ATCS Bandung. Intip Kedisiplinan Pengguna Jalan

ATCS Bandung. Intip Kedisiplinan Pengguna Jalan

Sore tadi, dari jam 15.30-17.15, aku mengambil kursi di ATCS Bandung.

ATCS adalah singkatan dari Area Traffic Control System. Untuk Bandung, kita sudah memiliki sistem untuk mengontrol lalu lintas berupa CCTV dan juga speaker untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan yang tidak menepati peraturan, ataupun rambu lalu lintas.

Selain itu software yang digunakan oleh kakak-kakak di ATCS ini juga bisa digunakan untuk mengatur lampu merah jika ada kepadatan.

Tetapi, ada sedikit hal yang menarik di ATCS hari ini. Setiap Rabu dan Minggu, ATCS membuka ruangannnya untuk umum agar warga kota Bandung bisa melihat cara kerja CCTV dan speaker di Kota Bandung.

Aku baru saja datang ke sana hari ini, dan aku juga mencatat beberapa hal… Menurutku rada-rada menarik, dan ironis bahwa pengguna jalan (aku cukup yakin mayoritasnya sih) berpuasa, sebuah ibadah untuk melatih menahan nafsu, dan kesabaran… Tetapi tidak bisa menahan diri untuk mengambil hak orang, dan juga berburu-buru. Mereka juga bahkan ada yang gak peduli keamanan diri sendiri dan keluarganya.

Jika aku perlu mengambil satu kata saja untuk menjelaskan pekerjaan para admin (aku belum diberikan istilah resminya sih, jadi kita gunakan admin ya 😀 ) ATCS ini secara singkat dan padat. Kata yang akan aku ambil adalah gregetan.

AAAHHH GREGET aja pokoknya… Kenapa? Mari kita lihat artikel hari ini…

Apa yang dilakukan dalam Intip Disiplin?

Sekilasnya yang dilakukan oleh peserta Intip Disiplin tiap harinya adalah…

  • Mengambil kursi, CCTV dan juga mic para Admin ATCS dalam menertibkan jalan.
  • Mempelajari sedikit tentang cara kerja ATCS, software yang digunakan, serta cara menegur (atau menghimbau) seseorang yang melanggar hukum.
  • Tentunya, juga melihat kemacetan dan arus lalu lintas di jam sibuk tersebut (15.00-17.00 merupakan rush hour selama bulan Ramadan, dan lalu lintas hampir pasti padat).

Tentunya tidak sebatas ini saja, tetapi selama 2 jam yang kuhabiskan di sana, gambaran luasnya seperti itu.

Langsung saja, kita akan masuk ke pekerjaan tadi, baru kita masuk ke hasil monitor hari ini.

Pekerjaan Kita…

Kita diberi hak untuk menegur dan menghimbau orang-orang. Tetapi menegurnya tidak sembarangan, tentunya ada naskah yang perlu diikuti, lengkap dengan salam pembuka, perkenalan, serta peringatan yang umum. Baru kita masuk ke peneguran dan himbauan.

Untuk menghimbau pun, tidak bisa asal, dan ada eskalasinya untuk menjaga kesopanan dan privasi orang-orang ini. Meski mereka melanggar, hak mereka masih “terjamin”. Untuk menegur, kurang lebih (atas pengamatanku) ini tingkat eskalasinya…

  1. Himbauan anonim, yang hanya merujuk tindakan yang melanggar tersebut.
  2. Jika himbauan tersebut tidak ampuh (karena orangnya gak tahu diri), akan ada pengulangan dengan nada lebih tegas.
  3. Kalau sudah diulangi dan belum ada reaksi apa-apa, spesifikasi motor, dimulai dari warna kendaraan, jenis kendaraan, sampai plat nomor akan disebut.
  4. Jika orang itu gak tahu malu, atau mungkin gak peduli… Sampai plat nomor disebut pun gak ngaruh.Titik eskalasi nomor 4 ini adalah level dimana kami gregetan, dan foto plat nomor dan pelanggaran tersebut itu diambil. Menurut admin-admin di ATCS, banyak foto di upload ke Facebook untuk memanfaatkan rasa malu.
  5. Keburu lampu hijau sehingga tidak bisa menghimbau lagi.

Sebelum masuk hasil monitor hari ini, coba tebak dulu deh… Berapa persen orang  yang patuh, dan berapa yang tidak. Kalau mau tebak mereka patuh pada himbauan ke berapa juga silahkan… Karena sebenarnya… Ini membuatku merasa… malu.

Kalau mau nebak, kukasih tahu jawabannya sesudah hasil monitor ya.

Hasil Monitor Hari Ini

Aku mencatat tentunya. Dengan buku catatan SMKAA-ku, aku mencoret, dan mencatat tiap orang yang melanggar, serta yang patuh sesudah melanggar juga.

Baiklah jadi, hasil monitor hari ini akan dibuat tidak terlalu merinci… Tetapi dari hasil monitor di…

  • Simpang Cikutra
  • Tol Pasteur
  • Simpang Pasirkoja
  • Sayap-sayap Riau, yang termasuk tetapi tidak terbatas ke… Lombok, Anggrek, Cihapit
  • Dan juga jalan Laswi.
  • Pasir Kaliki, sebelum naik ke Pasteur

Jam yang digunakan hanya 1 jam, dari jam 16.15 sampai 17.15.

Ketahui bahwa satu screen hanya bisa melihat 4 CCTV sekaligus, dan jalan yang di monitor butuh 8 CCTV, jadi sangat mungkin ada yang terlewat saat menghimbau di kamera lain, karena yang menghimbau di Intip Disiplin hanya 3 orang…

Jadi, inilah statistiknya. (ingat, ini hanya satu jam, dan sangat rentan ke Human Error)

47 kendaraan melewati garis stop dan mengambil ruang di Zebra Cross.

  • 12 dari ini merupakan kendaraan beroda 4, yang benar-benar membuat kagok orang-orang yang menyebrang.
  • 35 kendaraan lainnya adalah kendaraan beroda 2.
  • Dari 47 kendaraan tersebut, sekitar 36 mengabaikan, atau bahasa Gen Z-nya, ngacangin himbauan yang kita berikan. (tentunya tidak semuanya bisa mundur, tetapi setengah dari kendaraan yang kucatat masih ada ruang untuk mundur)
  • 11 kendaraan lainnya melakukan perintah pada himbauan ke 3.
  • Tidak satu kendaraan pun sadar bahwa mereka mengambil ruang di zebra cross yang merupakan hak pejalan kaki pada peringatan pertama (yang anonim, tanpa menyebut spesifikasi kendaraan).

Jadi, di bulan Ramadhan ini, yang penuh berkah, dan bermaksud membantu kita melakukan lebih banyak hal baik… Cukup banyak orang yang gak tahu diri sampai ngambil hak orang.

60 orang (orang bukan kendaraan, dihitung jumlah kepala) yang mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm. Perlu diketahui bahwa menemukan orang tanpa helm bukan hal yang mudah, dan karena diperlukan zoom dan kami tidak bisa mengerjakan beberapa kamera secara simultan… Hanya 1 kamera yang bisa dicek tiap saatnya.

  • 19 dari 60 tersebut merupakan balita.
    • Dan semua orangtua yang diberikan himbauan tidak memberikan reaksi sedikit pun. Gimana gak greget coba. Bagaimana cara kita sebagai negara mau menjaga balita kita dari dampak buruk di dunia luar kalau yang namanya ngejagain kepala anaknya sendiri aja kagak bisa… (ups, mulai terkesan kasar… maaf)
  • Dari 41 orang yang tidak menggunakan helm, sekitar 32 merupakan penumpang, dan 9 lagi merupakan pengendara.
    • Untuk pengendara, ada 5 dari 9 yang bereaksi pada himbauan dan memutuskan untuk memutar balik untuk mengambil helm sesuai himbauan.
    • 5 lainnya selamat karena lampu hijau, atau beneran tidak peduli, jadi kita capture.
    • Untuk penumpang, ada 16 yang tidak menanggapi, 11 panik (kelihatan dari mukanya), tetapi tidak turun dan selamat karena lampu hijau, dan 6 lainnya… paling kebangetan.
    • 6 orang ini turun, dan untuk sesaat kita merasa mereka taat. Tetapi ternyata sesudah lampu hijau naik lagi ke motor tersebut. Tahu gak sih seberapa sakitnya di PHP-in sama orang-orang kaya gini? ADUHHHH BENERAN DEH!
    • Untuk penumpang, tidak ada satupun yang patuh, dan mengikuti himbauan dan turun dari motornya…

Jadi, kalau mau dihitung persentase, seberapa banyak orang yang patuh… Untuk helm, ada 5 dari 60 orang yang patuh, dan ini berarti persentase suksesnya adalah… 11%. Pada rush hour atau jam sibuk. Kalau mau menghitung yang panik juga sebagai sukses, angkanya tentunya membaik, menjadi 16 dari 60, atau sekitar 26.5%

Untuk garis stop, nilainya lebih baik… 11 dari 47 menerima dan melaksanakan himbauan, ini berarti sekitar… 23.5% (ish, tidak pasti). Hampir seperempat…

Akan jauh lebih menarik jika kita akan memonitor 4 jalan saja, tanpa mengganti kamera, dan benar-benar mencatat dengan super fokus, pada bulan ramadhan. Lalu kita juga bisa melakukan yang sama di bulan lainnya. Apakah ramadhan dan puasa ini benar-benar diamalkan? atau hanya sebatas simbolis gak makan minum sampai Maghrib saja?

Sebelum kesimpulan atau renungan… (hehehe, liat nanti ya artikel hari ini mau menyimpulkan atau merenung). Aku ingin memberikan pujian dan terima kasih untuk Kakak-kakak Admin di ATCS

Special Thanks 🙂

Pertama-tama, pujian dulu bagi admin di ATCS.

  • Hebat, akang teteh Admin ini bisa sabar ngeliatin orang-orang nyebelin dan gak tahu diri ini. Selain itu Admin disini juga tidak menyerah beres ketemu orang-orang gregetan yang bahkan make helm aja gak mau.
  • Selama aku disini, aku tidak bisa memonitor lebih dari 4 kamera dengan teliti, itu pun seringkali kameranya salah diputar dan jadinya… blindspot. Aku juga takjub dengan ketelitian dan konsistensi admin di ATCS ini deh… Jempol
  • Admin-admin ATCS juga sangat santun, tapi tegas dalam memberikan himbauan. Aku kalau ngomong dan memberikan warning kaya gini, kalau gak ngeliat naskah bisa lupa, dan bahkan sampai salah ngomong, atau kelupaan satu dua kata. Hebat dalam mengatur kata dan memberi himbauan

Serta terima kasih ke Admin di ATCS, dan juga Kak Laras yang mau sabar kalau ngedenger aku salah ngomong pas ngasih himbauan, dan terus mau memberikan aku bimbingan…

Terima kasih untuk kesempatannya! (kalau baca artikel ini, tolong diberikan komentar yaaaa… aku penasaran)

Renungan

😛 renungan yaaaa

Nyatanya, meski ada sistem yang sangat keren, canggih, serta berisi orang-orang yang konsisten dalam memberi peringatan… Semuanya kembali ke orangnya.

Aku yakin ada orang yang tidak memakai helm, dan merasa sangat-sangat malu ketika plat nomornya disebut keras-keras di speaker. Setidaknya, rasa malu ini bisa dimanfaatkan untuk memperingati orang-orang ini untuk patuh pada lain waktu.

Dan kalau mau bicara persentase, diantara banyak yang tidak mematuhi, tentunya, masih lebih banyak yang mematuhi. Berdasarkan yang aku ketahui, mungkin yang mematuhi ini dulunya tidak, tetapi merasa malu dan kapok ditunjuk-tunjuk oleh speaker, jadi mereka memutuskan untuk menggunakan helm.

Meski tidak sesuai dengan tujuan utama dari penggunaan helm, tujuan utama membuat pengguna jalan yang lebih patuh terpenuhi…

Sekarang untuk merenung… Masih banyak orang yang tidak peduli, dan juga tidak tahu malu… Apa perasaanmu mengetahui bahwa warga yang satu tanah air sama anda, berperilaku seperti itu?

Tidak usah bahas agama atau apapun, cukup bahas sesama warga Indonesia… apa perasaan anda mengenai kondisi-kondisi seperti ini?

Sampai lain waktu!

6 Replies to “ATCS Bandung. Intip Kedisiplinan Pengguna Jalan”

    1. Tentu sajaaaa…

      Sebenarnya aku riset ini cuman karena iseng dan kepo sih, tapi tetep aja, kan ada manfaatnya ya… hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *