Month: February 2020

Novel Untuk Anak-Anak: A Series of Unfortunate Events

Novel Untuk Anak-Anak: A Series of Unfortunate Events

Kenapa kamu di sini? Pergi…

***

***

***

Masih di sini?

Hidupmu bisa diluangkan untuk membaca hal lain. Seperti buku-buku yang akan kuberikan spoiler, atau serial Netflix yang juga akan rusak karena spoiler dari buku ini.

Jadi, pergi…

***

Jika anda memaksa, ingat bahwa sudah ada peringatan dariku.

Rata. Jujur. Tragis.

Kesulitan menemukan kata biasanya jadi faktor seseorang memotong-motong dan menyempitkan kata-kata yang digunakan dalam sebuah tulisan.

Aku mempersempit pemikiran dasarku atas buku karya Lemony Snicket ini ketiga kata tersebut.

Rata

Rata. Sebuah kata yang di sini berarti “Tidak banyak perubahan emosi.”

Snicket menuliskan ketigabelas buku ASOUE dengan gaya yang rata, dan sama seperti narrator di serial Netflix-nya, tanpa emosi sama sekali.

Hampir semua lelucon, frasa, kata-kata, dan kalimat yang diucapkan oleh narrator tidak diucapkan dengan sedikitpun emosi, dan dikatakan seperti sosiopat, dengan tujuan murni menyampaikan fakta tanpa menyelipkan opini.

Emosi pertama dikeluarkan Snicket sebagai narrator pada buku ketujuh, Vile Village, dan emosi yang dikeluarkan lebih cocok dikatakan sebagai deskripsi, bukannya tragedi.

Gaya penulisan rata yang unik ini memberikan dinamika unik untuk ASOUE, dan menempatkannya di daftar buku anak-anak yang menurutku wajib dibaca dan bisa dibaca siapapun, pada umur apapun.

Snicket membawa gaya Deadpan ke tingkat baru, mengenalkannya untuk anak-anak juga,

Jujur

Tidak sekalipun Snicket berusaha menutupi tragedi yang tebal dan terjadi setidaknya 5 kali pada tiap buku dengan cara sugarcoating -sebuah kata yang di sini berarti “membohongi anak-anak”- dan memberikan perspektif bahagia bagi pembaca.

Snicket memberikan fakta dengan cara yang rata tanpa berbohong sekalipun.

Snicket, walaupun, memberikan satu kali “kebohongan” atau mungkin menutupi fakta dengan cara yang menyedihkan ketika ia mengingatkan pada akhir cerita bahwa pada akhir hari, ia adalah orang yang mengalami tragedi terdalam, terberat, dan paling menyedihkan.

Sebagai tokoh yang canon dan juga Narrator, Snicket mengalami hidup yang sedih, dan ia kehilangan cinta sejatinya, yang juga merupakan tokoh canon.

Snicket berusaha menawarkan dunia yang jahat dan gelap ini dari sudut pandang seseorang yang sedang patah hati, dan ia menawarkan dunia dari satu-satunya sudut pandang yang benar… sudut pandang yang tragis.

Tragis

Kata yang satu ini pertama dikeluarkan oleh orang Yunani. Ia berarti “menyedihkan”

Dengan judul serial seperti “A Series of Unfortunate Events” secara logis sangat wajar jika cerita tersebut berakhir secara tragis, tetapi film satu ini dipenuhi oleh adegan dan kejadian tragis dari awal sampai akhir.

Snicket membuat orang-orang yang berpikir hidupnya sulit sedang menjalani hidup yang mudah tanpa harus sedikitpun berpikir bahwa ia sedang kesulitan, karena ketiga protagonis (Sunny, Klaus dan Violet) harus menjalani hidup yang berkali-kali lipat lebih sulit.

Walaupun tragis, buku ini tetap bisa menjadi bacaan penting untuk anak-anak karena sebenarnya buku ini ringan dan mudah dibaca, dengan penggunaan bahasa yang sederhana, namun elegan.

Definisi.

Gaya Deadpan yang Snicket berikan, baik di serial Netflix atau di ketigabelas buku yang ia tuliskan… tidak ada satu kali pun Snicket melewatkan gaya menulisnya yang sangat penuh definisi dan pintar.

Snicket menuliskan dengan bahasa yang rata karena ia cukup kompeten untuk memberikan hiburan sampingan bagi pembaca yang tua, serta informasi yang tidak penting tapi menarik untuk pembaca yang muda dengan menuliskan puluhan definisi dari kata-kata yang mungkin sulit dimengerti. Umumnya kalimatnya terjadi seperti ini.

  • Mr. Poe: Baudelaires. I’m sorry to say that your parents have perished in a terrible fire.
  • 3 Baudelaires: *Speechless…*
  • Mr. Poe: Perished means killed.
  • Klaus Baudelaire: We know what perished means.

Atau, jika itu narrator yang mengatakan… seperti ini…

“The three Baudelaire children hastily -a word which here means, “faster than a troupe of evil and horrible actors- ran away and gathered their belongings.”

Gaya penulisan yang unik ini menawarkan satu sideshow yang lucu, atau setidaknya menghibur bagi para pembaca, dan memberikan gaya penulisan Snicket yang sekarang sudah terkenal sebagai gaya penulisan yang rata, elegan, tetapi sederhana.

Why Should You Read ASOUE?

  • Buku ini berbeda.
    • ASOUE bukan buku di mana tokoh-tokoh mendapatkan happy ending sesudah diberi kesulitan beribu-ribu kali. Walaupun diberikan kesulitan ribuan kali, tokoh-tokoh tersebut hanya diberikan kesulitan di akhir buku.
  • Tragedi
    • Alasan ini cocok untuk orang-orang yang punya masalah dengan kehidupan mereka. Tragedi yang diberikan Snicket di buku ini dapat dipastikan membuat dirimu merasa lebih baik dengan hidupmu. Bagiku itu alasan yang cukup untuk membacanya.
  • Deadpan
    • Ini satu-satunya alasan aku membereskan ketigabelas buku ASOUE dan masih berusaha membereskan serial Netflixnya. Gaya Deadpan Lemony Snicket serta referensi sastranya yang intelijen dan jenaka memberikan aku alasan untuk melanjutkan serial Netflix-nya… Murni untuk melihat semua referensi yang Snicket pikirkan.

Why is this Book a Good Fit for Kids?

  • Realistis.
    • Mungkin ini satu-satunya alasan yang aku perlu berikan. ASOUE realistis, tidak seperti buku-buku lain. Ia mengingatkan anak-anak dengan gaya yang (sekali lagi) rata, bahwa hidup tidak hanya berisi hal-hal bahagia. Mungkin brutal, tetapi di antara sedikitnya hal-hal bahagia yang terjadi, Snicket menuliskan buku ini untuk anak-anak.
  • Tetap Imajinatif
    • Walau buku ini memiliki plot yang realistis, setting dan dunia yang Snicket berikan sangat-sangat imajinatif dan ia menceritakannya seperti buku fiksi, karena ASOUE memang fiksi. Anak-anak tidak perlu melewatkan sudut pandang karangan yang Snicket berikan, hanya karena plot-nya tragis dan realistis.

Notes.

Nama asli Lemony Snicket: Daniel Handler.

Aku berusaha keras menulis dengan deadpan. Tapi aku gak bisa.

Serial Netflix memiliki plot yang mirip, tetapi sampai ke plot tersebut dengan cara yang berbeda.

Projek Black Soldier Fly. Report #1

Projek Black Soldier Fly. Report #1

Udah hampir sebulan gak ada artikel, jadi langsung aja kita masuk ke proyek yang aku kerjakan untuk mengurangi kerepotan (sebuah kata yang disini berarti pekerjaan yang disuruh Ibuku) menyapu daun dan mendaur ulang sampah organik dengan Black Soldier Fly.

Mari mulai.

Apa itu Black Soldier Fly?

BSF (singkatan, aku akan menyebutnya seperti ini sekarang) adalah sebuah lalat yang terbilang bersih, tidak membawa penyakit, dan bentuk larvanya dapat dengan cepat serta mudah mendaur ulang atau memakan sampah organik.

Oh iya, nama latin Black Soldier Fly adalah Hermetia Illucens.

Larva BSF sendiri bisa memakan hampir semua sampah organik dengan pengecualian tulang, atau hal yang sudah mengandung bahan kimia seperti Formalin, dan Pestisida.

Ketika proses Metamorfosisnya berlangsung, telur, dan larva BSF akan makan yang sangat banyak, lalu berhenti makan ketika sudah menjadi Pupa, dan akhirnya berubah menjadi Lalat, kehilangan kemampuan untuk makan, lalu menjadi fresh graduate jomblo yang fokusnya hanya cari pasangan hidup, dan segera memiliki anak.

Semua itu dalam 44 hari.

Proyek ini.

Mari kita contreng beberapa hal sebelum masuk ke proyeknya.

Tujuan.

Daripada membuang sampah organik yang masih bisa dijadikan tanah, dan/atau bisa diberi makan kucing, untuk orang-orang yang sibuk (baca: malas, dan/atau pelupa, dan/atau punya manajemen waktu yang amat buruk) seperti aku, akan lebih mudah jika memelihara BSF untuk mendaur ulang sampah organik yang dihasilkan!

Iya, tujuan projek ini untuk mengurangi pekerjaan rumah.

Sebagai orang yang punya Ibu peduli akan alam (Baca: Hippie) selain harus memilah dan mendaur ulang sampah anorganik, sampah organik juga harus didaur ulang dengan cara dimasukkan dalam compost bag lalu ditumpuk daun sampai nanti jadi tanah.

Proyek BSF ini dimulai agar aku tidak harus repot menyapu daun dan harus mendaur ulang sampah organik.

Jika Azriel Arriadi-Hidayat punya slogan hidup, maka slogannya adalah “Save the earth. With the least amount of effort possible.” Atau dalam bahasa Indonesia. “Selamatkan Bumi. Dengan usaha seminim mungkin.”

Informasi didapat dari?

Terima kasih untuk @Baramoeda (cari di Google, Instagram, dan seterusnya) sudah menyelenggarakan workshop tentang BSF hari Minggu kemarin.

Progress.

Projek ini baru mulai, dan laporan pertama hanya akan membahas larva yang aku dapatkan dari kit Waste Warrior Workshop yang diselenggarakan hari Minggu kemarin.

Aku sedang membuat penangkap telur, dan masih banyak hal lagi yang perlu dibahas.

Laporan hari ini akan membahas 3 hari pertama aku mendapatkan larva BSF, apa yang diberi makan, sukses atau tidaknya, dan seterusnya.

What I like about BSF.

Dari workshop dan dari mengurus.

  • Mempermudah hidupku. (nomor dua kalau mau punya apa-apa, P.S. nomor satunya adalah bikin hepi atau gak)
  • Sebuah pelajaran ke Mikrobiologi dasar! Aku mau kuliah itu nanti!
  • Memberikan aku teman ngobrol yang gak mungkin ngejudge aku. (kiranya Kucing apa Guguk kali ya)
  • Hewan peliharaan yang sangat low maintenance (Menurut Bapak Ramadhani Putra, Ph. D. Larva BSF sangat happy-go-lucky. Kalau ada makanan, mereka makan, kalau gak ada, mereka tidur. Hidupnya sangat sederhana)

Disclaimer.

Aku tahu bahwa ada anggota keluarga aku yang takut akan cacing, jadi… Jangan baca artikel ini.

Stop sekarang.

Mari kita masuk ke artikelnya jika anda tidak takut cacing.

Day 1.

Oops wrong reference.

Seperti beberapa orang sudah tahu… aku tidak punya smartphone.

Jadi dengan sangat menyesal, aku tidak punya foto dari makanan pertama yang dimakan Larva BSF (yang aku perlu kasih nama). Hal yang sama berlaku untuk foto makanan kedua. Aku baru memfoto proyek ini ketika sudah hari ketiga di iPad milik ibuku.

Semoga kata-kata cukup untuk menjelaskan hari pertama dan kedua.

Pada hari pertama, aku langsung memindahkan cacing BSF ini ke wadah yang lebih dalam, agar mereka bisa makan dengan lebih puas dari mangkok yang awalnya diberikan tim workshop.

Ukuran wadahnya tidak melebihi batas 30 cm mereka mau mencari makan.

Makanan 1:

  • Makanan: Nasi Goreng beserta Sosis (karena ku gak makan daging sapi, cacing BSF dapat sosisnya!)
  • Jam diberikan: Sore. (note to self, kalau mau bikin laporan, catat jam dengan detil) kalau tidak salah 17.30

Makanan 2:

  • Makanan: Kentang busuk, Bawang Merah busuk.
  • Jam diberikan: Malam. Jam 19.50

Hasil:

Nasi Goreng dimakan sebagian, sosis tidak disentuh (mungkin mereka gak makan sapi kaya yang ngurus, atau mungkin itu pake pengawet?) Kentang dimakan secara perlahan (sudah ada lubang, tetapi ukuran kentangnta gede banget, kayanya butuh waktu), Bawang Merah sudah tidak bersisa.

Percakapan

Percakapan ini terjadi pada hari Minggu, pukul 20.00 dikatakan oleh seorang lelaki berumur 17 tahun yang jomblo, gak punya gebetan dan dipastikan gak ada kerjaan dikatakan ke sekitar 100 ekor larva yang lagi makan.

  • Aku: Kamu kok gak mau makan sih?
  • Larva: …
  • Aku: Cuman gerak-gerak doang.
  • Larva: *gerak-gerak*
  • Aku: Makan dong.
  • Larva: *Ada yang manjat tromel*
  • Aku: Jangan kabur. Kenapa kalian kabur?
  • Larva: *Masih manjat tromel*
  • Aku: Kok gitu sih, kalian dikasih makan Nasi Goreng gak mau? Nasi Gorengnya gak enak? Atau jangan-jangan pake pengawet atau vetsin? Kata Pak Rama kalian makan Nasi Padang juga mau… *mengintip ke bawahnya wadah*
  • Larva: *Ternyata lagi makan*
  • Aku: Oh… kalian ada yang makan? Aku gak liat.

Day 2.

Cek hasil kemarin.

Pagi.

Belum dimakan. Jumlah masih banyak. Aku khawatir, tetapi karena aku ada tryout UN, aku perlu pergi segera. Aku cuman bilang dadah sama Larva dan nyuruh mereka makan.

Siang.

Pulang ke rumah. Nasi goreng berkurang sedikit.

Udah. Sosis masih belum disentuh, Kentang gak makin kecil, bawang berkurang.

Aku jadi lebih khawatir karena kata Pak Rama… Mereka makannya banyak banget. Sengaja gak aku kasih apa-apa dulu.

Malam.

Malam aku makan Mie Kuah Jawa, jadi khusus aku sisain sepotong Mie, dan 2 potong tomat (karena aku gak doyan tomat) dengan harapan mereka makan.

Mereka aku tanyain, mungkin seleranya selera orang Jawa jadi harus pake kecap. Larva-larva tersebut gak jawab.

Day 3.

Hari ini.

Well.

Nomor satu harusnya gambarnya.

Seperti bisa dilihat. Masih ada kentang busuk, Mie sudah tidak ada, bawang merah masih ada tetapi jumlahnya berkurang, ada sosis yang gak disentuh, dan nasi goreng yang gak keliatan dari atas.

Jadi mari kita lihat dari bawah!

Mungkin gak terlalu jelas ya…

Tetapi secara visual, nasi goreng sudah tidak dalam bentuk nasi lagi dan sudah menjadi agak cair begitu. Itu bisa berarti dua hal.

Satu, Larva BSF melakukan tugasnya meski butuh waktu lama.

Dua… Bakteri melakukan tugasnya karena waktu sudah berjalan lama.

Semoga itu yang nomor satu.

Sejujurnya aku sangat khawatir pada larva BSF karena ada yang berusaha kabur lalu mati karena kejepit, dan juga ada yang gak gerak lagi di bawah.

But, honestly, I’m just hoping this works out…

Oh ya, kalau ada kabar baik secara visual, secara nasal… baunya repungent (repungent berarti jijik, dan sebaiknya gak dideketin… tapi tentunya kalian sudah tahu itu.)

Kesimpulan.

OKAY! Mungkin iya aku tidak melakukan ini untuk noble cause.

Tapi setidaknya aku mendekomposisi sampah-sampahku. HA!

Anyway akan segera dibuat penangkap telur (mungkin besok lusa atau hari jumat) agar larvanya didapat lagi, dan aku perlu bertanya ke penyelenggara workshop yang dikenal dengan nama Baramoeda apakah normal ada Pupa yang sudah mau kabur, dan mereka makannya begitu lambat?

Sampai lain waktu!