Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Aku kembali ikut kuliah umum berseri! Hore! Kali ini, aku ikut kuliah umum di ITB, dengan tujuan kembali ke dunia empirik sesudah banyak (banget) mengkhayal di Unpar.

Materi pertama yang kudapatkan di serial Kuliah Umum Sains arus 1 tentang… *masukkan drumroll* alien. Oke, mungkin bukan alien, istilah alien sendiri kurang tepat, lebih tepatnya kehidupan di planet lain.

Materi ini diberikan Ibu Avivah dari Langit Selatan.

(buat yang tidak berdomisili di Bandung, atau memang tidak tahu… Langit Selatan adalah sebuah organisasi yang lumayan sering mengadakan acara observasi bintang.)

Selamat menikmati recap + komentar dan opini dari kuliah umum kali ini!

Materi-Materi Pembentuk Kehidupan.

Sebelum masuk terlalu dalam ke konsep pencarian dan cara pencarian oleh astronom di dunia, pertama-tama mari kita masuk dan mencari apa yang sedang dicari.

Air

Materi nomor satu yang dicari. Air. Kenapa air? Dari zaman filsuf Yunani, tepatnya, Thales dari Miletus, salah satu bapak dari ilmu pengetahuan, air adalah benda yang paling krusial dalam pembentukan kehidupan.

Air berperan penting dalam kehidupan manusia, serta dalam suhu, serta tekanan udara di suatu planet.

Jika planet dapat menyokong air dalam bentuk cair, besar kemungkinan bisa ada makhluk hidup yang mampu tinggal di planet tersebut tanpa merasakan suhu terlalu panas, terlalu dingin, dan tanpa kehilangan oksigen.

Oksigen

Kehidupan yang similer, (walau berbeda bentuk) dengan manusia, kemungkinan besar menggunakan oksigen sebagai gas yang berperan dalam respirasi. Jika ada air, maka ada oksigen, dan jika ada oksigen, berarti ada makhluk hidup yang mampu memprosesnya.

Adanya air berarti adanya oksigen, walaupun tidak dalam bentuk murni, dan adanya oksigen berarti ada kemungkinan penyokongan air.

Alasan penggunaan air sebagai fluida dan Oksigen sebagai gas yang menjadi kriteria pencarian planet yang mungkin bisa menyokong kehidupan, ada di pentingnya air untuk kehidupan berbasis karbon. Faktanya, kehidupan berbasis karbon (seperti pada dasarnya semua makhluk hidup di bumi) membutuhkan air, dan tentunya oksigen untuk bisa hidup.

Pertanyaan, mungkin, apakah mungkin jika ada penyokongan kehidupan dengan unsur lain, selain karbon misalnya?

Meskipun tidak dicari (setidaknya tidak dalam demand sebesar karbon), jawabannya iya, ini hal yang mungkin. Sebagai contoh (yang memang borderline science fiction, tapi tetep…) kehidupan berbasis Silikon tidak butuh air ataupun oksigen. Kehidupan berbasis Silikon akan cenderung mekanikal/robotika.

Planet-Planet yang dicari?

Kita sudah tahu apa zat yang dicari… sekarang mari kita masuk ke planet-planet yang dicari.

Pertama-tama… Planet batuan, atau setidaknya, satelit dari planet batuan. Karena, kita tidak bisa berdiri di atas gas, dan planet es akan membekukan semua potensi kehidupan. Oh, dan gravitasi dari planet gas terlalu besar untuk bisa membiarkan kehidupan tumbuh.

Kedua, planet tersebut harus berada di zona Laik Kuning. Namun, karena nama Laik Kuning terdengar membosankan, kita akan mengenal zona Laik Kuning dengan istilah Zona Goldilocks, dinamakan dari cerita Goldilocks and the Three Bears. Not too hot, not too cold. Cari sup milik anak beruang, bukan Papa Beruang (yang terlalu panas), atau Mama Beruang (yang terlalu dingin).

Ketiga, kemungkinan besar, planet tersebut harus berada di tata surya dengan bintang berwarna merah atau kuning, dan tidak terlalu besar.

Kriteria pencarian sudah dicoret, sekarang mari kita masuk ke pencarian itu sendiri!

Tata Surya

Sebelum mencari terlalu jauh…

Kabar baik, di alam semesta ada tiga satelit yang memiliki potensi untuk punya air. Adanya air berarti adanya oksigen, dan ini memberikan kemungkinan adanya kehidupan, atau setidaknya bibit-bibit kehidupan yang bisa muncul dari hal tersebut.

Pertama-tama, ada dua Satelit Jupiter, Europa, serta Io. Keduanya diberi nama berdasarkan pacar dari Dewa Jupiter sendiri (seperti semua satelitnya yang lain, karena pacarnya Jupiter sangat banyak), dan Europa adalah alasan benua Eropa bernama Eropa.

Kedua satelit tersebut memiliki atmosfer serta tekanan udara yang cukup untuk menyokong air, dan tentunya oksigen, tetapi memiliki sedikit masalah karena terletak cukup jauh dari matahari, dan memiliki jumlah es yang tidak sedikit. Io, memiliki air di bawah lapisan es yang tebal…

Berikutnya, ada Enceladus, satelit dari Saturnus, dan diberi nama dari seorang raksasa yang merupakan adik dari Saturnus, yang lahir dari Ibunya, Terra. Enceladus lahir untuk melawan Dewi Kebijaksanaan Minerva (juga diketahui dengan nama Yunani-nya, Athena).

Enceladus sendiri tampak seperti bulan. Berwarna abu-abu, sedikit berdebu, dan memiliki beberapa jerawat…

Tetapi, Enceladus memiliki air, atau setidaknya cairan. Ada metana di bawah lapisan berdebu tersebut. Memang, tidak ada air, dan secara teknis, seharusnya tidak perlu pencarian karena tidak adanya air, tetapi, Enceladus begitu dekat sehingga tidak mungkin untuk mengabaikan fakta bahwa ada kemungkinan kehidupan muncul di satelit tersebut.

Mungkin pada titik ini anda akan bertanya… “Kalau ada alien di Enceladus, bentuknya seperti apa?” Aku akan masuk ke sini, tetapi… sabar sedikit.

The Rest of the Universe?

Selamat datang di bagian yang berisi banyak hitungan matematika yang sebenarnya tidak penting, dan tidak ada di kuliah umum, tetapi aku ingin melakukannya karena menurutku ini menyenangkan!

Jika ada 100.000.000.000 galaksi di alam semesta. (angka merupakan tebakan kasar dari banyak membaca buku dan sejujurnya, siapa yang tahu jumlah pastinya?)

Dalam tiap Galaksi, ada 100.000.000.000 Bintang. (Sama, tebakan kasar juga, lagian, siapa yang tahu?)

Jika kita asumsikan, satu Bintang memiliki 8 planet, berarti ada 800.000.000.000.000.000.000 planet yang memiliki potensi kehidupan. Sayangnya, bintang yang berwarna Merah atau Kuning, ataupun bintang katai merah (sedikit lebih kecil dari Matahari) hanya 1/10, mungkin lebih sedikit dari jumlah tersebut.

Berarti, kita ada 8.000.000 planet untuk dipikirkan. Berikutnya, dalam satu tata surya, hanya ada (paling banyak) 3 planet yang terletak di zona goldilocks. Berarti, dari 9-10 planet di satu tata surya, hanya 3 yang memiliki potensi kehidupan. Ini menyisakan 1.6 sekian juta…

Dari begitu banyak planet yang ada di tata surya… apakah anda bisa berpikir bahwa hanya di bawah dari 3% dari planet tersebut yang bisa menyokong kehidupan? Ini belum menghitung adanya oksigen atau air lho.

Jadi, apakah pencarian kehidupan merupakan hal yang realistis?

Hasil Pencarian…

Aku payah dalam mengingat angka.

Maaf.

Plus, aku belum sempat mendapatkan fotokopi karena masih terdaftar sebagai peserta sit-in.

Namun, total dari 9000-an planet yang dicari, ada sekitar 300 planet, mungkin lebih, yang mampu menyokong kehidupan, dan masih ada 50++ planet yang belum jelas kondisinya.

Lalu, datanglah pertanyaan besar. Bentuk kehidupan apa yang akan muncul dari planet-planet tersebut?

Sayangnya, ini masih science fiction. Tata surya kita tercipta dalam kondisi amat ideal, dan sayang sekali, masih banyak planet alam semesta yang belum bisa menciptakan bakteria terkecilpun dari lautannya yang mungkin luas.

Kehidupan semua berevolusi dari bakteria, dan jika tidak ada bakteria, berarti tidak ada moluska, tidak ada tumbuhan, tidak ada hewan, dan tidak ada manusia… Planet macam apa yang bisa menciptakan bakteria?

Jadi pikirkanlah. Seberapa beruntungnya manusia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *