Month: October 2019

PLAY, sebuah tulisan. Part 2

PLAY, sebuah tulisan. Part 2

It is a happy talent to know how to play.” -Ralph Waldo Emerson

 

Setelah membaca tentang hasil-hasil riset berkaitan dengan menurunnya kesempatan main pada anak-anak serta fakta bahwa anak-anak sangat menyukai bermain di luar ruangan, maka saya akan melanjutkan menceritakan bagian terakhir dari jurnal The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent – Peter Gray. Menurut saya, bagian terakhir ini adalah bagian yang paling menarik dan bermakna mendalam.

 

Bagian yang akan saya ceritakan adalah bagian yang berisi tentang ‘Bagaimana bermain mendukung kesehatan mental anak-anak’. Peter Gray menulis bahwa, bermain membantu anak-anak untuk:

  1. Mengembangkan minat intrinsic dan kompetensi
  2. Mempelajari cara membuat keputusan, menyelesaikan masalah, mengupayakan pengendalian diri, dan mengikuti aturan
  3. Mengendalikan emosi mereka
  4. Berteman dan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain yang setara
  5. Merasakan kebahagiaan

Melalui ke-5 hal diatas lah bermain menjadi hal yang mendukung kesehatan mental anak-anak.

 

Kembali saya ulas bahwa dalam konteks bermain dari jurnal Peter Gray ini adalah bermain sebagai free play, yang diartikan oleh penulisnya, aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini.

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MENGEMBANGKAN MINAT INTRINSIC DAN KOMPETENSI-KOMPETENSI.

Aktivitas yang berorintensi secara intrinsic, secara definisi adalah bermain atau FREE PLAY. Karena bermain itu sendiri dilakukan untuk bermain, kepentingan utama dalam bermain adalah bermain itu sendiri, tidak ada goal lain atau tujuan extrinsic (tujuan yang diarahkan keluar, bukan dari dalam, misal mendapatkan pujian, mendapatkan nilai, mendapatkan hasil nyata atau terukur atau jelas, sementara tujuan intrinsic adalah kebalikannya, dalam tujuan intrinsic maka hasilnya hanya dapat dirasakan oleh si individu sendiri, oleh karena itu hasil tersebut bisa jadi tidak nyata, tidak terukur bahkan tidak jelas, misalnya rasa puas, bahagia, senang).

 

Bila kita dapat mengapresiasi nilai dari kegiatan anak bermain bebas, maka kita memberikan simpulan bagi anak bahwa anak dapat mengejar tujuan intrinsic, bahwa adalah boleh melakukan yang ingin kamu lakukan, bahwa keputusan kamu bernilai. Sedangkan sebaliknya, bila anak berada dalam dunia yang berorintasi mendapatkan resume, hasil dan nilai, maka dalam masa depannya simpulan anak adalah ‘dunia ini penuh dengan tugas, selalu ada yang beban yang menanti di masa depan dan beban ini adalah sesuatu yang muncul dari pandangan orang lain, kamu pun tak tahu apa beban tersebut, dan tidak ada jaminan kamu akan berhasil memenuhi beban tersebut’. Perlu kita ketahui bersama bahwa uncertainty, ketidak pastian yang sangat kaya dalam pendapat kedua adalah sumber timbulnya depresi dan stress.

Bila saya bayangkan, anak-anak yang tumbuh dengan mengejar tujuan extrinsic, sesuatu yang sangat nyata dan dibentuk lewat pandangan orang lain, bukan pandangan dirinya sendiri, mungkin dapat menjadi anak yang sangat sukses, kompetitif, mampu bersaing, anak-anak yang mendominasi keberhasilan di ruang kelas, atau dalam kompetisi, namun hal yang perlu kita cermati adalah pada waktu tertentu sumbu tersebut akan habis terbakar. Bayangkan bila hidup kita adalah sebuah marathon, ketika kita berlari sangat cepat melibas semua yang berlari disamping kita maka besar kemungkinan nafas kita akan habis sebelum mencapai garis finis, namun sebaliknya bila anak-anak menikmati masa kanak-kanak mereka dengan lembut dan perlahan, tanpa tergesa-gesa, tanpa tekanan akan tujuan extrinsic, maka mereka akan lebih mampu menghadapi hidup dikemudian hari dengan tujuan intrinsic sebagai panduan keberhasilan mereka sendiri.

Dalam kegiatan persekolahan umumnya anak berupaya untuk mendapat pujian, nilai yang baik, atau prestasi yang disematkan oleh orang dewasa, juga dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, atau bahkan dalam kegiatan olah raga, mereka berupaya untuk tujuan extrinsic yang ditentukan oleh penilaian dan pandangan orang lain. Tetapi, dalam FREE PLAY, anak-anak melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan hasil baik yang mereka dapat, apakah itu pembelajaran maupun perkembangan psikologis, adalah suatu produk sampingan dan bukan tujuan sadar dari kegiatannya.

 

 

DALAM BERMAIN, ANAK-ANAK MEMPELAJARI CARA MEMBUAT KEPUTUSAN, MENYELESAIKAN MASALAH, MENGUPAYAKAN PENGENDALIAN DIRI, DAN MENGIKUTI ATURAN.

Bila meningkatnya gangguan kecemasan, stress dan depresi berhubungan dengan perasaan kehilangan kendali akan diri sendiri, maka FREE PLAY adalah obat yang sangat sesuai. FREE PLAY merupakan kegiatan yang diatur dan dikendalikan oleh para pemainnya sendiri. Sementara dalam kegiatan permainan yang diatur oleh orang dewasa, olah raga dan bahkan kegiatan persekolahan pada umumnya, orang dewasa yang menentukan apa yang harus anak-anak lakukan, kapan anak-anak melakukannya, dan bila ada tantangan yang muncul dalam perjalanan tersebut, maka orang dewasa lah yang menyelesaikan.

Tapi dalam bermain, dalam FREE PLAY, anak-anaklah yang menentukan apa yang akan dilakukan dan bagaimana, lalu mereka sendiri yang menyelesaikan masalah yang timbul. Termasuk masalah-masalah yang muncul dalam permainan, yang terkadang dalam kacamata orang dewasa tampak pointless, tidak bertujuan, tidak jelas. Sebagai contoh permainan kejar-kejaran, yang sering dilakukan anak-anak, akan membuat mereka mencari strategi terbaik untuk tidak tertangkap, atau bahkan permainan petak umpet anak berupaya mencari solusi terbaik, tempat persembunyian yang ideal, dan mereka terus belajar dari pengalaman sebelumnya (pengalaman yang mungkin pengalaman mereka tapi juga pengalaman orang lain, pengalaman teman mereka). Selain itu, masalah lain yang muncul diluar permainan, misal bagaimana bila ada anak yang jatuh dan terluka, mereka mencari solusi atas masalah itu sebagai bagian dari kegiatan bermain.

Dalam FREE PLAY, anak-anak belajar mengendalikan hidup mereka sendiri dan mengelola lingkungan sosial dan fisikal disekitar mereka. Mereka juga belajar dan berlatih banyak keterampilan yang penting dalam keseharian dengan itu mereka mengembangkan kompetensi atas keterampilan tersebut dan juga memupuk kepercayaan diri.

Lev Vygotsky, seorang psikolog perkembangan anak, menulis dalam essaynya, bahwa hal utama dalam kegiatan anak bermain terletak pada kesempatan melatih self-control. Beliau menyampaikan bahwa semua kegiatan bermain (FREE PLAY), ada aturan yang muncul dan para peserta yang ikut bermain secara sadar akan mengendalikan diri mereka mengikuti aturan ini. Meski aturannya tidak harus tertulis atau bahkan tidak disampaikan secara jelas, aturan-aturan ini adalah aturan-aturan yang berpedoman pada intuisi (dalam hal ini intuisi anak tentunya).

Sebagai contoh, kala anak bermain berantem-beranteman, maka mereka akan mengendalikan kekuatan yang mereka pakai untuk memastikan tidak menyakiti pemain lain, bahkan ketika si anak satunya jauh lebih kuat dari anak lain, maka ia akan mengendalikan dirinya untuk mengatur kekuatannya dengan upaya tidak menyakiti temannya, atau kala bermain menjadi superhero, maka si superhero akan kuat untuk tidak menangis atau mengeluh, meskipun terjatuh.

Permainan lain yang beberapa waktu lalu menjadi permainan anak-anak Jagad Alit adalah permainan kucing-kucingan, yang cukup menarik, kami sebagai orang tua ketika mendengar dari anak kami bahwa mereka bermain kucing-kucingan langsung membuat kesimpulan bahwa permainan tersebut melibatkan seseorang menjadi kucing dan yang lain berlari menghindari tertangkap, namun alangkah kelirunya kami, ternyata permainan tersebut adalah seseorang menjadi kucing, si kucing akan diikat menggunakan tali, dan karena dia telah menjadi kucing, maka dia akan berjalan dengan 4 kaki, dan bersuara dengan mengeong, serta tidak pergi dari tempat dimana ia ditalikan oleh pemiliknya, dalam kesempatan tertentu si kucing diikat di pegangan pintu dan kesempatan lain kucing terikat di bawah kaki kursi. Peraturan tidak tertulis dan tidak disampaikan secara jelas, tapi dimengerti oleh seluruh pemainnya, bahkan anak lain yang awalnya tidak terlibat permainan akan tidak sengaja terlibat ketika lewat lalu mengelus-elus si kucing dan si anak yang menjadi kucing akan mengeong senang.

Ditulis pula oleh Vygotsky, bahwa keinginan kuat dari anak-anak untuk bermain dan memastikan permainan tetap dapat berlangsung, membawa mereka untuk menerima batasan-batasan yang tidak mudah mereka terima dalam kehidupan nyata. Dan ini adalah fakta bahwa anak-anak mengupayakan self-control yang sangat penting untuk kehidupan sosial di dunia nyata kelak. Dalam bermain anak mempelajari bahwa self-control itu sendiri adalah sumber kesenangan dan kepuasan.

Sangat masuk akal bila kemudian kekurangan kesempatan bermain akan membawa individu kelak kehilangan rasa memiliki kesempatan pengendalian diri. Anak-anak yang tidak mendapat kesempatan untuk mengendalikan tindakan mereka sendiri, untuk membuat dan melaksanakan keputusan mereka sendiri, untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, dan mempelajari bagaimana mengikuti aturan dalam lingkup bermain (FREE PLAY), tumbuh dewasa dengan merasa mereka tidak memiliki kendali atas hidup mereka dan takdir mereka sendiri. Mereka dapat tumbuh dengan merasa bahwa mereka bergantung pada keberuntungan dan kebaikan orang lain, dan betapa menakutkan kala mereka menyadari bahwa keberuntung sejalan dengan upaya dan kebaikan orang lain tidak selalu mereka dapatkan.

 

Sekian dulu, masih ada 3 hal penting lagi yang belum saya bahas yaitu tentang bagaimana bermain anak belajar meregulasi emosi mereka, dan juga bagaimana bermain anak-anak mendapat kesempatan berteman dan belajar untuk hidup bersama dengan temannya secara setara.

Nonlinearitas.

Nonlinearitas.

Aku sudah mencoba 2 ejaan berbeda. Nonlinieritas, dan nonlinearitas, namun sayangnya tidak ada yang masuk di KBBI, karena istilah ilmiah ini bukan hal yang “resmi” seperti Gravitasi, Atom, dan semacamnya. Jadi, aku akan gunakan huruf A untuk mengisi katanya ya.

Nonlinearitas adalah sebuah konsep yang dijelaskan oleh Nassim Nicholas Taleb. Kembali pada konsep statistika yang Taleb sering tuliskan.

Karena ada sedikit isu pengaturan jadwal menulis (dan fakta bahwa aku belum menulis apa-apa minggu ini), tulisan hari ini tidak akan begitu panjang, hanya sedikit di atas 1000 kata, tetapi masih bisa dinikmati seperti biasa.

Batu Milik Raja

Ceritanya seperti ini. Ada seorang Raja di daerah Babilonia yang harus menghukum anaknya karena ia melanggar hukum. Ia menyatakan pada warganya bahwa hukuman tetap harus sama dengan warga biasa, bahwa ia akan ditimpa satu batu raksasa karena telah melanggar hukum tersebut.

Hukum apa? Jangan tanya aku. Kenapa hukumannya itu? Jangan tanya aku juga.

Pada hari penghukuman, ternyata si anak raja tidak bersalah, atau Raja tersebut merubah pikirannya, tergantung versi. Jadi, ia bertanya pada penasehatnya, apa yang bisa ia lakukan tanpa kehilangan muka di depan rakyatnya karena ia plin-plan.

Penasehat tersebut memberikan ide untuk membelah batu tersebut menjadi 1000 bagian berbeda. Jadi jika batu tersebut seberat 1 ton secara utuh, ia akan ditimpa 1000 batu seberat 1 kilogram. Menyakitkan? Iya. Membunuh? Tidak.

Di sinilah dijelaskan nonlinearitas. Batu yang sama hanya akan memberikan efek fatal jika diberikan secara utuh. Dipecah menjadi 1000 bagian yang sama, tetapi terpisah, efek fatal tersebut hilang.

Di sinilah masuk nonlinearitas. Banyak benda dinilai tidak secara linear, dan nilainya akan drop (atau justru naik) ketika ia terpecah belah. Sayangnya menilai barang di pasar dengan cara ditimbang tidak seperti menilai suatu benda di perekonomian nyata.

Semangka yang secara utuh beratnya 1 kilogram seharga 10.000 rupiah, dan jika dipotong 200 gram masing-masing, harganya masih tetap 10.000 per kilogram, dengan tambahan sekitar 500 perak untuk ongkos potong.

Cukup tentang ekonomi tetapi, aku bukan orang yang bisa menjelaskan ini dengan jelas dan tepat, aku ingin membahas nonlinearitas untuk kehidupan sehari-hari, dan tidak satupun berkaitan dengan menghabiskan uang.

Olahraga, Diet, dan Puasa

Ketiga hal ini menjadi hal yang unik untuk dibahas di tulisan hari ini, karena ketiganya sangat nonlinear tanpa membahas satuan harga atau energi. Cukup dengan waktu saja kita bisa membahasnya.

Olahraga

Dua orang yang tinggal di rumah bersebelahan diberikan deadline untuk sampai ke kantor yang sama dengan cara jalan kaki. Jarak ke kantor hanya 2 kilometer kok. Mereka harus sampai pukul 8.00 pagi.

Orang pertama berjalan kaki dari pukul 7.30 dan sampai tepat waktu. Orang kedua, pada sisi lain, bersantai di rumah, dan lari dari rumah pukul 7.50, lalu sampai tepat waktu juga.

Energi yang dihabiskan jelas berbeda kan? Orang yang lari, meski hanya berlari 10 menit untuk menempuh 2 kilometer jelas menghabiskan energi lebih banyak daripada orang yang berjalan selama 30 menit untuk menempuh 2 kilometer yang sama.

Ini alasan pertama adanya nonlinearitas. Energi dan olahraga tidak dinilai secara linear. Kita berlari selama 1 jam dengan kecepatan 5 kilometer per jam, tetap akan menghabiskan energi lebih banyak daripada berjalan selama 5 jam dengan kecepatan 1 kilometer per jam.

Tidak ada rumus, grafik, atau ogive yang bisa dibentuk untuk menilai penggunaan energi, semua orang harus menilai energi mereka sendiri, dan menghabiskannya sepantasnya.

Puasa

Masih dalam topik kesehatan, aku mau masuk ke puasa.

Mana yang lebih efektif sebenarnya. Puasa senin-kamis dalam setahun, tetapi tidak berpuasa selama satu bulan pada bulan Ramadhan (walau aku yakin tidak ada orang yang melakukan ini, dan tolong jangan pikir dari sudut pandang agama saja, tapi justru dari sudut pandang medis dan kesehatan) atau justru puasa Ramadhan saja, tanpa puasa senin-kamis? (seperti kebanyakan orang)

Ini hal yang tidak bisa dinilai secara linear. Orang yang hanya berpuasa Senin-Kamis akan berpuasa selama 102 hari secara konsisten tiap tahunnya, tetapi dibagi rata, satu bulan berpuasa 8-10 hari. Orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan saja, berpuasa secara utuh selama 30 hari berturut-turut, mengistirahatkan tubuh penuh selama bulan tersebut.

Kalau kita adalah sebuah mobil, anggap saja dalam satu tahun, ada satu bulan di mana mobil A tidak dinyalakan, selama mobil B hanya dinyalakan 5 hari dalam seminggu. Istirahat satu bulan penuh lebih berharga daripada istirahat 2 hari tiap minggunya.

Setidaknya dalam pandanganku. Silahkan berdebat kembali mengenai ini, tetapi ambil sudut pandang ilmiahnya tentunya.

Diet

Diantara ketiga konsep di atas, Diet ini menjadi yang paling membingungkan.

Sebelum masuk, aku sudah membaca setidaknya tiga buku tentang psikologi, dan statistika yang menyatakan bahwa diet hanya sukses untuk 1 dari 10 orang, tetapi aku belum sekalipun membaca buku tentang kesehatan yang menjelaskan tentang dietnya sendiri.

Kalau anda bertanya kenapa aku Kekeuh tetap mau menulis tentang diet… Buku kesehatan (misal) membahas tentang manfaat dan kegunaan dari dietnya sedangkan buku statistika dan psikologi membahas keinginan dan kemampuan kita untuk melakukan diet tersebut. Berbeda dengan manfaat, ia menjelaskan cara orang dapat mengumpulkan dorongan psikologis untuk melakukan diet tersebut. Jadi, iya, walau aku tidak tahu tentang manfaat sebuah diet, aku tahu secara kasar usaha yang dibutuhkan untuk melakukan diet, dan terkadang, tahu alasan usahanya muncul lebih penting kebanding manfaatnya.

Jadi, dengan asumsi bahwa diet tidak bisa berjalan untuk 9 orang yang melaksanakannya, mari kita bahas dietnya sendiri.

Diet sendiri bergantung pada orang untuk menentukan apa yang ia makan dan tidak makan bukan, beserta menghitung kalori yang ia dapatkan dari makanan yang ia konsumsi.

Masalah terbesar dari diet dari sudut pandang statistika ada di penggunaan kalori.

Mayoritas diet meminta orang-orang untuk mengonsumsi maksimal sejumlah kalori, dan kalori tersebut tidak boleh didapatkan dari jenis makanan misalnya, telur, tepung, daging, dan seterusnya.

Tetapi, diet ini begitu abu-abu dalam meminta makanannya dikonsumsi sehingga kalori yang perlu dinilai secara nonlinear, dilihat secara linear.

Misalnya seseorang dibatasi ke konsumsi 100 kalori untuk sarapan. Ia memutuskan, daripada ia mengkonsumsi 100 kalori dari 2 roti gandum yang rasanya gak enak, ia akan mengkonsumsi 3 Beng-Beng yang masing-masing berisi 25 kalori. Ia hanya mengkonsumsi 75 kalori, lebih sedikit dari roti gandum, dan rasanya enak…

Namun, jika kita melihat kalori secara linear, alias murni dengan angka, kita akan melewatkan fakta bahwa kalori yang didapat dari roti gandum adalah kalori yang sehat. Sedangkan, kalori dari Beng-Beng, tidak sehat. Jadi, dari sini datanglah masalah ke satuan kalori sendiri untuk makanan.

Kalau diet hanya membatasi kalori beserta jenis makanan untuk menerima kalori tersebut, kita tidak akan bisa melihatnya secara nonlinear, kita akan selalu melihatnya berdasarkan angka saja, sedangkan sama seperti kasus di awal, 1000 batu seberat 1 kilogram tidak memiliki efek yang sama dengan 1 batu seberat 1000 kilogram.

Jadi, diet tidak bisa bekerja dengan baik karena energi dihitung berdasarkan satuan linear. Sementara, kalori sendiri pertama-tama digunakan untuk menghitung energi di sebuah mesin, seperti pemanas, pendingin, dan semacamnya. Jadi… Sistem kalori tidak bekerja?

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

PLAY, Sebuah Tulisan. Part 1

“A person’s maturity consists in having found again the seriousness one had as a child, at play.” -Friedrich Nietzsche

Baru beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah link ke Jurnal berjudul, The Decline of Play and the Rise of Psychopathology in Children and Adolescent, Peter Gray dari seorang guru, mentor yang begitu dekat di hati saya.

Saya perlu menulis karena yang saya dapat dari jurnal tersebut, sangat mencerahkan, dan rasanya terlalu penting untuk tidak dibagikan. Jadi saya memberanikan diri untuk menulis hal-hal yang “gold” dari jurnal tersebut dari kacamata saya tentunya.

Kalimat pertamanya saja buat saya sudah istimewa. Ini kalimat pertama dari isi jurnal, “Children are designed, by natural selection, to play”. Sounds about right, ya ga sih?  Anak-anak selalu mencara cara, menemukan kesempatan, untuk bermain, dan ini dilakukan oleh anak dimana saja di belahan dunia manapun, dan sepanjang sejarah, anak-anak melakukan ini. Fakta ini diperkuat dengan hasil riset antropologis, bahwa bahkan pada kebudayaan berburu pun, anak-anak bermain, setiap hari, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, bahkan saat mereka memasuki masa remaja, dan lewat bermain ini mereka mendapatkan skill dan sikap yang diperlukan untuk masa dewasa.

Photo from China Daily

Photo from DW

Dalam jurnal ini, kegiatan bermain mengacu pada FREE PLAY, yang diartikan oleh penulisnya sebagai  (saya menerjemahkan dengan sederhana saja ya), aktivitas yang dipilih secara bebas dan diatur oleh anak dan tanpa hasil akhir secara sadar kecuali aktivitas itu sendiri. Sehingga, kegiatan yang diprakarsai orang dewasa, olahraga atau permainan untuk anak-anak bukan merupakan bagian dari kategori ini. Penulis meyakini bahwa manfaat free play bergantung pada self-directed dan sifat intrinsic nya (nanti si intrinsic ini akan dijelaskan lebih jauh di bagian selanjutnya).

Terus ketika membaca ini, saya mikir, hmm betul juga, anak-anak jaman sekarang kalau main ya diatur sama orang dewasa, mainnya dimana, kapan, bagaimana, bahkan ga jarang ketemu anak yang nanya, “ini mainnya gimana?”, sama orang dewasa di dekatnya. Esensi FREE PLAY semakin menghilang, berkurang, bahkan pada beberapa kondisi, lenyap. Saya suka karena ketika membaca jurnal kaya data ini, saya menemukan benang merah keterkaitan tentang pentingnya FREE PLAY itu sendiri.

Manusia berkembang dari masa ke masa, perubahan jaman yang terjadi dari masa berburu menjadi masyarakat bercocok tanam, mengurangi kesempatan anak dalam bermain. Pada masa bercocok tanam, anak-anak menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja, biasanya pekerjaan domestik atau pekerjaan di ladang, lalu dengan revolusi industri, anak-anak bekerja di pabrik. Tapi, ketika mereka mendapat kesempatan –dan anak-anak menemukan kesempatan-kesempatan ini- mereka akan bermain, dan pada masa tersebut, mereka bermain dengan bebas, tanpa pengarahan orang dewasa.

Awal abad ke-20 adalah masa keemasaan bagi unstructured play, ini ditulis oleh Howard Chudacoff, seorang profesor sejarah, dalam bukunya the History of Play in America. Dan unstructured play menurut Chudacoff berarti main yang strukturnya ditentukan oleh anak-anak sendiri, dan bukan oleh orang dewasa, jadi ini berhubungan dengan istilah FREE PLAY ya.

Meskipun ruang lingkup Jurnal ini adalah Amerika, tapi hal-hal yang saya baca di jurnal ini sangat sesuai dengan apa yang dialami masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat menengah keatas di kota besar). Hal yang sangat nampak, adalah menurun drastisnya anak bermain diluar ruangan dengan anak lain. Dimasa saya kecil, rasanya wajar main diluar sepulang sekolah, atau bahkan main sepanjang hari kala libur. Kala saya kecil, saat libur saya dititipkan ke rumah Akung, bersama sepupu-sepupu saya, dan sepanjang hari kami bermain. Main yang seingat saya memang tidak jelas, mainnya main apa, main ibu-ibu, kantor-kantoran, masak-masakan, piknik-piknikan, main di balong, jalan kaki ke pendopo (ini dari rumah sekitar 3km, dan kami anak-anak berjalan bersama tanpa didampingi orang dewasa), dan banyak lagi yang saya juga tidak ingat. Tapi, kami bermain bebas, keberadaan orang dewasa kala itu sangat tidak signifan dalam urusan main, orang dewasa hanya memberi kami makan, dan mengingatkan kami untuk mandi, itu saja. Main menjadi urusan kami yang anak-anak.

Saat ini, bahkan di jalanan tempat tinggal kita, sudah semakin jarang kita melihat anak-anak bermain diluar. Kala kita melihat anak-anak main diluar maka akan ada orang dewasa yang hadir memberikan instruksi ini dan itu. Tidak jarang ketika saya berkunjung ke taman atau hutan kota, segerombolan anak-anak ada disana dengan dipandu dan digiring oleh beberapa orang dewasa, kebebasan untuk bermain sudah berkurang, bahkan hilang. Anak-anak mengikuti dengan pasrah apa yang dikehendaki oleh orang dewasa, dan bahkan ketika ada teman bersama mereka, mereka tidak berdaya untuk bermain bersama anak-anak lain, karena ada rencana orang dewasa yang memandu kegiatan mereka.

Data yang didapat dari jurnal, anak-anak bermain lebih sedikit pada tahun 1997 dibandingkan tahun 1981, dan bukan hanya itu, anak-anak juga memiliki lebih sedikit waktu senggang untuk melakukan kegiatan yang mereka pilih sendiri. Sebagai contoh, pada usia 6 hingga 8 tahun, riset menunjukkan penurunan 25% dalam waktu yang dihabiskan anak untuk bermain, dan meningkatnya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi. Bahkan waktu yang dihabiskan anak untuk berinteraksi dengan orang dewasa di rumah pun menurun, angkanya mencengangkan 55% penurunan. Yang meningkat adalah waktu mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, meningkat hingga 145%, bayangkan bila pada tahun 1981 anak menghabiskan waktu 1jam untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, maka 18 tahun kemudian, pada 1997, seorang anak menghabiskan 2,5jam.

Data sebelumnya didapat dari riset yang dilakukan jajaran sosiologis di University of Michigan, dalam studi tersebut bermain juga termasuk main di dalam rumah, seperti bermain permainan komputer, board game, dan juga bermain diluar. Pada tahun 1997, di Amerika total waktu anak bermain dengan permainan komputer adalah 11 jam seminggu. Bayangkan, dengan meningkatnya jumlah kegiatan yang bisa dilakukan anak dengan layar dimasa sekarang ini, bila dihitung-hitung berapa jam mereka habiskan di depan layar? Dan waktu tersebut adalah waktu yang akan lebih baik bagi anak untuk dihabiskan diluar ruangan, bermain.

Dalam studi lain oleh Rhonda Clements hampir 1 dekade lalu, dengan menggunakan sampel 830 orang ibu dari seluruh Amerika Serikat, ditemukan bahwa 83% ibu setuju bahwa anak mereka (usia 3 hingga 12 tahun) bermain diluar lebih sedikit dengan masa mereka dulu. Hasil studi Rhonda Clement ini juga sesuai dengan hasil survei yang dilakukan di Inggris. Fakta yang menurut saya sangat relevan dengan Indonesia saat ini. Bila saya bertanya pada sesama orang tua, 9 dari 10 akan setuju bahwa dulu mereka lebih sering menghabiskan waktu bermain diluar ketimbang anak-anak mereka saat ini.

Menurunnya angka anak bermain di luar seringkali TV dan kegiatan komputer serta kegiatan berbasis layar lainnya lah yang seringkali dijadikan kambing hitam. Dalam riset Clements, 85% ibu memilih TV dan permainan komputer sebagai pilihan kegiatan bagi anak mereka alih-alih bermain diluar. Dalam survei, para ibu mengatakan bahwa mereka sendiri memberikan batasan bagi anak untuk bermain diluar, dengan 82% ibu mengutarakan bahwa masalah keamanan menjadi perhatian utama mereka menghindari anak-anak bermain diluar ruangan.

Orang tua sekarang merasakan lebih banyak ketakutan membiarkan anak bermain diluar ketimbang orang tua mereka dulu, dan media memiliki peranan menghadirkan rasa takut tersebut. Saat ini, bila ada kasus penculikan, pelecehan dan penganiayaan seorang anak dimanapun, kejahatan tersebut mendapat sorotan media yang tinggi. Pada kenyataannya, kasus-kasus tersebut sangat sedikit dan jumlahnya menurun. Namun, orang tua percaya sebaliknya. Ini didukung oleh data yang didapat IKEA melalui survey bahwa alasan utama orang tua tidak mengizinkan anak bermain diluar adalah keamanan anak dari predator seksual 49% dan sebagian lain khawatir akan kendaraan serta bully.

Berdasarkan survey ikea dengan mayoritas responden merupan responden internasional, 54% orang tua menyatakan bahwa anak mereka PALING BAHAGIA ketika sedang bermain diluar. Dan hanya 19% orang tua yang mengatakan anak bahagia kala bermain permainan elektronik. Dalam studi itu juga ditemukan 89% anak lebih menyukai bermain diluar dengan teman, ketimbang menonton televisi. Serta dalam survey online, pada rumah dengan akses komputer dan internet, 86% anak memilih bermain diluar dibandingkan menggunakan komputer dirumah.

Salah satu penyebab lain menurunnya kesempatan anak untuk bermain adalah, meningkatnya waktu dan beban persekolahan, serta kegiatan yang diarahkan orang dewasa (adult directed activities). Kalender akademik menjadi lebih panjang, hari sekolah menjadi lebih lama, bahkan semakin banyak anak-anak yang menjadi bagian dari kegiatan prasekolah yang berbasis akademik. Membaca ini, saya berpikir jauh tentang kegiatan di sekolah Alice, yang 80% nya adalah FREE PLAY. Serta bagaimana tim akademik SD Arunika berusaha mengatur ritme yang menyediakan waktu istirahat yang panjang bagi anak-anak, bayangkan dalam 4 jam waktu bersekolah ¼ nya adalah waktu istirahat bagi anak-anak. Yang terjadi kala waktu istirahat di sekolah Arunika, adalah anak-anak ngobrol, main, bahkan berkonflik, dengan semua ini anak-anak juga mendapatkan banyak manfaat.

Jurnal masih panjang, tulisan ini bersambung yaaaa..

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kembali lagi ke seri Kuliah Umum di ITB. Topik di tulisan hari ini membahas tentang manusia. Ada kabar baik dan buruk yang perlu diberikan sebelum membaca dan masuk ke artikel ini.

Kabar baiknya, siklus satu sudah habis! Ini adalah materi kedua dari terakhir, dan aku masih punya hutang tulisan karena aku sakit minggu lalu, dan tidak sempat menulis. Kabar buruknya, ini berarti aku tertinggal satu minggu, karena ada materi yang menjelaskan tentang kesadaran, yang diberikan hari selasa kemarin, tanggal 1 Oktober.

Kabar baik lainnya karena minggu depan kuliah umum Sains di ITB sedang istirahat… aku bisa mengejar tulisan tersebut tanpa ada tambahan tunggakan.

Sekarang, masuk ke topik, selamat menikmati.

Filosofis? Biologis?

Aku sempat kebingungan dan memberikan ekspektasi yang salah pada kuliah kali ini. Jangan anggap aku meremehkan, justru kuliah kali ini mengalahkan ekspektasi dengan jauh. Hanya saja dari sudut berbeda.

Sesudah kuliah umum sekitar 20 kali tentang Filsafat, dan sesudah membaca banyak mitologi dan sedikit sastra dari seluruh dunia dan banyak era, pertanyaan ini sering kupikirkan, tetapi tidak sekalipun aku tanyakan dari sudut pandang biologi.

Ternyata, aku berpikir terlalu kompleks. Ketika aku membandingkan manusia dengan hewan dari sudut pandang filosofis, dan yang tidak empirik sama sekali, aku akan mencari cara untuk menjelaskan alasan kita menyukai seni, kita menyukai sains, kita percaya pada pemimpin, kenapa ada agama, dan blablabla yang sangat panjang.

Jawaban yang diberikan Prof. Djoko dari SITH (calon dosen pas nanti kuliah berarti… Amin) tidak lebih kompleks dari kromosom dan kode genetika. Pelajaran SMA. Jadi untuk pertama kalinya, aku memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjelaskan tentang sains di blog ini!

Mengabaikan lelucon, aku yakin 100% aku berpikir terlalu jauh ketika aku ingin menanyakan pertanyaan, apa yang membuat kita manusia? Prof. Djoko tidak menjelaskan dengan rumit. Ia hanya menjelaskan bahwa 98% dari kode genetika manusia sama dengan simpanse, dan kode genetika kita juga sama dengan 40-60% dari lalat.

Lalu, kenapa 2% dari kode genetika tersebut menjadi pembeda yang signifikan? Kenapa kita pintar, bisa bicara, bisa menulis tulisan seperti ini, bisa menghitung dan mengkhayal, sementara simpanse tidak?

Oke, memang betul, Enzim penyusun simpanse berbeda jauh dengan manusia, tetapi kalau kita membandingkan makhluk yang enzim penyusunnya paling mirip dengan manusia, kita akan memandang diri kita lebih rendah lagi. (Makhluk dengan enzim penyusun paling mirip dengan manusia, mencapai 92% kesamaannya adalah… Babi.)

Untuk orang yang bingung, kita anggap saja bahwa enzim penyusun adalah bahan bangunan, sementara kode genetika adalah struktur yang dibangun.

Simpanse merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan kayu, Manusia merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan batu, sementara Babi merupakan rumah berbentuk bulat yang dibuat dengan batu. Bahan penyusun sama, dibentuk secara berbeda dalam kasus Babi, bahan penyusun beda, dirancang secara sama dalam kasus simpanse.

Jadi, sekedar 2% dari kode genetika dan 8% dari enzim penyusun yang membentuk manusia menjadi faktor yang sangat penting. Kenapa kita pintar, sedangkan simpanse dan babi tidak sepintar kita? (oke, sejujurnya kalau membaca komentar orang di situs-situs di Internet, aku khawatir simpanse lebih pintar dari kita, tapi anda mengerti maksudku)

Rahang, Otak, dan Telinga.

2% kode genetika tersebut lebih dari cukup untuk mengubah bentuk rahang, telinga, dan punggung. Hanya sekedar dua persen saja membuat kita pintar, karena dua persen tersebut adalah dua persen yang mengubah hal-hal yang tepat.

Rahang kita masuk lebih dalam, telinga kita dapat mengatur keseimbangan, dan punggung kita tegak.

Kubahas satu-satu.

Rahang

Ukuran rahang yang semakin dalam memberikan kepala yang ukurannya umum sama dengan primate lainnya, untuk memberikan tengkorak yang lebih besar. Tengkorak yang lebih besar, berarti ukuran otak yang bisa disimpan dalam tengkorak tersebut, lebih besar juga.

Tanpa kehilangan fungsi penting dari rahang untuk mengunyah daging serta sayuran, kita memiliki otak yang cukup besar untuk memproses informasi yang kompleks.

Dengan kehilangan gigi tonggos dan rahang maju, kita telah membuat diri kita sebagai manusia yang lebih intelijen

*OUT OF TOPIC: Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika manusia diberikan waktu untuk evolusi lebih lanjut, mungkin kita akan seperti professor X tetapi tidak punya mulut, dan mendapat nutrisi dari sumber lain, karena kepala kita terlalu besar untuk menyisakan tempat untuk mulut.

Telinga

Telinga kita berevolusi agar kita punya keseimbangan ketika kita berjalan. Ya. Telinga kita memiliki saluran untuk menjaga keseimbangan di seluruh tubuh.

Bagi orang-orang yang suka bermain game, atau tahu tentang senjata perang, ini alasan Flashbang mampu membuat seseorang bingung parah. Suaranya cukup untuk mengganggu saluran keseimbangan di telinga, dan membuat mereka jatuh sampai saluran tersebut kembali normal.

Ini subjek sensitif bagiku. Kenapa? Aku punya sedikit masalah keseimbangan. Maksudku, aku tidak bisa naik sepeda, aku punya masalah jalan di blok kayu tanpa terjatuh, dan isu kognitif lainnya.

Jadi, ketika aku mendengar bahwa saluran keseimbangan adalah salah satu alasan kita bisa menjadi lebih pintar, aku mengerti jelas kenapa diriku yang kecil punya isu dalam bergerak, dan tidak suka bermain seperti anak-anak lainnya yang tidak diberikan Gadget atau Televisi.

Kembali ke topik lagi. Kita butuh saluran keseimbangan ini untuk turun dari pohon dan tidak lagi perlu tinggal di pohon, dan pindah ke gua, lalu ke rumah. Ketika mulai berburu, kita bisa meninggalkan jejak dan berinteraksi lebih lanjut, dan kita menjadi manusia yang lebih pintar.

Punggung

Sesudah telinga kita mendapat update untuk menjaga keseimbangan. Tulang punggung kita beradaptasi agar tubuh kita lebih kaku, tetapi juga tambah kuat.

Kita memang tidak selentur simpanse, tetapi karena kita mulai bisa berjalan tegak, kelenturan itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga kita menjadi lebih kaku, lebih kuat, dan lebih terstruktur.

Stamina kita bertambah, dan kekuatan kita bertambah, karena sekarang, kita punya tubuh yang mampu menahan keseimbangan ketika berjalan dengan tegak, tidak seperti Gorilla, atau Simpanse lagi. Dari sudut pandang fisik murni, tanpa latihan atau semacamnya, manusia sebagai spesies harusnya lebih kuat dari Gorilla dalam kasus berdiri atau bergerak.

Bagaimana kalau berantem? Kamu mau coba sendiri? Silahkan, tetapi aku tidak mau tanggung jawab.

Sebelum mengakhiri dengan beberapa statement di bagian selanjutnya ada klarifikasi terlebih dahulu tentang enzim penyusun, Enzim penyusun irelevan kalau kita membahas intelegensia, karena hal-hal yang diatur enzim adalah hal yang semua makhluk hidup harus miliki, seperti kemampuan bernafas, bergerak, makan, pipis, dan pup.

Perbedaan Etnis

Kalau kita membandingkan perbedaan antara spesies lain, setidaknya kita akan menemukan 2% bukan? Kerabat terdekat Homo sapiens yang sudah pintar seperti kita adalah simpanse, tetapi, berapa banyak perbedaan antara dua ras Homo sapiens?

Perbedaan tersebut hanya mencapai 0.02%. Sebuah perbedaan yang tidak dilihat oleh anak kecil, dan baru dilihat ketika sudah mencapai usia remaja.

Pesan untuk guru-guru TK dan SD: Jika anak-anak memilih-milih teman, tolong salahkan orangtua mereka. Secara genetik DAN evolusioner, mereka tidak mungkin memilih-milih teman.

Lalu kenapa angka intoleransi meningkat secara drastis?

Prof. Djoko menggunakan kata yang ia berikan disclaimer sebagai kata yang “kasar” yaitu cuci otak.

Prof. Djoko bukan ahli dalam bidang perbedaan budaya, itu diluar ranah biologi miliknya, namun ia yakin bahwa jika ada perbedaan etnis, atau ras, manusia tidak akan melihatnya kecuali ada yang menunjukkan hal tersebut. Ia tahu bahwa manusia melihat perbedaan secara budaya, bukan secara etnis.

Mulai dari paragraf ini, kata-kata di sini aku tambahkan sendiri ya, tidak ada kata dari Prof. Djoko atau Pak Hendra sebagai koordinator kuliah umum Sains ini. Aku menanggung semua kata-kata sesudah paragraf ini. (Oh iya, mengenai struktur enzim yang mirip dengan babi juga aku mengambil tanggung jawab penuh, itu atas riset sendiri)

Ini mungkin alasan partai-partai konservatif biasanya tidak menggunakan perbedaan etnis atau ras sebagai alasan utama mereka menciptakan “Boogeyman”, tetapi mereka menggunakannya sebagai pembeda, dan akhirnya turun dari pembeda tersebut stereotipe berdasarkan ras. Sama seperti yang Trump lakukan dengan Meksiko.

Contoh saja ya. Trump menyatakan bahwa imigran Meksiko merupakan kriminal dan berbahaya bagi negara Amerika. Ini merupakan tuduhan budaya, bukan tuduhan ras. Trump lalu menyatakan bahwa ia harus melindungi Amerika dari isu ini. Ini juga merupakan tuduhan budaya. Pendukungnya menyimpulkan bahwa orang-orang meksiko merupakan orang kriminal. Dari tuduhan budaya tersebut, muncullah tuduhan ras, sesudah ada kesadaran akan perbedaan budaya.

Permainan ini merupakan hal yang pintar, dan licik, karena orang yang memercik api pertama tidak berusaha untuk menyalahkan ras, tetapi menyalahkan tindakan yang dilakukan, dan menggantungkan penyalahan ras-nya oleh pendukung atau penerima informasi.

Jadi, apa pendapat anda tentang ini? Selamat merenung dan berpikir…

Tyrant’s Tomb by Rick Riordan. Rekap dengan Spoiler

Tyrant’s Tomb by Rick Riordan. Rekap dengan Spoiler

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Jadi anda datang ke sini ya. HAHAHA!

Ingat ini versi dengan spoiler, dan tulisannya hanya sedikit sama dengan versi bebas spoiler karena aku bisa mereferensikan kejadian tanpa khawatir merusak pengalaman membacamu.

Baca dengan peringatan bahwa ini mengandung sangat banyak spoiler.

HAPPY ENDING

Aku melakukan kesalahan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk ending tragis sekali lagi, padahal di Percy Jackson, dan di Heroes of Olympus, Riordan selalu membuat buku ketiga buku yang paling tragis, dan buku keempat dengan ending yang happy, tetapi masih menggantung.

Hore! CALIGULA MATI! RASAIN! Commodus juga, tapi… yeah…

Lubang-Lubang Cerita?

Riordan meminta 6 bulan untuk menutupi lubang yang ia ciptakan.

Frank Zhang membakar kayu yang katanya mengikat hidupnya. Kayu itu habis terbakar, hidupnya juga habis, dan ia akan terbakar juga.

Reyna yang katanya tidak akan pernah sembuh hatinya, menjadi sembuh, dan mengikuti Hunters of Artemis.

Rick Riordan melakukan hal yang sangat nekat dengan menggali satu lubang besar di Tyrant’s Tomb. Untungnya, lubang ini adalah lubang yang positif. Ini sebuah lubang yang Riordan khusus ciptakan untuk menghapus fakta bahwa ramalan dan takdir bisa ditulis ulang.

Selama 13 buku lainnya yang Riordan tulis. 19 jika menghitung Magnus Chase dan Kane Chronicles… Riordan memastikan hanya ada satu hal yang pasti, ramalan dan takdir tidak bisa ditulis ulang.

Frank Zhang

Frank menerima ramalan bahwa ia akan meninggal begitu sepotong kayu dari perapian rumah keluarganya (yang ia ambil tentunya) terbakar. Namun, ia membakar kayu tersebut dan mengakhiri habis ramalan bahwa ia akan terbakar bersama kayu tersebut, ketika akhirnya, Frank masih hidup.

Pada akhirnya, aku harus membayarkan Oreo ke temanku karena kita sudah bertaruh bahwa Frank akan mati, ternyata ia masih hidup.

Ya sudah. Sejujurnya Frank merupakan salah satu karakter kesukaanku di Riordanverse jadi kalau aku perlu membayar 3 buah Oreo tetapi ia masih hidup, aku rasa itu harga yang patut.

Tips: Ketika ingin bertaruh seorang karakter akan mati, pilih karakter favorit anda. Jika dia tidak mati, anggap saja itu kompensasi kehidupan karakter tersebut, jika dia mati, anggap saja itu kompensasi kesedihan untuk kematian karakter tersebut. Itu win-win.

Riordan melakukan hal yang nekat dengan ini, karena ini memberikan sebuah kemungkinan untuk penulisan ulang ramalan, hal yang seharusnya tidak mungkin di mitologi secara umum. Kurasa ini hal yang bagus sih, semakin sering membaca buku Rick Riordan, semakin sadar aku bahwa banyak karakter yang hidupnya bergantung pada ramalan yang diutarakan beberapa buku sebelumnya, dan itu menjadi hal menyebalkan kadang.

Aku sempat berpikir bahwa Frank akan benar-benar mati ketika ia sudah membakar dirinya dan Caligula di Caldecott Tunnel. Aku tahu bahwa Riordan sudah serius ketika ia membunuh Jason di Burning Maze, itu berarti bahwa tidak ada tokoh utama yang selamat dari kematian.

Maksudku, jika Riordan benar-benar membunuh Frank, aku merasa ia sudah mengambil satu langkah terlalu jauh. Begini ya…

Jason Grace adalah Captain America. Ia bertanggung jawab, ia “sempurna” dan ia adalah pahlawan yang kematiannya membangunkan dan membuat orang-orang menyadari mereka membuat kesalahan. Di komik Civil War, Civil War sendiri berhenti begitu Captain America mati. Para pahlawan menyadari bahwa ada kesalahan yang terjadi. Kamu ingin membuat seseorang dewasa, bunuh Jason, atau bunuh Captain America.

Frank Zhang, pada sisi lain… seperti Spider-Man. Ia kuat, ia bertanggung jawab, ia mulia juga. Tetapi ia lebih kekanak-kanakan. Ia karakter yang dicintai semua orang, ia memang sering dijelaskan sebagai orang yang imut sejak ia dimunculkan di Son of Neptune, dan Frank memang menggemaskan kadang.

Frank memang pahlawan juga, sama seperti Jason, tetapi membunuh Spider-Man tidak akan menciptakan efek yang sama seperti membunuh Captain America. Keduanya akan disambut dengan sedih, tetapi kesedihan yang terjadi jika Spider-Man mati, adalah kesedihan murni, tanpa perasaan penebusan diri yang didapat jika Captain America mati.

Jadi sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan Frank Zhang mati.

Tower of Nero?

September 2020 akan menutup Trials of Apollo, dan 2021 akan membuka cerita baru lagi, dan Riordan tidak akan menggunakan Greek/Roman mythology sebagai cerita utama, tidak lagi. Ia akan beralih ke Norse/Egyptian.

Tetapi, sementara itu, apa yang akan terjadi di Tower of Nero?

Ramalannya berbunyi…

O Son Of Zeus the final challenge face

The To’er of Nero two alone ascend

Defeat the beast that has usurped thy place

Dan hanya itu.

Sebuah ramalan yang sangat sederhana. Riordan tidak ingin orang-orang banyak berasumsi hal akan terjadi seperti yang tampak sesudah prophecy 14 baris di Dark Prophecy, dan prophecy cryptic di Burning Maze.

Ketiga baris itu sangat obvious (pertama hanya penjelasan singkat, kedua tentang tower of nero, dan ketiga tentang Python yang dibangkitkan Gaia di Blood of Olympus), mengingat judul buku kelima sudah keluar dan judulnya memang Tower of Nero. Untungnya, walau barisnya sangat obvious, Riordan memberikan kesempatan untuk orang-orang berasumsi ada baris lain.

Terza Rima yang Dante ciptakan di The Inferno menjadi skema ramalan kali ini.

Berarti, tiga baris berikutnya akan berhubungan dengan baris ini, dan baris satu dan tiga akan berirama dengan Ascend. Apa yang mungkin terjadi ya? (Aku menyesal bacanya terlalu cepat eh…)

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Ini adalah REVIEW tanpa spoiler tentunya. Jika anda ingin diberikan spoiler, atau ingin recap singkat cerita, silahkan klik link ini, dan diam.

Dari Mana Ceritanya Bersambung?

Oke, ada sedikit sekali spoiler yang wajib untuk memberikan review yang menyeluruh. Cerita bersambung sesudah berapa lama?

Burning Maze berakhir ngegantung dengan kematian dari Jason Grace dan munculnya Leo Valdez yang kembali dari Camp Jupiter sesudah mengantarkan kabar. Apollo berangkat naik pesawat ke Camp Jupiter di San Francisco dengan tujuan mengantarkan mayat temannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Cerita ini bersambung sekitar… 2 jam sesudah bab terakhir dari Burning Maze. Aku sendiri tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari Los Angeles ke San Francisco, tetapi aku tahu jaraknya tidak begitu jauh. Intinya, bab terakhir Burning Maze berlangsung di hari yang sama dengan bab pertama Tyrant’s Tomb.

Jadi, jika anda ingin bertanya… Apakah timeline di bukunya lama? Jawabannya tidak. Riordanverse masih nyangkut di tahun 2012. Percy masih berusia 17 tahun dan belum lulus SMA.

Menegangkan, tetapi Lambat.

Cerita Tyrant’s Tomb berlangsung dengan cukup pelan sejujurnya.

Sebelum membangun ulang plot baru untuk buku selanjutnya, dan membereskan pertanyaan yang muncul pada Dark Prophecy dan Burning Maze, Riordan memulai dengan santai dan menjelaskan isi Camp Jupiter, (hal yang ia belum pernah lakukan di Heroes of Olympus) memastikan semua hal aman, dan plot-plot tersambung dengan rapih.

Kurang lebih, plot Tyrant’s Tomb berjalan seperti puisi ABAB. Tegang 4 bab, tenang 4 bab lagi, Tegang, Tenang, Tegang, Tenang. Dalam konteks cerita, Apollo tidak mengalami hari-hari santai sebanyak yang ia alami di Hidden Oracle, tetapi ia juga tidak berusaha dibunuh sesering yang ia alami di Burning Maze dan Dark Prophecy.

Plot berjalan dengan lambat sampai 8 bab terakhir, tetapi Riordan memastikan bahwa pembaca tetap merasa tegang sesekali.

Aku melakukan Speed-Reading tingkat parah sesudah bab 35, meskipun aku membaca 34 bab sebelumnya dengan sangat santai.

Plot Twists?

Aku tahu pembaca akan kebingungan jika aku bilang… “BUKU INI BANYAK PLOT TWIST-NYA”

Aku juga berpikir hal yang sama sesudah membacanya. Sesudah plot twist terbesar sepanjang tulisan Riordan yang terjadi di Burning Maze, aku tidak mengira Riordan masih mampu menciptakan plot twist lebih banyak lagi.

Tetapi, aku mengingat bahwa ada sekitar 3 plot twist yang menutup Tyrant’s Tomb di akhir bukunya.

Oh iya, catatan sangat penting. Jika anda belum membaca bukunya, anda tidak ingin membaca Tyrant’s Tomb dengan spoiler. Itu akan menjadi keputusan yang sangat buruk. Berbeda dengan di Burning Maze di mana anda yakin 100% bahwa Jason Grace telah mati satu bab sesudah dia dibunuh Caligula, Tyrant’s Tomb memberikan plot twist yang unik.

Anda akan merasa tegang jika anda tidak mengetahui bagaimana ceritanya berakhir, jadi, jangan baca bab-bab terakhir sampai gelombang ketegangan terakhirnya telah lewat.

Mitologi?

Seperti buku Trials of Apollo lainnya, Riordan langsung mengenalkan monster baru di bab-bab awal, dan langsung memberikan kerepotan khusus bagi Apollo dan Meg McCaffrey. Jadi, indeks monster mitologis anda tetap bertambah di Tyrant’s Tomb, jangan khawatir.

Selain itu, sumber ramalan yang dituju Apollo pada buku keempat ini adalah buku Sibylline yang ditulis Sibyl of Cumae ketika Romawi masih berupa sebuah kerajaan, sebelum Julius Caesar, sebelum Octavian, sebelum Caligula, dan sebelum Marcus Aurelius.

Buku Sibylline sendiri dikira telah dibakar oleh kaisar Theodosius ketika ia memimpin, namun pada Son of Neptune, Percy, Frank, dan Hazel bertemu dengan seekor Harpy yang memiliki memori fotografis bernama Ella, yang pernah membaca buku yang telah hilang tersebut.

Ella berusaha memecahkan misteri dan merekonstruksi buku tersebut, mengakhiri bab terakhir Tyrant’s Tomb dengan sebuah pertanyaan, sama dengan ketiga buku sebelumnya.

Selain itu, aspek besar lainnya dari Tyrant’s Tomb ada di pengaruhnya Romawi sebagai republik. Bukan sebagai mitologi, tetapi aspek historiknya.

Jika di Camp Half-Blood semua tindakan pahlawan-pahlawan disitu terjadi secara acak, secara tidak terstruktur, dan kemungkinan terjadi karena ada ramalan, atau atas perintah Chiron… Camp Jupiter lebih demokratis dalam penentuannya.

Proses demokrasi ini semacam memperlambat plot, tetapi membacanya tetap menyenangkan, jadi jangan khawatir.

Lester?

Apollo jelas tumbuh sebagai karakter sesudah kematian Jason. Ini hal yang patut dibaca karena semakin ke sini, karakter Apollo sebagai dewa manja semakin hilang, dan walau ia masih suka mengeluh dan memang mengeluh beberapa kali, ia lebih dewasa dan heroik.

Pertumbuhan Apollo sebagai karakter jelas menjadi salah satu alasan Riordan menunda perilisan buku ini. Hanya dalam selang waktu beberapa hari sesudah Jason Grace terbunuh… karakter Apollo berubah drastis.

Apakah Tyrant’s Tomb Pantas Ditunggu Selama Ini?

IYA! Tyrant’s Tomb pantas ditunggu selama ini. Setidaknya, jika anda tidak puas dengan cerita, atau tidak menyukai plot yang relatif lamban ini… adanya deskripsi yang cukup detil tentang Camp Jupiter, New Rome, dan aktivitas demigod Romawi yang berbeda jauh dengan demigod Yunani cukup untuk memuaskan rasa penasaran anda.

Selain itu, pertemuan dengan Frank Zhang, Reyna, dan demigod Romawi lainnya juga menyenangkan, dan memberikan sebuah bentuk kepuasan tersendiri.

Ini review bebas spoiler, dan sejujurnya, buku ini sangat sulit dijelaskan tanpa spoiler, jadi… baca sendiri saja! Selamat menikmati!