Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Dengan Star Wars yang tampak akan masuk ke Bioskop Indonesia dengan cepat… Aku rasa ini momen yang pas untuk membahas Benda-Benda Kolektibel!

Minggu depan aku akan membuat tulisan yang lebih spesifik tentang Star Wars dan mainan-mainan Star Wars, tetapi minggu ini, aku akan membahasnya dalam sudut pandang yang jauh lebih umum. Benda-Benda Kolektibel-nya sendiri.

Selamat menikmati.

Merchandising is Underrated.

Semua Film Star Wars menghasilkan 7 Milyar Dollar US. Mainannya? Menghasilkan 14 Milyar Dollar US . Spider-Man? 6.4 Milyar Dollar US (ketiga reboot ditotalkan). Mainannya? Tenang, hanya 1.3 Milyar Dollar US. Per tahun (bahkan adanya film baru keluar tidak begitu merubah angka ini, rata-ratanya dari 1.0 sampai 1.4 milyar).

Merchandise. Butuhkah kita?

Dari semua geeky trend yang ada di dunia (Star Trek, Star Wars, Spider Man, Batman, Superman, Semua Putri Disney), hanya Avengers yang sepertinya mendapatkan penjualan lebih banyak dari film kebanding merchandise. Itu pun sebenarnya bukan karena penjualan Merchandise Avengers begitu sedikit, tetapi karena penjualan film Avengers yang sangat banyak, dan mampu merambah orang-orang yang bahkan jarang menonton film.

Film-film dan studio-studio yang berpikir kapitalis tentunya tidak lagi bergantung pada film sebagai sumber penghasilan. Justru mereka bergantung pada jualan Merchandise.

Angka-angka dari merchandising tampaknya tidak akan berubah begitu banyak, sedangkan kalau tren Box Office… Kita bisa melihat penurunan ketika kualitas filmnya tidak begitu bagus.

Sampai hari ini, aku pribadi percaya bahwa Age of Ultron adalah film Avengers yang terburuk karena film tersebut diniatkan hampir murni untuk jualan Merchandise kebanding memberikan film yang memang bagus… dan sebenarnya, rencana mereka jualan merchandise gak bener-bener gagal… Age of Ultron menghasilkan 45% lebih banyak dari merchandise kebanding penjualan tiket.

Hal yang lebih konyol lagi, konsumen merchandise jumlahnya lebih sedikit kebanding jumlah tiket yang terjual.

Aku tidak punya angka empirik. Perkataan ini hanya reka-reka saja, tetapi aku yakin bahwa tidak ada orang yang membeli 2 tiket untuk satu orang kan? Mungkin ada orang yang menonton film yang sama 3 atau 4 kali, tetapi umumnya satu tiket untuk satu orang.

Sedangkan, bagaimana kalau merchandise? Satu orang bisa punya lebih dari 20 jenis merchandise kalau mereka mau… Aku saja punya 8 kaos D.C. (iya, iya, terlalu banyak… tetapi, aku geek parah) dan 3 kaos Marvel… Padahal aku termasuk fanboy yang nyantai.

Meskipun tidak ada basis fakta di belakang ini, aku yakin pembaca bisa menalar dan memberikan kira-kira tentang statistiknya…

Kenapa ini terjadi?

Si Fans Sepakbola.

Kenapa bahkan orang dewasa, atau anak-anak ingin punya sebuah merchandise?

Mungkin mereka ingin punya sesuatu yang “langka” karena hukum ekonomi dan hukum sosial untuk showing off dan hal-hal seperti itu. Tetapi aku tidak mengerti kenapa anak-anak menginginkan hal yang sama. Kenapa anak-anak yang dikenalkan dengan merchandise mau punya merchandise? Untuk dimainkan?

Sesudah nonton The Toys That Made Us di Netflix, aku mendapat bayangan. Mari aku kenalkan seorang professor Sosiologi dari College of Lake County, bernama John Tenuto. Ia juga kolektor barang Star Wars. Dia memiliki satu ruangan agak besar yang ia khususkan untuk merchandise Star Wars. Oh iya, kalau Bapak-bapak di sini menanyakan kenapa dia diizinkan punya ruangan untuk merchandise dan juga kenapa dia gak disuruh jual merchandise-nya sebelum nikah… Istrinya juga kolektor. (note to self, cari pacar dan istri yang gak galak soal Merchandise…)

John Tenuto dan Istrinya

Tenuto mengatakan bahwa seorang fans sepakbola misalnya… Bisa pergi ke stadion untuk menonton pertandingan dan mendapatkan vibe bahwa ia dekat dengan pemain-pemain kesukaannya. Seorang fans musik, bisa menonton konser dan mendapatkan perasaan nyata bahwa ia bersama penyanyi kesukaannya, dan mendapat penampilan langsung.

Seorang fans film tidak bisa mendapatkan pengalaman nyata yang sama. Hal terdekat yang mereka bisa dapatkan mungkin menonton ketika film tersebut sedang direkam, tetapi kita tidak bisa mendapatkan perasaan bahwa kita bersama Tony Stark, yang kita dapatkan adalah Robert Downey Jr. sedang memainkan peran Tony Stark.

Hal yang sama tentunya berlaku untuk fans sejarah. Mereka bisa ikut reenactment perang atau kejadian, tetapi tidak bisa terlibat langsung seperti fans musik atau fans sepakbola… Cara mereka melibatkan diri secara langsung adalah dengan memiliki barang yang dipakai dalam kejadian sejarah tersebut.

Dipikir-pikir lagi, kolektor barang yang hardcore umumnya memang terlibat di hal-hal yang mereka memang sukai, serta tidak mudah untuk terlibat langsung.

Contoh-contoh untuk ini adalah:

  • Film/Serial TV
  • Fashion (karena hal yang disukai memang hal yang langsung dikoleksi)
  • Sejarah
  • Video Games
  • Seni
  • Dan masih banyak lagi

Fans sepakbola atau fans musik punya kecenderungan untuk lebih tidak konsumtif dari fans-fans hal di atas dalam konteks merchandise. (ini bukan berarti fans sepakbola tidak konsumtif, hal yang sama dengan fans musik tentunya)

Menurut Tenuto, keterlibatan adalah hal yang krusial bagi seorang fans. Mereka ingin terlibat dalam hal-hal secara langsung ketika sudah benar-benar menyukai sesuatu. Keterlibatan tersebut menjadi alasan dan dorongan untuk membeli merchandise.

Kesimpulan

Pada akhir hari, kita mengoleksi hal-hal yang kita ketahui tidak perlukan.

Seriously. Aku tahu bahwa kita sudah kebangetan dalam konteks koleksi kalau Star Wars menyediakan Rice cooker R2-D2 dan BB-8. Buat apa?

Namun, layaknya semua hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial, mengetahui dan menerapkan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Seorang psikolog yang tahu bahwa manusia punya kesulitan bilang tidak ketika ditawarkan produk belum tentu punya keberanian untuk bilang tidak ketika menerima penawaran produk.

Sama juga dengan koleksi. Menurutku, penting untuk seseorang bisa membedakan hal-hal yang penting dan yang bukan, dan pada akhir hari… Apakah iya bahwa punya Odol merek Star Wars merupakan hal yang penting?

I’m out! Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *