Category: Homeschooling

Menemukan Kebahagiaan.

Menemukan Kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah salah satu konsep paling membingungkan yang pernah diciptakan manusia.

Di satu sisi, kebahagiaan merupakan hal yang baik, sebuah tujuan yang perlu dicapai dalam kehidupan seseorang. Di sisi lain, banyak orang yang mencari tujuan tersebut (yang tidak ada spesifikasi tujuan yang mudah dimengerti) dan karena mereka mencarinya, tujuan tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Kita menciptakan konsep untuk memberikan makna dan kebahagiaan bagi diri kita sendiri, tetapi karena konsep tersebut sangat sulit untuk dicari, orang-orang malah melucuti makna yang mereka seharusnya miliki tadi, dan tidak mungkin lagi untuk mencapainya.

Jadi, daripada bingung sendirian, kita bingung bersama-sama saja.

Apa sih kebahagiaan?

Inspirasi:

  • Stumbling on Happiness: Daniel Gilbert
  • Hope is F*cked: Mark Manson.

Ignoramus Harmonius

Ignoramus adalah kata dalam bahasa Inggris.

Wow. Jujur, aku mengira itu bukan kata yang nyata, dan hanya slang yang sering digunakan, tetapi… wow.

Salah satu hal terbaik dan termudah untuk mendapatkan perasaan bahagia dan nyaman, adalah dengan mengabaikan sekitar. Iya. Ini hal yang terdengar absurd bagi sebagian orang, mungkin mayoritas pembaca akan merasa, kalau aku mengabaikan hal, aku tidak bakalan…

  • Mendapat hasil atau gambaran yang sempurna sesuai dengan Misal, ruangan ini harus rapih, tiap kali makan harus ada porsi ekstra seandainya ada yang mampir ke rumah.
  • Menjadi orang yang lebih Misal, aku harus focus untuk belajar demi ulangan, dan tidak mungkin aku mengabaikan belajar bukan?
  • Bisa bersenang-bersenang. Misal, Mengabaikan undangan dari temanku untuk ke pesta malam

Dan seterusnya.

Tetapi, kalau ditinjau kembali, dari tiga hal tersebut, ada satu hal yang berhubungan akan semuanya. Semuanya perlu dicapai. Dan seandainya, mereka tidak dicapai, ada perasaan tidak puas, perasaan tidak puas itu muncul juga ke perasaan tidaknyaman, dan jika seseorang tidak nyaman ataupun tidak puas, mereka tidak bahagia.

Kalau kita bisa mengabaikan hal-hal dengan mudah, maka akan semakin mudah baginya untuk merasa puas. Kepuasan bukan kebahagiaan, tetapi, jika seseorang sudah merasa puas, tidak akan ada tekanan lebih lanjut untuk memenuhi kepuasan yang dicari.

Langkah termudah untuk mendekati (mendekati, bukan mencapai) kebahagiaan adalah dengan mengabaikan hal-hal di sekitar anda.

But WAIT!

Sayangnya, kita tinggal di dunia manusia modern. Kita tidak bisa sekedar mengabaikan hal-hal untuk merasa puas dengan diri kita. Itu hal yang bodoh, dan sejujurnya, aku tidak yakin itu sehat untuk dilakukan.

Hal yang lucu adalah, walaupun tidak ada indeks kebahagiaan resmi di Korea Utara, warga-warga Korut merasa bahagia dengan keadaan mereka. Ini adalah tanda yang nyata bahwa materi tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan dan jika seseorang mengabaikan kondisi mereka, dan tidak pernah perlu merasa iri dengan orang lain, mereka akan bahagia.

Coba pikirkan apa yang mungkin terjadi jika misalnya… Warga Korut diberitahu oleh pemimpin mereka (harus oleh pemimpin mereka, perkataan orang lain tidak akan mempan) bahwa di dunia luar ada sekumpulan orang yang mendapat makanan lebih banyak dari mereka, dan boleh mendesain rumah mereka sendiri, dan ya, hal-hal bagus dari dunia kapitalis lah… Mereka mungkin merasa iri. Iri tersebut tumbuh menjadi perasaan tidak puas, dan ketidakpuasan itu menjadi sumber hilangnya kebahagiaan.

Kita tidak bisa 100% mengabaikan diri di dunia luar, maksudku, kita memang masihtinggal di dunia yang cukup kapitalis (bukan dalam sudut pandang serakah, tetapi sudut pandang nilai benda) dan seandainya dunia ini beralih ke sosialisme, baru kita bisa beralih sedikit ke gaya mengabaikan ini.

Sampai dunia ini menjadi sosialis (aku tidak mendukungnya, tolong dicatat, tapi namanya juga what-if) kita masih harus punya perhatian dan dorongan untuk melakukan hal. Tekanan memang diperlukan.

Kepuasan

Kita tidak akan pernah puas selama kita masih merasa iri, dan selama kita masih mencari sesuatu. Seperti kusebut di atas, selama kita tidak merasa puas (dan perlu diingat, perasaan puas adalah sebuah konsep juga, yang mendasari konsep lain yang kita kenal sebagai kebahagiaan) kita tidak akan merasa bahagia.

Sebuah riset untuk memperjelas hal. Sejumlah peserta eksperimen diminta memilih berlibur di salah satu antara dua tempat, dengan harga yang sama. Pulau Avg, dan Pulau Xtreme. Pulau Avg ini memiliki makanan yang enak, kamar yang enak, pantai yang enak, serta pelayanan yang ramah. Pulau Xtreme pada sisi lain, memiliki makanan yang tidak enak, kamar yang sangat enak, pantai yang sangat enak, dan pelayanan yang tidak ramah.

Logikanya, jika peserta diminta memilih lalu menolak satu pulau, mereka akan memilih pulau yang berbeda bukan? Mereka akan memilih pulau Xtreme, dan pada pertanyaan berikutnya, mereka akan menolak pulau Avg, atau sebaliknya, tergantung preferensi.

Konyolnya, hampir semua orang memilih pulau Xtreme, lalu menolaknya kembali.

Manusia mencari hal yang bagus ketika memilih, dan mencari hal yang buruk ketika menolak. Kita akan selalu menemukan hal-hal untuk mengurangi kepuasan kita.

Jadi, apa solusinya? Selain mengabaikan hal-hal kecil? Jangan memilih… 😀

Mencari Makna

Oh boy.

Kebahagiaan merupakan hal yang berhubungan dengan makna. Ada yang tidak setuju? Silahkan komentar.

Jadi, apakah ini akan terdengar aneh, kalau misalnya aku mengingatkan pembaca bahwa semakin banyak perasaan sakit atau perasaan merana yang seseorang rasakan, semakin banyak makna yang dibutuhkan untuk mencari alasan yang mulia dan rasional untuk menghilangkan perasaan merana tersebut.

Faktanya, manusia adalah makhluk sosial, dan juga makhluk yang menciptakan konsep fana untuk membuat diri kita senang.

Makna yang tidak tentu itu dicari dan ditemukan, dan dicari, dan ditemukan kembali, selama kita masih membutuhkannya.

Terkadang, makna dicari bukan sebagai hal atau sumber kebahagiaan itu sendiri, tetapi makna dicari untuk membuat hal-hal di sekitar kita tampak rasional, dan sesudah hal tersebut tampak rasional, tidak perlu lagi penjelasan, karena ketika hal sudah tampak rasional, kita merasa puas, dan dari perasaan puas itu, kita mampu mendapat sebagian dari kebahagiaan.

Huh, pusing gak tuh?

Intinya, manusia mencari alasan untuk membuat hal-hal yang mereka lakukan bermakna, dan masuk akal. Mereka… eh, maaf, KITA akan mencari alasan untuk mendapatkan jawaban dan logika yang rasional sebagai sebuah bentuk dari… placebo untuk mendapatkan kenyamanan akan hal buruk yang sedang dirasakan.

Lain kali anda sedang kesulitan melakukan sesuatu, carilah alasan besar untuk mendasari perasaan buruk anda.

Unik? Gak

Bagaimana kalau aku ingatkan anda bahwa anda merasa terlalu unik.

Apakah anda seperti kebanyakan orang? Jawabannya, tidak. Tentunya, orang macam apa yang akan merasa puas kalau mereka seperti kebanyakan orang.

Apakah kemampuan anda pada bidang di mana anda bekerja lebih baik daripada rata-rata? Jawabannya, adalah iya. Anda merasa seperti itu.

Lucunya. Kalau kebanyakan orang merasa bahwa mereka unik, dan mereka merasa lebih baik dari rata-rata. Tidak ada yang namanya rata-rata.

Sedangkan, kalau kita mengambilnya dari sudut pandang statistik, manusia rata-rata ada lebih banyak dari manusia luar biasa. Peluang anda menjadi manusia luar biasa lebih kecil dari peluang anda menjadi manusia rata-rata.

Tetapi, rasionalisasi manusia kembali menjadi faktor. Manusia berbohong pada dirinya sendiri untuk menghindari percakapan canggung dengan subconscious mereka.

Dan untuk kali ini. Kebohongan tersebut aku terima. Kita tidak akan pernah merasa puas kalau kita menyadari bahwa kita tidak unik.

Mindset Sherlock Holmes

Mindset Sherlock Holmes

Sherlock Holmes.

Nama yang hampir bisa dipastikan menciptakan image sebuah detektif yang sedikit sok tahu, (oke, sangat sok tahu) tampak sangat canggung dan anti-sosial, dan tentunya… pandai.

Sesudah menghabiskan 50 buku dari daftar yang aku pegang sejak tahun 2018, plus beberapa buku yang disebutkan sebagai sumber dari kelimapuluh buku tersebut, aku belum sempat menemukan serta mendapatkan buku-buku nonfiksi lain.

Jadi tentunya, aku mengutak-atik satu dua buku, mencari buku fiksi, membaca ulang buku yang sudah kubaca sebelumnya, dan juga mencari inspirasi dari buku-buku fiksi yang sudah lama tersimpan tapi belum sempat kubaca.

Lalu, sesudah sekitar 12 judul buku fiksi dengan kepanjangan yang tak menentu. Datanglah Sherlock. Aku sudah ingin membaca tentang cara berpikir Holmes (ada buku pendek ditulis oleh Daniel Smith dan buku panjang ditulis oleh Maria Konnikova) sejak tahun 2018 awal, dan sekarang ketika kita sudah ada di pertengahan 2019, dan daftar bukuku sudah habis… aku kerjakan juga.

Ya, namanya juga sering lupa (hal yang harusnya berkurang sesudah membaca kedua buku tersebut), mau gimana lagi. Bagaimanapun juga, selamat menikmati 5 tips sederhana (silahkan baca buku untuk versi panjang) untuk memiliki kemampuan analisa serta memori yang similer ke Sherlock Holmes.

Gudang Otak

Gudang otak. Istilah yang digunakan kedua buku ini adalah Brain Attic, namun meski jika diterjemahkan secara harfiah Attic berarti loteng, kurasa dalam konteks bahasa kali ini, istilah gudang akan lebih tepat.

Bagi sebagian besar orang, seperti aku (terutama sebelum membaca buku ini) dan kemungkinan besar pembaca… informasi disetor secara acak.

Hal paling fundamental untuk mendapatkan gaya berpikir yang lebih mirip dengan Sherlock adalah dengan memiliki gudang otak yang tertata dengan rapih.

Gudang otak di sini bukan berarti kapasitas otak seseorang dalam menyimpan memori, karena lucunya kita hampir tidak mungkin melupakan sesuatu, yang ada bukan hilang ingatan, tetapi ingatan tersebut ada di tempat yang sulit dijangkau.

Holmes menyimpan secara otomatis informasi yang ia butuhkan di atas. Ibarat sebuah gudang, jika Holmes ingin mengambil informasi yang punya potensi membantunya memecahkan sebuah kasus, ia cukup membuka pintu gudangnya, dan mengambil barang yang lokasinya sudah tepat di depan pintu.

Ini alasan, bagi Holmes, informasi yang seharusnya diketahui anak kelas 1 SD bahwa bumi mengitari matahari dan bukan sebaliknya tidak ada kepentingannya bagi Holmes. Baginya, tidak ada bedanya jika seandainya bumi mengitari matahari atau matahari mengitari bumi, kasus yang ia pecahkan tidak akan berubah sedikitpun jika ia mengetahui informasi ini.

Baginya, informasi seperti ini tidak penting, dan ia simpan jauh di dalam, untuk ia ambil ketika ia butuhkan di lain hari, seandainya ada kasus yang membutuhkannya, ia hanya perlu membuang waktu ekstra untuk mendapatkan informasi tersebut, dan ia lakukan ini ketika ia sedang hilang jauh dalam pikirannya.

Hal penting lain yang perlu diketahui ketika ingin menyusun ulang informasi sesuai ke Gudang Otak seseorang ada di fakta bahwa, seberapa besar atau buruk ingatanmu, jika gudang otakmu tertata rapih, tidak ada orang yang akan mengalami kesulitan mencari jawaban akan sesuatu.

Jumlah informasi yang seseorang mampu setor tidak mempengaruhi secepat apa seseorang dapat mendapatkan informasi tersebut.

Sebagai contoh. Aku memiliki komputer dengan memori 32 giga byte, dan temanku memiliki komputer dengan memori 128 giga byte. Tidak sepertinya, aku menyimpan file dan aplikasi yang aku butuhkan di desktop, dan file-file yang aku jarang gunakan di dalam folder dan tertata dengan rapih, tidak ada file yang tidak terletak di luar folder. Temanku, pada sisi lain, memasukkan apapun tanpa memfilternya di desktop, dan semua filenya ia biarkan secara berantakan.

Mungkin ia bisa menyetor file dan aplikasi 4 kali lipat lebih banyak dariku, tetapi jika ia butuh waktu 1 menit untuk mencari file, aku cukup diberikan waktu 3 detik untuk mencari file.

Mengerti?

Amati dan Amati

Seorang anak memiliki kemampuan mengamati yang lebih baik daripada seorang dewasa pada umumnya.

Holmes menghabiskan kemampuan otaknya yang terbatas untuk mengamati, ia tahu bahwa ia mudah terdistraksi (hal yang Holmes sendiri kadang akui meski dengan cara yang sombong) jadi ia menghabiskan energi dan sebagian kesadarannya untuk menyuruh otaknya secara langsung untuk mengamati. Holmes menggunakan seluruh indranya (tergantung berapa indra yang kau percaya kau miliki, karena, aku yakin ada orang yang juga percaya pada indra keenam, ke 12, dan seterusnya) untuk mendapatkan informasinya, dan secara sadar memanfaatkan semuanya ketika sedang mengamati sesuatu.

Jika Sherlock Holmes saja perlu menyuruh otaknya mengamati, apalagi orang-orang seperti aku dan pembaca. Bagi Holmes, sistem mengatur gudang otaknya sudah otomatis, tetapi untuk mengamati, ia masih perlu memberikan energi dan kesadarannya untuk melakukan hal tersebut. Ketika ia sedang mengamati sesuatu, ia menghabiskan seluruh kesadarannya ke hal yang ia sedang amati, seperti yang ia lakukan ketika ia bertemu orang. Ia mencari informasi yang menurutnya relevan, dan ia simpan di desktop agar ia tidak perlu mengalami kesulitan untuk mencari kembali informasi tersebut.

Orang yang mengamati adalah orang yang ikut berkontribusi dan menambah ilmu, hadir sendiri sudah tidak cukup jika ingin mendapatkan pengalaman dan informasi yang utuh, informasi yang lengkap.

Korelasi dan Analisa

Mengamati tidak sebatas mendapatkan informasi saja.

Bagi Holmes, ia perlu ikut mendapatkan dan terus membandingkan hal yang ia dapatkan tadi untuk mencari penyebab, dan mencari akibat dari suatu informasi.

Berhenti di mengamati dan menyimpan informasi bukan hal yang buruk, tetapi informasi yang didapatkan tadi tidak akan pernah lengkap, dan tidak akan punya makna berdampak lama jika Holmes tidak tahu apa yang ia perlu lakukan dengan informasi tersebut.

Ia mencari hubungan dari informasi yang ia dapatkan dengan hal-hal yang baru ini terjadi, mencari apa alasan seseorang melakukan sesuatu, dan mencari apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?

Bagi Holmes, proses ini adalah proses yang menentukan benar atau salahnya suatu hipotesa, benar atau salahnya suatu informasi.

Seolah-olah Holmes mengerjakan suatu eksperimen secara tidak sadar dan otomatis di dalam otaknya. Ia selalu berteori, selalu butuh menanyakan pertanyaan, lalu mencari informasi dan bukti untuk memastikan masalah tersebut, dan membandingkannya dengan hasil analisa serta pengamatan yang ia telah lakukan, dan informasi yang disetor dengan rapih di dalam gudang otak miliknya.

Kurangi Makan ketika ingin Berpikir

Manusia rata-rata hanya menggunakan 10% dari otak mereka. Katanya mah. Walaupun ada kontroversi dan banyak eksperimen baru yang berusaha membuktikan 10% informasi tersebut sebagai salah… Ada hal yang aku tahu dengan pasti.

Mayoritas dari proses otak seseorang berada diluar alam bawah sadar mereka. Seperti misalnya, bernafas, memastikan jantung tetap berdetak, menyalurkan darah, dan yang paling terakhir, mencerna makanan.

Ketiga hal tersebut tidak mungkin digantikan, tetapi, kalau untuk memastikan seseorang tidak mencerna makanan, aku rasa itu bukan hal yang salah.

Mencerna makanan merupakan hal yang ‘berat’ untuk dilakukan dan memberikan efek yang memperlambat gaya berpikir seseorang hingga 4 jam sesudah makanan dikonsumsi.

Lalu anda akan bertanya… “Tapi Azriel, aku gak bisa mikir kalau belum makan.” Meski ini memang nyata bagi sebagian orang, ini terjadi bukan karena tidak ada kendali atas otak, melainkan karena Gudang Otak yang tidak rapih, memprioritaskan sensasi kebanding logika. Awalnya ini akan sulit, tetapi kalau anda perlu berpikir sampai level Sherlock, aku yakin pengorbanan ini akan dilakukan.

Ketahui Batasan Anda

Meski Holmes sering tampak bahwa ia mendorong dirinya terlalu jauh dengan tidak makan selama 8 jam, dengan memutuskan untuk mencari tahu sesuatu tanpa istirahat, dan tanpa rasa cukup, Holmes melakukan semua ini secara sadar.

Ia tahu bahwa ia masih bisa mendorong dirinya sendiri lebih lanjut, dan kurasa bahkan Holmes sekalipun tahu bahwa ia harus istirahat dan menyimpan berpikirnya untuk lain hari.

Ini adalah penutup yang pas karena sebenarnya, Holmes adalah manusia, dan jangan pernah berpikir untuk mengalahkannya, karena meskipun Holmes adalah karakter fiksi (yang memang punya portret karakter yang tergantung pada aktornya masing-masing seperti Cumberbatch dengan gaya smug geek-nya dan Robert Downey Jr. dengan gayanya yang penuh dengan swag) kita tidak bisa berharap untuk mengalahkannya dalam ini.

Pernahkah anda berpikir untuk mengalahkan Achilles dalam pertarungan1 lawan 1? Pernahkah anda berpikir untuk mengalahkan Messi atau Ronaldo dalam menggiring bola? Pernahkah anda berpikir bahwa anda bisa mengalahkan Jaden Smith dalam membuat tweet bodoh? (oke, untuk yang terakhir aku rasa tidak ada salahnya mencoba)

Holmes adalah manusia (meskipun fiktif) terhebat dalam analisa, pengamatan, dan manajemen memori, dan bahkan, menggunakan kemampuannya sebagai batasan kita mendorong diri kita saja tidak terdengar realistis…

Ketahui batasanmu. Lagian, anda juga sebenarnya kan masih manusia (dan tidak seperti Holmes… anda nyata)

Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Pengaturan Struktur Pressing Roberto Firmino

Roberto Firmino adalah seorang anomali. Dia seorang pemain kelas dunia, bermain di posisi yang jarang dimanfaatkan pelatih (False 9), dan bahkan dalam posisi tersebut, ia masih sebuah anomali.

Keanehan dan keunikan posisi di mana Firmino bermain ini cukup untuk memberikan posisi miliknya namanya sendiri. “The Firmino Role” menjadi sebuah posisi di mana seorang False Nine melakukan pengaturan struktur tim dan mengatur pressing. Struktur pressing sendiri umumnya ditentukan bukan oleh Striker tengah, tetapi oleh Gelandang Box-to-Box, atau Gelandang Bertahan.

Seperti orang-orang lihat, struktur Pressing Liverpool dalam struktur 4-3-3 memanfaatkan Firmino untuk pengaturan gerakan seluruh timnya. Strukturnya dalam formasi 4-2-3-1 berubah total, tapi, sekarang bukan waktu untuk membahas hal tersebut.

Kalau anda ingin tahu sebenarnya seberapa teraturnya kekacauan dan kehebohan di Anfield, lanjut baca. Karena sebenarnya, dibalik kehebohan dan kerusuhan pressing yang Klopp manfaatkan, semuanya sebenarnya terstruktur.

Pressing Posisi

Musim 2018/19 mengubah total gaya pressing Liverpool. Iya, mereka masih memanfaatkan Gegenpressing, iya, mereka masih sebuah tim yang memiliki kemampuan serangan balik lebih baik daripada serangan terstruktur ketika memegang bola, tetapi, gaya pressing yang diterapkan Liverpool berubah total.

Hard-Pressing, alias, berlari untuk merebut bola, hampir tidak pernah dilakukan kecuali benar-benar diperlukan, dan alih-alih memaksa lawan untuk memainkan bola di bawah tekanan, Liverpool memaksa lawan untuk bermain bola dengan pintar, dengan cara mematikan hampir seluruh opsi operan yang ada.

Pressing ini diketahui dengan Pressing Posisi. Melakukan pressing, tanpa perlu bergerak, dan hanya dengan mengatur ulang posisi tiap kali lawan bergerak. Ini mengurangi kebutuhan stamina untuk bermain dalam sistem pressing Liverpool. Memang masih butuh banyak stamina, tetapi lebih sedikit dari musim 2017/18.

Firmino mengatur posisi tim secara keseluruhan, mulai dari gelandang, hingga bek kanan dan kiri, semuanya mengikuti Firmino untuk keseluruhan struktur.

Sebagai contoh…

Firmino berada di antara Gelandang Bertahan (Fabinho) dan kedua bek tengah lawan (kedua CB) langsung memotong jalur operan antara keduanya. Lawan hanya bisa mengoper ke Bek Kanan (RB), Bek Kiri (LB), atau Bek tengah yang lain.

Namun, berdasarkan posisi Firmino, Salah dan Mané juga berada di posisi yang cukup, tapi tidak terlalu sentral untuk bisa memotong jalur operan antara kedua bek sayap, tanpa menghalanginya secara langsung, memberikan godaan bagi pemain yang memegang bola.

Selain itu, Robertson, dan Trent (Trent Alexander-Arnold) berada di posisi yang cukup dekat untuk lari ke depan seandainya Salah atau Mané gagal memotong bola, memberikan tekanan yang cukup untuk memenangkan bola, serta memberikan orang tambahan dan menyulitkan lawan.

Ketiga gelandang cukup sentral untuk bisa menjadi pemain tambahan di posisi lebar, seandainya lawan sukses memberikan umpan lambung untuk melewati seluruh struktur Liverpool.

Ketika itu terjadi, struktur tim berubah, dan seandainya lawan memiliki bek tengah yang mampu memberikan bola berkualitas tinggi tanpa dipotong Van Dijk, Liverpool dalam bahaya.

Ini alasan kenapa salah satu pertandingan terbaik musim kemarin (dalam opiniku) merupakan Chelsea vs Liverpool di Stamford Bridge. Kemampuan David Luiz bagi Chelsea cukup untuk sesekali melewati pressing posisi Liverpool.

Wow. Ini semua perlu dijelaskan dengan dua gambar dan 5 paragraf, padahal bola hanya ditendang sekali.

Transisi Press

Oke, lalu, bagaimana cara terjadi transisi dari pressing posisi ke hard press?

Jalur lari ideal seandainya bola dimenangkan…

Ketika Firmino merasa bahwa lawan telah menunda untuk waktu yang cukup lama, atau mulai kebingungan, ia melakukan pressing.

Ketika itu terjadi, posisi Firmino yang tadinya berada di zona antara gelandang dan kedua sayap, maju, dan posisi yang mungkin tampak sebagai 4-3-1-2, kembali menjadi 4-3-3 yang sentral, dengan kedua sayap memotong ke dalam, siap menerima bola dan membantu tekanan ke keempat pemain bertahan.

Jika ini terjadi, Fabinho maju, dan memberikan tekanan secara langsung ke gelandang bertahan lawan (CDM), dengan tujuan mematikan opsi operan tersebut.

Kedua gelandang tengah juga tetap berusaha mematikan opsi operan ke gelandang lawan,  memberikan ruang bagi kedua bek sayap untuk bias melakukan overlap dan menambah jumlah orang dalam serangan.

Pada momen inilah, Liverpool paling rentan ke operan lambung yang bagus. Sebuah bola terobosan lambung yang dapat dikendalikan oleh seorang penyerang dapat menciptakan situasi serangan 3 penyerang, melawan 2 pemain bertahan.

Jalur lari yang setengah terpotong jika bola gagal dimenangkan dan ada operan bagus tercipta.

Selain itu, perlu diketahui bahwa Henderson yang tadinya bermain di posisi gelandang bertahan, (ketika fisik Fabinho masih disiapkan oleh Klopp) merasa kurang nyaman dengan kurangnya gerakan, mengingat Henderson adalah seorang gelandang Box-To-Box.

Sampai Fabinho mampu bermain dengan stabil, Liverpool punya kesulitan menangani serangan balik. Peran Firmino juga sangat mengatur pressing di sini.

Isu Serangan Balik

Fabinho mampu mengisi peran gelandang bertahan di Liverpool dengan sempurna. Fungsinya di struktur tim yang sedang melakukan hard-pressing murni untuk mendaur ulang bola, dan menghentikan serangan balik.

Fabinho tidak melakukan hard-pressing seperti yang Firmino lakukan, yaitu untuk memenangkan bola ketika lawan sedang perlu bertransisi, Fabinho melakukan hal yang berbeda. Ia memotong jalur umpan transisi lawan yang paling cepat, dan memastikan bola tersebut dapat ia kendalikan, atau setidaknya, tidak sampai menciptakan serangan balik.

Umpan terpotong, bola disundul…

Begitu bola tersebut ia kendalikan, ia melakukan hal paling sederhana yaitu mengopernya kembali ke pemain kosong terdekat.

Keuntungan dari sprint jarak dekat untuk memotong jalur umpan yang Fabinho terapkan ini, ada di… jika serangan balik tidak tercipta, para pemain serang, gelandang, dan bek sayap yang ikut maju, tidak perlu berpikir untuk mundur lagi demi mengurangi jumlah lawan yang lolos dalam serangan balik.

Seperti yang ada di gambar ini… Jika Fabinho tidak mencapai bola tersebut, karena itu merupakan umpan lambung, terlalu cepat, atau semacamnya, Matip, dapat melakukan hard pressing untuk membantunya mendaur ulang serangan. Aku juga cukup yakin bahwa tidak banyak pemain mampu melewati van Dijk dengan mudah, jadi, secara logika dan sistem, Pressing Klopp ini, hanya bisa dihilangkan oleh kreativitas, atau taktik yang khusus didesain untuk mengalahkan pressing Klopp.

Kesimpulan

Ya, taktik pressing Klopp yang berdasarkan kedua pemain Brazil yang sentral dalam system Klopp (maaf Alisson, tapi peranmu hampir full teknis dan fisik, alih-alih taktis), semoga ini dapat menjadi sedikit pencerahan bagi anda yang ingin tahu mengenai kerusuhan di sebuah stadion di Merseyside, karena sebenarnya, kerusuhan ini hanya tampak rusuh. Aslinya dia terstruktur dengan rapih.

Sampai lain waktu!

Dewa-Dewi Yunani vs Romawi

Dewa-Dewi Yunani vs Romawi

Ini adalah tulisan yang akan membandingkan perbedaan antara Dewa-Dewi besar di Yunani dan di Romawi. Dewa-dewi kedua negeri ini cukup berbeda, sebenarnya.

Meskipun bangsa Romawi bertahan jauh lebih lama kebanding kerajaan-kerajaan Yunani, dan di Yunani ada perbedaan bahwa tiap kota memiliki dewa-dewi favoritnya, kedua bangsa tersebut memiliki dewa yang sangat mirip. Hanya saja, pemanfaatan dewa-dewa tersebut cukup berbeda.

Aku hanya akan memasukkan keduabelas dewa-dewi Olympus, plus Hades/Pluto. Kurasa, cukup menarik untuk bisa dinikmati, bahkan jika anda tidak mengikuti mitologi sebanyak aku.

Plus, aku sangat bosan menunggu Tyrant’s Tomb keluar September nanti. (Kalau anda mengikuti Trials of Apollo. Aku siap bertaruh satu paket Oreo isi tiga dan segelas susu untuk mencelup kue-kue tersebut bahwa Frank atau Hazel akan mati, karena… bukunya harusnya keluar pada Mei! Dan tahun lalu, serta tahun-tahun sebelumnya, Riordan juga mengerjakan Magnus Chase, dan ia tidak meminta delay 4 bulan untuk mengeluarkan bukunya. Ya, lebih baik daripada dikerjakan buru-buru dan ceritanya jadi tidak bagus)

Kembali ke topik. Maaf…

Zeus vs Jupiter

Siapa dia? Keduanya sama-sama berperan sebagai Dewa Langit dan Raja para Dewa, memiliki petir, mengatur keadilan di Olympus, dan seterusnya.

Mana yang lebih kuat? Jupiter. Kalau kekuatan Raja para Dewa mengikuti ukuran dan jumlah pengikutnya, pengikut Jupiter di Romawi jauh mengalahkan pengikut Zeus di Yunani. Juga, Jupiter punya gelar Jupiter Maximus, Zeus gak.

Perbedaan Visual: Selain fakta bahwa umumnya dewa Yunani mengenakan toga, dan dewa Romawi mengenakan baju zirah, Jupiter dikenal punya Elang-elang Romawi di bajunya. Simbol utamanya pindah dari petir menjadi elang.

Sebuah figurin dari Jupiter… dan bukan Zeus.

Yunani:

  • Terkenal akan kebiasaannya melakukan tantrum kalau sedang kesal (dengan efek samping menciptakan badai petir) atau memacari cewe cantik karena ia tidak setia dengan Istrinya.
  • Digambarkan bijak tetapi tidak tampak sedikitpun bijak jika ia berada di sebuah cerita.

Romawi:

  • Memacari cewe cantik dan selingkuh dari Istrinya (sama juga sih) tapi dengan alasan menciptakan pahlawan dan prajurit kuat bagi Republik. Nice Save!
  • Lebih bijak, tidak begitu impulsif, tetapi masih memiliki sedikit isu amarah. Para dewa-dewi Yunani dan Romawi butuh Dewi Terapi Keluarga sepertinya. Juga lebih paranoid. (pantas saja ia paranoid. Para Kaisar Romawi banyak sekali yang dibunuh oleh “teman”-nya sendiri)

Hera vs Juno

Siapa dia? Hera dan Juno sama-sama bertugas sebagai Dewi pernikahan, dan keduanya juga sama-sama Ratu Olympus. Istri dari Zeus/Jupiter.

Mana yang lebih kuat? Juno. Alasan yang sama dengan Jupiter.

Perbedaan Visual: Hera terbiasa membawa tongkat dengan logo burung merak, dan kedua simbol utama Hera adalah Merak (makhluk indah dan anggun), serta Sapi (makhluk yang menjaga anaknya dengan baik). Juno, pada sisi lain, lebih menyukai kambing gunung sebagai simbol utamanya. Umumnya Juno digambarkan dengan kepala dari kambing gunung karena para wanita di Yunani digambarkan dengan simbol tersebut.

Yunani:

  • Pekerjaan Hera sehari-hari. Memastikan tidak ada satupun dari pacar Zeus yang sedang hidup senang.
  • Memiliki kebiasaan marah-marah, namun, sebagai seorang Ibu dan Ratu, memastikan tidak banyak konflik di Olympus.

Romawi:

  • Oke, sejujurnya, hampir tidak ada perbedaan langsung di antara keduanya, tapi Juno menjadi sumber penerima doa dari para istri prajurit. Tidak seperti di Yunani. Selain itu, ia menjadi lebih pandai dan tidak begitu banyak marah-marah (selama Jupiter sedang setia). Seperti yang diharapkan seorang Suami yang merupakan prajurit pada kebanyakan Istri mereka.

Poseidon vs Neptune

Siapa dia? Dewa laut, baik di Yunani atau Romawi.

Mana yang lebih kuat? Poseidon. Prajurit Romawi tidak suka dengan lautan. Neptunus menjadi jauh lebih lemah kebanding dengan Poseidon. (ia masih ditakuti, tapi tidak diapresiasi)

Perbedaan Visual: Tidak banyak. Selain perbedaan umum yaitu, Toga vs Baju Zirah, sedikitnya patung Neptune di Romawi tidak begitu membantu.

Yunani:

  • Terkenal akan kemampuannya menciptakan gelombang air, membuat kerajaan yang tidak menghargainya terkena badai serta gempa bumi, dan seterusnya.
  • Sistem kerajaan terpisah di Yunani membuat Poseidon sangat disukai oleh kerajaan di tepian laut. Sebagian besar kota yang memiliki nelayan mempunyai kuil ekstra besar untuknya.

Romawi:

  • Menjadi lebih lemah,tidak mendapat banyak dukungan, dan fakta bahwa Romawi menuntut tiap bagian pasukannya untuk mendukung dewa yang sama membuat Neptune tidak diapresiasi sebanyak Poseidon.
  • Oh iya, anak-anak Neptune dianggap sebagai kabar buruk oleh prajurit Romawi, karena mereka menganggap perjalanan dengan kapal sebagai perjalanan yang memiliki potensi kematian terbesar. Plus, mengingat bahwa Romawi merupakan keturunan dari Troya, dan Poseidon sangat-sangat anti-Troya di perang tersebut… Ya, intinya, orang Romawi tidak bisa menghargai Neptune.

Demeter vs Ceres

Siapa dia? Dewi agrikultur dalam bentuk Yunani, meses coklat dalam bentuk Romawi.

Mana yang lebih kuat? Demeter. Romawi merupakan bangsa berperang. Ketika mereka ingin makan, mereka tidak menumbuhkan makanannya. Ceres tidak begitu diapresiasi kecuali memang dibutuhkan.

Perbedaan Visual: Tidak banyak patung untuk membantuku menjelaskan.

Yunani:

  • Cerita yang cukup umum di Yunani kuno adalah penculikan anak Demeter, Persephone, oleh Hades. Jika anda belum pernah mendengarnya, intinya, resolusi konflik dan negosiasi sesudah penculikan tersebut adalah, para bangsa Yunani tidak bisa menumbuhkan makanan ketika musim gugur.
  • Demeter ditakuti saat musim gugur (ia lagi bad mood, jangan dipaksa), dan ia diapresiasi saat tanaman bisa tumbuh. Orang macam apa yang tidak mengapresiasi dewi yang menumbuhkan makanan.

Romawi:

  • Ya… Warga Romawi tidak butuh makanan dari Agrikultur. Cukup sampai situ saja.

Hades vs Pluto

Siapa dia? Dewa kematian serta bawah tanah dalam bentuk Yunani. Dewa kematian, bawah tanah, dan mineral berharga dalam bentuk Romawi.

Mana yang lebih kuat? Pluto.

Perbedaan Visual: Pluto selalu digambarkan memegang koin emas dan memiliki baju zirah yang dibuat dari emas. Para penyair Romawi selalu menggambarkan Pluto sebagai dewa terkaya di Yunani.

Yunani:

  • Hades menyeramkan. Ia menjaga jiwa-jiwa yang sudah mati, dan hidupnya cukup menderita. Aku tidak bisa dan perlu menjelaskan lebih lanjut tanpa membahas hal-hal menyeramkan, jadi, cukup sampai situ.

Romawi:

  • Sebagai dewa kekayaan dan kematian, para prajurit Romawi yang mengharapkan kematian bagi lawannya, menghargai Pluto lebih banyak daripada para warga Yunani. Oh, dan, Pluto digambarkan sebagai pemilik mafia, jadi, walaupun ia cukup kejam dan creepy, ia tetap kaya. Orang-orang suka uang.

Athena vs Minerva

Siapa dia?Athena adalah dewi peperangan (sisi taktis dan strategi) serta dewi kebijaksanaan. Minerva hanyalah dewi kebijaksanaan saja.

Mana yang lebih kuat? Athena. Ada kota di Yunani bernama Athens untuk mengingatkan anda akan hal tersebut. Plus, Minerva bukan dewi peperangan lagi, jadi, ya…

Perbedaan Visual: Minerva tidak pernah digambarkan sebagai Dewi yang memegang senjata. Iya. Itu sesederhana itu.

Yunani:

  • Athena memiliki sebuah kota dinamakan untuknya, dan dicintai karena menciptakan zaitun yang menjadi sumber ekonomi penting di sebagian besar kota.
  • Athena juga menjadi penerima doa para prajurit dan jendral di Yunani.

Romawi:

  • Minerva hanya dipuja oleh para cendekiawan di Romawi. Bangsa sebesar itu tidak punya banyak cendekiawan, sayangnya.

Seperti di penjelasan… Tidak ada satupun senjata yang para warga Romawi izinkan Minerva pegang.

Ares vs Mars

Siapa dia? Dewa perang!!!!!!!!!

Mana yang lebih kuat? Mars. (gelarnya, Mars Ultor. Ares tidak punya gelar) Tidak perlu penjelasan lebih lanjut.

Perbedaan Visual: Ares lebih menyukai pedang dan perisai, dengan pedang sebagai simbol utamanya. Mars, pada sisi lain, menyukai tombak, kadang menggunakan dua tombak untuk berperang. Baju zirahnya memiliki banyak simbol elang digambarkan untuk menandakan superioritas Republik Romawi. Simbol Mars adalah dua tombak.

Yunani:

  • Ares kasarnya merupakan dewa yang tidak dibutuhkan setiap waktu, bagi kerajaan-kerajaan di Yunani, mereka hanya benar-benar memuja Ares ketika butuh perang. Sebagian besar waktu malah, kekejaman Ares di peperangan tidak begitu disukai para prajurit Yunani, mereka memilih intelegensia dari Athena.

Romawi:

  • Mars, pada sisi lain… Merupakan dewa ketiga paling kuat sesudah Jupiter dan Juno. Jenis perang yang Mars dukung mengambil intelegensia milik Athena, serta kekejaman dari Ares di zaman Yunani. Jika Athena melemah drastis, Mars jadi jauh lebih menyeramkan.
  • Selain itu, Mars juga merupakan ayah dari Romulus dan Remus. Kedua demigod yang menciptakan Romawi.

Sesuai tebakan anda, ini adalah patung dari Mars. Pertama, ada serigala, simbol prajurit Romawi, dan Elang di perisai-nya…

Apollo vs Apollo

Siapa dia? Dewa musik, Dewa pemanah, Dewa… Ah, males ah, buka aja tulisan ini.

Mana yang lebih kuat? Apollo. 😀 Sebenarnya, sama sih, mereka sama-sama kuat, hanya memiliki sedikit perbedaan tugas.

Perbedaan Visual: Hampir persis. (Masalahnya Apollo sering digambarkan tanpa pakaian apa-apa jadi… perbedaan pakaian umum pun, tidak selalu berpengaruh)

Yunani

  • Apollo lebih banyak dipuja oleh para penyair serta para musikus di Yunani. Ia dicintai semua orang, memang betul, namun, pemuja utamanya merupakan penyair, musikus, dan pemanah.

Romawi:

  • Apollo di Romawi tidak sama. Pertama-tama, prajurit Romawi menyukai tombak dan pedang kebanding panah, dan mereka tidak butuh musik sebanyak para orang Yunani. Namun, Apollo tetap dipuja oleh semua orang, dan ia mendapat lebih banyak fans di dewan. Dewan Romawi sangat memuja Apollo karena ia juga merupakan dewa peramal. Lebih dipuja dalam segi meramal kebanding oleh para orang Yunani, karena seluruh Republik Romawi mengikuti ramalan yang sama.

Dionysus vs Bacchus

Siapa dia? Dewa anggur dan pesta pora!

Mana yang lebih kuat? Sama-sama saja…

Perbedaan Visual: Hampir persis. Bacchus pun tidak begitu sering berperang, tetapi ia dicintai dengan caranya sendiri

Yunani:

  • Pesta, drama, dan acara semacamnya merupakan tempat kesukaan Dionysus. Ia berpesta dan berpesta sesering mungkin…

Romawi:

  • Bacchus, pada sisi lain, tidak menganjurkan pesta pora jika tidak ada kemenangan. Intisari perbedaan Bacchus dan Dionysus ada di fakta bahwa Dionysus berpesta sepanjang waktu, dan Bacchus mendorong pesta sebagai bentuk selebrasi akan kemenangan.

Sisanya…

Selain kesembilan dewa tersebut, ada sisa…

Hephaestus/Vulcan (Dewa pandai besi), Hermes/Mercury (Dewa pengantar pesan), Aphrodite/Venus (Dewi cinta), dan Artemis/Diana (Dewi perburuan serta perawan).

Keempat dewa ini, hampir sama persis dalam bentuk Yunani serta Romawi. Mereka tidak punya perbedaan krusial atau semacamnya, dan bisa dibilang bahwa tugas mereka sama pentingnya dalam kedua sisi. Mungkin bentuk Romawi mereka lebih kuat dengan alasan yang sama Jupiter dan Juno lebih kuat, jadi bahkan jika tugas mereka sama, mereka punya lebih banyak pengikut, tapi aku tidak bisa dan juga tidak mau berkomentar terlalu banyak.

Kesimpulan

Oke… Aku sudah cukup banyak menerima orang-orang yang menyatakan bahwa Dewa Yunani dan Romawi sama saja. Gak. Mereka berubah. Cukup parah malah perubahannya bagi sebagian besar dewanya. Banyak sekali orang berpikir bahwa kedua peradaban tersebut sangat similer, padahal budayanya jelas berbeda, alhasil, dewa yang mereka puja juga berbeda… Eesh…

Sampai lain waktu!

What do the Stranger Things Books Mean For The Show?

What do the Stranger Things Books Mean For The Show?

So… Today’s writing will be in English, in consideration of reaching more people, though I might consider a rewrite in Bahasa if there’s plenty of local traffic for the Hit Netflix Show.

All 3 books have been finished by yours truly… within 3 weeks of the third season’s release. (a bit slow by my standards, but still…)

This article contains spoilers for all three seasons, so watch those first if you want to read this article. Oh, and it also contains spoilers for all 3 books. Suspicious Minds, (narrated by Eleven’s Mother, her friends, and Dr. Martin Brenner) being the first, Darkness on The Edge of Town (narrated by Jim Hopper) being the second, and Runaway Max (narrated by none other than Maxine Mayfield) being the third.

This article is purposed to help those who don’t want to bother buying and/or reading the book but wants to know the plots revealed and the potential seeds for a story in the fourth season that are revealed in this book.

Enjoy!

Suspicious Minds.

Written by Gwenda Bond.

This book takes place at the year 1969 and 1970. It does not alternate in timeline, but it does have multiple characters narrating the story.

This book exploits and creates the most plotlines when compared to the other two books, being set way before the first season and before Eleven’s birth.

The main plotline explains how Dr. Martin Brenner experiments on a bunch of girls, mostly at college level, as he uses his tech and knowledge to create potential weapons. Among the three experimented girls (do note that they receive a decent sum of money and had no idea they had a sociopathic, insane doctor leading the experiments) are Gloria Flowers, Alice Johnson, and Terry Ives, who is El’s mother, and is now insane and deeply traumatized thanks to some of the events that occurred in this book. That Martin Brenner, what a nice guy!

It explains how Kali, also known as Eight, (made an appearance in season 2, when El ran away, you should already know that) managed to see Brenner’s lab in Hawkins as evil, and how she was kept in custody. Kali was also trained by Brenner, and she was mentioned by Terry when visited by Hopper and Joyce in the second season. So, that’s good news, Kali escaped.

Those three girls eventually gained some psychic/strange/mental powers, which includes peeking into the future, and Astral Projection, (the thing that El does to look for someone using a blindfold and static noise) it is also noted that these 3 girls played a role in El’s powers.

They peeked into the future at some points, and saw El. In the future, which caused them to assume that Brenner has a second child in captive. So, this naturally sparked their curiosity.

After receiving experiments, and forms of ways to activate mental powers, and also seeing how Kali is kept captive through face to face meetings in the lab and (DUH!) Astral Projection, they realized something’s wrong… (took them a while)

They obviously snuck around the lab in an attempt to cut themselves loose of Brenner’s experiments and free Kali, as they did this, they happened to meet some files. Files of a Project INDIGO and a Project Mk ULTRA. The project INDIGO involves 10 of Brenner’s subjects, from Project 1-10. Project Mk ULTRA however, was about administering electric shocks to the potent Alice Johnson in an attempt to trigger mental powers.

These Project INDIGO files aren’t revealed, because of something I like to call a Writer’s excuse… (you know, the story forces the protagonist to rush, while in reality the writers are trying to hide stuff for future plotlines, so only some are revealed, we writers like doing that, wink, wink)

There are no subject 11, at least not yet, and the girls assumed (correctly) that they saw a glimpse of the future. They got a look at Kali’s files, and encountered information that revealed Kali’s powers.

At the climax of the book, as well as the end, three important things happened. The girls cut loose of their bonds with Brenner, Alice Johnson fled to Canada with Terry Ives’s help. And lastly… Terry gave birth to Jane Ives (fathered by her Boyfriend, Andrew Rich, who died in Vietnam) AKA Eleven, who was taken by Brenner, and receives mental training, isolation, and abuse. Brenner is officially Father of the Year here.

Plotholes

The reveal of projects 9 and 10, maybe 1-7 as well, the return of Alice Johnson, and/or Gloria Flowers, as well as their psychic friend that helped, Ken. Also, the rest of Project Mk ULTRA being revealed. I would want that.

Darkness on the Edge of the Town.

Written by Adam Christopher.

I’ll just skip most of the story since they don’t really matter to the canon Stranger Things world. However, since Jim Hopper does die (unless he comes back, stupid cliffhangers!) in season 3, if you want to get some El and Hopper moments, and some more badass cop moments, read this book.

It has 3 narrators, Hopper, Lisa Sargeson, a psychic/psychologist, and Hopper’s partner, Rosaria Delgado. It’s timeline alternates when Hopper has some flashbacks, or when Eleven, who is hearing this story from Hopper at during Christmas, 1984, asks a question. Main timeline, year 1977.

It tells about Hopper’s exploits in New York City, when he still had his daughter Sara, and he and his wife, Diane, is together.

Point is. He tries to catch an insane serial killer + cult leader named Saint John. Saint John’s biggest plan is to destroy New York City, and Hopper stopped him.

During the way, he does meet a special agent, and his case was stopped by this special agent, but Hopper being Hopper kept pushing on, and… he was told to go undercover and pretend to be a… Runaway cult member.

He blew his cover during the Saint John Cult (name of this organization, Vipers) /Gang -because being a cult leader is not enough for the guy- so called Armageddon and he helped kill him when his partner was endangered.

Saint John happens to be a War Veteran who actually believed in the Day of The Serpent, or his version of Armageddon lead by Satan himself, and is not just using that story to inspire hope and fear to his followers.

It is a thrilling tale, and I do suggest you just read it. At certain points of the story, Hopper told El that Rosaria Delgado survived, and they had a happy-ish ending as partners, and Hopper also had a happy ending as a Father and Husband. Okay, at least… before Sara died, and… yeah, so, it was partially happy.

Come to think of it, Guy’s a lot like Hercules. A miserable dude with anger issues who loses his family and goes insane and more miserable as he tries to redeem himself.

Plotholes

The most obvious plothole to leak out of this book is the return of Rosaria Delgado in the wake of Hopper’s death. That is, if Hopper IS dead… I think it’s the only one that’s explicit here. Maybe some of the surviving gang members that befriended Hopper and helped him might also return… but… you know, I’m not taking any chances.

Runaway Max.

Written by Brenna Yovanoff

Apparently. This book is very short. And it is only narrated by Max.

It’s not even half the length in words to the other two books.

The book is a bit complicated to explain, it does alternate a bit in timeline, but it mostly revolves during the events of the second season of Stranger Things. It retells the story, but in Max’s point of view.

I’ll just tell you the key points.

  • Max’s father is a guy who makes Fake ID’s and also arranges sport bets. He lives in San Diego, and Max goes to her mother during the divorce.
  • Max might dislike Billy, but, apparently, he sees his stepbrother as a womanizing jerk who happened to protect him when needed, and is usually right when he makes a point. Kind of like Barney Stinson from HIMYM if you ask me…
  • Billy receives lots of torture and physical abuse from his dad. Thought you might want to know. Considering… He’s dead. And if you’re also confused why the heck did Max cry when he resented and disliked his stepbrother anyway.
  • Max tries to run away right before the incident that involves Steve, Dustin, and Lucas attempting to burn a demodog down. She doesn’t believe the existence and the stuff Lucas told her. So, it’s a good thing Lucas came just in time to show her proof.
  • Most of the book doesn’t have much to add to the story, but it does seem enticing to try and hear it from her Point of View.

Plotholes

The only important one is when Max ran away, and just before she did, Lucas came knocking down her window to prove his story regarding the Upside Down and the Demodogs.

So, enjoy, and I certainly hope you guys got helped by this article, and saved some reading time! Until next time!

 

Antifragility Concept

Antifragility Concept

Manusia semakin menyukai adanya kekacauan.

Dengan adanya kekacauan, ada hal yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mendapat keuntungan, dari orang-orang yang berusaha meminimalisir kekacauan tersebut.

Tulisan hari ini akan erat kaitannya dengan konsep Disruption dan Zombie Company yang diperkenalkan oleh Rhenald Kasali, serta dengan konsep Anti Fragile dari Nassim Nicholas Taleb.

Selamat menikmati.

Braaaaains.

Zombi. Oke, aku tahu ini kata serapan, jadi tolong jangan komentar Ba-Bi-Bu dulu kalau aku mengejanya gak pake E ya. Eesh.

Sebelum aku bisa masuk ke konsep anti fragile yang agak (mungkin ada yang bilang sangat) membingungkan itu, ada sebuah konsep filosofis dan ekonomis lain yang perlu dimengerti.

Konsep disrupsi dari Rhenald Kasali ini meminta orang-orang yang memiliki bisnis untuk mengganggu bisnis lain, atau memiliki bisnis yang terganggu. Konsepnya sendiri cukup sederhana, namun Kasali telah mengadaptasi konsep ini menjadi Self-Disruption, dan banyak orang juga berusaha mencari cara untuk terus mendisrupsi (dalam konteks positif) diri untuk meningkatkan produktivitas.

Disrupsi sendiri merupakan kata yang amat sangat sederhana bukan? Sebuah gangguan. Mau seberapa kecil gangguan itu, atau seberapa besar gangguannya, artinya akan bermakna.

Kita melihat bisnis-bisnis tua macam Taksi Blue Bird menerima disrupsi yang berat karena ia merasa terlalu nyaman dengan gaya mereka yang lama itu, dan akhirnya mereka menjadi tidak tergunakan lagi di era Go-Jek dan Grab ini.

Kita melihat restoran mengambil disrupsi secara positif dengan lebih konservatif dalam menyewa jasa antar makanan karena adanya Go-Food.

Intinya, disrupsi memaksa bisnis-bisnis untuk terus berkembang dan terus memiliki hal baru untuk menghindari adanya bisnis baru yang lebih baik lagi.

Tidak seperti konsep anti-fragility, tetapi, Disrupsi bisa muncul dari perusahaan “Zombi” . Dalam kata Rhenald Kasali sendiri, perusaahan zombi adalah perusahaan yang hidup dan bermanfaat juga tidak, namun tidak mau mati.

Disrupsi paling mendasar dari perusahaan zombi ini mulai dari fakta bahwa mereka membuatbranding, konsumen, dan persentase ekonomi yang termakan. Sampai ke hal-hal yang lebih kompleks seperti ekonomi bertumbuh lebih “lambat” dan memakan ruang yang bisa dimanfaatkan perusahaan baru tumbuh di reruntuhannya

Perusahaan zombie (oke, aku menyerah, terima kasih autocorrect) ini bukan hanya mengambil ruang dan tempat secara ekonomis dari sebuah perusahaan baru untuk bertumbuh, tetapi juga jadi sumber disrupsi dan lokasi dimana terjadinya disrupsi tingkat berat terjadi.

Disrupsi menciptakan ketidaknyamanan, dari ketidaknyamanan itu, manusia akan mencari cara untuk membuatnya tampak lebih nyaman, dan bertumbuh lebih baik. Seperti yang kita telah lakukan selama manusia tumbuh menjadi spesies dominan di bumi ini.

Disrupsi positif

Tidak semua disrupsi berasal dari hal yang negatif.

Faktanya, juga ada disrupsi yang positif. Disrupsi positif ini diperkenalkan Kasali sebagai Self-Disruption. Dengan mencari kesalahan di diri sendiri, kita menciptakan ketidaknyamanan yang akan mendorong kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih baik.

Dari disrupsi diri sendiri ini, kita bisa menjadi orang yang lebih baik, mulai dari sebuah perusahaan menemukan inovasi baru, (seperti misalnya, pencipta OVO kesulitan membayar makanan ketika sedang buru-buru dan menunggu adanya kembalian, jadi mereka menciptakan Electronic Currency untuk mempermudah proses tersebut) hingga orang-orang memiliki produktivitas yang lebih baik.

Sebelum membahas anti-fragility, ini ada pesan sponsor sedikit, bagaimana cara meningkatkan produktivitas? (P.S. ini sebenarnya bukan pesan sponsor di mana aku dibayar untuk menuliskannya, jadi jangan langsung scroll karena takut ada seminar apa ngiklan di sini)

Disrupsi yang paling sederhana dan termudah untuk dilakukan adalah disrupsi yang diarahkan ke diri kita sendiri. Anggap anda seorang penulis, yang kesulitan menuliskan lebih dari 2000 kata dalam satu hari. Apa yang dapat anda lakukan sebagai manusia untuk meningkatkan produktivitas anda?

Anda akan mencari, dan kalau dalam kasusku, sepertinya itu terjadi karena aku sering malaweung (Bahasa Belanda ya :P) ketika menulis, dan aku mematikan jam-jam dan momen-momen di mana aku produktif untuk malaweung.

Kadang ini bisa dipecahkan kopi, tapi itu ada efek samping di mana malamnya aku baru tidur pukul 1.00 pagi (kadang 1 jam lebih cepat sih, tapi ngerti lah maksudnya) dan aku menghabiskan pagiku (yang seharusnya juga bisa produktif) untuk mengumpulkan tenaga dan kembali fokus.

Kopi menjadi solusi jangka pendek yang bagus, aku mungkin bisa meningkatkan produktivitasku secara jangka pendek hingga 2 kali lipat, mencapai 4000 kata dalam satu hari.

Tetapi esok harinya, jumlah kata tersebut turun menjadi 1000 karena adanya jam produktif yang terlewat. Plus aku tidak boleh dan tidak mau minum kopi 2 hari berturut-turut, meski itu punya potensi meningkatkan produktivitas.

Mungkin memang cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan meminimalisir distraksi. Seperti menulis dengan mouse yang baterainya penuh, dan wireless jadi tidak terganggu oleh kabel, mematikan internet untuk menghindari adanya distraksi dari artikel-artikel,pastikan laptop sudah tercharge penuh ketika sedang menulis, eh bentar, aku harus charge dulu, sisa 17% batre-nya nih… bentar, bentar…

Nah, dari sini, kita bisa melihat bahwa satu disrupsi kecil saja berarti banyak ya. Self-Disruption sederhana seperti ini saja sudah menunjukkan bahwa dengan mencari kesalahan di diri kita sendiri, kita akan berusaha untuk menghilangkan kesalahan tersebut, dan meningkatkan produktivitas.

Aku mulai meningkat kata-kata per hari kalau aku sedang mood dan punya ide untuk dituliskan. 3000 kata secara konstan bukan angka yang buruk kan? Morgan Stark juga bilang-nya I Love You 3000.

Dan aku terdisrupsi karena sekarang aku sedih karena Tony Stark mati. Gee, thanks Marvel.

Finally! An Avengers End Game reference!

Ehm, ke konsep Anti Fragile!

Anti-Fragility

Konsep Anti-Fragility milik Nassim Nicholas Taleb ini cukup rapih penjelasannya hingga dalam mataku ia bisa hidup di dunia yang penuh dengan disrupsi seperti yang diusulkan Rhenald Kasali.

Anti-Fragility sendiri merupakan sebuah konsep bisnis atau orang yang mengambil keuntungan dari adanya disrupsi, dan mereka secara tidak langsung membuat diri mereka imun dari disrupsi lain, karena mereka hanya bisa hidup dalam kekacauan.

Start-Up sendiri saja yang banyak orang ingin bikin itu punya angka sukses yang buruk sekali. Namun masih banyak orang yang membuatnya karena selalu ada kekacauan untuk dibereskan, dan toh, jika mereka gagal, tidak akan ada banyak kekacauan yang tumbuh dari situ. Mereka tumbuh dari adanya kekacauan, dengan harapan menghilangkan kekacauan tersebut, tanpa bisa dikacaukan.

Mereka tidak kuat ataupun kokoh, tetapi di saat yang sama mereka tidak akan pernah menjadi bisnis atau orang yang rapuh.

Tidak semua bisnis baru yang didesain dengan konsep anti-fragile ini dapat tumbuh dengan sukses, justru lebih banyak yang tumbang malah, tetapi jika anda dapat menjadi bisnis anti-fragile yang sukses, anda aman. Anda sudah masuk di fase di mana anda imun dari gangguan, meski mungkin saja hanya untuk sementara.

Bisnis anti-fragile sukses dapat tumbang atas kekacauan yang begitu besar, atau justru tumbuh lebih banyak karena adanya kekacauan tersebut. Sebagai contoh, dengan adanya marketplace dan perusahaan macam Bukalapak, dan Tokopedia, ada 2 bisnis anti-fragile yang sudah terlalu nyaman, dan akhirnya mereka mendapat disrupsi. Yang satu bertumbuh, yang satu malah melambat.

Dengan adanya E-commerce, tempat belanja jelas mulai terhambat, mereka yang tadinya sudah anti-fragile dapat bernafas dengan aman. Semua orang butuh (atau setidaknya ingin) berbelanja. Mereka imun karena banyaknya kekacauan seperti itu terjadi. Lalu, imunitas mereka hilang, dan dari kekacauan yang sebelumnya mereka nikmati itu, mereka terhambat.

Bisnis anti-fragile satunya lagi yang justru terdukung oleh E-commerce adalah bisnis kurir. Sebuah bisnis yang sekarang makin imun dan akan semakin anti-fragile. Kekacauan dalam keinginan orang-orang menerima benda baru, atau paket sesegera mungkin meningkatkan pemasukan mereka, karena jasa yang mereka tawarkan dekat ke tidak tergantikan. Mereka tumbuh dari kekacauan dan menerima kekacauan tersebut secara positif, dan sekarang, mereka imun dari kekacauan tersebut.

Anti-fragility adalah sebuah konsep yang sangat abstrak, dan ini hanya interpretasiku padanya, semoga ini cukup untuk membuat anda mengerti.

Sampai lain waktu!

 

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo

Sudah lama kayanya ya sejak ada tulisan mitologi. 1 tahun? Lebih? Anyway, dengan pengecualian tulisan mengenai The Burning Maze tulisan Rick Riordan, kayanya aku perlu menambahkan satu atau dua tulisan mengenai mitologi di sini.

Serial ini tidak terbatas ke Dewa-dewi yang umum anda temui, seperti Zeus, atau Ra, atau Thor, dan seterusnya, tetapi juga akan membuka jembatan ke dewa-dewi yang tidak begitu umum, macam… ya, nikmati saja dulu episode ini ya.

Oke, pertama-tama, sebagai pembuka serial, aku akan masukkan dewa Yunani favoritku, Apollo. Jika anda bertanya kenapa aku menyukai Apollo, alasannya ada banyak, tapi alasan utamanya sebenarnya cukup sederhana. Untuk seorang dewa lelaki, Apollo sangat feminin. Aktivitas favoritnya termasuk (tapi tidak terbatas ke) bermain musik, menulis puisi, dan juga memanah, yang merupakan metode bertarung yang sangat tidak “manly”.

Selamat menikmati.

Bagaimanakah dia bisa menjadi dewa?

Oke, ini akan menyulitkan. Ayah Apollo tidak lain dari Zeus, dan ibunya merupakan seorang Titan (sejenis dewa yang lebih kuno dari para dewa-dewa Olympia) bernama Leto, yang menjadi dewa para Ibu di Yunani sesudah drama kehamilan panjang lebar di bawah ini.

Seperti yang banyak orang ketahui, Zeus adalah (secara tidak resmi) dewa poligami di Yunani kuno. Jumlah pacar yang ia miliki sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat… banyak. Mungkin anda akan mendebat dan mengingatkanku bahwa itu hanya cara interpretasi para penulis mitologi di zaman dahulu kala karena banyak orang mengaku bahwa mereka adalah anak Zeus, tetapi bahkan jika kita tidak menghitung anak-anak Zeus dengan seorang manusia, pacar miliknya tidak sedikit.

Leto dan Zeus memutuskan untuk memiliki anak, dan ya, Leto hamil…

7 bulan kemudian sesudah Leto hamil dengan KEMBAR, ia menyadari bahwa ia sudah sampai ke fase melahirkan. Lalu Apollo lahir. Happy Ending! YAY! Oh, sebentar, ini mitologi Yunani, selamat menikmati plot twist brutal.

Ha. Terima kasih sudah menambah bebanku menulis cerita ini.

Perjalanan Apollo menjadi dewa di Olympus sebenarnya rumit, karena ibunya memiliki masalah kehamilan yang termasuk keliling dunia saat hamil, dikejar-kejar ular piton yang katanya gede banget, masuk ke gua yang berada di tengah-tengah Yunani kuno, dan tentunya, mencari sebuah pulau yang punya kemampuan teleportasi karena pulau itu satu-satunya pulau yang bisa menjadi tempat melahirkan bagi ibunya.

Leto tentunya menghadapi kutukan dari Istri Zeus yang sudah merasa muak akan ketidaksetiaan suaminya. Jadi, tentunya, karena suaminya tidak mungkin dihukum begitu parah, ia melakukan hal yang paling wajar. Ia melampiaskan amarahnya ke pacar suaminya.

Leto dikutuk, tentunya. Tidak ada satupun pulau, atau tanah yang memiliki akar, yang boleh menjadi tempat untuk melahirkan bagi Leto. Langit, lautan, dan juga dunia bawah tanah juga tidak bisa digunakan, karena ketiga penguasa daerah itu juga takut dengan Hera. (Zeus, Poseidon, dan Hades tidak ingin masalah dengan ratu para dewa tentunya… Terutama bagi Zeus yang cukup apes untuk memiliki istri yang galak seperti itu)

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia mencari tempat perlindungan di gua milik ibunya, Phoebe. Phoebe adalah seorang Titan yang mampu melakukan peramalan. Namun, sayangnya, gua tersebut dihinggapi seekor ular piton raksasa bernama Python karena tidak ada nama yang lebih kreatif dari itu.

Jadi, Leto kabur.

Dalam kondisi hamil kembar 7 bulan.

Dikejar-kejar seekor ular python raksasa.

Tanpa ayah dari kedua anak tersebut.

Dan dalam beberapa versi, juga dikejar kanibal raksasa yang dikirim oleh Hera. Untungnya aku baik, jadi dalam versiku, Leto tidak dikejar kanibal raksasa yang dikirim Hera.

Sesudah menerima ramalan yang berisi Syarat dan Ketentuan dari kutukan Hera, Leto menyadari bahwa hanya ada satu tempat dimana dia bisa melahirkan. Di sebuah pulau bernama Delos. Pulau tersebut merupakan satu-satunya pulau yang tidak memiliki akar.

Sayangnya, menurut hukum sains zaman baheula di Yunani, pulau yang tidak punya akar akan tertiup dan tergeser posisinya tiap harinya, dengan mudah ombak dapat menghempaskannnya dan memindahkannya.

Jadi akan butuh waktu yang sangat panjang untuk menemukannya.

Jadi, apa yang Leto lakukan?

Ia membayar seorang pelaut, dan memintanya untuk berlayar sampai Delos dapat ditemukan.

Lalu Delos ditemukan. Cerita Apollo lahir sudah beres, Apollo dilahirkan di situ, bersama kembarannya, Artemis, dan kelahirannya disaksikan para dewi Olympia minus Hera.

Begitu lahir, Apollo langsung meminta sebuah gitar, dan sebuah busur serta panah.

Hal pertama yang ia lakukan? Bermain musik untuk mengisi keheningan di dunia ini, dan ia menjadi dewa terpenting bagi para seniman di dunia.

Oh iya, untuk orang-orang yang ingin tahu tanggal lahir Apollo. Tanggal 7, bulan 7, ketika ibunya hamil 7 bulan. 7 menjadi angka yang sakral bagi Apollo.

Ada beberapa versi menyatakan Artemis lahir terlebih dahulu dan membantu kelahiran kembarannya, dan juga ada beberapa versi dimana Apollo lahir sebelum Artemis lahir, dan ia memainkan sebuah lagu untuk menenangkan ibunya. Pilih saja yang mana.

Sesudah itu, Apollo melakukan hal yang dewa apapun akan lakukan sesudah lahir tentunya. Ia membalaskan dendam. Ular Piton yang tadinya mengejar ibunya ketika hamil… Woosh, ia bunuh dengan sekejap. Ia terbang ke depan gua di mana ular tersebut tidur, dan menembaknya dengan sebuah panah. Masalah selesai, ular tersebut mati!

Sesudah itu, apa yang ia lakukan? Ia terbang ke Gunung Olympus, rambut pirangnya berkilau, dengan gitar (karena Lira yang menjadi simbolnya belum diciptakan) di satu tangan, dan busur serta panah di tangan yang lain, menggedor pintu, dan meminta kursi Dewan Olympia.

Tiada yang berani menolak. Apollo tampak seperti seorang dewa, dan tentunya ia menjadi dewa yang amat penting. Artemis juga mendapatkan kursi dewan, namun dengan metode berbeda, dan aku tidak ingin mengetik terlalu banyak tentang itu.

Oke, dari lahir hingga ia menjadi anggota dewan Olympia. Sekarang, mari kita lihat hal-hal yang Apollo lakukan, dan seperti apakah tingkah lakunya?

Kepribadian, dan kekuatan.

Apollo adalah dewa laki-laki yang paling moody yang anda akan temukan.

Selain menjadi seorang dewa yang punya begitu banyak kekuatan dan domain kekuasaan, Apollo juga merupakan dewa yang sangat bergantung pada mood-nya untuk melakukan sesuatu. Ia dapat dengan mudah terdistraksi, dan ia juga dewa yang sangat sering melakukan hal yang ia sesali di kemudian hari.

Sama seperti tema angka 7 tadi, domain kekuasaan utama Apollo ada 7.

Musik, Memanah, Puisi, Ramalan (ceritanya panjang), Penggembalaan, Obat-obatan, dan Matahari.

Oh, Apollo dan Artemis juga merupakan dewa paling dihormati di Troya, jadi keduanya berperan cukup banyak dalam menjaga bangsa tersebut ketika sedang diserang oleh Prajurit Yunani.

Apollo sendiri baru menjadi dewa matahari sesudah banyak warga Yunani dan Romawi yang kebingungan dan menyalahkan dirinya sebagai dewa Matahari. Memberikan tugas tersebut dari Helios, ke Apollo. Apollo yang sangat flashy sebagai dewa membingungkan para raja Yunani kuno.

Mengingat bahwa ia sangat mudah bosan dan sangat Moody, (ia dapat dengan mudah terperangkap dalam satu emosi dan melupakannya beberapa hari kemudian) mari kita rekap beberapa kebodohan yang ia telah lakukan, dan emm, coba evaluasi sendiri mana yang kira-kira ia sesali.

  • Memerintahkan dan mengarahkan panah dari Pangeran Paris ke tumit dari Achilles.
  • Menguliti seekor/seorang Satyr (setengah kambing setengah manusia) bernama Marsyas karena ia kalah padanya dalam sebuah pertandingan musik.
  • Mengutuk Eros, (atau lebih dikenal dengan nama Cupid) dan menghinanya.
  • Mengejar seorang nymph bernama Daphne yang dikutuk oleh Eros untuk tidak pernah mencintai Apollo.
  • Mengusir dewa angin bernama Zephyros ketika sedang rebutan perhatian untuk seorang pasangan. Pasangan tersebut mati keesokan harinya karena Zephyros mengendalikan angin untuk melemparkan sebuah piringan besi ke pinggiran kepala pasangannya.
  • Dan masih banyak lagi.

Apollo begitu keras kepala dan sangat meledak-ledak ketika melakukan sesuatu hingga ia tidak dapat fokus dan serius seratus persen dalam melakukan sesuatu.

Selain itu, Apollo yang sudah jelas inkonsisten ini sering melakukan banyak hal yang ia tidak ingin lakukan, hanya karena mood-nya sedang jelek.

Sekarang, anda ingin menanyakan kenapa aku masih menyukai dewa ini?

Meski ia sangat moody, Apollo banyak disukai orang. Orang-orang akan selalu membutuhkannya, kapanpun, dan dimanapun.

Seorang seniman jelas membutuhkannya, seorang petani membutuhkannya karena ia dewa para gembala juga, seorang jendral membutuhkannya untuk memberikan keberuntungan bagi para pemanahnya dan para mediknya, dan terakhir, seorang raja juga membutuhkannya karena dia dapat memberikanmu informasi tidak jelas akan masa depanmu.

Apollo disukai warga Yunani dari pangkat apapun, dan apapun pekerjaannya.

Selain itu, walau Apollo moody dan sombong, ia bukan dewa yang sombong karena dia memang sombong dari sananya. Ia menjadi sombong dan merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus karena semua orang membutuhkannya, bukan karena karakternya memang sombong.

Ia tidak seperti beberapa dewa lain yang karakternya dibentuk semacam tragedi, justru sebaliknya. Karakter Apollo dibentuk atas hal yang bahagia, dan karakternya yang tidak stabil itu menciptakan banyak tragedi.

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Kembali di serial Taktik Sepakbola, terutama mengingat bahwa belum ada pertandingan sepak bola yang dimainkan untuk menjadi contoh, ini adalah momen yang sempurna untuk membahas taktik yang sedang ngetren di dunia sepakbola.

Kali ini, taktik yang akan dibahas tidak lain dari Pressing.

Liga Champions 2018/2019 menunjukkan seberapa menyeramkan dan efektifnya tim-tim yang ahli dalam memanfaatkan pressing.        Keempat semifinalis di turnamen tersebut menggunakan sejenis variasi dari pressing sebagai bentuk dasar sistem. Kesuksesan ini tercerminkan dari keempat tim yang mencapai titik tersebut. Selain keempat semifinalis, Manchester City juga mencapai perempat final dengan menggunakan variasi pressing yang sangat sesuai dengan ideal pressing Cruyff.

Aku sudah membahas Gegenpress, dan untuk menghindari kebingungan, pressing dan gegenpress adalah dua hal yang berbeda. Counter-press atau Gegenpress merupakan variasi dari pressing mendasar yang diajarkan oleh Johan Cruyff pada akademi Ajax Amsterdam dan akademi La Masia milik Barcelona, tetapi keduanya berbeda.

Kelahiran Pressing

Sebagai bagian dari filosofi Total Football yang populer di Belanda pada era 1970-an, Rinus Michels dan Johan Cruyff merupakan pelatih pertama yang memfokuskan diri dalam bidang ini. Michels mendidik Cruyff, dan Cruyff yang memiliki karir pemain gemilang memperhalus dan menyempurnakan sistem ini.

Total Football sendiri menciptakan 3 pilar (anda bisa berargumen bahwa ada pilar keempat, dan itu akan kubahas di bawah) sendiri yang sayangnya sering dilihat secara terpisah oleh para pemain dan beberapa pelatih.

Pilar pertama Total Football ada di Possession play. Kebergantungan pada penguasaan bola untuk mendominasi lawan. Pilar kedua ada di Pressing, merebut bola untuk memastikan bahwa bola terus dikuasai dan lawan bisa didominasi. Pilar ketiga adalah kebebasan posisi. Era sepakbola awal-awal sangat fokus pada menyerang (dengan skor 9-5 anda mungkin berpikir bahwa ini pertandingan Hockey kebanding sepakbola) dan tampaknya pemain-pemain menjadi jauh lebih rigid dalam bergerak. Sepakbola Belanda mengubah itu, memberi fleksibilitas bagi para pemain untuk bertindak.

Seperti kusebut, ada pilar keempat, namun pilar ini bukan pilar yang begitu tampak sebagai pilar yang taktis. Pilar keempat Total Football ada di fakta bahwa pemain harus menikmati bertanding dalam sebuah pertandingan. Sampai sekarang saja (di era dimana fisik pemain diperhatikan gila-gilaan) tim-tim yang menggunakan varian dari Total Football kewalahan dan kelelahan, jika anda tidak menikmatinya, mungkin anda perlu bermain di tim lain saja.

Pada era Total Football pertama, Pressing berfungsi untuk merebut kembali bola, sesudah bola kembali dimiliki, perubahan posisi yang drastis serta penguasaan bola yang inteligen harus ikut bermain. Jika bola tidak dikuasai lagi, sistem Total Football pada era tersebut meminta pemain untuk berubah posisi, merebutnya kembali, dan berubah posisi lagi sambil menyerang.

Evolusi Dimulai                                

Total Football mendominasi. Ajax memenangkan 3 piala Eropa (sekarang menjadi Champions League) dalam 3 tahun.

Taktik ini cukup populer, dan Total Football sendiri terpecah menjadi 3 pilar yang kusebut di atas sebelum direvolusikan oleh budaya sepakbola tiap negara.

Spanyol memfokuskan diri pada penguasaan bola dan perubahan posisi yang konstan. Ini awal dari lahirnya Tiki Taka. (But, please… don’t call it that, it’s more complicated than just Tiki Taka) Ini alasan mengapa La Liga Modern sangat bergantung pada penguasaan bola. Masih banyak reaktivitas yang bergantung dan cara dua formasi terbentuk dengan satu sama lain, namun umumnya, penguasaan bola adalah cara paling sederhana mendominasi pertandingan.

Jerman memfokuskan diri pada perubahan struktur yang cepat. Bundesliga menjadi sebuah liga yang bergantung pada transisi, dan seberapa rapih, efisien, dan terstruktur sebuah tim bisa mengatur dirinya. (Ini kelahiran dari Gegenpressing punya Jürgen Klopp, kujelaskan di bawah)

Italia pada sisi lain, menciptakan sejenis… apa bahasanya ya… Struktur yang rapih. Struktur dan kepadatan di sebuah liga ini tidak begitu bergantung pada ketiga pilar Total Football. Justru, struktur yang rapih dan permainan bertahan yang tertutup di Italia melahirkan sejenis pertandingan yang defensif, dan membuka serangan balik yang berbahaya. Arrigo Sacchi memanfaatkan serangan balik dan struktur yang sempurna ini dengan sistem 4-4-2 miliknya.

Reaktivitas tim Italia tampak lambat. Selama Catenaccio masih hadir (diagram di bawah) mereka merupakan tim yang paling terkena oleh sistem Total Football ini. 1-4-2-3 atau 1-4-3-2 yang umum dilihat di sistem Catenaccio ini tidak bisa bergantung pada serangan balik khas Italia karena adanya banyak lubang di sistem pertahanan ini ketika bertemu dengan tim-tim yang mengaplikasikan Total Football. Formasi khas Italia yang memanfaatkan Libero ini sudah mati. Akan kujelaskan di artikel lain, anda cukup tahu bahwa Catenaccio sudah tidak ada.

Seperti dilihat di gambar, Catenaccio memasang 1 pemain bertahan ekstra untuk merapihkan kesalahan dan menghindari serangan balik tercipta. Offside tidak berlaku karena pada era Catenaccio, offside dihitung dari pemain nomor tiga dari belakang, bukan nomor dua. Dalam kasus ini, pemain nomor 6 adalah pemain yang menjadi garis offside, bukan pemain nomor 4 seperti pada era modern.

Berarti terakhir adalah…

Inggris… umm. Sebelum terciptanya Liga Primer Inggris, Inggris sendiri merupakan liga yang sangat… apa bahasanya ya… Tertutup. Strategi paling mendasarnya adalah dengan melempar bola ke tengah lapangan, lalu ke kotak penalti dan sundul atau tendang bola tersebut ke belakang kiper. Ceritanya panjang, tetapi juga ada kok tim yang bermain sepakbola dengan indah di Liga Inggris sebelum tahun 1992 dimana Liga Primer Inggris tercipta.

Catatan, struktur dan posisi adalah dua hal yang berbeda. Posisi di sini bermaksud pada pergerakan pemain, perubahan posisi bisa merubah struktur meski itu tidak selalu terjadi. Jika struktur berubah, misalnya sebuah tim bertahan dengan formasi 3-4-3, dengan gelandang bertahannya turun untuk menjadi bek ketiga, dan kedua bek sayapnya maju untuk mempercepat transisi… Namun, ketika menyerang, tim yang sama langsung merubah formasi menjadi 4-3-3, dengan si gelandang bertahan kembali ke tengah lapang.

Variasi Pressing

Total Football yang tadinya satu ini terpecah menjadi 3, ketiganya juga memiliki variannya masing-masing, dan sekarang, karena revolusi dan budaya yang berbeda, tiap pelatih yang ingin mengaplikasikan Total Football harus mempelajari ketiganya secara terpisah, lalu mencari cara untuk menyatukan varian mereka ke sistem yang sama.

Wah, terima kasih evolusi taktik , anda mempersulit hal yang sama, dengan mempisahnya menjadi 3 hal berbeda, hanya untuk perlu disatukan kembali!

EHEM… maaf. Kembali ke topik…

Pressing sendiri terevolusi menjadi… entah berapa puluh jenis dan variasi. Pelatih-pelatih yang memasukkan pressing dalam sistemnya, atau membangun sistem pressing sebagai intisari timnya ada 5. Jürgen Klopp (Liverpool), Mauricio Pochettino (Spurs), Erik Ten Hag (Ajax), Thomas Tuchel (PSG), dan Pep Guardiola (Manchester City).

Aku akan membahas ketiga tim yang setidaknya masuk semi-final liga Champions. Liverpool-nya Klopp, Spurs-nya Pochettino, dan Ajax-nya Ten Hag.

Jürgen Klopp (Gegenpressing/Counter Pressing)

Klopp merupakan pelatih yang memanfaatkan pressing bukan sebagai metode untuk membangun serangan kembali. Melainkan untuk menyerang. Seperti disebut di atas, Bundesliga adalah Liga yang bergantung pada transisi dan perubahan struktur. Dengan kecepatan pemain yang ia miliki di Dortmund, Klopp memaksa lawannya untuk bertransisi atau menerima satu gol. Ketika pembangunan serangan melalui penguasaan bola gagal, ia ingin lawannya untuk terus bermain dan membangun serangan. Perubahan posisi yang tidak rapih dan struktur yang tidak jelas justru merupakan hal yang bagus. Klopp memenangkan 2 gelar Bundesliga dengan sistem yang “berantakan” ini.

Ada satu artikel khusus buatanku untuk Gegenpressing, jadi baca itu saja. Aku tidak akan banyak membahasnya.

Gegenpressing Klopp di Liverpool berbeda dengan di Dortmund yang mengandalkan posisi berantakan, alih-alih, Pressing Klopp bergantung pada struktur yang rapih dan pembangunan serangan yang bagus juga jika lawan memberikan bola-nya pada Liverpool.

Dasarnya, kau menyerang, kami bertahan (mereka punya Van Dijk  toh) lalu kami serang balik, dan kami sangat bagus dalam menyerang balik. Kau bertahan? Kami menyerang, dan kami bagus dalam menyerang.

Seperti tampak di diagram, Gegenpress meminta dua pemain (atau lebih) terdekat untuk melemparkan tubuhnya ke pemain yang merebut bola dari sebuah serangan.

Garis Kuning merupakan jalur pertama yang dimanfaatkaan untuk memaksa lawan mengoper ke pemain nomor dua, lalu pemain nomor 9 akan mencari jalur dan lari ke pemain yang menerima operan. Firmino adalah pemain yang mengatur pressing Liverpool.

Jika lawan bertransisi dan melewati 2 orang yang sedang pressing, Fabinho yang dimainkan menjadi gelandang jangkar (meski Wijnaldum dan Keita juga pernah bermain di posisi tersebut dengan nyaman, cetakan pemain yang Klopp cari dipenuhi Fabinho) akan merebut bola dan mendaur ulang serangan yang sudah dibentuk. Firmino menjadi pemain utama yang menentukan dan membentuk struktur counter-pressing Liverpool.

Mauricio Pochettino (Pressing High)

Jika Klopp menggunakan Pressing dengan tujuan untuk merebut bola dan kembali menyerang menggunakan bola yang hampir pasti akan direbut, Pochettino fokus ke struktur dalam memaksa lawan terus bermain. Pochettino tidak begitu ingin pemainnya untuk merebut bola, setidaknya tidak sebanyak Klopp, namun Pochettino memanfaatkan pressing untuk memperkecil ruang lawan, dan membuat mereka pindah ke posisi yang tidak nyaman.

Pochettino memanfaatkan sistem yang mirip dengan Klopp di Southampton, namun di Tottenham Hotspurs, ia menggunakan sistem yang hampir seluruhnya berbeda.

Di Spurs, Pochettino meminta keempat penyerangnya (dalam 4-2-3-1, keempat penyerang adalah 3 dan 1 yang di depan) untuk melakukan Pressing sebagai satu struktur ke barisan belakang lawan. 3 pemain akan diam di tempat, dan satu pemain akan maju. Lawan harus melewati si pemain yang akan maju ini dengan mengoper bola, baik langsung ke depan, atau ke midfield mereka dulu.

Jika bola yang diberikan adalah bola lambung, Vertonghen atau Alderweireld akan menyundulnya dengan cepat, memberi bola untuk kedua gelandang jangkar, jika bola dioper melalui bawah, kedua gelandang jangkar atau 3 penyerang di depannya akan berusaha mengarah ke bola dan mendaur ulang serangan.

Pressing yang dilakukan Pochettino adalah Fake-Pressing. Mereka hanya melakukan pressing untuk memaksa lawan bermain, bukan karena mereka ingin memenangkan bolanya.

Pressing ini juga bermanfaat ketika menyerang, karena akan ada momen dimana lawan merubah posisi untuk melakukan zonal marking dan memberi jarak antara mereka dan lawan, dan memaksa lawan untuk menyisakan ruang dan garis-garis yang bisa dieksploitasi oleh ketiga penyerang tambahan Spurs (Dele Alli, Christian Eriksen, dan Son Heung Min biasa bermain di belakang Kane)

Seperti dilihat di gambar, pressing Pochettino sebenarnya tidak memiliki niatan untuk merebut bola, tetapi hanya untuk memaksa lawan terus memutar bola dan akhirnya mengirimkan pemain ke depan.

Dalam diagram ini, bek tengah bernomor 4 punya pilihan mengoper ke kiper, bek tengah yang lain, gelandang bertahan, atau bek kanan, semuanya dengan resiko bahwa striker nomor 9 atau pemain lainnya melanjutkan press.

Lawan akan memainkan bola jauh dan bek Spurs akan membuangnya untuk dikendalikan dan didaur ulang oleh kedua gelandang bertahan. Alderweireld sendiri (Nomor 4) memiliki angka kemenangan duel yang bagus, 69.6%, keempat paling besar di Liga Primer Inggris.

Erik Ten Hag. (Pass Lane Pressing).

Erik Ten Hag melakukan gaya pressing yang berbeda dari keduanya. Jika Pochettino berharap bahwa pressing digunakan untuk memaksa lawan membuat keputusan yang buruk, dan jika Klopp berharap bahwa pressing digunakan untuk merebut bola, Ten Hag meminta pemainnya melakukan pressing dalam situasi yang berbeda.

Ten Hag ingin pemainnya untuk melakukan marking yang rapih di midfield, lalu meminta salah seorang gelandang, atau sayapnya untuk meninggalkan orang yang ia mark, demi melakukan pressing ke pemegang bola. Ia juga meminta striker tengahnya untuk memaksa si pemegang bola untuk mengoper ke orang yang ditinggalkan tadi.

Dari situ, orang terdekat ke pemain tersebut akan melakukan press dengan cepat, dan memenangkan bolanya kembali.

Dasarnya ia memaksa lawan mengoper bola ke orang yang akan langsung dipressing, dan memenangkan bola.

Taktik ini membutuhkan pemainnya untuk memiliki penentuan waktu yang sempurna, dan intelegensia yang cukup serta kedisiplinan dalam memposisikan diri.

Karena marking yang rapih, lawan tidak memiliki opsi kecuali untuk mengoper ke pemain nomor 10. Begitu bola berjalan, 1 atau 2 pemain terdekat langsung berlari untuk merebut kembali bola dan mendaur ulang serangan.

DIAGRAM

Yap, 3 variasi taktiknya sudah dijelaskan, dan semoga anda tidak bosan membaca 1600 kata dari tulisanku… Sampai lain waktu!

Masalah Konsistensi

Masalah Konsistensi

Where were we?

Empat bulan kosong, mungkin lebih, dari mana kita? Apakah aku ada hutang serial yang perlu dibayarkan? Hmm.

Sepertinya membuat artikel mengenai Aladdin, atau, film apapun itu yang sedang ada di bioskop, bias jadi ide menarik. Tetapi untuk sementara, kita simpan saja dulu idenya.

Aku sudah menghabiskan bulan-bulan ini untuk menyerap ratus ribuan loc dan halaman dari buku-buku (oke, secara teknis memang E-Book, jadi hanya ratus ribuan location Kindle) tetapi buku tetaplah buku.

Ooh aku juga sudah menulis buku, dan kecepatanku menulisnya tidakburuk! Kurasa ia bisa beres sebelum 17 Agustus… Hmm…

Diantara banyak buku yang sudah kubaca, aku menemukan suatu jenis buku yang menggambarkan banyak ironi dan kekeliruan dari cara manusia berpikir.

Mungkin anda pernah mendengar tentang seorang psikologis yang memenangkan Nobel di bidang Ekonomi, namanya tidak lain dari Daniel Kahneman, dan almarhum sobatnya, Amos Tversky. Kahneman menggambarkan miskonsepsi-miskonsepsi dan “Blunder” sederhana yang sering dilewatkan oleh orang-orang.

Banyakalasan orang-orang menjadikorban blunder ini. Mungkin karena mereka terlalu percaya diri, memang tidak tahu, dantidakberpikirsecararasionalsaja, tetapi, adabanyakalasan blunder-blunder initerjadi.

Dan hari ini, aku akan membahas salah satu blunder paling sederhana. Mengenai performa dan konsistensi. Kurasa ini artikel yang tepat, mengingat aku sudah hilang empat bulan lebih.

Fortuna’s Sprint

Seorang Komedian pernah bercanda, resep sukses? Oh, mudah!

Sukses = Bakat + Keberuntungan

Sukses skala besar = Bakat + Banyak sekali keberuntungan.

Pada kenyataannya, kita bisa merubah sedikit dari lelucon itu, dan menambahkan kerja keras dalam resep itu, dan kurasa, formula itu dapat diaplikasikan secara konsisten. Semakin beruntung seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan sukses.

Ya, berdoa saja ke Fortuna, dan berharap hari ini anda sedang beruntung. Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik yang sedikit di atas rata-rata. Namun, untuk mencapai titik sukses yang maksimal, anda perlu keberuntungan.

Kahneman menggambarkan situasi ini ketika ia sedang melatih sebuah pasukan pilot di militer Israel. (Don’t ask me how he got there, just read his book, Thinking: Fast, and Slow.).

Tetapi, untuk memberi bayangan angka yang lebih mudah, serta mempermudah analogi juga, kita bisa anggap Kahneman sedang melatih beberapa atlit sprint, hanya sebagai asisten.

Ia memberi sebuah instruksi sederhana dan menyatakan bahwa ia sudah menyiapkan hadiah bagi atlit yang paling sukses. Pelatih tersebut menyangkal dan menyatakan bahwa pemberian hadiah hanya menurunkan performa. Ia menyarankanuntuk menghukum atlit-atlit yang memiliki performa buruk.

Kahneman menyangkal.

Ia meminta sang pelatih untuk meminta tiap atlit untuk mengambil 5 sprint, dan melakukan hal yang sama keesokan harinya, dan juga esoknya lagi. Ia mengambil angka selama 3 hari, dan 5 sprint per harinya. Angka tersebut tidak disebutkan agar tidak ada tekanan untuk mengulangi hal yang sama.

Dan, ia mendapat hasil menarik. Anggap sajaada 5 atlitlari, danakuakanmemberinyanama-namaberbeda, danhasil yang miripdenganhasil yang Kahnemanjelaskan.

Catatan: Militer Israel tidakmemberikanizinuntukmengeluarkanangkanya, dan sebenarnya ia hanya menjelaskan performa di buku miliknya dengan 3 kata, baik, buruk, atau biasa. Angka disini sepenuhnya fiktif.

Catatan 2: Jika anda lupa, aku merubah angka di artikel ini menjadipelari sprint, untuk mempemudah pembuatan angka.

Di bawah 13.5detik = Baik

13.5-14.9 detik = Rata-rata

Di atas 15 detik = Buruk.

  • Atep
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.2 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 12.1 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.23 detik
  • Iwan
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 11.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 15.7 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.8detik
    • Rata-rata total: 14.1detik
  • Budi
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 13.6 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.8 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.26 detik
  • Kevin
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.5 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 12.9detik
    • Rata-rata total: 14.73detik
  • Ali
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.4detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.0 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.9detik
    • Rata-rata total: 14.43 detik

Dengan mudah dapat disimpulkan (dari rata-rata total) bahwa Iwan merupakan pelari paling berbakat di antara semuanya, dan Kevin merupakan pelari yang butuh lebih banyak kerja keras untuk bisa sukses.

Perlu dilihat, tetapi, di antara semua sprint ini, Budi yang memiliki konsistensi terbaik. Budi tidak pernah mendapat angka yang begitu buruk, ia hanya mendapat 3 hasil rata-rata. Pada sisi lain, Kevin juga satu-satunya pelari yang tidak menerima penurunan kualitas. Hasilnya selalu membaik, meski pada hari ketiga, ia tetap bukan yang tercepat, dan ia hanya mendapat hasil rata-rata.

Kahneman ingin menyampaikan bahwa, terkadang, kita terlalu cepat mengambil keputusan dan menyatakan bahwa kemampuan tiap pelari di bawah rata-rata, atau di atas rata-rata tanpa data yang cukup. Selain itu, juga ada fakta bahwa, pada akhir hari, semua orang pernah merasa menjadi rata-rata.

Melihat  dari hasil rata-rata tiap pelari, performa rata-rata mereka pada ketiga hari tidak begitu berbeda. (Oke, 0.3 detik mungkin perbedaan besar dalam sprint 100 meter, tapi, anda mengerti maksudku apa)

Kelima pelari tersebut memiliki bakat dan kerja keras yang berbeda tentunya, namun pada akhirnya, tidak ada pelari dengan bakat selevel Usain Bolt dari mereka berlima. Hanya ada yang lebih baik dari rata-rata, dan yang memang biasa-biasa saja.

Dewi pelit

Seberapa baik hasilanda, atau seberapa buruk hasil anda, berapapun angka anda, pasti akan ada perubahan.

Anda mungkin sedang beruntung, jadi anda mendapat hasil baik. Lalu, juga, jangan lupa, jika hasil anda buruk, sepertinya tidak mungkin angka tersebut bisa menurun lebih parah. Bagi orang yang mendapat hasil buruk, satu-satunya jalan adalah keatas.

Seberapa baik anda, seberapa berbakat anda, anda hanyalah manusia rata-rata. Bakat hanya bisa memberikan anda suatu hasil rata-rata yang lebih baik. Sisanya, kita perlu bergantung pada kerja keras, dan sayangnya, dewi yang pelit dan plin-plan… alias Fortuna.

Fortuna mungkin dewi yang disembah oleh para prajurit dan raja Romawi, namun, kata Fortuna sendiri juga dapat digunakan untuk perumpamaan keberuntungan.

Satu hari anda memiliki performa luar biasa. Hari lain? Performa anda biasa-biasa.

Orang yang begitu berbakat hanya muncul sesekali tiap generasi. Kecuali anda Cristiano Ronaldo, Michael Jordan, Taylor Swift, atau Albert Einstein, yang memiliki nilai rata-rata (dari bakat) yang begitu tinggi, serta dengan kerja keras yang cukup… Anda perlu bergantung pada keberuntungan, dan kerja keras.

The Law of Success

Bagian dari artikel ini semacam mendukung kepercayaan untuk tidak percaya pada motivator. Motivator biasanya mendukung fakta bahwa orang-orang istimewa.

Aku mendukung sebaliknya. Orang-orang yang memang istimewa akan sukses begitu mereka bekerja keras.

Untuk sukses, ada 4 unit yang perlu dijadikan faktor. Bakat, Kerja Keras, Keberuntungan, dan yang terakhir, skill.

Kurang lebih, rumusnya seperti ini.

Skill = Kerjakeras + bakat. Sukses = Skill + keberuntungan.

Keberuntungan dapat membuat anda sukses, tapi pada akhir harinya, anda perlu bakat dan kerja keras. Salah satu tidak cukup lagi…

Orang-orang sekarang mencari “The Next Google” dan mereka juga tertarik untuk membuat sebuah startup yang sukses. Sayangnya, ini tidak mungkin kecuali anda memiliki keberuntungan yang sangat banyak, atau bakat yang sangat banyak.

Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik di mana anda sedikit di atas rata-rata. Anda butuh kerja keras dan terus menerus belajar agar anda memiliki satu set skill yang dapat dimanfaatkan secara konsisten, dan bukan hanya saat beruntung.

Bagaimana cara anda sukses? Anda harus konsisten, dan anda berharap akan keberuntungan. Konsistensi yang cukup dapat memberi anda suatu bentuk kesuksesan kok.

Just don’t pray to be someone THAT special and work hard enough… Anda akan sukses.

Jadi, apa rahasia konsistensi? Kerja keras, dan kerja terus. Hasilnya tidak akan bohong.

Sampai lain waktu!

 

 

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp. Salah satu pelatih terbaik dunia, dikenal karena gaya melatihnya yang tidak umum, jenggotnya yang tidak dicukur, dan kebiasaannya selebrasi dengan sangat lebay… hingga kacamatanya ia rusak. Akhir musim Liga Inggris kali ini melihat Klopp memecahkan rekor Runner Up dengan poin terbanyak sepanjang sejarah Liga Primer Inggris. Meski masih belum juara juga, (next year will be our year!) pasukan Liverpool pimpinannya merupakan satu-satunya tim Liverpool yang dapat memenangkan 30 pertandingan dalam satu musim Liga Inggris sejak tahun 1960.

Musim ini juga musim pertama dimana dia membawa pulang trofi Liga Champions ke Inggris. Meski ia tidak mampir dulu ke Manchester untuk memamerkannya, warga di Merseyside terus mendukungnya.

Serial (yang aku sudah entah memulai beberapa ratus namun belum pernah dibereskan, tolong doakan aku bisa bereskan serial ini) ini akan menceritakan dengan singkat karir Klopp dan kisah hidupnya. Selamat menikmati!

Bermain, Bertahan, dan Berlari

Klopp memulai karirnya sebagai pemain di Mainz 05, sebuah klub kecil yang bermain di divisi dua Jerman, belum pernah sekalipun, Mainz merasakan perasaan bermain di Divisi pertama. Meskipun begitu, karir pemainnya tidak begitu gemilang, karena sebagai pemain, ia hanya terperangkap di divisi dua Liga Jerman.

Kesempatan terbaiknya untuk mendapatkan promosi ke Bundesliga gagal karena kesalahan yang ia buat saat bermain menjadi bek kanan. Mainz kalah pada hari terakhir karena Klopp memberikan bola ke lawan di ujung kotak penalti. Skornya berada di 2-1, dan Mainz yang sedang mengumpulkan bola dan menciptakan begitu banyak peluang terpukul karena kesalahan Klopp. Skornya turun ke 3-1, dan seandainya mereka mencetak gol pun, perjalanan menuju kenaikan ke Bundesliga masih jauh, mereka masih butuh satu gol lagi.

Seandainya pertandingan tersebut berakhir dengan hasil seri, Mainz akan naik dan merasakan permainan di divisi satu Bundesliga. Mereka gagal.

Oke, ia membuat kesalahan, tetapi… Tidak perlu disangkal, ia merupakan salah satu pemain bertahan terbaik di divisi dua, terkenal akan stamina-nya, dan beberapa gol cantik yang ia sering cetak.Sangat aneh. Klopp sendiri memiliki kebiasaan menendang tendangan bebas meskipun ia bermain di posisi Bek Tengah atau Bek Kanan. Ini mungkin alasan salah satu penendang bebas favorit Klopp di Liverpool adalah seorang Bek Kanan muda, orang Scouse yang tumbuh di akademi Liverpool, tidak lain dariTrent Alexander-Arnold.

Kegagalannya sebagai pemain di Mainz tidak menutup karirnya untuk menjadi pelatih, justru, Klopp mendapat mentor terbaiknya di Mainz, bersama dengan Wolfgang Frank, dan pelatih Jerman yang satu ini menjadi figur terpenting dalam proses pembentukan Klopp sebagai pelatih. Ia sudah dilatih oleh Frank sejak ia masih menjadi pemain.

Frank merupakan seorang jenius dalam memanfaatkan sistem. Ia menciptakan sistem hardcore, heavy metal yang melelahkan tetapi efisien. Sebuah sistem yang sangat bergantung pada pressing. Dasarnya, Frank meminta pemainnya untuk melemparkan badannya ke pemain lawan yang merebut bola. Ini merupakan dasar dari taktik modern yang dikenal dengan Gegenpress.

Pada akhir karirnya sebagai pemain di usia 33 (umum bagi seorang pemain bertahan, terutama di divisi dua untuk bermain di usia ini) ia menjadi asisten pelatih untuk Wolfgang Frank.

Namun, hanya dalam tahun kedua Klopp menjadi asisten pelatih, Frank mendapatkan hasil buruk. Mainz mengalami krisis ketika pemain-pemain kuncinya dibeli oleh tim-tim di Bundesliga, dengan gaji yang jumlahnya tidak main, dan dengan kemampuan finansial klub tersebut yang di bawah rata-rata, bahkan untuk klub divisi dua, (ini ditandai dengan stadion yang biasa hanya terisi seperempatnya saja, sponsor hanya berasal dari perusahaan berbasis lokal, dan juga akademi yang pada dasarnya tidak berjalan dengan baik) mereka tidak dapat menemukan pengganti yang pantas.

Ini berujung buruk, tentunya. Awal Januari, ketika Bundesliga memulai pertandingan kembali sesudah istirahat 1 bulan, Mainz berada di posisi relegasi ke divisi 3, yang hanya berisi pemain semi-professional, dan hampir tidak mendapatkan uang sama sekali dari siaran Televisi, hanya dari tiket pertandingan dan sponsor. Frank pun dipecat. Klopp menjadi orang pertama yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Awal Mula…

Jürgen Klopp adalah orang yang karismatik, lucu, dan terkadang berapi-api. Selama ia menjadi asisten pelatih, Klopp menggunakan selera humor serta keterbukaannya untuk membujuk direktur Klub dalam memilih dia sebagai pengganti Frank. Dengan kemampuan finansial yang rendah, direktur klub tersebut setuju, asalkan ia tidak meminta gaji lebih tinggi dari Frank.

Hasil Klopp langsung tampak. Ia memanfaatkan sistem yang sama, dengan efisiensi lebih, dan gaya motivasi yang tidak dimiliki oleh Frank.

Tengah musim ia ditunjuk, hasil Mainz membaik dengan efisiensi sistem baru yang Klopp berikan, alih-alih melemparkan pemain ke muka lawan yang sedang memegang bola dan hanya melakukan High Pressing, Klopp meminta pemainnya untuk lebih percaya diri ketika memegang bola, dan langsung melakukan pressing ketika bola tersebut direbut. Ini menciptakan pertandingan yang sukses. Setidaknya, jika pertandingannya tidak dimenangkan, penontonnya mendapat pertandingan yang menegangkan.

Dampak strategi Klopp sepertinya tidak hanya berhenti di lapangan. Gaya pertandingan yang menyenangkan dan “Heavy-Metal” ini menarik sejumlah penonton, menaikkan jumlah orang yang menonton pertandingan di Mainz sampai 15%.

Klopp tidak berhenti di situ. Ia ingin memberikan pemainnya semangat lebih, dan ia tahu persis pertandingan seperti apa yang memberikannya semangat ketika ia masih menjadi pelatih. Pada derbi-derbi dengan klub di sekitar kota Mainz, hampir bisa dipastikan stadion penuh. Derbi terpenuh yang Klopp rasakan sebagai pemain merupakan musim dimana Mainz hampir meraih promosi, namun gagal.

Klopp merasa seolah-olah ia dapat berlari 5 kilometer lebih banyak jika ada supporter yang menyanyikan lagu, dan ia merasa bahwa pemain-pemainnya akan bisa bermain dengan semangat lebih banyak jika ada supporter yang menonton, apalagi yang mendukung.

Untuk ini, Klopp perlu (sekali lagi) memanfaatkan kemampuan sosialisasi dan karismanya. Ia tidak hanya membujuk sekedar teman-temannya saja… Ia membawa Mainz ke level baru. Gaya pertandingan yang dikenal dengan Carnival Club yang ia bawa dari Mainz.

Tiap hari Jumat, tepat satu hari sebelum pertandingan, atau hari Minggu, satu hari sesudah pertandingan FSV. Mainz 05 mengadakan sebuah acara di balai kota Mainz dengan tujuan mengajak orang untuk ikut ke stadion dan menonton sepakbola.

Pada awal-awal acara ini digelar, banyak orang merasa tersentuh. Klopp yang memang karismatik dan lucu ini membuat orang-orang merasa bahwa sebuah klub yang harusnya menghasilkan banyak uang masih cukup peduli untuk membuat acara seperti ini dengan tujuan mengajak orang untuk menonton pertandingannya.

Meski belum tampak, (dan belum ada orang yang benar-benar tahu ide Klopp secara jangka panjang) rencana Klopp sukses. Sanking suksesnya rencana ini, dan sering terjadinya stadion yang tiketnya terjual habis, Klopp meminta walikota untuk membuat stadion baru bagi Mainz. Permintaan tersebut awalnya ditolak, namun dengan bantuan sponsor (perusahaan asuransi asal kota Mainz) yang Klopp dapatkan, Stadion Mainz sekarang merupakan hasil dari Carnival Club milik Klopp ini.

Musim pertama Klopp di FSV Mainz belum benar-benar menunjukkan perbedaan dari permainan. Ia hanya fokus pada mental, fisik, dan finansial. Perubahan taktik drastis baru tampak ketika klub tersebut memiliki uang dan anggaran untuk mendapatkan pemain-pemain baru.

Revolusi Finansial

Klopp mengakhiri musim pertamanya (17 pertandingan) dengan sebuah kemenangan, memastikan bahwa Mainz selesai dalam posisi keenam Bundesliga 2.

Uang yang ia terima dari penjualan tiket musim lalu, dan tiket musiman, serta sponsor baru dari perusahaan asuransi lokal yang sudah memberikan uang untuk mendapatkan hak nama stadion dimanfaatkan untuk merenovasi stadion dan meningkatkan kapasitas.

Klopp siap berburu pemain di divisi dua. Apa yang Klopp cari? Klub-klub modern, biasanya di papan atas bergantung pada direktur olahraga untuk mencari pemain, namun Klopp belum bisa melakukan itu, ia harus bertahan dengan anggaran dan kemampuan finansial yang ia miliki.

Klopp memutuskan untuk mencari pemain berdasarkan kepribadian sebelum kemampuan. Aku yakin bahwa ia memercayai konsep nurture over nature dan ia yakin orang yang tepat dapat dibentuk menjadi pemain yang bagus.

Klopp selalu menanyakan 3 pertanyaan yang sama ke sebuah pemain, dan ketika wawancara, ia meminta pemain yang akan direkrut untuk membawa pacar atau istrinya. Pacar atau istri sang pemain diberikan tur kota oleh asisten pelatih, termasuk tempat-tempat turisme, tempat berbelanja, dan juga taman-taman.

Ini tampak seperti sebuah gerakan yang ia ambil dari Jean-Michel Aulas, presiden Lyon, yang bersikeras bahwa pemain harus dibuat senang dan tenang agar bisa memberikan performa yang baik. Aulas bersikeras untuk menghabiskan 10-15% anggaran untuk menyewa konselor untuk membantu pemain merasa senang di kota tinggal barunya, serta sesekali mengingatkan bahwa mereka sudah berjanji untuk mengajak istrinya nonton film.

Klopp melakukan hal yang mirip, dengan versi jangka pendek dan anggaran terbatas. Ia tidak bisa menyewa konselor begitu saja.

Dalam mata Aulas, pemain yang performanya buruk tinggal dijual ke klub yang lebih kecil untuk mengembalikan uang yang habis untuk gaji serta konselor, dan pemain yang performanya baik akan menghasilkan uang yang lebih dari uang yang didapat dari gaji serta konselor, memperbanyak nilai klub.

3 pertanyaan pertama Klopp adalah…

  1. Apakah kau menyukai latihan? Dan kau harus menyukai latihan untuk bisa bertahan di sistem Klopp, itu sistem yang sangat berat. Klopp tidak keberatan jika ia harus menolak pemain seperti Leo Messi jika ia tidak menyukai latihan.
  2. Kau tahu kami siapa?
  3. Apakah kau ingin bermain bagi kami?

Dari tampaknya, Carnival Club yang sedang dirancang Klopp ini tidak akan bertahan jika pemainnya tidak bangga untuk bermain bagi Mainz.

Klopp memiliki satu perbedaan krusial dari Aulas. Aulas melihat bahwa ia butuh uang dan ini dilakukan untuk membuat pemainnya bermain lebih baik, dan untuk menaikkan nilai pasar si pemain, ini adalah hal yang berbasis statistika…

Klopp melakukannya agar si pemain mencintai klab sepakbolanya dan rela melakukan performa yang baik, di sistem yang berat, karena itu dibutuhkan. Ini tindakan yang dilakukan karena cinta, bukan ilmiah.

Klopp baru memulai tugasnya sebagai pelatih di Mainz, dan ia tidak akan berhenti begitu saja. Lagipula, Carnival Club miliknya belum beres dibangun.

Bersambung