Category: Experience

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Kembali di serial Taktik Sepakbola, terutama mengingat bahwa belum ada pertandingan sepak bola yang dimainkan untuk menjadi contoh, ini adalah momen yang sempurna untuk membahas taktik yang sedang ngetren di dunia sepakbola.

Kali ini, taktik yang akan dibahas tidak lain dari Pressing.

Liga Champions 2018/2019 menunjukkan seberapa menyeramkan dan efektifnya tim-tim yang ahli dalam memanfaatkan pressing.        Keempat semifinalis di turnamen tersebut menggunakan sejenis variasi dari pressing sebagai bentuk dasar sistem. Kesuksesan ini tercerminkan dari keempat tim yang mencapai titik tersebut. Selain keempat semifinalis, Manchester City juga mencapai perempat final dengan menggunakan variasi pressing yang sangat sesuai dengan ideal pressing Cruyff.

Aku sudah membahas Gegenpress, dan untuk menghindari kebingungan, pressing dan gegenpress adalah dua hal yang berbeda. Counter-press atau Gegenpress merupakan variasi dari pressing mendasar yang diajarkan oleh Johan Cruyff pada akademi Ajax Amsterdam dan akademi La Masia milik Barcelona, tetapi keduanya berbeda.

Kelahiran Pressing

Sebagai bagian dari filosofi Total Football yang populer di Belanda pada era 1970-an, Rinus Michels dan Johan Cruyff merupakan pelatih pertama yang memfokuskan diri dalam bidang ini. Michels mendidik Cruyff, dan Cruyff yang memiliki karir pemain gemilang memperhalus dan menyempurnakan sistem ini.

Total Football sendiri menciptakan 3 pilar (anda bisa berargumen bahwa ada pilar keempat, dan itu akan kubahas di bawah) sendiri yang sayangnya sering dilihat secara terpisah oleh para pemain dan beberapa pelatih.

Pilar pertama Total Football ada di Possession play. Kebergantungan pada penguasaan bola untuk mendominasi lawan. Pilar kedua ada di Pressing, merebut bola untuk memastikan bahwa bola terus dikuasai dan lawan bisa didominasi. Pilar ketiga adalah kebebasan posisi. Era sepakbola awal-awal sangat fokus pada menyerang (dengan skor 9-5 anda mungkin berpikir bahwa ini pertandingan Hockey kebanding sepakbola) dan tampaknya pemain-pemain menjadi jauh lebih rigid dalam bergerak. Sepakbola Belanda mengubah itu, memberi fleksibilitas bagi para pemain untuk bertindak.

Seperti kusebut, ada pilar keempat, namun pilar ini bukan pilar yang begitu tampak sebagai pilar yang taktis. Pilar keempat Total Football ada di fakta bahwa pemain harus menikmati bertanding dalam sebuah pertandingan. Sampai sekarang saja (di era dimana fisik pemain diperhatikan gila-gilaan) tim-tim yang menggunakan varian dari Total Football kewalahan dan kelelahan, jika anda tidak menikmatinya, mungkin anda perlu bermain di tim lain saja.

Pada era Total Football pertama, Pressing berfungsi untuk merebut kembali bola, sesudah bola kembali dimiliki, perubahan posisi yang drastis serta penguasaan bola yang inteligen harus ikut bermain. Jika bola tidak dikuasai lagi, sistem Total Football pada era tersebut meminta pemain untuk berubah posisi, merebutnya kembali, dan berubah posisi lagi sambil menyerang.

Evolusi Dimulai                                

Total Football mendominasi. Ajax memenangkan 3 piala Eropa (sekarang menjadi Champions League) dalam 3 tahun.

Taktik ini cukup populer, dan Total Football sendiri terpecah menjadi 3 pilar yang kusebut di atas sebelum direvolusikan oleh budaya sepakbola tiap negara.

Spanyol memfokuskan diri pada penguasaan bola dan perubahan posisi yang konstan. Ini awal dari lahirnya Tiki Taka. (But, please… don’t call it that, it’s more complicated than just Tiki Taka) Ini alasan mengapa La Liga Modern sangat bergantung pada penguasaan bola. Masih banyak reaktivitas yang bergantung dan cara dua formasi terbentuk dengan satu sama lain, namun umumnya, penguasaan bola adalah cara paling sederhana mendominasi pertandingan.

Jerman memfokuskan diri pada perubahan struktur yang cepat. Bundesliga menjadi sebuah liga yang bergantung pada transisi, dan seberapa rapih, efisien, dan terstruktur sebuah tim bisa mengatur dirinya. (Ini kelahiran dari Gegenpressing punya Jürgen Klopp, kujelaskan di bawah)

Italia pada sisi lain, menciptakan sejenis… apa bahasanya ya… Struktur yang rapih. Struktur dan kepadatan di sebuah liga ini tidak begitu bergantung pada ketiga pilar Total Football. Justru, struktur yang rapih dan permainan bertahan yang tertutup di Italia melahirkan sejenis pertandingan yang defensif, dan membuka serangan balik yang berbahaya. Arrigo Sacchi memanfaatkan serangan balik dan struktur yang sempurna ini dengan sistem 4-4-2 miliknya.

Reaktivitas tim Italia tampak lambat. Selama Catenaccio masih hadir (diagram di bawah) mereka merupakan tim yang paling terkena oleh sistem Total Football ini. 1-4-2-3 atau 1-4-3-2 yang umum dilihat di sistem Catenaccio ini tidak bisa bergantung pada serangan balik khas Italia karena adanya banyak lubang di sistem pertahanan ini ketika bertemu dengan tim-tim yang mengaplikasikan Total Football. Formasi khas Italia yang memanfaatkan Libero ini sudah mati. Akan kujelaskan di artikel lain, anda cukup tahu bahwa Catenaccio sudah tidak ada.

Seperti dilihat di gambar, Catenaccio memasang 1 pemain bertahan ekstra untuk merapihkan kesalahan dan menghindari serangan balik tercipta. Offside tidak berlaku karena pada era Catenaccio, offside dihitung dari pemain nomor tiga dari belakang, bukan nomor dua. Dalam kasus ini, pemain nomor 6 adalah pemain yang menjadi garis offside, bukan pemain nomor 4 seperti pada era modern.

Berarti terakhir adalah…

Inggris… umm. Sebelum terciptanya Liga Primer Inggris, Inggris sendiri merupakan liga yang sangat… apa bahasanya ya… Tertutup. Strategi paling mendasarnya adalah dengan melempar bola ke tengah lapangan, lalu ke kotak penalti dan sundul atau tendang bola tersebut ke belakang kiper. Ceritanya panjang, tetapi juga ada kok tim yang bermain sepakbola dengan indah di Liga Inggris sebelum tahun 1992 dimana Liga Primer Inggris tercipta.

Catatan, struktur dan posisi adalah dua hal yang berbeda. Posisi di sini bermaksud pada pergerakan pemain, perubahan posisi bisa merubah struktur meski itu tidak selalu terjadi. Jika struktur berubah, misalnya sebuah tim bertahan dengan formasi 3-4-3, dengan gelandang bertahannya turun untuk menjadi bek ketiga, dan kedua bek sayapnya maju untuk mempercepat transisi… Namun, ketika menyerang, tim yang sama langsung merubah formasi menjadi 4-3-3, dengan si gelandang bertahan kembali ke tengah lapang.

Variasi Pressing

Total Football yang tadinya satu ini terpecah menjadi 3, ketiganya juga memiliki variannya masing-masing, dan sekarang, karena revolusi dan budaya yang berbeda, tiap pelatih yang ingin mengaplikasikan Total Football harus mempelajari ketiganya secara terpisah, lalu mencari cara untuk menyatukan varian mereka ke sistem yang sama.

Wah, terima kasih evolusi taktik , anda mempersulit hal yang sama, dengan mempisahnya menjadi 3 hal berbeda, hanya untuk perlu disatukan kembali!

EHEM… maaf. Kembali ke topik…

Pressing sendiri terevolusi menjadi… entah berapa puluh jenis dan variasi. Pelatih-pelatih yang memasukkan pressing dalam sistemnya, atau membangun sistem pressing sebagai intisari timnya ada 5. Jürgen Klopp (Liverpool), Mauricio Pochettino (Spurs), Erik Ten Hag (Ajax), Thomas Tuchel (PSG), dan Pep Guardiola (Manchester City).

Aku akan membahas ketiga tim yang setidaknya masuk semi-final liga Champions. Liverpool-nya Klopp, Spurs-nya Pochettino, dan Ajax-nya Ten Hag.

Jürgen Klopp (Gegenpressing/Counter Pressing)

Klopp merupakan pelatih yang memanfaatkan pressing bukan sebagai metode untuk membangun serangan kembali. Melainkan untuk menyerang. Seperti disebut di atas, Bundesliga adalah Liga yang bergantung pada transisi dan perubahan struktur. Dengan kecepatan pemain yang ia miliki di Dortmund, Klopp memaksa lawannya untuk bertransisi atau menerima satu gol. Ketika pembangunan serangan melalui penguasaan bola gagal, ia ingin lawannya untuk terus bermain dan membangun serangan. Perubahan posisi yang tidak rapih dan struktur yang tidak jelas justru merupakan hal yang bagus. Klopp memenangkan 2 gelar Bundesliga dengan sistem yang “berantakan” ini.

Ada satu artikel khusus buatanku untuk Gegenpressing, jadi baca itu saja. Aku tidak akan banyak membahasnya.

Gegenpressing Klopp di Liverpool berbeda dengan di Dortmund yang mengandalkan posisi berantakan, alih-alih, Pressing Klopp bergantung pada struktur yang rapih dan pembangunan serangan yang bagus juga jika lawan memberikan bola-nya pada Liverpool.

Dasarnya, kau menyerang, kami bertahan (mereka punya Van Dijk  toh) lalu kami serang balik, dan kami sangat bagus dalam menyerang balik. Kau bertahan? Kami menyerang, dan kami bagus dalam menyerang.

Seperti tampak di diagram, Gegenpress meminta dua pemain (atau lebih) terdekat untuk melemparkan tubuhnya ke pemain yang merebut bola dari sebuah serangan.

Garis Kuning merupakan jalur pertama yang dimanfaatkaan untuk memaksa lawan mengoper ke pemain nomor dua, lalu pemain nomor 9 akan mencari jalur dan lari ke pemain yang menerima operan. Firmino adalah pemain yang mengatur pressing Liverpool.

Jika lawan bertransisi dan melewati 2 orang yang sedang pressing, Fabinho yang dimainkan menjadi gelandang jangkar (meski Wijnaldum dan Keita juga pernah bermain di posisi tersebut dengan nyaman, cetakan pemain yang Klopp cari dipenuhi Fabinho) akan merebut bola dan mendaur ulang serangan yang sudah dibentuk. Firmino menjadi pemain utama yang menentukan dan membentuk struktur counter-pressing Liverpool.

Mauricio Pochettino (Pressing High)

Jika Klopp menggunakan Pressing dengan tujuan untuk merebut bola dan kembali menyerang menggunakan bola yang hampir pasti akan direbut, Pochettino fokus ke struktur dalam memaksa lawan terus bermain. Pochettino tidak begitu ingin pemainnya untuk merebut bola, setidaknya tidak sebanyak Klopp, namun Pochettino memanfaatkan pressing untuk memperkecil ruang lawan, dan membuat mereka pindah ke posisi yang tidak nyaman.

Pochettino memanfaatkan sistem yang mirip dengan Klopp di Southampton, namun di Tottenham Hotspurs, ia menggunakan sistem yang hampir seluruhnya berbeda.

Di Spurs, Pochettino meminta keempat penyerangnya (dalam 4-2-3-1, keempat penyerang adalah 3 dan 1 yang di depan) untuk melakukan Pressing sebagai satu struktur ke barisan belakang lawan. 3 pemain akan diam di tempat, dan satu pemain akan maju. Lawan harus melewati si pemain yang akan maju ini dengan mengoper bola, baik langsung ke depan, atau ke midfield mereka dulu.

Jika bola yang diberikan adalah bola lambung, Vertonghen atau Alderweireld akan menyundulnya dengan cepat, memberi bola untuk kedua gelandang jangkar, jika bola dioper melalui bawah, kedua gelandang jangkar atau 3 penyerang di depannya akan berusaha mengarah ke bola dan mendaur ulang serangan.

Pressing yang dilakukan Pochettino adalah Fake-Pressing. Mereka hanya melakukan pressing untuk memaksa lawan bermain, bukan karena mereka ingin memenangkan bolanya.

Pressing ini juga bermanfaat ketika menyerang, karena akan ada momen dimana lawan merubah posisi untuk melakukan zonal marking dan memberi jarak antara mereka dan lawan, dan memaksa lawan untuk menyisakan ruang dan garis-garis yang bisa dieksploitasi oleh ketiga penyerang tambahan Spurs (Dele Alli, Christian Eriksen, dan Son Heung Min biasa bermain di belakang Kane)

Seperti dilihat di gambar, pressing Pochettino sebenarnya tidak memiliki niatan untuk merebut bola, tetapi hanya untuk memaksa lawan terus memutar bola dan akhirnya mengirimkan pemain ke depan.

Dalam diagram ini, bek tengah bernomor 4 punya pilihan mengoper ke kiper, bek tengah yang lain, gelandang bertahan, atau bek kanan, semuanya dengan resiko bahwa striker nomor 9 atau pemain lainnya melanjutkan press.

Lawan akan memainkan bola jauh dan bek Spurs akan membuangnya untuk dikendalikan dan didaur ulang oleh kedua gelandang bertahan. Alderweireld sendiri (Nomor 4) memiliki angka kemenangan duel yang bagus, 69.6%, keempat paling besar di Liga Primer Inggris.

Erik Ten Hag. (Pass Lane Pressing).

Erik Ten Hag melakukan gaya pressing yang berbeda dari keduanya. Jika Pochettino berharap bahwa pressing digunakan untuk memaksa lawan membuat keputusan yang buruk, dan jika Klopp berharap bahwa pressing digunakan untuk merebut bola, Ten Hag meminta pemainnya melakukan pressing dalam situasi yang berbeda.

Ten Hag ingin pemainnya untuk melakukan marking yang rapih di midfield, lalu meminta salah seorang gelandang, atau sayapnya untuk meninggalkan orang yang ia mark, demi melakukan pressing ke pemegang bola. Ia juga meminta striker tengahnya untuk memaksa si pemegang bola untuk mengoper ke orang yang ditinggalkan tadi.

Dari situ, orang terdekat ke pemain tersebut akan melakukan press dengan cepat, dan memenangkan bolanya kembali.

Dasarnya ia memaksa lawan mengoper bola ke orang yang akan langsung dipressing, dan memenangkan bola.

Taktik ini membutuhkan pemainnya untuk memiliki penentuan waktu yang sempurna, dan intelegensia yang cukup serta kedisiplinan dalam memposisikan diri.

Karena marking yang rapih, lawan tidak memiliki opsi kecuali untuk mengoper ke pemain nomor 10. Begitu bola berjalan, 1 atau 2 pemain terdekat langsung berlari untuk merebut kembali bola dan mendaur ulang serangan.

DIAGRAM

Yap, 3 variasi taktiknya sudah dijelaskan, dan semoga anda tidak bosan membaca 1600 kata dari tulisanku… Sampai lain waktu!

Masalah Konsistensi

Masalah Konsistensi

Where were we?

Empat bulan kosong, mungkin lebih, dari mana kita? Apakah aku ada hutang serial yang perlu dibayarkan? Hmm.

Sepertinya membuat artikel mengenai Aladdin, atau, film apapun itu yang sedang ada di bioskop, bias jadi ide menarik. Tetapi untuk sementara, kita simpan saja dulu idenya.

Aku sudah menghabiskan bulan-bulan ini untuk menyerap ratus ribuan loc dan halaman dari buku-buku (oke, secara teknis memang E-Book, jadi hanya ratus ribuan location Kindle) tetapi buku tetaplah buku.

Ooh aku juga sudah menulis buku, dan kecepatanku menulisnya tidakburuk! Kurasa ia bisa beres sebelum 17 Agustus… Hmm…

Diantara banyak buku yang sudah kubaca, aku menemukan suatu jenis buku yang menggambarkan banyak ironi dan kekeliruan dari cara manusia berpikir.

Mungkin anda pernah mendengar tentang seorang psikologis yang memenangkan Nobel di bidang Ekonomi, namanya tidak lain dari Daniel Kahneman, dan almarhum sobatnya, Amos Tversky. Kahneman menggambarkan miskonsepsi-miskonsepsi dan “Blunder” sederhana yang sering dilewatkan oleh orang-orang.

Banyakalasan orang-orang menjadikorban blunder ini. Mungkin karena mereka terlalu percaya diri, memang tidak tahu, dantidakberpikirsecararasionalsaja, tetapi, adabanyakalasan blunder-blunder initerjadi.

Dan hari ini, aku akan membahas salah satu blunder paling sederhana. Mengenai performa dan konsistensi. Kurasa ini artikel yang tepat, mengingat aku sudah hilang empat bulan lebih.

Fortuna’s Sprint

Seorang Komedian pernah bercanda, resep sukses? Oh, mudah!

Sukses = Bakat + Keberuntungan

Sukses skala besar = Bakat + Banyak sekali keberuntungan.

Pada kenyataannya, kita bisa merubah sedikit dari lelucon itu, dan menambahkan kerja keras dalam resep itu, dan kurasa, formula itu dapat diaplikasikan secara konsisten. Semakin beruntung seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan sukses.

Ya, berdoa saja ke Fortuna, dan berharap hari ini anda sedang beruntung. Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik yang sedikit di atas rata-rata. Namun, untuk mencapai titik sukses yang maksimal, anda perlu keberuntungan.

Kahneman menggambarkan situasi ini ketika ia sedang melatih sebuah pasukan pilot di militer Israel. (Don’t ask me how he got there, just read his book, Thinking: Fast, and Slow.).

Tetapi, untuk memberi bayangan angka yang lebih mudah, serta mempermudah analogi juga, kita bisa anggap Kahneman sedang melatih beberapa atlit sprint, hanya sebagai asisten.

Ia memberi sebuah instruksi sederhana dan menyatakan bahwa ia sudah menyiapkan hadiah bagi atlit yang paling sukses. Pelatih tersebut menyangkal dan menyatakan bahwa pemberian hadiah hanya menurunkan performa. Ia menyarankanuntuk menghukum atlit-atlit yang memiliki performa buruk.

Kahneman menyangkal.

Ia meminta sang pelatih untuk meminta tiap atlit untuk mengambil 5 sprint, dan melakukan hal yang sama keesokan harinya, dan juga esoknya lagi. Ia mengambil angka selama 3 hari, dan 5 sprint per harinya. Angka tersebut tidak disebutkan agar tidak ada tekanan untuk mengulangi hal yang sama.

Dan, ia mendapat hasil menarik. Anggap sajaada 5 atlitlari, danakuakanmemberinyanama-namaberbeda, danhasil yang miripdenganhasil yang Kahnemanjelaskan.

Catatan: Militer Israel tidakmemberikanizinuntukmengeluarkanangkanya, dan sebenarnya ia hanya menjelaskan performa di buku miliknya dengan 3 kata, baik, buruk, atau biasa. Angka disini sepenuhnya fiktif.

Catatan 2: Jika anda lupa, aku merubah angka di artikel ini menjadipelari sprint, untuk mempemudah pembuatan angka.

Di bawah 13.5detik = Baik

13.5-14.9 detik = Rata-rata

Di atas 15 detik = Buruk.

  • Atep
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.2 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 12.1 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.23 detik
  • Iwan
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 11.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 15.7 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.8detik
    • Rata-rata total: 14.1detik
  • Budi
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 13.6 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.8 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.26 detik
  • Kevin
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.5 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 12.9detik
    • Rata-rata total: 14.73detik
  • Ali
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.4detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.0 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.9detik
    • Rata-rata total: 14.43 detik

Dengan mudah dapat disimpulkan (dari rata-rata total) bahwa Iwan merupakan pelari paling berbakat di antara semuanya, dan Kevin merupakan pelari yang butuh lebih banyak kerja keras untuk bisa sukses.

Perlu dilihat, tetapi, di antara semua sprint ini, Budi yang memiliki konsistensi terbaik. Budi tidak pernah mendapat angka yang begitu buruk, ia hanya mendapat 3 hasil rata-rata. Pada sisi lain, Kevin juga satu-satunya pelari yang tidak menerima penurunan kualitas. Hasilnya selalu membaik, meski pada hari ketiga, ia tetap bukan yang tercepat, dan ia hanya mendapat hasil rata-rata.

Kahneman ingin menyampaikan bahwa, terkadang, kita terlalu cepat mengambil keputusan dan menyatakan bahwa kemampuan tiap pelari di bawah rata-rata, atau di atas rata-rata tanpa data yang cukup. Selain itu, juga ada fakta bahwa, pada akhir hari, semua orang pernah merasa menjadi rata-rata.

Melihat  dari hasil rata-rata tiap pelari, performa rata-rata mereka pada ketiga hari tidak begitu berbeda. (Oke, 0.3 detik mungkin perbedaan besar dalam sprint 100 meter, tapi, anda mengerti maksudku apa)

Kelima pelari tersebut memiliki bakat dan kerja keras yang berbeda tentunya, namun pada akhirnya, tidak ada pelari dengan bakat selevel Usain Bolt dari mereka berlima. Hanya ada yang lebih baik dari rata-rata, dan yang memang biasa-biasa saja.

Dewi pelit

Seberapa baik hasilanda, atau seberapa buruk hasil anda, berapapun angka anda, pasti akan ada perubahan.

Anda mungkin sedang beruntung, jadi anda mendapat hasil baik. Lalu, juga, jangan lupa, jika hasil anda buruk, sepertinya tidak mungkin angka tersebut bisa menurun lebih parah. Bagi orang yang mendapat hasil buruk, satu-satunya jalan adalah keatas.

Seberapa baik anda, seberapa berbakat anda, anda hanyalah manusia rata-rata. Bakat hanya bisa memberikan anda suatu hasil rata-rata yang lebih baik. Sisanya, kita perlu bergantung pada kerja keras, dan sayangnya, dewi yang pelit dan plin-plan… alias Fortuna.

Fortuna mungkin dewi yang disembah oleh para prajurit dan raja Romawi, namun, kata Fortuna sendiri juga dapat digunakan untuk perumpamaan keberuntungan.

Satu hari anda memiliki performa luar biasa. Hari lain? Performa anda biasa-biasa.

Orang yang begitu berbakat hanya muncul sesekali tiap generasi. Kecuali anda Cristiano Ronaldo, Michael Jordan, Taylor Swift, atau Albert Einstein, yang memiliki nilai rata-rata (dari bakat) yang begitu tinggi, serta dengan kerja keras yang cukup… Anda perlu bergantung pada keberuntungan, dan kerja keras.

The Law of Success

Bagian dari artikel ini semacam mendukung kepercayaan untuk tidak percaya pada motivator. Motivator biasanya mendukung fakta bahwa orang-orang istimewa.

Aku mendukung sebaliknya. Orang-orang yang memang istimewa akan sukses begitu mereka bekerja keras.

Untuk sukses, ada 4 unit yang perlu dijadikan faktor. Bakat, Kerja Keras, Keberuntungan, dan yang terakhir, skill.

Kurang lebih, rumusnya seperti ini.

Skill = Kerjakeras + bakat. Sukses = Skill + keberuntungan.

Keberuntungan dapat membuat anda sukses, tapi pada akhir harinya, anda perlu bakat dan kerja keras. Salah satu tidak cukup lagi…

Orang-orang sekarang mencari “The Next Google” dan mereka juga tertarik untuk membuat sebuah startup yang sukses. Sayangnya, ini tidak mungkin kecuali anda memiliki keberuntungan yang sangat banyak, atau bakat yang sangat banyak.

Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik di mana anda sedikit di atas rata-rata. Anda butuh kerja keras dan terus menerus belajar agar anda memiliki satu set skill yang dapat dimanfaatkan secara konsisten, dan bukan hanya saat beruntung.

Bagaimana cara anda sukses? Anda harus konsisten, dan anda berharap akan keberuntungan. Konsistensi yang cukup dapat memberi anda suatu bentuk kesuksesan kok.

Just don’t pray to be someone THAT special and work hard enough… Anda akan sukses.

Jadi, apa rahasia konsistensi? Kerja keras, dan kerja terus. Hasilnya tidak akan bohong.

Sampai lain waktu!

 

 

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp. Salah satu pelatih terbaik dunia, dikenal karena gaya melatihnya yang tidak umum, jenggotnya yang tidak dicukur, dan kebiasaannya selebrasi dengan sangat lebay… hingga kacamatanya ia rusak. Akhir musim Liga Inggris kali ini melihat Klopp memecahkan rekor Runner Up dengan poin terbanyak sepanjang sejarah Liga Primer Inggris. Meski masih belum juara juga, (next year will be our year!) pasukan Liverpool pimpinannya merupakan satu-satunya tim Liverpool yang dapat memenangkan 30 pertandingan dalam satu musim Liga Inggris sejak tahun 1960.

Musim ini juga musim pertama dimana dia membawa pulang trofi Liga Champions ke Inggris. Meski ia tidak mampir dulu ke Manchester untuk memamerkannya, warga di Merseyside terus mendukungnya.

Serial (yang aku sudah entah memulai beberapa ratus namun belum pernah dibereskan, tolong doakan aku bisa bereskan serial ini) ini akan menceritakan dengan singkat karir Klopp dan kisah hidupnya. Selamat menikmati!

Bermain, Bertahan, dan Berlari

Klopp memulai karirnya sebagai pemain di Mainz 05, sebuah klub kecil yang bermain di divisi dua Jerman, belum pernah sekalipun, Mainz merasakan perasaan bermain di Divisi pertama. Meskipun begitu, karir pemainnya tidak begitu gemilang, karena sebagai pemain, ia hanya terperangkap di divisi dua Liga Jerman.

Kesempatan terbaiknya untuk mendapatkan promosi ke Bundesliga gagal karena kesalahan yang ia buat saat bermain menjadi bek kanan. Mainz kalah pada hari terakhir karena Klopp memberikan bola ke lawan di ujung kotak penalti. Skornya berada di 2-1, dan Mainz yang sedang mengumpulkan bola dan menciptakan begitu banyak peluang terpukul karena kesalahan Klopp. Skornya turun ke 3-1, dan seandainya mereka mencetak gol pun, perjalanan menuju kenaikan ke Bundesliga masih jauh, mereka masih butuh satu gol lagi.

Seandainya pertandingan tersebut berakhir dengan hasil seri, Mainz akan naik dan merasakan permainan di divisi satu Bundesliga. Mereka gagal.

Oke, ia membuat kesalahan, tetapi… Tidak perlu disangkal, ia merupakan salah satu pemain bertahan terbaik di divisi dua, terkenal akan stamina-nya, dan beberapa gol cantik yang ia sering cetak.Sangat aneh. Klopp sendiri memiliki kebiasaan menendang tendangan bebas meskipun ia bermain di posisi Bek Tengah atau Bek Kanan. Ini mungkin alasan salah satu penendang bebas favorit Klopp di Liverpool adalah seorang Bek Kanan muda, orang Scouse yang tumbuh di akademi Liverpool, tidak lain dariTrent Alexander-Arnold.

Kegagalannya sebagai pemain di Mainz tidak menutup karirnya untuk menjadi pelatih, justru, Klopp mendapat mentor terbaiknya di Mainz, bersama dengan Wolfgang Frank, dan pelatih Jerman yang satu ini menjadi figur terpenting dalam proses pembentukan Klopp sebagai pelatih. Ia sudah dilatih oleh Frank sejak ia masih menjadi pemain.

Frank merupakan seorang jenius dalam memanfaatkan sistem. Ia menciptakan sistem hardcore, heavy metal yang melelahkan tetapi efisien. Sebuah sistem yang sangat bergantung pada pressing. Dasarnya, Frank meminta pemainnya untuk melemparkan badannya ke pemain lawan yang merebut bola. Ini merupakan dasar dari taktik modern yang dikenal dengan Gegenpress.

Pada akhir karirnya sebagai pemain di usia 33 (umum bagi seorang pemain bertahan, terutama di divisi dua untuk bermain di usia ini) ia menjadi asisten pelatih untuk Wolfgang Frank.

Namun, hanya dalam tahun kedua Klopp menjadi asisten pelatih, Frank mendapatkan hasil buruk. Mainz mengalami krisis ketika pemain-pemain kuncinya dibeli oleh tim-tim di Bundesliga, dengan gaji yang jumlahnya tidak main, dan dengan kemampuan finansial klub tersebut yang di bawah rata-rata, bahkan untuk klub divisi dua, (ini ditandai dengan stadion yang biasa hanya terisi seperempatnya saja, sponsor hanya berasal dari perusahaan berbasis lokal, dan juga akademi yang pada dasarnya tidak berjalan dengan baik) mereka tidak dapat menemukan pengganti yang pantas.

Ini berujung buruk, tentunya. Awal Januari, ketika Bundesliga memulai pertandingan kembali sesudah istirahat 1 bulan, Mainz berada di posisi relegasi ke divisi 3, yang hanya berisi pemain semi-professional, dan hampir tidak mendapatkan uang sama sekali dari siaran Televisi, hanya dari tiket pertandingan dan sponsor. Frank pun dipecat. Klopp menjadi orang pertama yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Awal Mula…

Jürgen Klopp adalah orang yang karismatik, lucu, dan terkadang berapi-api. Selama ia menjadi asisten pelatih, Klopp menggunakan selera humor serta keterbukaannya untuk membujuk direktur Klub dalam memilih dia sebagai pengganti Frank. Dengan kemampuan finansial yang rendah, direktur klub tersebut setuju, asalkan ia tidak meminta gaji lebih tinggi dari Frank.

Hasil Klopp langsung tampak. Ia memanfaatkan sistem yang sama, dengan efisiensi lebih, dan gaya motivasi yang tidak dimiliki oleh Frank.

Tengah musim ia ditunjuk, hasil Mainz membaik dengan efisiensi sistem baru yang Klopp berikan, alih-alih melemparkan pemain ke muka lawan yang sedang memegang bola dan hanya melakukan High Pressing, Klopp meminta pemainnya untuk lebih percaya diri ketika memegang bola, dan langsung melakukan pressing ketika bola tersebut direbut. Ini menciptakan pertandingan yang sukses. Setidaknya, jika pertandingannya tidak dimenangkan, penontonnya mendapat pertandingan yang menegangkan.

Dampak strategi Klopp sepertinya tidak hanya berhenti di lapangan. Gaya pertandingan yang menyenangkan dan “Heavy-Metal” ini menarik sejumlah penonton, menaikkan jumlah orang yang menonton pertandingan di Mainz sampai 15%.

Klopp tidak berhenti di situ. Ia ingin memberikan pemainnya semangat lebih, dan ia tahu persis pertandingan seperti apa yang memberikannya semangat ketika ia masih menjadi pelatih. Pada derbi-derbi dengan klub di sekitar kota Mainz, hampir bisa dipastikan stadion penuh. Derbi terpenuh yang Klopp rasakan sebagai pemain merupakan musim dimana Mainz hampir meraih promosi, namun gagal.

Klopp merasa seolah-olah ia dapat berlari 5 kilometer lebih banyak jika ada supporter yang menyanyikan lagu, dan ia merasa bahwa pemain-pemainnya akan bisa bermain dengan semangat lebih banyak jika ada supporter yang menonton, apalagi yang mendukung.

Untuk ini, Klopp perlu (sekali lagi) memanfaatkan kemampuan sosialisasi dan karismanya. Ia tidak hanya membujuk sekedar teman-temannya saja… Ia membawa Mainz ke level baru. Gaya pertandingan yang dikenal dengan Carnival Club yang ia bawa dari Mainz.

Tiap hari Jumat, tepat satu hari sebelum pertandingan, atau hari Minggu, satu hari sesudah pertandingan FSV. Mainz 05 mengadakan sebuah acara di balai kota Mainz dengan tujuan mengajak orang untuk ikut ke stadion dan menonton sepakbola.

Pada awal-awal acara ini digelar, banyak orang merasa tersentuh. Klopp yang memang karismatik dan lucu ini membuat orang-orang merasa bahwa sebuah klub yang harusnya menghasilkan banyak uang masih cukup peduli untuk membuat acara seperti ini dengan tujuan mengajak orang untuk menonton pertandingannya.

Meski belum tampak, (dan belum ada orang yang benar-benar tahu ide Klopp secara jangka panjang) rencana Klopp sukses. Sanking suksesnya rencana ini, dan sering terjadinya stadion yang tiketnya terjual habis, Klopp meminta walikota untuk membuat stadion baru bagi Mainz. Permintaan tersebut awalnya ditolak, namun dengan bantuan sponsor (perusahaan asuransi asal kota Mainz) yang Klopp dapatkan, Stadion Mainz sekarang merupakan hasil dari Carnival Club milik Klopp ini.

Musim pertama Klopp di FSV Mainz belum benar-benar menunjukkan perbedaan dari permainan. Ia hanya fokus pada mental, fisik, dan finansial. Perubahan taktik drastis baru tampak ketika klub tersebut memiliki uang dan anggaran untuk mendapatkan pemain-pemain baru.

Revolusi Finansial

Klopp mengakhiri musim pertamanya (17 pertandingan) dengan sebuah kemenangan, memastikan bahwa Mainz selesai dalam posisi keenam Bundesliga 2.

Uang yang ia terima dari penjualan tiket musim lalu, dan tiket musiman, serta sponsor baru dari perusahaan asuransi lokal yang sudah memberikan uang untuk mendapatkan hak nama stadion dimanfaatkan untuk merenovasi stadion dan meningkatkan kapasitas.

Klopp siap berburu pemain di divisi dua. Apa yang Klopp cari? Klub-klub modern, biasanya di papan atas bergantung pada direktur olahraga untuk mencari pemain, namun Klopp belum bisa melakukan itu, ia harus bertahan dengan anggaran dan kemampuan finansial yang ia miliki.

Klopp memutuskan untuk mencari pemain berdasarkan kepribadian sebelum kemampuan. Aku yakin bahwa ia memercayai konsep nurture over nature dan ia yakin orang yang tepat dapat dibentuk menjadi pemain yang bagus.

Klopp selalu menanyakan 3 pertanyaan yang sama ke sebuah pemain, dan ketika wawancara, ia meminta pemain yang akan direkrut untuk membawa pacar atau istrinya. Pacar atau istri sang pemain diberikan tur kota oleh asisten pelatih, termasuk tempat-tempat turisme, tempat berbelanja, dan juga taman-taman.

Ini tampak seperti sebuah gerakan yang ia ambil dari Jean-Michel Aulas, presiden Lyon, yang bersikeras bahwa pemain harus dibuat senang dan tenang agar bisa memberikan performa yang baik. Aulas bersikeras untuk menghabiskan 10-15% anggaran untuk menyewa konselor untuk membantu pemain merasa senang di kota tinggal barunya, serta sesekali mengingatkan bahwa mereka sudah berjanji untuk mengajak istrinya nonton film.

Klopp melakukan hal yang mirip, dengan versi jangka pendek dan anggaran terbatas. Ia tidak bisa menyewa konselor begitu saja.

Dalam mata Aulas, pemain yang performanya buruk tinggal dijual ke klub yang lebih kecil untuk mengembalikan uang yang habis untuk gaji serta konselor, dan pemain yang performanya baik akan menghasilkan uang yang lebih dari uang yang didapat dari gaji serta konselor, memperbanyak nilai klub.

3 pertanyaan pertama Klopp adalah…

  1. Apakah kau menyukai latihan? Dan kau harus menyukai latihan untuk bisa bertahan di sistem Klopp, itu sistem yang sangat berat. Klopp tidak keberatan jika ia harus menolak pemain seperti Leo Messi jika ia tidak menyukai latihan.
  2. Kau tahu kami siapa?
  3. Apakah kau ingin bermain bagi kami?

Dari tampaknya, Carnival Club yang sedang dirancang Klopp ini tidak akan bertahan jika pemainnya tidak bangga untuk bermain bagi Mainz.

Klopp memiliki satu perbedaan krusial dari Aulas. Aulas melihat bahwa ia butuh uang dan ini dilakukan untuk membuat pemainnya bermain lebih baik, dan untuk menaikkan nilai pasar si pemain, ini adalah hal yang berbasis statistika…

Klopp melakukannya agar si pemain mencintai klab sepakbolanya dan rela melakukan performa yang baik, di sistem yang berat, karena itu dibutuhkan. Ini tindakan yang dilakukan karena cinta, bukan ilmiah.

Klopp baru memulai tugasnya sebagai pelatih di Mainz, dan ia tidak akan berhenti begitu saja. Lagipula, Carnival Club miliknya belum beres dibangun.

Bersambung

Kampanye Vaksin Indomie

Kampanye Vaksin Indomie

Baru kemarin aku menemukan berita di kolom Tunggu Dulu milik Pikiran Rakyat mengenai Indomie di Nigeria dan hubungannya dengan vaksinasi.

Karena sedikit banyak kepo di Internet, sepertinya membuat artikel tentang Indomie di negara Afrika ini cukup menarik. Selamat menikmati!

Indonesia vs Nigeria

Indonesia dan Nigeria memiliki kemiripannya masing-masing lho! Kurasa, akan sangat menarik untuk melihatnya langsung di satu artikel.

  1. Kedua negara sama-sama memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, dan populasi yang tinggi. Nigeria memiliki sekitar 200 grup etnis berbeda, dan 371 suku berbeda (satu grup etnis bisa membuat beberapa suku berbeda), dan Indonesia memiliki lebih dari 300 grup etnis berbeda.
  2. Kedua negara sangat menyukai Indomie. 😛
  3. Keduanya memiliki populasi yang cukup banyak, dan luas negara yang besar.
  4. Sayangnya, keduanya juga memiliki isu-isu dan angka vaksinasi yang cukup buruk.
  5. Dan lagi, keduanya juga hanya sedang bertumbuh sebagai negara, pertumbuhannya dapat bertambah dengan cepat, namun, sekali lagi, keduanya sedang bertumbuh.

Kedua negara ini, cukup mirip tentunya. Dan, seperti kusebut di atas… Artikel hari ini akan mengupas kampanye vaksinasi di Nigeria.

Ekonomi Indomie di Nigeria

Pada tahun 1988, ketika Indofood memulai ekspor mie instan ke Nigeria, pasar Mie Instan di Nigeria tidak nyata, dan tidak bernilai.

5 tahun kemudian, pabrik pertama Indomie dibuka di Nigeria. Penghasilan dan branding yang naik tentunya membantu pertumbuhan pasar mie instan.

Hanya 25 tahun dari terbukanya pabrik lokal Indomie pertama, dan tumbuhnya pasar dan ruang pekerjaan yang disediakan oleh Indomie yang sudah bertumbuh sangat besar, dan, Indofood mendominasi 74% dari pasar Mie Instan di Nigeria, angka yang besar, terutama mengingat luasnya Nigeria.

Uniknya, angka 74% ini dapat dianggap sebagai penurunan bagi Indofood.

Perlu diingat, sampai tahun 2009, Indofood memegang hampir seluruh pasar mie instan di Nigeria. 97% dari pasar mie instan di Nigeria dimakan habis oleh Indomie yang sudah mulai memberikan pengaruhnya pada warga dan anak muda di daerah Nigeria.

Warga Nigeria mengonsumsi 8 juta paket Mie Instan tiap harinya, dan, dengan harga 15 sen per paket Mie Instan, tentunya, makanan amat enak ini mendominasi daerah Nigeria di Utara, yang masih dipenuhi dengan keluarga di level 1 (penghasilan total keluarga bernilai 2 dollar atau kurang per harinya).

Dengan naiknya harga gandum secara eceran, dan karbohidrat pada umumya di daerah Nigeria bagian utara, konsumsi Mie Instan jauh lebih murah dan mengenyangkan bagi keluarga-keluarga berpenghasilan rendah.

Mie Instan menjadi suplai karbohidrat yang begitu baik dan kuat untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Dalam kacamata ekonomi mendasar, gandum yang dibutuhkan Indofood tiap tahunnya yang sejumlah 500.000 ton, sekitar 7 kali lebih banyak dari gandum yang diproduksi oleh petani-petani di Nigeria per tahun.

Jumlah gandum yang diambil bulk, dan dimanfaatkan secara efektif oleh Indofood mampu menurunkan harga karbohidrat yang dibutuhkan oleh warga, dan memberikan warga opsi untuk makanan murah dan mengenyangkan.

Selain menjadi opsi karbohidrat yang murah, enak, dan mudah didapatkan bagi warga tingkat 1 (warga tingkat 1 di Nigeria mengonsumsi 2.2 kilogram Indomie), rasanya yang gurih, manis, dan tidak bisa didapatkan di tempat lain juga membuatnya populer di kalangan anak muda, dan warga lain. Konsumsi warga tingkat 2 ke atas, per capita, 1.1 kilogram.

Indofood mengambil dan mendominasi pasar Nigeria dengan rasanya yang sangat enak (percaya padaku, bahkan orang-orang yang biasa makan 100.000 rupiah per orang tiap kali makan, masih menyukai Indomie, dan tidak akan menolak untuk memakannya sesekali) dan fakta bahwa harganya terjangkau, menggulingkan takhta mie instan yang didominasi Indomie akan sangat menyulitkan.

Kampanye Mie di Nigeria

Sebagai warga Indonesia, tentunya, aku tumbuh dan dikelilingi oleh Indomie, dan banyaknya varian rasa dari mie instan tersebut. Namun, tidak banyak ada kampanye khusus yang dibuat oleh Indomie demi mempromosikan produknya.

Oke, selain Asian Games, tetapi, itu pengecualian karena tokohnya hanya memasang tokoh yang sudah diciptakan, bukan tokoh ciptaan sendiri.

Mungkin ada rasa baru, dan rasa tradisional (mie goreng aceh, soto tengkleng, dan semacamnya) tetapi, belum pernah ada karakter yang khusus dibuat seperti seri karakter Indomitables yang dilakukan di Nigeria.

Sachet karakter Indomitables dibuat khusus, bisa digunting, dan ada gambar karakter superhero di depannya. Jujur, sepertinya hal yang sama belum pernah dilakukan oleh Indomie di Indonesia.

Tapi ya sudahlah. Tanpa adanya banyak kampanye, Indomie sudah terkenal kok.

Dengan beberapa kampanye Indomie di Nigeria, ia makin terkenal, penjualan makin naik, pasar makin menginginkannya, sampai ke titik orang-orang Nigeria mengira bahwa Indomie berasal dari Afrika, dan ke titik sampai orang Nigeria menyebut mie sebagai Indomie.

Tetapi, selain kampanye karakter superhero yang dimasukkan ke sachet, lalu artwork khusus yang berubah, kampanye paling baru Indomie berada di vaksinasi.

Mohon maaf, awalnya aku ingin mengupload sachet Indomie di Nigeria, namun, sepertinya sistem gambar di WordPress sedang tidak berjalan dengan baik, mohon menunggu sebentar ya 🙂 .

Intermezzo

Baik Indonesia dan Nigeria memiliki masalah vaksinasi yang buruk

Ketika ada vaksin, di Indonesia langsung terjadi perdebatan panas dan banyak juga hoaks yang menyatakan bahwa pembuatan vaksin menggunakan plasenta bayi, rambut monyet, atau semacamnya lah. Selain itu, juga banyak ulama dan petinggi agama menyatakan bahwa vaksin adalah benda yang tidak halal. Untungnya, konflik itu sudah beres, dan sekarang kondisi vaksinasi di Indonesia membaik.

Di Nigeria, banyak warga di tingkatan ekonomi level 1, atau 2, termakan rumor adanya zat infertil di vaksin dan pemboikotan vaksin polio di tahun 2003.

Kekacauan pada negara, rusuhnya beberapa hal, dan rumor-rumor lebih lanjut pada vaksin membuat angka vaksinasi di Nigeria turun drastis. Sampai tahun 2018 setidaknya.

Kembali ke kampanye…

Kampanye vaksinasi

Pada akhir 2018, pemerintah Nigeria membeli 75.000 sachet Indomie, dengan harapan bahwa 75.000 sachet tersebut dapat digunakan sebagai bahan tawar untuk meminta warga melakukan vaksinasi.

Target awal pemerintah sedikit dibawah 60.000 anak (58.917 anak) mendapat vaksin polio, tetapi, hasil kampanye ini lebih sukses dari yang dibayangkan.

Kampanye yang awalnya hanya akan bertahan selama satu hari ini dan hanya ditujukan bagi anak-anak menjadi sangat populer. Orang dewasa pun meminta vaksin polio demi bisa makan Indomie secara gratis. Secara total, kampanye satu hari itu menjadi kampanye 5 hari. Target anak yang divaksin terpenuhi (hampir dua kali lipat dari target malah), dan ditambah juga dengan 150.000 warga dewasa menerima vaksinasi demi Indomie gratis.

The power of Indomie!

Kesimpulan.

Kita harus bangga menjadi warga Indonesia

Indomie yang (memang sih) tidak sehat itu membantu negara lain dengan menyediakan opsi karbohidrat yang enak dan murah. Bukan hanya disitu, indomie juga dapat dijadikan bahan tawar untuk membantu mencapai angka vaksinasi yang baik.

Terima kasih Indofood, dan Indomie!

Sampai lain waktu!

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Taktik Sepakbola: Gegenpress

Jadi, pagi ini, aku perlu membuat suatu tulisan, dan sejujurnya, aku sedang bingung, apa yang bisa kulakukan. Aku berusaha mencari ide, namun tidak dapat, dan, ya sudah, aku mau menulis mengenai taktik-taktik sepakbola yang digunakan olehku dan timku ketika latihan.

Taktik yang dibahas disini bukan taktik yang sudah diaplikasikan, melainkan masih bersifat teoretikal, dan tidak memberikan nama pemain atau tim yang memanfaatkan taktik ini.

Selamat menikmati.

Catatan

Aku suka menghabiskan waktu luang ketika tidak ada serial untuk ditonton, atau pop culture buzz yang nongol di internet dengan mencari dan mengintip beberapa taktik-taktik sepakbola. Untungnya, tidak ada orang yang membuat artikel seperti ini dalam bahasa Indonesia, jadi, kurasa tidak ada salahnya jika aku membuat serial ini.

Gegenpressing 101

Gegenpress adalah taktik yang sangat mudah dijelaskan.

Pada dasarnya, Gegenpress berarti memanfaatkan dua pemain terdekat dengan bola untuk lari dan menekan pemain yang membawa bola. Sesederhana itu.

Pro Gegenpress

Jika situasi di atas dapat dilakukan dengan benar, pemain-pemain lini depan yang biasa bermain di garis yang cukup tinggi dapat menyerang dengan cepat, dan memaksa pemain bertahan lawan bergerak dengan cepat, sehingga membuka ruang.

Hampir dapat dipastikan bahwa kedua bek tengah harus siap untuk berlari dan mengintersepsi bola, ataupun melakukan marking. Jika ini dilakukan, akan ada ruang yang diciptakan, dan dapat menciptakan skenario seperti ini.

Dengan adanya banyak opsi untuk menyerang, pemain nomor 9 cukup memberikan bola ke pemain nomor 7, 8, 10, atau 11, dan dari situ, setidaknya sebuah kesempatan dapat tercipta.

Selain itu, Pro terbesar gegenpress adalah efek psikologis yang diberikan ke lawan-lawan tim. Jika ada tekanan dari pemain yang banyak (secara harfiah, dan figuratif), akan ada kebingungan dalam menentukan arah bola, dan jika passing dilakukan dengan labil, bola akan mudah dimenangkan kembali, dan serangan balik akan tercipta.

Kontra Gegenpress

Sayangnya, meski taktik ini mudah sekali untuk dijelaskan, penerapannya sangat sulit…

Butuh fokus, stamina, dan dia memiliki resiko yang sangat besar semakin banyak orang yang dimanfaatkan untuk menekan. Umumnya, Gegenpress menekan menggunakan dua orang, tetapi pada suatu titik, berdasarkan taktik yang lawanmu lakukan, bisa ada 4-5 orang berusaha memenangkan bola dari pemegang bola. Jika itu terjadi…

Seperti kita lihat di sini, karena pergerakan pemain menekan ke arah bola… Jika pemain lawan cukup tenang, mereka bisa memberikan bola ke pemain yang sekarang kosong.

Jika bola sudah sampai ke suatu pemain, pada umumnya, akan ada lebih banyak pemain yang dikorbankan untuk mengejar bola.

Kondisi Pressing berat ini dapat membiarkan setidaknya satu lawan tanpa ada pemain yang melakukan marking, dan ini bisa membuka ke situasi satu lawan satu dengan kiper jika pemain-pemain lain tidak cukup fokus atau disiplin untuk melakukan marking.

Tentunya board di atas sangat-sangat teoretikal, masih ada beberapa pemain yang belum melakukan marking, juga ada lawan yang belum di mark dengan benar, tetapi, dalam beberapa kondisi, Gegenpress dapat membuka situasi seperti ini.

Taktik untuk digabungkan dengan Gegenpress

Gegenpress sendiri tidak cukup untuk dimanfaatkan sebagai taktik standalone.

Bek Sayap

Biasanya Gegenpress digunakan di tim-tim yang memiliki bek sayap yang mampu maju mundur dan membantu serangan serta menjadi orang tambahan untuk membantu merebut bola di tempat yang tinggi.

Anggap saja, serangan berujung gagal, dan kiper melempar bola dengan cepat ke pemain nomor 4.

Pemain nomor 4 dapat menerimanya dengan mudah, dan sebelum ada tekanan lebih lanjut dari pemain nomor 9, 8 atau, 10, ia memberinya ke pemain nomor 8 yang menemukan ruang kosong.

Melihat ini, 3 pemain langsung menekan pemain nomor 8 sebelum ia bisa mengeluarkan umpan.

Jika pemain nomor 8 menerima tekanan hanya dari pemain nomor 8 dan 11 saja, besar kemungkinan akan ada ruang yang dapat dimanfaatkan unutk memainkan operan lagi. Bek kanan (3) yang bermain di posisi tinggi dapat membantu merebut bola dan membantu menyerang dari sisi sayap, dengan pemain nomor 8 dan 11 masuk ke kotak penalti, dan mencari posisi untuk mencetak gol

Tentunya jika 3 pemain telah dikorbankan, dan bola masih lolos, kondisi buruk dapat dijamin terjadi. Pemain nomor 7 berada di posisi kosong, dan dengan pemain nomor 9 dan 11 untuk membantu serangan, jika pressing ini tidak cukup, hanya tersisa bek tengah dan gelandang bertahan untuk memotong umpan.

Cara Mengatasi Gegenpress

Sejujurnya, aku tidak tahu.

Taktik ini bukan taktik yang dapat diatasi dengan taktik lain. Cara terbaik untuk mengatasinya cukup dengan ketenangan dan kemampuan memberikan operan yang rapih alih-alih dengan taktik.

Jika Gegenpress dengan 3 orang atau lebih tidak dapat memenangkan bola kembali, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan tim mengenai hal tersebut. Terlalu banyak ruang akan terbuka begitu saja jika bola sudah melewati orang yang ditekan.

Kriteria.

Taktik ini sulit digunakan karena butuhnya kriteria fisik yang berat.

  • Stamina yang cukup
  • Kecepatan mengejar bola, dan pemain bertahan yang berada di posisi tinggi
  • Kedisiplinan dan kesabaran dalam menentukan kapan menekan, dan kapan tidak perlu menekan.
  • Marking yang bagus dan kemampuan memotong operan yang baik
  • Kemungkinan besar, butuhnya kiper yang handal dalam kondisi 1 lawan 1 jika tekanan mengakibatkan ruang terbuka yang banyak.

Meski kriterianya banyak, Gegenpress dapat menjadi taktik bertahan yang dimanfaatkan untuk menyerang jika pemain-pemainmu cukup untuk melakukan hal tersebut.

Tim yang menggunakan:

  • Liverpool F.C.
    • Liverpool mungkin tim terbesar yang menggunakan taktik ini. Juergen Klopp membuat sistem dengan pemain-pemain cepat yang memiliki stamina bagus untuk melakukan taktik melelahkan seperti Gegenpress. Mulai dari tekanan di depan oleh striker tengah Firmino, gelandang-gelandang yang mampu naik turun barisan dengan cepat, dan bek-bek tercepat di Eropa, Gegenpress di Liverpool bisa dibilang berjalan sangat sukses.
  • Borussia Dortmund di bawah Juergen Klopp
    • Jika membahas Gegenpressing, Juergen Klopp mungkin pionirnya. Baik Liverpool atau Dortmund, keduanya menjadi tim yang sangat-sangat fokus ke passing jarak dekat dan kecepatan serta stamina. Di bawah Klopp, Dortmund fokus ke permainan menekan dari depan dan passing rapih oleh Gotze atau Gundogan, sebelum bola sampai ke Lewandowski dan masuk ke gawang. Dortmund di bawah Klopp bermain di posisi tinggi, dan tidak mudah terkena serangan balik. Tekanan yang konstan dan menyebalkan serta pertahanan rapat dan bek-bek muda serta cepat dalam Mats Hummels dan Neven Subotic memberikan lawan-lawan Dortmund sangat sedikit ruang untuk menyerang.
  • Bayern Munich di bawah Pep Guardiola.
    • Sebelum Bayern sekarang yang memiliki pemain-pemain yang hanya meluangkan waktu untuk pensiun di lini depan dan belakang, Pep Guardiola memanfaatkan Gegenpress dan mendominasi Liga Jerman dengan taktik tersebut. Meski Pep tidak memiliki striker-striker yang sedisiplin trio striker Liverpool dalam bertahan, Robben dan Ribery juga melakukan tugas bertahan yang cukup baik. Inti Gegenpress Guardiola berada di gelandang-gelandangnya. Guardiola memiliki Thiago Alcantara, Javi Martinez, dan Xabi Alonso yang mampu mengejar bola dengan cepat.

Kesimpulan

Komitmen manajer untuk menggunakan sistem Gegenpress cukup berat, terutama mengingat kebutuhan pemain dengan fisik yang cukup kuat, pribadi yang disiplin (PSG sebenarnya memiliki kualitas pemain yang cukup untuk melakukan Gegenpress, sayangnya, tidak banyak pemain yang cukup disiplin untuk menjalankan sistem tersebut) untuk menjalankan sistem tersebut, jadi, tidak banyak tim dapat memanfaatkan Gegenpress dengan efisien dan baik.

Kasarnya, Gegenpress adalah taktik High Risk, High Skill, High Reward yang perlu pengaturan pemain dan pemanfaatan sempurna oleh pelatih untuk hasil paling efisien.

Sampai lain waktu!

Template tactical board dari tactical-board.com

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Minggu malam kemarin, topik ini dibahas di klub debatku, dan menurutku, ini topik menarik, dan tidak harus spesifik digunakan pada ikon-ikon remaja atau anak, karena kurasa efek yang similer dapat dimanfaatkan dan dicoba pada anak-anak yang tidak menerima tekanan sebanyak “Ikon-ikon” yang dimaksud.

Ikon disini dimaksudkan sebagai atlet, penyanyi, aktor, selebgram (sayangnya iya… selebgram), atau remaja dan anak apapun yang menerima tekanan dari dunia luar dan memang terkenal.

Bagaimanapun juga, ini topik menarik, jadi langsung saja kita masuk. Aku akan memberikan tiga contoh, ketiganya punya efek masing-masing.

Michael Jackson

Ah. Him.

Namanya langsung menciptakan image orang yang melakukan moonwalk, penyanyi pop, dan kemungkinan besar, orang-orang sudah dapat gambaran mengenai dirinya sedetik sesudah namanya disebutkan.

Sebelum ia menjadi solo artist (yang hebat, tentunya), Michael Jackson memulai karirnya di Boyband yang diurus dan dimanage oleh ayahnya sendiri, Jackson 5. Anggotanya adalah kakak-kakak nya, dan, pada saat memulai karirnya, ia masih berkulit hitam (ya, maaf, aku tidak bisa menggunakan istilah yang lebih politically correct, aku tahu). Tentunya ia termasuk golongan African-American.

Michael adalah anak paling muda dari kelima anggota boyband tersebut. Ia juga yang paling berbakat, dan kasarnya, ia juga yang paling labil. Tetapi, perlakuan ayahnya pada Michael tidak jauh berbeda dari keempat kakaknya.

Ritme harian Michael Jackson yang sedang berusaha keras untuk mendapatkan uang, ketenaran, dan juga agar keluarganya tidak perlu hidup “sulit” lagi (kurang lebih) berjalan seperti ini.

  • Bangun
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan siang
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan malam
  • Latihan/merekam lagu
  • Tidur
  • Protes? PETAK! Punggungmu dipukul dengan sabuk, atau kamu ditendang oleh ayahmu sendiri.

Oh iya, juga ada saat sesudah ia terkenal, latihan/merekam lagu berubah menjadi tampil. Jadwal Jackson 5 sangat penuh, dan mereka tidak bisa berkomentar atau meminta perubahan jadwal sedikitpun kepada ayah mereka.

Ya, menjadi orang african-american pada zaman itu memang sulit. Apalagi jika kamu ingin menjadi selebritis african-american.

Tentunya, Michael juga ingin menjadi anak yang lebih normal. Ia ingin pergi ke Disneyland, ia ingin pergi ke Kebun Binatang, ia ingin banyak hal. Mungkin keinginan dia yang paling sederhana adalah minum milkshake bersama ayahnya.

Ia tidak pernah mendapat kesempatan tersebut.

Sesudah tur, ia merekam album baru dengan tingkatan abuse yang sama (jika bukan lebih)

Tekanan dari dunia, dari orang tua, dan dari studio memberikan Michael Jackson efek yang sangat buruk ketika ia sudah dewasa. Memang ada efek positif ketika ia membuat amusement park, dan kebun binatang, mungkin untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bersenang-senang ketika mereka masih punya waktunya.

Tetapi, efek negatifnya? Mulai dari merubah warna kulit (keluarganya sendiri menolak untuk menyatakan bahwa ia melakukan operasi karena ia tidak senang dengan kulitnya yang gelap. Oh tidak, keluarganya bilang ia memiliki kondisi kulit yang membuat warna hitam dari kulit tersebut memudar), sampai ke rumor-rumor kematiannya karena ia bunuh diri (albeit, there are other rumors).

Masa kecilnya begitu suram, sehingga hidup dewasanya terpengaruh.

Oh iya, satu hal lagi.

Ia tentunya sudah pernah juga hidup di zaman dimana dunia dapat lebih menerima orang-orang yang memiliki warna kulit berbeda. Aku berasumsi bahwa ia menyimpulkan jika ia tidak lahir dengan kulit hitam, atau lahir di zaman tersebut, ia akan memiliki hidup yang lebih bahagia.

Kesimpulan kasus

Terlalu banyak tekanan.

Macaulay Culkin

Oke, ini bukan kasus terkenal.

Tidak semua orang langsung tahu, siapa itu Macaulay Culkin. Tetapi, aku yakin, semua orang tahu, film Home Alone.

Ya, dia pemain di film tersebut, berperan jadi anak menyebalkan, tapi banyak akal.

Culkin terjerat narkoba pada tahun 2004. Ia juga kebetulan menjadi saksi atas kasus Michael Jackson.

Banyak laporan di sana dan di sini menjelaskan tentang cara ia terjerat narkoba, termasuk penggeledahan rumah, hotel, dan banyak lagi. Tentunya ia sudah masuk rehabilitasi narkoba, dan kurasa selama ia tidak berteman dengan orang-orang yang menjeratnya kembali, hidupnya akan mulus.

Kurasa Culkin adalah contoh yang pas untuk anak yang tidak diberikan tekanan yang cukup.

Ia dibiarkan melakukan apapun, dan orangtuanya tidak pernah memberikan tough love, atau tantangan. Ia juga kaya untuk hitungan anak berumur 10 tahun. Dan dalam beberapa wawancara ia juga pernah menyinggung fakta bahwa orangtuanya tidak pernah tampak peduli untuk apa yang ia lakukan di luar studio. (serius.)

Dari beberapa wawancara yang kusimpulkan, Culkin tidak jauh beda dari tokoh yang ia mainkan di film Richie Rich, dengan perbedaan bahwa ia sebenarnya memang bahagia karena tidak ada tekanan.

Dunia berkata lain sayangnya.

Ia bergaul di lingkaran yang salah dan menjadi pecandu narkoba. Ia juga mendapatkan jumlah kritikan yang tidak sedikit oleh fans-fans nya, karena sepertinya ia tidak pernah bermain di film lagi, dan, ya, ketenaran miliknya sudah hilang.

Untungnya ia sukses bounce back dari all time low miliknya… But, well, kita lihat saja nanti.

Kesimpulan Kasus

Tidak cukup banyak perhatian.

Kylian Mbappe

Ah, him.

Hanya 6 bulan yang lalu, ia memecahkan beberapa rekor. Rekor-rekor yang hanya Pele sendiri pernah penuhi. Ia menjadi remaja kedua (sesudah Pele) yang mencetak 2 gol dalam pertandingan piala dunia, dan ia juga menjadi remaja kedua (sekali lagi, sesudah Pele) yang mencetak gol di final piala dunia.

Baru minggu lalu, Pele mengaku bahwa ia percaya Mbappe dapat menjadi pemain yang lebih baik dari dirinya.

Kemarin, ia mencetak hat trick melawan Guingamp untuk PSG. Sayangnya, bola permainan diberikan ke Edinson Cavani yang mencetak gol ketiganya 11 menit sebelum Mbappe. Eh.

Oh iya, umurnya baru 20 tahun, dan… Kecepatan maksimalnya adalah 44.51 kilometer per jam, hanya 0.24 kilometer per jam lebih lambat dari Usain Bolt (sebelum berkomentar lebih lanjut mengenai siapa manusia tercepat di dunia, Usain Bolt dapat berlari sekitar 40 meter lebih jauh daripada sprint Mbappe pada umumnya)

Tentunya, ia memberikan kredit atas keberhasilannya sebagai atlit kepada kedua orangtuanya. Ketika menyindir jumlah uang yang ada di industri sepakbola dalam sebuah wawancara, ia sempat menyebutkan bahwa ia meminta sebuah jet pribadi untuk kedua orangtuanya.

Bagaimana ia bisa mendorong dirinya sejauh ini?

Tentunya, karena kedua orangtuanya.

Salah satu berperan sebagai orang yang mencintainya, dan yang lain berperan sebagai pendorong.

Ayahnya mendorongnya untuk menjadi pemain yang lebih bagus. Ayahnya menekannya untuk lebih fokus, memberikan target, memastikan target itu terpenuhi, dan ayahnya juga menjadi contoh yang baik untuknya.

Ibunya, pada sisi lain, (layaknya ibu untuk seorang anak laki-laki) mencintainya, tidak banyak berkomentar, dan memberikan dia izin untuk melakukan apa yang ia inginkan, selama permintaannya masih wajar tentunya.

Dan, Mbappe, sekarang menjadi salah satu pemain terbaik di dunia, sekaligus pemain muda yang masih bisa tumbuh dan menjadi lebih baik lagi. Just wait and see.

Kesimpulan Kasus

Tekanan dan cinta yang seimbang.

Banyak atlet mendapat perlakuan mirip seperti Mbappe, contoh: Tiger Woods…

The Vaccine Effect

Freud menjelaskan kesadaran dalam bentuk repressed memories, yang menjadi identitas kita, baik yang buruk, atau yang bagus. Identitas kita terbentuk dari ingatan yang tidak jelas, karena secara tidak sadar, ingatan tersebut kita tolak. Identitas terbagi menjadi 3 level. Ego, alias kepribadian/identitas yang jelas, Superego, alias kepribadian yang hanya tampak sesekali, tetapi ketika tampak, kepribadian tersebut lebih kuat. Yang terakhir, ID, ID atau Identitas adalah semua repressed memory yang menghasilkan diri kita, secara tidak sadar, semua keputusan yang kita buat diperintah oleh ID. Tiap kasus menciptakan identitas tiap pribadi masing-masing. Kepribadian tersebut yang mendorong mereka untuk membuat keputusan.

Seluruh kepribadian ini terbentuk pada usia 3-18, dan, memori yang ditekan ini mengatur cara seseorang sebenarnya berpikir. Pada fase pertumbuhan ini, orang tua harus memastikan anaknya mendapatkan tekanan yang cukup darinya sebagai… “vaksin” agar mereka siap mendapat tekanan dari dunia luar.

Kurang lebih vaksin yang dimaksud adalah tekanan ringan, agar anak nanti dapat siap untuk menerima tekanan yang mungkin memang berat, dari dunia luar.

Ini berpengaruh bukan hanya bagi ikon remaja atau anak, tetapi juga untuk semua anak. Mereka harus merasakan tekanan, serta juga mereka harus merasakan hal-hal yang memberikan hierarki, seperti bullying… Tanpa adanya tekanan tersebut, dan tanpa adanya bullying, atau dunia yang lebih keras… Kita akan lemah, dan tidak bisa ditekan sedikit pun.

This is bad of course.

Sampai lain waktu.

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

[ROAD TRIP]: Kisah Hidup Cheng Ho.

Hanya 2 lagi sisa tulisan road trip yang perlu dibuat olehku sebelum membuat post kesimpulan, meski aku tertarik untuk membuat satu tulisan ekstra karena kayanya aku belum cukup meliput mengenai subjek ini.

Artikel hari ini akan membahas kisah hidup laksamana Cheng Ho dan bagaimana ia bisa menjadi laksamana di lautan. Akan ada sedikit bercandaan ala dikakipelangi yang menyodorkan teknologi zaman sekarang di cerita sejarah, namun mayoritas konten akan faktual, dan lebih serius, karena ini memang akan membahas dari sudut pandang sejarah.

Aku sudah berencana menulis tentang Sam Poo Kong dimana aku pertama menemukan fakta-fakta serta cerita mengenai laksamana ternama ini, dan tulisan ekstra yang akan aku buat akan menceritakan lebih banyak tentang kisah perjalanan Cheng Ho ketika ia sudah berlayar. Namun untuk kali ini, kita akan ceritakan kisah hidupnya sebelum ia menjadi laksamana.

Muslim Mongol

Cheng Ho lahir di tempat yang tepat, namun juga salah di saat yang sama. Ia lahir di Kunyang, sebuah daerah yang kecil di Yunnan, pada tahun 1371.

Jika ia bukan seorang keturunan Mongol dan tidak lahir di Yunnan, pada tahun dimana kerajaan Mongolia sedang diserang berulang kali oleh Dinasti Ming, ia tidak akan pernah menjadi seorang laksamana. Tetapi, karena ia masih anak-anak (Kunyang jatuh ke tangan Dinasti Ming pada tahun 1381) ketika serangan tersebut terjadi, ia dibiarkan hidup.

Sampai menjadi laksamana, Cheng Ho menjalani hidupnya sebagai pengawal permaisuri Kekaisaran Ming. Ia telah dikebiri, dan harus hidup sebagai Eunuch (orang kasim) seumur hidupnya, atau, langsung mati saat itu juga.

Seperti sering dibahas oleh banyak orang, Cheng Ho merupakan seorang Muslim. Sayangnya, orang-orang juga suka melewatkan sedikit fakta mengenai keluarganya. Cheng Ho berada 5 generasi di bawah Gubernur Yunnan yang memang beragama Muslim, namun, yang orang-orang sering lewatkan, keluarga inti, atau keluarga dekatnya, tidak begitu religius.

Catatan menuliskan bahwa generasi terakhir yang melakukan Ibadah Haji adalah Gubernur Yunnan yang merupakan Great-Great-Great Grandfather-nya. Tidak juga banyak catatan bahwa keluarga inti Cheng Ho melakukan puasa, berkurban, atau semacamnya. Catatan terakhir keturunan langsung dari Cheng Ho yang melakukan ibadah-ibadah Islam seperti Berkurban, Puasa, dan Zakat hanyalah Kakeknya.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana ia bisa menjadi seseorang yang cukup religius? Ia memang mengetahui bahwa ia seorang Islam, tentunya keturunan dan keluarga yang ia dapatkan sudah memperjelas hal tersebut, namun, alasan ia menjadi pribadi yang taat akan agama belum pernah dijelaskan, karena meski ayahnya memegang gelar Haji yang diturunkan dari beberapa generasi sebelumnya, belum ditemukan catatan bahwa ia sudah melakukan pengembaraan ke Mekah.

Tentunya, kita bisa berasumsi bahwa ia dekat dengan Kakeknya selama 10 tahun pertama hidupnya, dan Dinasti Ming juga bukan dinasti yang memiliki masalah akan adanya perbedaan agama. Selain itu juga perlu diingat bahwa Ma He (nama asli Laksamana Cheng Ho) tidak pernah punya keterkaitan dengan keluarganya sesudah tempat tinggalnya diserang, mungkin Agama satu-satunya cara ia mengingat hal tersebut.

Catatan: Ma = Mohamed dalam bahasa Cina, He = Mulia dalam bahasa China. Fun Fact: Secara teknis, Ma He (Cheng Ho) dan Moh. Salah, memiliki arti nama yang salah. Mohamed yang Mulia. (Salah juga berarti mulia dalam bahasa arab)

Budak Ming

Budak muda yang dikebiri dengan nama Ma He kemudian diberikan ke seorang pangeran. Untuk seorang Budak, atau mungkin seorang manusia pada umumnya, ia cukup karismatik. Ma He memenangkan hati sang pangeran dengan candaannya dan aura fun yang ia miliki. Ia tidak pernah diberikan tugas budak, atau hanya sebatas jadi penjaga permaisuri, kepintaran, dan karisma yang ia miliki membuat Pangeran Zhu Di dari Yan mengangkatnya sebagai asisten pribadi miliknya.

Alih-alih dimanfaatkan sebagai budak konvensional, ia disuruh untuk mengikuti sekolah militer. Pangeran Zhu Di tahu ia akan membutuhkan bantuan seorang Mongol untuk menyerang kerajaan tersebut, jadi ia memutuskan untuk menunggu waktu beberapa tahun, sampai Ma He siap untuk membantunya.

Catatan: Bukan sebagai “asisten”, sebenarnya, tugas Ma He yang masih muda tersebut, adalah mengawal dan memberi nasihat akan kerajaan Mongol berdasarkan pengetahuannya ketika pangeran muda tersebut merencanakan serangan.

Zhu Di sendiri tidak terlalu tua. Ia pangeran muda yang berani, pintar, dan nekat untuk menyerang kerajaan Mongol. Pada usia 26 tahun, dengan bantuan Ma He yang masih berusia 16 tahun, ia menyerang pusat militer Mongolia, dan membuat jendral besar dari kerajaan Mongol, Naghachu, menyerah.

Naga Chu… Pft… Nama macam apa itu… Naga bersin… HAHAHA, pantesan kalah! Ehem, maaf.

Selama ia masih di Mongol, ia belum pernah mendapatkan catatan apapun mengenai agamanya, jadi untuk sekarang, masih jadi sedikit misteri bagaimana ia bisa menjadi pribadi yang religius.

Perebutan Takhta

Sejujurnya, tidak seratus persen kehidupan Cheng Ho dipenuhi dengan hal-hal baik. Bagian dari cerita ini mungkin bagian kehidupan miliknya yang paling dipenuhi dengan tindakan buruk.

Ma He muda diberikan tugas terakhir. Sebuah tantangan. Ia diminta membantu Zhu Di merebut takhta dan mengambil posisi sebagai maha kaisar Dinasti Ming. Metode yang dilakukan dan direncanakan Zhu Di dipenuhi dengan pembunuhan, penggeseran, serta fitnah-fitnah untuk memecah kerajaan utama.

Cheng Ho, yang masih merupakan Kasim tingkat menengah, belum punya hak untuk mengubah ide dan metode dari Zhu Di, ia pun belum bisa menolak untuk membantu Zhu Di.

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia melakukan hal-hal keji tersebut, hingga Zhu Di menjadi Raja.

Untungnya, Zhu Di memberikan Ma He hadiah. Ia menaikkan pangkatnya sebagai Mahakasim. Tingkat Mahakasim ini, sebenarnya baru diciptakan di tahun yang sama Zhu Di naik takhta. Dalam pikiranku, tujuan tingkat Mahakasim ini dibuat oleh Zhu Di untuk menutup malu-nya jika ia mengangkat seorang Kasim yang dulunya warga Yunnan sebagai laksamana.

Ya, pada dasarnya, Mahakasim = Laksamana / Penasehat versi orang Kasim. Hak yang didapat seorang mahakasim sama persis dengan hak seorang menteri, laksamana, ataupun penasehat. Oke, ada satu hak yang tidak dimiliki, tapi kurasa aku tidak perlu membahasnya.

Dengan adanya gelar Mahakasim ini, Zhu Di memberikan Ma He nama baru. Ia sekarang dikenal dengan Zheng He.

The Treasure Fleet

Tahun 1403, Zheng He diberikan tugas untuk mengawasi pembangunan kapal.

Menurut beberapa cerita, Zheng He sejak kecil selalu memiliki perasaan wah ketika melihat kapal. Ia merasa begitu terpesona tiap melihat kapal megah dan besar melewati air, jadi, secara alamiah, ia dapat mempelajari cara kerja dan cara pembangunan kapal dengan begitu cepat.

Ia menggunakan teknologi paling maju, tentunya modal Dinasti Ming tidak begitu mudah habis. Kapal-kapal buatannya, sebanyak 400 kapal memiliki sistem cloud untuk mencatat barang dagangan secara otomatis, menggunakan sistem autopilot, dan tentunya, memiliki sangat-sangat banyak barang dagangan.

Kasarnya, kapal yang dibuatkan untuk Zheng He, adalah kapal yang paling canggih.

2 tahun kemudian, sesudah projek itu beres…

Zhu Di meminta Zheng He, yang memang mengawasi projek tersebut, untuk menjadi ambassador, serta laksamana utama dari perjalanan tersebut. Investasi long-term ini tentunya akan memberikan cukup banyak uang bagi Zhu Di, namun…

Bersambung

Kesimpulan

Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa karena cerita ini belum beres.

Namun, kesimpulan hari ini akan diubah dengan beberapa spoiler kecil.

  1. Seperti diketahui banyak orang. Zheng He meninggal di jalan. Ia berangkat pada usia 34, dan meninggal pada usia 60.
  2. Zheng He disebut Cheng Ho oleh orang Indonesia untuk mempermudah.
  3. Ia berkeliling ke seluruh dunia, tentunya.
How Dumb Is Social Media?

How Dumb Is Social Media?

Eesh, aku harus mengakui aku sedikit menyesal mencari kata Egg di Google hari ini. Aku mendapat hasil yang aneh  bin ajaib ketika baru 46 menit yang lalu, Fox News menulis artikel mengenai most-liked post di Instagram.

Sebuah telur. Like, what?

(jika anda pembaca setia, semoga anda belum bosan mendengar celotehanku tentang sosmed. Ini subjek ultra sensitif bagiku)

Sejujurnya ini sedikit membingungkan ketika banyak wartawan dan penulis yang fokus menulis mengenai tren di Sosial Media. Belum lama, ketika aku mengoogle Cristiano Ronaldo hasil yang keluar bukan hal-hal mengerikan (atau, menakjubkan, tergantung cara kau melihatnya) yang ia lakukan bersama Juventus untuk merusak Serie A yang dulunya kompetitif, tapi fakta bahwa ia telah menyalip Selena Gomez sebagai orang dengan akun paling banyak pengikut followers di Instagram. Which is weird.

Maksudku, sekarang sudah ada blog, dan beberapa wartawan dari perusahaan media besar yang menjadi spesialis pencari tren di Instagram dan menuliskan artikel mengenai tren tersebut. Ini mulai terasa redundan ketika ada sekelompok orang yang bertugas mencari, menjabarkan dan menuliskan hal-hal yang orang-orang pada umumnya lakukan untuk mengisi waktu ketika menggunakan sosial media.

Ehem, sebenarnya ini mulai off-topic.

Aku menulis artikel ini untuk mempertanyakan alasan sosial media digunakan, dan juga, mengapa menurutku sosial media adalah hal yang bodoh, dan bodoh disini bukan hanya bodoh karena cara penggunaannya, beberapa penggunanya, tetapi juga cara sosial media merubah pemikiran dan hal-hal yang dilakukan orang-orang.

This is a long intro. Mulai saja deh!

Kenapa Aku Melakukan ini?

Baiklah, jadi, ada sebuah akun Instagram dengan nama World Record Egg, dan siapapun yang membuat akun itu sangat-sangat jenius!

Mungkin ia tidak suka Kylie Jenner, jadi ia memutuskan untuk membuat foto sederhana, foto sebuah TELUR! dan menuliskan caption agar orang-orang memberikan “Like” demi menggeser posisi Kylie Jenner dari rekor yang ia pegang sebelumnya.

Post tersebut telah mencapai lebih dari 20 juta likes, tetapi, kalau dipikir-pikir lagi… “Apa tujuan saya melakukan ini?”

Aku menemukan 3 alasan, tetapi, aku hanya melihat alasan yang bermakna di salah satunya…

  1. Kylie Jenner, UGH! Dia tidak pantas mendapat posisi nomor 1 untuk apa-apa. Aku merasa sebuah telur lebih pantas memegang posisi nomor 1 untuk post paling banyak di like.
  2. Ah well, semua teman-temanku melakukan ini, kenapa tidak?
  3. Hmm, ide bagus, caption bagus. Pencet like.

By the way. Aku hanya menyetujui alasan nomor 1, karena jika aku pengguna sosmed dan dapat “berpartisipasi” untuk menggulingkan rekor Kylie Jenner, kayanya aku akan melakukan hal yang sama.

Hal yang kosong seperti ini membuatku mempertanyakan kepentingan dari aspek like ini. Menurutku itu aspek kedua paling bodoh dari sosial media, karena tidak adanya batas penggunaan, orang-orang bebas melakukannya kapanpun mereka ingin, dan melepaskan kontrol dari diri mereka sendiri.

The Economy of Likes

Oke, mari kita anggap Like sebagai uang.

Anda seorang investor saham skala besar. Anda harus siap bekerja 24 jam jika ada gejolak ekonomi, dan kalau ada gejolak, anda bekerja dalam sebuah lingkungan kerja yang tinggi stress, dan penuh resiko.

Pada umumnya, anda menghasilkan 100 milyar Rupiah tiap bulannya. Untuk apa aku punya uang sebanyak itu? Hmm. Bagaimanapun juga, seberapa besar uang yang anda punya, uang itu bisa habis. Pada suatu titik, anda menyadari anda telah membeli mobil dan menghabiskan tiga perempat penghasilan anda pada bulan itu. Oh tidak. 1/4-nya lagi habis untuk kebutuhan pada umumnya. Seberapa besar uang anda, uang anda dapat habis.

Tentunya, stress, tekanan, modal, dan jam kerja seperti itu membutuhkan skill dan effort yang tinggi. Skill dan effort itu memberikan anda gaji yang sesuai dengan kemampuan dan usaha anda.

Anda seorang sales mobil merek asal Jepang. Anda bekerja 8 jam tiap harinya, dan bekerja dalam ruang kerja yang santai dan tidak banyak stress.

Pekerjaan anda biasanya menghasilkan 10 juta rupiah tiap bulannya, sekali lagi, jumlah uang itu dapat (dan akan) habis. Entah, mungkin anda terlalu banyak membeli baju mahal, atau anda terlalu banyak makan all you can eat seharga 200 ribu. Bagaimanapun juga, anda dapat menghabiskan uang milik anda, baik itu sejumlah 100 milyar, atau 10 juta, atau 100 ribu.

Gaji tersebut pantas untuk seorang sales mobil tentunya. Menjadi sales adalah sebuah pekerjaan medium skill, dan pantas jika penghasilannya juga medium.

Nah, Likes tidak seperti itu, namun diperebutkan oleh orang-orang seperti itu uang.

Kita dapat memberikan berapapun likes yang kita inginkan. Kita dapat memberikan 10 likes tiap harinya, kita dapat memberikan 1000 likes, kita dapat memberikan 100.000 (oke, ini ekstrim, namun nyatanya kita bisa melakukan itu tanpa melanggar sistem apapun) . Jika aku tidak salah, kita juga bisa memberikan like ke diri kita sendiri.

Tetapi, orang-orang memperebutkan Likes (yang fiktif) seperti “bekerja”

Let’s say, aku ingin mendapatkan 100 like dalam satu post hari ini. Untuk melakukan itu, aku perlu memposting foto selfie di kafe yang sepiringnya 300 ribu, dan segelas minumnya 75 ribu. Aku akan mengeluarkan uang sebanyak itu karena aku merasa seolah-olah aku membutuhkan 100 likes.

Supply and Demand

Hukum ekonomi paling mendasar adalah supply and demand, dan jika kita ingin melihat sosmed sebagai sebuah dunia ekonomi, kita harus liat 2 sumber daya utama mereka. Nomor 1, followers, nomor 2, baru likes.

Semakin banyak suplai, nilai benda akan turun, semakin banyak permintaan, nilai barang akan naik.

Masalahnya, jumlah likes yang bisa diberikan sistem ke kita memang tidak terbatas. Pada sisi lain, jumlah followers yang bisa diberikan sistem (bukan lingkaran sosial atau orang yang kita kenal, atau yang punya teman-teman sama dengan seorang pengguna) untuk kita, mendekati tidak terbatas.

(Oh iya, aku baru ingat, sekarang ada bisnis untuk membeli followers dan likes ya. Huh, ini terkesan makin bodoh.)

Sekali lagi, mau seberapa banyakpun ada Kayu, jika kita hanya mengonsumsi, jumlahnya dapat habis. Itu alasan pohon yang ditebang di tanam lagi, sehingga jumlah pohon yang ada tidak bergerak ke bawah saja, dan jumlahnya juga bisa naik.

Sosial media, terutama Instagram, pada sisi lain, hanya akan bergerak ke atas. Semakin banyak pengguna HP, berarti semakin banyak pengguna internet, semakin banyak pengguna internet, berarti semakin banyak pengguna sosmed. Dan sayangnya, belum ada sedikitpun penurunan pengguna sosial media yang signifikan.

Mengingat bahwa sistem sosial media ini tidak punya batas, dan jumlah suplai likes dan followers yang bisa anda klaim hanya akan bertambah, dan tidak bisa berkurang… Seluruh ekonomi yang mulai tumbuh di sosial media tidak akan pernah ada jika hanya berkutat di dunia fiktif tersebut.

Seriously, we’re getting dumber here.

Masalah berikutnya bagiku ada di fakta bahwa orang-orang sebenarnya tidak menggunakan sosial media karena mereka membutuhkannya, atau karena mereka punya alasan yang baik. Mereka TIDAK punya alasan yang baik, mereka hanya ikut-ikutan saja.

Tidak akan ada kampanye atau apapun yang bisa merubah ini, jika sesuatu dilakukan tanpa alasan, butuh cukup banyak alasan untuk merubah pemikiran itu.

Lebih banyak alasan…

Mari kita lemparkan alasan sebanyak-banyaknya!

Aku sejujurnya tidak ingin menulis rant mengenai sosial media lagi. Aku sendiri sudah tahu tidak mungkin ada orang yang berubah, dan aku juga tahu aku tidak akan pernah menggunakannya, setidaknya tidak dalam waktu dekat, dan aku hanya akan mungkin menjadi pengguna ketika aku memang membutuhkan akun sosial media (mungkin kalau aku jadi penulis, mempunyai akun resmi, akun twitter, atau fanpage facebook aku akan membutuhkannya), tetapi sekarang, tidak dulu.

Jadi, kecuali ada hal aneh bin ajaib lagi yang muncul dari internet, seperti World Record Egg tadi, aku akan mengeluarkan semua rant yang aku bisa pikirkan mengenai sosial media dan penggunanya sekarang juga.

  1. Penggunanya berisik, merusak arus jalan yang normal ketika sedang foto, dan mengganggu orang-orang yang sedang berusaha menikmati dunia nyata.
  2. Ada pengguna yang rela melakukan hal bodoh, dan juga uang demi mendapat likes.
  3. Pengguna sosmed jarang berinteraksi di dunia nyata, kecuali sedang membutuhkan foto bersama. Oh iya, mungkin mereka hanya mengobrol ketika sedang butuh foto.
  4. Pengguna sosmed sebagian besar tidak tahu diri ketika menggunakan sosial media. Mereka sering menceloteh hal-hal bodoh di bagian komen. Ini juga mungkin terbawa ke dunia nyata.
  5. Influencer. What’s that job again?
  6. Oh iya, ini menghilangkan rasa individualitas dan keunikan tiap manusia, sekarang mereka hanyalah arus data di dalam database milik instagram.
  7. Semua orang merasa berhak melakukan apapun di Internet. Sifat ini bisa terbawa ke dunia nyata.
  8. Banyak orang memamerkan hal yang tidak perlu.
  9. Orang membeli barang untuk memamerkan hal yang tidak perlu.
  10. Dan terakhir… Dunia sosial media itu tidak nyata.

Aku bisa berbicara sampai aku bosan, tapi kurasa ini cukup untuk sekarang. Aku akan menambahkan edit ketika aku kepikiran. Semua kecuali nomor terakhir, dan nomor 1-9 akan menjadi edit tambahan.

Sampai lain waktu!

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Who’s Murphy?

Nggak, serius, Murphy yang menciptakan Murphy’s Law, siapa dia?

Oke, meski sebenarnya banyak versi ke siapa yang menciptakan Murphy’s Law, aku ingin berpikir saja bahwa ada sedikit ironi bahwa pencipta hukum ini belum memastikan semua kondisi agar dia satu-satunya orang yang diingat sebagai pencipta Murphy’s Law.

Ya, bagaimanapun juga, aku ingin membahas sedikit banyak mengenai Murphy’s Law, karena terkadang, aku merasa bahwa efek dari Murphy’s Law ini lebih cenderung psikologis kebanding aktual. Seperti banyak hal di dunia ini (seperti perasaan nyaman, kasihan, dan dunia ekonomi sendiri), hukum Murphy hanyalah fiksi belaka yang diciptakan oleh otak manusia. Tentunya, otak kita yang begitu pintar ini mesti memiliki kelemahan, karena otak kita… sangat, sangat mudah ditipu.

Jadi, selamat menikmati!

Hukum Murphy?

“If something can go wrong, it will.”

Pada umumnya, ada 3 jenis interpretasi pada kalimat tersebut.

  1. Jika anda tidak memastikan sesuatu bisa berjalan dengan mulus sampai 100%, seberapa kecil kemungkinan ada kesalahan, maka kesalahan itu akan terjadi.
  2. Jika kalian sedang membuat kesalahan, itu akan muncul pada hari dan momen terburuk.
  3. Semua kesalahan yang mungkin terjadi, akan terjadi. (ini mungkin interpretasi paling harfiah, tapi, maknanya sedikit lebih dalam dari itu kok)

Interpretasinya tidak pernah diberikan istilah yang lebih mendalam atau jelas, tetapi aku akan memberi nama agar aku tidak menggunakan istilah interpretasi pertama, kedua, atau ketiga…

Interpretasi pertama akan kujelaskan dengan istilah Interpretasi Insinyur, nomor dua akan kusebutkan dengan istilah interpretasi keberuntungan, dan yang ketiga akan kusebut dengan interpretasi harfiah.

Oh iya, jika anda sudah mengerti, silahkan scroll ke bawah dan baca 300++ kata mengenai judul di atas, tetapi, jika masih ingin penjelasan akan interpretasi yang akan aku gunakan, jangan di skip ya 😉

Hari ini, aku akan menggunakan interpretasi keberuntungan…

Faktor Hoki

Apakah anda pernah berpikir bahwa anda sedang apes? Baru kemarin ada sedikit momen yang cocok dengan interpretasi kedua, dan terkadang, aku ingin berpikir mengenai faktor psikologis-nya…

Sebagai contoh…

“Sekarang pukul 10.20, kita perlu berangkat dari rumah pada pukul 10.45 sesudah memasak bekal. Jika tidak ada kesalahan apapun yang terjadi, makanan sudah akan siap pada 10.40. Sayangnya, gas di kompor habis. Ini berarti kita harus meluangkan waktu sekitar 10 menit untuk mengganti gas dan memastikan api di gas masih nyala. Gas pun diganti, dan waktu kita telah terbuang 10 menit.”

Berikutnya… Contoh-contoh yang ada dibawah ini lebih bisa diprediksi, tetapi sama-sama “apes”

“Aku terlambat masuk sekolah untuk pertama kalinya dalam satu tahun, saat berlari ke kelas, kebetulan, ada kepala sekolah yang memotong jalurku . Alhasil, aku dihukum dan mendapat 2 tugas ekstra sebagai hukuman.”

“Aku ingin pergi makan sate. Karena susah mendapat parkir, seorang pemesan yang membawa satenya pulang memesan 100 tusuk sebelum aku mendapat tempat duduk. Aku perlu menunggu 100 tusuk sate dimasak sebelum porsi punyaku dibuat.”

Intinya, banyak hal dapat terjadi pada momen apapun, namun, kita selalu melihat hal terburuk, dan mencari alasan untuk mengalihkan pikiran kita dari kabar buruk yang kita dapatkan. Kita mencari hal buruk agar kita bisa menjadi korban dan membuat diri kita merasa lebih baik.

Ya, alasan aku berasumsi bahwa momen-momen Hukum Murphy terkesan psikologis, lebih karena cara kita melihat suatu kejadian. Seperti sering dibahas oleh beberapa psikolog ternama, kita perlu 6 hal baik dalam 1 ingatan untuk menghapuskan 1 hal buruk dalam 1 ingatan. Tentunya, ini alasan perasaan puas susah didapatkan sesudah kita menghadapi satu kesalahan.

Psikologi Kesalahan

Tidak ada yang suka disalahkan untuk sesuatu. Terutama jika perasaan bersalah dan ditunjuk-tunjuk oleh orang itu mulai membuatmu merasa malu, atau membuatmu merasa lebih berantakan lagi dari seharusnya.

Ketika ada hal buruk terjadi, insting natural manusia adalah untuk menunjukkan jarinya pada orang lain, atau pada suatu pihak ketiga untuk menghilangkan ketidaknyamanan itu.

Anda perlu menunggu lebih lama untuk sate? UGH! Aku merasa kesal! Aku harus memberikan ketenangan pada kekesalanku. Oh iya, gara-gara tadi ada orang take-away 100 porsi tuh. HEUH! Sebel deh.

Huuu, aku gak pernah telat. Tetapi gara-gara aku telat pas kepala sekolah lagi lewat, aku jadi kena ekstra tugas deh. KESEL!

Yah, aku telat. Gas-nya abis sih! Tau gasnya abis kan masaknya lebih cepet!

Bagaimanapun seseorang ingin mengeluh, insting manusia untuk menenangkan diri mereka adalah mencari pihak ketiga (memang ada yang mencari orang lain untuk langsung disalahkan, tapi ini tidak umum dan sangat tidak sehat) untuk disalahkan agar ia dapat melepaskan diri dari tanggung jawab yang dibebankan oleh rasa bersalah dalam dirinya sendiri.

Nah, ini alasan aku melihat Murphy’s Law sebagai hal psikologis.

Orang yang tidak punya ketenangan dan pengendalian diri yang benar-benar baik hanya akan menenangkan diri mereka dengan menyalahkan orang lain dan melewatkan inti permasalah serta fakta-fakta yang sebenarnya ada di depan mata mereka.

Pada kasus keterlambatan tadi, mungkin memang tiap pagi, pada jam yang sama, kepala sekolah sedang lewat untuk memberikan berkas-berkas ke guru-guru lain.

Pada kasus gas, nyatanya gas kompor selalu diganti tiap bulannya, dan karena tidak ada yang memberikan jadwal atau rekapan gas yang jelas, gas perlu diganti secara tiba-tiba dan itu membuatmu merasa kaget mengingat momennya begitu tidak pas.

Pada kasus sate… Mungkin memang tiap Sabtu siang orang itu membeli 100 tusuk sate karena teman-temannya ingin datang, tetapi, anda tidak menyadari itu karena anda biasanya datang lebih cepat darinya.

Detil-detil kecil dan ringan ini sering dilewatkan orang-orang, karena mereka terlalu sibuk merasa kasihan pada diri mereka dan mengeluh. Orang-orang pada umumnya tidak akan melihat hal yang dapat diperbaiki, dan mereka melihatnya sebagai kejadian yang hanya terjadi sesekali, dan melupakannya begitu saja.

Ketenangan dan kepuasan yang didapat dari menyalahkan pihak ketiga, (dalam kasus ini, pihak ketiga yang paling sering kena tuduhan orang lain adalah keberuntungan) membuat orang-orang melupakan realita, serta fakta yang sedang mereka alami.

Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu, apakah hukum Murphy yang diinterpretasi seperti ini nyata? Ataukah itu hanya placebo untuk memberikan rasa tenang ketika kita sedang kesal akan sesuatu?

The Ultimate Placebo

Psikologi dan manusia sendiri dipenuhi oleh banyak hal-hal konyol dan tidak nyata.

Kita sangat mudah untuk ditipu orang dan terkadang, kita terbawa perasaan sehingga melupakan kenyataan yang sebenarnya ada.

Mungkin memang betul kita pintar, kita adalah spesies yang sangat pintar… Tapi, sayangnya, kita begitu emosional dan mudah ditipu, sehingga lebih dari setengah otak kita diisi oleh proses otomatis yang dibuat untuk menenangkan emosi-emosi yang kita miliki.

Pada akhirnya, daripada menyalahkan orang lain demi ketenangan jarak pendek, hal terbaik yang seorang manusia bisa lakukan adalah mencari solusi agar anda tidak perlu merasa tidak tenang untuk waktu yang terlalu banyak. Solusi jangka panjang lebih susah didapatkan, tetapi mendapatkannya memberikan kepuasan yang utuh, dan nyata. Kepuasan tersebut bukanlah placebo, karena anda telah sukses mendapatkannya tanpa perlu meyakinkan diri anda berkali-kali, kepuasan itu memang sudah ada di dalam diri kalian.

Review Film: Keluarga Cemara

Review Film: Keluarga Cemara

Oke, review film ini mungkin memberikan kesan negatif.

Sebelum masuk ke review filmnya, tolong baca dari awal sampai akhir, karena aku akan membagi review ini ke dua bagian, yaitu konten (isi) dan konteks (pesan).

Selamat menikmati.

Oh iya, spoiler, review film ini akan mengandung spoiler sekitar 20-30 menit pertama film, serta sedikit dari kesimpulan. Jangan baca jika tidak ingin kena spoiler.

Konten

Hmm, bagaimana caraku mulai ya. Konten dari film ini akan cenderung negatif, jadi, mohon maaf.

Konten dari keluarga cemara sedikit kurang berat dan memiliki dua atau tiga momen yang meleset dan memberikan sedikit pesan yang tidak sepenuhnya masuk akal untuk semua penonton.

Kemampuan Tokoh

Pada awal film, digambarkan sosok Abah (Ringgo Agus Rahman) yang sepertinya sibuk melulu, dan selalu melewatkan momen-momen yang diminta keluarganya untuk ia hadiri. Berikutnya ada sedikit adegan melihat rekapan finansial perusahaan dimana si Abah ini bekerja. Wah, perusahaan ini rugi 4.5 Milyar – an. Berikutnya juga ada gerebekan dari tukang yang sedang membuat rumah.

Dan wush, disitu mungkin kepeleset pertama kali dari penggambaran kemampuan tokoh dan juga seberapa fiktif dan “cemen” film ini. (tolong, tetap baca ya, aku akan memberikan bagian baik di bawah). Perusahaan pada kenyataannya, (meski skalanya tidak dijelaskan, tapi tetap, pada kenyataannya) akan melakukan rekap finansial secara rutin. Perusahaan yang sehat (dan tentunya, perusahaan yang membiayai Abah sebuah mobil, rumah, dan juga keluarga yang ia miliki sekarang) tidak mungkin tiba-tiba mengirim rekap finansial ketika rugi dari perusahaan tersebut sudah begitu besar.

Seenggak-enggaknya, rekapan finansial di perusahaan yang cermat akan dikirimkan dalam kondisi rugi 1 Milyar, atau 1.5 Milyar, dan jika angkanya masih berada di kisaran itu, kerusakan dan kerugian berikutnya dapat dihindari. Mungkin dengan menjual tanah lah, membayar serta mengganti beberapa pekerja lah, atau mungkin memotong gaji perusahaan langsung secara utuh.

Ya, bagaimanapun juga ini memang fiksi, dan meski ia memberikan kesan melebih-lebihkan, kejadian awal akan kuterima sedikit.

Berikutnya, ada Kang Fajar yang hanya tampil di adegan pertama.

Kang Fajar ini sepertinya melakukan pinjaman dengan jaminan rumah milik saudaranya, dan yah, rumah milik Abah dan keluarga digerebek dan disita pada hari ulang tahun Euis (Zara JKT48), anak Abah paling tua. Aku masih bisa sedikit mengerti kejadian seperti ini, meski kejadian tidak sengaja ini membuatku merasa tidak nyaman, aku tidak terlalu keberatan…

Sebenarnya jika Abah cukup pintar, ia tidak akan mendapatkan rumahnya disita karena adik Iparnya menipu dirinya, tetapi, ya, aku akan mengabaikan fakta tersebut. Kita bisa ditipu semua orang mau secermat apapun kita sebenarnya.

🙁

Menerima keadaan…

Oke, aku merasa sedikit sedih, tapi disaat yang sama, aku merasa bahwa kepercayaan dan kemampuan keluarga ini menerima begitu saja bahwa rumah miliknya disita terkesan absurd. Keesokan harinya, ia melakukan hal baik dan bertanggung jawab dengan membayar tukang pada projek gagal miliknya.

Abah pindah ke rumah milik almarhum Ayahnya, dan dari situ, ia mendapat makanan dari beberapa tetangga dan warga kampung yang terbantu oleh Ayahnya ketika warga tersebut masih (dalam kata-kata mereka sendiri) ‘Susah’ .

Oke, sesudah mendapat bantuan serta pinjaman dari Loan Woman Ceu Salma (tokoh ini sangat membantu cerita dan memberikan hidup pada sisi hati film ini, akan dibahas lebih lanjut), Abah yang dulunya adalah pekerja keras, serta menghasilkan uang yang tidak sedikit, mencari pekerjaan di beberapa perusahaan, dan meski ia ditolak karena usia, ia tetap berusaha keras untuk mencari.

Tapi, berikutnya, pilihan pekerjaan miliknya membuatku geleng-geleng kepala (meski hatiku berkata untuk kasihan), ia menjadi tukang. Like, What? Maksudku, jika ia memang sudah punya network teman dan bisnis yang cukup luas ketika bekerja di Jakarta, dan cukup banyak menghasilkan uang selama berbisnis properti, kenapa ia harus menjadi tukang?

Oke, ada satu projek gagal, kan bukan berarti dunia sudah beres dan membuangmu ke tempat sampah dimana kamu tidak bisa menjadi apapun yang berharga lagi? Aku sih merasa tidak nyaman setelah melihat pebisnis properti menjadi tukang karena ia merasa terpaksa. Jika ia cukup semangat, Abah seharusnya bisa melakukan hal lain selain menjadi tukang, ia terlalu mudah menyerah pada keadaan.

Berikutnya, untuk membantu finansial, Ibu dari keluarga tersebut memutuskan untuk berjualan kerupuk dengan investasi dari Ceu Salma (entrewoman, yang dimainkan penyiar radio Asri Welas). Euis membantu Emak (Nirina Zubir) berjualan kerupuk (Gendar? Aku lupa jenis kerupuknya apa, tapi, kerupuk).

Nantinya Abah dan Emak berusaha lebih banyak sih, ia tidak hanya menjadi Tukang namun aku tidak ingin memberi spoiler…

Komedi yang Baik

Hah, akhirnya! Hal positif!

Keluarga Cemara, meski membuat sedikit banyak blunder di sana dan di sini, tetaplah tontonan menarik.

Tokoh Ceu Salma, teman-teman Euis di sekolah, dan tingkah laku anak paling kecil dari keluarga ini, Ara (Widuri Putri), juga sangat menarik untuk ditonton.

Mayoritas adegan bisa membuatmu tertawa atau tersentuh jika anda ingin membuang pikiran logis anda selama adegan tersebut, karena tentunya, anda tidak bisa hanya memikirkan terus menerus.

Ceu Salma yang modelnya nyeleneh tetapi pintar ini memberikan warna yang baik karena tokohnya cukup memorable dan mudah membuatmu merasa senang, apalagi tertawa. Ceu Salma bisa membuatmu tertawa hanya dengan berbicara sedikit. Oh iya, pendengar Delta FM juga harusnya tahu siapa Asri Welas ini.

Teman-teman Euis juga menunjukkan kekompakan, dan, ya… tonton saja sendiri, lucu banget sebenarnya beberapa tingkah lakunya. Terutama jika anda berpura-pura jadi anak SMP, adegan-adegan di sekolah Euis cukup lucu dan bisa dinikmati.

Terakhir, Ara. Wah, tingkah laku anak ini adalah tingkah laku lucu dan nyindir orangtua yang bagus. Ia ada sebagai simbolisasi kebahagiaan di film ini, dan Ara juga ada berperan sebagai simbol bahwa kita bisa bahagia kapanpun kita mau, baik itu sedang punya uang, atau sedang susah, bagaimanapun juga, Ara adalah simbol yang baik untuk kebahagiaan.

Oh iya, Ara juga contoh anak aktif yang tidak diberikan gadget terlalu banyak karena ia suka main di luar dan selalu bahagia. Jangan berikan gadget bagi anak-anak anda ya 😉

Kesimpulan Film

Aku bisa membahas (atau mungkin mengeluh) cukup banyak tentang ini, tetapi, tokoh-tokoh di film Keluarga Cemara ini ADUH! Mereka terlalu mudah menyerah pada situasi.

Penutupan film juga menunjukkan bahwa mereka masih menyerah, tetapi bahagia dengan keluarga. Aku menyukai fakta bahwa keluarga cemara ini mendapat semi-happy ending dengan keluarga yang masih bahagia dan senang, namun, tidak ada perubahan krusial dari tokoh, selain perilaku mereka pada satu sama lain dalam keluarga. Itu mengecewakan sebenarnya.

Konklusi film bisa lebih baik jika mereka berubah dan rela melakukan sesuatu untuk merubah nasib mereka dengan usaha yang cukup… Karena sebenarnya mereka bisa melakukan itu. Abah sudah jelas, dulunya ia pebisnis properti. Sepanjang film, Emak juga digambarkan jago memasak. Euis juga punya kemampuan berbahasa Inggris yang baik, cukup baik untuk memberikan les pada teman-teman sekolahnya yang kesulitan mempelajari bahasa tersebut.

Konteks

Pesan dari film keluarga cemara dapat mudah dimasukkan menjadi 3 pointer pendek. Setidaknya, 3 pointer ini adalah pesan-pesan yang aku bisa tangkap. Jika ada perbedaan, silahkan berikan komentar yaaaa 😀 .

Kebahagiaan

Jika Ara adalah simbol untuk kebahagiaan, nyatanya, kita tidak perlu mencari-cari kebahagiaan kemana-mana, dan juga, kita bisa bahagia kapanpun. Baik itu sedang susah, atau tidak. Ingat, kita tidak harus susah untuk menjadi bahagia, dan tolong jangan tangkap pesan bahwa kita hanya bisa bahagia ketika sedang tidak punya apa-apa, juga jangan tangkap pesan bahwa kita hanya bisa bahagia jika kita punya suatu benda…

Kebahagiaan adalah perasaan yang didapatkan tanpa ada hubungannya dengan materi yang kita miliki. Kita bisa merasakannya kapanpun.

Aku perlu menjelaskannya sedikit panjang lebar, tapi, tolong jangan tangkap pesan yang salah ya 🙂

Kebersamaan

Ah, sekali lagi.

Pesan dari film ini berhubungan dengan kedekatan anda dengan keluarga. Ia membuatmu bertanya, apakah aku sudah cukup dekat dengan keluarga? Atau belum? Nah, coba tanyakan lagi sesudah menonton film ini.

Tentunya, film ini menjadi pengingat yang lebih baik kebanding jika anda kehilangan suatu hal yang penting kan?

Menjadi Orangtua

Menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan ada banyak cara.

Meski aku kurang setuju dengan metode Abah dan Emak untuk langsung menerima dan menyerah pada keadaan, aku setuju dengan cukup solid bahwa mereka adalah orangtua yang baik. Mereka tahu kapan mereka perlu lembut dan bersabar, mereka tahu kapan untuk tidak terlalu bertanya secara agresif, dan mereka juga tahu kapan untuk menjadi sedikit lebih keras.

Coba deh, pikirkan kembali, apakah anda terlalu keras? atau, apakah anda terlalu lembek sebagai orangtua?

Selamat berkontemplasi.

Kesimpulan

Dalam Rating… 6/10

Pesan-pesan yang bagus dan cerita sedih yang mengharukan jika kita ingin melihatnya dari sudut pandang perasaan saja. Namun, sayangnya, terlalu banyak blunder logis dan menyerah dari tokoh-tokoh utama yang membuatku tidak bisa memberikan nilai lebih tinggi lagi.

Tetap perlu ditonton kok, film-nya bagus, pesannya, bagus, hanya saja, kesalahan dan kurang kuatnya drive tokoh yang mengurangi 3 poin dari rating yang ia pantas dapatkan tanpa blunder-blunder tersebut.

Sampai lain waktu!