[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Day

[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Day

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

Pada 18 Februari kemarin, di Unikom tepatnya, ada acara Bandung Developer Day yang ke-6. Bandung Dev Day adalah acara dimana expert-expert dalam mobile development (baik iOS, Microsoft atau Android). Sharing sebuah platform atau bahasa untuk development. Pada acara ini ada 3 platform yang dijelaskan yaitu Android Studio, Xamarin, dan juga Swift. Pembicara pada Dev Day ini ada Kak Ibnu Sina (sebelumnya pernah bertemu di Devcember dan Dev Tech Talk 1) dari GITS, Kak Puja Pramudya dari radyalabs, dan Kak Andri Yadi yang merupakan CEO dari DyCode.

Sebelum kita masuk ke acaranya, aku sempat kesal karena acara ini butuh pendaftaran dan link pendaftarannya hanya ada di Poster-poster yang tertera di UNIKOM. Sedangkan aku tahu acara ini via Instagramnya Ibu Ari. Untungnya ada beberapa spot kosong karena aku datang sebelum jam mulai, jadi aku membayar biaya pendaftaran on the spot, dan langsung masuk. Katanya Bubi, rejeki anak sholeh, Alhamdulilah aku dapat spot di acara ini, yang menurutku menarik.

Pertama-tama Kak Iboen (panggilan orang-orang untuk Kak Ibnu), mengajarkan basic dari Android Studio. Sebagai software development non game yang paling sering kupakai, aku sudah cukup familiar dengan ini, jadi aku hanya akan menjelaskan tips-tips enhancement Android Studio-nya, dan kenapa sebaiknya kita menggunakan Android Studio (Menurut Kak Iboen)

Kak Iboen bilang bahwa Android Studio memiliki UI paling bagus dan interaktif dibandingkan dengan editor java lain. Selain itu Android Studio juga bisa memprogram dan membuat layout langsung dengan sudut pandang sebuah device android, sejauh ini belum ada program native android yang sudah bisa melakukan itu. Selain itu, Android Studio bisa langsung mengimport tools-tools external lain, seperti Firebase dan Account Manager.

Tips pertama dari Kak Iboen adalah untuk memberi dan mengingat-ingat Keybinding semua command, missal untuk “Create Class” bisa dengan keybinding Ctrl+Shift+N, dan masih banyak lagi. Kak Iboen bilang bahwa dengan menghapalkan keybinding ini, proses membuat program bisa berkurang 1-2 jam. Tip berikutnya adalah tip untuk instalasi, sebelum menginstal pastikan bahwa Android SDK sudah terinstall di directory yang terbuka agar masih bisa dipakai di program lain dan mengurangi size consumption sekitar 400-500 MB. Tips terakhir dari Kak Iboen cukup simple, untuk mengurangi size dan keberantakan-nya sebuah folder, Buat satu folder khusus untuk projek Android Studio, dan buat satu folder khusus lagi per projek. Satu projek di Android Studio bisa menghasilkan 3-4 folder dan beberapa file tambahan, hanya dengan melakukan ini akan menjaga directory-mu agar tetap tampak rapih dan mempermudah mencari projek dan file lain.

Sesudah Kak Iboen selesai, Kak Puja melanjutkan dengan platform development Xamarin. Xamarin adalah platform untuk development di mobile device ke 3 platform smartphone, yaitu Android, iOS dan Microsoft Phone. Xamarin bersifat sebagai converter dari satu platform ke platform lain hanya dengan satu kali programming dengan bahasa manapun. Xamarin dimulai dari ide beberapa orang yang tidak bisa memprogram di multiple platform untuk  melakukannya. Mereka pun mengeluarkan Xamarin di Github dan Xamarin pun cukup hits. Setelah kesuksesannya, Xamarin dibeli Microsoft karena “kegagalannya” dalam penjualan Mobile Device, jadi mereka memutuskan untuk membuat platform software untuk development yang dibiarkan open source dan menghasilkan uang dari Xamarin.

Xamarin sendiri bisa mengkonversi 60% kode jika menggunakan versi lama yang sebelumnya belum bisa konversi XML dan File Layout lain. Namun baru bulan lalu keluar Xamarin versi baru yang bisa mengkonversi kode hingga 95%. Jika aplikasi menggunakan aplikasi external seperti maps dan location, maka kode yang terkonversi biasanya hanya 90% karena di beda OS akan butuh aplikasi maps berbeda. Selain itu, kode lain yang Xamarin tidak bisa konversi juga manifest atau detail aplikasi, dan nama aplikasi. Sesudah presentasi mengenai Xamarin selesai, aku bertanya perbedaan Xamarin dengan ReactNative. Kak Puja menjawab bahwa sebenarnya programming-wise, tidak ada perbedaan kecuali platform. ReactNative bisa mengkonversi dari web ke Android dan iOS atau sebaliknya, sedangkan Xamarin bisa mengkonversi dari Android ke platform mobile apapun. Kak Puja juga melanjutkan dengan menyatakan bahwa sebenarnya perbedaan antara kedua itu juga dengan UI dan Style Code yang berbeda. Karena belum tentu semua web programmer akan senang dengan React Native jika menurutnya ReactNative kurang reaktif.

Kak Puja juga menceritakan Microsoft Dream Cup, namun aku belum bisa ikut karena aku belum 16 tahun ataupun SMA. Kak Puja juga menceritakan bahwa radyalabs bermula dari Kak Puja mengikuti Microsoft Dream Cup ini. Kata Kak Puja, Microsoft Dream Cup itu butuh orang yang bisa membuat aplikasi, dan yang presentasi, karena biasanya tidak banyak programmer yang jago public speaking menurut Kak Puja. Untung aku bisa presentasi dan programming juga ya 😀 .

Sharing terakhir datang dari Kak Andri Yadi, CEO DyCode. Kak Andri Yadi menceritakan tentang development di iOS menggunakan Swift. Swift adalah satu-satunya (untuk sekarang), projek Open Source yang disupport Apple. Swift juga merupakan bahasa yang unik, karena Swift bersifat realtime dan hasil program kita akan langsung ditampilkan tanpa perlu compiling. Swift sayangnya meski Open Source, tetap butuh laptop Mac untuk menggunakannya, padahal aku ingin belajar Swift yang tampaknya seperti bahasa menarik. Selain Real Time, Swift juga hype karena cukup versatile dan bisa memasukkan logic python, java atau C ke aplikasi Mac kita. Sayangnya Kak Andri tidak memberi demo swift selain menunjukkan bahwa swift itu real time. Meski begitu aku cukup senang mendengar bahwa Apple akhirnya berani menyupport suatu projek yang Open Source.

 

Final Thoughts:

Aku senang bisa belajar lebih lanjut mengenai development di mobile device, dan meski aku agak kecewa dengan pendaftaran yang bersifat cenderung eksklusif ke mahasiswa UNIKOM, masih menyenangkan untuk kuikuti. Plus aku dapat stiker kucing lucu (yang Ibu Ari sangat suka) karena aku menanyakan pertanyaan bagus di acara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *