A Universal Mind…

A Universal Mind…

 Okay, sebelum masuk ke artikelnya, sorry… Kemarin aku ada banyak hal yang salah… Firstly, philosophy itself emang bisa digunakan untuk memberi/mengemas makna suatu benda. Tapi basically, even empirical science is philosophy, soalnya emang pada dasarnya ilmu empirik dan logika turun dari Aristotle.

Jadi, filosofi sendiri bukan hanya… filosofi, tapi basically everything ada filosofinya… Okay, kalau bingung…

Imagine knowledge is a skyscraper. Lantai dasarnya itu pasti filosofi.

Now onto the article, dari zaman Plato dulu, sudah banyak didebatkan bahwa mind ini connected with each other. In fact, semakin kesini, definisi dari Universal Mind semakin… Universal… 😛 . Basically, yang disebut dengan universal mind itu… well definisinya ada banyak sih.

Kalau mau masuk dalam topiknya sendiri, each theory of what a universal mind is, gets deeper. Sampai makna terdalamnya itu saying that the universe is governed by a certain mind.

Kemarinnya sendiri sih, aku sempet ke Unpar untuk ikut kuliah filsafat mengenai subjek ini. Kuliah kemarin masih basic dan hanya introduction saja, dan dibawakan oleh Professor Bambang dari Fakultas Filsafat Unpar…

On topic, masuk dalam artikel!

Definition

Well, ada 3 definisi dari Universal Mind ini…

  • Principles that apply generally (Immanuel Kant)
  • A connection of thoughts on a global level (Bertrand Russell)
  • Cosmic Consciousness that governs the world (Max Planck)

Sedikit info aja, Max Planck itu physicist. Which still believes on philosophy.

Now, biar kudefine dulu each of the definitions…

Immanuel Kant

Kant sendiri sih paling terkenal karena teorinya yang bernama Transcendental Idealism, yang menyatukan both Innate knowledge and Empirical knowledge as to how a human thinks.

Tapi, yang Kant maksud disini itu, adalah prinsip yang diketahui semua orang waras, dan apply on a global level. For instance, HAM… Tentunya principle yang Kant maksud itu… Transforming sih. Mungkin pas era colonialism, belum tersirat image HAM itu seperti apa, jadi principle yang tersirat berbeda.

Now on the other hand, Universal Mind yang symbolize interconnected minds ini, bisa ditunjukkan saat colonialism dicabut, thoughts orang-orang secara globally berubah.

Therefore, seiring perubahan principle, interconnectedness plays a part here and changes the thought of humans globally. I mean, its basically universally known that killing is bad and racism isn’t good… Every sane person should know that (Cough, Trump, Cough)

Peter Russell

On the other hand, Peter Russell bilang bahwa interconnectedness between minds ini in terms of skills, or… well knowledge. The same doesn’t apply for opinions.

Lebih luas dari definisi Kant, karena sebagai contoh… Misalnya, ada tikus di London yang tahu cara menghindari racun tikus, atau rat traps. Then, tikus di Indonesia juga bakalan tahu bahwa racun tikus dan rat traps are dangerous, dan bakalan avoid those things.

Yeah, the thoughts here aren’t really limited to humans.

Jadi, layernya makin mendalam juga, karena bukan hanya principle, tapi juga knowledge dan skills, beyond humans. Anything that has a consciousness would have similar knowledge and skills, so long they’re physically capable.

Max Planck

Physicist Max Planck sendiri sih percaya bahwa ada universal consciousness that governs and makes the universe move. On a cosmic level, Max Planck bilang bahwa ada sesuatu yang menggerakan dunia ini, dan ini akan apply di semua hal yang hidup dan bahkan yang ga hidup.

Well ini sih basically simple. Max Planck believes that there’s something that moves this universe, and everything is governed by some form of mind and consciousness.

Well, as I’ve said, makin dalem juga maknanya. Planck bahkan bilang bahwa the universe itself has a mind. Including inanimate objects.

Metaphysics?

Jadi, sebenernya, branch dari Universal Mind ini itu apa sih?

Well, there’s Metaphysics in it. Since, a lot of people thought of mind as a substance. Substansi yang disebut mind itu semacam sesuatu yang compose this universe.

Then there is also a little something called Interconnectedness yang udah aku sebut beberapa kali. Interconnectedness itu ada korelasinya dengan thinking, dan juga dengan similarities in many different things. Jadi branch sebuah Universal Mind adalah Metaphysics, and Interconnectedness as a branch. Well, I’ll be discussing a lot of things here.

Perspective

Kalau mau bicara perspektif dari Universal Mind, ada banyak, since… Aku baru tahu kemarin bahwa empirical science dan esoteric knowledge does count as philosophy.

Nah, ada 4 perspektif yang akan dikupas dalam 11 minggu kedepan… (didn’t I tell you that there’ll be a lot of more articles coming up?).

  • Philosophy’s perspective, membahas metaphysics tadi, dan caranya sebuah universal mind bisa breathe fire onto the world. Sama seperti yang kemarin aku bahas, emang kalau philosphy harus pakai imajinasi, yang ditalar pakai logika, apa itu masuk akal atau gak. Basically, this is science…
  • Empirical Knowledge. Kembali ke data untuk melihat dan mengecek cara minds function. Kemarin kata Professor Bambang, ada 3 branch science dan empirically speaking, bakalan ada Neurobiology, karena emang mind itu berpusat di otak (captain obvious!), terus Quantum Physics, karena belum ada found substance yang bisa play a part sebagai mind. Last but not least juga bakalan ada microbiology, untuk alasan yang mirip dengan Quantum Physics.
  • Esoteric Vision(s). Basically, contemplation of one’s existence… Udah gitu doang… Sorry, aku belum pernah bener-bener contemplate urusan ini, jadinya, belum bisa buat ini terdengar keren… 🙂
  • Pseudo-Science… Campuran Empirical Knowledge dan Esoteric Vision, yang butuh both contemplation dan juga observation. Basically, putting imagination onto the found data.

Philosophy’s Perspective

Pertama-tama, mau bahas Philosophy dulu… Apparently Universal Mind sudah dibahas dari zamannya… Plato

Plato

Kayanya aku pernah bahas soal Plato ini… Pas kita ngebahas Star Wars dari perspektif philosophy… (FYI, kepengen bahas Star Trek juga… 🙂 patience).

Plato percaya bahwa dunia ini hanyalah dunia KW 2 dari Dunia ideal, yang kalau mau di analogikan. Semua manusia dapet glimpse dari dunia ideal ini. Kalau mereka melihat sesuatu, visi ideal kita play a part dan kita akan mengcompare dunia ideal dengan apa yang kita lihat.

Which, according to Plato, ini alasan kita ga pernah bisa actually puas sama sesuatu, and also, kenapa nothing will be perfect.

Now, Universal Mind ini bisa masuk disini gara-gara… Well, semua orang dapet innate knowledge yang sama. Makanya kita akan merasa interconnected between many things. Tapi, teori Plato ini ada sedikit ga masuk akal. Gara-gara, innate knowledge yang Plato present dari dunia ideal ini, tidak memberikan visi yang jelas atas perbedaan opini.

Regardless, metaphysical theory dari Plato ini masih masuk akal kok. Hang on, selain metaphysical, kalau mau baca lebih lanjut tentang Plato’s main theory, bisa cari Rationalism. Since, we have to rationalize everything and compare it to our ideal image of the world.

Benedictus Spinoza

Spinoza yang keluar sebagai philosopher di era Christianity yang sangat kuat, bilang bahwa interconnected minds bisa terjadi karena…

Everything is made of one substance. That substance is known as God.

According to Spinoza, segalanya adalah Tuhan, dan Tuhan adalah segalanya… sorry kalau pop up controversy… Tapi, regardless of the religion, filosofi Spinoza tetep keluar kok.

Now, Spinoza bilang bahwa kita semua terdiri dari satu substance, dan kalau substance itu grow, maka thoughts dan connected minds akan grow juga. Therefore, since even inanimate objects are made of this substance…

Basically, everything can have a mind. The same mind. (This is Spinoza’s work in a nutshell, since right now, I’m playing neutral to all religions)

Immanuel Kant

Immanuel Kant sendiri percaya bahwa kita punya innate knowledge sejak lahir, tapi segala sesuatu ditata dengan sedemikian rupa agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan innate knowledge yang kita punya.

This stays in line with Kant’s opinion of a universal mind. Pas awal artikel ini kan aku bilang bahwa Kant itu memang percaya bahwa the only universal innate knowledge itu universal principles.

Ini juga sangat cocok dengan ilmu-nya Kant yang membahas Transcendental Idealism, yang bilang kita sebagai manusia punya innate knowledge, dan juga perlu observe things untuk grow as a person.

Teorinya Kant juga bilang ada some universal mind yang menata dan mengatur dunia ini agar manusia bisa mengerti apa yang ditata dan didefinisikan.

Break…

Sebelum maju, sebenarnya ada masih banyak lagi opini dari sekian banyak philosopher lain regarding this subject. Tapi, umm… aku hanya mengambil 3 classic philosophers itu. Why? Firstly, emang aku lebih suka classic philosophy, cause it is interesting to see something old, still apply in the modern world.

Secondly, karena kalau dibahas semua, aku akan modar mengetiknya… Jadi, kalau mau belajar lebih lanjut, anggap saja artikel ini gateway untuk belajar lebih lanjut ya 😉

Empirical Knowledge

Empiric… Kalau dari awal baca, and masih bingung artinya apa, Empirical knowledge itu ga ada hubungannya sama sekali dengan Empire di Star Wars. Empiric Knowledge means… Itu ilmu yang didapat dari hasil observasi.

Max Planck

Ooh! Him again!

Max Planck ini bilang bahwa consciousness sebuah manusia, (sesuatu yang masih coba dipecahkan oleh scientists and psychologists) derive from matter. Like, matter di fisika? Yeah, that matter.

Matter does Matter since, Max Planck sendiri percaya bahwa everything has a consciousness, dan everything juga tercipta dari matter, jadi Max Planck percaya bahwa Matter is what forms consciousness.

Yang Max Planck ini lakukan sama seperti apa yang dilakukan oleh Aristotle, basically adding 2+2 to make 4!

Kenapa sesimpel itu? Sebagai fisikawan, Max Planck knows that Matter exists in everything, whether dead or living. Nah, semua yang mati atau hidup juga pasti punya kesadaran agar mereka bisa function properly.

Aku sendiri sih kurang percaya ini masuk ke Empirical Knowledge ya… Tapi, itu mau aku bahas nanti.

Stephen Hawking

Kalau mau baca review bukunya, bisa banget, klik ini aja…

Kayanya Hawking itu cukup terkenal, in fact, I think he goes number three untuk scientists yang diketahui orang jaman sekarang. Nomor 1 dan 2 nya, Einstein and Newton.

On topic… Hawking sendiri sih, sebenernya (according to Professor Bambang, bukan aku), sedikit atheistic kalau mengutarakan pendapat, dan sangat empirical, since there is no empirical evidence of God…

Nah, Hawking sendiri bilang bahwa jika ada teori yang bisa Unify everything (like String Theory!), dan menjelaskan segalanya, masih ga ada “fire” and passion di unified universe itu.

Hawking sih penasaran apa yang bisa unify both consciousness, dan juga universe-nya sendiri.

Nah, ini kenapa menurutku opini Max Planck lebih tampak seperti Psedo sains. Actual empirical knowledge relies on the proof, dan Planck belum menemukan proof bahwa ada consciousness di sebuah inanimate object.

David Eagleman

Abis dua kali nyebut fisikawan, sekarang kita ngebahas Neuroscientist…

Based on David Eagleman’s own words, seiring molekul kita merge, dan kita punya proper mind… something that enables us to be the species we are now…

Sesudah every step of evolution dan survival of the fittest, David Eagleman yakin bahwa ada neural program outside our actual minds yang enable our creation in the first place, program ini ngasih ability and it basically triggers our amygdala when an event happens.

Okay, kalau bingung, intinya, David Eagleman yakin bahwa ada mind yang enable the creation of minds, dan juga ada interconnected thoughts between many living things. Sama kaya kenapa monyet dan kita sama-sama seneng kalau makan. Same goes for male Pandas, yang seneng liatin Panda cantik, dan juga sama kaya aku … eh bukan aku doang… cowo suka liatin cewe cantik…

Well, mungkin terdengar aneh kalau menyamakan humans dan… animals, tapi emang ada urges yang universal, dan brain part yang ketrigger itu similar kok.

Esoteric Visions

Okay, ini lebih sedikit dijelasinnya sama Professor Bambang. Since, words-nya sangat poetic, tapi… ya begitulah. Coba keep up saja, karena aku sendiri juga ga terlalu ngerti tentang ini, yang butuh deep contemplation and poetic-ness… (FYI, poetic-ness isn’t a word)

Buddha

Okay, basically, Buddha bilang bahwa everything has a mind, karena semuanya adalah living things. Every living things are equal and has a mind…

Okay, aku rada bingung, tapi quote-nya bagus, jadi copas quote aja ya…

As I am, so are these. As are these, so am I. Drawing the Parallel to yourself, neither kill, nor get others to kill.

Bingung kan kamu???

Sama aku juga bingung… (Btw, aku ngerti maksudnya apa, tapi yang aku ga ngerti teh masukkin ini ke perspektif Universal Mind)

Alex Grey

Now, Alex Grey, who is apparently a contemporary philosopher, bilang bahwa interconnectedness between minds itu ga ada ujungnya. It’s basically an endless loop. Like, how Japanese Philosophers used to draw a Rinne (endless circle of life). Okay, itu sebenarnya sedikit Naruto reference.

Alex Grey juga bilang bahwa there is no such thing as separation, or independence. Karena semua hal ada dalam awareness-mu dan semua hal terhubung pikirannya.

Confused…

Okay, ini emang rada ngebingungin bagian ini ya, aku sendiri sebenarnya ga… umm… ga terlalu ngerti. Like I’ve said, jadi apologies karena pendeknya bagian ini. Aku orangnya teknis banget, jadi rada bingung pas bahas imagine and meditate while contemplating existence.

Pseudo Science

Pseudo Science itu bukan FAKE science, itu salah. Sebenernya term yang lebih precise adalah semi Science, karena dia butuh contemplation dan imagination untuk picture these things.

Jadi, yang aku bahas kemarin di artikel filosofiku, lebih masuk akal untuk membahas Pseudo Science. Tapi kemarin juga ga salah sih, hanya… kurang akurat

Max Planck as pseudo Science

Sebelum masuk ke yang lain-lain, aku lebih mengira bahwa Max Planck masuk ke pseudo science karena ada faktor contemplation, dan ada sesuatu yang tidak ada proof-nya, meskipun ada Aristotelian Logic yang masuk ke dalam situ. Regardless, Professor Bambang menjelaskannya sebagai Empirical Knowledge, dan ini hanyalah opini.

Gregg Braden

Pas denger Professor Bambang bahas Gregg Braden, keingetan episode di Big Bang theory.

Gregg Braden bilang bahwa emotions are an electrical wave. And we’re creating a wave of energy when we have something in mind. Basically, the universe is communicating with one another because there are Waaaveees of energy when one thinks.

Hence, kalau satu wave bisa dirasakan wave lain, akan ada interconnected thoughts.

Ini similar ke Waldorf yang bilang bahwa humans could feel warmth. Dan misalnya di sebuah ruangan, jika ada seseorang yang dingin, kita akan merasakannya. Sama juga di ruangan yang panas kalau misalnya ada orang yang lagi marah. Jadi, Waldorf has an actual empirical proof to his theory!

Selain itu Gragg Braden juga pernah bilang bahwa everything has a mind in the sense that… something changes as soon as we observe it.

Beneran lho… bukan cuma orang yang bertingkah laku berbeda kalau diliatin, elektron juga berubah dari gelombang menjadi partikel kalau diobserve pakai mikroskop.

Peter Russell

YEAY! Peter Russell membahas paradox!

Sains menjelaskan apa yang terjadi di alam semesta, tapi itu ga bisa jelasin consciousness, and how it works. Kalau ga ada consciousness sendiri, mana ada science… tapi science sendiri has no clue apa itu consciousness.

Okay, sebenernya ini cuman translating quote-nya Russell, karena ada paradoks.

Tapi Universal Mind ini masuk karena, there is no science in a mind, but a mind does process science, so there must be some unknown mind to govern it.

Break

Again, another break… Paling menarik diantara Pseudo Sains itu, Gregg Braden, since he discusses emotion as a particle, wait no… as a wave.

Especially considering how something, very esoteric can be converted onto a wave. Dan mungkin kalau diobserve in detail, each emotion creates a different wave… One that corresponds to the emotion.

Misalnya, emotion marah radiate wave yang panas, emotion senang radiate wave hangat, emotion sedih radiate wave yang ga panas… or well dingin… tapi di fisika, ga ada yang namanya dingin. Coldness is a state of no heat.

Inanimate Consciousness

Well, ini cuman short part of the article yang menjelaskan bahwa inanimate objects like water does change its particle when given contact with Music.

Kenapa? Basically gelombang dari musiknya mengubah air itu yang indah menjadi rusak, or in fact, mereverse partikel air rusak menjadi kembali cantik.

Oh, dan ada murid Professor Bambang yang kepo, ternyata nasi makin cepet busuk kalau disimpen dalam container yang bertuliskan kata-kata kasar, while nasi lebih tahan lama kalau disimpen dalem container yang berisi kata-kata manis.

Jadi, kayanya Universal Mind ini ada betulnya in the sense that inanimate objects DO feel stuff.

In Conclusion…

Okay, ini bukan saat tepat untuk menarik conclusion regarding universal minds, karena journey yang membahas ini baru dimulai.

Tapi, kalau untuk sementara, kayanya it’s safe to say that… Everything has a mind, and basically notices these “waves” of emotion.

For now, aku perlu cari tahu a bit tentang PR yang dikasih Professor Bambang.

Salah satu membahas tentang kenapa philosophically menguap itu contagious, dan yang kedua, kalau ada couple yang lagi marah-marah dikasih kata kasar lagi, apakah makin marah atau jadi tenang, dan same goes for the opposite, kalau lagi marah dipuji apakah makin tenang?

Yang kedua mungkin obvious banget, but who knows really…

Considering aku ga punya couple, closest thing I have is a mom… yang kadang galak…

2 Replies to “A Universal Mind…”

  1. Dari smua yang musingin ini aku cuma mau bilang, kalo belasan taun lalu aku pnah mencoba ‘mengenal’ max planck dgn ksimpulan beliaulah yang menjelaskan tentang keberadaan ‘hantu’ dgn rumus
    dan teori yg diciptakannya

    1. Max Planck sendiri emang sebenernya sedikit unik di kalangan fisikawan lainnya…

      Dia sangat percaya bahwa segalanya ada hubungan dengan rumus (yeah, of course, he’s a physicist), tapi philosophical belief-nya masih sangat-sangat kuat, jadi beberapa teori dia di shut down (or at least, slow down), karena philosophical beliefs yang dia strongly hold. That being said, kayanya emang betul sih, Max Planck pernah juga membahas supernatural-y stuff.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *