Apa itu Uang?

Apa itu Uang?

Pertanyaan ini sederhana. Sebenarnya, apa itu uang? Dan bagaimana selembar uang bisa memiliki nilai? Terkadang banyak orang, tanpa memedulikan gelar ataupun pekerjaan (kecuali jika bekerja di bidang filsafat, atau misalnya, antropologi) sering bingung atas pertanyaan sederhana ini.

Jika kamu menanyakan pada penganut Marxism, atau penganut jenis komunisme lainnya, jawabannya akan cukup sederhana. “Uang adalah alat imajinatif dari para kapitalis.” Tetapi, semua orang menggunakan uang, semua orang memiliki uang (tanpa memedulikan nilainya), dan mayoritas orang, lucunya, tidak tahu apa peran uang dalam sejarah.

Aku sudah pernah membahas perannya Kapitalisme campur Kolonialisme dalam menambahkan kemajuan dari peradaban, tetapi, pada sisi lain, uang sendiri, takkan menjadi suatu hal yang bernilai tanpa adanya kapitalisme.

Umm, untuk mengurangi sedikit kebingungan dari apa yang terjadi pada serial Buku yang telah dibaca milikku, dan juga untuk memberi laporan buku-buku yang benar telah kubaca pada minggu ini, aku sepertinya akan membiasakan menuliskan inspirasi, dan juga beberapa kutipan dari sumber-sumber aku mendapatkan ilmu ini. (mungkin juga akan diselipkan komunitas dimana aku mendapat ide, sayangnya belum akan dilakukan untuk artikel ini.)

Sumber dan Inspirasi artikel:

  • Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Written by Yuval Noah Harari
  • The Ascent of Money, Written by Niall Ferguson
  • Sapiens: A Brief History of Mankind, Written by Yuval Noah Harari

Apakah Kertas Begitu Bernilai?

Nyatanya, uang tidak akan punya nilai kecuali kita percaya bahwa uang tersebut memiliki nilai.

Tanya warga Myanmar ketika ada seorang diktator yang menyatakan bahwa semua uang yang anda miliki sekarang hanya boleh digunakan untuk membeli uang baru. Jika aku tidak salah, uang baru itu bernilai 10 kali lipat lebih mahal dari desain uang yang lama.

Tindakan diktator tersebut mampu membuat seluruh warga Myanmar sekarat dan miskin, tetapi para diktator kaya. (jadi, sebenarnya, uang tersebut hanya tidak bernilai di dalam negeri ^^’ )

Berikutnya, coba kita pikirkan hal ini dalam bentuk fisik…

Apa beda uang 1.000 rupiah (desain baru tentunya), dan uang 100.000 rupiah? (sekali lagi, desain baru) Tentunya ada perbedaan warna, gambar pahlawan yang berada di lembaran uang tersebut, dan juga ada perbedaan angka yang bertuliskan di selembar uang tersebut. (if you ask an American about this, they have fewer differences, just a different design)

Apakah ada perbedaan tekstur? Tentu saja tidak. Perbedaan ukuran, ada sih… sebenarnya ada perbedaan sedikit. Uang 100.000 lebih besar 2 milimeter dari 50.000, sedangkan uang 50.000 lebih besar 2 milimeter dari 20.000, dan seterusnya, sampai uang 1.000 lebih kecil 12 milimeter kebanding uang 100.000.

Tetapi, selain perbedaan fisik yang terbilang minim tersebut, apakah uang memiliki nilai berbeda? Orang akan menjawab iya. Namun, sayangnya, tidak! Jika kita memercayai sebuah uang 5.000 sebagai alat untuk membeli 3 buah Beng-Beng (bukan sponsor, hanya saja, Beng-Beng begitu enak) maka, uang 5.000 sebenarnya hanya senilai 3 buah Beng-Beng.

Itu alasan 10.000.000 Dollar Zimbabwe (yang begitu tidak stabil dan terkena Hiperinflasi sampai 3 kali) hanya bisa digunakan untuk membeli 3 butir telur, atau mungkin, 2 Beng-Beng.

Faktanya, kita sebagai manusia percaya bahwa 10.000.000 dollar Zimbabwe nilainya sama dengan 2 Beng-Beng. Kita sebagai manusia percaya juga, bahwa 5.000 rupiah nilainya sama dengan 3 Beng-Beng (oke-oke, Beng-Beng di toko dekat rumah itu 1.700, cuman kan bisa dibuat bulat)

Jadi, yang perlu ditanyakan sesudah bab ini ada tiga.

  1. Apakah uang perlu dinilai sebagai barang, alih-alih sebagai… err, uang?
  2. Mengapa kita percayai uang?
  3. Uang, apakah uang itu?

Nilai Uang.

Uang, oh uang. Apa nilaimu? Apa bentukmu? Apakah kami membutuhkanmu?

Pertanyaan sederhana. Kita membutuhkan uang, karena kita membutuhkan sesuatu yang bernilai, dan penting untuk kemakmuran dan keselamatan hidup kita.

Jadi, sebenarnya, mengapa kita butuh uang? Karena kita membutuhkan barang yang bisa dibeli dari uang tersebut. Untuk apa kita memiliki uang terlalu banyak jika kita tidak membutuhkan, eh ralat… Menginginkan barang terlalu banyak? Sejujurnya, Upah Minimum di tiap daerah dan negara kurasa telah cukup untuk memberikan standar kehidupan yang paling rendah untuk seseorang, tetapi, karena ada orang yang menginginkan Mercedes paling baru untuk sebuah standar hidup, dan juga ada orang yang akan bahagia ketika sudah sukses makan KFC, atau makan di restoran mewah, maka… dari situ lah kita membutuhkan uang. Untuk mendapatkan keinginan kita.

Uang takkan bernilai, kertas juga takkan bernilai, jika uang tidak bisa mendapatkan barang-barang yang kita butuhkan, atau inginkan.

Jadi, coba pikir lagi, buat apa kita memiliki uang? Buat apa ktia makan di restoran all you can eat? Buat apa kita membeli mobil mewah? Ujung-ujungnya, kita membutuhkan uang untuk membeli kebahagiaan, dan kebahagiaan tersebut berasal dari mana? Dari barang yang menghasilkan endorphin di otak kita. (seperti disebut tadi, kebahagiaan tiap orang berasal dari tempat berbeda)

Ironisme dari kehidupan manusia lagi… Kita terjebak di dalam siklus tanpa henti, persis seperti siklus tanpa henti sebuah media…

  • Kita membutuhkan uang.
  • Mengapa? Karena kita membutuhkan serta menginginkan barang yang didapat dari uang tersebut.
  • Kita berusaha mendapatkan uang.
  • Kita mendapatkan uang yang cukup untuk membeli (setidaknya jika kamu menggunakan uang dengan pintar) 10 buah barang yang kita inginkan.
  • Kita membeli barang yang kita inginkan.
  • Kita menginginkan uang lagi. Jadi kita menciptakan bisnis, atau membeli properti ketika kita ada uang lebih.
  • Mengapa? Karena kita menginginkan barang (lain) yang sekali lagi… didapat dari uang.

Kesimpulan sederhana. Uang tidak bernilai. Barang yang kita beli tidak bernilai. Yang bernilai adalah hormon yang kita dapatkan sesudah mendapatkan uang.

Bahagia itu sederhana sebenarnya. Kita cukup mengatur otak kita untuk mendapatkan hormon endorphin dan serotonin ketika kita melakukan sesuatu yang gratis!

Buddha benar… The end of all suffering is the end of all wanting. Atau, semacamnya. Ya google saja Quotes-nya Buddha, entar juga ketemu kok.

Wait, then again, bank-bank di seluruh sudah sukses menghasilkan jutaan dollar dari orang yang tidak sabar untuk mendapat keinginannya. I think that’s called a credit card…

Ya, sudah ada watermark untuk courtesy image, jadi tolong, WordPress jangan marah ketika aku lupa memberi courtesy sebuah gambar. Hatur Nuhun.

Ehem, tadi sampai mana?

Oh iya…

Dalam dunia kapitalistik, amat disayangkan bahwa uang sangat dihubungkan dengan erat dengan kebahagiaan. Sayangnya, tidak ada yang mengerti atau prihatin mengenai hal ini.

Jadi, berikutnya, mari kita bahas alasan kita percaya pada uang.

In Money, We Trust.

Secara faktual, kita sebagai manusia percaya pada cukup banyak hal yang aneh, dan juga tidak masuk akal.

Sebagai seorang Debater (ENTP), aku amat senang ketika bisa membuktikan seseorang yang lain salah.

Mari kita lihat statistik total uang palsu yang digunakan untuk membeli suatu benda lain, setidaknya, di India. (sebenarnya, aku memilih India karena angka uang palsu di India begitu besar)

Secara total, ada uang palsu (dalam mata uang Rupee) senilai 3.15 triliun Rupiah yang digunakan untuk membeli barang pada akhir 2017 di India. Untuk menambah sedikit kelucuan. 3.15 triliun (dalam Rupiah) uang tersebut hanyalah berupa uang yang ditemukan dalam bentuk kertas. Selalu ada kemungkinan bahwa uang palsu tersebut digunakan beberapa kali, misalnya dalam transaksi dengan toko, lalu dari toko tersebut sebagai kembalian, dan dari kembalian tersebut digunakan untuk transaksi dengan teman, lalu ke toko lain, dan seterusnya.

(Oh iya, satu hal lagi.) Sistem bank yang mencatat uang yang kita miliki juga relatif mudah untuk dibobol seorang hacker yang andal, serta tidak mudah menyerah.

Tetapi, entah mengapa, kita masih percaya pada uang.

Maksudku, statistik telah seringkali membuktikan bahwa uang itu suatu hal yang mudah untuk dirusak, dipalsukan, dicuri, dan diambil dari orang lain… Tetapi, kita masih percaya pada uang.

Mungkin, ini faktor evolusi, and all that God Spot stuff, tetapi tentunya, anda sudah membaca artikel itu. Atau belum. Err, kalau belum, cepat-cepat baca! Klik disini. dikakipelangi.com/kunci-evolusi-manusia-secara-psikologi

Pada dasarnya, mengapa kita percaya pada uang?

Bagi seorang yang tinggal di daerah komunis, uang takkan bernilai. Semua hal telah disediakan oleh pemerintah, sehingga, untuk apa kita punya uang? Selembar kertas itu, tak bernilai.

Maksudku, jika memang uang dipandang sebagai alat untuk mendapatkan benda yang bernilai, mengapa kita membutuhkan uang, alih-alih, misalnya, usaha?

Kapitalisme mendukung uang, karena dengan adanya uang, nilai benda yang didapatkan dari uang tersebut dapat diputar dengan lebih mudah. (baca artikel ini… )

Ini pertanyaan yang ketiga buku yang kugunakan sebagai sumber tersebut tidak dapat jawab, tanpa kita masuk ke pertanyaan ketiga.

Apa itu uang?

Uang…

Jadi, coba ingat sedikit…

Kita telah membahas nilai uang, namun, kita sebenarnya tidak tahu apa itu uang.

Sebagai seorang Millennial… To Google!

a current media of exchange in the form of coins and banknotes; coins and banknotes collectively

Jadi, satu, uang adalah sebuah media yang portabel, digunakan untuk bertukar. Bisa dianggap sebagai koin, atau sebagai lembaran uang.

Tapi, umm. Sekarang, lebih dari 80% transaksi terjadi tanpa menggunakan uang. Sekarang uang berupa saldo, dimana kita memindahkan nilai saldo di suatu tempat, misalnya, di rekening bank kita, ke aplikasi Gojek, untuk bepergian (atau membeli makanan, atau bersih-bersih, atau… yah, you got that part).

Apakah Gopay, atau Grabpay itu memiliki bentuk fisik? No! Of course not.

Tetapi, apakah Gopay atau Grabpay itu memiliki nilai? Tentu saja!

Bukan hanya dalam aplikasi, baik E-Commerce layak Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, atau Electronic Transportation, layak Gojek, atau Grab, atau Uber… Tetapi, di bank juga, electronic banking juga bisa dihitung.

Sebenarnya, apa itu uang? Uang itu, saldo. Saldo untuk apa? Saldo yang berperan sebagai media untuk mendapatkan benda.

Mungkin anda berpikir bahwa nilai imajinatif serta saldo ini bukan hal yang penting sebelum ada pesatnya perkembangan teknologi. Namun, dari zaman dahulu, rekening bank kita tidak menyimpan uang tiap orang dalam brangkas masing-masing. Ada sebuah brangkas besar yang berisi uang, namun, jumlahnya, ku tidak tahu.

Apa yang disimpan secara pribadi oleh bank? Catatan. Bank mencatat uang yang kita miliki. Sesederhana itu… Bank hanya menghitung, menghitung, dan menghitung.

Jadi, mengapa kita percaya pada uang? Karena sekarang, tidak banyak media yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan benda. Dan sebagaimanapun juga ada pencurian uang, atau ada pemalsuan uang, tidak ada media yang begitu efektif, ataupun efisien dalam mendapatkan barang yang kita inginkan tersebut.

Nyatanya, meski ada uang elektrik berupa saldo, mata uang untuk hal tersebut sama saja… Bitcoin mungkin adalah sedikit perbedaan, namun… Hmm, kurasa ujung-ujungnya, sistem Bitcoin hanya mencatat dan mendapatkan uang, dan mungkin Bitcoin hanyalah sebuah mata uang baru.

Kesimpulan.

Humans trust many stupid things. But they’re smart enough to create it in the first place.

Jadi, sebenarnya, kutipan itu, cukup ironis. Kita percaya pada cukup banyak hal yang bodoh… Untuk menyebut beberapa…

  • Uang
  • Sosial Media
  • Hoax (apakah ini dihitung? Aku sih menghitungnya)
  • Hukum
  • Permainan
  • Kompetisi
  • Kesenjangan Sosial

Tetapi, di saat yang sama, kita cukup pintar untuk menciptakan benda itu.

Sepertinya kita adalah makhluk yang bersinar begitu terang, sampai-sampai cahaya dari tubuh kita membutakan diri kita sendiri.

Tetapi, ya, siapa yang bisa menyalahkan kita? Selain diri kita sendiri tentunya…

🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *