[Azriel’s Late Post] PERAK 2017

[Azriel’s Late Post] PERAK 2017

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017 🙂

 

Tanggal 26-28 Maret kemarin, aku pergi ke Rancabali Tea Resort untuk mengikuti Perak. Perak adalah singkatan dari Pesantren Ramadhan Keluarga, aku pergi ke acara keluarga ini sendiri, padahal semua peserta lain pergi bersama keluarganya masing-masing. Aku berangkat ke Perak dengan Tante Dita, Fauzi, dan Adik-adiknya Fauzi.

Pre-Event:

Pada tanggal 23-nya, Bubi mengingatkanku bahwa ada acara ini, yang aku belum memiliki transport ke acara-nya. Jadi Bubi mengontak Tante Dita dan meminta izin aku ikut numpang ke acara ini. Pada tanggal 24, aku memulai packing dengan menyiapkan baju, dan menyelesaikan packingnya esok harinya dengan barang-barang non baju, seperti tempat makan, charger, dan lain-lain.

Ki-Ka : Elan, Aku dan Fauzi

Event, Day 1 (26 Maret):

Tanggal 26 aku diantar Bubi untuk pergi ke Circle K Pasteur, dimana aku menunggu Tante Dita. Aku menunggu cukup lama, tetapi aku masih merasa senang dapat tumpangan ke Perak. Sambil menunggu, sebenarnya aku mulai merasa sedikit pusing, jadi aku membeli Panadol dan meminumnya untuk mengurangi pusingku. Pada saat Fauzi sampai aku naik mobilnya yang sedang menunggu Tante Dita yang membelikan sarapan untuk Fauzi dan adik-adiknya. Ketika kita mulai berjalan ke arah Rancabali, di mobil masih sedikit hening, dan aku tertidur, mungkin efek obatnya membuat aku mengantuk. Aku baru terbangun ketika ada palang 25km ke Rancabali, menunjukkan kita sudah mulai dekat. Selama perjalanan, aku mendengar Pamannya Fauzi bercanda beberapa kali.

Kurang lebih pukul 11.30 aku sampai disana, dan aku langsung bertemu Elan (yang aku coba ingat-ingat beberapa kali, karena terakhir kali bertemu dia [meski dia tidak ingat aku], rambutnya tidak sepanjang itu), dan berkenalan lagi. Tidak lama sehabis berkenalan dengan Elan, aku menurunkan barangku, dan menaruhnya di aula utama, sambil daftar ulang, dan mengambil kaos. Sebelum makan siang, aku sholat berjamaah dulu bersama Fauzi dan Elan. Menu makan siangnya adalah ayam goreng dan capcay. Dalam proses makan siang ini, aku melihat sebuah tempat yang cukup menarik dan aku memutuskan untuk makan siang di situ. Singgasanaku aku duduki cukup lama, dan aku duduk di situ setiap kali makan bahkan.

Singgasana Makan Siangku

Pada pukul 14.00 keluarga mulai mengenalkan nama keluarga (Perak perlu punya nama keluarga yang unik, sebagai contoh aku ingat ada keluarga bernama: Rumah Soka, Firdaus’ Ark, dan lain-lain) mereka masing-masing dan memulai aktivitas mengikuti jadwal acara. Aku ikut dengan Kak Ara, dan beberapa remaja lain untuk melakukan sebuah projek rahasia (yang sampai sekarang belum aku selesaikan, gimana sih aku…) yaitu membuat majalah dalam format PDF, untuk jadi kenang-kenangan keluarga disini. Dari semua remaja, dan anak-anak diatas 9 tahun disini aku menjadi ketua (karena aku termasuk 3 anak yang paling tua disini, 2-nya lagi adalah Fauzi dan Elan). Aku mengetuai divisi wawancara, karena aku rasa divisi ini yang paling cocok untukku, dan sudah didiskusikan adik-adik (idenya Elan, daripada menyebut anggota, mendingan adik-adik) kelompokku. Aku memilih divisi wawancara kebanding divisi acara, atau lokasi, karena jika aku memilih acara, aku tidak akan punya banyak free time, karena harus memerhatikan setiap acara, dan untuk yang lokasi, akan perlu berjalan-jalan dan berfoto yang cukup banyak, alhasil aku memilih wawancara, yang dapat free time lumayan banyak, dan dapat jadi window berkenalan dengan banyak orang.

Kurang lebih jam 15.00, aku mendapat tugas pertama dari Kak Ara untuk mengambil list nama keluarga dari Tante Dita. Sesudah aku mengambil daftar, aku yang sudah makin pusing, meminta izin untuk istirahat sampai maghrib. Ketika bangun lagi, aku sholat maghrib dan isya di jama, dan makan malam, sesudah meminum Panadol satu kali lagi, aku mengikuti acara presentasi dan penampilan anak-anak lagi, sampai pukul 21.00 lalu memutuskan untuk tidur lagi, agar bisa fit esok harinya.

 

Day 2 (25 Maret 2017)

Pagi keesokan harinya, aku sudah fit lagi dan siap beraktivitas. Aku bangun pada jam 5.45 dan langsung sholat shubuh, dan mandi. Sesudah itu aku sarapan dengan Nasi Goreng dan mulai mencari adik-adikku untuk membagi tugas. Dari 31 keluarga yang ada di Perak aku mendapat tugas mewawancarai 16, sedangkan adik-adikku mewawancarai 15. Aku baru mendapat wawancara pertama pada pukul 11.00, karena untuk mendapat dan mencari wawancara secara efisien, aku menunggu waktu istirahat ketika para om-om dan tante punya waktu luang.

Sambil menunggu waktu istirahat, aku bermain congklak bersama anak-anak yang tidak ikut Gerak (Gerak itu nama tim remaja di Perak, singkatan untuk Gerakan Remaja Perak). Hasil congklak-nya seri lho… Kita bermain best of 3 dan aku menang sekali, kalah sekali, dan seri juga sekali. Selain bermain congklak, aku mengajarkan beberapa anak bermain monopoly, dengan rapih. Karena sepertinya mereka meski bermain cukup benar dan mengikuti peraturan, sangat berantakan. Sesudah itu, aku kembali ke Aula utama dan mencari apakah ada tante atau om yang bisa kuwawancara. Wawancara pertama aku dapatkan dengan Tante Widya yang asalnya dari Cirebon. Untuk hasil wawancara secara detail nanti bisa lihat dari E-Book saja ya. Sebelum aku menemukan wawancara lain, waktu makan siang telah tiba, jadi aku makan tahu telur dulu di singgasana-ku.

 

Saat makan siang aku menyadari bahwa mencari tante atau om untuk diwawancara itu tidak mudah. Aku berencana memanfaatkan pin nama dan membandingkannya dengan listku. Metode ini memberiku sekitar 4 wawancara lagi. Terkadang mencari wawancara sulit karena ketika aku menemukan tante atau om untuk diwawancara, mereka sedang mengobrol, jadi aku menunggu mereka selesai. Selain itu ada kesusahan lain, tidak semua orang memakai pin, untuk itu aku minta tolong Tante Dita. Istirahat makan siang selesai pada pukul 1.30 dan aku mendapat 8 wawancara. Semua wawancaraku ini ku copy ke laptop Elan.

Sambil menunggu jam 3 sore dan kelas-kelas yang bisa kuikuti selesai, aku tidak ada aktivitas, dan sayangnya Fauzi, dan Elan sedang sibuk memotret aktivitas orang tua, jadi aku memutuskan untuk diam dan menunggu om-om dan tante keluar dari aula yang ada di daftarku, dan memakai pin nama. Sayangnya metode ini kurang efektif. Jadi aku memutuskan untuk melihat beberapa teman-teman dan adik-adikku bermain tanah liat. Aku tidak ikut tentunya, karena aku  tidak suka kotor-kotoran.

Pada jam 2.30 aku kembali ke aula dan menunggu “korban” wawancara untuk ku “serang”. Beruntungnya aku dapat 1. Pada jam 15.00 aku mengikuti panahan, dan cukup senang, meski aku melukai tanganku dan hanya mendapat 17 poin dengan 5 tembakan. Selain mengikuti panahan, aku juga mengikuti Fun Science dan bermain Roket Air. Selain kedua kelas itu, aku tetap berburu wawancara, dan sempat mendapat 3 wawancara lagi. Aku juga sempat mengikuti kelas memasak cemilan dengan memakan cemilan hasil masakannya  J .

Pada sesi kelas, sekitar pukul 5, aku mengobrol dengan Elan, Fauzi dan Aza, (Aku sudah bertemu Aza dari kemarin, dia bagian dokumentasi juga seperti Fauzi dan Elan) di singgasana keduaku, yaitu di kolam, ternyata kedua singgasanaku ada fotonya lho! Kita mengobrol mengenai politik-nya amerika dan tindakan tindakan Donald Trump sesudah ia menjadi presiden. Sepertinya Donald Trump sedikit unik dalam metode membersihkan orang pengangguran di Amerika. Karena dengan Trump mengusir imigran (baik yang illegal dan beberapa yang legal) jumlah penganggur di Amerika memang berkurang. Selain itu Elan juga cerita bahwa dia diterima New York Film School, (meski kata Bubi, sounds fishy) tapi dia tidak bisa masuk soalnya seluruh imigran islam di U.S. tidak diterima. Aku juga bertanya ke projek-projek Elan selama di Bandung. Dia sedang ikut Film Making Club ITB dan lagi bersiap untuk membuat film tentang budaya di NTT (kalau tidak salah) pada bulan Agustus nanti.

Sesudah makan malam aku mulai mencari wawancara lagi, dan sebelum mendapat wawancara berikutnya, aku mengobrol dengan salah satu Om yang ada di daftarku (pas mulai ngobrol aku malah belum sadar bahwa ada Om itu ada didaftarku). Om Kang Abay (seperti yang tertulis di pin-nya) dan aku mengobrol (sayangnya aku tidak ingat bagaimana kita mulai ngobrol) karena Om Abay bekerja di Digital Marketing, yang sangat berhubungan langsung dengan Programming. Om Abay bahkan pernah bekerja beberapa tahun di lab computer ITB dan kenal Pak Budi Rahardjo. Kata Om Abay, hampir semua mahasiswa di STEI kenal Pak Budi sebagai blogger, dan dosen paling fun. Aku dan Om Abay mengobrol tentang ceritaku mengenai magang dan projek-ku, dan Procode, Om Abay bercerita tentang pengalaman-nya sebagai konsultan marketing digital. Om Abay dan aku sepaham mengenai banyaknya programmer Indonesia yang tidak mendapat eksposur yang mereka seharusnya dapat. Aku mewawancarai Om Abay, dan berburu wawancara lagi.

Sesudah makan malam dan mengobrol dengan Om Abay, aku mendapat hampir semua wawancaraku, semua kecuali 2 wawancara lagi. Aku menonton penampilan dan presentasi seperti kemarin malam. Aku keluar pukul 21.00 dan merasa sangat dingin di luar, jadi aku dan Fauzi yang sudah selesai bekerja sebagai fotografer, memutuskan merendam kaki di kolam renang yang hangat seperti tadi sore. Malam ini kita mengobrol tentang bagaimana Fauzi bisa homeschool, dan pengalaman camping-ku dan camping-nya dia. Selain itu, (referencing Pramuka HS Report) Fauzi dan aku berbagi opini ke apa yang membuat suatu ketua yang sukses. Kita pada akhirnya setuju bahwa seorang ketua harus bersedia, tegas, dan berwibawa. Sesudah mengobrol kali ini yang entah beberapa kali, kita tidur pada pukul 11.00 malam, dan lucunya, semua orang yang lewat bertanya, masih berendam malam-malam gini? Kita menjawab, daripada kedinginan.

Day 3, 26 Maret 2017

Pada hari terakhir, aku bangun, sholat shubuh, dan duduk di singgasanaku yang di kolam lagi, bersama Fauzi, tetapi kita hanya melihat orang berenang kali ini. Aku mandi begitu kamar mandi kosong, dan sarapan. Sesudah memakai Kaos Perak-ku aku mulai mencari foto suasana dan mendapat beberapa. Paginya kita Hiking sampai puncak, lalu turun lagi. Sambil hiking, semua keluarga diminta bernyanyi theme song Perak untuk di foto dan di video oleh Elan dan Aza. Ketika turun lagi, aku mendapat 2 wawancara terakhirku, dengan bantuan Tante Dita. Aku memulai packing dan memasukkan barang ke mobil Tante Dita, yang masih dijemput Om-nya Fauzi. Selesai barangku di packing, aku mengikuti acara penutupan dan pamit Perak.

Sesudah acara penutupan, sudah jam 12.00, dan aku makan semur yang enak banget (meski kalah kalo dibandingkan dengan semur nenek yang sangat enak banget). Sesudah makan siang dan pamit dari singgasanaku, aku membantu Tante Dita memasukkan barang-barang ke mobilnya. Selesai beres-beres, aku pamit ke semua orang, dan ternyata belum waktunya pulang, karena belum sholat dzuhur, atau belum siap, atau entah kenapa, karena terjadi beberapa kali. Sesudah pamit untuk entah keberapa kalinya, aku masuk ke mobil Tante Dita dan acaranya kali ini sudah benar-benar selesai, dan kita pergi. Sudah sampai sini acara Perak resmi selesai.

 

Thoughts:

Perak itu ngangenin, kata banyak tante disitu. Aku cukup setuju  dengan statement itu, acaranya secara keseluruhan memang membuat kangen, mengobrol dengan Elan, dan Aza juga menarik untukku, terutama karena aku buruk dalam fotografi. Acaranya overall juga fun, dan bermanfaat, aku senang berkenalan dengan banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *