Category: Homeschooling

Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Aku balik membahas Bola! Kali ini, aku akan membahas tentang taktik Liverpool terutama ketika sedang memegang bola mulai dari pertandingan pembuka ketika melawan Norwich, hingga Derby Merseyside kemarin.

Tetapi sedikit disclaimer, aku hanya menonton pertandingan melawan Southampton secara Live, sisanya aku mencari extended highlights, melihat cara bola dimainkan dan pergerakan pemain ketika menyerang ataupun bertahan.

Hari ini, aku akan membahas lini tengah,. Minggu depan, aku membahas ketiga striker, (tentunya Firmino akan mendapat bahasan untuk kedua kalinya. He’s special that way), lalu minggu depannya lagi, lini belakang, baik bek sayap atau bek tengah.

Our Players!

Bisa dibilang mungkin pola permainan Liverpool yang paling meningkat dari awal musim lalu adalah gelandang-gelandangnya.

Pada awal musim 2018/19, Klopp masih plin-plan memilih gelandang, merotasi Naby Keita, Milner, Henderson, Wijnaldum, kadang memasukan Shaqiri di formasi 4-2-3-1, dan gaya permainan lini tengah kita masih sederhana dan bisa dijelaskan dengan kalimat “kejar bola dan jadi orang tambahan ketika dibutuhkan.”

Walau metode ini memang yang dicari dari Gelandang-gelandang di sistem Gegenpressing ala Klopp… Agak lucu melihat tim sekelas Liverpool memiliki set gelandang yang hanya jadi “orang ekstra” dan tidak berkontribusi secara unik ataupun elegan seperti gelandang-gelandang lainnya.

Kasarnya, kita ambil saja penilaian FIFA. Berdasarkan penampilan tahun lalu, gelandang-gelandang terbaik Liverpool mentok di rating 84-85, Fabinho dengan 85, Wijnaldum dengan 84. Ingat bahwa rating FIFA 20 mengambil musim tahun 18/19, bukan musim 19/20.

Musim ini, kita melihat gaya pressing yang sama, tetapi gaya permainan yang diberikan ketika memegang bola jauh lebih kreatif.

Selain itu, Klopp sepertinya sudah fix mengambil Wijnaldum, Henderson dan Fabinho sebagai trio gelandang miliknya. Mari kita bahas satu-satu…

Fabinho

Peran Fabinho di sistem Klopp cukup solid, sebagai jangkar yang mendaur ulang serangan gagal, serta mencegah serangan balik.

Aku sudah pernah menulis secara cukup detil tentang Fabinho di artikel sepakbolaku yang sebelumnya, membahas Firmino… Tidak akan kujelaskan lagi, jadi silahkan klik ini untuk mendapatkan penjelasannya ya 😀

Fabinho melakukan pressing pada orang yang memegang bola sambil memotong jalur umpan ke pemain-pemain terdekat. Jika bola tersebut melewati Fabinho, Matip, Lovren atau Van Dijk (tergantung pemain terdekat, dan juga yang dimainkan) lari melakukan pressing, dan memberikan bolanya kembali ke Fabinho.

Jika tidak ada orang yang dekat ke bola, umumnya Fabinho orang pertama yang mengejarnya. Kita melihat dia melakukan hal yang sama pada pertandingan melawan Manchester City dan berulang kali menghentikan serangan balik dan menciptakan peluang.

Fabinho juga merupakan pemain tengah yang berlari paling sedikit karena ia tidak begitu banyak melakukan hard-press, dan hanya memotong jalur umpan. (Catatan: Paling sedikit tetap banyak ya, hanya saja Wijnaldum dan Henderson berlari jauh lebih banyak lagi)

Wijnaldum dan Henderson

Gini Wijnaldum dulunya ditujukan untuk mengisi peran gelandang jangkar.

Namun sesudah berulang kali bermain, Wijnaldum pindah ke peran Box-to-Box karena sama seperti Henderson, ia bukan pemain terbaik dalam mengatasi serangan balik.

Baik Wijnaldum atau Henderson memiliki fungsi utama yang sangat… “kasar” mungkin menjadi kata terbaiknya. Peran utama mereka sederhana, layaknya tiap gelandang modern di tim dengan tempo permainan tinggi, mereka menjadi orang tambahan ketika dibutuhkan.

Baik ketika menyerang atau bertahan.

Sebagai contoh..

Ketika pemain Nomor 8 ingin membuat operan, Wijnaldum memberikan tekanan untuk memastikan bola dapat dimenangkan kembali, Fabinho berusaha memotong jalur umpan terdekat, dan Henderson membantu Firmino melakukan pressing ke target operan utama.

Liverpool terbiasa bermain dengan garis Offside yang tinggi agar lawan kesulitan menemukan ruang dan memaksa lawan untuk mengoper bola secara perlahan, karena transisi cepat dari satu operan gagal ke gol milik Liverpool.

Ruang yang sempit karena garis offside tinggi ini dimanfaatkan Wijnaldum dan Henderson agar mereka tidak perlu berlari terlalu jauh untuk membantu pressing.

Kata kuncinya adalah MEMBANTU. Pressing utamanya (terutama hard-pressing) dimulai dan dilaksanakan oleh Firmino. Henderson dan Wijnaldum bergerak sesuai ke pergerakan Firmino, mengikuti dan membantu Firmino mengambil bola dan memaksa lawan memainkan bola ke orang yang salah.

Nah, sekarang untuk menyerang…

Sama juga seperti dalam pressing, Wijnaldum dan Henderson berfungsi untuk menambah orang dan menciptakan Numbers Advantage di ruang sempit. Baik itu sebagai target umpan, atau opsi operan dekat.

Jika anda menonton Liverpool cukup sering, anda pasti tahu bahwa raja Assist Liverpool bukan gelandang seperti Man City mengandalkan Kevin de Bruyne, atau Manchester United semacam mengandalkan Paul Pogba… Tukang Assist kita ada di kedua bek sayap.

Sekedar ada satu target umpan atau opsi operan dekat memaksa lawan untuk trackback lebih cepat karena permainan Liverpool dimainkan di tempo tinggi.

Kita beri gambar lagi…

Bola dimainkan ke sayap, dan kedua bek sayap bersiap maju, beserta ketiga striker siap menerima umpan.

Karena banyaknya pemain di kotak penalti, bukan hanya Striker, jumlah orang yang bisa menyambar bola dan jumlah orang yang perlu ditutup oleh bek jauh lebih banyak.

Tambahan 1-2 orang terkadang bisa jadi apa yang diperlukan untuk memecah baris pertahanan lawan. Henderson dan Wijnaldum seringkali jadi orang tambahan, seandainya mereka tidak menyambar bola atau mencetak gol, mereka hadir untuk mendistraksi bek-bek lawan.

Miskonsepsi orang-orang…

Berkali-kali aku dengar orang bilang “Liverpool butuh gelandang serang bagus.”

Ini miskonsepsi bagiku. Gelandang serang terakhir yang Liverpool miliki adalah Coutinho, dan Klopp memainkan Coutinho sebagai sayap alih-alih gelandang, dan ia tidak mendapat tempat penting lagi di skuad Liverpool sesudah adanya Salah.

Memang iya, Liverpool kesulitan menciptakan peluang ketika bek sayap kita tidak diberi ruang untuk bergerak (seperti ketika melawan Manchester United) tetapi adanya gelandang serang dalam cetakan de Bruyne, David Silva, James Rodriguez, Christian Eriksen dan sebagainya mungkin memberikan kita lebih banyak kesempatan menciptakan serangan dari tengah…

Tetapi masalahnya… Itu akan membuat sistem pressing Liverpool tidak seimbang. Setelan simetris dengan dua gelandang box-to-box energetik dan gelandang jangkar kreatif seperti ini sudah sempurna untuk Gegenpress yang memang diatur dari tengah oleh Firmino.

Kalau kita bisa misalnya mendapatkan pemain seperti James Rodriguez atau semacamnya, Klopp akan melatihnya untuk mengisi peran Firmino, bukan dimainkan di gelandang tengah.

Kesimpulan.

Pressing Liverpool sederhana, dan lini tengah kita juga bermain dengan cukup sederhana, dan rapih. Menontonnya menarik tentunya. Beberapa kali aku mendengar teman-temanku baik fans Arsenal, Chelsea, atau klub di liga lain mengatakan bahwa menonton Liverpool selalu menyenangkan.

Klopp punya andil untuk itu. Bahkan jika kita kalah, dia tidak ingin timnya bermain dengan pas-pasan, pasti pertandingannya menegangkan dan tiap operan bisa berbuah gol.

Sampai minggu depan!

(aku berniat membereskan ini sebelum boxing day ya, semoga beres)

Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Dengan Star Wars yang tampak akan masuk ke Bioskop Indonesia dengan cepat… Aku rasa ini momen yang pas untuk membahas Benda-Benda Kolektibel!

Minggu depan aku akan membuat tulisan yang lebih spesifik tentang Star Wars dan mainan-mainan Star Wars, tetapi minggu ini, aku akan membahasnya dalam sudut pandang yang jauh lebih umum. Benda-Benda Kolektibel-nya sendiri.

Selamat menikmati.

Merchandising is Underrated.

Semua Film Star Wars menghasilkan 7 Milyar Dollar US. Mainannya? Menghasilkan 14 Milyar Dollar US . Spider-Man? 6.4 Milyar Dollar US (ketiga reboot ditotalkan). Mainannya? Tenang, hanya 1.3 Milyar Dollar US. Per tahun (bahkan adanya film baru keluar tidak begitu merubah angka ini, rata-ratanya dari 1.0 sampai 1.4 milyar).

Merchandise. Butuhkah kita?

Dari semua geeky trend yang ada di dunia (Star Trek, Star Wars, Spider Man, Batman, Superman, Semua Putri Disney), hanya Avengers yang sepertinya mendapatkan penjualan lebih banyak dari film kebanding merchandise. Itu pun sebenarnya bukan karena penjualan Merchandise Avengers begitu sedikit, tetapi karena penjualan film Avengers yang sangat banyak, dan mampu merambah orang-orang yang bahkan jarang menonton film.

Film-film dan studio-studio yang berpikir kapitalis tentunya tidak lagi bergantung pada film sebagai sumber penghasilan. Justru mereka bergantung pada jualan Merchandise.

Angka-angka dari merchandising tampaknya tidak akan berubah begitu banyak, sedangkan kalau tren Box Office… Kita bisa melihat penurunan ketika kualitas filmnya tidak begitu bagus.

Sampai hari ini, aku pribadi percaya bahwa Age of Ultron adalah film Avengers yang terburuk karena film tersebut diniatkan hampir murni untuk jualan Merchandise kebanding memberikan film yang memang bagus… dan sebenarnya, rencana mereka jualan merchandise gak bener-bener gagal… Age of Ultron menghasilkan 45% lebih banyak dari merchandise kebanding penjualan tiket.

Hal yang lebih konyol lagi, konsumen merchandise jumlahnya lebih sedikit kebanding jumlah tiket yang terjual.

Aku tidak punya angka empirik. Perkataan ini hanya reka-reka saja, tetapi aku yakin bahwa tidak ada orang yang membeli 2 tiket untuk satu orang kan? Mungkin ada orang yang menonton film yang sama 3 atau 4 kali, tetapi umumnya satu tiket untuk satu orang.

Sedangkan, bagaimana kalau merchandise? Satu orang bisa punya lebih dari 20 jenis merchandise kalau mereka mau… Aku saja punya 8 kaos D.C. (iya, iya, terlalu banyak… tetapi, aku geek parah) dan 3 kaos Marvel… Padahal aku termasuk fanboy yang nyantai.

Meskipun tidak ada basis fakta di belakang ini, aku yakin pembaca bisa menalar dan memberikan kira-kira tentang statistiknya…

Kenapa ini terjadi?

Si Fans Sepakbola.

Kenapa bahkan orang dewasa, atau anak-anak ingin punya sebuah merchandise?

Mungkin mereka ingin punya sesuatu yang “langka” karena hukum ekonomi dan hukum sosial untuk showing off dan hal-hal seperti itu. Tetapi aku tidak mengerti kenapa anak-anak menginginkan hal yang sama. Kenapa anak-anak yang dikenalkan dengan merchandise mau punya merchandise? Untuk dimainkan?

Sesudah nonton The Toys That Made Us di Netflix, aku mendapat bayangan. Mari aku kenalkan seorang professor Sosiologi dari College of Lake County, bernama John Tenuto. Ia juga kolektor barang Star Wars. Dia memiliki satu ruangan agak besar yang ia khususkan untuk merchandise Star Wars. Oh iya, kalau Bapak-bapak di sini menanyakan kenapa dia diizinkan punya ruangan untuk merchandise dan juga kenapa dia gak disuruh jual merchandise-nya sebelum nikah… Istrinya juga kolektor. (note to self, cari pacar dan istri yang gak galak soal Merchandise…)

John Tenuto dan Istrinya

Tenuto mengatakan bahwa seorang fans sepakbola misalnya… Bisa pergi ke stadion untuk menonton pertandingan dan mendapatkan vibe bahwa ia dekat dengan pemain-pemain kesukaannya. Seorang fans musik, bisa menonton konser dan mendapatkan perasaan nyata bahwa ia bersama penyanyi kesukaannya, dan mendapat penampilan langsung.

Seorang fans film tidak bisa mendapatkan pengalaman nyata yang sama. Hal terdekat yang mereka bisa dapatkan mungkin menonton ketika film tersebut sedang direkam, tetapi kita tidak bisa mendapatkan perasaan bahwa kita bersama Tony Stark, yang kita dapatkan adalah Robert Downey Jr. sedang memainkan peran Tony Stark.

Hal yang sama tentunya berlaku untuk fans sejarah. Mereka bisa ikut reenactment perang atau kejadian, tetapi tidak bisa terlibat langsung seperti fans musik atau fans sepakbola… Cara mereka melibatkan diri secara langsung adalah dengan memiliki barang yang dipakai dalam kejadian sejarah tersebut.

Dipikir-pikir lagi, kolektor barang yang hardcore umumnya memang terlibat di hal-hal yang mereka memang sukai, serta tidak mudah untuk terlibat langsung.

Contoh-contoh untuk ini adalah:

  • Film/Serial TV
  • Fashion (karena hal yang disukai memang hal yang langsung dikoleksi)
  • Sejarah
  • Video Games
  • Seni
  • Dan masih banyak lagi

Fans sepakbola atau fans musik punya kecenderungan untuk lebih tidak konsumtif dari fans-fans hal di atas dalam konteks merchandise. (ini bukan berarti fans sepakbola tidak konsumtif, hal yang sama dengan fans musik tentunya)

Menurut Tenuto, keterlibatan adalah hal yang krusial bagi seorang fans. Mereka ingin terlibat dalam hal-hal secara langsung ketika sudah benar-benar menyukai sesuatu. Keterlibatan tersebut menjadi alasan dan dorongan untuk membeli merchandise.

Kesimpulan

Pada akhir hari, kita mengoleksi hal-hal yang kita ketahui tidak perlukan.

Seriously. Aku tahu bahwa kita sudah kebangetan dalam konteks koleksi kalau Star Wars menyediakan Rice cooker R2-D2 dan BB-8. Buat apa?

Namun, layaknya semua hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial, mengetahui dan menerapkan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Seorang psikolog yang tahu bahwa manusia punya kesulitan bilang tidak ketika ditawarkan produk belum tentu punya keberanian untuk bilang tidak ketika menerima penawaran produk.

Sama juga dengan koleksi. Menurutku, penting untuk seseorang bisa membedakan hal-hal yang penting dan yang bukan, dan pada akhir hari… Apakah iya bahwa punya Odol merek Star Wars merupakan hal yang penting?

I’m out! Sampai lain waktu!

Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Seri Kopetalis adalah Seri Tulisan yang ditujukan untuk mahasiswa, atau Siswa/Siswi SMA yang ingin menghemat uang lebih banyak. Aku di sini memberikan angka dan perspektif mengenai pembelian antara dua opsi yang ada, dan membebaskan pembaca untuk menentukan mana yang lebih cocok untuk mereka. Selain tips finansial dalam kata Kopet, kata Kapitalis juga memberikan tips untuk berjualan dan mendapatkan income lebih banyak tentunya!

Makan di luar rumah? Atau Masak? Ini pertanyaan yang telah membingungkan orang-orang sejak Zaman Yunani kuno. (aku tidak sepenuhnya bercanda, Forum di Athens diketahui memiliki kantin yang menjual makanan Yunani dan jadi tempat Ibu-ibu ngegossip dulunya)

Aku di sini memulai serial, dan akan tentunya berusaha membantu orang-orang yang kebingungan dalam mengambil keputusan, selamat menikmati tulisan hari ini!

The Facts

Kita taruh faktanya saja dulu sebelum menuliskan debatnya.

Aku punya uang jajan 100 ribu tiap minggunya.

Uang jajan tersebut harus cukup untuk iuran Pramuka, makan ketika lagi tidak bersama kedua orangtuaku, dan ongkos angkot (terkadang pulang pergi karena tidak selalu bisa dijemput.)

Nasi atau beras hampir tidak pernah perlu beli, air juga tidak perlu jadi bahan pikiran karena aku ada botol minum dan aku bisa mengisi di perpustakaan kota, masjid, tempat les, dan masih banyak tempat lagi.

Bagaimana cara aku menghabiskan uangku, dan berapa yang aku habiskan tiap minggunya?

Sebelum masuk ke opini dan komentar, kita bahas dulu pengeluarannya secara statistik ya! Sangat sederhana, tapi ada perspektif yang bisa didapat.

Pengeluaran Non-Makanan

Iuran Pramuka 15 ribu

Angkot dari 10-40 ribu tergantung kebutuhan. Kita ambil rata-rata di 25 ribu.

Sisanya gak perlu.

Pengeluaran Makan di Luar…

Sisa uang dari pengeluaran non makanan ada 60 ribu.

Sekali makan, aku menghabiskan dari 10-16 ribu, tetapi aku akan ambil angka tengah, di 13 ribu.

Kurang lebih, aku bisa makan 5 kali dengan uang 60 ribu tersebut, tetapi tidak ada uang ekstra, dan aku harus menunggu awal minggu tiba sebelum bisa mendapatkan uang lebih.

Menekan harga makan ke 13 ribu, bagaimana caranya? Kalau emang mahasiswa sih harusnya kebayang ya makan 13 ribu, mungkin bisa makan sampai 2-3 kali pake uang segitu.

  • Membuat nasi di rumah, beli Lauk sejumlah 13 ribu
  • Makan di kantin Masjid Salman (sangat spesifik) 13 ribu bisa kenyang banget, kadang 7 ribu juga cukup buat makan kenyang malah.

Sebenarnya makan 13 ribu masih kehitung agak mahal buat beberapa orang, tetapi deviasi standar (bahasa keren buat kebiasaan, karena aku suka tampak pintar) aku makan 13 ribu.

Masak Makanan.

Sisa uang dari pengeluaran non makan masih 60 ribu.

Belanja bahan, aku berhasil mendapatkan bahan masakan untuk 5 kali makan dengan ayam senilai 20 ribu, dan sayuran senilai 15 ribu.

Hanya dengan 35 ribu, aku bisa makan kenyang selama 5 kali! Jika aku ingin hemat lauk, angka tersebut bisa ditambah hingga 7 kali makan, namun karena aku doyan makan (maklum), lauk dan sayur habis hanya dalam 5 kali.

Opsi protein apa lagi yang bisa didapat dengan 20 ribu? Harusnya dapat daging sapi (tapi aku gak makan daging merah) dan Ikan (tapi aku males banget masaknya) untuk porsi, coba-coba saja sendiri ya 😀 .

Sayuran 15 ribu kebeli banyak banget lho. Aku dapat Kentang yang cukup untuk makan 6 kali, Buncis untuk makan 10 kali (sampai sekarang belum habis, aku beli 8 hari yang lalu) dan juga bumbu-bumbuan seperti Bawang Daun, Jahe, dan semacamnya yang cukup untuk 2 minggu…

Pro dan Kontra!

Aku bukan preacher.

Aku hanya akan memberikan fakta-fakta dan opini, serta memberitahu pilihanku, pembaca silahkan menentukan sendiri mana yang lebih cocok untuk mereka.

Ini pro dan kontra dari keduanya.

Makan di Luar.

PROS:

  • Makanan harusnya enak. Kecuali anda zonk (tapi kalau pinter milih restoran dan tempat beli lauk, harusnya enak, ini mah bicara skill dan selera)
  • Tidak repot, tidak banyak pikiran.
  • Tidak mengonsumsi waktu, asal gak ngantri panjang-panjang.

CONS:

  • Kontra nomor satu. MAHAL. Aku perlu 60 ribu untuk makan 5 kali, sedangkan aku bisa makan 5 kali, semuanya kenyang, hanya dengan 35 ribu jika masak.
  • Menghasilkan sampah jika takeaway, atau go-food. (bisa dicermati dengan membawa wadah sendiri)
  • Belum tentu kenyang.
  • Butuh sedikit preparasi dan manajemen waktu untuk pembelian makanan.

Tentunya tiap orang punya pengalaman serta pro dan kontra-nya masing-masing, tetapi bagiku, Pro terbesar adalah fakta bahwa tidak ada kerepotan sama sekali.

Masak Sendiri.

PROS:

  • MURAH!!!! Penghematan hampir mencapai 50%, itu pun kalau mau makan kenyang.
  • Masakan sesuai selera, tentunya.
  • Pengalaman belanja ke pasar menyenangkan! Cari saja pasar yang orangnya ramah-ramah, tidak begitu bau, dan kalau anda suka ngobrol, pasti menikmati belanja ke pasar…

CONS:

  • Butuh keahlian masak. Kalau masih suka ujicoba dan tahu-tahu gagal ya…….. Nikmati makan siang anda. (makan siang pertamaku tuh, pas awal-awal nyobain masak, buyar…)
  • Mengonsumsi waktu, baik belanja ke pasar, masak, menyiapkan, dan semacamnya.
  • Tidak cocok kalau suka meninggalkan barang-barang di rumah secara gak sengaja. (aku ketika ke tempat les… “Tempat bekelku mana?” Akhirnya malah baru makan pas sampai rumah lagi)
  • Butuh lebih banyak pemikiran kebanding makan di luar rumah. Isunya sih, kataku ada di fakta bahwa untuk orang yang bosenan (kaya aku) kita perlu terus menentukan menu baru biar gak bosen. Mikirin mau masak apa lebih repot kebanding mau makan di mana.

Tips-Tips!

Sebelum kita tutup dan aku memberitahu pilihanku, nikmati sedikit tips-tips untuk yang mau mulai masak atau makan di luar!

Makan di Luar…

  • Manfaatkan promo, tetapi pintarlah membaca nilai barang. Diskon 50% tidak ada artinya kalau harga awal benda 100 ribu, dan anggaran makanmu cuman 30 ribu.
  • Seperti aku bilang, membawa tromel sendiri membantu mengurangi sampah yang dihasilkan. Alasan untuk mengurangi Go-Food dan Grab-Food juga tentunya.
  • Carilah kantin-kantin di dekat sebuah kampus yang bersih. Bahkan jika anda tidak/belum kuliah kaya aku, makan di kantin sebuah kampus bisa berarti anda menemukan sesuatu yang cenderung lebih murah tentunya!

Masak Sendiri…

  • Kalau anda tidak bosenan, masak hal yang sama tiap harinya. Ini mengurangi beban pikiran.
  • Untuk membuat proses memasak lebih efisien, bisa dilakukan dengan memasak seminggu sekali. Misalnya jika anda hanya punya satu hari kosong tiap minggunya, masak pada hari tersebut, lalu sisakan porsinya, dan hangatkan lagi ketika sudah waktunya makan.
  • Kalau seandainya anda bosenan…Hadapi kebosenan tersebut sampai minggu depan, kaya aku.

Kesimpulan.

Aku sekarang hitungannya masih kelas 12.

Aku sekarang punya banyak sekali waktu luang, mengingat aku homeschool…

Tentunya lebih baik jika aku masak! Walau baru mencobanya selama 2 minggu, proses belanja ke pasar, menghemat uang, dan proses masaknya jadi pengalaman yang menyenangkan bagiku, dan pengalaman ini nanti bisa jadi modal kalau aku Kuliah… 😉

Orang yang senang mengobrol dan ketemu orang sepertiku lebih cocok ke pasar dan masak tentunya. Bahkan kalau aku bosenan, aku bisa menahan kebosenan itu selama 1 minggu, dan masak hal lain di minggu depannya.

Ini bukan berarti makan di luar adalah opsi yang buruk ya… Kalau anda tidak punya waktu untuk masak atau belanja ke pasar, makan di luar tentunya opsi yang lebih baik. Sekali lagi, ini kembali ke preferensi.

Semoga tulisan ini membantu!

Sudut Pandang Pribadi Mengenai Radio…

Sudut Pandang Pribadi Mengenai Radio…

Radio bukan media yang tampak akan mati. Sudut pandangku cukup straightforward mengenai ini.

Singkatnya, Radio telah selamat melewati era televisi sebagai media dominan untuk musik, era Youtube sebagai media dominan untuk musik, bahkan era layanan streaming seperti Spotify dan Joox sebagai sumber musik.

Bahkan lagu populer VIDEO KILLED THE RADIO STAR terbukti salah. Ketika lagu dari 70-an terbukti salah, anda tahu ada masalah… (serius, dengerin lagu Stayin’ Alive, Bohemian Rhapsody, I Will Survive, Stairway to Heaven dari era tersebut… Mereka benar.)

(on second thought, itu lagu masih bener)

Jadi, apa yang menjelaskan ketangguhan media radio ini tetap bertahan? Aku sendiri merupakan pendengar radio yang rajin, mendengarkan dua stasiun tiap harinya, satu untuk hiburan pagi, satu untuk pengantar tidur pada malam hari.

Membaca berita tentang radio di Internet, aku tidak begitu suka cara media, baik yang menulis panjang lebar atau yang menulis dengan singkat tentang cara mereka mengemas radio, karena terlalu murni dengan statistik.

Tulisanku punya opini, dan hipotesa yang didukung dengan statistik.

Justru tren pendengar Radio di Indonesia malahan naik walaupun adanya banyak media informasi, media musik, dan media hiburan lain yang hadir.

Mari kita bahas!

Apa Kata Data?

Seperti semua tulisan bagus harusnya miliki, tetap ada statistika untuk mendukung opininya, jadi, bersabarlah, ini mungkin bagian paling ngebosenin di tulisan hari ini.

Pendengar dan Penetrasi

Dalam 5 tahun terakhir, Radio mencapai jumlah pendengar terbanyaknya pada tahun 2019 ini di DKI Jakarta. Ada bercandaan bahwa ini terjadi karena Jakarta makin sering macet tiap hari, dan tidak semua orang punya kabel AUX, jadi mereka menyetel Radio.

Memang betul, ini hanya bercandaan dan bukan hal yang empirik… Aku cukup yakin tentang bercandaan yang satu ini berasal dari fakta.

Selain itu, penetrasi radio memiliki kenaikan sebanyak 2% dari 11 kota di mana Lembaga Survei Nielsen mengambil datanya.

Walau ada penurunan di Palembang yang tahun 2018-nya memiliki penetrasi sebesar 99.8%, (ini berarti dari 1000 orang, hanya 2 yang tidak mendengarkan radio) dan sekarang berkurang jadi 95.2%, kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya memiliki kenaikan yang lumayan tinggi.

Bandung mendapatkan angka penetrasi kedua terbesar di Indonesia, dengan 56.9%, dan aku senang karena aku salah satu orang yang baru aktif lagi mendengarkan radio di tahun 2019.

Tetapi, selain adanya kenaikan di kota-kota besar, juga ada penurunan di beberapa kota-kota yang jumlahnya gak sedikit. Banjarmasin yang pada tahun 2016 memiliki penetrasi 64%, turun ke 20.1% di tahun 2019.

Tren radio justru tampaknya naik dan turun di kota-kota tertentu, tanpa alasan yang benar-benar jelas. Kalau aku boleh memberikan hipotesa, aku merasa bahwa di kota besar, tidak begitu banyak lagi orang yang sudah merasakan enaknya punya smartphone, atau mungkin tepatnya, mereka “bosan”

Bandung (kotaku) yang sekarang menjadi kota dengan penetrasi kedua terbesar sesudah Palembang, sempat mengalami penurunan dua kali di tahun 2016 dan 2018, lalu naik dengan drastis pada tahun 2019.

Jakarta juga mengalami hal yang mirip, turun di tahun 2017 dan 2018, lalu naik melebihi angka penetrasi 2016 di tahun 2019.

Mengapa ini bisa terjadi?

Saingan Radio.

Melihat angka-angka ini, aku mencari lagi statistik yang ada di internet, dan tidak berhubungan dengan radio. Justru, aku mencari sumber musik lain. Bukan televisi, justru YouTube, atau layanan Streaming. Kenapa bukan TV? MTV is dead. Deal with it.

Oh iya, kalau menanyakan kenapa musik, faktanya 87% orang mendengarkan radio demi musik, ada orang yang mencari komedi dari penyiar (sebanyak 20%) dan juga ada yang mendengarkan radio untuk informasi lalu lintas (sebanyak 27%) tetapi 87% orang menggunakan untuk musik, sepertinya itu alasan utama, dan aku gak mau bahas alasan lain mengingat seberapa dominan dan masif angka tersebut.

YouTube

Pertama-tama, kita bahas YouTube.

YouTube tidak murni digunakan untuk musik, sekarang digunakan juga untuk hal-hal seperti komedi, video prank gak jelas, gossip, highlight pertandingan olahraga, politik, dan… Trash posting YouTuber.

Jakarta sendiri mengalami penetrasi pengguna YouTube nomor tiga di Indonesia dengan angka 80.4% pada awal tahun 2019. Tetapi, angka ini justru turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 82.7%.

Aku sedikit kesulitan menemukan penetrasi pengguna YouTube di Bandung, dan ini berasal dari Survei Binus, 56.98% penetrasi YouTube di Bandung. Angkanya kecil justru, agak lucu, namun aku tidak sepenuhnya yakin akan kredibilitas survei ini, tetapi ini satu-satunya yang ada, dan hadirnya sedikit statistik lebih baik daripada tidak ada statistik sama sekali tentunya.

Jadi, walau penetrasi YouTube dan Internet tampaknya naik terus… Itu baru terjadi di daerah yang sebelumnya belum terambah oleh Internet, karena faktanya, di kota-kota besar, banyak orang mulai berhenti menggunakan YouTube dan Internet.

Menarik ya?

Melihat kenaikan di kota Jakarta dan Bandung, kita coba intip Banjarmasin.

Banjarmasin sendiri mengalami kenaikan dalam penetrasi Internet. Tidak banyak, tetapi ada kenaikan. Kenaikan penetrasi Internet menghasilkan penurunan penetrasi Radio.

Layanan Streaming

Industri Streaming Musik naik terus di Indonesia. Dari 12% di awal 2018, hingga 16.8% di awal tahun 2019.

Karena industri streaming musik masih up and coming, belum banyak data per kota, tetapi, mengambil dari kasus YouTube sebelumnya, mulai ada orang yang berhenti menggunakan YouTube sesudah hadirnya layanan streaming video tersebut.

Kemanakah perginya orang-orang tersebut? Sepertinya mereka mulai kembali ke radio, atau mendengarkan keduanya.

Tren Iklan Radio

Bagian ini tidak ada statistiknya sedikitpun, dan kalau aku boleh jujur, hampir semua ini didapat hanya dari pengalamanku saja.

Medsos seperti FB, dan YouTube bukan tempat ideal untuk memasang iklan kegiatan atau event, apalagi iklan layanan masyarakat. (gak ideal buat masang iklan layanan masyarakat di internet, percaya sama aku, warganet Indonesia mungkin malah nyolot kalau dikasih begituan)

Radio mengandalkan iklan event cukup sering, dan juga ada iklan layanan masyarakat yang sering muncul.

Kalau ada yang bertanya padaku apa iklan-iklan paling konyol yang aku dengar di radio…

Aku pernah mendengar saluran TV yang cukup besar dan populer di Indonesia memasang iklan di Radio, dan aku juga pernah mendengar saluran Radio memasang iklan layanan streaming musik.

Jadi, sepertinya demand radio tidak akan turun, karena saingannya juga memasang iklan di situ.

Oh iya, don’t judge their logic… Mungkin mereka merasa cukup yakin bahwa mereka tidak akan terkikis layanan streaming atau saluran televisi sehingga mereka membiarkan peletakkan iklan tersebut. Aku tidak tahu sejujurnya, aku mungkin harus bertanya ke Om-ku yang memang bekerja di saluran radio di Jakarta…

Kesimpulan?

Angkanya masih belum jelas.

Aku tahu persis bahwa angka-angka ini gak permanen, dan walau penetrasi internet naik terus, pengguna layanan-layanan seperti YouTube, dan Spotify mungkin saja turun. Mungkin belum tahunnya, mungkin belum waktunya, tetapi selama ini, Radio masih mengalami kenaikan, dan YouTube ada penurunan.

Jika aku bekerja di stasiun Radio aku akan mengandalkan jalanan macet terus, karena tidak semua orang mau membuang kuota dan uang untuk mendengarkan musik.

Atau ya, kita lihat saja trennya di masa depan. Who knows.

APPENDIX

My Radio Schedule

SENIN-JUMAT

Pagi. sambil siap-siap atau lari pagi, atau jalan kaki lihat-lihat sekitaran rumah…

94.4, Delta FM. Asri Nino in the Morning

Siang. Gak dengerin radio, siang itu momen aku dengerin MP3 Playerku… 😀

Malam. Sambil mau tidur.

98.4, Prambors FM. Trending 20 with Mario Eda.

WEEKEND

Selalu dengar Asia Pop 40. Kapannya agak gak jelas tergantung kegiatan sih. Tetapi Asia Pop 40 with Joey Chou biasanya suka ada di Prambors, dan aku selalu dengerin tiap minggu. Minimal kebagian top 10 dari jam 19.00-20.00 malam di hari minggu.

Membiarkan Sebuah Bangsa Tumbuh…

Membiarkan Sebuah Bangsa Tumbuh…

Dari mana aku mulai? Sesudah menelan habis buku milik Daron Acemoglu (Why Nations Fail?) aku semacam ingin menuliskan artikel seperti ini. Tentang politik, dan cara sebuah bangsa, atau negara bisa tumbuh dari negara yang masih developing, menjadi negara yang sudah developed.

P.S. Istilah negara maju dan negara berkembang bukan hal yang aku sukai, karena katanya tidak mirip dengan satu sama lain.

Mungkin orang terdekat yang aku bisa ambil dari sini adalah Bubi (Ibuku)… karena aku melihat banyak sekali similaritas dari gaya Parenting Waldorf dengan gaya sebuah bangsa berkembang. Tetapi, tulisan hari ini lebih berbau politik kebanding psikologi, jadi kalau ada kemiripan di sini dengan tulisan-tulisan milik Bubi, anda tahu alasannya.

Sekarang, masuk ke topik!

Lingkaran Kebaikan.

Romawi adalah contoh pertama, dan mungkin contoh terbaik yang ada di dunia kuno.

Republik pertama di dunia yang memiliki sebuah hak untuk membunuh pemimpin paling atas dari sebuah negara. Membunuh kaisar yang tidak disukai anggota-anggota dewan dan anggota-anggota militer adalah hal yang legal di Romawi.

Mungkin kata membunuh dan kebaikan tidak akan pernah diletakkan di satu kalimat yang sama, tetapi yang Romawi lakukan di sini sebenarnya sangat sesuai dengan aspek Lingkaran Kebaikan (atau tepatnya, Virtuous Circle) yang dijelaskan Acemoglu.

Sebuah negara bisa memiliki Lingkaran Kebaikan jika negara itu membiarkan warganya berpikir secara mandiri dan demokratis serta menentukan pemimpin yang terbaik bagi negeri itu, dan tidak ada pemimpin paling atas, alias pemimpin di posisi teratas BISA dan BOLEH digusur oleh anggota-anggota dewan atau warga.

Memang, Romawi mengganti kata penggusuran dengan pembunuhan (yikes), tetapi fakta bahwa Praetorian Guard, atau lebih tepatnya Jendral sebuah Legiun boleh mengambil aksi untuk membunuh Kaisar ketika mendapatkan dukungan dari warga, dan juga para Senator memberikan nilai plus bagi liberalisme di Romawi!

Selain itu, motto Romawi adalah Senatus Populusque Romanus. Artinya “Untuk Orang-orang serta Senat Romawi.” Prajurit Romawi berperang bukan untuk Kaisar, tetapi untuk bangsa dan anggota dewan yang tidak begitu sering korup karena selalu ada penggantian tiap tahunnya!

Kembali ke topik… Apa itu Lingkaran Kebaikan?

Menurut Daron Acemoglu, proses terciptanya sebuah Lingkaran Kebaikan ada di hadirnya organisasi politik yang tidak terkekang dan bebas dari intervensi militer atau intervensi kepentingan politik. Organisasi politik ini tidak semestinya peduli akan kepentingan anggotanya, dan harus bisa diikuti siapapun pada tingkatan sosial apapun.

Organisasi politik seperti itu bisa membuka jalan untuk organisasi lain, seperti misalnya pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan semacamnya, yang tidak terkekang militer atau kepentingan politik, dan memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi warga untuk menentukan kebutuhan mereka akan hal tersebut.

Kata kunci dari penjelasan tersebut ada di bebas dari intervensi. (ini bagian yang aku maksudkan mirip dengan pendidikan Waldorf, membiarkan anak-anak tumbuh tanpa adanya intervensi dari luar) Kebebasan dari intervensi ini membiarkan tiap negara tumbuh dengan jelas tanpa adanya kehilangan identitas dari pertumbuhan individu di negara tersebut, dan identitas negara tersebut.

Nilai Rapor Republik Romawi mungkin agak jatuh di bagian “Bebas dari Intervensi” karena… Umm… Ini daftar Kaisar Romawi yang dibunuh oleh anggota dewan atau Jendral… Bahkan pemimpin yang baik-nya pun tetap mati karena ada intervensi…

  1. Julius Caesar (seandainya dia tidak dibunuh tulisan hari ini akan ditulis di Bahasa Latin)
  2. Mark Antony (sama, seandainya dia tidak dibunuh, tulisan hari ini mungkin ditulis di Bahasa Latin, atau mungkin Mesir kuno)
  3. Tiberius
  4. Caligula
  5. Nero (Untungnya sesudah Nero ada 5 good emperors yang semuanya baik, jadi HORE!)
  6. Commodus
  7. Hadrian (kalau dia tidak dibunuh mungkin tidak ada Tembok Besar Cina, adanya Tembok Besar Italia)
  8. Dan masih banyak lagi orang yang tidak sepopuler 7 orang di atas!

Tetapi Romawi adalah salah satu contoh pertama dan mungkin contoh terbaik di dunia zaman dahulu kala dalam konteks membebaskan warga.

Layaknya sebuah balita (Ibuku pasti nyengir-nyengir baca ini), negara harus dibiarkan tumbuh tanpa intervensi agar sumber daya manusia dan ekonomi negara tersebut berjalan secara mandiri, dan negara tersebut memiliki identitas.

Revolusi.

Arc De Triomphe. Sebuah monumen indah di kota Paris. Mungkin Arc De Triomphe sendiri tidak seterkenal Menara Eiffel, dan fansnya tidak sesetia Notre Dame yang umumnya menyukai Arsitektur Gothic. Tetapi Arc De Triomphe adalah salah satu monumen paling terkenal di Prancis.

Monumen tersebut menyimbolkan revolusi. Sebuah perubahan yang terjadi begitu cepat, begitu tiba-tiba dan (tentunya) melibatkan pembunuhan (sekali lagi… Yikes!).

Marie Antoinette, Louis XIV, Prancis membuang mereka berdua dan dalam sekejap, hadirlah Prancis yang baru. Negara Prancis yang tidak melihat lagi ke sebuah kerajaan, dan melihat takhta kekuatan di negara tersebut sebagai hasil usaha demokrasi alih-alih hasil keturunan darah sebuah monarki.

Dampak Revolusi Prancis ini biasanya terdengarnya itu-itu lagi, dan aku yakin jika orang ingat pelajaran sejarah di SMA (bener gak ya…) atau sesekali nonton film yang membahas ini, pasti tahu bahwa ini sangat berpengaruh bagi Prancis sebagai negara. Dampaknya jelas, dan sampai sekarang identitas Prancis sebagai negara yang sudah developed jelas. Bahkan sampai hari ini orang-orang memberikan orang Prancis cap stereotipe sebagai orang liberal.

Tetapi, pernahkah orang berpikir dampak dari revolusi Prancis bukan untuk negara tersebut, tapi justru untuk negara lain?

Prancis muncul dengan ide untuk menggulingkan Louis XIV si Raja Matahari, dan Marie Antoinette, tetapi hal yang sama, ide revolusi tersebut tidak berhenti di Prancis. Ide yang diciptakan Prancis muncul berkali-kali dan secara berulang di negara lain… Jerman, Belgia, dan seterusnya mendapatkan ide yang sama untuk memberontak dan mengubah negaranya agar lebih demokratis, bergantung pada apa yang orang-orang di negara tersebut katakan alih-alih keturunan.

Pada akhirnya, revolusi di Prancis memulai revolusi di negara lain, dan itu muncul bukan karena warga-warganya tidak punya ide, tetapi mereka tidak yakin bahwa itu mungkin.

Satu orang melakukan, semuanya ikutan.

Dan sebenarnya, revolusi tersebut mungkin tidak tercipta jika Louis XIV dan Marie Antoinette cukup peduli pada warganya. Justru karena mereka tidak peduli, warga tersebut jadi lebih pintar dan jadi berani mengambil keputusan sendiri.

Jadi… Abaikan warga anda agar negaranya bisa maju?

Dunia Modern

Di dunia modern, masih saja ada negara yang membiarkan dirinya terekspos oleh kebalikan dari Virtuous Circle, yaitu Vicious Circle (Lingkaran Kekejaman) sebuah lingkaran yang membiarkan warganya tinggal dalam ignorance alih-alih membiarkan mereka tumbuh.

Ignorance mereka bukan berarti mereka tidak bahagia, tetapi lebih tepatnya mereka merasa tidak yakin akan keluar dari zona nyaman mereka, dan mungkin berusaha kabur dari Vicious Circle negara mereka bukan hal yang logis untuk dilakukan…

Tentunya Indonesia bukan satu negara seperti ini. Justru menurutku yang menciptakan Vicious Circle ini bukan pemerintah atau militer tapi orang-orang yang ingin merebut kekuasaannya sendiri…

Ya, pada akhir hari, dunia ini semakin membaik, tetapi terkadang… Kita memberikan terlalu banyak intervensi di hal-hal yang seharusnya bisa dibiarkan tumbuh sendiri…

Ninja-Ninja Beneran…

Ninja-Ninja Beneran…

Anda bisa bertanya padaku tentang Mitologi Yunani, Romawi, Skandinavia, Mesir, Maya, Hindu (sedikit setidaknya), Korea, China, dan aku akan menjawab dengan cukup akurat.

Tapi kalau anda ingin bertanya tentang mitologi Jepang… Aku cukup clueless. Aku tahu tentang Amaterasu, Izanagi, Izanami, Tsukuyomi, Susano’o, dan beberapa dewa perang lainnya, namun ketika disuruh membandingkan mitologi tersebut dengan kehidupan nyata, aku akan kesulitan.

Terutama di Mitologi Romawi yang penuh dengan prajurit/pahlawan pemberani seperti Romulus, Horatius, dan Octavian, beberapa dari mitologi tersebut menjadi aspek kenyataan yang asli dan merupakan fakta sejarah…

Jepang memiliki gaya mitologi yang mirip, namun ternyata lebih banyak ninja yang nyata, kebanding yang fiktif… Aku sempat mengira bahwa ninja-ninja heroik hanyalah karya fiksi seperti Romulus, bukan seperti Julius Caesar, atau Octavian, namun itu miskonsepsi terbesarku sampai aku membaca buku berjudul Ninja Attack, karya Hiroko Yoda, dan Matt Alt. Link ke Goodreads

Selamat menikmati dan menambah ilmu tentang ninja-ninja yang heroik, dan faktual!

Seorang Ninja

Ninja bukan hanya mata-mata atau pembunuh bayaran. Sebenarnya definisi Ninja sendiri lebih cocok untuk masuk ke definisi bahwa mereka seseorang yang merupakan anggota Klan, dan bekerja untuk seorang Warlord, pemimpin klan.

Mereka bisa saja merupakan jendral, pembunuh bayaran, mata-mata, pencuri, penyihir, tukang bersih-bersih toilet sekalipun… Selama mereka bekerja untuk suatu klan, secara teknis, mereka adalah ninja.

Tsunokuma Sekisu

 

Salah satu ninja yang merupakan bagian dari sejarah secara absolut adalah orang yang satu ini. Mungkin dia tidak seterkenal Jiraiya (yang fiktif) atau diketahui orang-orang sebanyak Oda Nobunaga (yang memang raja, dan bukan Ninja) tetapi Tsunokuma Sekisu ini merupakan ninja yang cukup terkenal.

Ia bukan Ninja dalam sudut pandang mata-mata, atau pembunuh bayaran seperti yang orang-orang anggap sebagai Ninja, tetapi Sekisu adalah seorang Jendral, dan juga Peramal.

Ceritanya tentang Ninja yang satu ini ada di fakta bahwa ia memulai karirnya sebagai orang yang terkenal dan pintar membaca kertas-kertas sebagai pertanda dari dewa. Walau kita tidak sepenuhnya tahu bahwa ini adalah hal yang ilmiah atau bukan, Sekisu memanfaatkan ini sebagai permainan psikologis ketika merencanakan serangan.

Ninja bukan hanya mata-mata, tetapi juga ada Ninja macam prajurit, Sekisu memimpin dan membantu Prajurit Klan Ninja-nya, Klan Kyushu dengan kemampuannya meramal cuaca (yang seringkali akurat) serta membantu strategi ketika ingin menyerang suatu kota.

Tsunokuma Sekisu merupakan Ninja yang agak tidak ortodoks, tetapi kemampuannya memainkan pertanda dan ramalan dari dewa serta menciptakan keraguan dari musuhnya sangat-sangat berharga bagi Klan Kyushu.

Ia juga diketahui sebagai seorang penyihir, ahli ilusi. Mungkin diketahui oleh Fans Naruto sebagai Genjutsu, dan ia sering menciptakan ilusi yang tidak bisa dijelaskan ahli sejarah, seolah-olah ada hujan atau tornado berisi pedang dan shuriken.

Tsunokuma Sekisu sendiri merupakan Jendral paling sukses Klan Kyushu, sampai turunnya pemimpin yang ia dukung di masa kejayaannya. Sesudah turunnya Warlord pertama yang ia dukung, takhta tersebut diberikan orang yang agak skeptis akan kemampuan mistis Sekisu, seorang bernama Otomo Serin.

Otomo Serin ini bertemu dengan seorang pendeta Katolik dan tidak lagi mempercayai ramalan cuaca, pertanda dewa dan ilusi milik Sekisu. Ketika sedang memerintahkan sebuah penyerangan, Sekisu memberikan saran bahwa cuaca hari tersebut akan buruk, dan akan ada seseorang amat penting yang tidak selamat saat penyerangan tersebut.

Otomo Serin yang skeptis memerintahkan Sekisu sendiri (yang tetap berharga karena masih memiliki kemampuan ilusi) untuk menyerang, sebagai bukti bahwa pertandanya tidak selalu benar.

Sekisu tidak pulang lagi. Ia terbunuh pada penyerangan tersebut, dan penyerangan tersebut gagal. Pada akhir hari, ramalan Sekisu selalu benar, meski ia terbunuh oleh ramalannya sendiri.

Sugitani Zenjubo

(gambar dari buku Ninja Attack)

Sebuah mitos menyatakan bahwa Ninja adalah orang-orang yang tidak menyukai senjata modern. Zenjubo adalah bukti bahwa Ninja tidak hanya bergantung pada senjata modern saja. Sugitani Zenjubo adalah seorang… Sniper.

Di zaman di mana senjata api bukan hal yang umum, Zenjubo menguasai penggunaan Rifle yang masih menggunakan percikan api sederhana, dan ia tidak pernah meleset. Ketika ada target yang perlu ia tembak, ia akan menembaknya dengan tepat.

Pada awal era Oda Nobunaga (orang yang bilang bahwa Ninja itu gak boleh jadi bagian dari Jepang) Klan Koga mengirimkan pembunuh bayaran terhebat mereka sebelum Nobunaga mampu melakukan apa-apa yang mengambil alih kekuasaan mereka.

Zenjubo dikirimkan untuk mengintersepsi rute yang diambil Nobunaga untuk pindah dari satu kota ke kota lainnya. Ia membawa senjata kesukaannya. Sebuah pistol rifle sederhana, yang hanya bisa menembak sekali sebelum perlu mengisi ulang selama sekitar 10 menit (ini senjata jadul, bersabarlah, penggunaannya sulit) namun untuk menambah kemungkinan tembakan tersebut kena, Zenjubo memodif pelurunya agar bisa menembak dua peluru besar sekaligus tanpa perlu isi ulang.

Ia bersiap, memanjat pohon yang tinggi, tiba beberapa jam sebelum Nobunaga lewat (untung ia bukan orang bosenan, mungkin sambil nungguin lewat dia udah langganan Netflix dulu) memastikan bahwa ia bisa menembak Nobunaga dengan akurat.

Ketika orang yang ditunggu-tunggu lewat, Zenjubo mengambil nafas yang dalam dan mencari bagian mana yang perlu ia incar. Nobunaga menggunakan baju zirah yang tebal, hanya membiarkan leher dan mukanya terbuka. Zenjubo tahu ia hanya punya satu kesempatan, dan jika ia gagal, ia akan dicari habis-habisan hingga bahkan klannya tidak mampu menyelamatkannya.

Ia menembak. Yakin bahwa dia tidak akan meleset. Ia belum pernah meleset seumur hidupnya. Suara keras memberikan posisinya… Keheningan muncul sesudahnya, bersama asap yang amat tebal dari senjatanya.

Satu hela nafas lagi, menghilangkan asap, Zenjubo harus memastikan ia sukses. Pelurunya kena. Tepat ke leher Nobunaga.

Aku yakin anda sudah tahu bahwa Zenjubo gagal karena Nobunaga memusnahkan hampir semua Ninja yang ada pada akhir eranya. Namun Zenjubo tidak pernah meleset. Ia tidak meleset kali itu. Hanya saja, Nobunaga menggunakan zirah tambahan di lehernya, tertutup oleh kain.

Zenjubo tertangkap, dan tentunya… Ia dieksekusi sesudah siksaan 10 hari, lehernya dilukai dengan bambu yang tumpul, dan dipotong sesudah bambu itu dipertajam oleh lehernya sendiri. Yikes. Kukira eksekusi Romawi sudah brutal… Ini parah… Eesh.

Tetapi yang ia lakukan jelas-jelas berani dan ia menjadi salah satu ninja paling terkenal di sejarah.

Hattori Hanzo

(gambar dari Wikipedia)

Sesudah Jiraiya (ninja klasik yang fiktif, diciptakan di tahun 1800-an) Hattori Hanzo adalah ninja klasik paling terkenal. Masukkan ninja modern dan Hattori Hanzo mungkin tidak masuk top 10, karena ada Naruto, Shogun, TMNT, Ronin, Wolverine (yang ternyata terinspirasi oleh Ninja), dan seterusnya… tetap saja… Hattori Hanzo amat terkenal.

Sebenarnya Hanzo sendiri tidak melakukan banyak hal yang aneh-aneh.

Namun ia merupakan Jonin (ninja pangkat kedua tertinggi, sesudah Warlord sebuah klan) dari klan Iga yang akhirnya dimusnahkan Nobunaga.

Selain kematiannya, Hattori Hanzo melakukan banyak pemberontakan pada Nobunaga, seperti membakar bangunan yang Nobunaga buat, mengatur penculikan dan pemerasan, dan seterusnya.

Sebelum anda berpikir hal seperti “Oke, jadi aku membaca artikel tentang orang-orang ‘hebat’ yang membunuh, menculik, memeras, dan percaya sama hal-hal yang gak ilmiah, kenapa aku baca artikel ini?” coba ingat bahwa walau Ninja ini agak kejam, Oda Nobunaga jauh lebih kejam.

Hattori Hanzo tidak melakukan satu saja hal yang sangat hebat, melainkan banyak hal yang mengancam Nobunaga… Bahkan kematian legendarisnya (ini mungkin mitos, karena ada kemungkinan bahwa Hanzo meninggal karena usia tua) dilakukan sebagai pemberontakan pada Nobunaga.

Hanzo mengatur penyerangan ke sebuah gedung milik Nobunaga, dan ia gagal. Daripada ia membiarkan penyiksaan dan penangkapan prajuritnya, ia meminta mereka melakukan Seppuku (alias bunuh diri secara mulia) dan… Ketika semua prajuritnya sudah mati dengan mulia… Ia mengambil minyak, dan membakar semua bangunan penting dan anggota dewan yang mendukung Nobunaga dalam satu gerakan sederhana.

Kematian ini mungkin mitos, tetapi bahkan jika Hanzo tidak mati karena ini… Ia merupakan ninja yang ideal… Mulia, pintar, licik, dan tidak mau kalah.

Kesimpulan

Oke. Satu hal.

Aku membaca 3 Ninja ini dari sebuah buku yang ada di atas ya… Jadi aku berpikir untuk menawarkan buku ini untuk pembaca yang menginginkannya. Untuk membelinya, bisa komentar atau email, atau buka link tokopedia ini.

Ini buku bekas, tetapi masih bagus, harganya kutaruh 125 ribu (open for negotiation), jika anda membeli baru, anda perlu mengeluarkan 298 ribu.

Selain 3 Ninja ini, masih banyak ninja lagi di buku ini, dilengkapi dengan ilustrasi yang amat indah! Terima kasih telah membaca!

Data Abuse. Bagaimana cara seseorang memanfaatkan data?

Data Abuse. Bagaimana cara seseorang memanfaatkan data?

Pernahkah anda kehabisan buku untuk dibaca? Orang sepertiku yang mengalaminya selama 1 bulan terakhir memutuskan untuk membaca 3 buku dengan sangat lambat. Umumnya aku membaca 3 buku dalam satu minggu. Kali ini, aku hanya membaca 3 buku dalam satu bulan.

Lebih lucunya lagi, aku tidak sekalipun mencari daftar buku terlebih dahulu. Aku mencari buku yang ada di situs berbagi Ebook di Internet, dan aku memasukkannya langsung ke Kindle milikku (yang sekarang hanya punya sisa 30 megabyte ruang) lalu aku baru beres membacanya hari Senin kemarin.

Aku bukannya membaca buku lebih sedikit, tetapi aku memperlambat proses membacanya agar aku tidak perlu begitu bingung mencari judul buku lagi yang dicari.

Dan ternyata… dua dari tiga buku yang aku baca saling terhubung.

Tulisan hari ini tentang data. Sesudah beres basa-basi, selamat menikmati tulisannya!

Dataclysm.

Cataclysm. Sebuah kata yang berarti kekacauan, kerusakan, kehancuran.

Christian Rudder dengan pintar memainkan kata tersebut menjadi Dataclysm. Buku ini dikeluarkan tahun 2013 dan aku menyukainya!

Bayangkan sebuah dunia di mana data adalah aset paling berharga (klise dari semua seminar programming dan computer science yang aku dapatkan biasanya “Data is the New Oil”) memang iya, data itu berharga, tapi dalam buku ini, Rudder tidak menjelaskan semua hal yang membuat aku pergi dan mengurangi belajar computer science… Rudder tidak menjelaskan cara mendapatkan data, melainkan cara memanfaatkannya.

Christian Rudder ini orang yang sangat-sangat geeky. Dalam buku ini, dia menceritakan bahwa hobi miliknya adalah bermain Board Game dan mengumpulkan kartu koleksi, dan kegiatannya sehari-hari adalah menjalankan sebuah dating site yang ia miliki bernama OkCupid.

Oh, dan ternyata dia juga punya hobi melakukan stand-up comedy walau ia tidak begitu terkenal karena hobinya tersebut. Langsung saja kita bahas buku miliknya!

Standar Relatif dan Stereotipe.

“Aku tinggi kok! Buat orang Asia…”

Satu hal yang Rudder ungkit mengenai data adalah seberapa konyolnya hal-hal yang orang-orang lakukan ketika menilai sesuatu. Diberikan sebuah data, Rudder menjelaskan dengan sederhana bahwa orang Asia, Hispanik, African-American, dan Caucasian di OkCupid memiliki banyak penjelasan dan penggunaan kata-kata yang konyol.

Ketika kata “Hip-Hop” muncul lebih banyak dari kata “The” untuk orang African-American, dan ketika kata “SAT Scores” muncul lebih sering dari kata “How” untuk orang Asia di OkCupid ketika berusaha membuat smalltalk dengan calon pacar… Anda tahu kenapa ada banyak stereotipe yang diberikan kepada orang-orang berdasarkan ras mereka. Sayangnya stereotipe tersebut seringkali benar.

Orang-orang menilai satu sama lain berdasarkan standar dan cara mereka melihat orang tersebut. Pertanyaan ketika menilai orang bukanlah “What” melainkan “How”.

Orang African-American punya kecenderungan untuk tidak menyukai orang dari ras lain jika ada yang menyindir mereka dengan lelucon “Do you like Fried Chicken?” Tetapi ketika lelucon tersebut muncul dari orang african american lain, mereka tidak merasa tersinggung.

Aku bisa bicara cukup banyak (mungkin terlalu banyak malah) tentang ironisnya data dan konyolnya data yang diberikan Rudder dari situs kencan online yang ia miliki… Tetapi kurasa cukup jika aku bilang bahwa stereotipe orang ada benarnya. Hanya saja jika orang lain yang menilai stereotipe tersebut (dalam kasus ini orang dari ras berbeda) kita merasa tersinggung.

P.S. Do you like fried chicken adalah lelucon tidak sopan dan gelap karena pada era perbudakan di U.S. makanan yang diberikan pada budak-budak berkulit hitam adalah ayam goreng.

Rudder menjelaskan (dan akan aku jelaskan di bawah) bahwa data sering disalahgunakan… Tetapi untuk sementara, kita ke judul buku nomor 2!

Infinite Mindset

Simon Sinek menulis buku ini. Aku juga tidak ada tujuan sedikitpun untuk mencari Infinite Mindset, hanya saja buku ini pernah muncul di atas daftar e-book sharing site yang aku gunakan, dan… Aku mendownload-nya saja.

Buku ini lebih modern dari Dataclysm dan lebih banyak membahas tentang bisnis kebanding datanya sendiri…

Metrik-Non-Metrik

Sebuah mobil mampu berjalan 500 km/ jam. Mobil dari merek lain mampu berjalan dengan kecepatan 550 km/jam dengan harga yang sama, desain yang sama bagus, dan penggunaan bensin yang sama. 1 bulan kemudian, mobil 550 km/jam tersebut tidak lagi diproduksi karena tidak laku.

Perusahaan mobil yang mendesain mobil 500 km/jam tersebut (ini angkanya agak gak realistis ya… maafkan) mengeluarkan mobil baru. Kecepatannya hanya 400 km/jam, tetapi desainnya amat bagus, dan didesain oleh desainer interior paling terkenal dari Italia.

Perusahaan B yang mendesain mobil 550 km/jam melakukan hal yang sama, dengan kecepatan yang sama, tetapi dengan desain yang lebih bagus. Perusahaan A tetap lebih laku.

Banyak sekali bisnis dan perusahaan yang menggunakan metrik sebagai patokan kesuksesan mereka. Padahal tidak ada hubungan metrik sama sekali dengan kesuksesan. Orang-orang yang menggunakan metrik sebagai patokan kesuksesan adalah orang-orang yang menganggap bahwa untuk bisa bahagia, butuh uang yang banyak.

Sinek membahas cukup dalam tentang kepentingan seseorang untuk tidak memanfaatkan metrik sebagai tanda kesuksesan.

Walau terdengar agak-agak oxymoron mengingat tulisan hari ini tentang data, dan data hampir 100% berhubungan dengan metrik… Itu yang ingin aku bahas. Penggunaan data adalah hal yang amat sering jadi miskonsepsi oleh orang-orang…

Aku tidak berhak mengkritik orang-orang yang memiliki bisnis tentunya… tetapi dari pengalamanku selama ini belajar computer science dan sudah hampir 2 tahun blog ini berjalan… Itu satu hal yang aku yakin, orang-orang menggunakan data untuk hal-hal yang salah, atau setidaknya, belum memanfaatkan data ke potensi maksimalnya.

Penggunaan Data

Ada perusahaan penyedia jasa telekomunikasi seluler yang terkenal akan keseringannya membocorkan data.

Seringkali orang-orang membahas tentang penggunaan data dan klise yang aku sebut di awal (data is the new oil) sampai kadang aku berpikir orang-orang yang menjual data secara harfiah menganggap bahwa data is the new oil adalah klise yang harfiah. Seperti minyak, kita perlu menjualnya ke orang-orang yang mampu membeli.

Memang pernyataan “Data is the new oil” tadi agak-agak sering digunakan sehingga bukannya terdengar inspiratif malah terdengar menyebalkan, tetapi aku yakin 100% bahwa kalimat tersebut benar. Minyak tidak hanya digunakan sebagai komoditas atau sebagai bentuk lain dari uang. =

Minyak, selain bisa dijual, juga bisa digunakan untuk menjalankan mesin dan meningkatkan efisiensi serta daya kerja sebuah pabrik. Itu yang terjadi pada awal revolusi industri. Revolusi Industri kali ini (4.0) juga memanfaatkan sebuah komoditas ala-ala minyak, dengan cara yang salah.

The Metric Overuse.

Simon Sinek dan Christian Rudder menjelaskan tentang data dari dua sudut pandang berbeda. Christian Rudder mengambilnya dari sudut pandang IT, sematematis mungkin. Simon Sinek, di sisi lain mengambilnya dari sudut pandang buku self-help, atau buku yang mengambil sisi bisnis.

Tetapi keduanya setuju akan satu hal.

Kita terlalu berlebihan bergantung pada metrik yang jelas-jelas finite (alias terbatas).

Nilai di sebuah ujian, kecepatan sebuah mobil, jumlah angka popularitas, (iya, popularitas juga bisa diukur sekarang, ada software untuk itu) bahkan hal-hal yang baik seperti indeks kebahagiaan semua diambil dari sudut pandang yang empirikal tetapi terbatas.

Dunia mulai salah dari sudut pandang tersebut. Seperti biasa aku mengkritik orang-orang yang membiarkan gaya berpikir mereka terbatas ke sebuah angka.

Kalau kita membatasi diri kita ke sebuah angka, sementara banyak hal yang bisa diukur lainnya… well… Tanya Einstein saja.

Ia sudah menjelaskannya dengan cara paling elegan dan sederhana, aku rasa tidak ada yang bisa diperbaiki dari quote yang satu ini.

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Kembali lagi ke serial kuliah umum. Kuliah umum kali ini berasal dari Reinard Primulando. Membahas tentang… Materi. Like, you know… Stuff.

Pemateri kita kali ini adalah DR. Reinard Primulando dari fisika Unpar.

Mungkin terdengar agak sederhana, tetapi aku berjanji, kuliah kali ini adalah kuliah dengan materi paling berat! Pertanyaan Why Is There Stuff ini mungkin terdengar sangat sederhana, seperti menentukan membeli Oreo Double Stuff atau yang biasa (Oh iya, Double Stuff gak enak, terlalu manis), tetapi, dalam proses menjawab pertanyaan ini, DR. Reinard menyebutkan dan memberikan referensi tentang Anti-Matter, Descartes, Big Bang, Particle Decay, dan masih banyak lagi!

Tentunya aku akan berusaha menjelaskan dengan cara yang sesederhana mungkin, karena seperti yang Einstein katakan… “It is possible to explain the laws of physics to a barmaid.” (tanpa tujuan menyindir barmaid).

Descartes si Fisikawan

Ketika kita browsing tentang nama Isaac Newton di Google, lalu kita pindah ke bagian News alih-alih All, Images, atau Video… akan muncul setidaknya satu artikel dengan judul clickbait seperti “Newton was Wrong! Here’s Why.” atau “Newton made a mistake that rewrote the laws of physics.” Dan semacamnya.

Konyolnya, artikel-artikel tersebut menjelaskan cara Newton melihat hal-hal yang baru ada di abad 20 akhir atau 21 awal. Hukum gravitasi Newton tidak salah, hanya saja ada hukum yang Newton tulis yang kurang akurat, sehingga perlu ada perbaikan yang minor agar bisa sesuai dengan fisika modern.

Jadi, jika anda melihat kata-kata seperti Hukum Fisika Gagal, atau Newton Salah di judul sebuah artikel, jangan langsung percaya.

Namun, kali ini, kegagalan hukum fisika agak konyol, dan dia konyol bukan karena ada hal yang tidak akurat sesudah bertambahnya ilmu di dunia.

Masuklah René Descartes. Kalimat paling terkenal yang ia katakan (sama seperti Apel milik Newton, E=Mc2 Einstein, cuma tentang filsafat) adalah “Aku berpikir, maka aku ada.” Dalam bahasan fisika, berpikir berarti melakukan hitungan atau prediksi.

Berdasarkan hitungan fisika, seharusnya, kita tidak ada. Jadi, kalimat Descartes tersebut tampak seperti lelucon. “Saya berpikir, berarti saya ada. Tapi hasil berpikir saya, saya harusnya tidak ada.”

Kuliah dari Dr. Reinard dimulai dengan pertanyaan ini!

Backtrack

Kita bisa dan telah memprediksi kehidupan di alam semesta dengan cukup akurat sampai ke 10 menit kehidupan awalnya. Alam semesta sudah ada untuk waktu yang lama dalam sudut pandang manusia, tetapi kita tidak bisa mengingat 10 menit pertamanya saja…

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi pada 10 menit pertama tersebut? 10 menit pertama diteorikan sebagai proses terjadinya Big Bang. Ada nukleosintesis (ketika membahas fisika dengan orang-orang awam, gunakan kata ini, anda akan tampak pintar) yang menciptakan unsur-unsur dengan cara yang sejujurnya aku masih belum mengerti.

Mungkin juga terdengar agak konyol bahwa kita bisa memprediksi dengan akurasi yang signifikan bahwa masa depan alam semesta bukan rahasia yang jelas. Tetapi 10 menit (bagi alam semesta yang usianya 10 pangkat 34 tahun, 10 menit seperti kedipan mata di hidup manusia) awalnya hal yang gak jelas.

Seperti yang fisikawan ketahui… Kalau ada hal gak jelas, berarti itu hal-hal yang penting! 10 menit alam semesta ini pasti penting! (Anak SMA di 70 tahun ke depan mungkin harus mempelajari ini untuk masuk kuliah)

Kabar baiknya adalah… Hukum fisika berjalan dengan sempurna sejak 10 menit tersebut, dan belum ada satupun saat di mana alam semesta berfungsi tanpa adanya hukum fisika. Kita juga mengetahui bahwa sampai 10 menit pertama tersebut, hukum fisika belum berlaku.

Seperti percakapan yang ada di Avengers: End Game.

  • Thanos: I’ll destroy this universe, and create a new one with the stones
  • Captain America: A Universe… Born out of blood?
  • Thanos: They’ll never know it. Because you won’t be around to tell them!

Mengingat bahwa kita tidak mengetahui 10 menit pertama alam semesta kita, ada kemungkinan bahwa Thanos menciptakannya… (Or you know, the big bang theory is right…)

Antimatter.

10 menit pertama dilewati tanpa adanya jawaban (Aku mendukung teori Thanos!), kita masuk ke fase di mana alam semesta masih bayi… Ketika belum ada apa-apa yang tercipta sepertinya.

Sebagai geek (parah) aku punya hobi menonton film science fiction tentunya. Ada beberapa film science fiction yang membahas hal-hal seperti yang akan terjadi jika Azriel Muhammad bertemu Anti Azriel Muhammad.

Jenis personality-nya mungkin gak usah dibahas karena kayanya itu tidak diperlukan untuk artikel kali ini, tetapi semua film science fiction itu salah karena kalau aku bertemu dengan anti diriku sendiri, dan kita bersentuhan, kita berdua akan hilang, hanya menyisakan seberkas cahaya. Seperti yang DR. Reinard jelaskan, ada film di Netflix (aku tidak tahu apa itu Netflix Originals atau bukan) berjudul Angels and Demons dan film tersebut ada bagian yang memasukkan Bomb dari Anti Materi.

Fisikanya secara kasar dan agak tidak ilmiah seperti itu. Anti Materi bertemu materi, maka akan saling menghilangkan, meninggalkan cahaya, dan energi.

Mengingat bahwa di dunia nyata ada materi yang sangat banyak! Kalau ada anti materi terlalu banyak, hasilnya akan Boom-Boom dan kita tidak akan mampu melihat banyak hal. Kita sudah off-topic agak terlalu jauh, jadi mari kembali ke jalan yang benar…

Kalau Anti materi bertemu materi menciptakan energi dan cahaya, ini berarti bahwa energi yang ada di alam semesta kita berhubungan dengan reaksi antimateri tersebut.

Hal yang agak konyol dari reaksi materi dan anti materi ini adalah, logikanya, alam semesta tercipta dengan jumlah materi dan anti materi yang sama bukan? Kenapa masih ada materi yang tersisa kalau reaksi akan anti materi dan materi berperan dalam penciptaan alam semesta menjadi bentuknya sekarang? Ke mana perginya materi tersebut?

Sayangnya, kita mungkin tidak pernah tahu.

Paritas.

Bagi yang sudah bingung. Kusarankan pergi sekarang. Scroll ke bagian kesimpulan saja. Pertanyaan Why is There Stuff sudah kurang lebih terjawab di bagian antimateri dan materi. Ini hanya intermezzo yang terlalu menarik untuk dilewati dan tidak kutulis.

Bagian di sini agak membingungkan (dan seluruh artikel ini SUDAH membingungkan), dan kalau aku sedang bersemangat, harusnya paritas ini bisa jadi artikel lain, mungkin hanya 500-600 kata, tetapi aku lagi agak hemat, jadi paritas kubiarkan menjadi bagian sejumlah 200 kata di sini.

Energi dan medan bergerak ke satu arah di dunia nyata kan? Mereka bergerak ke arah sesuai berdasarkan posisi mereka. Medan yang menembus sebuah bidang secara vertikal pasti gerak searah jarum jam, medan yang menembus sebuah bidang secara horizontal bergerak melawan arah jarum jam.

Bahkan jika anda tidak memperhatikan guru fisika anda pas SMA, medan selalu berfungsi seperti itu, sampai ada istilah Right Hand Rule. Jempol anda menjadi penunjuk arah sebuah medan di sebuah gambar. Tidak usah pusing gerakkan tangan, percaya saja samaku.

Pernahkah anda bercermin? Mau cewek, mau cowo, mau seberapa gak peduli anda pada penampilan anda, pasti anda pernah bercermin.

Jika melihat sebuah cermin… Logikanya, medan tetap bergerak ke arah yang sama kan?

Nah, justru itu. Paritas di sini berhubungan dengan medan di dunia cermin. Energi di dunia cermin tidak bergerak dengan cara yang sama dengan energi di dunia nyata. Cerminan seseorang tidak mengalirkan energi atau menerima medan dengan cara yang sama dengan yang ada di dunia nyata! Sekarang anda tahu!

Kesimpulan.

Thanos created this universe. We just don’t know. Tony Stark didn’t actually finish Thanos’ Army… He died in the universe before this…

His blood is in our hands…

Hahaha, bercanda kok. Itu kan cuman fiksi *WINK WINK*

Unicorn! Menurut Bangsa Celtic.

Unicorn! Menurut Bangsa Celtic.

Unicorn. Nama itu pasti memberikan bayangan kuda-kuda berbulu putih menggemaskan dengan satu tanduk. Nama itu juga mungkin memberikan bayangan kuda dengan tanduk yang sering muncul di kaos anak-anak perempuan (dari usia 4-18, karena sepertinya anak-anak SMA masih menyukai Unicorn) dan juga stiker-stiker, beserta banyak merchandise lainnya.

Kabar baik dari Unicorn sebagai metode branding dan merchandising… mereka tidak bergantung sama sekali akan Trademark untuk membentuk merchandise. Tidak seperti Star Wars, Disney Princess, dan semacamnya lagi. Orang-orang bebas mendesain Unicorn seperti yang mereka mau. Bisa dibuat menggemaskan, mulia, bahkan agak gila (Serius, ada permainan bernama Unstable Unicorns, kusarankan mainkan dulu board game tersebut sebelum membaca tulisan ini).

Tetapi, bahkan untuk standard menyeramkan milik Unicorn, makhluk itu tidak akan pernah tampak sebagai makhluk yang… berbahaya.

Tentunya Kuda Nil (Fun Fact: Hippopotamus berasal dari bahasa Yunani Hippo (Kuda) dan Potamus yaitu Dewa Sungai, Kuda Nil juga berasal dari kata-kata tersebut, maksudnya Sungai Nil) tidak tampak sebagai makhluk menyeramkan tetapi jumlah kematian tahunan atas serangan hewan dipuncaki Kuda Nil selama belasan tahun.

Jadi… Sebelum anda ingin mendapatkan gambaran negative akan Unicorn, bermainlah Unstable Unicorns dulu selama (mungkin) 5-6 kali, baru baca tulisan ini. Aku bukan orang kejam yang ingin merusak gambaran indah makhluk imut ini, tetapi aku mungkin saja merusak gambaran indah dari makhluk ini.

Asal Usul Mitologi

Sebelum membahas secara unik mengenai Unicorn di Skotlandia dan menurut orang Celt, kita bahas dulu asal Unicorn di mitologi dunia.

Unicorn sendiri merupakan istilah Latin. Jika ada hubungannya dengan Latin berarti Unicorn berasal dari Romawi. Unicorn sendiri diciptakan oleh Julius Caesar, aku tidak perlu menjelaskan siapa dia… dan Caesar yang merupakan ilmuwan dan sejarawan yang pintar memutuskan untuk mencatat penemuannya akan sebuah badak di Afrika.

Penjelasan yang ia buat? “Bertanduk Satu, tampak seperti Kuda” Ia menamakan Badak ini  Unicorn, Latin untuk “Satu Tanduk”

Caesar memang salah satu orang terpintar di Romawi, baik secara ilmu filosofis atau ilmu empirikal seperti sains dan sejarah… Namun Caesar-pun belum pernah melihat Badak sebelumnya. Satu-satunya hal yang Caesar lihat mirip dari Badak adalah kakinya yang ada 4 dan kebiasaannya berlari. Dari situ, ia berasumsi bahwa Badak adalah Kuda dengan cula.

Maju bertahun-tahun dari era Romawi dan pindah dari penanggalan AUC, penanggalan Caesar, penambahan bulan Juli dan Agustus, lalu muncullah bangsa Celtic. Mereka juga mengadopsi Unicorn dengan cara mereka sendiri.

Tidak ada catatan sejarah resmi yang aku temukan di buku-buku mitologiku (aku punya banyak, percaya aja deh… 😀 ) namun, aku punya 3 teori asal orang Celtic mampu menemukan catatan akan Unicorn.

Satu, ada kebetulan bahwa mereka memang mempunyai legenda yang sama tentang Unicorn, namun karena kurangnya catatan serta kepopuleran dari mitologi Celtic, catatan yang diprioritaskan sejarawan berasal dari Romawi. Kedua, mereka menemukan atau bertemu dengan prajurit Romawi dan mendapat cerita tentang Unicorn. Ketiga, mereka melakukan pengamatan yang sama dengan yang Caesar lakukan.

Masalah dengan teori ketiga ada di fakta bahwa bangsa Celtic tidak memiliki catatan empirik pernah sampai ke Afrika. Untuk teori kedua, mereka memang bertemu dengan prajurit Romawi. Tetapi pertemuan yang tercatat pernah terjadi adalah pasukan yang dipimpin oleh Ratu Boudicca. Mengingat bahwa kota-kota mereka dan prajurit mereka kalah melawan kemampuan militer Romawi… Aku tidak begitu terkejut bahwa mereka mengadopsi mitologi Romawi secara gelap.

The Original Unicorn!

Unicorn sendiri dicatat sebagai makhluk yang dicintai bangsa Romawi. Tanduknya bias diparut dan bubuk dari tanduk unicorn bias menyembuhkan penyakit (katanya). Kedatangannya membawa keberuntungan baik, dan mereka sangat suka makan rumput yang masih terkena embun pagi.

Tetapi… Orang Celtic semacam memutar cerita itu.

Oh iya, tolong ketahui bahwa tidak ada kuda bersayap dan bertanduk di mitologi Romawi ataupun Yunani. Itu hanya ciptaan Pop Culture, menggabungkan Pegasus dan Unicorn.

Padahal itu tidak mungkin karena Pegasus adalah mitologi Yunani yang tidak diadopsi oleh orang Romawi (ceritanya panjang) dan Unicorn tidak ada di mitologiYunani.

Dari titik ini, apa yang anda putuskan untuk baca tidak bisa ditarik lagi. Jangan mau menyesal di kemudian hari.

Oke. Anda yakin?

Unicorn! New and Improved!

Orang Yunani dan Orang Romawi memiliki banyak cerita Kuda yang menyeramkan dan mengganggu.

Ada Kuda milik Ares yang mampu menyemburkan api, ada kuda yang dikendarai Helios dan Apollo untuk mengantarkan matahari, ada kuda yang ditangkap Hercules karena kuda tersebut menyukai daging manusia. Ada kuda yang merupakan anak dari Poseidon dan Demeter, ada kuda bersayap juga (Pegasus) yang merupakan anaknya Poseidon, dengan Medusa sebagai Ibunya, dan masih lebih banyak lagi kuda yang lahir karena Poseidon.

Tetapi, dari seluruh mitologi mengganggu dan jijik itu, Unicorn belum pernah sekalipun dijadikan bahan candaan atau bahan hinaan. Mereka selalu tampak sebagai makhluk bahagia, tanpa sedikitpun peduli tentang dunia nyata.

Catatan terpenting untuk orang Celt bagi Unicorn ada di cerita pahlawan terbesar mereka, yaitu Cu Chulainn. Cu Chulainn ini adalah seorang demigod yang dididik sebagai prajurit, tetapi punyamasalah amarah besar. Ketika marah, ia menjadiversi lain dirinya yang lebih kejam, dan beberapa cerita menyatakan bahwa ia menjadi monster.

Kasarnya, Cu Chulainn adalah campuran dari Hulk dan Hercules.

Pekerjaan yang Cu Chulainn lakukan cukup banyak, dan aku tidak perlu menjelaskan terlalu banyak, namun, salah satu pertarungan terberat Cu Chulainn adalah saat ia melawan seekor Unicorn.

Unicorn di mitologi Skotlandia/Irlandia/Celtic memiliki kemungkinan 1 banding 2 untuk menjadi Unicorn jahat. Ada banyak nama untuk itu, tetapi yang paling umum digunakan adalah Vector.

Vector ini sama seperti Unicorn, tetapi, mereka tidak menyukai rumput yang masih ada embun paginya. Mereka memilih untuk memakan mayat kucing (mereka tidak membunuh kucingnya dulu, tapi kalau kucingnya sudah mati, baru mereka makan) dan… Jantung Manusia.

Karena orang Celtic termasuk orang zaman dahulu yang agak gila, mereka YAKIN 100% bahwa tanduk Unicorn digunakan sebagai senjata. Umumnya, sama seperti seseorang menggunakan tombak, Unicorn Jahat (alias Vector) menggunakan tanduknya untuk menusuk jantung, lalu memakannya seperti kita memakan Sate Ayam.

Oke, itu agak kebangetan, tapi, anda mengerti maksudku apa.

Selain itu, sebagai Unicorn, tanpa masalah kepribadian Vector juga, mempunyai air liur yang menciptakan efek hipnosis. Mereka tidak menggunakan ini untuk menyerang karena makanan yang mereka sukai juga sebenarnya tidak perlu diburu, tetapi mereka menggunakan ini untuk kabur.

Namun jika Unicorn itu mulai schizophrenic, baru ia akan menggunakan air liur miliknya sebagai senjata dan alat untuk berburu.

Kesimpulan.

Sesudah hari ini, apakah anda masih ingin membelikan anak perempuan anda, atau keponakan perempuan anda sebuah kaos bergambar Unicorn? MUHAHAHAHAHAH

(P.S. Jika anda merasa tidak nyaman dengan mengetahui ini, bagilah tulisan ini keteman-teman anda. Seenggaknya anda tidak sendirian…)

 

 

What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

Pada tulisan ketiga tentang kuliah umum di ITB, aku menemukan 3 hal baru.

  1. Aku akan memberikan angka di judul tulisannya.
  2. Aku menemukan bahwa materi terakhir di siklus pertama (yang aku lewatkan dua pertemuan awalnya) pernah kupelajari dari sudut pandang filsafat selama 12 pertemuan.
  3. Aku baru mengetahui bahwa orang yang terbiasa mempelajari hal secara empirik, akan kebingungan jika bertemu dengan subyek yang butuh banyak sekali khayalan, tetapi tidak sebaliknya.

Pemateri kita kali ini berasal dari Jakarta, DR. Agnes, seorang Doktor di bidang Psikologi.

Kesadaran Filosofis.

Sekali lagi. Kuliah Sains kali ini telah mengambil subjek yang sangat abstrak dan mengubahnya menjadi subyek yang empirik. Jika sebelumnya Prof. Djoko dapat menjawab pertanyaan filosofis “What Makes Us Human?” dengan sangat efisien menggunakan ilmu empirik, DR. Agnes bertemu dengan pertanyaan yang lebih sulit dijawab secara empirik, karena bahkan secara filosofis jawabannya tidak ada.

Selama 2 millennia, bahkan sebelum kalendar milik Caesar diresmikan dan digunakan 2019 tahun yang lalu, pertanyaan yang sama telah ditanyakan oleh Plato, Aristotle, dan nama-nama Yunani lainnya.

Pada abad-abad 15, 16, 17 ada Benedictus Spinoza, Thomas Aquinas, dan banyak filsuf berbasis Gereja Katolik lainnya memperdebatkan hal tersebut. Oh, juga ada Descartes, jangan lupakan dia.

Pada akhir hari, jawabannya bahkan belum tampak akan muncul.

Kabar baiknya, kita bisa menjawab pertanyaan mengenai kesadaran secara empirik lebih mudah daripada secara filosofis. Sejujurnya, ini adalah momen-momen di mana aku setengah menyesal memutuskan untuk belajar filsafat karena terlanjur berpikir rumit bin ribet bin ajaib tetapi tidak melihat secara faktual terlebih dahulu.

  1. Agnes menjelaskan kesadaran sebagai bagian dari proses otak. Memang iya, penjelasannya tidak seefisien dan praktis kuliah pada minggu sebelumnya. Tetapi, mengingat bahwa sudah ada filsuf yang memperdebatkan ini selama 3000 tahun, aku rasa ini jawaban yang sempurna dan sederhana.

Namun melihat kanan dan kiri ke sesama peserta kuliah, aku menebak bahwa mereka tidak bisa menerima jawaban yang agak kurang empirik semudah aku.

Tapi ya, itu hanya firasat, aku tidak punya bukti empirik.

Respon, Memori, Kesadaran.

Kesadaran adalah sebuah “hub” yang menerima dan terdiri dari bagian-bagian sebuah proses yang berjalan di otak kita. Kesadaran terpisah dari Wakefulness (berapa persen dari proses di otak orang tersebut berjalan) serta Awareness (seberapa sadar orang tersebut akan sesuatu)

Dari sini, yang menentukan Awareness dan Wakefulness ada di Respon seseorang.

Respon menentukan seberapa aware seseorang akan suatu kejadian. Jika orang tersebut tidak merespon, berarti mereka tidak awas akan kejadian itu terjadi. Pesan sponsor: Jika anda ingin meminta tolong tentang sesuatu, pastikan orang yang anda minta tolong itu menjawab “IYA” atau “Sebentar” atau semacamnya. Berarti mereka memang benar-benar sadar.

Respon tumbuh menjadi pengalaman yang terdiri dari ingatan dan sensasi akan suatu kejadian.

Dari hal yang masih cukup empirikal ini, baru kita mulai mengkhayal. Aku tidak lihat kanan kiri tetapi aku sendiri yang sudah biasa mengkhayal kebingungan.

Statement yang memulai proses mengkhayal ini adalah “Pengalaman Subjektif, berbeda dengan proses fisikal.” Contoh pengalaman subjektif. ‘Kuliah hari ini menarik.’, ‘Aku tidak bisa belajar jika aku tidak menggunakan bantal leher’, ‘Aku tidak suka gudeg yang dibeli di jalan Mangga.’… Contoh proses fisikal. ‘Ketika aku kuliah, aku duduk di kursi berwarna merah.’ ‘Aku belajar dari pukul 12.00 siang.’, ‘Gudeg yang dibeli di jalan Mangga rasanya manis.’

Mungkin membedakannya bukan hal yang mudah, tetapi keduanya adalah hal yang memang berbeda. Agar tidak bingung, coba pikirkan dalam sudut pandang bahwa salah satu menggunakan opini, sedangkan yang lain membutuhkan fakta.

Kesadaran kita menganggap pengalaman subjektif dan proses fisikal sebagai dua hal berbeda.

British Detective.

Sebelum masuk ke bagian yang agak berbau Sherlock Holmes (terutama dalam membaca dan mengatur kesadaran…) ada sebuah iklan yang menarik.

Iklan ini menceritakan ada seorang pemilik rumah yang terbunuh, dan rumahnya sedang diinvestigasi seorang detektif, jelas dari Inggris sesudah mendengar logat. 3 orang menjadi tersangka dan masing-masing ditanyakan sebuah pertanyaan.

Dari proses menanyakan pertanyaan hingga pertanyaan tersebut dijawab oleh 3 tersangka (koki, maid, dan butler) ada lebih dari 20 hal yang berubah di adegan. Namun, adegan tersebut baru ditunjukkan berubah pada akhir video.

Aku sukses menyadari 7 dari 29 (kalau tidak salah ada 29) jadi… hore?

Oh iya, iklan ini adalah iklan layanan masyarakat dari London ya… Untuk meminta pengemudi mobil lebih berhati-hati dan lebih awas akan orang-orang yang menaiki sepeda.

Sekilas iklan ini mirip dengan eksperimen di mana peserta eksperimen diminta mengingat warna titik di tengah layar, dan catat berapa kali titik tersebut berubah warna, serta menjadi warna apa saja. Ketika ditanyakan, mayoritas orang dapat menjawab perubahan warna dengan benar, jumlahnya juga benar, tetapi mereka tidak menyadari bahwa ada gorilla yang muncul di video yang sama, dan gorilla tersebut muncul selama 10 detik.

Justru orang-orang yang menyadari adanya gorilla tersebut (minoritas orang) adalah orang-orang yang tidak menjawab perubahan warna dengan benar.

Intinya, “We don’t notice things that we are not looking for.”

Sistem Kesadaran.

Pada akhir hari… Sedikit konyol bahwa kita memiliki setidaknya 5 indra, namun kita tidak bisa memanfaatkan indra tersebut dengan maksimal.

  1. Agnes memberikan sebuah gambar yang menjelaskan secara imajinatif-empirik (gabungan keduanya, tetapi tidak lengkap jika tidak ada keduanya) bagaimana cara kita memproses sesuatu.

Gambaran tersebut agak begitu rumit untuk diingat, serta digambarkan ulang di sini, tetapi pesan utamanya adalah… “Kesadaran kita ada batasnya.”

Jika kesadaran kita adalah sebuah workspace, maka tiap indra, syaraf, dan perasa yang berfungsi adalah alat berbeda, untuk memproses hal-hal secara berbeda.

Sama seperti di dunia nyata, tidak ada manusia yang bisa menggunakan lebih dari satu alat secara bersamaan tanpa mengurangi efektivitas pekerjaan tersebut.

Ini kembali ke pesan Holmesian yang ada di tulisanku tentang berpikir seperti Sherlock… Kita harus secara sadar memerintah otak kita untuk mengerjakan suatu tugas jika ingin mengerjakannya dengan perhatian yang penuh.

Ada penjelasannya secara Neurobiologis ternyata. Jika otak kita menerima sebuah sensasi atau impuls, (terutama sensasi atau impuls yang minor) kita harus secara sadar memerintahkan impuls tersebut untuk mendorongnya ke ujung otak dan menerima informasinya secara utuh.

Jika impuls tersebut tidak didorong dan tidak diproses oleh semua alat yang ada di workspace kita, maka impuls tersebut tidak dibaca, seolah-olah tidak pernah terjadi.

Kesimpulan

Kesimpulan tulisan ini adalah… Berpikir seperti Sherlock?

Tidak juga sih. Pada akhir presentasi (yang sayangnya sedikit tergesa-gesa karena kurang waktu) DR. Agnes memberikan sebuah pernyataan bahwa individualitas dan identitas adalah bagian dari kesadaran tersebut.

Orang yang benar-benar sadar akan dirinya memiliki identitas yang sudah utuh. Jadi, jika anda masih melakukan plagiat, copy-paste, nyolong trend, dan semacamnya, anda belum sadar atau kenal akan diri anda sendiri…

Post Script.

Jika anda bertanya padaku apa bagian yang paling menyenangkan pada kuliah hari ini. Aku harus jujur, itu ada di muka-muka Kakak-kakak mahasiswa yang juga ikut kuliah umum. Sesudah terbiasa belajar empirik selama mereka sekolah, aku punya firasat mereka sedikit kebingungan ketika bertemu dengan informasi yang ada khayalan seperti ini.

Pak Hendra, penyelenggara/pencetus kuliah umum Sains ini khusus memberikan pernyataan jika masih ada yang kebingungan, itu karena ilmu mengenai kesadaran ini sendiri juga masih belum benar-benar jelas dan belum cukup empirik untuk bisa dimengerti secara faktual.

Toh, kesadaran merupakan sebuah pertanyaan…

Post Post Script.

Aku ada satu tulisan lagi tentang kuliah umum, dua minggu yang lalu, tanggal 15 Oktober. Tapi err, ada permintaan dari Prof. Hendra untuk tunda pengeluaran tulisan tersebut. Jadi, aku akan mengeluarkan tulisan kuliah tanggal 22 Oktober (mungkin hari Senin atau Selasa) sebelum tulisan tanggal 15.