Artificial Intelligence: Potensi Masa Depan Yang Cerah? Atau Kelam?

Artificial Intelligence: Potensi Masa Depan Yang Cerah? Atau Kelam?

Wah judulnya dark banget kayanya… err, ketahui aja ini artikel ga bakal se-dark itu, tapi akan membahas beberapa present day Artificial intelligence yang ada di HP atau Laptop reader, dan juga potensi Artificial intelligence di masa depannya.

Meski aku sejujurnya berharap bahwa gak bakalan ada AI yang seserem Skynet, atau mungkin millenial lebih familiar dengan Ultron, meski Ultron itu cemen, dan sejujurnya seperti villain Marvel Cinematic Universe pada umumnya, ga banyak scene yang beneran berarti dan purpose-nya tidak panjang, tetep, dia potensi AI yang akan bilang “I HAVE NO STRINGS ON ME!” ke si pencipta-nya.

Eh fokus, Artificial Intelligence… Jadi ya, kayanya future dimana Artificial Intelligence akan eventually govern dan mengendalikan/membantu kita itu sangat-sangat mungkin, dan kayanya orang-orang cukup pinter untuk nambahin kode failsafe dan belajar dari Terminator, tetep, kemungkinan akan ada real life Skynet itu ada…

Dan ingat-ingat, salah satu ilmuwan pembela dan Anti AI, which is Stephen Hawking, baru saja meninggal bulan Maret kemarin. Mengutip beliau, “I’m not scared of black holes. AI is a different story.”

Jadi, daripada lama-lama lagi, kita bahas deh si Artificial intelligence ini, mulai dari yang sederhana sampai yang selevel dengan Skynet atau JARVIS. Ultron bukan saingan… JARVIS is the true AI in MCU. Meski dibunuh Ultron ujungnya, tapi… err…

Ehem, on topic…

Disclaimer: Jika aku terdengar seolah-olah aku gak suka AI, meski nyatanya itu bener, aku sudah berusaha se objektif mungkin…

Definition

Sebelum masuk terlalu dalam ke dunia AI, aku mau bahas dulu Machine Learning, yang semacam tiangnya dan fondasi dasar dari sebuah Artificial Intelligence.

Jadi yang namanya machine learning itu mungkin suatu term baru… tapi aku sendiri pernah mengerjakan project machine learning dan sejujurnya dia gak harus sampai ke titik belajar hal baru, atau… menghancurkan dunia. AI paling mendasar biasanya ada di monitoring behavior dan kadang cuman mengingat atau mempelajari satu sampai dua kata yang baru.

Sebelum berpikir seperti geek film Sci-Fi, Artificial Intelligence memiliki definisi, dan ini ngopas, tanpa translate, jadi langsung mentah dari internet…

Artificial intelligence is intelligence demonstrated by machines, in contrast to the natural intelligence displayed by humans and other animals. (AI adalah intelegensia yang di demonstrasikan mesin, tidak seperti intelegensia alami, yang ditunjukkan oleh manusia dan hewan lain)

Ini kurasa belum cukup lengkap, jadi akan dicari lagi definisi dari intelligence, baru bisa disimpulkan ya, AI paling mendasar itu apa… Ini definisinya: The ability to acquire and apply knowledge and skills. (kemampuan untuk mendapatkan, dan mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan)

Nah, kalau mau ditarik garis kasarnya, yang namanya artificial intelligence bisa diartikan sebagai mesin, baik hardware atau software (catatan: definisi mesin sendiri sudah makin luwes sekarang) yang mampu mendapatkan dan mengaplikasikan pengetahuannya pada situasi yang tepat. Skill gak mau kumasukkin, sorry… dia masih… rada crude dan gak jelas untuk artificial intelligence.

Machine Learning

Nah, aku udah bilang sih, bahwa aku memang pernah ada projek mengenai Machine Learning… meski ga tuntas, dan hanya beres sekitar 60%, aku udah dapet gambaran mendasar dari Machine Learning…

Machine Learning sendiri biasanya dianggap sebagai proses dari si mesin untuk mendapatkan informasi baru dan menambahkannya ke database yang dia punya. Machine Learning sendiri sudah lebih dari cukup untuk menjadi fondasi dasar sebuah AI, dan juga biasanya cukup untuk membuat file yang terus memperbaharui dirinya sendiri, misalnya, err… save file sebuah RPG, kaya misalnya Pokemon.

ML ini, (AHHAHA, gak bukan Mobile Legends, kami para programmer menyingkat ML sebagai machine learning 😀 ) merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi-nya sendiri, sambil menambah info ke otaknya si komputer/program. Dia sebenernya belum cukup buat jadi AI. Biasanya AI itu juga bisa komparasi data dan membanding-bandingkan yang sedang terjadi, dengan apa yang dia miliki dari database-nya.

Misalnya, di sebuah manusia, Machine Learning doang itu cuman si manusia ngeliatin dan mempelajari cara orang main basket dari nonton sebuah Match NBA. Kalau AI itu si orangnya bisa main basketnya, dengan membandingkan rule yang dia punya dengan yang sedang terjadi.

Kalau sekarang belum kebayang… kita masuk ke contoh aja deh…

Everyday AI… Keyboard di HP

Swiftkey, mungkin reader make aplikasi itu demi enakeun ngetik karena dia bisa tahu apa yang akan keluar, dan juga apa yang sedang kita ketik.

Yeah, itu AI juga… jangan terlalu mengira bahwa AI itu terlalu kompleks, dan kepikirannya kaya Baymax, atau Skynet… Gak, di HP reader, yang biasanya keyboard-nya bisa nge predict kata-kata dan tahu kalau misalnya ngetik… “cepetan” kata berikutnya akan di suggest, dan keluar kata “pulang”.

Nah, kalau misalnya AI itu semacam “kurang” dari bayangan reader sendiri, coba deh, ku kasih tahu cara kerjanya ya, dan kita coba bandingin sama definisi yang didapat dari google.

  1. Kita mengetik sesuatu ke input di HP
  2. Software keyboard mencatat kata-kata yang kita ketik ke sebuah input, dan biasanya di match per aplikasi
  3. Keyboard mengingat kata itu, masuk ke database
  4. Mengulangi langkah 2 sampai kita memencet send, ataupun enter
  5. Ketika kita mengulangi langkah 1, dia akan mendapat sebuah barisan kode lagi untuk membandingkan kode-nya.
    1. Ketik input, keluar huruf “Ap”
    2. Cek pakai aplikasi apa… Misal… Google Chrome
    3. Cek database, aplikasi Chrome, oh, di Chrome biasanya dia suka ngesearch “Apollo”, “Apathy” dan “Appendix”.
    4. Sip, siapin untuk suggest tiga-tiganya.
    5. Urutkan dulu sebelum kita kasih suggestion. Paling sering search Apollo, berarti taro tengah, Apathy taro samping kiri, dan Appendix kanan.
    6. Suggest, keluar di Keyboard

AI juga kan? Dia sesuai definisi lho…

Dia termasuk sebagai software, dia bisa mendapatkan informasi dan acquire info yang sesuai,  terus pengetahuannya di aplikasikan untuk membantu kita, sesuai dengan saat yang tepat, karena dia membandingkan input dari aplikasi berbeda.

Artificial intelligence bisa diartikan sebagai mesin, baik hardware atau software  yang mampu mendapatkan dan mengaplikasikan pengetahuannya pada situasi yang tepat.

Kalau dah tahu sih, bagus kok… tapi untuk yang belum… maaf jika bayangan AI-nya tidak/belum sesuai… kita masih lanjut ke bawah lagi kok. Dan sebenernya kita sedikit skip beberapa AI yang gak sekompleks Skynet/Ultron/JARVIS/whatever AI you want from pop culture, dan juga lebih rese daripada keyboard ini. AI kelas menengah ini ada, tapi kayanya bukan point yang perlu di highlight. Biasanya AI ini bisa dipakai untuk, mmm… contohnya Self Driving Car, yang aku tulis parodi-nya juga di sini…

Tapi, untuk sekarang kita akan membahas top level AI, like Skynet! Dan mengapa itu akan menyeramkan… Or maybe not actually…

True Artificial Intelligence

Artificial intelligence sejati tetep aja punya definisi yang gak jauh-jauh dari Ultron dan Skynet… By the way maaf kalau bosen ngedenger Ultron, Skynet, dan apa lagi, aku sendiri juga bosen, tapi itu yang paling terkenal untuk sekarang, dan mungkin kalau bahas beberapa AI lain, kaya yang ada di The 100, akan less… memorable..

Nah, jadi Artificial Intelligence sejati ini, kabarnya lebih kuat dari cinta sejati…

Err, aku jadi salah tingkah… Jelas sih, AI yang serem-serem ini emang pasti lebih kuat dari emosi manusia… kenapa? Well, coba liat meme ini, dan sebenernya dia cukup spot on, dan gak salah juga sih…

Meski dia terdengar satirikal, ga salah juga lho…

Jadi, sebenernya, AI fiktif pada umumnya karena dia merupakan spesies, dan gak organik seperti manusia… Dasarnya berdasarkan teori Survival of the Fittest juga, mereka akan berusaha “menginjak” spesies yang menghalangi mereka. Dan spesies normal apapun yang mendengar bahwa kita telah memunahkan entah berapa ratus spesies, merusak bumi, dan juga berperang dengan tujuan rada ga jelas…

Ya, spesies normal bakalan mau ngusir kita… Terutama jika spesies itu bukan diri kita, kaya misalnya… yah, MESIN!

Jadi, mungkin sekarang yang namanya komputer jelas jauh lebih pinter daripada manusia, dan berpikir berjuta-juta kali lebih cepat juga… uhh… Yah, kita akan jelas di outsmart jika mereka berpikir seperti kita, dan tanpa faktor emosi untuk menghalangi judgement mereka.

:/

Err, kalau yang terbayang sekarang adalah OH TIDAK! HENTIKAN AI! Jangan dulu! Kita sebagai manusia juga cukup pinter, dan gak ceroboh amat untuk ga buat kode self destruct atau kode keras yang bilang “MANUSIA ADALAH TEMAN!” dan gak bakalan begitu-gitu amat sih.

Dengan begitu-gitu amat tentunya maksudku adalah kejam, dan berpikir bahwa manusia adalah saingan. Tentunya sebagai pencipta dari AI itu sendiri, kita harusnya bisa cukup pintar untuk mencegah banyak hal negatif dan hal serem yang terjadi di film-film itu… Jadi sebenarnya untuk menghindarinya juga gak susah-susah amat kok…

Tapi untuk bicara fungsi dan pengaruhnya pada environment dan economy yaaaa… uhh… err… Ingat saat dimana penjajahan dimulai orang eropa saat Revolusi Industri? Ya, kurang lebih itu akan terjadi, karena pas revolusi industri ada mesin yang semacam mengurangi kebutuhan orang mengerjakan hal-hal seperti, menjahit dan membuat baju dll.

Jadi ya… begitu deh 🙁

Bayangkan jika programmer gak bakal dibutuhkan lagi, atau apapun yang berhubungan dengan ilmu empirik konkrit. Yang akan penting nanti mungkin aja bukan ilmu empirik solid, tapi hal-hal yang pake feeling, dan art-sy stuff. Yah, kurang lebih gitu…

Memang tampak rada kasar sih, tapi dasarnya sebuah AI yang misalnya bakalan di mass produce, maka yah, kita gak bakalan butuh manusia lagi, wong ada mesin untuk mengerjakan hal-hal seperti itu dengan super cepat. Hal macam-macam programming, dan mungkin ngecek ulangan, ngapalin chart, mungkin bereksperimen, atau mengajar? Yah… kayanya kasian banget sih…

Udah deh sekian aja bahas AI sejati-nya.. karena sebenernya yang perlu ditakuti dari AI itu bukan potensi melawan program kaya Skynet dan Ultron… Tapi kalau AI ini membuat banyak orang yang pintar di PHK karena mereka digantikan mesin yang jauh lebih cost efficient.

In Conclusion

Kesimpulan… Sebagai manusia, kita takut pada hal yang belum kita ketahui, misalnya… err, kematian… dan karena itu, AI terbilang seolah-olah dangerous waters, dan merupakan hal yang belum sepenuhnya kita ketahui untuk bisa pede dan bereksperimen dengannya.

Selain itu, teknologi AI masih benar-benar berkembang dengan pesat, dan sejujurnya, masa depan yang didominasi mesin mengerjakan tugas-tugas kita kaya di Wall-E itu bener-bener mungkin. Is that really the future you want?

Untuk sekarang kita, atau aku setidaknya… tidak bisa melakukan banyak hal ke Artificial Intelligence ini, tapi aku setidaknya bisa semacam memberi penerangan dan coba membuka mata dan mencari perspektif ke subjek ini. Hati-hati deh, jangan “ngasal” karena sejujurnya hal seperti ini, bisa saja berujung menyeramkan…

Semoga artikel hari ini dapat dinikmati, dan sampai besok!

3 Replies to “Artificial Intelligence: Potensi Masa Depan Yang Cerah? Atau Kelam?”

  1. Btw, Jarvis tidak mati karena dibunuh Ultron, tp ‘menyelamatkan diri’ dengan memecahkan diri ke internet yg pd akhirnya disatukan lagi oleh Tony Stark, dan akhirnya di-inject-kan ke artificial-body yg akhirnya dikenal sbg Vision.

    1. Err, oh begitu toh… kurang lebih sih dia gak dibunuh ya… tetapi pada akhirnya Jarvis sudah tiada… tapi ada vision sih sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *