Month: December 2019

Recap Di Kaki Pelangi Tahun 2019…

Recap Di Kaki Pelangi Tahun 2019…

Sejujurnya, aku membuat ini untuk diriku sendiri karena aku suka statistik dan aku suka membandingkan hal-hal. Tapi kayanya tidak ada salahnya kalau aku posting. Tulisan hari ini tentang views dan statistika blog satu ini selama 1 tahun ke belakang!

Total Views!

42.243 Viewer selama tahun 2019.

Nggak jelek. Coba aku lebih sering posting pas bulan Mei dan April… Huh…

Favorite Articles!

Home Page. 25.193 View.

Oke, oke, gak dihitung, karena orang yang buka homepage berarti gak buka lebih dalem lagi, tapi ya, anda mengerti maksudku. Semua orang yang baca artikel-artikelku pasti ke homepage juga, jadi… Don’t judge. Ini top 5 artikel pada tahun 2019…

Artikel favorit tidak lain dari artikel Wakanda Forever. Mencapai 4750 views. Bukan angka yang jelek untungnya! Hurrah!

Artikel tersebut mendapat viewer yang cukup banyak dan konsisten, karena artikel itu, aku mencapai rekor 675 viewer dalam satu hari (pada tahun 2018), semuanya dari Google. Sesudah hype dua minggu dari artikel tersebut, viewer-nya agak turun, tetapi tiap minggunya masih menghasilkan setidaknya 10 view.

Berikutnya disusul dengan artikel Marvel lainnya. Membahas Vibranium dan Adamantium. Tentunya juga populer. 2173 views. Bukan angka yang jelek, mendapat sekitar 50 view per bulan, dan ketika hype film marvel baru keluar, angkanya bisa naik hingga 500 view pada bulan tersebut.

Artikel ketiga paling populer masih artikel Avengers… (Sejujurnya, apa sih yang orang-orang baca di Internet hari gini…) 2079 views. Teori-teori yang aku kompilasi dari Reddit (dengan VPN) dan Quora mengenai Avengers End Game. Lucunya banyak orang nyasar mencari tentang daftar orang-orang yang menjadi debu di Infinity War, tapi… Post aku paling atas di Google, walaupun isinya hanya fan theory saja. Ya sudahlah.

Artikel keempat adalah artikel paling bermakna di antara semuanya… Membahas MBTI dan temperamen ala Galen (seorang filsuf Yunani). Tulisan ini banyak error dan blundernya sejujurnya, tetapi aku tidak dapat satupun komen dari 1073 orang yang masuk ke artikel ini. Aku perlu menulis ulang beberapa bagian sesudah baca lebih lanjut tentang keduanya.

Lalu artikel kelima… Gegenpressing. Danke Mr. Klopp. Tulisan sepakbola paling populerku yang menjadi poros permainan Jerman selama 4 tahun, serta poros permainan Liverpool ketika menjuarai Liga Champions ini menjadi artikel nomor 5 paling populer, dengan 660 views.

Honourable Mentions

Star Wars, dan alasan dimulai di episode ke IV bukannya I. 100 dari 500 views yang didapatkan baru nongol ketika Rise of Skywalker masuk ke bioskop.

PT Barnum. Artikel ini telat karena baru keluar SESUDAH Greatest Showman, 400-an views.

Serta Late Post-ku ke sebuah Law Firm di Jakarta! Tiap kali ada yang googling “Visit HHP Law Firm” artikelku nongol di paling atas. 385 views.

Peak Season?

Tentunya… April dan Mei adalah saat End Game keluar di Bioskop. 16000 views hanya dalam 2 bulan tersebut.

Walaupun aku tidak mengeluarkan SATU PUN TULISAN! Selama April atau Mei. (COBA NGELUARIN!!! NYESEL!!!)

Dari peak saat Mei. Juni melihat penurunan ke 4000 views, dan sekarang aku nyangkut di 1000-3000 views. Untungnya, Star Wars menaikkan viewer di Bulan Desember dengan cukup baik, jadi hore!

Pesan moral. Jangan terlalu terdistraksi sama tulisan buku kalau anda masih punya blog… Huhuhuhu…

Sumber Penemu Artikel?

Ini agak obvious kayanya sih, tapi tetep perlu kutulis.

Google memberikan diriku 35.000 views. Dari 42.000.

7000 lainnya berasal dari orang yang langsung masuk ke tulisan via link, mengklik artikel lain atau masuk ke homepage, atau dari WordPress reader. Selain itu juga ada beberapa dari Instagram milik Bubi.

Menutup Tahun.

Post terakhir tahun 2019 ini akan ditandai dengan pengingat untuk diriku sendiri…

Tulis lebih banyak tentang hal yang gak penting tapi menyenangkan… Orang-orang suka fakta yang gak jelas ternyata… Huhuhu… Tulisan Filsafat mana laku…

Kalender Gregorian dan Pemberian Tahun.

Kalender Gregorian dan Pemberian Tahun.

Mari kita bahas tentang kalender sebelum pergantian tahun!

Sejujurnya…

Bicara tentang kalender secara detil bisa memberikan migraine sebanyak bicara tentang… Oke, kita anggap saja bicara tentang taktik sepakbola dari piala dunia pertama sampai sekarang.

Untuk memberikan perspektif. Dalam 2020++ tahun tercatatnya bumi ini mengitari matahari, kita sudah berganti tahun 2020 kali (thanks, captain obvious) tetapi dalam 2020 tahun yang sama, jenis kalender yang manusia gunakan sudah berubah 3 kali.

Oke, kamu akan berkomentar “Tapi Azriel, kita tiap tahun ganti kalender, aku sekarang berumur 40 tahun dan sudah mulai mengganti kalender di rumahku sejak kuliah berarti aku sudah ganti kalender 22 kali.” Maksudku bukan mengganti kalender, karena kita ganti kalender juga tiap tahun ya… Maksudku jenis kalender.

Mari kita catat!

Julius Caesar

Darimana aku mulai tentang orang ini.

Untuk pembaca rutin Dikakipelangi.com . Pasti tahu seberapa cintanya aku sama Jendral Romawi yang satu ini, yang gak mau ngaku raja dan hanya sebagai kaisar tetapi ujung-ujungnya dibunuh sama teman-temannya sendiri.

Walau Caesar punya banyak kualitas positif, ia tidak rendah hati sama sekali.

Kalender tahun 0001 Masehi dimulai oleh Julius Caesar tentunya, dan ia mengganti kalender sebelumnya dengan gaya yang sangat-sangat egois.

Januari 1 adalah tanggal lahir Janus. Dewa Bermuka dua yang menandakan masa lalu dan masa depan, dewa transisi. Nama Januari sendiri diambil dari Janus.

Pada 47 B.C. (kalender masehi belum dimulai) Caesar merubah gaya penanggalan kalender dari Ab Urbe Condita (709 AUC) menjadi gaya penanggalan sekarang. Ia mengulangi kalender dari 0 lagi.

Saat melakukan ini, ia merubah urutan bulan jadi…

  • Januari
  • Februari
  • Maret
  • April
  • Mei
  • Juni
    • Juli
  • September
  • Oktober
  • November
  • Desember
  • Latin untuk bulan keduabelas.

Ada 12 bulan, tetapi ia menggeser september (latin untuk bulan ketujuh) menjadi bulan kedelapan. Bulan ketujuh ia beri nama Juli untuk Julius.

Ia memberikan satu bulan khusus untuknya.

Kalender ini didesain dan dihitung pas oleh ilmuwan-ilmuwan punya Pacarnya Julius Caesar di Alexandria. (Iya, betul… Cleopatra)

Oh, tapi sayangnya, hitungannya gak pas. Tahun Kabisat (seperti 2020, di mana Februari punya 29 hari, bukan 28) dicatat tiap 3 tahun, dan bukan 4…. Ugh, pusing deh.

Intermezzo Ab Urbe Condita adalah sistem penanggalan Romawi kuno, dimulai dari terbentuknya Romawi sebagai kerajaan.

Seharusnya, ini menjadi penanggalan masehi yang original. Dan ini berarti bahwa sekarang kita tidak berada di tahun 2020 tetapi justru di tahun 2067.  Namun, ada hal terjadi.

Augustus Caesar

So. 3 tahun sesudah pengulangan tanggal dari Ab Urbe Condita menjadi masehi… Caesar mati.

Like… Ditusuk di semua bagian yang kamu gak mau orang sentuh dan/atau tusuk.

Brutal, tapi ya, dunia sudah move on.

Berikutnya ada orang ini!

Octavian atau Augustus Caesar, terserah mau panggil dia siapa.

Ia juga sama seperti Kakek-nya (Julius Caesar) pintar, bijaksana, dominan, ganteng, blablabla… Oh iya, juga gak rendah hati.

44 tahun sesudah kematian dari Kakeknya, Augustus Caesar ingin merubah sesuatu.

Ia tahu bahwa 40 tahun sebelum ini ia pernah memenangkan perang dengan anggota dewan segitiga (atau juga diketahui dengan triumvirate) sebagai metode pencegahan perang saudara antara 3 jendral terkuat di Romawi…

Ceritanya panjang, tetapi Romawi dibagi tiga. Augustus dapet sepertiga, Mark Antony dapet sepertiga, Lepidus dapet sepertiga. Augustus ngalahin Mark Antony yang lebih kuat dari Lepidus, dan dapet dua per tiga kekuasaan, Lepidus takut dan kabur, ngasih kekuasaannya ke Augustus.

Sebelum pergi dari takhtanya, Augustus Caesar melakukan satu hal lagi. Ia memulai kalender masehi, dan ia meminta tanggal ia menjadi kaisar romawi sebagai bulan khusus, dinamakan atas dirinya sendiri.

Ini menciptakan sistem 12 bulan yang kita ketahui sekarang.

Dengan cara menyelipkan bulan Agustus diantara Juli dan September ia meminta penanggalan kakeknya dirubah, dan diulangi dari awal karena ada kesalahan teknis akan hadirnya tahun kabisat per tiga tahun yang Caesar buat tadi…

Selain itu, ini sistem pertama yang memasukkan tahun kabisat untuk mencatat 1/4 ekstra hari di mana bumi berevolusi mengitari matahari.

Intermezzo. Untuk yang belum tahu tanggal 25 Desember adalah natal… Itu ada cerita agak panjang dengan penambahan bulan punya Augustus kali ini. Selain lahirnya Janus pada 1 Januari, Yesus Kristus, atau Nabi Isa A.S. juga lahir di tanggal 1 Januari. Namun perubahan tanggal Romawi tidak diikuti oleh Agama Katolik yang masih minor waktu itu, dan 1 Januari tersebut pindah ke 25 Desember sebagai efek samping perubahan penanggalan.

Gregorian Calendar

Paus Gregory bertanggung jawab menggeser kalender untuk ketiga kalinya.

Ada beberapa versi cerita yang bilang bahwa Paus Gregory hanya mengklaim Kalender Gregorian yang kita gunakan sekarang, dan aslinya seorang pustakawan yang kerja di Itali yang memberikan dia ide ini, tetapi, ini versinya lebih rumit, dan aku akan gunakan versi yang umum saja.

Awalnya, Paus Gregory yang tahu tentang pertanian khawatir akan penanggalan paskah yang salah karena ia yakin paskah telah geser satu hari dan titik balik musim semi tidak sesuai dengan perayaan paskah pada tahun itu.

Jadi, pada September tahun 1582, Paus Gregory bertindak. Kurang lebih Paus Gregory yakin akan penanggalan yang salah, dan ia mengeluh pada ahli astronominya. Sesudah dihitung, ternyata ada 12 menit revolusi Bumi yang tidak dihitung oleh kalender Augustus Caesar yang masih dipakai sampai tahun 1599.

Revolusi Bumi tersebut akhirnya dibenarkan dan mulai tahun 1600, tahun yang berakhir dengan 00 tidak akan dihitung sebagai tahun kabisat kecuali angka tersebut bisa dibagi dengan 400. Berarti, tahun 1700, 1800, 1900, dan 2100 bukan tahun Kabisat.

Kalender ini disetujui semua orang dan penanggalan Paskah kembali benar lagi, dan Paus Gregory memberi nama kalender ini Kalender Gregorian, atas dirinya sendiri.

Sampai hari ini, kita masih bisa menggunakan Kalender Gregorian secara akurat. Sampai tahun 4909 tentunya, karena revolusi bumi ini ternyata bukan 365 hari, 6 jam dan 12 menit. Tapi juga ada 26 detik. . . . .

Yup, untungnya kita gak perlu kalender lagi.

Kecuali anda membaca ini dari masa depan (tahun 5000) dan Internet masih legal… Anda tenang saja, kita masih bisa menggunakan kalender Gregorian sebelum bumi berevolusi satu hari lebih banyak dari seharusnya!

Meningkatkan Produktivitas ala Cal Newport

Meningkatkan Produktivitas ala Cal Newport

Weekend kemarin diisi dengan baca buku! Buku terbaru yang kubaca ditulis oleh Cal Newport, subyeknya tentang Deep Work. Aku belum punya translasi yang cocok, jadi aku akan menggunakan istilah yang Newport sendiri berikan di buku dengan judul yang sama…

Selamat menikmati.

Deep Work.

Bayangkan anda sedang bermeditasi.

Anda fokus ke satu hal, dan satu hal saja yang anda berpikir. Mungkin itu cara anda bernafas, cara anda duduk, warna terakhir yang dilihat sebelum menutup mata, suara air yang mengalir di sungai dekat rumah anda.

Sepertinya di era informasi dan serba cepat ini tidak mungkin bisa bermeditasi didekat smartphone ya… Belum apa-apa terdengar suara notifikasi dari WhatsApp, atau dari Instagram, atau apapun itu…

Walau iya, terdengar agak idealis (“Sungai dekat rumah anda” karena siapa yang punya sungai dekat rumah mereka? No offense ke orang-orang yang tinggal dekat Sungai Cikapundung) Keharmonisan dari bekerja atau sekedar fokus ke satu hal tidak bisa dicapai lagi oleh manusia…

Deep Work berfungsi similer ke meditasi. Fokus ke satu hal bebas dari distraksi, melawan adanya distraksi, dan berada di satu titik tengah yang harmonis…

Deep Work adalah cara bekerja yang tenang, tanpa distraksi, dan penuh dengan menahan godaan.

Cal Newport menjelaskan Deep Work sebagai “High quality working without any distractions.” dan sebenarnya memang sesederhana itu.

Dengan makin banyak hadirnya distraksi (entah itu WhatsApp group atau Facebook atau apapun) Newport percaya bahwa ini mengurangi kualitas pekerjaan orang-orang. Pekerjaan orang-orang dan hal-hal yang mereka produksi jadi berkurang dalam aspek kualitas, dan dalam aspek makna.

Pekerjaan kehilangan makna, dan ini mempengaruhi manusia dalam banyak aspek yang aku anggap berhubungan dengan kebahagiaan, walau Newport tidak membahasnya secara eksplisit.

Perlu dicatat tapi, Deep Work sendiri tidak mempengaruhi kuantitas hal-hal yang dikerjakan, tetapi hanya kualitasnya saja. Seseorang bisa saja melakukan pekerjaan dengan kualitas rendah tetapi tetap saja mengerjakannya dengan cepat dan efisien sehingga kuantitasnya tetap tercapai.

Mungkin terdengar agak Purist, agak idealis, dan mirip seperti hal yang anda mungkin baca di buku tentang Yoga, tetapi Deep Work memang langsung berhubungan dengan meditasi, karena banyak aspek dari meditasi menempel dengan Deep Work.

Mari kita bahas cara melakukan deep work.

Menahan Godaan

Puasa.

Indonesia memiliki budaya yang sangat unik di bulan Ramadhan. Rotasi bumi seolah-olah berubah. Hari-hari bergulir tetap sama, tetapi jam malam dan paginya berubah. Kantor pulang lebih cepat, kita bisa bangun dari pukul 3 pagi dan tidak tidur lagi sampai jam 9 malam.

Tujuan dari Ibadah Shaum sendiri di Bulan Ramadhan bukan untuk menahan lapar, tetapi untuk menahan godaan… Aspek terpenting dari ibadah ini ada di fakta bahwa anda akan tergoda pada hal-hal yang tidak penting, dan anda harus bisa menahan diri.

Walau iya terkadang ada ironi di fakta bahwa seseorang yang sedang berpuasa, alias harus menahan godaan bisa saja tetap kalap dalam beli baju karena ada THR dan semacamnya… bahasan kita tidak tentang itu hari ini.

Kata kunci hari ini bukan godaan. Tetapi kata kuncinya adalah “menahan”.

Untuk menahan diri dari melakukan sesuatu perlu ada usaha sadar dari diri kita untuk melakukan sesuatu. Perlu ada willpower yang terlibat dalam memberikan usaha tersebut, dan willpower itu mungkin saja habis… mungkin masih ada sisanya. Tetapi usaha berasal dari willpower yang perlu disalurkan.

Salah satu peraturan Deep Work yang Cal Newport berikan adalah “Embrace Boredom” alias “Nikmati Kebosanan.” Ketika membahas peraturan tersebut Newport bilang bahwa terkadang isu seseorang bukanlah tidak memiliki distraksi, tetapi justru kemampuan orang tersebut menahan diri dari distraksi tersebut.

Newport bahkan agak-agak nyantai untuk urusan distraksi ketika sedang tidak bekerja. Ia bilang “Jika internet memainkan peran penting dalam hiburan ketika malam hari sebelum tidur, itu tidak apa-apa.” Jadi jangan khawatir, mau menerapkan Deep Work bukan berarti anda harus pergi dari semua grup WhatsApp anda atau berhenti menggunakan Netflix.

Newport meminta anda untuk tidak terlalu sering melakukan transisi dari Fokus bekerja ke melakukan distraksi. Waktunya kerja adalah saat untuk bekerja, dan waktunya bersenang-senang adalah waktunya bersenang-senang. Masalahnya jika seseorang ingin bertransisi dari Fokus ke Distraksi, butuh waktu untuk Fokus tersebut bisa terkumpul ke titik yang dalam.

Oke, jadi Netflix, WhatsApp semua aman. Bagaimana dengan sosmed?

Quit Social Media.

Rule #3 dari Deep Work.

QUIT SOCIAL MEDIA.

Yeah. Social Media is not fine.

Newport percaya bahwa Sosmed adalah sumber distraksi (that’s obvious) yang tidak ada maknanya (that’s also obvious) dan bahkan jika kita bisa mempelajari sesuatu dari situ (kapan sih kita benar-benar bisa?) tidak ada inti yang bermakna karena siapapun bisa menuliskan apapun di dalamnya.

Selain fakta bahwa sosmed memiliki banyak konten tidak bermakna dan dibatasi dalam bingkai yang orang-orang ingin tunjukkan… Sosial media juga melakukan banyak hal yang mendefinisikan gaya hidup orang-orang di abad ke 21 sampai titik ketiadaan dari opini.

Ini subyek untuk lain waktu tentunya… Namun distraksi yang Newport tuliskan lebih sesuai jika disamakan dengan distraksi “penting”. Bahkan hal-hal yang penting bisa saja gak punya makna. Seperti misalnya membalas Email… Membalas email penting, tetapi minim makna.

Sosial Media tidak memberikan distraksi “penting”.

Newport ingin orang-orang untuk steril dari distraksi tidak penting, dan menyortir distraksi yang penting.

Kesimpulan

Oke, dua peraturan penting dari Deep Work sudah kutuliskan. Menurutku dua peraturan ini (Quit Social Media, Embrace Boredom… dari total 4 peraturan) yang paling penting, dan kurasa kedua peraturan ini cukup untuk memulai deep work.

Newport menginginkan orang-orang untuk lebih efisien dari semestinya ketika melakukan deep work.

Ia meminta kerapihan… Dan aku agak-agak bingung cara menerapkannya.

Newport memberikan referensi yang cukup banyak tentang orang-orang yang super ekstrim dalam mengatur efisiensinya… Seperti seorang Professor yang gak punya email dan mempunya asisten khusus untuk menerima snail mail dan menyortir hal yang urgent.

Kalau menanyakan aku, bagaimana cara menambah efisiensi dalam hari-hari anda dan melakukan Deep Work?

Stop right there.

Deep Work bukan untuk semua orang. Ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak shallow work dan berbasis kuantitas kebanding kualitas. Ada beberapa pekerjaan yang bergantung 100% pada urgensi email dan tidak bisa bergantung pada “Imajinasi akan Dunia” yang dilakukan filsuf-filsuf macam Socrates, Descartes, dan Immanuel Kant.

Jadi, sebelum loncat ke kesimpulan dan menentukan apakah anda bisa melakukan Deep Work atau tidak…

Putuskan dulu. Apakah anda ingin mencapai makna, atau anda ingin pekerjaan tersebut beres?

Terkadang pekerjaan dangkal sudah cukup.

Appendix.

Ironisnya tulisan tentang Deep Work hari ini ditulis dalam kondisi yang sangat shallow dan penuh distraksi.

Sambil menulis tulisan ini, aku dipotong karena membuatkan roti bakar untuk snack sore, mendengar Ibuku dan Adikku bermain Karma dan memastikan peraturannya berjalan dengan lancar, serta mengganti galon.

Mohon maaf kalau tulisannya kurang bermakna, dan sampai lain waktu!

Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Aku balik membahas Bola! Kali ini, aku akan membahas tentang taktik Liverpool terutama ketika sedang memegang bola mulai dari pertandingan pembuka ketika melawan Norwich, hingga Derby Merseyside kemarin.

Tetapi sedikit disclaimer, aku hanya menonton pertandingan melawan Southampton secara Live, sisanya aku mencari extended highlights, melihat cara bola dimainkan dan pergerakan pemain ketika menyerang ataupun bertahan.

Hari ini, aku akan membahas lini tengah,. Minggu depan, aku membahas ketiga striker, (tentunya Firmino akan mendapat bahasan untuk kedua kalinya. He’s special that way), lalu minggu depannya lagi, lini belakang, baik bek sayap atau bek tengah.

Our Players!

Bisa dibilang mungkin pola permainan Liverpool yang paling meningkat dari awal musim lalu adalah gelandang-gelandangnya.

Pada awal musim 2018/19, Klopp masih plin-plan memilih gelandang, merotasi Naby Keita, Milner, Henderson, Wijnaldum, kadang memasukan Shaqiri di formasi 4-2-3-1, dan gaya permainan lini tengah kita masih sederhana dan bisa dijelaskan dengan kalimat “kejar bola dan jadi orang tambahan ketika dibutuhkan.”

Walau metode ini memang yang dicari dari Gelandang-gelandang di sistem Gegenpressing ala Klopp… Agak lucu melihat tim sekelas Liverpool memiliki set gelandang yang hanya jadi “orang ekstra” dan tidak berkontribusi secara unik ataupun elegan seperti gelandang-gelandang lainnya.

Kasarnya, kita ambil saja penilaian FIFA. Berdasarkan penampilan tahun lalu, gelandang-gelandang terbaik Liverpool mentok di rating 84-85, Fabinho dengan 85, Wijnaldum dengan 84. Ingat bahwa rating FIFA 20 mengambil musim tahun 18/19, bukan musim 19/20.

Musim ini, kita melihat gaya pressing yang sama, tetapi gaya permainan yang diberikan ketika memegang bola jauh lebih kreatif.

Selain itu, Klopp sepertinya sudah fix mengambil Wijnaldum, Henderson dan Fabinho sebagai trio gelandang miliknya. Mari kita bahas satu-satu…

Fabinho

Peran Fabinho di sistem Klopp cukup solid, sebagai jangkar yang mendaur ulang serangan gagal, serta mencegah serangan balik.

Aku sudah pernah menulis secara cukup detil tentang Fabinho di artikel sepakbolaku yang sebelumnya, membahas Firmino… Tidak akan kujelaskan lagi, jadi silahkan klik ini untuk mendapatkan penjelasannya ya 😀

Fabinho melakukan pressing pada orang yang memegang bola sambil memotong jalur umpan ke pemain-pemain terdekat. Jika bola tersebut melewati Fabinho, Matip, Lovren atau Van Dijk (tergantung pemain terdekat, dan juga yang dimainkan) lari melakukan pressing, dan memberikan bolanya kembali ke Fabinho.

Jika tidak ada orang yang dekat ke bola, umumnya Fabinho orang pertama yang mengejarnya. Kita melihat dia melakukan hal yang sama pada pertandingan melawan Manchester City dan berulang kali menghentikan serangan balik dan menciptakan peluang.

Fabinho juga merupakan pemain tengah yang berlari paling sedikit karena ia tidak begitu banyak melakukan hard-press, dan hanya memotong jalur umpan. (Catatan: Paling sedikit tetap banyak ya, hanya saja Wijnaldum dan Henderson berlari jauh lebih banyak lagi)

Wijnaldum dan Henderson

Gini Wijnaldum dulunya ditujukan untuk mengisi peran gelandang jangkar.

Namun sesudah berulang kali bermain, Wijnaldum pindah ke peran Box-to-Box karena sama seperti Henderson, ia bukan pemain terbaik dalam mengatasi serangan balik.

Baik Wijnaldum atau Henderson memiliki fungsi utama yang sangat… “kasar” mungkin menjadi kata terbaiknya. Peran utama mereka sederhana, layaknya tiap gelandang modern di tim dengan tempo permainan tinggi, mereka menjadi orang tambahan ketika dibutuhkan.

Baik ketika menyerang atau bertahan.

Sebagai contoh..

Ketika pemain Nomor 8 ingin membuat operan, Wijnaldum memberikan tekanan untuk memastikan bola dapat dimenangkan kembali, Fabinho berusaha memotong jalur umpan terdekat, dan Henderson membantu Firmino melakukan pressing ke target operan utama.

Liverpool terbiasa bermain dengan garis Offside yang tinggi agar lawan kesulitan menemukan ruang dan memaksa lawan untuk mengoper bola secara perlahan, karena transisi cepat dari satu operan gagal ke gol milik Liverpool.

Ruang yang sempit karena garis offside tinggi ini dimanfaatkan Wijnaldum dan Henderson agar mereka tidak perlu berlari terlalu jauh untuk membantu pressing.

Kata kuncinya adalah MEMBANTU. Pressing utamanya (terutama hard-pressing) dimulai dan dilaksanakan oleh Firmino. Henderson dan Wijnaldum bergerak sesuai ke pergerakan Firmino, mengikuti dan membantu Firmino mengambil bola dan memaksa lawan memainkan bola ke orang yang salah.

Nah, sekarang untuk menyerang…

Sama juga seperti dalam pressing, Wijnaldum dan Henderson berfungsi untuk menambah orang dan menciptakan Numbers Advantage di ruang sempit. Baik itu sebagai target umpan, atau opsi operan dekat.

Jika anda menonton Liverpool cukup sering, anda pasti tahu bahwa raja Assist Liverpool bukan gelandang seperti Man City mengandalkan Kevin de Bruyne, atau Manchester United semacam mengandalkan Paul Pogba… Tukang Assist kita ada di kedua bek sayap.

Sekedar ada satu target umpan atau opsi operan dekat memaksa lawan untuk trackback lebih cepat karena permainan Liverpool dimainkan di tempo tinggi.

Kita beri gambar lagi…

Bola dimainkan ke sayap, dan kedua bek sayap bersiap maju, beserta ketiga striker siap menerima umpan.

Karena banyaknya pemain di kotak penalti, bukan hanya Striker, jumlah orang yang bisa menyambar bola dan jumlah orang yang perlu ditutup oleh bek jauh lebih banyak.

Tambahan 1-2 orang terkadang bisa jadi apa yang diperlukan untuk memecah baris pertahanan lawan. Henderson dan Wijnaldum seringkali jadi orang tambahan, seandainya mereka tidak menyambar bola atau mencetak gol, mereka hadir untuk mendistraksi bek-bek lawan.

Miskonsepsi orang-orang…

Berkali-kali aku dengar orang bilang “Liverpool butuh gelandang serang bagus.”

Ini miskonsepsi bagiku. Gelandang serang terakhir yang Liverpool miliki adalah Coutinho, dan Klopp memainkan Coutinho sebagai sayap alih-alih gelandang, dan ia tidak mendapat tempat penting lagi di skuad Liverpool sesudah adanya Salah.

Memang iya, Liverpool kesulitan menciptakan peluang ketika bek sayap kita tidak diberi ruang untuk bergerak (seperti ketika melawan Manchester United) tetapi adanya gelandang serang dalam cetakan de Bruyne, David Silva, James Rodriguez, Christian Eriksen dan sebagainya mungkin memberikan kita lebih banyak kesempatan menciptakan serangan dari tengah…

Tetapi masalahnya… Itu akan membuat sistem pressing Liverpool tidak seimbang. Setelan simetris dengan dua gelandang box-to-box energetik dan gelandang jangkar kreatif seperti ini sudah sempurna untuk Gegenpress yang memang diatur dari tengah oleh Firmino.

Kalau kita bisa misalnya mendapatkan pemain seperti James Rodriguez atau semacamnya, Klopp akan melatihnya untuk mengisi peran Firmino, bukan dimainkan di gelandang tengah.

Kesimpulan.

Pressing Liverpool sederhana, dan lini tengah kita juga bermain dengan cukup sederhana, dan rapih. Menontonnya menarik tentunya. Beberapa kali aku mendengar teman-temanku baik fans Arsenal, Chelsea, atau klub di liga lain mengatakan bahwa menonton Liverpool selalu menyenangkan.

Klopp punya andil untuk itu. Bahkan jika kita kalah, dia tidak ingin timnya bermain dengan pas-pasan, pasti pertandingannya menegangkan dan tiap operan bisa berbuah gol.

Sampai minggu depan!

(aku berniat membereskan ini sebelum boxing day ya, semoga beres)

Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Benda-Benda Kolektibel. Kenapa Kita Ketagihan?

Dengan Star Wars yang tampak akan masuk ke Bioskop Indonesia dengan cepat… Aku rasa ini momen yang pas untuk membahas Benda-Benda Kolektibel!

Minggu depan aku akan membuat tulisan yang lebih spesifik tentang Star Wars dan mainan-mainan Star Wars, tetapi minggu ini, aku akan membahasnya dalam sudut pandang yang jauh lebih umum. Benda-Benda Kolektibel-nya sendiri.

Selamat menikmati.

Merchandising is Underrated.

Semua Film Star Wars menghasilkan 7 Milyar Dollar US. Mainannya? Menghasilkan 14 Milyar Dollar US . Spider-Man? 6.4 Milyar Dollar US (ketiga reboot ditotalkan). Mainannya? Tenang, hanya 1.3 Milyar Dollar US. Per tahun (bahkan adanya film baru keluar tidak begitu merubah angka ini, rata-ratanya dari 1.0 sampai 1.4 milyar).

Merchandise. Butuhkah kita?

Dari semua geeky trend yang ada di dunia (Star Trek, Star Wars, Spider Man, Batman, Superman, Semua Putri Disney), hanya Avengers yang sepertinya mendapatkan penjualan lebih banyak dari film kebanding merchandise. Itu pun sebenarnya bukan karena penjualan Merchandise Avengers begitu sedikit, tetapi karena penjualan film Avengers yang sangat banyak, dan mampu merambah orang-orang yang bahkan jarang menonton film.

Film-film dan studio-studio yang berpikir kapitalis tentunya tidak lagi bergantung pada film sebagai sumber penghasilan. Justru mereka bergantung pada jualan Merchandise.

Angka-angka dari merchandising tampaknya tidak akan berubah begitu banyak, sedangkan kalau tren Box Office… Kita bisa melihat penurunan ketika kualitas filmnya tidak begitu bagus.

Sampai hari ini, aku pribadi percaya bahwa Age of Ultron adalah film Avengers yang terburuk karena film tersebut diniatkan hampir murni untuk jualan Merchandise kebanding memberikan film yang memang bagus… dan sebenarnya, rencana mereka jualan merchandise gak bener-bener gagal… Age of Ultron menghasilkan 45% lebih banyak dari merchandise kebanding penjualan tiket.

Hal yang lebih konyol lagi, konsumen merchandise jumlahnya lebih sedikit kebanding jumlah tiket yang terjual.

Aku tidak punya angka empirik. Perkataan ini hanya reka-reka saja, tetapi aku yakin bahwa tidak ada orang yang membeli 2 tiket untuk satu orang kan? Mungkin ada orang yang menonton film yang sama 3 atau 4 kali, tetapi umumnya satu tiket untuk satu orang.

Sedangkan, bagaimana kalau merchandise? Satu orang bisa punya lebih dari 20 jenis merchandise kalau mereka mau… Aku saja punya 8 kaos D.C. (iya, iya, terlalu banyak… tetapi, aku geek parah) dan 3 kaos Marvel… Padahal aku termasuk fanboy yang nyantai.

Meskipun tidak ada basis fakta di belakang ini, aku yakin pembaca bisa menalar dan memberikan kira-kira tentang statistiknya…

Kenapa ini terjadi?

Si Fans Sepakbola.

Kenapa bahkan orang dewasa, atau anak-anak ingin punya sebuah merchandise?

Mungkin mereka ingin punya sesuatu yang “langka” karena hukum ekonomi dan hukum sosial untuk showing off dan hal-hal seperti itu. Tetapi aku tidak mengerti kenapa anak-anak menginginkan hal yang sama. Kenapa anak-anak yang dikenalkan dengan merchandise mau punya merchandise? Untuk dimainkan?

Sesudah nonton The Toys That Made Us di Netflix, aku mendapat bayangan. Mari aku kenalkan seorang professor Sosiologi dari College of Lake County, bernama John Tenuto. Ia juga kolektor barang Star Wars. Dia memiliki satu ruangan agak besar yang ia khususkan untuk merchandise Star Wars. Oh iya, kalau Bapak-bapak di sini menanyakan kenapa dia diizinkan punya ruangan untuk merchandise dan juga kenapa dia gak disuruh jual merchandise-nya sebelum nikah… Istrinya juga kolektor. (note to self, cari pacar dan istri yang gak galak soal Merchandise…)

John Tenuto dan Istrinya

Tenuto mengatakan bahwa seorang fans sepakbola misalnya… Bisa pergi ke stadion untuk menonton pertandingan dan mendapatkan vibe bahwa ia dekat dengan pemain-pemain kesukaannya. Seorang fans musik, bisa menonton konser dan mendapatkan perasaan nyata bahwa ia bersama penyanyi kesukaannya, dan mendapat penampilan langsung.

Seorang fans film tidak bisa mendapatkan pengalaman nyata yang sama. Hal terdekat yang mereka bisa dapatkan mungkin menonton ketika film tersebut sedang direkam, tetapi kita tidak bisa mendapatkan perasaan bahwa kita bersama Tony Stark, yang kita dapatkan adalah Robert Downey Jr. sedang memainkan peran Tony Stark.

Hal yang sama tentunya berlaku untuk fans sejarah. Mereka bisa ikut reenactment perang atau kejadian, tetapi tidak bisa terlibat langsung seperti fans musik atau fans sepakbola… Cara mereka melibatkan diri secara langsung adalah dengan memiliki barang yang dipakai dalam kejadian sejarah tersebut.

Dipikir-pikir lagi, kolektor barang yang hardcore umumnya memang terlibat di hal-hal yang mereka memang sukai, serta tidak mudah untuk terlibat langsung.

Contoh-contoh untuk ini adalah:

  • Film/Serial TV
  • Fashion (karena hal yang disukai memang hal yang langsung dikoleksi)
  • Sejarah
  • Video Games
  • Seni
  • Dan masih banyak lagi

Fans sepakbola atau fans musik punya kecenderungan untuk lebih tidak konsumtif dari fans-fans hal di atas dalam konteks merchandise. (ini bukan berarti fans sepakbola tidak konsumtif, hal yang sama dengan fans musik tentunya)

Menurut Tenuto, keterlibatan adalah hal yang krusial bagi seorang fans. Mereka ingin terlibat dalam hal-hal secara langsung ketika sudah benar-benar menyukai sesuatu. Keterlibatan tersebut menjadi alasan dan dorongan untuk membeli merchandise.

Kesimpulan

Pada akhir hari, kita mengoleksi hal-hal yang kita ketahui tidak perlukan.

Seriously. Aku tahu bahwa kita sudah kebangetan dalam konteks koleksi kalau Star Wars menyediakan Rice cooker R2-D2 dan BB-8. Buat apa?

Namun, layaknya semua hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial, mengetahui dan menerapkan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Seorang psikolog yang tahu bahwa manusia punya kesulitan bilang tidak ketika ditawarkan produk belum tentu punya keberanian untuk bilang tidak ketika menerima penawaran produk.

Sama juga dengan koleksi. Menurutku, penting untuk seseorang bisa membedakan hal-hal yang penting dan yang bukan, dan pada akhir hari… Apakah iya bahwa punya Odol merek Star Wars merupakan hal yang penting?

I’m out! Sampai lain waktu!

Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Masak vs Makan Di Luar. -Seri Kopetalis.

Seri Kopetalis adalah Seri Tulisan yang ditujukan untuk mahasiswa, atau Siswa/Siswi SMA yang ingin menghemat uang lebih banyak. Aku di sini memberikan angka dan perspektif mengenai pembelian antara dua opsi yang ada, dan membebaskan pembaca untuk menentukan mana yang lebih cocok untuk mereka. Selain tips finansial dalam kata Kopet, kata Kapitalis juga memberikan tips untuk berjualan dan mendapatkan income lebih banyak tentunya!

Makan di luar rumah? Atau Masak? Ini pertanyaan yang telah membingungkan orang-orang sejak Zaman Yunani kuno. (aku tidak sepenuhnya bercanda, Forum di Athens diketahui memiliki kantin yang menjual makanan Yunani dan jadi tempat Ibu-ibu ngegossip dulunya)

Aku di sini memulai serial, dan akan tentunya berusaha membantu orang-orang yang kebingungan dalam mengambil keputusan, selamat menikmati tulisan hari ini!

The Facts

Kita taruh faktanya saja dulu sebelum menuliskan debatnya.

Aku punya uang jajan 100 ribu tiap minggunya.

Uang jajan tersebut harus cukup untuk iuran Pramuka, makan ketika lagi tidak bersama kedua orangtuaku, dan ongkos angkot (terkadang pulang pergi karena tidak selalu bisa dijemput.)

Nasi atau beras hampir tidak pernah perlu beli, air juga tidak perlu jadi bahan pikiran karena aku ada botol minum dan aku bisa mengisi di perpustakaan kota, masjid, tempat les, dan masih banyak tempat lagi.

Bagaimana cara aku menghabiskan uangku, dan berapa yang aku habiskan tiap minggunya?

Sebelum masuk ke opini dan komentar, kita bahas dulu pengeluarannya secara statistik ya! Sangat sederhana, tapi ada perspektif yang bisa didapat.

Pengeluaran Non-Makanan

Iuran Pramuka 15 ribu

Angkot dari 10-40 ribu tergantung kebutuhan. Kita ambil rata-rata di 25 ribu.

Sisanya gak perlu.

Pengeluaran Makan di Luar…

Sisa uang dari pengeluaran non makanan ada 60 ribu.

Sekali makan, aku menghabiskan dari 10-16 ribu, tetapi aku akan ambil angka tengah, di 13 ribu.

Kurang lebih, aku bisa makan 5 kali dengan uang 60 ribu tersebut, tetapi tidak ada uang ekstra, dan aku harus menunggu awal minggu tiba sebelum bisa mendapatkan uang lebih.

Menekan harga makan ke 13 ribu, bagaimana caranya? Kalau emang mahasiswa sih harusnya kebayang ya makan 13 ribu, mungkin bisa makan sampai 2-3 kali pake uang segitu.

  • Membuat nasi di rumah, beli Lauk sejumlah 13 ribu
  • Makan di kantin Masjid Salman (sangat spesifik) 13 ribu bisa kenyang banget, kadang 7 ribu juga cukup buat makan kenyang malah.

Sebenarnya makan 13 ribu masih kehitung agak mahal buat beberapa orang, tetapi deviasi standar (bahasa keren buat kebiasaan, karena aku suka tampak pintar) aku makan 13 ribu.

Masak Makanan.

Sisa uang dari pengeluaran non makan masih 60 ribu.

Belanja bahan, aku berhasil mendapatkan bahan masakan untuk 5 kali makan dengan ayam senilai 20 ribu, dan sayuran senilai 15 ribu.

Hanya dengan 35 ribu, aku bisa makan kenyang selama 5 kali! Jika aku ingin hemat lauk, angka tersebut bisa ditambah hingga 7 kali makan, namun karena aku doyan makan (maklum), lauk dan sayur habis hanya dalam 5 kali.

Opsi protein apa lagi yang bisa didapat dengan 20 ribu? Harusnya dapat daging sapi (tapi aku gak makan daging merah) dan Ikan (tapi aku males banget masaknya) untuk porsi, coba-coba saja sendiri ya 😀 .

Sayuran 15 ribu kebeli banyak banget lho. Aku dapat Kentang yang cukup untuk makan 6 kali, Buncis untuk makan 10 kali (sampai sekarang belum habis, aku beli 8 hari yang lalu) dan juga bumbu-bumbuan seperti Bawang Daun, Jahe, dan semacamnya yang cukup untuk 2 minggu…

Pro dan Kontra!

Aku bukan preacher.

Aku hanya akan memberikan fakta-fakta dan opini, serta memberitahu pilihanku, pembaca silahkan menentukan sendiri mana yang lebih cocok untuk mereka.

Ini pro dan kontra dari keduanya.

Makan di Luar.

PROS:

  • Makanan harusnya enak. Kecuali anda zonk (tapi kalau pinter milih restoran dan tempat beli lauk, harusnya enak, ini mah bicara skill dan selera)
  • Tidak repot, tidak banyak pikiran.
  • Tidak mengonsumsi waktu, asal gak ngantri panjang-panjang.

CONS:

  • Kontra nomor satu. MAHAL. Aku perlu 60 ribu untuk makan 5 kali, sedangkan aku bisa makan 5 kali, semuanya kenyang, hanya dengan 35 ribu jika masak.
  • Menghasilkan sampah jika takeaway, atau go-food. (bisa dicermati dengan membawa wadah sendiri)
  • Belum tentu kenyang.
  • Butuh sedikit preparasi dan manajemen waktu untuk pembelian makanan.

Tentunya tiap orang punya pengalaman serta pro dan kontra-nya masing-masing, tetapi bagiku, Pro terbesar adalah fakta bahwa tidak ada kerepotan sama sekali.

Masak Sendiri.

PROS:

  • MURAH!!!! Penghematan hampir mencapai 50%, itu pun kalau mau makan kenyang.
  • Masakan sesuai selera, tentunya.
  • Pengalaman belanja ke pasar menyenangkan! Cari saja pasar yang orangnya ramah-ramah, tidak begitu bau, dan kalau anda suka ngobrol, pasti menikmati belanja ke pasar…

CONS:

  • Butuh keahlian masak. Kalau masih suka ujicoba dan tahu-tahu gagal ya…….. Nikmati makan siang anda. (makan siang pertamaku tuh, pas awal-awal nyobain masak, buyar…)
  • Mengonsumsi waktu, baik belanja ke pasar, masak, menyiapkan, dan semacamnya.
  • Tidak cocok kalau suka meninggalkan barang-barang di rumah secara gak sengaja. (aku ketika ke tempat les… “Tempat bekelku mana?” Akhirnya malah baru makan pas sampai rumah lagi)
  • Butuh lebih banyak pemikiran kebanding makan di luar rumah. Isunya sih, kataku ada di fakta bahwa untuk orang yang bosenan (kaya aku) kita perlu terus menentukan menu baru biar gak bosen. Mikirin mau masak apa lebih repot kebanding mau makan di mana.

Tips-Tips!

Sebelum kita tutup dan aku memberitahu pilihanku, nikmati sedikit tips-tips untuk yang mau mulai masak atau makan di luar!

Makan di Luar…

  • Manfaatkan promo, tetapi pintarlah membaca nilai barang. Diskon 50% tidak ada artinya kalau harga awal benda 100 ribu, dan anggaran makanmu cuman 30 ribu.
  • Seperti aku bilang, membawa tromel sendiri membantu mengurangi sampah yang dihasilkan. Alasan untuk mengurangi Go-Food dan Grab-Food juga tentunya.
  • Carilah kantin-kantin di dekat sebuah kampus yang bersih. Bahkan jika anda tidak/belum kuliah kaya aku, makan di kantin sebuah kampus bisa berarti anda menemukan sesuatu yang cenderung lebih murah tentunya!

Masak Sendiri…

  • Kalau anda tidak bosenan, masak hal yang sama tiap harinya. Ini mengurangi beban pikiran.
  • Untuk membuat proses memasak lebih efisien, bisa dilakukan dengan memasak seminggu sekali. Misalnya jika anda hanya punya satu hari kosong tiap minggunya, masak pada hari tersebut, lalu sisakan porsinya, dan hangatkan lagi ketika sudah waktunya makan.
  • Kalau seandainya anda bosenan…Hadapi kebosenan tersebut sampai minggu depan, kaya aku.

Kesimpulan.

Aku sekarang hitungannya masih kelas 12.

Aku sekarang punya banyak sekali waktu luang, mengingat aku homeschool…

Tentunya lebih baik jika aku masak! Walau baru mencobanya selama 2 minggu, proses belanja ke pasar, menghemat uang, dan proses masaknya jadi pengalaman yang menyenangkan bagiku, dan pengalaman ini nanti bisa jadi modal kalau aku Kuliah… 😉

Orang yang senang mengobrol dan ketemu orang sepertiku lebih cocok ke pasar dan masak tentunya. Bahkan kalau aku bosenan, aku bisa menahan kebosenan itu selama 1 minggu, dan masak hal lain di minggu depannya.

Ini bukan berarti makan di luar adalah opsi yang buruk ya… Kalau anda tidak punya waktu untuk masak atau belanja ke pasar, makan di luar tentunya opsi yang lebih baik. Sekali lagi, ini kembali ke preferensi.

Semoga tulisan ini membantu!