Month: March 2020

Reading List… – Corona Virus Edition.

Reading List… – Corona Virus Edition.

Outbreak. Ugh.

Aku sih sebenernya cukup seneng dengan cara pemerintah kita bertindak, walau memang sedikit terlambat, tetapi isu terbesar dari outbreak ini adalah… BOSAN!

Terutama karena aku kesepian gak ada pacar… EHEM… Nevermind.

Jadi, ini reading list buku-buku yang telah dibaca, akan dibaca, atau sedang dibaca olehku, dipisahkan berdasarkan genre. Bisa dicontek tentunya, bacaan di sini cocok jika orang-orang menyukai ilmu-ilmu trivial yang tidak merubah kehidupan sehari-hari seperti aku, baik hal tersebut berkualitas dan ilmiah seperti misalnya sains, atau hal yang bersifat… receh. Seperti stand up comedy, atau taktik sepakbola… Bacaan di sini cenderung ringan, tetapi juga ada yang berat. Gado-gado banget pokoknya!

Disclaimer: Sejumlah buku di sini pernah dibaca sebelumnya, tetapi dibaca lagi karena aku bosan.

BERAT!

Kata kunci untuk buku-buku di genre ini adalah… Berat.

Jika anda ingin mengisi hari social distancing secara berkualitas, atau ingin mempelajari hal yang bermanfaat, tetapi -sebagian besar buku di sini..- tidak merubah kehidupan sehari-hari juga, buku yang kumasukkan dalam “Berat!” ini paling cocok.

SPOTLIGHT:

Digital Minimalism – Cal Newport

Waktu pandemi ini menjadi waktu yang paling cocok untuk mengevaluasi beberapa keputusan dan ritme hidup karena sebagian orang sedang mereset gaya dan pola hidup mereka, bumi juga sedang cleansing dengan pengurangan aktivitas.

Digital Minimalism buku yang cocok untuk dibaca karena Newport mengarahkan pembaca untuk lebih produktif dan pintar menggunakan internet dan social distancing waktu yang paling pas untuk mengevaluasi kebiasaan digital tiap orang.

Telah Dibaca

  • Winners Take All – Anand Giridharadas
    • Buku yang mengupas kapitalisme dan mengekspos filantropisme yang ternyata hanya dimanfaatkan untuk menutupi kejahatan yang dilakukan di balik layar oleh perusahaan besar.
  • Briefer History of Time – Stephen Hawking
    • Menjelaskan cara alam semesta kita bekerja dengan cara yang elegan dan humoris. Screams out Stephen Hawking, funny and smart.
  • Infinite Game – Simon Sinek
    • Buku bisnis/sosiologi yang membahas mindset dan cara manusia bisa menumbuhkan beserta meningkatkan kemampuan yang mereka miliki. Good read to increase productivity!

Sedang Dibaca

  • Meditations – Marcus Aurelius
    • Filsafat beserta self-help disatukan dalam satu buku. Good read, tapi aku mau menjamin bahwa pembaca pasti bingung karena mayoritas menggunakan translasi Shakespearean.
  • Start With Why – Simon Sinek
    • Buku ini belum beres-beres dari akhir 2019 sejak aku masukkin dalam Kindle-ku… Tetapi dia menjelaskan cara manusia bisa menjadi pekerja lebih optimal.

Akan Dibaca

Gak ada. Maaf, buku berat ini bermanfaat, tetapi, aku mending baca buku ringan. Bye!

Sepakbola

Gak ada bola? Mencari hiburan tapi udah nonton semua final liga champions dari 2000-2019? Baca buku sepakbola gimana?

SPOTLIGHT:

The Mixer – Michael Cox

Buku yang satu ini mengupas dengan pintar dan rinci tiap musim Liga Inggris dan tiap evolusi taktik atau fisik yang diberikan pemain dan pelatih dari tahun 1992-2017. Great read jika ingin menonton pertandingan bola dari sudut pandang yang baru, dan lebih taktis.

The Mixer memiliki evaluasi taktik dari adanya kiper yang intelijen berupa Peter Schmeichel, sepakbola inggris yang dimainkan Sam Allardyce dan Tony Pulis yang penuh kontak fisik, beserta taktik modern dari Pep Guardiola, Jose Mourinho, dan Jürgen Klopp.

Telah Dibaca

  • Zonal Marking – Michael Cox
    • Michael Cox yang menulis The Mixer menuliskan buku yang lebih modern dan bersifat kontinental, melihat sepakbola di Eropa. Membahas sepakbola dari 1992-2018, dan memasukkan satu negara berdasarkan era dominasinya. Menarik, tetapi lebih rumit dari The Mixer.
  • Barcelona Legacy – Jonathan Wilson
    • Wilson membahas Sepakbola Cruyffian dan Post-Cruyffian di buku ini. Membahas karir Cruyff sebagai pelatih, serta persaingan berat antara Pep Guardiola dan Jose Mourinho. Bagus jika suka sepakbola Belanda atau Spanyol yang mementingkan penguasaan bola. Great book, but personally… aku lebih suka sepakbola Jerman yang bergelut antara ruang dan energi.

Sedang Dibaca

  • Das Reboot – Raphael Honigstein
    • Timnas Jerman dibahas dalam, luar, taktik, fisik, mental oleh Honigstein. Menarik jika menyukai tema pressing atau sepakbola energetik dan efisien yang memenangkan piala dunia.
    • Honigstein juga menulis Bring The Noise yang membahas karir Jürgen Klopp, buku itu juga menarik.

Akan Dibaca

  • Pogba, Mbappe, Griezmann.
    • Buku tentang superstar sepakbola Prancis yang memenangkan Piala Dunia 2018.
  • The Club
    • Buku tentang cara Liga Inggris mendapatkan dominasinya dari aspek finansial. Sudah pernah dibaca, ingin dibaca lagi tapi belum menemukan waktu…

Pop Culture.

Mulai dari komedi, konsumerisme, kapitalisme, hingga perfilman, aku satukan jadi satu genre… Pop Culture.

SPOTLIGHT:

SPENT – Geoffrey Miller

Buku ini bersifat satiris/investigatif, membahas dan mempertanyakan… Manusia, sebagai makhluk yang konsumtif… apakah manusia bahagia? Walau buku ini mungkin tampak berat, gaya bahasa yang digunakan, beserta hal-hal yang dibahas cenderung menempel ke Pop Culture kebanding hal-hal yang BERAT.

Buku ini kuberi spotlight karena… well, it deserves it, terutama mengingat bahwa kita sedang dalam fase pengurangan konsumsi, introspeksi penting sepertinya dibutuhkan, dan Spent bisa menawarkan introspeksi tersebut.

Telah Dibaca

  • Mastering Stand-Up – Stephen Rosenfield
    • Buku yang mengajarkan dengan definitif dan praktis mengenai teknik-teknik Komedi. Menarik bahkan jika anda tidak punya niatan menulis atau menampilkan komedi.
  • Seinlanguage – Jerry Seinfeld
    • Just a bunch of jokes. Hilarious on paper.
  • Should We Eat Meat? – Vaclav Smil
    • Bukunya secara harfiah membahas (memang sih, secara ilmiah, tapi sifat dan genre-nya agak pop culture untukku) tentang alasan manusia makan daging…

Sedang Dibaca

Gak ada… Belum ada yang masih setengah jalan dari genre pop-culture, begitu nemu, langsung ditelan habis dalam 2 malam… Hehe.

Akan Dibaca

Banyak banget, terutama karena Ebook-nya susah dicari… Top 3-nya…

  • Live From New York – Tom Shales
    • Buku tentang Saturday Night Live. Should be fun…
  • Modern Romance – Aziz Ansari
    • Satir/curhat tanpa sensor dari Aziz Ansari mengenai romansa dan Pop Culture
  • Everything Bad is Good For You -Steven Johnson
    • Membahas Pop Culture secara tidak spesifik, dan lebih banyak membahas dari sudut pandang dampak. I’m definitely in!

Masih banyak lagi, terutama yang bertema komedi, musik, atau teater. Mulai dari sejarah hip-hop, hingga teknik teater udah ada di daftar pencarian aku… Tapi gak nemu-nemu… HIKS!

Fiksi dan Sastra Klasik

Satu bab khusus untuk karya fiksi dan sastra-sastra klasik…

SPOTLIGHT:

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Sebuah karya yang membahas kehidupan masyarakat Jawa di era kolonialisme, serta mengungkit romansa, pertemanan, politik, keluarga, dan buku dengan banyak pesan penting dan makna tersirat dari Pramoedya Ananta Toer.

Salah satu karya sastra Indonesia terbaik.

Telah Dibaca

  • Heroes Of Olympus Series – Rick Riordan
    • No Contest. Terlalu epik untuk dilewatkan. Udah baca 200 kali kayanya… Gak bosen-bosen
  • Anak Semua Bangsa – Pramoedya Ananta Toer
    • Baru nemu ebook-nya tahun ini, jadi langsung dibaca! Great follow up, gak ngira Annelies bakalan… Oops, spoiler. 😛
  • H.I.V.E. – Mark Walden
    • Cukup fun, not a bad book, memang sih, agak terlalu ringan dan gayanya sebenernya kekanak-kanakan, but it’s a good time filler

Sedang Dibaca

  • Max Havelaar – Multatuli
    • Gak beres-beres. Great book. Seperti Bumi Manusia, lebih bersifat ekonomi/politik kebanding romansa-keluarga, jadi lebih berat.
  • Jejak Langkah – Pramoedya Ananta Toer
    • Gak beres-beres juga, kedistraksi buku lain. Should finish this ASAP.

Akan Dibaca

  • Rumah Kaca – Pramoedya Ananta Toer
    • Mencari ebook… masih kesulitan
  • Aru Shah and the Tree of Wishes – Roshani Chokshi
    • Gak sabar, tinggal 7 hari lagi, semoga perilisan bukunya gak ditunda…
  • All The Wrong Questions – Lemony Snicket
    • Kesulitan menemukan Ebook, tapi lagi berusaha keras nyari.

That’s All!

Tertarik? Subscribe ke newsletter, buku baru akan ditambahkan tiap minggu, dan daftarnya akan tambah panjang, dengan ulasan singkat juga.

Begitu outbreak beres, reading list ini akan aku pindahkan ke page baru…

Perubahan UNBK dan UTBK 2020.

Perubahan UNBK dan UTBK 2020.

This’ll take a LOT of time.

Seperti beberapa pembaca setia mungkin tahu. Aku, Azriel, sudah berada di tahun ketiga SMA, dan walau iya aku Homeschool… Tahun ini aku akan UNBK dan UTBK. Dalam waktu 3 tahun kemarin, dari masuknya siswa-siswa ke bangku kelas 10 SMA, jumlah perubahan yang dialami oleh angkatan SMA yang akan lulus 2019/20 cukup banyak.

Ini recap-nya.

UNBK.

Peminatan.

UNBK mengalami satu perubahan krusial di bawah menteri pendidikan Muhadjir Effendy.

Kita cukup memilih satu mata pelajaran saja untuk mapel IPA atau IPS, alih-alih harus mempelajari Biologi, Fisika, dan Kimia, kita cukup mempelajari Biologi dengan fokus, atau Fisika dan Kimia dengan fokus. Materinya diambil dari kelas 1 SD, hingga SMA, jadi memang bersifat lebih advanced.

Perubahan ini terjadi dari angkatan 2017/18, dan ini merubah gaya pelajaran UN menjadi lebih spesifik dan lebih dalam, alih-alih mengambil permukaan dari 3 sungai berbeda, UN yang dicetuskan Mendikbud Muhadjir Effendy meminta kita menyusuri satu sungai hingga beres.

Corona Virus.

Tahun ini, UNBK gak jadi karena adanya darurat Covid-19. Antara happy dan gak.

Belum ada surat pemberitahuan resmi, namun baik pemerintah, kemendikbud, ataupun Komisi DPR-X yang sudah yakin akan meniadakan UN untuk angkatan 2019/20.

Sebagai alternatif, nilai rapot jadi syarat kelulusan. Mungkin sifatnya tidak terstandarisasi, tetapi kita dlama keadaan darurat.

SMK yang telah menjalankan UNBK dianggap telah lulus jika nilainya mencukupi.

Untuk SD dan SMP, pemilihan SMP atau SMA favorit dilaksanakan berdasarkan nilai rapot dan/atau zonasi, walau belum ada keresmian dari pihak mendikbud.

Oke, aku pusing! Fokus UTBK aja lah.

Dari segi UNBK hanya dalam waktu 3 tahun, telah terjadi 2 perubahan. Belum menghitung ide-ide yang dicetuskan mendikbud Nadiem Makarim, yang mengatakan bahwa UN akan dihapuskan tahun depan.

Dari segi pendidikan saja… 3 tahun 2 perubahan itu… BANYAK. Belum menghitung potensi adanya 3 perubahan dalam 4 tahun.

UTBK

Dari mana aku mulai…..

Penurunan Kuota SNMPTN

Tiap tahun, kuota dari jalur nilai rapot yang dikenal dengan nama SNMPTN dikurangi sebesar 10% sejak 2017/18, dengan ide bahwa kuotanya akan dihapuskan secara permanen berdasarkan kekhawatiran pemalsuan nilai.

Tahun ini, SNMPTN hanya mencakup minimum 20% kuota, penurunan 10% dari tahun lalu, dengan jalur UTBK dan Ujian Saringan Mandiri mengisi sisa persentasenya.

SNMPTN minimum mengisi 20%, UTBK mengisi minimum 40%, dan ada kebebasan dari PTN untuk menentukan 40% sisanya, dan mengizinkan USM dengan kuota maksimal 30%.

Perubahan Bobot Nilai.

Bobot nilai SBMPTN telah dirubah sejak tahun lalu.

Alih-alih menjawab 1 soal dengan benar untuk mendapatkan nilai 4 poin, dan soal salah mengurangi 1 poin, sekarang tiap soal bernilai 1 poin + poin semua orang yang menjawab salah dibagi rata. Jadi, jika sebuah soal hanya bisa dijawab 1 dari 2 orang, soal tersebut bernilai 2 poin.

Selain itu, kita mendapatkan nilai sebelum penentuan jurusan. Dari nilai tersebut, orang-orang bisa memprediksi apakah nilai tersebut bisa digunakan untuk PTN favorit, atau apakah lebih baik jika kita bermain aman saja? Memilih PTN yang tidak begitu populer.

Perubahan Kurikulum

Sebelum tahun 2018/19. Soal-soal yang menanyakan Tes Potensi Skolastik suatu peserta didik bersifat matematis. Seperti logika matematik dasar, beserta soal-soal tes IQ.

Tahun ini, soal-soal bersifat reading comprehension dan lebih menempel dengan kecerdasan literasi kebanding kecerdasan matematis, tetapi juga disediakan satu bab untuk pengetahuan kuantitatif.

Perubahan Waktu

Waktu UTBK pra 2018/19. 3 jam. 160 soal.

Waktu UTBK yang digunakan sekarang…

  • 35 menit pertama untuk 20 soal bacaan dan analisa fakta
  • 25 menit berikutnya untuk 20 soal gramatikal Bahasa Indonesia
  • 25 menit berikutnya untuk 20 soal analisa makna teks
  • 35 menit berikutnya untuk 20 soal pengetahuan kuantitatif.
  • 80 menit sisa (20 menit masing-masing untuk jurusan IPA, 16 menit per mapel untuk jurusan IPS) untuk mata pelajaran sisa. Total waktu, 3 jam, 20 menit.

Perubahan ini ditujukan agar tiap mata pelajaran menggunakan waktu yang sama untuk analisa soal, dan peserta tidak bisa “tebang pilih” memilih soal-soal yang bersifat mudah saja, karena soal sulit memberikan poin yang lebih besar.

Format, dan Penjurusan.

Pada tahun 2018/19… UTBK dilaksanakan dua kali, dengan peserta mengambil nilai yang lebih tinggi. Walau tidak dikatakan secara eksplisit, diizinkan memilih dua peminatan berbeda, misal IPA sekali, IPS sekali, lalu memilih menggunakan nilai yang mana.

Pada akhir tahun 2019, LTMPT mengatakan bahwa UTBK cukup dilaksanakan sekali, tetapi boleh mengambil jurusan campuran, di mana siswa melaksanakan UTBK dengan soal IPA dan IPS di hari yang sama.

Oke. Dua kali, gapapa…

Lalu, pada awal tahun 2020, LTMPT mengatakan bahwa UTBK akan dilaksanakan dua kali, dan tetap mengizinkan pengambilan jurusan campuran.

Dalam waktu 9 bulan, April 2019 hingga Januari 2020, LTMPT merubah format dan penjurusan, serta menciptakan jurusan campuran baru, sampai 3 kali.

TIGA. KALI.

Ini menunjukkan seberapa plin plan pemerintahan dan lembaga pendidikan yang harus dihadapi pemerintahan 2019/20. Huh.

Kesimpulan.

Fokus UTBK.

Eh lupa.

Tanggalnya juga belum keluar…

Oh well, let’s make use of this time.

Feel free untuk baca-baca blog aku dan artikel lainnya ya!

Lagu-lagu Terbaik dari Album ~how I’m feeling~ Lauv

Lagu-lagu Terbaik dari Album ~how I’m feeling~ Lauv

Album Debut Lauv telah keluar selama 2 minggu. Artikel ini, bisa dibilang… Terlambat parah.

Tetapi, aku sudah mendengarkan hampir semua lagu dari album ~how I’m feeling~ puluhan kali, dan aku sudah siap menuliskannya menjadi sebuah artikel.

Jadi, ini ranking pribadi mengenai 10 lagu terbaik dari Lauv, yang keluar di album ~how I’m feeling~, berbeda dengan artikelku tentang Lauv yang sebelumnya, membahas tentang lagu-lagu terbaiknya secara umum, artikel ini bersifat lebih spesifik ke albumnya. P.S. Lagu yang masuk di artikel sebelumnya belum tentu masuk di artikel yang ini.

#10. Canada (feat. Alessia Cara)

Bagi orang California seperti Lauv, ada lelucon di mana orang yang hidupnya lagi kesulitan akan mempertimbangkan pindah ke Kanada. Lagu ini menangkap secara sedih, humoris, serta realistis untuk orang-orang yang mempertimbangkan hal tersebut. Lagu ini juga dinyanyikan dan dibuat bersama penyanyi asal Kanada, Alessia Cara.

Selain itu, Lauv memilih menggunakan warna kuning karena aura lagu ini sangat positif!

#9. Julia

Lagu ini ditujukan bagi mantan Lauv, Julia Michaels. Sangat subtle penamaannya… Thanks Lauv.

Lagunya bersifat sedih, dan liriknya menandakan penyesalan, aku sih, seneng aja karena Lauv tampak dan terdengar bahwa dia sedang depresi. P.S. ia menggunakan wig dan baju biru agar tampak seperti Hopeless Romantic.

#8. Feelings

Feelings mengisahkan tentang seseorang yang memiliki kesulitan membaca perasaan orang lain, baik secara romantis ataupun sosial. Oke, soundtrack of my life!!!

Selain itu, rekamannya juga lucu karena tampak seperti difilmkan dengan kamera jadul, atau smartphone merek Cina.

#7. For Now

For Now adalah lagu yang mengisahkan tentang kesulitannya menghadapi long distance relationship. Lagu ini tidak “ngena” secara personal, ataupun lucu, tidak seperti lagu lainnya, tetapi lirik yang dituliskan sangat pintar, dan Lauv juga sedikit menyindir penggunaan Smartphone, yang hanya menambahkan bonus poin bagiku!

Fun Fact, lagu ini sering dimainkan Lauv di konser-konser sebelum dikeluarkan secara resmi tanggal 6 Maret kemarin.

#6. Tattoos Together

Maaf tidak menggunakan versi yang resmi dirilis Lauv. Tetapi ini versi clean, bebas dari kata kasar.

Tattoos Together menangkap sisi humoris Lauv yang lebih jarang dilihat daripada sisi depresi dan sedih yang ia sering tampilkan, mengisahkan sebuah hubungan yang cepat berkembang, dan berkomitmen untuk melakukan suatu hal bersama-sama, dalam kasus ini, membuat satu tato bersamaan.

Liriknya lucu, namun agak kasar, silahkan cek versi original di Youtube Channel Lauv tentunya!

#5. Sims

Menjelaskan lagu ini secara personal. Orang-orang terlalu takut akan membuat gerakan, dan sering membuat tindakan bodoh dan impulsif, yang membuat mereka melewatkan kesempatan baik yang seandainya dilakukan secara berbeda dan sederhana… Bisa berujung bahagia.

Soundtrack orang yang sering keceplosan hal-hal konyol!

#4. Who (feat. BTS)

Tidak. Hadirnya Jung Kook dan Jimin dari BTS tidak menjadi faktor tambahan lagu ini dimasukkan dalam daftar ini.

Namun iya, range vokal Lauv dan kemampuannya menulis lirik, beserta sinkronisasinya dengan kedua vokalis lain membuat lagu ini sangat enak didengar secara khidmat dan serius.

#3. Modern Loneliness

Lagu ini ditulis Lauv tanpa sedikitpun makna cinta. Dan aku menyukainya karena itu. Modern Loneliness mengisahkan sosialisasi di era modern, beserta hadirnya sosmed yang menghilangkan hubungan realita di dunia.

Lauv merasa Modern Loneliness ditulis dengan baik secara lirik, sehingga ia membuat versi dengan subtitel lirik, dan liriknya ia terjemahkan dengan bahasa berbeda-beda. Satu bahasa, satu video. Bahasa Indonesia juga ada!

#2. i’m so tired

No, I’m not tired of this song.

Fun fact. Lauv membuat bridge khusus untuk versi akustik lagu ini.

“Somebody cover up my ears, Somebody save me from my heart, Somebody take me far from here, and rip the speakers out of my car. Cause I’m ready to love you, or I’m ready to lose you… But I can’t wait here any longer”

#1. Mean It

Masih nomor satu. Gak akan pernah kalah, gak akan pernah bosen buat aku.

Soundtrack orang yang sering di-PHP-in! (Not that it’s happened before, or it should be any of your business. Shoo, daripada ngepoin orang baca ke bawah)

Honorable Mentions

Invisible Things, Sad Forever, dan terakhir, I’m Lonely.

Baik I’m Lonely dan Sad Forever tergusur karena daftar ini bersifat lebih personal, alih-alih populer, dan kedua lagu tersebut tidak begitu “ngena” bagiku secara personal, walaupun mereka populer.

Invisible Things hanya kalah sedikit dengan Canada, karena Canada dibuat bersama Alessia Cara, dan itu menjadi poin tambahan bagiku. Aku menyukai Invisible Things secara partikuler karena menyindir budaya konsumtif di abad ke 21.

Review Singkat ~how i’m feeling~

Menangkap budaya modern dalam banyak sudut pandang, menawarkan banyak sekali sisi dari satu orang yang sama, baik itu sisi sedih, keras, jujur, humoris, atau pesimistik. Gambaran sempurna akan era sosial media di mana banyak orang menunjukkan satu aspek kepribadiannya dalam bingkai tertutup, walaupun nyatanya memiliki banyak lapisan kepribadian berbeda.

Oh, album ini juga dengan sempurna menyindir semua kebiasaan burukku, dengan pengecualian sosmed.