[Azriel’s Late Post] Visit to HHP Law Firm

[Azriel’s Late Post] Visit to HHP Law Firm

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Jumat minggu lalu, tanggal 10 Maret 2017, aku pergi ke Jakarta, karena Law Firm Hadiputranto, Hadinoto & Partners di Gedung Bursa Efek Indonesia mengadakan acara tahunan International Women’s Day, sama seperti yang mereka lakukan setiap tahunnya sejak beberapa tahun yang lalu. Pada acara ini, keluarga dari seorang lawyer disana boleh visit ke kantor dan melihat kantor ibu atau ayah, tante, om-nya. Acara ini sebenarnya ditujukan ke anak-anak balita atau mungkin SD, karena tujuannya visit ke setiap divisi dan mengambil goodybag. Untungnya aku  cukup cerdik untuk memanfaatkan ini sebagai kesempatan belajar.

Pre-Event:

Aku pergi ke Jakarta sendiri naik kereta. Di perjalanan aku sempat mengerjakan project yang belum kuselesaikan di HP, tidur, dan menonton serial di HP. Aku berangkat sendiri kali ini, jadi tidak bisa banyak mengobrol. Sesampai Jakarta aku berusaha memesan gojek yang tidak datang-datang, jadi aku memutuskan makan di stasiun, dan akhirnya dapat gojek sesudah makan siang. Sesampai di Gedung Bursa Efek, aku langsung coba kontak Tante Inda untuk menjemputku. Sesudah di jemput ke bawah, aku masuk dan naik, lalu menunggu sekitar satu jam di ruang tunggu. Oh iya… sebelum berangkat Bubi request aku tanyakan sebanyak-banyaknya ke lawyer-lawyer disana, dan pertanyaan paling di request itu, “Kalau banyak kerjaan stress tidak lawyernya?”. (Pada akhirnya ku tanyakan sih, memang pertanyaan bagus, dan aku mengerti kenapa Bubi request menanyakan ini. Soalnya Tante Inda kalau mau diajak ketemuan suka susah soalnya biasanya sibuk.)

Event:

Untuk mendapat kesempatan untuk belajar ini, setiap kita selesai mendatangi sebuah divisi di law firm ini, aku meminta izin seseorang untuk kembali ke sini lagi ketika semua acara sudah akan selesai untuk bertanya. Di akhir acara aku bertanya ke 4 dari 7 divisi. Divisi yang kutanyakan (secara detail) adalah divisi perizinan (aku lupa istilah lawyer-nya), projects and development, intellectual property, dan dispute.

Sesudah acara mengumpulkan goodybag (yang ternyata cukup banyak selesai) aku langsung mengambil binder dan alat tulisku, meniyiapkan banyak kartu nama, dan menyalakan mode jurnalis (alias siap-siap banyak bertanya, hehe) untuk bertanya, dan tentunya mengumpulkan jawaban dari setiap divisi. Kata Kakak yang jadi Chaperone batchku, aku harus kembali dalam 45 menit… Namun, ketika aku bersiap-siap berangkat, aroma martabak coklat, dan pizza jadi distraksi, (maklum, hehe, lagi jam-nya snack sore) jadi aku makan martabak dan pizza dulu, yang enak menurutku, baru berangkat kembali ke lantai 21 dan 22.

Aku naik ke lantai 21 dan langsung ke divisi perizinan. Aku kembali untuk minta izin bertanya, dan aku bertanya ke Tante Cindy dari divisi ini. Aku bertanya ke Tante Cindy mengenai beberapa hal. Pertanyaan pertamaku adalah overview dari divisi ini, dan Tante Cindy menjawab bahwa divisi perizinan mengurus perizinan-perizinan (secara hukum) bisnis, pembangunan, dan mendraft kontrak untuk ditandangani klien. Berikutnya aku menanyakan flow proses sebuah klien (misal ingin buka bisnis) dalam perizinan ini. Tante Cindy, menjelaskan bahwa hal pertama untuk dilakukan adalah membuat sebuah PT. (atau perseroan terbatas) biasanya proses ini butuh proposal yang di draft dan dikirim ke pemerintah. Sesudah di approve maka untuk membuat sebuah bangunan (misalnya, kantor atau toko) butuh izin lebih lanjut, yang berisi detail rencana pembangunan, dengan atas nama PT. yang sudah dibuat tadi. Kurang lebih Tante Cindy menjelaskan seperti itu.

Berikutnya aku menanyakan mengenai stress atau tidaknya Tante Cindy, dan bagaimana cara coping, atau menghindari stress tersebut. Tante Cindy menjawab dengan cukup straightforward bahwa jika dibawa happy, meski kerjaan banyak dan harus lembur maka tidak bakal stress. Aku mengobrol dengan Tante Cindy cukup lama, bahkan Tante Cindy dan aku sempat diskusi apa aku cocok jadi lawyer atau tidak (Tante Inda bilang ke semua orang disini aku ingin jadi lawyer, tapi aku mengkoreksi statement itu sih.. Aku mengkoreksi dengan Aku menambahkan lawyer di list possibility pekerjaanku nanti.) Kata Tante Cindy, kalau aku memang ingin jadi lawyer coba kejar, tapi tadi Tante ngobrol sama kamu, kayanya kamu lebih senang kalau jadi Programmer. Aku juga berpikir begitu sih, aku mengakhiri dengan memberi kartu nama, menerima kartu nama Tante Cindy dan menanyakan kemungkinan magang. Kata Tante Cindy, HHP biasanya menerima fresh graduate law school sebagai intern, mahasiswa biasa saja biasanya tidak diterima sih… Tapi kamu bisa coba minta tolong Tante Inda untuk coba minta izin kamu magang disini (Spoiler… Semua orang menyuruh aku melakukan ini)

Divisi berikutnya adalah Projects and Development, dan kata Om yang aku lupa namanya, (karena menggunakan nama panggilan, {jadi tidak bisa ku cari di website HHP} dan tidak memberi kartu namanya padaku) plus Kak Justin memberi aku waktu untuk 3 pertanyaan. Karena sepertinya aku harus balik dalam 25 menit, dan pertanyaannya terbatas, aku menanyakan pertanyaan yang tidak basa basi. Pertanyaan pertamaku adalah, overview dan workflow divisi ini (aku menemukan loophole di agreement ini, karena tidak ada larangan untuk membuat pertanyaan berakar atau 2 in 1 questions  maybe I am a natural born lawyer :D)  Dalam 5 kalimat itu di jawab, dan jika dipendekkan, banyak projek di Jakarta, termasuk yang dari pemerintahan mendapatkan proposal dana, dan izin dari divisi ini. Flow-nya sedikit membingungkan, tapi intinya membuat proposal izin dan funding-nya, mencari Human Resource untuk projek ini, dan menghire mereka ke pekerjaan ini.

 

2 pertanyaan berikutnya tidak aku tanyakan untuk pekerjaan ini melainkan untuk stress. Om lawyer menjawab bahwa stress itu bagian kehidupan dan yang menjadi perbedaan bagi orang yang depresi dan tidak itu di cara kita mengatasi stress itu, kembali lagi ke kasus stress di sekolah-sekolah, ini menurutku cara orang memproses input output dari sebuah masalah. Mirip ke cara sebuah programmer untuk membuat user interface yang responsive dan enak dipakai. Om lawyer projects and development (yang namanya aku lupakan… maaf om…) menjawab pertanyaanku berikutnya yaitu (karena aku penasaran followup ke pertanyaan sebelumnya) cara stress coping, dan Om juga menjawab dengan kalem untuk dibawa hepi saja lah. Sebelum aku ke divisi dispute, (kata om-om dan tante-tante, “The ones you see in the movies”) aku memberi kartu nama, dan menanyakan magang lagi. Seperti tadi dengan Tante Cindy, jawabannya coba minta tolong Tante Inda saja. Oh iya, conversation ini full english.

Sebelum ke dispute aku berencana mengobrol dengan Tante Inda, tapi Tante Inda sibuk. Jadi aku melewati divisi Finance dan langsung saja ke dispute. Om Brian dari divisi ini tentunya ada disini untuk menjawab pertanyaanku, sekali lagi, ini full english. Sebelum itu aku bertanya, “Are you guys the ones we see in the movies?”, Om Brian tertawa dan jawab, “Yes, we’re the cool kids.” Aku mengobrol cukup lama dengan Om Brian dan aku memulai dengan bertanya system hukum dan dispute secara dasar. Om Brian bilang “It took me 4 years to learn that system, maybe its not your time yet” sambil tertawa. Aku menjawab sambil tertawa juga “I have 15 minutes, do you have like a 10 minute version of it?”.

Pada akhirnya aku disuruh memberi tahu apa yang aku tahu secara singkat dan jika benar di approve, jika salah ya tidak dibenarkan sih. Aku menjawab bahwa jika ada terdakwa, maka dia masuk trial prison dulu sampai kasusnya masuk court, lalu sampai dia di state sebagai tidak bersalah tidak keluar. Cara membuktikan tidak bersalahnya cukup simpel dan via “Diskusi” di court. Kalau di Indonesia yang menentukan tidak bersalahnya atau bersalahnya ditentukan oleh Hakimnya. Aku kurang lebih benar kata Om Brian. Aku juga bertanya bagaimana cara membuktikan klien yang (mungkin) bersalah, sehingga tidak bersalah. Om Brian menjawab, cari saja loophole di sistemnya, sebagai lawyer dispute, kamu harus punya kemampuan cari loophole dan weakspot sebuah system. Terdengar seperti hacker, mungkin lawyer dispute yang memahami programming dan operating system bisa jadi hacker.  Aku juga menanyakan reputasi sebuah lawyer dan bagaimana seorang lawyer bisa mengatasi reputasi meski gagal. Kata Om Brian sih, gagal atau tidak terkadang tidak dilihat klien, jadi meski gagal reputasi lawyer belum tentu turun di mata klien potensial.

Pertanyaan terakhirku adalah stress atau tidaknya Om Brian, dan Om Brian sih sangat enjoy menjadi lawyer jadi bahkan tidak stress meski harus lembur. Obrolanku ini ditutup dengan memberi dan menerima kartu nama, dan menanyakan magang. Sekali lagi, Om Brian suruh aku untuk minta tolong Tante Inda saja.

Divisi terakhir sebelum acara penutupan adalah divisi Intellectual Property. Jamku menunjukan aku punya waktu 5 menit untuk kembali lagi ke lantai 3, berarti aku punya 2 menit untuk bertanya, jadi aku bertanya overview dari divisi ini (bahkan aku tidak sempat menanyakan nama tante yang menjawab pertanyaanku), divisi IP ini secara singkat mengurus hasil riset atau properti yang dihasilkan sebuah grup dan mengurus segala kontrak, ataupun kasus-kasus yang berkaitan dengan pencurian Intellectual Property terkadang. Sesudah itu aku langsung memberi kartu nama dan menanyakan magang, sekali lagi jawabannya adalah untuk meminta tolong Tante Inda saja. Aku berjalan kembali ke lift untuk ke lantai 3. Aku kembali tepat waktu dan acara ditutup. Sebelum acara ditutup aku mengambil happy meal untuk makan malam dulu. Sesudah acara selesai aku langsung berusaha memesan gojek dan memutuskan naik taxi saja soalnya lama sekali  menunggu pesanannya. Aku pun sampai di rumah nyanya dan langsung bersiap-siap bangun untuk kereta esok hari.

Post workshop:

Aku bangun jam 4.00 dan mandi dulu, aku selesai mandi jam 4.10, sambil meminta tolong Mba Ai, untuk menggorengkan sosis dan nasi untuk kubawa bekal. Selesai mandi aku langsung buru-buru ganti baju dan aku pun merasa sepertinya tidak sempat untuk ke stasiun gambir… Dan aku dengan uplu-nya memutuskan menggojek ke jatinegara yang ternyata, tidak bisa memprint tiket disana. Alhasil tiketnya hangus dan aku naik travel saja. Untung aku sampai Bandung tepat waktu untuk coding.

Thoughts and Experiences:

Aku senang bisa mengobrol dengan cukup banyak lawyer selama acara ini aku juga senang bisa belajar banyak mengenai overview basic hukum. Oh iya… menurutku, meski Bubi berasumsi bahwa lawyer stress karena banyak pekerjaan (dan ada beberapa lawyer yang memiliki meja berantakan bertumpukan paperwork), lawyer yang aku temui enjoy bekerja disini dan tidak melihatnya sebagai burden. Semua lawyer disini juga fun dan tidak ada yang kaku ketika diajak mengobrol yang mengurangi kemungkinan seorang lawyer stress.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *