Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Statistika adalah sebuah sains yang amat-amat berhubungan dengan angka, dan biasanya, kuantitas. Jika seseorang ingin menanyakan apakah ujian kepribadian bisa dianggap sebagai suatu ujian yang hasilnya mampu diandalkan, kita perlu melihatnya secara statistik.

Tetapi, ada sebuah masalah krusial dari ujian kepribadian, terkadang, orang-orang tidak mau menerima hasil ujian kepribadian itu, dan menyalah-nyalahkan beberapa jawaban demi mendapatkan hasil yang diinginkan.

Masalah lain dari ujian kepribadian, adalah dari hasil yang didapatkan dari ujian tersebut. 90% dari hasil ujian kepribadian (terutama yang online, dan biasanya, yang online ini dijadikan patokan sebagai kepribadian seseorang dalam dunia nyata, bahkan ada orang yang dengan sengaja berlagak seperti kepribadian yang ditunjukkan oleh ujian tersebut) menggunakan kuantitas, layaknya statistika alih-alih kualitas, dan hasil pengamatan.

Psikologi memang cenderung mengarah ke statistika, tetapi, menurutku seni dan intisari psikologi bisa dianggap hilang jika memang betul psikologi akan mengarah ke statistika.

Untuk membuktikan bahwa psikologi bisa dianggap sebagai ilmu yang benar-benar dependen, meski tidak mengarah ke kuantitas lebih banyak daripada ke kualitas, kita perlu pertama-tama melihat ke dependensi ujian kepribadian pada hasil akhirnya.

Untuk ini, kita akan menggunakan ujian kepribadian MBTI, atau juga diketahui sebagai 16personalities. Tes paling umum dapat ditemukan di 16personalities.com

Part 1 akan menjelaskan teknis sebelum menguji statistik, sedangkan part 2 akan menguji statistik dengan semua faktor yang telah disampaikan pada part 1.

Cara Kerja Ujian Kepribadian

Biasanya, tiap ujian kepribadian menggunakan suatu jenis “poros” atau patokan untuk mendapatkan jawabannya. Yang Dimaksudkan disini adalah suatu template kepribadian yang cukup akurat. Pertanyaan digunakan sebagai metode untuk memilih template kepribadian milik kita.

Cukup mirip dengan political compass, dimana Kapitalisme dan Komunisme takkan mungkin berada di titik yang sama, seperti Nasionalisme dan Liberalisme takkan berada di titik yang sama… Introvert takkan mungkin menjadi Extrovert, Observant takkan mungkin menjadi Intuitive, dan seterusnya.

Pada dasarnya, template yang perlu diikuti sudah ada, ujian kepribadian hanya mengukur berdasarkan tingkah laku tiap kondisi, dan menunjukkan kita lebih condong ke sebelah mana.

Cara kerja ujian kepribadian biasanya fokus ke statistika dan tingkah laku seseorang dalam template tersebut jika dihadapkan ke sebuah situasi yang sama. Sebagai contoh, seorang extrovert takkan memutuskan untuk menyendiri ketika ada acara sosial, pada sisi lain, seorang introvert takkan mau untuk berada di tengah-tengah ruangan ketika ada sebuah kerumunan.

Jenis-jenis kepribadian MBTI

Poros-poros kompas MBTI kurang lebih seperti ini…

Introvert (I) Vs Extrovert (E)
Intuition (N) Vs Observation (S)

Thinking (T) Vs Feeling (F)
Judging (J) Vs Prospecting (P)

Selain itu juga ada satu poin lagi yang tidak ada hubungannya dengan hasil, tetapi lebih ke, kepercayaan diri kita saat memberikan jawaban.

Assertive (-A) Vs Turbulent (-T)

Semua poin ini akan dibandingkan dan diubah menjadi suatu hasil, jika kamu Extrovert yang menggunakan Intuisi, dan berpikir, serta suka berpikir berulang kali sebelum mengambil kesimpulan, maka kamu adalah seorang ENTP. Sesederhana itu sebenarnya. Hasil akhir tiap personality didapatkan dari sebuah daftar yang sudah ada, sebagai contoh, ENTP adalah seorang Debater, orang yang senang membuktikan orang lain salah dan mencari ide baru… dan seterusnya, bisa dicek saja di 16personalities.com tadi.

Introversion vs Extroversion

Pada dasarnya, Introvert vs Extrovert membedakan cara kita membuat diri kita sendiri lebih segar, dan aura yang kita keluarkan ketika kita bersama orang lain.

Sayangnya, kalau aku membahas secara statistik, Extroversion dan Introversion ini seringkali disalahmanfaatkan. Secara statistik, diantara 5 orang yang mendapat hasil Introvert pada ujian kepribadian, hanya 1 orang yang benar-benar introvert.

Alasan dari ini adalah, banyak orang tidak dapat mengambil atau melihat social circle yang mereka gunakan untuk test. Ada orang yang memang 100% extrovert pada hampir semua tes yang mereka ambil, karena pada situasi sosial manapun, mereka extrovert. Tetapi, ada orang yang merasa canggung pada social circle tertentu, seperti pada keluarga, atau dengan teman. Mereka hanya menggunakan satu lingkaran sosial, dan melupakan lingkaran sosial yang lain.

Oleh karena itu, biasanya Introversion dan Extroversion ini paling inakurat dibandingkan semua yang lain. Tanda terbaik untuk kegagalan dan ketidak dapat diandalkannya kepribadian data.

Intuition vs Observant

Intuisi dan Observasi ini biasanya merujuk melihat cara seseorang bertindak ketika melakukan sesuatu. Seseorang yang intuitif biasanya melakukan tindakannya secara langsung, dan lebih banyak improvisasi kebanding merencanakan. Seseorang yang observan justru sebaliknya, dan selalu memiliki rencana sebelum melakukan sesuatu.

Statistik ini biasanya cukup akurat, tetapi juga sering terjadi inakurasi dikarenakan orang yang menjawab tidak ingin mengakui dirinya sebagai orang yang… Tidak beraturan ketika bekerja.

Terkadang, seseorang yang dibesarkan atau berada dalam lingkungan yang dipenuhi orang observan, suka merasa bahwa mereka observan, seperti orang lain dalam lingkarannya, padahal mereka sebenarnya intuitif yang mengikuti rencana seorang observan.

Thinking vs Feeling

Ini mungkin faktor paling mudah, serta faktor paling akurat diantara keempat kompas ini.

Tentunya, seorang pemikir akan lebih mudah untuk menggunakan logika untuk menjawab sesuatu, dan biasanya, ia juga akan menggunakan logika, alih-alih perasaan dalam sebuah personality test.

Seseorang yang sensi-an dan mengikuti emosi, juga tidak akan berpikir dalam sebuah personality test, ia akan mengikuti apa yang ia rasakan.

Sayangnya, jika aku perhatikan, kualitas dan ciri-ciri seseorang yang berpikir ataupun merasa… Mereka cenderung menggunakan logika untuk merubah hasil asli dari personality test ini, sama seperti seseorang yang menggunakan emosi, membiarkan emosinya merubah hasil personality test yang mereka ambil.

Untungnya, Thinking vs Feeling ini tetaplah faktor dan ideologi paling akurat.

Judging vs Prospecting (or Perceiving. Kalau kamu bukan Millennial)

Jadi, sesudah kita melihat suatu hal dari beberapa sudut pandang, entah melakukannya dengan logika, perasaan, mengamati dengan lebih detil, atau dengan langsung loncat dengan menggunakan intuisi… Akan ada hasil akhir yang perlu diambil. Inilah cara orang-orang memutuskan untuk mengambil kesimpulan.

Ada orang yang langsung memutuskan untuk judge, terkadang, mereka tidak mau melihat apa-apa yang dilakukan dan langsung menggunakan opini mereka, alih-alih melihat dari sudut pandang lain. Orang yang memutuskan untuk Judge, biasanya tidak mau mendengar alasan Ba-Bi-Bu, tapi, atau apapun semacamnya. Mereka hanya melihat dari satu sisi, dan tidak melihat alasan di balik tindakan tersebut.

Tetapi, juga ada orang yang tidak menggunakan opini mereka, dan mereka memutuskan untuk berpikir, apa sudut pandang, apa alasan, apa yang membuat mereka bertindak atau berpikir seperti itu. Dari sini, mereka bisa memutuskan untuk menyukai, atau membenci tindakan tersebut.

Statistika antara Judging atau prospecting ini biasanya cukup stabil, meski ada sedikit kasus dimana seseorang ingin melihat grey area pada satu titik, dan ingin langsung mengambil kesimpulan pada kasus lain.

Masalah-Masalah…

Sayangnya, ketika seseorang ingin keluar dari statistika, hanya ada satu cara untuk mengeluarkan diri dari statistika tersebut… Statistika yang membuktikan bahwa statistika tersebut salah.

Masalah-masalah tersebut berada di… Cara hasil tersebut didapatkan.

Hasil didapatkan dari persentase, seberapa extrovert seseorang jika dibandingkan dengan Introversi miliknya. Sayangnya, ini terkadang bisa menciptakan sebuah error, dan ini kesalahan fundamental pada sistem tiap personality test, terutama yang online.

Terkadang ada seseorang yang memiliki perbedaan persentase antar keduanya hanya 2%. Misalnya, ada orang yang 49% Introvert, dan 51% Extrovert. Orang tersebut akan dinilai tetap sebagai Extrovert, meski ia sangat-sangat dekat untuk berubah menjadi seorang Introvert.

Aku sendiri untungnya tidak pernah mengalami masalah ini. Sesudah menyadari dan mengetahui bahwa menyalahjawabkan beberapa hasil itu tidak akurat, hampir semua persentase antara poros-porosku, memiliki perbedaan 40% atau lebih.

Extrovert 100%, Intuition 92%, Thinking 87%, dan Prospecting 92% juga.

Aku merasa cukup yakin ini betul karena aku paling senang ketika aku membuktikan orang lain salah, dan aku rasa hasil ini cukup memuaskan.

Tetapi, aku juga memiliki seorang teman yang mendapatkan hasil INTJ, tetapi hasilnya sangat-sangat tipis untuk berubah menjadi ESFP… Persentase tertingginya hanya 66%, sedangkan, yang lainnya mencapai 51/49, dan statistik lain juga kecil.

Selain itu, ada masalah lain, selain batas yang terkadang amat tipis ini, dan kadang bisa condong ke sisi lain ketika menjawab tes untuk kedua kalinya.

Karena mayoritas tes ini dilakukan online, ada masalah krusial… Ketika kita tidak mendapatkan human contact dan merasa malu ketika menjawabnya. Ironisnya, ada pertanyaan tentngang kepedulian kita pada perasaan orang lain… Ketika menjawab, ada orang yang berpikir tentang perasaan orang lain disekitarnya, tetapi, ia menjawab pertanyaan ini langsung secara kebalikannya.

Ya, masalah tidak ada human contact ketika melakukan tes bisa menjadi faktor.

Masalah terakhir…

Apakah testimoni bisa diandalkan?

Begini, terkadang ada orang yang memang mendapatkan hasilnya dengan benar, tetapi, ia hanya merasa bahwa hasil yang ia dapatkan sebagai sesuatu yang benar, karena ia senang bahwa personality miliknya mirip dengan… Elon Musk, misalnya, maka ia akan menganggap hasil itu benar, padahal, itu belum tentu…

To Be Continued

Apakah ujian kepribadian betul tidak dapat diandalkan 100%?

Aku hanya akan memberikan faktor dan masalah-masalah, lalu akan mengujinya, setelah mendapatkan statistik cukup banyak, pada minggu depan…

Sampai minggu depan ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *