Apakah Bumi Manusia Patut Difilmkan?

Apakah Bumi Manusia Patut Difilmkan?

Hanung Bramantyo adalah nama yang dipilih untuk menyutradarai film Bumi Manusia, 38 tahun dari cetakan pertama karya sastra legendaris tersebut, akhirnya, akan ada versi filmnya.

Tetapi, yang jadi pertanyaan dari peminat, serta pakar ataupun lulusan sastra adalah patut atau tidaknya Bumi Manusia ini difilmkan. Tentunya, jika membahas buku yang mendapat remake versi film untuk layar lebar, ada cukup banyak sejarah yang variatif.

Bagi para penikmat buku Young Adult, tentunya, contoh terbaik dari film hasil remake layar lebar adalah Harry Potter. Untuk contoh buruk, sebenarnya tidak sedikit juga, yang terlewat dari kepalaku adalah Percy Jackson, dan remake filmnya yang, sangat-sangat buruk, serta mengecewakan para fans. (jika rumor mengenai CW membuat serial Percy benar [meski rumornnya sudah basi], semoga betul, dijadikan serial saja)

Jika kita membahas patut tidaknya sebuah buku untuk dijadikan film, tentunya, kita tidak bisa membahas dari sudut pandang bukunya saja. Kita perlu membahas dari kepantasan buku tersebut dijadikan film, serta juga dari eksekusi yang akan (atau dalam kasus review, sudah) dilakukan oleh studio mengenai buku tersebut.

Pertanyaan terbesar dari eksekusi yang akan direncanakan tidak jauh dari…

  • Apakah akan ada perubahan ke naskah?
    • Percy Jackson adalah contoh sempurna untuk… Jangan bermain dengan naskah, kau akan menyesal.
  • Bagaimana direksi dan hasil sutradara? Perspektif mana (sesudah membaca bukunya) yang akan ia ambil?
    • Catatan penting untuk ini… Sastra, terutama sastra klasikal, baik itu dari zaman Homer, Dante, atau George Orwell, adalah cerminan dari imajinasi penulisnya. Apa yang pembaca (terutama, jika pembaca ini akan mengarahkan remake yang direncanakan) terima belum tentu sama dengan apa yang dilukiskan oleh penulis, dan bayangan pembaca belum tentu juga sama dengan apa yang ditangkap pembaca lain.
  • Seberapa banyak uang yang akan dicari oleh studio dalam pengarahan film ini?
    • Uang adalah motivasi yang krusial dalam studio yang ingin membuat Bumi Manusia versi film. Uang juga jadi sedikit masalah spesifik untuk kasus pasar Indonesia, karena pasar Indonesia menginginkan cerita cinta, dimana Bumi Manusia adalah sebuah buku yang memiliki cerita cinta sebagai unsur konflik utama, tetapi tidak hanya bergantung pada itu untuk menyampaikan pesan-pesan penting dari buku tersebut.

Semua faktor yang menurutku krusial akan kubahas!

Patut atau tidak buku ini dibuat menjadi film bergantung ke eksekusi pembuatan film. (meski ada beberapa fan die hard yang sepertinya akan selalu menemukan sesuatu yang salah, seberapapun bagus eksekusi film tersebut)

Pasar Indonesia

Percaya padaku, cerita cinta adalah jebakan manis untuk menarik (baik itu) Ibu-ibu yang ingin terharu karena suatu kenaif-an, dan juga remaja yang ingin membayangkan kemesraan yang… UGH, sejujurnya, aku tidak bisa terlalu puitis. Begitu kata-kata mengenai kalimat ini terangkai di kepalaku, aku langsung ingin muntah.

Minke adalah seorang tokoh yang sepertinya terlalu percaya diri. Annelies yang sangat kekanak-kanakan, dan sampai sakitan ketika ditinggal kasihnya akan menjadi sebuah umpan bagus untuk membuat cerita cinta yang begitu romantis, sampai-sampai mungkin Dilan (dan hype miliknya) bisa dikalahkan.

Masalah terbesar menurut beberapa penikmat (orang-orang yang aku wawancarai semuanya memberikan opini sebagai penikmat, meski beliau Doktor dalam Sastra pun, opini diberikan dalam konteks penikmat sastra) adalah, studio akan mencari uang dalam memfokuskan cerita ke asmara antara Minke dan Annelies, hingga melewatkan banyak hal penting lainnya, seperti pertemanan Minke dengan Jean Marais, rivalritas dan tekanan yang dihadapkan ke Minke dari Robert Mellema, serta juga insting Ibu dari Nyai Ontosoroh.

Pasar Film Indonesia memiliki setidaknya dua masalah krusial. (ini adalah masalah besar bagi Sinetron juga)

Pasar Film Indonesia menginginkan cerita cinta.

Entah kenapa, konteks Cinta yang naif ini bukan hanya dijadikan sebagai selipan, tidak seperti di Star Wars, atau misalnya di Harry Potter sebagai pembanding buku dijadikan film yang sukses. Pasar Indonesia menginginkan love story sebagai showstopper dan pusat perhatian utama, alih-alih selipan yang menarik.

Bumi Manusia memang sangat-sangat fokus, dan juga menggunakan cerita cinta sebagai pilar utamanya, namun, pilar itu hanyalah sebuah tiang kosong yang indah (tetapi tidak bermakna) jika tidak dihias dengan masalah persekolahan Minke, paranoia miliknya pada seorang penguntit, serta tentunya, persahabatan antarnya dan Jean Marais.

Seperti tadi disebut, Marais adalah kunci yang bagus untuk menciptakan Film Bumi Manusia yang bagus, serta tetap cocok untuk pasar yang masih ingin romansa. Dengan adanya Marais, bukan hanya Romansa tetapi juga ada bromansa 😉

Warga Indonesia belum bisa mencerna cerita dengan inteligen.

Masalah ini tidak hanya berhubungan dengan film, atau media apapun, tetapi, masalah ini akan dibahas dari perspektif film, serta sedikit media. Tidak banyak orang mengerti cerita Game of Thrones dengan detil. Mereka mungkin melewatkan referensi, atau konteks selipan yang disisipkan (Ini Babah [bukan Babah Ah Tjong] cerita di grup Facebook GoT Indonesia banyak orang yang tidak mengerti cerita rumit serial tersebut sepertinya). Ini berarti, seandainya Bumi Manusia dibuat dengan cerita yang rumit dan perlu dicerna dengan dipikir pun… Pesannya tidak akan ditangkap secara utuh. Alasan yang sama mengapa Hoax dan Fake News bisa sangat-sangat laku di Indonesia, orang-orang kita tidak berpikir dua kali mengenai suatu hal.

Kabar buruk utama dari hal ini, menurutku adalah fakta bahwa orang yang bisa mencerna media atau film dengan optimal, terpaksa untuk melakukan suatu tindakan (baik menciptakan, atau ikut berkontribusi ke) yang memang tidak membantu pasar Indonesia untuk berkembang. Biasanya, jika seseorang mengerti media, ia akan bekerja, atau bergerak di bidang itu, dan karena dasarnya media adalah perusahaan berbasis laba, maka, sama saja. Laba didapatkan dari mengikuti apa yang pasar inginkan, dan jika pasar menginginkan cerita cinta sederhana, maka itu yang akan diberikan studio.

Perubahan Naskah…

Kurasa, segala sesuatu akan memiliki alasan. Studio tidak akan mencari alasan untuk merubah naskah jika tidak ada alasan yang cukup kuat untuk merubah naskah, apalagi alur cerita. (pengecualian personal bagiku adalah akhirnya. Aku hampir menangis saat membaca Annelies yang harus ke Belanda)

Sebenarnya, kurasa tidak akan dilakukan perubahan naskah yang drastis, kecuali jika Hanung (dan beberapa wawancara ke beliau) memang benar-benar ingin memfokuskan Bumi Manusia sebagai cerita cinta.

Bahkan jika seandainya cerita cinta difokuskan seutuhnya oleh Hanung… Masih akan banyak kesempatan untuk memberikan warna dan dekorasi, dan seberapa kuatnya si pilar cerita cinta ini dibandingkan dekorasi di sampingnya, akan tetap saja lebih indah jika pilar tersebut didekorasi hal-hal lain.

Bumi Manusia adalah buku yang sangat fokus ke romansa, tetapi tidak diindahkan hanya karena romansa. Buku yang diindahkan hanya karena romantisnya buku tersebut biasanya cenderung tidak disukai kebanyakan peminat sastra. Romeo and Juliet adalah contoh sempurna. Itu terlalu naif untuk disukai semua orang.

Sejujurnya, aku hanya ingin satu perubahan ke cerita. Sebagai remaja yang masih sedikit impulsif dan naif, aku ingin Minke untuk bahagia pada akhir Bumi Manusia versi film. Tapi ini opini pribadi dan beberapa tutor serta temanku menyatakan bahwa sebaiknya, jangan dibuat happy ending.

Tetapi, aku terlalu kasian dengan Minke, jadi, aku punya opini berbeda 🙂

Formula Ideal

Jika Bumi Manusia (atau sastra apapun) adalah sebuah pilar… Ini mungkin komponen yang cocok menurutku, dan beberapa orang yang kudapatkan opini miliknya.

  • Pilar tersebut adalah usaha dan indahnya hubungan antar Annelies dan Minke
  • Marais adalah cat yang mewarnai Pilar tersebut, penting untuk menangkap perhatian beberapa orang, terutama yang memang menyukai warna tersebut.
  • Nyai Ontosoroh adalah hiasan bunga yang bagus dan harum, terletak di kaki pilar tersebut. Jika seseorang datang karena pilar dan warna, Nyai membuat orang selalu tertarik.
  • Sekolah H.B.S. dan Ilmu milik Minke, serta gurunya, Mevrouw Magda Peters, adalah semen yang mengukuhkan serta memastikan pilar takkan roboh.
  • Kedua orangtuanya, serta keluarganya adalah orang-orang yang tidak mengindahkan pilar tersebut, dan selalu menemukan sesuatu untuk dikritik. Penonton akan melihat kedua orangtuanya sebagai alasan untuk lebih mencintai tokoh Minke yang selalu ditantang.
  • Robert Mellema dan Robert Suurhof, serta Penguntit yang diketahui sebagai Si Gendut berperan sebagai retak-retak yang tercipta di pilar tersebut. Membuat orang menyadari bahwa, Annelies dan Minke bukan pasangan yang sempurna…
  • Masih banyak tokoh seperti Herman Mellema, Maurits Mellema, dan juga orang-orang lain yang kurang menyukai Minke, anggap saja mereka orang yang ingin menggusur pilar agar bisa dibuat… entah, toilet di tempat si pilar.

Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah akan tertarik untuk melihat Bumi Manusia difilmkan? Jika iya, bagaimana cara Hanung untuk menggambarkan Bumi Manusia untuk layar lebar?

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *