Anti Aktivis: Melawan Insting Urgensi

Anti Aktivis: Melawan Insting Urgensi

Aktivis. Terkadang kita melihat seorang aktivis sebagai sumber keributan, kemacetan, dan banyak lagi kekacauan. Terkadang lagi, aktivis dapat kita lihat sebagai tanda bahwa ada hal yang perlu dibenahi pada saat itu juga!

Ini adalah hal yang salah secara mendasar. Sejujurnya, aktivis tidak dapat menjadi lebih menyebalkan lagi daripada aktivis yang kita miliki sekarang. Metode yang mereka gunakan tidak efektif, mereka sering mengeluarkan komen irelevan, dan banyak orang yang merasa kesal karena hal-hal yang mereka lakukan membuat mereka kesal, meski memang betul, kekesalan itu didapat secara tidak langsung.

Jadi, artikel ini membahas mengenai alasan insting urgensi yang diciptakan, atau mungkin, diistilahkan oleh Hans Rosling, dan mengapa aktivis perlu mengurangi bertindak sesegera mungkin. Karena percaya padaku, mereka mulai menjadi lebih menyebalkan daripada efektif.

Inspirasi:

  • Factfulness: Ten Reasons We’re Wrong About The World, and Why Everything is Better Than You Think. Ditulis oleh Hans Rosling, Ola Rosling, dan Anna Rosling-Ronlund

Insting Urgensi

Seperti yang banyak politikus lakukan untuk merubah mindset seseorang… Ada 10 insting di dalam buku Factfulness (yang kebetulan sudah cukup sejalan dengan yang aku pikirkan), dan insting nomor 8 ini, (kalau aku tidak salah) adalah insting yang paling mudah dimanfaatkan agar orang-orang membuat keputusan yang salah.

Pada dasarnya, insting urgensi membuat kita berpikir ada sebuah masalah Long-Term yang perlu diselesaikan dengan solusi Short-Term (atau sebaliknya, intinya sama-sama konyol dan tidak pada tempatnya), seolah-olah tidak ada usaha sedikitpun untuk berusaha menghilangkan masalah tersebut secara sedikit demi sedikit.

Masalah long term seperti ini bisa dilihat dalam gerakan-gerakan revolusi yang dimanfaatkan oleh aktivis dan demonstran (?) agar pemerintah, atau orang-orang ikut bergerak dan mendukung perubahan yang sedang disuarakan.

Iya, memang betul, konteks yang aku aplikasikan di sini terkesan dan memang lebih condong ke sisi negatif.

Tetapi, yang aktivis, atau politikus berusaha lakukan adalah untuk merubah mindset seseorang dengan tempo secepat-cepatnya dan membuat mereka bertindak tanpa berpikir secara menyeluruh. Kukira masalah seperti ini hanya terjadi di media Indonesia dan juga di beberapa partai yang ingin menunjuk dan menunjuk ke suatu masalah jangka pendek yang perlu diselesaikan secara jangka panjang (atau sebaliknya) namun, ternyata, kasus media dunia seperti ini.

Percaya padaku, sedikit saja ada kesalahan, mereka akan guncarkan sesuai dengan metode dan nilai-nilai yang ingin dibandingkan olehnya, dan BUM! Seolah-olah tidak ada kemajuan sama sekali oleh pemerintah kita, pemerintah sebelah sana, dan pemerintahan lainnya.

Intinya, insting urgensi sendiri berusaha menyempitkan dunia kita ke satu sudut pandang yang diberikan oleh orang-orang (karena itu yang ada di depan mata) dan memaksa otak kita untuk segera bertindak dan menyelesaikan masalah tersebut.

Sedikit Perbandingan

Memang betul, insting urgensi ini dimanfaatkan aktivis serta politikus di seluruh dunia (Looking at you, Trump, Greenpeace, Feminists) tetapi, ketiga penulis buku ini berasal dari… Swedia. Mengingat bahwa mayoritas orang Swedia (minus Zlatan, oops) cukup baik pada satu sama lain, tidak ada banyak hoax atau fake news, atau frame yang memang sengaja dibuat agar orang-orang bertindak.

Di Indonesia, Amerika, atau beberapa negara berkembang lainnya yang memiliki konflik politik yang berjalan terus menerus dan menerus, insting urgensi akan berperan lebih banyak kebanding negara yang politiknya berjalan lebih lancar, atau negara yang tidak terlalu liberal. (Cough, Prancis, Cough)

Gerakan Anti-Aktivis

Oh hey! Ini ironis! Gerakan yang anti penggerak!

Aku sudah cukup sering memberikan ceramahan dalam bentuk artikel mengenai bahayanya framework sebuah media pada konsumennya, dan mengapa kita harus lebih pintar dan membaca framework tiap media secara netral, dan memilih media yang jelas-jelas tidak bias. Namun, insting urgensi ini membuat aku merasa lebih banyak hal yang perlu dibenahi mengenai cara kita berpikir mengenai sesuatu.

Memang, dibenahinya tidak perlu dilakukan pada saat ini juga sih.

Begini, intinya, aktivis memanfaatkan kelengahan kita, dan kita akan menerima satu atau dua berita buruk (yang disengaja) sesekali. Tidak lama sesudah itu, ada gerakan aktivis yang bilang “Lanjutkan Subsidi BBM” atau, “VIVE LA REVOLUTION!!!” dengan 100 tanda seru, mungkin juga kita akan menemui “Kembali Syariah”    -_-”    dan terakhir, “Make America Smart Again” . Aku sebenarnya mendukung yang terakhir, presiden US sekarang itu… Yeaaaahhh begitulah.

Aktivis dari negara manapun, mengenai bidang apapun sangat menyukai satu berita buruk, karena begitu ada berita buruk, insting urgensi manusia langsung TENG-TONG dan ketika insting urgensi kita menyala, kita melihat dunia dari sudut pandang yang jauh lebih negatif kebanding positif. Oleh karena itu, aktivis, atau politikus apapun akan lebih sering menakut-nakuti dan memberikan konteks negatif demi mengaktifkan insting milik kita ini.

Sesudah ada konteks negatif? Kita akan dengan cepat melihat ada masalah, dan kita akan mencari solusi begitu ada masalah. Terkadang, solusi tercepat adalah memilih pemimpin baru karena satu atau dua kesalahan kecil yang ia buat (pemimpin tetap manusia), dan terkadang solusi tercepat adalah ikut menjadi aktivis dan ikut pro kepada masalah tersebut juga. Sesudah ada dukungan pada masalah ini, maka akan ada lebih banyak suara yang ingin merujuk pada perubahan tersebut, dan semakin banyak suara, semakin cepat adanya perubahan instan, seperti yang mereka inginkan.

Kesimpulan

Oh perubahan, kau begitu membuatku bingung. Ketika ada perubahan yang jelas-jelas positif, mengapa banyak sekali orang yang melihat sisi negatifnya saja?

Sedikit hal negatif, langsung diberikanlah banyak sekali sisi negatif sebagai suplemen dan juga framework.

Aktivis yang bergerak dalam kebanyakan bidang, terutama yang menghabiskan beberapa tahun, jika bukan puluhan tahun untuk satu perubahan, selalu melihat hal dari sudut pandang awal. Dari sudut pandang tersebut, ia akan maju dan terus mendorong yang ia lihat, dan mungkin membuat 3, 40, 500, 6 juta orang merasa kesal, dan ikut dalam perubahan yang ia dorong.

Tidak mungkin ada perubahan instan, dan tiap kali adanya demonstrasi, yang mereka lakukan malah cenderung kontra produktif karena membuat orang-orang merasa kesal kebanding merasa perlu adanya perubahan.

Berhenti berpikir seolah-olah dunia ini tidak berubah sedikit pun, perubahan ada, meski memang lambat.

Terima kasih!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *