Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. 🙂

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *