Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Selamat menikmati!

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 21 Mei 2018, sampai hari Minggu 27 Mei, aku sudah membaca 3 buku. 2 buku yang kubaca merupakan buku nonfiksi. Buku tersebut jika ditambahkan mencapai kurang lebih 10000 loc di Kindle. Sekitar 20 loc (singkatan untuk location), setara dengan 1 halaman di buku yang berukuran 13X20 centimeter.

Jadi, jika ditotalkan, kurang lebih ada 500 halaman yang sudah kubaca. Hmm, sebenernya masih bisa ditingkatkan, tetapi ya sudahlah, ini masih minggu pertama…

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Stuff Matters karya Mark Miodownik
  • 1984 karya George Orwell
  • The Subtle Art of Not Giving A F*ck karya Mark Manson

Berikut ulasan singkat serta opini kepada buku-buku tersebut.

Stuff Matters.

Stuff Matters adalah sebuah buku yang menganut tema sains/sejarah, membahas benda-benda sehari-hari, tetapi dalam perspektif yang lebih mendalam…

 

Buku ini sangat cocok untuk orang sepertiku yang mau kepo sama segala sesuatu yang tampaknya sederhana. Mulai dari coklat, besi, sampai sel tubuh, Stuff Matters menjelaskan sesuatu yang sering dipandang sebelah mata, diduduki, atau mungkin ditelan dalam perspektif sains materi.

Sains materi adalah sains yang membahas segala sesuatu yang ada dalam level atomik atau subatomik. Biasanya orang yang meneliti sains materi melihat struktur dan ciri-ciri (atau properti) sebuah benda. Misalnya, semen memiliki struktur yang ketika cair, layaknya (ehh, tentunya) cairan (kan 😀 ), tidak terlalu ketat, dan tentunya tidak dibatasi “penjara” atomik apapun.

Tetapi, berdasarkan ciri semen dari komposisi kimianya, ia mampu memadat dengan sangat cepat. Ketika padat, struktur partikelnya, menyempit, mengikuti cetakannya, dan benar-benar rapat. Dalam level atomik, semen padat sangat “dense” atau mungkin, rapat. Tetapi, sanking besarnya cetakannya dalam level atomik, meskipun tercetak secara rapat, bentuk cetakannya sangat besar.

Karena kualitasnya yang mudah memadat ini, dan juga struktur atomiknya yang sangat kuat ini, semen sangat kuat, serta mudah dicetak.

Dasarnya sains materi mempelajari hal-hal sehari dalam perspektif fisika, kimia, dan juga tentunya, penggunaan seharinya.

Buku ini tidak hanya menceritakan perspektif materi ini secara sains saja, tetapi juga memberi tahu kita etimologi dari benda tersebut, jenis-jenis benda tersebut (misal, kertas dibahas bukan hanya kertas saja, tetapi juga… kertas kain, kertas uang, dan lain-lain), dan yang sama pentingnya, sejarah benda tersebut!

Penulisnya juga banyak sekali menceritakan opininya pada benda tersebut, dan juga bagaimana ia melihatnya sebagai anak-anak. Seperti ilmuwan inggris pada umumnya, Mark Miodownik memiliki selera humor yang sangat bagus!

Baca buku ini jika…

  • Kamu mau tahu bagaimana cara benda-benda sederhana dapat tercipta, ataupun diciptakan
  • Kamu penasaran atas teknologi terbaru dalam membuat hal-hal sehari-hari seperti ini bisa lebih efisien
  • Ingin melihat benda-benda rumah tangga dari sudut pandang baru
  • Ingin mempelajari sejarah benda-benda yang ada di buku ini.

(oke, maaf, aku gak mau bilang apa aja benda-bendanya yang ada secara spesifik, meski keceplosan sedikit banyak).

Secara keseluruhan, Stuff Matters adalah sebuah pintu masuk yang bagus untuk memicu rasa penasaran dalam sains materi.

1984

1984 adalah sebuah buku yang keluar tahun 1945, karya George Orwell. Buku ini bertema Dystopia, alias membahas apa yang mungkin saja terjadi jika pemerintahan di dunia ini berbelok ke arah yang salah. 1984 merupakan salah satu buku Dystopia pertama.

1984 memberikan kesan yang sangat… menyeramkan. Pertama-tama, ketahui aku sendiri sebenarnya belum pernah membaca atau menonton sebuah karya literatur yang Dystopian. 1984 memberikan kesan yang baik, tetapi buruk mengenai sebuah pemerintahan yang kacau.

Alkisah, dunia ini terbagi menjadi 3 kubu yang kuat, Oceania, Eurasia, dan Eastasia. (maaf, karena kemampuan geografiku yang buruk aku masih kurang mengerti lokasi masing-masing kubu) Setiap pemerintahan seringkali berperang.

Secara internal PNS (atau outer party) diberikan doktrin dan diperhatikan setiap gerak geriknya, agar tidak ada sedikitpun rencana untuk menggulingkan pemerintahan yang sangat kacau ini.

Lokasi buku ini berada di London, dalam sebuah bagian dari Oceania bernama Airstrip One (atau, tentunya, Inggris). George Orwell mampu menjelaskan tiap kalimat dan deskripsi seolah-olah dunia sudah bertolak belakang.

Bukan hanya pemerintahan yang dikacaukan, 1984 juga mengurangi konteks bahasa, agar makin rendah kemungkinan seseorang dapat membuat sebuah kalimat yang puitis atau lengkap, sebuah bahasa baru bernama (ini sangat… obvious) Newspeak diciptakan. Newspeak pada dasarnya membuat semua antomim hilang dan menghilangkan semua potensi ambigu sebuah kata.

Antomim pada dasarnya direpresentasikan oleh kata Un. Jika good adalah baik, dan bad adalah buruk, Newspeak mengganti bad dengan ungood. Untuk great alias lebih baik, diwakili dengan plusgood, dan… ya baca saja bukunya.

Tetapi, pemerintahan di 1984 mengatur segala hak bicara, hak privasi, serta paling parah… hak untuk bebas melakukan apapun.

Baca buku ini jika…

  • Ingin mendapat sebuah sensasi buku horror yang baru. (sebenarnya tidak terlalu seram, tapi… itu bisa jadi menyeramkan untuk beberapa orang).
  • Ingin melihat dunia yang sudah rusak.
  • Penasaran atas metode kontrol yang masuk sampai level diktator. (Nih, yang bilang Jokowi Diktator, baca dulu 1984, biar tahu diktator tuh gimana)
  • Mau mempelajari bahasa baru, yang sekarang masih fiktif. ( 😛 )
  • Merasa ditindas, ataupun diberikan paksaan oleh pemerintah. Karena sesudah membaca buku ini, kamu akan merasa sangat-sangat bebas!

Dari cakupan bebas spoiler, 1984 menegangkan, menakutkan, dan juga “mengajarkan” sedikit tentang politik, serta psikologi pengendalian massa.

The Subtle Art of NOT Giving A F*ck

Iya, buku ini penuh dengan umpatan. Hindari jika kamu tidak ingin mendengar banyak umpatan. Bukan masalah besar bagiku, sayangnya ulasannya terlalu bagus, aku jadi penasaran. Buku ini masuk dalam genre self-help, tetapi tidak konyol, atau terlalu motivatif.

Menjelaskan buku ini dengan 10 kata, atau lebih pendek. Buku ini bodoh, tetapi sanking bodohnya, ia jadi benar.

Mark Manson mampu memberikan motivasi dengan metode yang sama sekali tidak seperti sebuah motivator. Motivator, dan buku self-help ala hippie pada umumnya meminta orang untuk menenangkan diri dengan bilang ke diri sendiri bahwa kamu tenang.

Padahal, nyatanya, orang yang tenang tidak akan perlu untuk bilang ke dirinya bahwa dia tenang. Ia cukup menelan fakta bahwa ia sedang tidak tenang.

Sesuai dengan slogannya, A counterintuitive approach to living a good life… Buku ini benar-benar penuh dengan metode yang ironis, tetapi benar, serta cara memperbaiki diri dengan konyol, tetapi sekali lagi benar. Sebenarnya jika aku memberikan sedikit terlalu banyak “hinaan” itu salah juga sih.

Buku ini penuh inspirasi, tetapi ditulis dengan nyeleneh, sehingga memberikan kesan yang bodoh dan konyol itu. Tetapi, layaknya sebuah orang yang suka bercanda, buku ini memiliki momen serius dimana benar-benar bersih dari nyelenehnya itu dan menjadi momen yang… inspiratif dan benar.

Seperti banyak buku self-help, penulisnya memberikan banyak sekali ceritanya sendiri, dan aku yakin orang pada umumnya mampu merasakan beberapa cerita yang ia selipkan disini, baik miliknya, atau milik orang lain yang curhat ke dia via blog miliknya.

Buku ini… benar-benar bagus.

Baca Buku ini Jika:

  • Kamu muak dengan motivator yang penuh dengan omong kosong dan “tetap positif meski segala sesuatu sudah buruk” miliknya itu.
  • Ingin mencoba cara baru untuk memperbaiki diri.
  • Sering memiliki sedikit masalah dan/atau marah-marah.
  • Suka membaca orang yang nyeleneh. (dengan cara positif tentunya)
  • Ingin tahu penggunaan kata umpatan. . .  yang tentunya variatif! (HMM)
  • Mencari inspirasi atau memiliki krisis identitas.

Seperti kubilang, buku ini benar-benar bagus, tetapi karena Mark Manson tetap menulis dengan gaya nyeleneh-nya itu… Buku ini jadi sumber humor, ironi, sarkasme, umpatan dan inspirasi di saat yang sama.

Kesimpulan

Daftar buku yang telah kubaca dalam minggu pertamaku dipenuhi humor, ketakutan, serta juga… pengetahuan. Sejujurnya, kamu tidak perlu terlalu bosan membaca terlalu banyak buku, selama buku yang kamu pilih menarik tentunya!

Selera buku orang-orang berbeda, dan layaknya memilih baju (atau pacar), pilihlah buku yang sesuai dengan seleramu.

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *