A Brief History of Time… Travel

A Brief History of Time… Travel

Kalau mau nanya kenapa judulnya dipisah, itu soalnya ini reference ke Buku mendiang Stephen Hawking. You should read it, its a very good, and funny book. . . (No, still couldn’t bring myself up to write a proper tribute to Professor Stephen Hawking…)

Jadi, sebenernya, hari ini aku lagi fase gabut lagi, awalnya mau nulis filsafat, yang like… filsafat-filsafat tapi… AAAGH pusing… jadi aku mau bahas time travel sajah, namun karena emang hari Jumat jadwalnya bahas filsafat, akan sedikit dibahas philosophically, dan sesuai judulnya, sejarahnya juga.

And umm… yaaah, putus juga deh abis nulis cukup konsisten selama 2 minggu, one day one post. Distraksiku di hari Jumat membuatku rada ngadat, jadi maaf, aku ga bisa cukup konsisten.

Tapi on topic…

Time Travel itu hal yang sering kuungkit dikit-dikit di website ini, mostly kalau bahas superhero, especially The Flash, atau kadang juga kalau bahas fisika juga suka kuungkit.

Kalau bicara sama yang namanya time travel biasanya ga jauh-jauh amat dari topik fisika, dan space-time continuum yang rada-rada rese itu. Tapi karena sekarang mau bahas time travel dari perspektif filsafat, fisika-nya ga akan kuungkit dulu, karena, konteksnya rada-rada beda.

With that out of the way, let’s go ahead and spend a few minutes to read this article.

Traveling to the Past…

Jadi pertama-tama, kita akan jalan sedikit di memory lane untuk mencari inspirasi dan insight mengenai sejarahnya time travel sendiri.

Karena aku juga suka membahas sesuatu secara kronologis, Time Travel sendiri udah ada cukup lama. Di Mahabharata, ada cerita tentang raja Raivata yang iseng ngegangguin Brahma, terus dihukum sama Brahma dengan dilempar ke masa depan, melewati banyak sekali zaman, and dia gila terus bunuh diri, and other stuff…

Di dunia fisika sih, time travel baru dianggap sesuatu yang serius sejak Einstein bilang bahwa waktu dan ruang itu satu kesatuan, dan kita ga tinggal di either ruang dan waktu, tapi si space-time continuum ini cuman sebatas. . . sesuatu yang ada…

Teori ini sering direfer sebagai teori relativitas, dimana kalau Einstein sendiri sih make contoh ada kembar identik dengan perbedaan detik lahir yang tipis, satu tetap di bumi dan satu dikirim ke luar angkasa di kecepatan cahaya, si kembaran yang di bumi akan lebih cepet menua, terus yang dikirim ke luar angkasa… lebih awet muda.

Course ini theoretical… read on below

Nah, jadi kalau kita mau melakukan yang namanya time travel, kita harus bisa menerobos si space-time continuum ini. Kalau udah diterobos, kita bisa mengakses timeline lain. Untuk menerobosnya masih sangat theoretical, ada yang bilang kita harus mencapai kecepatan cahaya, yang sebenernya, so far gak mungkin… karena cahaya sendiri bukan gelombang ataupun partikel.

It’s a bit confusing, yes I do admit that. Tapi, cahaya bisa secepat itu karena cahaya itu bukan sebuah partikel padat, ataupun sebuah gelombang yang hanya menggetarkan hal-hal. Nanti kubahas deh, di artikel lain. For now, karena kita sebuah partikel, ini gak mungkin…

Si Time Travel ini emang punya sejarah yang rada panjang di dunia fisika, dan emang banyak orang yang kritis dengan bilang bahwa, kalau aku menciptakan mesin waktu, aku akan pindah ke masa lalu di titik ini juga. Tapi 10 detik kemudian tidak ada apa-apa yang terjadi. So, there’s not really much proof we can travel through the past.

Tapi kalau kita mau bahas sejarah fisika-nya, ada tempat yang lebih baik… Like you know, reading books, or Wikipedia.

Aku mau bahas timeline time travel di pop culture…

Movies

So, the first ever movie to incorporate minor aspects of time travel is… in 1921, where a man dreams to have backtracked to times of King Arthur. Then 1930, a dream cause he’s struck by lightning, so on and on, most of time traveling is just a dream… that is until… Time Flies di tahun 1944, tapi Time Flies pun masih belum jelas aspek fisikanya. Karena masih menggunakan mystic-y things.

Tapi pas 1960, ada film yang loncat ke tahun 2024, karena si pilot yang jadi tokoh utama disuruh menjadi tester pesawat experimental super cepat. Di film Beyond The Time Barrier ini, si pilot ini lihat bahwa 6 tahun dari sekarang, dunia ini hanyalah berisi underground humans, and super cruel mutants. Like a… controlled zombie apocalypse.

The first movie to actually incorporate time travel successfully, and is quite a classic to this day is… Back To The Future. Wow, siapa yang ngira… (Ga sih, kalau bahas film time travel, non-milennials kayanya bakalan merujuk ke Back To The Future).

Sayangnya Back to the Future ini, memprediksi apa yang akan terjadi 30 tahun di release date-nya. Which was, hovercrafts, flying cars and flight related stuff. Aku sendiri belum pernah nonton 🙁 tapi yang aku tahu sih, hovercraft, dan flying car(s).

Back To The Future kan rilis 1985, lalu 30 tahun kedepan, which was 3 years ago… membuktikan bahwa teori Back To The Future tentang tech di 2015 itu salah… yaaahhhh.

Film yang incorporate time travel biasanya ga selengkap serial sih… Kenapa? Karena kalau mau buat time traveling sequence yang detail, perlu dibahas episode by episode, dengan cerita yang gapapa putus-putus, asalkan masih ada benang merahnya.

Jadi, read on below!

Series

Nah kan tadi bahas movie ya, aku juga mau bahas serial…

Ga usah lama-lama… Doctor Who. Sampe sekarang masih jalan, dari dulu juga laku, and fanboys dari serial ini pasti kepengen banget punya yang namanya Tardis. Who I think is a bit outdated, when you consider phone boxes in the UK aren’t even used anymore.

1963 itu season pertama Doctor Who keluar, dan although udah finale pas 1989, sekarang ada lagi Revival Doctor Who. Yang udah ada selama 12 tahun, and I don’t think it’s going to stop anytime soon. Role The Doctor di film itu juga lumayan keren di mata para geek, heck, kalau ga salah bahkan pernah ada Doctor Who cewe kan?

Time Travel juga pernah dibuat serial yang tahan 6 tahun, which sebenernya aku meski belum pernah nonton, ceritanya kebayang kocak. Goodnight Sweetheart menceritakan cowo yang punya double life, satu di timeline sekarang, satunya lagi jadi tentara di World War II. 1993-1999, I’m gonna try to watch an episode if it’s not R Rated.

Nah dari 2014, Time Travel mulai sering dipake sama DC, untuk enable crossover dari dua universe berbeda.

Serial yang emang revolve di time travel dan day to day activity-nya adalah Time Travel adalah Legends of Tomorrow, yang ga kuikutin lagi, karena… honestly, the only good season from that series is Season 2, don’t watch anything else.

The Flash, seperti kusebut juga sering incorporate time travel dengan berlari SUPERRR cepat. Dengan kecepatannya dia, Barry Allen udah sering utak-atik timeline, dan sampe sekarang masih kuikutin. Tapi umm, season 4 belum ada time travel aneh-aneh.

Well, serial TV paling gede sih emang Doctor Who, tapi abis baca list serial TV yang include time travel, banyak yang komedi juga, kalau ga mau mikir sekeras DC Fanboy…

In the subject of thinking, it’s gonna be one heck of a ride now… Brace your Brain for a mind boggling journey…

Paradoxes?

Sebelum bahas filosofi-nya time travel, ada banyak sekali paradoks dari Time Travel sendiri… It truly is something confusing.

For starters, di 2005 ada yang namanya Perth Destination Day, di mana diselenggarakan sebuah event yang rada besar, dan event itu ditujukan untuk time traveler yang bingung mencari destinasi. Of course, gak ada yang nongol.

Tapi apakah berarti kalau ga ada yang nongol time travel itu ga mungkin? Well the answer is a… “maybe”.

Kalaupun ada time travel di masa depan, kita ga tahu apakah itu diregulasi untuk kembali ke masa lalu atau ga… Kita juga ga tahu kalau apakah bener-bener ada time traveler yang dateng? Mungkin ada yang dateng, tapi biar si time traveler itu ga ditodong dan maksa technology sharing (thus changing history), dia mendisguise dirinya biar ga ketahuan. Mungkin juga emang ga ada yang dateng karena mereka lupa atas Perth Destination Day itu?

Intinya terlalu banyak probabilitas yang kita ga punya kendali pada dan menciptakan sangaaaattttt banyak paradoxile moments. Which trust me only confuses me more.

Bayangkan suatu saat dimana seluruh dunia bilang… “Andaikan aku menemukan mesin waktu, aku akan kembali ke titik ini juga!” Tapi pas dia nemuin si mesin waktu, dia dilarang untuk balik ke titik itu. And stuff happens, thus present day us menjadi kecewa karena kita kira kita ga nemuin mesin waktu.

Atau yang nemuin mesin waktu memang belum lahir saat ini juga. Entahlah, terlalu membingungkan, mending jangan di overthink, ada banyak hal yang lebih perlu difokuskan ke saat ini juga.

Philosophy of Time Travel

Baiklah, ternyata abis baca beberapa hal dari philosophy of time travel ini, 90% dari teorinya paradoks. Bayangkan apa yang akan terjadi jika paradoks dan filsafat yang equally mind boggling ditubrukkin jadi satu. Good Luck… bagian ini akan membuatmu lebih pusing dari mencari alasan… Napa Wakanda yang ga pernah dijajah menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-hari.

Grandfather Paradox…

Ini yang paling menarik buatku abis baca-baca tentang philosophy of time travel. Mostly karena (SPOILER ALERT): Villain dari Flash di Season pertama mati gara-gara ini.

Andaikan ada orang yang nemuin mesin waktu, dan dia kembali ke masa lalu untuk membunuh kakeknya. Terus kalau dia ga punya kakek yang jadi ayah dari ibu/ayahnya dia ga punya ibu/ayah, si orang ga bakalan exist in the first place. Sama kalau si kakek bunuh diri sebelum punya anak.

Eventually waktu akan mengejar si cucu time traveler ini dan membuatnya mati. Kalau dia mati, time travel ga mungkin ada in the first place, dan kalau ga ada time travel in the first place, kakek-nya ga bakalan mati dong?

Paradoks! WAW!

Yeah, so this is what makes hardcore Flash fanboys spend their weekend learning physics. (Not me though… 😀 )

Eternalism vs Presentism

Paradoks ini semacam dua kali lipat… Meski aku ga bisa ngerjain rumus fisikanya, ini filsafat, jadi semuanya bebas menghayal technically…

Jadi ada dua perspektif time travel secara timeline-nya sendiri, yang satu namanya Eternalism, yang satu lagi namanya Presentism.

Eternalism membahas bahwa apa yang terjadi di masa lalu sudah solid dan padat, dan masa depan hanyalah daftar probabilitas dan takdir yang bisa dipilih dan terjadi karena cause and effect. Masa kini di Eternalism adalah course of event yang mungkin affect the future yang masih… berisi probabilitas. Setiap aksi yang kita ambil, semakin padat si masa depan ini…

On the other hand, presentism adalah filosofi yang percaya bahwa apapun yang kita lakukan di masa kini bisa mempengaruhi masa depan ataupun masa lalu, karena adanya hubungan dari diri kita dan astral realm kita, yang honestly… ga terhubung dengan physical things like time. Kemarin ini dibahas pas kuliah filsafat, artikelnya akan ada besok yaaaa…

Mungkin kalau percaya presentism orang itu akan semacam ga ngeh pada apa saja yang ia telah lakukan di masa lalu dan… alhasil dia merasa yang telah terjadi itu ga terjadi…

Aku sih lebih suka sama Eternalism karena ga ada yang namanya going back in time, dan kalau eternalists itu percaya bahwa masa depan itu hanyalah set of probabilities, dari apa yang kita lakukan sekarang.

Untuk time travel, akan aku tinggalkan ke reader untuk ditalar sendiri, aku yakin pasti bisa, since honestly it’s a bit simple… Yang satu hanya menggagalkan probabilitas, dan memprevent apa yang akan terjadi di akhirnya, yang satu bilang bahwa time travel itu cuman perubahan di diri kita pada masa kini…

In Conclusion…

Learn from your mistakes, never look back, and believe in yourself…

Kalau reader merasa bahwa time travel itu berbahaya, cukup percaya pada diri sendiri, jangan lihat terlalu banyak ke belakang, dan belajar dari kesalahan…

Kalau seseorang sudah bisa cover itu tiga, dia ga bakalan perlu time travel untuk mem-back up kesalahan yang dia telah buat…

Semoga artikelnya dapat dimengerti! Dan of course, menarik untuk dibaca….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *