bahwa pada akhir hari, ia adalah orang yang mengalami tragedi terdalam, terberat, dan paling menyedihkan.

Sebagai tokoh yang canon dan juga Narrator, Snicket mengalami hidup yang sedih, dan ia kehilangan cinta sejatinya, yang juga merupakan tokoh canon.

Snicket berusaha menawarkan dunia yang jahat dan gelap ini dari sudut pandang seseorang yang sedang patah hati, dan ia menawarkan dunia dari satu-satunya sudut pandang yang benar… sudut pandang yang tragis.

Tragis

Kata yang satu ini pertama dikeluarkan oleh orang Yunani. Ia berarti “menyedihkan”

Dengan judul serial seperti “A Series of Unfortunate Events” secara logis sangat wajar jika cerita tersebut berakhir secara tragis, tetapi film satu ini dipenuhi oleh adegan dan kejadian tragis dari awal sampai akhir.

Snicket membuat orang-orang yang berpikir hidupnya sulit sedang menjalani hidup yang mudah tanpa harus sedikitpun berpikir bahwa ia sedang kesulitan, karena ketiga protagonis (Sunny, Klaus dan Violet) harus menjalani hidup yang berkali-kali lipat lebih sulit.

Walaupun tragis, buku ini tetap bisa menjadi bacaan penting untuk anak-anak karena sebenarnya buku ini ringan dan mudah dibaca, dengan penggunaan bahasa yang sederhana, namun elegan.

Definisi.

Gaya Deadpan yang Snicket berikan, baik di serial Netflix atau di ketigabelas buku yang ia tuliskan… tidak ada satu kali pun Snicket melewatkan gaya menulisnya yang sangat penuh definisi dan pintar.

Snicket menuliskan dengan bahasa yang rata karena ia cukup kompeten untuk memberikan hiburan sampingan bagi pembaca yang tua, serta informasi yang tidak penting tapi menarik untuk pembaca yang muda dengan menuliskan puluhan definisi dari kata-kata yang mungkin sulit dimengerti. Umumnya kalimatnya terjadi seperti ini.

  • Mr. Poe: Baudelaires. I’m sorry to say that your parents have perished in a terrible fire.
  • 3 Baudelaires: *Speechless…*
  • Mr. Poe: Perished means killed.
  • Klaus Baudelaire: We know what perished means.

Atau, jika itu narrator yang mengatakan… seperti ini…

“The three Baudelaire children hastily -a word which here means, “faster than a troupe of evil and horrible actors- ran away and gathered their belongings.”

Gaya penulisan yang unik ini menawarkan satu sideshow yang lucu, atau setidaknya menghibur bagi para pembaca, dan memberikan gaya penulisan Snicket yang sekarang sudah terkenal sebagai gaya penulisan yang rata, elegan, tetapi sederhana.

Why Should You Read ASOUE?

  • Buku ini berbeda.
    • ASOUE bukan buku di mana tokoh-tokoh mendapatkan happy ending sesudah diberi kesulitan beribu-ribu kali. Walaupun diberikan kesulitan ribuan kali, tokoh-tokoh tersebut hanya diberikan kesulitan di akhir buku.
  • Tragedi
    • Alasan ini cocok untuk orang-orang yang punya masalah dengan kehidupan mereka. Tragedi yang diberikan Snicket di buku ini dapat dipastikan membuat dirimu merasa lebih baik dengan hidupmu. Bagiku itu alasan yang cukup untuk membacanya.
  • Deadpan
    • Ini satu-satunya alasan aku membereskan ketigabelas buku ASOUE dan masih berusaha membereskan serial Netflixnya. Gaya Deadpan Lemony Snicket serta referensi sastranya yang intelijen dan jenaka memberikan aku alasan untuk melanjutkan serial Netflix-nya… Murni untuk melihat semua referensi yang Snicket pikirkan.

Why is this Book a Good Fit for Kids?

  • Realistis.
    • Mungkin ini satu-satunya alasan yang aku perlu berikan. ASOUE realistis, tidak seperti buku-buku lain. Ia mengingatkan anak-anak dengan gaya yang (sekali lagi) rata, bahwa hidup tidak hanya berisi hal-hal bahagia. Mungkin brutal, tetapi di antara sedikitnya hal-hal bahagia yang terjadi, Snicket menuliskan buku ini untuk anak-anak.
  • Tetap Imajinatif
    • Walau buku ini memiliki plot yang realistis, setting dan dunia yang Snicket berikan sangat-sangat imajinatif dan ia menceritakannya seperti buku fiksi, karena ASOUE memang fiksi. Anak-anak tidak perlu melewatkan sudut pandang karangan yang Snicket berikan, hanya karena plot-nya tragis dan realistis.

Notes.

Nama asli Lemony Snicket: Daniel Handler.

Aku berusaha keras menulis dengan deadpan. Tapi aku gak bisa.

Serial Netflix memiliki plot yang mirip, tetapi sampai ke plot tersebut dengan cara yang berbeda.

Projek Black Soldier Fly. Report #1

Projek Black Soldier Fly. Report #1

Udah hampir sebulan gak ada artikel, jadi langsung aja kita masuk ke proyek yang aku kerjakan untuk mengurangi kerepotan (sebuah kata yang disini berarti pekerjaan yang disuruh Ibuku) menyapu daun dan mendaur ulang sampah organik dengan Black Soldier Fly.

Mari mulai.

Apa itu Black Soldier Fly?

BSF (singkatan, aku akan menyebutnya seperti ini sekarang) adalah sebuah lalat yang terbilang bersih, tidak membawa penyakit, dan bentuk larvanya dapat dengan cepat serta mudah mendaur ulang atau memakan sampah organik.

Oh iya, nama latin Black Soldier Fly adalah Hermetia Illucens.

Larva BSF sendiri bisa memakan hampir semua sampah organik dengan pengecualian tulang, atau hal yang sudah mengandung bahan kimia seperti Formalin, dan Pestisida.

Ketika proses Metamorfosisnya berlangsung, telur, dan larva BSF akan makan yang sangat banyak, lalu berhenti makan ketika sudah menjadi Pupa, dan akhirnya berubah menjadi Lalat, kehilangan kemampuan untuk makan, lalu menjadi fresh graduate jomblo yang fokusnya hanya cari pasangan hidup, dan segera memiliki anak.

Semua itu dalam 44 hari.

Proyek ini.

Mari kita contreng beberapa hal sebelum masuk ke proyeknya.

Tujuan.

Daripada membuang sampah organik yang masih bisa dijadikan tanah, dan/atau bisa diberi makan kucing, untuk orang-orang yang sibuk (baca: malas, dan/atau pelupa, dan/atau punya manajemen waktu yang amat buruk) seperti aku, akan lebih mudah jika memelihara BSF untuk mendaur ulang sampah organik yang dihasilkan!

Iya, tujuan projek ini untuk mengurangi pekerjaan rumah.

Sebagai orang yang punya Ibu peduli akan alam (Baca: Hippie) selain harus memilah dan mendaur ulang sampah anorganik, sampah organik juga harus didaur ulang dengan cara dimasukkan dalam compost bag lalu ditumpuk daun sampai nanti jadi tanah.

Proyek BSF ini dimulai agar aku tidak harus repot menyapu daun dan harus mendaur ulang sampah organik.

Jika Azriel Arriadi-Hidayat punya slogan hidup, maka slogannya adalah “Save the earth. With the least amount of effort possible.” Atau dalam bahasa Indonesia. “Selamatkan Bumi. Dengan usaha seminim mungkin.”

Informasi didapat dari?

Terima kasih untuk @Baramoeda (cari di Google, Instagram, dan seterusnya) sudah menyelenggarakan workshop tentang BSF hari Minggu kemarin.

Progress.

Projek ini baru mulai, dan laporan pertama hanya akan membahas larva yang aku dapatkan dari kit Waste Warrior Workshop yang diselenggarakan hari Minggu kemarin.

Aku sedang membuat penangkap telur, dan masih banyak hal lagi yang perlu dibahas.

Laporan hari ini akan membahas 3 hari pertama aku mendapatkan larva BSF, apa yang diberi makan, sukses atau tidaknya, dan seterusnya.

What I like about BSF.

Dari workshop dan dari mengurus.

  • Mempermudah hidupku. (nomor dua kalau mau punya apa-apa, P.S. nomor satunya adalah bikin hepi atau gak)
  • Sebuah pelajaran ke Mikrobiologi dasar! Aku mau kuliah itu nanti!
  • Memberikan aku teman ngobrol yang gak mungkin ngejudge aku. (kiranya Kucing apa Guguk kali ya)
  • Hewan peliharaan yang sangat low maintenance (Menurut Bapak Ramadhani Putra, Ph. D. Larva BSF sangat happy-go-lucky. Kalau ada makanan, mereka makan, kalau gak ada, mereka tidur. Hidupnya sangat sederhana)

Disclaimer.

Aku tahu bahwa ada anggota keluarga aku yang takut akan cacing, jadi… Jangan baca artikel ini.

Stop sekarang.

Mari kita masuk ke artikelnya jika anda tidak takut cacing.

Day 1.

Oops wrong reference.

Seperti beberapa orang sudah tahu… aku tidak punya smartphone.

Jadi dengan sangat menyesal, aku tidak punya foto dari makanan pertama yang dimakan Larva BSF (yang aku perlu kasih nama). Hal yang sama berlaku untuk foto makanan kedua. Aku baru memfoto proyek ini ketika sudah hari ketiga di iPad milik ibuku.

Semoga kata-kata cukup untuk menjelaskan hari pertama dan kedua.

Pada hari pertama, aku langsung memindahkan cacing BSF ini ke wadah yang lebih dalam, agar mereka bisa makan dengan lebih puas dari mangkok yang awalnya diberikan tim workshop.

Ukuran wadahnya tidak melebihi batas 30 cm mereka mau mencari makan.

Makanan 1:

  • Makanan: Nasi Goreng beserta Sosis (karena ku gak makan daging sapi, cacing BSF dapat sosisnya!)
  • Jam diberikan: Sore. (note to self, kalau mau bikin laporan, catat jam dengan detil) kalau tidak salah 17.30

Makanan 2:

  • Makanan: Kentang busuk, Bawang Merah busuk.
  • Jam diberikan: Malam. Jam 19.50

Hasil:

Nasi Goreng dimakan sebagian, sosis tidak disentuh (mungkin mereka gak makan sapi kaya yang ngurus, atau mungkin itu pake pengawet?) Kentang dimakan secara perlahan (sudah ada lubang, tetapi ukuran kentangnta gede banget, kayanya butuh waktu), Bawang Merah sudah tidak bersisa.

Percakapan

Percakapan ini terjadi pada hari Minggu, pukul 20.00 dikatakan oleh seorang lelaki berumur 17 tahun yang jomblo, gak punya gebetan dan dipastikan gak ada kerjaan dikatakan ke sekitar 100 ekor larva yang lagi makan.

  • Aku: Kamu kok gak mau makan sih?
  • Larva: …
  • Aku: Cuman gerak-gerak doang.
  • Larva: *gerak-gerak*
  • Aku: Makan dong.
  • Larva: *Ada yang manjat tromel*
  • Aku: Jangan kabur. Kenapa kalian kabur?
  • Larva: *Masih manjat tromel*
  • Aku: Kok gitu sih, kalian dikasih makan Nasi Goreng gak mau? Nasi Gorengnya gak enak? Atau jangan-jangan pake pengawet atau vetsin? Kata Pak Rama kalian makan Nasi Padang juga mau… *mengintip ke bawahnya wadah*
  • Larva: *Ternyata lagi makan*
  • Aku: Oh… kalian ada yang makan? Aku gak liat.

Day 2.

Cek hasil kemarin.

Pagi.

Belum dimakan. Jumlah masih banyak. Aku khawatir, tetapi karena aku ada tryout UN, aku perlu pergi segera. Aku cuman bilang dadah sama Larva dan nyuruh mereka makan.

Siang.

Pulang ke rumah. Nasi goreng berkurang sedikit.

Udah. Sosis masih belum disentuh, Kentang gak makin kecil, bawang berkurang.

Aku jadi lebih khawatir karena kata Pak Rama… Mereka makannya banyak banget. Sengaja gak aku kasih apa-apa dulu.

Malam.

Malam aku makan Mie Kuah Jawa, jadi khusus aku sisain sepotong Mie, dan 2 potong tomat (karena aku gak doyan tomat) dengan harapan mereka makan.

Mereka aku tanyain, mungkin seleranya selera orang Jawa jadi harus pake kecap. Larva-larva tersebut gak jawab.

Day 3.

Hari ini.

Well.

Nomor satu harusnya gambarnya.

Seperti bisa dilihat. Masih ada kentang busuk, Mie sudah tidak ada, bawang merah masih ada tetapi jumlahnya berkurang, ada sosis yang gak disentuh, dan nasi goreng yang gak keliatan dari atas.

Jadi mari kita lihat dari bawah!

Mungkin gak terlalu jelas ya…

Tetapi secara visual, nasi goreng sudah tidak dalam bentuk nasi lagi dan sudah menjadi agak cair begitu. Itu bisa berarti dua hal.

Satu, Larva BSF melakukan tugasnya meski butuh waktu lama.

Dua… Bakteri melakukan tugasnya karena waktu sudah berjalan lama.

Semoga itu yang nomor satu.

Sejujurnya aku sangat khawatir pada larva BSF karena ada yang berusaha kabur lalu mati karena kejepit, dan juga ada yang gak gerak lagi di bawah.

But, honestly, I’m just hoping this works out…

Oh ya, kalau ada kabar baik secara visual, secara nasal… baunya repungent (repungent berarti jijik, dan sebaiknya gak dideketin… tapi tentunya kalian sudah tahu itu.)

Kesimpulan.

OKAY! Mungkin iya aku tidak melakukan ini untuk noble cause.

Tapi setidaknya aku mendekomposisi sampah-sampahku. HA!

Anyway akan segera dibuat penangkap telur (mungkin besok lusa atau hari jumat) agar larvanya didapat lagi, dan aku perlu bertanya ke penyelenggara workshop yang dikenal dengan nama Baramoeda apakah normal ada Pupa yang sudah mau kabur, dan mereka makannya begitu lambat?

Sampai lain waktu!

10 Lagu Terbaik dari LANY

10 Lagu Terbaik dari LANY

Band satu ini dikenal dengan nama LANY (bisa disebut L.A. N.Y. atau Leini, aku bingung.), tetapi biasanya orang-orang memberikan referensi A Hippie and Two Other Guys. Atau, Dua Lipa’s Ex and Two Other Guys. Iya, Hippie dan mantan Dua Lipa adalah orang yang sama, Paul Klein, alias vokalis.

Orang-orang mengenal Maroon 5 sebagai Adam Levine and 4 other dudes, jadi kurasa ini sedikit lebih baik.

LANY terkenal dengan gaya penulisan lagunya yang memang agak hippie, dan juga agak desperate… Berikut adalah 10 lagu yang menurutku paling menarik, enak, dan tentunya sesuai dengan gaya penulisan LANY.

#10. If You See Her

Paul Klein sebagai penulis lagu Indie lebih dikenal sebagai “Mantannya Dua Lipa” oleh orang-orang yang gak tahu dengan LANY dan/atau punya terlalu banyak waktu luang jadi malah baca Gossip daripada kerja. Jadi jangan terkejut kalau sekitar 8/10 lagu di sini… tentang Dua Lipa.

List kita dimulai dengan lagu yang satu ini. If You See Her.

It’s all about Dua, and it’s very sad. Yikes.

Liriknya paradoksil tetapi nyambung, dan penulisan liriknya menjadi alasan dia masuk ke daftar ini!

Just look at us. You’d never bet against our love.
Table for two. We got the kind of thing that lasts.

#9. Valentine’s Day

Valentine’s Day is coming! Tapi lagu yang satu ini tragis. LANY memberikan perspektif yang unik ke liburan (yang menurutku kapitalis dan tidak pernah perlu dirayakan) Amerika satu ini.

Oh iya, sama seperti lirik-lirik LANY yang lain dari Album Malibu Nights… Banyak ironi dan liriknya yang agak paradoksil. Tersirat di lagu bahwa dia mau move on tapi gak bisa… Lagunya sedih.

Think I just found out what to listen to this Valentine’s Day.. COUGH..

#8. Pink Skies

Lagu dari album kinda ini mungkin satu-satunya lagu yang sepenuhnya Happy di list kita hari ini.

Liriknya lucu, menarik, dan bahagia, beat-nya sangat upbeat, dan… ini bukti bahwa Paul Klein itu Hippie, dan ini menceritakan fase happy hubungannya dengan Dua Lipa. (Read that in Genius.com)

Thrift Store Fashion, Imperfect Tattoos.
Taking Showers, Minus Shampoo.

Ia membeli baju bekas untuk mencegah baju-baju di toko tersebut menjadi sampah. Ia mencorat coret tubuhnya dengan tato sama seperti pelukis mencorat coret kertas. Ia mandi tanpa sampo karena ia merasa kepalanya tidak perlu diberikan sampo, dan akan bersih dari minyak rambut naturalnya sendiri, asalkan dia cukur rambut sampai botak sering-sering. Oh dan dia orang California. (Also read these in Genius.com)

It doesn’t get any hippier than that.

#7. Thru These Tears.

Depresi? Cek. Album Malibu Nights? Ya… Masih

Malibu Nights adalah album LANY yang jelas paling sukses, dan seperti aku bilang, semua lagu ini ditulis untuk Dua Lipa. Thru These Tears adalah lagu yang masih punya identitas ingin move on tapi gak bisa yang sama dengan Valentine’s Day.

Video Klip-nya pun agak tragis, so you might wanna skip it. Oh, rambutnya yang botak di video klip sesuai dengan statement-nya di lagu pink skies bahwa dia tidak mandi dengan sampo ya, ia perlu cukur sampai botak sesekali.

In the end I’m gonna be alright…
But it might take a hundred sleepless nights
To make the memories of you disappear
But right now I can’t see nothing thru these tears

Ia yakin ia bisa move on, dan masih menjalani proses tersebut…

#6. Malibu Nights.

Tragis. Tragis. dan Tragis adalah 3 kata yang sempurna untuk menjelaskan lagu ini.

Lagu yang judulnya juga jadi judul album ini adalah lagu paling tragis yang mungkin dikeluarkan orang seperti Paul Klein.

Lagunya berkaitan erat dengan Substance Abuse, Depresi, dan… dia jelas galau (dalam konteks “indecisive”) tetapi galau yang Paul Klein rasakan berbeda dengan yang ada di lagu-lagu sebelumnya.

What do you do with a broken heart?

This song is just pure sorrow and melancholy.

#5. I Don’t Wanna Love You Anymore.

Oh LANY. Kenapa kamu harus membuat lagu breakup yang tragis tapi sempurna seperti ini. Kalau album Malibu Nights adalah sebuah buku cerita yang mulai dengan tragis, I Don’t Wanna Love You Anymore berada di bab kedua sesudah Malibu Nights sendiri.

Aku tidak bisa berkomentar banyak selain fakta bahwa Paul Klein langsung menyebut identitas Dua Lipa (referensi ke London, warna rambut, warna mata, dan seterusnya) berkali-kali di lagu ini.

From the start, I never thought, I’d say this before…
But I don’t wanna love you anymore.

#4. ILYSB

Hanya akan ada satu lagu lagi yang berasal dari album Malibu Nights, dan ILYSB tidak berasal dari album tersebut!

Lagu satu ini menceritakan tentang seorang Serial Killer. Yang jatuh cinta. Dengan Serial Killer lain.

Wait what? I thought this guy was a hippie, not Freddy Krueger! Anyway, ini lagu bestselling LANY di Youtube.

Oh my heart hurts so good…
I love you oh… so bad. so bad.

#3. Thick and Thin.

Lagu terakhir dari album Malibu Nights di daftar ini. (seriously, album itu mengambil 6 posisi… OMG)

Thick and Thin adalah salah satu lagu LANY favoritku, and he deserves a lot of credit for it!

Satu-satunya perbedaan dari lagu Malibu Nights yang lain (masih ada lirik paradoksil di bridge dan chorus, musiknya dan liriknya gak matching in a very good and fun way) adalah fakta bahwa dia mengaku dia bikin salah kali ini…

But was it really love if you could leave me for…
Something so innocent

But it don’t matter. It’s a very good song!

#2. Super Far

Hands down… Ini lagu favoritku. Tetapi dia tidak masuk ke nomor satu karena dia tidak sepenuhnya memenuhi gaya memusiknya LANY. Super Far menceritakan tentang Long Distance Relationship yang sedang gagal.

Paul Klein menceritakan clingy-nya dia pada hubungannya, meskipun dia tahu bahwa hubungan itu sudah toxic… Oh, tetapi tentunya… Ini LANY jadi paradoks musik dan lirik masih ada dong!

Waking up to nothing when you’re super far from home…

It’s better to be single rather than stuck in a toxic long distance relationship… Moral dari lagu ini.

#1. 13

Yes. You saw this right. 13

Sebuah lagu sederhana, to the point, sedih, dan galau. Screams out LANY all over. Otomatis juara dalam bukuku!

Liriknya juga terisi paradoks, terisi tragedi, terisi identitas… Dan dia menjadi juara karena dia punya sedikit dari segalanya! Great song, terdengar seperti prolog ke Malibu Nights meskipun tidak ada hubungannya sama sekali dengan album tersebut…

Where did we go wrong I thought we started out alright
Where did we go wrong I swear I knew we’d last to start

Bonus Track: Hericane.

Lagu yang satu ini gak bisa aku bilang “enak” atau semacamnya, karena aku sendiri gak suka sama Hericane. Tetapi, menyebut Hericane sebagai Honorable Mention tidak cocok karena lagu ini sering disertai penampilan tragis dan emosional oleh Paul Klein. Jadi, anggap saja ini lagu Nomor 11, lagu bonus!

Honorable Mentions

  • Run. Terlalu banyak konteks gossip di lagu itu, hampir masuk.
  • Taking Me Back. Hampir masuk, tetapi kalah dengan If You See Her karena kalah di bidang musik bagiku.
  • Mean It. Lagunya punya Lauv… sudah masuk daftar sebelumnya.

Post Script

Perlu diketahui bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan antara Paul Klein dan Dua Lipa (aku gak sekepo dan segak ada kerjaan itu orangnya) tapi aku hanya tahu bahwa… Mereka putus dan Paul langsung masuk ke depresi yang membuat dia menulis seluruh album Malibu Nights.

Post Script Script

Artikel top 10 Lauv aku mendapat jumlah views yang gak terlalu sedikit… I’m gonna make this a thing now. Mungkin dua minggu sekali aku akan cari satu musisi, dan BUM! Jadi satu artikel.

Sampai lain waktu!

Investigasi #DisneyAdaptPercyJackson

Investigasi #DisneyAdaptPercyJackson

Ini telat.

Iya. http://rickriordan.com/2019/12/notes-from-the-winter-solstice-meeting/

Ini mungkin salah satu hal paling penting bagiku pada akhir tahun 2019 kemarin (karena… akhir tahun kemarin agak membosankan. Liverpool vs Leicester penting, tapi gak sepenting ini). Tetapi tidak ada satupun artikel dariku yang membahasnya.

Uncle Rick membuat sebuah tweet masuk trending nomor 1 di dunia. Dengan #DisneyAdaptPercyJackson

Percaya padaku kalau aku bilang bahwa Percy dan teman-temannya dari seri Heroes of Olympus adalah hal yang sangat penting bagiku, jadi kayanya agak telat kalau aku baru mengeluarkan artikel ini tepat 1 bulan sesudah #DisneyAdaptPercyJackson trending.

Artikel ini tentang potensi adaptasi Percy Jackson yang akan dibuat Disney, dan alasan aku menunggu 1 bulan untuk itu, adalah menunggu segala konfirmasi dan segala tek-tok-an Uncle Rick dengan Disney, Fox, serta konfirmasi akan pembelian saham Fox oleh Disney.

Tepat 1 bulan kemudian, berita yang terkumpul cukup untuk membuat sebuah prediksi yang solid akan adaptasi Percy Jackson!

We Don’t Talk About Those Movies

Adaptasi film Percy Jackson sudah terjadi. Rick Riordan sudah berulang kali mengatakan opininya pada film itu. So, We don’t talk about those movies.

Oke, sedikit serius. Film tersebut hampir gak ada korelasi sama sekali dengan buku, dibuat terlalu tua, ceritanya terlalu maksa dengan hybrid rom-com dan teen wolf (serial CW) dan… Yikes.

Tapi-tapi!!! Gak. Kita gak akan omongin adaptasi gadungan buatan Fox.

Untungnya, adaptasi kali ini akan lebih realistis kalau dibuat dalam bentuk serial alih-alih film! Ceritanya bisa lebih slow, bisa lebih banyak ruang untuk bernafas, dan harusnya lebih bagus. Terutama mengingat ini Disney, dan bukan… You know, a right wing media group…

Rick Riordan membuat banyak sekali statement dan bercandaan (bahkan sebuah halaman FAQ) tentang reboot buatan Fox, dan aku yakin penyesalan terbesar Riordan adalah menjual hak cipta film tersebut. Ribuan kali menegosiasi ulang hanya berujung buruk, Fox gak mau menjualnya kembali.

Ada permintaan khusus dari fans.

Ada petisi.

Ada merchandise Camp Half-Blood yang ilegal.

Ada rumor dari Netflix untuk membeli hak cipta.

Ada fans memberikan ide untuk bake-sale.

Semuanya gak ngaruh.

Sampai… Ada Disney.

Disney, Fox dan Percy

Bertanya padaku… Disney adalah sebuah evil company. Serius.

Gambar ini dari No Film School dan ini… Jenius. WOW.

Aku gak berpikir sejauh “Evil Company” tetapi kedua orangtuaku berpikir seperti itu, dan pemikiranku yang awalnya mentok di “Perusahaan Dominan” berubah menjadi evil company.

Ketika sebuah perusahaan sudah mendominasi film anak-anak, Olahraga (melalui ESPN), Perfilman Remaja (Melalui Marvel), perfilman fanboy (melalui Lucasfilm), perfilman Ibu-ibu (melalui ABC, karena… You know, Grey’s Anatomy?) , dan merchandising semua hal tersebut… Mereka sudah pantas masuk daftar Evil Company.

Tetapi, kita masih mengonsumsi produk evil company, karena kita menikmatinya! (uhuk, MekDi, uhuk. Ef-Bi uhuk. Goggle. Uhuk! Nama hutan di Amerika Selatan. Uhuk! Maaf… aku lupa minum obat batuk…)

Disney’s pretty much building their own death star. But we don’t care.

Jadi, ketika meraka mengambil film non franchise dari 20th Century Fox. Sepertinya mereka sudah mendekati dominasi dunia. Karena dominasi dunia pada akhirnya akan jatuh ke tangan Disney (kecuali ada rebellion gak jelas atau Kylo Ren berubah pikiran kayak di Rise of Skywalker), let’s just jump into the wagon!

Disney. Mendominasi Dunia melalui Putri-Putri.

Karena Riordan tidak mungkin membeli 20th Century Fox, dan 20th Century Fox menolak dengan keras dan berulang akan tawaran-tawaran dari Rick Riordan plus Investor… Rick Riordan memulai strategi baru. Ia akan membujuk Disney!

Lagian, mendapatkan untung besar-besaran dari sesuatu yang sudah punya fanbase setia yang konsumtif dan kebanyakan duit adalah hal yang Disney belum lakukan, jadi… Oh wait.

Point taken.

Oke, tenang bro… tenang

Ini lebih parah dari yang aku kira…

Tentunya, tidak akan banyak tantangan kan?

WRONG!

Anastasia

Ketika berhadapan tentang film musical yang memiliki happy ending dan ada tuan putrinya, kita akan menghubungkannya ke Disney. Iya kan? Ke mana lagi coba?

Sayangnya, Anastasia ada.

Dan oh boy… Drama antara Disney dan 20th Century Fox baru mulai.

Ini poster filmnya. Cukup satu kali lihat, dan kalau anda gak lihat logo kecil di bawahnya…

Pasti anda mengira ini film disney. Iya kan? Coba kita bikin ceklis!

  • Istana di belakang? CHECK!
  • Penyihir jahat? Cek
  • Tuan putri agak naif, tapi pemberani? Check.
  • Makhluk peliharaan lucu untuk merchandising di bawah? Check.
  • Merchandise makhluk peliharaan lucu? gak ada… Ini doang sih.
  • Karakter supporting cowo yang sok tahu dan sok pemberani? CHECK!!!

How is this not a Disney Movie?

Film-nya bagus, tapi Disney ingin menunjukkan dunia bahwa rencana world domination mereka akan sukses. Mereka akan menembakkan Death Star ke Fox.

Hasilnya, selain liputan press buruk walau Anastasia sendiri film yang sangat bagus… serta tuntutan akan plagiarisme menciptakan sebuah tembok yang Disney ciptakan.

Fox gak berani menyentuh kartun-kartunan lagi, terutama kalau itu musical, dan ada tuan putri-nya.

Dramanya jelas banyak. You know, a couple of lawsuits… Fox akhirnya menyerah.

Lucu ya, kalau dituntut mereka nyerah, tapi kalau kekeuh soal liputan dengan narasumber pro Donald Trump dari Mars mereka gak peduli.

Aku bahkan belum bisa bilang bahwa drama antara Fox dan Disney sudah beres dengan pembeliannya.

Banyak sekali grey area yang Uncle Rick masih harus pecahkan…

The Issues.

Issue #1. Walaupun Fox sendiri dimiliki Disney, dan Disney mengambil keuntungan dari Fox, direksinya masih berjalan sendiri.

Issue #2. Fox masih kekeuh gak mau ngasih balik hak ciptanya. I mean, they’re dying and is owned by a company that kicked their butt several times… But, seriously.

Issue #3. Pembuatan filmnya sendiri.

Isu terbesar sebenarnya ada di perbedaan direksi. Walau suatu perusahaan dimiliki perusahaan lebih besar, perusahaan kecil tersebut masih bisa mengambil keputusan akan satu dan lain hal, dan sampai ada tekanan ekstra dari Disney (yang Riordan berusaha ciptakan…) kita belum bisa berharap akan adaptasi Percy Jackson.

Idealisme Adaptasiku.

Nico Di Angelo diperankan Noah Schnapp (Will Byers Stranger Things)

Sisanya gak penting, asal dibuat dengan bagus…

Oh iya, aku akan lebih senang kalau somehow… Adaptasi dimulai dari Heroes of Olympus, alih-alih Percy Jackson sendiri, karena timeline-nya jauh lebih gampang dimainkan, dan karakter akan mulai dari usia remaja, walau story-linenya masih childish…

 

Sampai lain waktu.

This better work Uncle Rick. We’re praying to the 11 remaining Olympians…

10 Lagu Terbaik dari Lauv!

10 Lagu Terbaik dari Lauv!

This is Lauv. His real name is Ari Staprans Laff. He’s a musician.

Dan dia akan datang ke Jakarta. (walau aku gak mungkin nonton konsernya, karena aku bukan jenis orang yang suka nonton konser) Sebelum kedatangan Lauv ke Jakarta, mari kita bahas sepuluh lagu terbaik Lauv menurut Dikakipelangi.com!

Terbaik di sini bukan berarti paling populer, tetapi ya… “terbaik” berdasarkan opini.

THIS ARTICLE IS NOT FOR KIDS.

Mengandung konten penyakit mental. Jika usiamu dibawah 12 tahun, jangan baca, artikel ini dan beberapa lagu di dalamnya agak berat sejujurnya.

#10. Superhero

Ini salah satu lagu paling sedih (setidaknya yang keluar di tahun 2010-an) yang pernah aku dengar. Aku orang yang punya imajinasi terlalu aktif dan ini seperti lagu yang akan aku setel dan dengar sendirian di kamar kalau salah satu anggota keluarga atau temanku “dipanggil”dan tidak akan balik lagi…

Dengan caranya, Lauv menjelaskan perasaannya dan pikirannya dalam sebuah lagu dan dia menekankan beberapa kali bahwa dia… Meredam emosi yang dia rasakan.

Lagunya sederhana dan tragis. Sangat Lauv.

#9. The Other

Seandainya aku tahu lagu ini dari tahun 2015 aku akan jadi salah satu orang pertama di Indonesia yang bisa bilang “Aku tahu Lauv dari sebelum I Like Me Better”

Sekali lagi. Tragis. Just… Yikes. Chorus lagu ini kurang lebih bilang bahwa pada hidupmu, akan ada titik di mana kamu harus menentukan antara menggunakan logika atau perasaan.

Salah satu tidak bisa dipakai. Lagunya sekali lagi, sederhana, tetapi bermakna. Sangat Lauv.

Lagu ini sangat underrated, jadi, kuberi saran untuk mulai mendengarnya.

#8. Sad Forever

Lagu ini alasan aku bilang bahwa jika usia anda dibawah 12 tahun, jangan baca artikel ini. (atau jangan punya HP. lebih bagus justru)

Lauv menulis lagu ini di perjalanan ke sebuah tur ketika dia sedang punya masalah dengan hidupnya dan ia tidak ingin menghadapi masalah tersebut dengan langsung. Seperti semua musisi bagus, masalah dijadikan seni!

Lauv membawakan lagu ini tanpa dicoba sebelumnya ketika sedang tour dan lagu ini meledak! Sad Forever merupakan salah satu lagu Lauv yang bukan lagu cinta (bonus poin bagiku) tetapi tetap saja galau! (bonus poin lagi dariku!)

Sesudah lagu ini keluar, Lauv menjadi advokat kuat akan kesehatan mental.

#7. Chasing Fire

Aku sedikit kesulitan menentukan tempat lagu yang satu ini. Secara pribadi, ini lagu nomor dua favoritku dari Lauv karena lagunya upbeat dan tidak terlalu galau. Tetapi, sayangnya, ini kurang populer (dan juga underrated seperti 4 lagu lainnya) dan tidak sepenuhnya terasa seperti lagu Lauv.

Bagiku, identitas Lauv adalah cowok galau (seperti Kylo Ren) yang sejujurnya gak tahu mau ngapain tetapi punya pendirian dan identitas yang kuat. Salah satu alasan aku bisa relate sama Lauv karena dia musisi paling galau dalam opiniku. Aku suka itu!

Chasing Fire memberikan representasi dan identitas Lauv yang galau tadi… dengan caranya sendiri.

#6. Getting Over You

I just love this song. Lagu ini representasi paling sempurna dari identitas Lauv sebagai musisi bagiku.

Musiknya upbeat, dan liriknya agak similer secara makna dengan The Man Who Can’t Be Moved milik The Script. (lagu the script lebih ekstrim, tetapi intinya sama-sama gak bisa move on)

Ku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Hanya… WOW. He wrote that.

(untuk memperparah, Lagu ini gak terlalu populer. Come on guys. Give them the views it deserves)

#5. Sims

Lagu ini sempurna untuk Gen Z karena 3 hal.

  1. Galau dan penuh dengan penyesalan. Alasan Kylo Ren adalah villan Star Wars. (gak, seriusan. Kylo dan Lauv sangat mirip sebenarnya, pikirin deh)
  2. Ada referensi ke sebuah video game. Gak kurang Gen Z apanya?
  3. Sesuai dengan masalah ekonomi di masa depan. (We could build a house and plant some flowers and have kids. Di Sims, semua itu bisa dilakukan dengan minim duit. Sekarang mau punya anak aja biasanya udah nyiapin duit buat sekolah dari kapan tahu.)

Aku harus menjelaskan lagu ini dengan kata yang sedikit karena banyak sekali simbolisme yang tersirat di lagu ini, dan sejujurnya… aku tidak sanggup. Just listen to the song. Hurrah.

#4. I’m Lonely

Ini versi clean ya.

Siapapun yang suka dengerin Lauv dan tinggal di Indonesia pasti tahu lagu ini.

Worldwide atau di Asia lagu ini gak populer. Chart spotify Asia atau Apple Music hanya memberi angka jelek untuk lagu ini, tapi di Indonesia (dan hanya Indonesia saja) respons dari pendengarnya sangat bagus. Liriknya sederhana. Karena gak pake kata kasar, sebenarnya liriknya menceritakan orang yang kesepian. Anne-Marie juga menambahkan depth baru untuk lagu yang sederhana ini.

Mengingat lagu ini populer, aku jadi agak gak yakin Indonesia itu bangsa yang seneng bersosialisasi karena banyak teman-temanku merasa lagu ini representasi yang bagus untuk kehidupan sehari-harinya.

Makes you think eh?

#3. I’m So Tired

Kolaborasi yang sempurna. Lauv dan Troye.

Sebagai orang yang suka musik dan kadang suka gak jelas mood-nya. Ini lagu galau yang sempurna!

Kadang ada hari di mana aku gak pengen dengerin lagu, apalagi love song (mayoritas lagu yang aku dengerin love song soalnya, seperti kebanyakan orang) hmm hmm.

Lagu ini membantuku dalam 2 cara.

  1. Aku jadi tahu 3 lagu baru yang dinyanyikan Troye Sivan di liriknya (Buzzcut Season, Hurts Like Heaven, Lost in The Sound)
  2. Ini lagu sempurna untuk mengisi waktu kalau aku lagi bosen sama love song (which does make me sick sometimes).

I’m tired of Lauv songs. but not of Lauv songs. 😉

#2. I Like Me Better

Sebagai penyanyi yang membawa dirinya sebagai orang yang galau dan selalu… doubtful.

Aku rasa agak ironis bahwa greatest hit Lauv (yang bagiku hanya nomor dua) bukan lagu galau.

Tapi, aku tahu akan keberadaan Lauv dari I Like Me Better dan lagu ini timeless. 218 juta view dan masih bertambah.

#1. Mean It

Pada suatu hari aku mencari tentang opini orang mengenai musik di sebuah tempat yang dikenal sebagai Reddit.

Aku menemukan orang berkata. “Lauv and Paul Klein. Two guys who are broken hearted and don’t really know what they are doing. But is doing a great job anyway.”

Ini penjelasan sempurna dari lagu ini!

Kolaborasi yang ditunggu fans dari kapan tahu (keduanya hippie, keduanya peduli akan kesehatan mental, dan keduanya memulai namanya dari La, what more can you ask? Terutama kalau kamu orang California.) ini akhirnya terwujud pada akhir tahun 2019!

Lagunya sendiri tentang seseorang yang dimanipulasi cewek dan sering banget di PHP-in karena cewe-nya sangat-sangat sanguine atau plin plan, satu hari deket dan sayang, besoknya gak jelas, dan seterusnya.

Mario Pratama, seorang penyiar Prambors mengatakan ini soundtrack love-life nya dia…

Aku merasa kalau aku punya love life (which I don’t, and I’m happy about… dan seandainya aku punya, aku gak akan cerita karena A. orangtuaku baca artikel ini, aku gak mau diketawain, karena pasti aku terlalu cemen buat standar kedua orangtuaku… Ups, curcol. Dan B. Internet privacy) ini akan jadi lagu yang sempurna bagiku!

Aku sudah tahu akan Lauv dan LANY sebelum kolaborasi ini, jadi kolaborasi ini ketika terjadi terasa seperti salah satu permintaan dari Jin Aladdinku terkabul!

Honorable Mentions

There’s No Way ft Julia Michaels. Buatku sedikit overrated, tetapi lagunya enakeun sih. Aku kurang suka dengan Julia Michaels dan musiknya, jadi gak masuk list.

Never Not. Tragis. Aku suka lagu tragis!

Changes. Baru keluar 2020, belum sepenuhnya yakin.

Tattoos Together. Baru keluar tadi pagi! Belum sepenuhnya yakin.

Feelings. Lagu yang hopeful dan enak. Tetapi tidak terasa seperti lagu Lauv. Sayang sekali gak masuk daftar. (kurang galau)

Sampai lain waktu!

Post Script

Tahun 2020 akan menjadi tahun yang penting bagiku karena aku akan mulai kuliah tahun ini. Sebelum kuliah, aku mau mulai membahas tentang musik karena ternyata dunia musik di Indonesia besar, tetapi belum banyak blog (selain lirik + terjemahan) yang membahas itu.

Lauv juga mendapatkan banyak viewer di Indonesia, dan sebagai orang yang sudah menyukai musiknya Lauv dari zaman I Like Me Better keluar, kurasa Lauv adalah artis yang paling sesuai untuk artikel musik debutku!

Semoga anda menikmatinya!

Recap Di Kaki Pelangi Tahun 2019…

Recap Di Kaki Pelangi Tahun 2019…

Sejujurnya, aku membuat ini untuk diriku sendiri karena aku suka statistik dan aku suka membandingkan hal-hal. Tapi kayanya tidak ada salahnya kalau aku posting. Tulisan hari ini tentang views dan statistika blog satu ini selama 1 tahun ke belakang!

Total Views!

42.243 Viewer selama tahun 2019.

Nggak jelek. Coba aku lebih sering posting pas bulan Mei dan April… Huh…

Favorite Articles!

Home Page. 25.193 View.

Oke, oke, gak dihitung, karena orang yang buka homepage berarti gak buka lebih dalem lagi, tapi ya, anda mengerti maksudku. Semua orang yang baca artikel-artikelku pasti ke homepage juga, jadi… Don’t judge. Ini top 5 artikel pada tahun 2019…

Artikel favorit tidak lain dari artikel Wakanda Forever. Mencapai 4750 views. Bukan angka yang jelek untungnya! Hurrah!

Artikel tersebut mendapat viewer yang cukup banyak dan konsisten, karena artikel itu, aku mencapai rekor 675 viewer dalam satu hari (pada tahun 2018), semuanya dari Google. Sesudah hype dua minggu dari artikel tersebut, viewer-nya agak turun, tetapi tiap minggunya masih menghasilkan setidaknya 10 view.

Berikutnya disusul dengan artikel Marvel lainnya. Membahas Vibranium dan Adamantium. Tentunya juga populer. 2173 views. Bukan angka yang jelek, mendapat sekitar 50 view per bulan, dan ketika hype film marvel baru keluar, angkanya bisa naik hingga 500 view pada bulan tersebut.

Artikel ketiga paling populer masih artikel Avengers… (Sejujurnya, apa sih yang orang-orang baca di Internet hari gini…) 2079 views. Teori-teori yang aku kompilasi dari Reddit (dengan VPN) dan Quora mengenai Avengers End Game. Lucunya banyak orang nyasar mencari tentang daftar orang-orang yang menjadi debu di Infinity War, tapi… Post aku paling atas di Google, walaupun isinya hanya fan theory saja. Ya sudahlah.

Artikel keempat adalah artikel paling bermakna di antara semuanya… Membahas MBTI dan temperamen ala Galen (seorang filsuf Yunani). Tulisan ini banyak error dan blundernya sejujurnya, tetapi aku tidak dapat satupun komen dari 1073 orang yang masuk ke artikel ini. Aku perlu menulis ulang beberapa bagian sesudah baca lebih lanjut tentang keduanya.

Lalu artikel kelima… Gegenpressing. Danke Mr. Klopp. Tulisan sepakbola paling populerku yang menjadi poros permainan Jerman selama 4 tahun, serta poros permainan Liverpool ketika menjuarai Liga Champions ini menjadi artikel nomor 5 paling populer, dengan 660 views.

Honourable Mentions

Star Wars, dan alasan dimulai di episode ke IV bukannya I. 100 dari 500 views yang didapatkan baru nongol ketika Rise of Skywalker masuk ke bioskop.

PT Barnum. Artikel ini telat karena baru keluar SESUDAH Greatest Showman, 400-an views.

Serta Late Post-ku ke sebuah Law Firm di Jakarta! Tiap kali ada yang googling “Visit HHP Law Firm” artikelku nongol di paling atas. 385 views.

Peak Season?

Tentunya… April dan Mei adalah saat End Game keluar di Bioskop. 16000 views hanya dalam 2 bulan tersebut.

Walaupun aku tidak mengeluarkan SATU PUN TULISAN! Selama April atau Mei. (COBA NGELUARIN!!! NYESEL!!!)

Dari peak saat Mei. Juni melihat penurunan ke 4000 views, dan sekarang aku nyangkut di 1000-3000 views. Untungnya, Star Wars menaikkan viewer di Bulan Desember dengan cukup baik, jadi hore!

Pesan moral. Jangan terlalu terdistraksi sama tulisan buku kalau anda masih punya blog… Huhuhuhu…

Sumber Penemu Artikel?

Ini agak obvious kayanya sih, tapi tetep perlu kutulis.

Google memberikan diriku 35.000 views. Dari 42.000.

7000 lainnya berasal dari orang yang langsung masuk ke tulisan via link, mengklik artikel lain atau masuk ke homepage, atau dari WordPress reader. Selain itu juga ada beberapa dari Instagram milik Bubi.

Menutup Tahun.

Post terakhir tahun 2019 ini akan ditandai dengan pengingat untuk diriku sendiri…

Tulis lebih banyak tentang hal yang gak penting tapi menyenangkan… Orang-orang suka fakta yang gak jelas ternyata… Huhuhu… Tulisan Filsafat mana laku…

Kalender Gregorian dan Pemberian Tahun.

Kalender Gregorian dan Pemberian Tahun.

Mari kita bahas tentang kalender sebelum pergantian tahun!

Sejujurnya…

Bicara tentang kalender secara detil bisa memberikan migraine sebanyak bicara tentang… Oke, kita anggap saja bicara tentang taktik sepakbola dari piala dunia pertama sampai sekarang.

Untuk memberikan perspektif. Dalam 2020++ tahun tercatatnya bumi ini mengitari matahari, kita sudah berganti tahun 2020 kali (thanks, captain obvious) tetapi dalam 2020 tahun yang sama, jenis kalender yang manusia gunakan sudah berubah 3 kali.

Oke, kamu akan berkomentar “Tapi Azriel, kita tiap tahun ganti kalender, aku sekarang berumur 40 tahun dan sudah mulai mengganti kalender di rumahku sejak kuliah berarti aku sudah ganti kalender 22 kali.” Maksudku bukan mengganti kalender, karena kita ganti kalender juga tiap tahun ya… Maksudku jenis kalender.

Mari kita catat!

Julius Caesar

Darimana aku mulai tentang orang ini.

Untuk pembaca rutin Dikakipelangi.com . Pasti tahu seberapa cintanya aku sama Jendral Romawi yang satu ini, yang gak mau ngaku raja dan hanya sebagai kaisar tetapi ujung-ujungnya dibunuh sama teman-temannya sendiri.

Walau Caesar punya banyak kualitas positif, ia tidak rendah hati sama sekali.

Kalender tahun 0001 Masehi dimulai oleh Julius Caesar tentunya, dan ia mengganti kalender sebelumnya dengan gaya yang sangat-sangat egois.

Januari 1 adalah tanggal lahir Janus. Dewa Bermuka dua yang menandakan masa lalu dan masa depan, dewa transisi. Nama Januari sendiri diambil dari Janus.

Pada 47 B.C. (kalender masehi belum dimulai) Caesar merubah gaya penanggalan kalender dari Ab Urbe Condita (709 AUC) menjadi gaya penanggalan sekarang. Ia mengulangi kalender dari 0 lagi.

Saat melakukan ini, ia merubah urutan bulan jadi…

  • Januari
  • Februari
  • Maret
  • April
  • Mei
  • Juni
    • Juli
  • September
  • Oktober
  • November
  • Desember
  • Latin untuk bulan keduabelas.

Ada 12 bulan, tetapi ia menggeser september (latin untuk bulan ketujuh) menjadi bulan kedelapan. Bulan ketujuh ia beri nama Juli untuk Julius.

Ia memberikan satu bulan khusus untuknya.

Kalender ini didesain dan dihitung pas oleh ilmuwan-ilmuwan punya Pacarnya Julius Caesar di Alexandria. (Iya, betul… Cleopatra)

Oh, tapi sayangnya, hitungannya gak pas. Tahun Kabisat (seperti 2020, di mana Februari punya 29 hari, bukan 28) dicatat tiap 3 tahun, dan bukan 4…. Ugh, pusing deh.

Intermezzo Ab Urbe Condita adalah sistem penanggalan Romawi kuno, dimulai dari terbentuknya Romawi sebagai kerajaan.

Seharusnya, ini menjadi penanggalan masehi yang original. Dan ini berarti bahwa sekarang kita tidak berada di tahun 2020 tetapi justru di tahun 2067.  Namun, ada hal terjadi.

Augustus Caesar

So. 3 tahun sesudah pengulangan tanggal dari Ab Urbe Condita menjadi masehi… Caesar mati.

Like… Ditusuk di semua bagian yang kamu gak mau orang sentuh dan/atau tusuk.

Brutal, tapi ya, dunia sudah move on.

Berikutnya ada orang ini!

Octavian atau Augustus Caesar, terserah mau panggil dia siapa.

Ia juga sama seperti Kakek-nya (Julius Caesar) pintar, bijaksana, dominan, ganteng, blablabla… Oh iya, juga gak rendah hati.

44 tahun sesudah kematian dari Kakeknya, Augustus Caesar ingin merubah sesuatu.

Ia tahu bahwa 40 tahun sebelum ini ia pernah memenangkan perang dengan anggota dewan segitiga (atau juga diketahui dengan triumvirate) sebagai metode pencegahan perang saudara antara 3 jendral terkuat di Romawi…

Ceritanya panjang, tetapi Romawi dibagi tiga. Augustus dapet sepertiga, Mark Antony dapet sepertiga, Lepidus dapet sepertiga. Augustus ngalahin Mark Antony yang lebih kuat dari Lepidus, dan dapet dua per tiga kekuasaan, Lepidus takut dan kabur, ngasih kekuasaannya ke Augustus.

Sebelum pergi dari takhtanya, Augustus Caesar melakukan satu hal lagi. Ia memulai kalender masehi, dan ia meminta tanggal ia menjadi kaisar romawi sebagai bulan khusus, dinamakan atas dirinya sendiri.

Ini menciptakan sistem 12 bulan yang kita ketahui sekarang.

Dengan cara menyelipkan bulan Agustus diantara Juli dan September ia meminta penanggalan kakeknya dirubah, dan diulangi dari awal karena ada kesalahan teknis akan hadirnya tahun kabisat per tiga tahun yang Caesar buat tadi…

Selain itu, ini sistem pertama yang memasukkan tahun kabisat untuk mencatat 1/4 ekstra hari di mana bumi berevolusi mengitari matahari.

Intermezzo. Untuk yang belum tahu tanggal 25 Desember adalah natal… Itu ada cerita agak panjang dengan penambahan bulan punya Augustus kali ini. Selain lahirnya Janus pada 1 Januari, Yesus Kristus, atau Nabi Isa A.S. juga lahir di tanggal 1 Januari. Namun perubahan tanggal Romawi tidak diikuti oleh Agama Katolik yang masih minor waktu itu, dan 1 Januari tersebut pindah ke 25 Desember sebagai efek samping perubahan penanggalan.

Gregorian Calendar

Paus Gregory bertanggung jawab menggeser kalender untuk ketiga kalinya.

Ada beberapa versi cerita yang bilang bahwa Paus Gregory hanya mengklaim Kalender Gregorian yang kita gunakan sekarang, dan aslinya seorang pustakawan yang kerja di Itali yang memberikan dia ide ini, tetapi, ini versinya lebih rumit, dan aku akan gunakan versi yang umum saja.

Awalnya, Paus Gregory yang tahu tentang pertanian khawatir akan penanggalan paskah yang salah karena ia yakin paskah telah geser satu hari dan titik balik musim semi tidak sesuai dengan perayaan paskah pada tahun itu.

Jadi, pada September tahun 1582, Paus Gregory bertindak. Kurang lebih Paus Gregory yakin akan penanggalan yang salah, dan ia mengeluh pada ahli astronominya. Sesudah dihitung, ternyata ada 12 menit revolusi Bumi yang tidak dihitung oleh kalender Augustus Caesar yang masih dipakai sampai tahun 1599.

Revolusi Bumi tersebut akhirnya dibenarkan dan mulai tahun 1600, tahun yang berakhir dengan 00 tidak akan dihitung sebagai tahun kabisat kecuali angka tersebut bisa dibagi dengan 400. Berarti, tahun 1700, 1800, 1900, dan 2100 bukan tahun Kabisat.

Kalender ini disetujui semua orang dan penanggalan Paskah kembali benar lagi, dan Paus Gregory memberi nama kalender ini Kalender Gregorian, atas dirinya sendiri.

Sampai hari ini, kita masih bisa menggunakan Kalender Gregorian secara akurat. Sampai tahun 4909 tentunya, karena revolusi bumi ini ternyata bukan 365 hari, 6 jam dan 12 menit. Tapi juga ada 26 detik. . . . .

Yup, untungnya kita gak perlu kalender lagi.

Kecuali anda membaca ini dari masa depan (tahun 5000) dan Internet masih legal… Anda tenang saja, kita masih bisa menggunakan kalender Gregorian sebelum bumi berevolusi satu hari lebih banyak dari seharusnya!

Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Aku balik membahas Bola! Kali ini, aku akan membahas tentang taktik Liverpool terutama ketika sedang memegang bola mulai dari pertandingan pembuka ketika melawan Norwich, hingga Derby Merseyside kemarin.

Tetapi sedikit disclaimer, aku hanya menonton pertandingan melawan Southampton secara Live, sisanya aku mencari extended highlights, melihat cara bola dimainkan dan pergerakan pemain ketika menyerang ataupun bertahan.

Hari ini, aku akan membahas lini tengah,. Minggu depan, aku membahas ketiga striker, (tentunya Firmino akan mendapat bahasan untuk kedua kalinya. He’s special that way), lalu minggu depannya lagi, lini belakang, baik bek sayap atau bek tengah.

Our Players!

Bisa dibilang mungkin pola permainan Liverpool yang paling meningkat dari awal musim lalu adalah gelandang-gelandangnya.

Pada awal musim 2018/19, Klopp masih plin-plan memilih gelandang, merotasi Naby Keita, Milner, Henderson, Wijnaldum, kadang memasukan Shaqiri di formasi 4-2-3-1, dan gaya permainan lini tengah kita masih sederhana dan bisa dijelaskan dengan kalimat “kejar bola dan jadi orang tambahan ketika dibutuhkan.”

Walau metode ini memang yang dicari dari Gelandang-gelandang di sistem Gegenpressing ala Klopp… Agak lucu melihat tim sekelas Liverpool memiliki set gelandang yang hanya jadi “orang ekstra” dan tidak berkontribusi secara unik ataupun elegan seperti gelandang-gelandang lainnya.

Kasarnya, kita ambil saja penilaian FIFA. Berdasarkan penampilan tahun lalu, gelandang-gelandang terbaik Liverpool mentok di rating 84-85, Fabinho dengan 85, Wijnaldum dengan 84. Ingat bahwa rating FIFA 20 mengambil musim tahun 18/19, bukan musim 19/20.

Musim ini, kita melihat gaya pressing yang sama, tetapi gaya permainan yang diberikan ketika memegang bola jauh lebih kreatif.

Selain itu, Klopp sepertinya sudah fix mengambil Wijnaldum, Henderson dan Fabinho sebagai trio gelandang miliknya. Mari kita bahas satu-satu…

Fabinho

Peran Fabinho di sistem Klopp cukup solid, sebagai jangkar yang mendaur ulang serangan gagal, serta mencegah serangan balik.

Aku sudah pernah menulis secara cukup detil tentang Fabinho di artikel sepakbolaku yang sebelumnya, membahas Firmino… Tidak akan kujelaskan lagi, jadi silahkan klik ini untuk mendapatkan penjelasannya ya 😀

Fabinho melakukan pressing pada orang yang memegang bola sambil memotong jalur umpan ke pemain-pemain terdekat. Jika bola tersebut melewati Fabinho, Matip, Lovren atau Van Dijk (tergantung pemain terdekat, dan juga yang dimainkan) lari melakukan pressing, dan memberikan bolanya kembali ke Fabinho.

Jika tidak ada orang yang dekat ke bola, umumnya Fabinho orang pertama yang mengejarnya. Kita melihat dia melakukan hal yang sama pada pertandingan melawan Manchester City dan berulang kali menghentikan serangan balik dan menciptakan peluang.

Fabinho juga merupakan pemain tengah yang berlari paling sedikit karena ia tidak begitu banyak melakukan hard-press, dan hanya memotong jalur umpan. (Catatan: Paling sedikit tetap banyak ya, hanya saja Wijnaldum dan Henderson berlari jauh lebih banyak lagi)

Wijnaldum dan Henderson

Gini Wijnaldum dulunya ditujukan untuk mengisi peran gelandang jangkar.

Namun sesudah berulang kali bermain, Wijnaldum pindah ke peran Box-to-Box karena sama seperti Henderson, ia bukan pemain terbaik dalam mengatasi serangan balik.

Baik Wijnaldum atau Henderson memiliki fungsi utama yang sangat… “kasar” mungkin menjadi kata terbaiknya. Peran utama mereka sederhana, layaknya tiap gelandang modern di tim dengan tempo permainan tinggi, mereka menjadi orang tambahan ketika dibutuhkan.

Baik ketika menyerang atau bertahan.

Sebagai contoh..

Ketika pemain Nomor 8 ingin membuat operan, Wijnaldum memberikan tekanan untuk memastikan bola dapat dimenangkan kembali, Fabinho berusaha memotong jalur umpan terdekat, dan Henderson membantu Firmino melakukan pressing ke target operan utama.

Liverpool terbiasa bermain dengan garis Offside yang tinggi agar lawan kesulitan menemukan ruang dan memaksa lawan untuk mengoper bola secara perlahan, karena transisi cepat dari satu operan gagal ke gol milik Liverpool.

Ruang yang sempit karena garis offside tinggi ini dimanfaatkan Wijnaldum dan Henderson agar mereka tidak perlu berlari terlalu jauh untuk membantu pressing.

Kata kuncinya adalah MEMBANTU. Pressing utamanya (terutama hard-pressing) dimulai dan dilaksanakan oleh Firmino. Henderson dan Wijnaldum bergerak sesuai ke pergerakan Firmino, mengikuti dan membantu Firmino mengambil bola dan memaksa lawan memainkan bola ke orang yang salah.

Nah, sekarang untuk menyerang…

Sama juga seperti dalam pressing, Wijnaldum dan Henderson berfungsi untuk menambah orang dan menciptakan Numbers Advantage di ruang sempit. Baik itu sebagai target umpan, atau opsi operan dekat.

Jika anda menonton Liverpool cukup sering, anda pasti tahu bahwa raja Assist Liverpool bukan gelandang seperti Man City mengandalkan Kevin de Bruyne, atau Manchester United semacam mengandalkan Paul Pogba… Tukang Assist kita ada di kedua bek sayap.

Sekedar ada satu target umpan atau opsi operan dekat memaksa lawan untuk trackback lebih cepat karena permainan Liverpool dimainkan di tempo tinggi.

Kita beri gambar lagi…

Bola dimainkan ke sayap, dan kedua bek sayap bersiap maju, beserta ketiga striker siap menerima umpan.

Karena banyaknya pemain di kotak penalti, bukan hanya Striker, jumlah orang yang bisa menyambar bola dan jumlah orang yang perlu ditutup oleh bek jauh lebih banyak.

Tambahan 1-2 orang terkadang bisa jadi apa yang diperlukan untuk memecah baris pertahanan lawan. Henderson dan Wijnaldum seringkali jadi orang tambahan, seandainya mereka tidak menyambar bola atau mencetak gol, mereka hadir untuk mendistraksi bek-bek lawan.

Miskonsepsi orang-orang…

Berkali-kali aku dengar orang bilang “Liverpool butuh gelandang serang bagus.”

Ini miskonsepsi bagiku. Gelandang serang terakhir yang Liverpool miliki adalah Coutinho, dan Klopp memainkan Coutinho sebagai sayap alih-alih gelandang, dan ia tidak mendapat tempat penting lagi di skuad Liverpool sesudah adanya Salah.

Memang iya, Liverpool kesulitan menciptakan peluang ketika bek sayap kita tidak diberi ruang untuk bergerak (seperti ketika melawan Manchester United) tetapi adanya gelandang serang dalam cetakan de Bruyne, David Silva, James Rodriguez, Christian Eriksen dan sebagainya mungkin memberikan kita lebih banyak kesempatan menciptakan serangan dari tengah…

Tetapi masalahnya… Itu akan membuat sistem pressing Liverpool tidak seimbang. Setelan simetris dengan dua gelandang box-to-box energetik dan gelandang jangkar kreatif seperti ini sudah sempurna untuk Gegenpress yang memang diatur dari tengah oleh Firmino.

Kalau kita bisa misalnya mendapatkan pemain seperti James Rodriguez atau semacamnya, Klopp akan melatihnya untuk mengisi peran Firmino, bukan dimainkan di gelandang tengah.

Kesimpulan.

Pressing Liverpool sederhana, dan lini tengah kita juga bermain dengan cukup sederhana, dan rapih. Menontonnya menarik tentunya. Beberapa kali aku mendengar teman-temanku baik fans Arsenal, Chelsea, atau klub di liga lain mengatakan bahwa menonton Liverpool selalu menyenangkan.

Klopp punya andil untuk itu. Bahkan jika kita kalah, dia tidak ingin timnya bermain dengan pas-pasan, pasti pertandingannya menegangkan dan tiap operan bisa berbuah gol.

Sampai minggu depan!

(aku berniat membereskan ini sebelum boxing day ya, semoga beres)

Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Dengan Star Wars yang tampak akan masuk ke Bioskop Indonesia dengan cepat… Aku rasa ini momen yang pas untuk membahas Benda-Benda Kolektibel!

Minggu depan aku akan membuat tulisan yang lebih spesifik tentang Star Wars dan mainan-mainan Star Wars, tetapi minggu ini, aku akan membahasnya dalam sudut pandang yang jauh lebih umum. Benda-Benda Kolektibel-nya sendiri.

Selamat menikmati.

Merchandising is Underrated.

Semua Film Star Wars menghasilkan 7 Milyar Dollar US. Mainannya? Menghasilkan 14 Milyar Dollar US . Spider-Man? 6.4 Milyar Dollar US (ketiga reboot ditotalkan). Mainannya? Tenang, hanya 1.3 Milyar Dollar US. Per tahun (bahkan adanya film baru keluar tidak begitu merubah angka ini, rata-ratanya dari 1.0 sampai 1.4 milyar).

Merchandise. Butuhkah kita?

Dari semua geeky trend yang ada di dunia (Star Trek, Star Wars, Spider Man, Batman, Superman, Semua Putri Disney), hanya Avengers yang sepertinya mendapatkan penjualan lebih banyak dari film kebanding merchandise. Itu pun sebenarnya bukan karena penjualan Merchandise Avengers begitu sedikit, tetapi karena penjualan film Avengers yang sangat banyak, dan mampu merambah orang-orang yang bahkan jarang menonton film.

Film-film dan studio-studio yang berpikir kapitalis tentunya tidak lagi bergantung pada film sebagai sumber penghasilan. Justru mereka bergantung pada jualan Merchandise.

Angka-angka dari merchandising tampaknya tidak akan berubah begitu banyak, sedangkan kalau tren Box Office… Kita bisa melihat penurunan ketika kualitas filmnya tidak begitu bagus.

Sampai hari ini, aku pribadi percaya bahwa Age of Ultron adalah film Avengers yang terburuk karena film tersebut diniatkan hampir murni untuk jualan Merchandise kebanding memberikan film yang memang bagus… dan sebenarnya, rencana mereka jualan merchandise gak bener-bener gagal… Age of Ultron menghasilkan 45% lebih banyak dari merchandise kebanding penjualan tiket.

Hal yang lebih konyol lagi, konsumen merchandise jumlahnya lebih sedikit kebanding jumlah tiket yang terjual.

Aku tidak punya angka empirik. Perkataan ini hanya reka-reka saja, tetapi aku yakin bahwa tidak ada orang yang membeli 2 tiket untuk satu orang kan? Mungkin ada orang yang menonton film yang sama 3 atau 4 kali, tetapi umumnya satu tiket untuk satu orang.

Sedangkan, bagaimana kalau merchandise? Satu orang bisa punya lebih dari 20 jenis merchandise kalau mereka mau… Aku saja punya 8 kaos D.C. (iya, iya, terlalu banyak… tetapi, aku geek parah) dan 3 kaos Marvel… Padahal aku termasuk fanboy yang nyantai.

Meskipun tidak ada basis fakta di belakang ini, aku yakin pembaca bisa menalar dan memberikan kira-kira tentang statistiknya…

Kenapa ini terjadi?

Si Fans Sepakbola.

Kenapa bahkan orang dewasa, atau anak-anak ingin punya sebuah merchandise?

Mungkin mereka ingin punya sesuatu yang “langka” karena hukum ekonomi dan hukum sosial untuk showing off dan hal-hal seperti itu. Tetapi aku tidak mengerti kenapa anak-anak menginginkan hal yang sama. Kenapa anak-anak yang dikenalkan dengan merchandise mau punya merchandise? Untuk dimainkan?

Sesudah nonton The Toys That Made Us di Netflix, aku mendapat bayangan. Mari aku kenalkan seorang professor Sosiologi dari College of Lake County, bernama John Tenuto. Ia juga kolektor barang Star Wars. Dia memiliki satu ruangan agak besar yang ia khususkan untuk merchandise Star Wars. Oh iya, kalau Bapak-bapak di sini menanyakan kenapa dia diizinkan punya ruangan untuk merchandise dan juga kenapa dia gak disuruh jual merchandise-nya sebelum nikah… Istrinya juga kolektor. (note to self, cari pacar dan istri yang gak galak soal Merchandise…)

John Tenuto dan Istrinya

Tenuto mengatakan bahwa seorang fans sepakbola misalnya… Bisa pergi ke stadion untuk menonton pertandingan dan mendapatkan vibe bahwa ia dekat dengan pemain-pemain kesukaannya. Seorang fans musik, bisa menonton konser dan mendapatkan perasaan nyata bahwa ia bersama penyanyi kesukaannya, dan mendapat penampilan langsung.

Seorang fans film tidak bisa mendapatkan pengalaman nyata yang sama. Hal terdekat yang mereka bisa dapatkan mungkin menonton ketika film tersebut sedang direkam, tetapi kita tidak bisa mendapatkan perasaan bahwa kita bersama Tony Stark, yang kita dapatkan adalah Robert Downey Jr. sedang memainkan peran Tony Stark.

Hal yang sama tentunya berlaku untuk fans sejarah. Mereka bisa ikut reenactment perang atau kejadian, tetapi tidak bisa terlibat langsung seperti fans musik atau fans sepakbola… Cara mereka melibatkan diri secara langsung adalah dengan memiliki barang yang dipakai dalam kejadian sejarah tersebut.

Dipikir-pikir lagi, kolektor barang yang hardcore umumnya memang terlibat di hal-hal yang mereka memang sukai, serta tidak mudah untuk terlibat langsung.

Contoh-contoh untuk ini adalah:

  • Film/Serial TV
  • Fashion (karena hal yang disukai memang hal yang langsung dikoleksi)
  • Sejarah
  • Video Games
  • Seni
  • Dan masih banyak lagi

Fans sepakbola atau fans musik punya kecenderungan untuk lebih tidak konsumtif dari fans-fans hal di atas dalam konteks merchandise. (ini bukan berarti fans sepakbola tidak konsumtif, hal yang sama dengan fans musik tentunya)

Menurut Tenuto, keterlibatan adalah hal yang krusial bagi seorang fans. Mereka ingin terlibat dalam hal-hal secara langsung ketika sudah benar-benar menyukai sesuatu. Keterlibatan tersebut menjadi alasan dan dorongan untuk membeli merchandise.

Kesimpulan

Pada akhir hari, kita mengoleksi hal-hal yang kita ketahui tidak perlukan.

Seriously. Aku tahu bahwa kita sudah kebangetan dalam konteks koleksi kalau Star Wars menyediakan Rice cooker R2-D2 dan BB-8. Buat apa?

Namun, layaknya semua hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial, mengetahui dan menerapkan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Seorang psikolog yang tahu bahwa manusia punya kesulitan bilang tidak ketika ditawarkan produk belum tentu punya keberanian untuk bilang tidak ketika menerima penawaran produk.

Sama juga dengan koleksi. Menurutku, penting untuk seseorang bisa membedakan hal-hal yang penting dan yang bukan, dan pada akhir hari… Apakah iya bahwa punya Odol merek Star Wars merupakan hal yang penting?

I’m out! Sampai lain waktu!

Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Seri Kopetalis adalah Seri Tulisan yang ditujukan untuk mahasiswa, atau Siswa/Siswi SMA yang ingin menghemat uang lebih banyak. Aku di sini memberikan angka dan perspektif mengenai pembelian antara dua opsi yang ada, dan membebaskan pembaca untuk menentukan mana yang lebih cocok untuk mereka. Selain tips finansial dalam kata Kopet, kata Kapitalis juga memberikan tips untuk berjualan dan mendapatkan income lebih banyak tentunya!

Makan di luar rumah? Atau Masak? Ini pertanyaan yang telah membingungkan orang-orang sejak Zaman Yunani kuno. (aku tidak sepenuhnya bercanda, Forum di Athens diketahui memiliki kantin yang menjual makanan Yunani dan jadi tempat Ibu-ibu ngegossip dulunya)

Aku di sini memulai serial, dan akan tentunya berusaha membantu orang-orang yang kebingungan dalam mengambil keputusan, selamat menikmati tulisan hari ini!

The Facts

Kita taruh faktanya saja dulu sebelum menuliskan debatnya.

Aku punya uang jajan 100 ribu tiap minggunya.

Uang jajan tersebut harus cukup untuk iuran Pramuka, makan ketika lagi tidak bersama kedua orangtuaku, dan ongkos angkot (terkadang pulang pergi karena tidak selalu bisa dijemput.)

Nasi atau beras hampir tidak pernah perlu beli, air juga tidak perlu jadi bahan pikiran karena aku ada botol minum dan aku bisa mengisi di perpustakaan kota, masjid, tempat les, dan masih banyak tempat lagi.

Bagaimana cara aku menghabiskan uangku, dan berapa yang aku habiskan tiap minggunya?

Sebelum masuk ke opini dan komentar, kita bahas dulu pengeluarannya secara statistik ya! Sangat sederhana, tapi ada perspektif yang bisa didapat.

Pengeluaran Non-Makanan

Iuran Pramuka 15 ribu

Angkot dari 10-40 ribu tergantung kebutuhan. Kita ambil rata-rata di 25 ribu.

Sisanya gak perlu.

Pengeluaran Makan di Luar…

Sisa uang dari pengeluaran non makanan ada 60 ribu.

Sekali makan, aku menghabiskan dari 10-16 ribu, tetapi aku akan ambil angka tengah, di 13 ribu.

Kurang lebih, aku bisa makan 5 kali dengan uang 60 ribu tersebut, tetapi tidak ada uang ekstra, dan aku harus menunggu awal minggu tiba sebelum bisa mendapatkan uang lebih.

Menekan harga makan ke 13 ribu, bagaimana caranya? Kalau emang mahasiswa sih harusnya kebayang ya makan 13 ribu, mungkin bisa makan sampai 2-3 kali pake uang segitu.

  • Membuat nasi di rumah, beli Lauk sejumlah 13 ribu
  • Makan di kantin Masjid Salman (sangat spesifik) 13 ribu bisa kenyang banget, kadang 7 ribu juga cukup buat makan kenyang malah.

Sebenarnya makan 13 ribu masih kehitung agak mahal buat beberapa orang, tetapi deviasi standar (bahasa keren buat kebiasaan, karena aku suka tampak pintar) aku makan 13 ribu.

Masak Makanan.

Sisa uang dari pengeluaran non makan masih 60 ribu.

Belanja bahan, aku berhasil mendapatkan bahan masakan untuk 5 kali makan dengan ayam senilai 20 ribu, dan sayuran senilai 15 ribu.

Hanya dengan 35 ribu, aku bisa makan kenyang selama 5 kali! Jika aku ingin hemat lauk, angka tersebut bisa ditambah hingga 7 kali makan, namun karena aku doyan makan (maklum), lauk dan sayur habis hanya dalam 5 kali.

Opsi protein apa lagi yang bisa didapat dengan 20 ribu? Harusnya dapat daging sapi (tapi aku gak makan daging merah) dan Ikan (tapi aku males banget masaknya) untuk porsi, coba-coba saja sendiri ya 😀 .

Sayuran 15 ribu kebeli banyak banget lho. Aku dapat Kentang yang cukup untuk makan 6 kali, Buncis untuk makan 10 kali (sampai sekarang belum habis, aku beli 8 hari yang lalu) dan juga bumbu-bumbuan seperti Bawang Daun, Jahe, dan semacamnya yang cukup untuk 2 minggu…

Pro dan Kontra!

Aku bukan preacher.

Aku hanya akan memberikan fakta-fakta dan opini, serta memberitahu pilihanku, pembaca silahkan menentukan sendiri mana yang lebih cocok untuk mereka.

Ini pro dan kontra dari keduanya.

Makan di Luar.

PROS:

  • Makanan harusnya enak. Kecuali anda zonk (tapi kalau pinter milih restoran dan tempat beli lauk, harusnya enak, ini mah bicara skill dan selera)
  • Tidak repot, tidak banyak pikiran.
  • Tidak mengonsumsi waktu, asal gak ngantri panjang-panjang.

CONS:

  • Kontra nomor satu. MAHAL. Aku perlu 60 ribu untuk makan 5 kali, sedangkan aku bisa makan 5 kali, semuanya kenyang, hanya dengan 35 ribu jika masak.
  • Menghasilkan sampah jika takeaway, atau go-food. (bisa dicermati dengan membawa wadah sendiri)
  • Belum tentu kenyang.
  • Butuh sedikit preparasi dan manajemen waktu untuk pembelian makanan.

Tentunya tiap orang punya pengalaman serta pro dan kontra-nya masing-masing, tetapi bagiku, Pro terbesar adalah fakta bahwa tidak ada kerepotan sama sekali.

Masak Sendiri.

PROS:

  • MURAH!!!! Penghematan hampir mencapai 50%, itu pun kalau mau makan kenyang.
  • Masakan sesuai selera, tentunya.
  • Pengalaman belanja ke pasar menyenangkan! Cari saja pasar yang orangnya ramah-ramah, tidak begitu bau, dan kalau anda suka ngobrol, pasti menikmati belanja ke pasar…

CONS:

  • Butuh keahlian masak. Kalau masih suka ujicoba dan tahu-tahu gagal ya…….. Nikmati makan siang anda. (makan siang pertamaku tuh, pas awal-awal nyobain masak, buyar…)
  • Mengonsumsi waktu, baik belanja ke pasar, masak, menyiapkan, dan semacamnya.
  • Tidak cocok kalau suka meninggalkan barang-barang di rumah secara gak sengaja. (aku ketika ke tempat les… “Tempat bekelku mana?” Akhirnya malah baru makan pas sampai rumah lagi)
  • Butuh lebih banyak pemikiran kebanding makan di luar rumah. Isunya sih, kataku ada di fakta bahwa untuk orang yang bosenan (kaya aku) kita perlu terus menentukan menu baru biar gak bosen. Mikirin mau masak apa lebih repot kebanding mau makan di mana.

Tips-Tips!

Sebelum kita tutup dan aku memberitahu pilihanku, nikmati sedikit tips-tips untuk yang mau mulai masak atau makan di luar!

Makan di Luar…

  • Manfaatkan promo, tetapi pintarlah membaca nilai barang. Diskon 50% tidak ada artinya kalau harga awal benda 100 ribu, dan anggaran makanmu cuman 30 ribu.
  • Seperti aku bilang, membawa tromel sendiri membantu mengurangi sampah yang dihasilkan. Alasan untuk mengurangi Go-Food dan Grab-Food juga tentunya.
  • Carilah kantin-kantin di dekat sebuah kampus yang bersih. Bahkan jika anda tidak/belum kuliah kaya aku, makan di kantin sebuah kampus bisa berarti anda menemukan sesuatu yang cenderung lebih murah tentunya!

Masak Sendiri…

  • Kalau anda tidak bosenan, masak hal yang sama tiap harinya. Ini mengurangi beban pikiran.
  • Untuk membuat proses memasak lebih efisien, bisa dilakukan dengan memasak seminggu sekali. Misalnya jika anda hanya punya satu hari kosong tiap minggunya, masak pada hari tersebut, lalu sisakan porsinya, dan hangatkan lagi ketika sudah waktunya makan.
  • Kalau seandainya anda bosenan…Hadapi kebosenan tersebut sampai minggu depan, kaya aku.

Kesimpulan.

Aku sekarang hitungannya masih kelas 12.

Aku sekarang punya banyak sekali waktu luang, mengingat aku homeschool…

Tentunya lebih baik jika aku masak! Walau baru mencobanya selama 2 minggu, proses belanja ke pasar, menghemat uang, dan proses masaknya jadi pengalaman yang menyenangkan bagiku, dan pengalaman ini nanti bisa jadi modal kalau aku Kuliah… 😉

Orang yang senang mengobrol dan ketemu orang sepertiku lebih cocok ke pasar dan masak tentunya. Bahkan kalau aku bosenan, aku bisa menahan kebosenan itu selama 1 minggu, dan masak hal lain di minggu depannya.

Ini bukan berarti makan di luar adalah opsi yang buruk ya… Kalau anda tidak punya waktu untuk masak atau belanja ke pasar, makan di luar tentunya opsi yang lebih baik. Sekali lagi, ini kembali ke preferensi.

Semoga tulisan ini membantu!