Bandung Dilanda Krisis Bahan Pokok!

Bandung Dilanda Krisis Bahan Pokok!

Judulnya bukan clickbait. Kalau memang dianggap clickbait, mohon maaf, tujuanku bukan membuat clickbait, hanya untuk membuat suatu artikel yang sedikit… urgent.

Serta tentunya, Komedik.

Bandung baru saja dilanda kebutuhan bahan pokok.

Entah kamu mau mencari ke Warung berjarak 50 meter dari rumah, ke minimarket berjarak 500 meter dari rumah, sampai ke supermarket terdekat… Kamu tidak bisa menemukan bahan pokok ini.

Dimanapun itu, Bandung sedang dilanda krisis. Krisis Beng Beng!

Dimulai Sejak Akhir Bulan Puasa

Malam itu dingin, sekitar pukul 19.00. Tepat sesudah shalat isya, aku dan teman-temanku yang sedang beritikaf, memutuskan untuk beristirahat dulu, lalu Tarawih. Sebelum tarawih tetapi, salah satu temanku bergumam. “Kayanya, Beng Beng Share-it enak nih”.

Jadi, aku yang sudah cukup senang diajak itikaf, dan diberikan makan berbuka serta sahur oleh masjid yang mengadakan itikaf tersebut, memutuskan untuk membelikan temanku itu beng-beng shareit. Namanya juga baik kan? Hehehe.

Jadi, aku berjalan, dan berjalan, malam ke 25 itu tidak terlalu dingin. Dari gedung sate, ada sebuah alfamart yang tidak terlalu jauh. Aku memasuki pintunya, maju mencari di setiap barisan makanan, di sana, di sini… tidak ada!

Jadi, aku menanyakan ke mas-mas yang menjaga kasir. “Mas, punten, Beng-beng share it nya habis ya?”

Ternyata betul, di alfamart tidak ada.

Ya sudah, mungkin di Supermarket ada.

Dengan lewat pintu belakang, dan memotong jalan sedikit, aku mencapai Supermarket dalam waktu sekitar 30 menit. Tidak ada juga… Haha. Di supermarket, tidak ada satupun beng beng share it… Mengapa? Oh tidak.

Menyusuri jalan Riau, aku mampir ke Indomaret, Alfamart lain, warung pinggir jalan, dan semuanya memberikan respon sama. “Habis.”

Dengan amat kecewa, aku mencoba keberuntunganku untuk terakhir kali, memasukki Circle K, dengan harapan mungkin saja ada.

KEBERUNTUNGANKU MASIH ADA! Aku sukses menemukan sebuah Beng-Beng Shareit, hanya tersisa satu lagi. Untungnya, aku masih memiliki cukup banyak waktu untuk kembali sebelum Tarawih. Dan aku pun mengantarkan parsel berharga itu sambil berceloteh…

“Guys, kalian gak bakal percaya aku ke berapa toko demi beli ini!”

Analisis ekonomiku mengatakan bahwa dengan naiknya keluarga berkumpul, cemilan enak dengan ukuran pas, harga ekonomis juga sangat cocok dinikmati bersama-sama keluarga. Jadi, sembako kesepuluh ini langsung cepat dihabiskan oleh orang-orang.

Lebaran

(FYI, ini di Jakarta, sedikit misinformasi di judul, mohon maaf)

Harapanku mencari Beng Beng masih ada, asa hampir hilang.

Malam Takbiran, aku diminta mencari cemilan untuk di hotel, yang bisa dinikmati bersama, tidak usah jauh-jauh, cukup ke Alfamart saja. Keluargaku sedang ngopi di dekat situ, tetapi aku diminta untuk membeli cemilan.

Micin, sudah ada.
Air, sudah ada.
Micin jenis lain? juga ada.
Apa yang kita kehilangan?
Gula! Manis-manis!

Alhamdulilah! Masih ada Beng-Beng Share-it! Hanya tersisa satu lagi saja, langsung, aku berlari dengan bahagia ke barisan itu, deretan coklat lain tidak menggoda, tetapi aku mencomot satu saja, dan itu adalah satu-satunya Beng-Beng yang tersisa, baik yang share it, atau yang besar.

Hari H lebaran, tidak ada lagi satupun Beng-Beng ketika aku mampir ke alfamart.

Sepertinya, semua yang tersisa sebelum Beng-Beng kehilangan semua driver pengantarnya, telah mudik. Stok telah dihabisi oleh orang-orang, dan sembako kesepuluh ini, telah habis.

Sesudah Lebaran

Bandung, baru saja Sabtu kemarin. Aku dan Ibuku mampir terlebih dahulu untuk membeli nasi goreng untuk makan malam. Tempatnya penuh, aku bosan. Untungnya, ada 3 koin 500 perak dalam kantongku. Cukup untuk membeli satu beng-beng saja.

Aku keluar, menghampiri warung yang berada tepat di sebelah restoran nasi goreng penuh tersebut. Tidak ada. Beng-Beng telah habis, sejak Lebaran… Beng-Beng sudah tiada.

Oh tidak.

Mengapa? Mungkin, hanya di warung ini saja, kupikir. Diriku berjalan ke warung di sebelahnya, tidak ada juga…

Bandung sudah resmi berada dalam sebuah krisis. Krisis Beng-Beng. Semua warung dalam radius 200 meter ++ dari restoran nasi goreng itu tidak ada satupun yang memiliki Sembako kesepuluh. Selamat tinggal temanku, ku akan merindukanmu.

25 Juni, hari ini.

Diriku masih menginginkan Beng-Beng.

Aku berjalan, baru saja sekitar 1 jam yang lalu. Menghampiri warung di ujung jalan rumahku, tiada.

Aku berjalan lagi, mendekati masjid, warung tepat di sebelah masjid, tiada.

Terus saja, aku berjalan, berjalan dan berjalan. Sudah tiba di sebuah minimarket, aku bahkan mencoba 3 minimarket berbeda. Tidak ada satupun yang ada.

Dimana Beng-Beng! Aku merindukanmu!

Kesimpulan

Maaf, penulis sedang sedih. Ia menginginkan sembako kesepuluhnya segera.

Beng-beng, dimana kau?

Sampai lain waktu… T-T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *