Category: Experience

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Ini adalah REVIEW tanpa spoiler tentunya. Jika anda ingin diberikan spoiler, atau ingin recap singkat cerita, silahkan klik link ini, dan diam.

Dari Mana Ceritanya Bersambung?

Oke, ada sedikit sekali spoiler yang wajib untuk memberikan review yang menyeluruh. Cerita bersambung sesudah berapa lama?

Burning Maze berakhir ngegantung dengan kematian dari Jason Grace dan munculnya Leo Valdez yang kembali dari Camp Jupiter sesudah mengantarkan kabar. Apollo berangkat naik pesawat ke Camp Jupiter di San Francisco dengan tujuan mengantarkan mayat temannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Cerita ini bersambung sekitar… 2 jam sesudah bab terakhir dari Burning Maze. Aku sendiri tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari Los Angeles ke San Francisco, tetapi aku tahu jaraknya tidak begitu jauh. Intinya, bab terakhir Burning Maze berlangsung di hari yang sama dengan bab pertama Tyrant’s Tomb.

Jadi, jika anda ingin bertanya… Apakah timeline di bukunya lama? Jawabannya tidak. Riordanverse masih nyangkut di tahun 2012. Percy masih berusia 17 tahun dan belum lulus SMA.

Menegangkan, tetapi Lambat.

Cerita Tyrant’s Tomb berlangsung dengan cukup pelan sejujurnya.

Sebelum membangun ulang plot baru untuk buku selanjutnya, dan membereskan pertanyaan yang muncul pada Dark Prophecy dan Burning Maze, Riordan memulai dengan santai dan menjelaskan isi Camp Jupiter, (hal yang ia belum pernah lakukan di Heroes of Olympus) memastikan semua hal aman, dan plot-plot tersambung dengan rapih.

Kurang lebih, plot Tyrant’s Tomb berjalan seperti puisi ABAB. Tegang 4 bab, tenang 4 bab lagi, Tegang, Tenang, Tegang, Tenang. Dalam konteks cerita, Apollo tidak mengalami hari-hari santai sebanyak yang ia alami di Hidden Oracle, tetapi ia juga tidak berusaha dibunuh sesering yang ia alami di Burning Maze dan Dark Prophecy.

Plot berjalan dengan lambat sampai 8 bab terakhir, tetapi Riordan memastikan bahwa pembaca tetap merasa tegang sesekali.

Aku melakukan Speed-Reading tingkat parah sesudah bab 35, meskipun aku membaca 34 bab sebelumnya dengan sangat santai.

Plot Twists?

Aku tahu pembaca akan kebingungan jika aku bilang… “BUKU INI BANYAK PLOT TWIST-NYA”

Aku juga berpikir hal yang sama sesudah membacanya. Sesudah plot twist terbesar sepanjang tulisan Riordan yang terjadi di Burning Maze, aku tidak mengira Riordan masih mampu menciptakan plot twist lebih banyak lagi.

Tetapi, aku mengingat bahwa ada sekitar 3 plot twist yang menutup Tyrant’s Tomb di akhir bukunya.

Oh iya, catatan sangat penting. Jika anda belum membaca bukunya, anda tidak ingin membaca Tyrant’s Tomb dengan spoiler. Itu akan menjadi keputusan yang sangat buruk. Berbeda dengan di Burning Maze di mana anda yakin 100% bahwa Jason Grace telah mati satu bab sesudah dia dibunuh Caligula, Tyrant’s Tomb memberikan plot twist yang unik.

Anda akan merasa tegang jika anda tidak mengetahui bagaimana ceritanya berakhir, jadi, jangan baca bab-bab terakhir sampai gelombang ketegangan terakhirnya telah lewat.

Mitologi?

Seperti buku Trials of Apollo lainnya, Riordan langsung mengenalkan monster baru di bab-bab awal, dan langsung memberikan kerepotan khusus bagi Apollo dan Meg McCaffrey. Jadi, indeks monster mitologis anda tetap bertambah di Tyrant’s Tomb, jangan khawatir.

Selain itu, sumber ramalan yang dituju Apollo pada buku keempat ini adalah buku Sibylline yang ditulis Sibyl of Cumae ketika Romawi masih berupa sebuah kerajaan, sebelum Julius Caesar, sebelum Octavian, sebelum Caligula, dan sebelum Marcus Aurelius.

Buku Sibylline sendiri dikira telah dibakar oleh kaisar Theodosius ketika ia memimpin, namun pada Son of Neptune, Percy, Frank, dan Hazel bertemu dengan seekor Harpy yang memiliki memori fotografis bernama Ella, yang pernah membaca buku yang telah hilang tersebut.

Ella berusaha memecahkan misteri dan merekonstruksi buku tersebut, mengakhiri bab terakhir Tyrant’s Tomb dengan sebuah pertanyaan, sama dengan ketiga buku sebelumnya.

Selain itu, aspek besar lainnya dari Tyrant’s Tomb ada di pengaruhnya Romawi sebagai republik. Bukan sebagai mitologi, tetapi aspek historiknya.

Jika di Camp Half-Blood semua tindakan pahlawan-pahlawan disitu terjadi secara acak, secara tidak terstruktur, dan kemungkinan terjadi karena ada ramalan, atau atas perintah Chiron… Camp Jupiter lebih demokratis dalam penentuannya.

Proses demokrasi ini semacam memperlambat plot, tetapi membacanya tetap menyenangkan, jadi jangan khawatir.

Lester?

Apollo jelas tumbuh sebagai karakter sesudah kematian Jason. Ini hal yang patut dibaca karena semakin ke sini, karakter Apollo sebagai dewa manja semakin hilang, dan walau ia masih suka mengeluh dan memang mengeluh beberapa kali, ia lebih dewasa dan heroik.

Pertumbuhan Apollo sebagai karakter jelas menjadi salah satu alasan Riordan menunda perilisan buku ini. Hanya dalam selang waktu beberapa hari sesudah Jason Grace terbunuh… karakter Apollo berubah drastis.

Apakah Tyrant’s Tomb Pantas Ditunggu Selama Ini?

IYA! Tyrant’s Tomb pantas ditunggu selama ini. Setidaknya, jika anda tidak puas dengan cerita, atau tidak menyukai plot yang relatif lamban ini… adanya deskripsi yang cukup detil tentang Camp Jupiter, New Rome, dan aktivitas demigod Romawi yang berbeda jauh dengan demigod Yunani cukup untuk memuaskan rasa penasaran anda.

Selain itu, pertemuan dengan Frank Zhang, Reyna, dan demigod Romawi lainnya juga menyenangkan, dan memberikan sebuah bentuk kepuasan tersendiri.

Ini review bebas spoiler, dan sejujurnya, buku ini sangat sulit dijelaskan tanpa spoiler, jadi… baca sendiri saja! Selamat menikmati!

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Aku kembali ikut kuliah umum berseri! Hore! Kali ini, aku ikut kuliah umum di ITB, dengan tujuan kembali ke dunia empirik sesudah banyak (banget) mengkhayal di Unpar.

Materi pertama yang kudapatkan di serial Kuliah Umum Sains arus 1 tentang… *masukkan drumroll* alien. Oke, mungkin bukan alien, istilah alien sendiri kurang tepat, lebih tepatnya kehidupan di planet lain.

Materi ini diberikan Ibu Avivah dari Langit Selatan.

(buat yang tidak berdomisili di Bandung, atau memang tidak tahu… Langit Selatan adalah sebuah organisasi yang lumayan sering mengadakan acara observasi bintang.)

Selamat menikmati recap + komentar dan opini dari kuliah umum kali ini!

Materi-Materi Pembentuk Kehidupan.

Sebelum masuk terlalu dalam ke konsep pencarian dan cara pencarian oleh astronom di dunia, pertama-tama mari kita masuk dan mencari apa yang sedang dicari.

Air

Materi nomor satu yang dicari. Air. Kenapa air? Dari zaman filsuf Yunani, tepatnya, Thales dari Miletus, salah satu bapak dari ilmu pengetahuan, air adalah benda yang paling krusial dalam pembentukan kehidupan.

Air berperan penting dalam kehidupan manusia, serta dalam suhu, serta tekanan udara di suatu planet.

Jika planet dapat menyokong air dalam bentuk cair, besar kemungkinan bisa ada makhluk hidup yang mampu tinggal di planet tersebut tanpa merasakan suhu terlalu panas, terlalu dingin, dan tanpa kehilangan oksigen.

Oksigen

Kehidupan yang similer, (walau berbeda bentuk) dengan manusia, kemungkinan besar menggunakan oksigen sebagai gas yang berperan dalam respirasi. Jika ada air, maka ada oksigen, dan jika ada oksigen, berarti ada makhluk hidup yang mampu memprosesnya.

Adanya air berarti adanya oksigen, walaupun tidak dalam bentuk murni, dan adanya oksigen berarti ada kemungkinan penyokongan air.

Alasan penggunaan air sebagai fluida dan Oksigen sebagai gas yang menjadi kriteria pencarian planet yang mungkin bisa menyokong kehidupan, ada di pentingnya air untuk kehidupan berbasis karbon. Faktanya, kehidupan berbasis karbon (seperti pada dasarnya semua makhluk hidup di bumi) membutuhkan air, dan tentunya oksigen untuk bisa hidup.

Pertanyaan, mungkin, apakah mungkin jika ada penyokongan kehidupan dengan unsur lain, selain karbon misalnya?

Meskipun tidak dicari (setidaknya tidak dalam demand sebesar karbon), jawabannya iya, ini hal yang mungkin. Sebagai contoh (yang memang borderline science fiction, tapi tetep…) kehidupan berbasis Silikon tidak butuh air ataupun oksigen. Kehidupan berbasis Silikon akan cenderung mekanikal/robotika.

Planet-Planet yang dicari?

Kita sudah tahu apa zat yang dicari… sekarang mari kita masuk ke planet-planet yang dicari.

Pertama-tama… Planet batuan, atau setidaknya, satelit dari planet batuan. Karena, kita tidak bisa berdiri di atas gas, dan planet es akan membekukan semua potensi kehidupan. Oh, dan gravitasi dari planet gas terlalu besar untuk bisa membiarkan kehidupan tumbuh.

Kedua, planet tersebut harus berada di zona Laik Kuning. Namun, karena nama Laik Kuning terdengar membosankan, kita akan mengenal zona Laik Kuning dengan istilah Zona Goldilocks, dinamakan dari cerita Goldilocks and the Three Bears. Not too hot, not too cold. Cari sup milik anak beruang, bukan Papa Beruang (yang terlalu panas), atau Mama Beruang (yang terlalu dingin).

Ketiga, kemungkinan besar, planet tersebut harus berada di tata surya dengan bintang berwarna merah atau kuning, dan tidak terlalu besar.

Kriteria pencarian sudah dicoret, sekarang mari kita masuk ke pencarian itu sendiri!

Tata Surya

Sebelum mencari terlalu jauh…

Kabar baik, di alam semesta ada tiga satelit yang memiliki potensi untuk punya air. Adanya air berarti adanya oksigen, dan ini memberikan kemungkinan adanya kehidupan, atau setidaknya bibit-bibit kehidupan yang bisa muncul dari hal tersebut.

Pertama-tama, ada dua Satelit Jupiter, Europa, serta Io. Keduanya diberi nama berdasarkan pacar dari Dewa Jupiter sendiri (seperti semua satelitnya yang lain, karena pacarnya Jupiter sangat banyak), dan Europa adalah alasan benua Eropa bernama Eropa.

Kedua satelit tersebut memiliki atmosfer serta tekanan udara yang cukup untuk menyokong air, dan tentunya oksigen, tetapi memiliki sedikit masalah karena terletak cukup jauh dari matahari, dan memiliki jumlah es yang tidak sedikit. Io, memiliki air di bawah lapisan es yang tebal…

Berikutnya, ada Enceladus, satelit dari Saturnus, dan diberi nama dari seorang raksasa yang merupakan adik dari Saturnus, yang lahir dari Ibunya, Terra. Enceladus lahir untuk melawan Dewi Kebijaksanaan Minerva (juga diketahui dengan nama Yunani-nya, Athena).

Enceladus sendiri tampak seperti bulan. Berwarna abu-abu, sedikit berdebu, dan memiliki beberapa jerawat…

Tetapi, Enceladus memiliki air, atau setidaknya cairan. Ada metana di bawah lapisan berdebu tersebut. Memang, tidak ada air, dan secara teknis, seharusnya tidak perlu pencarian karena tidak adanya air, tetapi, Enceladus begitu dekat sehingga tidak mungkin untuk mengabaikan fakta bahwa ada kemungkinan kehidupan muncul di satelit tersebut.

Mungkin pada titik ini anda akan bertanya… “Kalau ada alien di Enceladus, bentuknya seperti apa?” Aku akan masuk ke sini, tetapi… sabar sedikit.

The Rest of the Universe?

Selamat datang di bagian yang berisi banyak hitungan matematika yang sebenarnya tidak penting, dan tidak ada di kuliah umum, tetapi aku ingin melakukannya karena menurutku ini menyenangkan!

Jika ada 100.000.000.000 galaksi di alam semesta. (angka merupakan tebakan kasar dari banyak membaca buku dan sejujurnya, siapa yang tahu jumlah pastinya?)

Dalam tiap Galaksi, ada 100.000.000.000 Bintang. (Sama, tebakan kasar juga, lagian, siapa yang tahu?)

Jika kita asumsikan, satu Bintang memiliki 8 planet, berarti ada 800.000.000.000.000.000.000 planet yang memiliki potensi kehidupan. Sayangnya, bintang yang berwarna Merah atau Kuning, ataupun bintang katai merah (sedikit lebih kecil dari Matahari) hanya 1/10, mungkin lebih sedikit dari jumlah tersebut.

Berarti, kita ada 8.000.000 planet untuk dipikirkan. Berikutnya, dalam satu tata surya, hanya ada (paling banyak) 3 planet yang terletak di zona goldilocks. Berarti, dari 9-10 planet di satu tata surya, hanya 3 yang memiliki potensi kehidupan. Ini menyisakan 1.6 sekian juta…

Dari begitu banyak planet yang ada di tata surya… apakah anda bisa berpikir bahwa hanya di bawah dari 3% dari planet tersebut yang bisa menyokong kehidupan? Ini belum menghitung adanya oksigen atau air lho.

Jadi, apakah pencarian kehidupan merupakan hal yang realistis?

Hasil Pencarian…

Aku payah dalam mengingat angka.

Maaf.

Plus, aku belum sempat mendapatkan fotokopi karena masih terdaftar sebagai peserta sit-in.

Namun, total dari 9000-an planet yang dicari, ada sekitar 300 planet, mungkin lebih, yang mampu menyokong kehidupan, dan masih ada 50++ planet yang belum jelas kondisinya.

Lalu, datanglah pertanyaan besar. Bentuk kehidupan apa yang akan muncul dari planet-planet tersebut?

Sayangnya, ini masih science fiction. Tata surya kita tercipta dalam kondisi amat ideal, dan sayang sekali, masih banyak planet alam semesta yang belum bisa menciptakan bakteria terkecilpun dari lautannya yang mungkin luas.

Kehidupan semua berevolusi dari bakteria, dan jika tidak ada bakteria, berarti tidak ada moluska, tidak ada tumbuhan, tidak ada hewan, dan tidak ada manusia… Planet macam apa yang bisa menciptakan bakteria?

Jadi pikirkanlah. Seberapa beruntungnya manusia?

Tiga Teori Probabilitas.

Tiga Teori Probabilitas.

Kemungkinan sesuatu terjadi secara acak sangat tinggi, dan sangat memungkinkan ada aspek kehidupanmu yang terpengaruh karena hal yang acak tersebut. Itu hal yang sudah cukup umum, dan terkadang, orang-orang menyepelekan hal-hal acak ini terjadi. Mulai dari hp-mu menjadi target bombing SMS, hingga mengocok dadu, probabilitas sesuatu hal buruk, atau baik terjadi, umumnya sama.

Tulisan hari ini tidak akan mengupas terlalu banyak tentang probabilitas, tetapi ia akan mengupas cara manusia mempersepsikan hal-hal yang terjadi secara acak, dan hal-hal yang benar-benar terjadi secara nyata.

Ketiga teori yang akan aku tuliskan di sini bukan berupa hukum dan tidak absolut, tetapi setidaknya anda pernah menjadi korban salah satu teoriku, baik disadari atau tidak.

Inspirasi: Fooled by Randomness by Nassim Nicholas Taleb.

Teori 1: Sesuatu yang tidak absolut, akan dipercayai sebagai mungkin

Teori pertama adalah alasan orang-orang masih membeli tiket lotre. Selama kemungkinan sesuatu terjadi masih ada, orang-orang akan terus mempercayai kemungkinan tersebut terjadi pada mereka, mau seberapa tidak mungkin hal tersebut terjadi.

Hal sekecil 0.00000000001% terjadi akan dipersepsikan sebagai kemungkinan yang nyata. Mau seberapa kecil kemungkinannya, kemungkinan tersebut tetap ada, dan dipercayai sebagai hal yang bisa dan/atau akan terjadi.

Tentunya, kemungkinan hal-hal yang tampak tidak mungkin terjadi itu memang ada, dan memang pernah terjadi. Bisa dilihat dari pemenang lotre yang benar-benar menang, hingga ke cerita klub kecil dengan peluang menang rendah dengan magisnya mengambil piala terbesar di liga lokal, sampai ke cerita-cerita miskin ke kaya yang sering muncul… harapan untuk hal tersebut terjadi akan selalu ada.

Manusia akan terus percaya dan berharap akan ditemukannya alien sampai ada bukti pasti bahwa alien tersebut tidak ada. Tetapi, karena hukum yang sama, manusia tidak akan pernah percaya akan adanya burung Dodo yang sudah punah, dan itu adalah hal yang absolut. Hal yang pasti, dan hal yang tidak bisa diulangi.

Harapan adalah hal yang berbahaya, begitu kita berharap akan suatu hal, mau secara logis probabilitas hal tersebut tidak bisa direalisasi, maka kita tidak akan melihatnya sebagai probabilitas 1/100000. Kita akan melihatnya sebagai suatu hal yang mungkin terjadi, baik kemungkinannya kecil, atau besar.

Teori 2: Ketika hal baik terjadi, manusia akan melihatnya sebagai bagian dari kemampuan yang mereka miliki.

Teori kedua terdengar panjang, aku tahu. Sebelum masuk dan menjelaskan teori ini, aku perlu memberi klarifikasi bahwa Taleb terdengar seperti orang sok tahu ketika menuliskan Fooled by Randomness. Ralat, aku cukup yakin bahwa hampir semua buku Taleb yang telah kubaca membuatnya tampak seperti orang sok tahu, walaupun yang ia katakan memang benar. Di Fooled by Randomness, Taleb menyatakan bahwa teori 2 dan 3 (yang aku pisahkan dan klarifikasi sendiri tentunya) adalah hal yang absolut, dan cara manusia mempersepsikan kedua hal ini terjadi akan selalu seperti itu, seolah-olah tidak ada kemungkinan mereka melakukannya secara positif. Aku menuliskannya sebagai teori dengan alasan bahwa ini tidak 100% pasti terjadi.

Kembali ke topik. Teori kedua adalah teori yang menyatakan bahwa ketika manusia menerima keberuntungan dalam mengerjakan sesuatu, mereka akan melihatnya sebagai bentuk lain dari skill yang mereka miliki, seolah-olah mereka mampu mengerjakan hal tersebut tanpa adanya bantuan dari Fortuna, alias Nyonya Keberuntungan.

Ketika seorang pegawai -tanpa melihat watak orang tersebut sombong atau rendah hati atau campuran keduanya-  melihat bahwa ia mampu mengerjakan tugas A, meskipun ia melakukannya hanya karena ia beruntung, ia akan melakukan tugas A lagi dengan asumsi bahwa ia bisa melakukannya. Ketika Fortuna tidak datang untuk kedua kalinya, mereka akan kesulitan, karena mereka punya asumsi bahwa mereka bisa melakukan tugas tersebut.

Usaha yang diberikan mungkin sama, mungkin berbeda, bagiku itu irelevan, karena yang dibahas adalah cara mempersepsikan sesuatu, bukan kenyataannya.

Persepsi yang ditangkap ini bisa menjadi berbahaya bukan hanya untuk orang yang menjadi korban ke mispersepsinya sendiri, tetapi juga orang lain yang mengambil persepsi kepada orang tersebut.

Lalu, berikutnya, kita akan bahas yang diketahui dengan ekspektasi.

Ketika seseorang diminta bosnya mengerjakan Tugas A tadi, lalu bosnya menilai hanya dari satu sampel saja, bos tersebut yakin bahwa jika ada pekerjaan yang membutuhkan tugas A, ia bisa memberikannya ke pegawai tersebut, dengan harapan ia bisa mengulangi kesuksesannya lagi.

Ketika kesuksesan tersebut gagal terjadi… barulah ada relevansinya dengan karakter bos-nya. Apakah bosnya orang yang rasional atau yang menilai secara emosional?

Bagaimanapun juga, ketika ada hal yang baik terjadi, dan kesuksesan mengerjakan suatu tugas, anda jangan mau terjebak sendiri oleh mispersepsi ini, dan nilailah dengan objektif sesudah mengerjakan suatu tugas, ujian, atau semacamnya… apakah aku dibantu oleh keberuntungan?

Teori 3: Ketika hal buruk terjadi, manusia akan menilai dan menciptakan alasan bahwa itu terjadi karena mereka sedang tidak beruntung, bukan karena inkompetensi.

Teori ketiga adalah inversi (alias pembalikan) dari teori kedua.

Esensi kedua teori sama, namun kali ini, overestimasi itu terjadi dengan penciptaan alasan, entah itu “aku sedang mengalami hari yang buruk”, atau “aku lagi kurang beruntung” dan sebagainya.

Sebagai contoh, pegawai lain di kantor yang sama dengan pegawai di teori dua tadi diminta bos-nya mengerjakan tugas B. Ia sukses mengerjakan tugas B tanpa adanya masalah, dan dengan minim bantuan keberuntungan, ia bisa mengerjakan tugas B, murni karena kompetensi dan kapasitasnya sebagai seorang pekerja.

Keesokan harinya, sesudah melihat pegawai tersebut dan kehandalannya mengerjakan tugas B, ia meminta orang tersebut mengerjakan tugas B+. Tugas B+ membutuhkan skill dan waktu yang kurang lebih sama dengan tugas B, dengan pengecualian bahwa tugas B+ membutuhkan satu langkah tambahan ketika proses pengerjaannya sudah beres.

Pegawai tersebut menganalisa pekerjaannya setengah matang dan tidak menyadari bahwa ia perlu melakukan langkah tambahan dari tugas B, dan ia melupakannya karena inkompetensi.

Ketika melaporkan ke bos-nya, dan ditanyakan kenapa ia gagal melakukan tugas tersebut, ia membuat alasan bahwa (misalnya) ia lupa minum kopi hari itu, atau anaknya sedang menangis sangat keras pada malam sebelumnya sehingga ia kekurangan tidur, tanpa menyadari bahwa ia melakukan hal tersebut karena adanya inkompetensi dari kemampuan analisanya.

Sesudah ini, bos tersebut mengasumsikan bahwa pegawainya ini tidak mampu mengerjakan tugas B+, padahal hanya ada perbedaan satu langkah kecil di akhir proses dari tugas B.

Jika isu dari teori kedua adalah overestimasi kemampuan yang tidak nyata, isu dari teori ketiga terletak di overestimasi kemampuan berdasarkan faktor yang tidak nyata. Kemampuan yang ia miliki memang kurang (sebagai contoh) di bidang analisa tadi, tetapi, ia malah menggunakan emosinya untuk menilai dan memberikan alasan bahwa ia tidak mampu mengerjakan tugas tersebut, alih-alih menilainya secara rasional.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang irasional, tetapi rasional.

Kita menyetir dengan otak, atau dengan hati. Ketika kita menyetir dengan otak, kita dapat melewatkan hal-hal sederhana dan yang harusnya disadari manusia dengan kesadaran tertentu. Ketika menyetir dengan hati, pada sisi lain, kita melewatkan hal-hal yang seharusnya disadari secara logis.

Kesalahan terbesar manusia adalah kegagalan untuk menemukan keseimbangan antara kedua hal ini.

Taleb menunjukkan dan mengingatkan bahwa kita sering salah mempersepsikan kejadian dan menyalahkannya atau menyembunyikan fakta bahwa ada keberuntungan yang berperan di situ.

Aku menjelaskan bahwa kita butuh keseimbangan yang tepat untuk bisa menganalisa hal-hal tersebut dengan netral, dan dengan rasional.

Sampai lain waktu.

Mortalitas

Mortalitas

Iya. Judul artikel ini aku pepet dalam satu kata. Mortalitas.

Ceritanya aku lagi bosan di rumah, dan aku sudah menulis dua tulisan hari ini, lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Avengers: End Game (there goes 3 hours of my life). Kenapa End Game? Film yang ada hanya itu… Aku harus membeli USB 32 giga agar bias banyak kopi film dalam sekali jalan dari teman.

Anggap sajatulisan yang di bawah 1000 kata ini adalah bonus.

Tragedi

Ya. Aku sudah menuliskan cukup banyak tentang tragedi, tetapi belum pernah ada satu pun artikel yang khusus disiapkan mengenai tragedi.

Manusia sepertinya menyukai akhir yang tragis seiring mereka bertambah umur. Mitologi-mitologi dari zaman dahulu kala jelas mencerminkan itu. Kita melihat sedikit happy-ending seperti yang terjadi pada Perseus, pada Horus, pada Romulus, pada orang lain yang namanya tidak berakhir dengan –us. Tetapi, mayoritas mitologi (dan aku cukup yakin film di zaman sekarang) lebih laku dan diingat jika memiliki ending yang tragis.

Ini mungkin alasan aku masih menonton End Game pada bulan September.

Padaakhirhari, cerita yang dialami Perseus, Horus dan Romulus hanya memberikan image yang baik untuk anak kecil. Semakin dewasa seseorang, semakin besar cintanya pada tragedi.

Shakespeare menuliskan Antony and Cleopatra, Julius Caesar, tetapi tidak menuliskan tentang Octavian (Augustus Caesar mungkin lebih sering diingat karena ia menyukai dipanggil Caesar) karena berdasarkan sejarah Antony, Caesar, dan Cleopatra mendapatkan ending yang sedih.

Selain drama-drama yang diberikan oleh Shakespeare (ekuivalen film Superhero terbaru di zaman dahulu kala), tentunya juga ada drama Dionysian. Drama yang diberikan sebagai persembahan untuk dewa tersebut menyukai tokoh-tokoh seperti Oedipus, Hercules, Theseus, dan semacamnya… karena cerita tersebut berakhir dengan tragis. Tidak ada satu pun happy ending (Hercules menjadi dewa, tapi tetap, pahlawan selevel dia tidak pantas dibunuh oleh istrinya sendiri dengan racun karena istrinya mengira ia sedang selingkuh).

Kurang lebih, film PG-13 yang tragis sesuai dengan drama Dionysian, dan cerita-cerita dengan happy ending tersebut sesuai dengan film PG, yang mengizinkan anak-anak menonton.

Heroisme

Heroisme telah mati, dan Mortalitas muncul.

Heroisme bergantung erat pada konsep seseorang yang ideal, seseorang yang rela melakukan hal-hal bodoh dan/atau berani untuk kepentingan orang lain. (klik disini untuk detil lebih banyak tentang penulis)

Apa yang seorang remaja, atau manusia dewasa pikirkan jika jenius selevel Tony Stark mati pada sebuah pertarungan hanya karena ia menjentikkan jarinya? Apa yang akan dipikirkan oleh seorang calon prajurit di militer kota ketika petarung seperti Achilles dipanah sampai mati?

Manusia tampaknya tidak akan pernah bisa menerima kematian, karena segala bentuk hiburan yang disajikan, terutama yang sukses, kembali lagi dan mengungkit kematian tersebut. Kematian tersebut juga terjadi bukan pada manusia biasa, tetapi ke “Superman“ (bukan Clark Kent, maksudku konsep punya Nietzsche)

Komik yang sold out dalam durasi terpendek adalah Death of Superman dari DC. Film dengan penjualan box office terbesar adalah Avengers: Endgame. Dan drama Shakespeare paling populer sampai hari ini adalah Macbeth, serta Romeo and Juliet.

Macbeth berakhir dengan kematian karena tokoh utamanya menjadi gila sesudah membunuh sahabatnya dan tidak bias menerima masa depannya yaitu akan dibunuh (wow, kata-kata yang menyenangkan) oleh anak sahabatnya tadi sebagai balas dendam dan pada akhirnya ia menjadi paranoid dan terbunuh oleh anak sahabatnya tadi.

Romeo and Juliet berakhir dengan bunuh diri.

Manusia ideal saja bias mati kapan saja, dengan tujuan yang sempurna. Apa yang akan kita bias lakukan sebagai manusia?

Mortalitas

Freud tampak kurang akurat. Freud mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bias menerima kematian. Aku bukan seorang psikolog, tetapi aku yakin bahwa yang Freud katakan terlalu absolut.

Tapi tentunya ini berasal dari bocah berusia 16 tahun yang baru saja membuang 3 jam hidupnya menonton ulang film yang ia sudah ketahui akhirnya, jadi jangan benar-benar dengarkan diriku juga.

Mortalitas adalah hal yang manusia tidak akan pernah bias terima, terutama jika itu terjadi pada orang lain. Tampaknya, kita tidak akan pernah bias menerima kematian yang terjadi pada Tony Stark. (oke, kontrak miliknya habis, tetapi, anda mengerti maksudnya)

Kita berusaha hidup dengan pengetahuan penuh bahwa pada akhirnya, siapapun kita, seberapa hebatnya kita, seberapa banyak uang yang kita kumpulkan, pada akhirnya, kita hanya akan meninggalkan dunia, dengan bayang-bayang kehidupan yang kita miliki.

Kematian tidak bias diterima selama kita hidup dalam bayang-bayangnya. Itu pesan hari ini. Para pahlawan yang pernah ada, mereka semua sudah paham besar risiko yang mereka ambil jika mereka gagal. Kematian adalah hal yang kita perlu pahami. Lagian, hidup ini adalah proses, sepertinya ketakutan akan kematian terjadi pada pahlawan fiktif ini membuat kita bingung. Tragedi adalah tragedi karena kita bukan dewa. Kita perlu menerima realita pahit ini.

Seorang pahlawan menjadi pahlawan ketika mereka bisa menerima bahwa mereka akan mati dalam tugas. Ini alasan kita mencintai tragedi dan takut akan mortalitas. Kita tidak bisa menerima kematian dan tidak akan pernah menjadi pahlawan…

So… Aku menyimpulkan bahwa…pesan terakhir dari End Game adalah… “Selamat, anda baru saja menghabiskan 3 jam kehidupan anda hanya untuk mengetahui bahwa pada akhirnya, anda akan mati. Semoga anda cukup beruntung untuk bisa menemukan 3 jam tersebut kembali.” (No amount of money would ever buy a second of time right?)

Untukku, aku baru saja membuang 6 jam karena aku menontonnya dua kali… Ya sudahlah, sudah ada 2 tulisan yang dibuat hari ini.

“So, I’d thought it would be good for me if I record a little greeting, in the case of an untimely death. On my part. I mean, not that death at any time is untimely. Then again, that’s part of the hero gig isn’t it? Part of the journey is the end.” –Tony Stark.

Asal Usul Sejumlah Kata. Episode 1.

Asal Usul Sejumlah Kata. Episode 1.

Tulisan hari ini akan membahas beberapa kata dalam bahasa Inggris, dan dari mana asal kata-kata tersebut. Bahasa Inggris adalah bahasa yang begitu kuat dan relatif mudah untuk dipelajari kebanding dengan bahasa Prancis, Jerman, atau Spanyol misalnya.

Kunci dari Inggris menjadi bahasa yang dominan dan mudah dipelajari terletak di penggunaan huruf latin, struktur bahasa yang tidak ribet dan jarang memiliki tingkatan kesopanan seperti Urang dan Abdi di bahasa Sunda, Tu dan Vouz di bahasa Prancis, dan sebagainya, serta di kecepatan bahasa Inggris menyerap kata-kata.

Tulisan ini terinspirasi dari buku Etymologicon, silahkan cari, menurutku itu buku sangat bagus dan menarik, serta sangat bermanfaat jika anda senang menghapalkan hal-hal yang tidak penting, tetapi tetap menyenangkan untuk diketahui.

Kalimat tersebut dapat ditranslasikan menjadi tiga kata… “You’re a geek.”

Selamat menikmati!

Guillotine

Aku harus mengakui bahwa kata Guillotine sendiri cukup berat. Terutama mengingat ini adalah kata yang ditujukan untuk membuka tulisan ringan hari ini. Namun, aku memilih kata ini karena cerita di belakangnya sangat-sangat ironis serta menyedihkan.

Sebelum membahas kata Guillotine, ada beberapa ironi dari Iliad dan Odyssey milik Homer yang perlu diketahui oleh pembaca.

Ajax, ahli perang dan tombak dari pejuang Yunani, menjadi brand pembersih kaca. Hector adalah nama yang umum digunakan dalam beberapa drama modern, bukan untuk pahlawan, tapi biasanya untuk bos yang galak. Achilles menjadi nama otot di kaki, et cetera.

Hanya ada dua orang dalam ingatanku yang mendapati nama mereka digunakan untuk hal baik, yaitu Paris yang namanya digunakan untuk kota. Serta Odysseus yang namanya menjadi kata Odyssey. Sisanya memiliki nasib buruk. Jika aku seorang pejuang Yunani, aku tidak akan mau menjadi seorang pahlawan kalau orang yang tidak membaca ceritaku menggunakan namaku untuk pembersih kaca.

Lalu, dari mana Guillotine mendapatkan namanya?

Tidak lama sebelum revolusi Prancis, seorang cendekiawan asal Prancis dengan nama belakang Guillotin mendapati fakta bahwa orang-orang dieksekusi dengan cara yang terlalu brutal. Ia membuat sebuah prototipe lalu meninggal sebelum prototipe itu ia berikan ke kerajaan Prancis. Jadi, ketika teman-temannya sedang membereskan pekerjaannya dan menemukan prototipe itu, mereka kebingungan akan menggunakan nama apa untuk beda tersebut.

Pada titik inilah aku merasa teman-teman tersebut telah merusak nama baik Dr. Guillotin.

Mereka menyebut alat eksekusi tersebut Guillotine. Oke, Dr. Guillotin sendiri tidak melakukan kesalahan apa-apa kan? Bahkan jika anda bertanya padaku, ia menghilangkan rasa sakit dan kematian pelan yang sering terjadi untuk kriminal. Hukuman mati memang hukuman mati pada zaman tersebut, tetapi karena bantuan Dr. Guillotin, kematian tersebut dapat dilakukan tanpa adanya penyiksaan…

Apa akibat dari penamaan penemuan ini oleh teman-teman Dr. Guillotin? Ha…

Istrinya merubah nama belakangnya ke namanya sebelum menikah karena malu, dan ia meminta anak-anaknya untuk merubah namanya juga ke nama Ibu mereka. Jika misal anak mereka bernama Antoine, sebelumnya dengan nama Antoine Guillotin, sekarang namanya menjadi Antoine *masukan nama belakang istri Dr. Guillotin*.

Moral dari cerita ini? Ketika anda ingin menciptakan sesuatu, tolong berikan nama pada ciptaan milik anda. Terutama jika ciptaan tersebut punya fungsi negatif.

Mortgage

Apakah anda suka membaca buku fantasi di bahasa Inggris? Kalau iya, anda tidak akan kebingungan kalau mendengar istilah Mortuary. Anda suka menonton CSI atau NCIS atau acara televisi lain yang berhubungan dengan kegiatan detektif? Kalau iya, anda pasti familier dengan kata Morgue. Terakhir, anda sering melihat iklan bank atau semacamnya di bahasa Inggris? Kalau iya, anda pasti tahu dengan istilah Mortgage.

Mortuary, Morgue, dan Mortgage semuanya berasal dari satu “ayah” kata. Mort. Bahasa Prancis untuk Kematian.

Mortuary adalah istilah untuk catatan sebelum orang meninggal, Morgue adalah istilah tempat orang meninggal disimpan secara sementara, dan Mortgage berasal dari istilah Mort, serta Gage. Gage berarti perjanjian.

Mortgage secara harfiah di bahasa Prancis berarti Death Deal, atau Perjanjian Kematian.

Kenapa kata ini bisa muncul seperti itu? Hukum-hukum pada masa kata Mortgage masuk ke Bahasa Inggris, dan kalau aku tidak salah (aku bukan spesialis hukum, tolong diingat) sampai sekarang… Jika seseorang punya hutang yang perlu dibayarkan ke Bank, bahkan sesudah kematian, keluarganya masih perlu menanggungnya.

Jadi, lain kali anda bermain Monopoly, anda tahu asal kata Mortgage dan bisa mengingatkan teman-teman anda yang memanfaatkan fitur ini terlalu banyak bahwa entar itu akan menjadi tanggungan oleh anak-anak dan pasangan mereka di masa depan.

Alcohol

Asal usul kata yang satu ini pasti membuat orang-orang bingung. Kenapa?

Tentunya anda yang tinggal di Indonesia (atau di manapun di dunia ini jika ada komunitas Muslim) tahu bahwa kami orang Muslim tidak mengonsumsi Alkohol. Tetapi, kata Alcohol sendiri berasal dari bahasa Arab. Al-Kuhli lebih tepatnya.

Al-Kuhli berarti yang menutupi, atau yang menyembunyikan.

Alcohol menyerap kata yang menutupi ini sebagai alasan bahwa pengonsumsi alcohol berusaha menutupi atau menyembunyikan perasaan dan masalah mereka dengan meneguk Bir, atau Wiski.

Lalu, jika kata Alcohol masih kurang familier, ada kata lain yang anda mungkin kenali, terutama jika pembaca adalah perempuan. Al-Kuhli juga asal dari kata Kohl.

Kohl adalah sejenis make-up atau mascara yang digunakan juga untuk menyembunyikan, alhasil, ia berasal dari kata yang sama dengan Alcohol. Perbedaan sedikit di fakta bahwa salah satu bersifat harfiah dan yang satu adalah perumpamaan, tapi tetap saja…

Jadi, lain kali seorang perempuan menggunakan make-up, anda bisa mempercepat prosesnya dengan menjelaskan asal usul dari kata Kohl dan Alcohol, lalu masuk ke kata lain dan membuatnya bosan agar prosesnya makin cepat!

Sama-sama!

Duct Tape

Kata terakhir yang akan aku sebut adalah kata yang bersifat positif bagi orang-orang praktis dan untuk orang-orang yang senang memperbaiki barang yang sudah rusak.

Duct Tape. Mungkin beberapa orang yang jarang membaca kata ini tapi sering mendengarnya, mengira bahwa ia dieja Duck Tape, dan aku bisa mengingatkan anda bahwa sekarang itu ejaan yang salah, Word juga marah dan memberikan garis biru di bawah tulisan tersebut, tetapi, anda tidak 100% salah.

Pencipta Duct Tape memberi nama ciptaannya Duck Tape dengan alasan itu bisa menahan air, seperti kaki bebek dan selaput di antara jari kakinya. Namun, beberapa pengguna dan pembeli benda tersebut sering menggunakannya untuk menutup Air Duct.

Mereka hanya mengetahui nama benda tersebut secara verbal. Pada Perang Dunia I dan II, penggunaan produk ini melonjak dan ketika orang ingin memastikan pengejaannya, mereka mengira bahwa karena perekat ini digunakan untuk Air Duct atau Water Duct, umumnya di beberapa kendaraan, istilah yang mereka sering gunakan adalah Duct Tape, alih-alih Duck Tape.

Bagus, karena aku tidak butuh hadirnya merek Donald Duck Tape. Nama tersebut mungkin menggoda orang lain dengan nama Donald untuk memasangkan namanya di brand Duck Tape.

Jadi, eja sebagaimanapun anda inginkan, dan sejujurnya, keduanya sama-sama benar!

Kesimpulan

Trivia, Trivia, Trivia.

Aku sangat menyukai Trivia. Semakin tidak penting dan semakin aneh sesuatu, kemungkinan besar semakin mudah bagiku mengingatnya…

Ini baru Episode 1, tentunya akan ada Episode-episode berikutnya! Sampai lain waktu!

Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Tiap kali bursa transfer terbuka atau tertutup, muncul banyak pertanyaan. Bagaimana cara sebuah klub papan tengah di Liga Inggris mampu untuk membeli calon bintang, atau bahkan bintang dari sebuah klub papan atas (top 6) di liga Eropa lainnya?

Dalam bursa transfer terakhir saja, Moise Kean dari Juventus pindah ke Everton untuk 29 Juta Euro, Sebastian Haller dari Frankfurt pindah ke West Ham untuk 40 juta Euro, Ismaila Sarr dari Rennes pindah ke Watford untuk 26 juta Euro, Joelinton dari Hoffenheim pindah ke Newcastle untuk 40 juta Euro, dan seterusnya. Dan daftarnya masih terus bertambah panjang

Haller yang bisa bermain di Champions League untuk Frankfurt di musim 2019/20 memutuskan untuk pindah ke Inggris
Kean yang membantu Juventus menjuarai Serie A memutuskan pindah ke Everton

Pembelian rekor klub-klub papan tengah EPL ini setara dengan pembelian rekor klub-klub papan atas (posisi 3-6) di Liga Italia (pengecualian khusus untuk Inter dan Roma tentunya, kedua klub ini menghasilkan banyak sekali uang dari sponsor), Liga Jerman, dan Liga Prancis.

Pertanyaan besar yang muncul adalah, bagaimana mereka bisa mengeluarkan uang untuk ini, dan mengapa pemain rela pindah dari klub papan atas, ke klub papan tengah di Inggris?

Kita bicara tentang seorang striker berbakat dengan usia di bawah 20 tahun, masa depan timnas Italia yang lagi berantakan, dan membantu Juventus memastikan gelar Serie A tetap jatuh ke tangannya… pindah ke klub di Liga Inggris yang bahkan tidak bisa selesai di 50% teratas pada akhir musim lalu, dan akan selalu dibayang-bayangi klub sekotanya.

Kenapa ya?

Like, seriously. Money.

Oke. Faktor paling sederhana dan mudah untuk seorang pemain pindah adalah uang.

Kenapa tim-tim posisi ketiga hingga keenam liga Eropa lainnya kesulitan untuk membeli atau setidaknya menyimpan pemain-pemain yang mereka hasilkan atau temukan?

Liga Inggris membagi 8.66 Milyar USD (income yang sangat besar) pada tahun 2018 ke 20 tim dengan rasio… 50% diberikan bulk di awal, secara rata antara keduapuluh klub. 25% diberikan secara gradual tiap kali ada pertandingan yang dimainkan, juga secara rata. Lalu 25% sisanya dibagikan berdasarkan posisi klub di akhir tabel. Pembagiannya juga tidak begitu berbeda jauh, kecuali kau membandingkan tim paling atas dengan ketiga tim relegasi.

Nah, mari kita masukan angka itu ke dalam perspektif dan membandingkannya dengan liga-liga lain.

  • La Liga, liga nomor 2 di Eropa menghasilkan 4.7 milyar USD tiap tahunnya, hanya sedikit di atas 50% uang yang dihasilkan klub di Inggris,
  • Serie A, menghasilkan 3.9 milyar USD tiap tahunnya,
  • Bundesliga menghasilkan 3.4 milyar USD per tahun
  • Ligue 1 menghasilkan 2 milyar USD tiap tahun.

Sekarang, mari kita bandingkan angka tersebut berdasarkan tempat klub-klub tersebut berdiri pada akhir musim.

Huddersfield yang finis di posisi terbawah Liga Inggris mendapatkan uang SETARA dengan uang yang Barcelona terima sebagai Juara Liga Spanyol. Huddersfield juga mendapatkan lebih banyak dari Atletico, Juventus, Bayern, dan PSG secara mentah dari Liga.

Uang ini tidak menghitung sponsor atau tiket tentunya, karena jika sponsor dihitung, kita akan melihat angka yang sangat berbeda di sini, mengingat Bayern dan Juventus mendapatkan stadion yang cukup penuh tiap kali ada pertandingan.

Coba pembaca pikirkan sedikit terlebih dahulu. Sebuah klub yang sukses bermain di Liga Inggris bisa kalah lebih dari 30 pertandingan dalam satu musim yang berlangsung 38 pertandingan, dan menghasilkan uang lebih banyak dari tim yang memenangkan 33 pertandingan dalam satu musimnya.

Meninggalkan Jejak

Sekarang, mari kita lihat dari sudut pandang seorang pemain. Tentunya, pemain sepakbola ingin meninggalkan jejak, atau catatan sebagai pemain, dan memenangkan piala sebagai satu klub.

Tapi secara realistis, jumlah klub unik dari lima liga besar Eropa yang memenangkan piala (baik liga, liga Eropa, atau turnamen gugur) hanya ada 9. Manchester City, Liverpool, Chelsea, Barcelona, Valencia, Juventus, Bayern, PSG dan Rennes. Sedangkan, secara total, ada 10 klub papan tengah di semua liga kecuali Liga Jerman, plus 9 klub papan tengah Bundesliga.

Berarti, ada 49 klub papan tengah dari total 98 tim yang ada di lima liga besar Eropa.

Jika seseorang tidak punya kemampuan yang cukup untuk bermain di salah satu dari klub yang juara, walaupun bisa berkompetisi di liga Eropa (seperti yang terjadi untuk Frankfurt) apakah seorang pemain rela bermain di klub yang kemungkinan akan nyangkut di 4 besar dan kesulitan menjadi juara?

Tentu tidak. Mending manfaatkan karir yang pendek ini untuk menghasilkan uang saja. Alhasil, pemain-pemain yang berbakat tersebut, yang semuanya sudah kubahas tadi, memutuskan untuk pindah ke klub papan tengah, tetapi dengan gaji yang setara, bahkan lebih dengan klub papan atas di liga-liga lainnya.

Survival Specialist

Ini menciptakan efek yang menarik tentunya.

Apa yang dicari dari seorang manajer klub papan tengah klub liga Inggris?

Tidak seperti di Eropa, di mana manajer klub papan tengahnya adalah manajer yang mampu bekerja dan memberikan hasil maksimum atau bahkan kualifikasi Eropa (seperti yang kita lihat dengan Atalanta, Getafe, dan Frankfurt pada musim kemarin) di Inggris, manajer papan tengah yang ideal adalah manajer yang bisa memberikan musim yang aman.

Jika anda bisa masuk top delapan, atau bermain di Europa League pada musim depannya, bagus! Tetapi, target terbesar dari seorang manajer adalah untuk selamat dari relegasi, dan memastikan bahwa musim berikutnya, klub masih menerima income yang selevel dengan juara Spanyol.

Ini alasan terciptanya pelatih macam Roy Hodgson, David Moyes, Sam Allardyce dan juga Tony Pulis. Ketiga pelatih ini mampu menyelamatkan timnya dari relegasi, tanpa mencapai hasil yang spektakuler. Hodgson menggunakan tim Crystal Palace-nya sebagai tim yang mempunyai struktur defensif yang bagus dan memukul cepat dan keras pada serangan balik ketika momennya muncul pada musim lalu. Moyes juga memiliki tim Everton yang memanfaatkan serangan udara dengan umpan-umpan dari Leighton Baines. Sedangkan, Pulis… Ugh, Stoke City yang ia pimpin terkenal akan kemampuannya bertanding fisik.

Strategi seperti itu bukan strategi yang bisa diterapkan oleh klub papan tengah di liga lain, karena mereka mengharapkan hasil dan income yang lebih tinggi, kemungkinan munculnya income ada di sponsor (yang akan kalah jika membandingkannya dengan klub lain) serta dengan bermain di liga-liga Eropa.

Menjadi Juara

Lalu, bagaimana cara klub-klub enam besar Liga Inggris bisa bersaing dengan satu sama lain?

Pada putaran tahun 2004, hanya 15 tahun yang lalu, klub dominan di Inggris hanya ada empat. Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea. Sekarang, angka tersebut telah menggelembung menjadi 6, Spurs dan Manchester City menjadi tambahan terbaru. Inggris sendiri punya 7 tim yang berkompetisi di UCL dan Europa League, jadi kalau kita ingin menganggap Wolverhampton sebagai tim papan atas, kita tidak salah.

Untuk memastikan ada kemampuan bersaing finansial antara keenam tim ini, hal termudah bisa terjadinya persaingan finansial ada di kompetisi Eropa.

Jika sebuah tim Big Six gagal mencapai kompetisi Eropa seperti yang terjadi pada musim saat Leicester City juara… Maka bisa dipastikan bahwa mereka akan menghadapi finansial yang sulit.

Apakah Liga Inggris Masih Sehat?

Tulisan hari ini akan ditutup dengan sebuah pertanyaan.

Jika anda bertanya padaku, aku harus cukup jujur dan lurus menyatakan bahwa secara internal, liga inggris adalah liga yang sangat sehat.

Namun, kalau kita merambah kepada empat liga di Eropa lainnya, muncullah pertanyaan, seberapa disruptif Liga Inggris yang menghambat pertumbuhan dan kualitas pemain di klub-klub tersebut?

Jika klub selevel Everton (dan camkan bahwa ini muncul dari fans Liverpool) bisa membeli bintang muda dari klub selevel Juventus karena memberikan gaji yang tinggi, apa yang enam klub-klub besar (dan juga menghasilkan banyak dari sponsor dan kompetisi Eropa tentunya) akan bisa lakukan untuk merusak pasar di liga lain?

Sepakbola tidak bisa sekedar nyangkut pada urusan uang, dan dengan level disrupsi yang diberikan liga Inggris sekarang, pertanyaan itu akan muncul jika tidak secara kontinental, maka setidaknya, pada tingkatan domestik keempat liga lainnya.

Peran Probabilitas dalam Tes Terstandarisasi

Peran Probabilitas dalam Tes Terstandarisasi

Tulisan ini aku buat untuk sesama murid SMA yang ingin diterima di PTN-nya masing-masing. Selamat menikmati.

Salah satu materi UTBK-SBMPTN (karena UTBK aja atau SBMPTN aja kurang panjang) yang aku paling senangi adalah Probabilitas. Aku bisa menjawabnya dengan sekedar satu jentikkan jari, aku tidak perlu berpikir panjang, dan aku bisa meluangkan waktuku untuk hal lain. Menghitung probabilitas secara manual adalah hal yang mudah.

Sayangnya, tulisan kali ini tidak membahas probabilitas secara matematis, tapi secara filosofis. Jadi, bersiap-siap, karena tulisan kali ini akan membuat sekedar memilih A,B,C,D, atau E menjadi hal yang sangat membingungkan. Eh sebentar. Memilih A,B,C,D atau E sudah membingungkan. Untuk apa kita persulit.

Konsep Probabilitas

Probabilitas adalah kemungkinan kejadian yang terjadi secara acak untuk terjadi pada kondisi yang ditentukan.

Sayangnya, konsep probabilitas secara filosofis tidak sesederhana itu. Aku punya dua statement untukmmu pembaca yang mungkin ingin tahu sedikit lebih banyak tentang konsepnya probabilitas.

  • Semua Angsa berwarna Putih. Semua angsa yang aku pernah lihat (anggap saja, misal, 10.000 ekor) berwarna putih.
  • Di Benua Australia, ditemukan 20 ekor angsa berwarna hitam. Pernyataan pertama otomatis SALAH!

Tiap kali kita melihat angsa, ada kemungkinan 0.001% bahwa angsa tersebut… berwarna hitam.

Masalah terbesar dari probabilitas adalah, mau seberapa kecil probabilitasnya, kita tidak bisa sedikitpun memutuskan untuk tidak nekat melakukan sesuatu, kecuali kita tahu pasti bahwa jawabannya 100% pasti itu. Apapun yang dilakukan, mau itu sekedar mengocok kartu lalu menebak kartu mana yang kita ambil, atau menjawab soal UTBK, kecuali kita yakin 100% bahwa hasilnya akan A, atau Queen Hati, ada peluang untuk salah.

Bahkan jika dari 200.000 ekor angsa di alam liar sekarang hanya 20 yang berwarna putih, peluang sekecil 0.001% pun tetap berfungsi sebagai probabilitas.

Secara abstrak dan dari sudut pandang filosofis, mau sekecil apapun peluang anda salah, anda tetap punya peluang untuk salah.

Hal-Hal Teknis…

Hal-hal yang seseorang mungkin ketahui untuk tes. Soalnya pilihan ganda, ada 5 pilihan, ada  4 mata pelajaran (untuk anak-anak Saintek, sepertiku) dan terakhir, ada 80 soal tes potensi skolastik.

Hal yang anda tidak ketahui kecuali memang mengikuti atau ingin mengikuti. Bobot nilai tiap soal, bergantung berdasarkan jumlah orang yang mampu menjawab satu pertanyaan.

Jika anda menjawab soal di mana seluruh pesaing di seluruh Indonesia tidak bisa menjawab dengan benar, dan anda bisa… maka bobot dari soal tersebut sangat tinggi. Tapi, jika anda bisa menjawab 50 soal, namun semua soal tersebut dapat dijawab oleh 80% peserta tes, maka kemungkinan besar, bobot anda menjadi yang 0.001% tapi hanya satu soal yang benar lebih baik.

Sayangnya, bobot tiap soal semakin tidak jelas, jadi sejujurnya, tidak ada yang tahu berapa nilai menjawab soal yang semua orang bisa jawab…

Sistem ujian saringan (yang namanya udah berubah lebih sering dari ada reboot power rangers) kali ini, mencari angsa berwarna hitam, bukan angsa putih yang sehat.

Jadi?

Dari mana kita bisa memanfaatkan hukum probabilitas untuk meraih bobot nilai maksimum? Sejujurnya, tidak ada. Soal-soal didapat secara acak dari kolam 40, atau 50 soal, dan tiap orang mendapat soal berbeda.

Lalu, untuk apa aku menulis tulisan ini?

Menebak, nebak.

Jujur, aku baru saja melewati TO UTBK di bimbingan belajarku, dan aku memutuskan untuk menebak semua soal matematika, karena itu kelemahanku, (aku bisa mengerjakan fisika, kimia, biologi, apalagi TPS, tapi math… euh…) dan aku cukup yakin, jika aku bisa  mendapatkan tebakan yang hanya satu saja benar, tetapi di soal yang kebanyakan orang yang tidak menebak tidak bisa menjawab, bobot murni dari soal tersebut akan tinggi.

Memanfaatkan Probabilitas…

Ini sekedar trik untuk orang-orang di sana yang merasa bahwa penjawaban beberapa soal begitu sulit sehingga ada keperluan untuk menebak… dimohon untuk menebak dengan pintar, dan dengan logika… Aku menyiapkan dua metode untuk menebak secara logis dan memanfaatkan kelemahan sistem ini secara statistika.

Mata Pelajaran

Metode ini memintamu untuk menjawab asal semua soal dari satu mata pelajaran dimana kamu paling lemah, dengan harapan mendapatkan jawaban tinggi dari satu mata pelajaran.

  • Pilih mata pelajaran dimana kamu lemah. Misal, Matematika.
  • Mata pelajaran Matematika menyajikan 20 soal, 10 soal dari itu terhitung mudah dan bisa dijawab 80% peserta ujian, 6 soal terhitung sedang dan bisa dijawab 50% peserta ujian, 4 soal terhitung sulit dan hanya bisa dijawab 20% peserta ujian.
  • Dengan memutuskan untuk menebak secara acak, aku memiliki peluang untuk menjawab 4 soal dengan benar, (hanya 20%)
  • Dari 4 soal tersebut yang benar, aku memiliki peluang 1/5 per soal untuk mendapatkan soal yang terhitung sulit, 3/10 per soal untuk mendapatkan soal sedang, dan ½ per soal untuk mendapatkan soal mudah.
  • Seandainya aku cukup beruntung untuk mendapatkan soal sulit, aku bisa mendapat bobot tinggi tanpa usaha sama sekali.

Bagaimana kalau aku bisa menjawab semua soal mudah dan hanya ingin menebak soal sedang dan sulit? Ini bagian di mana kekonyolannya mulai terdengar.

  • Menebak 10 soal, dengan kemungkinan 2/3 mendapat soal sedang, dan 1/3 mendapat soal sulit.
  • 1/5 per tebakan, berarti hanya ada 2 soal yang dijawab dengan benar.
  • Peluang 1 dari 3 per 2 soal, lebih kecil dan lebih tidak mungkin daripada 4 soal untuk peluang 1 dari 5. Akan lebih baik jika anda menebak semuanya (jika mencari bobot soal sulit) kebanding menebak 10 soal saja.

Bingung kah? Intinya, probabilitas mendapat soal sulit dengan benar lebih tinggi jika anda menebak semuanya. Jika ada mata pelajaran di mana anda kesulitan menjawab soal sulit dan soal sedang, tebak saja semuanya… Bobot soal sulitnya harusnya cukup tinggi.

Sampel yang bisa diambil akan sama saja, mengingat bahwa cara menjawab tiap soal, baik itu mudah atau sedang atau sulit sama dengan memasukkan A, B, C, D, atau E… Lebih baik jika peluang kecil kita mendapat sesuatu dengan benar dihabiskan untuk soal sulit saja.

Ini baru metode nomor satu.

Semua Soal Sulit

Metode ini tidak bisa digunakan semua orang, karena sayangnya, kebanyakan orang sudah mulai kesulitan di soal sedang, dan ingin nilai maksimum dari semua soal.

Jika anda bisa semua mata pelajaran, tetapi tidak yakin mengenai soal sulit dari 2-4 mata pelajaran, hal termudah yang anda bisa lakukan, adalah menggunakan metode ini…

  • Dari 4 soal sulit 4 mata pelajaran yang anda yakin anda tidak bisa jawab, tebak saja.
  • Berarti, dari 16 soal dengan bobot tinggi, ada kemungkinan 1/5 bahwa anda benar.
  • Kurang lebih, 3 soal sulit dapat dijawab dengan benar.

Data hitungan berdasarkan jumlah mapel di mana anda menebak…

  • 4 mapel, 16 soal, 3.2 dijawab benar.
  • 3 mapel, 12 soal, 2.4 dijawab benar.
  • 2 mapel, 8 soal, 1.6 dijawab benar.
  • 1 mapel, 4 soal. 0.8 dijawab benar.

Saranku adalah untuk membulatkannya dan tidak hanya menebak untuk 2 mapel, melainkan 2 mapel plus 2 soal dari mapel lain, dan secara matematis murni, anda mendapat 2 jawaban benar, bukan 1.6

Apakah strategi ini efektif?

TIDAK.

Jangan berharap anda bisa masuk PTN impian dengan strategi ini. Ini adalah strategi yang bisa dimanfaatkan untuk menebak soal dengan lebih pintar, bukan untuk mendapatkan bobot maksimum. Namun, kalau kita bicara sekedar menebak soal, itu pun bisa dilakukan dengan lebih efektif, memaksimalkan nilai maksimum yang bisa didapat dari menebak, secara statistika.

Memang iya, mungkin saja anda menebak semua soal, dan mendapatkan tiket ke Kedokteran UI, tapi besar kemungkinan, anda menebak semua soal dan hanya mendapat kampus Akreditasi C, malahan, kemungkinan untuk menebak semua soal dan masuk Akreditasi C lebih besar.

Jika anda bergantung murni pada keberuntungan, maka anda gagal. Jangan bergantung pada keberuntungan, justru, anda harus memainkan keberuntungan itu agar dipakai secara efektif… Sistem-sistem bisa ditipu kok, percaya sama aku.

Sampai lain waktu.

Disclaimer: Angka tidak resmi, dan hanya sekedar estimasi.

Jürgen Klopp: Menuju Bundesliga

Jürgen Klopp: Menuju Bundesliga

Artikel ini adalah artikel sambungan dari artikel tentang Klopp sebelumnya. Mohon baca laman tersebut di sini, sebelum membaca artikel ini.

Sebagai pelatih, Jürgen Klopp adalah orang yang akan berusaha sangat keras untuk menjaga hubungan baik dengan pemainnya. Itu adalah hal yang alamiah ketika kita ingin melatih tim yang isi pemainnya hanyalah sekumpulan orang yang namanya sulit untuk dikenali. Faktanya, bahkan pelatih yang memiliki masalah emosi separah Mourinho harus melakukan itu agar timnya memiliki semangat perlawanan yang besar.

Klopp melakukan hal yang sama. Seperti yang kutuliskan di artikel sebelumnya, ia merekrut pemain yang masih merupakan “papan kosong” yang berpotensi untuk ia latih, jadikan teman, dan dimanfaatkan sebagai pemain. Ia tidak ingin merekrut pemain dengan ego yang besar, karena itu dapat mendisrupsi semangat permainan utuh dari tim yang ia latih.

Salah satu tindakan khas yang ia lakukan pada pra-musim selama ia di divis dua adalah mengadakan 1 minggu latihan di mana setiap pemain harus berkemah. Tempat perkemahan yang Klopp pilih juga terletak di daerah di mana dia tumbuh, di sebuah tempat bernama Black Forest, dan bukan… itu bukan toko kue.

Perkemahan yang ia laksanakan di pra-musim itu bertujuan untuk mencontreng salah satu kotak terpenting dalam latihan pra-musim yang Klopp lakukan, yaitu interaksi antar pemain.

Bagi pemain sepakbola yang sedang tidak bermain (alias ketika jeda 3 bulan antara dua musim), mereka mengisi waktu mereka untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat, serta bermalas-malasan, latihan pra-musim bertujuan untuk membantu pemain-pemain kembali fit dan kembali mendapatkan kemampuan teknis yang sudah lama sejak mereka gunakan.

Klopp mengambil 1 minggu dari 1 bulan latihan pra-musim untuk mengatur ulang fisik pemain, menghilangkan kemanjaan dan kebiasaan pemain miliknya ke makanan yang gak sehat tapi enak itu, dan membangun ulang interaksi antar pemain.

Klopp sudah resmi mendapat pekerjaan sebagai pelatih Mainz 05 secara full-time, dan bukan hanya sebagai pelatih pengurus seperti yang ia lakukan pada musim sebelumnya. Ia akan mengambil target realistis yang perlu dilakukan oleh semua tim di divisi dua, terutama mengingat tidak ada perbedaan uang begitu banyak antara semua tim. Ia harus mencapai promosi. Untuk itu, ia perlu membuat sebuah festival cukup besar.

Supporter dan Harapan.

Pertandingan pertama yang ia latih sebagai pelatih full-time berakhir dengan skor 1-0. Pada akhir pertandingan tersebut, stadion kota jelek dan biasanya hanya terisi setengah itu, terisi penuh, bahkan kepenuhan. Petasan merah, warna dari Mainz dinyalakan di seluruh kota (karena pada tahun 2002, petasan masih legal di Jerman) ia mendapatkan jawaban terpenting sepanjang karirnya sebagai pelatih. Sebuah klub bola membutuhkan pendukung. Pendukung yang cukup banyak untuk bisa bertahan.

Sudah diketahui bahwa Klopp sering mengadakan acara di balai kota untuk mendapatkan dan meningkatkan penjualan tiket. Tetapi Klopp tidak bisa berhenti di situ. Ia tidak puas dengan mendapatkan fans sepakbola fanatik dari kota Mainz. Ia ingin seluruh penduduk di kota tersebut menjadi fans sepakbola.

Ketika acara di balai kota sudah cukup untuk menarik pendukung fanatik untuk menonton kembali pertandingan sepakbola, mau seberapa buruk tim miliknya bermain, ia perlu metode lain untuk mengajak orang yang tidak begitu menyukai sepakbola untuk menonton. Setidaknya untuk menonton di TV jika tiket di stadion  sudah habis. Juga perlu diingat bahwa stadion baru sedang di bangun, dengan kapasitas 30.000, dua kali lipat lebih banyak dari stadion mungil yang hampir terbengkalai yang timnya gunakan. Setidaknya kapasitas stadion baru tersebut perlu dipenuhi. Itu hal terkecil yang Klopp bisa lakukan untuk membayarkan uang yang diberikan sponsor dan pemerintah kota untuk membangunnya.

Sebelum lanjut ke tindakan berikutnya, Klopp memulai Bundesliga 2 dengan 7 kali menang dan 2 kali seri sebelum akhirnya kalah. Taktik yang ia gunakan adalah Gegenpress yang masih sangat kasar.

Menurutku, tindakan berikutnya yang Klopp lakukan terdengar sedikit seperti… umm… Bandar narkoba. No offense.

Untuk sebuah pertandingan derby kandang yang dimainkan di distrik Rhine, Klopp menyiapkan 5000 tiket gratis! Asalkan anda belum pernah menonton sepakbola di stadion sebelumnya. Ia membagikan tiket ini di acara balai kota bulanannya, dan ia meminta orang-orang untuk berkomitmen datang ketika sudah mendapatkan tiket.

Ini mungkin hal yang aneh, namun bagi Klopp ini tampak sebagai tindakan yang bijak.

Khusus untuk pertandingan derby yang ia bagikan tiketnya dengan gratis, Klopp menyiapkan sebuah strategi khusus untuk membuat pertandingan tersebut menjadi sebuah pertandingan yang pantas ditonton dengan ketegangan luar biasa. Pertandingan dengan Gegenpress sendiri bisa memberikan thrill yang unik.

Tiap kali ada pemain yang berlari untuk merebut bola, para penonton berharap bahwa bola bisa dimenangkan dan hanya dengan 1-2 operan lagi, sebuah gol bisa tercipta. Tiap kali pemain lawan ingin bernafas dan meminta semua pemain bertahannya bertukar operan sampai ada ruang tercipta, ada satu dua orang melemparkan tubuhnya untuk mengambil bola dan lawan tidak bisa bernafas. Tidak ada momen untuk bernafas jika anda melawan Mainz yang dilatih Klopp. Sedikit ruang yang mereka berikan harus dimanfaatkan dengan optimal, atau skornya akan berubah.

Jika anda belum familier dengan Gegenpress, maka silahkan klik link ini. Terima kasih.

Tentunya, ia mendapatkan 5000 fans kasual, sekumpulan orang yang merasa bangga bahwa mereka bisa mendukung FSV Mainz. Dari semua fanatik dan fans kasual yang Klopp dapatkan, ia menciptakan sebuah pesta yang unik. Sebuah pesta yang belum pernah sebelumnya dilihat di Semua divisi sepakbola Jerman.

Klopp hanya perlu memberikan satu sentuhan terakhir untuk membawa pesta yang terjebak di Mainz ini, agar ia dapat menyebar ke seluruh pelosok Jerman.

Ia membeli sebuah bis untuk membawa supporter klub tersebut keliling kota untuk pawai kemenangan, dan juga mengantarkan para supporter untuk pertandingan tandang. Bahkan untuk klub selevel Mainz yang tidak memiliki uang begitu banyak, harga satu bis masih masuk akal dan bisa dibayar dengan anggaran.

Supporter yang senang, merchandise klub terjual, uang masuk. Bagi Klopp, kunci kehidupan sebuah klub berasal dari supporternya, dan bukan hanya karena uang yang mereka berikan ke klub.

Promosi? Atau Tidak?

Pada pertengahan titik musim Bundesliga, Mainz 05 berada di posisi pertama Bundesliga 2. Mereka berada di posisi aman jika ingin mengejar promosi, dengan selisih 7 poin dari tim yang berada di posisi keempat, dan tentu saja, mereka bisa bertanding untuk menjadi juara divisi dua, dengan perbedaan selisih gol dari tim yang berada di posisi kedua.

Sebelum anda lanjut membaca, aku perlu menjelaskan sedikit tentang konsep promosi di Jerman. Kedua tim yang berada di peringkat 17 dan 18 di Bundesliga akan turun ke Bundesliga 2 dan mendapat uang lebih sedikit. Kedua tim tersebut digantikan juara, serta runner up di Bundesliga 2. Sementara itu, tim di posisi 16 akan bertanding dalam dua laga, satu di kandang dan tandang, dengan tim di posisi ketiga Bundesliga 2, untuk menentukan siapa yang berhak bermain di Bundesliga. Pertandingan penentu degradasi dan promosi tersebut dapat berujung buruk karena pada dasarnya, performa sepanjang musim, dan masa depan klub tersebut bergantung pada dua pertandingan. Bermain aman bukan hal yang baik dilakukan di Bundesliga 2, karena tim perlu mengejar posisi pertama dan kedua jika ingin punya kesempatan mendapat gaji lebih banyak.

Pada istirahat musim di bulan Desember, sesuai dengan kalender sepakbola Jerman, Klopp dan pemainnya berpesta dengan harapan hasil ini dapat terus berlanjut. Perlu diingat bahwa Klopp punya kebiasaan berpesta dengan Dortmund dan Mainz pada istirahat bulan Desember ini, dan Klopp bisa mengubah hasil yang buruk menjadi hasil yang baik sesudah pesta di bulan Desember ini. Hasil yang baik juga bisa jadi lebih baik lagi tentunya…

Istirahat tersebut beres, dan Mainz langsung bertanding 18 mampu Klopp sikat dengan mudah, dan jika hasil-hasil pertandingan masih berlangsung seperti ini, ia bisa juara dari Bundesliga! Fans di Kota Mainz berteriak “Jürgen! Jürgen! Jürgen!” untuk memuji pelatih jenius dari Jerman ini. Pada titik ini, selain kemampuannya menciptakan taktik yang mematikan strategi counter-attack di Jerman, ia juga membuktikan bahwa dirinya adalah seorang investor bagi klub yang bijaksana, mampu meningkatkan sales tiket tanpa mengeluarkan banyak uang.

Para Supporter Mainz yang berbondong-bondong pergi menonton pertandingan di atas bis milik klub tersebut membuat para fans dari klub lawan menerima seandainya mereka dikalahkan. Mainz menjadi sejenis klub yang bukan hanya dicintai para netral. Mainz juga menjadi klub yang membuat fans klub lawan berpikir… “Ah, gapapa deh kalau kalahnya sama klub yang itu.”

Tapi, sayangnya. Nasib baik Klopp berakhir di sini.

Ia kalah 4 pertandingan berturut-turut. Mainz yang berada di posisi satu tadi, terjatuh ke posisi 5. Untungnya, selisih poin dari posisi pertandingan promosi di peringkat ke-3 dengan Mainz juga tidak begitu jauh. Hanya berbeda 3 poin.Ia juga berada di posisi 5 hanya karena perbedaan selisih gol dengan tim di posisi 4. Klopp perlu mencari ritmenya kembali. Ia berada di pertandingan ke 29 dari 34. 18 kemenangan, 5 kali seri, dan 6 kali kalah. 59 poin.

Ritme Mainz yang bergulir dari awal musim tampaknya akan berlanjut kembali meski ada 4 pertandingan buruk. Sesudah 4 kali kalah, ia memenangkan pertandingan berikutnya, dan naik ke peringkat 4. Ia butuh mengejar promosi ini…

Lalu… Datanglah kabar buruk. Pada pertandingan ke 31, sebuah media dari kota di mana Mainz akan bertanding menciptakan propaganda bagi warga dari kota tersebut. Aku sendiri tidak begitu mengerti alasannya, karena bagiku orang Jerman adalah orang yang kalem dan begitu kalkulatif, namun sepertinya, mereka bisa marah juga.

Bis supporter Mainz diserbu, begitu juga bis pemain. Para pemain di lapangan diserang begitu brutal oleh lawannya, dan pertandingan tersebut berakhir dengan skor, 1-3. Mainz kalah, dengan 2 pemain kunci terkena cedera. Klopp butuh kemenangan dan lawannya terselip dua kali untuk mendapatkan posisi playoff promosi.

Secara realistis… Itu sulit terjadi. Bahkan jika skuad miliknya lengkap, dan tanpa cedera krusial di gelandang serang serta sayap kiri, ia butuh sebuah keajaiban untuk mencapainya. Aku ingin di sini untuk memberi tahu bahwa Klopp mengejar promosi pertamanya dengan mantap dan mendapatkan skor 5-0 ketika saingan promosinya kalah 5-0 juga dan Klopp secara magis mampu mencapai promosi. Namun tidak.

Klopp gagal mencapai promosi dan harus puas berdiri di posisi keempat Bundesliga 2.

Ia harus menunggu tahun depan untuk bermain di divisi pertama.

Konsep Nilai.

Konsep Nilai.

Seiring waktu, konsep Harga dan Nilai suatu benda semakin berubah dan menjadi semakin fluktuatif.

Benda dengan harga 10.000 rupiah dapat memiliki nilai yang sangat berharga bagi seseorang, entah secara sentimental, ataupun fungsi. Sebaliknya, benda senilai, misal, 300 juta US dollar dapat memiliki nilai emosional, visual, dan fungsi yang sangat rendah. Jika anda menginginkan contoh, benda yang kumaksud adalah Trump Tower.

Untuk itu, aku ingin memecahkan konsep nilai dan harga di mata seseorang, karena sayangnya, sebuah benda tidak bisa memiliki harga yang padat jika tidak memiliki nilai, dan benda yang bernilai bisa saja tidak berharga.

Definisi Nilai dan Harga

Harga berarti suatu benda secara ekonomis. Secara mentah. Tentunya harga dapat mengalami fluktuasi, dan sangat bergantung pada pembeli, supply and demand, serta seratus ribu faktor lainnya mengenai pasar di dunia kapitalistik yang kita tinggali ini.

Namun, harga tidak akan pernah lepas dari uang. Itu yang membuat harga dari suatu benda sebagai faktor absolut. Fluktuatif, iya, tapi bagaimanapun juga absolut. Sebuah Beng-Beng (karena aku doyannya beng-beng, bukan karena aku dibayar Beng-Beng) yang dibeli di toko yang sama akan sama-sama berharga 2000 rupiah. Butuh lembaran dengan warna dan nilai yang sama untuk mendapatkannya.

Karena kita tinggal di dunia yang memiliki banyak negara, dan tiap negara punya preferensi ekonominya masing-masing, terciptalah sebuah masalah/solusi yang memberi anak-anak IPS kesulitan untuk masuk ke PTN yang mereka inginkan… (out of topic, aku ingin masuk ITB, jadi sebenarnya aku tidak mengalami masalah ini, aku harus mengalami masalah rumus yang logikanya lebih parah, tapi ya, gitu lah) mata uang.

Mata uang sendiri bisa dibeli, dengan mata uang lain seolah-olah mereka tidak ada perbedaannya dengan, misal, sekantong Beng-Beng. Namun, secara filosofis dan logis, kebutuhan mata uang untuk membeli benda dapat menciptakan kebingungan, karena kalau kita bicara kepraktisan dan kebutuhan logis, satu mata uang harusnya cukup untuk membeli segala hal bukan?

Sayangnya, dunia tidak bekerja seperti itu. Hadirnya banyak mata uang juga memberikan kompleksitas lebih dalam kehidupan sehari-hari seorang warga dunia. Berjualan mata uang dapat menghasilkan keuntungan, iya, tetapi ia juga bisa menjadi sumber penurunan kualitas, alasan bagi oposisi di suatu negara untuk mengutuk pemimpin yang sekarang (meski sebenarnya itu belum tentu salah si pemimpinnya), dan juga menaikkan uang masuk dari perjanjian perdagangan, turisme, dan sebagainya.

Ini mulai off-topic, jadi kurasa kita harus kembali ke titik awal yaitu definisi harga dan nilai.

Seperti aku telah bilang, sebuah benda bisa memiliki nilai yang tidak bisa diukur…

Harga adalah faktor absolut, dan tidak bisa berubah begitu saja. Nilai, pada sisi lain, bersifat sangat fleksibel.

Nilai suatu benda tergantung penuh pada mata orang yang melihatnya. Dan hanya dari dua konsep mendasar ini, terciptalah dunia ekonomi modern yang kita tinggali sekarang. Benda yang sama dapat memiliki nilai berbeda di antara dua orang. Sebagai contoh…

Bagi seseorang yang sangat lapar, atau ngidam Beng-Beng ketika Beng-Beng di minimart terdekatnya sudah habis, ia mungkin memiliki perasaan lebih untuk ingin membeli Beng-Beng. Beng-Beng yang diproduksi dalam jumlah banyak ini tiap harinya memiliki nilai lebih karena seseorang sangat ingin memakannya. Ia tidak bisa mendapatkannya untuk sekedar 2000 rupiah di minimarket karena sedang kosong…

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia membeli Beng-Beng dari temannya dengan harga 3000 rupiah.

Baginya, Beng-Beng tersebut memiliki nilai lebih, karena ia sangat menginginkannya, jadi ia rela mengeluarkan uang ekstra untuk membelinya, karena tidak ada Beng-Beng di minimarket terdekat, harga Beng-Beng yang ia ingin makan meningkat senilai 50%.

Harga dan Nilai ini yang secara tidak langsung ataupun langsung merubah dunia ekonomi yang kita tinggali ini. Karenanya, nilai absolut barang (catatan, aku dapat menggunakan istilah nilai absolut sebagai sinonim untuk harga, bukan untuk nilai, terkadang ada momen di mana istilah nilai absolut akan lebih cocok dengan konteks) dapat berubah.

Supply and Demand

Pada akhirnya, menentukan nilai suatu benda kembali ke titik yang satu ini… Aku bukan seorang ekonomis (dan dengan asumsi beberapa hal ke depan, sepertinya aku tidak akan jadi seorang ekonomis) tetapi, melihat nilai dan harga suatu benda dapat berubah murni berdasarkan cara seseorang melihatnya dari sudut pandang apa.

Supply and demand adalah satu-satunya hukum yang tidak akan pernah hengkang dari faktor suatu benda.

Bahkan, suatu perusahaan dapat memanfaatkan supply and demand untuk meningkatkan nilai dari suatu benda.

Perusahaan yang kumaksud adalah Supreme.

Like, seriously. Murni dengan melakukan cost-pressing dan memastikan suatu benda tidak pernah diproduksi lagi, benda menjadi bernilai secara irasional karena demand yang tinggi dan supply yang sangat sedikit, sebuah brand dapat menciptakan efek kelangkaan yang fiktif dan mendapatkan untung dari hal tersebut.

Tapi, sayangnya, tulisan kali ini bukan tulisan yang akan membahas Supreme (percaya padaku, anda tidak ingin membahas brand tersebut), aku di sini untuk membongkar dan memutar alasan suatu benda bisa memiliki nilai tersebut.

Seperti disebut di atas, suatu benda bisa memiliki nilai fiktif yang tinggi karena supply yang sedikit dan demand yang tinggi. Jadi, kalau kita bicara secara logis, apakah ada cara yang lebih praktis untuk mendapatkan nilai maksimum suatu benda, selain dari menekan supply dari barang tersebut?

Konsep Supply

Supply sendiri merupakan suatu konsep.

Salah satu hal termudah (jika anda menanyakan seorang ekonomis, bukan psikolog) untuk menaikkan atau menurunkan harga barang ketika sedang melakukan jual beli, adalah dengan menjelaskan bahwa barang yang kita miliki adalah barang yang langka, barang yang supply-nya sedikit.

Dan sayangnya, supply sendiri memiliki nilai yang psikologis.

Suatu benda yang “langka” belum tentu “langka” selain fakta bahwa benda tersebut dipersepsikan sebagai langka oleh orang yang memasarkannya. Supply sendiri juga relatif dalam anggapan bahwa, apakah benda yang ada ini dimiliki 1 dari 100 orang sebagai benda yang langka? atau 1 banding 100.000?

Terkadang, suatu benda yang dipasarkan langka dengan cara berbeda, dapat menciptakan efek berbeda.

Konyolnya, manusia juga lebih ingin menjadi yang terbaik di sukunya, kebanding menjadi manusia yang sangat baik. Sebagai contoh…

Budi tinggal di apartemen dengan isi orang-orang yang menghasilkan 200.000 dollar setahunnya, dan aku hanya menghasilkan 180.000 dollar setahunnya. Di apartemenku, aku menghasilkan uang paling sedikit.

Lalu, Budi memutuskan untuk pindah. Ia pindah ke tempat di mana orang-orang rata di apartemennya, menghasilkan 50.000 dollar setahun, dan penghasil terbesar di apartemen tersebut menghasilkan 120.000 dollar setahun. Budi hanya pindah ke situ karena gajinya dipotong, dari 180.000 setahun, menjadi 150.000 dollar setahun. Budi lebih bahagia.

Faktanya, manusia rata-rata merasa lebih bahagia menjadi orang terbaik dari kelompoknya, kebanding orang sangat baik secara umum. Kalau kita melihat gajinya secara harga, tentunya, orang-orang akan memilih menghasilkan 180.000 kebanding 150.000 bukan? Ya, tetapi, semua itu tergantung berdasarkan kelompok yang kita tinggali sekarang.

Suka atau tidak, manusia adalah makhluk yang amat sangat kompetitif.

Ini adalah trik yang sangat mudah untuk menaikkan nilai relatif sebuah barang, dan tentunya, jika nilai relatif sudah dilihat tinggi, maka, nilai absolutnya akan meningkat juga.

Ini adalah alasan kenapa…

  1. Pajero bisa menjadi mobil yang laku. Ia menjadi mobil pilihan yang meningkatkan status sosial karena pemiliknya relatif jarang, seolah-olah di jalan, ini bisa menjadi bukti fiktif seolah-olah anda seorang alfa dengan memilikinya.
  2. Supreme (lagi) bisa menjadi brand efisien, hanya dengan 5 (tidak yakin dengan angka, hanya estimasi) toko seluruh dunia, ia bisa menjual barang secara tinggi, mencapai nilai pasar puluhjutaan dollar.
  3. Ada saja orang yang membeli benda hanya karena orang lain membelinya, entah itu makan di suatu kafe, atau membeli tas dengan brand tertentu, dan sebagainya…

Kesimpulan

Aku akan menyimpulkan artikel ini dengan sederhana.

Stop menilai sesuatu dengan nilai relatif jika dibandingkan dengan orang lain.

Nilai relatif adalah hal yang bagus jika anda membandingkannya dengan benda lain yang anda miliki, atau benda lain dari genre yang sama (misal membandingkan ayam goreng KFC, McD, dan ayam goreng di Masjid Salman). Begitu anda melibatkan orang lain dalam penilaiannya, anda tidak akan pernah merasa bahagia, karena anda tidak akan merasa bahwa anda telah mencapai titik sukses, selama bandingannya masih saja orang lain…

Menemukan Kebahagiaan.

Menemukan Kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah salah satu konsep paling membingungkan yang pernah diciptakan manusia.

Di satu sisi, kebahagiaan merupakan hal yang baik, sebuah tujuan yang perlu dicapai dalam kehidupan seseorang. Di sisi lain, banyak orang yang mencari tujuan tersebut (yang tidak ada spesifikasi tujuan yang mudah dimengerti) dan karena mereka mencarinya, tujuan tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Kita menciptakan konsep untuk memberikan makna dan kebahagiaan bagi diri kita sendiri, tetapi karena konsep tersebut sangat sulit untuk dicari, orang-orang malah melucuti makna yang mereka seharusnya miliki tadi, dan tidak mungkin lagi untuk mencapainya.

Jadi, daripada bingung sendirian, kita bingung bersama-sama saja.

Apa sih kebahagiaan?

Inspirasi:

  • Stumbling on Happiness: Daniel Gilbert
  • Hope is F*cked: Mark Manson.

Ignoramus Harmonius

Ignoramus adalah kata dalam bahasa Inggris.

Wow. Jujur, aku mengira itu bukan kata yang nyata, dan hanya slang yang sering digunakan, tetapi… wow.

Salah satu hal terbaik dan termudah untuk mendapatkan perasaan bahagia dan nyaman, adalah dengan mengabaikan sekitar. Iya. Ini hal yang terdengar absurd bagi sebagian orang, mungkin mayoritas pembaca akan merasa, kalau aku mengabaikan hal, aku tidak bakalan…

  • Mendapat hasil atau gambaran yang sempurna sesuai dengan Misal, ruangan ini harus rapih, tiap kali makan harus ada porsi ekstra seandainya ada yang mampir ke rumah.
  • Menjadi orang yang lebih Misal, aku harus focus untuk belajar demi ulangan, dan tidak mungkin aku mengabaikan belajar bukan?
  • Bisa bersenang-bersenang. Misal, Mengabaikan undangan dari temanku untuk ke pesta malam

Dan seterusnya.

Tetapi, kalau ditinjau kembali, dari tiga hal tersebut, ada satu hal yang berhubungan akan semuanya. Semuanya perlu dicapai. Dan seandainya, mereka tidak dicapai, ada perasaan tidak puas, perasaan tidak puas itu muncul juga ke perasaan tidaknyaman, dan jika seseorang tidak nyaman ataupun tidak puas, mereka tidak bahagia.

Kalau kita bisa mengabaikan hal-hal dengan mudah, maka akan semakin mudah baginya untuk merasa puas. Kepuasan bukan kebahagiaan, tetapi, jika seseorang sudah merasa puas, tidak akan ada tekanan lebih lanjut untuk memenuhi kepuasan yang dicari.

Langkah termudah untuk mendekati (mendekati, bukan mencapai) kebahagiaan adalah dengan mengabaikan hal-hal di sekitar anda.

But WAIT!

Sayangnya, kita tinggal di dunia manusia modern. Kita tidak bisa sekedar mengabaikan hal-hal untuk merasa puas dengan diri kita. Itu hal yang bodoh, dan sejujurnya, aku tidak yakin itu sehat untuk dilakukan.

Hal yang lucu adalah, walaupun tidak ada indeks kebahagiaan resmi di Korea Utara, warga-warga Korut merasa bahagia dengan keadaan mereka. Ini adalah tanda yang nyata bahwa materi tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan dan jika seseorang mengabaikan kondisi mereka, dan tidak pernah perlu merasa iri dengan orang lain, mereka akan bahagia.

Coba pikirkan apa yang mungkin terjadi jika misalnya… Warga Korut diberitahu oleh pemimpin mereka (harus oleh pemimpin mereka, perkataan orang lain tidak akan mempan) bahwa di dunia luar ada sekumpulan orang yang mendapat makanan lebih banyak dari mereka, dan boleh mendesain rumah mereka sendiri, dan ya, hal-hal bagus dari dunia kapitalis lah… Mereka mungkin merasa iri. Iri tersebut tumbuh menjadi perasaan tidak puas, dan ketidakpuasan itu menjadi sumber hilangnya kebahagiaan.

Kita tidak bisa 100% mengabaikan diri di dunia luar, maksudku, kita memang masihtinggal di dunia yang cukup kapitalis (bukan dalam sudut pandang serakah, tetapi sudut pandang nilai benda) dan seandainya dunia ini beralih ke sosialisme, baru kita bisa beralih sedikit ke gaya mengabaikan ini.

Sampai dunia ini menjadi sosialis (aku tidak mendukungnya, tolong dicatat, tapi namanya juga what-if) kita masih harus punya perhatian dan dorongan untuk melakukan hal. Tekanan memang diperlukan.

Kepuasan

Kita tidak akan pernah puas selama kita masih merasa iri, dan selama kita masih mencari sesuatu. Seperti kusebut di atas, selama kita tidak merasa puas (dan perlu diingat, perasaan puas adalah sebuah konsep juga, yang mendasari konsep lain yang kita kenal sebagai kebahagiaan) kita tidak akan merasa bahagia.

Sebuah riset untuk memperjelas hal. Sejumlah peserta eksperimen diminta memilih berlibur di salah satu antara dua tempat, dengan harga yang sama. Pulau Avg, dan Pulau Xtreme. Pulau Avg ini memiliki makanan yang enak, kamar yang enak, pantai yang enak, serta pelayanan yang ramah. Pulau Xtreme pada sisi lain, memiliki makanan yang tidak enak, kamar yang sangat enak, pantai yang sangat enak, dan pelayanan yang tidak ramah.

Logikanya, jika peserta diminta memilih lalu menolak satu pulau, mereka akan memilih pulau yang berbeda bukan? Mereka akan memilih pulau Xtreme, dan pada pertanyaan berikutnya, mereka akan menolak pulau Avg, atau sebaliknya, tergantung preferensi.

Konyolnya, hampir semua orang memilih pulau Xtreme, lalu menolaknya kembali.

Manusia mencari hal yang bagus ketika memilih, dan mencari hal yang buruk ketika menolak. Kita akan selalu menemukan hal-hal untuk mengurangi kepuasan kita.

Jadi, apa solusinya? Selain mengabaikan hal-hal kecil? Jangan memilih… 😀

Mencari Makna

Oh boy.

Kebahagiaan merupakan hal yang berhubungan dengan makna. Ada yang tidak setuju? Silahkan komentar.

Jadi, apakah ini akan terdengar aneh, kalau misalnya aku mengingatkan pembaca bahwa semakin banyak perasaan sakit atau perasaan merana yang seseorang rasakan, semakin banyak makna yang dibutuhkan untuk mencari alasan yang mulia dan rasional untuk menghilangkan perasaan merana tersebut.

Faktanya, manusia adalah makhluk sosial, dan juga makhluk yang menciptakan konsep fana untuk membuat diri kita senang.

Makna yang tidak tentu itu dicari dan ditemukan, dan dicari, dan ditemukan kembali, selama kita masih membutuhkannya.

Terkadang, makna dicari bukan sebagai hal atau sumber kebahagiaan itu sendiri, tetapi makna dicari untuk membuat hal-hal di sekitar kita tampak rasional, dan sesudah hal tersebut tampak rasional, tidak perlu lagi penjelasan, karena ketika hal sudah tampak rasional, kita merasa puas, dan dari perasaan puas itu, kita mampu mendapat sebagian dari kebahagiaan.

Huh, pusing gak tuh?

Intinya, manusia mencari alasan untuk membuat hal-hal yang mereka lakukan bermakna, dan masuk akal. Mereka… eh, maaf, KITA akan mencari alasan untuk mendapatkan jawaban dan logika yang rasional sebagai sebuah bentuk dari… placebo untuk mendapatkan kenyamanan akan hal buruk yang sedang dirasakan.

Lain kali anda sedang kesulitan melakukan sesuatu, carilah alasan besar untuk mendasari perasaan buruk anda.

Unik? Gak

Bagaimana kalau aku ingatkan anda bahwa anda merasa terlalu unik.

Apakah anda seperti kebanyakan orang? Jawabannya, tidak. Tentunya, orang macam apa yang akan merasa puas kalau mereka seperti kebanyakan orang.

Apakah kemampuan anda pada bidang di mana anda bekerja lebih baik daripada rata-rata? Jawabannya, adalah iya. Anda merasa seperti itu.

Lucunya. Kalau kebanyakan orang merasa bahwa mereka unik, dan mereka merasa lebih baik dari rata-rata. Tidak ada yang namanya rata-rata.

Sedangkan, kalau kita mengambilnya dari sudut pandang statistik, manusia rata-rata ada lebih banyak dari manusia luar biasa. Peluang anda menjadi manusia luar biasa lebih kecil dari peluang anda menjadi manusia rata-rata.

Tetapi, rasionalisasi manusia kembali menjadi faktor. Manusia berbohong pada dirinya sendiri untuk menghindari percakapan canggung dengan subconscious mereka.

Dan untuk kali ini. Kebohongan tersebut aku terima. Kita tidak akan pernah merasa puas kalau kita menyadari bahwa kita tidak unik.