Category: Book Memoir

Book Memoir: Minggu Tiga

Book Memoir: Minggu Tiga

Judul serial ini dirubah menjadi Book Memoir untuk memberikan kesan… classy. πŸ˜›

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan 😉

Selamat menikmati!

Selama itikaf, aku mungkin mengurangi dosis buku. Oleh karena itu, buku ini berisi buku yang dibaca selama 2 minggu kemarin, dikarenakan aku tidak membaca buku (selain quran) selama 12-17 Juni. Jadi, buku disini adalah buku yang dibaca selama 5-11 Juni. Dengan pengecualian 7 bab terakhir dari salah satu buku yang kubaca, baru aku bereskan pukul 1 pagi, hari ini.

Jadi, minggu ketiga ini berisi buku yang kubaca ketika aku sempat tidak aktif. Selamat menikmati!

Daftar Buku

Senin, 5 Juni, sampai Senin 11 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Meskipun hanya dua buku, salah satu buku yang kubaca mencapai… *tarik nafas* 12000 loc. Oke, sebenarnya aku tidak baca 12000 loc-nya secara utuh mengingat sekitar 7000 loc dari 12000 loc itu merupakan komentar, dan aku mungkin hanya membaca sekitar… setengah dari komentar editor dan penerjemah. Kurang lebih, 8500 loc.

Ditotalkan, secara kasar aku mencapai 13000 loc, ini berarti kecepatan membacaku bertambah sekitar 1000 loc per minggu. Setiap 20 loc setara dengan 1 halaman buku berukuran 13X20 cm, jadi aku membaca sekitar 650 halaman. (aku membaca format Mobi dengan kindle)

Aku sebenarnya tidak terlalu banyak speedreading kali ini, karena bukunya sangat mudah dinikmati, dan terlalu membingungkan serta padat untuk dibaca dengan cepat.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Life of Pi karya Yann Martel (4500 loc)
  • Dante’s Divine Comedy, Part 1, the Inferno. Karya… Dante, terjemahan dan komentar dari Jean Hollander, seorang dosen yang secara eksklusif memberikan kuliah pada puisi tulisan Dante. (8500 loc)

Life of Pi

Mungkin film nya cukup menarik untuk ditonton, tetapi buku ini akan memberikan gambaran dan pesan yang lebih tepat kebanding filmnya.

Sebenarnya aku membaca Inferno sebelum Life of Pi.  Tetapi aku hanyut diantara banyaknya metafora dan simbolisasi dengan puisi tulisan Dante (dengan komentar yang lebih panjang dari bukunya sendiri), jadi aku akan menjelasakan dan memberikan opini mengenai Life of Pi sebelum Inferno.

Jadi, seperti pembaca mungkin ketahui dari film-nya, Piscine Patel adalah seorang remaja “biasa”, dengan kedua orangtua yang memiliki sebuah kebun binatang di India.

Dari awal buku, Piscine (atau Pi, karena dia dibully dengan diberikan julukan Pissing) menjelaskan dirinya sebagai remaja yang biasa, tetapi yang menikmati hewan dan perhewanan. Selama ia masih di India, ia menemukan banyak agama, yang menurutnya pada intinya memiliki kepercayaan yang sama.

Sebagai seseorang yang hidup di India, kehidupannya dipenuhi dengan variasi agama, ada orang Muslim, ada orang Katolik, ada orang Kristen, serta orang Hindu tentunya. Tidak seperti remaja pada umumnya tetapi, Piscine menganut ketiga agama itu, dan ia menyadari bahwa dasarnya ketiga agama memiliki tujuan yang sama, untuk mencintai tuhan. Hanya saja, ritualnya berbeda.

Selama ia masih di India, Yann Martel membawa kita untuk melihat coexistence serta kehidupan mendasar Pi, yang mampu membuatnya tetap teguh dan akhirnya selamat dalam perjalanannya.

Skip saja, kita langsung dibawa ke lautan atlantik. Dimana Pi dan keluarganya harus pindah ke Toronto. Nasibnya di kapal sangat-sangat tidak beruntung. Ia sampai-sampai tersangkut dalam sebuah kapal penyelamat bersama Zebra, Orangutan, Hyena… dan Harimau.

Oh, kapalnya tenggelam ya.

Selama ia mengapung tanpa henti di lautan, ia menemui cukup banyak hal, semua hal yang ia temui disini merupakan simbolisasi ke sebuah situasi di dunia nyata, dan juga ke konflik batin si tokoh utama.

Sebagai contoh utama, Richard Parker, Harimau yang mengusir Hyena (Hyena tersebut juga membunuh Zebra dan Orangutan ya) tersebut, dan juga Harimau yang menjadi hiburan Piscine, serta tantangannya adalah sebuah simbol ketakutan, dan juga kehampaan.

Konflik dalam kapal tersebut yang membunuh si Zebra, Orangutan dan Hyena juga adalah sebuah simbol kepercayaan seseorang. Pada umumnya, seseorang akan harus memilih sebuah kepercayaan. Bukan berdasarkan amarah (Hyena), bukan berdasarkan cinta (orangutan), dan juga bukan karena keterpaksaan (Zebra). Jika seseorang memang harus memilih kepercayaan, (kecuali memutuskan untuk tidak percaya agama apapun), ia akan memilih berdasarkan ketakutan.

Buku ini melukis bagaimana seseorang mampu selamat dari suatu tragedi, dan buku ini juga sukses mengisahkan konflik batin yang “umum”, dengan sebuah metafora, menutupinya dengan gambar yang mampu diambil secara harfiah.

Secara keseluruhan, Buku ini adalah opsi yang baik untuk belajar perumpamaan, serta alegori mendasar dalam sastra. Bukunya sangat bagus, dan tentunya juga cukup menarik dan modern, karena tentunya buku ini baru ditulis di tahun 2001.

Dante’s Inferno

Ini buku bagus. Tapi membingungkan.

Dari mana aku mulai… Heeeuh.

Buku sebelumnya merupakan contoh sangat baik untuk metafora yang bisa diambil secara literal. Life of Pi super cocok untuk pemula sastra. Dante’s Inferno adalah opsi yang ratusan kali lebih menarik, serta, jika bicara religius… juga lebih religius. Brutal? Iya, Dante juga lebih brutal.

Nah… The Inferno adalah sebuah puisi, berisi 34 part, chapter, atau tepatnya untuk puisi, Canto. (Kanto? Mungkin untuk Bahasa Indonesia).

Jadi, buku ini sebenarnya bukan opsi terbaik untuk yang tidak siap mendapatkan bayangan kejam, dan tidak bisa dihapuskan dari kepala, selain itu, aku tidak menyarankan buku ini jika tidak ada niatan sedikit pun untuk mempelajari sedikit budaya nasrani.

Jadi, sejujurnya aku tidak akan mengerti buku ini menjelaskan apa jika tidak ada sedikitpun komentar dari Jean Hollander. Mengapa? Hehehe. Jadi, Inferno ini penuh dengan ratusan metafora, serta bahasa yang dengan sengaja dibuat untuk tidak bisa dicerna oleh orang-orang yang tidak ingin sedikitpun berimajinasi.

Selama Dante berusaha masuk dan melihat ke dalam neraka ini, ia ditemani seorang penyair asal romawi, namanya Virgil, penulis mitologi tentang Aeneas, pahlawan Romawi pertama, yang juga memulai kerajaan dan kekaisaran maha kuat tersebut.

Nah, jadi, tentunya gurunya Dante bukan orang yang main-main. Seorang (atau err, arwah dari) penyair terbaik dari kerajaan terkuat sepanjang masa tentunya mungkin salah satu guru terbaik yang seorang penyair bisa dapatkan.

Pada dasarnya sepanjang epik ini, Dante berusaha mengemas nasib orang-orang yang membuat sebuah dosa. Apapun dosanya, seberapa baik orangnya, jika ada sedikitpun dosa, maka ia akan masuk Inferno. Hukuman yang diterima oleh para pembuat dosa ini juga cukup kejam, dan disesuaikan secara spesifik ke dosanya. Misalnya, para orang serakah (Greed) dipaksa untuk berjalan dengan menggendong uang yang sangat berat.

