Book Memoir: Minggu Tiga

Book Memoir: Minggu Tiga

Judul serial ini dirubah menjadi Book Memoir untuk memberikan kesan… classy. 😛

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan 😉

Selamat menikmati!

Selama itikaf, aku mungkin mengurangi dosis buku. Oleh karena itu, buku ini berisi buku yang dibaca selama 2 minggu kemarin, dikarenakan aku tidak membaca buku (selain quran) selama 12-17 Juni. Jadi, buku disini adalah buku yang dibaca selama 5-11 Juni. Dengan pengecualian 7 bab terakhir dari salah satu buku yang kubaca, baru aku bereskan pukul 1 pagi, hari ini.

Jadi, minggu ketiga ini berisi buku yang kubaca ketika aku sempat tidak aktif. Selamat menikmati!

Daftar Buku

Senin, 5 Juni, sampai Senin 11 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Meskipun hanya dua buku, salah satu buku yang kubaca mencapai… *tarik nafas* 12000 loc. Oke, sebenarnya aku tidak baca 12000 loc-nya secara utuh mengingat sekitar 7000 loc dari 12000 loc itu merupakan komentar, dan aku mungkin hanya membaca sekitar… setengah dari komentar editor dan penerjemah. Kurang lebih, 8500 loc.

Ditotalkan, secara kasar aku mencapai 13000 loc, ini berarti kecepatan membacaku bertambah sekitar 1000 loc per minggu. Setiap 20 loc setara dengan 1 halaman buku berukuran 13X20 cm, jadi aku membaca sekitar 650 halaman. (aku membaca format Mobi dengan kindle)

Aku sebenarnya tidak terlalu banyak speedreading kali ini, karena bukunya sangat mudah dinikmati, dan terlalu membingungkan serta padat untuk dibaca dengan cepat.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Life of Pi karya Yann Martel (4500 loc)
  • Dante’s Divine Comedy, Part 1, the Inferno. Karya… Dante, terjemahan dan komentar dari Jean Hollander, seorang dosen yang secara eksklusif memberikan kuliah pada puisi tulisan Dante. (8500 loc)

Life of Pi

Mungkin film nya cukup menarik untuk ditonton, tetapi buku ini akan memberikan gambaran dan pesan yang lebih tepat kebanding filmnya.

Sebenarnya aku membaca Inferno sebelum Life of Pi.  Tetapi aku hanyut diantara banyaknya metafora dan simbolisasi dengan puisi tulisan Dante (dengan komentar yang lebih panjang dari bukunya sendiri), jadi aku akan menjelasakan dan memberikan opini mengenai Life of Pi sebelum Inferno.

Jadi, seperti pembaca mungkin ketahui dari film-nya, Piscine Patel adalah seorang remaja “biasa”, dengan kedua orangtua yang memiliki sebuah kebun binatang di India.

Dari awal buku, Piscine (atau Pi, karena dia dibully dengan diberikan julukan Pissing) menjelaskan dirinya sebagai remaja yang biasa, tetapi yang menikmati hewan dan perhewanan. Selama ia masih di India, ia menemukan banyak agama, yang menurutnya pada intinya memiliki kepercayaan yang sama.

Sebagai seseorang yang hidup di India, kehidupannya dipenuhi dengan variasi agama, ada orang Muslim, ada orang Katolik, ada orang Kristen, serta orang Hindu tentunya. Tidak seperti remaja pada umumnya tetapi, Piscine menganut ketiga agama itu, dan ia menyadari bahwa dasarnya ketiga agama memiliki tujuan yang sama, untuk mencintai tuhan. Hanya saja, ritualnya berbeda.

Selama ia masih di India, Yann Martel membawa kita untuk melihat coexistence serta kehidupan mendasar Pi, yang mampu membuatnya tetap teguh dan akhirnya selamat dalam perjalanannya.

Skip saja, kita langsung dibawa ke lautan atlantik. Dimana Pi dan keluarganya harus pindah ke Toronto. Nasibnya di kapal sangat-sangat tidak beruntung. Ia sampai-sampai tersangkut dalam sebuah kapal penyelamat bersama Zebra, Orangutan, Hyena… dan Harimau.

Oh, kapalnya tenggelam ya.

Selama ia mengapung tanpa henti di lautan, ia menemui cukup banyak hal, semua hal yang ia temui disini merupakan simbolisasi ke sebuah situasi di dunia nyata, dan juga ke konflik batin si tokoh utama.

Sebagai contoh utama, Richard Parker, Harimau yang mengusir Hyena (Hyena tersebut juga membunuh Zebra dan Orangutan ya) tersebut, dan juga Harimau yang menjadi hiburan Piscine, serta tantangannya adalah sebuah simbol ketakutan, dan juga kehampaan.

Konflik dalam kapal tersebut yang membunuh si Zebra, Orangutan dan Hyena juga adalah sebuah simbol kepercayaan seseorang. Pada umumnya, seseorang akan harus memilih sebuah kepercayaan. Bukan berdasarkan amarah (Hyena), bukan berdasarkan cinta (orangutan), dan juga bukan karena keterpaksaan (Zebra). Jika seseorang memang harus memilih kepercayaan, (kecuali memutuskan untuk tidak percaya agama apapun), ia akan memilih berdasarkan ketakutan.

Buku ini melukis bagaimana seseorang mampu selamat dari suatu tragedi, dan buku ini juga sukses mengisahkan konflik batin yang “umum”, dengan sebuah metafora, menutupinya dengan gambar yang mampu diambil secara harfiah.

Secara keseluruhan, Buku ini adalah opsi yang baik untuk belajar perumpamaan, serta alegori mendasar dalam sastra. Bukunya sangat bagus, dan tentunya juga cukup menarik dan modern, karena tentunya buku ini baru ditulis di tahun 2001.

Dante’s Inferno

Ini buku bagus. Tapi membingungkan.

Dari mana aku mulai… Heeeuh.

Buku sebelumnya merupakan contoh sangat baik untuk metafora yang bisa diambil secara literal. Life of Pi super cocok untuk pemula sastra. Dante’s Inferno adalah opsi yang ratusan kali lebih menarik, serta, jika bicara religius… juga lebih religius. Brutal? Iya, Dante juga lebih brutal.

Nah… The Inferno adalah sebuah puisi, berisi 34 part, chapter, atau tepatnya untuk puisi, Canto. (Kanto? Mungkin untuk Bahasa Indonesia).

Jadi, buku ini sebenarnya bukan opsi terbaik untuk yang tidak siap mendapatkan bayangan kejam, dan tidak bisa dihapuskan dari kepala, selain itu, aku tidak menyarankan buku ini jika tidak ada niatan sedikit pun untuk mempelajari sedikit budaya nasrani.

Jadi, sejujurnya aku tidak akan mengerti buku ini menjelaskan apa jika tidak ada sedikitpun komentar dari Jean Hollander. Mengapa? Hehehe. Jadi, Inferno ini penuh dengan ratusan metafora, serta bahasa yang dengan sengaja dibuat untuk tidak bisa dicerna oleh orang-orang yang tidak ingin sedikitpun berimajinasi.

Selama Dante berusaha masuk dan melihat ke dalam neraka ini, ia ditemani seorang penyair asal romawi, namanya Virgil, penulis mitologi tentang Aeneas, pahlawan Romawi pertama, yang juga memulai kerajaan dan kekaisaran maha kuat tersebut.

Nah, jadi, tentunya gurunya Dante bukan orang yang main-main. Seorang (atau err, arwah dari) penyair terbaik dari kerajaan terkuat sepanjang masa tentunya mungkin salah satu guru terbaik yang seorang penyair bisa dapatkan.

Pada dasarnya sepanjang epik ini, Dante berusaha mengemas nasib orang-orang yang membuat sebuah dosa. Apapun dosanya, seberapa baik orangnya, jika ada sedikitpun dosa, maka ia akan masuk Inferno. Hukuman yang diterima oleh para pembuat dosa ini juga cukup kejam, dan disesuaikan secara spesifik ke dosanya. Misalnya, para orang serakah (Greed) dipaksa untuk berjalan dengan menggendong uang yang sangat berat.

Aku sejujurnya TIDAK menyarankan orang untuk membaca puisi/buku ini dengan santai. Jika anda memiliki niatan untuk membaca buku ini, harap lakukan dengan serius. Terlalu banyak adegan dan bayangan kejam yang tidak akan bisa ditoleransi oleh warga Indonesia.

(Tapi, hngg, buat apa orang baca buku ini kalau tidak diwajibkan oleh kampus lagian)

Selain banyaknya budaya nasrani dan kristianisme di puisi ini, juga ada guratan mitologi Romawi dan Yunani di buku ini. Misalnya, ada Raja Minos di tingkatan tertinggi neraka, untuk menentukan siapa yang dimasukkan ke tingkat apa. Juga ada Cerberus untuk menghukum para orang-orang yang rakus (Gluttony).

Secara keseluruhan, aku tidak bisa bercerita banyak mengenai Inferno tanpa melanggar beberapa kode etik pribadi mengenai apa yang layak dituliskan di blog ini dan apa yang tidak. Jika aku harus mengemas buku ini dalam sebuah kalimat pendek…

Buku ini terlalu membingungkan. Kebingungan yang didapat dari membacanya adalah alasan buku ini sangat bagus.

Terima kasih Professor Jean Hollander untuk E-Book Dante’s Inferno yang gratis dan lengkap dengan komentar yang membantuku mengerti apa yang sedang terjadi dalam untaian kata tulisan Dante Alighieri. Layaknya Virgil menuntun Dante dalam perjalanannya.

Kesimpulan

Jadi, sejujurnya perjalananku dalam Inferno tidak terlalu mulus. Namun, sangat beruntung aku dapat menemukan simbolisasi yang mirip, serta juga masih bisa ditarik benang merahnya dalam Life of Pi.

Hidup seperti itu (-_-“), jika kita kesusahan melakukan suatu hal, mungkin kita akan diberikan jalan lain yang mampu membuat hidup kita lebih mudah.

Oke, ini terkesan show-off.

Intinya, banyak jalan, banyak cara. Ingin belajar alegori? Bisa belajar ke Inferno! Bingung? Life of Pi saja! Itu dibiarkan ke kita untuk memilih jalan dan rute agar kita bisa mencapai yang kita ingin capai… dengan metode seefisien mungkin

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *