[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Tech Talk #1

[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Tech Talk #1

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Pada tanggal 6 Februari kemarin, aku pergi ke DICODING Space untuk mengikuti Dev Tech Talk pertama tahun ini. Dev Tech Talk adalah sebuah serial acara yang diadakan untuk Android Developer. Bandung Dev Tech Talk kali ini ada 4 pembicara dengan topik masing-masing. Para pembicara kita kali ini adalah: Kak Elsen Novraditya dari Prism, Kak Andrew Kurniadi yang merupakan salah satu Google Dev Expert di Bandung, Kak Ibnu Sina yang merupakan CEO dari GITS, dan Kak Ahmad Imaddudin dari Dicoding.

Pembicara pertama kita adalah Kak Elsen dari Prism. Prism adalah sebuah messenger dengan built in tools untuk konversi message menjadi transaksi. Prism ini biasa dipakai untuk pedagang online yang ingin menggunakan satu aplikasi untuk berjualan, karena Prism juga sudah lengkap dengan toko online didalamnya. Prism sekarang baru mensupport Kartu Kredit, COD, Bitcoin milik Prism, dan Paypal untuk sekarang.

Prism memang harus sangat secure, dan Kak Elsen cerita untuk mendapat security-nya itu, Prism di program dengan Kotlin yang merupakan sebuah “mod” ke Java. Kotlin bersifat sebagai simplifier bahasa Java dan bisa memperpendek 5-20 line kode, menjadi 2-4 kode. Kotlin juga perlu deprogram dengan teliti tapi, karena Kotlin bisa menyebabkan leak parah jika tidak ditangani dengan benar. Menurut Kak Elsen, Kotlin adalah modifier language yang perlu dikuasai sebelum memulai development dengan itu. Kotlin adalah mod yang secure karena Kotlin memiliki list command yang terbatas, tapi luas, maksud dari statement itu adalah Kotlin dapat mengerti banyak list command, tapi perlu di-identifikasi lagi untuk memastikan security. Jika kita tidak identifikasi sebuah fungsi dengan beberapa list tanda baca, (!, ?, ??, !! yang sudah disupport Kotlin, masing-masing memiliki definisi identifier tersendiri) maka kemungkinan ada leak sangat tinggi. Untuk memastikan bahwa Kotlin tidak ada leak, coba gunakan software open source Leak Canary di Github, baru publish aplikasinya ketika sudah bersih dari leak.

Berikutnya Kak Andrew Kurniadi yang membawakan materi. Materi Kak Andrew adalah development aplikasi di Smart Watch. Kak Andrew bilang bahwa development di Smart Watch sangat mudah dan bahkan lebih mudah daripada development aplikasi di Android. Tetapi menjual aplikasi di smart watch akan jauh lebih susah karena orang-orang tidak akan download aplikasi secara “asal” di Smart Watch. Kak Andrew juga kemudian bertanya apa disini ada yang pernah membuat aplikasi di Smart Watch sebelumnya. Aku menjawab aku pernah… Kak Andrew lalu bertanya aplikasi apa, dan aku pun menjawab aku pernah mencontreng semua target devices di Android Studio sebelum aku mengerti cara memakainya. Semua orang di ruangan pun tertawa, termasuk Kak Andrew.

Kak Andrew pun menjelaskan cara untuk development di Smart Watch. Ternyata development di Smart Watch hampir persis ke development di Smart Phone, bahkan lebih mudah. Namun ada beberapa tips dari Kak Andrew untuk dev di Smart Watch. Pertama, pastikan punya 2 bentuk layout aplikasi, satu untuk jam yang berbentuk kotak, dan satu untuk yang berbentuk bulat, karena Smart Watch bukan hanya memiliki ukuran berbeda (yang bisa di scale jika di HP), tapi juga punya bentuk berbeda. Tips kedua adalah untuk memastikan activity tidak bertumpukan dan buat sedikit split. Maksud Kak Andrew adalah, pastikan aplikasi punya setidaknya 3 page dengan fungsi masing-masing agar aplikasi tidak berat dan masih bisa digunakan seefisien mungkin. Tips terakhir adalah sediakan mode battery saver, karena smart watch biasa diisi aplikasi yang bisa digunakan di background, dengan adanya mode battery saver (yang juga mengurangi brightness device kita) aktivitas akan lebih efisien dalam konteks battery usage. Alasan lain untuk tip ini adalah karena battery di smart watch kita biasanya hanya setengah atau kadang lebih kecil dari smartphone.

Sesudah Kak Andrew selesai, ada Kak Ahmad dari Dicoding yang menjelaskan tentang widget. Widget menurut Kak Ahmad adalah sebuah “preview” dari aplikasi yang bisa diakses dari main screen. Kurang lebih hanya itu penjelasan dari Kak Ahmad. Sesudah menjelaskan, Kak Ahmad langsung memrogram widget. Widget sendiri sebenarnya sangat similar dengan cara membuat aplikasi, namun butuh beberapa line khusus di file manifest untuk membedakan widget dan aplikasi. Memprogram logic dan layout widget mirip dengan aplikasi, tapi dalam skala yang lebih kecil, dan size yang lebih kecil. Gambar dan angka juga bisa dimasukkan ke widget, tetapi dengan cara menggunakan string. Secara singkat membuat widget adalah membuat aplikasi dengan logic dan ukuran kecil, dan di definisikan ulang.

Sharing terakhir berasal dari Kak Ibnu Sina dari GITS. Kak Ibnu menjelaskan tentang Firebase, yang merupakan sebuah database berdasarkan Javascript milik google. Firebase adalah sebuah database yang secure, realtime dan dengan akses yang tepat, bisa dimodif. Firebase biasa digunakan aplikasi yang butuh data realtime seperti stock market, dan aplikasi transportasi. Firebase karena buatan google, dapat langsung di masukkan sebagai alat di Android Studio. Bukan hanya itu, tapi semua aplikasi dapat mengedit database jika mempunyai izin untuk mengedit database tersebut. Firebase dapat dibuat langsung dengan akun google apapun, dan untuk management security dapat dilakukan dengan mudah, karena writer dari suatu database langsung memiliki akses admin dan bisa membuat program, atau user lain sebagai editor, viewer ataupun admin. Membuat database di firebase mirip dengan menulis kode di HTML, namun butuh extra hati-hati karena beberapa penulisan data yang tidak teliti bisa membuat data leak. Jika dalam data ada informasi personal, pastikan data ditulis dengan secure agar tidak ada orang yang tidak punya izin membaca informasi personal.

 

 

Personal thoughts:

Acara ini menarik dan aku sangat menyukainya. Semua ilmu disini bisa dipakai nanti untuk aplikasi yang lebih kompleks. Meski aku baru sampai rumah jam 10.00 malem dan tertidur di Uber perjalanan pulang, aku rasa acara ini sangat worth it. Aku ingin mengikuti Dev Tech Talk #2 atau mungkin lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *