Category: Experience

Kampanye Vaksin Indomie

Kampanye Vaksin Indomie

Baru kemarin aku menemukan berita di kolom Tunggu Dulu milik Pikiran Rakyat mengenai Indomie di Nigeria dan hubungannya dengan vaksinasi.

Karena sedikit banyak kepo di Internet, sepertinya membuat artikel tentang Indomie di negara Afrika ini cukup menarik. Selamat menikmati!

Indonesia vs Nigeria

Indonesia dan Nigeria memiliki kemiripannya masing-masing lho! Kurasa, akan sangat menarik untuk melihatnya langsung di satu artikel.

  1. Kedua negara sama-sama memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, dan populasi yang tinggi. Nigeria memiliki sekitar 200 grup etnis berbeda, dan 371 suku berbeda (satu grup etnis bisa membuat beberapa suku berbeda), dan Indonesia memiliki lebih dari 300 grup etnis berbeda.
  2. Kedua negara sangat menyukai Indomie. πŸ˜›
  3. Keduanya memiliki populasi yang cukup banyak, dan luas negara yang besar.
  4. Sayangnya, keduanya juga memiliki isu-isu dan angka vaksinasi yang cukup buruk.
  5. Dan lagi, keduanya juga hanya sedang bertumbuh sebagai negara, pertumbuhannya dapat bertambah dengan cepat, namun, sekali lagi, keduanya sedang bertumbuh.

Kedua negara ini, cukup mirip tentunya. Dan, seperti kusebut di atas… Artikel hari ini akan mengupas kampanye vaksinasi di Nigeria.

Ekonomi Indomie di Nigeria

Pada tahun 1988, ketika Indofood memulai ekspor mie instan ke Nigeria, pasar Mie Instan di Nigeria tidak nyata, dan tidak bernilai.

5 tahun kemudian, pabrik pertama Indomie dibuka di Nigeria. Penghasilan dan branding yang naik tentunya membantu pertumbuhan pasar mie instan.

Hanya 25 tahun dari terbukanya pabrik lokal Indomie pertama, dan tumbuhnya pasar dan ruang pekerjaan yang disediakan oleh Indomie yang sudah bertumbuh sangat besar, dan, Indofood mendominasi 74% dari pasar Mie Instan di Nigeria, angka yang besar, terutama mengingat luasnya Nigeria.

Uniknya, angka 74% ini dapat dianggap sebagai penurunan bagi Indofood.

Perlu diingat, sampai tahun 2009, Indofood memegang hampir seluruh pasar mie instan di Nigeria. 97% dari pasar mie instan di Nigeria dimakan habis oleh Indomie yang sudah mulai memberikan pengaruhnya pada warga dan anak muda di daerah Nigeria.

Warga Nigeria mengonsumsi 8 juta paket Mie Instan tiap harinya, dan, dengan harga 15 sen per paket Mie Instan, tentunya, makanan amat enak ini mendominasi daerah Nigeria di Utara, yang masih dipenuhi dengan keluarga di level 1 (penghasilan total keluarga bernilai 2 dollar atau kurang per harinya).

Dengan naiknya harga gandum secara eceran, dan karbohidrat pada umumya di daerah Nigeria bagian utara, konsumsi Mie Instan jauh lebih murah dan mengenyangkan bagi keluarga-keluarga berpenghasilan rendah.

Mie Instan menjadi suplai karbohidrat yang begitu baik dan kuat untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Dalam kacamata ekonomi mendasar, gandum yang dibutuhkan Indofood tiap tahunnya yang sejumlah 500.000 ton, sekitar 7 kali lebih banyak dari gandum yang diproduksi oleh petani-petani di Nigeria per tahun.

Jumlah gandum yang diambil bulk, dan dimanfaatkan secara efektif oleh Indofood mampu menurunkan harga karbohidrat yang dibutuhkan oleh warga, dan memberikan warga opsi untuk makanan murah dan mengenyangkan.

Selain menjadi opsi karbohidrat yang murah, enak, dan mudah didapatkan bagi warga tingkat 1 (warga tingkat 1 di Nigeria mengonsumsi 2.2 kilogram Indomie), rasanya yang gurih, manis, dan tidak bisa didapatkan di tempat lain juga membuatnya populer di kalangan anak muda, dan warga lain. Konsumsi warga tingkat 2 ke atas, per capita, 1.1 kilogram.

Indofood mengambil dan mendominasi pasar Nigeria dengan rasanya yang sangat enak (percaya padaku, bahkan orang-orang yang biasa makan 100.000 rupiah per orang tiap kali makan, masih menyukai Indomie, dan tidak akan menolak untuk memakannya sesekali) dan fakta bahwa harganya terjangkau, menggulingkan takhta mie instan yang didominasi Indomie akan sangat menyulitkan.

Kampanye Mie di Nigeria

Sebagai warga Indonesia, tentunya, aku tumbuh dan dikelilingi oleh Indomie, dan banyaknya varian rasa dari mie instan tersebut. Namun, tidak banyak ada kampanye khusus yang dibuat oleh Indomie demi mempromosikan produknya.

Oke, selain Asian Games, tetapi, itu pengecualian karena tokohnya hanya memasang tokoh yang sudah diciptakan, bukan tokoh ciptaan sendiri.

Mungkin ada rasa baru, dan rasa tradisional (mie goreng aceh, soto tengkleng, dan semacamnya) tetapi, belum pernah ada karakter yang khusus dibuat seperti seri karakter Indomitables yang dilakukan di Nigeria.

Sachet karakter Indomitables dibuat khusus, bisa digunting, dan ada gambar karakter superhero di depannya. Jujur, sepertinya hal yang sama belum pernah dilakukan oleh Indomie di Indonesia.

Tapi ya sudahlah. Tanpa adanya banyak kampanye, Indomie sudah terkenal kok.

Dengan beberapa kampanye Indomie di Nigeria, ia makin terkenal, penjualan makin naik, pasar makin menginginkannya, sampai ke titik orang-orang Nigeria mengira bahwa Indomie berasal dari Afrika, dan ke titik sampai orang Nigeria menyebut mie sebagai Indomie.

Tetapi, selain kampanye karakter superhero yang dimasukkan ke sachet, lalu artwork khusus yang berubah, kampanye paling baru Indomie berada di vaksinasi.

Mohon maaf, awalnya aku ingin mengupload sachet Indomie di Nigeria, namun, sepertinya sistem gambar di WordPress sedang tidak berjalan dengan baik, mohon menunggu sebentar ya πŸ™‚ .

Intermezzo

Baik Indonesia dan Nigeria memiliki masalah vaksinasi yang buruk

Ketika ada vaksin, di Indonesia langsung terjadi perdebatan panas dan banyak juga hoaks yang menyatakan bahwa pembuatan vaksin menggunakan plasenta bayi, rambut monyet, atau semacamnya lah. Selain itu, juga banyak ulama dan petinggi agama menyatakan bahwa vaksin adalah benda yang tidak halal. Untungnya, konflik itu sudah beres, dan sekarang kondisi vaksinasi di Indonesia membaik.

Di Nigeria, banyak warga di tingkatan ekonomi level 1, atau 2, termakan rumor adanya zat infertil di vaksin dan pemboikotan vaksin polio di tahun 2003.

Kekacauan pada negara, rusuhnya beberapa hal, dan rumor-rumor lebih lanjut pada vaksin membuat angka vaksinasi di Nigeria turun drastis. Sampai tahun 2018 setidaknya.

Kembali ke kampanye…

Kampanye vaksinasi

Pada akhir 2018, pemerintah Nigeria membeli 75.000 sachet Indomie, dengan harapan bahwa 75.000 sachet tersebut dapat digunakan sebagai bahan tawar untuk meminta warga melakukan vaksinasi.

Target awal pemerintah sedikit dibawah 60.000 anak (58.917 anak) mendapat vaksin polio, tetapi, hasil kampanye ini lebih sukses dari yang dibayangkan.

Kampanye yang awalnya hanya akan bertahan selama satu hari ini dan hanya ditujukan bagi anak-anak menjadi sangat populer. Orang dewasa pun meminta vaksin polio demi bisa makan Indomie secara gratis. Secara total, kampanye satu hari itu menjadi kampanye 5 hari. Target anak yang divaksin terpenuhi (hampir dua kali lipat dari target malah), dan ditambah juga dengan 150.000 warga dewasa menerima vaksinasi demi Indomie gratis.

The power of Indomie!

Kesimpulan.

Kita harus bangga menjadi warga Indonesia

Indomie yang (memang sih) tidak sehat itu membantu negara lain dengan menyediakan opsi karbohidrat yang enak dan murah. Bukan hanya disitu, indomie juga dapat dijadikan bahan tawar untuk membantu mencapai angka vaksinasi yang baik.

Terima kasih Indofood, dan Indomie!

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Jadi, pagi ini, aku perlu membuat suatu tulisan, dan sejujurnya, aku sedang bingung, apa yang bisa kulakukan. Aku berusaha mencari ide, namun tidak dapat, dan, ya sudah, aku mau menulis mengenai taktik-taktik sepakbola yang digunakan olehku dan timku ketika latihan.

Taktik yang dibahas disini bukan taktik yang sudah diaplikasikan, melainkan masih bersifat teoretikal, dan tidak memberikan nama pemain atau tim yang memanfaatkan taktik ini.

Selamat menikmati.

Catatan

Aku suka menghabiskan waktu luang ketika tidak ada serial untuk ditonton, atau pop culture buzz yang nongol di internet dengan mencari dan mengintip beberapa taktik-taktik sepakbola. Untungnya, tidak ada orang yang membuat artikel seperti ini dalam bahasa Indonesia, jadi, kurasa tidak ada salahnya jika aku membuat serial ini.

Gegenpressing 101

Gegenpress adalah taktik yang sangat mudah dijelaskan.

Pada dasarnya, Gegenpress berarti memanfaatkan dua pemain terdekat dengan bola untuk lari dan menekan pemain yang membawa bola. Sesederhana itu.

Pro Gegenpress

Jika situasi di atas dapat dilakukan dengan benar, pemain-pemain lini depan yang biasa bermain di garis yang cukup tinggi dapat menyerang dengan cepat, dan memaksa pemain bertahan lawan bergerak dengan cepat, sehingga membuka ruang.

Hampir dapat dipastikan bahwa kedua bek tengah harus siap untuk berlari dan mengintersepsi bola, ataupun melakukan marking. Jika ini dilakukan, akan ada ruang yang diciptakan, dan dapat menciptakan skenario seperti ini.

Dengan adanya banyak opsi untuk menyerang, pemain nomor 9 cukup memberikan bola ke pemain nomor 7, 8, 10, atau 11, dan dari situ, setidaknya sebuah kesempatan dapat tercipta.

Selain itu, Pro terbesar gegenpress adalah efek psikologis yang diberikan ke lawan-lawan tim. Jika ada tekanan dari pemain yang banyak (secara harfiah, dan figuratif), akan ada kebingungan dalam menentukan arah bola, dan jika passing dilakukan dengan labil, bola akan mudah dimenangkan kembali, dan serangan balik akan tercipta.

Kontra Gegenpress

Sayangnya, meski taktik ini mudah sekali untuk dijelaskan, penerapannya sangat sulit…

Butuh fokus, stamina, dan dia memiliki resiko yang sangat besar semakin banyak orang yang dimanfaatkan untuk menekan. Umumnya, Gegenpress menekan menggunakan dua orang, tetapi pada suatu titik, berdasarkan taktik yang lawanmu lakukan, bisa ada 4-5 orang berusaha memenangkan bola dari pemegang bola. Jika itu terjadi…

Seperti kita lihat di sini, karena pergerakan pemain menekan ke arah bola… Jika pemain lawan cukup tenang, mereka bisa memberikan bola ke pemain yang sekarang kosong.

Jika bola sudah sampai ke suatu pemain, pada umumnya, akan ada lebih banyak pemain yang dikorbankan untuk mengejar bola.

Kondisi Pressing berat ini dapat membiarkan setidaknya satu lawan tanpa ada pemain yang melakukan marking, dan ini bisa membuka ke situasi satu lawan satu dengan kiper jika pemain-pemain lain tidak cukup fokus atau disiplin untuk melakukan marking.

Tentunya board di atas sangat-sangat teoretikal, masih ada beberapa pemain yang belum melakukan marking, juga ada lawan yang belum di mark dengan benar, tetapi, dalam beberapa kondisi, Gegenpress dapat membuka situasi seperti ini.

Taktik untuk digabungkan dengan Gegenpress

Gegenpress sendiri tidak cukup untuk dimanfaatkan sebagai taktik standalone.

Bek Sayap

Biasanya Gegenpress digunakan di tim-tim yang memiliki bek sayap yang mampu maju mundur dan membantu serangan serta menjadi orang tambahan untuk membantu merebut bola di tempat yang tinggi.

Anggap saja, serangan berujung gagal, dan kiper melempar bola dengan cepat ke pemain nomor 4.

Pemain nomor 4 dapat menerimanya dengan mudah, dan sebelum ada tekanan lebih lanjut dari pemain nomor 9, 8 atau, 10, ia memberinya ke pemain nomor 8 yang menemukan ruang kosong.

Melihat ini, 3 pemain langsung menekan pemain nomor 8 sebelum ia bisa mengeluarkan umpan.

Jika pemain nomor 8 menerima tekanan hanya dari pemain nomor 8 dan 11 saja, besar kemungkinan akan ada ruang yang dapat dimanfaatkan unutk memainkan operan lagi. Bek kanan (3) yang bermain di posisi tinggi dapat membantu merebut bola dan membantu menyerang dari sisi sayap, dengan pemain nomor 8 dan 11 masuk ke kotak penalti, dan mencari posisi untuk mencetak gol

Tentunya jika 3 pemain telah dikorbankan, dan bola masih lolos, kondisi buruk dapat dijamin terjadi. Pemain nomor 7 berada di posisi kosong, dan dengan pemain nomor 9 dan 11 untuk membantu serangan, jika pressing ini tidak cukup, hanya tersisa bek tengah dan gelandang bertahan untuk memotong umpan.

Cara Mengatasi Gegenpress

Sejujurnya, aku tidak tahu.

Taktik ini bukan taktik yang dapat diatasi dengan taktik lain. Cara terbaik untuk mengatasinya cukup dengan ketenangan dan kemampuan memberikan operan yang rapih alih-alih dengan taktik.

Jika Gegenpress dengan 3 orang atau lebih tidak dapat memenangkan bola kembali, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan tim mengenai hal tersebut. Terlalu banyak ruang akan terbuka begitu saja jika bola sudah melewati orang yang ditekan.

Kriteria.

Taktik ini sulit digunakan karena butuhnya kriteria fisik yang berat.

  • Stamina yang cukup
  • Kecepatan mengejar bola, dan pemain bertahan yang berada di posisi tinggi
  • Kedisiplinan dan kesabaran dalam menentukan kapan menekan, dan kapan tidak perlu menekan.
  • Marking yang bagus dan kemampuan memotong operan yang baik
  • Kemungkinan besar, butuhnya kiper yang handal dalam kondisi 1 lawan 1 jika tekanan mengakibatkan ruang terbuka yang banyak.

Meski kriterianya banyak, Gegenpress dapat menjadi taktik bertahan yang dimanfaatkan untuk menyerang jika pemain-pemainmu cukup untuk melakukan hal tersebut.

Tim yang menggunakan:

  • Liverpool F.C.
    • Liverpool mungkin tim terbesar yang menggunakan taktik ini. Juergen Klopp membuat sistem dengan pemain-pemain cepat yang memiliki stamina bagus untuk melakukan taktik melelahkan seperti Gegenpress. Mulai dari tekanan di depan oleh striker tengah Firmino, gelandang-gelandang yang mampu naik turun barisan dengan cepat, dan bek-bek tercepat di Eropa, Gegenpress di Liverpool bisa dibilang berjalan sangat sukses.
  • Borussia Dortmund di bawah Juergen Klopp
    • Jika membahas Gegenpressing, Juergen Klopp mungkin pionirnya. Baik Liverpool atau Dortmund, keduanya menjadi tim yang sangat-sangat fokus ke passing jarak dekat dan kecepatan serta stamina. Di bawah Klopp, Dortmund fokus ke permainan menekan dari depan dan passing rapih oleh Gotze atau Gundogan, sebelum bola sampai ke Lewandowski dan masuk ke gawang. Dortmund di bawah Klopp bermain di posisi tinggi, dan tidak mudah terkena serangan balik. Tekanan yang konstan dan menyebalkan serta pertahanan rapat dan bek-bek muda serta cepat dalam Mats Hummels dan Neven Subotic memberikan lawan-lawan Dortmund sangat sedikit ruang untuk menyerang.
  • Bayern Munich di bawah Pep Guardiola.
    • Sebelum Bayern sekarang yang memiliki pemain-pemain yang hanya meluangkan waktu untuk pensiun di lini depan dan belakang, Pep Guardiola memanfaatkan Gegenpress dan mendominasi Liga Jerman dengan taktik tersebut. Meski Pep tidak memiliki striker-striker yang sedisiplin trio striker Liverpool dalam bertahan, Robben dan Ribery juga melakukan tugas bertahan yang cukup baik. Inti Gegenpress Guardiola berada di gelandang-gelandangnya. Guardiola memiliki Thiago Alcantara, Javi Martinez, dan Xabi Alonso yang mampu mengejar bola dengan cepat.

Kesimpulan

Komitmen manajer untuk menggunakan sistem Gegenpress cukup berat, terutama mengingat kebutuhan pemain dengan fisik yang cukup kuat, pribadi yang disiplin (PSG sebenarnya memiliki kualitas pemain yang cukup untuk melakukan Gegenpress, sayangnya, tidak banyak pemain yang cukup disiplin untuk menjalankan sistem tersebut) untuk menjalankan sistem tersebut, jadi, tidak banyak tim dapat memanfaatkan Gegenpress dengan efisien dan baik.

Kasarnya, Gegenpress adalah taktik High Risk, High Skill, High Reward yang perlu pengaturan pemain dan pemanfaatan sempurna oleh pelatih untuk hasil paling efisien.

Sampai lain waktu!

Template tactical board dari tactical-board.com

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Minggu malam kemarin, topik ini dibahas di klub debatku, dan menurutku, ini topik menarik, dan tidak harus spesifik digunakan pada ikon-ikon remaja atau anak, karena kurasa efek yang similer dapat dimanfaatkan dan dicoba pada anak-anak yang tidak menerima tekanan sebanyak “Ikon-ikon” yang dimaksud.

Ikon disini dimaksudkan sebagai atlet, penyanyi, aktor, selebgram (sayangnya iya… selebgram), atau remaja dan anak apapun yang menerima tekanan dari dunia luar dan memang terkenal.

Bagaimanapun juga, ini topik menarik, jadi langsung saja kita masuk. Aku akan memberikan tiga contoh, ketiganya punya efek masing-masing.

Michael Jackson

Ah. Him.

Namanya langsung menciptakan image orang yang melakukan moonwalk, penyanyi pop, dan kemungkinan besar, orang-orang sudah dapat gambaran mengenai dirinya sedetik sesudah namanya disebutkan.

Sebelum ia menjadi solo artist (yang hebat, tentunya), Michael Jackson memulai karirnya di Boyband yang diurus dan dimanage oleh ayahnya sendiri, Jackson 5. Anggotanya adalah kakak-kakak nya, dan, pada saat memulai karirnya, ia masih berkulit hitam (ya, maaf, aku tidak bisa menggunakan istilah yang lebih politically correct, aku tahu). Tentunya ia termasuk golongan African-American.

Michael adalah anak paling muda dari kelima anggota boyband tersebut. Ia juga yang paling berbakat, dan kasarnya, ia juga yang paling labil. Tetapi, perlakuan ayahnya pada Michael tidak jauh berbeda dari keempat kakaknya.

Ritme harian Michael Jackson yang sedang berusaha keras untuk mendapatkan uang, ketenaran, dan juga agar keluarganya tidak perlu hidup “sulit” lagi (kurang lebih) berjalan seperti ini.

  • Bangun
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan siang
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan malam
  • Latihan/merekam lagu
  • Tidur
  • Protes? PETAK! Punggungmu dipukul dengan sabuk, atau kamu ditendang oleh ayahmu sendiri.

Oh iya, juga ada saat sesudah ia terkenal, latihan/merekam lagu berubah menjadi tampil. Jadwal Jackson 5 sangat penuh, dan mereka tidak bisa berkomentar atau meminta perubahan jadwal sedikitpun kepada ayah mereka.

Ya, menjadi orang african-american pada zaman itu memang sulit. Apalagi jika kamu ingin menjadi selebritis african-american.

Tentunya, Michael juga ingin menjadi anak yang lebih normal. Ia ingin pergi ke Disneyland, ia ingin pergi ke Kebun Binatang, ia ingin banyak hal. Mungkin keinginan dia yang paling sederhana adalah minum milkshake bersama ayahnya.

Ia tidak pernah mendapat kesempatan tersebut.

Sesudah tur, ia merekam album baru dengan tingkatan abuse yang sama (jika bukan lebih)

Tekanan dari dunia, dari orang tua, dan dari studio memberikan Michael Jackson efek yang sangat buruk ketika ia sudah dewasa. Memang ada efek positif ketika ia membuat amusement park, dan kebun binatang, mungkin untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bersenang-senang ketika mereka masih punya waktunya.

Tetapi, efek negatifnya? Mulai dari merubah warna kulit (keluarganya sendiri menolak untuk menyatakan bahwa ia melakukan operasi karena ia tidak senang dengan kulitnya yang gelap. Oh tidak, keluarganya bilang ia memiliki kondisi kulit yang membuat warna hitam dari kulit tersebut memudar), sampai ke rumor-rumor kematiannya karena ia bunuh diri (albeit, there are other rumors).

Masa kecilnya begitu suram, sehingga hidup dewasanya terpengaruh.

Oh iya, satu hal lagi.

Ia tentunya sudah pernah juga hidup di zaman dimana dunia dapat lebih menerima orang-orang yang memiliki warna kulit berbeda. Aku berasumsi bahwa ia menyimpulkan jika ia tidak lahir dengan kulit hitam, atau lahir di zaman tersebut, ia akan memiliki hidup yang lebih bahagia.

Kesimpulan kasus

Terlalu banyak tekanan.

Macaulay Culkin

Oke, ini bukan kasus terkenal.

Tidak semua orang langsung tahu, siapa itu Macaulay Culkin. Tetapi, aku yakin, semua orang tahu, film Home Alone.

Ya, dia pemain di film tersebut, berperan jadi anak menyebalkan, tapi banyak akal.

Culkin terjerat narkoba pada tahun 2004. Ia juga kebetulan menjadi saksi atas kasus Michael Jackson.

Banyak laporan di sana dan di sini menjelaskan tentang cara ia terjerat narkoba, termasuk penggeledahan rumah, hotel, dan banyak lagi. Tentunya ia sudah masuk rehabilitasi narkoba, dan kurasa selama ia tidak berteman dengan orang-orang yang menjeratnya kembali, hidupnya akan mulus.

Kurasa Culkin adalah contoh yang pas untuk anak yang tidak diberikan tekanan yang cukup.

Ia dibiarkan melakukan apapun, dan orangtuanya tidak pernah memberikan tough love, atau tantangan. Ia juga kaya untuk hitungan anak berumur 10 tahun. Dan dalam beberapa wawancara ia juga pernah menyinggung fakta bahwa orangtuanya tidak pernah tampak peduli untuk apa yang ia lakukan di luar studio. (serius.)

Dari beberapa wawancara yang kusimpulkan, Culkin tidak jauh beda dari tokoh yang ia mainkan di film Richie Rich, dengan perbedaan bahwa ia sebenarnya memang bahagia karena tidak ada tekanan.

Dunia berkata lain sayangnya.

Ia bergaul di lingkaran yang salah dan menjadi pecandu narkoba. Ia juga mendapatkan jumlah kritikan yang tidak sedikit oleh fans-fans nya, karena sepertinya ia tidak pernah bermain di film lagi, dan, ya, ketenaran miliknya sudah hilang.

Untungnya ia sukses bounce back dari all time low miliknya… But, well, kita lihat saja nanti.

Kesimpulan Kasus

Tidak cukup banyak perhatian.

Kylian Mbappe

Ah, him.

Hanya 6 bulan yang lalu, ia memecahkan beberapa rekor. Rekor-rekor yang hanya Pele sendiri pernah penuhi. Ia menjadi remaja kedua (sesudah Pele) yang mencetak 2 gol dalam pertandingan piala dunia, dan ia juga menjadi remaja kedua (sekali lagi, sesudah Pele) yang mencetak gol di final piala dunia.

Baru minggu lalu, Pele mengaku bahwa ia percaya Mbappe dapat menjadi pemain yang lebih baik dari dirinya.

Kemarin, ia mencetak hat trick melawan Guingamp untuk PSG. Sayangnya, bola permainan diberikan ke Edinson Cavani yang mencetak gol ketiganya 11 menit sebelum Mbappe. Eh.

Oh iya, umurnya baru 20 tahun, dan… Kecepatan maksimalnya adalah 44.51 kilometer per jam, hanya 0.24 kilometer per jam lebih lambat dari Usain Bolt (sebelum berkomentar lebih lanjut mengenai siapa manusia tercepat di dunia, Usain Bolt dapat berlari sekitar 40 meter lebih jauh daripada sprint Mbappe pada umumnya)

Tentunya, ia memberikan kredit atas keberhasilannya sebagai atlit kepada kedua orangtuanya. Ketika menyindir jumlah uang yang ada di industri sepakbola dalam sebuah wawancara, ia sempat menyebutkan bahwa ia meminta sebuah jet pribadi untuk kedua orangtuanya.

Bagaimana ia bisa mendorong dirinya sejauh ini?

Tentunya, karena kedua orangtuanya.

Salah satu berperan sebagai orang yang mencintainya, dan yang lain berperan sebagai pendorong.

Ayahnya mendorongnya untuk menjadi pemain yang lebih bagus. Ayahnya menekannya untuk lebih fokus, memberikan target, memastikan target itu terpenuhi, dan ayahnya juga menjadi contoh yang baik untuknya.

Ibunya, pada sisi lain, (layaknya ibu untuk seorang anak laki-laki) mencintainya, tidak banyak berkomentar, dan memberikan dia izin untuk melakukan apa yang ia inginkan, selama permintaannya masih wajar tentunya.

Dan, Mbappe, sekarang menjadi salah satu pemain terbaik di dunia, sekaligus pemain muda yang masih bisa tumbuh dan menjadi lebih baik lagi. Just wait and see.

Kesimpulan Kasus

Tekanan dan cinta yang seimbang.

Banyak atlet mendapat perlakuan mirip seperti Mbappe, contoh: Tiger Woods…

The Vaccine Effect

Freud menjelaskan kesadaran dalam bentuk repressed memories, yang menjadi identitas kita, baik yang buruk, atau yang bagus. Identitas kita terbentuk dari ingatan yang tidak jelas, karena secara tidak sadar, ingatan tersebut kita tolak. Identitas terbagi menjadi 3 level. Ego, alias kepribadian/identitas yang jelas, Superego, alias kepribadian yang hanya tampak sesekali, tetapi ketika tampak, kepribadian tersebut lebih kuat. Yang terakhir, ID, ID atau Identitas adalah semua repressed memory yang menghasilkan diri kita, secara tidak sadar, semua keputusan yang kita buat diperintah oleh ID. Tiap kasus menciptakan identitas tiap pribadi masing-masing. Kepribadian tersebut yang mendorong mereka untuk membuat keputusan.

Seluruh kepribadian ini terbentuk pada usia 3-18, dan, memori yang ditekan ini mengatur cara seseorang sebenarnya berpikir. Pada fase pertumbuhan ini, orang tua harus memastikan anaknya mendapatkan tekanan yang cukup darinya sebagai… “vaksin” agar mereka siap mendapat tekanan dari dunia luar.

Kurang lebih vaksin yang dimaksud adalah tekanan ringan, agar anak nanti dapat siap untuk menerima tekanan yang mungkin memang berat, dari dunia luar.

Ini berpengaruh bukan hanya bagi ikon remaja atau anak, tetapi juga untuk semua anak. Mereka harus merasakan tekanan, serta juga mereka harus merasakan hal-hal yang memberikan hierarki, seperti bullying… Tanpa adanya tekanan tersebut, dan tanpa adanya bullying, atau dunia yang lebih keras… Kita akan lemah, dan tidak bisa ditekan sedikit pun.

This is bad of course.

Sampai lain waktu.

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

Hanya 2 lagi sisa tulisan road trip yang perlu dibuat olehku sebelum membuat post kesimpulan, meski aku tertarik untuk membuat satu tulisan ekstra karena kayanya aku belum cukup meliput mengenai subjek ini.

Artikel hari ini akan membahas kisah hidup laksamana Cheng Ho dan bagaimana ia bisa menjadi laksamana di lautan. Akan ada sedikit bercandaan ala dikakipelangi yang menyodorkan teknologi zaman sekarang di cerita sejarah, namun mayoritas konten akan faktual, dan lebih serius, karena ini memang akan membahas dari sudut pandang sejarah.

Aku sudah berencana menulis tentang Sam Poo Kong dimana aku pertama menemukan fakta-fakta serta cerita mengenai laksamana ternama ini, dan tulisan ekstra yang akan aku buat akan menceritakan lebih banyak tentang kisah perjalanan Cheng Ho ketika ia sudah berlayar. Namun untuk kali ini, kita akan ceritakan kisah hidupnya sebelum ia menjadi laksamana.

Muslim Mongol

Cheng Ho lahir di tempat yang tepat, namun juga salah di saat yang sama. Ia lahir di Kunyang, sebuah daerah yang kecil di Yunnan, pada tahun 1371.

Jika ia bukan seorang keturunan Mongol dan tidak lahir di Yunnan, pada tahun dimana kerajaan Mongolia sedang diserang berulang kali oleh Dinasti Ming, ia tidak akan pernah menjadi seorang laksamana. Tetapi, karena ia masih anak-anak (Kunyang jatuh ke tangan Dinasti Ming pada tahun 1381) ketika serangan tersebut terjadi, ia dibiarkan hidup.

Sampai menjadi laksamana, Cheng Ho menjalani hidupnya sebagai pengawal permaisuri Kekaisaran Ming. Ia telah dikebiri, dan harus hidup sebagai Eunuch (orang kasim) seumur hidupnya, atau, langsung mati saat itu juga.

Seperti sering dibahas oleh banyak orang, Cheng Ho merupakan seorang Muslim. Sayangnya, orang-orang juga suka melewatkan sedikit fakta mengenai keluarganya. Cheng Ho berada 5 generasi di bawah Gubernur Yunnan yang memang beragama Muslim, namun, yang orang-orang sering lewatkan, keluarga inti, atau keluarga dekatnya, tidak begitu religius.

Catatan menuliskan bahwa generasi terakhir yang melakukan Ibadah Haji adalah Gubernur Yunnan yang merupakan Great-Great-Great Grandfather-nya. Tidak juga banyak catatan bahwa keluarga inti Cheng Ho melakukan puasa, berkurban, atau semacamnya. Catatan terakhir keturunan langsung dari Cheng Ho yang melakukan ibadah-ibadah Islam seperti Berkurban, Puasa, dan Zakat hanyalah Kakeknya.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana ia bisa menjadi seseorang yang cukup religius? Ia memang mengetahui bahwa ia seorang Islam, tentunya keturunan dan keluarga yang ia dapatkan sudah memperjelas hal tersebut, namun, alasan ia menjadi pribadi yang taat akan agama belum pernah dijelaskan, karena meski ayahnya memegang gelar Haji yang diturunkan dari beberapa generasi sebelumnya, belum ditemukan catatan bahwa ia sudah melakukan pengembaraan ke Mekah.

Tentunya, kita bisa berasumsi bahwa ia dekat dengan Kakeknya selama 10 tahun pertama hidupnya, dan Dinasti Ming juga bukan dinasti yang memiliki masalah akan adanya perbedaan agama. Selain itu juga perlu diingat bahwa Ma He (nama asli Laksamana Cheng Ho) tidak pernah punya keterkaitan dengan keluarganya sesudah tempat tinggalnya diserang, mungkin Agama satu-satunya cara ia mengingat hal tersebut.

Catatan: Ma = Mohamed dalam bahasa Cina, He = Mulia dalam bahasa China. Fun Fact: Secara teknis, Ma He (Cheng Ho) dan Moh. Salah, memiliki arti nama yang salah. Mohamed yang Mulia. (Salah juga berarti mulia dalam bahasa arab)

Budak Ming

Budak muda yang dikebiri dengan nama Ma He kemudian diberikan ke seorang pangeran. Untuk seorang Budak, atau mungkin seorang manusia pada umumnya, ia cukup karismatik. Ma He memenangkan hati sang pangeran dengan candaannya dan aura fun yang ia miliki. Ia tidak pernah diberikan tugas budak, atau hanya sebatas jadi penjaga permaisuri, kepintaran, dan karisma yang ia miliki membuat Pangeran Zhu Di dari Yan mengangkatnya sebagai asisten pribadi miliknya.

Alih-alih dimanfaatkan sebagai budak konvensional, ia disuruh untuk mengikuti sekolah militer. Pangeran Zhu Di tahu ia akan membutuhkan bantuan seorang Mongol untuk menyerang kerajaan tersebut, jadi ia memutuskan untuk menunggu waktu beberapa tahun, sampai Ma He siap untuk membantunya.

Catatan: Bukan sebagai “asisten”, sebenarnya, tugas Ma He yang masih muda tersebut, adalah mengawal dan memberi nasihat akan kerajaan Mongol berdasarkan pengetahuannya ketika pangeran muda tersebut merencanakan serangan.

Zhu Di sendiri tidak terlalu tua. Ia pangeran muda yang berani, pintar, dan nekat untuk menyerang kerajaan Mongol. Pada usia 26 tahun, dengan bantuan Ma He yang masih berusia 16 tahun, ia menyerang pusat militer Mongolia, dan membuat jendral besar dari kerajaan Mongol, Naghachu, menyerah.

Naga Chu… Pft… Nama macam apa itu… Naga bersin… HAHAHA, pantesan kalah! Ehem, maaf.

Selama ia masih di Mongol, ia belum pernah mendapatkan catatan apapun mengenai agamanya, jadi untuk sekarang, masih jadi sedikit misteri bagaimana ia bisa menjadi pribadi yang religius.

Perebutan Takhta

Sejujurnya, tidak seratus persen kehidupan Cheng Ho dipenuhi dengan hal-hal baik. Bagian dari cerita ini mungkin bagian kehidupan miliknya yang paling dipenuhi dengan tindakan buruk.

Ma He muda diberikan tugas terakhir. Sebuah tantangan. Ia diminta membantu Zhu Di merebut takhta dan mengambil posisi sebagai maha kaisar Dinasti Ming. Metode yang dilakukan dan direncanakan Zhu Di dipenuhi dengan pembunuhan, penggeseran, serta fitnah-fitnah untuk memecah kerajaan utama.

Cheng Ho, yang masih merupakan Kasim tingkat menengah, belum punya hak untuk mengubah ide dan metode dari Zhu Di, ia pun belum bisa menolak untuk membantu Zhu Di.

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia melakukan hal-hal keji tersebut, hingga Zhu Di menjadi Raja.

Untungnya, Zhu Di memberikan Ma He hadiah. Ia menaikkan pangkatnya sebagai Mahakasim. Tingkat Mahakasim ini, sebenarnya baru diciptakan di tahun yang sama Zhu Di naik takhta. Dalam pikiranku, tujuan tingkat Mahakasim ini dibuat oleh Zhu Di untuk menutup malu-nya jika ia mengangkat seorang Kasim yang dulunya warga Yunnan sebagai laksamana.

Ya, pada dasarnya, Mahakasim = Laksamana / Penasehat versi orang Kasim. Hak yang didapat seorang mahakasim sama persis dengan hak seorang menteri, laksamana, ataupun penasehat. Oke, ada satu hak yang tidak dimiliki, tapi kurasa aku tidak perlu membahasnya.

Dengan adanya gelar Mahakasim ini, Zhu Di memberikan Ma He nama baru. Ia sekarang dikenal dengan Zheng He.

The Treasure Fleet

Tahun 1403, Zheng He diberikan tugas untuk mengawasi pembangunan kapal.

Menurut beberapa cerita, Zheng He sejak kecil selalu memiliki perasaan wah ketika melihat kapal. Ia merasa begitu terpesona tiap melihat kapal megah dan besar melewati air, jadi, secara alamiah, ia dapat mempelajari cara kerja dan cara pembangunan kapal dengan begitu cepat.

Ia menggunakan teknologi paling maju, tentunya modal Dinasti Ming tidak begitu mudah habis. Kapal-kapal buatannya, sebanyak 400 kapal memiliki sistem cloud untuk mencatat barang dagangan secara otomatis, menggunakan sistem autopilot, dan tentunya, memiliki sangat-sangat banyak barang dagangan.

Kasarnya, kapal yang dibuatkan untuk Zheng He, adalah kapal yang paling canggih.

2 tahun kemudian, sesudah projek itu beres…

Zhu Di meminta Zheng He, yang memang mengawasi projek tersebut, untuk menjadi ambassador, serta laksamana utama dari perjalanan tersebut. Investasi long-term ini tentunya akan memberikan cukup banyak uang bagi Zhu Di, namun…

Bersambung

Kesimpulan

Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa karena cerita ini belum beres.

Namun, kesimpulan hari ini akan diubah dengan beberapa spoiler kecil.

  1. Seperti diketahui banyak orang. Zheng He meninggal di jalan. Ia berangkat pada usia 34, dan meninggal pada usia 60.
  2. Zheng He disebut Cheng Ho oleh orang Indonesia untuk mempermudah.
  3. Ia berkeliling ke seluruh dunia, tentunya.
How Dumb Is Social Media?

How Dumb Is Social Media?

Eesh, aku harus mengakui aku sedikit menyesal mencari kata Egg di Google hari ini. Aku mendapat hasil yang anehΒ  bin ajaib ketika baru 46 menit yang lalu, Fox News menulis artikel mengenai most-liked post di Instagram.

Sebuah telur. Like, what?

(jika anda pembaca setia, semoga anda belum bosan mendengar celotehanku tentang sosmed. Ini subjek ultra sensitif bagiku)

Sejujurnya ini sedikit membingungkan ketika banyak wartawan dan penulis yang fokus menulis mengenai tren di Sosial Media. Belum lama, ketika aku mengoogle Cristiano Ronaldo hasil yang keluar bukan hal-hal mengerikan (atau, menakjubkan, tergantung cara kau melihatnya) yang ia lakukan bersama Juventus untuk merusak Serie A yang dulunya kompetitif, tapi fakta bahwa ia telah menyalip Selena Gomez sebagai orang dengan akun paling banyak pengikut followers di Instagram. Which is weird.

Maksudku, sekarang sudah ada blog, dan beberapa wartawan dari perusahaan media besar yang menjadi spesialis pencari tren di Instagram dan menuliskan artikel mengenai tren tersebut. Ini mulai terasa redundan ketika ada sekelompok orang yang bertugas mencari, menjabarkan dan menuliskan hal-hal yang orang-orang pada umumnya lakukan untuk mengisi waktu ketika menggunakan sosial media.

Ehem, sebenarnya ini mulai off-topic.

Aku menulis artikel ini untuk mempertanyakan alasan sosial media digunakan, dan juga, mengapa menurutku sosial media adalah hal yang bodoh, dan bodoh disini bukan hanya bodoh karena cara penggunaannya, beberapa penggunanya, tetapi juga cara sosial media merubah pemikiran dan hal-hal yang dilakukan orang-orang.

This is a long intro. Mulai saja deh!

Kenapa Aku Melakukan ini?

Baiklah, jadi, ada sebuah akun Instagram dengan nama World Record Egg, dan siapapun yang membuat akun itu sangat-sangat jenius!

Mungkin ia tidak suka Kylie Jenner, jadi ia memutuskan untuk membuat foto sederhana, foto sebuah TELUR! dan menuliskan caption agar orang-orang memberikan “Like” demi menggeser posisi Kylie Jenner dari rekor yang ia pegang sebelumnya.

Post tersebut telah mencapai lebih dari 20 juta likes, tetapi, kalau dipikir-pikir lagi… “Apa tujuan saya melakukan ini?”

Aku menemukan 3 alasan, tetapi, aku hanya melihat alasan yang bermakna di salah satunya…

  1. Kylie Jenner, UGH! Dia tidak pantas mendapat posisi nomor 1 untuk apa-apa. Aku merasa sebuah telur lebih pantas memegang posisi nomor 1 untuk post paling banyak di like.
  2. Ah well, semua teman-temanku melakukan ini, kenapa tidak?
  3. Hmm, ide bagus, caption bagus. Pencet like.

By the way. Aku hanya menyetujui alasan nomor 1, karena jika aku pengguna sosmed dan dapat “berpartisipasi” untuk menggulingkan rekor Kylie Jenner, kayanya aku akan melakukan hal yang sama.

Hal yang kosong seperti ini membuatku mempertanyakan kepentingan dari aspek like ini. Menurutku itu aspek kedua paling bodoh dari sosial media, karena tidak adanya batas penggunaan, orang-orang bebas melakukannya kapanpun mereka ingin, dan melepaskan kontrol dari diri mereka sendiri.

The Economy of Likes

Oke, mari kita anggap Like sebagai uang.

Anda seorang investor saham skala besar. Anda harus siap bekerja 24 jam jika ada gejolak ekonomi, dan kalau ada gejolak, anda bekerja dalam sebuah lingkungan kerja yang tinggi stress, dan penuh resiko.

Pada umumnya, anda menghasilkan 100 milyar Rupiah tiap bulannya. Untuk apa aku punya uang sebanyak itu? Hmm. Bagaimanapun juga, seberapa besar uang yang anda punya, uang itu bisa habis. Pada suatu titik, anda menyadari anda telah membeli mobil dan menghabiskan tiga perempat penghasilan anda pada bulan itu. Oh tidak. 1/4-nya lagi habis untuk kebutuhan pada umumnya. Seberapa besar uang anda, uang anda dapat habis.

Tentunya, stress, tekanan, modal, dan jam kerja seperti itu membutuhkan skill dan effort yang tinggi. Skill dan effort itu memberikan anda gaji yang sesuai dengan kemampuan dan usaha anda.

Anda seorang sales mobil merek asal Jepang. Anda bekerja 8 jam tiap harinya, dan bekerja dalam ruang kerja yang santai dan tidak banyak stress.

Pekerjaan anda biasanya menghasilkan 10 juta rupiah tiap bulannya, sekali lagi, jumlah uang itu dapat (dan akan) habis. Entah, mungkin anda terlalu banyak membeli baju mahal, atau anda terlalu banyak makan all you can eat seharga 200 ribu. Bagaimanapun juga, anda dapat menghabiskan uang milik anda, baik itu sejumlah 100 milyar, atau 10 juta, atau 100 ribu.

Gaji tersebut pantas untuk seorang sales mobil tentunya. Menjadi sales adalah sebuah pekerjaan medium skill, dan pantas jika penghasilannya juga medium.

Nah, Likes tidak seperti itu, namun diperebutkan oleh orang-orang seperti itu uang.

Kita dapat memberikan berapapun likes yang kita inginkan. Kita dapat memberikan 10 likes tiap harinya, kita dapat memberikan 1000 likes, kita dapat memberikan 100.000 (oke, ini ekstrim, namun nyatanya kita bisa melakukan itu tanpa melanggar sistem apapun) . Jika aku tidak salah, kita juga bisa memberikan like ke diri kita sendiri.

Tetapi, orang-orang memperebutkan Likes (yang fiktif) seperti “bekerja”

Let’s say, aku ingin mendapatkan 100 like dalam satu post hari ini. Untuk melakukan itu, aku perlu memposting foto selfie di kafe yang sepiringnya 300 ribu, dan segelas minumnya 75 ribu. Aku akan mengeluarkan uang sebanyak itu karena aku merasa seolah-olah aku membutuhkan 100 likes.

Supply and Demand

Hukum ekonomi paling mendasar adalah supply and demand, dan jika kita ingin melihat sosmed sebagai sebuah dunia ekonomi, kita harus liat 2 sumber daya utama mereka. Nomor 1, followers, nomor 2, baru likes.

Semakin banyak suplai, nilai benda akan turun, semakin banyak permintaan, nilai barang akan naik.

Masalahnya, jumlah likes yang bisa diberikan sistem ke kita memang tidak terbatas. Pada sisi lain, jumlah followers yang bisa diberikan sistem (bukan lingkaran sosial atau orang yang kita kenal, atau yang punya teman-teman sama dengan seorang pengguna) untuk kita, mendekati tidak terbatas.

(Oh iya, aku baru ingat, sekarang ada bisnis untuk membeli followers dan likes ya. Huh, ini terkesan makin bodoh.)

Sekali lagi, mau seberapa banyakpun ada Kayu, jika kita hanya mengonsumsi, jumlahnya dapat habis. Itu alasan pohon yang ditebang di tanam lagi, sehingga jumlah pohon yang ada tidak bergerak ke bawah saja, dan jumlahnya juga bisa naik.

Sosial media, terutama Instagram, pada sisi lain, hanya akan bergerak ke atas. Semakin banyak pengguna HP, berarti semakin banyak pengguna internet, semakin banyak pengguna internet, berarti semakin banyak pengguna sosmed. Dan sayangnya, belum ada sedikitpun penurunan pengguna sosial media yang signifikan.

Mengingat bahwa sistem sosial media ini tidak punya batas, dan jumlah suplai likes dan followers yang bisa anda klaim hanya akan bertambah, dan tidak bisa berkurang… Seluruh ekonomi yang mulai tumbuh di sosial media tidak akan pernah ada jika hanya berkutat di dunia fiktif tersebut.

Seriously, we’re getting dumber here.

Masalah berikutnya bagiku ada di fakta bahwa orang-orang sebenarnya tidak menggunakan sosial media karena mereka membutuhkannya, atau karena mereka punya alasan yang baik. Mereka TIDAK punya alasan yang baik, mereka hanya ikut-ikutan saja.

Tidak akan ada kampanye atau apapun yang bisa merubah ini, jika sesuatu dilakukan tanpa alasan, butuh cukup banyak alasan untuk merubah pemikiran itu.

Lebih banyak alasan…

Mari kita lemparkan alasan sebanyak-banyaknya!

Aku sejujurnya tidak ingin menulis rant mengenai sosial media lagi. Aku sendiri sudah tahu tidak mungkin ada orang yang berubah, dan aku juga tahu aku tidak akan pernah menggunakannya, setidaknya tidak dalam waktu dekat, dan aku hanya akan mungkin menjadi pengguna ketika aku memang membutuhkan akun sosial media (mungkin kalau aku jadi penulis, mempunyai akun resmi, akun twitter, atau fanpage facebook aku akan membutuhkannya), tetapi sekarang, tidak dulu.

Jadi, kecuali ada hal aneh bin ajaib lagi yang muncul dari internet, seperti World Record Egg tadi, aku akan mengeluarkan semua rant yang aku bisa pikirkan mengenai sosial media dan penggunanya sekarang juga.

  1. Penggunanya berisik, merusak arus jalan yang normal ketika sedang foto, dan mengganggu orang-orang yang sedang berusaha menikmati dunia nyata.
  2. Ada pengguna yang rela melakukan hal bodoh, dan juga uang demi mendapat likes.
  3. Pengguna sosmed jarang berinteraksi di dunia nyata, kecuali sedang membutuhkan foto bersama. Oh iya, mungkin mereka hanya mengobrol ketika sedang butuh foto.
  4. Pengguna sosmed sebagian besar tidak tahu diri ketika menggunakan sosial media. Mereka sering menceloteh hal-hal bodoh di bagian komen. Ini juga mungkin terbawa ke dunia nyata.
  5. Influencer. What’s that job again?
  6. Oh iya, ini menghilangkan rasa individualitas dan keunikan tiap manusia, sekarang mereka hanyalah arus data di dalam database milik instagram.
  7. Semua orang merasa berhak melakukan apapun di Internet. Sifat ini bisa terbawa ke dunia nyata.
  8. Banyak orang memamerkan hal yang tidak perlu.
  9. Orang membeli barang untuk memamerkan hal yang tidak perlu.
  10. Dan terakhir… Dunia sosial media itu tidak nyata.

Aku bisa berbicara sampai aku bosan, tapi kurasa ini cukup untuk sekarang. Aku akan menambahkan edit ketika aku kepikiran. Semua kecuali nomor terakhir, dan nomor 1-9 akan menjadi edit tambahan.

Sampai lain waktu!

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Who’s Murphy?

Nggak, serius, Murphy yang menciptakan Murphy’s Law, siapa dia?

Oke, meski sebenarnya banyak versi ke siapa yang menciptakan Murphy’s Law, aku ingin berpikir saja bahwa ada sedikit ironi bahwa pencipta hukum ini belum memastikan semua kondisi agar dia satu-satunya orang yang diingat sebagai pencipta Murphy’s Law.

Ya, bagaimanapun juga, aku ingin membahas sedikit banyak mengenai Murphy’s Law, karena terkadang, aku merasa bahwa efek dari Murphy’s Law ini lebih cenderung psikologis kebanding aktual. Seperti banyak hal di dunia ini (seperti perasaan nyaman, kasihan, dan dunia ekonomi sendiri), hukum Murphy hanyalah fiksi belaka yang diciptakan oleh otak manusia. Tentunya, otak kita yang begitu pintar ini mesti memiliki kelemahan, karena otak kita… sangat, sangat mudah ditipu.

Jadi, selamat menikmati!

Hukum Murphy?

“If something can go wrong, it will.”

Pada umumnya, ada 3 jenis interpretasi pada kalimat tersebut.

  1. Jika anda tidak memastikan sesuatu bisa berjalan dengan mulus sampai 100%, seberapa kecil kemungkinan ada kesalahan, maka kesalahan itu akan terjadi.
  2. Jika kalian sedang membuat kesalahan, itu akan muncul pada hari dan momen terburuk.
  3. Semua kesalahan yang mungkin terjadi, akan terjadi. (ini mungkin interpretasi paling harfiah, tapi, maknanya sedikit lebih dalam dari itu kok)

Interpretasinya tidak pernah diberikan istilah yang lebih mendalam atau jelas, tetapi aku akan memberi nama agar aku tidak menggunakan istilah interpretasi pertama, kedua, atau ketiga…

Interpretasi pertama akan kujelaskan dengan istilah Interpretasi Insinyur, nomor dua akan kusebutkan dengan istilah interpretasi keberuntungan, dan yang ketiga akan kusebut dengan interpretasi harfiah.

Oh iya, jika anda sudah mengerti, silahkan scroll ke bawah dan baca 300++ kata mengenai judul di atas, tetapi, jika masih ingin penjelasan akan interpretasi yang akan aku gunakan, jangan di skip ya πŸ˜‰

Hari ini, aku akan menggunakan interpretasi keberuntungan…

Faktor Hoki

Apakah anda pernah berpikir bahwa anda sedang apes? Baru kemarin ada sedikit momen yang cocok dengan interpretasi kedua, dan terkadang, aku ingin berpikir mengenai faktor psikologis-nya…

Sebagai contoh…

“Sekarang pukul 10.20, kita perlu berangkat dari rumah pada pukul 10.45 sesudah memasak bekal. Jika tidak ada kesalahan apapun yang terjadi, makanan sudah akan siap pada 10.40. Sayangnya, gas di kompor habis. Ini berarti kita harus meluangkan waktu sekitar 10 menit untuk mengganti gas dan memastikan api di gas masih nyala. Gas pun diganti, dan waktu kita telah terbuang 10 menit.”

Berikutnya… Contoh-contoh yang ada dibawah ini lebih bisa diprediksi, tetapi sama-sama “apes”

“Aku terlambat masuk sekolah untuk pertama kalinya dalam satu tahun, saat berlari ke kelas, kebetulan, ada kepala sekolah yang memotong jalurku . Alhasil, aku dihukum dan mendapat 2 tugas ekstra sebagai hukuman.”

“Aku ingin pergi makan sate. Karena susah mendapat parkir, seorang pemesan yang membawa satenya pulang memesan 100 tusuk sebelum aku mendapat tempat duduk. Aku perlu menunggu 100 tusuk sate dimasak sebelum porsi punyaku dibuat.”

Intinya, banyak hal dapat terjadi pada momen apapun, namun, kita selalu melihat hal terburuk, dan mencari alasan untuk mengalihkan pikiran kita dari kabar buruk yang kita dapatkan. Kita mencari hal buruk agar kita bisa menjadi korban dan membuat diri kita merasa lebih baik.

Ya, alasan aku berasumsi bahwa momen-momen Hukum Murphy terkesan psikologis, lebih karena cara kita melihat suatu kejadian. Seperti sering dibahas oleh beberapa psikolog ternama, kita perlu 6 hal baik dalam 1 ingatan untuk menghapuskan 1 hal buruk dalam 1 ingatan. Tentunya, ini alasan perasaan puas susah didapatkan sesudah kita menghadapi satu kesalahan.

Psikologi Kesalahan

Tidak ada yang suka disalahkan untuk sesuatu. Terutama jika perasaan bersalah dan ditunjuk-tunjuk oleh orang itu mulai membuatmu merasa malu, atau membuatmu merasa lebih berantakan lagi dari seharusnya.

Ketika ada hal buruk terjadi, insting natural manusia adalah untuk menunjukkan jarinya pada orang lain, atau pada suatu pihak ketiga untuk menghilangkan ketidaknyamanan itu.

Anda perlu menunggu lebih lama untuk sate? UGH! Aku merasa kesal! Aku harus memberikan ketenangan pada kekesalanku. Oh iya, gara-gara tadi ada orang take-away 100 porsi tuh. HEUH! Sebel deh.

Huuu, aku gak pernah telat. Tetapi gara-gara aku telat pas kepala sekolah lagi lewat, aku jadi kena ekstra tugas deh. KESEL!

Yah, aku telat. Gas-nya abis sih! Tau gasnya abis kan masaknya lebih cepet!

Bagaimanapun seseorang ingin mengeluh, insting manusia untuk menenangkan diri mereka adalah mencari pihak ketiga (memang ada yang mencari orang lain untuk langsung disalahkan, tapi ini tidak umum dan sangat tidak sehat) untuk disalahkan agar ia dapat melepaskan diri dari tanggung jawab yang dibebankan oleh rasa bersalah dalam dirinya sendiri.

Nah, ini alasan aku melihat Murphy’s Law sebagai hal psikologis.

Orang yang tidak punya ketenangan dan pengendalian diri yang benar-benar baik hanya akan menenangkan diri mereka dengan menyalahkan orang lain dan melewatkan inti permasalah serta fakta-fakta yang sebenarnya ada di depan mata mereka.

Pada kasus keterlambatan tadi, mungkin memang tiap pagi, pada jam yang sama, kepala sekolah sedang lewat untuk memberikan berkas-berkas ke guru-guru lain.

Pada kasus gas, nyatanya gas kompor selalu diganti tiap bulannya, dan karena tidak ada yang memberikan jadwal atau rekapan gas yang jelas, gas perlu diganti secara tiba-tiba dan itu membuatmu merasa kaget mengingat momennya begitu tidak pas.

Pada kasus sate… Mungkin memang tiap Sabtu siang orang itu membeli 100 tusuk sate karena teman-temannya ingin datang, tetapi, anda tidak menyadari itu karena anda biasanya datang lebih cepat darinya.

Detil-detil kecil dan ringan ini sering dilewatkan orang-orang, karena mereka terlalu sibuk merasa kasihan pada diri mereka dan mengeluh. Orang-orang pada umumnya tidak akan melihat hal yang dapat diperbaiki, dan mereka melihatnya sebagai kejadian yang hanya terjadi sesekali, dan melupakannya begitu saja.

Ketenangan dan kepuasan yang didapat dari menyalahkan pihak ketiga, (dalam kasus ini, pihak ketiga yang paling sering kena tuduhan orang lain adalah keberuntungan) membuat orang-orang melupakan realita, serta fakta yang sedang mereka alami.

Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu, apakah hukum Murphy yang diinterpretasi seperti ini nyata? Ataukah itu hanya placebo untuk memberikan rasa tenang ketika kita sedang kesal akan sesuatu?

The Ultimate Placebo

Psikologi dan manusia sendiri dipenuhi oleh banyak hal-hal konyol dan tidak nyata.

Kita sangat mudah untuk ditipu orang dan terkadang, kita terbawa perasaan sehingga melupakan kenyataan yang sebenarnya ada.

Mungkin memang betul kita pintar, kita adalah spesies yang sangat pintar… Tapi, sayangnya, kita begitu emosional dan mudah ditipu, sehingga lebih dari setengah otak kita diisi oleh proses otomatis yang dibuat untuk menenangkan emosi-emosi yang kita miliki.

Pada akhirnya, daripada menyalahkan orang lain demi ketenangan jarak pendek, hal terbaik yang seorang manusia bisa lakukan adalah mencari solusi agar anda tidak perlu merasa tidak tenang untuk waktu yang terlalu banyak. Solusi jangka panjang lebih susah didapatkan, tetapi mendapatkannya memberikan kepuasan yang utuh, dan nyata. Kepuasan tersebut bukanlah placebo, karena anda telah sukses mendapatkannya tanpa perlu meyakinkan diri anda berkali-kali, kepuasan itu memang sudah ada di dalam diri kalian.

Review Film: Keluarga Cemara

Review Film: Keluarga Cemara

Oke, review film ini mungkin memberikan kesan negatif.

Sebelum masuk ke review filmnya, tolong baca dari awal sampai akhir, karena aku akan membagi review ini ke dua bagian, yaitu konten (isi) dan konteks (pesan).

Selamat menikmati.

Oh iya, spoiler, review film ini akan mengandung spoiler sekitar 20-30 menit pertama film, serta sedikit dari kesimpulan. Jangan baca jika tidak ingin kena spoiler.

Konten

Hmm, bagaimana caraku mulai ya. Konten dari film ini akan cenderung negatif, jadi, mohon maaf.

Konten dari keluarga cemara sedikit kurang berat dan memiliki dua atau tiga momen yang meleset dan memberikan sedikit pesan yang tidak sepenuhnya masuk akal untuk semua penonton.

Kemampuan Tokoh

Pada awal film, digambarkan sosok Abah (Ringgo Agus Rahman) yang sepertinya sibuk melulu, dan selalu melewatkan momen-momen yang diminta keluarganya untuk ia hadiri. Berikutnya ada sedikit adegan melihat rekapan finansial perusahaan dimana si Abah ini bekerja. Wah, perusahaan ini rugi 4.5 Milyar – an. Berikutnya juga ada gerebekan dari tukang yang sedang membuat rumah.

Dan wush, disitu mungkin kepeleset pertama kali dari penggambaran kemampuan tokoh dan juga seberapa fiktif dan “cemen” film ini. (tolong, tetap baca ya, aku akan memberikan bagian baik di bawah). Perusahaan pada kenyataannya, (meski skalanya tidak dijelaskan, tapi tetap, pada kenyataannya) akan melakukan rekap finansial secara rutin. Perusahaan yang sehat (dan tentunya, perusahaan yang membiayai Abah sebuah mobil, rumah, dan juga keluarga yang ia miliki sekarang) tidak mungkin tiba-tiba mengirim rekap finansial ketika rugi dari perusahaan tersebut sudah begitu besar.

Seenggak-enggaknya, rekapan finansial di perusahaan yang cermat akan dikirimkan dalam kondisi rugi 1 Milyar, atau 1.5 Milyar, dan jika angkanya masih berada di kisaran itu, kerusakan dan kerugian berikutnya dapat dihindari. Mungkin dengan menjual tanah lah, membayar serta mengganti beberapa pekerja lah, atau mungkin memotong gaji perusahaan langsung secara utuh.

Ya, bagaimanapun juga ini memang fiksi, dan meski ia memberikan kesan melebih-lebihkan, kejadian awal akan kuterima sedikit.

Berikutnya, ada Kang Fajar yang hanya tampil di adegan pertama.

Kang Fajar ini sepertinya melakukan pinjaman dengan jaminan rumah milik saudaranya, dan yah, rumah milik Abah dan keluarga digerebek dan disita pada hari ulang tahun Euis (Zara JKT48), anak Abah paling tua. Aku masih bisa sedikit mengerti kejadian seperti ini, meski kejadian tidak sengaja ini membuatku merasa tidak nyaman, aku tidak terlalu keberatan…

Sebenarnya jika Abah cukup pintar, ia tidak akan mendapatkan rumahnya disita karena adik Iparnya menipu dirinya, tetapi, ya, aku akan mengabaikan fakta tersebut. Kita bisa ditipu semua orang mau secermat apapun kita sebenarnya.

πŸ™

Menerima keadaan…

Oke, aku merasa sedikit sedih, tapi disaat yang sama, aku merasa bahwa kepercayaan dan kemampuan keluarga ini menerima begitu saja bahwa rumah miliknya disita terkesan absurd. Keesokan harinya, ia melakukan hal baik dan bertanggung jawab dengan membayar tukang pada projek gagal miliknya.

Abah pindah ke rumah milik almarhum Ayahnya, dan dari situ, ia mendapat makanan dari beberapa tetangga dan warga kampung yang terbantu oleh Ayahnya ketika warga tersebut masih (dalam kata-kata mereka sendiri) ‘Susah’ .

Oke, sesudah mendapat bantuan serta pinjaman dari Loan Woman Ceu Salma (tokoh ini sangat membantu cerita dan memberikan hidup pada sisi hati film ini, akan dibahas lebih lanjut), Abah yang dulunya adalah pekerja keras, serta menghasilkan uang yang tidak sedikit, mencari pekerjaan di beberapa perusahaan, dan meski ia ditolak karena usia, ia tetap berusaha keras untuk mencari.

Tapi, berikutnya, pilihan pekerjaan miliknya membuatku geleng-geleng kepala (meski hatiku berkata untuk kasihan), ia menjadi tukang. Like, What? Maksudku, jika ia memang sudah punya network teman dan bisnis yang cukup luas ketika bekerja di Jakarta, dan cukup banyak menghasilkan uang selama berbisnis properti, kenapa ia harus menjadi tukang?

Oke, ada satu projek gagal, kan bukan berarti dunia sudah beres dan membuangmu ke tempat sampah dimana kamu tidak bisa menjadi apapun yang berharga lagi? Aku sih merasa tidak nyaman setelah melihat pebisnis properti menjadi tukang karena ia merasa terpaksa. Jika ia cukup semangat, Abah seharusnya bisa melakukan hal lain selain menjadi tukang, ia terlalu mudah menyerah pada keadaan.

Berikutnya, untuk membantu finansial, Ibu dari keluarga tersebut memutuskan untuk berjualan kerupuk dengan investasi dari Ceu Salma (entrewoman, yang dimainkan penyiar radio Asri Welas). Euis membantu Emak (Nirina Zubir) berjualan kerupuk (Gendar? Aku lupa jenis kerupuknya apa, tapi, kerupuk).

Nantinya Abah dan Emak berusaha lebih banyak sih, ia tidak hanya menjadi Tukang namun aku tidak ingin memberi spoiler…

Komedi yang Baik

Hah, akhirnya! Hal positif!

Keluarga Cemara, meski membuat sedikit banyak blunder di sana dan di sini, tetaplah tontonan menarik.

Tokoh Ceu Salma, teman-teman Euis di sekolah, dan tingkah laku anak paling kecil dari keluarga ini, Ara (Widuri Putri), juga sangat menarik untuk ditonton.

Mayoritas adegan bisa membuatmu tertawa atau tersentuh jika anda ingin membuang pikiran logis anda selama adegan tersebut, karena tentunya, anda tidak bisa hanya memikirkan terus menerus.

Ceu Salma yang modelnya nyeleneh tetapi pintar ini memberikan warna yang baik karena tokohnya cukup memorable dan mudah membuatmu merasa senang, apalagi tertawa. Ceu Salma bisa membuatmu tertawa hanya dengan berbicara sedikit. Oh iya, pendengar Delta FM juga harusnya tahu siapa Asri Welas ini.

Teman-teman Euis juga menunjukkan kekompakan, dan, ya… tonton saja sendiri, lucu banget sebenarnya beberapa tingkah lakunya. Terutama jika anda berpura-pura jadi anak SMP, adegan-adegan di sekolah Euis cukup lucu dan bisa dinikmati.

Terakhir, Ara. Wah, tingkah laku anak ini adalah tingkah laku lucu dan nyindir orangtua yang bagus. Ia ada sebagai simbolisasi kebahagiaan di film ini, dan Ara juga ada berperan sebagai simbol bahwa kita bisa bahagia kapanpun kita mau, baik itu sedang punya uang, atau sedang susah, bagaimanapun juga, Ara adalah simbol yang baik untuk kebahagiaan.

Oh iya, Ara juga contoh anak aktif yang tidak diberikan gadget terlalu banyak karena ia suka main di luar dan selalu bahagia. Jangan berikan gadget bagi anak-anak anda ya πŸ˜‰

Kesimpulan Film

Aku bisa membahas (atau mungkin mengeluh) cukup banyak tentang ini, tetapi, tokoh-tokoh di film Keluarga Cemara ini ADUH! Mereka terlalu mudah menyerah pada situasi.

Penutupan film juga menunjukkan bahwa mereka masih menyerah, tetapi bahagia dengan keluarga. Aku menyukai fakta bahwa keluarga cemara ini mendapat semi-happy ending dengan keluarga yang masih bahagia dan senang, namun, tidak ada perubahan krusial dari tokoh, selain perilaku mereka pada satu sama lain dalam keluarga. Itu mengecewakan sebenarnya.

Konklusi film bisa lebih baik jika mereka berubah dan rela melakukan sesuatu untuk merubah nasib mereka dengan usaha yang cukup… Karena sebenarnya mereka bisa melakukan itu. Abah sudah jelas, dulunya ia pebisnis properti. Sepanjang film, Emak juga digambarkan jago memasak. Euis juga punya kemampuan berbahasa Inggris yang baik, cukup baik untuk memberikan les pada teman-teman sekolahnya yang kesulitan mempelajari bahasa tersebut.

Konteks

Pesan dari film keluarga cemara dapat mudah dimasukkan menjadi 3 pointer pendek. Setidaknya, 3 pointer ini adalah pesan-pesan yang aku bisa tangkap. Jika ada perbedaan, silahkan berikan komentar yaaaa πŸ˜€ .

Kebahagiaan

Jika Ara adalah simbol untuk kebahagiaan, nyatanya, kita tidak perlu mencari-cari kebahagiaan kemana-mana, dan juga, kita bisa bahagia kapanpun. Baik itu sedang susah, atau tidak. Ingat, kita tidak harus susah untuk menjadi bahagia, dan tolong jangan tangkap pesan bahwa kita hanya bisa bahagia ketika sedang tidak punya apa-apa, juga jangan tangkap pesan bahwa kita hanya bisa bahagia jika kita punya suatu benda…

Kebahagiaan adalah perasaan yang didapatkan tanpa ada hubungannya dengan materi yang kita miliki. Kita bisa merasakannya kapanpun.

Aku perlu menjelaskannya sedikit panjang lebar, tapi, tolong jangan tangkap pesan yang salah ya πŸ™‚

Kebersamaan

Ah, sekali lagi.

Pesan dari film ini berhubungan dengan kedekatan anda dengan keluarga. Ia membuatmu bertanya, apakah aku sudah cukup dekat dengan keluarga? Atau belum? Nah, coba tanyakan lagi sesudah menonton film ini.

Tentunya, film ini menjadi pengingat yang lebih baik kebanding jika anda kehilangan suatu hal yang penting kan?

Menjadi Orangtua

Menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan ada banyak cara.

Meski aku kurang setuju dengan metode Abah dan Emak untuk langsung menerima dan menyerah pada keadaan, aku setuju dengan cukup solid bahwa mereka adalah orangtua yang baik. Mereka tahu kapan mereka perlu lembut dan bersabar, mereka tahu kapan untuk tidak terlalu bertanya secara agresif, dan mereka juga tahu kapan untuk menjadi sedikit lebih keras.

Coba deh, pikirkan kembali, apakah anda terlalu keras? atau, apakah anda terlalu lembek sebagai orangtua?

Selamat berkontemplasi.

Kesimpulan

Dalam Rating… 6/10

Pesan-pesan yang bagus dan cerita sedih yang mengharukan jika kita ingin melihatnya dari sudut pandang perasaan saja. Namun, sayangnya, terlalu banyak blunder logis dan menyerah dari tokoh-tokoh utama yang membuatku tidak bisa memberikan nilai lebih tinggi lagi.

Tetap perlu ditonton kok, film-nya bagus, pesannya, bagus, hanya saja, kesalahan dan kurang kuatnya drive tokoh yang mengurangi 3 poin dari rating yang ia pantas dapatkan tanpa blunder-blunder tersebut.

Sampai lain waktu!

Psikologi: Shortcut Slip-up

Psikologi: Shortcut Slip-up

Selamat pagi lagi, kembali dengan tulisan dariku.

Aku memutuskan untuk pause dulu sebentar serial Road Trip-nya, dan kembali ke sedikit tulisan psikologi.

Dengan era Google Maps, Waze, dan aplikasi pencari rute kita biasa menemukan jalan-jalan kecil yang kemudian kita ingat kembali dan gunakan di kemudian hari ketika sedang tidak menggunakan aplikasi tersebut. Bahkan, suka ada saat dimana kita memilih untuk menggunakan jalan potong meski sebenarnya kita tidak perlu memotong jalan.

Namun, ada efek psikologis yang meliput jalan potong (atau shortcut) tersebut. Terkadang, kita merasa terlambat, terkadang kita merasa kita perlu memotong jalan, meski waktu yang dihabiskan sama saja.

Bingung? Mari diperjelas di bawah…

Time Scarce

Waktu, tidak semua orang punya waktu yang cukup untuk melakukan semua hal, dan terkadang, kita panik jika kita merasa kekurangan. Kepanikan ini sering kubahas ketika menggunakan S-word di atas (scarce/scarcity, bukan yang satunya lagi), dan seharusnya sudah bisa dimengerti.

Ketika kita kekurangan waktu, kita panik, ketika kita panik, kita bisa dan akan membuat keputusan yang salah. Ketika kita membuat keputusan salah ya… πŸ™‚

Nah, jadi, anggap saja kita biasa melewati jalan potong, dan kita merasa bahwa kita menghemat 5 menit karena kita melewati jalan potong tersebut alih-alih melewati rute utama yang cenderung padat. Karena kita memutuskan untuk memotong jalan sebelum berangkat, kita bisa berangkat lebih telat, menggunakan waktu 5 menit tadi untuk sarapan.

(Tentunya tidak semua orang menggunakan waktu 5 menit untuk sarapan, dan juga tidak semua orang memiliki kemampuan dan rela untuk merencanakan sesuatu sampai titik menit yang cukup detil)

Ya, jalan potong dan rute alternatif membantu kita.

Meski, perasaan terbantu itu nyata, hampir tidak ada perbedaan jika jalanan berada dalam kondisi kosong. Mayoritas jalan potong hanya menghemat 100-500 meter, dan kurang lebih, itu menghemat 1-2 menit, mungkin lebih sedikit. Ada statistik yang menyatakan, bahwa jalan potong tidak sebenarnya membantu waktu tempuh yang kita gunakan.

Namun, statistik itu tidak diambil di Indonesia, (apalagi kota kaya Jakarta) jadi, sejujurnya, jalan potong memang membantu, namun, ketika jalanan kosong, fungsi jalan potong adalah sebagai “obat” atau “modifier” untuk membuat kita merasa lebih baik, dan santai.

Shortcut Slack

Slack. (sekali lagi, aku belum menemukan padanan bahasa Indonesianya). Perasaan yang kita dapatkan ketika kita punya suatu sumber daya, dan jumlahnya lebih dari yang kita butuhkan. Slack yang pas membuat kita merasa tenang. Sayangnya, terlalu banyak? Kita jadi malas dan tidak membuat keputusan yang dipikirkan luar-dalam. Terlalu sedikit? Kita jadi panik dan membuat keputusan dengan terburu-buru.

Dan, seandainya perasaan ini adalah uang, kita bisa membelinya dengan melakukan hal-hal yang mengurangi konsumsi sumber daya. Contohnya, dengan… Ya, menggunakan jalan potong.

Pengguna jalan potong (pada umumnya), atau pengguna aplikasi pencari rute, biasanya merasa terburu-buru, mereka merasa bahwa mereka kekurangan Slack, mereka tidak tenang, mereka takut mereka akan terkena macet, atau datang terlambat, jadi mereka memberikan kepala mereka sebuah obat dengan melewati sebuah jalan potong untuk menghilangkan perasaan panik tersebut.

Are we Clever?

Jika kita berbicara mengenai umat Indonesia, terutama yang tinggal di kota-kota macet seperti Jakarta, atau Bekasi, mayoritas manusia akan mengeluarkan respon dan rencana yang mirip.

Mereka tidak ingin merasa terburu-buru, kecuali memang sedang terpaksa, mereka tidak ingin merasa kesulitan, dan mereka ingin semua hal berada dalam kondisi sebaik mungkin.

Seperti disebutkan di atas, mayoritas orang yang menggunakan jalan potong memilih rute tersebut karena mereka memang sedang merasa tergesa-gesa, dan perasaan tergesa-gesa hanya terjadi karena perencanaan yang buruk.

Untungnya, perencanaan buruk tersebut bisa dirasakan, dan mesti didapat dari perasaan. Tidak ada cara absolut untuk menghindari perasaan terburu-buru atau panik. Berikut adalah 3 jenis orang yang menggunakan jalan potong. Sayangnya, ketiga pengguna jalan potong ini memiliki kekurangannya masing-masing… Dan, komentar serta tangkapanku… hanya satu dari 3 jenis yang bisa terbilang “pintar” .

The Emergency Runners

Jika anda terpaksa, atau memilih untuk melewati jalan potong sesekali, dan hanya melewati jalan potong ketika terburu-buru, anda masuk ke golongan pertama.

Golongan Emergency Runners ini merasa segala sesuatu perlu dikerjakans saat itu juga karena mereka tidak pernah merencanakan apa-apa dengan benar. Mereka selalu panik, selalu khawatir akan hal buruk, dan tidak berhenti untuk berpikir sebelum mengerjakan sesuatu.

Mereka tidak merencanakan rute yang mereka akan lewati, mereka akan menentukan rute ketika sudah berangkat, atau ketika sudah di jalan dan bingung akan pilihan yang mereka akan ambil.

Emergency Runners akan selalu merasa hal yang mereka perlu lakukan urgent dan mereka hanya akan melihat satu langkah ke depan, setiap masalah diselesaikan satu per satu dengan panik.

Mereka tidak pernah mendapatkan perasaan scarcity, tetapi, mereka akan menyelesaikan segalanya dengan benar, dan (semoga) on-time, meski, ya, dengan terburu-buru dan tanpa perasaan santai. Hidup mereka akan cepat stres jika tidak dimanage dengan baik…

Jalan potong digunakan emergency runner karena mereka merasa perlu melewatinya. Jika mereka tidak melewati jalan potong, mereka akan terlambat.

The Slack Creator

Slack Creator.

Jika Emergency Runners melihat hal hanya 1 hal ke depan, slack creators memutuskan untuk memanfaatkan semua slack yang mereka punya sekarang, untuk menciptakan momen-momen slack ke depannya.

Mereka butuh waktu diam 5-10 menit sebelum ada kesempatan untuk melihat apa yang akan mereka lakukan sampai siang atau malam hari. Mereka akan sedikit bernapas, lalu mereka akan menilai, mana opsi yang paling baik?

Para Slack Creator memutuskan untuk melewati jalan potong kapanpun mereka bisa, meski sebenarnya, mereka tidak perlu untuk memotong jalan.

Jika bingung, kuberikan saja contoh skenario.

  • Rudi harus sampai ke kantor pukul 8.00 pagi.
  • Ia bangun pukul 6.45 .
  • Karena ia ingin mandi dengan santai, ia memutuskan untuk mengambil jalan potong saja. Ia tidak menghitung, tapi karena ia butuh perasaan santai, ia akan melewati jalan potong. Semua jalan potong yang bisa ia lewati.
    • Dalam perasaannya, ia bisa sampai kantor dalam 15 menit perjalanan kebanding 25 menit yang biasa ia tembuh.
  • Karena ia merasa ia dapat sampai kantor dalam 15 menit, ia mandi sampai pukul 7.00 .
  • Ia siap berangkat pukul 7.10. Hmm, ada waktu cukup banyak.
  • Ah, sarapan dulu deh. Bikin yang rada repot juga gapapa.
  • Ia memasak… Umm, pancake misal! 10 menit untuk memasak, dan sekarang jam berada di 7.20. Hmm, aku santai. Makannya 10 menit juga bisa.
  • Karena ia makan dengan santai, ia melakukan cek-cek sosmed (yang tidak diperlukan) saat makan, dan waktu makan bertambah 5 menit lagi. 7.35 ia beres makan.
  • Ia berangkat langsung pada 7.37 sesudah memanaskan mobil dan sampai kantor tepat waktu.
    • Perubahan dari jalan potong hampir insignifikan, hanya berbeda 2 menit

Tetapi, jika ada sedikit kesalahan dari rencana ini, misalnya, perlu mengisi bensin, atau ada kemacetan yang tidak diduga, seluruh rencana ini buyar karena terlalu banyak slack yang digunakan oleh para slack creator.

Mereka merencanakan segala sesuatu agar bisa dikerjakan dengan santai, mereka sudah siap dan bisa melihat kapan ada waktu yang bisa dihemat, meski nyatanya, penghematan waktu itu hampir tidak ada, dan mereka merasa terlalu santai… Sedikit tekanan diberikan, dan POP! Balon mereka meledak.

Jalan potong berada untuk menghemat waktu dan memberikan ketenangan psikologis, agar mereka tidak perlu tergesa-gesa.

The Logical Planner

Ah, planner. Menurutku, jenis orang yang memanfaatkan slack seperti Planner tidak begitu buruk. Mereka merencanakan sesuatu dengan cermat, dan mereka adalah campuran antara kedua golongan. Mereka tidak punya sistem

Mereka merencanakan segala sesuatu dan benar-benar mengecek berapa banyak waktu yang bisa dihemat jika memotong jalan.

Huh, jalanan kosong… Aku memotong hanya akan melewat 2 menit, ah, ya sudahlah.

Tidak seperti kedua jenis orang lain, mereka akan mencoba menggunakan jalan potong dan benar-benar mengukur perbedaan waktunya, karena mereka berusaha mematikan psychological bias milik mereka, keputusan yang mereka buat lebih logis dan normal.

Biasanya mereka juga punya rencana emergency seandainya mereka terlambat, dan mereka siap untuk menghemat waktu dan menciptakan slack (bahkan dalam tekanan) kapanpun mereka bisa…

Kesimpulan

Yah, terlambat itu terasa payah, tetapi, sekarang, anda perlu menyadari… Jika jalanan kosong, jangan mau tertipu oleh Shortcut Slip-up dan terpeleset ketika anda merasa perlu mendapat bantuan psikologis.

Nyatanya, jika anda menggunakan logis-mu, anda tidak akan terlambat. Berencanalah dengan lebih baik πŸ˜‰

[Road Trip]: Ganjar Pranowo

[Road Trip]: Ganjar Pranowo

Oke, jadi ini adalah daftar dari sedikit hal yang seseorang mungkin duga akan lihat di Jateng, atau di tiap kota yang dikunjungi, dan karena sedikit kemalasan menulis panjang, artikel pendek hari ini akan meliput gubernur Jateng dan kenapa aku merasa sedikit bingung padanya selama Road Trip ke Jateng…

Bagaimanapun juga, artikel hari ini tidak akan menembus batas 800 kata, tetapi bukan berarti artikel ini tidak bisa dinikmati bukan? Jadi nikmati saja!

Sebelum Kisah Dimulai

Ingatanku pada gubernur asal Jateng ini tidak begitu banyak. Meski Jawa Tengah adalah provinsi tetangga dari Jawa Barat, aku tidak memiliki atau mengikuti Ganjar Pranowo begitu banyak sampai sekali ia muncul di Televisi dan aku jadi mengetahui bahwa dia memang ada.

Sebenarnya aku pertama kali mendapat kabar tentang keberadaannya ketika ia muncul di Mata Najwa (aku dan keluarga tidak mengikuti media Indonesia begitu banyak, apalagi media yang berasal dari televisi), waktu itu, kedua orangtuaku ingin melihat Ridwan Kamil (dulu ia masih menjadi walikota, dan Ganjar masih berada di periode pertamanya) di acara tersebut.

Dan, ia sedang berdampingan dengan Ganjar Pranowo dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Najwa Shihab. Topiknya memang mengenai pemimpin masa kini, dan usia Ganjar serta RK masih berada di kisaran 40 tahun ++ .

Aku mengetahui keberadaannya dan sedikit banyak hal yang ia lakukan untuk Jawa Tengah. Berikutnya aku mendapat dan membaca berita tentangnya saat pemilu. Debatnya berlangsung sedikit konyol dengan sedikit pertanyaan dari lawan calon gubernurnya berada di titik yang terlalu agresif bagiku, dan juga mengingat beberapa blunder kecil yang ia buat sebelum pemilu, nama Ganjar Pranowo masih ada kesan yang cukup besar di kepalaku.

Aku tidak mengikuti hal-hal yang ia lakukan sesudah debat tersebut dan fakta ia memenangkan survey dengan persentase 85-92%, tetapi memenangkan pemilu hanya dengan hasil pemilihan sedikit di bawah 64% karena puisi kontroversial yang ia baca. Ya, bagaimanapun juga, kinerja Ganjar masih memenangkan hati warga Jateng, tetapi perubahan nilai tersebut cukup besar untuk membuatku tertarik. (Eh, sebenarnya perbandingan survey antar Sudrajat Syaikhu dan RK-UU dengan Quick Count juga cukup besar sih)

Spanduk? Spanduk? DIMANA SPANDUK!

Berikutnya, namanya masuk lagi ke kepalaku ketika Road Trip ke provinsi Kandang Banteng (ya, bercandaan politiknya seperti itu), namun, namanya masuk dan membuatku berpikir beberapa kali… Ganjar Pranowo itu, Gubernur Jateng kan? Bukan Gubernur Jatim? Hmm? Mana yang benar ya?

Pemikiran ini terjadi… Karena saat aku pergi ke Demak, Tegal, Jepara, dan Semarang, aku kesusahan (like, sangat susah) untuk menemukan spanduk dengan fotonya + wakilnya.

Awalnya aku berpikir ketika ada di Tegal (oh, yang memiliki Eiger, Toko Yogya, Brownies Amanda, Tas Elizabeth, dan tukang martabak di jalanannya. Kota ini membuatku berpikir… “Mungkin kota ini hanya kekurangan tukang Batagor untuk menjadi Bandung van Jateng”) bahwa politikus serta pemimpin-pemimpin asal Jateng tidak suka memamerkan muka mereka, karena hanya ada 1 foto walikota + wakil walikota Tegal selama kita berada di sana.

Tapi, sesampainya di Semarang, aku berpikir kembali…

Tiap ada Halte Bis, ada kantor pemerintahan, aku dengan mudah menemukan foto Walikota + Wakil Walikota Semarang. Tapi, kenapa, oh kenapa… Tidak ada foto Ganjar Pranowo. (dan kita melewati kantor Gubernur Jateng)

Tidak lama, di Semarang, keluarga kami pergi lagi ke Demak, dan Jepara. Di kedua kabupaten tersebut, ada setidaknya 2, atau 3 foto Bupati + wakilnya. Tetapi, sekali lagi, tidak ada foto Ganjar Pranowo. Kenapa begitu sulit untuk menemukan satu saja…

Akhirnya, aku yang penasaran jadi lebih awas sepanjang road trip. Lirik kanan dan kiri untuk spanduk atau banner yang memiliki foto Ganjar Pranowo… Mungkin ia orang yang modest dan rendah hati, tidak ingin memberikan dan memasang terlalu banyak foto dirinya atau wakilnya.

Tetapi sebagai orang asal Jawa Barat yang mendapat Gubernur-gubernur dengan kinerja baik dalam sosok-sosok Ahmad Heryawan, Ridwan Kamil, UU Ruzhanul Ulum, dan bahkan PJ sementara Jabar, Moch. Iriawan, sering memasang spanduk dengan fotonya. Jadi, ketidakadaan foto Ganjar membuatku bingung.

Untungnya, aku menemukan 2 spanduk dengan foto Ganjar Pranowo pada hari berikutnya kita di Semarang… 1 berada di Kantornya, jadi aku sebenarnya tidak ingin menghitung, (tetapi, ya sudahlah), dan satu lagi, pada hari terakhir kita di Semarang… ADA SEBUAH FOTO! Di luar kantor Pajak untuk mempromosikan membayar pajak.

Tempat keduanya termasuk tempat yang masih absurd bagiku, karena tidak ada Selamat Natal atau Selamat Tahun Baru, tetapi, aku bisa menerimanya. Setidaknya sekarang aku yakin pada ingatanku, dan rela mencari foto seorang Politikus hanya karena aku berpikir untuk mengisi kebosanan tiap kali di jalan.

Kesimpulan

Ini adalah permainan seru untuk dilakukan saat Road Trip ke Provinsi lain.

Pilih sebuah kota/kabupaten, pastikan tiap anggota road trip juga punya kota dan kabupatennya masing-masing. Selama anda berkeliling di provinsi tersebut, cobalah untuk menghitung adanya berapa spanduk pemimpin dari kota/kabupaten tersebut. Pemilih kota terbanyak dianggap sebagai pemenang!

Atau, pilihlah seluruh provinsi dan berharap nasib anda tidak seperti saya yang berusaha keras mencari spanduk Ganjar.

Sampai lain waktu!

[Road Trip]: Arsitektur Semarang

[Road Trip]: Arsitektur Semarang

Untuk waktu yang sangat lama Indonesia dijajah oleh Bangsa Belanda. Selama penjajahan itu, Belanda menyumbang sedikit banyak dari bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur mereka.

Sekarang, aku akan membahas mengenai gaya arsitektur dan era bangunan-bangunan di Semarang. Sebagai orang Bandung, gedung dan bangunan asli Belanda juga cukup banyak di kota asalku, namun, sepertinya kedua kota punya waktu pembangunan dan gaya arsitektur masing-masing.

Era-era Bangunan

Era-era arsitektur yang ada di Semarang cukup spesifik, dan hanya terbagi menjadi dua era berbeda, meski masing-masing era memiliki pengaruh dari gaya lain dan era lain dari Eropa.

Pertama-tama ada Era Classical Indische dimana mayoritas bangunan berupa pabrik, kantor, stasiun, atau benda lain yang dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai gedung yang memberikan efek ekonomi, dan kedua adalah era dimana kota Semarang tidak lagi menjadi pusat ekonomi, dan sudah menjadi kota besar, yaitu pada Era Transisi (penjelasan lebih lanjut di bawah). Lawang Sewu dibuat pada era transisi ini, dan mayoritas gedung disini digunakan untuk membuang-buang uang Kerajaan Belanda yang mulai kebanyakan.

Classical Indische

Gedung-gedung di era Classical Indische lebih sering dibuat untuk tujuan berbisnis, dan era ini yang memberikan jalan agar Semarang bisa menjadi kota yang lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.

Seperti disebutkan di atas, gedung-gedung yang dibuat pada era ini berupa pabrik, jalur perdagangan (stasiun, pelabuhan), pasar dan juga ruang penyimpanan.

Gedung-gedung di Semarang, baik dari era manapun itu, menyukai desain yang menggunakan banyak jendela, pintu, dan ruang terbuka. Biasanya ada beberapa gedung, dan di antara kedua gedung tersebut, ada taman di tengah.

Stasiun Semarang merupakan salah satu contoh dari ini, kedua sayap stasiun adalah ruang terbuka, dan mereka memiliki banyak pintu, meski sebenarnya pintu sebanyak itu tidak dibutuhkan. (setidaknya desain ini membuat bangunannya jauh lebih enak dilihat πŸ˜€ )

Namun, era ini dapat dilihat sebagai era yang relatif “kosong” sebagian besar dari Semarang masih berupa sawah, desa, dan tanah kosong. Bangunan yang dibuat oleh Belanda pada zaman ini berfungsi untuk menjembatani beberapa desa berbeda yang berada di satu daerah. Tentunya mendapatkan tenaga kerja yang optimal akan jauh lebih mudah jika daerah tersebut terhubung antar satu sama lain.

Selama Belanda membangun bangunan di Semarang, mereka menyediakan lahan pekerjaan, transportasi, serta ruang untuk dimanfaatkan. Semarang mampu melewati era yang bertahan untuk waktu yang cukup lama (1678-1870) ini, karena adanya mesin ekonomi yang diberikan (maaf, dipinjamkan, mengingat metodenya sedikit kejam) oleh bangsa Belanda.

“Pasar” juga dibuatkan oleh Belanda dan pasar ini adalah gerigi utama untuk mengaktifkan serta menggeser mesin ekonomi yang sedang mereka buat di kota pelabuhan ini. Awalnya, pasar ini adalah pemberian agar mereka bisa memanipulasi ekonomi di daerah Semarang, dan mereka sukses dalam melakukan hal ini. Pasar-pasar kecil yang mereka buat (serta sebuah pasar besar, meski aku belum mengunjungi, dan masih belum tahu landmark apa yang situs-situs sejarah maksudkan sebagai “The Great Market”) mengajarkan pribumi di Semarang untuk berdagang.

Kalau dipikir-pikir kembali, penjajahan bukan hal yang begitu buruk bagi sebuah bangsa jika kita melihatnya sebagai isu long-term.

Intermezzo

The Great Market yang sering disebutkan di situs-situs sejarah mungkin saja adalah Simpang Lima pada zaman dahulu kala, ide ini cukup masuk akal mengingat bahwa Simpang Lima terhubung ke seluruh penghujung kota dan merupakan lahan luas yang berada di pusat kota.

Aku perlu baca lebih lanjut untuk memberikan konfirmasi. Namun, di Kota Lama Semarang ada banyak bangunan “terbengkalai” yang dulunya berfungsi sebagai ruang penyimpanan.

Era Transisi

Membedakan gedung dari era transisi dan era Classical Indische bukan hal yang mudah.

Era transisi adalah “jalur” bagi Semarang yang telah menjadi kota besar untuk menjadi kota yang mewah dan megah juga. Seperti Lawang Sewu, gedung-gedung di sini biasanya merupakan eksperimen bagi arsitek dan orang-orang “penting” di Belanda untuk menguji teknologi baru yang mereka punya, dan mengaplikasikan teknologi tersebut.

Bangunan-bangunan pada era ini mulai hedonistik, meski ada beberapa yang memang dimanfaatkan sebagai kantor. Selain itu, seperti disebutkan sebelumnya, bangunan pada era ini suka menambahkan pintu dan jendela meski sebenarnya tidak dibutuhkan.

Semarang bisa merubah dirinya dari kota yang sebelumnya kota pelabuhan dan kota pasar menjadi kota yang besar karena adanya jalan raya pos. Pada tahun 1847, Semarang mulai mendapat pedagang dari luar desa-desa awal yang ekonominya sedang dikendalikan bangsa Belanda. Perdagangan antar pribumi meningkat, dan juga persediaan barang untuk diberikan ke Kerajaan Belanda juga bertambah.

Kota ini memiliki lebih dari cukup banyak uang untuk membangun bangunan, dengan teknologi yang baru, dan juga dengan banyaknya lahan kosong.

Akhirnya, muncullah bangunan-bangunan seperti ini di Kota Lama.

Spiegel sendiri baru saja direnovasi, dan dulunya cukup berantakan. Dulunya Kota Lama Semarang memang hanya berisi ruang penyimpanan barang dagangan, dan banyak sekali lahan kosong.

Spiegel merupakan bangunan yang didirikan pada sekitar tahun 1895, dan dulunya tidak punya fungsi yang spesifik. Cocok untuk dimasukkan dalam era transisi.

Kota Lama semarang adalah contoh yang cukup baik untuk mempelajari kedua era, karena ada juga cukup banyak bangunan dari era Classical indische, seperti Gereja Mblenduk.

Bangunan tua ini adalah Gereja Katolik pertama di Semarang, dan didirikan pada tahun 1775. Ia terbilang cukup terawat sejak itu, dan tidak membutuhkan renovasi agar kejayaannya sebagai bangunan heritage tampak. Bisa dibilang, kejayaan gereja blenduk ini belum pernah hilang karena perawatannya yang konsisten.

Selain beberapa bangunan yang sejarahnya cukup jelas, aku tidak bisa sekedar menebak asal era antara kedua bangunan, kedua era memiliki gaya yang sangat-sangat mirip, dengan perbedaan kecil yang berada di fungsinya dulu, dan metode pembuatan. Jadi, ada beberapa bangunan seperti Bank yang di bawah ini…

Asal tahun dan era bangunan tersebut tidak begitu mudah ditebak.

What Happened?

Era Transisi tidak pernah bertransisi menjadi era arsitektur lain. Era tersebut hilang pada tahun 1922, sesudah Belanda puas dengan bereksperimen, dan mereka menemukan kota lain untuk dimanfaatkan.

Era Transisi bertransisi menjadi kemerdekaan negara dan sekarang bangunan-bangunan baru yang ditambahkan ke Semarang sudah tidak akan pernah menjadi peninggalan lagi karena… Ya, Belanda sudah pergi. πŸ™‚

“Eksperimen” mereka mengubah Semarang yang dulunya merupakan kota perdagangan dan pelabuhan menjadi kota besar. Influence Art Deco yang kuat, mulai terkenalnya Kota Bandung, serta makin tersebarnya ekonomi Indonesia mengambil jatah transisi Semarang, dan sekarang, pengaruh dari hasil uji coba arsitek Belanda di kota penuh sejarah ini dapat dilihat di kota asalku, Bandung.

Bandung mulai terkenal karena Boscha, kota yang dulunya hanya berisi pedagang dan perkebunan menjadi pusat hedonisme terbesar selama Belanda menjajah kita. Gedung Merdeka, Jalan Braga, dan sekitarannya dimanfaatkan untuk berpesta pora, dan tinggalnya kaum bourgeouis Belanda yang pergi ke Indonesia.

Jadi ya, amat disayangkan kota yang lahannya dimanfaatkan untuk eksperimen tidak pernah mendapatkan hasil eksperimen tersebut, meski mereka pantas mendapatkannya.

Sampai lain waktu!

Related to this Article : Lawang Sewu