[Azriel’s Late Post] Nano Science Camp For Kids

[Azriel’s Late Post] Nano Science Camp For Kids

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Nano Science For Kids

Experience Sharing By Azriel

Pra Acara:

Kurang lebih 15 hari sebelum Hari pertama Nano Science… Bubi menemukan acara ini untukku, namun sayangnya acara ini sudah full dan aku masuk waiting list. Bubi berusaha request ke CP untuk dapat kelonggaran, karena anak Homeschool sepertiku tidak bisa dapat informasi acara secepat anak-anak yang formal school. Aku juga sebenarnya mulai kehilangan harapan bisa ikut acara ini. Tapi Bubi memberi ide untuk berusaha langsung saja ke ITB dan request accelerate waiting list sendiri.

5 hari sesudah penolakan akselerasi Nano Science-ku, aku mengikuti saran bubi untuk ke ITB (Kebetulan aku ada seminar ke ITB hari itu.) Sesudah seminar itu selesai aku berjalan ke Pusat Penelitian Nano Science, dan masuk ke yang sepertinya, pintu eksklusif untuk dosen (pintu utama terkunci), untuk memberi kartu namaku dan request naik waiting list in person. Aku kurang ingat pembicaraan-nya secara detail. Namun selama itu aku sharing pengalaman homeschoolingku, magang, minatku di sains dan apa yang aku ketahui. Aku juga cerita cukup banyak mengenai pengetahuanku di Nano Sains. 3 kakak yang mendengar ceritaku, bilang ke aku untuk berusaha menaikkan aku di waiting listnya sebisa mungkin. Sesudah hari itu aku belum  mendapat konfirmasi lagi mengenai acara ini, dan aku rasa kemungkinan aku dapat acara ini cukup tipis.

Tanggal 8 Desember, Bubi ditelpon pihak Nano Science, untuk menginformasikan bahwa aku menjadi salah satu dari 28 anak untuk mengikuti acara Nano Science tersebut. Alhamdulilah aku masih bisa dapat spot untuk ikut acara ini. Ternyata kepala biro sendiri yang request langsung agar aku bisa mengikuti acara Nano Science ini.

Day 1, December 12th 2016

 

Berpose untuk membuktikan kehadiran 😛

Pada hari Senin, tanggal 12 desember, hari yang sudah kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Acara Nano Science For Kids and Teachers dimulai pada tanggal itu. Meski pada tanggal desember 12, aku baru check-in ke kamar di Hotel Sawunggaling. Setelah menunggu teman sekamarku cukup lama (ternyata dia belum akan datang hari itu, melainkan dia datang besok), aku memutuskan untuk kenalan saja bersama teman-temanku (yang tidak sekamar).

Aku memutuskan untuk turun kebawah dan minta list kamar-kamar yang diisi peserta Nano Science lain. Sambil turun, aku juga mendengar secara tidak sengaja bahwa akan ada anak gubernur jawa barat, tapi aku belum tahu yang mana, namun dari melihat list dan ada 4 anak yang belum datang, dan salah satu dari itu berasal dari Jakarta hanya tersisa 3 anak untuk aku cari tau. Setelah mendapat informasi kamar-kamar yang diisi aku mengetok 5 kamar dan hanya 3 kamar yang menjawab. 2 kamar yang lain mungkin belum ada orangnya karena aku mencoba mengetok sekali, dan kedua kalinya 15 menit kemudian. 2 dari kamar lain tidak tampak tertarik ngobrol lebih lanjut sesudah berkenalan. 1 kamar yang kuketok terakhir cukup baik dan mereka ingin ngobrol lagi sesudah mereka mandi.

20 menit kemudian, Joshua dan Dhewa, ikut makan malam di kamarku. Mereka berasal dari Salatiga, dan belum pernah ke Bandung sebelumnya. Tapi kedua ortu mereka alumni ITB yang mengantar mereka sambil reuni bersama alumni ITB lain, kurang lebih mereka bercerita seperti itu. Sesudah makan malam, kita bermain kartu Genie Labyrinth sambil mengobrol lebih lanjut. Pada pukul 19.30, Joshua dan Dhewa bilang mereka lapar dan ingin jalan-jalan. Jadi aku memutuskan untuk ajak mereka cari restoran. Tidak sampe 200 meter keluar hotel, Joshua dan Dhewa langsung bertanya harga dari Cafe Chingu mereka terkejut ada Cafe di Bandung yang semurah itu, dan kita akhirnya snack malam disana. Hari pertama sudah selesai dan aku langsung tidur karena aku mengantuk. Aku kembali ke kamar kurang lebih jam 9.30.

Fotoku di Chingu bersama Dhewa dan Joshua

Day 2, December 13th 2016

Pagi-pagi kurang lebih jam 6.00 aku bangun dan mandi, sesudah mandi aku turun dan sarapan. Menurutku sarapan di Sawunggaling cukup enak dank arena sifatnya buffet, sangat mengenyangankan. Aku duduk bersama Dhewa dan Joshua karena aku masih belum sempat berkenalan dengan orang lain. Sesudah makan kami berkumpul dan kelompok pun dibagi. Aku berkenalan dengan 4 dari 5 orang di kelompokku, karena salah satu baru akan aku temui di ITB.

Sesampai ITB kami disambut seminar dari Prof Bambang Sunendar dan bagaimana kemajuan nanoteknologi di kehidupan sehari-hari sampai tingkat penelitian. Sebelum masuk terlalu dalam, Prof Bambang memulai dengan membahas Makro dan Mikro, dimana Makro adalah teknologi dalam skala dan ukuran yang besar, dan Mikro adalah teknologi dalam skala dan ukuran yang kecil. Nanosains jelas masuk ke kategori Mikro. Menurut Prof Bambang, teknologi di dunia ini makin mengecil dan bertambah efisien karena dengan ukuran yang lebih kecil, performa sebuah alat tetap sama, atau bahkan meningkat. Sebelum lanjut, aku ditanya oleh teman sebelahku, kenapa kamu tidak mencatat, nanti klo ga hapal gimana? Dan aku menjawab bahwa, buat apa dihapalin? Kan yang penting ngerti.

Mulai masuk ke bagian yang mendalam kita bahas definisi terlebih dahulu, nanosains adalah nama dari sebuah cabang sains di fisika yang menggunakan fisika kuantum sebagai basis dasarnya. Tapi untuk mencapai sebuah tahap dimana sebuah teknologi ato rumus perlu dihitung dengan nanosains, dibutuhkan ukuran dalam satuan nanometer yaitu 1/1.000.000 dari sebuah milimeter. Dalam skala itu baru nanosains dan fisika kuantum baru bisa digunakan jelas Prof Bambang. Sesudah penjelasan definisi, Prof Bambang bertanya secara retorikal, disini ada yang sudah belajar kuantum fisika belum? Dan aku menjawab aku mengerti dasar dari fisika kuantum. Sesudah menjelaskan dengan kata-kata yang mirip dengan ini: “Kuantum fisika itu fisika yang digunakan dalam skala yang lebih kecil dari satu atom, dan dalam ukuran itu, hukum fisika jadi aneh dan cenderung kacau, jadi kita ga bisa lihat dunia kuantum dengan apa yang kita tahu dan rasakan sekarang”. Prof Bambang melanjutkan dan memberitahu bahwa definisiku benar tapi dengan bahasa yang lebih ilmiah. Sesudah menjelaskan Prof Bambang bertanya padaku aku bersekolah dimana, kok udah ngajarin fisika kuantum? Dan aku jawab, aku belajar sendiri kok pak, aku Homeschooling.

Setelah kita memaham definisi, Prof Bambang lanjut ke fungsi dan aplikasinya.  Nanosains sekarang sudah diterapkan di hampir semua bidang yang diketahui manusia. Contoh untuk  itu, jangankan Handphone atau kendaraan, bahkan makeup dan beberapa jenis lotion sudah menggunakan nanosains untuk menutup pori-pori lebih rapat lagi. Selain itu, juga masih banyak lagi aplikasi di dunia nyata, seperti: Sains Riset, Teknologi Informasi, Teknologi Transportasi, dan masih banyak lagi.

Sesudah itu kami menonton beberapa video mengenai demo Nanotechnology. Video pertama mengenai Hydrophobic coating dan aku merasa itu sangat keren, karena lapisan itu bisa membuat sebuah benda, benar-benar waterproof dan membuat semua benda terjatuh seolah-olah mereka terpeleset dari lapisan yang Hydrophobic itu. Hebatnya, bahkan ketika sudah tercemplung lumpur, minyak dan benda-benda kotor lainnya, tidak ada bekas sedikitpun. Kecuali mungkin ada bau tidak enak sedikit. Beberapa researcher sekarang lagi mendevelop smart clothing (Seperti biasa… Ambil hal sehari-hari, tambahkan kata smart dan dia terdengar sangat keren) dengan teknologi nano sains. Aku jujur saja kurang yakin atas teknologi ini, meski jika terwujud, aku yakin aku akan suka. Smart clothing ini nanti akan sering digunakan di rumah sakit untuk display live dari x-ray dan pulse rate.

Sesudah pergi dari ruang seminar kami berkumpul per kelompok dan pergi ke lab tujuan masing-masing. Lab yang aku tujui adalah lab SEM dan TEM (Scanning Electron Microscopes dan Transmission Electron Microscopes) Sebelum masuk lab, Ibu Damar Rastri yang merupakan lab host kita, “menjemput” kita di ruang seminar dan mengantar kita masuk lift yang butuh ID Card untuk masuk, dan juga sebuah pintu yang terkunci, dan butuh autentikasi (aku kurang ingat spesifiknya apa) untuk membukanya. Aku merasa ini lab classified dan berpikir bahwa ini lab keren. Semoga saya tidak dimarahin karena menulis mengenai lab ini :P.

Kami memulai dengan memotong-motong sampel kami, yaitu bunga, dan kami mengambil mahkota bunganya, putiknya, benang sarinya, dan batangnya. Kami lalu menempelkannya dengan pinset ke sample spot-nya. Semua proses ini dilakukan tanpa kontak langsung, dan bahkan tanpa kontak dengan sarung tangan, operasi ini dilakukan dengan alat-alat.

Sesudah bahan untuk dilihat SEM disiapkan, yaitu lalat yang disiapkan Ibu Damar dan bunga yang kita sendiri siapkan. Bahan tersebut dilapisi emas agar Mikroskop SEM dapat membaca bentuknya. Ini perlu dilakukan karena SEM hanya bisa membaca surface yang sudah konduktif, atau yang reflektif. Contoh material lain yang bisa jadi lapisan adalah karbon, perak, platinum dan besi. Namun yang paling efektif adalah emas.

Sambil menunggu emas dilapisi ke SEM, Ibu Damar menjelaskan cara kerja SEM. Secara singkat, SEM mengalirkan gelombang elektromagnet ke lapisan konduktifnya, dan membuatnya “bersinar”, sesudah gelombang elektromagnetik mengalir, gerakannya akan dibaca oleh SEM dan membentuk gambar di screen PC terpisah. PC tersebut terinstall software spesifik untuk membaca dan mendisplay hasil gambarnya. Sampel yang sudah dilapisi emas akan dimasukkan dan dibaca oleh SEM dan hasil gambar di transfer ke PC. Dalam PC itu kita bisa mengatur zoom in zoom out, mengambil gambar, dan banyak fitur lain.

Sesudah keluar dari laboratorium SEM-TEM, sebelum makan siang aku melanjutkan “investigasiku” karena aku penasaran siapa anak dari Gubernur, sambil menunggu makan siang, aku mencari nama 3 anak yang tersisa dan aku menemukan, bahwa ternyata teman sekelompokku, Abdul Hadi yang ternyata anaknya Gubernur. Aku bertanya ke dia dan dia pun mengaku. Hari itu makan siangnya Gokana, katsu paling enak di indonesia yang aku tahu, dan aku sangat suka. Sambil makan siang, Hadi ngobrol bersama gurunya, yang nanti ngobrol bersamaku beberapa kali.

Sesudah makan siang selesai aku langsung sholat dzuhur. Turun lagi dari sholat dzuhur, aku mengambil 5 sachet hot chocolate untuk dibagi dan diminum sendiri di hotel. Sambil meminum teh, aku bertemu seorang bapak2 yang aku asumsikan sebagai guru. Beliau bertanya metode homeschoolingku, mendapatkan ijazah, apa ada guru, sosialisasi dan beberapa hal lain. Aku menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban biasaku. Seperti: “Aku belajar otodidak, fokusnya ke minat, aku minat di Programming dan Sains”, ” Ijazah nanti via Paket B, aku mengambil paket B tahun ini”, “Aku belajar otodidak tanpa guru, paling magang dan ngerjain projek”, “Sosialisasi aku enak kok pak, buktinya aku bisa fit-in sama anak lain yang seumuran”

Sesudah break lunch selesai, kami jalan ke Lab Air Kering. Dimana aku bertemu dengan bapak-bapak yang tadi mengobrol bersamaku, ternyata Pak Heri mahasiswa S3 di ITB. Pak Heri menjadi Lab Host untuk materi filter air dan memulai dengan menanyakan cita-cita kita nanti. Sambil cerita ini aku akan memperkenalkan orang-orang di kelompokku. Temanku Hadi yang tadi sudah aku sebut, ingin menjadi pengusaha seperti kakaknya, lanjut ke berikutnya adalah Daffa, yang sama cerewetnya dengan aku dan Hadi, ingin menjadi astronot, berikutnya ada temanku lagi Ibrahim, yang belum tahu ingin jadi apa, tapi dia tahu dia ingin berkuliah di ITB di fisika atau elektro, semua laki-laki di kelompokku asal bandung. 2 anggota lagi di kelompokku kebetulan perempuan, Vla ingin jadi psikologis, dan dia berasal dari Jakarta, anggota yang belum aku sebut, Hesti berasal dari garut dan ingin jadi guru. Kalau aku… Aku ingin jadi ilmuwan, atau programmer.

Kembali ke relevansi, Pak Heri membuka materi filter air dengan persentase air di dunia. Sesuai pengetahuanku sebelumnya, hanya dibawah 1% dari air di dunia yang bisa di konsumsi. Pengetahuan baruku adalah bahwa 1% air tersebut sudah cukup memberi makan manusia setidaknya 100.000 tahun dan jika di distribusikan dengan benar, daerah-daerah seperti Afrika pun bisa memiliki suplai air. Untuk memfilter 1% dari air laut, butuh filter air laut yang efektif, efisien dan stabil.

Filter Air Laut yang akan dijelaskan disini memakai 4 lapis membran, masing-masing membran bisa memfilter kotoran yang berbeda-beda. Ada banyak jenis membran untuk memfilter air, dan perbedaannya bisa dari kerapatan dan juga bahan membran. Bahan membran paling menarik untukku adalah yang dibuat dengan cara mencampur kapur ke air dan menggunakan electromagnetic stirrer untuk mengaduknya. Sesudah diaduk akan dipadatkan dan dibentuk untuk menjadi membran.

Pak Heri pun mengajak kita keluar untuk menganalisa cara kerja filter air tersebut. Caranya cukup simpel menurutku, hanya perlu masukkan air kotor ke pompa dan nyalakan tekanannya. Kalau tekanan cukup maka membran akan menahan benda-benda yang sifatnya kotor dan membiarkan sisanya lewat. Air bersih ini lalu dikumpulkan di satu kontainer.

Filter ini extra efektif untuk membersihkan air laut, namun juga berguna untuk air tawar. Pada hari jumat filter buatan ITB ini di pamerkan di Expo Teknologi di Hotel Horison. Aku masih yakin filter ini, meski sudah menggunakan membran nano, dan membran keramik, masih bisa lebih efektif lagi, karena air laut hampir tidak mungkin di pompa secara manual per liter.

Pak Heri menanyakan opini kita mengenai Filter Air ini, Aku beropini bahwa ini akan sangat berguna dan efektif jika bisa diterapkan di skala besar. Teman-temanku punya opini masing-masing, tapi menurutku opini Hadi yang paling menarik. Hadi beropini ke sisi bisnis dan bantuannya, Hadi berpikir bahwa jika pemerintah bisa funding untuk develop filter air ini dan mendistribusinya, daerah-daerah dengan kasus kekurangan air. Ia juga melihatnya dari sisi bisnis, dan jika Indonesia bisa ekspor ke luar negeri, Indonesia bisa punya potensi ekonomi yang meningkat. ITB-pun akan makin maju menurut dia. Itu opini yang sangat bagus menurutku.

Sesudah kita selesai, kita bersiap-siap pulang. Aku dan Hadi duduk bersebelahan di bis dan Hadi juga ditemani gurunya, Pak Okky. Selama perjalanan pulang, Pak Okky bertanya beberapa pertanyaan yang sama seperti dengan pertanyaan-nya Pak Heri ketika istirahat makan siang. Kujawab dengan jawaban yang similar, aku ditanyakan set pertanyaan itu 5-6 kali oleh semua lab host yang berbeda-beda dan juga oleh beberapa guru, jadi aku sudah mulai membiasakan.

Hasil gambar yang aku ambil dengan mikroskop SEM
Hasil gambar yang aku ambil dengan mikroskop SEM

 

 

 

 

 

 

 

 

Mikroskop TEM yang kita tidak pakai karena butuh persiapan bahan-bahan khusus.
Electromagnetic stirrer sedang mengaduk cairan kapur untuk dijadikan membran

Sesampai di hotel, aku sudah berencana mengobrol dengan Dhewa, Joshua, Hadi, dan teman sekamarku, yang belum sempat datang Ditto. Sayangnya Ditto memutuskan untuk pindah kamar agar dia bisa sekamar dengan temannya. Untungnya, Hadi setelah ku ajak, mau tidur di kamar bersamaku tapi barangnya dia simpan di kamarnya, ia juga kembali ke kamarnya setiap adzan shubuh. Sesudah makan malam, aku dan hadi menonton Charlie and The Chocolate Factory, dan tidur ketika sudah selesai. Kami bangun lagi saat Adzan Shubuh, dan sholat lalu bersiap-siap untuk aktifitas esok hari.

Gambar Kartu Namaku di pintu Lab SEM-TEM dan di Lab Air Kering.
Gambar Kartu Namaku di pintu Lab SEM-TEM dan di Lab Air Kering.

 

 

 

 

 

 

Day 3, December 14th 2016

Shubuh aku bangun dan langsung sholat jamaah bersama Hadi. Sesudah selesai sholat, Hadi langsung ke kamarnya. Sedangkan aku tidur lagi dan baru bangun lagi jam 5.30. Sesudah mandi dan sarapan, kami langsung berangkat ke ITB. Sesampainya ITB aku dan kelompokku langsung ke Lab Advanced Material Processing dan membahas Hidrophobia. Lab host kita kali ini adalah Kak Rani.

Sebelum masuk ke lab dan praktek, Kak Rani menjelaskan bahwa Hidrophobia adalah sebuah sifat benda yang terjadi karena kerapatan molekuler sebuah benda yang bersifat “anti” air. Hidrophobia sendiri adalah kondisi yang bisa di implementasikan dengan cara modifikasi partikel dalam skala nano. Lapisan ini dapat dibuat dengan beberapa bahan kimia khusus yang dipererat tali ikatan molekulernya sampai skala nano.

Kak Rani juga menjelaskan bahwa secara definisi, sebuah benda yang hidrofobik akan cenderung memisahkan diri dari benda hidrofilik, dan menolaknya. Cairan hidrofilik, di sisi lain akan menempel dan bercampur dengan airnya.

Sesudah teori dijelaskan, kami langsung praktek di lab, prakteknya cukup sederhana (ada 2 eksperimen), namun butuh lapisan hidrofobik yang digunakan ke sebuah permukaan. Pada eksperimen pertama, kami membakar sebuah fragmen kaca dan melapisinya dengan cairan hidrofobik coating, dan dengan bantuan sedikit air, kaca itu menjadi bersih berdasarkan seberapa panas titik di kaca yang kita siram. Saat eksperimen ini, aku dan Hadi membakar meja karena kita menumpahkan cairan ignition yang masih menyala ke meja, untungnya kita cukup cepat reaksinya untuk membunuh oksigen di sekitaran api agar apinya padam.

Eksperimen kedua lebih simple lagi, dan tidak menghasilkan ledakan api untungnya. Eksperimen dimulai dengan pelapisan cairan hidrofobik. Permukaan yang sudah dilapisi itu lalu dialiri cairan, jika cairan tersebut adalah cairan hidrofobik, dia akan jatuh seperti sebuah cairan yang menempel ke permukaan pada umumnya, dan ada kemungkinan meninggalkan bekas. Namun, jika cairannya adalah cairan hidrofilik, dia akan tergelincir dan turun seperti orang terpeleset di atas es tanpa meninggalkan bekas. Uniknya, ada benda (seperti tinta) yang bersifat hidrofobik-filik, air di tintanya adalah cairan hidrofilik, dan pewarnanya adalah cairan hidrofobik. Aku dan kelompokku pun mewarnai permukaan tersebut sampai lapisan hidrofobik coatingnya habis. Hasil dari kegiatan “seni” plus sains kita cukup bagus, namun aku lupa foto.

Eksperimen kedua menunjukkan bahwa air, kecap dan air di tinta adalah hidrofilik, sedangkan kecap, minyak, saus, dan pewarna di tinta sebagai hidrofobik. Kurang lebihnya eksperimen singkat kita selesai disitu dan kita melanjutkan ke “sharing” (karena masih sangat banyak waktu) apa yang membuat kita ikut acara nano sains ini, dan pesan kesannya. Aku sendiri sangat senang dengan materi ini, dan aku juga menjawab aku selalu ingin belajar nano sains. Untuk pesan aku tidak memberi terlalu banyak, dan hanya member satu, yaitu percepat sharing-an untuk anak homeschool juga agar adil. Kesanku mengenai acara ini senang bisa kenalan dengan banyak orang dan belajar banyak hal baru.

Karena masih ada 1 jam ke makan siang, kakak pendampingku, kak Khalid mengajak kita keliling ITB, dan kita melewati beberapa taman-taman dalam ITB dan beberapa fakultas. Setelah 30 menit berkeliling kita ke perpustakan untuk 15 menit dan sebenarnya tidak melakukan banyak hal selain melihat2 buku, karena perpustakan harus tutup.

Makan siang pun tiba dan aku mengambil beberapa kemasan hot chocolate lagi. Tapi kali ini, ada Guru yang lihat, dan mengobrol bersamaku mengenai homeschoolingku, ini kurang lebih pembicaraan ke 4 selama acara ini. Namun kali ini keluar beberapa pertanyaan yang berbeda, menanayakan bagaimana aku bisa mengerti fisika kuantum, karena sepertinya beliau ingat hari pertama. Aku menjawab aku googling sendiri, tapi penasaran soalnya aku suka nonton beberapa film sains fiksi, namun aku telusuri lebih lanjut agar ilmunya lebih lengkap. Karena aku juga senang mengobrol bersama Ibu Guru ini, aku mengantar satu cup hot chocolate ke kamarnya di malam hari.

Sesudah selesai break makan siang dan sholat dzuhur. Materi terakhir acara ini, yaitu DSSC  dilaksanakan di Lab Advanced Materials Processing. DSSC adalah Dye Sensitive Solar Cell, yang merupakan sebuah solar cell yang dicelupkan dalam “pewarna” agar bisa menyerap energi surya. DSSC lebih efisien dari solar cell pada umumnya dalam short term range jika diukur berdasarkan waktu. Jika diukur dengan ukuran, DSSC akan selalu lebih efisien dari solar cell pada umumnya karena biasanya ukuran DSSC 75-90% lebih kecil dari solar cell. Namun jika bicara biaya, DSSC hanya efisien untuk penggunaan di pabrik, karena perumahan belum bisa mengkonversi energi yang DSSC hasilkan dalam bulanan, dan biaya untuk “pewarna” untuk menyerap energi yang dihasilkan DSSC ini masih ada banyak energi yang terbuang.

Setelah teori yang cukup singkat, aku dan Hadi mulai membuat “Dye” dari bluberi. Aku jujur saja, tidak ingat seratus persen kenapa menggunakan bluberi, namun seingatku, bluberi digunakan karena mudah dicampur dengan cairan elektrolit untuk menyerap energinya. Kami juga membuat panel mini yang ukurannya hanya 3 cm dan melapisinya dengan “Dye” tersebut. Sesudah itu semua selesai, aku dan kelompokku mulai mencoba-coba DSSC di 3 sumber cahaya berbeda, yaitu, lampu LED, lampu substitute matahari (aku lupa nama ilmiahnya), dan cahaya matahari. Sayangnya DSSC kita ada design error di konduktornya, dan waktu sudah habis. Jadi hasil riset ini tidak bisa dipakai. Pada akhirnya kita hanya menghasilkan 0.09 KwH, dan itu sedikit mengecewakan. Namun untungnya kelompokku menyadari kesalahan itu dan menganggap ini sebagai kesempatan belajar.

Sesudah ini kita mendapat materi bonus untuk visualisasi atom dengan software ekslusif linux di labkom, Avogadro. Menurutku ini software “menggambar” paling mudah yang pernah aku gunakan, karena menggambar bentuk atom jadi sebatas ilmu kimia. Untuk menggambar atom dengan Avogadro cukup input kode di Python, atau C++ jika bisa programming, mengenai bentuk atom dan unsur-unsur yang akan digunakan. Bentuk atom itu akan tergambar sesudah compiling. Jika tidak bisa programming, kita juga bisa menggambar secara manual, meski menurutku lebih susah (tetap lebih mudah dari program menggambar lain).

Hari ke 3 di ITB pun selesai, dan esok hari kita tidak akan kembali ke sini lagi karena adanya outbound. Sepulang dari ITB aku dan Hadi langsung makan malam bersama-sama di kamar. Aku membuatkan Hot Chocolate untuk Ibu Guru yang tadi siang bertemu denganku, dan mengantarkannya. Sambil nonton bola di kamar paling besar yang ada peserta Nano Science-nya, aku mendownload film untuk nanti ditonton bersama Hadi sebelum tidur. Hadi dan aku memutuskan untuk nonton The Sorcerer’s Apprentice. Seiring berjalannya film, Hadi tertidur, dan aku baru tidur ketika filmnya habis. Aku juga sudah menyiapkan baju untuk Outbound esok harinya.

Hari ke 3 selesai disini, dan aku jujur tidak ingin cerita mengenai Outbound karena aku sangat buruk dalam koordinasi timnya, sampai salah satu teman sekelompokku minta aku untuk tenang berkali-kali dan jangan banyak bergoyang. Masalahnya aku tidak panik jadi tidak bisa menenangkan apa pun, untuk mengurangi getaran tubuhku.

Eksperimen Hidrofobik dan Hidrofilik
Eksperimen DSSC

 

 

 

 

 

 

Eksperimen DSSC
Eksperimen DSSC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Day 4, 15th December 2016

Aku jujur saja, sangat sedih acara ini selesai, karena aku masih ingin mengobrol dengan Hadi beberapa kali lagi, belajar nanosains lebih mendalam lagi. Namun untungnya aku sudah meminta nomor whatsapp Hadi untuk nanti kontak-kontakan dan ngobrol lebih lanjut. Ya namun semua hal baik akan berakhir. Sesuai paragraf sebelumnya aku tidak akan cerita mengenai outboundnya, karena itu sedikit mengganggu karena aku kesulitan.

Camp CIC Lokasi Outbound

Di perjalanan pergi yang kebetulan tertunda 1 jam karena bis yang mestinya menjemput kita mogok, tidak banyak yang terjadi, karena Hadi tertidur jadi aku tidak bisa ajak ngobrol sama sekali. Begitu pula perjalanan pulang, mungkin Hadi lelah. Sesudah mandi sore dan packing, aku dan Bubi yang sudah menjemput langsung menonton star wars, tapi cerita Nano Sains ku sudah berakhir disini.

Personal Thoughts And Experiences:

Pengalamannya sangat menyenangkan dan membantu aku melihat dunia nano dalam skala besar dan kecil. Jika dipecah-pecah per pengalaman, setiap workshop atau materi ada kelebihan dan kekurangannya, namun aku paling suka materi Hidrofobik dan Hidrofilik, dimana aku (dan Hadi) membakar meja karena kita sedikit ceroboh. Aku yakin kelompokku meninggalkan mark sendiri di setiap Lab Host, karena kelompokku paling cerewet jika kubandingkan dengan kelompok lain dan paling banyak komentar di hal-hal yang belum tentu perlu di komentarin, untungnya komentarnya seringkali bermutu.

Salah satu faktor tambahan yang membuatku senang mengikuti acara ini adalah bertemu dengan Hadi dan bahkan sekelompok, dan sekamar. Hadi itu menurut aku anak yang pintar dan bisa melihat hal-hal dalam sudut pandang bisnis, yang aku sangat jarang gunakan. Hadi juga enak diajak ngobrol dan gampang diajak bercanda. Meski dia anak gubernur, dia memandang dirinya sama seperti anak yang lain, dan bahkan jika dia bukan, aku akan tetep seringkali ajak dia ngobrol, karena dia menyenangkan dan menarik. Hadi dan aku masih sering chatting dan aku ingin bertemu dia lagi.

Oh iya.. Aku juga memberi semua Lab Host kartu namaku, dan aku juga menitipkan kartu namaku untuk Bapak-nya Hadi. Semoga semua orang yang aku temui bisa ingat aku kalau nanti ketemu lagi. Aku juga minta kontak dari: Hadi, Dhewa, Joshua, dan Daffa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *