Author: AdminBubi

Homeschooling mom yang ga profesional. Ga suka bebersih dan doyan jajan.
PLAY, sebuah tulisan. Part 2

PLAY, sebuah tulisan. Part 2

It is a happy talent to know how to play.” -Ralph Waldo Emerson

 

Setelah membaca tentang hasil-hasil riset berkaitan dengan menurunnya kesempatan main pada anak-anak serta fakta bahwa anak-anak sangat menyukai bermain di luar ruangan, maka saya akan melanjutkan menceritakan bagian terakhir dari jurnal The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent – Peter Gray. Menurut saya, bagian terakhir ini adalah bagian yang paling menarik dan bermakna mendalam.

 

Bagian yang akan saya ceritakan adalah bagian yang berisi tentang ‘Bagaimana bermain mendukung kesehatan mental anak-anak’. Peter Gray menulis bahwa, bermain membantu anak-anak untuk:

  1. Mengembangkan minat intrinsic dan kompetensi
  2. Mempelajari cara membuat keputusan, menyelesaikan masalah, mengupayakan pengendalian diri, dan mengikuti aturan
  3. Mengendalikan emosi mereka
  4. Berteman dan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain yang setara
  5. Merasakan kebahagiaan

Melalui ke-5 hal diatas lah bermain menjadi hal yang mendukung kesehatan mental anak-anak.

 

Kembali saya ulas bahwa dalam konteks bermain dari jurnal Peter Gray ini adalah bermain sebagai free play, yang diartikan oleh penulisnya, aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini.

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MENGEMBANGKAN MINAT INTRINSIC DAN KOMPETENSI-KOMPETENSI.

Aktivitas yang berorintensi secara intrinsic, secara definisi adalah bermain atau FREE PLAY. Karena bermain itu sendiri dilakukan untuk bermain, kepentingan utama dalam bermain adalah bermain itu sendiri, tidak ada goal lain atau tujuan extrinsic (tujuan yang diarahkan keluar, bukan dari dalam, misal mendapatkan pujian, mendapatkan nilai, mendapatkan hasil nyata atau terukur atau jelas, sementara tujuan intrinsic adalah kebalikannya, dalam tujuan intrinsic maka hasilnya hanya dapat dirasakan oleh si individu sendiri, oleh karena itu hasil tersebut bisa jadi tidak nyata, tidak terukur bahkan tidak jelas, misalnya rasa puas, bahagia, senang).

 

Bila kita dapat mengapresiasi nilai dari kegiatan anak bermain bebas, maka kita memberikan simpulan bagi anak bahwa anak dapat mengejar tujuan intrinsic, bahwa adalah boleh melakukan yang ingin kamu lakukan, bahwa keputusan kamu bernilai. Sedangkan sebaliknya, bila anak berada dalam dunia yang berorintasi mendapatkan resume, hasil dan nilai, maka dalam masa depannya simpulan anak adalah ‘dunia ini penuh dengan tugas, selalu ada yang beban yang menanti di masa depan dan beban ini adalah sesuatu yang muncul dari pandangan orang lain, kamu pun tak tahu apa beban tersebut, dan tidak ada jaminan kamu akan berhasil memenuhi beban tersebut’. Perlu kita ketahui bersama bahwa uncertainty, ketidak pastian yang sangat kaya dalam pendapat kedua adalah sumber timbulnya depresi dan stress.

Bila saya bayangkan, anak-anak yang tumbuh dengan mengejar tujuan extrinsic, sesuatu yang sangat nyata dan dibentuk lewat pandangan orang lain, bukan pandangan dirinya sendiri, mungkin dapat menjadi anak yang sangat sukses, kompetitif, mampu bersaing, anak-anak yang mendominasi keberhasilan di ruang kelas, atau dalam kompetisi, namun hal yang perlu kita cermati adalah pada waktu tertentu sumbu tersebut akan habis terbakar. Bayangkan bila hidup kita adalah sebuah marathon, ketika kita berlari sangat cepat melibas semua yang berlari disamping kita maka besar kemungkinan nafas kita akan habis sebelum mencapai garis finis, namun sebaliknya bila anak-anak menikmati masa kanak-kanak mereka dengan lembut dan perlahan, tanpa tergesa-gesa, tanpa tekanan akan tujuan extrinsic, maka mereka akan lebih mampu menghadapi hidup dikemudian hari dengan tujuan intrinsic sebagai panduan keberhasilan mereka sendiri.

Dalam kegiatan persekolahan umumnya anak berupaya untuk mendapat pujian, nilai yang baik, atau prestasi yang disematkan oleh orang dewasa, juga dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, atau bahkan dalam kegiatan olah raga, mereka berupaya untuk tujuan extrinsic yang ditentukan oleh penilaian dan pandangan orang lain. Tetapi, dalam FREE PLAY, anak-anak melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan hasil baik yang mereka dapat, apakah itu pembelajaran maupun perkembangan psikologis, adalah suatu produk sampingan dan bukan tujuan sadar dari kegiatannya.

 

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MEMPELAJARI CARA MEMBUAT KEPUTUSAN, MENYELESAIKAN MASALAH, MENGUPAYAKAN PENGENDALIAN DIRI, DAN MENGIKUTI ATURAN.

Bila meningkatnya gangguan kecemasan, stress dan depresi berhubungan dengan perasaan kehilangan kendali akan diri sendiri, maka FREE PLAY adalah obat yang sangat sesuai. FREE PLAY merupakan kegiatan yang diatur dan dikendalikan oleh para pemainnya sendiri. Sementara dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, olah raga dan bahkan kegiatan persekolahan pada umumnya, orang dewasa yang menentukan apa yang harus anak-anak lakukan, kapan anak-anak melakukannya, dan bila ada tantangan yang muncul dalam perjalanan tersebut, maka orang dewasa lah yang menyelesaikan.

Tapi dalam bermain, dalam FREE PLAY, anak-anaklah yang menentukan apa yang akan dilakukan dan bagaimana, lalu mereka sendiri yang menyelesaikan masalah yang timbul. Termasuk masalah-masalah yang muncul dalam permainan, yang terkadang dalam kacamata orang dewasa tampak pointless, tidak bertujuan, tidak jelas. Sebagai contoh permainan kejar-kejaran, yang sering dilakukan anak-anak, akan membuat mereka mencari strategi terbaik untuk tidak tertangkap, atau bahkan permainan petak umpet anak berupaya mencari solusi terbaik, tempat persembunyian yang ideal, dan mereka terus belajar dari pengalaman sebelumnya (pengalaman yang mungkin pengalaman mereka tapi juga pengalaman orang lain, pengalaman teman mereka). Selain itu, masalah lain yang muncul diluar permainan, misal bagaimana bila ada anak yang jatuh dan terluka, mereka mencari solusi atas masalah itu sebagai bagian dari kegiatan bermain.

Dalam FREE PLAY, anak-anak belajar mengendalikan hidup mereka sendiri dan mengelola lingkungan sosial dan fisikal disekitar mereka. Mereka juga belajar dan berlatih banyak keterampilan yang penting dalam keseharian dengan itu mereka mengembangkan kompetensi atas keterampilan tersebut dan juga memupuk kepercayaan diri.

Lev Vygotsky, seorang psikolog perkembangan anak, menulis dalam essaynya, bahwa hal utama dalam kegiatan anak bermain terletak pada kesempatan melatih self-control. Beliau menyampaikan bahwa semua kegiatan bermain (FREE PLAY), ada aturan yang muncul dan para peserta yang ikut bermain secara sadar akan mengendalikan diri mereka mengikuti aturan ini. Meski aturannya tidak harus tertulis atau bahkan tidak disampaikan secara jelas, aturan-aturan ini adalah aturan-aturan yang berpedoman pada intuisi (dalam hal ini intuisi anak tentunya).

Sebagai contoh, kala anak bermain berantem-beranteman, maka mereka akan mengendalikan kekuatan yang mereka pakai untuk memastikan tidak menyakiti pemain lain, bahkan ketika si anak satunya jauh lebih kuat dari anak lain, maka ia akan mengendalikan dirinya untuk mengatur kekuatannya dengan upaya tidak menyakiti temannya, atau kala bermain menjadi superhero, maka si superhero akan kuat untuk tidak menangis atau mengeluh, meskipun terjatuh.

Permainan lain yang beberapa waktu lalu menjadi permainan anak-anak Jagad Alit adalah permainan kucing-kucingan, yang cukup menarik, kami sebagai orang tua ketika mendengar dari anak kami bahwa mereka bermain kucing-kucingan langsung membuat kesimpulan bahwa permainan tersebut melibatkan seseorang menjadi kucing dan yang lain berlari menghindari tertangkap, namun alangkah kelirunya kami, ternyata permainan tersebut adalah seseorang menjadi kucing, si kucing akan diikat menggunakan tali, dan karena dia telah menjadi kucing, maka dia akan berjalan dengan 4 kaki, dan bersuara dengan mengeong, serta tidak pergi dari tempat dimana ia ditalikan oleh pemiliknya, dalam kesempatan tertentu si kucing diikat di pegangan pintu dan kesempatan lain kucing terikat di bawah kaki kursi. Peraturan tidak tertulis dan tidak disampaikan secara jelas, tapi dimengerti oleh seluruh pemainnya, bahkan anak lain yang awalnya tidak terlibat permainan akan tidak sengaja terlibat ketika lewat lalu mengelus-elus si kucing dan si anak yang menjadi kucing akan mengeong senang.

Ditulis pula oleh Vygotsky, bahwa keinginan kuat dari anak-anak untuk bermain dan memastikan permainan tetap dapat berlangsung, membawa mereka untuk menerima batasan-batasan yang tidak mudah mereka terima dalam kehidupan nyata. Dan ini adalah fakta bahwa anak-anak mengupayakan self-control yang sangat penting untuk kehidupan sosial di dunia nyata kelak. Dalam bermain anak mempelajari bahwa self-control itu sendiri adalah sumber kesenangan dan kepuasan.

Sangat masuk akal bila kemudian kekurangan kesempatan bermain akan membawa individu kelak kehilangan rasa memiliki kesempatan pengendalian diri. Anak-anak yang tidak mendapat kesempatan untuk mengendalikan tindakan mereka sendiri, untuk membuat dan melaksanakan keputusan mereka sendiri, untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, dan mempelajari bagaimana mengikuti aturan dalam lingkup bermain (FREE PLAY), tumbuh dewasa dengan merasa mereka tidak memiliki kendali atas hidup mereka dan takdir mereka sendiri. Mereka dapat tumbuh dengan merasa bahwa mereka bergantung pada keberuntungan dan kebaikan orang lain, dan betapa menakutkan kala mereka menyadari bahwa keberuntung sejalan dengan upaya dan kebaikan orang lain tidak selalu mereka dapatkan.

 

Sekian dulu, masih ada 3 hal penting lagi yang belum saya bahas yaitu tentang bagaimana bermain anak belajar meregulasi emosi mereka, dan juga bagaimana bermain anak-anak mendapat kesempatan berteman dan belajar untuk hidup bersama dengan temannya secara setara.

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

“A person’s maturity consists in having found again the seriousness one had as a child, at play.” -Friedrich Nietzsche

Baru beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah link ke Jurnal berjudul, The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent, Peter Gray dari seorang guru, mentor yang begitu dekat di hati saya.

Saya perlu menulis karena yang saya dapat dari jurnal tersebut, sangat mencerahkan, dan rasanya terlalu penting untuk tidak dibagikan. Jadi saya memberanikan diri untuk menulis hal-hal yang “gold” dari jurnal tersebut dari kacamata saya tentunya.

Kalimat pertamanya saja buat saya sudah istimewa. Ini kalimat pertama dari isi jurnal, “Children are designed, by natural selection, to play”. Sounds about right, ya ga sih?  Anak-anak selalu mencara cara, menemukan kesempatan, untuk bermain, dan ini dilakukan oleh anak dimana saja di belahan dunia manapun, dan sepanjang sejarah, anak-anak melakukan ini. Fakta ini diperkuat dengan hasil riset antropologis, bahwa bahkan pada kebudayaan berburu pun, anak-anak bermain, setiap hari, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, bahkan saat mereka memasuki masa remaja, dan lewat bermain ini mereka mendapatkan skill dan sikap yang diperlukan untuk masa dewasa.

Photo from China Daily

Photo from DW

Dalam jurnal ini, kegiatan bermain mengacu pada FREE PLAY, yang diartikan oleh penulisnya sebagai  (saya menerjemahkan dengan sederhana saja ya), aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini. Penulis meyakini bahwa manfaat free play bergantung pada self-directed dan sifat intrinsic nya (nanti si intrinsic ini akan dijelaskan lebih jauh di bagian selanjutnya).

Terus ketika membaca ini, saya mikir, hmm betul juga, anak-anak jaman sekarang kalau main ya diatur sama orang dewasa, mainnya dimana, kapan, bagaimana, bahkan ga jarang ketemu anak yang nanya, “ini mainnya gimana?”, sama orang dewasa di dekatnya. Esensi FREE PLAY semakin menghilang, berkurang, bahkan pada beberapa kondisi, lenyap. Saya suka karena ketika membaca jurnal kaya data ini, saya menemukan benang merah keterkaitan tentang pentingnya FREE PLAY itu sendiri.

Manusia berkembang dari masa ke masa, perubahan jaman yang terjadi dari masa berburu menjadi masyarakat bercocok tanam, mengurangi kesempatan anak dalam bermain. Pada masa bercocok tanam, anak-anak menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja, biasanya pekerjaan domestik atau pekerjaan di ladang, lalu dengan revolusi industri, anak-anak bekerja di pabrik. Tapi, ketika mereka mendapat kesempatan –dan anak-anak menemukan kesempatan-kesempatan ini- mereka akan bermain, dan pada masa tersebut, mereka bermain dengan bebas, tanpa pengarahan orang dewasa.

Awal abad ke-20 adalah masa keemasaan bagi unstructured play, ini ditulis oleh Howard Chudacoff, seorang profesor sejarah, dalam bukunya the History of Play in America. Dan unstructured play menurut Chudacoff berarti main yang strukturnya ditentukan oleh anak-anak sendiri, dan bukan oleh orang dewasa, jadi ini berhubungan dengan istilah FREE PLAY ya.

Meskipun ruang lingkup Jurnal ini adalah Amerika, tapi hal-hal yang saya baca di jurnal ini sangat sesuai dengan apa yang dialami masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat menengah keatas di kota besar). Hal yang sangat nampak, adalah menurun drastisnya anak bermain diluar ruangan dengan anak lain. Dimasa saya kecil, rasanya wajar main diluar sepulang sekolah, atau bahkan main sepanjang hari kala libur. Kala saya kecil, saat libur saya dititipkan ke rumah Akung, bersama sepupu-sepupu saya, dan sepanjang hari kami bermain. Main yang seingat saya memang tidak jelas, mainnya main apa, main ibu-ibu, kantor-kantoran, masak-masakan, piknik-piknikan, main di balong, jalan kaki ke pendopo (ini dari rumah sekitar 3km, dan kami anak-anak berjalan bersama tanpa didampingi orang dewasa), dan banyak lagi yang saya juga tidak ingat. Tapi, kami bermain bebas, keberadaan orang dewasa kala itu sangat tidak signifan dalam urusan main, orang dewasa hanya memberi kami makan, dan mengingatkan kami untuk mandi, itu saja. Main menjadi urusan kami yang anak-anak.

Saat ini, bahkan di jalanan tempat tinggal kita, sudah semakin jarang kita melihat anak-anak bermain diluar. Kala kita melihat anak-anak main diluar maka akan ada orang dewasa yang hadir memberikan instruksi ini dan itu. Tidak jarang ketika saya berkunjung ke taman atau hutan kota, segerombolan anak-anak ada disana dengan dipandu dan digiring oleh beberapa orang dewasa, kebebasan untuk bermain sudah berkurang, bahkan hilang. Anak-anak mengikuti dengan pasrah apa yang dikehendaki oleh orang dewasa, dan bahkan ketika ada teman bersama mereka, mereka tidak berdaya untuk bermain bersama anak-anak lain, karena ada rencana orang dewasa yang memandu kegiatan mereka.

Data yang didapat dari jurnal, anak-anak bermain lebih sedikit pada tahun 1997 dibandingkan tahun 1981, dan bukan hanya itu, anak-anak juga memiliki lebih sedikit waktu senggang untuk melakukan kegiatan yang mereka pilih sendiri. Sebagai contoh, pada usia 6 hingga 8 tahun, riset menunjukkan penurunan 25% dalam waktu yang dihabiskan anak untuk bermain, dan meningkatnya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi. Bahkan waktu yang dihabiskan anak untuk berinteraksi dengan orang dewasa di rumah pun menurun, angkanya mencengangkan 55% penurunan. Yang meningkat adalah waktu mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, meningkat hingga 145%, bayangkan bila pada tahun 1981 anak menghabiskan waktu 1jam untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, maka 18 tahun kemudian, pada 1997, seorang anak menghabiskan 2,5jam.

Data sebelumnya didapat dari riset yang dilakukan jajaran sosiologis di University of Michigan, dalam studi tersebut bermain juga termasuk main di dalam rumah, seperti bermain permainan komputer, board game, dan juga bermain diluar. Pada tahun 1997, di Amerika total waktu anak bermain dengan permainan komputer adalah 11 jam seminggu. Bayangkan, dengan meningkatnya jumlah kegiatan yang bisa dilakukan anak dengan layar dimasa sekarang ini, bila dihitung-hitung berapa jam mereka habiskan di depan layar? Dan waktu tersebut adalah waktu yang akan lebih baik bagi anak untuk dihabiskan diluar ruangan, bermain.

Dalam studi lain oleh Rhonda Clements hampir 1 dekade lalu, dengan menggunakan sampel 830 orang ibu dari seluruh Amerika Serikat, ditemukan bahwa 83% ibu setuju bahwa anak mereka (usia 3 hingga 12 tahun) bermain diluar lebih sedikit dengan masa mereka dulu. Hasil studi Rhonda Clement ini juga sesuai dengan hasil survei yang dilakukan di Inggris. Fakta yang menurut saya sangat relevan dengan Indonesia saat ini. Bila saya bertanya pada sesama orang tua, 9 dari 10 akan setuju bahwa dulu mereka lebih sering menghabiskan waktu bermain diluar ketimbang anak-anak mereka saat ini.

Menurunnya angka anak bermain di luar seringkali TV dan kegiatan komputer serta kegiatan berbasis layar lainnya lah yang seringkali dijadikan kambing hitam. Dalam riset Clements, 85% ibu memilih TV dan permainan komputer sebagai pilihan kegiatan bagi anak mereka alih-alih bermain diluar. Dalam survei, para ibu mengatakan bahwa mereka sendiri memberikan batasan bagi anak untuk bermain diluar, dengan 82% ibu mengutarakan bahwa masalah keamanan menjadi perhatian utama mereka menghindari anak-anak bermain diluar ruangan.

Orang tua sekarang merasakan lebih banyak ketakutan membiarkan anak bermain diluar ketimbang orang tua mereka dulu, dan media memiliki peranan menghadirkan rasa takut tersebut. Saat ini, bila ada kasus penculikan, pelecehan dan penganiayaan seorang anak dimanapun, kejahatan tersebut mendapat sorotan media yang tinggi. Pada kenyataannya, kasus-kasus tersebut sangat sedikit dan jumlahnya menurun. Namun, orang tua percaya sebaliknya. Ini didukung oleh data yang didapat IKEA melalui survey bahwa alasan utama orang tua tidak mengizinkan anak bermain diluar adalah keamanan anak dari predator seksual 49% dan sebagian lain khawatir akan kendaraan serta bully.

Berdasarkan survey ikea dengan mayoritas responden merupan responden internasional, 54% orang tua menyatakan bahwa anak mereka PALING BAHAGIA ketika sedang bermain diluar. Dan hanya 19% orang tua yang mengatakan anak bahagia kala bermain permainan elektronik. Dalam studi itu juga ditemukan 89% anak lebih menyukai bermain diluar dengan teman, ketimbang menonton televisi. Serta dalam survey online, pada rumah dengan akses komputer dan internet, 86% anak memilih bermain diluar dibandingkan menggunakan komputer dirumah.

Salah satu penyebab lain menurunnya kesempatan anak untuk bermain adalah, meningkatnya waktu dan beban persekolahan, serta kegiatan yang diarahkan orang dewasa (adult directed activities). Kalender akademik menjadi lebih panjang, hari sekolah menjadi lebih lama, bahkan semakin banyak anak-anak yang menjadi bagian dari kegiatan prasekolah yang berbasis akademik. Membaca ini, saya berpikir jauh tentang kegiatan di sekolah Alice, yang 80% nya adalah FREE PLAY. Serta bagaimana tim akademik SD Arunika berusaha mengatur ritme yang menyediakan waktu istirahat yang panjang bagi anak-anak, bayangkan dalam 4 jam waktu bersekolah ¼ nya adalah waktu istirahat bagi anak-anak. Yang terjadi kala waktu istirahat di sekolah Arunika, adalah anak-anak ngobrol, main, bahkan berkonflik, dengan semua ini anak-anak juga mendapatkan banyak manfaat.

Jurnal masih panjang, tulisan ini bersambung yaaaa..

127 Hari Tanpa Smartphone

127 Hari Tanpa Smartphone

The human spirit must prevail over technology. –Albert Einstein

Kalau 129 hari yang lalu saya ditanya apalkah bisa hidup tanpa smartphone selama 100 hari atau bahkan 30 hari atau mungkin 1 hari, kala itu jawaban saya pasti “tidak”. Tapi hari ini ternyata sudah 127 hari terlalui tanpa benda kotak yang luar biasa pintar itu.

Sebelumnya, saya pikir punya smartphone pasti memudahkan hidup, semua serba mudah, dan bisa membuat waktu jadi efektif. Ternyata kenyataannya berbeda ya. Dan baru terasa saat betul-betul si smartphone tidak lagi saya miliki.
Saat ini sudah lebih dari 60 judul buku yang selesai saya baca. Angka yang luarbiasa bila saya melihat 5 tahun terakhir dimana paling 1 buku bisa saya selesaikan dalam 1 bulan, karena si smarthone lebih banyak menyita perhatian saya, Smartphone lah sumber entertainment saya. Akhir-akhir ini, buku lah sumber kesenangan, puas sekali membaca satu demi satu dan selesai dengan cepatnya.

Dulu, mau pergi kemana-mana, pasti saya cek google map dulu, sekarang ya mana bisa. Maka saya pergi saja menikmati rute ala kadarnya berdasarkan intuisi dan itu cukup. Beberapa kali juga saya nyasar, lalu ya lakukan dengan cara lama, tanya sama orang lewat tentunya. Kalau kena macet berarti baru saya pakai telepon-tidak-pintar saya untuk menelepon pakjek dan tanya “ada apa sih ko macet banget”.

Oh iya, saya paham kekhawatiran orang-orang, bahwa tanpa smartphone maka akan susah dihubungi. Sebetulnya tidak juga, saya tetap bisa di sms dan di telepon. Tapi memang sms dan telepon tidak senyaman chat di Whatsapp atau ngobrol di grup WA misalnya. Akhirnya betul-betul kalau dibutuhkan baru seseorang akan mengkontak. Minimalism kan. Sejujurnya itu juga hal pertama yang saya rasakan tanpa smartphone. Dulu kayanya orang-orang itu apa-apa nanya yaa. Apa-apa saya juga ingin memberi komentar dan mendapat komentar, sekarang sangat berkurang.

Ini belum membahas tentang ‘social media’ tanpa smartphone saya ga bisa banyak intip-intip socialmedia. Saya juga ga tau banyak tentang tren terbaru, gosip terbaru, apa yang lagi keren saat ini, dan seterusnya. Saya masih suka intip sih via laptop, tapi yang bisa dilakukan di laptop terbatas ya. Jadi ya keponya juga terbatasi. Seru kok. Buat saya tren mah ngga terlalu pengaruh karena saya masih setia dengan pakai baju merah kemana-mana, modelnya ya ga penting.

Telepon genggam manis saya yang baru warnanya merah, setelah 1 bulan tidak pakai smartphone baru saya membelinya. Jadi 1 bulan pertama saya tidak bawa telepon apa-apa, ternyata nyaman nyaman saja kok. Kadang mikir juga gimana kalau ada “apa-apa” di jalan, ya aklau itu terjadi saya tinggal cari orang terdekat dan pinjem teleponnya. Gitu aja kok repot.

Setelah 1 bulan, saya membeli telepon genggam lagi, tapi saya sudah berniat untuk tidak beli smartphone. Telepon genggambaru saya tidak pintar tapi sebetulnya cukup pintar juga, bisa dipakai telepon, bisa buat kirim dan terima sms (maksimal hanya bisa simpan 20 sms, kalau lebih maka sms lama harus dihapus supaya sms baru bisa masuk), ada kalkulatornya (bermanfaat sekali buat hitung-hitung), ada kamera juga (meski hanya bisa simpan 6 foto saja dan hasil fotonya cukup banget buat layar hp saya), ada bluetooth (saya pernah coba kirim foto dan sukses lho, memang menghabiskan waktu agak lama, tapi bisa), ada games snakes yang lumayan seru (kalau bosan bisa juga main ini). Semua fitur ini cukupan lah buat saya.

Dirumah masih ada laptop, yang seperti sekarang ketika saya mau “kerja” ya masih support. Saya masih mengerjakan jualan pasir online (bisa banget lho, di laptop juga bisa), saya cek laptop biasanya 1 atau 2x sehari, dan itu cukup. Email-email yang masuk juga saya kelola pakai laptop. Diluar itu juga saya masih bantu-bantu “bikin” sekolah. Sekolah Arunika yang dirintis dan diupayakan bersama banyak teman-teman lain, jadi bagian keseharian saya juga.

Dulu smartphone itu saya pegang paling awal ketika bangun tidur (bahkan pada saat mata belum membuka sepenuhnya) dan jadi benda terakhir yang saya pegang sebelum tidur (jadi kalau mau tidur liat smartphone dulu sampai puas baru lepas contact lens dan tidur). Itupun kalau tengah malam kebangun, ya yang dicari pertama tetap smartphone, duh sungguh parah sekali ya saya ini. Sekarang peduli amat si telepon manis yang tidak terlalu pintar itu seringkali saya lupakan, karena ada banyak hal yang lebih penting yang saya kecup sebelum tidur dan saya peluk ketika bangun. -AdminBubi

Pencil Grip

Pencil Grip

Neneng masih kurang baik dalam memegang pensil (atau spidol, crayon dan macam-macam alat tulis lainnya). Oleh karena itu, Bubi mulai cari-cari apa ya yg bisa dilakukan utk memperbaiki.

Dulu ketika Jaja berusia 4th, untuk koreksi pencil grip menggunakan alat bantu karet yang dipasang diujung pensilnya. Ini gambar alat sejenis yang Bubi temukan di tokopedia.

Untuk Neneng mungkin nanti bisa menggunakan alat serupa. Tapi saat ini Bubi menggunakan fingers sock untuk membantu. Dengan menggunting sedikit di bagian atas dan samping kaos kaki bekas Neneng.

Kemudian Neng memasukkan tangannya kedalam kaoskaki dan mengeluarkan jari telunjuk serta jempol. Baru memegang pensilnya. Seperti ini

Panduan tentang kemampuan anak memegang ada dalam tabel yang diperoleh dari pinterest. Memang ada beberapa anak yang sudah memiliki grip baik diatas usia pada tabel. Tapi untuk yang belum, semoga bisa mengurangi kecemasan ya. Masih ada waktu untuk terus berlatih.

Tasik trip…. 

Tasik trip…. 

Yuhuuuuuuu…

Babah tumben banget ngajak jalan-jalan, meski deket tapi seneeeeeeng bgt..

Sebenernya trip kami ini krn mantan bos nya Babah ngundang untuk acara perpisahan di rumah beliau.. Plus ada teman seruangan Babah yg menikah di Ciamis.. Jadilah kami semua pergi..

Kebetulan juga bertepatan sama acara selametan rumah Nyanya. Dan karena Babah Bubi berhalangan datang jadi Jaja deh yg mewakili dikakipelangi crew.. Bagi tugas gtu ceritanya..

Nah, perjalanan kami ke Tasik dilalui dengan macet ga jelas selama 1jamlebih dan ini bikin KZL 😣😣😤

Dan sampe di Tasik kita lgsg nyari2 makan siang. Bubi kalau udah lapar bisa keluar uap dari kuping dan Babah udh tau bgt deh, pentingnya ngasih makan Bubi.

Awal rencananya sampe Tasik mau makan kupat tahu (ini enak bgt deh, biasanya Bubi request minta tahunya digoreng garing…. Uuuugh sedaaaap 😝). Tapi berhubung sampai Tasik udah siang ya udah deh lgsg makan siang aja. Bubi bilang mau makan di samudera (ini warung makan prasmanan yg dimiliki sama perusahaan catering terkemuka di Priangan Timur – masakan andalannya lidah saus keju yg enaaaaaaaaak), eh ngek ngok tutup doooooong 😅😅.

Jadi Babah ngajak utk nyobain makan di Riung Gunung yang dari luar tampaknya kaya resto jadul yg kesannya biasa. Di papan depan ditulis makanan khas nya adalah Ayam Bakar, maka kami pesan ayam bakar dada. Trus Bubi lihat di depan banyak pepes, dan pesen juga pepes tahu.

Foto Riung Gunung Courtesy of kulinertasik.com

Makanannya enaaaaaak.. Pepes tahu nya sedap dan pas (ga terlalu gurih kebanyakan vetsin, rasanya simpel dan sesuai bgt sama lidah Bubi deh). Nah, kan pepesnya banyak ya, trus Bubi nemu pepes telor asin yaaaay. Ini pepes nya super enak, dengan areh (santan kental) yang gurih nikmaaaaat bgt. Jadi kami ber3 habis makan, ayam bakar dada 4, tahu goreng, pepes tahu 2 dan pepes telor asin 2, semua itu hanya keluar uang 113rb sajaaaaa… Seneng deh.. A fulfilling meal.. Tempatnya juga asik.. Rapi bersih, dengan dekor jadul yg pas dan ada om-om orgen tunggal yg nemenin kita makan lewat musiknya.. Minusnya ga ada ruang bebas asap rokok. 😢

Pas malem drama makan berlanjut, rencananya mau makan di cafe German yg di review oke di TripAdvisor eh ternyata car free nite jadi ga bisa lewat, batal deh. Trus memutuskan makan di Mutiara Seafood kembali lagi kuciwa sodara-sodara karena tutup dong… Kayanya kami memilih pergi ke Tasik dimana banyak bgt kawinan.. Jadi resto favoritnya juga sibuk ngelayanin pesanan kawinan sampai tutup ya..

Salah satu pojokan di Nini Anteh

Untung bubi inget pas keliling siang ada resto namanya Nini Anteh, dan kami makan disana. Yg bikin suka sama resto ini adalah dekornya, ditata seperti rumah nenek jaman dahulu. Dengan furniture jadul, plus lemari pajangan berisi koleksi piring jaman baheula. Dan bubi suka karena semua ruangan dalam Dilarang Merokok, YaaaaY…

Art for toddler

Art for toddler

Bubi mau nyoba bikin beberapa postingan art for toddler berdasarkan pengalaman berkegiatan sama neneng ya..

Hari ini, Senin 17 Juli, Bubi mengajak Neneng utk mewarnai lingkaran-lingkaran yang sudah dibuat bulan lalu.

Awalnya si lingkaran ini juga kegiatan art neneng, yang meilbatkan cat poster dan rol tisu bekas.. Cara mainnya cuma stamping ke kertas menggunakan rol tisu bekas sebagai capnya..

Nih, kaya gini…

Terus karena tadi Neneng pengen kegiatan pakai cat air.. Bubi minta Neng mewarnai lingkaran-lingkaran nya deh.. Syarat dari bubi tadi buat supaya lingkaran sebelahnya beda warna..
Dan neneng berkreasi deh..

Neneng bersemangat sekali mengerjakan kegiatan ini.. Oh iya sekedar teview yaa.. Cat air yg Neneng pakai ini merknya Giotto, beli di Gramedia dengan harga 50rb (pas beli dapat tambahan diskon 15% entah promo apa jadi lebih murah lagi.. Sebelumnya Neneng pakai cat air keras yg tanpa merk, beli di spm Borma harganya dibawah 10rb. Tapi sudah habis dan pas mau beli lagi, eh sudah ga ada barang tsb di Borma huhuhuu..

Oh iya alasan Bubi pakai cat air keras sebenernya relatif lebih irit dan ga banyak kotor balatak dibanding menggunakan cat air pasta.. Tapi, karena pengen Neneng kenal banyak jenis alat gambar, jadi Neng juga suka melukis menggunakan cat air pasta 😉
Dan inilah hasil akhirnya..

Dari cerita jadi buku (di kaki pelangi) 

Dari cerita jadi buku (di kaki pelangi) 

Makasih banget buat sahabat kesayangan di cerita blw yang kasih ide nulis ini..

Cerita di kaki pelangi adalah cerita yang sudah sering diceritakan oleh Babah kepada Neneng. Ceritanya adalah tentang bagaimana Neneng “ditemukan”, dan ya ceritanya memang cerita khayalan bukan beneran.

Babah menceritakan pada Neneng bahwa Babah menemukan Neneng di kaki pelangi, disana Babah bertemu dengan makhluk ajaib yg menawarkan Babah keranjang atau kendi berisi emas. Babah memilih keranjang, yang ternyata berisi bayi manis yaitu Neneng.

Nah, mendekati ulang tahun Neneng yang ketiga, Babah dan Bubi mendapatkan ide untuk memberikan kado istimewa untuk Neneng yaitu buku berdasarkan cerita yang sudah sering Babah ceritakan pada Neneng.

Bubi yang bergerilya, dimulai dengan menemukan ilustrator yang tepat. Tepat karya juga tepat harga hehehee. Awalnya Bubi berkhayal ingin sekali digambari oleh Kak Haikal (ilustrator buku kesukaan bubi yaitu Aku Suka Caramu), tapi ternyata fee kak Haikal ini mencapai 800rb/lembar A4 yang artinya kalau buku nya 12halaman berarti 12×800 😱 wow.. Budget kami ga cukup utk itu. Kemudian kak Chike Tania (ilutsrator untuk buku Jana Tak Mau Tidur dan pengarang serta ilustrator untuk Snuggy and Snarl) ternyata kak Chike sibuk sekali sehingga ga memungkinkan untuk menyelesaikan ilustrasi buku dengan waktu yang mepet.

Kala Bubi mulai bingung menemukan ilustrator, Bubi memberanikan diri bertanya pada Tancha (founder of Pustakalana Children’s Library) dan tepat sekali karena Tancha merekomendasikan ka Tika mahasiswa fsrd ITB yang juga menggambar mural di Pustakalana. Tancha memberikan kontak ka Tika dan Bubi melakukan komunikasi pertama, menginformasikan apa yang dibutuhkan serta tenggat waktunya, Bubi juga membisikkan bahwa budget sangat terbatas dan bertanya berapa kira-kira jasa yang diharaplan oleh Ka Tika.

Senang sekali ketika semuanya cocok. Dimulailah proses gambar. Bubi memberikan deskripsi berupa uraian cerita yang akan disampaikan serta karena budget mepet menegosiasikan gambar apa saja yang dituangkan menjadi ilustrasi, dengan fee Rp.100.000/gambar.

Disepakati lah untuk dibuat 6 gambar utama, yaitu:

  • Babah berjalan (dengan pemandangan kota)
  • Babah masuk ke hutan khayalan
  • Babah melihat kaki pelangi
  • Babah bertemu makhluk ajaib
  • Babah memilih keranjang
  • Babah membacakan buku

Semua ini dibuatkan oleh Ka Tika. Beberapa kali ada masukan dari Babah dan Bubi, contohnya penambahan karakter tupai yang menemani Babah berjalan-jalan.

Setelah ilustrasi, Bubi menginformasikan teks yang akan dimasukkan kedalam setiap gambar. Pada kesempatan ini Bubi meminta masukan dari ibu Sofie (salah seorang penggagas Litara, children book publisher) dan memang Bubi menyadari bahwa cerita sangat melompat. Namun, karena keterbatasan waktu, tidak mungkin menambahkan halaman baru (yang berarti ilustrasi baru).

Mepet sekali dengan deadline, akhirnya ilustrasi selesai, sebanyak 8 gambar termasuk cover dan 1gambar bonus yaitu gambar Neneng sedang berlari. Selanjutnya, Bubi menyelesaikan sendiri untuk hasil akhirnya, dengan menyisipkan lembaran narasi (yang seolah dibacakan oleh narator, pihak ketiga) untuk menjadi jembatan dari ilustrasi cerita (yang diceritakan dari sudut pandang Babah, orang pertama).

Setelah selesai proses melelahkan printing pun dimulai. Ketika Bubi bertanya pada jasa printing, angka yg disebutkan ternyata sangat tinggi, mencapai Rp.4000/lbr. Sehingga diputuskanlah untuk print dirumah saja. Dan Bubi sendiri yang menjadi operator printing ini. Kertas yang digunakan adalah kertas HVS A4 100gr (harganya sekitar 65rb/rim) dan di print menggunakan printer Epson L365. Jumlah cetakan pertama ini hanya sebanyak 50buah saja, itupun setiap malam Bubi ngeprint dari saat Neneng tidur hingga jam12malam, dan baru selesai setelah hari ke4.

Selanjutnya semua kertas hasil print dibawa ke jasa printing untuk mencetak cover dan proses jilid. Harga cetak cover adalah 6rb/lbr dan jilid 4rb/lbr nya. Saat ke jasa printing ini Bubi memutuskan untuk membuat 2 buku yang di print di kertas art paper glossy dan dijilid hardcover. 2buku ini untuk ka Tika sebagai ucapan terimakasih dan untuk koleksi kami dirumah. Jasa printingnya 85rb/buku.

Kurang lebih seperti itu proses kami mencetak buku ala ala untuk kado ulang tahun Neneng yang ketiga. Kemungkinan ini akan dijadikan kegiatan rutin, tahun depan Neneng juga akan mendapatkan kado buku, ceritanya pun sedang dalam proses diskusi antara Babah,  Bubi, Jaja (dan Neneng).

Celoteh homeschooling

Celoteh homeschooling

Jadi memang kami ini pura-puranya keluarga homeschooling, pura-pura beneran ya, soalnya si Jaja dan si Neneng kayanya ga ada schooling schooling-an nya deh.

Bubi ga anti akademik sih, tapi Bubi merasa there are things much more matter than academic study cieeeee 😅😅

Jadi Jaja ini ngapain ajaaaaa?? Anak 14tahun gtu lhoooo.. Masa ga belajar matematika, fisika, biologi, kimia, ekonomi, akuntansi, sejarah, sosiologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Sunda, Bahasa India, Bahasa Spanyol, Bahasa Rusia, Bahasa Sanksekerta dan pelajaran lainnya sih?

Ya sebenernya in a way Jaja belajar itu semua sih (atau ngga ya 😕) tapi kami ga menyebut satu persatu nama pelajaran dan menyiapkan kurikulum ttg pelajaran tersebut, apalagi bikin jadwal pelajarannya. Jadi ya sesekali saja lewat ngobrol-ngobrol dan baca-baca, semua pelajaran itu dipelajari (atau ngga I can’t make up my mind regarding this hmm).

Lalu ngapain aja ini Hs tapi ko ga belajar belajar belajar? Bubi dan Babah lebih banyak mempercayakan pada Jaja utk mempelajari apa yg dianggapnya menarik. Hari ini Jaja tertarik greek mythology kemudian dia membaca dan mencoba menulis ttg itu. Bubi dan Babah mendukung. Kemudian, dia hari lain Jaja ingin mencoba membuat aplikasi tertentu, itu pun boleh-boleh saja. Lalu ada juga waktu dimana Jaja ga ngapa-ngapain, biasanya sih ini berarti dia leyeh-leyeh di kasur sambil baca buku (di kindle nya) atau main (sambil berantem) sama Neneng seharian, ini pun boleh-boleh saja.

Selain kegiatan yang dikerjakan dirumah, Jaja juga aktif bgt dengan kehidupan sosialnya di luar rumah. Dari mulai bikin start up company yang sukses menelurkan sebuah game di playstore dan beberapa aplikasi yg belum launching. Mengikuti fieldtrip atau company visit sama teman-temannya. Ikut kegiatan pramuka (homeschooling) tiap hari Rabu, trus pulangnya kelas Vokal di Purwacaraka. Masih ditambah dengan magang disana-sini. Belum lagi Jaja juga berkesempatan merasakan menjadi mahasiswa pura-pura di kampus kenamaan. Kadang dia juga ikut workshop dan seminar aneka jenis, ada yg memang workshop computer science (google android development, docker, cyber security, virtual reality, dll) juga ikut seminar ttg ekonomi global, lingkungan, marine biology,  mathematic, string theory dan masih banyak lagi.

Jadi hari Jaja memang ga seperti hari teman-teman seusianya, tapi hari Jaja penuh hal menarik juga.
Ok segitu dulu..

Soalnya sementara Bubi menulis, Neneng berkolaborasi dengan lemari pakaian untuk mengadakan fashion show mini buat bonekanya si Bambu 🐼