9 Pertanyaan Uta Hagen

9 Pertanyaan Uta Hagen

Aku sedang mengikuti komunitas Teater sekarang, dan WAW! Ternyata teater sangat menyenangkan! *catatan, perasaan senang tidak dimasukkan dan dicampur dengan sensasi lelah tiap kali ada latihan fisik*

Meski ada perasaan lelah sesekali, salah satu bagian paling menarik dari akting adalah pembuatan karakter saat ingin melakukan voice over atau ingin mendalami peran.

Aku memang selalu suka berkhayal dan diberikan sebuah sistem untuk melihat hal dari sudut pandang orang lain akan menyenangkan!

Baru hari minggu lalu, salah satu tutor dari komunitas teater Baraya yang aku ikuti memberikan cara untuk terus membangun karakter dengan cara menanyakan 9 pertanyaan pada diri kita sendiri, dan mencoba untuk mendapatkan jawaban dari tokoh yang kita mainkan menggunakan khayalan.

Versi yang akan aku gunakan dan jelaskan di artikel hari ini adalah versi Uta Hagen, karena ada beberapa versi lain, tetapi aku paling menyukai versi milik Uta Hagen ini…

Fun Fact: Versi lain dari “kuesioner” karakter building ini ada yang digunakan sebagai bantuan untuk marketing juga lho!

The 9 Questions

  1. Siapakah aku?
  2. Kapankah ini?
  3. Dimanakah aku?
  4. Apa yang berada di sekitarku?
  5. Apa keadaannya?
  6. Apakah hubunganku?
  7. Apa yang aku inginkan?
  8. Apa yang menghalangiku?
  9. Bagaimana caraku mendapatkan yang aku inginkan?

Pertanyaan 1-5 mungkin perlu jawaban panjang, tetapi, pertanyaan ini terbilang mudah selama tidak ada kelainan mental di tokoh yang anda mainkan.

Pertanyaan 6-9 akan sulit untuk dijawab bahkan jika tokoh yang anda mainkan berpikir cukup sederhana, apalagi jika karakter yang anda mainkan memiliki kelainan.

Sisa artikel ini akan menjelaskan apa yang perlu anda cari dari tiap pertanyaan. Selamat menikmati

Siapakah Aku?

Ini pertanyaan paling terus terang yang ada diantara ke semuanya. Menjawabnya cukup mudah, tapi juga tidak mudah di saat yang sama… Aktor harus bisa melihatnya dari sudut pandang tokoh dan caranya melihat si tokoh. Tapi, aktor juga perlu melihatnya dari kenyataan, kehidupan, dan juga batasan fisik, seperti usia, pendidikan, dan… Nama 😀 .

Ini adalah hal-hal yang sebaiknya anda temukan dari pertanyaan ini sebelum masuk ke pertanyaan nomor dua…

  • Nama.
    • Jangan berikan tatapan… “Really?” nama dapat berarti amat banyak jika anda memainkan sebuah tokoh-tokoh yang konflik miliknya berhubungan dengan keturunan. Misalnya, seperti tokoh yang dimainkan Michael B. Jordan pada Black Panther, nama miliknya adalah simbol asli bahwa dia orang yang berasal dari Wakanda, padahal kenyataannya ia membenci keturunan miliknya tersebut.
  • Ciri-ciri Fisik.
    • Sangat penting jika tokoh yang anda mainkan memiliki kelainan fisik. Misal, Quasimodo, jangan mainkan si Hunchback of Notre Dame jika anda tidak mau menurunkan punggung anda.
  • Pendidikan.
    • Seharusnya menjelaskan dirinya sendiri. Gaya bicara seseorang akan sangat dicerminkan dari pendidikan yang ia terima. Jangan seperti sebuah sandiwara abal-abal yang sering dipercandakan oleh instruktur dimana tokoh utama, seorang tukang becak di daerah pasar cicaheum, menggunakan bahasa inggris.
  • Kepercayaan.
    • Cara seseorang berpikir akan sangat terkait dengan caranya memercayai sesuatu. Jangan berusaha memainkan tokoh seperti Isaac Newton jika anda tidak siap untuk berpikir klenik sesekali, bahkan sebagai ilmuwan. Mengetahui kepercayaan tokoh adalah gerbang pertama, dan paling mudah untuk berimprovisasi.
  • Ketakutan.
    • Winston pada buku 1984 amat takut dengan Tikus. Kamu bisa mencatatkan ketakutannya dengan cukup mudah, dan mungkin bisa menunjukkan ketakutan itu dengan lebih mudah jika anda mengetahui ketakutan dan kelemahan tokoh yang anda mainkan.
  • Caranya ia melihat diri sendiri.
    • Banyak adegan dramatik dimana ada orang yang menanyakan kepada tokoh misterius… “Who Are You?” Jawabannya bisa banyak, Green Arrow akan menjawab, “I’m a Vigilante”, Black Panther akan menjawab, “The protector of this nation” atau, “A king” dan Adolf Hitler akan menjawab “A leader”. Cara orang melihat dirinya sendiri mungkin cara paling sempurna untuk membangun karakter kita lebih dalam lagi.

600 kata kemudian, kita menjawab satu pertanyaan! YEAY! (tenang, pertanyaan sesudah ini akan dijawab dengan lebih pendek)

Kapankah Ini?

Pertanyaan ini sederhana… Seberapa pentingkah waktu bagi si tokoh? Inginkah ia sampai ke tempat pada tepat waktu? Apakah ia begitu sibuk sehingga ia akan selalu terburu-buru? Atau ia terlalu malas dan terjebak dalam fantasi miliknya sampai tidak peduli akan waktu?

Semua pertanyaan sederhana ini penting, dan aktor yang baik harus bisa menangkap waktu dalam sudut pandang si tokoh.

Dimanakah Aku?

Tenang, ini bukan tes untuk memastikan apakah seseorang memiliki amnesia atau tidak, pertanyaannya mungkin mirip, tapi bukan kok.

Pertanyaan ini semakin signifikan jika jumlah set yang ada lebih minim. Intinya, ini adalah cara tidak langsung bagi Uta Hagen untuk meminta aktor merasakan sebuah lokasi dan seberapa signifikan lokasi itu bagi si tokoh.

Apa yang berada di sekitarku?

Sekali lagi, ini adalah cara tidak langsung untuk meminta aktor merasakan aura benda-benda di sekitarnya, dan lihat bagaimana cara benda-benda tersebut dapat memengaruhi cara berpikir tokoh.

Contoh signifikan… Pada serial Komedi Big Bang Theory, tokoh utama Sheldon Cooper memiliki keterkaitan emosional pada tempat duduk miliknya. Coba sedikit bayangkan dalam mata Sheldon Cooper… apakah tempat duduk miliknya lebih signifikan daripada meja makan? Apakah itu lebih signifikan dari kulkas? Atau lebih signifikan dari action figure Green Lantern dimana ia menyimpan uang darurat senilai 100 dollar?

Apa keadaannya?

Ini pertanyaan penting, dan jawabannya akan selalu berubah-ubah.

Pada dasarnya, ingatlah…

  • Apa kondisi kita sebelum sekarang?
  • Apa kondisi kita sekarang?
  • Apa kondisinya sesudah ini?

Uta Hagen menyampaikan… kita harus selalu mengingat kondisi tiap detiknya, dan pikirkan apa yang si tokoh akan lihat atau rasakan dalam situasi sekarang.

Sebelum memulai adegan, terus bayangkan apa yang sedang terjadi dan bayangkan perasaan si tokoh mengenai kondisi yang belum terjadi, kondisi sebelum ini, dan kondisi sekarang agar garapan perasaan si tokoh selalu siap untuk berubah.

Apakah hubunganku?

Hubungan adalah hal yang penting.

Mungkin tokoh tidak akan selalu memandang benda sebagai suatu hal yang lebih penting kebanding makhluk hidup, tetapi, hubungan dengan objek bisa jadi lebih penting kebanding hubungan dengan orang.

Seorang kolektor akan memiliki hubungan emosional pada titik lebih tinggi pada objek, dan apa yang tokoh kita rasakan akan sangat berhubungan dengan objek.

Hal yang sama mungkin juga terjadi pada hewan peliharaan, atau mungkin teman.

Bayangkan seorang ksatria berkuda pada zaman King Arthur yang kehilangan kudanya. Tangkap perasaan itu, dan keluarkan.

Hubungan-hubungan tokoh dengan objek dan juga dengan orang lain bisa menjadi peran yang amat signifikan dalam sebuah cerita.

Apa yang aku inginkan.

Tujuan.

Apa tujuan sang tokoh? Apa yang ia inginkan.

Coba tangkap dari dua sudut pandang. Apa tujuan dia pada adegan ini, dan apa tujuan dia secara garis besar. Tujuannya secara garis besar akan selalu mempengaruhi tujuannya pada adegan ini, dan ini faktor perubahan yang cukup krusial.

Banyak situasi abu-abu dimana aktor-aktor tidak dapat menangkap apa tujuan utama pada adegan ini dan ia menangkap seluruhnya sekaligus. Menurut instruktur-instrukturku, akan terasa lebih realistis jika tujuan jangka pendeknya sangat sederhana dan sangat terbatas.

Secara garis besar, biasanya tujuannya tidak akan lebih dari satu kalimat.

Balas dendam, memperbaiki hidup, mengakhiri penderitaan… Terkadang hanya satu frasa saja, namun, frasa itu berperan sangat-sangat dalam pada hidup si tokoh.

Apa yang menghalangiku?

Kasarnya…

Tangkap adegan, cari halangan utama dan terbesar dalam adegan tersebut yang perlu dilewati oleh si tokoh.

Mau dijelaskan berulangkali, banyak orang menyimpulkan satu kalimat yang sama…

Bagaimana caraku mendapatkan yang aku inginkan?

Sebelum melakukan apa-apa… Jawablah pertanyaan ini.

Pertanyaan ini adalah kesimpulan dan penutupan ke sebuah tindakan yang si aktor akan lakukan. Tangkap 8 pertanyaan yang lain, cari jawaban untuk pertanyaan kesembilan ini dari 8 pertanyaan sebelumnya…

Jika sudah ingin melakukan sebuah drama, biasanya aktor akan menjawab pertanyaan ini dengan menulis tindakan, baik verbal, mental, atau fisik yang ia akan lakukan pada adegan tersebut.

Sederhana kan?

Kesimpulan

Percaya padaku, metode ini dapat dipakai untuk banyak hal lainnya.

Dan terkadang, kita melihat ke arah luar terlalu banyak sehingga kita lupa apa tujuan kita sebenarnya.

Cobalah sebentar untuk menjawab kuesioner 9 pertanyaan ini dan jawablah pertanyaan sederhana tapi menarik ini… Siapakah anda?

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *