Month: September 2019

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Aku kembali ikut kuliah umum berseri! Hore! Kali ini, aku ikut kuliah umum di ITB, dengan tujuan kembali ke dunia empirik sesudah banyak (banget) mengkhayal di Unpar.

Materi pertama yang kudapatkan di serial Kuliah Umum Sains arus 1 tentang… *masukkan drumroll* alien. Oke, mungkin bukan alien, istilah alien sendiri kurang tepat, lebih tepatnya kehidupan di planet lain.

Materi ini diberikan Ibu Avivah dari Langit Selatan.

(buat yang tidak berdomisili di Bandung, atau memang tidak tahu… Langit Selatan adalah sebuah organisasi yang lumayan sering mengadakan acara observasi bintang.)

Selamat menikmati recap + komentar dan opini dari kuliah umum kali ini!

Materi-Materi Pembentuk Kehidupan.

Sebelum masuk terlalu dalam ke konsep pencarian dan cara pencarian oleh astronom di dunia, pertama-tama mari kita masuk dan mencari apa yang sedang dicari.

Air

Materi nomor satu yang dicari. Air. Kenapa air? Dari zaman filsuf Yunani, tepatnya, Thales dari Miletus, salah satu bapak dari ilmu pengetahuan, air adalah benda yang paling krusial dalam pembentukan kehidupan.

Air berperan penting dalam kehidupan manusia, serta dalam suhu, serta tekanan udara di suatu planet.

Jika planet dapat menyokong air dalam bentuk cair, besar kemungkinan bisa ada makhluk hidup yang mampu tinggal di planet tersebut tanpa merasakan suhu terlalu panas, terlalu dingin, dan tanpa kehilangan oksigen.

Oksigen

Kehidupan yang similer, (walau berbeda bentuk) dengan manusia, kemungkinan besar menggunakan oksigen sebagai gas yang berperan dalam respirasi. Jika ada air, maka ada oksigen, dan jika ada oksigen, berarti ada makhluk hidup yang mampu memprosesnya.

Adanya air berarti adanya oksigen, walaupun tidak dalam bentuk murni, dan adanya oksigen berarti ada kemungkinan penyokongan air.

Alasan penggunaan air sebagai fluida dan Oksigen sebagai gas yang menjadi kriteria pencarian planet yang mungkin bisa menyokong kehidupan, ada di pentingnya air untuk kehidupan berbasis karbon. Faktanya, kehidupan berbasis karbon (seperti pada dasarnya semua makhluk hidup di bumi) membutuhkan air, dan tentunya oksigen untuk bisa hidup.

Pertanyaan, mungkin, apakah mungkin jika ada penyokongan kehidupan dengan unsur lain, selain karbon misalnya?

Meskipun tidak dicari (setidaknya tidak dalam demand sebesar karbon), jawabannya iya, ini hal yang mungkin. Sebagai contoh (yang memang borderline science fiction, tapi tetep…) kehidupan berbasis Silikon tidak butuh air ataupun oksigen. Kehidupan berbasis Silikon akan cenderung mekanikal/robotika.

Planet-Planet yang dicari?

Kita sudah tahu apa zat yang dicari… sekarang mari kita masuk ke planet-planet yang dicari.

Pertama-tama… Planet batuan, atau setidaknya, satelit dari planet batuan. Karena, kita tidak bisa berdiri di atas gas, dan planet es akan membekukan semua potensi kehidupan. Oh, dan gravitasi dari planet gas terlalu besar untuk bisa membiarkan kehidupan tumbuh.

Kedua, planet tersebut harus berada di zona Laik Kuning. Namun, karena nama Laik Kuning terdengar membosankan, kita akan mengenal zona Laik Kuning dengan istilah Zona Goldilocks, dinamakan dari cerita Goldilocks and the Three Bears. Not too hot, not too cold. Cari sup milik anak beruang, bukan Papa Beruang (yang terlalu panas), atau Mama Beruang (yang terlalu dingin).

Ketiga, kemungkinan besar, planet tersebut harus berada di tata surya dengan bintang berwarna merah atau kuning, dan tidak terlalu besar.

Kriteria pencarian sudah dicoret, sekarang mari kita masuk ke pencarian itu sendiri!

Tata Surya

Sebelum mencari terlalu jauh…

Kabar baik, di alam semesta ada tiga satelit yang memiliki potensi untuk punya air. Adanya air berarti adanya oksigen, dan ini memberikan kemungkinan adanya kehidupan, atau setidaknya bibit-bibit kehidupan yang bisa muncul dari hal tersebut.

Pertama-tama, ada dua Satelit Jupiter, Europa, serta Io. Keduanya diberi nama berdasarkan pacar dari Dewa Jupiter sendiri (seperti semua satelitnya yang lain, karena pacarnya Jupiter sangat banyak), dan Europa adalah alasan benua Eropa bernama Eropa.

Kedua satelit tersebut memiliki atmosfer serta tekanan udara yang cukup untuk menyokong air, dan tentunya oksigen, tetapi memiliki sedikit masalah karena terletak cukup jauh dari matahari, dan memiliki jumlah es yang tidak sedikit. Io, memiliki air di bawah lapisan es yang tebal…

Berikutnya, ada Enceladus, satelit dari Saturnus, dan diberi nama dari seorang raksasa yang merupakan adik dari Saturnus, yang lahir dari Ibunya, Terra. Enceladus lahir untuk melawan Dewi Kebijaksanaan Minerva (juga diketahui dengan nama Yunani-nya, Athena).

Enceladus sendiri tampak seperti bulan. Berwarna abu-abu, sedikit berdebu, dan memiliki beberapa jerawat…

Tetapi, Enceladus memiliki air, atau setidaknya cairan. Ada metana di bawah lapisan berdebu tersebut. Memang, tidak ada air, dan secara teknis, seharusnya tidak perlu pencarian karena tidak adanya air, tetapi, Enceladus begitu dekat sehingga tidak mungkin untuk mengabaikan fakta bahwa ada kemungkinan kehidupan muncul di satelit tersebut.

Mungkin pada titik ini anda akan bertanya… “Kalau ada alien di Enceladus, bentuknya seperti apa?” Aku akan masuk ke sini, tetapi… sabar sedikit.

The Rest of the Universe?

Selamat datang di bagian yang berisi banyak hitungan matematika yang sebenarnya tidak penting, dan tidak ada di kuliah umum, tetapi aku ingin melakukannya karena menurutku ini menyenangkan!

Jika ada 100.000.000.000 galaksi di alam semesta. (angka merupakan tebakan kasar dari banyak membaca buku dan sejujurnya, siapa yang tahu jumlah pastinya?)

Dalam tiap Galaksi, ada 100.000.000.000 Bintang. (Sama, tebakan kasar juga, lagian, siapa yang tahu?)

Jika kita asumsikan, satu Bintang memiliki 8 planet, berarti ada 800.000.000.000.000.000.000 planet yang memiliki potensi kehidupan. Sayangnya, bintang yang berwarna Merah atau Kuning, ataupun bintang katai merah (sedikit lebih kecil dari Matahari) hanya 1/10, mungkin lebih sedikit dari jumlah tersebut.

Berarti, kita ada 8.000.000 planet untuk dipikirkan. Berikutnya, dalam satu tata surya, hanya ada (paling banyak) 3 planet yang terletak di zona goldilocks. Berarti, dari 9-10 planet di satu tata surya, hanya 3 yang memiliki potensi kehidupan. Ini menyisakan 1.6 sekian juta…

Dari begitu banyak planet yang ada di tata surya… apakah anda bisa berpikir bahwa hanya di bawah dari 3% dari planet tersebut yang bisa menyokong kehidupan? Ini belum menghitung adanya oksigen atau air lho.

Jadi, apakah pencarian kehidupan merupakan hal yang realistis?

Hasil Pencarian…

Aku payah dalam mengingat angka.

Maaf.

Plus, aku belum sempat mendapatkan fotokopi karena masih terdaftar sebagai peserta sit-in.

Namun, total dari 9000-an planet yang dicari, ada sekitar 300 planet, mungkin lebih, yang mampu menyokong kehidupan, dan masih ada 50++ planet yang belum jelas kondisinya.

Lalu, datanglah pertanyaan besar. Bentuk kehidupan apa yang akan muncul dari planet-planet tersebut?

Sayangnya, ini masih science fiction. Tata surya kita tercipta dalam kondisi amat ideal, dan sayang sekali, masih banyak planet alam semesta yang belum bisa menciptakan bakteria terkecilpun dari lautannya yang mungkin luas.

Kehidupan semua berevolusi dari bakteria, dan jika tidak ada bakteria, berarti tidak ada moluska, tidak ada tumbuhan, tidak ada hewan, dan tidak ada manusia… Planet macam apa yang bisa menciptakan bakteria?

Jadi pikirkanlah. Seberapa beruntungnya manusia?

Tiga Teori Probabilitas.

Tiga Teori Probabilitas.

Kemungkinan sesuatu terjadi secara acak sangat tinggi, dan sangat memungkinkan ada aspek kehidupanmu yang terpengaruh karena hal yang acak tersebut. Itu hal yang sudah cukup umum, dan terkadang, orang-orang menyepelekan hal-hal acak ini terjadi. Mulai dari hp-mu menjadi target bombing SMS, hingga mengocok dadu, probabilitas sesuatu hal buruk, atau baik terjadi, umumnya sama.

Tulisan hari ini tidak akan mengupas terlalu banyak tentang probabilitas, tetapi ia akan mengupas cara manusia mempersepsikan hal-hal yang terjadi secara acak, dan hal-hal yang benar-benar terjadi secara nyata.

Ketiga teori yang akan aku tuliskan di sini bukan berupa hukum dan tidak absolut, tetapi setidaknya anda pernah menjadi korban salah satu teoriku, baik disadari atau tidak.

Inspirasi: Fooled by Randomness by Nassim Nicholas Taleb.

Teori 1: Sesuatu yang tidak absolut, akan dipercayai sebagai mungkin

Teori pertama adalah alasan orang-orang masih membeli tiket lotre. Selama kemungkinan sesuatu terjadi masih ada, orang-orang akan terus mempercayai kemungkinan tersebut terjadi pada mereka, mau seberapa tidak mungkin hal tersebut terjadi.

Hal sekecil 0.00000000001% terjadi akan dipersepsikan sebagai kemungkinan yang nyata. Mau seberapa kecil kemungkinannya, kemungkinan tersebut tetap ada, dan dipercayai sebagai hal yang bisa dan/atau akan terjadi.

Tentunya, kemungkinan hal-hal yang tampak tidak mungkin terjadi itu memang ada, dan memang pernah terjadi. Bisa dilihat dari pemenang lotre yang benar-benar menang, hingga ke cerita klub kecil dengan peluang menang rendah dengan magisnya mengambil piala terbesar di liga lokal, sampai ke cerita-cerita miskin ke kaya yang sering muncul… harapan untuk hal tersebut terjadi akan selalu ada.

Manusia akan terus percaya dan berharap akan ditemukannya alien sampai ada bukti pasti bahwa alien tersebut tidak ada. Tetapi, karena hukum yang sama, manusia tidak akan pernah percaya akan adanya burung Dodo yang sudah punah, dan itu adalah hal yang absolut. Hal yang pasti, dan hal yang tidak bisa diulangi.

Harapan adalah hal yang berbahaya, begitu kita berharap akan suatu hal, mau secara logis probabilitas hal tersebut tidak bisa direalisasi, maka kita tidak akan melihatnya sebagai probabilitas 1/100000. Kita akan melihatnya sebagai suatu hal yang mungkin terjadi, baik kemungkinannya kecil, atau besar.

Teori 2: Ketika hal baik terjadi, manusia akan melihatnya sebagai bagian dari kemampuan yang mereka miliki.

Teori kedua terdengar panjang, aku tahu. Sebelum masuk dan menjelaskan teori ini, aku perlu memberi klarifikasi bahwa Taleb terdengar seperti orang sok tahu ketika menuliskan Fooled by Randomness. Ralat, aku cukup yakin bahwa hampir semua buku Taleb yang telah kubaca membuatnya tampak seperti orang sok tahu, walaupun yang ia katakan memang benar. Di Fooled by Randomness, Taleb menyatakan bahwa teori 2 dan 3 (yang aku pisahkan dan klarifikasi sendiri tentunya) adalah hal yang absolut, dan cara manusia mempersepsikan kedua hal ini terjadi akan selalu seperti itu, seolah-olah tidak ada kemungkinan mereka melakukannya secara positif. Aku menuliskannya sebagai teori dengan alasan bahwa ini tidak 100% pasti terjadi.

Kembali ke topik. Teori kedua adalah teori yang menyatakan bahwa ketika manusia menerima keberuntungan dalam mengerjakan sesuatu, mereka akan melihatnya sebagai bentuk lain dari skill yang mereka miliki, seolah-olah mereka mampu mengerjakan hal tersebut tanpa adanya bantuan dari Fortuna, alias Nyonya Keberuntungan.

Ketika seorang pegawai -tanpa melihat watak orang tersebut sombong atau rendah hati atau campuran keduanya-  melihat bahwa ia mampu mengerjakan tugas A, meskipun ia melakukannya hanya karena ia beruntung, ia akan melakukan tugas A lagi dengan asumsi bahwa ia bisa melakukannya. Ketika Fortuna tidak datang untuk kedua kalinya, mereka akan kesulitan, karena mereka punya asumsi bahwa mereka bisa melakukan tugas tersebut.

Usaha yang diberikan mungkin sama, mungkin berbeda, bagiku itu irelevan, karena yang dibahas adalah cara mempersepsikan sesuatu, bukan kenyataannya.

Persepsi yang ditangkap ini bisa menjadi berbahaya bukan hanya untuk orang yang menjadi korban ke mispersepsinya sendiri, tetapi juga orang lain yang mengambil persepsi kepada orang tersebut.

Lalu, berikutnya, kita akan bahas yang diketahui dengan ekspektasi.

Ketika seseorang diminta bosnya mengerjakan Tugas A tadi, lalu bosnya menilai hanya dari satu sampel saja, bos tersebut yakin bahwa jika ada pekerjaan yang membutuhkan tugas A, ia bisa memberikannya ke pegawai tersebut, dengan harapan ia bisa mengulangi kesuksesannya lagi.

Ketika kesuksesan tersebut gagal terjadi… barulah ada relevansinya dengan karakter bos-nya. Apakah bosnya orang yang rasional atau yang menilai secara emosional?

Bagaimanapun juga, ketika ada hal yang baik terjadi, dan kesuksesan mengerjakan suatu tugas, anda jangan mau terjebak sendiri oleh mispersepsi ini, dan nilailah dengan objektif sesudah mengerjakan suatu tugas, ujian, atau semacamnya… apakah aku dibantu oleh keberuntungan?

Teori 3: Ketika hal buruk terjadi, manusia akan menilai dan menciptakan alasan bahwa itu terjadi karena mereka sedang tidak beruntung, bukan karena inkompetensi.

Teori ketiga adalah inversi (alias pembalikan) dari teori kedua.

Esensi kedua teori sama, namun kali ini, overestimasi itu terjadi dengan penciptaan alasan, entah itu “aku sedang mengalami hari yang buruk”, atau “aku lagi kurang beruntung” dan sebagainya.

Sebagai contoh, pegawai lain di kantor yang sama dengan pegawai di teori dua tadi diminta bos-nya mengerjakan tugas B. Ia sukses mengerjakan tugas B tanpa adanya masalah, dan dengan minim bantuan keberuntungan, ia bisa mengerjakan tugas B, murni karena kompetensi dan kapasitasnya sebagai seorang pekerja.

Keesokan harinya, sesudah melihat pegawai tersebut dan kehandalannya mengerjakan tugas B, ia meminta orang tersebut mengerjakan tugas B+. Tugas B+ membutuhkan skill dan waktu yang kurang lebih sama dengan tugas B, dengan pengecualian bahwa tugas B+ membutuhkan satu langkah tambahan ketika proses pengerjaannya sudah beres.

Pegawai tersebut menganalisa pekerjaannya setengah matang dan tidak menyadari bahwa ia perlu melakukan langkah tambahan dari tugas B, dan ia melupakannya karena inkompetensi.

Ketika melaporkan ke bos-nya, dan ditanyakan kenapa ia gagal melakukan tugas tersebut, ia membuat alasan bahwa (misalnya) ia lupa minum kopi hari itu, atau anaknya sedang menangis sangat keras pada malam sebelumnya sehingga ia kekurangan tidur, tanpa menyadari bahwa ia melakukan hal tersebut karena adanya inkompetensi dari kemampuan analisanya.

Sesudah ini, bos tersebut mengasumsikan bahwa pegawainya ini tidak mampu mengerjakan tugas B+, padahal hanya ada perbedaan satu langkah kecil di akhir proses dari tugas B.

Jika isu dari teori kedua adalah overestimasi kemampuan yang tidak nyata, isu dari teori ketiga terletak di overestimasi kemampuan berdasarkan faktor yang tidak nyata. Kemampuan yang ia miliki memang kurang (sebagai contoh) di bidang analisa tadi, tetapi, ia malah menggunakan emosinya untuk menilai dan memberikan alasan bahwa ia tidak mampu mengerjakan tugas tersebut, alih-alih menilainya secara rasional.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang irasional, tetapi rasional.

Kita menyetir dengan otak, atau dengan hati. Ketika kita menyetir dengan otak, kita dapat melewatkan hal-hal sederhana dan yang harusnya disadari manusia dengan kesadaran tertentu. Ketika menyetir dengan hati, pada sisi lain, kita melewatkan hal-hal yang seharusnya disadari secara logis.

Kesalahan terbesar manusia adalah kegagalan untuk menemukan keseimbangan antara kedua hal ini.

Taleb menunjukkan dan mengingatkan bahwa kita sering salah mempersepsikan kejadian dan menyalahkannya atau menyembunyikan fakta bahwa ada keberuntungan yang berperan di situ.

Aku menjelaskan bahwa kita butuh keseimbangan yang tepat untuk bisa menganalisa hal-hal tersebut dengan netral, dan dengan rasional.

Sampai lain waktu.

Stand-Up Comedy #1. Identitas Komedian.

Stand-Up Comedy #1. Identitas Komedian.

Sebagai seseorang yang senang mempelajari hal baru, aku sempat mendalami stand-up comedy dengan cukup semangat. Bukan cara menampilkan (sayangnya aku terlalu payah dalam mengatur intonasi dan aku tidak ingin menjadi komedian yang garing apalagi yang kontroversial) tetapi cara menuliskan, serta teknik-teknik yang umum digunakan.

Oh iya, juga perlu diingat aku suka mengubah hal menyenangkan jadi hal membosankan jadi… Hahaha! Rasain!

Aku sedang berusaha menuliskan satu rutin untuk ayahku, namun menuliskan rutin untuk diri sendiri saja bukan hal yang mudah, apalagi untuk orang lain, jadi ya, aku masih berusaha.

Jadi ada serial baru, yang kutuliskan untuk menjelaskan serta membantu orang-orang menulis stand-up comedy-nya masing-masing! Selamat menikmati!

Persona, Identitas, Schtick, Image.

Teknik paling mendasar dan paling wajib diketahui seseorang yang berniat untuk membuat rutin stand-up adalah teknik-teknik yang berhubungan erat dengan identitas. Kasarnya, semua stand-up sukses sudah punya persona-nya masing-masing, identitas yang mereka bawa dengan tujuan mencerminkan image mereka sendiri, dan identitas tersebut mereka  gunakan untuk membuat orang tertawa.

Hampir semua stand up sukses bergantung pada dasar persona mereka untuk membuat orang tertawa, dan kecuali kau orang yang mampu improvisasi 100% dalam sebuah rutin (tidak disarankan) persona itu hal pertama seseorang menulis rutin.

Kamu tidak mungkin mendengar komedian seperti Jimmy Fallon mengeluh tentang sesuatu seperti sedotan, tetapi Jerry Seinfeld mungkin melakukan lelucon seperti itu.

Ini adalah beberapa contoh umum.

The Fool/Dummy

Teknik ini adalah teknik yang sering digunakan orang-orang seperti Joey Tribbiani di Friends, Luke Dunphy di Modern Family dan juga sering digunakan stand-up comedian seperti Sarah Silverman (iya, Vanellope dari Wreck-it-Ralph), atau Dodit Mulyanto.

*out of topic note: Dodit adalah satu-satunya stand up lokal yang aku sebutkan karena identitasnya cukup erat dan nempel untuk bisa menjadi contoh yang baik tanpa penjelasan lebih lanjut. Tidak menutup mata untuk Sule, Pandji, dan stand-up lainnya tentunya.

The Fool merupakan identitas di mana penampil memainkan tokoh yang melakukan hal bodoh atau mengatakan hal konyol tanpa menyadari bahwa hal yang dia katakan itu bermasalah, atau bodoh. Terkadang identitas fool ini tidak harus bodoh, tetapi tetap berhubungan dengan frasa “tanpa menyadari” (seperti yang Silverman lakukan). Ia bisa mengatakan hal-hal seperti “I think white women are jerks” walaupun dirinya sendiri adalah perempuan berkulit putih.

Tentunya aksi menutup sebelah mata ini tidak nyata, tetapi penampil yang bagus bisa melakukannya dengan sempurna. Sebagai contoh, mari kita masukkan sebuah lelucon yang melibatkan Joey dari Friends. (lelucon di bahasa Inggris, semoga anda tidak keberatan)

  • Chandler: Okay, I have a challenge for you all! I have a very special test that my boss used to test someone’s general memory and knowledge. Who can name all 50 states in the United States in a piece of paper?
  • Ross: That’s easy.
  • C: Good luck, pal.
  • Joey: Here, let me try!
  • *theme song plays*
  • C: You guys done?
  • R: I have 47, this is a piece of cake.
  • C: Wait till you reach 49 *canned laughter from audience*
  • J: Yeah, I almost have em’ all!
  • C: How many you’ve got?
  • Joey: 56!

Lelucon utamanya dalam bold. Naskah tidak seratus persen pas. Cari saja episode-nya di google dan nonton sendiri, itu episode yang sangat bagus untuk membangun persona The Fool karena Joey membuat banyak sekali lelucon bagus.

Persona The Fool ini adalah persona yang cocok jika anda cukup pintar (aku serius) untuk bisa memainkan seseorang yang bodoh tanpa menampakkannya. Identitas The Fool tidak terlepas dari kemampuan seseorang mengatakan hal yang bodoh, tapi tidak terlalu bodoh, dan memastikan reaksi orang adalah tawaan, alih-alih tatapan “Apakah dia sebodoh itu?”

Catatan: Seorang Fool tidak harus bodoh, tetapi harus clueless. Lihat Sheldon Cooper, seorang jenius dan juga Fool di saat yang sama.

The Snob

Gaya Snob ini adalah cara memainkan sebuah tokoh juga, dasarnya… anda menjadi seorang douche, yang mengatakan statement sombong dengansengaja, untuk membuat orang tertawa.

Tidak seperti fool yang membiarkan orang-orang tertawa karena anda melewatkan suatu fakta umum, snob adalah teknik di mana karakter anda memang mengatakan satu hal dengan sombong dan dengan sadar dengan tujuan membuat orang tertawa.

Teknik ini sering digunakan Barney Stinson dari How I Met Your Mother, Steve Martin, Ricky Gervais dan masih banyak stand-up comedian lagi. Sebagai contoh, ini adalah salah satu rutin yang pernah dilakukan Ricky Gervais di awal sebuah acara, ketika ia baru datang (p.s. ini tidak begitu lucu di kertas, jadi, gunakan saja sebagai contoh).

  • Datang dengan suara tepuk tangan dari penonton.
  • Thank you everyone! Thank’s for waiting for me! *Tepuk tangan lagi*
  • I know, you guys are bored, but don’t worry, you guys spent money for your tickets for a good reason. Even if you guys are not laughing, I am here. *penonton tertawa*
  • You guys spent money and waited for a while to see… me. *penonton tertawa lagi*
  • I am someone really important. *tawaan sedikit lalu Gervais bernafas* Like Jesus. *penonton tertawa lebih keras dari 3 kali tawaan sebelumnya*
  • Di saat yang sama ketika aku melihat ini aku tertawa sambil memikirkan… wow, ini orang parah banget bercandanya.

Raditya Dika juga pernah melakukan hal yang mirip di opening act SUCRD-nya, dengan gaya yang lebih cocok untuk selera humor lokal. Tentunya seorang komedian harus beradaptasi.

Gaya ini dapat dimanfaatkan dengan pintar selama penampil tidak membawa dirinya sebagai douche dan mengatakan hal yang mungkin dikatakan di dunia nyata. Snob ini hanya bisa sukses jika seseorang melebih-lebihkan hal normal yang dia katakan, dan sukses menciptakan hal yang membuat orang berpikir… “what, ada orang kaya gini di dunia?” dan membuat mereka tertawa karena pikiran tersebut.

Jika tindakan atau pernyataan douche yang dikatakan terlalu realistis dan dibawa secara salah, kemungkinan orang-orang akan melirik dengan horror alih-alih tertawa.

The Grump/The Complainer

Sedikit backstory. Sampai tahun 70-an akhir dan 80-an awal, persona grump atau orang yang mengeluh untuk komedi hampir tidak pernah tampak. Lalu, muncullah komedian legendaris yang merubah dan mendesain ulang makna dari melawak dan mengubah keluhan menjadi komedi.

Orang tersebut dikenal dengan nama Jerry Seinfeld.

Sampai hari ini, Grump sebenarnya salah satu persona mendasar paling umum yang dibuat seseorang. Karena percaya padaku, mengeluh adalah hal yang semua orang lakukan. Beberapa orang cukup pintar untuk mendapat duit dari keluhan tersebut.

Dasarnya, Seinfeld menciptakan persona ini dengan memutar hal-hal setiap hari seperti misalnya makan di restoran, pergi ke dokter, atau menginap di hotel, dan mengubah hal yang orang-orang sering tuliskan di ulasan (seperti yang dilihat di Amazon sekarang, tetapi Seinfeld melakukan ini di kertas) menjadi lelucon.

Keluhan yang dibuat cenderung semi-realistis dan memiliki kecenderungan utama yaitu terdengar konyol, realistis, dan sebenarnya membuatmu berpikir (sambil tertawa tentunya)… “Hey, this guy’s got a fair point.”

Salah satu tip terbaik dari guru-guru stand up komedi sukses adalah, tuliskan hal yang kau benci, dan ubah itu menjadi komedi. Ini adalah bentuk umum dan mudah dimengerti.

Untuk contoh lelucon, aku tidak bisa memberikan secara langsung di sini, tetapi aku bisa memberikan orang pertama yang memberikan komentar sebuah ebook buku Jerry Seinfeld. Itu buku yang sangat bagus untuk mencari ide dan membangun konsep dasar persona Grump.

The Happy-Go-Lucky Guy

Tidak ada orang yang dapat menjelaskan persona yang satu ini selain Jimmy Fallon dan James Corden.

Anda tahu macam orangnya. Orang-orang yang sebenarnya tidak begitu peduli mengenai apapun, dan dapat memberikan lelucon tentang apapun dengan konyol dan tetap disenangi orang.

Orang-orang seperti ini memasukkan melakukan hal-hal konyol dalam bagian dari persona-nya. (Seperti Corden yang sering melakukan Carpool Karaoke, pernah menjawab iya ketika ia akan ditendang bola oleh Thierry Henry, dan juga seperti Fallon yang sering melakukan games seperti Truth or Truth dengan tamu-tamu show-nya) Kekonyolan yang mereka rela lakukan, dan aura menyenangkan yang mereka punya lebih dari cukup untuk menjadi persona sendiri.

Untuk jenis lelucon yang mereka berikan, sejujurnya mereka bisa memberikan lelucon apapun selama masih berhubungan erat dengan identitas mereka. Corden yang merupakan orang London sepertinya tidak mungkin bercanda tentang British Royal Family tanpa menerima tabokan dan kritikan dari orang-orang satu negaranya, dan Fallon yang liberal tidak mungkin punya lelucon tentang Hillary Clinton.

Secara keseluruhan, tonton saja The Tonight Show atau The Late Late Show dan dapatkan gambarannya.

The Storyteller

Entah mengapa, persona terakhir ini adalah persona yang sangat disukai Netflix.

Banyak orang yang mempunyai Netflix Original memiliki persona storyteller dan bukan Grump, Fool, Happy Go-Lucky, atau Snob.

Kelinci dari Secret Life of Pets (Kevin Hart), Hasan Minhaj, Trevor Noah, dan masih banyak lagi.

Seperti namanya, Storytelling adalah gaya stand-up comedy yang menempelkan dirinya pada sebuah cerita, dan tidak langsung terkait dengan bercandaan. Sebagian storyteller memanfaatkan hal serius untuk diberitahu pada penonton, lalu menjelaskan hal serius tersebut dengan lelucon. Sebagiannya lagi bercerita tentang hal lucu.

Dalam opiniku, ini adalah persona yang paling mudah dimodif karena tidak jarang, persona storyteller dicampur dengan 4 persona yang paling umum dilihat sebelumnya.

Tentunya persona ini tidak bisa berdiri sendiri dan terkadang disertai identitas orang tersebut, seperti misalnya, Hasan Minhaj yang merupakan anak seorang imigran dari India membuat lelucon atas identitas tersebut (seperti urusan dimarahi ayahnya ketika skor yang ia dapatkan hanya A-), serta juga persona-nya sebagai orang yang agak Happy-Go-Lucky.

Persona ini makin banyak muncul, dan makin banyak orang mengetahui cara memanfaatkannya dengan baik, padahal dari zaman dahulu persona ini kembali lagi ke seseorang yang menceritakan cerita, entah itu serius, atau sepenuhnya lucu, sambil diselingi lagi dengan lelucon.

Kesimpulan

Aku berusaha selama untuk menarik kesimpulan yang lucu. Tapi aku tidak bisa.

Intinya, jangan remehkan komedi, karena menulisnya sangat-sangat susah. Sampai ketemu di episode dua di mana aku membahas jenis lelucon sebagai komplemen dari persona!

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Jürgen Klopp: Televisi, Ulla, dan Relegasi

Klopp mulai menjadi pelatih Bundesliga pada tahun 2005. Aku tidak akan membahas terlalu banyak tentang karirnya sebagai pelatih di musim pertama. Intinya, Mainz sukses bertahan dan mengalahkan Dortmund yang lagi berantakan karena hutang, Schalke, serta menahan Bayern seri di kandang. Ini semua sudah dibahas di artikel bagian ketiga.

Artikel keempat ini adalah titik penentu terbesar di karir Klopp, dan juga titik balik kehidupan pribadi Klopp. Ini adalah momen, di mana Klopp, seseorang yang baru saja mulai melatih di Bundesliga, menjadi seseorang dengan suara yang kuat untuk sepakbola di seluruh Jerman.

SAT1 dan Mainz

Pada awal karirnya di Mainz sebagai pelatih, teman dekatnya yang berada sebagai anggota pemilik Mainz membangun SAT1 (seperti Sky Sports milik orang Jerman) pernah merekomendasikan untuk Klopp menjadi host utama di acara sepakbola mingguan untuk membahas tiap pertandingan Bundesliga. Tahun-tahun tersebut, SAT1 masih perusahaan televisi kecil, dan temannya cukup serius jika Klopp memang ingin berhenti melatih, ia selalu bisa bekerja bersamanya di televisi.

SAT1 sendiri terletak di kota yang sama dengan FSV Mainz, dan mendominasi penyiaran pertandingan di distrik Rhineland-Palantine.

Tentunya, pembaca sudah cukup kenal akan kepribadian Kloppo untuk tahu bahwa ia tidak ingin menjadi seorang host selama ia masih bisa menjadi seorang pelatih. Ia menyukai interaksi dengan pemainnya dan merasa bahwa melatih adalah bagian dari hidupnya.

Namun, karir televisi Klopp yang tampaknya tidak akan dilanjutkan justru menjadi alasan ia bisa jadi pemegang piala Champions League tahun ini, serta alasan ia bisa menjuarai Bundesliga dua kali.

Pada akhir tahun 2005 dan hak siar Piala Dunia tahun 2006 mulai dibahas, SAT1 yang baru menyiarkan sepersepuluh pertandingan Bundesliga (dan semuanya dari klub papan tengah) menerima investasi serta rekomendasi untuk menyiarkan turnamen tersebut.

Ini bukan sekedar liga champions, atau Bundesliga. Ini Piala Dunia. Turnamen di mana orang-orang yang tidak menyukai bola tetap berusaha mengejar semua pertandingan yang disiarkan. Turnamen di mana seluruh keluarga duduk di depan televisi untuk menonton pertandingan antara dua negara, apalagi negaranya sendiri.

SAT1 mendapatkan hak siar untuk turnamen level tersebut. Tetapi, kekurangan uang yang mereka habiskan untuk investasi berarti mereka harus berusaha berpikir lebih kreatif dan mencari pundit-pundit dengan harga murah. Jadi tentunya, CEO SAT1 yang memegang sebagian kepemilikan Mainz meminta pelatihnya sendiri untuk menjadi pundit.

Meskipun didirkan tahun 1985, dan SAT1 adalah stasiun pertama di Jerman yang dimiliki secara pribadi, SAT1 sendiri baru menjadi stasiun besar pada tahun 2006 sesudah sukses menyiarkan piala dunia. Mereka sudah mulai menyiarkan sebagian pertandingan Bundesliga pada tahun 2004, dan melakukan gaya yang tidak umum dilakukan di Jerman… Mereka menayangkan muka istri dan pacar pemain, mengingatkan tanggal ulang tahun, dan semacamnya. Docu-soap sepakbola ini merupakan langkah awal SAT1 menjadi stasiun yang menyiarkan piala dunia 2006.

Kembali ke Klopp… Ketika ia menerima pekerjaan menjadi pundit untuk piala dunia 2006, bersama Miss Bundesliga Ulla Sandrock, ia membuat statement bahwa ia siap menawarkan analisa yang menyenangkan. Menurut Klopp, pertandingan-pertandingan di analisa dengan gaya yang terlalu “What-if”. Bagaimana jika mereka berlari lebih sedikit dan tidak mendapat offside, bagaimana jika wasit menyatakan bahwa itu adalah sebuah penalty, bagaimana jika tendangan sudut ditendang oleh pemain kidal alih-alih pemain dengan kaki kanan dominan?

Klopp menginginkan dan menawarkan analisa yang what-if, tetapi lebih realistis dan tidak terlalu fokus ke masa lalu. Jika seorang pundit di stasiun lain fokus ke potensi-potensi kejadian yang terjadi jika bola langsung diumpan, Klopp fokus ke opsi-opsi realistis yang pemain tersebut bisa lakukan.

Selain itu, Klopp selalu menjelaskan hal dengan gaya yang mudah dimengerti. Ia tahu bahwa penonton-penonton yang menonton piala dunia bukan orang yang memang menyukai sepakbola dan mungkin masih kebingungan apa yang membedakan pemberian corner alih-alih Goal Kick, dan semacamnya.

Banyak Pundit menggunakan istilah membingungkan seperti counter, overload, offside trap, dan seterusnya tanpa menjelaskan apa itu overloading, apa itu offside, dan hanya menjelaskan apa yang mungkin bisa terjadi jika taktik tersebut tidak digunakan.

Ketika Klopp menggunakan istilah membingungkan, misalnya seperti pressing, Klopp menjelaskan terlebih dahulu, apa itu pressing, dan apa yang bisa didapatkan serta ditujukan oleh sang pelatih dalam memberikan instruksi tersebut, baru masuk ke kemungkinan taktik lain yang digunakan.

Kritikan, serta Pengakuan.

Klopp mendapatkan kritikan dari banyak pundit lain yang menganggap bahwa opini dari pelatih yang baru saja menyelesaikan musim pertamanya di Bundesliga ini tidak masuk akal, dan cukup dangkal sehingga tidak begitu berpengaruh bagi orang yang memang mengikuti sepakbola secara rutin, tetapi, kritisisme ini ditolak atas pengakuan dari dua orang.

Orang pertama adalah Franz Beckenbauer, seorang sweeper (posisi yang sudah tidak ada lagi di sepakbola modern) yang diketahui dengan panggilan Der Kaiser.

Beckenbauer adalah seorang dewa di mata pecinta sepakbola Jerman karena kesuksesannya membawa piala tersebut kembali ke Jerman. Jika Beckenbauer menganggap bahwa hal yang Klopp bilang bisa digunakan untuk professional juga dan orang-orang harusnya mendengar apa yang ia katakan, maka Klopp berbicara secara logis. Klopp baru saja membuat hal yang kompleks menjadi hal sederhana, dan mendapatkan pengakuan dari salah satu pemain terbaik Jerman sepanjang masa.

Orang kedua yang memberikan Klopp pengakuan adalah Miss Bundesliga tadi. Ulla Sandrock. Jika anda mencari namanya di internet, Ulla adalah istri Klopp, dan anda sering melihat pelatih Jerman tersebut memberikan simbol hati ke penonton, khusus untuk istrinya.

Ulla Sandrock seperti Donna Agnesia-nya orang Jerman, ia seorang perempuan yang memiliki kecintaan pada sebuah pekerjaan yang didominasi lelaki, dan masih saja bisa memiliki opini yang membuat para laki-laki ini berpikir kembali.

Klopp bukan sekedar mendapatkan pengakuan dari Ulla, ia juga sukses mendapatkan hatinya, dan pada tahun 2005, Klopp menikah lagi sesudah perceraiannya di tahun 2001. Ini sedikit irelevan dengan konteks karir, tetapi Ulla sering membantu Klopp memotivasi pemain sesudah kekalahan, seperti yang Ulla lakukan ketika ia turun dan membantu suaminya sesudah kekalahan atas Real Madrid di final Champions League di Kiev. Selain itu, Ulla juga bertemu Klopp pada pekerjaannya di sini.

Klopp mendapatkan image baik sesudah Piala Dunia 2006 dan ia mulai dilihat oleh banyak klub-klub papan tengah Jerman.

Sayangnya, kesuksesan Klopp di karirnya sebagai pundit di televisi ini langsung ditimpa kabar buruk dari klubnya.

Klopp ditinggal 7 pemain pada bursa transfer musim 2006/2007… Hasil akhir dari musim ini berakhir dengan Mainz terelegasi pada posisi ketujuhbelas.

Banyak kejadian relevan pada musim di mana Mainz terelegasi, tetapi aku mau mengingatkan bahwa Klopp tidak pasrah, dan dewan klub bahkan tidak berpikir untuk memecat Klopp. Fans dan dewan begitu cinta pada Klopp sehingga mereka tidak bisa berpikir untuk mengusirnya. Akhirnya Klopp pergi sendiri, tetapi tetap dengan kecintaannya pada Mainz, dan ia pergi untuk Dortmund, membawa klub tersebut ke kesuksesan tingkat Eropa.

Pada musim berikutnya, ia belum meninggalkan klub tersebut, tetapi cerita pelatih favorit kita yang satu ini, disudahi terlebih dahulu.

Bersambung.

Mortalitas

Mortalitas

Iya. Judul artikel ini aku pepet dalam satu kata. Mortalitas.

Ceritanya aku lagi bosan di rumah, dan aku sudah menulis dua tulisan hari ini, lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Avengers: End Game (there goes 3 hours of my life). Kenapa End Game? Film yang ada hanya itu… Aku harus membeli USB 32 giga agar bias banyak kopi film dalam sekali jalan dari teman.

Anggap sajatulisan yang di bawah 1000 kata ini adalah bonus.

Tragedi

Ya. Aku sudah menuliskan cukup banyak tentang tragedi, tetapi belum pernah ada satu pun artikel yang khusus disiapkan mengenai tragedi.

Manusia sepertinya menyukai akhir yang tragis seiring mereka bertambah umur. Mitologi-mitologi dari zaman dahulu kala jelas mencerminkan itu. Kita melihat sedikit happy-ending seperti yang terjadi pada Perseus, pada Horus, pada Romulus, pada orang lain yang namanya tidak berakhir dengan –us. Tetapi, mayoritas mitologi (dan aku cukup yakin film di zaman sekarang) lebih laku dan diingat jika memiliki ending yang tragis.

Ini mungkin alasan aku masih menonton End Game pada bulan September.

Padaakhirhari, cerita yang dialami Perseus, Horus dan Romulus hanya memberikan image yang baik untuk anak kecil. Semakin dewasa seseorang, semakin besar cintanya pada tragedi.

Shakespeare menuliskan Antony and Cleopatra, Julius Caesar, tetapi tidak menuliskan tentang Octavian (Augustus Caesar mungkin lebih sering diingat karena ia menyukai dipanggil Caesar) karena berdasarkan sejarah Antony, Caesar, dan Cleopatra mendapatkan ending yang sedih.

Selain drama-drama yang diberikan oleh Shakespeare (ekuivalen film Superhero terbaru di zaman dahulu kala), tentunya juga ada drama Dionysian. Drama yang diberikan sebagai persembahan untuk dewa tersebut menyukai tokoh-tokoh seperti Oedipus, Hercules, Theseus, dan semacamnya… karena cerita tersebut berakhir dengan tragis. Tidak ada satu pun happy ending (Hercules menjadi dewa, tapi tetap, pahlawan selevel dia tidak pantas dibunuh oleh istrinya sendiri dengan racun karena istrinya mengira ia sedang selingkuh).

Kurang lebih, film PG-13 yang tragis sesuai dengan drama Dionysian, dan cerita-cerita dengan happy ending tersebut sesuai dengan film PG, yang mengizinkan anak-anak menonton.

Heroisme

Heroisme telah mati, dan Mortalitas muncul.

Heroisme bergantung erat pada konsep seseorang yang ideal, seseorang yang rela melakukan hal-hal bodoh dan/atau berani untuk kepentingan orang lain. (klik disini untuk detil lebih banyak tentang penulis)

Apa yang seorang remaja, atau manusia dewasa pikirkan jika jenius selevel Tony Stark mati pada sebuah pertarungan hanya karena ia menjentikkan jarinya? Apa yang akan dipikirkan oleh seorang calon prajurit di militer kota ketika petarung seperti Achilles dipanah sampai mati?

Manusia tampaknya tidak akan pernah bisa menerima kematian, karena segala bentuk hiburan yang disajikan, terutama yang sukses, kembali lagi dan mengungkit kematian tersebut. Kematian tersebut juga terjadi bukan pada manusia biasa, tetapi ke “Superman“ (bukan Clark Kent, maksudku konsep punya Nietzsche)

Komik yang sold out dalam durasi terpendek adalah Death of Superman dari DC. Film dengan penjualan box office terbesar adalah Avengers: Endgame. Dan drama Shakespeare paling populer sampai hari ini adalah Macbeth, serta Romeo and Juliet.

Macbeth berakhir dengan kematian karena tokoh utamanya menjadi gila sesudah membunuh sahabatnya dan tidak bias menerima masa depannya yaitu akan dibunuh (wow, kata-kata yang menyenangkan) oleh anak sahabatnya tadi sebagai balas dendam dan pada akhirnya ia menjadi paranoid dan terbunuh oleh anak sahabatnya tadi.

Romeo and Juliet berakhir dengan bunuh diri.

Manusia ideal saja bias mati kapan saja, dengan tujuan yang sempurna. Apa yang akan kita bias lakukan sebagai manusia?

Mortalitas

Freud tampak kurang akurat. Freud mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bias menerima kematian. Aku bukan seorang psikolog, tetapi aku yakin bahwa yang Freud katakan terlalu absolut.

Tapi tentunya ini berasal dari bocah berusia 16 tahun yang baru saja membuang 3 jam hidupnya menonton ulang film yang ia sudah ketahui akhirnya, jadi jangan benar-benar dengarkan diriku juga.

Mortalitas adalah hal yang manusia tidak akan pernah bias terima, terutama jika itu terjadi pada orang lain. Tampaknya, kita tidak akan pernah bias menerima kematian yang terjadi pada Tony Stark. (oke, kontrak miliknya habis, tetapi, anda mengerti maksudnya)

Kita berusaha hidup dengan pengetahuan penuh bahwa pada akhirnya, siapapun kita, seberapa hebatnya kita, seberapa banyak uang yang kita kumpulkan, pada akhirnya, kita hanya akan meninggalkan dunia, dengan bayang-bayang kehidupan yang kita miliki.

Kematian tidak bias diterima selama kita hidup dalam bayang-bayangnya. Itu pesan hari ini. Para pahlawan yang pernah ada, mereka semua sudah paham besar risiko yang mereka ambil jika mereka gagal. Kematian adalah hal yang kita perlu pahami. Lagian, hidup ini adalah proses, sepertinya ketakutan akan kematian terjadi pada pahlawan fiktif ini membuat kita bingung. Tragedi adalah tragedi karena kita bukan dewa. Kita perlu menerima realita pahit ini.

Seorang pahlawan menjadi pahlawan ketika mereka bisa menerima bahwa mereka akan mati dalam tugas. Ini alasan kita mencintai tragedi dan takut akan mortalitas. Kita tidak bisa menerima kematian dan tidak akan pernah menjadi pahlawan…

So… Aku menyimpulkan bahwa…pesan terakhir dari End Game adalah… “Selamat, anda baru saja menghabiskan 3 jam kehidupan anda hanya untuk mengetahui bahwa pada akhirnya, anda akan mati. Semoga anda cukup beruntung untuk bisa menemukan 3 jam tersebut kembali.” (No amount of money would ever buy a second of time right?)

Untukku, aku baru saja membuang 6 jam karena aku menontonnya dua kali… Ya sudahlah, sudah ada 2 tulisan yang dibuat hari ini.

“So, I’d thought it would be good for me if I record a little greeting, in the case of an untimely death. On my part. I mean, not that death at any time is untimely. Then again, that’s part of the hero gig isn’t it? Part of the journey is the end.” –Tony Stark.

127 Hari Tanpa Smartphone

127 Hari Tanpa Smartphone

The human spirit must prevail over technology. –Albert Einstein

Kalau 129 hari yang lalu saya ditanya apalkah bisa hidup tanpa smartphone selama 100 hari atau bahkan 30 hari atau mungkin 1 hari, kala itu jawaban saya pasti “tidak”. Tapi hari ini ternyata sudah 127 hari terlalui tanpa benda kotak yang luar biasa pintar itu.

Sebelumnya, saya pikir punya smartphone pasti memudahkan hidup, semua serba mudah, dan bisa membuat waktu jadi efektif. Ternyata kenyataannya berbeda ya. Dan baru terasa saat betul-betul si smartphone tidak lagi saya miliki.
Saat ini sudah lebih dari 60 judul buku yang selesai saya baca. Angka yang luarbiasa bila saya melihat 5 tahun terakhir dimana paling 1 buku bisa saya selesaikan dalam 1 bulan, karena si smarthone lebih banyak menyita perhatian saya, Smartphone lah sumber entertainment saya. Akhir-akhir ini, buku lah sumber kesenangan, puas sekali membaca satu demi satu dan selesai dengan cepatnya.

Dulu, mau pergi kemana-mana, pasti saya cek google map dulu, sekarang ya mana bisa. Maka saya pergi saja menikmati rute ala kadarnya berdasarkan intuisi dan itu cukup. Beberapa kali juga saya nyasar, lalu ya lakukan dengan cara lama, tanya sama orang lewat tentunya. Kalau kena macet berarti baru saya pakai telepon-tidak-pintar saya untuk menelepon pakjek dan tanya “ada apa sih ko macet banget”.

Oh iya, saya paham kekhawatiran orang-orang, bahwa tanpa smartphone maka akan susah dihubungi. Sebetulnya tidak juga, saya tetap bisa di sms dan di telepon. Tapi memang sms dan telepon tidak senyaman chat di Whatsapp atau ngobrol di grup WA misalnya. Akhirnya betul-betul kalau dibutuhkan baru seseorang akan mengkontak. Minimalism kan. Sejujurnya itu juga hal pertama yang saya rasakan tanpa smartphone. Dulu kayanya orang-orang itu apa-apa nanya yaa. Apa-apa saya juga ingin memberi komentar dan mendapat komentar, sekarang sangat berkurang.

Ini belum membahas tentang ‘social media’ tanpa smartphone saya ga bisa banyak intip-intip socialmedia. Saya juga ga tau banyak tentang tren terbaru, gosip terbaru, apa yang lagi keren saat ini, dan seterusnya. Saya masih suka intip sih via laptop, tapi yang bisa dilakukan di laptop terbatas ya. Jadi ya keponya juga terbatasi. Seru kok. Buat saya tren mah ngga terlalu pengaruh karena saya masih setia dengan pakai baju merah kemana-mana, modelnya ya ga penting.

Telepon genggam manis saya yang baru warnanya merah, setelah 1 bulan tidak pakai smartphone baru saya membelinya. Jadi 1 bulan pertama saya tidak bawa telepon apa-apa, ternyata nyaman nyaman saja kok. Kadang mikir juga gimana kalau ada “apa-apa” di jalan, ya aklau itu terjadi saya tinggal cari orang terdekat dan pinjem teleponnya. Gitu aja kok repot.

Setelah 1 bulan, saya membeli telepon genggam lagi, tapi saya sudah berniat untuk tidak beli smartphone. Telepon genggambaru saya tidak pintar tapi sebetulnya cukup pintar juga, bisa dipakai telepon, bisa buat kirim dan terima sms (maksimal hanya bisa simpan 20 sms, kalau lebih maka sms lama harus dihapus supaya sms baru bisa masuk), ada kalkulatornya (bermanfaat sekali buat hitung-hitung), ada kamera juga (meski hanya bisa simpan 6 foto saja dan hasil fotonya cukup banget buat layar hp saya), ada bluetooth (saya pernah coba kirim foto dan sukses lho, memang menghabiskan waktu agak lama, tapi bisa), ada games snakes yang lumayan seru (kalau bosan bisa juga main ini). Semua fitur ini cukupan lah buat saya.

Dirumah masih ada laptop, yang seperti sekarang ketika saya mau “kerja” ya masih support. Saya masih mengerjakan jualan pasir online (bisa banget lho, di laptop juga bisa), saya cek laptop biasanya 1 atau 2x sehari, dan itu cukup. Email-email yang masuk juga saya kelola pakai laptop. Diluar itu juga saya masih bantu-bantu “bikin” sekolah. Sekolah Arunika yang dirintis dan diupayakan bersama banyak teman-teman lain, jadi bagian keseharian saya juga.

Dulu smartphone itu saya pegang paling awal ketika bangun tidur (bahkan pada saat mata belum membuka sepenuhnya) dan jadi benda terakhir yang saya pegang sebelum tidur (jadi kalau mau tidur liat smartphone dulu sampai puas baru lepas contact lens dan tidur). Itupun kalau tengah malam kebangun, ya yang dicari pertama tetap smartphone, duh sungguh parah sekali ya saya ini. Sekarang peduli amat si telepon manis yang tidak terlalu pintar itu seringkali saya lupakan, karena ada banyak hal yang lebih penting yang saya kecup sebelum tidur dan saya peluk ketika bangun. -AdminBubi

Asal Usul Sejumlah Kata. Episode 1.

Asal Usul Sejumlah Kata. Episode 1.

Tulisan hari ini akan membahas beberapa kata dalam bahasa Inggris, dan dari mana asal kata-kata tersebut. Bahasa Inggris adalah bahasa yang begitu kuat dan relatif mudah untuk dipelajari kebanding dengan bahasa Prancis, Jerman, atau Spanyol misalnya.

Kunci dari Inggris menjadi bahasa yang dominan dan mudah dipelajari terletak di penggunaan huruf latin, struktur bahasa yang tidak ribet dan jarang memiliki tingkatan kesopanan seperti Urang dan Abdi di bahasa Sunda, Tu dan Vouz di bahasa Prancis, dan sebagainya, serta di kecepatan bahasa Inggris menyerap kata-kata.

Tulisan ini terinspirasi dari buku Etymologicon, silahkan cari, menurutku itu buku sangat bagus dan menarik, serta sangat bermanfaat jika anda senang menghapalkan hal-hal yang tidak penting, tetapi tetap menyenangkan untuk diketahui.

Kalimat tersebut dapat ditranslasikan menjadi tiga kata… “You’re a geek.”

Selamat menikmati!

Guillotine

Aku harus mengakui bahwa kata Guillotine sendiri cukup berat. Terutama mengingat ini adalah kata yang ditujukan untuk membuka tulisan ringan hari ini. Namun, aku memilih kata ini karena cerita di belakangnya sangat-sangat ironis serta menyedihkan.

Sebelum membahas kata Guillotine, ada beberapa ironi dari Iliad dan Odyssey milik Homer yang perlu diketahui oleh pembaca.

Ajax, ahli perang dan tombak dari pejuang Yunani, menjadi brand pembersih kaca. Hector adalah nama yang umum digunakan dalam beberapa drama modern, bukan untuk pahlawan, tapi biasanya untuk bos yang galak. Achilles menjadi nama otot di kaki, et cetera.

Hanya ada dua orang dalam ingatanku yang mendapati nama mereka digunakan untuk hal baik, yaitu Paris yang namanya digunakan untuk kota. Serta Odysseus yang namanya menjadi kata Odyssey. Sisanya memiliki nasib buruk. Jika aku seorang pejuang Yunani, aku tidak akan mau menjadi seorang pahlawan kalau orang yang tidak membaca ceritaku menggunakan namaku untuk pembersih kaca.

Lalu, dari mana Guillotine mendapatkan namanya?

Tidak lama sebelum revolusi Prancis, seorang cendekiawan asal Prancis dengan nama belakang Guillotin mendapati fakta bahwa orang-orang dieksekusi dengan cara yang terlalu brutal. Ia membuat sebuah prototipe lalu meninggal sebelum prototipe itu ia berikan ke kerajaan Prancis. Jadi, ketika teman-temannya sedang membereskan pekerjaannya dan menemukan prototipe itu, mereka kebingungan akan menggunakan nama apa untuk beda tersebut.

Pada titik inilah aku merasa teman-teman tersebut telah merusak nama baik Dr. Guillotin.

Mereka menyebut alat eksekusi tersebut Guillotine. Oke, Dr. Guillotin sendiri tidak melakukan kesalahan apa-apa kan? Bahkan jika anda bertanya padaku, ia menghilangkan rasa sakit dan kematian pelan yang sering terjadi untuk kriminal. Hukuman mati memang hukuman mati pada zaman tersebut, tetapi karena bantuan Dr. Guillotin, kematian tersebut dapat dilakukan tanpa adanya penyiksaan…

Apa akibat dari penamaan penemuan ini oleh teman-teman Dr. Guillotin? Ha…

Istrinya merubah nama belakangnya ke namanya sebelum menikah karena malu, dan ia meminta anak-anaknya untuk merubah namanya juga ke nama Ibu mereka. Jika misal anak mereka bernama Antoine, sebelumnya dengan nama Antoine Guillotin, sekarang namanya menjadi Antoine *masukan nama belakang istri Dr. Guillotin*.

Moral dari cerita ini? Ketika anda ingin menciptakan sesuatu, tolong berikan nama pada ciptaan milik anda. Terutama jika ciptaan tersebut punya fungsi negatif.

Mortgage

Apakah anda suka membaca buku fantasi di bahasa Inggris? Kalau iya, anda tidak akan kebingungan kalau mendengar istilah Mortuary. Anda suka menonton CSI atau NCIS atau acara televisi lain yang berhubungan dengan kegiatan detektif? Kalau iya, anda pasti familier dengan kata Morgue. Terakhir, anda sering melihat iklan bank atau semacamnya di bahasa Inggris? Kalau iya, anda pasti tahu dengan istilah Mortgage.

Mortuary, Morgue, dan Mortgage semuanya berasal dari satu “ayah” kata. Mort. Bahasa Prancis untuk Kematian.

Mortuary adalah istilah untuk catatan sebelum orang meninggal, Morgue adalah istilah tempat orang meninggal disimpan secara sementara, dan Mortgage berasal dari istilah Mort, serta Gage. Gage berarti perjanjian.

Mortgage secara harfiah di bahasa Prancis berarti Death Deal, atau Perjanjian Kematian.

Kenapa kata ini bisa muncul seperti itu? Hukum-hukum pada masa kata Mortgage masuk ke Bahasa Inggris, dan kalau aku tidak salah (aku bukan spesialis hukum, tolong diingat) sampai sekarang… Jika seseorang punya hutang yang perlu dibayarkan ke Bank, bahkan sesudah kematian, keluarganya masih perlu menanggungnya.

Jadi, lain kali anda bermain Monopoly, anda tahu asal kata Mortgage dan bisa mengingatkan teman-teman anda yang memanfaatkan fitur ini terlalu banyak bahwa entar itu akan menjadi tanggungan oleh anak-anak dan pasangan mereka di masa depan.

Alcohol

Asal usul kata yang satu ini pasti membuat orang-orang bingung. Kenapa?

Tentunya anda yang tinggal di Indonesia (atau di manapun di dunia ini jika ada komunitas Muslim) tahu bahwa kami orang Muslim tidak mengonsumsi Alkohol. Tetapi, kata Alcohol sendiri berasal dari bahasa Arab. Al-Kuhli lebih tepatnya.

Al-Kuhli berarti yang menutupi, atau yang menyembunyikan.

Alcohol menyerap kata yang menutupi ini sebagai alasan bahwa pengonsumsi alcohol berusaha menutupi atau menyembunyikan perasaan dan masalah mereka dengan meneguk Bir, atau Wiski.

Lalu, jika kata Alcohol masih kurang familier, ada kata lain yang anda mungkin kenali, terutama jika pembaca adalah perempuan. Al-Kuhli juga asal dari kata Kohl.

Kohl adalah sejenis make-up atau mascara yang digunakan juga untuk menyembunyikan, alhasil, ia berasal dari kata yang sama dengan Alcohol. Perbedaan sedikit di fakta bahwa salah satu bersifat harfiah dan yang satu adalah perumpamaan, tapi tetap saja…

Jadi, lain kali seorang perempuan menggunakan make-up, anda bisa mempercepat prosesnya dengan menjelaskan asal usul dari kata Kohl dan Alcohol, lalu masuk ke kata lain dan membuatnya bosan agar prosesnya makin cepat!

Sama-sama!

Duct Tape

Kata terakhir yang akan aku sebut adalah kata yang bersifat positif bagi orang-orang praktis dan untuk orang-orang yang senang memperbaiki barang yang sudah rusak.

Duct Tape. Mungkin beberapa orang yang jarang membaca kata ini tapi sering mendengarnya, mengira bahwa ia dieja Duck Tape, dan aku bisa mengingatkan anda bahwa sekarang itu ejaan yang salah, Word juga marah dan memberikan garis biru di bawah tulisan tersebut, tetapi, anda tidak 100% salah.

Pencipta Duct Tape memberi nama ciptaannya Duck Tape dengan alasan itu bisa menahan air, seperti kaki bebek dan selaput di antara jari kakinya. Namun, beberapa pengguna dan pembeli benda tersebut sering menggunakannya untuk menutup Air Duct.

Mereka hanya mengetahui nama benda tersebut secara verbal. Pada Perang Dunia I dan II, penggunaan produk ini melonjak dan ketika orang ingin memastikan pengejaannya, mereka mengira bahwa karena perekat ini digunakan untuk Air Duct atau Water Duct, umumnya di beberapa kendaraan, istilah yang mereka sering gunakan adalah Duct Tape, alih-alih Duck Tape.

Bagus, karena aku tidak butuh hadirnya merek Donald Duck Tape. Nama tersebut mungkin menggoda orang lain dengan nama Donald untuk memasangkan namanya di brand Duck Tape.

Jadi, eja sebagaimanapun anda inginkan, dan sejujurnya, keduanya sama-sama benar!

Kesimpulan

Trivia, Trivia, Trivia.

Aku sangat menyukai Trivia. Semakin tidak penting dan semakin aneh sesuatu, kemungkinan besar semakin mudah bagiku mengingatnya…

Ini baru Episode 1, tentunya akan ada Episode-episode berikutnya! Sampai lain waktu!

Sang Penulis Idealis

Sang Penulis Idealis

Banyak sekali orang melewatkan fakta bahwa Nietzsche memiliki banyak idea dan konsep fundamental di buku On the Genealogy of Morals miliknya… tentang seorang penulis idealis.

Tentunya kalau ada ratusan kalimat dari Nietzsche yang begitu ekstrim dan terdengar fanatik seperti Superman (dan gak, kita gak bicara tentang Clark Kent di sini), God is Dead, serta pembunuhan konsep dan evolusi yang Nietzsche ciptakan, wajar kalau kebanyakan penulis memutuskan untuk melewatkan ide-ide Nietzsche akan seorang seniman/sastrawan.

Tetapi, bagiku, Nietzsche bukan buku pertama di mana aku membaca tentang Superman, Dead God, dan pembunuhan konsep serta evolusi manusia yang umum dilihat di filsafat Post-modern yang Nietzsche ciptakan. Banyak buku yang mencatat Nietzsche sebagai sumber, dan melengkapi ide-idenya dengan opininya sendiri.

Jadi, melihat Nietzsche yang tampak di tulisannya sebagai fanatik, aku cukup takjub bahwa ia mempunyai ide yang indah (setidaknya berdasarkan standar indahnya Nietzsche, yang… ya… err… gitu lah ya…) akan seorang seniman dan sastrawan.

Selamat menikmati!

(Off topic: aku harus berterimakasih pada Word ketika mengecek ejaan Nietzsche, karena meskipun namanya kusebut belasan kali, aku masih saja ada salah ejaan)

Achilles, Jon, dan Tony.

Homer. George R. R. Martin. Stan Lee. Apa kesamaan yang ketiga penulis ini punya?

Mereka bertiga berbeda jauh dari karakter paling ideal yang mereka ciptakan.

Aku akan membahas ketiganya secara terpisah.

Homeric Epic

Homer (terlepas dari eksistensi Homer berdasarkan sejarah) menciptakan Achilles, Hector, Priam, Helen, Ajax, Menelaus, Paris, dan Odysseus dari satu sudut pandang. Tetapi, nyatanya, pahlawan dari seluruh pihak, Ithaca, Yunani, Sparta, Troya, bahkan Olympus (hampir semua dewa berperan penting di Epik skala besar ini) sekalipun, memiliki mentalitas yang berbeda.

Achilles dari Yunani, terobsesi dengan harga dirinya, sangat narsistik, dan punya masalah amarah yang sangat parah. Ia diciptakan dengan satu kelemahan secara fisik, yakni mata kaki miliknya, tetapi dengan ratusan kelemahan mental.

Heck, aku pernah ditanyakan seorang teman tentang ide nama yang diawali dengan huruf A. Ada yang memberi ide Achilles. Komentarku sederhana “Are you crazy? Entar dia punya anger issue atuh…” meski aku menyukai nama Achilles… sebagai karakter, ia sangat tidak utuh dan lemah.

Hector, dari Troya pada sisi lain… Sempurna secara mental. Ia punya ketenangan, kesabaran, kestabilan emosi, dan juga rasa cinta yang sangat besar untuk prajurit, keluarga, dan kerajaannya. Namun, secara fisik, ia kalah jauh dengan Achilles.

Odysseus adalah pahlawan yang masih memiliki corak karakter lain. Ia tenang, sabar, dan stabil seperti Hector, namun tidak sekuat Pangeran Troya tersebut, tetapi, ia punya kemampuan strategi, dan kelicikan tingkat tinggi yang lebih dari cukup untuk memenangkan seluruh pertarungan yang ia hadapi.

Membahas semua karakter dari Epik Homerik kali ini akan butuh waktu yang sangat banyak.

Jadi, ayo move on!

Game of Thrones

Aku sendiri belum pernah baca Game of Thrones, tapi aku cukup aware tentang beberapa referensi dan aliansi yang diciptakan dari beberapa board game yang dimainkan.

Tetapi, referensi ini tetap dibutuhkan, karena GoT adalah hal terdekat ke Homeric Epic di era modern, jadi… ya, begitulah.

Dari banyaknya karakter yang aku ketahui… Sudut pandang penulis bertambah cukup banyak, dan tidak ada jahat atau baik, sama seperti di Iliad milik Homer.

Berdasarkan framework cerita, GoT, menciptakan banyak kelemahan tiap karakter, serta, tidak seperti Epic Homeric yang berakhir tragis bagi SEMUA protagonis, kecuali Odysseus (YAY!), GoT memberi akhir tragis bagi karakter yang disukai orang-orang.

Level tragis dari GoT berkurang kalau dibandingkan dengan Iliad dan Odyssey, namun, pada akhirnya, tiap karakter tidak ada yang bisa memenuhi idealisme penulis.

(Off-topic lagi: Jika anda mengira GoT sudah cukup tragis, ayo dicatat karakter-karakter yang mengalami ending tragis di Mitologi/Sejarah Yunani dan Romawi: Hercules, Theseus, Orpheus, Jason, Bellerophon, Achilles, Phaeton, Daedalus, Atalanta, Meleager, Remus, Julius Caesar, dan sebagainya. Happy Ending? Perseus, Psyche, Romulus. Ya, simpulkan saja sendiri)

Avengers…

Bagi yang mengetahui aku dengan dekat, atau setidaknya, pernah melihat kaos-kaos yang aku kenakan. Bisa disimpulkan aku menyukai DC lebih dari Marvel.

Tetapi, aku juga menyukai Marvel, karena sejujurnya, apa salahnya menyukai keduanya?

Avengers memberikan framework baru kepada gaya menulisnya seorang idealis.

Mau dilihat dari sudut pandang apapun, Stan Lee (rest in peace) memiliki sudut pandang yang unik pada tiap tokoh. Selain fakta bahwa Tony Stark mengalami ending yang tragis, (karena isu kontrak) dan juga Civil War yang terjadi sebelum Infinity War dan End Game, Avengers memperkenalkan konsep Villain yang jelas.

Penonton dapat melihat siapa yang baik, dan siapa yang jahat.

Namun, MCU serta komik-komik yang menginspirasi MCU, memastikan bahwa “penjahat” yang hadir di karya-karya tersebut adalah penjahat yang tidak benar-benar jahat, dan sebenarnya memiliki niatan baik, tetapi dilakukan dengan metode yang salah.

Aku tidak perlu membahas terlalu banyak tokoh, bahkan Thor, Captain America, dan Iron Man juga diciptakan dari tiga framework berbeda. Salah satu mengalami kehidupan yang bahagia, tetapi merasa tidak bisa hidup ke ekspektasinya sendiri. Salah satu mengambil tugas yang diberikan padanya, dan percaya akan tugas, dan nasionalisme. Dan yang terakhir mengalami kejadian tragis dan berniat untuk menciptakan dunia yang ideal, yang lebih sesuai dengan gambarannya atas metodenya sendiri.

Bisa dilihat, tiga tokoh utama MCU fase pertama dan kedua sangat kontras dan berbeda dengan satu sama lain.

Jadi, di mana peran Friedrich Nietzsche di sini?

Terpisah. Ideal. Sempurna.

Homer tidak mungkin menciptakan Achilles atau Hector jika kepribadiannya sama dengan kedua protagonis tersebut.

George R.R. Martin juga tidak mungkin menciptakan Jon Snow, Daenerys, dan… ada siapa lagi di GoT? Kalau ia sama dengan tokoh utama tersebut.

Sama juga dengan Stan Lee. Tony Stark, Steve Rogers, Peter Parker, T’Challa, dan seterusnya tidak mungkin bisa diciptakan kalau Stan Lee memiliki kepribadian yang sama dengan ketiga tokoh tersebut.

Jadi, di mana letak para penulis dan seniman yang disebutkan ini?

Untuk bisa melihat idealisme seorang karakter, penulis atau seniman harus bisa membersihkan diri dari idealisme karakter yang akan diciptakan. Seseorang yang agresif tidak mampu menggambarkan sisi itu darinya secara negatif, dan seseorang yang narsistik juga tidak mampu menggambarkan sisi tersebut darinya secara negatif.

Kelemahan karakter yang paling tampak pun, tidak mungkin bisa dijelaskan jika tidak dilihat dari satu sudut pandang yang netral.

Bagi Nietzsche, seorang penulis bukanlah orang yang mampu menciptakan karya, namun orang yang telah memasukkan imajinasinya dari sudut pandang netral dan bersih. Orang yang terdiskoneksi dan berperan murni sebagai pencerita dalam kisah besar.

Seperti, misal, Vyasa yang berperan dalam penulisan Mahabharata. Vyasa sendiri merupakan tokoh yang canon dan memiliki peran di dalam cerita. Perannya murni untuk menuliskan dan merekap cerita, serta sedikit membantu pahlawan dari kedua belah pihak. Homer, dan George R.R. Martin tidak melakukan ini, namun aku tidak perlu membahas terlalu dalam karena Vyasa adalah contoh paling mentah dan sempurna, hal yang R.R. Martin dan Homer lakukan sudah sesuai, hanya saja tidak semudah dilihat Vyasa.

Bagaimana dengan Stan Lee? Dapat diasumsikan bahwa Stan Lee yang menginginkan cameo di tiap film MCU merupakan hal yang mirip dengan hal yang Vyasa lakukan. Kurasa, kita tidak akan pernah tahu…

Sampai lain waktu… (masukkan sound effect jeng-jeng. Lalu, cut!)

Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Disrupsi Finansial Klub-Klub EPL

Tiap kali bursa transfer terbuka atau tertutup, muncul banyak pertanyaan. Bagaimana cara sebuah klub papan tengah di Liga Inggris mampu untuk membeli calon bintang, atau bahkan bintang dari sebuah klub papan atas (top 6) di liga Eropa lainnya?

Dalam bursa transfer terakhir saja, Moise Kean dari Juventus pindah ke Everton untuk 29 Juta Euro, Sebastian Haller dari Frankfurt pindah ke West Ham untuk 40 juta Euro, Ismaila Sarr dari Rennes pindah ke Watford untuk 26 juta Euro, Joelinton dari Hoffenheim pindah ke Newcastle untuk 40 juta Euro, dan seterusnya. Dan daftarnya masih terus bertambah panjang

Haller yang bisa bermain di Champions League untuk Frankfurt di musim 2019/20 memutuskan untuk pindah ke Inggris
Kean yang membantu Juventus menjuarai Serie A memutuskan pindah ke Everton

Pembelian rekor klub-klub papan tengah EPL ini setara dengan pembelian rekor klub-klub papan atas (posisi 3-6) di Liga Italia (pengecualian khusus untuk Inter dan Roma tentunya, kedua klub ini menghasilkan banyak sekali uang dari sponsor), Liga Jerman, dan Liga Prancis.

Pertanyaan besar yang muncul adalah, bagaimana mereka bisa mengeluarkan uang untuk ini, dan mengapa pemain rela pindah dari klub papan atas, ke klub papan tengah di Inggris?

Kita bicara tentang seorang striker berbakat dengan usia di bawah 20 tahun, masa depan timnas Italia yang lagi berantakan, dan membantu Juventus memastikan gelar Serie A tetap jatuh ke tangannya… pindah ke klub di Liga Inggris yang bahkan tidak bisa selesai di 50% teratas pada akhir musim lalu, dan akan selalu dibayang-bayangi klub sekotanya.

Kenapa ya?

Like, seriously. Money.

Oke. Faktor paling sederhana dan mudah untuk seorang pemain pindah adalah uang.

Kenapa tim-tim posisi ketiga hingga keenam liga Eropa lainnya kesulitan untuk membeli atau setidaknya menyimpan pemain-pemain yang mereka hasilkan atau temukan?

Liga Inggris membagi 8.66 Milyar USD (income yang sangat besar) pada tahun 2018 ke 20 tim dengan rasio… 50% diberikan bulk di awal, secara rata antara keduapuluh klub. 25% diberikan secara gradual tiap kali ada pertandingan yang dimainkan, juga secara rata. Lalu 25% sisanya dibagikan berdasarkan posisi klub di akhir tabel. Pembagiannya juga tidak begitu berbeda jauh, kecuali kau membandingkan tim paling atas dengan ketiga tim relegasi.

Nah, mari kita masukan angka itu ke dalam perspektif dan membandingkannya dengan liga-liga lain.

  • La Liga, liga nomor 2 di Eropa menghasilkan 4.7 milyar USD tiap tahunnya, hanya sedikit di atas 50% uang yang dihasilkan klub di Inggris,
  • Serie A, menghasilkan 3.9 milyar USD tiap tahunnya,
  • Bundesliga menghasilkan 3.4 milyar USD per tahun
  • Ligue 1 menghasilkan 2 milyar USD tiap tahun.

Sekarang, mari kita bandingkan angka tersebut berdasarkan tempat klub-klub tersebut berdiri pada akhir musim.

Huddersfield yang finis di posisi terbawah Liga Inggris mendapatkan uang SETARA dengan uang yang Barcelona terima sebagai Juara Liga Spanyol. Huddersfield juga mendapatkan lebih banyak dari Atletico, Juventus, Bayern, dan PSG secara mentah dari Liga.

Uang ini tidak menghitung sponsor atau tiket tentunya, karena jika sponsor dihitung, kita akan melihat angka yang sangat berbeda di sini, mengingat Bayern dan Juventus mendapatkan stadion yang cukup penuh tiap kali ada pertandingan.

Coba pembaca pikirkan sedikit terlebih dahulu. Sebuah klub yang sukses bermain di Liga Inggris bisa kalah lebih dari 30 pertandingan dalam satu musim yang berlangsung 38 pertandingan, dan menghasilkan uang lebih banyak dari tim yang memenangkan 33 pertandingan dalam satu musimnya.

Meninggalkan Jejak

Sekarang, mari kita lihat dari sudut pandang seorang pemain. Tentunya, pemain sepakbola ingin meninggalkan jejak, atau catatan sebagai pemain, dan memenangkan piala sebagai satu klub.

Tapi secara realistis, jumlah klub unik dari lima liga besar Eropa yang memenangkan piala (baik liga, liga Eropa, atau turnamen gugur) hanya ada 9. Manchester City, Liverpool, Chelsea, Barcelona, Valencia, Juventus, Bayern, PSG dan Rennes. Sedangkan, secara total, ada 10 klub papan tengah di semua liga kecuali Liga Jerman, plus 9 klub papan tengah Bundesliga.

Berarti, ada 49 klub papan tengah dari total 98 tim yang ada di lima liga besar Eropa.

Jika seseorang tidak punya kemampuan yang cukup untuk bermain di salah satu dari klub yang juara, walaupun bisa berkompetisi di liga Eropa (seperti yang terjadi untuk Frankfurt) apakah seorang pemain rela bermain di klub yang kemungkinan akan nyangkut di 4 besar dan kesulitan menjadi juara?

Tentu tidak. Mending manfaatkan karir yang pendek ini untuk menghasilkan uang saja. Alhasil, pemain-pemain yang berbakat tersebut, yang semuanya sudah kubahas tadi, memutuskan untuk pindah ke klub papan tengah, tetapi dengan gaji yang setara, bahkan lebih dengan klub papan atas di liga-liga lainnya.

Survival Specialist

Ini menciptakan efek yang menarik tentunya.

Apa yang dicari dari seorang manajer klub papan tengah klub liga Inggris?

Tidak seperti di Eropa, di mana manajer klub papan tengahnya adalah manajer yang mampu bekerja dan memberikan hasil maksimum atau bahkan kualifikasi Eropa (seperti yang kita lihat dengan Atalanta, Getafe, dan Frankfurt pada musim kemarin) di Inggris, manajer papan tengah yang ideal adalah manajer yang bisa memberikan musim yang aman.

Jika anda bisa masuk top delapan, atau bermain di Europa League pada musim depannya, bagus! Tetapi, target terbesar dari seorang manajer adalah untuk selamat dari relegasi, dan memastikan bahwa musim berikutnya, klub masih menerima income yang selevel dengan juara Spanyol.

Ini alasan terciptanya pelatih macam Roy Hodgson, David Moyes, Sam Allardyce dan juga Tony Pulis. Ketiga pelatih ini mampu menyelamatkan timnya dari relegasi, tanpa mencapai hasil yang spektakuler. Hodgson menggunakan tim Crystal Palace-nya sebagai tim yang mempunyai struktur defensif yang bagus dan memukul cepat dan keras pada serangan balik ketika momennya muncul pada musim lalu. Moyes juga memiliki tim Everton yang memanfaatkan serangan udara dengan umpan-umpan dari Leighton Baines. Sedangkan, Pulis… Ugh, Stoke City yang ia pimpin terkenal akan kemampuannya bertanding fisik.

Strategi seperti itu bukan strategi yang bisa diterapkan oleh klub papan tengah di liga lain, karena mereka mengharapkan hasil dan income yang lebih tinggi, kemungkinan munculnya income ada di sponsor (yang akan kalah jika membandingkannya dengan klub lain) serta dengan bermain di liga-liga Eropa.

Menjadi Juara

Lalu, bagaimana cara klub-klub enam besar Liga Inggris bisa bersaing dengan satu sama lain?

Pada putaran tahun 2004, hanya 15 tahun yang lalu, klub dominan di Inggris hanya ada empat. Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea. Sekarang, angka tersebut telah menggelembung menjadi 6, Spurs dan Manchester City menjadi tambahan terbaru. Inggris sendiri punya 7 tim yang berkompetisi di UCL dan Europa League, jadi kalau kita ingin menganggap Wolverhampton sebagai tim papan atas, kita tidak salah.

Untuk memastikan ada kemampuan bersaing finansial antara keenam tim ini, hal termudah bisa terjadinya persaingan finansial ada di kompetisi Eropa.

Jika sebuah tim Big Six gagal mencapai kompetisi Eropa seperti yang terjadi pada musim saat Leicester City juara… Maka bisa dipastikan bahwa mereka akan menghadapi finansial yang sulit.

Apakah Liga Inggris Masih Sehat?

Tulisan hari ini akan ditutup dengan sebuah pertanyaan.

Jika anda bertanya padaku, aku harus cukup jujur dan lurus menyatakan bahwa secara internal, liga inggris adalah liga yang sangat sehat.

Namun, kalau kita merambah kepada empat liga di Eropa lainnya, muncullah pertanyaan, seberapa disruptif Liga Inggris yang menghambat pertumbuhan dan kualitas pemain di klub-klub tersebut?

Jika klub selevel Everton (dan camkan bahwa ini muncul dari fans Liverpool) bisa membeli bintang muda dari klub selevel Juventus karena memberikan gaji yang tinggi, apa yang enam klub-klub besar (dan juga menghasilkan banyak dari sponsor dan kompetisi Eropa tentunya) akan bisa lakukan untuk merusak pasar di liga lain?

Sepakbola tidak bisa sekedar nyangkut pada urusan uang, dan dengan level disrupsi yang diberikan liga Inggris sekarang, pertanyaan itu akan muncul jika tidak secara kontinental, maka setidaknya, pada tingkatan domestik keempat liga lainnya.