Aku sejujurnya TIDAK menyarankan orang untuk membaca puisi/buku ini dengan santai. Jika anda memiliki niatan untuk membaca buku ini, harap lakukan dengan serius. Terlalu banyak adegan dan bayangan kejam yang tidak akan bisa ditoleransi oleh warga Indonesia.

(Tapi, hngg, buat apa orang baca buku ini kalau tidak diwajibkan oleh kampus lagian)

Selain banyaknya budaya nasrani dan kristianisme di puisi ini, juga ada guratan mitologi Romawi dan Yunani di buku ini. Misalnya, ada Raja Minos di tingkatan tertinggi neraka, untuk menentukan siapa yang dimasukkan ke tingkat apa. Juga ada Cerberus untuk menghukum para orang-orang yang rakus (Gluttony).

Secara keseluruhan, aku tidak bisa bercerita banyak mengenai Inferno tanpa melanggar beberapa kode etik pribadi mengenai apa yang layak dituliskan di blog ini dan apa yang tidak. Jika aku harus mengemas buku ini dalam sebuah kalimat pendek…

Buku ini terlalu membingungkan. Kebingungan yang didapat dari membacanya adalah alasan buku ini sangat bagus.

Terima kasih Professor Jean Hollander untuk E-Book Dante’s Inferno yang gratis dan lengkap dengan komentar yang membantuku mengerti apa yang sedang terjadi dalam untaian kata tulisan Dante Alighieri. Layaknya Virgil menuntun Dante dalam perjalanannya.

Kesimpulan

Jadi, sejujurnya perjalananku dalam Inferno tidak terlalu mulus. Namun, sangat beruntung aku dapat menemukan simbolisasi yang mirip, serta juga masih bisa ditarik benang merahnya dalam Life of Pi.

Hidup seperti itu (-_-“), jika kita kesusahan melakukan suatu hal, mungkin kita akan diberikan jalan lain yang mampu membuat hidup kita lebih mudah.

Oke, ini terkesan show-off.

Intinya, banyak jalan, banyak cara. Ingin belajar alegori? Bisa belajar ke Inferno! Bingung? Life of Pi saja! Itu dibiarkan ke kita untuk memilih jalan dan rute agar kita bisa mencapai yang kita ingin capai… dengan metode seefisien mungkin

Sampai lain waktu!

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan πŸ˜‰

Selamat menikmati!

Minggu kedua! Maaf, minggu lalu aku semacam reboot ulang otak, jadi kurang produktif. Minggu ini, aku akan langsung membahas buku yang sudah aku baca dalam 1 minggu kemarin. Sejujurnya kedua buku ini akan membuatmu berpikir berkali-kali mengenai hal yang sederhana.

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 28 Mei, sampai Minggu 3 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Tetapi jika ditambahkan, kedua buku itu mencapai 12000 loc, ini berarti bahwa aku sudah menambah sekitar 20% total halaman yang telah dibaca, meski minggu ini aku lebih sibuk dari minggu sebelumnya.

Setiap 20 loc setara dengan satu halaman pada buku dengan ukuran 13X20 CM. Ini kurang lebih berarti bahwa aku membaca sekitar 600 halaman.

Catatan: Satu buku yang aku baca dibaca cepat dengan teknik yang diajarkan oleh Om Adi Wahyu Adji. Om Adi ini merupakan penulis ulasan buku yang pernah membaca satu buku per hari-nya, dan langsung mengulasnya dalam 24 jam. Teknik membaca cepat yang beliau ajarkan pernah disampaikan dan diajarkan juga ke diriku, dan aku sangat senang. Teknik ini membantuku membaca buku yang penuh statistik dalam sejenak saja, dan meski mayoritas angka dan statistiknya lupa… konteksnya masuk kok.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Should We Eat Meat? Karya Vaclav Smil (8500++ loc)
  • Our Last Invention. Karya James Barrat (3500++ loc)

Berikut ulasan singkat serta opini untuk kedua buku tersebut.’

Should We Eat Meat?

Dari judulnya, bisa ditebak ini buku tentang perkarnivoraan. Buku ini netral, dan tidak memberikan kesimpulan apapun. Ia memintamu untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

Buku ini netral.

Tolong ketahui bahwa tidak ada tersirat bahwa buku ini pro, ataupun kontra ke manusia yang berusaha menjadi karnivora, meski posisi mereka tepat berada di atas piramida spesies. Buku ini hanya memberikan banyak sekali fakta dan baik hal positif ataupun negatif dari kita, sebagai manusia yang memakan daging.

Should We Eat Meat tidak memberikan terlalu banyak opini yang bersifat divertif dan membuka hampir segalanya yang perlu diketahui mengenai daging. Tidak ada prasangka

Fakta-fakta yang dibahas disini pun cukup menarik, detil, dan juga membahas dari sangat sangat banyak sudut pandang. Vaclav Smil membahas dari sudut pandang… (nafas dalam)

Catatan, untuk titik berwarna putih berupa fakta+opini, silahkan saring sendiri yang mana merupakan fakta dan yang merupakan opini.

  • Antropologi
    • Manusia mendapatkan budaya dari daging. Banyak suku memiliki ritual khusus untuk memakan daging.
  • Evolusi
    • Manusia hanya evolusi dan memiliki otak sebesar ini karena memakan daging. Jadi jika anda ingin kita berevolusi menjadi mutan, karena anda fanboy X-Men, makan daging yang banyak. Gen-mu akan berevolusi perlahan-lahan
  • Biologi
    • HEHEHE… Baca sendiri bukunya
  • Lingkungan
    • Sapi menghasilkan 50%++ (2011) metana yang merupakan gas rumah kaca di dunia. 25% metana mengakibatkan global warming. Ini berarti bahwa sapi berkontribusi 1/8 bagi pemanasan global
  • Kekejaman kepada hewan
    • Mayoritas peternakan di Amerika tidak menganggap sapi sebagai makhluk hidup dan memperlakukannya semena-mena. Mereka bahkan jarang sekali diberi sinar matahari, makanan yang layak, dan juga banyak lahannya untuk bergerak diambil demi menghemat dana di lahan.
  • Angka kematian
    • Sapi menambah +2% angka kematian muda jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Kemajuan manusia sesudah mengonsumsi daging
    • Lihat Evolusi, Antropologi. Manusia juga maju secara energi, lihat energi dari daging di bawah.
  • Kesehatan
    • Probabilitas ada penyakit atas keracunan dari sapi dibawah 0.01%, tetapi probabilitas terkena penyakit karena terlalu banyak konsumsi lemak, sekitar 18% jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Nutrisi dari daging
    • Daging merah adalah protein dengan zat besi dan protein terpadat di dunia. Untuk sekarang, belum ada alternatif untuk sumber zat besi yang seefisien daging merah terkecuali vitamin. Jamur, yang memiliki zat besi dan protein lumayan banyak saja masih hanya memiliki sekitar 1/4-1/3 zat besi jika dibandingkan dengan sapi.
  • Energi untuk memproses daging
    • Lupa angkanya. Tetapi, jika dibandingkan dengan efisiensi lahan dibandingkan dengan tanaman, daging lebih efisien. Nah, dalam konteks energi, sapi membutuhkan sekitar dua kali lipat perawatan, serta sumber daya dalam memeliharanya.
  • Endorphin dari mengonsumsi daging (alias kesenangan pribadi)
    • HEHEHE… πŸ˜‰
  • Agama
    • πŸ™‚
  • Sumbangan ke ekonomi
    • Daging dikonsumsi dalam jumlah yang banyak tiap tahunnya. Mengingat dalam proses pertanian juga ada pembelian lahan, pembelian alat, pembelian makanan, peternak, dan lain-lain… Peternakan cukup banyak menyumbang bagi ekonomi beberapa negara. Bukan hanya peternakan, tetapi juga restoran yang mengandalkan steak sebagai menu utama. U.S. sendiri mengkonsumsi 120kg daging per orangnya tiap tahun.

Dan masih banyak lagi. Ingat, buku ini sekitar 500 halaman membahas tentang daging. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi nyatanya sangat-sangat kompleks.

Seperti kusebut, buku ini mayoritas kontennya berupa data, misalnya persentase, statistik, dan faktual, lengkap dengan sumber dan riset untuk memberi penekanan bahwa buku itu dapat diandalkan.

Selain faktual, juga ada sebuah bab yang terbilang imajiner, dimana Vaclav tidak memberikan banyak angka, tetapi lebih ke alternatif ke daging-daging yang memang berbahaya ini.

Vaclav Smil sendiri menulis buku dikarenakan ia benar-benar penasaran kenapa banyak sekali orang pro dan kontra mengenai hal yang dilakukan tiap hari ini. Ia juga tidak menyimpulkan apa-apa, namun jika memang daging seburuk itu, kenapa tidak ada yang membahas secara netral? Perspektifnya benar-benar menarik, bukunya mampu sekali dinikmati, tetapi mungkin jika tidak dibaca cepat akan sedikit memakan waktu.

Catatan: meski membahas daging putih dan merah, aku menggunakan data untuk daging sapi saja, dikarenakan lebih lengkap, serta memang itu alasan aku membaca buku itu.

Baca buku ini jika…

(bold berarti alasan aku membaca buku ini)

  • Ingin menjadi vegetarian, atau mengurangi konsumsi daging
  • Mencari sebanyak-banyaknya alasan untuk mendebat orang bahwa memakan daging itu tidak apa-apa, meski itu merusak lingkungan. Atau sebaliknya tentunya.
  • Mulai menanyakan tentang gaya hidup yang bisa menambah umur planet kita tercinta ini.
  • Mencari metode untuk menambah umur planet kita.
  • Kekeuh tidak mau berhenti memakan daging.
  • Kekeuh bahwa makan daging itu buruk.
  • Mencari sudut pandang baru  untuk hal sederhana.

Sebenarnya buku ini benar-benar kuberikan terlalu banyak spoiler. Tetapi dengan gaya penulisan yang empirik serta faktual seperti ini, sedikit susah untuk mengulas tanpa membocorkan.

Keseluruhan, bukunya bagus, dan akan membuatmu memikirkan tiap suap daging gurih yang kamu makan. (UHUK, BUBI TUH UHUK)

Our Final Invention

Dasarnya, ini buku AI. Dasarnya negatif, tetapi tidak bermaksud menakut-nakuti, hanya untuk membuatmu berpikir lebih banyak sebelum bertindak.

Aku sudah pernah menulis tentang AI dan dampaknya di website ini, tetapi aku jarang menulis dalam konteks teknis, aku lebih banyak menulis dalam konteks filsafat, ataupun evolusi. Jika ingin melihat AI dalam gambaran yang besar, lebih ke proses pemikiran AI itu, serta projek-projek dan program AI itu sendiri, baca saja buku ini.

Buku ini juga membahas sedikit konteks sains teoretikal, filsafat, serta evolusi. Namun tetap, poin utamanya berada di teknologi, dan bagaimana AI bisa saja membunuh kita semua, alias manusia secara spesies. Disini juga dibahas bagaimana kita sebagai manusia sering terjebak dalam dunia ilusi akan bias.

Buku ini teknis, lebih teknis dari artikelku, tetapi tidak seteknis buku tulisan Vaclav Smil tadi. Ia membahas beberapa hal yang sama berkali-kali, dari sudut pandang berbeda.

Banyak juga proyek AI dibahas dalam buku ini, baik yang baru, ataupun yang lama. Mulai dari yang sederhana seperti robot pemain catur, ke Siri, sampai robot untuk menyimpan pikiran dan kesadaran kita, semuanya sedang dikerjakan.

Buku ini juga menunjukkan banyaknya persinggungan filosofi antara programmer dan manusia secara umum. Ada yang sangat pro, ada juga yang sangat kontra. Mirip dengan kasus daging itu. Orang yang netral jarang ditemukan, hanya ada maniak yang pro sampai mati, serta yang kontra banget sampai menolak dan membuat gerakan penolakan.

Aku tidak bisa memberikan terlalu banyak elaborasi, karena sebenarnya yang tidak terlalu melenceng dan memberikan spoiler ke buku itu ada di kedua artikelku di atas.

Baca Buku ini jika…

Sekali lagi, bold berarti alasanku.

  • Penasaran atas kemajuan teknologi
  • Ingin mengetahui tentang AI
  • Takut atau sangat menyukai AI
  • Ingin memadukan teknologi, biologi dan filsafat
  • Mencari sudut pandang baru ke teknologi yang sudah menjadi bagian sehari-hari
  • Ingin mengetahui proses mencapai semacam bentuk keabadian, kekekalan, dan lain-lain.
  • Anda seorang doomsday prepper dan ingin melawan Artificial Intelligence sebagai harapan terakhir manusia.
  • Ingin membayangkan dystopia yang dikendalikan AI

Secara keseluruhan, buku ini super bagus, menarik serta menakutkan. Ia sukses menangkap fakta, opini, dan juga perselisihan antar kedua kubu. Buku ini tidak netral, James Barrat cenderung anti AI, tetapi tidak sepenuhnya memberikan frame dan menghalangi informasi dari kubu yang pro AI.

Baca bukunya! Mungkin kamu merasa takut, ataupun takjub. Tetapi sejujurnya, kedua hal itu tidak jauh beda…

Kesimpulan

Kedua buku ini mirip dalam konteks bahwa, manusia memiliki banyak hal yang sama dalam pikirannya… Baca saja keduanya ya… Kamu akan menemukan benang-benang merah yang saling menyatukan kedua buku ini…

Pembaca akan dibawa untuk berpikir secara mandiri dan menentukan kubunya. Karena nyatanya, menjawab dengan netral sungguh sulit.

Sampai lain waktu!

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Selamat menikmati!

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 21 Mei 2018, sampai hari Minggu 27 Mei, aku sudah membaca 3 buku. 2 buku yang kubaca merupakan buku nonfiksi. Buku tersebut jika ditambahkan mencapai kurang lebih 10000 loc di Kindle. Sekitar 20 loc (singkatan untuk location), setara dengan 1 halaman di buku yang berukuran 13X20 centimeter.

Jadi, jika ditotalkan, kurang lebih ada 500 halaman yang sudah kubaca. Hmm, sebenernya masih bisa ditingkatkan, tetapi ya sudahlah, ini masih minggu pertama…

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Stuff Matters karya Mark Miodownik
  • 1984 karya George Orwell
  • The Subtle Art of Not Giving A F*ck karya Mark Manson

Berikut ulasan singkat serta opini kepada buku-buku tersebut.

Stuff Matters.

Stuff Matters adalah sebuah buku yang menganut tema sains/sejarah, membahas benda-benda sehari-hari, tetapi dalam perspektif yang lebih mendalam…

 

Buku ini sangat cocok untuk orang sepertiku yang mau kepo sama segala sesuatu yang tampaknya sederhana. Mulai dari coklat, besi, sampai sel tubuh, Stuff Matters menjelaskan sesuatu yang sering dipandang sebelah mata, diduduki, atau mungkin ditelan dalam perspektif sains materi.

Sains materi adalah sains yang membahas segala sesuatu yang ada dalam level atomik atau subatomik. Biasanya orang yang meneliti sains materi melihat struktur dan ciri-ciri (atau properti) sebuah benda. Misalnya, semen memiliki struktur yang ketika cair, layaknya (ehh, tentunya) cairan (kan πŸ˜€ ), tidak terlalu ketat, dan tentunya tidak dibatasi “penjara” atomik apapun.

Tetapi, berdasarkan ciri semen dari komposisi kimianya, ia mampu memadat dengan sangat cepat. Ketika padat, struktur partikelnya, menyempit, mengikuti cetakannya, dan benar-benar rapat. Dalam level atomik, semen padat sangat “dense” atau mungkin, rapat. Tetapi, sanking besarnya cetakannya dalam level atomik, meskipun tercetak secara rapat, bentuk cetakannya sangat besar.

Karena kualitasnya yang mudah memadat ini, dan juga struktur atomiknya yang sangat kuat ini, semen sangat kuat, serta mudah dicetak.

Dasarnya sains materi mempelajari hal-hal sehari dalam perspektif fisika, kimia, dan juga tentunya, penggunaan seharinya.

Buku ini tidak hanya menceritakan perspektif materi ini secara sains saja, tetapi juga memberi tahu kita etimologi dari benda tersebut, jenis-jenis benda tersebut (misal, kertas dibahas bukan hanya kertas saja, tetapi juga… kertas kain, kertas uang, dan lain-lain), dan yang sama pentingnya, sejarah benda tersebut!

Penulisnya juga banyak sekali menceritakan opininya pada benda tersebut, dan juga bagaimana ia melihatnya sebagai anak-anak. Seperti ilmuwan inggris pada umumnya, Mark Miodownik memiliki selera humor yang sangat bagus!

Baca buku ini jika…

  • Kamu mau tahu bagaimana cara benda-benda sederhana dapat tercipta, ataupun diciptakan
  • Kamu penasaran atas teknologi terbaru dalam membuat hal-hal sehari-hari seperti ini bisa lebih efisien
  • Ingin melihat benda-benda rumah tangga dari sudut pandang baru
  • Ingin mempelajari sejarah benda-benda yang ada di buku ini.

(oke, maaf, aku gak mau bilang apa aja benda-bendanya yang ada secara spesifik, meski keceplosan sedikit banyak).

Secara keseluruhan, Stuff Matters adalah sebuah pintu masuk yang bagus untuk memicu rasa penasaran dalam sains materi.

1984

1984 adalah sebuah buku yang keluar tahun 1945, karya George Orwell. Buku ini bertema Dystopia, alias membahas apa yang mungkin saja terjadi jika pemerintahan di dunia ini berbelok ke arah yang salah. 1984 merupakan salah satu buku Dystopia pertama.

1984 memberikan kesan yang sangat… menyeramkan. Pertama-tama, ketahui aku sendiri sebenarnya belum pernah membaca atau menonton sebuah karya literatur yang Dystopian. 1984 memberikan kesan yang baik, tetapi buruk mengenai sebuah pemerintahan yang kacau.

Alkisah, dunia ini terbagi menjadi 3 kubu yang kuat, Oceania, Eurasia, dan Eastasia. (maaf, karena kemampuan geografiku yang buruk aku masih kurang mengerti lokasi masing-masing kubu) Setiap pemerintahan seringkali berperang.

Secara internal PNS (atau outer party) diberikan doktrin dan diperhatikan setiap gerak geriknya, agar tidak ada sedikitpun rencana untuk menggulingkan pemerintahan yang sangat kacau ini.

Lokasi buku ini berada di London, dalam sebuah bagian dari Oceania bernama Airstrip One (atau, tentunya, Inggris). George Orwell mampu menjelaskan tiap kalimat dan deskripsi seolah-olah dunia sudah bertolak belakang.

Bukan hanya pemerintahan yang dikacaukan, 1984 juga mengurangi konteks bahasa, agar makin rendah kemungkinan seseorang dapat membuat sebuah kalimat yang puitis atau lengkap, sebuah bahasa baru bernama (ini sangat… obvious) Newspeak diciptakan. Newspeak pada dasarnya membuat semua antomim hilang dan menghilangkan semua potensi ambigu sebuah kata.

Antomim pada dasarnya direpresentasikan oleh kata Un. Jika good adalah baik, dan bad adalah buruk, Newspeak mengganti bad dengan ungood. Untuk great alias lebih baik, diwakili dengan plusgood, dan… ya baca saja bukunya.

Tetapi, pemerintahan di 1984 mengatur segala hak bicara, hak privasi, serta paling parah… hak untuk bebas melakukan apapun.

Baca buku ini jika…

  • Ingin mendapat sebuah sensasi buku horror yang baru. (sebenarnya tidak terlalu seram, tapi… itu bisa jadi menyeramkan untuk beberapa orang).
  • Ingin melihat dunia yang sudah rusak.
  • Penasaran atas metode kontrol yang masuk sampai level diktator. (Nih, yang bilang Jokowi Diktator, baca dulu 1984, biar tahu diktator tuh gimana)
  • Mau mempelajari bahasa baru, yang sekarang masih fiktif. ( πŸ˜› )
  • Merasa ditindas, ataupun diberikan paksaan oleh pemerintah. Karena sesudah membaca buku ini, kamu akan merasa sangat-sangat bebas!

Dari cakupan bebas spoiler, 1984 menegangkan, menakutkan, dan juga “mengajarkan” sedikit tentang politik, serta psikologi pengendalian massa.

The Subtle Art of NOT Giving A F*ck

Iya, buku ini penuh dengan umpatan. Hindari jika kamu tidak ingin mendengar banyak umpatan. Bukan masalah besar bagiku, sayangnya ulasannya terlalu bagus, aku jadi penasaran. Buku ini masuk dalam genre self-help, tetapi tidak konyol, atau terlalu motivatif.

Menjelaskan buku ini dengan 10 kata, atau lebih pendek. Buku ini bodoh, tetapi sanking bodohnya, ia jadi benar.

Mark Manson mampu memberikan motivasi dengan metode yang sama sekali tidak seperti sebuah motivator. Motivator, dan buku self-help ala hippie pada umumnya meminta orang untuk menenangkan diri dengan bilang ke diri sendiri bahwa kamu tenang.

Padahal, nyatanya, orang yang tenang tidak akan perlu untuk bilang ke dirinya bahwa dia tenang. Ia cukup menelan fakta bahwa ia sedang tidak tenang.

Sesuai dengan slogannya, A counterintuitive approach to living a good life… Buku ini benar-benar penuh dengan metode yang ironis, tetapi benar, serta cara memperbaiki diri dengan konyol, tetapi sekali lagi benar. Sebenarnya jika aku memberikan sedikit terlalu banyak “hinaan” itu salah juga sih.

Buku ini penuh inspirasi, tetapi ditulis dengan nyeleneh, sehingga memberikan kesan yang bodoh dan konyol itu. Tetapi, layaknya sebuah orang yang suka bercanda, buku ini memiliki momen serius dimana benar-benar bersih dari nyelenehnya itu dan menjadi momen yang… inspiratif dan benar.

Seperti banyak buku self-help, penulisnya memberikan banyak sekali ceritanya sendiri, dan aku yakin orang pada umumnya mampu merasakan beberapa cerita yang ia selipkan disini, baik miliknya, atau milik orang lain yang curhat ke dia via blog miliknya.

Buku ini… benar-benar bagus.

Baca Buku ini Jika:

  • Kamu muak dengan motivator yang penuh dengan omong kosong dan “tetap positif meski segala sesuatu sudah buruk” miliknya itu.
  • Ingin mencoba cara baru untuk memperbaiki diri.
  • Sering memiliki sedikit masalah dan/atau marah-marah.
  • Suka membaca orang yang nyeleneh. (dengan cara positif tentunya)
  • Ingin tahu penggunaan kata umpatan. . .  yang tentunya variatif! (HMM)
  • Mencari inspirasi atau memiliki krisis identitas.

Seperti kubilang, buku ini benar-benar bagus, tetapi karena Mark Manson tetap menulis dengan gaya nyeleneh-nya itu… Buku ini jadi sumber humor, ironi, sarkasme, umpatan dan inspirasi di saat yang sama.

Kesimpulan

Daftar buku yang telah kubaca dalam minggu pertamaku dipenuhi humor, ketakutan, serta juga… pengetahuan. Sejujurnya, kamu tidak perlu terlalu bosan membaca terlalu banyak buku, selama buku yang kamu pilih menarik tentunya!

Selera buku orang-orang berbeda, dan layaknya memilih baju (atau pacar), pilihlah buku yang sesuai dengan seleramu.

Sampai lain waktu!