Category: Di Kaki Pelangi

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

“A person’s maturity consists in having found again the seriousness one had as a child, at play.” -Friedrich Nietzsche

Baru beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah link ke Jurnal berjudul, The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent, Peter Gray dari seorang guru, mentor yang begitu dekat di hati saya.

Saya perlu menulis karena yang saya dapat dari jurnal tersebut, sangat mencerahkan, dan rasanya terlalu penting untuk tidak dibagikan. Jadi saya memberanikan diri untuk menulis hal-hal yang “gold” dari jurnal tersebut dari kacamata saya tentunya.

Kalimat pertamanya saja buat saya sudah istimewa. Ini kalimat pertama dari isi jurnal, “Children are designed, by natural selection, to play”. Sounds about right, ya ga sih?  Anak-anak selalu mencara cara, menemukan kesempatan, untuk bermain, dan ini dilakukan oleh anak dimana saja di belahan dunia manapun, dan sepanjang sejarah, anak-anak melakukan ini. Fakta ini diperkuat dengan hasil riset antropologis, bahwa bahkan pada kebudayaan berburu pun, anak-anak bermain, setiap hari, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, bahkan saat mereka memasuki masa remaja, dan lewat bermain ini mereka mendapatkan skill dan sikap yang diperlukan untuk masa dewasa.

Photo from China Daily

Photo from DW

Dalam jurnal ini, kegiatan bermain mengacu pada FREE PLAY, yang diartikan oleh penulisnya sebagai  (saya menerjemahkan dengan sederhana saja ya), aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini. Penulis meyakini bahwa manfaat free play bergantung pada self-directed dan sifat intrinsic nya (nanti si intrinsic ini akan dijelaskan lebih jauh di bagian selanjutnya).

Terus ketika membaca ini, saya mikir, hmm betul juga, anak-anak jaman sekarang kalau main ya diatur sama orang dewasa, mainnya dimana, kapan, bagaimana, bahkan ga jarang ketemu anak yang nanya, “ini mainnya gimana?”, sama orang dewasa di dekatnya. Esensi FREE PLAY semakin menghilang, berkurang, bahkan pada beberapa kondisi, lenyap. Saya suka karena ketika membaca jurnal kaya data ini, saya menemukan benang merah keterkaitan tentang pentingnya FREE PLAY itu sendiri.

Manusia berkembang dari masa ke masa, perubahan jaman yang terjadi dari masa berburu menjadi masyarakat bercocok tanam, mengurangi kesempatan anak dalam bermain. Pada masa bercocok tanam, anak-anak menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja, biasanya pekerjaan domestik atau pekerjaan di ladang, lalu dengan revolusi industri, anak-anak bekerja di pabrik. Tapi, ketika mereka mendapat kesempatan –dan anak-anak menemukan kesempatan-kesempatan ini- mereka akan bermain, dan pada masa tersebut, mereka bermain dengan bebas, tanpa pengarahan orang dewasa.

Awal abad ke-20 adalah masa keemasaan bagi unstructured play, ini ditulis oleh Howard Chudacoff, seorang profesor sejarah, dalam bukunya the History of Play in America. Dan unstructured play menurut Chudacoff berarti main yang strukturnya ditentukan oleh anak-anak sendiri, dan bukan oleh orang dewasa, jadi ini berhubungan dengan istilah FREE PLAY ya.

Meskipun ruang lingkup Jurnal ini adalah Amerika, tapi hal-hal yang saya baca di jurnal ini sangat sesuai dengan apa yang dialami masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat menengah keatas di kota besar). Hal yang sangat nampak, adalah menurun drastisnya anak bermain diluar ruangan dengan anak lain. Dimasa saya kecil, rasanya wajar main diluar sepulang sekolah, atau bahkan main sepanjang hari kala libur. Kala saya kecil, saat libur saya dititipkan ke rumah Akung, bersama sepupu-sepupu saya, dan sepanjang hari kami bermain. Main yang seingat saya memang tidak jelas, mainnya main apa, main ibu-ibu, kantor-kantoran, masak-masakan, piknik-piknikan, main di balong, jalan kaki ke pendopo (ini dari rumah sekitar 3km, dan kami anak-anak berjalan bersama tanpa didampingi orang dewasa), dan banyak lagi yang saya juga tidak ingat. Tapi, kami bermain bebas, keberadaan orang dewasa kala itu sangat tidak signifan dalam urusan main, orang dewasa hanya memberi kami makan, dan mengingatkan kami untuk mandi, itu saja. Main menjadi urusan kami yang anak-anak.

Saat ini, bahkan di jalanan tempat tinggal kita, sudah semakin jarang kita melihat anak-anak bermain diluar. Kala kita melihat anak-anak main diluar maka akan ada orang dewasa yang hadir memberikan instruksi ini dan itu. Tidak jarang ketika saya berkunjung ke taman atau hutan kota, segerombolan anak-anak ada disana dengan dipandu dan digiring oleh beberapa orang dewasa, kebebasan untuk bermain sudah berkurang, bahkan hilang. Anak-anak mengikuti dengan pasrah apa yang dikehendaki oleh orang dewasa, dan bahkan ketika ada teman bersama mereka, mereka tidak berdaya untuk bermain bersama anak-anak lain, karena ada rencana orang dewasa yang memandu kegiatan mereka.

Data yang didapat dari jurnal, anak-anak bermain lebih sedikit pada tahun 1997 dibandingkan tahun 1981, dan bukan hanya itu, anak-anak juga memiliki lebih sedikit waktu senggang untuk melakukan kegiatan yang mereka pilih sendiri. Sebagai contoh, pada usia 6 hingga 8 tahun, riset menunjukkan penurunan 25% dalam waktu yang dihabiskan anak untuk bermain, dan meningkatnya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi. Bahkan waktu yang dihabiskan anak untuk berinteraksi dengan orang dewasa di rumah pun menurun, angkanya mencengangkan 55% penurunan. Yang meningkat adalah waktu mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, meningkat hingga 145%, bayangkan bila pada tahun 1981 anak menghabiskan waktu 1jam untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, maka 18 tahun kemudian, pada 1997, seorang anak menghabiskan 2,5jam.

Data sebelumnya didapat dari riset yang dilakukan jajaran sosiologis di University of Michigan, dalam studi tersebut bermain juga termasuk main di dalam rumah, seperti bermain permainan komputer, board game, dan juga bermain diluar. Pada tahun 1997, di Amerika total waktu anak bermain dengan permainan komputer adalah 11 jam seminggu. Bayangkan, dengan meningkatnya jumlah kegiatan yang bisa dilakukan anak dengan layar dimasa sekarang ini, bila dihitung-hitung berapa jam mereka habiskan di depan layar? Dan waktu tersebut adalah waktu yang akan lebih baik bagi anak untuk dihabiskan diluar ruangan, bermain.

Dalam studi lain oleh Rhonda Clements hampir 1 dekade lalu, dengan menggunakan sampel 830 orang ibu dari seluruh Amerika Serikat, ditemukan bahwa 83% ibu setuju bahwa anak mereka (usia 3 hingga 12 tahun) bermain diluar lebih sedikit dengan masa mereka dulu. Hasil studi Rhonda Clement ini juga sesuai dengan hasil survei yang dilakukan di Inggris. Fakta yang menurut saya sangat relevan dengan Indonesia saat ini. Bila saya bertanya pada sesama orang tua, 9 dari 10 akan setuju bahwa dulu mereka lebih sering menghabiskan waktu bermain diluar ketimbang anak-anak mereka saat ini.

Menurunnya angka anak bermain di luar seringkali TV dan kegiatan komputer serta kegiatan berbasis layar lainnya lah yang seringkali dijadikan kambing hitam. Dalam riset Clements, 85% ibu memilih TV dan permainan komputer sebagai pilihan kegiatan bagi anak mereka alih-alih bermain diluar. Dalam survei, para ibu mengatakan bahwa mereka sendiri memberikan batasan bagi anak untuk bermain diluar, dengan 82% ibu mengutarakan bahwa masalah keamanan menjadi perhatian utama mereka menghindari anak-anak bermain diluar ruangan.

Orang tua sekarang merasakan lebih banyak ketakutan membiarkan anak bermain diluar ketimbang orang tua mereka dulu, dan media memiliki peranan menghadirkan rasa takut tersebut. Saat ini, bila ada kasus penculikan, pelecehan dan penganiayaan seorang anak dimanapun, kejahatan tersebut mendapat sorotan media yang tinggi. Pada kenyataannya, kasus-kasus tersebut sangat sedikit dan jumlahnya menurun. Namun, orang tua percaya sebaliknya. Ini didukung oleh data yang didapat IKEA melalui survey bahwa alasan utama orang tua tidak mengizinkan anak bermain diluar adalah keamanan anak dari predator seksual 49% dan sebagian lain khawatir akan kendaraan serta bully.

Berdasarkan survey ikea dengan mayoritas responden merupan responden internasional, 54% orang tua menyatakan bahwa anak mereka PALING BAHAGIA ketika sedang bermain diluar. Dan hanya 19% orang tua yang mengatakan anak bahagia kala bermain permainan elektronik. Dalam studi itu juga ditemukan 89% anak lebih menyukai bermain diluar dengan teman, ketimbang menonton televisi. Serta dalam survey online, pada rumah dengan akses komputer dan internet, 86% anak memilih bermain diluar dibandingkan menggunakan komputer dirumah.

Salah satu penyebab lain menurunnya kesempatan anak untuk bermain adalah, meningkatnya waktu dan beban persekolahan, serta kegiatan yang diarahkan orang dewasa (adult directed activities). Kalender akademik menjadi lebih panjang, hari sekolah menjadi lebih lama, bahkan semakin banyak anak-anak yang menjadi bagian dari kegiatan prasekolah yang berbasis akademik. Membaca ini, saya berpikir jauh tentang kegiatan di sekolah Alice, yang 80% nya adalah FREE PLAY. Serta bagaimana tim akademik SD Arunika berusaha mengatur ritme yang menyediakan waktu istirahat yang panjang bagi anak-anak, bayangkan dalam 4 jam waktu bersekolah ¼ nya adalah waktu istirahat bagi anak-anak. Yang terjadi kala waktu istirahat di sekolah Arunika, adalah anak-anak ngobrol, main, bahkan berkonflik, dengan semua ini anak-anak juga mendapatkan banyak manfaat.

Jurnal masih panjang, tulisan ini bersambung yaaaa..

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

Ini adalah sebuah serial yang mengupas road trip keluarga ke Jawa Tengah. Akan ada 10 episode, kurang lebih 1 episode per hari, + 2 episode untuk preparasi dan juga evaluasi. Berikut adalah sedikit tips dariku sesudah melihat persiapan dan akhirnya kembali pulang dari Jateng (yang hanya memasang 1 banner dari Gubernur mereka, Ganjar Pranowo, setidaknya di 4 kota/kabupaten yang aku datangi), dan apa yang bisa kita lakukan, sesuai dengan buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much, dan akan isu-isu kecil seperti packing dan planning yang seseorang akan hadapi jika mereka ingin melakukan road trip.

Selamat menikmati episode pertama!

Scarcity Trip

Catatan: Tidak ada satupun kata di Bahasa Indonesia yang cocok untuk menjelaskan Scarcity dalam konteks yang aku inginkan. Jadi, mohon maaf karena aku akan menggunakan istilah Scarcity alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia.

Scarcity. Semakin sedikit benda yang kita punya, maka semakin bernilai benda tersebut. Kasarnya, itu yang membuat seseorang menilai, memilah, dan memilih benda yang akan dibawa dalam sebuah road trip.

Ketika packing dan bersiap untuk sebuah perjalanan, ada 4 hal yang perlu anda perhatikan. Karena pada suatu titik, anda akan kehabisan salah satu dari 4 sumber daya yang mungkin dirasa penting ini.

  1. Space…
  2. Pace…
  3. Attire…
  4. Money…

Atau… SPAM! Shoot, that doesn’t sound right.

EHEM, ralat.

  1. Money
  2. Attire
  3. Pace
  4. Space

Atau, MAPS! Nah, kan enak.

Jika anda sedang kekurangan salah satu dari 4 sumber daya ini, mungkin sudah waktunya anda menghemat. Jika anda sudah kehabisan salah satu dari sumber daya ini, sebaiknya anda pulang, dan hentikan perjalanan, karena sebenarnya anda sudah telat.

Atau, anda bisa membuat rencana agar anda tidak kehabisan, dan pulang sesuai jadwal! Tetapi, sayangnya, tidak semua orang bisa membuat atau mengikuti rencana, dan seandainya tidak ada rencana yang dibuat, maka ini hal yang perlu anda lakukan untuk mencermati sumber-sumber daya di atas…

Money

Oke, ini mungkin hal yang paling sulit untuk diukur karena kemampuan finansial tiap orang berbeda, dan terkadang ada orang atau keluarga yang memaksakan untuk liburan meskipun kemampuan finansial mereka tidak mencukupi, alhasil mereka menghemat dan takut untuk mengeluarkan terlalu banyak uang, sehingga perjalanannya tidak dapat mereka menikmati.

Sebelum anda berangkat, atau sebelum anda bahkan berpikir untuk melakukan liburan, pastikan finansial keluarga anda cukup, serta anda yakin bahwa anda bisa bertahan selama anda sedang berlibur. Jika anda memaksakan liburan, akan lebih baik demi kewarasan dan kesabaran tiap orang untuk tidak memaksakan berlibur.

Tentunya, definisi cukup tiap orang berbeda, jadi sesuaikan dengan ekspektasi masing-masing.

How To Plan.

Jika anda bukan orang yang suka berencana terlalu panjang, setidaknya, uang adalah hal yang perlu anda perhatikan. Kita tidak ingin berlibur jika tidak ada cukup uang untuk melakukan hal-hal yang anda inginkan bukan? Anda ingin membeli batagor sepuasnya di Bandung, dan anda ingin mencoba semua Lunpia yang ada di Semarang? Silahkan, hanya saja, akan lebih bijak jika anda tidak mengambil jatah finansial di luar perencanaan awal anda.

Sebenarnya, merencanakan budget untuk uang yang akan dihabiskan saat berlibur tidak sulit. Semua orang dapat dengan mudah bilang bahwa mereka hanya akan menghabiskan sejumlah uang tiap harinya, tetapi… Mereka tidak dapat menahan diri dan… WUUSH! Dua kali lipat uang dari rencana awal dihabiskan.

Jadi, perencanaan yang anda dapat lakukan dengan uang cukup sederhana… Pengendalian diri.

Money Scarcity

Apa yang anda dapat, serta perlu lakukan jika anda sedang melewati fase berlibur dimana anggaran pembelanjaan anda bersisa ke 20% terakhir, atau mungkin, lebih sedikit? Tipsnya cukup sederhana.

  • Turunkan kelas, turunkan ekspektasi.
    • Terkadang, ada beberapa orang yang memaksakan diri mereka untuk makan dengan anggaran yang sama seperti yang mereka miliki ketika 80% dari anggaran mereka masih tersisa. Ini sulit untuk dilakukan jika anggarannya tersisa sedikit, jadi hal terbaik dan terefisien yang seseorang bisa lakukan adalah menurunkan pengeluaran anda. Tidak apa-apa kok untuk tidur di hotel yang tidak sesuai dengan ekspektasi anda jika hanya untuk semalam 😉 .
  • Berhenti untuk berpikir.
    • Kasarnya. Jangan membeli hal-hal yang anda tidak perlukan. Sebelum membeli sesuatu, atau memilih tempat makan, berhenti untuk sejenak, berpikir. Apakah saya benar-benar membutuhkan ini? Apakah saya perlu membeli ini? Kenapa saya perlu membeli ini? Silahkan berkontemplasi dan pikirkan. Jika anda memang menilai bahwa anda perlu mengeluarkan uang untuk hal tersebut, lakukan saja.
  • Modis = Modal Diskon, Atau, Modal Gratis
    • Ya, dengan Traveloka, Trivago, atau AirBNB kita bisa mendapatkan promosi dan menghemat uang. Ini bermanfaat tentunya 😉
  • Sisakan uang untuk pulang.
    • Ya, berlibur termasuk pulang pergi. Jangan lupa jika anda masih harus lewat tol untuk pulang, atau membeli tiket kereta, itu juga mengonsumsi sepeser dari anggaran anda.
    • Oh iya. Jika anda cukup pintar, anda bisa melewati jalur alternatif dan membayar lebih sedikit daripada jika anda melewati tol. Tapi ya, jangan lupa, jika jalur alternatif tersebut berarti anda harus melewati 2 jam ekstra karena macet, maka itu resiko yang perlu diambil.

Benefits of Money.

Uang dapat anda manfaatkan untuk memperbaharui beberapa sumber daya lain yang anda butuhkan. Jika anda memang tidak sedang dalam kondisi kekurangan uang, anda dapat memanfaatkannya untuk jasa Laundry dan mendapatkan kembali pakaian. Anda juga bisa mengirimkan barang yang anda tidak perlukan lagi untuk mendapatkan ruang kembali. Tentunya, jika digunakan dengan bijak, anda tidak akan merasa kekurangan uang, alih-alih, anda akan merasa mendapat pakaian lebih, ruang lebih, dan mungkin, waktu lebih.

Attire

Attire, atau… Baju.

Ya, ini sedikit menarik. Tidak seperti Uang, Baju justru menyedot beberapa sumber daya lain yang kita miliki. Jadi, membahasnya akan menjadi hal yang menarik tentunya.

Baju secara tidak langsung mengukur waktu kita bisa berlibur, dan baju juga mengurangi ruang yang kita miliki di mobil, jadi, kita perlu membawa baju dengan bijak.

How To Plan

Sesuaikan jumlah baju dengan hari anda sudah yakin akan pergi. Semakin luas mobil atau alat transportasi anda, semakin mudah anda dapat merencanakan baju-baju yang anda akan bawa. Jika anda cukup pintar dengan manajemen ruang anda, dan mampu melakukan packing gulung, di mobil yang cukup luas, maka anda bisa menciptakan sedikit atau banyak room for comfort. Ruang untuk kenyamanan anda ini, dapat mencegah adanya kekurangan baju.

Attire Scarcity

Oke, anda masih ada 3 hari lagi untuk berlibur, tetapi, baju anda tersisa ke 1 stel baju pergi, dan 1 stel baju tidur. Apa yang anda bisa lakukan?

  • Pakai dua kali.
    • Oke, ini terkesan menjijikan bagi beberapa orang, tetapi menggunakan baju dua kali adalah hal yang bijak, terutama bagi baju tidur. Percaya padaku, baju tidur anda tidak akan kotor dalam satu malam, jadi menggunakan satu baju tidur untuk dua malam adalah ide yang baik untuk menghemat. Tidak sepenuhnya disarankan untuk baju pergi meski bisa dilakukan ketika sudah mepet banget.
  • Manfaatkan Laundry.
    • Manajemen waktu, taruh barang ke Laundry, dan ambil pada pagi berikutnya. Gunakan jasa express jika anda sedang buru-buru tentunya. Baju kembali bisa dipakai!
  • Tidur dengan baju pergi.
    • Tepat sebelum anda tidur, gunakan baju pergi sebelum masuk kasur. Pergi dengan baju itu esok paginya, dan anda dapat menghemat satu stel baju!
  • Beli baju.
    • Bukan saran terbaik karena ini mengambil ruang yang berharga, serta uang yang juga berharga, tetapi ini bisa dimanfaatkan juga tentunya.

Benefits of Attire

Semakin banyak baju yang anda miliki, semakin besar kemungkinan anda bisa memperpanjang liburan anda di luar rencana. Tetapi, perhatikan sumber daya yang lain juga ya 😉

Pace

 

Pace, alias waktu. Waktu membatasi beberapa orang, terutama yang bekerja. Jika anda sudah menyisakan satu hari untuk beristirahat, anda dapat beristirahat pada hari tersebut, tetapi, ternyata, satu hari sesudahnya adalah hari kerja, dan anda ingin berlibur satu hari lebih lama! Ya, hari istirahat anda dapat diambil. Sayangnya, hari kerja anda… tidak dapat diambil. 🙁

Jadi, bagaimana cara melawan waktu?

How To Plan

Ini ironis. Anda akan merencanakan sesuatu berdasarkan energi atau waktu yang anda miliki. Sayangnya, anda tidak bisa mendapatkan gambaran yang bagus mengenai waktu itu sendiri, jika anda tidak punya rencana. Untuk merencanakan sesuatu dan mendapatkan waktu terbanyak, pilihlah saat anda tidak memiliki banyak pekerjaan untuk dilakukan, dan ciptakan “slack” atau room-for-comfort agar anda tidak terpepet ketika ingin pulang.

Time Scarcity

Dalam waktu 13 jam anda sudah harus berada di kantor. Google Maps memberikan anda jalan tol dan perjalanan tersebut akan memakan waktu 4 jam 30 menit. Kemungkinan, anda harus memotong jam tidur, apa yang anda bisa lakukan?

  • Rute/Transportasi alternatif
    • Anda bisa menghemat waktu 90 menitan jika anda melewati Subang dari Cirebon ke Bandung. Jika anda pintar dan mau berpikir untuk sebentar, anda bisa menemukan rute alternatif dan menghemat sedikit waktu.
  • CEGAH ADANYA TIME SCARCITY
    • Jika anda sedang dalam krisis waktu, memang tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali memotong jam tidur, atau berburu-buru, atau mencari rute alternatif. Jadi, hal terbaik yang anda bisa lakukan adalah mencegah adanya time scarcity dengan planning yang baik. Sejujurnya, dengan tidak memiliki room-for-comfort dan lebih awas dalam perencanaan, itu sepertinya satu-satunya cara untuk mengatasi time scarcity.
    • Once you’re in it, you’re doomed. 😀

Benefits of Time

Space

Space. The final frontier. These are the vacations of the starship Enterprise. Its five-week mission: to explore strange new cities, to seek out new places and new tourist destinations, to boldly go where no man has gone before.

EHEM! Bukan Space luar angkasa bro. Space = Ruang.

Ini adalah hal terakhir yang akan aku bahas, dan… Ini dapat dicegah dengan mudah juga.

How To Plan

Pack light.

*thumbs up*

Serius sih, perencanaan dan manajemen ruang yang bagus, seperti menyisakan satu tas khusus untuk baju kotor, atau satu tas khusus untuk barang belanjaan adalah contoh manajemen ruang yang efektif.

Manajemen ruang terbaik dapat dilakukan dengan menyediakan satu tas, atau tempat khusus untuk benda-benda seperti baju kotor, barang belanjaan, serta hal-hal yang diperlukan secara darurat.

Space Scarcity

HAH! Anda butuh ruang di bagasi?

  • Stop. Beli. Hal. Yang. Anda. Tidak. Butuhkan.
    • Sama seperti uang, jangan beli hal yang anda tidak butuhkan. Anda harus mau berkompromi sesekali, jangan beli sesuatu sampai anda yakin anda membutuhkannya.
  • Kirim barang ke rumah.
    • 🙂 Manfaatkan JNE, atau TIKI, dan kirim barang milik anda ke rumah anda sendiri. Masalah anda akan selesai. Ada ruang yang dibebaskan, dan anda bisa memasukkan lebih banyak barang dalam bagasi!

Kesimpulan

Tanganku lelah, dan sekarang aku perlu menikmati time room-for-comfort yang sudah aku ciptakan.

Cheerios!

Serial Self Help: Kekurangan.

Serial Self Help: Kekurangan.

Semua tempat dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jika anda punya waktunya.

Percaya atau tidak, manusia harus dan akan mengalami saat dimana anda kekurangan sesuatu, baik itu kekurangan teman, kekurangan waktu, kekurangan uang, kekurangan sabun, atau kekurangan energi.

Jika anda tidak memiliki satu saatpun dimana anda memiliki lebih sedikit dari yang anda butuhkan, anda tidak akan berusaha terlalu keras. Kita membutuhkan perasaan kurang, dan kita tidak boleh merasa cukup, atau merasa lebih dari cukup terlalu sering.

Tulisan self help ini akan terkesan kontradiktif dengan beberapa opiniku, namun, yang aku maksudkan dengan “perasaan kurang” disini adalah kekurangan hal-hal yang tidak termasuk dalam materi seperti sumber daya atau uang.

Mari kita masuk.

Jumlah Rata-rata

Apa yang seseorang akan lakukan jika anda perlu mencuci muka anda sehari dua kali, dimana satu botol berukuran 30 ml dapat bertahan selama 2 minggu?

Pada umumnya, jika botol tersebut memang memiliki volume 30 ml, orang-orang akan langsung berpikir bahwa tiap kali kita mencuci muka, kita menggunakan 1.07 ml (30 dibagi dengan 28, dimana 28 berasal dari 14 hari dan 2 kali penggunaan tiap harinya).

Nyatanya, tidak seperti itu.

Manusia pada umumnya menggunakan 20% lebih banyak ketika botol tersebut terisi dengan penuh, atau diatas 70%, menggunakan jumlah rata-rata, ketika isi botol berada dalam kisaran 25-65%, dan menggunakan 30% lebih sedikit ketika isi botol di bawah seperempat.

Perasaan aman memberikan sensasi seolah-olah kita tidak butuh menghemat, toh kita punya lebih banyak. Dan sesudah jumlahnya bersisa sedikit, anda akan mengurangi porsi anda lebih signifikan, demi memenuhi kuota kebutuhan, dan agar jumlah benda yang anda gunakan tidak habis.

Terdengar sederhana? Tentu saja. Ketika kita masih menggunakan angka seperti ini, kita masih bisa menganggap satu dan lain hal terlalu sedikit, dan hal yang lain terlalu banyak, karena biasanya kita merasa tenang saat ingin melakukan hal sepele seperti ini.

Bagaimana kalau kita merasa bahwa kita kekurangan waktu? Tidak seperti sabun muka, ketika anda tidak punya cukup waktu anda tidak bisa menghemat dan berharap tenggat waktu anda dapat bertahan sedikit lebih lama saja…

Terlalu sedikit? Tambahkan? Kurangi?

Waktu.

Tidak seperti uang, sabun, atau sumber daya, cara kita menghemat tidak dapat dengan mengurangi. Kita tidak bisa mengurangi waktu yang ada, atau waktu yang kita pakai. Jadi, bagaimana cara kita mencermati kurangnya waktu?

Oh, gampang.

Mungkin kita tidak bisa meminjam waktu, tidak sama seperti yang di atas sebagai solusi pendek, tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih efektif, suatu perasaan yang diberikan secara langsung oleh otak kita. Perasaan itu adalah tekanan. Tekanan ini mengubah dan mengatur anda, tergantung pada aktivitas yang anda sedang lakukan.

Seorang mahasiswa yang diberikan tugas pada tenggat waktu akan mengambil jatah waktu main, atau istirahat miliknya untuk mengerjakan tugas tersebut, dan tentunya, waktu yang akan diambil akan lebih banyak semakin sedikit dan cepat tenggat waktu yang diberikan.

Tekanan yang ada untuk mengerjakan tugas ini berdasarkan tenggat waktu akan mempercepat proses pengerjaan kita. Berdasarkan riset, mahasiswa yang diberikan tugas untuk membenarkan kesalahan gramatikal pada sebuah essay akan menemukan lebih banyak kesalahan jika waktu yang diberikan padanya lebih sedikit.

Riset pasnya memberikan data seperti ini.

  • Tenggat waktu: 2 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 37% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 1 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 52% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 3 hari, jumlah kesalahan yang ditemukan, 78% dari total kesalahan

Tekanan memberikan kita performa yang lebih tinggi dari seharusnya, dan tekanan ini adalah alasan anda bisa mengerjakan sebuah tugas yang pada kondisi santai membutuhkan waktu 6 jam, dalam waktu 1 jam. Namun sayangnya, tekanan yang sama dapat mengurangi performa anda juga.

Ketika anda tidak mengerjakan sebuah tugas yang sedang berada dalam tenggat waktu, otak anda akan terus menerus memberikan perintah untuk memulai pengerjaan tugas tersebut, dan sampai anda membereskan tugas tersebut, tidak akan ada hal yang membuat anda merasa nyaman, meskipun itu hal seperti memakan makanan favorit anda. Otak yang normal akan menyuruh anda untuk terus menerus kembali ke tugas tersebut sampai itu beres.

Senjata Makan Tuan

Sayangnya, kondisi ini bisa berujung buruk…

Pada kondisi biasanya, ini hal yang baik. Stimulus ini memberikan anda perintah untuk bekerja dan untuk menjadi lebih produktif. Namun, jika seseorang memiliki banyak pikiran dan banyak hal untuk dikerjakan, ini akan membuat anda masuk dalam proses yang namanya… Juggling. Pikiran anda akan terus menerus memberikan stimulus untuk mengerjakan suatu tugas. Sayangnya, sebelum tugas itu beres, anda sudah akan kembali lagi dan stimulus yang lain memberikan anda peringatan untuk mengatur uang di rumah tangga anda. Sebelum itu, stimulus yang lain memperingati anda untuk mengerjakan poster yang anda sudah akan kerjakan sebagai poster freelance.

Sebelum masalah ini beres, anda melempar masalah itu, dan selama bola tersebut di udara, anda diingatkan akan masalah baru.

Ini alasan manajemen waktu TIDAK sepenting manajemen kesadaran yang memang berada di level subconscious, tapi tanpa adanya peringatan dari kita sendiri untuk tidak melempar bola dan memutar masalah, kita hanya akan memperlambat produktivitas kita sendiri, dan kita tidak akan sempat mengatur waktu untuk melakukan suatu hal yang memang produktif.

Jadi, jika anda merasa tertekan untuk menyelesaikan 6 tugas sekaligus… Jangan pikirkan tugas lain saat mengerjakan satu tugas. Masukkan seluruh kesadaran anda ke satu tugas tersebut.

Terowongan

Tunneling.

Ketika anda tidak punya cukup waktu, tekanan bisa sekali lagi menjadi sebuah senjata makan tuan. Dalam proses bernama tunneling ini, anda akan melupakan hal yang seharusnya anda kerjakan segera, tapi karena adanya tekanan, anda membuat suatu kesalahan buruk, dan hasilnya, seluruh proses yang sudah anda rencanakan jadi hilang begitu saja, murni karena anda hanya bisa melihat satu cahaya, yaitu masalah besarnya, yang berada di ujung terowongan.

Tunneling adalah sebuah proses dimana otak kita berubah gaya berpikirnya dari pemikiran yang berbasis proses ke pemikiran berbasis hasil.

Ketika kita di dalam tekanan, kita tidak akan berpikir banyak mengenai proses, dan kita akan sepenuhnya berpikir ke hasil akhir. Ini dapat berakhir ke kita melakukan pilihan yang buruk, atau tidak membuat tindakan sama sekali ketika kita memang perlu bertindak.

Sebagai contoh…

Tiap tahunnya, ada sekitar 80-100 petugas pemadam kebakaran yang harus “pergi” ketika bertugas di Amerika Serikat. Ironisnya, 60% dari pemadam kebakaran tersebut meninggal bukan karena kecelakaan pada bangunan yang sedang kebakaran, tetapi karena mereka tidak menggunakan sabuk pengaman, alias… seatbelt.

Oke, mungkin ini terkesan bodoh, atau tidak masuk akal, karena mereka dilatih hingga mereka cukup kompeten dan melupakan seatbelt adalah hal yang… seharusnya tidak terjadi.

Tetapi dalam kondisi darurat, seorang pemadam kebakaran tidak bisa (bukan tidak mau, memang tidak bisa) melihat proses lebih dari cahaya di ujung terowongan yang merupakan api yang perlu dipadamkan. Ini mengakibatkan mereka untuk melupakan hal-hal kecil tapi krusial seperti… seatbelt.

Jadi, jika ada pemadam kebakaran yang meninggal karena tidak menggunakan sabuk pengaman pada serial Fox ciptaan Brad Falchuk yang dikenal dengan 9-1-1 -yang memang dipenuhi kecelakaan tidak masuk akal- itu justru kecelakaan masuk akal!

Oke, mengheningkan cipta dulu sebentar…

Nah, dari sini, seharusnya kita bisa simpulkan bahwa dalam tekanan, kita tidak bisa memilih dan membuat keputusan krusial, terutama yang memiliki dampak long term paling sedikit. Pada umumnya, seorang manusia akan membuat keputusan yang relatif baik dan membenarkan solusi yang ada di depan mata, tanpa mengkalkukasi adanya kemungkinan bahwa solusi jangka pendek tersebut bisa berujung sangat buruk.

Oleh karena itu, jangan buat keputusan ketika anda sedang merasa tertekan, kemungkinan besar anda akan membuat keputusan yang buruk.

Kesimpulan

Kita harus merasa kekurangan.

Kurangnya waktu, kurangnya uang, kurangnya teman membuat kita ingin mencari lebih banyak, dan menghargai apa yang kita sudah punya sekarang, memastikan bahwa kita tidak akan menghilangkan terlalu banyak dari apa yang kita sudah punya.

Ini harusnya perasaan seseorang yang merasa kurang. Menghargai apa yang sudah dia punya dan menghematnya.

Reflek orang-orang yang kekurangan biasanya adalah suatu keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi, bukan menghargai dan menghemat yang sudah ada…

Sampai lain waktu, semoga artikel hari ini dapat dinikmati!

A bunch of random facts: Veggies and Fruits

A bunch of random facts: Veggies and Fruits

Ketika bosan, dan perlu menulis… Apa jenis tulisan yang bisa kubawa ke situs ini ya…

Sebenarnya aku ada hutang tulisan filsafat, tapi karena tulisan terakhirku sudah mengenai filsafat, aku merasa ini sedikit terlalu berat untuk dibuat sekarang, dan tidak akan terlalu banyak menambahkan traffic site, yang sedang drop pada bulan Oktober ini.

Salahkan Marvel untuk terlalu lama menunda keluarnya film berikutnya, dan salahkan DC untuk mengeluarkan Aquaman pada bulan Desember. Wait, ada Spiderman: Into the Spiderverse! Oke, kita tunggu itu saja dulu…

Ehem, kembali ke topik.

Tanpa adanya sumber pop culture yang cukup (Venom adalah pengecualian, karena aku telat menonton, sekarang pun belum) aku semacam kebingungan ingin membuat artikel, jadi semoga ideku ini mampu dinikmati!

Materi dan Struktur

Beberapa fakta disini akan bersangkutan dengan struktur dan juga zat yang membuat sebuah sayur atau buah.

Air, dan Asam

Jadi… Seperti yang mayoritas orang tahu, bahasa Inggris dari Semangka adalah Watermelon, dan bahasa Inggris dari Melon adalah… (UMM) melon (atau Honeydew, cantaloupe, terserah lah, aku lebih suka menyebut melon).

Nah, fakta itu sebenarnya cukup tepat, karena watermelon dan melon sendiri sangat-sangat mirip strukturnya. Jika Melon Honeydew yang paling sering anda temukan di supermarket terdekat terbuat dari 86% air, 7% serat, dan sisanya berupa DNA, dan juga nutrisi-nutrisi di dalamnya… Semangka memiliki konten yang amat mirip… terbuat dari 93% air, dan 3% serat, lalu tentunya banyak nutrisi lain di dalamnya.

Uniknya, hanya perbedaan zat sekitar 10% ini (dari nutrisi, DNA, dan tentunya perbandingan Air/serat) warna, rasa, dan tekstur kedua buah amat jauh berbeda.

Berikutnya, beberapa kemiripan lain yang ditemukan secara struktur dapat dilihat di hidangan samping Nasi+Ayam Goreng milikmu… Biasanya, disimpan, Sambal, Selada, Tomat dan juga Timun.

Banyak orang (termasuk diriku sendiri) yang hanya menyukai salah satu diantara tomat atau timun. Aku sendiri lebih suka timun, dan kurang menyukai tekstur lembek dan asam yang ada di tomat.

Lucunya… (dan ironisnya) Timun terbuat dari 96% air, 3% serat, dan 1% yang tersisa adalah beberapa hal-hal lain yang hanya dituliskan sebagai Other contents di beberapa buku… Sedangkan, Tomat, terbuat dari 90% air, 6% serat, 3% asam, dan 1% zat lain-lain.

Jadi, tomat dan timun ini, sebenarnya memiliki rasa, tekstur, dan gizi yang cukup berbeda dengan satu sama lain. Tapiiiiii… Zat yang menyusun mereka hampir sama persis.

Hanya dengan perbedaan 3% asam, 3% serat, dan 1% zat lain-lain tersebut (seperti gizi, mineral, dan juga DNA), rasa dari keduanya langsung jomplang ke satu sisi. Kadar serat dari tomat dilemahkan oleh asam yang ada, dan memberikannya tekstur kenyal, sedangkan kadar air di timun membuat sayur tersebut lebih keras.

Kesimpulan: Kita sebagai manusia hanya punya sedikit perbedaan, namun sebenarnya kita satu makhluk yang sama… Ba dum tss 😀

Sama seperti tanaman, mayoritas dari tubuh kita berupa cairan, otak kita bahkan terbuat dari 90% air yang dipadatkan oleh sel-sel.

Namun, pada dasarnya, tiap manusia memiliki genetik yang sama persis. Kecuali untuk DNA, 99.999% dari tiap manusia sama saja. 0.001% dari DNA merubah begitu banyak penampilan. Ganteng atau tidaknya seseorang adalah hasil dari mesin gashapon yang dipilih oleh hukum sains, dan jika kamu kurang beruntung 0.001% tersebut membuatmu tampak jelek.

Jangan lupa bahwa kamu cukup beruntung untuk punya 99.999% sel yang berfungsi dengan normal, jadi coba saja untuk bersyukur pada mukamu, meskipun itu jelek, apalagi kalau kamu ganteng.

Misguided?

Banyak orang mengira bahwa sayur adalah suatu jenis makanan yang dimakan sesudah dimasak, seperti misalnya, bayam, kol, zucchini, dan lain-lain. Juga banyak orang mengira bahwa BUAH adalah makanan manis yang boleh langsung dimakan tanpa perlu dimasak kembali.

Perlu diingat lagi… Tidak selalu. Banyak sekali ada common error dan miskonsepsi umum yang terjadi di kalangan umum. Jadi,mari kita catat beberapa kali… Ini adalah beberapa miskonsepsi mengenai buah, ataupun sayur, yang anda semua perlu ingat.

Definisi

  • Sayur adalah jenis tumbuhan yang ketika dimakan… merupakan tumbuhan itu sendiri.
  • Buah adalah embrio yang sudah matang, dan digunakan sebagai alat menyebarkan biji oleh tanaman. Buah bisa dianggap sebagai anak dari suatu pohon.

Fakta…

  • Paling sederhana, dan paling sering orang salah lihat… Tomat. Tomat adalah buah, dan BUKAN sayur. Iya, tomat dimasak sebagai sayur, padahal tomat adalah buah.
  • Strawberry, Blackberry, dan juga Raspberry… bukanlah beri. Mereka merupakan buah.
    • Menurut ilmu biologi, sebuah beri adalah inti dari sebuah bunga yang ketika dikeluarkan, akan menghasilkan sejenis buah berukuran kecil, dan stroberi, blackberry, serta raspberry, berasal dari pohon, dan BUKAN bunga… tanaman tersebut adalah sebuah buah.
    • Catatan lagi… Beri adalah semacam subjenis dari buah… Sama seperti kacang tanah sebagai subjenis dari kacang.
  • Terong, justru… Merupakan beri. Karena terung berasal dari inti sebuah bunga yang dibuahi.
    • Kumohon… jangan bingung. Stroberi bukan merupakan beri karena dia alat untuk berkembang biak, dan terung justru HASIL dari perkembang biakan.
  • Tahu mengenai Almond? Almond itu kacang bukan? Haha… bukan… 🙂 Almond itu adalah sepupu dari… Buah Persik. Jadi, lain kali, jika kamu ingin bilang ke orang-orang yang menawarkanmu almond, jangan langsung bilang bahwa kamu alergi kacang, karena almond adalah buah.
  • Jadi… apa saja yang sudah kurusak… Almond, terung, stroberi, blackberry, raspberry. Oh iya… masih ada lagi. Kacang tanah yang berada dalam cangkangnya… Tampak seperti ini?
    • Ya… mereka itu sekeluarga dengan kunyit… Jadi, kalau kamu alergi kacang, seharusnya memakan kacang seperti ini takpapa… (Jangan coba jika kamu memang sudah pernah mencoba dan memiliki alergi pada kacang yang seperti di atas ini)
  • Oke, mari kita rusak bunga-bunga juga!
    • Apel sekeluarga dengan mawar.
      • Mawar tidak memiliki buah tetapi.
    • Oh iya… ceri juga
    • Pir juga…
    • Apa lagi… Buah Plum…

Jadi… bagaimana? Sudah cukup bingung… Kacang = Legume, sekeluarga dengan kunyit, bunga mawar sekeluarga dengan apel, stroberi, dan beri lainnya, bukan berasal dari keluarga beri, hanya saja kebetulan mirip dengan beri, dan terung… merupakan beri.

Believe me, your family isn’t weird.

Kesimpulan…

Jadi, sebenarnya, artikel hari ini hanya akan sedikit di bawah 1000 kata, semoga tetap menarik…

Namun aku akan segera menyimpulkan…

Banyak hal yang mudah kita lewatkan, dan oleh karena itu, akan jauh lebih baik jika kita ingin memerhatikan hal lebih banyak, dan tidak menelan bulat-bulat apa yang diberikan oleh orang lain untuk kita.

Silahkan berpikir sedikit mengenai kalimat itu, dan sampai lain waktu!

Promosi: Workshop Menulis Review Film

Promosi: Workshop Menulis Review Film

Hai Hai!

Ini Azriel! Aku sedang mengikuti lomba untuk menjadi Ambassador Bioskop Alternatif di Bandung nih… Sebagai tantangan, ada permintaan untuk membuat sebuah acara di Indicinema… Alhasil, sebagai seseorang yang memang suka menulis, dan juga suka film… Bagaimana jika aku membuat workshop yang akan berkutat di penulisan review film?

Sedikit detail lebih lanjut mengenai acara ini…

  • Lokasi di Indicinema, Jalan Banda No. 40, Gedung Bale Motekar
  • Ada donasi bagi Indicinema yang sudah menyediakan tempat, donasi senilai 10.000, dan itu sudah termasuk Pop Corn, serta air mineral.
  • Akan ada doorprize berupa voucher nonton film di Indicinema, bagi orang yang ingin membawa review film miliknya! 3 Review terbaik akan memenangkan doorprize!
  • Acara dilaksanakan tanggal 27 September, Pukul 16.00 sore sampai selesai, jangan terlambat ya, open gate sudah dari pukul 15.30.
  • Kalian akan bertemu denganku nanti! 😛
  • Untuk informasi lebih lanjut dan reservasi bisa kontak 08122146852
  • Acara ini terbatas! Jadi segera reservasi dengan format: Nama-Instansi-Workshop DKP

Sampai ketemu tanggal 27 September nanti!

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Pada serial ini, aku ingin mengupas ciptaan dan kreasi manusia dari yang paling mendasar hingga yang paling kompleks. Manusia telah berusaha membuat hidup mereka lebih mudah dinikmati, serta lebih nyaman untuk dilakukan sejak manusia lahir sebagai spesies. Namun, seiring perjalanan ini dilewati, kita telah berubah menjadi spesies lain, hanya karena apa yang telah kita ciptakan.

Ah Manusia…

Pada satu sisi, kita sangat sangat pintar. Kita menciptakan banyak hal untuk melakukan hal-hal yang kita tidak ingin lakukan, tapi pada sisi lain, kita cukup bodoh untuk membiarkan ciptaan kita mengatur gaya hidup kita sendiri.

Jadi, apakah manusia itu makhluk yang pintar? Ataukah manusia itu makhluk hidup yang justru, bodoh?

Inspirasi:

  • Sapiens (lagi) ditulis oleh Yuval Noah Harari
  • Essential Sh*t. Bollocks, why didn’t I think of that? ditulis oleh Anthony Rubino Jr.
  • Meditations, ditulis oleh Marcus Aurelius
    • Kaisar Roma terakhir yang waras dan tidak punya ambisi untuk membunuh dan/atau memperbudak manusia, menaklukkan dan/atau menguasai dunia.
  • Sedikit pembicaraan di Museum Geologi, dan juga Museum Konferensi Asia Afrika.
    • Geologi mengenai senjata dan evolusi manusia
    • MKAA mengenai perubahan dan sifat rakus manusia.

Footnote: Siapapun yang mendidik Commodus sesudah meninggalnya Marcus Aurelius merusak seluruh era bijak para keturunan Nerva-Antonine. Dari situ semua Roman Emperor segila (atau mungkin lebih gila dari) Hitler.

Hangatnya Kenyamanan

Nomor satu…

Ingatkan aku, pernahkah anda ke museum, situs arkeolog, gua purba, atau apapun yang berbau geologi/arkeologi, dan menemukan manusia purba? Nenek moyang kita?

Ingin tahu penyebab kematian nenek moyang kita yang paling sering, dan juga paling ditakuti. Ditusuk oleh Babi Hutan misalnya? Keinjak Mammoth? Terbunuh suku lain? Oh tidak.

Kita bicara era jauh sebelum era berburu. Dulu ketika kita masih nomaden dan herbivora.

Kita bicara sebuah waktu sebelum manusia takut mati kelaparan. Ketika masih cukup banyak pohon berbuah untuk makan di sebuah daerah selama lebih dari 1 bulan.

Sebelum kita berburu, kita paling takut oleh dingin.

Sebagai makhluk yang amat kreatif dan pintar, kita melakukan suatu hal lain untuk menghindari kedinginan. Terciptalah “ciptaan” pertama kita. Api.

Sejujurnya, jatuhnya api ke tangan manusia purba masih cukup jauh dari pemahaman antropolog, atau arkeolog yang sudah handal. Tetapi, layaknya teori pembuatan piramida, tiap orang memiliki teori masing-masing, dan teori itu sama-sama masuk akalnya.

Ada yang menyatakan bahwa kita menemukan api ketika sedang hujan deras, dan ada petir yang menyalakan sebuah pohon. Ketika kita mendekat, kita merasakan kehangatan dan kelembutan dari api itu. Tiap langkah yang kita ambil membuat kita lebih tertarik, dan tertarik atas kehangatan pada dinginnya hujan ini. Ketika kita biasa bersembunyi di dalam gua. Akhirnya kita mau untuk keluar ketika hujan, dengan api sebagai pelindung.

Ada juga yang berteori bahwa kita menemukan api karena ketidaksengajaan menggesek dan menggosok dua buah batu sampai ada percikan yang menyalakan api. Percikan itu jadi sumber kehidupan, dan kehangatan para manusia. Hore! Kita telah menciptakan sesuatu.

Ada juga yang percaya bahwa kita menemukan api sehabis gemuruh petir yang membakar dan menyalakan sebuah pohon, lalu kita mengambil sebilah tongkat kayu, dan membawa sumber hangat dan panas itu kemana-mana. Sampai api tersebut akhirnya mati, dan kita mencari percikan kehidupan sekali lagi.

Ya, bagaimanapun juga, ketika kita lihat manusia prasejarah menciptakan api, kita perlu melihat alasan mereka menciptakan api.

Kenapa mereka menciptakan api? Karena tentunya, mereka merasa lebih nyaman. Jauh lebih nyaman kebanding harus berjalan telanjang sambil menggigil karena dingin, atau berbaring di tenggorokan sebuah gua, hanya ditemani kehangatan tanah, yang lembab, dan terasa begitu dingin.

Api telah menjadi sebuah kebutuhan, karena manusia selalu ingin apa yang paling nyaman untuk mereka. Seiring jalannya waktu, leluhur kita sudah tak kuat lagi berjalan telanjang. Kita mulai berburu karena ternyata kita lebih kenyang sebagai karnivora (dan para pencinta daging pasti akan membela habis-habisan pentingnya kita sebagai karnivora untuk evolusi) dan kita memanfaatkan baju tebal sebagai suplemen dari kehangatannya api.

Ini hanya mengupas apa yang terjadi di daerah tropis. Ketika manusia bermigrasi ke daerah yang bersalju, kita sudah mulai berburu, dan kita menggunakan baju yang tebal. (para arkeolog dan antropolog begitu penasaran mengapa para Neanderthal bisa bertahan dengan baju yang lebih sedikit dari Sapiens dalam cuaca yang lebih dingin)

Apa yang api ciptakan?

Sederhana. Karena hangatnya api ini begitu enak. Kita jadi menciptakan banyak hal lain untuk memperkuat rasa hangat tersebut. Kita menciptakan senjata karena daging yang berminyak dan lemak tersebut membuat diri kita merasa lebih hangat, baik karena persediaan lemak yang bertambah di tubuh kita dan juga karena struktur nutrisi milik daging.

Kita memanfaatkan kulit hewan buruan kita sebagai baju, karena kita tidak pernah puas. Kita selalu menginginkan apa yang lebih nyaman, dan kehangatan = nyaman. 2 tambah 2 jadi 4, sehingga, BAM! Tercipta lagi baju tebal.

Kalau nenek moyang kita tidak menemukan atau memanfaatkan api puluhan ribu tahun yang lalu… Kita mungkin akan berjalan dalam kondisi telanjang kemanapun kita pergi.

Ini mungkin hal yang normal beberapa puluh ribu tahun yang lalu, namun sekarang, ini telah menjadi suatu taboo.

Kebutuhan Api?

Kita membutuhkan api, bahkan puluh ribuan tahun dari kita mulai tahu cara memanfaatkannya. Beberapa antropolog die hard bahkan menyatakan bahwa kita sudah diperbudak oleh api, kita mencari cara untuk memastikan bahwa api selalu ada, karena tanpanya kita bisa merasa kedinginan, makanan tidak bisa dimasak dengan benar, dan kita takkan bisa mandi dengan air panas.

Sudah ada puluhan cara menciptakan api, semakin lama api yang diciptakan lebih panas, lebih membara, dan semakin lama, semakin sedikit bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan api. Pada dasarnya, kita tetap menciptakan hal yang sama, kita tidak menciptakan api jenis B, api jenis C, mau apapun warnanya, seberapa besar atau seberapa panas zatnya, bara api yang digunakan para Homo erectus dan manusia modern tetap sama.

Tetapi, meski kita telah mau diperbudak oleh api, dengan menciptakannya terus menerus, kita tetap membutuhkannya. Lagipula, siapa yang tidak mau hidup nyaman dan hangat?

Tajamnya Kekejaman

Manusia selalu berusaha melakukan apapun yang mereka bisa lakukan sebagai spesies untuk mendapatkan apa yang mereka nilai sebagai paling nyaman. Menahan diri sepertinya tidak mungkin sekarang.

Seiring mereka berusaha untuk membuat suatu hal lebih nyaman dan mudah untuk mereka, seiring mereka melakukan sesuatu untuk mempermudah apa yang mereka lakukan.

Oleh karena itu… Terciptalah senjata.

Senjata pertama-tama digunakan sebagai alat untuk berburu. Dengan bentuk dasar, sebuah tombak. Senjata paling efisien, paling kuat, dan paling mudah digunakan untuk membunuh.

Pada bentuk mentahnya, senjata tombak ini hanyalah sebuah batang kayu yang diperhalus menggunakan batu, lalu ditempelkan ke batu lain, yang dibentuk dengan khusus, sehingga memiliki mata tombak yang panjang.

Tombak ini cukup versatil dan bisa digunakan untuk menusuk dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri, untuk dilempar, untuk memukul, dan tentunya, untuk membunuh.

Kata terakhir itu perlu diberikan sebuah catatan dengan sound effect “ding-ding-ding”.

Dari memburu dan membunuh hewan karena kita ingin merasa nyaman dengan perut penuh, dan lidah yang puas menyentuh daging matang (meski tidak dibumbui sama sekali), kita juga merasa bahwa jika ada manusia lain berusaha menyentuh hewan calon buruan kita… Kita akan mneyerang.

Senjata yang tadi kita manfaatkan untuk berburu, dialihfungsikan.

Kita juga membunuh, dan berperang, demi mendapatkan sumber daya paling kaya dan paling nikmat. Mungkin peperangan pertama bermula dari seorang manusia yang berburu lembu dan tiba-tiba mereka bertemu dengan kelompok manusia lain, yang juga berburu lembu.

Karena ia bukan makhluk rasional, dan amat serakah, ia merasa bahwa akan lebih baik makan dua lembu dengan perjuangan yang berat, daripada bekerja sama dan membunuh dua lembu, lalu membagi hasil.

Dari situ, terjadilah konflik sederhana atas sumber daya. When has that stopped?

 

Apa yang telah diciptakan senjata?

Sebuah tombak sederhana yang bisa digunakan dari dekat dan juga dari jauh telah sukses mencoreng nama baik manusia. Namun, tombak juga telah berubah bentuk ratus ribuan kali, sampai ia menjadi senjata yang paling ampuh bagi para infantri.

Sekarang, infantri cenderung menggunakan senjata api, yang terkadang digunakan di jarak dekat juga (meski hanya untuk sekedar, membuat orang pingsan), desain multifungsi dan bisa digunakan dari jarak jauh dan dekat ini masih tercermin sampai sekarang.

Senjata manusia purba telah memberi sedikit inspirasi desain senjata modern, apalagi pada era kerajaan, dimana senjata masih menggunakan pedang dan perisai.

Tetapi, ketika kita berbicara mengenai senjata… Ciptaan terkuatnya tentunya adalah rasa iri, serta rasa rakus. Dari kedua emosi dasar yang berasal dari simpanse tersebut… Muncullah perang.

Kebutuhan Senjata?

Senjata tentunya telah menjadi kebutuhan… Kita membutuhkan senjata untuk berperang, karena…

Sejujurnya alasan manusia berperang sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku. Kurasa senjata hanyalah cermin dari keserakahan manusia, tapi ya, siapa yang sebenarnya peduli? :'(

Kita takkan berperang kecuali kita mampu mendapatkan sesuatu dari perang tersebut. Hanya saja, banyak orang melewatkan apa yang mereka mungkin dapatkan jika sumber daya tersebut dimanfaatkan dari sudut lain.

Memang, kita takkan pernah bisa lepas dari berebut, dari konflik, dari keserakahan, dan juga dari kebutuhan senjata. Senjata ada sebagai alat untuk mengambil, dan memastikan apa yang kita punya tidak diambil. Ia sebuah simbol keamanan, serta simbol peperangan.

Kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin merasa aman, kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin berperang. Manusia terjebak dalam sebuah zona dimana kita terpaksa untuk memiliki senjata, karena tanpanya, takkan ada jaminan bahwa kita akan memiliki suatu bentuk keamanan. Pada sisi lain, kita hanya butuh senjata karena sudah ada yang memiliki senjata, yang mengancam keamanan dan kesejahteraan milik kita.

Siapapun yang memercik api konflik duluan telah membawa kita ke siklus tanpa henti ini.

BERSAMBUNG!

Adakah tips untuk mendapatkan Blog Viewer?

Adakah tips untuk mendapatkan Blog Viewer?

Terkadang ada cukup banyak orang merasa bahwa konsistensi itu nomor satu dalam menulis, dan sejujurnya one day one post adalah langkah yang sangat baik dan optimal untuk mendapatkan viewer di blog. Konsistensi memang penting untuk mendapatkan kemampuan menulis, tetapi, untuk apa menulis jika tidak ada seorangpun yang membaca?

Jawaban dari pertanyaan ini tentunya sederhana, banyak penulis menulis demi… menulis. Untuk mengeluarkan gagasan dan juga perasaan yang terpendam (what Azriel?) tetapi, seiring waktu, akan keluarlah percikan untuk mendapatkan viewer lebih. Banyak orang tidak ingin terjebak dengan hal yang sama, dan akan berusaha menulis untuk mendapatkan 1 dari 3 jenis viewer, setidaknya menurutku.

Bagaimanapun juga, mari kita masuk ke artikelnya, dan mungkin disini akan ditemukan beberapa tips (bukan semuanya, tentunya semua yang ditulis disini amat subjektif, baik secara opini, ataupun kemampuan) untuk mendapatkan viewer di blog, tanpa menggunakan media sosial lain.

(Review Fakta: 27.000 Viewer dalam 1 tahun, 3000-an didapat via Link WhatsApp, atau Instagram, mayoritas sisanya berasal dari search engine)

Tips disini murni cara untuk menggait viewer via Search Engine, atau Blog Reader (seperti WordPress Reader, Blogpost Timeline, dan semacamnya).

Jenis Pembaca

Ada 3 jenis pembaca yang ingin digait dalam menulis sebuah blog post.

Semuanya memiliki karakteristik masing-masing, dan semuanya juga memiliki cara untuk dibawa agar mengunjungi blog milikmu.

Pembaca Setia

Ciri khas para pembaca setia biasanya ditemukan dari seseorang yang mengunjungi blogmu kalau tidak seminggu sekali, sehari sekali… Ia biasanya datang untuk melihat karya tulismu, dan dalam statistik, ialah orang yang menambahkan 1 view ke tiap post terbarumu.

Yah, sebenarnya, kita takkan tahu siapa pembaca setia kita, kecuali jika ia memang teman dekat, dan/atau keluarga… Tetapi, jika para pembaca setia ini merupakan orang asing yang belum pernah anda temui di dunia nyata, maka kemungkinan besar, ia sangat menyukai konten yang anda tulis, meskipun tidak ada tema yang membelakangi.

(FYI: Blog dikakipelangi.com ini tidak punya tema sedikitpun. Aku sering menulis tentang Pop Culture, sering menulis tentang humaniora, psikologi, sejarah, dan juga masih banyak lagi.)

Jujur saja, menggait pembaca setia yang merupakan orang asing amat sulit. Tentunya mendapatkan orang yang selewat saja cukup mudah, tetapi mendapatkan orang yang datang ke blog ini (terutama via search engine) lebih dari sekali akan amat sulit.

Cara Mendapatkan Pembaca Setia…

  • Ajaklah beberapa teman dekatmu dan juga keluargamu untuk sesekali berkunjung ke blog milikmu. Jika ia anggap tulisanmu menarik, maka ia akan datang sekali lagi, dan juga sekali lagi, sampai-sampai ia akan mengunjungi blogmu pada basis mingguan, atau bahkan, harian.
  • Tulis sesuatu dengan tema, atau buat tulisan yang bersambung. Tentunya, gunakanlah tautan pada akhir artikel yang menghubungkan artikel A dengan tema C dan artikel B dengan tema C juga. Sama bagi yang bersambung.
    • Jika perlu, dan belum sempat menulis, tambahkan release date sambungan pada akhir artikel, terutama pada cerita. Jika pembacanya memang suka dengan tulisan yang tidak kilat seperti para Social Media junkie inginkan, mereka akan benar-benar datang kembali. (tentunya jika ingat, hihihi)
  • Sejujurnya, mendapatkan pembaca setia mungkin adalah jenis pembaca yang paling sulit untuk ditemukan. Percaya pada diriku.

Pembaca Selewat

Pembaca selewat.

Mungkin 15.000 dari 24.000 total viewer yang datang dari search engine merupakan pembaca selewat.

Apakah karakteristik dari pembaca selewat? Mereka orang yang datang sekali, bilang hai pada satu artikel yang menangkap mata mereka pada google search, dan dadah, kemungkinan besar mereka takkan kembali.

Tentunya, pembaca selewat ini adalah jenis orang yang ingin ditargetkan jika ingin menghasilkan duit cepat via iklan. Tetapi, seseorang yang pintar akan memanfaatkan pembaca selewat, dan merubahnya menjadi pembaca setia.

Pembaca selewat mungkin adalah jenis pembaca yang paling sulit digait secara permanen, karena biasanya, blog (terutama yang segmented, seperti blog milikku ini…) itu didatangi hanya ketika ada yang dicari. Blog mana yang perlu didatangi, tentunya ditunjukkan oleh Google.

Cara Menggait Pembaca Selewat

  • Ikuti Google Trends, pelajari pola search, sesuai dengan bahasa yang kautuliskan di blog (jika bahasa Inggris, buatlah current issue dunia, dan jika bahasa Indonesia, buatlah artikel tentang hal yang pop secara lokal. Atau, buatlah sesuatu dalam bahasa Inggris, tetapi mengenai Indonesia, itu akan menjadi sesuatu yang menarik juga) dan buatlah sesuatu yang mungkin membuat blog mu berada di halaman pertama sebuah google search.
  • Pelajari Search Engine Optimization, agar tulisanmu bisa dibaca orang yang google sesuatu secara spesifik.
  • Buatlah artikel yang menjelaskan sesuatu yang belum pernah dituliskan orang lain.
  • Jika memang ingin secara spesifik menggait Pembaca Selewat, tidak ada salahnya keluar dari tema buatan atau segmentasi blogmu. Gaya penulisan, jika bisa, jangan buat terlalu kompleks… Kurangi bahasa dan istilah yang biasa di skim read (ironisnya, skim reading adalah jenis istilah yang kumaksud, istilah yang biasanya hanya beberapa orang ingin baca)

Tentunya, jika pembaca selewat memang tidak akan berubah menjadi pembaca setia (atau jenis pembaca ketiga), akan lebih baik jika kita lemparkan post yang menarik berkali-kali, sehingga mereka akan datang terus. Pada sisi lain, kita bisa menyesuaikan gaya penulisan, dengan memanfaatkan fitur wordpress agar pembaca selewat ini, akan mau mencoba menjadi… Pembaca Kepo.

Pembaca Kepo

Pembaca Kepo ini, pada dasarnya, adalah pembaca selewat. Tetapi, mereka tidak hanya membaca selewat lalu close, dan melupakan nama blog yang menyajikan tulisan dari topik yang mereka cari.

Pembaca kepo ini, biasanya klik tombol-tombol, baik di kanan, dan di kiri, atau mungkin Hyperlink pada kata-kata dan paragraf di artikel.

Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai blog ini, dan mungkin juga merasa bahwa blog itu akan bisa memberikan bacaan menarik selain klikan yang ia buat tadi.

Berdasarkan memerhatikan statistik selama 3 bulan terakhir, sekitar 20% dari pembaca yang mendatangi artikel Arti Wakanda Forever, menjadi pembaca kepo.

Sayangnya, karena kurangnya persiapan dari diriku dan juga dari kejutan viewer dan visitor artikel tersebut… Aku tidak bisa menaikkan statistik pembaca kepo dan pembaca selewat.

Amat disayangkan, aku baru melakukan tips yang aku tuliskan ini, sekitar seminggu sesudah gelombang ribuan pembaca telah melewati artikel tersebut. (website ini hampir down, atau setidaknya, ngadat)

Agar pembaca, dan calon penulis tidak mengikuti kesalahan yang aku buat, selalu bersiap untuk membuat para pembaca selewat ini, menjadi pembaca kepo…

Cara Membuat Pembaca Selewat Menjadi Kepo…

  • NOMOR 1! Paling sederhana, dan juga paling efisien. Tambahkan Hyperlink. Serius, adanya Hyperlink pada sebuah artikel yang sudah menarik, yang mengarah ke artikel yang sama menariknya, atau mungkin, lebih menarik… Bisa saja menambah dan menggugah selera para pembaca untuk terus mencicipi, dan mengintip hidangan yang blog anda sajikan.
    • Artikel dengan Hyperlink biasanya menggait 40% pembaca selewat untuk memberikan klik pada hyperlink tersebut. Alhasil, 40% view tambahan.
  • Berikutnya, sama seperti pada cara menggugah pembaca setia… Adalah dengan membuat artilkel yang bersambung. Setidaknya, berikan mereka lebih dari satu kesempatan untuk mengunjungi blog anda. Jika mereka memang suka, mereka akan ingat nama blog-nya kok.
  • Buatlah theme blog yang enak dilihat. Ingat, enak dilihat. Aku bisa dibilang beruntung, aku sudah memiliki tema blog yang menarik, dengan watercolor, dan juga warna yang tak terlalu gelap sampai titik… edgy, dan juga tidak terlalu terang sampai ke titik, flashy. Tetapi, jika penulis blog ingin menarik orang, tariklah mereka bukan dari tulisan milikmu saja, tetapi juga dari perbandingan warna yang menarik serta bagus.
    • Enak dilihat dan menarik berbeda. Aku memiliki teman yang berkomentar mengenai tema blog, katanya itu kurang menarik. Untungnya, blog milikku cukup enak dilihat, dan perbedaannya ada di prioritas kita. Aku lebih suka gambar (dan diberikan juga… hehehe) yang enak dilihat, dan tidak terlalu flashy sampai menarik.
    • Atraksi utama Dikakipelangi.com tetap tulisan, tetapi tentunya, layaknya mall yang nyaman… mall itu perlu enak, dingin, serta enak untuk parkir. Kita tidak hanya datang ke mall untuk sebuah toko, (meski memang ada saatnya kita ingin ke sebuah toko spesifik) tetapi kita ingin ke mall dan menikmati aura mall tersebut juga.

Nah, jangan lupa untuk menarik orang agar mereka datang lagi, dan bukan hanya datang sekali, lalu sudah deh, dadah….

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini ada dua.

Satu! Hidup adalah proses, sama juga seperti menulis dan mendapatkan pembaca. Kita tidak bisa hanya mendapatkan pembaca dari sebuah artikel, tentu saja kita perlu berusaha, dan membiarkan pembaca yang datang agar, berproses, dari seseorang yang hanya lewat,  terus menjadi penasaran, hingga akhirnya ia membaca dengan setia.

Nomor dua adalah, hindari sensasi yang hanya sensasional, dan memiliki makna minim.

Clickbait mungkin efektif, terutama bagi rakyat Indonesia, tetapi, apakah clickbait benar-benar sepadan dengan resiko orang-orang merasa tertipu dan tidak pernah kembali lagi? Apakah kamu ingin mendapatkan pembaca selewat saja?

Percaya sama aku, dengan pembaca selewat, menemukan momen agar mereka datang kembali dan kembali lagi akan sulit. Kita butuh momen untuk menembak layaknya sniper, yang benar-benar! JLEB! Ini momenku, ayo kita gait pembaca selewat sebanyak-banyaknya.

Jangan terlalu bahagia dengan momen atau topik buatanmu jika yang datang hanyalah orang yang lewat. Kamu akan ingin juga mendapatkan pembaca setia, atau setidaknya, pembaca yang kepo.

Sampai lain waktu!

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

AZRIEL! KAMU KEMANA AJA?

Sebenarnya lucu juga tidak ada orang yang mencari aku, ataupun komentar menanyakan bolongnya One Day One Post ku.

Alhamdulilah traffic blog masih terjamin dengan artikel Arti dari Salut Wakanda Forever yang sekarang telah mencapai view ke 5500 (dan masih bertambah 😉 ). Tiap harinya, artikel itu bisa menjaring setidaknya 100 view, dan jika sedang bagus rejekinya, artikel itu menjaring view diatas 500.

Seperti reader ketahui, Libur Lebaran pun belum beres. Sekarang masih cukup banyak hal untuk dikerjakan, dan aku pun baru hari ini mendapat hari yang tidak berujung denganku keluar rumah. Sejak Sabtu tanggal 9 Juni kemarin, aku belum sempat menyentuh laptop, dan… ya, aku membuat sebuah cerpen pendek (bentar, cerpen tuh singkatan apa ya?) untuk menjelaskan aktivitasku 9 hari kebelakang.

Es Krim Kit Kat

Semua itu bermula dengan es krim. Bukan Es Krim biasa, bukan… Es Krim itu hasil manufaktur Nestle (maaf, aku belum menemukan cara menambah aksen dengan keyboard wordpress). Es Krim itu khusus dibelikan Ibunda tercinta di bulan Ramadhan.

Tanggal 8 Juni kemarin, Bubi pergi ke Supermarket, untuk membeli cemilan malam. Cukup banyak, dan kalau dihemat-hemat ngemilnya, cemilan yang dibeli kemarin seharusnya bisa tahan sampai sekitar… kurasa 4-5 hari.

Aku tidak dibelikan apa-apa. Kecuali satu hal, Es Krim Coklat buatan Nestle tadi, yang merupakan spin-off dari resep coklat wafer sangat enak bernama Kit Kat, diubah menjadi sebuah es krim. Sambil memberikan es krim tersebut padaku, aku diberikan pesan… “Ja, ini es krim buat kamu ya, tapi kamu kalau makan ini bagi buat aku ya…”

Pesan itu menggema di kepalaku. Aku memang berencana membagi es krim tersebut, tetapi ini berarti aku tidak bisa ataupun boleh membuka es krim tersebut tanpa Bubi hadir.

Bukan masalah, kayanya. Masalahnya adalah aku hanya bisa makan ketika tidak ada matahari, dikarenakan aku sedang beribadah shaum…

HMM, itu pun bukan masalah sebenarnya. Langsung saja kumakan, memang sudah jam buka kok, kenapa tidak. Tetapi, hari ini, kurasa aku sudah cukup banyak makan manis, jadi seharusnya aku bisa menunggu besok.

Ternyata itu kesalahan yang sangat besar. . .

9 Juni 2018

Hari Sabtu, pagi hari kita memiliki beberapa agenda, yang termasuk aku memotong rambutku dan lain-lain. Sayangnya pilihanku untuk tidak memakan es krim di hari kemarin adalah opsi buruk.

Jadi, beberapa hari yang lalu, aku diundang untuk Itikaf bersama temanku. Meskipun itikaf-nya sendiri dimulai dari 21 Ramadhan, aku belum ingat untuk datang, sampai tanggal 9 juni kemarin. Biasanya, atau orang-orang pada umumnya itikaf hanya dari malam ke pagi. Tetapi, dengan sedikit bantuan temanku, kita bisa itikaf seharian, dan kita juga dipersilahkan menginap di masjid.

Tentunya ini sangat-sangat memudahkan, proses beribadah, jadi kenapa tidak? Aku bisa menghemat uang untuk gopay, gojek ke rumah hanya perlu dilakukan ketika ingin mengambil baju jika memang kekurangan, atau sudah habis.

Sayangnya, keputusan untuk menginap di masjid sampai H-1 Lebaran ini… membuat aku melupakan es krim kit kat tersebut selama Itikaf. Sama seperti aku melupakan keberadaan blog ini…

JENG JENG JENG!

Selama Itikaf…

Hari demi hari berlalu, Juz demi Juz kubaca, Tajil demi Tajil dinikmati, rakaat demi rakaat dilakukan… Sementara itu.

Blog ini terbengkalai kosong, mendapatkan dinginnya penulisnya yang sedang beribadah, melupakan keberadaan blog ini, tidak mengecek blog ini sekali pun, dan blog ini pun merasakan dinginnya… Kulkas. (Freezer deng), sama seperti Es Krim kit kat yang semestinya dimakan itu, dibiarkan saja. Ketika ada yang membuka freezer itu, atau dalam kasus blog… dilihat, ia hanya berharap tujuannya dapat terpenuhi.

Blog ini tidak diisi, layaknya Es Krim Kit Kat itu tidak dikonsumsi.

OH! SUNGGUH PAHITNYA KEHIDUPAN!

(Catatan: penulis sedang membaca puisi tulisan Virgil, Dante, serta Homer. Tulisannya akan menjadi 20-100 kali lipat lebih lebay sampai ia bosan membaca ketiga penulis tersebut)

Kepulangan dalam Kepergian

Aku pulang… Masih dalam lembayung senja, aku dijemput seorang driver gojek yang baru saja beres sahur dan langsung mencari rejeki mengantarku pulang.

Matahari telah naik, mulai memberi ciuman sinarnya, menandakan ini sudah bukan waktunya lagi untuk makan. Aku yang lelah, sesudah bangun semalaman ingin segera mengganti baju, dan menidurkan diri, sampai pagi setidaknya.

Aku tidak kuat untuk terbangun lebih lama lagi, jadi aku langsung saja membuat diriku tak sadarkan lagi, terbang, melayang dalam alam mimpi (oke, aku gak mimpi sedikitpun)

Paginya, sesudah terbangun, aku harus segera bersiap. Masih banyak hal yang perlu dilakukan.

Mudik.

Mungkin memang sudah telat untuk Mudik, tetapi jika engkau seorang yang pulang kampung ke kota, maka… Ini waktu yang tepat.

Jakarta kosong, tidak banyak orang pulang ke Jakarta. Sebaliknya, banyak orang meninggalkan rasanya kota metropolitan untuk kembali ke akarnya. Menjadi udik, alias Mudik. (ceunah istilah mudik dari situ)

Pergi dari rumah, es krim kit kat belum bisa dimakan, aku pergi dari rumah sebelum dzuhur, dan sampai Jakarta sesudah ashar. Jika aku membawa es krim tersebut, dapat dijamin bahwa dirinya akan lumer.

Sama seperti blog ini, ia kutinggalkan. Meskipun kubawa, aku yakin tiada akan (Catatan: Ia melebaykan tiap kata, dikarenakan… ia ingin melebaykan) waktu dan tempat yang cocok untuk menyelesaikan tugasku.

Aku telah Pulang!

Kembali ke Bandung, aku masih lupa akan beberapa hal. Kita masih punya banyak hal untuk dilakukan, meski dengan mulainya Piala Dunia, tidak banyak waktu yang aku miliki untuk menulis.

Sabtu pagi diisi dengan acara halal bihalal dengan keluarga yang bertempat di Bandung, seharian aku diluar rumah, dan selama aku di rumah… Tubuh sudah lelah, batas manis telah dipenuhi.

Minggu kemarin, bisa dibilang aku bersenang-senang, dari pagi, sampai malam aku diluar rumah. Sekali lagi, tubuh masih lelah, manis sudah cukup.

Aku tak tahan lagi, aku tidak bisa menunda pekerjaan ini lagi. Ini tidak dapat dibiarkan.

Pagi ini, hari dimulai dengan berlari, aku perlu bergerak sesudah makan sebanyak itu selama lebaran (semur nenek memang legendaris, lapis legit miliknya juga).

Sesudah menghabisi buku, aku makan makanan berat, dan aku harus menyelesaikan tugasku.

Rumah karyaku! Aku pulang!

Kesimpulan

WHAT ON EARTH DID I JUST WRITE?

Aku baru saja membiarkan jari bergerak, dan pikiran mengalir menghasilkan apapun yang telah kutulis.

Semoga tulisan itu menarik, dan mampu dinikmati, aku tidak berpikir banyak saat menulisnya.

Sampai lain waktu!

Tale Of A Little Princess…

Tale Of A Little Princess…

This article is a short story about a little angel whose appearance in my life has completely changed it…

Her tanned skin, her sweet smile is so good to me. When I see her face, there’s not a single thing I would change. Cause of course… she’s amazing… (References to Taylor Swift’s Back to December, and Bruno Mars’s Just The Way You Are). She’s so cuteeee, and she fills my day with joy, lifting up days that could’ve been a terrible one.

Also it’s written fully in English since Mimicry is indeed a thing… And also, since… I wanna be poetic, and I want to sound sweet starting about… now (excluding the words inside the parentheses). What kind of disappoints myself is that I don’t have enough of a capability to wrtie in a poetic and sweet way using my mother tongue… I apologize…

At The Beginning…

(Once again I referenced a song, since… yeaaah…)

It was a Friday afternoon, my house felt rather warm, but at the same time, after opening the gates to my house, all I felt was a chill. The door was a bit harder to unlock, and I think a hear a little grunt. And it really did scare me. What was I supposed to do…

I entered my parent’s room, and I saw 2 women wearing Hijab, one of them is a familiar face, I’m guessing it’s Bubi’s friend who is also a midwife, I forgot her name, and the younger one is her assistant. My mother was yelling. Without needing to see her face, I could imagine (FYI, I couldn’t) the pain she’s going through.

She was pregnant. For about 8 months at the time… Morning that day she told me that it was her anniversary, her 12th to be precise.

Babah was there too, calming my mother, who is currently fussing… a lot. More than I’ve actually ever seen her do.

It was a rather short afternoon, as I couldn’t really remember what else happened rather than those short glimpses of memories, passing through me…

Later that night, I saw my father order some food, which was something that did cheer me up, I was simply hungry… Apparently something else got delivered before the food arrived.

YEP, a little princess was born. . .

When she was born, the food arrived. I took it, ate a bit since I don’t think I was allowed to enter the room without a cue, after a few minutes of eating, whilst listening to the compelling music of my sister’s cries, I was told to come in.

Anyways, she was still kind of crying? I wasn’t really sure, she does yell a lot nowadays, after seeing 3 year old Sister yell, I doubted whether that was a yell or a cry.

She looks… chubby, and cute. She’s got a caramel colored skin, the way she “colors” my life… She’s still got no clue who the heck is this guy, and who am I? She just experienced underwater birth, then she touched air.

After cleaning the pool up, that’s used to give birth a little girl. I ate and It tasted good. But it got interrupted once in a while by “Congratulations!” from the phone… Apparently internet did its job and enabled news to travel quickly.

Oddly enough everyone that Babah (my father, in case you don’t know), contacted was… not told that she’s born. Especially Bubi’s mother. NO, she’ll freak out when she figured out that her daughter just gave birth… in her own house.

Babah just said that Bubi wants some company to my Mother’s side of the family. And onto his side of the family, Babah frequently answered the question “No, she gave birth in our house”.

Well that night I didn’t sleep at my house, no… I got separated from the newly born angel which apparently changed my life. Not like most people, who not only said congrats to me, but also said… “Don’t be jealous”.

Why would I be jealous? Can’t anybody see I’m mature enough to not be jealous? (FYI At the time I’m not really sure). Now, probably I won’t ever get jealous. Hopefully, never. . . . . (No, I wasn’t talking about Alice, or anyone in particular, don’t ask)

Joy, and stuff other than Joy…

It was at this point that I completely realized that… Okay, don’t try to be Poetic Azriel, you REALLY couldn’t hold yourself from being poetic…

So, from her birth I was the first one to make this chubby little princess laugh. (HAHAHAHA JOKES ON YOU BUBI! Sorry, I was being competitive) she usually laughed to the word… Potato. Which was also a reason that I wrote about potatoes on that series.

In case you don’t know yet, this little princess began eating by herself at the age of 6 months. That expression when she struggles to eat her food isn’t found on kids who needs to be fed. As a mother it was Bubi’s job to make sure this girl gets the choices that suit her best. And this was the choice she made.

She grew, slowly, but… also in a cute way. Looking more sweet, acting more cute, and apparently, she’s got a fascination for a certain animal with a tusk and trunk.

Still adorable. She’s grown up to an age of 2, and … a lot of months, until she could walk.

The hesitance on her face before trying, the smile and cheers of everyone when she’s finally done it. It’s very nice to see something as cute as THAT! Every time she laughs, my heart glows a little, every time she cries… I tease her, since it’s cute when she cries . . . (I was being funny…)

Okay so an explanation of feeling isn’t my strong suit.

I guess we shall move on to her troubling times…

This Girl…

Like most girls I’ve met, this girl is apparently very scary, and at the same time she really can be mad. As a matter of fact, some girls do look a “bit” cuter when they’re… mad… (NO NOT BUBI, A mad mother is the third worst thing after a Zombie Apocalypse and an error in the timeline). Umm on topic.

She’s actually a very possessive.. and hard headed little girl. Yes, even for a little girl, she’s already possessive. Anything that belongs to her, nope, I can’t have it… I don’t really mind, she’s still cute, and her laughs, and curly hair has managed to cheer me up everyday.

However, there must be a storm (or rain, at the very least), to create a rainbow. Without the bad times, like her constant teasing, or often times, possessiveness and her certain reaction when she’s mad, there won’t be the good times like her hugs, her smiles, and her certain curiosity with my stuff.

So, yes, I do have bad times as a brother, even with… this amount of age difference, but that doesn’t mean I don’t have good times either.

Babysitting

As she grew up, the more I have to commit to her, willing and wanting to take the time to talk to her, wanting to tell her a story, and of course learn about the story before telling her about it (FYI, I read about Chinese Mythology, and Hercules’s 12 labors, just to find the simplest, most child friendly version that I can sugarcoat for her).

I do enjoy having fun with her, it’s the times like this, those where I put some effort into to get the most of these precious seconds that flows faster than the waves reaching the shore.

Her activities at the age of 3 is a lot! It’s not rare that Bubi has a rather busy schedule so I’m going to have to take care of her, taking her to her activities. I’ve actually taken her to a music class, a drumming/percussion class, a book reading with children activities in it, and a few more.

Of course I do this for free (most of the times) like a good brother should. But I’m not just taking care of her because I was told so, I also took care of her because I do enjoy taking her. Her activities are fun and I think she deserves to be taken to those activities, because she deserves the best.

Babysitting is a common thing to do… And trust me, if you’re able to take care of my sister, taking care of Jack-Jack, the son of Mr. Incredible would be less of a challenge. She’s troublesome, and sometimes she teases her friends to conflict, or oftenly she also gets hurt. If you took care of the problem incorrectly with her, you’ll end up making her cry.

You need to have a lot of tricks up your sleeve to be able to take care of her. She’s a handful…

In Conclusion…

As usual, even though at first I wanted to make a short story, I kinda failed at that, but still, I do hope you still like it.

Anyways, just so you know, this was written in a way with a hidden meaning behind it, but we’ll save that for AFTER the quote.

This article is a birthday gift to the little princess that was born about 3 hours ago, at this day, during the year of 2014…

Happy Birthday Alice!

I’ll let this quote conclude for you.

If you don’t know where you’re going, any road will take you there -Cheshire Cat

Oh dear, WordPress is having issues with image uploading again… I’ll edit it out as soon as the problem vanishes the way Cheshire Cat vanishes, for now enjoy the text.

The Cheshire Cat is my favorite character in Lewis Carroll’s Alice in Wonderland…. OH LOOK! Same name as my sister! (Yeah it was an obvious thing by the way)

So, The Cheshire Cat is a bit mischievous, and a bit… well he’s helpful, unless he’s not…

Now, I really like that quote because it really does symbolize life, and in a shorter case, this writing.

I began writing hoping to actually be able to write a short story. Which I failed, so I changed my course, following the rhythm of my actual writing, and hopefully, I succeeded. I just followed the flow and found an ending, as well as a way out.

Life is the same, although you can’t always follow the path you wanted to follow in the first place, you could always prep yourself to choose wisely. . . and let the road take you to where you wanna be.

Hope you enjoyed this article! Until tomorrow, Stephen Hawking’s life would be discussed here, what a great coincidence that he died at the same day as Einstein’s birthday, and my sister’s birthday as well…

Goodbye!

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Disclaimer: My opinions are not from a professional, but it’s considerable. Also, consider this a debate, and if you disagree, do comment your arguments.

Introduction:

Most teenagers in this century, or also known as the millennial generation, are commonly referred to as natives in technology, whether this is a good thing or not is debatable, as it depends on the common usage of technology by teenagers. As for the children born in this century, after seeing some of them, I personally think their parents are misusing technology to parent these children using a gadget, which is definitely not a good thing.

Teenagers:

Tech Savvy Teenagers, Is it true?

Firstly, I don’t think that most teenagers in Indonesia could comprehend how a program even works, and their knowledge is limited to using software, while it is still possible to learn how software could work. Sure, they check social media much more often and are way more updated in terms of information. But do they really stand out in terms of things other than usage? I’d answer no.

They might send like a hundred posts a day on Instagram, or make a million amounts of stories in a month. Adults still could do that. They just don’t want to, or maybe they don’t have the time. Yet us teenagers, those that do have the time, spend it posting selfies, or looking for memes on Instagram, who by the way is also too lazy to look for funny memes in the right place… Reddit. Unfortunately, Reddit is blocked in Indonesia, so if you want to look for memes there, you need a VPN, which would take time to set up, and not many teenagers even know how to set up a VPN service.

For example, a common thing I see from my elementary school friends, now in Middle School is using filters, to have a doggy ear and tongue, of which I disapprove cause… EW! what’s that? Do you know how that even works? I haven’t really asked anyone whether or not they know how this works, but maybe if I have time I’ll give it a shot at researching this. Without any research, I’m sure a majority of users don’t even know how that works.

To me just the ability to use something does not really mean comprehending, and so, teenagers (the common one) have a slight advantage when compared to the non-Tech Natives

Their slight advantage comes from their more updated ability to keep up with the latest news, and of course, younger brains work faster. In fact, I’m sure there are much more adult programmers than younger ones.

“Socializing Via Nongkrong”, Is It Still True?

Honestly, this isn’t a myth, it’s my observation… First of all a bit of an apology from me cause I used the phrase Nongkrong, which isn’t formal, but since this website post isn’t supposed to be that formal, I’ll keep it that way.

In the 21st century since phones have been invented, well, I’ll let a popular biscuit logo talk, and tell you about it.

This is supposed to be a joke, but somehow I think it’s true… Also, not my image, found it online, Babah told me that awhile ago and I remembered about this article, so I thought it’d be a fun correlation.

Now, when Bubi was a teenager, she did say she liked to hang out with her friends a lot, and I can’t really blame that, I mean they are teenagers. But back in Bubi’s time, they used to spend their time talking, and at the very least, they’re still involved with one another, meaning they are socializing, regardless what kind of topics they are actually talking about. The social interaction still exists.

Now, that Khong Guan image will become a fact… As I’ve seen with teenagers, they end up playing with their phones, doing a separate activity, and ignoring each other. Almost every High School student, or some Middle School students ask me how I socialize, and how many friends I’ve got. If I wanted to be a jerk, which is bad for image, and might prove them right, I’ll tell them, I’ve got friends that I do socialize with when we’re together, even when we aren’t we still talk, and I have friends I actually talk with. Sorry… i don’t mean to be rude, but sometimes, people do things without even knowing a bit on the subject.

Bubi told me several times why hanging out is now pointless… It’s phones, blame them, PHONES ruin the definition of socializing and playing for teenagers. OK, well I don’t do sports, but seriously, you’ve got friends, talk to them, don’t chat with them. The ability and wording while writing and speaking in a direct conversation is clearly different, if we don’t stop to talk, then teenagers would just lose the ability and life skill to properly form words in a direct conversation.

So, thanks to phones, we’ve just lost one possible activity, that could’ve been a discussion of ideas, and could be something useful. Thanks a lot! (of course, I’m not ignoring the function of smart phones entirely too, they are still useful)

Children:

Does YouTube Really Teach Children?

Okay, first of all, I hear lots of parents make excuses when someone tells a parent that YouTube is bad. Some of the excuses include that they learn about science and other things when watching YouTube. Let me ask… What would a 3 year old or maybe slightly more, like a 4-5 year old, would really benefit from YouTube? They don’t need science yet right? Besides, long term memory (on most children) won’t stick too well until you are about 6.

For the record, Alice never watches YouTube, yet she plays board games fairly well, has a lot of words in her vocabulary, is very active as a child, and loves reading books.

When I meet babies around her age, I immediately see a difference between those that do watch YouTube, and those who don’t. Hold on, before some of you say that it’s just their personality, some versions of developmental psychology states that children are empty slates, and every action we do is basically drawing on that slate, giving them personalities.

Those might be some personal examples, but if we are talking on a more scientific and global way… in case you didn’t notice, the amount of people with Speech Delays has risen up a lot this century, and if we look at the most important inventions people use for children in this century, its Gadgets, and GMO Foods. Blame GMO? Okay, I can’t really correct opinions, but I mean, not everyone eats GMO, but a majority of people uses YouTube as a parenting method.

So, does YouTube really teach children? Nope, think of a better argument to give gadgets to a child, don’t say it’s educational until you really have proof it’s educational.

Maybe YouTube parenting isn’t as bad as the Greek Gods and Titans when they are parenting, but it’s probably just under the list a bit.

You Don’t Want This… Trust Me

Negative Effects of YouTube Parenting

So, I have shared my basic argument on this subject, but what are the negative effects?

So, in the 21st century, a lot of things have changed in terms of children growth, and speech delayed, and tantrum-y children have risen up in numbers, I believe it’s YouTube parenting’s fault, but again, assume it is a debate and disagree with an argument.

Now, a couple of talks with Babah and Bubi, reading Psychology books, and observing some of Alice’s friends, have given me some of the negative effects, based on my opinion, with a supporting agreement to accompany.

  • Speech Delay
    • Delayed Speech is pretty straightforward, usually, if a child couldn’t speak at the age of 3 or 4, or lacks vocabulary and pronunciation skills.
    • YouTube doesn’t teach proper pronunciations, and is often times meaningless, unlike reading a story book to your child.
    • YouTube’s constant changing pictures really distract your child from focusing on the meaning, so even a good video; can really disrupt linguistic skills growth.
    • YouTube is a one way conversation, the child watching YouTube doesn’t even have to say a word, or interact with it to gain full benefits, in fact, the video amounts on YouTube is endless, a child could watch all day without a problem.
  • Loss of Appreciation on Things
    • A child would begin losing appreciation on anything unlike YouTube; they would dislike anything because they have insanely high expectations on entertainment.
    • YouTube is fairly memorable. Children would see YouTube as their basic standard of entertainment. Anything not YouTube is ugly, because YouTube itself is already something very eye-catching.
    • So, this means after a child is addicted to YouTube, then chances of rehabilitating that would be hard.
    • For adults YouTube is more OK (I didn’t say this is a good option, just an OK source of entertainment) because we already have a general view on nicer and less nice things (I meant this as in quality)
  • Less Active Children
    • This doesn’t always lead to bad things, as some basic personality could affect this and make children more silent and quiet. But most children affected by YouTube tend to be less active and move less than those who don’t.
    • Let’s say being an active baby is like doing a job. While being an inactive baby that can lie down and watch YouTube all day is basically a lazy day for employees. If you’re the baby, what would you choose? Don’t lie, of course you would be lazy and chill if it is possible.

Conclusion

Well, firstly, thanks a lot for reading, I might want to start on the fact, I’m a bit sorry this article is pretty short, regardless, I hope it’s useful, if you disagree with me, please leave a comment down below, and don’t forget to subscribe to our newsletter.

OK! That right there is how YouTubers usually close a vlog… (I watched a bit of YouTube, usually those regarding Superheroes, I’m a geek). Now, that, cannot be implemented on a writing or a conversation can it? Of course not, the wording should generally be different, and that just won’t work.

The future isn’t gonna be filled with robots who do the work for us, people would need to interact with each other, and one way conversations, or chatting just won’t work when you want to speak in public, or have a presentation. I personally don’t see a single possible reason why teenagers are actually wasting their time in social media, and doing their definition of socializing, but don’t change the current definition, please just do not.