Category: Homeschooling

Nonlinearitas.

Nonlinearitas.

Aku sudah mencoba 2 ejaan berbeda. Nonlinieritas, dan nonlinearitas, namun sayangnya tidak ada yang masuk di KBBI, karena istilah ilmiah ini bukan hal yang “resmi” seperti Gravitasi, Atom, dan semacamnya. Jadi, aku akan gunakan huruf A untuk mengisi katanya ya.

Nonlinearitas adalah sebuah konsep yang dijelaskan oleh Nassim Nicholas Taleb. Kembali pada konsep statistika yang Taleb sering tuliskan.

Karena ada sedikit isu pengaturan jadwal menulis (dan fakta bahwa aku belum menulis apa-apa minggu ini), tulisan hari ini tidak akan begitu panjang, hanya sedikit di atas 1000 kata, tetapi masih bisa dinikmati seperti biasa.

Batu Milik Raja

Ceritanya seperti ini. Ada seorang Raja di daerah Babilonia yang harus menghukum anaknya karena ia melanggar hukum. Ia menyatakan pada warganya bahwa hukuman tetap harus sama dengan warga biasa, bahwa ia akan ditimpa satu batu raksasa karena telah melanggar hukum tersebut.

Hukum apa? Jangan tanya aku. Kenapa hukumannya itu? Jangan tanya aku juga.

Pada hari penghukuman, ternyata si anak raja tidak bersalah, atau Raja tersebut merubah pikirannya, tergantung versi. Jadi, ia bertanya pada penasehatnya, apa yang bisa ia lakukan tanpa kehilangan muka di depan rakyatnya karena ia plin-plan.

Penasehat tersebut memberikan ide untuk membelah batu tersebut menjadi 1000 bagian berbeda. Jadi jika batu tersebut seberat 1 ton secara utuh, ia akan ditimpa 1000 batu seberat 1 kilogram. Menyakitkan? Iya. Membunuh? Tidak.

Di sinilah dijelaskan nonlinearitas. Batu yang sama hanya akan memberikan efek fatal jika diberikan secara utuh. Dipecah menjadi 1000 bagian yang sama, tetapi terpisah, efek fatal tersebut hilang.

Di sinilah masuk nonlinearitas. Banyak benda dinilai tidak secara linear, dan nilainya akan drop (atau justru naik) ketika ia terpecah belah. Sayangnya menilai barang di pasar dengan cara ditimbang tidak seperti menilai suatu benda di perekonomian nyata.

Semangka yang secara utuh beratnya 1 kilogram seharga 10.000 rupiah, dan jika dipotong 200 gram masing-masing, harganya masih tetap 10.000 per kilogram, dengan tambahan sekitar 500 perak untuk ongkos potong.

Cukup tentang ekonomi tetapi, aku bukan orang yang bisa menjelaskan ini dengan jelas dan tepat, aku ingin membahas nonlinearitas untuk kehidupan sehari-hari, dan tidak satupun berkaitan dengan menghabiskan uang.

Olahraga, Diet, dan Puasa

Ketiga hal ini menjadi hal yang unik untuk dibahas di tulisan hari ini, karena ketiganya sangat nonlinear tanpa membahas satuan harga atau energi. Cukup dengan waktu saja kita bisa membahasnya.

Olahraga

Dua orang yang tinggal di rumah bersebelahan diberikan deadline untuk sampai ke kantor yang sama dengan cara jalan kaki. Jarak ke kantor hanya 2 kilometer kok. Mereka harus sampai pukul 8.00 pagi.

Orang pertama berjalan kaki dari pukul 7.30 dan sampai tepat waktu. Orang kedua, pada sisi lain, bersantai di rumah, dan lari dari rumah pukul 7.50, lalu sampai tepat waktu juga.

Energi yang dihabiskan jelas berbeda kan? Orang yang lari, meski hanya berlari 10 menit untuk menempuh 2 kilometer jelas menghabiskan energi lebih banyak daripada orang yang berjalan selama 30 menit untuk menempuh 2 kilometer yang sama.

Ini alasan pertama adanya nonlinearitas. Energi dan olahraga tidak dinilai secara linear. Kita berlari selama 1 jam dengan kecepatan 5 kilometer per jam, tetap akan menghabiskan energi lebih banyak daripada berjalan selama 5 jam dengan kecepatan 1 kilometer per jam.

Tidak ada rumus, grafik, atau ogive yang bisa dibentuk untuk menilai penggunaan energi, semua orang harus menilai energi mereka sendiri, dan menghabiskannya sepantasnya.

Puasa

Masih dalam topik kesehatan, aku mau masuk ke puasa.

Mana yang lebih efektif sebenarnya. Puasa senin-kamis dalam setahun, tetapi tidak berpuasa selama satu bulan pada bulan Ramadhan (walau aku yakin tidak ada orang yang melakukan ini, dan tolong jangan pikir dari sudut pandang agama saja, tapi justru dari sudut pandang medis dan kesehatan) atau justru puasa Ramadhan saja, tanpa puasa senin-kamis? (seperti kebanyakan orang)

Ini hal yang tidak bisa dinilai secara linear. Orang yang hanya berpuasa Senin-Kamis akan berpuasa selama 102 hari secara konsisten tiap tahunnya, tetapi dibagi rata, satu bulan berpuasa 8-10 hari. Orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan saja, berpuasa secara utuh selama 30 hari berturut-turut, mengistirahatkan tubuh penuh selama bulan tersebut.

Kalau kita adalah sebuah mobil, anggap saja dalam satu tahun, ada satu bulan di mana mobil A tidak dinyalakan, selama mobil B hanya dinyalakan 5 hari dalam seminggu. Istirahat satu bulan penuh lebih berharga daripada istirahat 2 hari tiap minggunya.

Setidaknya dalam pandanganku. Silahkan berdebat kembali mengenai ini, tetapi ambil sudut pandang ilmiahnya tentunya.

Diet

Diantara ketiga konsep di atas, Diet ini menjadi yang paling membingungkan.

Sebelum masuk, aku sudah membaca setidaknya tiga buku tentang psikologi, dan statistika yang menyatakan bahwa diet hanya sukses untuk 1 dari 10 orang, tetapi aku belum sekalipun membaca buku tentang kesehatan yang menjelaskan tentang dietnya sendiri.

Kalau anda bertanya kenapa aku Kekeuh tetap mau menulis tentang diet… Buku kesehatan (misal) membahas tentang manfaat dan kegunaan dari dietnya sedangkan buku statistika dan psikologi membahas keinginan dan kemampuan kita untuk melakukan diet tersebut. Berbeda dengan manfaat, ia menjelaskan cara orang dapat mengumpulkan dorongan psikologis untuk melakukan diet tersebut. Jadi, iya, walau aku tidak tahu tentang manfaat sebuah diet, aku tahu secara kasar usaha yang dibutuhkan untuk melakukan diet, dan terkadang, tahu alasan usahanya muncul lebih penting kebanding manfaatnya.

Jadi, dengan asumsi bahwa diet tidak bisa berjalan untuk 9 orang yang melaksanakannya, mari kita bahas dietnya sendiri.

Diet sendiri bergantung pada orang untuk menentukan apa yang ia makan dan tidak makan bukan, beserta menghitung kalori yang ia dapatkan dari makanan yang ia konsumsi.

Masalah terbesar dari diet dari sudut pandang statistika ada di penggunaan kalori.

Mayoritas diet meminta orang-orang untuk mengonsumsi maksimal sejumlah kalori, dan kalori tersebut tidak boleh didapatkan dari jenis makanan misalnya, telur, tepung, daging, dan seterusnya.

Tetapi, diet ini begitu abu-abu dalam meminta makanannya dikonsumsi sehingga kalori yang perlu dinilai secara nonlinear, dilihat secara linear.

Misalnya seseorang dibatasi ke konsumsi 100 kalori untuk sarapan. Ia memutuskan, daripada ia mengkonsumsi 100 kalori dari 2 roti gandum yang rasanya gak enak, ia akan mengkonsumsi 3 Beng-Beng yang masing-masing berisi 25 kalori. Ia hanya mengkonsumsi 75 kalori, lebih sedikit dari roti gandum, dan rasanya enak…

Namun, jika kita melihat kalori secara linear, alias murni dengan angka, kita akan melewatkan fakta bahwa kalori yang didapat dari roti gandum adalah kalori yang sehat. Sedangkan, kalori dari Beng-Beng, tidak sehat. Jadi, dari sini datanglah masalah ke satuan kalori sendiri untuk makanan.

Kalau diet hanya membatasi kalori beserta jenis makanan untuk menerima kalori tersebut, kita tidak akan bisa melihatnya secara nonlinear, kita akan selalu melihatnya berdasarkan angka saja, sedangkan sama seperti kasus di awal, 1000 batu seberat 1 kilogram tidak memiliki efek yang sama dengan 1 batu seberat 1000 kilogram.

Jadi, diet tidak bisa bekerja dengan baik karena energi dihitung berdasarkan satuan linear. Sementara, kalori sendiri pertama-tama digunakan untuk menghitung energi di sebuah mesin, seperti pemanas, pendingin, dan semacamnya. Jadi… Sistem kalori tidak bekerja?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kembali lagi ke seri Kuliah Umum di ITB. Topik di tulisan hari ini membahas tentang manusia. Ada kabar baik dan buruk yang perlu diberikan sebelum membaca dan masuk ke artikel ini.

Kabar baiknya, siklus satu sudah habis! Ini adalah materi kedua dari terakhir, dan aku masih punya hutang tulisan karena aku sakit minggu lalu, dan tidak sempat menulis. Kabar buruknya, ini berarti aku tertinggal satu minggu, karena ada materi yang menjelaskan tentang kesadaran, yang diberikan hari selasa kemarin, tanggal 1 Oktober.

Kabar baik lainnya karena minggu depan kuliah umum Sains di ITB sedang istirahat… aku bisa mengejar tulisan tersebut tanpa ada tambahan tunggakan.

Sekarang, masuk ke topik, selamat menikmati.

Filosofis? Biologis?

Aku sempat kebingungan dan memberikan ekspektasi yang salah pada kuliah kali ini. Jangan anggap aku meremehkan, justru kuliah kali ini mengalahkan ekspektasi dengan jauh. Hanya saja dari sudut berbeda.

Sesudah kuliah umum sekitar 20 kali tentang Filsafat, dan sesudah membaca banyak mitologi dan sedikit sastra dari seluruh dunia dan banyak era, pertanyaan ini sering kupikirkan, tetapi tidak sekalipun aku tanyakan dari sudut pandang biologi.

Ternyata, aku berpikir terlalu kompleks. Ketika aku membandingkan manusia dengan hewan dari sudut pandang filosofis, dan yang tidak empirik sama sekali, aku akan mencari cara untuk menjelaskan alasan kita menyukai seni, kita menyukai sains, kita percaya pada pemimpin, kenapa ada agama, dan blablabla yang sangat panjang.

Jawaban yang diberikan Prof. Djoko dari SITH (calon dosen pas nanti kuliah berarti… Amin) tidak lebih kompleks dari kromosom dan kode genetika. Pelajaran SMA. Jadi untuk pertama kalinya, aku memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjelaskan tentang sains di blog ini!

Mengabaikan lelucon, aku yakin 100% aku berpikir terlalu jauh ketika aku ingin menanyakan pertanyaan, apa yang membuat kita manusia? Prof. Djoko tidak menjelaskan dengan rumit. Ia hanya menjelaskan bahwa 98% dari kode genetika manusia sama dengan simpanse, dan kode genetika kita juga sama dengan 40-60% dari lalat.

Lalu, kenapa 2% dari kode genetika tersebut menjadi pembeda yang signifikan? Kenapa kita pintar, bisa bicara, bisa menulis tulisan seperti ini, bisa menghitung dan mengkhayal, sementara simpanse tidak?

Oke, memang betul, Enzim penyusun simpanse berbeda jauh dengan manusia, tetapi kalau kita membandingkan makhluk yang enzim penyusunnya paling mirip dengan manusia, kita akan memandang diri kita lebih rendah lagi. (Makhluk dengan enzim penyusun paling mirip dengan manusia, mencapai 92% kesamaannya adalah… Babi.)

Untuk orang yang bingung, kita anggap saja bahwa enzim penyusun adalah bahan bangunan, sementara kode genetika adalah struktur yang dibangun.

Simpanse merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan kayu, Manusia merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan batu, sementara Babi merupakan rumah berbentuk bulat yang dibuat dengan batu. Bahan penyusun sama, dibentuk secara berbeda dalam kasus Babi, bahan penyusun beda, dirancang secara sama dalam kasus simpanse.

Jadi, sekedar 2% dari kode genetika dan 8% dari enzim penyusun yang membentuk manusia menjadi faktor yang sangat penting. Kenapa kita pintar, sedangkan simpanse dan babi tidak sepintar kita? (oke, sejujurnya kalau membaca komentar orang di situs-situs di Internet, aku khawatir simpanse lebih pintar dari kita, tapi anda mengerti maksudku)

Rahang, Otak, dan Telinga.

2% kode genetika tersebut lebih dari cukup untuk mengubah bentuk rahang, telinga, dan punggung. Hanya sekedar dua persen saja membuat kita pintar, karena dua persen tersebut adalah dua persen yang mengubah hal-hal yang tepat.

Rahang kita masuk lebih dalam, telinga kita dapat mengatur keseimbangan, dan punggung kita tegak.

Kubahas satu-satu.

Rahang

Ukuran rahang yang semakin dalam memberikan kepala yang ukurannya umum sama dengan primate lainnya, untuk memberikan tengkorak yang lebih besar. Tengkorak yang lebih besar, berarti ukuran otak yang bisa disimpan dalam tengkorak tersebut, lebih besar juga.

Tanpa kehilangan fungsi penting dari rahang untuk mengunyah daging serta sayuran, kita memiliki otak yang cukup besar untuk memproses informasi yang kompleks.

Dengan kehilangan gigi tonggos dan rahang maju, kita telah membuat diri kita sebagai manusia yang lebih intelijen

*OUT OF TOPIC: Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika manusia diberikan waktu untuk evolusi lebih lanjut, mungkin kita akan seperti professor X tetapi tidak punya mulut, dan mendapat nutrisi dari sumber lain, karena kepala kita terlalu besar untuk menyisakan tempat untuk mulut.

Telinga

Telinga kita berevolusi agar kita punya keseimbangan ketika kita berjalan. Ya. Telinga kita memiliki saluran untuk menjaga keseimbangan di seluruh tubuh.

Bagi orang-orang yang suka bermain game, atau tahu tentang senjata perang, ini alasan Flashbang mampu membuat seseorang bingung parah. Suaranya cukup untuk mengganggu saluran keseimbangan di telinga, dan membuat mereka jatuh sampai saluran tersebut kembali normal.

Ini subjek sensitif bagiku. Kenapa? Aku punya sedikit masalah keseimbangan. Maksudku, aku tidak bisa naik sepeda, aku punya masalah jalan di blok kayu tanpa terjatuh, dan isu kognitif lainnya.

Jadi, ketika aku mendengar bahwa saluran keseimbangan adalah salah satu alasan kita bisa menjadi lebih pintar, aku mengerti jelas kenapa diriku yang kecil punya isu dalam bergerak, dan tidak suka bermain seperti anak-anak lainnya yang tidak diberikan Gadget atau Televisi.

Kembali ke topik lagi. Kita butuh saluran keseimbangan ini untuk turun dari pohon dan tidak lagi perlu tinggal di pohon, dan pindah ke gua, lalu ke rumah. Ketika mulai berburu, kita bisa meninggalkan jejak dan berinteraksi lebih lanjut, dan kita menjadi manusia yang lebih pintar.

Punggung

Sesudah telinga kita mendapat update untuk menjaga keseimbangan. Tulang punggung kita beradaptasi agar tubuh kita lebih kaku, tetapi juga tambah kuat.

Kita memang tidak selentur simpanse, tetapi karena kita mulai bisa berjalan tegak, kelenturan itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga kita menjadi lebih kaku, lebih kuat, dan lebih terstruktur.

Stamina kita bertambah, dan kekuatan kita bertambah, karena sekarang, kita punya tubuh yang mampu menahan keseimbangan ketika berjalan dengan tegak, tidak seperti Gorilla, atau Simpanse lagi. Dari sudut pandang fisik murni, tanpa latihan atau semacamnya, manusia sebagai spesies harusnya lebih kuat dari Gorilla dalam kasus berdiri atau bergerak.

Bagaimana kalau berantem? Kamu mau coba sendiri? Silahkan, tetapi aku tidak mau tanggung jawab.

Sebelum mengakhiri dengan beberapa statement di bagian selanjutnya ada klarifikasi terlebih dahulu tentang enzim penyusun, Enzim penyusun irelevan kalau kita membahas intelegensia, karena hal-hal yang diatur enzim adalah hal yang semua makhluk hidup harus miliki, seperti kemampuan bernafas, bergerak, makan, pipis, dan pup.

Perbedaan Etnis

Kalau kita membandingkan perbedaan antara spesies lain, setidaknya kita akan menemukan 2% bukan? Kerabat terdekat Homo sapiens yang sudah pintar seperti kita adalah simpanse, tetapi, berapa banyak perbedaan antara dua ras Homo sapiens?

Perbedaan tersebut hanya mencapai 0.02%. Sebuah perbedaan yang tidak dilihat oleh anak kecil, dan baru dilihat ketika sudah mencapai usia remaja.

Pesan untuk guru-guru TK dan SD: Jika anak-anak memilih-milih teman, tolong salahkan orangtua mereka. Secara genetik DAN evolusioner, mereka tidak mungkin memilih-milih teman.

Lalu kenapa angka intoleransi meningkat secara drastis?

Prof. Djoko menggunakan kata yang ia berikan disclaimer sebagai kata yang “kasar” yaitu cuci otak.

Prof. Djoko bukan ahli dalam bidang perbedaan budaya, itu diluar ranah biologi miliknya, namun ia yakin bahwa jika ada perbedaan etnis, atau ras, manusia tidak akan melihatnya kecuali ada yang menunjukkan hal tersebut. Ia tahu bahwa manusia melihat perbedaan secara budaya, bukan secara etnis.

Mulai dari paragraf ini, kata-kata di sini aku tambahkan sendiri ya, tidak ada kata dari Prof. Djoko atau Pak Hendra sebagai koordinator kuliah umum Sains ini. Aku menanggung semua kata-kata sesudah paragraf ini. (Oh iya, mengenai struktur enzim yang mirip dengan babi juga aku mengambil tanggung jawab penuh, itu atas riset sendiri)

Ini mungkin alasan partai-partai konservatif biasanya tidak menggunakan perbedaan etnis atau ras sebagai alasan utama mereka menciptakan “Boogeyman”, tetapi mereka menggunakannya sebagai pembeda, dan akhirnya turun dari pembeda tersebut stereotipe berdasarkan ras. Sama seperti yang Trump lakukan dengan Meksiko.

Contoh saja ya. Trump menyatakan bahwa imigran Meksiko merupakan kriminal dan berbahaya bagi negara Amerika. Ini merupakan tuduhan budaya, bukan tuduhan ras. Trump lalu menyatakan bahwa ia harus melindungi Amerika dari isu ini. Ini juga merupakan tuduhan budaya. Pendukungnya menyimpulkan bahwa orang-orang meksiko merupakan orang kriminal. Dari tuduhan budaya tersebut, muncullah tuduhan ras, sesudah ada kesadaran akan perbedaan budaya.

Permainan ini merupakan hal yang pintar, dan licik, karena orang yang memercik api pertama tidak berusaha untuk menyalahkan ras, tetapi menyalahkan tindakan yang dilakukan, dan menggantungkan penyalahan ras-nya oleh pendukung atau penerima informasi.

Jadi, apa pendapat anda tentang ini? Selamat merenung dan berpikir…

Tyrant’s Tomb by Rick Riordan. Rekap dengan Spoiler

Tyrant’s Tomb by Rick Riordan. Rekap dengan Spoiler

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Jadi anda datang ke sini ya. HAHAHA!

Ingat ini versi dengan spoiler, dan tulisannya hanya sedikit sama dengan versi bebas spoiler karena aku bisa mereferensikan kejadian tanpa khawatir merusak pengalaman membacamu.

Baca dengan peringatan bahwa ini mengandung sangat banyak spoiler.

HAPPY ENDING

Aku melakukan kesalahan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk ending tragis sekali lagi, padahal di Percy Jackson, dan di Heroes of Olympus, Riordan selalu membuat buku ketiga buku yang paling tragis, dan buku keempat dengan ending yang happy, tetapi masih menggantung.

Hore! CALIGULA MATI! RASAIN! Commodus juga, tapi… yeah…

Lubang-Lubang Cerita?

Riordan meminta 6 bulan untuk menutupi lubang yang ia ciptakan.

Frank Zhang membakar kayu yang katanya mengikat hidupnya. Kayu itu habis terbakar, hidupnya juga habis, dan ia akan terbakar juga.

Reyna yang katanya tidak akan pernah sembuh hatinya, menjadi sembuh, dan mengikuti Hunters of Artemis.

Rick Riordan melakukan hal yang sangat nekat dengan menggali satu lubang besar di Tyrant’s Tomb. Untungnya, lubang ini adalah lubang yang positif. Ini sebuah lubang yang Riordan khusus ciptakan untuk menghapus fakta bahwa ramalan dan takdir bisa ditulis ulang.

Selama 13 buku lainnya yang Riordan tulis. 19 jika menghitung Magnus Chase dan Kane Chronicles… Riordan memastikan hanya ada satu hal yang pasti, ramalan dan takdir tidak bisa ditulis ulang.

Frank Zhang

Frank menerima ramalan bahwa ia akan meninggal begitu sepotong kayu dari perapian rumah keluarganya (yang ia ambil tentunya) terbakar. Namun, ia membakar kayu tersebut dan mengakhiri habis ramalan bahwa ia akan terbakar bersama kayu tersebut, ketika akhirnya, Frank masih hidup.

Pada akhirnya, aku harus membayarkan Oreo ke temanku karena kita sudah bertaruh bahwa Frank akan mati, ternyata ia masih hidup.

Ya sudah. Sejujurnya Frank merupakan salah satu karakter kesukaanku di Riordanverse jadi kalau aku perlu membayar 3 buah Oreo tetapi ia masih hidup, aku rasa itu harga yang patut.

Tips: Ketika ingin bertaruh seorang karakter akan mati, pilih karakter favorit anda. Jika dia tidak mati, anggap saja itu kompensasi kehidupan karakter tersebut, jika dia mati, anggap saja itu kompensasi kesedihan untuk kematian karakter tersebut. Itu win-win.

Riordan melakukan hal yang nekat dengan ini, karena ini memberikan sebuah kemungkinan untuk penulisan ulang ramalan, hal yang seharusnya tidak mungkin di mitologi secara umum. Kurasa ini hal yang bagus sih, semakin sering membaca buku Rick Riordan, semakin sadar aku bahwa banyak karakter yang hidupnya bergantung pada ramalan yang diutarakan beberapa buku sebelumnya, dan itu menjadi hal menyebalkan kadang.

Aku sempat berpikir bahwa Frank akan benar-benar mati ketika ia sudah membakar dirinya dan Caligula di Caldecott Tunnel. Aku tahu bahwa Riordan sudah serius ketika ia membunuh Jason di Burning Maze, itu berarti bahwa tidak ada tokoh utama yang selamat dari kematian.

Maksudku, jika Riordan benar-benar membunuh Frank, aku merasa ia sudah mengambil satu langkah terlalu jauh. Begini ya…

Jason Grace adalah Captain America. Ia bertanggung jawab, ia “sempurna” dan ia adalah pahlawan yang kematiannya membangunkan dan membuat orang-orang menyadari mereka membuat kesalahan. Di komik Civil War, Civil War sendiri berhenti begitu Captain America mati. Para pahlawan menyadari bahwa ada kesalahan yang terjadi. Kamu ingin membuat seseorang dewasa, bunuh Jason, atau bunuh Captain America.

Frank Zhang, pada sisi lain… seperti Spider-Man. Ia kuat, ia bertanggung jawab, ia mulia juga. Tetapi ia lebih kekanak-kanakan. Ia karakter yang dicintai semua orang, ia memang sering dijelaskan sebagai orang yang imut sejak ia dimunculkan di Son of Neptune, dan Frank memang menggemaskan kadang.

Frank memang pahlawan juga, sama seperti Jason, tetapi membunuh Spider-Man tidak akan menciptakan efek yang sama seperti membunuh Captain America. Keduanya akan disambut dengan sedih, tetapi kesedihan yang terjadi jika Spider-Man mati, adalah kesedihan murni, tanpa perasaan penebusan diri yang didapat jika Captain America mati.

Jadi sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan Frank Zhang mati.

Tower of Nero?

September 2020 akan menutup Trials of Apollo, dan 2021 akan membuka cerita baru lagi, dan Riordan tidak akan menggunakan Greek/Roman mythology sebagai cerita utama, tidak lagi. Ia akan beralih ke Norse/Egyptian.

Tetapi, sementara itu, apa yang akan terjadi di Tower of Nero?

Ramalannya berbunyi…

O Son Of Zeus the final challenge face

The To’er of Nero two alone ascend

Defeat the beast that has usurped thy place

Dan hanya itu.

Sebuah ramalan yang sangat sederhana. Riordan tidak ingin orang-orang banyak berasumsi hal akan terjadi seperti yang tampak sesudah prophecy 14 baris di Dark Prophecy, dan prophecy cryptic di Burning Maze.

Ketiga baris itu sangat obvious (pertama hanya penjelasan singkat, kedua tentang tower of nero, dan ketiga tentang Python yang dibangkitkan Gaia di Blood of Olympus), mengingat judul buku kelima sudah keluar dan judulnya memang Tower of Nero. Untungnya, walau barisnya sangat obvious, Riordan memberikan kesempatan untuk orang-orang berasumsi ada baris lain.

Terza Rima yang Dante ciptakan di The Inferno menjadi skema ramalan kali ini.

Berarti, tiga baris berikutnya akan berhubungan dengan baris ini, dan baris satu dan tiga akan berirama dengan Ascend. Apa yang mungkin terjadi ya? (Aku menyesal bacanya terlalu cepat eh…)

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Ini adalah REVIEW tanpa spoiler tentunya. Jika anda ingin diberikan spoiler, atau ingin recap singkat cerita, silahkan klik link ini, dan diam.

Dari Mana Ceritanya Bersambung?

Oke, ada sedikit sekali spoiler yang wajib untuk memberikan review yang menyeluruh. Cerita bersambung sesudah berapa lama?

Burning Maze berakhir ngegantung dengan kematian dari Jason Grace dan munculnya Leo Valdez yang kembali dari Camp Jupiter sesudah mengantarkan kabar. Apollo berangkat naik pesawat ke Camp Jupiter di San Francisco dengan tujuan mengantarkan mayat temannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Cerita ini bersambung sekitar… 2 jam sesudah bab terakhir dari Burning Maze. Aku sendiri tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari Los Angeles ke San Francisco, tetapi aku tahu jaraknya tidak begitu jauh. Intinya, bab terakhir Burning Maze berlangsung di hari yang sama dengan bab pertama Tyrant’s Tomb.

Jadi, jika anda ingin bertanya… Apakah timeline di bukunya lama? Jawabannya tidak. Riordanverse masih nyangkut di tahun 2012. Percy masih berusia 17 tahun dan belum lulus SMA.

Menegangkan, tetapi Lambat.

Cerita Tyrant’s Tomb berlangsung dengan cukup pelan sejujurnya.

Sebelum membangun ulang plot baru untuk buku selanjutnya, dan membereskan pertanyaan yang muncul pada Dark Prophecy dan Burning Maze, Riordan memulai dengan santai dan menjelaskan isi Camp Jupiter, (hal yang ia belum pernah lakukan di Heroes of Olympus) memastikan semua hal aman, dan plot-plot tersambung dengan rapih.

Kurang lebih, plot Tyrant’s Tomb berjalan seperti puisi ABAB. Tegang 4 bab, tenang 4 bab lagi, Tegang, Tenang, Tegang, Tenang. Dalam konteks cerita, Apollo tidak mengalami hari-hari santai sebanyak yang ia alami di Hidden Oracle, tetapi ia juga tidak berusaha dibunuh sesering yang ia alami di Burning Maze dan Dark Prophecy.

Plot berjalan dengan lambat sampai 8 bab terakhir, tetapi Riordan memastikan bahwa pembaca tetap merasa tegang sesekali.

Aku melakukan Speed-Reading tingkat parah sesudah bab 35, meskipun aku membaca 34 bab sebelumnya dengan sangat santai.

Plot Twists?

Aku tahu pembaca akan kebingungan jika aku bilang… “BUKU INI BANYAK PLOT TWIST-NYA”

Aku juga berpikir hal yang sama sesudah membacanya. Sesudah plot twist terbesar sepanjang tulisan Riordan yang terjadi di Burning Maze, aku tidak mengira Riordan masih mampu menciptakan plot twist lebih banyak lagi.

Tetapi, aku mengingat bahwa ada sekitar 3 plot twist yang menutup Tyrant’s Tomb di akhir bukunya.

Oh iya, catatan sangat penting. Jika anda belum membaca bukunya, anda tidak ingin membaca Tyrant’s Tomb dengan spoiler. Itu akan menjadi keputusan yang sangat buruk. Berbeda dengan di Burning Maze di mana anda yakin 100% bahwa Jason Grace telah mati satu bab sesudah dia dibunuh Caligula, Tyrant’s Tomb memberikan plot twist yang unik.

Anda akan merasa tegang jika anda tidak mengetahui bagaimana ceritanya berakhir, jadi, jangan baca bab-bab terakhir sampai gelombang ketegangan terakhirnya telah lewat.

Mitologi?

Seperti buku Trials of Apollo lainnya, Riordan langsung mengenalkan monster baru di bab-bab awal, dan langsung memberikan kerepotan khusus bagi Apollo dan Meg McCaffrey. Jadi, indeks monster mitologis anda tetap bertambah di Tyrant’s Tomb, jangan khawatir.

Selain itu, sumber ramalan yang dituju Apollo pada buku keempat ini adalah buku Sibylline yang ditulis Sibyl of Cumae ketika Romawi masih berupa sebuah kerajaan, sebelum Julius Caesar, sebelum Octavian, sebelum Caligula, dan sebelum Marcus Aurelius.

Buku Sibylline sendiri dikira telah dibakar oleh kaisar Theodosius ketika ia memimpin, namun pada Son of Neptune, Percy, Frank, dan Hazel bertemu dengan seekor Harpy yang memiliki memori fotografis bernama Ella, yang pernah membaca buku yang telah hilang tersebut.

Ella berusaha memecahkan misteri dan merekonstruksi buku tersebut, mengakhiri bab terakhir Tyrant’s Tomb dengan sebuah pertanyaan, sama dengan ketiga buku sebelumnya.

Selain itu, aspek besar lainnya dari Tyrant’s Tomb ada di pengaruhnya Romawi sebagai republik. Bukan sebagai mitologi, tetapi aspek historiknya.

Jika di Camp Half-Blood semua tindakan pahlawan-pahlawan disitu terjadi secara acak, secara tidak terstruktur, dan kemungkinan terjadi karena ada ramalan, atau atas perintah Chiron… Camp Jupiter lebih demokratis dalam penentuannya.

Proses demokrasi ini semacam memperlambat plot, tetapi membacanya tetap menyenangkan, jadi jangan khawatir.

Lester?

Apollo jelas tumbuh sebagai karakter sesudah kematian Jason. Ini hal yang patut dibaca karena semakin ke sini, karakter Apollo sebagai dewa manja semakin hilang, dan walau ia masih suka mengeluh dan memang mengeluh beberapa kali, ia lebih dewasa dan heroik.

Pertumbuhan Apollo sebagai karakter jelas menjadi salah satu alasan Riordan menunda perilisan buku ini. Hanya dalam selang waktu beberapa hari sesudah Jason Grace terbunuh… karakter Apollo berubah drastis.

Apakah Tyrant’s Tomb Pantas Ditunggu Selama Ini?

IYA! Tyrant’s Tomb pantas ditunggu selama ini. Setidaknya, jika anda tidak puas dengan cerita, atau tidak menyukai plot yang relatif lamban ini… adanya deskripsi yang cukup detil tentang Camp Jupiter, New Rome, dan aktivitas demigod Romawi yang berbeda jauh dengan demigod Yunani cukup untuk memuaskan rasa penasaran anda.

Selain itu, pertemuan dengan Frank Zhang, Reyna, dan demigod Romawi lainnya juga menyenangkan, dan memberikan sebuah bentuk kepuasan tersendiri.

Ini review bebas spoiler, dan sejujurnya, buku ini sangat sulit dijelaskan tanpa spoiler, jadi… baca sendiri saja! Selamat menikmati!

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Aku kembali ikut kuliah umum berseri! Hore! Kali ini, aku ikut kuliah umum di ITB, dengan tujuan kembali ke dunia empirik sesudah banyak (banget) mengkhayal di Unpar.

Materi pertama yang kudapatkan di serial Kuliah Umum Sains arus 1 tentang… *masukkan drumroll* alien. Oke, mungkin bukan alien, istilah alien sendiri kurang tepat, lebih tepatnya kehidupan di planet lain.

Materi ini diberikan Ibu Avivah dari Langit Selatan.

(buat yang tidak berdomisili di Bandung, atau memang tidak tahu… Langit Selatan adalah sebuah organisasi yang lumayan sering mengadakan acara observasi bintang.)

Selamat menikmati recap + komentar dan opini dari kuliah umum kali ini!

Materi-Materi Pembentuk Kehidupan.

Sebelum masuk terlalu dalam ke konsep pencarian dan cara pencarian oleh astronom di dunia, pertama-tama mari kita masuk dan mencari apa yang sedang dicari.

Air

Materi nomor satu yang dicari. Air. Kenapa air? Dari zaman filsuf Yunani, tepatnya, Thales dari Miletus, salah satu bapak dari ilmu pengetahuan, air adalah benda yang paling krusial dalam pembentukan kehidupan.

Air berperan penting dalam kehidupan manusia, serta dalam suhu, serta tekanan udara di suatu planet.

Jika planet dapat menyokong air dalam bentuk cair, besar kemungkinan bisa ada makhluk hidup yang mampu tinggal di planet tersebut tanpa merasakan suhu terlalu panas, terlalu dingin, dan tanpa kehilangan oksigen.

Oksigen

Kehidupan yang similer, (walau berbeda bentuk) dengan manusia, kemungkinan besar menggunakan oksigen sebagai gas yang berperan dalam respirasi. Jika ada air, maka ada oksigen, dan jika ada oksigen, berarti ada makhluk hidup yang mampu memprosesnya.

Adanya air berarti adanya oksigen, walaupun tidak dalam bentuk murni, dan adanya oksigen berarti ada kemungkinan penyokongan air.

Alasan penggunaan air sebagai fluida dan Oksigen sebagai gas yang menjadi kriteria pencarian planet yang mungkin bisa menyokong kehidupan, ada di pentingnya air untuk kehidupan berbasis karbon. Faktanya, kehidupan berbasis karbon (seperti pada dasarnya semua makhluk hidup di bumi) membutuhkan air, dan tentunya oksigen untuk bisa hidup.

Pertanyaan, mungkin, apakah mungkin jika ada penyokongan kehidupan dengan unsur lain, selain karbon misalnya?

Meskipun tidak dicari (setidaknya tidak dalam demand sebesar karbon), jawabannya iya, ini hal yang mungkin. Sebagai contoh (yang memang borderline science fiction, tapi tetep…) kehidupan berbasis Silikon tidak butuh air ataupun oksigen. Kehidupan berbasis Silikon akan cenderung mekanikal/robotika.

Planet-Planet yang dicari?

Kita sudah tahu apa zat yang dicari… sekarang mari kita masuk ke planet-planet yang dicari.

Pertama-tama… Planet batuan, atau setidaknya, satelit dari planet batuan. Karena, kita tidak bisa berdiri di atas gas, dan planet es akan membekukan semua potensi kehidupan. Oh, dan gravitasi dari planet gas terlalu besar untuk bisa membiarkan kehidupan tumbuh.

Kedua, planet tersebut harus berada di zona Laik Kuning. Namun, karena nama Laik Kuning terdengar membosankan, kita akan mengenal zona Laik Kuning dengan istilah Zona Goldilocks, dinamakan dari cerita Goldilocks and the Three Bears. Not too hot, not too cold. Cari sup milik anak beruang, bukan Papa Beruang (yang terlalu panas), atau Mama Beruang (yang terlalu dingin).

Ketiga, kemungkinan besar, planet tersebut harus berada di tata surya dengan bintang berwarna merah atau kuning, dan tidak terlalu besar.

Kriteria pencarian sudah dicoret, sekarang mari kita masuk ke pencarian itu sendiri!

Tata Surya

Sebelum mencari terlalu jauh…

Kabar baik, di alam semesta ada tiga satelit yang memiliki potensi untuk punya air. Adanya air berarti adanya oksigen, dan ini memberikan kemungkinan adanya kehidupan, atau setidaknya bibit-bibit kehidupan yang bisa muncul dari hal tersebut.

Pertama-tama, ada dua Satelit Jupiter, Europa, serta Io. Keduanya diberi nama berdasarkan pacar dari Dewa Jupiter sendiri (seperti semua satelitnya yang lain, karena pacarnya Jupiter sangat banyak), dan Europa adalah alasan benua Eropa bernama Eropa.

Kedua satelit tersebut memiliki atmosfer serta tekanan udara yang cukup untuk menyokong air, dan tentunya oksigen, tetapi memiliki sedikit masalah karena terletak cukup jauh dari matahari, dan memiliki jumlah es yang tidak sedikit. Io, memiliki air di bawah lapisan es yang tebal…

Berikutnya, ada Enceladus, satelit dari Saturnus, dan diberi nama dari seorang raksasa yang merupakan adik dari Saturnus, yang lahir dari Ibunya, Terra. Enceladus lahir untuk melawan Dewi Kebijaksanaan Minerva (juga diketahui dengan nama Yunani-nya, Athena).

Enceladus sendiri tampak seperti bulan. Berwarna abu-abu, sedikit berdebu, dan memiliki beberapa jerawat…

Tetapi, Enceladus memiliki air, atau setidaknya cairan. Ada metana di bawah lapisan berdebu tersebut. Memang, tidak ada air, dan secara teknis, seharusnya tidak perlu pencarian karena tidak adanya air, tetapi, Enceladus begitu dekat sehingga tidak mungkin untuk mengabaikan fakta bahwa ada kemungkinan kehidupan muncul di satelit tersebut.

Mungkin pada titik ini anda akan bertanya… “Kalau ada alien di Enceladus, bentuknya seperti apa?” Aku akan masuk ke sini, tetapi… sabar sedikit.

The Rest of the Universe?

Selamat datang di bagian yang berisi banyak hitungan matematika yang sebenarnya tidak penting, dan tidak ada di kuliah umum, tetapi aku ingin melakukannya karena menurutku ini menyenangkan!

Jika ada 100.000.000.000 galaksi di alam semesta. (angka merupakan tebakan kasar dari banyak membaca buku dan sejujurnya, siapa yang tahu jumlah pastinya?)

Dalam tiap Galaksi, ada 100.000.000.000 Bintang. (Sama, tebakan kasar juga, lagian, siapa yang tahu?)

Jika kita asumsikan, satu Bintang memiliki 8 planet, berarti ada 800.000.000.000.000.000.000 planet yang memiliki potensi kehidupan. Sayangnya, bintang yang berwarna Merah atau Kuning, ataupun bintang katai merah (sedikit lebih kecil dari Matahari) hanya 1/10, mungkin lebih sedikit dari jumlah tersebut.

Berarti, kita ada 8.000.000 planet untuk dipikirkan. Berikutnya, dalam satu tata surya, hanya ada (paling banyak) 3 planet yang terletak di zona goldilocks. Berarti, dari 9-10 planet di satu tata surya, hanya 3 yang memiliki potensi kehidupan. Ini menyisakan 1.6 sekian juta…

Dari begitu banyak planet yang ada di tata surya… apakah anda bisa berpikir bahwa hanya di bawah dari 3% dari planet tersebut yang bisa menyokong kehidupan? Ini belum menghitung adanya oksigen atau air lho.

Jadi, apakah pencarian kehidupan merupakan hal yang realistis?

Hasil Pencarian…

Aku payah dalam mengingat angka.

Maaf.

Plus, aku belum sempat mendapatkan fotokopi karena masih terdaftar sebagai peserta sit-in.

Namun, total dari 9000-an planet yang dicari, ada sekitar 300 planet, mungkin lebih, yang mampu menyokong kehidupan, dan masih ada 50++ planet yang belum jelas kondisinya.

Lalu, datanglah pertanyaan besar. Bentuk kehidupan apa yang akan muncul dari planet-planet tersebut?

Sayangnya, ini masih science fiction. Tata surya kita tercipta dalam kondisi amat ideal, dan sayang sekali, masih banyak planet alam semesta yang belum bisa menciptakan bakteria terkecilpun dari lautannya yang mungkin luas.

Kehidupan semua berevolusi dari bakteria, dan jika tidak ada bakteria, berarti tidak ada moluska, tidak ada tumbuhan, tidak ada hewan, dan tidak ada manusia… Planet macam apa yang bisa menciptakan bakteria?

Jadi pikirkanlah. Seberapa beruntungnya manusia?

Tiga Teori Probabilitas.

Tiga Teori Probabilitas.

Kemungkinan sesuatu terjadi secara acak sangat tinggi, dan sangat memungkinkan ada aspek kehidupanmu yang terpengaruh karena hal yang acak tersebut. Itu hal yang sudah cukup umum, dan terkadang, orang-orang menyepelekan hal-hal acak ini terjadi. Mulai dari hp-mu menjadi target bombing SMS, hingga mengocok dadu, probabilitas sesuatu hal buruk, atau baik terjadi, umumnya sama.

Tulisan hari ini tidak akan mengupas terlalu banyak tentang probabilitas, tetapi ia akan mengupas cara manusia mempersepsikan hal-hal yang terjadi secara acak, dan hal-hal yang benar-benar terjadi secara nyata.

Ketiga teori yang akan aku tuliskan di sini bukan berupa hukum dan tidak absolut, tetapi setidaknya anda pernah menjadi korban salah satu teoriku, baik disadari atau tidak.

Inspirasi: Fooled by Randomness by Nassim Nicholas Taleb.

Teori 1: Sesuatu yang tidak absolut, akan dipercayai sebagai mungkin

Teori pertama adalah alasan orang-orang masih membeli tiket lotre. Selama kemungkinan sesuatu terjadi masih ada, orang-orang akan terus mempercayai kemungkinan tersebut terjadi pada mereka, mau seberapa tidak mungkin hal tersebut terjadi.

Hal sekecil 0.00000000001% terjadi akan dipersepsikan sebagai kemungkinan yang nyata. Mau seberapa kecil kemungkinannya, kemungkinan tersebut tetap ada, dan dipercayai sebagai hal yang bisa dan/atau akan terjadi.

Tentunya, kemungkinan hal-hal yang tampak tidak mungkin terjadi itu memang ada, dan memang pernah terjadi. Bisa dilihat dari pemenang lotre yang benar-benar menang, hingga ke cerita klub kecil dengan peluang menang rendah dengan magisnya mengambil piala terbesar di liga lokal, sampai ke cerita-cerita miskin ke kaya yang sering muncul… harapan untuk hal tersebut terjadi akan selalu ada.

Manusia akan terus percaya dan berharap akan ditemukannya alien sampai ada bukti pasti bahwa alien tersebut tidak ada. Tetapi, karena hukum yang sama, manusia tidak akan pernah percaya akan adanya burung Dodo yang sudah punah, dan itu adalah hal yang absolut. Hal yang pasti, dan hal yang tidak bisa diulangi.

Harapan adalah hal yang berbahaya, begitu kita berharap akan suatu hal, mau secara logis probabilitas hal tersebut tidak bisa direalisasi, maka kita tidak akan melihatnya sebagai probabilitas 1/100000. Kita akan melihatnya sebagai suatu hal yang mungkin terjadi, baik kemungkinannya kecil, atau besar.

Teori 2: Ketika hal baik terjadi, manusia akan melihatnya sebagai bagian dari kemampuan yang mereka miliki.

Teori kedua terdengar panjang, aku tahu. Sebelum masuk dan menjelaskan teori ini, aku perlu memberi klarifikasi bahwa Taleb terdengar seperti orang sok tahu ketika menuliskan Fooled by Randomness. Ralat, aku cukup yakin bahwa hampir semua buku Taleb yang telah kubaca membuatnya tampak seperti orang sok tahu, walaupun yang ia katakan memang benar. Di Fooled by Randomness, Taleb menyatakan bahwa teori 2 dan 3 (yang aku pisahkan dan klarifikasi sendiri tentunya) adalah hal yang absolut, dan cara manusia mempersepsikan kedua hal ini terjadi akan selalu seperti itu, seolah-olah tidak ada kemungkinan mereka melakukannya secara positif. Aku menuliskannya sebagai teori dengan alasan bahwa ini tidak 100% pasti terjadi.

Kembali ke topik. Teori kedua adalah teori yang menyatakan bahwa ketika manusia menerima keberuntungan dalam mengerjakan sesuatu, mereka akan melihatnya sebagai bentuk lain dari skill yang mereka miliki, seolah-olah mereka mampu mengerjakan hal tersebut tanpa adanya bantuan dari Fortuna, alias Nyonya Keberuntungan.

Ketika seorang pegawai -tanpa melihat watak orang tersebut sombong atau rendah hati atau campuran keduanya-  melihat bahwa ia mampu mengerjakan tugas A, meskipun ia melakukannya hanya karena ia beruntung, ia akan melakukan tugas A lagi dengan asumsi bahwa ia bisa melakukannya. Ketika Fortuna tidak datang untuk kedua kalinya, mereka akan kesulitan, karena mereka punya asumsi bahwa mereka bisa melakukan tugas tersebut.

Usaha yang diberikan mungkin sama, mungkin berbeda, bagiku itu irelevan, karena yang dibahas adalah cara mempersepsikan sesuatu, bukan kenyataannya.

Persepsi yang ditangkap ini bisa menjadi berbahaya bukan hanya untuk orang yang menjadi korban ke mispersepsinya sendiri, tetapi juga orang lain yang mengambil persepsi kepada orang tersebut.

Lalu, berikutnya, kita akan bahas yang diketahui dengan ekspektasi.

Ketika seseorang diminta bosnya mengerjakan Tugas A tadi, lalu bosnya menilai hanya dari satu sampel saja, bos tersebut yakin bahwa jika ada pekerjaan yang membutuhkan tugas A, ia bisa memberikannya ke pegawai tersebut, dengan harapan ia bisa mengulangi kesuksesannya lagi.

Ketika kesuksesan tersebut gagal terjadi… barulah ada relevansinya dengan karakter bos-nya. Apakah bosnya orang yang rasional atau yang menilai secara emosional?

Bagaimanapun juga, ketika ada hal yang baik terjadi, dan kesuksesan mengerjakan suatu tugas, anda jangan mau terjebak sendiri oleh mispersepsi ini, dan nilailah dengan objektif sesudah mengerjakan suatu tugas, ujian, atau semacamnya… apakah aku dibantu oleh keberuntungan?

Teori 3: Ketika hal buruk terjadi, manusia akan menilai dan menciptakan alasan bahwa itu terjadi karena mereka sedang tidak beruntung, bukan karena inkompetensi.

Teori ketiga adalah inversi (alias pembalikan) dari teori kedua.

Esensi kedua teori sama, namun kali ini, overestimasi itu terjadi dengan penciptaan alasan, entah itu “aku sedang mengalami hari yang buruk”, atau “aku lagi kurang beruntung” dan sebagainya.

Sebagai contoh, pegawai lain di kantor yang sama dengan pegawai di teori dua tadi diminta bos-nya mengerjakan tugas B. Ia sukses mengerjakan tugas B tanpa adanya masalah, dan dengan minim bantuan keberuntungan, ia bisa mengerjakan tugas B, murni karena kompetensi dan kapasitasnya sebagai seorang pekerja.

Keesokan harinya, sesudah melihat pegawai tersebut dan kehandalannya mengerjakan tugas B, ia meminta orang tersebut mengerjakan tugas B+. Tugas B+ membutuhkan skill dan waktu yang kurang lebih sama dengan tugas B, dengan pengecualian bahwa tugas B+ membutuhkan satu langkah tambahan ketika proses pengerjaannya sudah beres.

Pegawai tersebut menganalisa pekerjaannya setengah matang dan tidak menyadari bahwa ia perlu melakukan langkah tambahan dari tugas B, dan ia melupakannya karena inkompetensi.

Ketika melaporkan ke bos-nya, dan ditanyakan kenapa ia gagal melakukan tugas tersebut, ia membuat alasan bahwa (misalnya) ia lupa minum kopi hari itu, atau anaknya sedang menangis sangat keras pada malam sebelumnya sehingga ia kekurangan tidur, tanpa menyadari bahwa ia melakukan hal tersebut karena adanya inkompetensi dari kemampuan analisanya.

Sesudah ini, bos tersebut mengasumsikan bahwa pegawainya ini tidak mampu mengerjakan tugas B+, padahal hanya ada perbedaan satu langkah kecil di akhir proses dari tugas B.

Jika isu dari teori kedua adalah overestimasi kemampuan yang tidak nyata, isu dari teori ketiga terletak di overestimasi kemampuan berdasarkan faktor yang tidak nyata. Kemampuan yang ia miliki memang kurang (sebagai contoh) di bidang analisa tadi, tetapi, ia malah menggunakan emosinya untuk menilai dan memberikan alasan bahwa ia tidak mampu mengerjakan tugas tersebut, alih-alih menilainya secara rasional.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang irasional, tetapi rasional.

Kita menyetir dengan otak, atau dengan hati. Ketika kita menyetir dengan otak, kita dapat melewatkan hal-hal sederhana dan yang harusnya disadari manusia dengan kesadaran tertentu. Ketika menyetir dengan hati, pada sisi lain, kita melewatkan hal-hal yang seharusnya disadari secara logis.

Kesalahan terbesar manusia adalah kegagalan untuk menemukan keseimbangan antara kedua hal ini.

Taleb menunjukkan dan mengingatkan bahwa kita sering salah mempersepsikan kejadian dan menyalahkannya atau menyembunyikan fakta bahwa ada keberuntungan yang berperan di situ.

Aku menjelaskan bahwa kita butuh keseimbangan yang tepat untuk bisa menganalisa hal-hal tersebut dengan netral, dan dengan rasional.

Sampai lain waktu.

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Klopp mulai menjadi pelatih Bundesliga pada tahun 2005. Aku tidak akan membahas terlalu banyak tentang karirnya sebagai pelatih di musim pertama. Intinya, Mainz sukses bertahan dan mengalahkan Dortmund yang lagi berantakan karena hutang, Schalke, serta menahan Bayern seri di kandang. Ini semua sudah dibahas di artikel bagian ketiga.

Artikel keempat ini adalah titik penentu terbesar di karir Klopp, dan juga titik balik kehidupan pribadi Klopp. Ini adalah momen, di mana Klopp, seseorang yang baru saja mulai melatih di Bundesliga, menjadi seseorang dengan suara yang kuat untuk sepakbola di seluruh Jerman.

SAT1 dan Mainz

Pada awal karirnya di Mainz sebagai pelatih, teman dekatnya yang berada sebagai anggota pemilik Mainz membangun SAT1 (seperti Sky Sports milik orang Jerman) pernah merekomendasikan untuk Klopp menjadi host utama di acara sepakbola mingguan untuk membahas tiap pertandingan Bundesliga. Tahun-tahun tersebut, SAT1 masih perusahaan televisi kecil, dan temannya cukup serius jika Klopp memang ingin berhenti melatih, ia selalu bisa bekerja bersamanya di televisi.

SAT1 sendiri terletak di kota yang sama dengan FSV Mainz, dan mendominasi penyiaran pertandingan di distrik Rhineland-Palantine.

Tentunya, pembaca sudah cukup kenal akan kepribadian Kloppo untuk tahu bahwa ia tidak ingin menjadi seorang host selama ia masih bisa menjadi seorang pelatih. Ia menyukai interaksi dengan pemainnya dan merasa bahwa melatih adalah bagian dari hidupnya.

Namun, karir televisi Klopp yang tampaknya tidak akan dilanjutkan justru menjadi alasan ia bisa jadi pemegang piala Champions League tahun ini, serta alasan ia bisa menjuarai Bundesliga dua kali.

Pada akhir tahun 2005 dan hak siar Piala Dunia tahun 2006 mulai dibahas, SAT1 yang baru menyiarkan sepersepuluh pertandingan Bundesliga (dan semuanya dari klub papan tengah) menerima investasi serta rekomendasi untuk menyiarkan turnamen tersebut.

Ini bukan sekedar liga champions, atau Bundesliga. Ini Piala Dunia. Turnamen di mana orang-orang yang tidak menyukai bola tetap berusaha mengejar semua pertandingan yang disiarkan. Turnamen di mana seluruh keluarga duduk di depan televisi untuk menonton pertandingan antara dua negara, apalagi negaranya sendiri.

SAT1 mendapatkan hak siar untuk turnamen level tersebut. Tetapi, kekurangan uang yang mereka habiskan untuk investasi berarti mereka harus berusaha berpikir lebih kreatif dan mencari pundit-pundit dengan harga murah. Jadi tentunya, CEO SAT1 yang memegang sebagian kepemilikan Mainz meminta pelatihnya sendiri untuk menjadi pundit.

Meskipun didirkan tahun 1985, dan SAT1 adalah stasiun pertama di Jerman yang dimiliki secara pribadi, SAT1 sendiri baru menjadi stasiun besar pada tahun 2006 sesudah sukses menyiarkan piala dunia. Mereka sudah mulai menyiarkan sebagian pertandingan Bundesliga pada tahun 2004, dan melakukan gaya yang tidak umum dilakukan di Jerman… Mereka menayangkan muka istri dan pacar pemain, mengingatkan tanggal ulang tahun, dan semacamnya. Docu-soap sepakbola ini merupakan langkah awal SAT1 menjadi stasiun yang menyiarkan piala dunia 2006.

Kembali ke Klopp… Ketika ia menerima pekerjaan menjadi pundit untuk piala dunia 2006, bersama Miss Bundesliga Ulla Sandrock, ia membuat statement bahwa ia siap menawarkan analisa yang menyenangkan. Menurut Klopp, pertandingan-pertandingan di analisa dengan gaya yang terlalu “What-if”. Bagaimana jika mereka berlari lebih sedikit dan tidak mendapat offside, bagaimana jika wasit menyatakan bahwa itu adalah sebuah penalty, bagaimana jika tendangan sudut ditendang oleh pemain kidal alih-alih pemain dengan kaki kanan dominan?

Klopp menginginkan dan menawarkan analisa yang what-if, tetapi lebih realistis dan tidak terlalu fokus ke masa lalu. Jika seorang pundit di stasiun lain fokus ke potensi-potensi kejadian yang terjadi jika bola langsung diumpan, Klopp fokus ke opsi-opsi realistis yang pemain tersebut bisa lakukan.

Selain itu, Klopp selalu menjelaskan hal dengan gaya yang mudah dimengerti. Ia tahu bahwa penonton-penonton yang menonton piala dunia bukan orang yang memang menyukai sepakbola dan mungkin masih kebingungan apa yang membedakan pemberian corner alih-alih Goal Kick, dan semacamnya.

Banyak Pundit menggunakan istilah membingungkan seperti counter, overload, offside trap, dan seterusnya tanpa menjelaskan apa itu overloading, apa itu offside, dan hanya menjelaskan apa yang mungkin bisa terjadi jika taktik tersebut tidak digunakan.

Ketika Klopp menggunakan istilah membingungkan, misalnya seperti pressing, Klopp menjelaskan terlebih dahulu, apa itu pressing, dan apa yang bisa didapatkan serta ditujukan oleh sang pelatih dalam memberikan instruksi tersebut, baru masuk ke kemungkinan taktik lain yang digunakan.

Kritikan, serta Pengakuan.

Klopp mendapatkan kritikan dari banyak pundit lain yang menganggap bahwa opini dari pelatih yang baru saja menyelesaikan musim pertamanya di Bundesliga ini tidak masuk akal, dan cukup dangkal sehingga tidak begitu berpengaruh bagi orang yang memang mengikuti sepakbola secara rutin, tetapi, kritisisme ini ditolak atas pengakuan dari dua orang.

Orang pertama adalah Franz Beckenbauer, seorang sweeper (posisi yang sudah tidak ada lagi di sepakbola modern) yang diketahui dengan panggilan Der Kaiser.

Beckenbauer adalah seorang dewa di mata pecinta sepakbola Jerman karena kesuksesannya membawa piala tersebut kembali ke Jerman. Jika Beckenbauer menganggap bahwa hal yang Klopp bilang bisa digunakan untuk professional juga dan orang-orang harusnya mendengar apa yang ia katakan, maka Klopp berbicara secara logis. Klopp baru saja membuat hal yang kompleks menjadi hal sederhana, dan mendapatkan pengakuan dari salah satu pemain terbaik Jerman sepanjang masa.

Orang kedua yang memberikan Klopp pengakuan adalah Miss Bundesliga tadi. Ulla Sandrock. Jika anda mencari namanya di internet, Ulla adalah istri Klopp, dan anda sering melihat pelatih Jerman tersebut memberikan simbol hati ke penonton, khusus untuk istrinya.

Ulla Sandrock seperti Donna Agnesia-nya orang Jerman, ia seorang perempuan yang memiliki kecintaan pada sebuah pekerjaan yang didominasi lelaki, dan masih saja bisa memiliki opini yang membuat para laki-laki ini berpikir kembali.

Klopp bukan sekedar mendapatkan pengakuan dari Ulla, ia juga sukses mendapatkan hatinya, dan pada tahun 2005, Klopp menikah lagi sesudah perceraiannya di tahun 2001. Ini sedikit irelevan dengan konteks karir, tetapi Ulla sering membantu Klopp memotivasi pemain sesudah kekalahan, seperti yang Ulla lakukan ketika ia turun dan membantu suaminya sesudah kekalahan atas Real Madrid di final Champions League di Kiev. Selain itu, Ulla juga bertemu Klopp pada pekerjaannya di sini.

Klopp mendapatkan image baik sesudah Piala Dunia 2006 dan ia mulai dilihat oleh banyak klub-klub papan tengah Jerman.

Sayangnya, kesuksesan Klopp di karirnya sebagai pundit di televisi ini langsung ditimpa kabar buruk dari klubnya.

Klopp ditinggal 7 pemain pada bursa transfer musim 2006/2007… Hasil akhir dari musim ini berakhir dengan Mainz terelegasi pada posisi ketujuhbelas.

Banyak kejadian relevan pada musim di mana Mainz terelegasi, tetapi aku mau mengingatkan bahwa Klopp tidak pasrah, dan dewan klub bahkan tidak berpikir untuk memecat Klopp. Fans dan dewan begitu cinta pada Klopp sehingga mereka tidak bisa berpikir untuk mengusirnya. Akhirnya Klopp pergi sendiri, tetapi tetap dengan kecintaannya pada Mainz, dan ia pergi untuk Dortmund, membawa klub tersebut ke kesuksesan tingkat Eropa.

Pada musim berikutnya, ia belum meninggalkan klub tersebut, tetapi cerita pelatih favorit kita yang satu ini, disudahi terlebih dahulu.

Bersambung.

Mortalitas

Mortalitas

Iya. Judul artikel ini aku pepet dalam satu kata. Mortalitas.

Ceritanya aku lagi bosan di rumah, dan aku sudah menulis dua tulisan hari ini, lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Avengers: End Game (there goes 3 hours of my life). Kenapa End Game? Film yang ada hanya itu… Aku harus membeli USB 32 giga agar bias banyak kopi film dalam sekali jalan dari teman.

Anggap sajatulisan yang di bawah 1000 kata ini adalah bonus.

Tragedi

Ya. Aku sudah menuliskan cukup banyak tentang tragedi, tetapi belum pernah ada satu pun artikel yang khusus disiapkan mengenai tragedi.

Manusia sepertinya menyukai akhir yang tragis seiring mereka bertambah umur. Mitologi-mitologi dari zaman dahulu kala jelas mencerminkan itu. Kita melihat sedikit happy-ending seperti yang terjadi pada Perseus, pada Horus, pada Romulus, pada orang lain yang namanya tidak berakhir dengan –us. Tetapi, mayoritas mitologi (dan aku cukup yakin film di zaman sekarang) lebih laku dan diingat jika memiliki ending yang tragis.

Ini mungkin alasan aku masih menonton End Game pada bulan September.

Padaakhirhari, cerita yang dialami Perseus, Horus dan Romulus hanya memberikan image yang baik untuk anak kecil. Semakin dewasa seseorang, semakin besar cintanya pada tragedi.

Shakespeare menuliskan Antony and Cleopatra, Julius Caesar, tetapi tidak menuliskan tentang Octavian (Augustus Caesar mungkin lebih sering diingat karena ia menyukai dipanggil Caesar) karena berdasarkan sejarah Antony, Caesar, dan Cleopatra mendapatkan ending yang sedih.

Selain drama-drama yang diberikan oleh Shakespeare (ekuivalen film Superhero terbaru di zaman dahulu kala), tentunya juga ada drama Dionysian. Drama yang diberikan sebagai persembahan untuk dewa tersebut menyukai tokoh-tokoh seperti Oedipus, Hercules, Theseus, dan semacamnya… karena cerita tersebut berakhir dengan tragis. Tidak ada satu pun happy ending (Hercules menjadi dewa, tapi tetap, pahlawan selevel dia tidak pantas dibunuh oleh istrinya sendiri dengan racun karena istrinya mengira ia sedang selingkuh).

Kurang lebih, film PG-13 yang tragis sesuai dengan drama Dionysian, dan cerita-cerita dengan happy ending tersebut sesuai dengan film PG, yang mengizinkan anak-anak menonton.

Heroisme

Heroisme telah mati, dan Mortalitas muncul.

Heroisme bergantung erat pada konsep seseorang yang ideal, seseorang yang rela melakukan hal-hal bodoh dan/atau berani untuk kepentingan orang lain. (klik disini untuk detil lebih banyak tentang penulis)

Apa yang seorang remaja, atau manusia dewasa pikirkan jika jenius selevel Tony Stark mati pada sebuah pertarungan hanya karena ia menjentikkan jarinya? Apa yang akan dipikirkan oleh seorang calon prajurit di militer kota ketika petarung seperti Achilles dipanah sampai mati?

Manusia tampaknya tidak akan pernah bisa menerima kematian, karena segala bentuk hiburan yang disajikan, terutama yang sukses, kembali lagi dan mengungkit kematian tersebut. Kematian tersebut juga terjadi bukan pada manusia biasa, tetapi ke “Superman“ (bukan Clark Kent, maksudku konsep punya Nietzsche)

Komik yang sold out dalam durasi terpendek adalah Death of Superman dari DC. Film dengan penjualan box office terbesar adalah Avengers: Endgame. Dan drama Shakespeare paling populer sampai hari ini adalah Macbeth, serta Romeo and Juliet.

Macbeth berakhir dengan kematian karena tokoh utamanya menjadi gila sesudah membunuh sahabatnya dan tidak bias menerima masa depannya yaitu akan dibunuh (wow, kata-kata yang menyenangkan) oleh anak sahabatnya tadi sebagai balas dendam dan pada akhirnya ia menjadi paranoid dan terbunuh oleh anak sahabatnya tadi.

Romeo and Juliet berakhir dengan bunuh diri.

Manusia ideal saja bias mati kapan saja, dengan tujuan yang sempurna. Apa yang akan kita bias lakukan sebagai manusia?

Mortalitas

Freud tampak kurang akurat. Freud mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bias menerima kematian. Aku bukan seorang psikolog, tetapi aku yakin bahwa yang Freud katakan terlalu absolut.

Tapi tentunya ini berasal dari bocah berusia 16 tahun yang baru saja membuang 3 jam hidupnya menonton ulang film yang ia sudah ketahui akhirnya, jadi jangan benar-benar dengarkan diriku juga.

Mortalitas adalah hal yang manusia tidak akan pernah bias terima, terutama jika itu terjadi pada orang lain. Tampaknya, kita tidak akan pernah bias menerima kematian yang terjadi pada Tony Stark. (oke, kontrak miliknya habis, tetapi, anda mengerti maksudnya)

Kita berusaha hidup dengan pengetahuan penuh bahwa pada akhirnya, siapapun kita, seberapa hebatnya kita, seberapa banyak uang yang kita kumpulkan, pada akhirnya, kita hanya akan meninggalkan dunia, dengan bayang-bayang kehidupan yang kita miliki.

Kematian tidak bias diterima selama kita hidup dalam bayang-bayangnya. Itu pesan hari ini. Para pahlawan yang pernah ada, mereka semua sudah paham besar risiko yang mereka ambil jika mereka gagal. Kematian adalah hal yang kita perlu pahami. Lagian, hidup ini adalah proses, sepertinya ketakutan akan kematian terjadi pada pahlawan fiktif ini membuat kita bingung. Tragedi adalah tragedi karena kita bukan dewa. Kita perlu menerima realita pahit ini.

Seorang pahlawan menjadi pahlawan ketika mereka bisa menerima bahwa mereka akan mati dalam tugas. Ini alasan kita mencintai tragedi dan takut akan mortalitas. Kita tidak bisa menerima kematian dan tidak akan pernah menjadi pahlawan…

So… Aku menyimpulkan bahwa…pesan terakhir dari End Game adalah… “Selamat, anda baru saja menghabiskan 3 jam kehidupan anda hanya untuk mengetahui bahwa pada akhirnya, anda akan mati. Semoga anda cukup beruntung untuk bisa menemukan 3 jam tersebut kembali.” (No amount of money would ever buy a second of time right?)

Untukku, aku baru saja membuang 6 jam karena aku menontonnya dua kali… Ya sudahlah, sudah ada 2 tulisan yang dibuat hari ini.

“So, I’d thought it would be good for me if I record a little greeting, in the case of an untimely death. On my part. I mean, not that death at any time is untimely. Then again, that’s part of the hero gig isn’t it? Part of the journey is the end.” –Tony Stark.

Asal Usul Sejumlah Kata. Episode 1.

Asal Usul Sejumlah Kata. Episode 1.

Tulisan hari ini akan membahas beberapa kata dalam bahasa Inggris, dan dari mana asal kata-kata tersebut. Bahasa Inggris adalah bahasa yang begitu kuat dan relatif mudah untuk dipelajari kebanding dengan bahasa Prancis, Jerman, atau Spanyol misalnya.

Kunci dari Inggris menjadi bahasa yang dominan dan mudah dipelajari terletak di penggunaan huruf latin, struktur bahasa yang tidak ribet dan jarang memiliki tingkatan kesopanan seperti Urang dan Abdi di bahasa Sunda, Tu dan Vouz di bahasa Prancis, dan sebagainya, serta di kecepatan bahasa Inggris menyerap kata-kata.

Tulisan ini terinspirasi dari buku Etymologicon, silahkan cari, menurutku itu buku sangat bagus dan menarik, serta sangat bermanfaat jika anda senang menghapalkan hal-hal yang tidak penting, tetapi tetap menyenangkan untuk diketahui.

Kalimat tersebut dapat ditranslasikan menjadi tiga kata… “You’re a geek.”

Selamat menikmati!

Guillotine

Aku harus mengakui bahwa kata Guillotine sendiri cukup berat. Terutama mengingat ini adalah kata yang ditujukan untuk membuka tulisan ringan hari ini. Namun, aku memilih kata ini karena cerita di belakangnya sangat-sangat ironis serta menyedihkan.

Sebelum membahas kata Guillotine, ada beberapa ironi dari Iliad dan Odyssey milik Homer yang perlu diketahui oleh pembaca.

Ajax, ahli perang dan tombak dari pejuang Yunani, menjadi brand pembersih kaca. Hector adalah nama yang umum digunakan dalam beberapa drama modern, bukan untuk pahlawan, tapi biasanya untuk bos yang galak. Achilles menjadi nama otot di kaki, et cetera.

Hanya ada dua orang dalam ingatanku yang mendapati nama mereka digunakan untuk hal baik, yaitu Paris yang namanya digunakan untuk kota. Serta Odysseus yang namanya menjadi kata Odyssey. Sisanya memiliki nasib buruk. Jika aku seorang pejuang Yunani, aku tidak akan mau menjadi seorang pahlawan kalau orang yang tidak membaca ceritaku menggunakan namaku untuk pembersih kaca.

Lalu, dari mana Guillotine mendapatkan namanya?

Tidak lama sebelum revolusi Prancis, seorang cendekiawan asal Prancis dengan nama belakang Guillotin mendapati fakta bahwa orang-orang dieksekusi dengan cara yang terlalu brutal. Ia membuat sebuah prototipe lalu meninggal sebelum prototipe itu ia berikan ke kerajaan Prancis. Jadi, ketika teman-temannya sedang membereskan pekerjaannya dan menemukan prototipe itu, mereka kebingungan akan menggunakan nama apa untuk beda tersebut.

Pada titik inilah aku merasa teman-teman tersebut telah merusak nama baik Dr. Guillotin.

Mereka menyebut alat eksekusi tersebut Guillotine. Oke, Dr. Guillotin sendiri tidak melakukan kesalahan apa-apa kan? Bahkan jika anda bertanya padaku, ia menghilangkan rasa sakit dan kematian pelan yang sering terjadi untuk kriminal. Hukuman mati memang hukuman mati pada zaman tersebut, tetapi karena bantuan Dr. Guillotin, kematian tersebut dapat dilakukan tanpa adanya penyiksaan…

Apa akibat dari penamaan penemuan ini oleh teman-teman Dr. Guillotin? Ha…

Istrinya merubah nama belakangnya ke namanya sebelum menikah karena malu, dan ia meminta anak-anaknya untuk merubah namanya juga ke nama Ibu mereka. Jika misal anak mereka bernama Antoine, sebelumnya dengan nama Antoine Guillotin, sekarang namanya menjadi Antoine *masukan nama belakang istri Dr. Guillotin*.

Moral dari cerita ini? Ketika anda ingin menciptakan sesuatu, tolong berikan nama pada ciptaan milik anda. Terutama jika ciptaan tersebut punya fungsi negatif.

Mortgage

Apakah anda suka membaca buku fantasi di bahasa Inggris? Kalau iya, anda tidak akan kebingungan kalau mendengar istilah Mortuary. Anda suka menonton CSI atau NCIS atau acara televisi lain yang berhubungan dengan kegiatan detektif? Kalau iya, anda pasti familier dengan kata Morgue. Terakhir, anda sering melihat iklan bank atau semacamnya di bahasa Inggris? Kalau iya, anda pasti tahu dengan istilah Mortgage.

Mortuary, Morgue, dan Mortgage semuanya berasal dari satu “ayah” kata. Mort. Bahasa Prancis untuk Kematian.

Mortuary adalah istilah untuk catatan sebelum orang meninggal, Morgue adalah istilah tempat orang meninggal disimpan secara sementara, dan Mortgage berasal dari istilah Mort, serta Gage. Gage berarti perjanjian.

Mortgage secara harfiah di bahasa Prancis berarti Death Deal, atau Perjanjian Kematian.

Kenapa kata ini bisa muncul seperti itu? Hukum-hukum pada masa kata Mortgage masuk ke Bahasa Inggris, dan kalau aku tidak salah (aku bukan spesialis hukum, tolong diingat) sampai sekarang… Jika seseorang punya hutang yang perlu dibayarkan ke Bank, bahkan sesudah kematian, keluarganya masih perlu menanggungnya.

Jadi, lain kali anda bermain Monopoly, anda tahu asal kata Mortgage dan bisa mengingatkan teman-teman anda yang memanfaatkan fitur ini terlalu banyak bahwa entar itu akan menjadi tanggungan oleh anak-anak dan pasangan mereka di masa depan.

Alcohol

Asal usul kata yang satu ini pasti membuat orang-orang bingung. Kenapa?

Tentunya anda yang tinggal di Indonesia (atau di manapun di dunia ini jika ada komunitas Muslim) tahu bahwa kami orang Muslim tidak mengonsumsi Alkohol. Tetapi, kata Alcohol sendiri berasal dari bahasa Arab. Al-Kuhli lebih tepatnya.

Al-Kuhli berarti yang menutupi, atau yang menyembunyikan.

Alcohol menyerap kata yang menutupi ini sebagai alasan bahwa pengonsumsi alcohol berusaha menutupi atau menyembunyikan perasaan dan masalah mereka dengan meneguk Bir, atau Wiski.

Lalu, jika kata Alcohol masih kurang familier, ada kata lain yang anda mungkin kenali, terutama jika pembaca adalah perempuan. Al-Kuhli juga asal dari kata Kohl.

Kohl adalah sejenis make-up atau mascara yang digunakan juga untuk menyembunyikan, alhasil, ia berasal dari kata yang sama dengan Alcohol. Perbedaan sedikit di fakta bahwa salah satu bersifat harfiah dan yang satu adalah perumpamaan, tapi tetap saja…

Jadi, lain kali seorang perempuan menggunakan make-up, anda bisa mempercepat prosesnya dengan menjelaskan asal usul dari kata Kohl dan Alcohol, lalu masuk ke kata lain dan membuatnya bosan agar prosesnya makin cepat!

Sama-sama!

Duct Tape

Kata terakhir yang akan aku sebut adalah kata yang bersifat positif bagi orang-orang praktis dan untuk orang-orang yang senang memperbaiki barang yang sudah rusak.

Duct Tape. Mungkin beberapa orang yang jarang membaca kata ini tapi sering mendengarnya, mengira bahwa ia dieja Duck Tape, dan aku bisa mengingatkan anda bahwa sekarang itu ejaan yang salah, Word juga marah dan memberikan garis biru di bawah tulisan tersebut, tetapi, anda tidak 100% salah.

Pencipta Duct Tape memberi nama ciptaannya Duck Tape dengan alasan itu bisa menahan air, seperti kaki bebek dan selaput di antara jari kakinya. Namun, beberapa pengguna dan pembeli benda tersebut sering menggunakannya untuk menutup Air Duct.

Mereka hanya mengetahui nama benda tersebut secara verbal. Pada Perang Dunia I dan II, penggunaan produk ini melonjak dan ketika orang ingin memastikan pengejaannya, mereka mengira bahwa karena perekat ini digunakan untuk Air Duct atau Water Duct, umumnya di beberapa kendaraan, istilah yang mereka sering gunakan adalah Duct Tape, alih-alih Duck Tape.

Bagus, karena aku tidak butuh hadirnya merek Donald Duck Tape. Nama tersebut mungkin menggoda orang lain dengan nama Donald untuk memasangkan namanya di brand Duck Tape.

Jadi, eja sebagaimanapun anda inginkan, dan sejujurnya, keduanya sama-sama benar!

Kesimpulan

Trivia, Trivia, Trivia.

Aku sangat menyukai Trivia. Semakin tidak penting dan semakin aneh sesuatu, kemungkinan besar semakin mudah bagiku mengingatnya…

Ini baru Episode 1, tentunya akan ada Episode-episode berikutnya! Sampai lain waktu!

Sang Penulis Idealis

Sang Penulis Idealis

Banyak sekali orang melewatkan fakta bahwa Nietzsche memiliki banyak idea dan konsep fundamental di buku On the Genealogy of Morals miliknya… tentang seorang penulis idealis.

Tentunya kalau ada ratusan kalimat dari Nietzsche yang begitu ekstrim dan terdengar fanatik seperti Superman (dan gak, kita gak bicara tentang Clark Kent di sini), God is Dead, serta pembunuhan konsep dan evolusi yang Nietzsche ciptakan, wajar kalau kebanyakan penulis memutuskan untuk melewatkan ide-ide Nietzsche akan seorang seniman/sastrawan.

Tetapi, bagiku, Nietzsche bukan buku pertama di mana aku membaca tentang Superman, Dead God, dan pembunuhan konsep serta evolusi manusia yang umum dilihat di filsafat Post-modern yang Nietzsche ciptakan. Banyak buku yang mencatat Nietzsche sebagai sumber, dan melengkapi ide-idenya dengan opininya sendiri.

Jadi, melihat Nietzsche yang tampak di tulisannya sebagai fanatik, aku cukup takjub bahwa ia mempunyai ide yang indah (setidaknya berdasarkan standar indahnya Nietzsche, yang… ya… err… gitu lah ya…) akan seorang seniman dan sastrawan.

Selamat menikmati!

(Off topic: aku harus berterimakasih pada Word ketika mengecek ejaan Nietzsche, karena meskipun namanya kusebut belasan kali, aku masih saja ada salah ejaan)

Achilles, Jon, dan Tony.

Homer. George R. R. Martin. Stan Lee. Apa kesamaan yang ketiga penulis ini punya?

Mereka bertiga berbeda jauh dari karakter paling ideal yang mereka ciptakan.

Aku akan membahas ketiganya secara terpisah.

Homeric Epic

Homer (terlepas dari eksistensi Homer berdasarkan sejarah) menciptakan Achilles, Hector, Priam, Helen, Ajax, Menelaus, Paris, dan Odysseus dari satu sudut pandang. Tetapi, nyatanya, pahlawan dari seluruh pihak, Ithaca, Yunani, Sparta, Troya, bahkan Olympus (hampir semua dewa berperan penting di Epik skala besar ini) sekalipun, memiliki mentalitas yang berbeda.

Achilles dari Yunani, terobsesi dengan harga dirinya, sangat narsistik, dan punya masalah amarah yang sangat parah. Ia diciptakan dengan satu kelemahan secara fisik, yakni mata kaki miliknya, tetapi dengan ratusan kelemahan mental.

Heck, aku pernah ditanyakan seorang teman tentang ide nama yang diawali dengan huruf A. Ada yang memberi ide Achilles. Komentarku sederhana “Are you crazy? Entar dia punya anger issue atuh…” meski aku menyukai nama Achilles… sebagai karakter, ia sangat tidak utuh dan lemah.

Hector, dari Troya pada sisi lain… Sempurna secara mental. Ia punya ketenangan, kesabaran, kestabilan emosi, dan juga rasa cinta yang sangat besar untuk prajurit, keluarga, dan kerajaannya. Namun, secara fisik, ia kalah jauh dengan Achilles.

Odysseus adalah pahlawan yang masih memiliki corak karakter lain. Ia tenang, sabar, dan stabil seperti Hector, namun tidak sekuat Pangeran Troya tersebut, tetapi, ia punya kemampuan strategi, dan kelicikan tingkat tinggi yang lebih dari cukup untuk memenangkan seluruh pertarungan yang ia hadapi.

Membahas semua karakter dari Epik Homerik kali ini akan butuh waktu yang sangat banyak.

Jadi, ayo move on!

Game of Thrones

Aku sendiri belum pernah baca Game of Thrones, tapi aku cukup aware tentang beberapa referensi dan aliansi yang diciptakan dari beberapa board game yang dimainkan.

Tetapi, referensi ini tetap dibutuhkan, karena GoT adalah hal terdekat ke Homeric Epic di era modern, jadi… ya, begitulah.

Dari banyaknya karakter yang aku ketahui… Sudut pandang penulis bertambah cukup banyak, dan tidak ada jahat atau baik, sama seperti di Iliad milik Homer.

Berdasarkan framework cerita, GoT, menciptakan banyak kelemahan tiap karakter, serta, tidak seperti Epic Homeric yang berakhir tragis bagi SEMUA protagonis, kecuali Odysseus (YAY!), GoT memberi akhir tragis bagi karakter yang disukai orang-orang.

Level tragis dari GoT berkurang kalau dibandingkan dengan Iliad dan Odyssey, namun, pada akhirnya, tiap karakter tidak ada yang bisa memenuhi idealisme penulis.

(Off-topic lagi: Jika anda mengira GoT sudah cukup tragis, ayo dicatat karakter-karakter yang mengalami ending tragis di Mitologi/Sejarah Yunani dan Romawi: Hercules, Theseus, Orpheus, Jason, Bellerophon, Achilles, Phaeton, Daedalus, Atalanta, Meleager, Remus, Julius Caesar, dan sebagainya. Happy Ending? Perseus, Psyche, Romulus. Ya, simpulkan saja sendiri)

Avengers…

Bagi yang mengetahui aku dengan dekat, atau setidaknya, pernah melihat kaos-kaos yang aku kenakan. Bisa disimpulkan aku menyukai DC lebih dari Marvel.

Tetapi, aku juga menyukai Marvel, karena sejujurnya, apa salahnya menyukai keduanya?

Avengers memberikan framework baru kepada gaya menulisnya seorang idealis.

Mau dilihat dari sudut pandang apapun, Stan Lee (rest in peace) memiliki sudut pandang yang unik pada tiap tokoh. Selain fakta bahwa Tony Stark mengalami ending yang tragis, (karena isu kontrak) dan juga Civil War yang terjadi sebelum Infinity War dan End Game, Avengers memperkenalkan konsep Villain yang jelas.

Penonton dapat melihat siapa yang baik, dan siapa yang jahat.

Namun, MCU serta komik-komik yang menginspirasi MCU, memastikan bahwa “penjahat” yang hadir di karya-karya tersebut adalah penjahat yang tidak benar-benar jahat, dan sebenarnya memiliki niatan baik, tetapi dilakukan dengan metode yang salah.

Aku tidak perlu membahas terlalu banyak tokoh, bahkan Thor, Captain America, dan Iron Man juga diciptakan dari tiga framework berbeda. Salah satu mengalami kehidupan yang bahagia, tetapi merasa tidak bisa hidup ke ekspektasinya sendiri. Salah satu mengambil tugas yang diberikan padanya, dan percaya akan tugas, dan nasionalisme. Dan yang terakhir mengalami kejadian tragis dan berniat untuk menciptakan dunia yang ideal, yang lebih sesuai dengan gambarannya atas metodenya sendiri.

Bisa dilihat, tiga tokoh utama MCU fase pertama dan kedua sangat kontras dan berbeda dengan satu sama lain.

Jadi, di mana peran Friedrich Nietzsche di sini?

Terpisah. Ideal. Sempurna.

Homer tidak mungkin menciptakan Achilles atau Hector jika kepribadiannya sama dengan kedua protagonis tersebut.

George R.R. Martin juga tidak mungkin menciptakan Jon Snow, Daenerys, dan… ada siapa lagi di GoT? Kalau ia sama dengan tokoh utama tersebut.

Sama juga dengan Stan Lee. Tony Stark, Steve Rogers, Peter Parker, T’Challa, dan seterusnya tidak mungkin bisa diciptakan kalau Stan Lee memiliki kepribadian yang sama dengan ketiga tokoh tersebut.

Jadi, di mana letak para penulis dan seniman yang disebutkan ini?

Untuk bisa melihat idealisme seorang karakter, penulis atau seniman harus bisa membersihkan diri dari idealisme karakter yang akan diciptakan. Seseorang yang agresif tidak mampu menggambarkan sisi itu darinya secara negatif, dan seseorang yang narsistik juga tidak mampu menggambarkan sisi tersebut darinya secara negatif.

Kelemahan karakter yang paling tampak pun, tidak mungkin bisa dijelaskan jika tidak dilihat dari satu sudut pandang yang netral.

Bagi Nietzsche, seorang penulis bukanlah orang yang mampu menciptakan karya, namun orang yang telah memasukkan imajinasinya dari sudut pandang netral dan bersih. Orang yang terdiskoneksi dan berperan murni sebagai pencerita dalam kisah besar.

Seperti, misal, Vyasa yang berperan dalam penulisan Mahabharata. Vyasa sendiri merupakan tokoh yang canon dan memiliki peran di dalam cerita. Perannya murni untuk menuliskan dan merekap cerita, serta sedikit membantu pahlawan dari kedua belah pihak. Homer, dan George R.R. Martin tidak melakukan ini, namun aku tidak perlu membahas terlalu dalam karena Vyasa adalah contoh paling mentah dan sempurna, hal yang R.R. Martin dan Homer lakukan sudah sesuai, hanya saja tidak semudah dilihat Vyasa.

Bagaimana dengan Stan Lee? Dapat diasumsikan bahwa Stan Lee yang menginginkan cameo di tiap film MCU merupakan hal yang mirip dengan hal yang Vyasa lakukan. Kurasa, kita tidak akan pernah tahu…

Sampai lain waktu… (masukkan sound effect jeng-jeng. Lalu, cut!)