Month: August 2020

Menonton Film / Membaca Naskah

Menonton Film / Membaca Naskah

Aku menemukan lebih dari seratus naskah film (semuanya dari luar negeri dan mayoritas berbahasa inggris) dari link ini.

Akan menjadi sebuah pengalaman menarik untuk menonton sebuah film, sambil membaca naskahnya. Walau itu mungkin sulit dilakukan jika naskah tidak dicetak dan menonton menggunakan streaming di laptop, alih-alih TV.

Artikel ini akan menuliskan sejumlah hal tentang naskah film, dan cara menginterpretasikan yang ada di naskha menjadi teks.

Masalah Media

Pertama-tama, menonton film sendiri meminta pembaca untuk melihat hal-hal lebih dari lapisan yang tampak saja, tidak seperti membaca buku atau teks. Tetapi, di saat yang sama, perasaan dan arahan dasar dari penulis naskah tidak sepenuhnya tergambar dari film.

Isu kedua, jika kita hanya membaca buku atau teks-nya saja… umm…

 

Sumber: https://www.wartaekonomi.co.id/read224647/literasi-indonesia-ranking-terbawah-kedua-di-dunia

You get my point.

Lucunya, berdasarkan artikel tersebut, kita BANYAK membaca, tetapi tidak mampu memahami bacaan yang dibaca. Tidak banyak yang dijelaskan tentang apa yang dibaca, but that’s not my point. Kita membaca sedikit terlalu cepat untuk dapat memahaminya. Bahkan mungkin beberapa pembaca hanya melakukan speedreading dari artikel ini dan tidak menyadari bahwa aku menuliskan kata speedreading ke orang yang lagi speedreading di sini.

Nah, sebenarnya, masih dalam konteks film, bagaimana cara kita membaca naskah dan menyerap makna dari film tersebut? Keduanya adalah media storytelling yang berbeda, dan adaptasi buku ke film telah menjadi isu yang cukup kontroversial dan telah menciptakan  sejumlah haters pada adaptasi filmnya.

UHUK! The Sun Is Also a Star, UHUK! Darkest Minds. UHUK! PERCY JACKSON MOVIES UHUK!

But, that’s where I’m supposed to come in.

The Movies!

Gak semua industri film yang akan mengadaptasikan buku bekerja seperti ini, gak semua film, -regardless of the source- bekerja seperti ini, tapi aku mau mengambil generalisasi.

Singkatnya… seorang penulis akan menulis naskah, seorang sutradara akan membaca naskah tersebut, dan mengarahkannya sesuai bayangan dirinya tentang apa yang terjadi di naskah dan bantuan si penulis. Tim produser melakukan evaluasi dan memberikan kata “Oke!” pada tiap bagian produksi.

Nah, tujuan utama (at least for me) membaca naskah sambil menonton filmnya adalah menyambungkan proses dari naskah yang ada ke film yang ditonton pada saat itu juga. Untuk mengetahui, secara mentah, apa yang dikajikan, dan apa yang dimatangkan pada tahapan-tahapan dan lapisan-lapisan di dalam naskah tersebut.

Karena seorang penulis tidak perlu mengadaptasikan teks ke film, mereka tidak melihatnya dari segi tindakan atau realita, mereka tinggal di ranah pikiran dan emosional, menggambarkan apa yang terjadi.

Jadi, apa yang terjadi dari teks hingga dapat diinterpretasikan oleh sutradara dan produser, serta dimainkan oleh aktor, itu semua berasal dari imajinasi seorang penulis naskah, namun tidak berada dalam kuasanya.

Adaptasi (intermezzo)

Sedikit out of topic. . . Tetapi karena adaptasi sempat disinggung, aku tulis aja sekalian.

Untuk membuat adaptasi yang bagus, kita perlu adaptasi dari dialog buku ke naskah yang sesuai, deskripsi di buku ke setting film yang sesuai, dan kejadian-kejadian di buku menjadi arahan dari sutradara yang sesuai. Satu aja bolong, bisa rusak. Hence, some book to movie adaptations suck, karena adanya bolong di salah satu hal tersebut.

Abstrak

Secara abstrak, apa tujuan seseorang meluangkan waktu dan memecah fokusnya untuk menonton film sambil membaca naskah?

Aku sendiri sebenarnya masih belum seratus persen mengerti tentang ini dari segi yang abstrak, tapi aku sudah bilang bahwa naskah adalah karya penulis, sementara film-nya sendiri adalah karya dari berbagai macam orang. Aku akan melakukan ini untuk mendapatkan interpretasi paling mentah dari sebuah film, dan aku rasa, tidak ada salahnya mencoba hibrida menonton/membaca ini.