[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Aku pertama kali sampai di ITB pukul 8.00 dengan naik gojek. Gojeknya tidak mau mengantar sampai dalam kampus ITB. Beruntungnya, lokasi penyelenggaraan seminar tidak jauh dari gerbang, tepatnya di samping pintu gerbang, yaitu Aula Barat ITB. Ketika aku tiba ternyata peserta seminar belum boleh masuk ke dalam gedung seminar, padahal dalam jadwal disebutkan mulai pukul 8.00. Maka, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus ITB.

 

Pada pukul 8.45 aku sudah kembali ke Aula Barat dan sudah diperbolehkan masuk. Sudah ada bebereapa peserta di dalam ruangan namun masih belum terlalu ramai. Karena tempat duduk di barisan paling depan adalah untuk peserta lomba, maka aku memutuskan untuk duduk di barisan kedua sebelah kanan. Lucunya, seluruh peserta memilih untuk duduk di sebelah kiri sehingga kursi di sebelah kanan kosong.

Pak Arif Sasongko (Sumber foto situs ITB)

Acara dimulai pukul 9.15 dengan sambutan dari Kepala Program Studi Teknik Elektronika ITB, Arif Sasongko, S.T., M.Sc, Ph.D.. Sambutan berisi pentingnya tech-startup dalam ekosistem ekonomi sekarang. Menurutku, sambutan nya sangat menarik dan cocok dengan tema seminar. Sambutannya pun cukup pendek hanya sekitar 15menit. Cukup menarik bagiku, karena tidak ada sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya pada seminar ini, biasanya bila aku mengikuti seminar selalu dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

 

Setelah sambutan usai, pembicara pertama adalah Aussie Wijaya, dari Boston Consulting Group. Boston Consulting Group, merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi decision making dalam sebuah bisnis. Sejak 2015, perusahaan ini lebih sering memberi advise tentang memberi sentuhan technology pada sebuah bisnis.

 

Beliau menunjukkan bahwa berdasarkan data, perubahan bisnis yang terjadi dari tahun 2012 hingga 2015 sangat drastis. Hal ini terlihat dalam sebuah perusahaan CD besar di Amerika Serikat kehilangan 100% value sahamnya, karena terkalahkan oleh Spotify dan iTunes. Selain perusahaan CD ada beberapa perusahaan lain yang terkena imbasnya, seperti Ace Hardware dan Electronic Solution. Perusahan-perusahaan ini kehilangan 30% salesnya, karena toko jual beli online seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak dan sebagainya. Masih banyak lagi perusahaan yang kehilangan penjualan tahunannya dengan angka sekitar 15-68%.

 

Sejak itu, maka Boston Consulting Group memutuskan untuk beralih dengan memberi saran berbasis teknologi untuk perusahaan-perusahaan yang menjadi clientnya. Berdasarkan data lagi, Indonesia, khususnya Pulau Jawa didominasi oleh ekonomi tingkat tengah dan menengah keatas. Kalangan ini, sebagian besar tidak punya banyak waktu untuk belanja sehingga mereka beralih ke belanja online. Bahkan, 80% dari kalangan ini memiliki gadget dan 60% memiliki akses ke wi-fi.

 

Kemudian, Pak Aussie menjelaskan cara memberi sentuhan teknologi dalam suatu bisnis. Penjelasannya, bahwa bisnis harus memiliki akses mudah dalam bentuk domain atau halaman toko online, untuk memudahkan kalangan dominan yaitu kalangan menengah yang sekarang lebih fokus dalam membeli barang via internet. Setelah itu beliau menutup dengan statement yang menyatakan bahwa apabila kita tidak melangkah masuk ke dunia digital maka kita akan tertinggal dengan kecepatan perubahan zaman.

Om Leon (Sumber foto situs ITB)

Pembicara kedua adalah Leontinus Alpha Edison – COO Tokopedia. Om Leon membuka dengan sejarah mengenai bagaimana tokopedia dimulai. Berdasarkan ceritanya, tokopedia mulai pada Januari 2009. Dimana ketika pertama kali launching baru ada 50 barang milik tokopedia sendiri. Dari kolaborasi Om Leon dan Om William Tanuwidjadja, yang sekarang menjadi CEO tokopedia.

 

Om Leon bercerita selama beliau menjadi (yang disebut oleh Om Leon sebagai) Half Engineer, beliau berkolaborasi dengan Om William untuk membuat sebuah website, yaitu tokopedia. Om Leon mendapatkan ide membuat tokopedia karena dia sempat mengalami kebingungan kala mengetahui promo sebuah brand ternama untuk produk mesin cuci. Ceritanya begini,di pagi hari Om Leon menghubungi dealer untuk mengklarifikasi sebuah promo yang beliau lihat. Kemudian beliau mendatangi dealer untuk membeli mesin cuci yang dipromokan. Namun, menurut dealer syarat dan ketentuan yang kurang sehingga mesin cuci tidak dibeli dengan harga promo. Selanjutnya, Om Leon kembali ke kantor untuk melanjutkan bekerja dan menyempatkan menghubungi dealer kembali dan diinformasikan bahwa barang sudah bisa dibeli. Pada jam istirahat, Om Leon datang kembali ke dealer dan katanya masih ada lagi syarat ketentuan yang kurang. Dan Om Leon kembali bekerja dan kembali lagi menghubungi via telp, pihak Customer Service dan diinformasikan bahwa promo tetap bisa diperoleh. Pada pukul 15.00 beliau kembali ke dealer hanya untuk menyampaikan keluhan tentang syarat dan ketentuan promo. Menurut Om Leon dan disampaikan ke pihak dealer syarat ketentuan promo tidak jelas, sehingga menimbulkan kebingungan. Dari pengalaman ini Om Leon berangan-angan memiliki online store dimana konsumen adalah prioritas.

 

Sekarang, tokopedia sudah menjadi sebuah perusahaan yang besar dan Om Leon menyampaikan DNA dari seluruh sistem operasi tokopedia. Prioritas pertama tokopedia adalah konsumen dan konsumen harus selalu menjadi prioritas tanpa terkecuali apapun. Tim tokopedia juga harus dapat bekerja sama dengan baik, karena setiap ada update dalam code tokopedia maka projectnya dilakukan secara bersama-sama dalam tim dan bukan perorangan. DNA terakhir dan menurutku paling penting adalah harus selalu mau berkembang, hal ini dapat dilihat dari perkembangan pesat tokopedia sejak 2009, dimana sekarang sudah ada jutaan jenis barang dan jutaan pengguna.

 

Kualitas DNA ini dapat dipertahankan oleh tokopedia dengan filter recruitment yang cukup ketat. Jika seseorang ingin menjadi bagian dari keluarga tokopedia, maka haruslah memiliki beberapa hal penting. Yang pertama, culture di rumah dan pendidikan rumah yang baik. Maksudnya, jika culture rumah dan kebiasaan si pelamar dirasa kurang cocok dengan culture tokopedia maka lamaran akan ditolak. Menurut Om Leon, jika seseorang tidak memiliki kebiasaan yang baik (yang dimulai dengan kebiasaan baik di rumah) maka dapat meberikan dampak negatif pada keseluruhan culture tokopedia. Setelah culture dari pelamar dirasa sesuai, maka yang dilihat adalah bagaimana pelamar dapat cocok dengan culture kerjasama dalam keluarga tokopedia. Apabila kedua culture tersebut sudah cocok, yang selanjutnya dinilai adalah pengalaman dan apakah si pelamar cukup kompeten. Langkah terakhir setelah kesemua syarat tersebut sesuai, adalah pihak tokopedia akan mencarikan tim yang tepat untuk rekan kerja si pelamar atau membuatkan tim baru yang sesuai.

 

Selanjutnya, Om Leon bercerita bahwa di tahun 2012 tokopedia memiliki akademi untuk bagian keluarga tokopedia. Akademi ini melatih keluarga tokopedia untuk menambah pengetahuan, kreativitas serta mempertajam DNA yang tertanam. Om Leon mendapatkan ide ini dari sebuah film yang beliau tonton bersama crew tokopedia (di tokopedia ada acara bernama movie day, yaitu sekali dalam satu bulan, keluarga tokopedia akan bersama-sama menonton sebuah film di bioskop) pada movie day, yang berjudul The Internship. Jadi dalam film berlatar belakang program magang sebagai seleksi untuk bekerja di Google. Karena tertarik dengan ide dari film tersebut, Om Leon memutuskan untuk membuat pelatihan tahunan, namanya adalah Nakama.

 

Nakama adalah event selama seminggu setiap tahunnya dimana crew tokopedia diberi tantangan untuk mengasah kemampuan dari crew. Kreativitas crew juga diuji dalam event ini. Seperti Om leon ceritakan bahwa diakhir minggu dari Nakama Academy ini, sudah ada ide baru yang kreatif untuk memperkuat environment tokopedia dari setiap tim. Tim dengan skor tertinggi di akhir minggu akan diapresiasi dengan Piala Nakama dan idenya akan diterima serta diimplementasikan.

 

Dari semua ide yang Om Leon ceritakan, yang paling menarik menurutku adalah bagaimana anak buah bisa menyampaikan report pada atasan. Yang membuat Om Leon menerima ide ini adalah karena ketika beliau masih menjadi Half-Engineer, beliau tidak suka pada bosnya yang menurut beliau cerewet dan tidak bisa apa-apa. Jadi beliau ingin memastikan bahwa dalam environment kerja tokopedia kekurangan ini tidak ada. Laporan haruslah memiliki 4 bagian, yaitu deskripsi mengenai bos, keuntungan memiliki bos tersebut sebagai atasan, kerugian memiliki bos tersebut sebagai atasan dan apa yang bisa diperbaiki.

 

Om Leon menutup presentasi dengan menyampaikan impiannya bahwa disuatu hari nanti tokopedia bisa memiliki sebuah kampus. Aku sangat senang mendengar presentasi dari Om Leon sehingga ketika presentasi selesai aku berlari cepat menuju Om Leon, mencegatnya dan memberikan kartu namaku. Om Leon cukup terkejut mengetahui aku memiliki kartu nama, dan aku pun meminta kartu nama Om Leon. Aku mengatakan keinginanku untuk magang di tokopedia, dan tanggapan Om Leon adalah bahwa biasanya tidak ada kesempatan magang untuk pihak luar. Tapi Om Leon berjanji akan menghubungiku apabila ada perubahan atau bila ada kesempatan untukku.

 

Sukan Makmuri (sumber foto Kudo)

Presentasi berikutnya adalah dari KUDO, dengan pembicara Sukan Makmuri, yang merupakan CTO dari KUDO. Aku menikmati presentasi dari Pak Sukan, beliau dahulu merupakan CEO dari Kaskus. Beliau mebuka dengan menceritakan apa itu Kudo. Kudo merupakan singkatan dari Kios Untuk Dagang Online.

 

Beliau menunjukkan data bahwa diluar pulau Jawa, orang yang meiliki akses ke Internet dan Smart Phone masih dibawah 20%. KUDO ingin dapat meningkatkan peluang perdagangan online ke daerah-daerah luar Jawa. Namun, banyak kendala yang harus diatasi, karena orang-orang di luar Jawa kurang teredukasi dalam hal internet dan kurang percaya jika tidak kenal dengan penjualnya. Salah satu faktor lain adalah kurang ATM untuk melakukan transaksi pembayaran belanja online.

 

Dalam hal inilah KUDO berperan. KUDO berusaha menghubungi warung terbesar dari satu daerah, kemudian diajak untuk menjadi partner KUDO. Setelah warung setuju, maka akan dipinjamkan smart phone yang telah terinstall aplikasi KUDO. Disini KUDO berperan memberi suplai barang dari daerah lain, misalnya beras dengan kualitas lebih baik. Aplikasi ini diharapkan memfasilitasi pedagang untuk menyediakan komoditas yang lebih baik dan variatif.

 

KUDO juga berperan meningkatkan value suatu warung karena aplikasi ini memiliki iklan, yang dapat menghasilkan uang. KUDO membagi sebagian penghasilan via iklan ini, serta membagi pada warung-warung setidaknya USD 100 dari hasil iklan. KUDO juga mengapresiasi warung dengan penghasilan terbanyak pada suatu pulau dengan memberikan smart phone yang awalnya dipinjamkan. Jika pada satu desa ada warung yang memiliki KUDO, maka menurutku secara tidak langsung warga-warga desa tersebut lebih teredukasi mengenai teknologi. Selain itu, bagi brand yang bekerja sama dengan KUDO dari pulau Jawa akan mendapatkan perluasan peluang bisnis.

 

Menurutku, meskipun Pak Sukan tidak menyebutnya secara langsung, KUDO sangat beneficial untuk orang di luar pulau Jawa dan bagi entrepreneur di dalam pulau Jawa. Ini yang membuatku menilai KUDO sebagai sociopreneursip. Aku sangat menikmati presentasi dari Pak Sukan dengan kontennya yang menarik dan baru kuketahui bahwa ada perusahaan seperti itu. Meskipun sebetulnya aku sudah cukup lama mengetahui tentang KUDO, karena ketika aku melewati Jalan Setiabudi disebelah jajaran tukang rotan ada kantor KUDO. Bahkan aku pernah mampir -ketika aku masih memainkan game online- untuk membeli voucher game. Tapi kala itu aku belum tahu bahwa KUDO memiliki benefit sedemikian rupa dan menambah value dari sebuah usaha di Indonesia.

 

Pembicara selanjutnya adalah Riri Satria, CEO dari value alignment group. Sayang sekali presentasinya kurang menarik sehingga membuatku tidak terlalu ingat akan materi yang disampaikan. Presentasi tersebut merupakan presentasi terakhir dari rangkaian presentasi dalam seminar ini. Menurutku, seminar ini secara keseluruhan menarik dan menyenangkan, karena selain mendapat ilmu dan wawasan baru, aku juga mendapat kesempatan bertemu orang-orang yang memberi inspirasi. Sayang sekali, seminar ini sepertinya tidak dipromosikan selain di dalam kampus ITB, meskipun aku bersyukur karena aku kebetulan berada di ITB tepat satu hari sebelum seminar sehingga aku melihat spanduk seminar hingga akhirnya mendaftar untuk menghadirinya. Akan lebih baik bila event-event seperti ini diinfokan melalui social media atau melalui komunitas juga agar lebih banyak yang bisa mengetahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *