[Azriel’s Late Post] Kuliah Umum SITH ITB – Pengelolaan Kawasan Laut

[Azriel’s Late Post] Kuliah Umum SITH ITB – Pengelolaan Kawasan Laut

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Pembicara: Ibu Catharine Kartika Winata (Environmental Consultant at PT Greencap)

Pada pukul 9.00 hari Jumat, tanggal 3 Maret kemarin aku ke ITB untuk mengikuti kuliah umum di gedung SITH (Sekolah Ilmu Tinggi Hayati). Ibu Catharine dari PT Greencap yang menjadi pembicara di kuliah umum ini. Secara general materinya mengenai pengelolaan kawasan laut yang dijadikan zona konservasi dan kriterianya.

Sebelum masuk ke PT Greencap, (yang sejujurnya aku tidak yakin Ibu Catharine menyebut apa itu PT Greencap) Beliau pernah kerja di perusahaan minyak yang namanya tidak disebut, sebagai Consultant Environment, dan di sebuah resort yang sekali lagi namanya tidak disebut. Selama bekerja di resort, Ibu Catharine memberi ide untuk melakukan konservasi penyu yang dijadikan sebagai paket turisme juga. Menurutku ini adalah ide yang bagus karena bisa menciptakan win-win solution untuk penyu, konservasionis, dan juga untuk pihak resortnya. Selama bekerja di resort, Ibu Catharine juga pernah membasmi nyamuk tanpa menggunakan bahan kimia sama sekali. Ibu Catharine memusnahkan nyamuk dengan cara membasmi telur nyamuk sebelum menetas dan membiarkan nyamuk-nyamuk yang sudah menaruh telur itu mati sendiri karena life span-nya sudah habis.

Sebelum masuk ke MPA (nanti kujelaskan), Ibu Catharine menanyakan ke audience atau mungkin peserta apa masalah-masalah yang ada di lautan sekarang. Aku menjawab masalah utamanya sampah dan oil spill. Jawaban lain yang keluar adalah pemancing yang careless, turis, dan beberapa bom. Menurutku turis hanya jadi masalah jika turisnya orang Indonesia yang punya kebiasaan pegang-pegang hal dengan cara merusak, dan turis yang kurang berpendidikan.

Ibu Catharine menjelaskan apa itu sebuah MPA atau kalau di deakronimkan, Marine Protected Area. Marine Protected Area adalah sebuah format konservasi di perairan. Marine Protected Area sendiri punya beberapa sub-format seperti Fishing Only Area, Fully Restricted, Publicly Open, Open Area with Fishing Ban, dan masih banyak lagi. (Dari nama sebenarnya sudah cukup jelas restriksinya, jadi aku tidak akan menjelaskan). MPA ini biasa dibentuk untuk konservasi makhluk hidup apapun di laut, mulai dari koral, sampai ikan. Konservasi koral hanya biasa dilakukan di Coral Triangle yang merupakan daerah yang kaya akan koral dan 60% teritorinya ada di Indonesia.

Gambar Marine Protected Area di Wikipedia

Masuk ke perairan Indonesia secara spesifik, menurut Ibu Catharine, perairan Indonesia yang luas ini termasuk perairan paling cocok untuk dikonservasi karena keragaman spesiesnya dan keluasannya. Menurut statistik yang Ibu Catharine berikan, Indonesia punya lebih dari 650 spesies ikan, dan 6 dari 7 spesies penyu yang ada di dunia. Sayangnya Indonesia merupakan negara yang sangat destruktif dan aku berpikir bahwa perairan sekaya Indonesia ada di negara eropa, mungkin akan lebih bisa dihargai penduduknya. Bagaimanapun juga meski Indonesia kurang respect dengan kekayaannya sendiri,  percobaan untuk konservasi masih perlu dilakukan.

 

Ibu Catharine juga sempat membuat attempt konservasi di pulau komodo. Pada tahun 2003, Ibu Catharine membuat peta konservasi untuk penyu yang cukup lengkap dengan rute dan format-format MPA. Sesudah membuat peta itu, Ibu Catharine melakukan sosialisasi dan dengan bantuan pemerintah, bisa melakukan Law Enforcement bagi para pelanggar. Hasil konservasi itu cukup sukses kata Ibu Catharine. Aku bertanya, apakah warga complain jika zona pemancingan mereka diambil untuk rute konservasi mereka. Ibu Catharine menjawab bahwa, banyak yang complain dan biasanya kita coba sosialisasikan lagi secara one on one, dan untungnya yang melanggar hukumnya tidak terlalu banyak. Menurutku jika warga complain hal terbaik untuk dilakukan adalah abaikan saja sejujurnya, karena daerah pemancingan yang benar-benar di restriksi sangat sedikit.

Sesudah menceritakan attempt konservasinya, Ibu Catharine menjelaskan metode konservasi yang beliau gunakan, dan semua dimulai dari data, sesudah membuat peta dari data yang ditemukan. Lanjut ke monitoring penyu dengan cara memasang tracker di karapaksnya. Sesudah melakukan monitoring, mulai koordinasi law enforcement ke pemerintah. Jika law enforcement siap, sosialisasi ke warga bisa langsung dilakukan.

Sebenarnya mata kuliah umum ini sudah selesai namun ada diskusi untuk pertanyaan-pertanyaan yang disediakan Ibu Catharine, yang aku ikuti, tapi hanya menjadi pihak pasif. Pertanyaan untuk barisanku adalah bagaimana cara mengatasi tourism sites di potensi rute MPA. Kelompokku mendapatkan jawaban untuk dengan mudah, usir saja mereka, selalu bisa dibantu dengan law enforcement. Menurutku padahal jika turismenya bersifat tidak mengganggu, bisa diajak untuk konversi format ke turisme restriktif, dan berubah menjadi turisme yang similar ke konservasi penyu dengan yang apa yang Ibu Catharine lakukan. Kuliah umumnya  sudah habis sampai sini.

Opinions:

Aku menganggap kuliah umum ini sebagai netral, aku tidak suka, ataupun suka, meskipun begitu menurutku ilmu di mata kuliah ini masih berguna dan aku ingin mengikutinya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *