Category: Bubi

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

“A person’s maturity consists in having found again the seriousness one had as a child, at play.” -Friedrich Nietzsche

Baru beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah link ke Jurnal berjudul, The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent, Peter Gray dari seorang guru, mentor yang begitu dekat di hati saya.

Saya perlu menulis karena yang saya dapat dari jurnal tersebut, sangat mencerahkan, dan rasanya terlalu penting untuk tidak dibagikan. Jadi saya memberanikan diri untuk menulis hal-hal yang “gold” dari jurnal tersebut dari kacamata saya tentunya.

Kalimat pertamanya saja buat saya sudah istimewa. Ini kalimat pertama dari isi jurnal, “Children are designed, by natural selection, to play”. Sounds about right, ya ga sih?  Anak-anak selalu mencara cara, menemukan kesempatan, untuk bermain, dan ini dilakukan oleh anak dimana saja di belahan dunia manapun, dan sepanjang sejarah, anak-anak melakukan ini. Fakta ini diperkuat dengan hasil riset antropologis, bahwa bahkan pada kebudayaan berburu pun, anak-anak bermain, setiap hari, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, bahkan saat mereka memasuki masa remaja, dan lewat bermain ini mereka mendapatkan skill dan sikap yang diperlukan untuk masa dewasa.

Photo from China Daily

Photo from DW

Dalam jurnal ini, kegiatan bermain mengacu pada FREE PLAY, yang diartikan oleh penulisnya sebagai  (saya menerjemahkan dengan sederhana saja ya), aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini. Penulis meyakini bahwa manfaat free play bergantung pada self-directed dan sifat intrinsic nya (nanti si intrinsic ini akan dijelaskan lebih jauh di bagian selanjutnya).

Terus ketika membaca ini, saya mikir, hmm betul juga, anak-anak jaman sekarang kalau main ya diatur sama orang dewasa, mainnya dimana, kapan, bagaimana, bahkan ga jarang ketemu anak yang nanya, “ini mainnya gimana?”, sama orang dewasa di dekatnya. Esensi FREE PLAY semakin menghilang, berkurang, bahkan pada beberapa kondisi, lenyap. Saya suka karena ketika membaca jurnal kaya data ini, saya menemukan benang merah keterkaitan tentang pentingnya FREE PLAY itu sendiri.

Manusia berkembang dari masa ke masa, perubahan jaman yang terjadi dari masa berburu menjadi masyarakat bercocok tanam, mengurangi kesempatan anak dalam bermain. Pada masa bercocok tanam, anak-anak menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja, biasanya pekerjaan domestik atau pekerjaan di ladang, lalu dengan revolusi industri, anak-anak bekerja di pabrik. Tapi, ketika mereka mendapat kesempatan –dan anak-anak menemukan kesempatan-kesempatan ini- mereka akan bermain, dan pada masa tersebut, mereka bermain dengan bebas, tanpa pengarahan orang dewasa.

Awal abad ke-20 adalah masa keemasaan bagi unstructured play, ini ditulis oleh Howard Chudacoff, seorang profesor sejarah, dalam bukunya the History of Play in America. Dan unstructured play menurut Chudacoff berarti main yang strukturnya ditentukan oleh anak-anak sendiri, dan bukan oleh orang dewasa, jadi ini berhubungan dengan istilah FREE PLAY ya.

Meskipun ruang lingkup Jurnal ini adalah Amerika, tapi hal-hal yang saya baca di jurnal ini sangat sesuai dengan apa yang dialami masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat menengah keatas di kota besar). Hal yang sangat nampak, adalah menurun drastisnya anak bermain diluar ruangan dengan anak lain. Dimasa saya kecil, rasanya wajar main diluar sepulang sekolah, atau bahkan main sepanjang hari kala libur. Kala saya kecil, saat libur saya dititipkan ke rumah Akung, bersama sepupu-sepupu saya, dan sepanjang hari kami bermain. Main yang seingat saya memang tidak jelas, mainnya main apa, main ibu-ibu, kantor-kantoran, masak-masakan, piknik-piknikan, main di balong, jalan kaki ke pendopo (ini dari rumah sekitar 3km, dan kami anak-anak berjalan bersama tanpa didampingi orang dewasa), dan banyak lagi yang saya juga tidak ingat. Tapi, kami bermain bebas, keberadaan orang dewasa kala itu sangat tidak signifan dalam urusan main, orang dewasa hanya memberi kami makan, dan mengingatkan kami untuk mandi, itu saja. Main menjadi urusan kami yang anak-anak.

Saat ini, bahkan di jalanan tempat tinggal kita, sudah semakin jarang kita melihat anak-anak bermain diluar. Kala kita melihat anak-anak main diluar maka akan ada orang dewasa yang hadir memberikan instruksi ini dan itu. Tidak jarang ketika saya berkunjung ke taman atau hutan kota, segerombolan anak-anak ada disana dengan dipandu dan digiring oleh beberapa orang dewasa, kebebasan untuk bermain sudah berkurang, bahkan hilang. Anak-anak mengikuti dengan pasrah apa yang dikehendaki oleh orang dewasa, dan bahkan ketika ada teman bersama mereka, mereka tidak berdaya untuk bermain bersama anak-anak lain, karena ada rencana orang dewasa yang memandu kegiatan mereka.

Data yang didapat dari jurnal, anak-anak bermain lebih sedikit pada tahun 1997 dibandingkan tahun 1981, dan bukan hanya itu, anak-anak juga memiliki lebih sedikit waktu senggang untuk melakukan kegiatan yang mereka pilih sendiri. Sebagai contoh, pada usia 6 hingga 8 tahun, riset menunjukkan penurunan 25% dalam waktu yang dihabiskan anak untuk bermain, dan meningkatnya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi. Bahkan waktu yang dihabiskan anak untuk berinteraksi dengan orang dewasa di rumah pun menurun, angkanya mencengangkan 55% penurunan. Yang meningkat adalah waktu mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, meningkat hingga 145%, bayangkan bila pada tahun 1981 anak menghabiskan waktu 1jam untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, maka 18 tahun kemudian, pada 1997, seorang anak menghabiskan 2,5jam.

Data sebelumnya didapat dari riset yang dilakukan jajaran sosiologis di University of Michigan, dalam studi tersebut bermain juga termasuk main di dalam rumah, seperti bermain permainan komputer, board game, dan juga bermain diluar. Pada tahun 1997, di Amerika total waktu anak bermain dengan permainan komputer adalah 11 jam seminggu. Bayangkan, dengan meningkatnya jumlah kegiatan yang bisa dilakukan anak dengan layar dimasa sekarang ini, bila dihitung-hitung berapa jam mereka habiskan di depan layar? Dan waktu tersebut adalah waktu yang akan lebih baik bagi anak untuk dihabiskan diluar ruangan, bermain.

Dalam studi lain oleh Rhonda Clements hampir 1 dekade lalu, dengan menggunakan sampel 830 orang ibu dari seluruh Amerika Serikat, ditemukan bahwa 83% ibu setuju bahwa anak mereka (usia 3 hingga 12 tahun) bermain diluar lebih sedikit dengan masa mereka dulu. Hasil studi Rhonda Clement ini juga sesuai dengan hasil survei yang dilakukan di Inggris. Fakta yang menurut saya sangat relevan dengan Indonesia saat ini. Bila saya bertanya pada sesama orang tua, 9 dari 10 akan setuju bahwa dulu mereka lebih sering menghabiskan waktu bermain diluar ketimbang anak-anak mereka saat ini.

Menurunnya angka anak bermain di luar seringkali TV dan kegiatan komputer serta kegiatan berbasis layar lainnya lah yang seringkali dijadikan kambing hitam. Dalam riset Clements, 85% ibu memilih TV dan permainan komputer sebagai pilihan kegiatan bagi anak mereka alih-alih bermain diluar. Dalam survei, para ibu mengatakan bahwa mereka sendiri memberikan batasan bagi anak untuk bermain diluar, dengan 82% ibu mengutarakan bahwa masalah keamanan menjadi perhatian utama mereka menghindari anak-anak bermain diluar ruangan.

Orang tua sekarang merasakan lebih banyak ketakutan membiarkan anak bermain diluar ketimbang orang tua mereka dulu, dan media memiliki peranan menghadirkan rasa takut tersebut. Saat ini, bila ada kasus penculikan, pelecehan dan penganiayaan seorang anak dimanapun, kejahatan tersebut mendapat sorotan media yang tinggi. Pada kenyataannya, kasus-kasus tersebut sangat sedikit dan jumlahnya menurun. Namun, orang tua percaya sebaliknya. Ini didukung oleh data yang didapat IKEA melalui survey bahwa alasan utama orang tua tidak mengizinkan anak bermain diluar adalah keamanan anak dari predator seksual 49% dan sebagian lain khawatir akan kendaraan serta bully.

Berdasarkan survey ikea dengan mayoritas responden merupan responden internasional, 54% orang tua menyatakan bahwa anak mereka PALING BAHAGIA ketika sedang bermain diluar. Dan hanya 19% orang tua yang mengatakan anak bahagia kala bermain permainan elektronik. Dalam studi itu juga ditemukan 89% anak lebih menyukai bermain diluar dengan teman, ketimbang menonton televisi. Serta dalam survey online, pada rumah dengan akses komputer dan internet, 86% anak memilih bermain diluar dibandingkan menggunakan komputer dirumah.

Salah satu penyebab lain menurunnya kesempatan anak untuk bermain adalah, meningkatnya waktu dan beban persekolahan, serta kegiatan yang diarahkan orang dewasa (adult directed activities). Kalender akademik menjadi lebih panjang, hari sekolah menjadi lebih lama, bahkan semakin banyak anak-anak yang menjadi bagian dari kegiatan prasekolah yang berbasis akademik. Membaca ini, saya berpikir jauh tentang kegiatan di sekolah Alice, yang 80% nya adalah FREE PLAY. Serta bagaimana tim akademik SD Arunika berusaha mengatur ritme yang menyediakan waktu istirahat yang panjang bagi anak-anak, bayangkan dalam 4 jam waktu bersekolah ¼ nya adalah waktu istirahat bagi anak-anak. Yang terjadi kala waktu istirahat di sekolah Arunika, adalah anak-anak ngobrol, main, bahkan berkonflik, dengan semua ini anak-anak juga mendapatkan banyak manfaat.

Jurnal masih panjang, tulisan ini bersambung yaaaa..

127 Hari Tanpa Smartphone

127 Hari Tanpa Smartphone

The human spirit must prevail over technology. –Albert Einstein

Kalau 129 hari yang lalu saya ditanya apalkah bisa hidup tanpa smartphone selama 100 hari atau bahkan 30 hari atau mungkin 1 hari, kala itu jawaban saya pasti “tidak”. Tapi hari ini ternyata sudah 127 hari terlalui tanpa benda kotak yang luar biasa pintar itu.

Sebelumnya, saya pikir punya smartphone pasti memudahkan hidup, semua serba mudah, dan bisa membuat waktu jadi efektif. Ternyata kenyataannya berbeda ya. Dan baru terasa saat betul-betul si smartphone tidak lagi saya miliki.
Saat ini sudah lebih dari 60 judul buku yang selesai saya baca. Angka yang luarbiasa bila saya melihat 5 tahun terakhir dimana paling 1 buku bisa saya selesaikan dalam 1 bulan, karena si smarthone lebih banyak menyita perhatian saya, Smartphone lah sumber entertainment saya. Akhir-akhir ini, buku lah sumber kesenangan, puas sekali membaca satu demi satu dan selesai dengan cepatnya.

Dulu, mau pergi kemana-mana, pasti saya cek google map dulu, sekarang ya mana bisa. Maka saya pergi saja menikmati rute ala kadarnya berdasarkan intuisi dan itu cukup. Beberapa kali juga saya nyasar, lalu ya lakukan dengan cara lama, tanya sama orang lewat tentunya. Kalau kena macet berarti baru saya pakai telepon-tidak-pintar saya untuk menelepon pakjek dan tanya “ada apa sih ko macet banget”.

Oh iya, saya paham kekhawatiran orang-orang, bahwa tanpa smartphone maka akan susah dihubungi. Sebetulnya tidak juga, saya tetap bisa di sms dan di telepon. Tapi memang sms dan telepon tidak senyaman chat di Whatsapp atau ngobrol di grup WA misalnya. Akhirnya betul-betul kalau dibutuhkan baru seseorang akan mengkontak. Minimalism kan. Sejujurnya itu juga hal pertama yang saya rasakan tanpa smartphone. Dulu kayanya orang-orang itu apa-apa nanya yaa. Apa-apa saya juga ingin memberi komentar dan mendapat komentar, sekarang sangat berkurang.

Ini belum membahas tentang ‘social media’ tanpa smartphone saya ga bisa banyak intip-intip socialmedia. Saya juga ga tau banyak tentang tren terbaru, gosip terbaru, apa yang lagi keren saat ini, dan seterusnya. Saya masih suka intip sih via laptop, tapi yang bisa dilakukan di laptop terbatas ya. Jadi ya keponya juga terbatasi. Seru kok. Buat saya tren mah ngga terlalu pengaruh karena saya masih setia dengan pakai baju merah kemana-mana, modelnya ya ga penting.

Telepon genggam manis saya yang baru warnanya merah, setelah 1 bulan tidak pakai smartphone baru saya membelinya. Jadi 1 bulan pertama saya tidak bawa telepon apa-apa, ternyata nyaman nyaman saja kok. Kadang mikir juga gimana kalau ada “apa-apa” di jalan, ya aklau itu terjadi saya tinggal cari orang terdekat dan pinjem teleponnya. Gitu aja kok repot.

Setelah 1 bulan, saya membeli telepon genggam lagi, tapi saya sudah berniat untuk tidak beli smartphone. Telepon genggambaru saya tidak pintar tapi sebetulnya cukup pintar juga, bisa dipakai telepon, bisa buat kirim dan terima sms (maksimal hanya bisa simpan 20 sms, kalau lebih maka sms lama harus dihapus supaya sms baru bisa masuk), ada kalkulatornya (bermanfaat sekali buat hitung-hitung), ada kamera juga (meski hanya bisa simpan 6 foto saja dan hasil fotonya cukup banget buat layar hp saya), ada bluetooth (saya pernah coba kirim foto dan sukses lho, memang menghabiskan waktu agak lama, tapi bisa), ada games snakes yang lumayan seru (kalau bosan bisa juga main ini). Semua fitur ini cukupan lah buat saya.

Dirumah masih ada laptop, yang seperti sekarang ketika saya mau “kerja” ya masih support. Saya masih mengerjakan jualan pasir online (bisa banget lho, di laptop juga bisa), saya cek laptop biasanya 1 atau 2x sehari, dan itu cukup. Email-email yang masuk juga saya kelola pakai laptop. Diluar itu juga saya masih bantu-bantu “bikin” sekolah. Sekolah Arunika yang dirintis dan diupayakan bersama banyak teman-teman lain, jadi bagian keseharian saya juga.

Dulu smartphone itu saya pegang paling awal ketika bangun tidur (bahkan pada saat mata belum membuka sepenuhnya) dan jadi benda terakhir yang saya pegang sebelum tidur (jadi kalau mau tidur liat smartphone dulu sampai puas baru lepas contact lens dan tidur). Itupun kalau tengah malam kebangun, ya yang dicari pertama tetap smartphone, duh sungguh parah sekali ya saya ini. Sekarang peduli amat si telepon manis yang tidak terlalu pintar itu seringkali saya lupakan, karena ada banyak hal yang lebih penting yang saya kecup sebelum tidur dan saya peluk ketika bangun. -AdminBubi

Waldorf Middle Senses

Waldorf Middle Senses

“Waldorf-ians” (take my mother, for instance) believe that a human being has more than 5 senses. In fact, they have 12 senses. These senses are divided and separated onto 3 different categories, Lower, Middle and Higher. Each category has 4 different senses inside of them, each with different functions and levels of sensitivity.

Apart from that, each sense has a quality linked to them. The qualities of these senses are a representation of the sense’s real life interpretation.

Well, earlier today, precisely in the morning, Bubi told me to translate some sheets of paper, filled with writings about the middle senses. So, since I do still owe this site and its dearest readers 5 writings during my… trip, I think it’s a good idea to save some writings by posting this.

Matter of fact. the italic stuff from the first Middle Sense discussed today would be my commentaries, and the rest are raw translations from Mother’s writing.

So, let’s just start sensing… stuff… by going to the article.

Smell

Children are born without the ability to differentiate smell. We, as adults should be the ones to take our children to things that smell good, and avoid those that don’t

Babies are born with a very sensitive sense of smell, based on research on children at the age of eight, their sense of smell will remain the same until they’re around the age of 15.

A research that was done by la leche leaque supports mothers to initiate early latch on breastfeeding, immediately after birth without doing any form of cleaning to the baby.

There has been an experiment that babies will have a sensor to smell their mother’s breast, when one of the 2 breasts are cleaned, 24 out of 30 babies choose the breast that wasn’t cleaned.

Children need lots of experience with a diversity of smells through exploration, with many different smells, a child can feel a life that is meaningful, giving life to soul.

Research also shows that there is a part of our brain that can only be stimulated by scent. Our sense of smell is playing a huge part in our memories and emotions. This is caused because the first scent that we could smell is caught by the olfactory bulb that starts from our ears, and runs through our lower part of the brain.

This olfactory bulb also has a direct connection with our emotions and memories that are controlled by our amygdala and hippocampus.

What’s interesting is that visual, auditory and tactile stimulations do not pass through this area of the brain.

The quality of our sense of smell is Compassion, which might seem less meaningful should we choose to translate it onto Bahasa Indonesia, so I won’t translate it.

Compassion is the feeling that drives us to do something, to help, or to act. Our sense of smell has a deep connection with our feelings, and is also our window that moves us to do something.

It’s a bit confusing. I still couldn’t quite completely understand this sense among the other 12 senses, and how its quality could be compassion. However I do understand that if we smell something that tastes bad, we’d basically avoid it, and sometimes we’d feel that that thing is literally pushing us away from it, purely because it smells bad.

So… the sense of smell really does trigger us to do something faster than other senses would.

Taste

The sense of taste are most easy to recognize through our mouths.

Through sensations that are felt by our tongue, we know sweet, salty, sour and bitter flavours.

The flavour sweet is enjoyed as something delicious and special. The bitter flavour on the other hand is commonly avoided and is deemed something that is less fun.

In our lives, we also know taste. The sweetness of life refers to the fun experiences, while the bitterness of life often describes bad things, those far away from fun.

Then we also know the saltiness of life, as an image of our lives that are filled with stories and full of diverse experiences.

We also accept taste as an image of what’s happening inside of us. Through tasting, we determine our attitude. Specifically with what we feel inside of us.

Taste awakens the “I” inside of us, or in fact, the other way around.

Kids are more sensitive with flavours, even babies, whose mother is feeling sad, then babies also tend to be more demanding and fussy.

Through breastfeeding, babies could taste the many flavours of food. Even kids should grow up enjoying the many flavours of food.

Taste is relative. Not only in food, because not everyone likes the same flavours of food. Some people like spicy food (which like I said before in this article, isn’t a taste, it’s a sensation), some people prefer sour foods, and actually its relative, like everything is.

Bubi told me that taste also determines what our people see in us, because of course, different people have different taste in clothing, color, and… girls (or guys). Well, taste is determined with a form of experience as well, I kinda guess… (not really sure, this form of knowledge is like philosophy, but a bit more complicated).

All and all, taste is what I deem an intriguing sense, because it really does correspond with both emotions and the physical realm, like… you know, the universal mind, and other philosophical stuff. Waldorf-ians (NOT AN ACTUAL TERM) really do know how to make me feel and sense stuff.

Sight

The quality from the sense of sight is Honesty.

The eyes are said to be the windows to our soul. Through staring at one’s eyes, we can start too believe, and feel whether or not he (or she) is honest.

The eyes are also the core of morality and they are capable to build ones character.

The eyes develop our consciousness, as we start judging. But out sight only functions as a superficial object, with limited capabilities. Oftentimes we judge something not by its truth, but what we saw.

Our sight is also very limited, if we focus our sights so quickly, everything around us will look like a blur.

Seeing might be thought of as believing, but it isn’t. Especially in Waldorf education, relying on your sight alone won’t be enough to detect emotions, there are many other senses to “convince” you to believe something.

Although questionable, seeing is believing isn’t really that incorrect, because you’d only actually believe something after you see it, and in terms of honesty, we do believe someone after seeing them. Note that this is still oftenly affected by other senses as well.

Warmth

We could easily recognize the temperature of an object. Our touch, and our whole body could recognize whether the object warm, hot or even cold.

Apart from the temperature that we touch, we could also know warmth through what we feel. When we enter a room, we can judge whether it feels warm (accepting our presence), or cold (rejecting our presence).

Of course we would be reluctant to enter a store that gives us a cold sensation, as if everyone inside that store rejects our presence. On the other hand we feel comfortable going inside a room whose warmth could be felt, making us feel more welcome.

It’s pretty obvious that if we feel more warmth inside of a room, we’d want to go in there, and we’ll actually enjoy the vibe. Although there are times that I think it’s a bit tricky to get the coldness and warmth ratio to be… just right

In Conclusion

In Conclusion… I am sort of out of words right now.

Well, I guess it really is up to us to conclude, because if I recalled precisely, Waldorf Education doesn’t really teach its students or future teacher the conclusion of a subject. It is all up to you to conclude, and no conclusion is right or wrong.

So, here we are, up to you what do you want to conclude from this article?

(This is DEFINITELY NOT! an excuse because I’m far too out of words to actually conclude something, definitely NOT)

Pencil Grip

Pencil Grip

Neneng masih kurang baik dalam memegang pensil (atau spidol, crayon dan macam-macam alat tulis lainnya). Oleh karena itu, Bubi mulai cari-cari apa ya yg bisa dilakukan utk memperbaiki.

Dulu ketika Jaja berusia 4th, untuk koreksi pencil grip menggunakan alat bantu karet yang dipasang diujung pensilnya. Ini gambar alat sejenis yang Bubi temukan di tokopedia.

Untuk Neneng mungkin nanti bisa menggunakan alat serupa. Tapi saat ini Bubi menggunakan fingers sock untuk membantu. Dengan menggunting sedikit di bagian atas dan samping kaos kaki bekas Neneng.

Kemudian Neng memasukkan tangannya kedalam kaoskaki dan mengeluarkan jari telunjuk serta jempol. Baru memegang pensilnya. Seperti ini

Panduan tentang kemampuan anak memegang ada dalam tabel yang diperoleh dari pinterest. Memang ada beberapa anak yang sudah memiliki grip baik diatas usia pada tabel. Tapi untuk yang belum, semoga bisa mengurangi kecemasan ya. Masih ada waktu untuk terus berlatih.

Tasik trip…. 

Tasik trip…. 

Yuhuuuuuuu…

Babah tumben banget ngajak jalan-jalan, meski deket tapi seneeeeeeng bgt..

Sebenernya trip kami ini krn mantan bos nya Babah ngundang untuk acara perpisahan di rumah beliau.. Plus ada teman seruangan Babah yg menikah di Ciamis.. Jadilah kami semua pergi..

Kebetulan juga bertepatan sama acara selametan rumah Nyanya. Dan karena Babah Bubi berhalangan datang jadi Jaja deh yg mewakili dikakipelangi crew.. Bagi tugas gtu ceritanya..

Nah, perjalanan kami ke Tasik dilalui dengan macet ga jelas selama 1jamlebih dan ini bikin KZL 😣😣😤

Dan sampe di Tasik kita lgsg nyari2 makan siang. Bubi kalau udah lapar bisa keluar uap dari kuping dan Babah udh tau bgt deh, pentingnya ngasih makan Bubi.

Awal rencananya sampe Tasik mau makan kupat tahu (ini enak bgt deh, biasanya Bubi request minta tahunya digoreng garing…. Uuuugh sedaaaap 😝). Tapi berhubung sampai Tasik udah siang ya udah deh lgsg makan siang aja. Bubi bilang mau makan di samudera (ini warung makan prasmanan yg dimiliki sama perusahaan catering terkemuka di Priangan Timur – masakan andalannya lidah saus keju yg enaaaaaaaaak), eh ngek ngok tutup doooooong 😅😅.

Jadi Babah ngajak utk nyobain makan di Riung Gunung yang dari luar tampaknya kaya resto jadul yg kesannya biasa. Di papan depan ditulis makanan khas nya adalah Ayam Bakar, maka kami pesan ayam bakar dada. Trus Bubi lihat di depan banyak pepes, dan pesen juga pepes tahu.

Foto Riung Gunung Courtesy of kulinertasik.com

Makanannya enaaaaaak.. Pepes tahu nya sedap dan pas (ga terlalu gurih kebanyakan vetsin, rasanya simpel dan sesuai bgt sama lidah Bubi deh). Nah, kan pepesnya banyak ya, trus Bubi nemu pepes telor asin yaaaay. Ini pepes nya super enak, dengan areh (santan kental) yang gurih nikmaaaaat bgt. Jadi kami ber3 habis makan, ayam bakar dada 4, tahu goreng, pepes tahu 2 dan pepes telor asin 2, semua itu hanya keluar uang 113rb sajaaaaa… Seneng deh.. A fulfilling meal.. Tempatnya juga asik.. Rapi bersih, dengan dekor jadul yg pas dan ada om-om orgen tunggal yg nemenin kita makan lewat musiknya.. Minusnya ga ada ruang bebas asap rokok. 😢

Pas malem drama makan berlanjut, rencananya mau makan di cafe German yg di review oke di TripAdvisor eh ternyata car free nite jadi ga bisa lewat, batal deh. Trus memutuskan makan di Mutiara Seafood kembali lagi kuciwa sodara-sodara karena tutup dong… Kayanya kami memilih pergi ke Tasik dimana banyak bgt kawinan.. Jadi resto favoritnya juga sibuk ngelayanin pesanan kawinan sampai tutup ya..

Salah satu pojokan di Nini Anteh

Untung bubi inget pas keliling siang ada resto namanya Nini Anteh, dan kami makan disana. Yg bikin suka sama resto ini adalah dekornya, ditata seperti rumah nenek jaman dahulu. Dengan furniture jadul, plus lemari pajangan berisi koleksi piring jaman baheula. Dan bubi suka karena semua ruangan dalam Dilarang Merokok, YaaaaY…

Art for toddler

Art for toddler

Bubi mau nyoba bikin beberapa postingan art for toddler berdasarkan pengalaman berkegiatan sama neneng ya..

Hari ini, Senin 17 Juli, Bubi mengajak Neneng utk mewarnai lingkaran-lingkaran yang sudah dibuat bulan lalu.

Awalnya si lingkaran ini juga kegiatan art neneng, yang meilbatkan cat poster dan rol tisu bekas.. Cara mainnya cuma stamping ke kertas menggunakan rol tisu bekas sebagai capnya..

Nih, kaya gini…

Terus karena tadi Neneng pengen kegiatan pakai cat air.. Bubi minta Neng mewarnai lingkaran-lingkaran nya deh.. Syarat dari bubi tadi buat supaya lingkaran sebelahnya beda warna..
Dan neneng berkreasi deh..

Neneng bersemangat sekali mengerjakan kegiatan ini.. Oh iya sekedar teview yaa.. Cat air yg Neneng pakai ini merknya Giotto, beli di Gramedia dengan harga 50rb (pas beli dapat tambahan diskon 15% entah promo apa jadi lebih murah lagi.. Sebelumnya Neneng pakai cat air keras yg tanpa merk, beli di spm Borma harganya dibawah 10rb. Tapi sudah habis dan pas mau beli lagi, eh sudah ga ada barang tsb di Borma huhuhuu..

Oh iya alasan Bubi pakai cat air keras sebenernya relatif lebih irit dan ga banyak kotor balatak dibanding menggunakan cat air pasta.. Tapi, karena pengen Neneng kenal banyak jenis alat gambar, jadi Neng juga suka melukis menggunakan cat air pasta 😉
Dan inilah hasil akhirnya..

Ulasan Spider-Man Homecoming

Ulasan Spider-Man Homecoming

Hi, ulasan ini mungkin mengandung spoiler, jadi buat yang belum nonton, awas ranjau ya….

Yang belum nonton tapi emang kepo, silakan dilanjut, hehehe

Ulasan diisi oleh 3 kontributor kami, Babah, Bubi dan Jaja, jadi semoga bisa mewakili pandangan tentang film ini dari 3 sudut pandang yang berbeda, enjoy!

Bubi

Kalau Bubi sih mengingatnya cuma dengan 3 kata aja, Geek, T-shirt and Patient. 

Faktanya film ini anak-anak banget ya.. Jadi kayanya dikasih rating PG juga ga masalah deh. Meski memang film yg ada adegan kekerasannya biarpun cuma seulas mah bagusnya tetep PG-13 ya..

Dan senengnya karakter Peter Park digambarin masih anak-anak banget plus super geek-ish yang kemudian di deskripsikan sama Babah sbg “… a way to gain more money from their geeky rich fans..” or something like that lah ya.. Intinya karakter PP dibikin geek supaya para geek merasa lebih mudah relate dan mau menghabiskan lebih banyak uang utk belanja merchandise-nya.

Well, that maybe true in a way but it also work on the movie. It’s nice to see all the weakness and the ‘babysitting theme’ running around here and there through out the movie plus the I’m a geek and its cool swag. 😅😅

Segitu aja kayanya yak

Soalnya Neneng udh manggil-manggil minta puding.

Jaja

For the record, ini film Spider-Man pertamaku yang aku tonton dengan mengikuti ratingnya yang PG-13 dengan benar. Aku belum lebih dari 2 tahun sejak boleh nonton film superhero. Kenapa? Karena sebagian besar film superhero ratingnya PG-13, bukan untuk anak-anak lho…

Oke sekarang ke filmnya… Aku ga nonton sama Babah Bubi, tapi aku nonton sama 2 sepupuku. Sebelum film, Bubi suruh aku cari T-Shirt. Awalnya aku bingung, tapi ternyata tidak sampai 15 menit filmnya mulai, aku langsung tau T-Shirt yang Bubi maksud. Di T-Shirt itu ada slogan “The Physics Is Theoretical, But The Fun Is Real“. Begitu lihat, aku yang memang geek juga, seperti Peter Parker, langsung “WOW!!! I want that shirt

Komentarku ke Peter Parker portrayal Tom Holland sama kaya Bubi. Peter Parker di komik, dari dulu memang selalu punya Geek Persona. Tapi, baru pertama kali portrayal Peter Parker sukses pull off  geek-nya.

Plot-wise juga menarik, awalnya kukira alur ceritanya akan cenderung simpel, tapi writer ini sukses pull off plot twist yang mengagetkan. Spoiler? Jangan deh, nonton aja

Oh iya, satu hal lagi yang membuatku lebih suka Spiderman Homecoming dibandingkan yang sebelumnya. Di semua comic book, dan Marvel Cinematic Universe, meski sudah di reboot berkali-kali. Selalu ada scene atau strip komik yang sama. Scene yang kumaksud itu pas Uncle Ben, meninggal. Ini sudah jadi running joke sejak pertama kali Uncle Ben meninggal sampai sekarang. Untungnya di versi ini, Uncle Ben belum dipastikan identitas atau keberadaannya. Thumbs Up For Not Making These Memes Worse! Untungnya, Father Figure yang Peter Parker butuhkan, diwakili oleh Tony Stark, atau Iron Man.

Jaja Out 😀

Babah

Apaaaa? Reboot lagi? Itu tanggapan pertama saya saat mendengar kabar tentang akan bergantinya pemeran Spider-Man (ini sebelum kemunculan Spidey di Civil War). Tom Holland adalah pemeran Spidey ketiga di layar lebar setelah Tobey Maguire dan Andrew Garfield. Bahkan meme yang beredar pun berkelakar bahwa makin kesini, Spider-Man makin muda (pun dengan Bibi May).

Tapi mungkin reboot kali ini karena akhirnya Sony Pictures (sebagai pemegang lisensi film Spider-Man) paham juga bahwa kalo mau untung lebih gede dan filmnya ga dikutuk fenboi terus, ya harus kerja bareng Marvel Studios, bonusnya jadi bisa masuk ke Marvel Cinematic Universe juga deh….

Langsung bahas ke filmnya, di awal film langsung muncul Michael Keaton, yang udah nonton The Founder, pasti langsung sebel gitu liat dia nongol, tapi langsung waspada sambil mikir “Kan ga mungkin nanggap Michael Keaton buat jadi figuran doang, pasti nanti jadi penjahatnya… ngahahaha”. Jadi, Adrian ini awalnya dapet kontrak dari Pemkot New York buat beres-beres limbah alien, udah sengaja invest mobil dan lain-lain, tapi malah terus digusur sama Pemerintah Federal, inilah yang bikin dia sebel dan mulai mencari peluang baru 😀

Lanjut ke Peter, setelah selesai membantu #TeamIronMan di Civil War, Peter dipulangkan oleh Tony, dan Happy menjadi LO antara Peter dengan Tony. Peter pun mencoba peran baru menjadi pahlawan akamsi di Queens, dengan segala suka dukanya.

Dan ketika Peter bertemu dengan perampok ATM yang menggunakan senjata ajaib dengan teknologi alien, Peter mulai melacak asal muasal senjata tersebut, dan dari situlah filmnya berkembang.

All in all, film ini sangat menghibur, filmnya sih ringan, jadi cocok ditonton bareng anak-anak, dan untuk para moviebuff, sama halnya dengan Deadpool, film ini juga memiliki referensi ke film Ferris Bueller’s Day Out (seriously, yang belum nonton Ferris Bueller, segerakan).

Babah over and out.

Jadi begitulah ulasan Spider-Man Homecoming ala-ala kami, hatur nuhun 🙂

 

 

Dari cerita jadi buku (di kaki pelangi) 

Dari cerita jadi buku (di kaki pelangi) 

Makasih banget buat sahabat kesayangan di cerita blw yang kasih ide nulis ini..

Cerita di kaki pelangi adalah cerita yang sudah sering diceritakan oleh Babah kepada Neneng. Ceritanya adalah tentang bagaimana Neneng “ditemukan”, dan ya ceritanya memang cerita khayalan bukan beneran.

Babah menceritakan pada Neneng bahwa Babah menemukan Neneng di kaki pelangi, disana Babah bertemu dengan makhluk ajaib yg menawarkan Babah keranjang atau kendi berisi emas. Babah memilih keranjang, yang ternyata berisi bayi manis yaitu Neneng.

Nah, mendekati ulang tahun Neneng yang ketiga, Babah dan Bubi mendapatkan ide untuk memberikan kado istimewa untuk Neneng yaitu buku berdasarkan cerita yang sudah sering Babah ceritakan pada Neneng.

Bubi yang bergerilya, dimulai dengan menemukan ilustrator yang tepat. Tepat karya juga tepat harga hehehee. Awalnya Bubi berkhayal ingin sekali digambari oleh Kak Haikal (ilustrator buku kesukaan bubi yaitu Aku Suka Caramu), tapi ternyata fee kak Haikal ini mencapai 800rb/lembar A4 yang artinya kalau buku nya 12halaman berarti 12×800 😱 wow.. Budget kami ga cukup utk itu. Kemudian kak Chike Tania (ilutsrator untuk buku Jana Tak Mau Tidur dan pengarang serta ilustrator untuk Snuggy and Snarl) ternyata kak Chike sibuk sekali sehingga ga memungkinkan untuk menyelesaikan ilustrasi buku dengan waktu yang mepet.

Kala Bubi mulai bingung menemukan ilustrator, Bubi memberanikan diri bertanya pada Tancha (founder of Pustakalana Children’s Library) dan tepat sekali karena Tancha merekomendasikan ka Tika mahasiswa fsrd ITB yang juga menggambar mural di Pustakalana. Tancha memberikan kontak ka Tika dan Bubi melakukan komunikasi pertama, menginformasikan apa yang dibutuhkan serta tenggat waktunya, Bubi juga membisikkan bahwa budget sangat terbatas dan bertanya berapa kira-kira jasa yang diharaplan oleh Ka Tika.

Senang sekali ketika semuanya cocok. Dimulailah proses gambar. Bubi memberikan deskripsi berupa uraian cerita yang akan disampaikan serta karena budget mepet menegosiasikan gambar apa saja yang dituangkan menjadi ilustrasi, dengan fee Rp.100.000/gambar.

Disepakati lah untuk dibuat 6 gambar utama, yaitu:

  • Babah berjalan (dengan pemandangan kota)
  • Babah masuk ke hutan khayalan
  • Babah melihat kaki pelangi
  • Babah bertemu makhluk ajaib
  • Babah memilih keranjang
  • Babah membacakan buku

Semua ini dibuatkan oleh Ka Tika. Beberapa kali ada masukan dari Babah dan Bubi, contohnya penambahan karakter tupai yang menemani Babah berjalan-jalan.

Setelah ilustrasi, Bubi menginformasikan teks yang akan dimasukkan kedalam setiap gambar. Pada kesempatan ini Bubi meminta masukan dari ibu Sofie (salah seorang penggagas Litara, children book publisher) dan memang Bubi menyadari bahwa cerita sangat melompat. Namun, karena keterbatasan waktu, tidak mungkin menambahkan halaman baru (yang berarti ilustrasi baru).

Mepet sekali dengan deadline, akhirnya ilustrasi selesai, sebanyak 8 gambar termasuk cover dan 1gambar bonus yaitu gambar Neneng sedang berlari. Selanjutnya, Bubi menyelesaikan sendiri untuk hasil akhirnya, dengan menyisipkan lembaran narasi (yang seolah dibacakan oleh narator, pihak ketiga) untuk menjadi jembatan dari ilustrasi cerita (yang diceritakan dari sudut pandang Babah, orang pertama).

Setelah selesai proses melelahkan printing pun dimulai. Ketika Bubi bertanya pada jasa printing, angka yg disebutkan ternyata sangat tinggi, mencapai Rp.4000/lbr. Sehingga diputuskanlah untuk print dirumah saja. Dan Bubi sendiri yang menjadi operator printing ini. Kertas yang digunakan adalah kertas HVS A4 100gr (harganya sekitar 65rb/rim) dan di print menggunakan printer Epson L365. Jumlah cetakan pertama ini hanya sebanyak 50buah saja, itupun setiap malam Bubi ngeprint dari saat Neneng tidur hingga jam12malam, dan baru selesai setelah hari ke4.

Selanjutnya semua kertas hasil print dibawa ke jasa printing untuk mencetak cover dan proses jilid. Harga cetak cover adalah 6rb/lbr dan jilid 4rb/lbr nya. Saat ke jasa printing ini Bubi memutuskan untuk membuat 2 buku yang di print di kertas art paper glossy dan dijilid hardcover. 2buku ini untuk ka Tika sebagai ucapan terimakasih dan untuk koleksi kami dirumah. Jasa printingnya 85rb/buku.

Kurang lebih seperti itu proses kami mencetak buku ala ala untuk kado ulang tahun Neneng yang ketiga. Kemungkinan ini akan dijadikan kegiatan rutin, tahun depan Neneng juga akan mendapatkan kado buku, ceritanya pun sedang dalam proses diskusi antara Babah,  Bubi, Jaja (dan Neneng).

tentang Di Kaki Pelangi

tentang Di Kaki Pelangi

Di Kaki Pelangi? Kenapa memilih kalimat tersebut?

😊Semua berawal dari kegemaran Neneng untuk dibacakan buku cerita oleh Babah, dan kemudian Babah memiliki kisah favorit untuk diceritakan pada Neneng, yaitu kisah fantasi tentang bagaimana dia ditemukan. Babah berkisah bahwa Neneng ditemukan di dalam keranjang di bawah kaki pelangi, dan saat itu Babah harus memilih untuk membawa pulang Neneng atau keranjang berisi emas. Cerita lebih lanjut, nantikan tulisan berikutnya ya, hatur nuhun 🙏