Category: Babah

[Review Hotel] Santika Tasikmalaya

[Review Hotel] Santika Tasikmalaya

Hi, jumpa lagi, udah lama ga ada ulasan hotel yah. Sebetulnya bahannya masih banyak, yang ga ada kemauan untuk mulai mengerjakannya, hahaha #menyingsingkanlengankemeja

OK, kali ini, kita bahas Hotel Santika Tasikmalaya, kebetulan saat berkunjung ke Tasik, kami menginap di sini….

Lokasinya sendiri ada di jantung kota Tasikmalaya, berikut petanya :

Jadi misal mau jalan-jalan menikmati kota Tasik, bisa jalan kaki loh, dan banyak makanan juga di daerah sekitar hotel, ke Mesjid Agung Tasikmalaya pun bisa berjalan kaki, ga sampe 300 meter jaraknya.

Lobbynya cukup nyaman, seperti foto dibawah ini :

Nyaman kan? cuman mungkin kursi di lobby yang kurang, jadi ketika antrian check in sedang padat, maka ada konsentrasi penumpukan tamu di area lobby.

 

Kebetulan kebagian kamar yang menghadap ke kolam renang, ini pemandangan dari jendela kamar :

Ritual menginap tentunya tidak lepas dari mencoba kolam renangnya, airnya cukup dingin, jadi kalo berenang pagi, siap-siap aja ya, hehehe…..

Kamarnya sendiri nyaman, suhu air panas aja kadang terlalu panas….

Ritual lainnya tentunya adalah saat sarapan, dan hotel ini memiliki nilai plus karena menyisipkan unsur makanan lokal ke menu sarapannya. Tasikmalaya terkenal akan Mie Bakso, Nasi Tutug Oncom hingga ke Cilok Goang. Dan semua menu tersebut disediakan saat sarapan.

Nasi Tutug Oncom
Mie Bakso

 

 

 

 

 

 

 

Tutut alias Kerang
Cilok Goang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beres sarapan, langsung siap-siap check out deh…. Berikut rekap kunjungannya ya :

(+)

  • Kamar bersih dan nyaman
  • Staff yang ramah
  • Menu sarapan yang unik dengan konten lokal
  • Lokasi yang strategis di tengah kota

(-)

  • Kolam renang outdoor dengan air dingin (air dingin sih gapapa, tapi pake kanopi akan lebih nyaman sepertinya)
  • Kurangnya kursi di area lobby, sehingga tampak hectic ketika antrian check in sedang padat

 

Overall, menginap di hotel ini sangat nyaman dan kami akan merekomendasikannya bilamana ada famili atau relasi yang meminta saran. Hatur Nuhun.

[REVIEW HOTEL] Santika Premiere ICE BSD

[REVIEW HOTEL] Santika Premiere ICE BSD

Pernah mendatangi acara di ICE BSD terus sepanjang perjalanan mikir kok ini jauh bener ya….
Mau itu konser, pameran buku hingga ke pameran otomotif, kadang kita berpikir “Is it worth the trip?”

Well, sepertinya atas pertimbangan itulah jaringan Hotel Santika memilih untuk mendirikan 1 hotel di area ini….

Kami sendiri menginap di sini sepulang berjalan-jalan di daerah Serpong, dan begitu membayangkan harus melewati JORR di waktu libur lebaran, kami pun memutuskan untuk bermalam di Serpong dan memilih hotel ini.

Setelah check in (agak lama, karena status hotel yang fully booked akibat libur lebaran, untung welcome drinknya enak), tujuan pertama tentunya langsung menikmati kolam renang, sambil ngadem gitu ceritanya….. Dan ternyata kolamnya ada di bagian teratas loh, alias rooftop pool, dan kita bisa melihat langsung gedung ICE dari areal kolam renang ini.

Mantap kan pemandangannya, selain gedung ICE, Mall AEON juga terlihat dari areal kolam ini, yang membuat kami pun teringat untuk mengunjungi mall ini juga, and guess what? pihak hotel menyediakan shuttle untuk pergi ke Mall AEON loh, mayan kan ga usah nyetir n nyari parkir 🙂

Beres berenang, mandi dan istirahat sebentar, kami pun turun ke pergi ke Mall AEON (pake shuttle hotel), Neneng sangat menang saat bermain di areal taman mall ini.

Malamnya ada sedikit insiden yang membuat kami perlu memanggil housekeeping jam 1 malam, salutnya, mas mas housekeeping datengnya ga pake lama, luar biasaaaa…..

Besoknya, ternyata neneng pengen berenang lagi, padahal cuaca agak dingin, dan akhirnya neneng pun kedinginan sampe menggigil, hihi….

Oiya, misal menginap di sini saat sedang fully booked (kata mas-masnya sih, kalo ada event di ICE, dah pasti penuh), siap-siap sarapan di lobby yah, karena areal sarapannya yang sangat kecil, jadi ga bisa menampung semua tamu, alhasil area lobby pun dimanfaatkan (ini sebetulnya sangat mengganggu, karena yang kebagian di lobby, jadi harus bolak balik agak jauh). PR buat manajemen, semoga dapat diselesaikan…

Dan berikut rangkuman dari kunjungan kami ke hotel ini :

(+)

– Kenyamanan kamar yang sangat baik, mulai dari tempat tidur, kamar mandi hingga daybed
– misal lagi mau ke event di ICE, tinggal ngesot aja
– staf hotel yang sigap dan bersahabat
– view dari rooftop pool
– shuttle ke mall AEON

(-)

– Area sarapan yang sangat kecilllllll
– sepertinya kalo lagi ada event, noise dari gedung sebelah agak-agak lumayan

Review Kopi Om – Dipati Ukur – Bandung

Review Kopi Om – Dipati Ukur – Bandung

Om, telolet om….

Eh salah, lagi mau bahas warung kopi ini mah….

Om, kopi om 😀

Jadi ceritanya pas lagi kena macet di daerah DU, liat kok ini ada tempat ngopi lucu juga, tempatnya mungil, tapi keliatannya nyaman banget buat ngadem, akhirnya melipir deh….

Nama tempatnya Kopi Om, yang punya om om kali yah…

Tampak depan, menggoda banget kan?

 

Sudut lain tampak depan (tenang, mas kemeja biru itu lagi nelfon, bukan senyum ke eyke kok)

Begitu masuk, bener dong, tempatnya nyaman banget, dengan pencahayaan yang hangat dan AC yang dingin (ini penting, hahaha). Liat-liat menu, langsung pesen dan sambil nunggu pesanan jadi, ngobrol sama mas-mas baristanya, ternyata ownernya langsung loh, dan bukan om-om, hahaha…. Namanya Om Deni (loh, katanya bukan om-om, tapi kok dipanggil om?), ternyata kalo weekend, karena penuh, biasanya Om Deni dan istrinya emang standby di TKP juga, mantap ommmm……

AC dingin, penting!

Jadi ceritanya karena liat di menu ada Kopi Lychee, penasaran, pesen itu deh, kata si Om, Kopi Lychee ini muncul sebagai hasil eksperimen, eh, ternyata, banyak yang suka, jadi masuk menu reguler deh, beuhhhh, bikin penasaran aja nih si om….. Ga lama, pesanan pun siap, voila!

The fabulous Kopi Lychee

And, guess what? Kopi Lychee-nya enak banget dah…. The bitterness of the coffee, dipadukan dengan rasa manis asam dari lychee, plus tekstur si lychee pas digigit, juaraaaaaa……

Karena puas pesen itu, dan sebagai netijen yang selalu lapar mata, akhirnya pesenan pun bertambah sodara-sodara…..

Nah, gawat kan, akhirnya makan sandwich, pastry dan nambah cappucino juga….. Mau duduk berlama-lama dan ngobrol pun ga berasa, karena tempatnya emang nyaman banget, mantap bener dah si Om…..

Sandwichnya enak banget, dough rotinya, kesegaran topping sayuran, sampe ke jenis keju yang dipake, enak semua. Pastrynya juga enak, ga terlalu manis, cocok buat nemenin minum kopi.

Value for money? Dapet banget, rasa yang didapat melebihi harga yang kita bayarkan, keep up the good work Om!

Yang mau merapat, ini ada tautan Google Maps yah :

Ga nyesel deh nemu tempat ini, dan kayanya bakal sering merapat…..

[REVIEW HOTEL] Intercontinental Bandung Dago Pakar

[REVIEW HOTEL] Intercontinental Bandung Dago Pakar

Haiiiii, perjumpaan pertama di review hotel nih, moga-moga ke depannya bakal sering deh berbagi pengalaman tentang hotel ini…

Lokasi hotelnya sendiri sebetulnya masih di Bandung juga, mungkin pada bingung, lah ngapain nginep di hotel di Bandung juga? bukannya emang tinggal di Bandung? Ini review berbayar yah?

Tenang, ini bukan review berbayar kok, review mbayar malah, emang kebetulan aja ada  keluarga yang berkunjung ke Bandung dan mengajak kami turut menginap di sini juga, jadi berangkat deh.

Kami menginap selama 1 malam, check in tanggal 18 Juni 2017, check out tanggal 19 Juni 2017.

Ok, setelah menjemput rombongan di Stasiun Bandung, kami pun meluncur ke lokasi dan tiba sekitar pukul 1, tapi dikarenakan hari minggu dan banyak tamu yang late check out, maka beberapa kamar ada yang belum siap dan kami pun menunggu di lobby. Ruang tunggu lobby memiliki pemandangan hamparan kota Bandung dari sudut pandang perbukitan Dago, dan untuk anak-anak ada ruang tunggu khusus dimana anak-anak bisa bermain menghias kue, membaca buku ataupun bermain konsol game. Dinding lobby juga berfungsi sebagai galeri lukisan, sayangnya file foto lukisan yang dipajang milik saya corrupt sehingga tidak bisa diunggah.

                                         Pemandangan dari teras lobby / ruang tunggu

Akhirnya setelah kamar siap, kami pun menuju kamar, saya sendiri langsung menuju ke kolam renang untuk bersantai sore dan berenang. Dan mengingat di perbukitan Dago cuacanya dingin, tentunya yang diharapkan adalah kolam berair hangat, ternyata suhu kolamnya malah sangat dingin sekali, brrrr, ah mungkin pagi hari dibuat hangatnya, itu pikir saya, tidak lama berenang dan bermain bersama Neneng, saya pun bersantai sore di kursi pinggir kolam. Sambil bersantai, saya pun mengagumi arsitektur bangunan hotel ini sambil bertanya-tanya siapakah arsitek yang merancangnya (mungkin bisa menjadi masukan bagi hotel untuk memberi kredit pada arsitek yang yang merancang bangunan hotel mereka, melalui plakat di lobby mungkin)

                                                                                      Suasana di pinggir kolam

 

                                                 Cantik kan bangunannya? foto diambil dari kolam renang

Beres berenang dan bersantai sore, kami pun kembali dan bersiap-siap untuk berbuka puasa. Sepulang berbuka puasa dan berjalan-jalan, kami pun kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk beristirahat, tetapi neneng punya ide lain, neneng ingin bermain bubble dulu sambil membersihkan diri 😂😂😂

                                                                         Neneng bermain bubble sebelum tidur

Karena saat itu bulan Ramadan, kami mendapat informasi bahwa bila tidak mencapai 20 pax, maka Sahur akan dikirimkan ke kamar-masing, walaupun kemudian karena kuota tersebut tercapai, maka sahur pun diadakan di restoran di lobby. Saat sahur, kami pun turun. Menu yang tersaji cukup lengkap, walaupun tidak semua menu sarapan tersedia (toh mubazir juga sepertinya kalo disajikan full).

Di pagi harinya, karena saya harus bekerja, saya pun meninggalkan hotel lebih dulu, sambil tidak lupa mengambil satu foto kota Bandung di pagi hari

                                                                                   Kota Bandung di pagi hari

Dan berikut rangkuman dari kunjungan kami ke hotel ini :

(+)

  • Kenyamanan kamar yang sangat baik, mulai dari tempat tidur, kamar mandi hingga daybed
  • Ambience hotel yang sangat nyaman
  • Kesejukan daerah perbukitan Dago
  • A beautiful, well designed and well built building

(-)

  • Kolam yang dingin. Kolam tidak harus hangat terus menerus kok, karena agak kurang ramah lingkungan untuk menyalakan pemanas air terus menerus, tapi sedikit kehangatan wouldn’t hurt sepertinya 😀
  • Kesigapan waktu check in. Mungkin ada faktor timing juga, tapi mengingat perjalanan menuju ke sini tidak terlalu dekat juga dengan pusat kota, mungkin bisa lebih ditingkatkan efisiensinya

+ / – untuk menu sarapan tidak diberikan, karena belum merasakan full spread breakfast yang biasa disajikan, maybe next time 🙂

Jodoh

Jodoh

Jodoh.
 
Bukan, bukan mau bahas jodoh percintaan atau meledek para jomblo, biarkan itu jadi ranahnya Kang Emil saja….
 
Hari ini mau bahas jodoh dalam jual beli, terutama jual beli jersey….
 
Pengalaman sekian tahun di dunia jual beli jersey semakin menguatkan pendapat saya bahwa faktor jodoh itu kuat sekali…. Ya, seperti kita semua tahu, jodoh dan rejeki itu di tangan Tuhan….
 
Pengalaman pribadi, ada jersey yang saya inginkan sekali, dan ada rekan sesama kolektor yang memilikinya, tapi dia belum ada niatan menjualnya, ya kita ga bisa maksa juga dia jual toh? mau kita tawar 2x lipat harga pasaran pun, kalau pemilik tak mau menjualnya, ya tidak bisa. Eh ternyata, pas lagi menjelajah internet, nemu kaen serupa, dengan size dan nns yang lebih sesuai buat saya, berarti itu jodoh saya, dan berarti saya belum berjodoh untuk bertransaksi dengan rekan saya tadi.
 
Pernah denger urusan sirik-sirikan harga? Ketika kita denger si anu jual kaen anu dengan harga sekian? Giliran kita jual kaen sejenis, harganya ga sesuai harapan? Ya itu faktor jodoh juga, pas dia majang, ada kolektor yang kebetulan pegang uang n ngebet. Pas kita pajang kaen itu, ada sih yang ngebet, tapi dia lagi ga pegang uang, mau apa? Jodoh kan?
 
Ada juga becandaan bahwa yang pacaran lama tuh kalah sama yang ngajak nikah, haha… Saya pernah dikomplain buyer gara-gara sambil chat dengan beliau, kaen yang lagi ditanyain langsung booked. Lah saya jawab, kan kondisi sudah dijelaskan sedetail mungkin, kenapa masih tanya ini itu segala macem? Kan saya chat ga cuma sama satu orang aja, paralel, jadi kalo keduluan ya jangan baper 😂
 
Pernah denger juga ada seller yang kata semua orang brengsek n nyebelin tapi kok jualannya kenceng-kenceng aja? Ya kita juga sering liat cowo brengsek tapi kok gampang amat gonta-ganti pacar, namanya juga jodoh, ga ketebak.
 
Sama halnya dengan tempat kita berjualan, ga laku di FB, ya jual di Twitter, ga laku juga, bawa ke Toped, mau coba merantau? jual di Ebay… Udah ngenes berat, tinggal dilelang… Kita ga tau jodohnya kaen itu dimana lakunya….
 
Ada lagi teori tentang kalo sudah jodoh ga akan lari kemana? Pasti banyak juga yang ngalamin ini, saya juga pernah. Jual kaen koleksi pribadi, taunya pas udah dijual nyesel juga…. Eh, beberapa taun kemudian, si kaen udah berpindah tangan 3-4 kali, balik lagi ke saya. Jodoh.
 
Ga lari kemana juga bisa kejadian saat kita dah ngebet sama satu kaen, tapi lagi ga ada amunisi…. Ya sabar aja, ga usah ngoyo apalagi neror sellernya…. Kalo berjodoh ga akan lari kemana kok, kalo ga kebagian ya berarti bukan jodoh kita….
 
Kalo kata temen saya Alby Satriaji, biasanya yang ngoyo sana sini tuh mungkin baru mulai koleksi, jadi nafsunya masih meluap-luap, padahal menurut saya, mau koleksi apapun itu, semua ada seninya, dan seninya itu termasuk sabar menunggu 😎
 
Udah ah, udah kepanjangan, mau sekalian saya posting ke Blog aja 😀
(Dan akhirnya memang diposting ke Blog, padahal niat awal cuman buat status FB aja)
[Review Buku] Kitchen Confidential by Anthony Bourdain

[Review Buku] Kitchen Confidential by Anthony Bourdain

Kitchen Confidential (Photo Courtesy https://www.flickr.com/photos/johnjoh/381120484)

Kitchen Confidential adalah buku yang mengorbitkan Anthony Bourdain menjadi seorang celebrity chef sampai dengan hari ini, sebetulnya masih ada beberapa buku lagi setelah ini, tapi menurut saya ini adalah buku terbaik yang pernah ditulis oleh beliau. Walaupun banyak kritikus yang mengatakan bahwa buku ini termasuk lebay dalam mengupas seluk beluk dunia kuliner, tapi ada beberapa poin menarik yang membekas bagi saya saat membacanya. Berikut adalah beberapa diantaranya :

 

  • Bisnis restoran adalah salah satu dari bisnis paling beresiko. Ternyata pemeo 9 dari 10 restoran itu benar adanya, dan itu berlaku hampir di seluruh dunia. Bourdain awalnya membahas ini dari sisi pengeluaran, karena seperti kita ketahui, fixed cost dari sebuah restoran / cafe sangatlah tinggi (biaya gaji, listrik, investasi awal, stok bahan baku, sewa (bila ada)), hingga tak heran bila tempat yang rasa makanannya biasa-biasa saja (apalagi yang ga enak), biasanya tidak akan bertahan lama. Selain itu, menurut Bourdain, kondisi keramaian suatu tempat saat baru buka tidak bisa dijadikan patokan, karena masih banyak tamu yang bersifat coba-coba atau datang karena mengenal pemilik dari tempat tersebut. Kestabilan suatu restoran / cafe baru akan terlihat setelah beberapa bulan bahkan tahun dari sejak berdirinya.

 

  • Jangan memesan menu ikan di hari Senin (dan juga steak well done :D). Kenapa? biasanya pengiriman bahan baku untuk akhir pekan tiba di hari kamis atau jumat. Dan bahan baku yang tidak habis terjual di akhir pekan itu, akan dipush untuk habis terjual di hari Senin. Karenanya banyak menu “spesial” di hari Senin yang terdiri dari menu ikan, karena daya tahan ikan jauh lebih pendek dari daging di dalam lemari pendingin. Selesai bahas ikan, apa hubungannya dengan steak well done? Well, ini menurut Bourdain lo ya. Katanya, ketika orang memesan steak well done, maka sama saja dengan orang tersebut memesan seonggok karbon, kenapa? karena dengan kondisi dimasak well done, maka rasa asli dari daging tersebut sudah hilang dan tertutup karbon hasil grill. Dan ketika ada tamu yang memesan dalam kondisi well done, besar kemungkinan crew dapur akan memilih stok daging yang lebih lama berdiam di kulkas, karena toh rasa akhirnya akan sama saja 🙂

 

  • Dunia masak memasak tidak seindah acara-acara memasak yang biasa kita lihat di televisi, pun dengan kehidupan para chef, tidak seindah penyajian para celebrity chef di acara mereka. Dunia yang riil terdiri dari berdiri berjam-jam melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang (anda grill master, ya dari datang hingga pulang di depan panggangan, dan seterusnya), dan ini memerlukan kedisiplinan dan komitmen yang tinggi dari semua crew dapur, mengapa? karena disaat jam sibuk, tamu tidak peduli ada pesanan sebanyak 24 piring steak yang harus selesai dalam waktu yang bersamaan, yang mereka tahu bahwa mereka tidak ingin menunggu lama hingga makanan tersaji di meja (apalagi di era internet ini, telat sedikit, posting ke medsos, ga enak sedikit, posting ke medsos). Dan ketika seorang chef mencapai garis komando tertinggi di dapurnya, itu adalah hasil dari perjuangan keras bertahun-tahun. Ini sedikit banyak mengingatkan saya dengan hierarki yang agak mirip di bisnis RM Padang. Anak rantau yang baru datang biasanya memulai karir sebagai pencuci piring, kemudian naik pangkat ke level penyaji minuman, dan seterusnya, dimana impian terbesar si anak rantau ini adalah memiliki Rumah Makan-nya sendiri. Demikian pula halnya dengan hierarki di warung pecel lele pinggir jalan, anak baru biasanya memulai dari pencuci piring, terus berjenjang hingga akhirnya bisa memiliki warungnya sendiri.

 

  • Anda pernah memakan sesuatu yang tampak indah, ditata dengan baik, etc tapi rasanya ga karuan? Well, buku ini sedikit banyak mengingatkan kita bahwa esensi utama dari sebuah makanan adalah rasa. Penyajian sebaik apapun akan terlupakan ketika rasanya ga enak :P. Di era instagram ini, ketika orang berlomba-lomba memajang foto makanan di laman instagram mereka, terkadang faktor rasa ini terlupakan. Tidak hanya sekali saya melihat orang yang menghabiskan waktu lebih dari 10 menit untuk mengambil foto makanannya, lalu mengeditnya untuk kemudian diunggah, belum lagi setelah itu selesai, masih dilanjutkan dengan insta stories. Tapi setelah itu? orang tersebut hanya mencicipi makanannya dan kemudian tidak menghabiskannya. Such a waste. Kadang saya heran, apakah memang tidak enak, atau memang hanya senang icip-icip? Ketika kita bisa memahami proses pengolahan sebuah makanan, energi dan waktu yang dihabiskan, mungkin kita akan bisa lebih menghargai makanan tersebut, we will not take things for granted 🙂.

 

All in all, ini adalah sebuah buku yang sangat menarik untuk dibaca, dan juga menambah wawasan kita tentang dunia kuliner. Bagi  yang ingin mendapatkannya, di toko buku online macam Amazon, Ebay atau Book Depository banyak tersedia, bahkan saya pernah iseng mencari edisi bekasnya di Tokopedia dan menemukannya 🙂

 

 

Ulasan Spider-Man Homecoming

Ulasan Spider-Man Homecoming

Hi, ulasan ini mungkin mengandung spoiler, jadi buat yang belum nonton, awas ranjau ya….

Yang belum nonton tapi emang kepo, silakan dilanjut, hehehe

Ulasan diisi oleh 3 kontributor kami, Babah, Bubi dan Jaja, jadi semoga bisa mewakili pandangan tentang film ini dari 3 sudut pandang yang berbeda, enjoy!

Bubi

Kalau Bubi sih mengingatnya cuma dengan 3 kata aja, Geek, T-shirt and Patient. 

Faktanya film ini anak-anak banget ya.. Jadi kayanya dikasih rating PG juga ga masalah deh. Meski memang film yg ada adegan kekerasannya biarpun cuma seulas mah bagusnya tetep PG-13 ya..

Dan senengnya karakter Peter Park digambarin masih anak-anak banget plus super geek-ish yang kemudian di deskripsikan sama Babah sbg “… a way to gain more money from their geeky rich fans..” or something like that lah ya.. Intinya karakter PP dibikin geek supaya para geek merasa lebih mudah relate dan mau menghabiskan lebih banyak uang utk belanja merchandise-nya.

Well, that maybe true in a way but it also work on the movie. It’s nice to see all the weakness and the ‘babysitting theme’ running around here and there through out the movie plus the I’m a geek and its cool swag. 😅😅

Segitu aja kayanya yak

Soalnya Neneng udh manggil-manggil minta puding.

Jaja

For the record, ini film Spider-Man pertamaku yang aku tonton dengan mengikuti ratingnya yang PG-13 dengan benar. Aku belum lebih dari 2 tahun sejak boleh nonton film superhero. Kenapa? Karena sebagian besar film superhero ratingnya PG-13, bukan untuk anak-anak lho…

Oke sekarang ke filmnya… Aku ga nonton sama Babah Bubi, tapi aku nonton sama 2 sepupuku. Sebelum film, Bubi suruh aku cari T-Shirt. Awalnya aku bingung, tapi ternyata tidak sampai 15 menit filmnya mulai, aku langsung tau T-Shirt yang Bubi maksud. Di T-Shirt itu ada slogan “The Physics Is Theoretical, But The Fun Is Real“. Begitu lihat, aku yang memang geek juga, seperti Peter Parker, langsung “WOW!!! I want that shirt

Komentarku ke Peter Parker portrayal Tom Holland sama kaya Bubi. Peter Parker di komik, dari dulu memang selalu punya Geek Persona. Tapi, baru pertama kali portrayal Peter Parker sukses pull off  geek-nya.

Plot-wise juga menarik, awalnya kukira alur ceritanya akan cenderung simpel, tapi writer ini sukses pull off plot twist yang mengagetkan. Spoiler? Jangan deh, nonton aja

Oh iya, satu hal lagi yang membuatku lebih suka Spiderman Homecoming dibandingkan yang sebelumnya. Di semua comic book, dan Marvel Cinematic Universe, meski sudah di reboot berkali-kali. Selalu ada scene atau strip komik yang sama. Scene yang kumaksud itu pas Uncle Ben, meninggal. Ini sudah jadi running joke sejak pertama kali Uncle Ben meninggal sampai sekarang. Untungnya di versi ini, Uncle Ben belum dipastikan identitas atau keberadaannya. Thumbs Up For Not Making These Memes Worse! Untungnya, Father Figure yang Peter Parker butuhkan, diwakili oleh Tony Stark, atau Iron Man.

Jaja Out 😀

Babah

Apaaaa? Reboot lagi? Itu tanggapan pertama saya saat mendengar kabar tentang akan bergantinya pemeran Spider-Man (ini sebelum kemunculan Spidey di Civil War). Tom Holland adalah pemeran Spidey ketiga di layar lebar setelah Tobey Maguire dan Andrew Garfield. Bahkan meme yang beredar pun berkelakar bahwa makin kesini, Spider-Man makin muda (pun dengan Bibi May).

Tapi mungkin reboot kali ini karena akhirnya Sony Pictures (sebagai pemegang lisensi film Spider-Man) paham juga bahwa kalo mau untung lebih gede dan filmnya ga dikutuk fenboi terus, ya harus kerja bareng Marvel Studios, bonusnya jadi bisa masuk ke Marvel Cinematic Universe juga deh….

Langsung bahas ke filmnya, di awal film langsung muncul Michael Keaton, yang udah nonton The Founder, pasti langsung sebel gitu liat dia nongol, tapi langsung waspada sambil mikir “Kan ga mungkin nanggap Michael Keaton buat jadi figuran doang, pasti nanti jadi penjahatnya… ngahahaha”. Jadi, Adrian ini awalnya dapet kontrak dari Pemkot New York buat beres-beres limbah alien, udah sengaja invest mobil dan lain-lain, tapi malah terus digusur sama Pemerintah Federal, inilah yang bikin dia sebel dan mulai mencari peluang baru 😀

Lanjut ke Peter, setelah selesai membantu #TeamIronMan di Civil War, Peter dipulangkan oleh Tony, dan Happy menjadi LO antara Peter dengan Tony. Peter pun mencoba peran baru menjadi pahlawan akamsi di Queens, dengan segala suka dukanya.

Dan ketika Peter bertemu dengan perampok ATM yang menggunakan senjata ajaib dengan teknologi alien, Peter mulai melacak asal muasal senjata tersebut, dan dari situlah filmnya berkembang.

All in all, film ini sangat menghibur, filmnya sih ringan, jadi cocok ditonton bareng anak-anak, dan untuk para moviebuff, sama halnya dengan Deadpool, film ini juga memiliki referensi ke film Ferris Bueller’s Day Out (seriously, yang belum nonton Ferris Bueller, segerakan).

Babah over and out.

Jadi begitulah ulasan Spider-Man Homecoming ala-ala kami, hatur nuhun 🙂

 

 

Dari cerita jadi buku (di kaki pelangi) 

Dari cerita jadi buku (di kaki pelangi) 

Makasih banget buat sahabat kesayangan di cerita blw yang kasih ide nulis ini..

Cerita di kaki pelangi adalah cerita yang sudah sering diceritakan oleh Babah kepada Neneng. Ceritanya adalah tentang bagaimana Neneng “ditemukan”, dan ya ceritanya memang cerita khayalan bukan beneran.

Babah menceritakan pada Neneng bahwa Babah menemukan Neneng di kaki pelangi, disana Babah bertemu dengan makhluk ajaib yg menawarkan Babah keranjang atau kendi berisi emas. Babah memilih keranjang, yang ternyata berisi bayi manis yaitu Neneng.

Nah, mendekati ulang tahun Neneng yang ketiga, Babah dan Bubi mendapatkan ide untuk memberikan kado istimewa untuk Neneng yaitu buku berdasarkan cerita yang sudah sering Babah ceritakan pada Neneng.

Bubi yang bergerilya, dimulai dengan menemukan ilustrator yang tepat. Tepat karya juga tepat harga hehehee. Awalnya Bubi berkhayal ingin sekali digambari oleh Kak Haikal (ilustrator buku kesukaan bubi yaitu Aku Suka Caramu), tapi ternyata fee kak Haikal ini mencapai 800rb/lembar A4 yang artinya kalau buku nya 12halaman berarti 12×800 😱 wow.. Budget kami ga cukup utk itu. Kemudian kak Chike Tania (ilutsrator untuk buku Jana Tak Mau Tidur dan pengarang serta ilustrator untuk Snuggy and Snarl) ternyata kak Chike sibuk sekali sehingga ga memungkinkan untuk menyelesaikan ilustrasi buku dengan waktu yang mepet.

Kala Bubi mulai bingung menemukan ilustrator, Bubi memberanikan diri bertanya pada Tancha (founder of Pustakalana Children’s Library) dan tepat sekali karena Tancha merekomendasikan ka Tika mahasiswa fsrd ITB yang juga menggambar mural di Pustakalana. Tancha memberikan kontak ka Tika dan Bubi melakukan komunikasi pertama, menginformasikan apa yang dibutuhkan serta tenggat waktunya, Bubi juga membisikkan bahwa budget sangat terbatas dan bertanya berapa kira-kira jasa yang diharaplan oleh Ka Tika.

Senang sekali ketika semuanya cocok. Dimulailah proses gambar. Bubi memberikan deskripsi berupa uraian cerita yang akan disampaikan serta karena budget mepet menegosiasikan gambar apa saja yang dituangkan menjadi ilustrasi, dengan fee Rp.100.000/gambar.

Disepakati lah untuk dibuat 6 gambar utama, yaitu:

  • Babah berjalan (dengan pemandangan kota)
  • Babah masuk ke hutan khayalan
  • Babah melihat kaki pelangi
  • Babah bertemu makhluk ajaib
  • Babah memilih keranjang
  • Babah membacakan buku

Semua ini dibuatkan oleh Ka Tika. Beberapa kali ada masukan dari Babah dan Bubi, contohnya penambahan karakter tupai yang menemani Babah berjalan-jalan.

Setelah ilustrasi, Bubi menginformasikan teks yang akan dimasukkan kedalam setiap gambar. Pada kesempatan ini Bubi meminta masukan dari ibu Sofie (salah seorang penggagas Litara, children book publisher) dan memang Bubi menyadari bahwa cerita sangat melompat. Namun, karena keterbatasan waktu, tidak mungkin menambahkan halaman baru (yang berarti ilustrasi baru).

Mepet sekali dengan deadline, akhirnya ilustrasi selesai, sebanyak 8 gambar termasuk cover dan 1gambar bonus yaitu gambar Neneng sedang berlari. Selanjutnya, Bubi menyelesaikan sendiri untuk hasil akhirnya, dengan menyisipkan lembaran narasi (yang seolah dibacakan oleh narator, pihak ketiga) untuk menjadi jembatan dari ilustrasi cerita (yang diceritakan dari sudut pandang Babah, orang pertama).

Setelah selesai proses melelahkan printing pun dimulai. Ketika Bubi bertanya pada jasa printing, angka yg disebutkan ternyata sangat tinggi, mencapai Rp.4000/lbr. Sehingga diputuskanlah untuk print dirumah saja. Dan Bubi sendiri yang menjadi operator printing ini. Kertas yang digunakan adalah kertas HVS A4 100gr (harganya sekitar 65rb/rim) dan di print menggunakan printer Epson L365. Jumlah cetakan pertama ini hanya sebanyak 50buah saja, itupun setiap malam Bubi ngeprint dari saat Neneng tidur hingga jam12malam, dan baru selesai setelah hari ke4.

Selanjutnya semua kertas hasil print dibawa ke jasa printing untuk mencetak cover dan proses jilid. Harga cetak cover adalah 6rb/lbr dan jilid 4rb/lbr nya. Saat ke jasa printing ini Bubi memutuskan untuk membuat 2 buku yang di print di kertas art paper glossy dan dijilid hardcover. 2buku ini untuk ka Tika sebagai ucapan terimakasih dan untuk koleksi kami dirumah. Jasa printingnya 85rb/buku.

Kurang lebih seperti itu proses kami mencetak buku ala ala untuk kado ulang tahun Neneng yang ketiga. Kemungkinan ini akan dijadikan kegiatan rutin, tahun depan Neneng juga akan mendapatkan kado buku, ceritanya pun sedang dalam proses diskusi antara Babah,  Bubi, Jaja (dan Neneng).

tentang Di Kaki Pelangi

tentang Di Kaki Pelangi

Di Kaki Pelangi? Kenapa memilih kalimat tersebut?

😊Semua berawal dari kegemaran Neneng untuk dibacakan buku cerita oleh Babah, dan kemudian Babah memiliki kisah favorit untuk diceritakan pada Neneng, yaitu kisah fantasi tentang bagaimana dia ditemukan. Babah berkisah bahwa Neneng ditemukan di dalam keranjang di bawah kaki pelangi, dan saat itu Babah harus memilih untuk membawa pulang Neneng atau keranjang berisi emas. Cerita lebih lanjut, nantikan tulisan berikutnya ya, hatur nuhun 🙏