Bertemu dengan beberapa Diplomat Muda… Pt. 1

Bertemu dengan beberapa Diplomat Muda… Pt. 1

Jadi begini…

Sebenarnya aku sudah ingin menuliskan ini dari 2 minggu yang lalu, tetapi, dikarenakan satu dan lain hal, gak jadi…

Maaf sedikit (ehem, sedikit Zriel?)… Ugh… Maaf sangat ngaret.

Anyway, 22 Juli kemarin ada acara di Museum Konferensi Asia Afrika, yang mengajak kita bertemu dengan diplomat junior dari 10 negara… Aku tidak akan menceritakan semuanya dengan detil, terutama bagian dimana penanggung jawab acara ini dari Kemenlu secara spesifik bilang… “Tolong jangan beritahu ini ke umum ya, anggap saja ini bonus untuk anggota SMKAA yang memang sudah sering membantu museum.”

Acara dibagi menjadi dua sesi. Diawali dengan diskusi publik, dan obrolan santai, dimana para diplomat junior ini dikencar dan mengobrol dengan orang-orang secara private.

*COUGH, aku dan diriku yang sangat-sangat enjoy ketika dalam momen tersebut… Lupa mengambil satu pun foto… COUGH*

Bagaimanapun juga, mari kita masuk ke artikel hari ini…

Diplomats.

Courtesy: Viva Atas (kanan ke kiri) Guyana, Jepang, Meksiko, Portugal, Nigeria. Bawah (kanan ke kiri) Fiji, Myanmar, Ibu Retno Marsudi, Kamboja, Bangladesh, Papua Nugini

Foto para Diplomat kemarin. Karena umm… Aku lupa foto..

Open Discussion

Sesudah para diplomat dikenalkan oleh Penanggung Jawab, yang juga merupakan Direktur Diplomasi di Kemenlu… Kami langsung masuk ke sesi diskusi terbuka, dimana SMKAA bertanya kepada para diplomat, dan mereka bergantian menjawab.

Pertanyaan-pertanyaan saat Open Discussion cukup sederhana, dan lebih banyak ditanyakan ke semua orang sekaligus, tidak cenderung terlalu spesifik.

Aku memilih 3 pertanyaan yang menurutku paling menarik, di antara… sejujurnya aku tidak ingat ada berapa pertanyaan. (aku kurang beruntung dan tidak sempat bertanya di Open Discussion)

#1 How is Bandung so far?

Kurangkum saja ya…

Semua diplomat (ini hari kedua di Bandung, dan hari masih pagi) sepertinya menikmati dan juga senang sekali dengan Bandung. Komentar mereka tidak jauh dari…

  • Bandung is a more enjoyable and calm city, it’s slower than Jakarta here, and definitely closer to Nature.
  • I heard that Bandung is a city that’s filled with many creative industries in it, and Mr. Azis here said that it’s known as Paris Van Java.
  • For now, I prefer Bandung over Jakarta because it has far less smoke, and the people here seem friendlier.
    • Pak Azis (penanggung jawab, serta direktur diplomasi di Kemenlu) mengomentari “There are lots of pretty girls here in Bandung, you’re single right?”
    • Kami tertawa…

Diplomat dari Jepang, sudah cukup fasih berbahasa Indonesia, karena sempat berada di Indonesia untuk 6 bulan, melakukan riset (atau studi banding, aku tidak ingat dengan pasti) di Universitas Padjajaran.

Bahasa Indonesia yang ia gunakan sopan, lembut, dan juga… Baku. Tidak dicampur dengan Bahasa Inggris, dan secara keseluruhan, kurasa, lebih baik dan enak didengar daripada bahasa indonesia yang aku gunakan. Jadi, sepertinya, jika dibandingkan dengan bahasa millennial yang… ya, kacau balau, dan serba singkatan, seharusnya kami, sebagai orang Indonesia, sedikit malu dengan foreigner yang bisa berbicara bahasa ibu-nya. (Seriously, he’s that good, orang yang ketemu dengannya, kalau ia berbicara dengan Bahasa Indonesia, mungkin mengira dirinya sebagai WNI)

Kembali ke topik utama, ia menuturkan sedikit, “Saya mungkin paling kenal dengan Bandung daripada teman-temanku yang lain. Saya sempat belajar selama 6 bulan di Universitas Padjajaran, dan menurutku, Bandung itu kota yang indah, jajanannya… enak. Kata teman saya, Batagor di… umm, cafeteria kampus enak, dan saya sangat suka. Selain itu, saya juga senang bisa kembali mengunjungi Bandung…”

Dan, dari situ, aku melupakan apa yang dikatakan… Maklum, manusia hanya bisa mengingat 10-30% dari apa yang ia pelajari.

#2 How has the Asian African Conference affected your country?

Sekali, lagi, dirangkum saja…

  • It has changed, quite a lot really… Not only did it help our country feel less restrained to the remnants of the invasion there, not only did it help us gain our independence, it also gave us a strong fighting spirit to make the most out of it.
  • It’s not just the Asian African Conference that mattered, but also the aftershocks of what happened next. Like the, uh… Non aligned movement. Overall, the sound from Bandung at 1955 sounded loud around the world at the time and it still echoes until today.
  • Myanmar, or perhaps, Burma is still in gratitude of Indonesia for holding the Asian African Conference, and is very thankful for it. Dasasila Bandung helped us in building some of the foundations of our human rights, and we will not let go of such a large event.
  • I’m sure that several countries who were not independent yet at the time in both Asia and Africa became independent. (yes, that is what happened)

Kembali ke titik A…

Jadi, bertemu dengan diplomat-diplomat muda ini membuat aku makin, geleng-geleng kepala, dicampur dengan sedikit face-palm juga… Ke orang Indonesia.

Kita sudah melawan dan juga, tentunya mendapatkan kemerdekaan kita sendiri, dan kita memberikan serta membangkitkan semangat banyak negara lainnya untuk ikut merdeka. Tetapi apa? Kenapa, oh, kenapa? Kita, yang sudah diusung, dihormati, dan diberikan banyak tanda terima kasih dari negara luar, malahan… menyia-nyiakan kemerdekaan ini.

Ketika aku berumur 11 tahun, dan masih bersekolah formal, pada pelajaran PKn, diwajibkan untuk mengetahui cara mengamalkan pancasila, dan kurasa materi ini masih diberikan ke anak kelas 5 dan kelas 6 lainnya, tetapi… Masalahnya, mau diberitahu sesering apa tentang cara mengamalkan pancasila, kalau tidak diamalkan juga, tidak ada artinya dong…

Kesal kan? Gawat ini…

#3 Why did you become a diplomat? and How?

Pertanyaan sederhana, tetapi, jawabannya, kurasa, sangat-sangat relatif… Bisa saja, sudah direncanakan, bisa saja sederhana, dan bisa saja… karena kebetulan.

  • I became a diplomat because I love my country, and I want to share its culture with the world.
  • I am a sports promoter from Guyana, and, actually, I also played for the Guyanese Cricket Team. I always loved sports, but I myself know that I’m not really that good at it, so I chose to be a sports promoter instead…
  • As a child, I am actually one of the few people in Japan who is actually good at speaking English… So, I guess, being a diplomat in a country whose first language doesn’t use latin letters just, lead me here.
  • I used to be a reporter, back in Portugal that is… Well, it enabled me to travel around the country, catching whatever event happened there. Eventually, since I enjoy travelling, I knew that, if I’m a diplomat, I could experience different countries. So, I chose to be a diplomat instead of a reporter. Funny enough, I am actually an international relations graduate, but I enjoy writing. So, I guess, I went back to where I am supposed to be…

And so on…

Untuk pertanyaan, How, tetapi… dijawab oleh Pak Aziz.

Dan iya, tidak boleh disebarkan, Pak Aziz, benar-benar spesifik bilang bahwa ini khusus untuk SMKAA, so… boohoo 😛

Tetapi, mengutip sedikit, kuncinya di Interview, dan kamu bisa jadi diplomat jika kamu pantas, dan jika kamu mampu.

To Be Continued, Tomorrow… This time with names

Kenapa belum ada nama? Lupa…

Iya, aku bisa ingat cerita sepanjang ini, tetapi, aku seringkali melupakan nama.

On the bright side, ada daftar nama yang ada di Koordinator Eksekutif kita, dan akan dicari, segera 😉

EDIT: Nama, gak jadi… Tetapi, aku sukses mengingat 6 dari 10 nama, mencari catatan di bukuku yang hanya berisi, coretan nama, bisi aku lupa… kedua perempuan dari Myanmar dan Kamboja, sayangnya tidak tercatat… Jadi… ada sedikit kemajuan!

Muhammad, dari Nigeria. Javier, dari Meksiko. Justin, dari Papua Nugini. Miguel, dari Portugal. Alanieta, dari Fiji. Sheila, dari Bangladesh.

Ironisnya, aku mengajak ngobrol Diplomat dari Guyana, dan melupakan namanya… Mengajak ngobrol diplomat dari Jepang, dan juga lupa namanya… Ada apa denganku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *