Category: Jaja

Antifragility Concept

Antifragility Concept

Manusia semakin menyukai adanya kekacauan.

Dengan adanya kekacauan, ada hal yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mendapat keuntungan, dari orang-orang yang berusaha meminimalisir kekacauan tersebut.

Tulisan hari ini akan erat kaitannya dengan konsep Disruption dan Zombie Company yang diperkenalkan oleh Rhenald Kasali, serta dengan konsep Anti Fragile dari Nassim Nicholas Taleb.

Selamat menikmati.

Braaaaains.

Zombi. Oke, aku tahu ini kata serapan, jadi tolong jangan komentar Ba-Bi-Bu dulu kalau aku mengejanya gak pake E ya. Eesh.

Sebelum aku bisa masuk ke konsep anti fragile yang agak (mungkin ada yang bilang sangat) membingungkan itu, ada sebuah konsep filosofis dan ekonomis lain yang perlu dimengerti.

Konsep disrupsi dari Rhenald Kasali ini meminta orang-orang yang memiliki bisnis untuk mengganggu bisnis lain, atau memiliki bisnis yang terganggu. Konsepnya sendiri cukup sederhana, namun Kasali telah mengadaptasi konsep ini menjadi Self-Disruption, dan banyak orang juga berusaha mencari cara untuk terus mendisrupsi (dalam konteks positif) diri untuk meningkatkan produktivitas.

Disrupsi sendiri merupakan kata yang amat sangat sederhana bukan? Sebuah gangguan. Mau seberapa kecil gangguan itu, atau seberapa besar gangguannya, artinya akan bermakna.

Kita melihat bisnis-bisnis tua macam Taksi Blue Bird menerima disrupsi yang berat karena ia merasa terlalu nyaman dengan gaya mereka yang lama itu, dan akhirnya mereka menjadi tidak tergunakan lagi di era Go-Jek dan Grab ini.

Kita melihat restoran mengambil disrupsi secara positif dengan lebih konservatif dalam menyewa jasa antar makanan karena adanya Go-Food.

Intinya, disrupsi memaksa bisnis-bisnis untuk terus berkembang dan terus memiliki hal baru untuk menghindari adanya bisnis baru yang lebih baik lagi.

Tidak seperti konsep anti-fragility, tetapi, Disrupsi bisa muncul dari perusahaan “Zombi” . Dalam kata Rhenald Kasali sendiri, perusaahan zombi adalah perusahaan yang hidup dan bermanfaat juga tidak, namun tidak mau mati.

Disrupsi paling mendasar dari perusahaan zombi ini mulai dari fakta bahwa mereka membuatbranding, konsumen, dan persentase ekonomi yang termakan. Sampai ke hal-hal yang lebih kompleks seperti ekonomi bertumbuh lebih “lambat” dan memakan ruang yang bisa dimanfaatkan perusahaan baru tumbuh di reruntuhannya

Perusahaan zombie (oke, aku menyerah, terima kasih autocorrect) ini bukan hanya mengambil ruang dan tempat secara ekonomis dari sebuah perusahaan baru untuk bertumbuh, tetapi juga jadi sumber disrupsi dan lokasi dimana terjadinya disrupsi tingkat berat terjadi.

Disrupsi menciptakan ketidaknyamanan, dari ketidaknyamanan itu, manusia akan mencari cara untuk membuatnya tampak lebih nyaman, dan bertumbuh lebih baik. Seperti yang kita telah lakukan selama manusia tumbuh menjadi spesies dominan di bumi ini.

Disrupsi positif

Tidak semua disrupsi berasal dari hal yang negatif.

Faktanya, juga ada disrupsi yang positif. Disrupsi positif ini diperkenalkan Kasali sebagai Self-Disruption. Dengan mencari kesalahan di diri sendiri, kita menciptakan ketidaknyamanan yang akan mendorong kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih baik.

Dari disrupsi diri sendiri ini, kita bisa menjadi orang yang lebih baik, mulai dari sebuah perusahaan menemukan inovasi baru, (seperti misalnya, pencipta OVO kesulitan membayar makanan ketika sedang buru-buru dan menunggu adanya kembalian, jadi mereka menciptakan Electronic Currency untuk mempermudah proses tersebut) hingga orang-orang memiliki produktivitas yang lebih baik.

Sebelum membahas anti-fragility, ini ada pesan sponsor sedikit, bagaimana cara meningkatkan produktivitas? (P.S. ini sebenarnya bukan pesan sponsor di mana aku dibayar untuk menuliskannya, jadi jangan langsung scroll karena takut ada seminar apa ngiklan di sini)

Disrupsi yang paling sederhana dan termudah untuk dilakukan adalah disrupsi yang diarahkan ke diri kita sendiri. Anggap anda seorang penulis, yang kesulitan menuliskan lebih dari 2000 kata dalam satu hari. Apa yang dapat anda lakukan sebagai manusia untuk meningkatkan produktivitas anda?

Anda akan mencari, dan kalau dalam kasusku, sepertinya itu terjadi karena aku sering malaweung (Bahasa Belanda ya :P) ketika menulis, dan aku mematikan jam-jam dan momen-momen di mana aku produktif untuk malaweung.

Kadang ini bisa dipecahkan kopi, tapi itu ada efek samping di mana malamnya aku baru tidur pukul 1.00 pagi (kadang 1 jam lebih cepat sih, tapi ngerti lah maksudnya) dan aku menghabiskan pagiku (yang seharusnya juga bisa produktif) untuk mengumpulkan tenaga dan kembali fokus.

Kopi menjadi solusi jangka pendek yang bagus, aku mungkin bisa meningkatkan produktivitasku secara jangka pendek hingga 2 kali lipat, mencapai 4000 kata dalam satu hari.

Tetapi esok harinya, jumlah kata tersebut turun menjadi 1000 karena adanya jam produktif yang terlewat. Plus aku tidak boleh dan tidak mau minum kopi 2 hari berturut-turut, meski itu punya potensi meningkatkan produktivitas.

Mungkin memang cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan meminimalisir distraksi. Seperti menulis dengan mouse yang baterainya penuh, dan wireless jadi tidak terganggu oleh kabel, mematikan internet untuk menghindari adanya distraksi dari artikel-artikel,pastikan laptop sudah tercharge penuh ketika sedang menulis, eh bentar, aku harus charge dulu, sisa 17% batre-nya nih… bentar, bentar…

Nah, dari sini, kita bisa melihat bahwa satu disrupsi kecil saja berarti banyak ya. Self-Disruption sederhana seperti ini saja sudah menunjukkan bahwa dengan mencari kesalahan di diri kita sendiri, kita akan berusaha untuk menghilangkan kesalahan tersebut, dan meningkatkan produktivitas.

Aku mulai meningkat kata-kata per hari kalau aku sedang mood dan punya ide untuk dituliskan. 3000 kata secara konstan bukan angka yang buruk kan? Morgan Stark juga bilang-nya I Love You 3000.

Dan aku terdisrupsi karena sekarang aku sedih karena Tony Stark mati. Gee, thanks Marvel.

Finally! An Avengers End Game reference!

Ehm, ke konsep Anti Fragile!

Anti-Fragility

Konsep Anti-Fragility milik Nassim Nicholas Taleb ini cukup rapih penjelasannya hingga dalam mataku ia bisa hidup di dunia yang penuh dengan disrupsi seperti yang diusulkan Rhenald Kasali.

Anti-Fragility sendiri merupakan sebuah konsep bisnis atau orang yang mengambil keuntungan dari adanya disrupsi, dan mereka secara tidak langsung membuat diri mereka imun dari disrupsi lain, karena mereka hanya bisa hidup dalam kekacauan.

Start-Up sendiri saja yang banyak orang ingin bikin itu punya angka sukses yang buruk sekali. Namun masih banyak orang yang membuatnya karena selalu ada kekacauan untuk dibereskan, dan toh, jika mereka gagal, tidak akan ada banyak kekacauan yang tumbuh dari situ. Mereka tumbuh dari adanya kekacauan, dengan harapan menghilangkan kekacauan tersebut, tanpa bisa dikacaukan.

Mereka tidak kuat ataupun kokoh, tetapi di saat yang sama mereka tidak akan pernah menjadi bisnis atau orang yang rapuh.

Tidak semua bisnis baru yang didesain dengan konsep anti-fragile ini dapat tumbuh dengan sukses, justru lebih banyak yang tumbang malah, tetapi jika anda dapat menjadi bisnis anti-fragile yang sukses, anda aman. Anda sudah masuk di fase di mana anda imun dari gangguan, meski mungkin saja hanya untuk sementara.

Bisnis anti-fragile sukses dapat tumbang atas kekacauan yang begitu besar, atau justru tumbuh lebih banyak karena adanya kekacauan tersebut. Sebagai contoh, dengan adanya marketplace dan perusahaan macam Bukalapak, dan Tokopedia, ada 2 bisnis anti-fragile yang sudah terlalu nyaman, dan akhirnya mereka mendapat disrupsi. Yang satu bertumbuh, yang satu malah melambat.

Dengan adanya E-commerce, tempat belanja jelas mulai terhambat, mereka yang tadinya sudah anti-fragile dapat bernafas dengan aman. Semua orang butuh (atau setidaknya ingin) berbelanja. Mereka imun karena banyaknya kekacauan seperti itu terjadi. Lalu, imunitas mereka hilang, dan dari kekacauan yang sebelumnya mereka nikmati itu, mereka terhambat.

Bisnis anti-fragile satunya lagi yang justru terdukung oleh E-commerce adalah bisnis kurir. Sebuah bisnis yang sekarang makin imun dan akan semakin anti-fragile. Kekacauan dalam keinginan orang-orang menerima benda baru, atau paket sesegera mungkin meningkatkan pemasukan mereka, karena jasa yang mereka tawarkan dekat ke tidak tergantikan. Mereka tumbuh dari kekacauan dan menerima kekacauan tersebut secara positif, dan sekarang, mereka imun dari kekacauan tersebut.

Anti-fragility adalah sebuah konsep yang sangat abstrak, dan ini hanya interpretasiku padanya, semoga ini cukup untuk membuat anda mengerti.

Sampai lain waktu!

 

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Sudah lama kayanya ya sejak ada tulisan mitologi. 1 tahun? Lebih? Anyway, dengan pengecualian tulisan mengenai The Burning Maze tulisan Rick Riordan, kayanya aku perlu menambahkan satu atau dua tulisan mengenai mitologi di sini.

Serial ini tidak terbatas ke Dewa-dewi yang umum anda temui, seperti Zeus, atau Ra, atau Thor, dan seterusnya, tetapi juga akan membuka jembatan ke dewa-dewi yang tidak begitu umum, macam… ya, nikmati saja dulu episode ini ya.

Oke, pertama-tama, sebagai pembuka serial, aku akan masukkan dewa Yunani favoritku, Apollo. Jika anda bertanya kenapa aku menyukai Apollo, alasannya ada banyak, tapi alasan utamanya sebenarnya cukup sederhana. Untuk seorang dewa lelaki, Apollo sangat feminin. Aktivitas favoritnya termasuk (tapi tidak terbatas ke) bermain musik, menulis puisi, dan juga memanah, yang merupakan metode bertarung yang sangat tidak “manly”.

Selamat menikmati.

Bagaimanakah dia bisa menjadi dewa?

Oke, ini akan menyulitkan. Ayah Apollo tidak lain dari Zeus, dan ibunya merupakan seorang Titan (sejenis dewa yang lebih kuno dari para dewa-dewa Olympia) bernama Leto, yang menjadi dewa para Ibu di Yunani sesudah drama kehamilan panjang lebar di bawah ini.

Seperti yang banyak orang ketahui, Zeus adalah (secara tidak resmi) dewa poligami di Yunani kuno. Jumlah pacar yang ia miliki sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat… banyak. Mungkin anda akan mendebat dan mengingatkanku bahwa itu hanya cara interpretasi para penulis mitologi di zaman dahulu kala karena banyak orang mengaku bahwa mereka adalah anak Zeus, tetapi bahkan jika kita tidak menghitung anak-anak Zeus dengan seorang manusia, pacar miliknya tidak sedikit.

Leto dan Zeus memutuskan untuk memiliki anak, dan ya, Leto hamil…

7 bulan kemudian sesudah Leto hamil dengan KEMBAR, ia menyadari bahwa ia sudah sampai ke fase melahirkan. Lalu Apollo lahir. Happy Ending! YAY! Oh, sebentar, ini mitologi Yunani, selamat menikmati plot twist brutal.

Ha. Terima kasih sudah menambah bebanku menulis cerita ini.

Perjalanan Apollo menjadi dewa di Olympus sebenarnya rumit, karena ibunya memiliki masalah kehamilan yang termasuk keliling dunia saat hamil, dikejar-kejar ular piton yang katanya gede banget, masuk ke gua yang berada di tengah-tengah Yunani kuno, dan tentunya, mencari sebuah pulau yang punya kemampuan teleportasi karena pulau itu satu-satunya pulau yang bisa menjadi tempat melahirkan bagi ibunya.

Leto tentunya menghadapi kutukan dari Istri Zeus yang sudah merasa muak akan ketidaksetiaan suaminya. Jadi, tentunya, karena suaminya tidak mungkin dihukum begitu parah, ia melakukan hal yang paling wajar. Ia melampiaskan amarahnya ke pacar suaminya.

Leto dikutuk, tentunya. Tidak ada satupun pulau, atau tanah yang memiliki akar, yang boleh menjadi tempat untuk melahirkan bagi Leto. Langit, lautan, dan juga dunia bawah tanah juga tidak bisa digunakan, karena ketiga penguasa daerah itu juga takut dengan Hera. (Zeus, Poseidon, dan Hades tidak ingin masalah dengan ratu para dewa tentunya… Terutama bagi Zeus yang cukup apes untuk memiliki istri yang galak seperti itu)

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia mencari tempat perlindungan di gua milik ibunya, Phoebe. Phoebe adalah seorang Titan yang mampu melakukan peramalan. Namun, sayangnya, gua tersebut dihinggapi seekor ular piton raksasa bernama Python karena tidak ada nama yang lebih kreatif dari itu.

Jadi, Leto kabur.

Dalam kondisi hamil kembar 7 bulan.

Dikejar-kejar seekor ular python raksasa.

Tanpa ayah dari kedua anak tersebut.

Dan dalam beberapa versi, juga dikejar kanibal raksasa yang dikirim oleh Hera. Untungnya aku baik, jadi dalam versiku, Leto tidak dikejar kanibal raksasa yang dikirim Hera.

Sesudah menerima ramalan yang berisi Syarat dan Ketentuan dari kutukan Hera, Leto menyadari bahwa hanya ada satu tempat dimana dia bisa melahirkan. Di sebuah pulau bernama Delos. Pulau tersebut merupakan satu-satunya pulau yang tidak memiliki akar.

Sayangnya, menurut hukum sains zaman baheula di Yunani, pulau yang tidak punya akar akan tertiup dan tergeser posisinya tiap harinya, dengan mudah ombak dapat menghempaskannnya dan memindahkannya.

Jadi akan butuh waktu yang sangat panjang untuk menemukannya.

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia membayar seorang pelaut, dan memintanya untuk berlayar sampai Delos dapat ditemukan.

Lalu Delos ditemukan. Cerita Apollo lahir sudah beres, Apollo dilahirkan di situ, bersama kembarannya, Artemis, dan kelahirannya disaksikan para dewi Olympia minus Hera.

Begitu lahir, Apollo langsung meminta sebuah gitar, dan sebuah busur serta panah.

Hal pertama yang ia lakukan? Bermain musik untuk mengisi keheningan di dunia ini, dan ia menjadi dewa terpenting bagi para seniman di dunia.

Oh iya, untuk orang-orang yang ingin tahu tanggal lahir Apollo. Tanggal 7, bulan 7, ketika ibunya hamil 7 bulan. 7 menjadi angka yang sakral bagi Apollo.

Ada beberapa versi menyatakan Artemis lahir terlebih dahulu dan membantu kelahiran kembarannya, dan juga ada beberapa versi dimana Apollo lahir sebelum Artemis lahir, dan ia memainkan sebuah lagu untuk menenangkan ibunya. Pilih saja yang mana.

Sesudah itu, Apollo melakukan hal yang dewa apapun akan lakukan sesudah lahir tentunya. Ia membalaskan dendam. Ular Piton yang tadinya mengejar ibunya ketika hamil… Woosh, ia bunuh dengan sekejap. Ia terbang ke depan gua di mana ular tersebut tidur, dan menembaknya dengan sebuah panah. Masalah selesai, ular tersebut mati!

Sesudah itu, apa yang ia lakukan? Ia terbang ke Gunung Olympus, rambut pirangnya berkilau, dengan gitar (karena Lira yang menjadi simbolnya belum diciptakan) di satu tangan, dan busur serta panah di tangan yang lain, menggedor pintu, dan meminta kursi Dewan Olympia.

Tiada yang berani menolak. Apollo tampak seperti seorang dewa, dan tentunya ia menjadi dewa yang amat penting. Artemis juga mendapatkan kursi dewan, namun dengan metode berbeda, dan aku tidak ingin mengetik terlalu banyak tentang itu.

Oke, dari lahir hingga ia menjadi anggota dewan Olympia. Sekarang, mari kita lihat hal-hal yang Apollo lakukan, dan seperti apakah tingkah lakunya?

Kepribadian, dan kekuatan.

Apollo adalah dewa laki-laki yang paling moody yang anda akan temukan.

Selain menjadi seorang dewa yang punya begitu banyak kekuatan dan domain kekuasaan, Apollo juga merupakan dewa yang sangat bergantung pada mood-nya untuk melakukan sesuatu. Ia dapat dengan mudah terdistraksi, dan ia juga dewa yang sangat sering melakukan hal yang ia sesali di kemudian hari.

Sama seperti tema angka 7 tadi, domain kekuasaan utama Apollo ada 7.

Musik, Memanah, Puisi, Ramalan (ceritanya panjang), Penggembalaan, Obat-obatan, dan Matahari.

Oh, Apollo dan Artemis juga merupakan dewa paling dihormati di Troya, jadi keduanya berperan cukup banyak dalam menjaga bangsa tersebut ketika sedang diserang oleh Prajurit Yunani.

Apollo sendiri baru menjadi dewa matahari sesudah banyak warga Yunani dan Romawi yang kebingungan dan menyalahkan dirinya sebagai dewa Matahari. Memberikan tugas tersebut dari Helios, ke Apollo. Apollo yang sangat flashy sebagai dewa membingungkan para raja Yunani kuno.

Mengingat bahwa ia sangat mudah bosan dan sangat Moody, (ia dapat dengan mudah terperangkap dalam satu emosi dan melupakannya beberapa hari kemudian) mari kita rekap beberapa kebodohan yang ia telah lakukan, dan emm, coba evaluasi sendiri mana yang kira-kira ia sesali.

  • Memerintahkan dan mengarahkan panah dari Pangeran Paris ke tumit dari Achilles.
  • Menguliti seekor/seorang Satyr (setengah kambing setengah manusia) bernama Marsyas karena ia kalah padanya dalam sebuah pertandingan musik.
  • Mengutuk Eros, (atau lebih dikenal dengan nama Cupid) dan menghinanya.
  • Mengejar seorang nymph bernama Daphne yang dikutuk oleh Eros untuk tidak pernah mencintai Apollo.
  • Mengusir dewa angin bernama Zephyros ketika sedang rebutan perhatian untuk seorang pasangan. Pasangan tersebut mati keesokan harinya karena Zephyros mengendalikan angin untuk melemparkan sebuah piringan besi ke pinggiran kepala pasangannya.
  • Dan masih banyak lagi.

Apollo begitu keras kepala dan sangat meledak-ledak ketika melakukan sesuatu hingga ia tidak dapat fokus dan serius seratus persen dalam melakukan sesuatu.

Selain itu, Apollo yang sudah jelas inkonsisten ini sering melakukan banyak hal yang ia tidak ingin lakukan, hanya karena mood-nya sedang jelek.

Sekarang, anda ingin menanyakan kenapa aku masih menyukai dewa ini?

Meski ia sangat moody, Apollo banyak disukai orang. Orang-orang akan selalu membutuhkannya, kapanpun, dan dimanapun.

Seorang seniman jelas membutuhkannya, seorang petani membutuhkannya karena ia dewa para gembala juga, seorang jendral membutuhkannya untuk memberikan keberuntungan bagi para pemanahnya dan para mediknya, dan terakhir, seorang raja juga membutuhkannya karena dia dapat memberikanmu informasi tidak jelas akan masa depanmu.

Apollo disukai warga Yunani dari pangkat apapun, dan apapun pekerjaannya.

Selain itu, walau Apollo moody dan sombong, ia bukan dewa yang sombong karena dia memang sombong dari sananya. Ia menjadi sombong dan merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus karena semua orang membutuhkannya, bukan karena karakternya memang sombong.

Ia tidak seperti beberapa dewa lain yang karakternya dibentuk semacam tragedi, justru sebaliknya. Karakter Apollo dibentuk atas hal yang bahagia, dan karakternya yang tidak stabil itu menciptakan banyak tragedi.

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Kembali di serial Taktik Sepakbola, terutama mengingat bahwa belum ada pertandingan sepak bola yang dimainkan untuk menjadi contoh, ini adalah momen yang sempurna untuk membahas taktik yang sedang ngetren di dunia sepakbola.

Kali ini, taktik yang akan dibahas tidak lain dari Pressing.

Liga Champions 2018/2019 menunjukkan seberapa menyeramkan dan efektifnya tim-tim yang ahli dalam memanfaatkan pressing.        Keempat semifinalis di turnamen tersebut menggunakan sejenis variasi dari pressing sebagai bentuk dasar sistem. Kesuksesan ini tercerminkan dari keempat tim yang mencapai titik tersebut. Selain keempat semifinalis, Manchester City juga mencapai perempat final dengan menggunakan variasi pressing yang sangat sesuai dengan ideal pressing Cruyff.

Aku sudah membahas Gegenpress, dan untuk menghindari kebingungan, pressing dan gegenpress adalah dua hal yang berbeda. Counter-press atau Gegenpress merupakan variasi dari pressing mendasar yang diajarkan oleh Johan Cruyff pada akademi Ajax Amsterdam dan akademi La Masia milik Barcelona, tetapi keduanya berbeda.

Kelahiran Pressing

Sebagai bagian dari filosofi Total Football yang populer di Belanda pada era 1970-an, Rinus Michels dan Johan Cruyff merupakan pelatih pertama yang memfokuskan diri dalam bidang ini. Michels mendidik Cruyff, dan Cruyff yang memiliki karir pemain gemilang memperhalus dan menyempurnakan sistem ini.

Total Football sendiri menciptakan 3 pilar (anda bisa berargumen bahwa ada pilar keempat, dan itu akan kubahas di bawah) sendiri yang sayangnya sering dilihat secara terpisah oleh para pemain dan beberapa pelatih.

Pilar pertama Total Football ada di Possession play. Kebergantungan pada penguasaan bola untuk mendominasi lawan. Pilar kedua ada di Pressing, merebut bola untuk memastikan bahwa bola terus dikuasai dan lawan bisa didominasi. Pilar ketiga adalah kebebasan posisi. Era sepakbola awal-awal sangat fokus pada menyerang (dengan skor 9-5 anda mungkin berpikir bahwa ini pertandingan Hockey kebanding sepakbola) dan tampaknya pemain-pemain menjadi jauh lebih rigid dalam bergerak. Sepakbola Belanda mengubah itu, memberi fleksibilitas bagi para pemain untuk bertindak.

Seperti kusebut, ada pilar keempat, namun pilar ini bukan pilar yang begitu tampak sebagai pilar yang taktis. Pilar keempat Total Football ada di fakta bahwa pemain harus menikmati bertanding dalam sebuah pertandingan. Sampai sekarang saja (di era dimana fisik pemain diperhatikan gila-gilaan) tim-tim yang menggunakan varian dari Total Football kewalahan dan kelelahan, jika anda tidak menikmatinya, mungkin anda perlu bermain di tim lain saja.

Pada era Total Football pertama, Pressing berfungsi untuk merebut kembali bola, sesudah bola kembali dimiliki, perubahan posisi yang drastis serta penguasaan bola yang inteligen harus ikut bermain. Jika bola tidak dikuasai lagi, sistem Total Football pada era tersebut meminta pemain untuk berubah posisi, merebutnya kembali, dan berubah posisi lagi sambil menyerang.

Evolusi Dimulai                                

Total Football mendominasi. Ajax memenangkan 3 piala Eropa (sekarang menjadi Champions League) dalam 3 tahun.

Taktik ini cukup populer, dan Total Football sendiri terpecah menjadi 3 pilar yang kusebut di atas sebelum direvolusikan oleh budaya sepakbola tiap negara.

Spanyol memfokuskan diri pada penguasaan bola dan perubahan posisi yang konstan. Ini awal dari lahirnya Tiki Taka. (But, please… don’t call it that, it’s more complicated than just Tiki Taka) Ini alasan mengapa La Liga Modern sangat bergantung pada penguasaan bola. Masih banyak reaktivitas yang bergantung dan cara dua formasi terbentuk dengan satu sama lain, namun umumnya, penguasaan bola adalah cara paling sederhana mendominasi pertandingan.

Jerman memfokuskan diri pada perubahan struktur yang cepat. Bundesliga menjadi sebuah liga yang bergantung pada transisi, dan seberapa rapih, efisien, dan terstruktur sebuah tim bisa mengatur dirinya. (Ini kelahiran dari Gegenpressing punya Jürgen Klopp, kujelaskan di bawah)

Italia pada sisi lain, menciptakan sejenis… apa bahasanya ya… Struktur yang rapih. Struktur dan kepadatan di sebuah liga ini tidak begitu bergantung pada ketiga pilar Total Football. Justru, struktur yang rapih dan permainan bertahan yang tertutup di Italia melahirkan sejenis pertandingan yang defensif, dan membuka serangan balik yang berbahaya. Arrigo Sacchi memanfaatkan serangan balik dan struktur yang sempurna ini dengan sistem 4-4-2 miliknya.

Reaktivitas tim Italia tampak lambat. Selama Catenaccio masih hadir (diagram di bawah) mereka merupakan tim yang paling terkena oleh sistem Total Football ini. 1-4-2-3 atau 1-4-3-2 yang umum dilihat di sistem Catenaccio ini tidak bisa bergantung pada serangan balik khas Italia karena adanya banyak lubang di sistem pertahanan ini ketika bertemu dengan tim-tim yang mengaplikasikan Total Football. Formasi khas Italia yang memanfaatkan Libero ini sudah mati. Akan kujelaskan di artikel lain, anda cukup tahu bahwa Catenaccio sudah tidak ada.

Seperti dilihat di gambar, Catenaccio memasang 1 pemain bertahan ekstra untuk merapihkan kesalahan dan menghindari serangan balik tercipta. Offside tidak berlaku karena pada era Catenaccio, offside dihitung dari pemain nomor tiga dari belakang, bukan nomor dua. Dalam kasus ini, pemain nomor 6 adalah pemain yang menjadi garis offside, bukan pemain nomor 4 seperti pada era modern.

Berarti terakhir adalah…

Inggris… umm. Sebelum terciptanya Liga Primer Inggris, Inggris sendiri merupakan liga yang sangat… apa bahasanya ya… Tertutup. Strategi paling mendasarnya adalah dengan melempar bola ke tengah lapangan, lalu ke kotak penalti dan sundul atau tendang bola tersebut ke belakang kiper. Ceritanya panjang, tetapi juga ada kok tim yang bermain sepakbola dengan indah di Liga Inggris sebelum tahun 1992 dimana Liga Primer Inggris tercipta.

Catatan, struktur dan posisi adalah dua hal yang berbeda. Posisi di sini bermaksud pada pergerakan pemain, perubahan posisi bisa merubah struktur meski itu tidak selalu terjadi. Jika struktur berubah, misalnya sebuah tim bertahan dengan formasi 3-4-3, dengan gelandang bertahannya turun untuk menjadi bek ketiga, dan kedua bek sayapnya maju untuk mempercepat transisi… Namun, ketika menyerang, tim yang sama langsung merubah formasi menjadi 4-3-3, dengan si gelandang bertahan kembali ke tengah lapang.

Variasi Pressing

Total Football yang tadinya satu ini terpecah menjadi 3, ketiganya juga memiliki variannya masing-masing, dan sekarang, karena revolusi dan budaya yang berbeda, tiap pelatih yang ingin mengaplikasikan Total Football harus mempelajari ketiganya secara terpisah, lalu mencari cara untuk menyatukan varian mereka ke sistem yang sama.

Wah, terima kasih evolusi taktik , anda mempersulit hal yang sama, dengan mempisahnya menjadi 3 hal berbeda, hanya untuk perlu disatukan kembali!

EHEM… maaf. Kembali ke topik…

Pressing sendiri terevolusi menjadi… entah berapa puluh jenis dan variasi. Pelatih-pelatih yang memasukkan pressing dalam sistemnya, atau membangun sistem pressing sebagai intisari timnya ada 5. Jürgen Klopp (Liverpool), Mauricio Pochettino (Spurs), Erik Ten Hag (Ajax), Thomas Tuchel (PSG), dan Pep Guardiola (Manchester City).

Aku akan membahas ketiga tim yang setidaknya masuk semi-final liga Champions. Liverpool-nya Klopp, Spurs-nya Pochettino, dan Ajax-nya Ten Hag.

Jürgen Klopp (Gegenpressing/Counter Pressing)

Klopp merupakan pelatih yang memanfaatkan pressing bukan sebagai metode untuk membangun serangan kembali. Melainkan untuk menyerang. Seperti disebut di atas, Bundesliga adalah Liga yang bergantung pada transisi dan perubahan struktur. Dengan kecepatan pemain yang ia miliki di Dortmund, Klopp memaksa lawannya untuk bertransisi atau menerima satu gol. Ketika pembangunan serangan melalui penguasaan bola gagal, ia ingin lawannya untuk terus bermain dan membangun serangan. Perubahan posisi yang tidak rapih dan struktur yang tidak jelas justru merupakan hal yang bagus. Klopp memenangkan 2 gelar Bundesliga dengan sistem yang “berantakan” ini.

Ada satu artikel khusus buatanku untuk Gegenpressing, jadi baca itu saja. Aku tidak akan banyak membahasnya.

Gegenpressing Klopp di Liverpool berbeda dengan di Dortmund yang mengandalkan posisi berantakan, alih-alih, Pressing Klopp bergantung pada struktur yang rapih dan pembangunan serangan yang bagus juga jika lawan memberikan bola-nya pada Liverpool.

Dasarnya, kau menyerang, kami bertahan (mereka punya Van Dijk  toh) lalu kami serang balik, dan kami sangat bagus dalam menyerang balik. Kau bertahan? Kami menyerang, dan kami bagus dalam menyerang.

Seperti tampak di diagram, Gegenpress meminta dua pemain (atau lebih) terdekat untuk melemparkan tubuhnya ke pemain yang merebut bola dari sebuah serangan.

Garis Kuning merupakan jalur pertama yang dimanfaatkaan untuk memaksa lawan mengoper ke pemain nomor dua, lalu pemain nomor 9 akan mencari jalur dan lari ke pemain yang menerima operan. Firmino adalah pemain yang mengatur pressing Liverpool.

Jika lawan bertransisi dan melewati 2 orang yang sedang pressing, Fabinho yang dimainkan menjadi gelandang jangkar (meski Wijnaldum dan Keita juga pernah bermain di posisi tersebut dengan nyaman, cetakan pemain yang Klopp cari dipenuhi Fabinho) akan merebut bola dan mendaur ulang serangan yang sudah dibentuk. Firmino menjadi pemain utama yang menentukan dan membentuk struktur counter-pressing Liverpool.

Mauricio Pochettino (Pressing High)

Jika Klopp menggunakan Pressing dengan tujuan untuk merebut bola dan kembali menyerang menggunakan bola yang hampir pasti akan direbut, Pochettino fokus ke struktur dalam memaksa lawan terus bermain. Pochettino tidak begitu ingin pemainnya untuk merebut bola, setidaknya tidak sebanyak Klopp, namun Pochettino memanfaatkan pressing untuk memperkecil ruang lawan, dan membuat mereka pindah ke posisi yang tidak nyaman.

Pochettino memanfaatkan sistem yang mirip dengan Klopp di Southampton, namun di Tottenham Hotspurs, ia menggunakan sistem yang hampir seluruhnya berbeda.

Di Spurs, Pochettino meminta keempat penyerangnya (dalam 4-2-3-1, keempat penyerang adalah 3 dan 1 yang di depan) untuk melakukan Pressing sebagai satu struktur ke barisan belakang lawan. 3 pemain akan diam di tempat, dan satu pemain akan maju. Lawan harus melewati si pemain yang akan maju ini dengan mengoper bola, baik langsung ke depan, atau ke midfield mereka dulu.

Jika bola yang diberikan adalah bola lambung, Vertonghen atau Alderweireld akan menyundulnya dengan cepat, memberi bola untuk kedua gelandang jangkar, jika bola dioper melalui bawah, kedua gelandang jangkar atau 3 penyerang di depannya akan berusaha mengarah ke bola dan mendaur ulang serangan.

Pressing yang dilakukan Pochettino adalah Fake-Pressing. Mereka hanya melakukan pressing untuk memaksa lawan bermain, bukan karena mereka ingin memenangkan bolanya.

Pressing ini juga bermanfaat ketika menyerang, karena akan ada momen dimana lawan merubah posisi untuk melakukan zonal marking dan memberi jarak antara mereka dan lawan, dan memaksa lawan untuk menyisakan ruang dan garis-garis yang bisa dieksploitasi oleh ketiga penyerang tambahan Spurs (Dele Alli, Christian Eriksen, dan Son Heung Min biasa bermain di belakang Kane)

Seperti dilihat di gambar, pressing Pochettino sebenarnya tidak memiliki niatan untuk merebut bola, tetapi hanya untuk memaksa lawan terus memutar bola dan akhirnya mengirimkan pemain ke depan.

Dalam diagram ini, bek tengah bernomor 4 punya pilihan mengoper ke kiper, bek tengah yang lain, gelandang bertahan, atau bek kanan, semuanya dengan resiko bahwa striker nomor 9 atau pemain lainnya melanjutkan press.

Lawan akan memainkan bola jauh dan bek Spurs akan membuangnya untuk dikendalikan dan didaur ulang oleh kedua gelandang bertahan. Alderweireld sendiri (Nomor 4) memiliki angka kemenangan duel yang bagus, 69.6%, keempat paling besar di Liga Primer Inggris.

Erik Ten Hag. (Pass Lane Pressing).

Erik Ten Hag melakukan gaya pressing yang berbeda dari keduanya. Jika Pochettino berharap bahwa pressing digunakan untuk memaksa lawan membuat keputusan yang buruk, dan jika Klopp berharap bahwa pressing digunakan untuk merebut bola, Ten Hag meminta pemainnya melakukan pressing dalam situasi yang berbeda.

Ten Hag ingin pemainnya untuk melakukan marking yang rapih di midfield, lalu meminta salah seorang gelandang, atau sayapnya untuk meninggalkan orang yang ia mark, demi melakukan pressing ke pemegang bola. Ia juga meminta striker tengahnya untuk memaksa si pemegang bola untuk mengoper ke orang yang ditinggalkan tadi.

Dari situ, orang terdekat ke pemain tersebut akan melakukan press dengan cepat, dan memenangkan bolanya kembali.

Dasarnya ia memaksa lawan mengoper bola ke orang yang akan langsung dipressing, dan memenangkan bola.

Taktik ini membutuhkan pemainnya untuk memiliki penentuan waktu yang sempurna, dan intelegensia yang cukup serta kedisiplinan dalam memposisikan diri.

Karena marking yang rapih, lawan tidak memiliki opsi kecuali untuk mengoper ke pemain nomor 10. Begitu bola berjalan, 1 atau 2 pemain terdekat langsung berlari untuk merebut kembali bola dan mendaur ulang serangan.

DIAGRAM

Yap, 3 variasi taktiknya sudah dijelaskan, dan semoga anda tidak bosan membaca 1600 kata dari tulisanku… Sampai lain waktu!

Masalah Konsistensi

Masalah Konsistensi

Where were we?

Empat bulan kosong, mungkin lebih, dari mana kita? Apakah aku ada hutang serial yang perlu dibayarkan? Hmm.

Sepertinya membuat artikel mengenai Aladdin, atau, film apapun itu yang sedang ada di bioskop, bias jadi ide menarik. Tetapi untuk sementara, kita simpan saja dulu idenya.

Aku sudah menghabiskan bulan-bulan ini untuk menyerap ratus ribuan loc dan halaman dari buku-buku (oke, secara teknis memang E-Book, jadi hanya ratus ribuan location Kindle) tetapi buku tetaplah buku.

Ooh aku juga sudah menulis buku, dan kecepatanku menulisnya tidakburuk! Kurasa ia bisa beres sebelum 17 Agustus… Hmm…

Diantara banyak buku yang sudah kubaca, aku menemukan suatu jenis buku yang menggambarkan banyak ironi dan kekeliruan dari cara manusia berpikir.

Mungkin anda pernah mendengar tentang seorang psikologis yang memenangkan Nobel di bidang Ekonomi, namanya tidak lain dari Daniel Kahneman, dan almarhum sobatnya, Amos Tversky. Kahneman menggambarkan miskonsepsi-miskonsepsi dan “Blunder” sederhana yang sering dilewatkan oleh orang-orang.

Banyakalasan orang-orang menjadikorban blunder ini. Mungkin karena mereka terlalu percaya diri, memang tidak tahu, dantidakberpikirsecararasionalsaja, tetapi, adabanyakalasan blunder-blunder initerjadi.

Dan hari ini, aku akan membahas salah satu blunder paling sederhana. Mengenai performa dan konsistensi. Kurasa ini artikel yang tepat, mengingat aku sudah hilang empat bulan lebih.

Fortuna’s Sprint

Seorang Komedian pernah bercanda, resep sukses? Oh, mudah!

Sukses = Bakat + Keberuntungan

Sukses skala besar = Bakat + Banyak sekali keberuntungan.

Pada kenyataannya, kita bisa merubah sedikit dari lelucon itu, dan menambahkan kerja keras dalam resep itu, dan kurasa, formula itu dapat diaplikasikan secara konsisten. Semakin beruntung seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan sukses.

Ya, berdoa saja ke Fortuna, dan berharap hari ini anda sedang beruntung. Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik yang sedikit di atas rata-rata. Namun, untuk mencapai titik sukses yang maksimal, anda perlu keberuntungan.

Kahneman menggambarkan situasi ini ketika ia sedang melatih sebuah pasukan pilot di militer Israel. (Don’t ask me how he got there, just read his book, Thinking: Fast, and Slow.).

Tetapi, untuk memberi bayangan angka yang lebih mudah, serta mempermudah analogi juga, kita bisa anggap Kahneman sedang melatih beberapa atlit sprint, hanya sebagai asisten.

Ia memberi sebuah instruksi sederhana dan menyatakan bahwa ia sudah menyiapkan hadiah bagi atlit yang paling sukses. Pelatih tersebut menyangkal dan menyatakan bahwa pemberian hadiah hanya menurunkan performa. Ia menyarankanuntuk menghukum atlit-atlit yang memiliki performa buruk.

Kahneman menyangkal.

Ia meminta sang pelatih untuk meminta tiap atlit untuk mengambil 5 sprint, dan melakukan hal yang sama keesokan harinya, dan juga esoknya lagi. Ia mengambil angka selama 3 hari, dan 5 sprint per harinya. Angka tersebut tidak disebutkan agar tidak ada tekanan untuk mengulangi hal yang sama.

Dan, ia mendapat hasil menarik. Anggap sajaada 5 atlitlari, danakuakanmemberinyanama-namaberbeda, danhasil yang miripdenganhasil yang Kahnemanjelaskan.

Catatan: Militer Israel tidakmemberikanizinuntukmengeluarkanangkanya, dan sebenarnya ia hanya menjelaskan performa di buku miliknya dengan 3 kata, baik, buruk, atau biasa. Angka disini sepenuhnya fiktif.

Catatan 2: Jika anda lupa, aku merubah angka di artikel ini menjadipelari sprint, untuk mempemudah pembuatan angka.

Di bawah 13.5detik = Baik

13.5-14.9 detik = Rata-rata

Di atas 15 detik = Buruk.

  • Atep
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.2 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 12.1 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.23 detik
  • Iwan
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 11.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 15.7 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.8detik
    • Rata-rata total: 14.1detik
  • Budi
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 13.6 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.8 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.26 detik
  • Kevin
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.5 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 12.9detik
    • Rata-rata total: 14.73detik
  • Ali
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.4detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.0 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.9detik
    • Rata-rata total: 14.43 detik

Dengan mudah dapat disimpulkan (dari rata-rata total) bahwa Iwan merupakan pelari paling berbakat di antara semuanya, dan Kevin merupakan pelari yang butuh lebih banyak kerja keras untuk bisa sukses.

Perlu dilihat, tetapi, di antara semua sprint ini, Budi yang memiliki konsistensi terbaik. Budi tidak pernah mendapat angka yang begitu buruk, ia hanya mendapat 3 hasil rata-rata. Pada sisi lain, Kevin juga satu-satunya pelari yang tidak menerima penurunan kualitas. Hasilnya selalu membaik, meski pada hari ketiga, ia tetap bukan yang tercepat, dan ia hanya mendapat hasil rata-rata.

Kahneman ingin menyampaikan bahwa, terkadang, kita terlalu cepat mengambil keputusan dan menyatakan bahwa kemampuan tiap pelari di bawah rata-rata, atau di atas rata-rata tanpa data yang cukup. Selain itu, juga ada fakta bahwa, pada akhir hari, semua orang pernah merasa menjadi rata-rata.

Melihat  dari hasil rata-rata tiap pelari, performa rata-rata mereka pada ketiga hari tidak begitu berbeda. (Oke, 0.3 detik mungkin perbedaan besar dalam sprint 100 meter, tapi, anda mengerti maksudku apa)

Kelima pelari tersebut memiliki bakat dan kerja keras yang berbeda tentunya, namun pada akhirnya, tidak ada pelari dengan bakat selevel Usain Bolt dari mereka berlima. Hanya ada yang lebih baik dari rata-rata, dan yang memang biasa-biasa saja.

Dewi pelit

Seberapa baik hasilanda, atau seberapa buruk hasil anda, berapapun angka anda, pasti akan ada perubahan.

Anda mungkin sedang beruntung, jadi anda mendapat hasil baik. Lalu, juga, jangan lupa, jika hasil anda buruk, sepertinya tidak mungkin angka tersebut bisa menurun lebih parah. Bagi orang yang mendapat hasil buruk, satu-satunya jalan adalah keatas.

Seberapa baik anda, seberapa berbakat anda, anda hanyalah manusia rata-rata. Bakat hanya bisa memberikan anda suatu hasil rata-rata yang lebih baik. Sisanya, kita perlu bergantung pada kerja keras, dan sayangnya, dewi yang pelit dan plin-plan… alias Fortuna.

Fortuna mungkin dewi yang disembah oleh para prajurit dan raja Romawi, namun, kata Fortuna sendiri juga dapat digunakan untuk perumpamaan keberuntungan.

Satu hari anda memiliki performa luar biasa. Hari lain? Performa anda biasa-biasa.

Orang yang begitu berbakat hanya muncul sesekali tiap generasi. Kecuali anda Cristiano Ronaldo, Michael Jordan, Taylor Swift, atau Albert Einstein, yang memiliki nilai rata-rata (dari bakat) yang begitu tinggi, serta dengan kerja keras yang cukup… Anda perlu bergantung pada keberuntungan, dan kerja keras.

The Law of Success

Bagian dari artikel ini semacam mendukung kepercayaan untuk tidak percaya pada motivator. Motivator biasanya mendukung fakta bahwa orang-orang istimewa.

Aku mendukung sebaliknya. Orang-orang yang memang istimewa akan sukses begitu mereka bekerja keras.

Untuk sukses, ada 4 unit yang perlu dijadikan faktor. Bakat, Kerja Keras, Keberuntungan, dan yang terakhir, skill.

Kurang lebih, rumusnya seperti ini.

Skill = Kerjakeras + bakat. Sukses = Skill + keberuntungan.

Keberuntungan dapat membuat anda sukses, tapi pada akhir harinya, anda perlu bakat dan kerja keras. Salah satu tidak cukup lagi…

Orang-orang sekarang mencari “The Next Google” dan mereka juga tertarik untuk membuat sebuah startup yang sukses. Sayangnya, ini tidak mungkin kecuali anda memiliki keberuntungan yang sangat banyak, atau bakat yang sangat banyak.

Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik di mana anda sedikit di atas rata-rata. Anda butuh kerja keras dan terus menerus belajar agar anda memiliki satu set skill yang dapat dimanfaatkan secara konsisten, dan bukan hanya saat beruntung.

Bagaimana cara anda sukses? Anda harus konsisten, dan anda berharap akan keberuntungan. Konsistensi yang cukup dapat memberi anda suatu bentuk kesuksesan kok.

Just don’t pray to be someone THAT special and work hard enough… Anda akan sukses.

Jadi, apa rahasia konsistensi? Kerja keras, dan kerja terus. Hasilnya tidak akan bohong.

Sampai lain waktu!

 

 

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp. Salah satu pelatih terbaik dunia, dikenal karena gaya melatihnya yang tidak umum, jenggotnya yang tidak dicukur, dan kebiasaannya selebrasi dengan sangat lebay… hingga kacamatanya ia rusak. Akhir musim Liga Inggris kali ini melihat Klopp memecahkan rekor Runner Up dengan poin terbanyak sepanjang sejarah Liga Primer Inggris. Meski masih belum juara juga, (next year will be our year!) pasukan Liverpool pimpinannya merupakan satu-satunya tim Liverpool yang dapat memenangkan 30 pertandingan dalam satu musim Liga Inggris sejak tahun 1960.

Musim ini juga musim pertama dimana dia membawa pulang trofi Liga Champions ke Inggris. Meski ia tidak mampir dulu ke Manchester untuk memamerkannya, warga di Merseyside terus mendukungnya.

Serial (yang aku sudah entah memulai beberapa ratus namun belum pernah dibereskan, tolong doakan aku bisa bereskan serial ini) ini akan menceritakan dengan singkat karir Klopp dan kisah hidupnya. Selamat menikmati!

Bermain, Bertahan, dan Berlari

Klopp memulai karirnya sebagai pemain di Mainz 05, sebuah klub kecil yang bermain di divisi dua Jerman, belum pernah sekalipun, Mainz merasakan perasaan bermain di Divisi pertama. Meskipun begitu, karir pemainnya tidak begitu gemilang, karena sebagai pemain, ia hanya terperangkap di divisi dua Liga Jerman.

Kesempatan terbaiknya untuk mendapatkan promosi ke Bundesliga gagal karena kesalahan yang ia buat saat bermain menjadi bek kanan. Mainz kalah pada hari terakhir karena Klopp memberikan bola ke lawan di ujung kotak penalti. Skornya berada di 2-1, dan Mainz yang sedang mengumpulkan bola dan menciptakan begitu banyak peluang terpukul karena kesalahan Klopp. Skornya turun ke 3-1, dan seandainya mereka mencetak gol pun, perjalanan menuju kenaikan ke Bundesliga masih jauh, mereka masih butuh satu gol lagi.

Seandainya pertandingan tersebut berakhir dengan hasil seri, Mainz akan naik dan merasakan permainan di divisi satu Bundesliga. Mereka gagal.

Oke, ia membuat kesalahan, tetapi… Tidak perlu disangkal, ia merupakan salah satu pemain bertahan terbaik di divisi dua, terkenal akan stamina-nya, dan beberapa gol cantik yang ia sering cetak.Sangat aneh. Klopp sendiri memiliki kebiasaan menendang tendangan bebas meskipun ia bermain di posisi Bek Tengah atau Bek Kanan. Ini mungkin alasan salah satu penendang bebas favorit Klopp di Liverpool adalah seorang Bek Kanan muda, orang Scouse yang tumbuh di akademi Liverpool, tidak lain dariTrent Alexander-Arnold.

Kegagalannya sebagai pemain di Mainz tidak menutup karirnya untuk menjadi pelatih, justru, Klopp mendapat mentor terbaiknya di Mainz, bersama dengan Wolfgang Frank, dan pelatih Jerman yang satu ini menjadi figur terpenting dalam proses pembentukan Klopp sebagai pelatih. Ia sudah dilatih oleh Frank sejak ia masih menjadi pemain.

Frank merupakan seorang jenius dalam memanfaatkan sistem. Ia menciptakan sistem hardcore, heavy metal yang melelahkan tetapi efisien. Sebuah sistem yang sangat bergantung pada pressing. Dasarnya, Frank meminta pemainnya untuk melemparkan badannya ke pemain lawan yang merebut bola. Ini merupakan dasar dari taktik modern yang dikenal dengan Gegenpress.

Pada akhir karirnya sebagai pemain di usia 33 (umum bagi seorang pemain bertahan, terutama di divisi dua untuk bermain di usia ini) ia menjadi asisten pelatih untuk Wolfgang Frank.

Namun, hanya dalam tahun kedua Klopp menjadi asisten pelatih, Frank mendapatkan hasil buruk. Mainz mengalami krisis ketika pemain-pemain kuncinya dibeli oleh tim-tim di Bundesliga, dengan gaji yang jumlahnya tidak main, dan dengan kemampuan finansial klub tersebut yang di bawah rata-rata, bahkan untuk klub divisi dua, (ini ditandai dengan stadion yang biasa hanya terisi seperempatnya saja, sponsor hanya berasal dari perusahaan berbasis lokal, dan juga akademi yang pada dasarnya tidak berjalan dengan baik) mereka tidak dapat menemukan pengganti yang pantas.

Ini berujung buruk, tentunya. Awal Januari, ketika Bundesliga memulai pertandingan kembali sesudah istirahat 1 bulan, Mainz berada di posisi relegasi ke divisi 3, yang hanya berisi pemain semi-professional, dan hampir tidak mendapatkan uang sama sekali dari siaran Televisi, hanya dari tiket pertandingan dan sponsor. Frank pun dipecat. Klopp menjadi orang pertama yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Awal Mula…

Jürgen Klopp adalah orang yang karismatik, lucu, dan terkadang berapi-api. Selama ia menjadi asisten pelatih, Klopp menggunakan selera humor serta keterbukaannya untuk membujuk direktur Klub dalam memilih dia sebagai pengganti Frank. Dengan kemampuan finansial yang rendah, direktur klub tersebut setuju, asalkan ia tidak meminta gaji lebih tinggi dari Frank.

Hasil Klopp langsung tampak. Ia memanfaatkan sistem yang sama, dengan efisiensi lebih, dan gaya motivasi yang tidak dimiliki oleh Frank.

Tengah musim ia ditunjuk, hasil Mainz membaik dengan efisiensi sistem baru yang Klopp berikan, alih-alih melemparkan pemain ke muka lawan yang sedang memegang bola dan hanya melakukan High Pressing, Klopp meminta pemainnya untuk lebih percaya diri ketika memegang bola, dan langsung melakukan pressing ketika bola tersebut direbut. Ini menciptakan pertandingan yang sukses. Setidaknya, jika pertandingannya tidak dimenangkan, penontonnya mendapat pertandingan yang menegangkan.

Dampak strategi Klopp sepertinya tidak hanya berhenti di lapangan. Gaya pertandingan yang menyenangkan dan “Heavy-Metal” ini menarik sejumlah penonton, menaikkan jumlah orang yang menonton pertandingan di Mainz sampai 15%.

Klopp tidak berhenti di situ. Ia ingin memberikan pemainnya semangat lebih, dan ia tahu persis pertandingan seperti apa yang memberikannya semangat ketika ia masih menjadi pelatih. Pada derbi-derbi dengan klub di sekitar kota Mainz, hampir bisa dipastikan stadion penuh. Derbi terpenuh yang Klopp rasakan sebagai pemain merupakan musim dimana Mainz hampir meraih promosi, namun gagal.

Klopp merasa seolah-olah ia dapat berlari 5 kilometer lebih banyak jika ada supporter yang menyanyikan lagu, dan ia merasa bahwa pemain-pemainnya akan bisa bermain dengan semangat lebih banyak jika ada supporter yang menonton, apalagi yang mendukung.

Untuk ini, Klopp perlu (sekali lagi) memanfaatkan kemampuan sosialisasi dan karismanya. Ia tidak hanya membujuk sekedar teman-temannya saja… Ia membawa Mainz ke level baru. Gaya pertandingan yang dikenal dengan Carnival Club yang ia bawa dari Mainz.

Tiap hari Jumat, tepat satu hari sebelum pertandingan, atau hari Minggu, satu hari sesudah pertandingan FSV. Mainz 05 mengadakan sebuah acara di balai kota Mainz dengan tujuan mengajak orang untuk ikut ke stadion dan menonton sepakbola.

Pada awal-awal acara ini digelar, banyak orang merasa tersentuh. Klopp yang memang karismatik dan lucu ini membuat orang-orang merasa bahwa sebuah klub yang harusnya menghasilkan banyak uang masih cukup peduli untuk membuat acara seperti ini dengan tujuan mengajak orang untuk menonton pertandingannya.

Meski belum tampak, (dan belum ada orang yang benar-benar tahu ide Klopp secara jangka panjang) rencana Klopp sukses. Sanking suksesnya rencana ini, dan sering terjadinya stadion yang tiketnya terjual habis, Klopp meminta walikota untuk membuat stadion baru bagi Mainz. Permintaan tersebut awalnya ditolak, namun dengan bantuan sponsor (perusahaan asuransi asal kota Mainz) yang Klopp dapatkan, Stadion Mainz sekarang merupakan hasil dari Carnival Club milik Klopp ini.

Musim pertama Klopp di FSV Mainz belum benar-benar menunjukkan perbedaan dari permainan. Ia hanya fokus pada mental, fisik, dan finansial. Perubahan taktik drastis baru tampak ketika klub tersebut memiliki uang dan anggaran untuk mendapatkan pemain-pemain baru.

Revolusi Finansial

Klopp mengakhiri musim pertamanya (17 pertandingan) dengan sebuah kemenangan, memastikan bahwa Mainz selesai dalam posisi keenam Bundesliga 2.

Uang yang ia terima dari penjualan tiket musim lalu, dan tiket musiman, serta sponsor baru dari perusahaan asuransi lokal yang sudah memberikan uang untuk mendapatkan hak nama stadion dimanfaatkan untuk merenovasi stadion dan meningkatkan kapasitas.

Klopp siap berburu pemain di divisi dua. Apa yang Klopp cari? Klub-klub modern, biasanya di papan atas bergantung pada direktur olahraga untuk mencari pemain, namun Klopp belum bisa melakukan itu, ia harus bertahan dengan anggaran dan kemampuan finansial yang ia miliki.

Klopp memutuskan untuk mencari pemain berdasarkan kepribadian sebelum kemampuan. Aku yakin bahwa ia memercayai konsep nurture over nature dan ia yakin orang yang tepat dapat dibentuk menjadi pemain yang bagus.

Klopp selalu menanyakan 3 pertanyaan yang sama ke sebuah pemain, dan ketika wawancara, ia meminta pemain yang akan direkrut untuk membawa pacar atau istrinya. Pacar atau istri sang pemain diberikan tur kota oleh asisten pelatih, termasuk tempat-tempat turisme, tempat berbelanja, dan juga taman-taman.

Ini tampak seperti sebuah gerakan yang ia ambil dari Jean-Michel Aulas, presiden Lyon, yang bersikeras bahwa pemain harus dibuat senang dan tenang agar bisa memberikan performa yang baik. Aulas bersikeras untuk menghabiskan 10-15% anggaran untuk menyewa konselor untuk membantu pemain merasa senang di kota tinggal barunya, serta sesekali mengingatkan bahwa mereka sudah berjanji untuk mengajak istrinya nonton film.

Klopp melakukan hal yang mirip, dengan versi jangka pendek dan anggaran terbatas. Ia tidak bisa menyewa konselor begitu saja.

Dalam mata Aulas, pemain yang performanya buruk tinggal dijual ke klub yang lebih kecil untuk mengembalikan uang yang habis untuk gaji serta konselor, dan pemain yang performanya baik akan menghasilkan uang yang lebih dari uang yang didapat dari gaji serta konselor, memperbanyak nilai klub.

3 pertanyaan pertama Klopp adalah…

  1. Apakah kau menyukai latihan? Dan kau harus menyukai latihan untuk bisa bertahan di sistem Klopp, itu sistem yang sangat berat. Klopp tidak keberatan jika ia harus menolak pemain seperti Leo Messi jika ia tidak menyukai latihan.
  2. Kau tahu kami siapa?
  3. Apakah kau ingin bermain bagi kami?

Dari tampaknya, Carnival Club yang sedang dirancang Klopp ini tidak akan bertahan jika pemainnya tidak bangga untuk bermain bagi Mainz.

Klopp memiliki satu perbedaan krusial dari Aulas. Aulas melihat bahwa ia butuh uang dan ini dilakukan untuk membuat pemainnya bermain lebih baik, dan untuk menaikkan nilai pasar si pemain, ini adalah hal yang berbasis statistika…

Klopp melakukannya agar si pemain mencintai klab sepakbolanya dan rela melakukan performa yang baik, di sistem yang berat, karena itu dibutuhkan. Ini tindakan yang dilakukan karena cinta, bukan ilmiah.

Klopp baru memulai tugasnya sebagai pelatih di Mainz, dan ia tidak akan berhenti begitu saja. Lagipula, Carnival Club miliknya belum beres dibangun.

Bersambung

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Tidak perlu disangkal lagi, Indonesia memiliki budaya literasi yang buruk. Sayangnya kata relatif tidak mudah untuk diberikan, karena kita berada di posisi ke 70 dari 74 negara, dan untuk patokan negara maju, angka itu buruk.

Mau dilihat dari beberapa sisi pun, sepertinya sangat sulit untuk menaikkan angka literasi milik kita. Jika kita mau membandingkan angka ini secara langsung dengan negara-negara berkembang lainnya, hampir tidak ada gunanya melakukan hal tersebut, karena kita akan jauh di atas mereka. Mayoritas negara di Afrika memiliki persentase literasi di bawah 75%, dan kita sudah mencapai angka 81% (negara-negara maju berada di angka 98% ke atas), jadi, apa sisi positif yang bisa kita ambil dari angka tersebut?

Tentunya, sisi positif termudah untuk di ambil adalah, angka literasi kita selalu naik, dan tidak akan turun begitu saja, tetapi, pada suatu titik, kita akan mulai untuk berpikir. Untuk apa kita punya angka literasi tinggi, jika budaya milik kita tidak menyokong literasi?

Bingung kah? Baca lebih lanjut saja yuk.

Budaya Baca vs Budaya Lisan

Kasarnya, tiap negara memiliki budaya baca dan budaya lisan. Indonesia lebih kuat di budaya lisan, dan sejujurnya, kedua budaya ini saling silang dan menolak satu sama lain.

Untuk melihat, mari kita bandingkan.

Budaya Baca

  • Terbiasa menerima informasi dari tulisan sejak zaman dahulu.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Bisa lebih mudah untuk kritis.
  • Tidak akan begitu saja mau membantu orang.
  • Dapat lebih tenang dan mampu mengatur emosi.

Budaya Lisan

  • Menerima informasi dari mulut ke mulut alih-alih dari tulisan.
  • Mudah untuk berkumpul dan lebih supel.
  • Lebih cepat menerima fakta.
  • Mudah bergotong royong.
  • Mudah terbawa perasaan.

Budaya baca di negara-negara luar mempermudah orang-orangnya untuk berhenti dan berpikir. Mempermudah orang-orang untuk menyerap informasi dan mencernanya alih-alih langsung menelannya.

Di negara-negara dengan budaya lisan yang kuat, informasi semua berupa opini, dan tidak begitu faktual. Perlunya berkumpul bersama membuat negara-negara dengan budaya lisan kuat juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Semua orang lebih kenal dengan satu sama lain, semua orang juga lebih ramah.

Sayangnya, dengan mendapatkan keramahan, kehangatan, dan kedekatan antar orang, ada hal negatif yang tercipta. Perasaan dekat tersebut membuat kita mudah percaya dan langsung menelan opini yang diberikan.

Pada titik inilah, budaya baca dibutuhkan untuk menetralkan keinginan kita menelan fakta secara langsung.

Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah kemampuan yang dibutuhkan, dan sayangnya kita sangat kurang dalam bidang ini.

Untuk bisa berpikir kritis, kita cukup melakukan dua hal. Satu adalah berhenti, dan kedua adalah berpikir. Berpikir kritis tidak jauh berbeda dari berpikir, dan aku yakin siapapun yang cukup pintar dalam mencerna informasi dapat melakukannya.

Kurangnya bangsa dengan budaya lisan yang kuat adalah kemampuannya untuk berhenti dulu untuk mencerna. Terkadang, orang-orang yang baru saja menerima informasi dari luar, (terutama jika dalam kondisi tatap muka) harus mencerna perasaannya terlebih dahulu. Jika perasaan orang tersebut cocok dengan informasi yang diberikan, ia akan mudah setuju. Sebaliknya, jika perasaan orang tersebut tidak cocok dengan informasi yang diberikan, ia bisa langsung menolaknya.

Perasaan mengendalikan otak kita dari menggunakan logika dan kita tidak sempat berhenti. Kita keburu termakan perasaan, dan perasaan tersebut menjadi awan yang menghalangi logika kita untuk sampai ke kesimpulan yang benar.

Ini alasan kita bisa dengan mudah terjebak dalam frame, serta hoax yang diberikan orang-orang pada kita. Emosi kita mengambil alih fungsi dan fokus kita, dan kita tidak diberikan ruang untuk berhenti. Kita langsung gas ke kesimpulan sesudah mobil (analogi untuk logika) kita diberikan Nitrogen Oksida (atau fakta), rem kita tidak berjalan lagi.

Melodramatisme

Bagian ini menerima editan dari draft awal artikel. Mungkin sekitar 50% dari kontennya diubah (termasuk judul dan istilah karena aku baru saja mendapat istilah yang tepat)

Melodramatisme. Sejak zaman Yunani, ada banyak sekali drama yang didesain untuk orang-orang (maaf) rendah. Jika para Raja, pedagang, filsuf, penyair, dan para petinggi negara mengikuti teater Dionysus, berisi drama dengan konten kompleks dan mengharukan, para warga diberikan cerita mulut ke mulut yang hanya berisi drama saja tanpa konten kompleks yang perlu dipikirkan. Penikmat melodrama menginginkan sensasi yang enak tanpa perlu mencerna informasi yang bergizi bagi mereka.

Melodrama masih dijumpai sampai sekarang, dalam bentuk Drama Korea yang arus ceritanya njelimet tapi mengharukan, dan sinetron yang juga mengharukan tapi ceritanya… Ya, tahu sendiri lah.

Melodrama juga, dapat dibagi menjadi beberapa level. Ada melodrama paling rendah, seperti sinetron, dan juga ada melodrama yang hanya menjadi melodrama karena persepsi orang-orangnya, seperti film Keluarga Cemara.

Sensasi haru, amarah, gembira, dan semacamnya mudah sekali memengaruhi judgement seseorang. Dan jika orang bisa menikmati melodrama yang hanya memanfaatkan sensasi sebagai nilai jual, maka akan mudah bagi orang-orang tersebut untuk terpengaruhi oleh hoax dan berita palsu.

Bangsa yang melodramatis tidak akan membuang waktu untuk berhenti, dan akan langsung saja menerima suatu fakta secara bulat, tanpa berpikir dua kali.

Dan menyimpulkan.

Bukan kesimpulan kali ini, aku hanya akan menyimpulkan, juga jangan lupa untuk simpulkan artikel ini sendiri ya.

Kabar Buruk.

Sayangnya, dari masih banyaknya bangsa melodramatis seperti beberapa negara Asia tenggara lainnya, budaya negara kita mendapat campuran dari bangsa melodrama, dan bangsa lisan.

Akan sangat mudah bagi seorang warga Indonesia untuk menerima suatu fakta palsu, atau suatu kebohongan, atau janji seseorang yang tidak mungkin dikabulkan dan semacamnya.

Untuk memperburuk ini, dengan senjata melodramatisme sedikit, dan juga dengan fakta bahwa kita memang (mohon maaf) kurang pintar dalam mencerna info karena negara kita memiliki budaya lisan… Hoax akan mudah memakan kita. Just make it dramatic, and people would believe it.

Kabar Baik.

Ada untungnya kok.

Budaya lisan yang mudah percaya dan supel ini mampu membuat orang-orang mudah percaya dengan ikon. Kita akan dengan mudah percaya perkataan seorang… (misal) menteri, kebanding teman.

Dengan memanfaatkan ikon untuk membawa kabar baik, jujur, tidak begitu negatif dalam memberi tahu sesuatu, kita akan percaya.

Selain itu, bangsa kita juga mau bergotong royong dan membantu, serta informasi juga dapat mengalir dengan lebih cepat, bahkan sebelum adanya internet informasi dapat mengalir dengan cepat, apalagi sesudah adanya internet.

Kabar Buruk dari kabar baik.

Oh tidak.

Kabar baik tadi juga ada kabar buruknya.

Jika seorang ikon mau memperdaya seseorang dengan berita palsu, orang-orang kita juga akan menerimanya dengan cepat.

Karena mudahnya percaya, dan mudahnya informasi mengalir, jika sedikit saja limbah pabrik, atau berita palsu dituangkan dalam air sungai yang jernih, seluruh sumber mata air dari gunung akan rusak dengan cepat.

Ya, sayangnya, kekuatan kita dalam cepat menyebar dan cepat percaya serta sangat-sangat mudah terlibat dengan orang lain juga bisa jadi kelemahan jika ada yang menyalahgunakan.

Jangan salahgunakan kekuatan dan logika anda ya!

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Jadi, pagi ini, aku perlu membuat suatu tulisan, dan sejujurnya, aku sedang bingung, apa yang bisa kulakukan. Aku berusaha mencari ide, namun tidak dapat, dan, ya sudah, aku mau menulis mengenai taktik-taktik sepakbola yang digunakan olehku dan timku ketika latihan.

Taktik yang dibahas disini bukan taktik yang sudah diaplikasikan, melainkan masih bersifat teoretikal, dan tidak memberikan nama pemain atau tim yang memanfaatkan taktik ini.

Selamat menikmati.

Catatan

Aku suka menghabiskan waktu luang ketika tidak ada serial untuk ditonton, atau pop culture buzz yang nongol di internet dengan mencari dan mengintip beberapa taktik-taktik sepakbola. Untungnya, tidak ada orang yang membuat artikel seperti ini dalam bahasa Indonesia, jadi, kurasa tidak ada salahnya jika aku membuat serial ini.

Gegenpressing 101

Gegenpress adalah taktik yang sangat mudah dijelaskan.

Pada dasarnya, Gegenpress berarti memanfaatkan dua pemain terdekat dengan bola untuk lari dan menekan pemain yang membawa bola. Sesederhana itu.

Pro Gegenpress

Jika situasi di atas dapat dilakukan dengan benar, pemain-pemain lini depan yang biasa bermain di garis yang cukup tinggi dapat menyerang dengan cepat, dan memaksa pemain bertahan lawan bergerak dengan cepat, sehingga membuka ruang.

Hampir dapat dipastikan bahwa kedua bek tengah harus siap untuk berlari dan mengintersepsi bola, ataupun melakukan marking. Jika ini dilakukan, akan ada ruang yang diciptakan, dan dapat menciptakan skenario seperti ini.

Dengan adanya banyak opsi untuk menyerang, pemain nomor 9 cukup memberikan bola ke pemain nomor 7, 8, 10, atau 11, dan dari situ, setidaknya sebuah kesempatan dapat tercipta.

Selain itu, Pro terbesar gegenpress adalah efek psikologis yang diberikan ke lawan-lawan tim. Jika ada tekanan dari pemain yang banyak (secara harfiah, dan figuratif), akan ada kebingungan dalam menentukan arah bola, dan jika passing dilakukan dengan labil, bola akan mudah dimenangkan kembali, dan serangan balik akan tercipta.

Kontra Gegenpress

Sayangnya, meski taktik ini mudah sekali untuk dijelaskan, penerapannya sangat sulit…

Butuh fokus, stamina, dan dia memiliki resiko yang sangat besar semakin banyak orang yang dimanfaatkan untuk menekan. Umumnya, Gegenpress menekan menggunakan dua orang, tetapi pada suatu titik, berdasarkan taktik yang lawanmu lakukan, bisa ada 4-5 orang berusaha memenangkan bola dari pemegang bola. Jika itu terjadi…

Seperti kita lihat di sini, karena pergerakan pemain menekan ke arah bola… Jika pemain lawan cukup tenang, mereka bisa memberikan bola ke pemain yang sekarang kosong.

Jika bola sudah sampai ke suatu pemain, pada umumnya, akan ada lebih banyak pemain yang dikorbankan untuk mengejar bola.

Kondisi Pressing berat ini dapat membiarkan setidaknya satu lawan tanpa ada pemain yang melakukan marking, dan ini bisa membuka ke situasi satu lawan satu dengan kiper jika pemain-pemain lain tidak cukup fokus atau disiplin untuk melakukan marking.

Tentunya board di atas sangat-sangat teoretikal, masih ada beberapa pemain yang belum melakukan marking, juga ada lawan yang belum di mark dengan benar, tetapi, dalam beberapa kondisi, Gegenpress dapat membuka situasi seperti ini.

Taktik untuk digabungkan dengan Gegenpress

Gegenpress sendiri tidak cukup untuk dimanfaatkan sebagai taktik standalone.

Bek Sayap

Biasanya Gegenpress digunakan di tim-tim yang memiliki bek sayap yang mampu maju mundur dan membantu serangan serta menjadi orang tambahan untuk membantu merebut bola di tempat yang tinggi.

Anggap saja, serangan berujung gagal, dan kiper melempar bola dengan cepat ke pemain nomor 4.

Pemain nomor 4 dapat menerimanya dengan mudah, dan sebelum ada tekanan lebih lanjut dari pemain nomor 9, 8 atau, 10, ia memberinya ke pemain nomor 8 yang menemukan ruang kosong.

Melihat ini, 3 pemain langsung menekan pemain nomor 8 sebelum ia bisa mengeluarkan umpan.

Jika pemain nomor 8 menerima tekanan hanya dari pemain nomor 8 dan 11 saja, besar kemungkinan akan ada ruang yang dapat dimanfaatkan unutk memainkan operan lagi. Bek kanan (3) yang bermain di posisi tinggi dapat membantu merebut bola dan membantu menyerang dari sisi sayap, dengan pemain nomor 8 dan 11 masuk ke kotak penalti, dan mencari posisi untuk mencetak gol

Tentunya jika 3 pemain telah dikorbankan, dan bola masih lolos, kondisi buruk dapat dijamin terjadi. Pemain nomor 7 berada di posisi kosong, dan dengan pemain nomor 9 dan 11 untuk membantu serangan, jika pressing ini tidak cukup, hanya tersisa bek tengah dan gelandang bertahan untuk memotong umpan.

Cara Mengatasi Gegenpress

Sejujurnya, aku tidak tahu.

Taktik ini bukan taktik yang dapat diatasi dengan taktik lain. Cara terbaik untuk mengatasinya cukup dengan ketenangan dan kemampuan memberikan operan yang rapih alih-alih dengan taktik.

Jika Gegenpress dengan 3 orang atau lebih tidak dapat memenangkan bola kembali, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan tim mengenai hal tersebut. Terlalu banyak ruang akan terbuka begitu saja jika bola sudah melewati orang yang ditekan.

Kriteria.

Taktik ini sulit digunakan karena butuhnya kriteria fisik yang berat.

  • Stamina yang cukup
  • Kecepatan mengejar bola, dan pemain bertahan yang berada di posisi tinggi
  • Kedisiplinan dan kesabaran dalam menentukan kapan menekan, dan kapan tidak perlu menekan.
  • Marking yang bagus dan kemampuan memotong operan yang baik
  • Kemungkinan besar, butuhnya kiper yang handal dalam kondisi 1 lawan 1 jika tekanan mengakibatkan ruang terbuka yang banyak.

Meski kriterianya banyak, Gegenpress dapat menjadi taktik bertahan yang dimanfaatkan untuk menyerang jika pemain-pemainmu cukup untuk melakukan hal tersebut.

Tim yang menggunakan:

  • Liverpool F.C.
    • Liverpool mungkin tim terbesar yang menggunakan taktik ini. Juergen Klopp membuat sistem dengan pemain-pemain cepat yang memiliki stamina bagus untuk melakukan taktik melelahkan seperti Gegenpress. Mulai dari tekanan di depan oleh striker tengah Firmino, gelandang-gelandang yang mampu naik turun barisan dengan cepat, dan bek-bek tercepat di Eropa, Gegenpress di Liverpool bisa dibilang berjalan sangat sukses.
  • Borussia Dortmund di bawah Juergen Klopp
    • Jika membahas Gegenpressing, Juergen Klopp mungkin pionirnya. Baik Liverpool atau Dortmund, keduanya menjadi tim yang sangat-sangat fokus ke passing jarak dekat dan kecepatan serta stamina. Di bawah Klopp, Dortmund fokus ke permainan menekan dari depan dan passing rapih oleh Gotze atau Gundogan, sebelum bola sampai ke Lewandowski dan masuk ke gawang. Dortmund di bawah Klopp bermain di posisi tinggi, dan tidak mudah terkena serangan balik. Tekanan yang konstan dan menyebalkan serta pertahanan rapat dan bek-bek muda serta cepat dalam Mats Hummels dan Neven Subotic memberikan lawan-lawan Dortmund sangat sedikit ruang untuk menyerang.
  • Bayern Munich di bawah Pep Guardiola.
    • Sebelum Bayern sekarang yang memiliki pemain-pemain yang hanya meluangkan waktu untuk pensiun di lini depan dan belakang, Pep Guardiola memanfaatkan Gegenpress dan mendominasi Liga Jerman dengan taktik tersebut. Meski Pep tidak memiliki striker-striker yang sedisiplin trio striker Liverpool dalam bertahan, Robben dan Ribery juga melakukan tugas bertahan yang cukup baik. Inti Gegenpress Guardiola berada di gelandang-gelandangnya. Guardiola memiliki Thiago Alcantara, Javi Martinez, dan Xabi Alonso yang mampu mengejar bola dengan cepat.

Kesimpulan

Komitmen manajer untuk menggunakan sistem Gegenpress cukup berat, terutama mengingat kebutuhan pemain dengan fisik yang cukup kuat, pribadi yang disiplin (PSG sebenarnya memiliki kualitas pemain yang cukup untuk melakukan Gegenpress, sayangnya, tidak banyak pemain yang cukup disiplin untuk menjalankan sistem tersebut) untuk menjalankan sistem tersebut, jadi, tidak banyak tim dapat memanfaatkan Gegenpress dengan efisien dan baik.

Kasarnya, Gegenpress adalah taktik High Risk, High Skill, High Reward yang perlu pengaturan pemain dan pemanfaatan sempurna oleh pelatih untuk hasil paling efisien.

Sampai lain waktu!

Template tactical board dari tactical-board.com

Prabowo Menaikkan Gaji PNS? Cek Fakta.

Prabowo Menaikkan Gaji PNS? Cek Fakta.

Debat kemarin tampak cukup abstrak bagiku. Ya, sedikit disayangkan bahwa dari hasil mayoritas survei sebenarnya perdebatan antara kedua paslon tidak akan merubah terlalu banyak dari pemilih. Mungkin debat dapat mempengaruhi 12-18% dari data survei yang masih belum menentukan atau memutuskan untuk tidak menjawab.

Namun, dari debat kemarin, hal yang paling menarik bagiku ada di tiga aspek. Aku hanya akan membahas salah satu aspek tersebut, karena aspek ini yang dapat dipertanggung jawabkan dengan lebih mudah, dan lebih tepat.

Sejujurnya, berusaha menulis mengenai politik secara netral itu cukup sulit. Hampir tidak mungkin untuk menulis dari kedua sisi dengan framework netral, dan data yang dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu, aku hanya akan menulis dari sudut pandang satu paslon, agar framework yang kubuat tidak bertujuan membodohi, ataupun mengimplikasikan superioritas satu paslon ke paslon yang lain.

Rekap

Sedikit merekap, 3 poin debat yang menarik bagiku pada hari kemarin adalah…

  • Prabowo bilang akan menaikkan gaji PNS
  • Jokowi menyatakan bahwa adanya perbedaan pendapat antar menteri sebagai hal baik dan adanya korespondensi serta saling inspeksi yang transparan, bukti bahwa kinerja menteri memang ada
  • Jokowi menyindir kasus Ratna Sarumpaet. (ini lebih ke lucu bagiku, kebanding suatu konten yang solid)

Angka-angka dalam debat
Cek Fakta

Di bagian ini adalah angka-angka yang Bapak Prabowo, atau Bapak Sandiaga Uno sendiri sebut ketika ingin menaikkan gaji PNS + pejabat.

  • Prabowo menyebut bahwa Tax Ratio Indonesia yang dimanfaatkan untuk gaji PNS berada di angka 10% .
    • Fakta ini betul. Berdasarkan statik yang didapat dari pelacakan Nota Keuangan Kemenkeu, rasio pajak yang memang dimanfaatkan berada di bawah 10%. Tepatnya, ada di angka 8.91% pada tahun 2016.
    • Angka ini sebenarnya sudah cukup tinggi, mengingat bahwa sejak 2014, tax ratio yang dimanfaatkan untuk gaji PNS berada di rata-rata 9.32% . Pada masa jabatan SBY, 2004-2014, rata-rata tax ratio yang dimanfaatkan untuk gaji PNS berada di angka 8.92%
    • Ini berarti, ada kenaikan rata-rata 0.40%
  • Jika Prabowo menaikkan Tax Ratio ke angka 16%, total uang yang dihasilkan mencapai lebih dari USD 60 Milyar.
    • Pada tahun 2016, total pendapatan via pajak mencapai 102 milyar dollar. 16% dari angka tersebut adalah 16 milyar dollar.
    • Fakta ini salah.
    • Catatan: Maafkan menggunakan fakta 2016, kebanding 2017, atau 2018. Data yang ada hanya sebatas tahun 2016.
  • Seorang Gubernur dari provinsi (misalnya) Jawa Tengah mengelola provinsi yang lebih besar dari Malaysia
    • Luas Malaysia 330.803 Km kuadrat . Luas Jawa Tengah, 32.801 Km kuadrat.
    • Fakta ini salah
    • Mungkin yang Prabowo maksudkan adalah Malaysia tanpa menghitung laut, dan hanya negaranya saja, tanpa menghitung Malaysia Timur yang berada di pulau yang sama dengan Kalimantan… Dalam kasus ini… Luas Malaysia adalah 127.072 Km kuadrat
    • Sekali lagi, fakta ini… salah
  • Gaji Gubernur hanya 8 Juta
    • Gaji Gubernur berkisar dari 5.5 juta, sampai 9 juta.
    • Fakta ini tidak sepenuhnya salah mengingat pendapatan APBD provinsi membedakan gaji yang diberikan.
    • Selain itu, dalam konteks debat bahwa Prabowo menganggap gaji 8 juta sebagai kecil, dan “mewajarkan” korupsi karena kurangnya gaji dari seorang Gubernur. Kurasa meski ada angka meleset sedikit, konteksnya masih tepat, bahwa gaji gubernur (dalam mata Pak Prabowo) kecil.

Angka-Angka Teoretikal
Menghitung

Bagian ini akan menghitung serta mengecek beberapa konteks dan konten yang disindir Prabowo, meski tidak menyebutkannya, dan membandingkan apa yang Prabowo akan lakukan seandainya dia dilantik, dan angka yang didapat ketika ada korupsi.

  • Angka Angka total korupsi
    • Menurut ICW, laporan korupsi pada tahun 2016 telah mencapai angka 1.5 Triliun Rupiah. Dalam Dollar, ini mencapai angka 105 juta dollar .
  • Membandingkan angka 16% di atas dengan angka total korupsi.
    • Sekilas saja, angka 16%, yang berarti kenaikan dari 8.91% di atas, hanya lebih dari 16 milyar dollar.
    • Angka 16% itu hanya dihitung mentah-mentah saja, bukan dihitung dari selisih persentase kenaikan. Jika dihitung dari selisih 8.91% ke 16%, kenaikan 7.09% akan mencapai 7 milyar dollar, angka yang akan tampak insignifikan sesudah 7 milyar itu dipecah belah ke seluruh PNS dan pejabat. Makin insignifikan lagi jika dibandingkan dengan kerugian dari korupsi.
  • Total korupsi vs pendapatan pajak.
    • Satu hal lagi sebelum menyimpulkan… Pendapatan pajak tahun 2016, hampir mencapai 102 milyar dollar. Angka korupsi pada tahun 2016, sudah lebih dari 105 juta dollar.
    • Mungkin 16% dari 102 milyar itu (sedikit di atas 16 milyar) akan menjadi insignifikan di mata beberapa gubernur yang memang sudah berencana untuk melakukan korupsi jika terpilih. 105 juta dollar yang diambil dari korupsi terbagi ke beberapa narapidana, dan jika kenaikan gaji Pejabat serta PNS dipecah dan dibagi untuk seluruh PNS+pejabat kurang lebih mencapai angka 6 juta orang, dengan 4.5 juta PNS, dan 1.5 juta pejabat, dari angka tersebut, jika 16 milyar dollar dibagi ke 6 juta orang, gaji per PNS atau pejabat dapat menghasilkan angka 2666 dollar per orangnya
      • Tentunya ini hitungan yang tidak menghitung per pejabat, per pns, tingkatan, bonus, atau semacamnya.
    • Tapi, jika seandainya saja ada 1 juta pejabat yang berkorupsi, 16 milyar dollar itu akan menghasilkan angka 160 ribu dollar. Jauh lebih besar kebanding 2666 dollar.
      • Sekali lagi, ini terkaan yang kasar, namun, maksudnya harusnya tertangkap.

Kesimpulan dari data

Prabowo membuat cukup banyak blunder, dan tidak tampak untuk cukup memperhitungkan angka dengan cakap.

Menurutku, dan statistik yang tadi disuguhkan, sepertinya, orang-orang korupsi bukan karena gaji mereka kecil, atau karena mereka mengeluarkan banyak uang demi menjabat. Mereka melakukan korupsi murni karena mereka serakah.

Kenaikan gaji sepertinya tidak akan merubah itu, karena angka total korupsi saja lebih besar kebanding angka pendapatan pajak, sedangkan Prabowo hanya akan memberikan sepeser dari pendapatan pajak Indonesia yang sudah cukup banyak.

Apakah sistem dan solusi yang Prabowo berikan cukup realistis?

Sejujurnya, tidak. Dalam mataku, Prabowo menangkap bahwa orang melakukan korupsi karena mereka tidak menerima gaji yang cukup, bukan karena mereka serakah.

Angka-angka dan pengetahuan umum mengenai luasnya Malaysia vs Jawa Tengah saja menjadi sebuah kesalahan yang ia buat, bagaimana kita bisa mempercayai angka yang ia suguhkan pada kita mengenai finansial negara?

Sampai lain waktu!

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

Hanya 2 lagi sisa tulisan road trip yang perlu dibuat olehku sebelum membuat post kesimpulan, meski aku tertarik untuk membuat satu tulisan ekstra karena kayanya aku belum cukup meliput mengenai subjek ini.

Artikel hari ini akan membahas kisah hidup laksamana Cheng Ho dan bagaimana ia bisa menjadi laksamana di lautan. Akan ada sedikit bercandaan ala dikakipelangi yang menyodorkan teknologi zaman sekarang di cerita sejarah, namun mayoritas konten akan faktual, dan lebih serius, karena ini memang akan membahas dari sudut pandang sejarah.

Aku sudah berencana menulis tentang Sam Poo Kong dimana aku pertama menemukan fakta-fakta serta cerita mengenai laksamana ternama ini, dan tulisan ekstra yang akan aku buat akan menceritakan lebih banyak tentang kisah perjalanan Cheng Ho ketika ia sudah berlayar. Namun untuk kali ini, kita akan ceritakan kisah hidupnya sebelum ia menjadi laksamana.

Muslim Mongol

Cheng Ho lahir di tempat yang tepat, namun juga salah di saat yang sama. Ia lahir di Kunyang, sebuah daerah yang kecil di Yunnan, pada tahun 1371.

Jika ia bukan seorang keturunan Mongol dan tidak lahir di Yunnan, pada tahun dimana kerajaan Mongolia sedang diserang berulang kali oleh Dinasti Ming, ia tidak akan pernah menjadi seorang laksamana. Tetapi, karena ia masih anak-anak (Kunyang jatuh ke tangan Dinasti Ming pada tahun 1381) ketika serangan tersebut terjadi, ia dibiarkan hidup.

Sampai menjadi laksamana, Cheng Ho menjalani hidupnya sebagai pengawal permaisuri Kekaisaran Ming. Ia telah dikebiri, dan harus hidup sebagai Eunuch (orang kasim) seumur hidupnya, atau, langsung mati saat itu juga.

Seperti sering dibahas oleh banyak orang, Cheng Ho merupakan seorang Muslim. Sayangnya, orang-orang juga suka melewatkan sedikit fakta mengenai keluarganya. Cheng Ho berada 5 generasi di bawah Gubernur Yunnan yang memang beragama Muslim, namun, yang orang-orang sering lewatkan, keluarga inti, atau keluarga dekatnya, tidak begitu religius.

Catatan menuliskan bahwa generasi terakhir yang melakukan Ibadah Haji adalah Gubernur Yunnan yang merupakan Great-Great-Great Grandfather-nya. Tidak juga banyak catatan bahwa keluarga inti Cheng Ho melakukan puasa, berkurban, atau semacamnya. Catatan terakhir keturunan langsung dari Cheng Ho yang melakukan ibadah-ibadah Islam seperti Berkurban, Puasa, dan Zakat hanyalah Kakeknya.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana ia bisa menjadi seseorang yang cukup religius? Ia memang mengetahui bahwa ia seorang Islam, tentunya keturunan dan keluarga yang ia dapatkan sudah memperjelas hal tersebut, namun, alasan ia menjadi pribadi yang taat akan agama belum pernah dijelaskan, karena meski ayahnya memegang gelar Haji yang diturunkan dari beberapa generasi sebelumnya, belum ditemukan catatan bahwa ia sudah melakukan pengembaraan ke Mekah.

Tentunya, kita bisa berasumsi bahwa ia dekat dengan Kakeknya selama 10 tahun pertama hidupnya, dan Dinasti Ming juga bukan dinasti yang memiliki masalah akan adanya perbedaan agama. Selain itu juga perlu diingat bahwa Ma He (nama asli Laksamana Cheng Ho) tidak pernah punya keterkaitan dengan keluarganya sesudah tempat tinggalnya diserang, mungkin Agama satu-satunya cara ia mengingat hal tersebut.

Catatan: Ma = Mohamed dalam bahasa Cina, He = Mulia dalam bahasa China. Fun Fact: Secara teknis, Ma He (Cheng Ho) dan Moh. Salah, memiliki arti nama yang salah. Mohamed yang Mulia. (Salah juga berarti mulia dalam bahasa arab)

Budak Ming

Budak muda yang dikebiri dengan nama Ma He kemudian diberikan ke seorang pangeran. Untuk seorang Budak, atau mungkin seorang manusia pada umumnya, ia cukup karismatik. Ma He memenangkan hati sang pangeran dengan candaannya dan aura fun yang ia miliki. Ia tidak pernah diberikan tugas budak, atau hanya sebatas jadi penjaga permaisuri, kepintaran, dan karisma yang ia miliki membuat Pangeran Zhu Di dari Yan mengangkatnya sebagai asisten pribadi miliknya.

Alih-alih dimanfaatkan sebagai budak konvensional, ia disuruh untuk mengikuti sekolah militer. Pangeran Zhu Di tahu ia akan membutuhkan bantuan seorang Mongol untuk menyerang kerajaan tersebut, jadi ia memutuskan untuk menunggu waktu beberapa tahun, sampai Ma He siap untuk membantunya.

Catatan: Bukan sebagai “asisten”, sebenarnya, tugas Ma He yang masih muda tersebut, adalah mengawal dan memberi nasihat akan kerajaan Mongol berdasarkan pengetahuannya ketika pangeran muda tersebut merencanakan serangan.

Zhu Di sendiri tidak terlalu tua. Ia pangeran muda yang berani, pintar, dan nekat untuk menyerang kerajaan Mongol. Pada usia 26 tahun, dengan bantuan Ma He yang masih berusia 16 tahun, ia menyerang pusat militer Mongolia, dan membuat jendral besar dari kerajaan Mongol, Naghachu, menyerah.

Naga Chu… Pft… Nama macam apa itu… Naga bersin… HAHAHA, pantesan kalah! Ehem, maaf.

Selama ia masih di Mongol, ia belum pernah mendapatkan catatan apapun mengenai agamanya, jadi untuk sekarang, masih jadi sedikit misteri bagaimana ia bisa menjadi pribadi yang religius.

Perebutan Takhta

Sejujurnya, tidak seratus persen kehidupan Cheng Ho dipenuhi dengan hal-hal baik. Bagian dari cerita ini mungkin bagian kehidupan miliknya yang paling dipenuhi dengan tindakan buruk.

Ma He muda diberikan tugas terakhir. Sebuah tantangan. Ia diminta membantu Zhu Di merebut takhta dan mengambil posisi sebagai maha kaisar Dinasti Ming. Metode yang dilakukan dan direncanakan Zhu Di dipenuhi dengan pembunuhan, penggeseran, serta fitnah-fitnah untuk memecah kerajaan utama.

Cheng Ho, yang masih merupakan Kasim tingkat menengah, belum punya hak untuk mengubah ide dan metode dari Zhu Di, ia pun belum bisa menolak untuk membantu Zhu Di.

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia melakukan hal-hal keji tersebut, hingga Zhu Di menjadi Raja.

Untungnya, Zhu Di memberikan Ma He hadiah. Ia menaikkan pangkatnya sebagai Mahakasim. Tingkat Mahakasim ini, sebenarnya baru diciptakan di tahun yang sama Zhu Di naik takhta. Dalam pikiranku, tujuan tingkat Mahakasim ini dibuat oleh Zhu Di untuk menutup malu-nya jika ia mengangkat seorang Kasim yang dulunya warga Yunnan sebagai laksamana.

Ya, pada dasarnya, Mahakasim = Laksamana / Penasehat versi orang Kasim. Hak yang didapat seorang mahakasim sama persis dengan hak seorang menteri, laksamana, ataupun penasehat. Oke, ada satu hak yang tidak dimiliki, tapi kurasa aku tidak perlu membahasnya.

Dengan adanya gelar Mahakasim ini, Zhu Di memberikan Ma He nama baru. Ia sekarang dikenal dengan Zheng He.

The Treasure Fleet

Tahun 1403, Zheng He diberikan tugas untuk mengawasi pembangunan kapal.

Menurut beberapa cerita, Zheng He sejak kecil selalu memiliki perasaan wah ketika melihat kapal. Ia merasa begitu terpesona tiap melihat kapal megah dan besar melewati air, jadi, secara alamiah, ia dapat mempelajari cara kerja dan cara pembangunan kapal dengan begitu cepat.

Ia menggunakan teknologi paling maju, tentunya modal Dinasti Ming tidak begitu mudah habis. Kapal-kapal buatannya, sebanyak 400 kapal memiliki sistem cloud untuk mencatat barang dagangan secara otomatis, menggunakan sistem autopilot, dan tentunya, memiliki sangat-sangat banyak barang dagangan.

Kasarnya, kapal yang dibuatkan untuk Zheng He, adalah kapal yang paling canggih.

2 tahun kemudian, sesudah projek itu beres…

Zhu Di meminta Zheng He, yang memang mengawasi projek tersebut, untuk menjadi ambassador, serta laksamana utama dari perjalanan tersebut. Investasi long-term ini tentunya akan memberikan cukup banyak uang bagi Zhu Di, namun…

Bersambung

Kesimpulan

Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa karena cerita ini belum beres.

Namun, kesimpulan hari ini akan diubah dengan beberapa spoiler kecil.

  1. Seperti diketahui banyak orang. Zheng He meninggal di jalan. Ia berangkat pada usia 34, dan meninggal pada usia 60.
  2. Zheng He disebut Cheng Ho oleh orang Indonesia untuk mempermudah.
  3. Ia berkeliling ke seluruh dunia, tentunya.
Bumblebee: Seberapa Baguskah Film Ini?

Bumblebee: Seberapa Baguskah Film Ini?

Ya, Bumblebee bukan film yang aku harapkan untuk tonton sesegera mungkin sesudah film tersebut keluar. Tetapi bukan juga film yang aku tidak akan tonton. (aku hanya berpikir film ini pantas ditonton setelah ia mendapat 93% di Rotten Tomatoes, meski nilai IMDB-nya jelek)

Jadi, bagaimanapun juga, aku ingin membandingkan serta menilai, apakah Bumblebee merupakan film yang memang bagus? Atau ia hanya bagus karena di sebelah kanan dan kirinya, ada film yang jauh lebih buruk.

Boom, Boom, Boom, Dalam Angka

Terima kasih! Siapapun yang memutuskan untuk tidak memberikan Michael Bay peran sebagai sutradara di film ini. Jika Michael Bay menjadi sutradara, dan bukan sebatas produser, film ini akan menjadi film yang tidak akan kutonton sebagus apapun naskahnya, atau rating-nya, karena aku tahu, setiap 10 detik, akan ada sebuah BOOM! BOOM!

Bagaimanapun juga, keputusan terbaik dalam film ini ada di pemilihan sutradara. Not Michael Bay. Sepertinya itu satu-satunya solusi untuk menambal bolong-bolong yang ada pada rating film-film Transformers sebelumnya. Budget juga dipotong, dan berada di angka relatif kecil (terutama mengingat butuhnya helikopter untuk diledakkan, mobil, dan juga CGI), karena Michael Bay masih berperan sebagai produser, dan jika ada leeway budget terlalu banyak… Ya, akan ada Boom-boom di sana dan di sini, sehingga inti utama dari film akan mudah terlupakan.

Sejujurnya, menurutku pemotongan budget drastis ini adalah keputusan yang baik selama Michael Bay masih berada dan berperan dalam proses pembuatan film.

Sebagai perbandingan

  • Transformers, 57% Rotten Tomatoes, 147 Juta dollar Budget, 325 juta dollar box office, 208 ledakan.
  • Transformers 2, 19% Rotten Tomatoes, 207 juta dollar Budget, 618 juta dollar box office, 276 ledakan.
  • Transformers 3, 28% Rotten Tomatoes, 196 juta dollar Budget, 1.123 juta dollar box office, dan… Wait for it… 357 ledakan.
  • Bumblebee, pada sisi lain. 93% Rotten Tomatoes, 100 juta dollar Budget, 305 juta dollar Box Office (and still kind of growing), dan hanya 93 ledakan.

Jadi, semakin banyak ledakan, semakin banyak penghasilan, dan semakin jelek rating. Oke, film ketiga merupakan sedikit pengecualian. Tetapi rating 28% tetap sampah.

Spinoff ini bermanfaat untuk merubah stigma orang-orang pada franchise film yang mendekati mati untuk orang-orang yang memang suka film dan tidak hanya menontonnya demi menonton film tersebut.

Naskah

Oke, aku bukan orang yang 100% menyukai naskah Bumblebee, tetapi… Jika kita membandingkan naskah film tersebut dengan film Transformers lainnya, aku tidak bisa berkata-kata lebih lanjut. Dasarnya, tidak ada opsi yang lebih baik untuk gaya penulisan naskah yang dilakukan oleh Bumblebee.

Gaya ini juga perlu diikuti oleh film Transformers lainnya.

Kasarnya, aku cukup menuliskan pros and cons-nya saja.

Pros:

  • Naskah ini tidak dihina oleh penulisnnya sendiri, ataupun sutradaranya
    • Bay pernah menghina karakter ciptaannya secara terbuka dalam interview mengenai film Transformers yang keempat
  • Naskah ini punya jalan cerita yang jelas, dan tiap adegannya berkorelasi
  • Banyak lelucon dan pesan-pesan yang bermakna. Lucu disini bukan karena kejadian konyol seperti seorang satpam yang menyetrum dirinya sendiri pada film kedua (aku tidak ingat film keberapa, namun tetap, itu terjadi).
  • Referensi pop culture yang cukup bagus.
  • Film ini slow-paced. Tolong, lakukan ini lagi, setidaknya kesempatan merusak film action slow pace tidak semudah merusak film fast paced. Korelasi akan jauh lebih mudah jika film beralur dengan lambat.

Cons:

  • Mungkin sedikit terlalu banyak referensi yang dilemparkan mengenai zaman si film itu sendiri. Feel bahwa kejadian film ini terjadi pada tahun 80-an hanya terasa dari referensi di naskah, dan sedikit kurang di penyutradaraan.

Adegan Action

Yeay. Adegan action di film ini jauh dari sampah. Tidak ada lagi seorang manusia yang melakukan tindakan bodoh dan secara magis membunuh robot raksasa. Tidak ada lagi boom-boom yang merusak arus film dan adegan tersebut karena ledakan ditembak dari 5 sudut berbeda.

Kembali lagi ke Pros and Cons.

Pros:

  • Akhirnya, adegan action mempunyai makna, dan masih masuk akal.
  • Adegan action tidak membosankan.
  • Tidak ada banyak ledakan! 😀

Cons:

  • Tidak ada banyak ledakan… 🙁
    • Nggak, sih, sebenarnya satu-satunya hal yang membuatku merasa senang ketika ada banyak ledakan, adalah tertawa ketika ledakan tersebut begitu lebay dan ditembak dari 5 sudut berbeda. Ini memberikan aku komedi di naskah yang begitu serius tapi garing.

Setting dan Tokoh-Tokoh

Aku belum lama membaca beberapa orang menolak film-film Michael Bay karena tokoh-tokoh di film tersebut dibuat sesuai dengan stereotip, tetapi di frame dari sudut pandang negatif.

Hence, adanya cewek yang di oversexualize, hippie yang hobinya mabuk melulu, rich bad guy yang tahu-tahu jadi baik, atau rich bad guy yang tahu-tahu mati karena melakukan hal bodoh. Oh iya, jangan buat aku masuk ke ilmuwan yang selalu gila dan kekeuh ke seorang jendral yang gak pernah mau mendengar, atau tokoh utama yang dulunya screw-up lalu jadi menemukan jati diri karena… Yeah, you get me already.

Meskipun aku tidak sepenuhnya setuju ke membuat tokoh yang 100% berlawanan dengan stereotip, atau dengan tujuan empowerment demi mengikuti sebuah gerakan, perubahan kecil ini enak dilihat.

Setting juga cukup cocok, meski ada sedikit keluhan mengenai naskah tadi.

Pros:

  • Tokoh yang kuat, dan tidak sepenuhnya mengikuti stereotip.
  • Persahabatan dan pembuatan karakter yang sesuai, termasuk perubahan jati diri dalam karakter.
  • Setting 80-an dengan bantuan musik, sebenarnya cukup menyenangkan.
  • Tokoh tidak akan dihina atau dijadikan bahan bercandaan oleh penciptanya lagi. Phew.

Cons:

  • Melihat Michael Bay menerima interview dan menghina tokoh ciptaannya sendiri. Aku tidak akan pernah melihat ini lagi. 🙁 NOOOOOOO!

Kesimpulan

Untuk menyimpulkan, apakah Bumblebee sebagus itu?

Sejujurnya, kurasa rating di atas 90% pada Rotten Tomatoes, seperti yang didapat Wonder Woman, atau film-film yang telah menjadi classic tidak pantas diberikan untuk Bumblebee.

Namun, sekali lagi, film ini adalah franchise Transformers, dan perubahan drastis yang perlu kita ingat, film ini fokus ke persahabatan bukan ledakan dan tonjok-tonjokan, disutradrai oleh Travis Knight, standar harapan kita bagi film akan jelas turun. Kurasa, wajar jika ia mendapat rating tinggi.

Namun, jika Bumblebee keluar duluan, dan bukan spinoff atau last resort untuk mengganti serta memberikan film Transformers sudut pandang cerita, kurasa ia akan hanya mendapat nilai yang mirip-mirip dengan Aquaman.

Sampai lain waktu! Don’t end this movie in a bang.

Post Script.

Michael Bay mungkin sedang membuat surat, atau sedang memulai rapat. Alasan rapat? Oh iya, kurangnya ledakan mengurangi uang yang dihasilkan film ini!