Month: June 2019

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Taktik Sepakbola: Total Football Pressing

Kembali di serial Taktik Sepakbola, terutama mengingat bahwa belum ada pertandingan sepak bola yang dimainkan untuk menjadi contoh, ini adalah momen yang sempurna untuk membahas taktik yang sedang ngetren di dunia sepakbola.

Kali ini, taktik yang akan dibahas tidak lain dari Pressing.

Liga Champions 2018/2019 menunjukkan seberapa menyeramkan dan efektifnya tim-tim yang ahli dalam memanfaatkan pressing.        Keempat semifinalis di turnamen tersebut menggunakan sejenis variasi dari pressing sebagai bentuk dasar sistem. Kesuksesan ini tercerminkan dari keempat tim yang mencapai titik tersebut. Selain keempat semifinalis, Manchester City juga mencapai perempat final dengan menggunakan variasi pressing yang sangat sesuai dengan ideal pressing Cruyff.

Aku sudah membahas Gegenpress, dan untuk menghindari kebingungan, pressing dan gegenpress adalah dua hal yang berbeda. Counter-press atau Gegenpress merupakan variasi dari pressing mendasar yang diajarkan oleh Johan Cruyff pada akademi Ajax Amsterdam dan akademi La Masia milik Barcelona, tetapi keduanya berbeda.

Kelahiran Pressing

Sebagai bagian dari filosofi Total Football yang populer di Belanda pada era 1970-an, Rinus Michels dan Johan Cruyff merupakan pelatih pertama yang memfokuskan diri dalam bidang ini. Michels mendidik Cruyff, dan Cruyff yang memiliki karir pemain gemilang memperhalus dan menyempurnakan sistem ini.

Total Football sendiri menciptakan 3 pilar (anda bisa berargumen bahwa ada pilar keempat, dan itu akan kubahas di bawah) sendiri yang sayangnya sering dilihat secara terpisah oleh para pemain dan beberapa pelatih.

Pilar pertama Total Football ada di Possession play. Kebergantungan pada penguasaan bola untuk mendominasi lawan. Pilar kedua ada di Pressing, merebut bola untuk memastikan bahwa bola terus dikuasai dan lawan bisa didominasi. Pilar ketiga adalah kebebasan posisi. Era sepakbola awal-awal sangat fokus pada menyerang (dengan skor 9-5 anda mungkin berpikir bahwa ini pertandingan Hockey kebanding sepakbola) dan tampaknya pemain-pemain menjadi jauh lebih rigid dalam bergerak. Sepakbola Belanda mengubah itu, memberi fleksibilitas bagi para pemain untuk bertindak.

Seperti kusebut, ada pilar keempat, namun pilar ini bukan pilar yang begitu tampak sebagai pilar yang taktis. Pilar keempat Total Football ada di fakta bahwa pemain harus menikmati bertanding dalam sebuah pertandingan. Sampai sekarang saja (di era dimana fisik pemain diperhatikan gila-gilaan) tim-tim yang menggunakan varian dari Total Football kewalahan dan kelelahan, jika anda tidak menikmatinya, mungkin anda perlu bermain di tim lain saja.

Pada era Total Football pertama, Pressing berfungsi untuk merebut kembali bola, sesudah bola kembali dimiliki, perubahan posisi yang drastis serta penguasaan bola yang inteligen harus ikut bermain. Jika bola tidak dikuasai lagi, sistem Total Football pada era tersebut meminta pemain untuk berubah posisi, merebutnya kembali, dan berubah posisi lagi sambil menyerang.

Evolusi Dimulai                                

Total Football mendominasi. Ajax memenangkan 3 piala Eropa (sekarang menjadi Champions League) dalam 3 tahun.

Taktik ini cukup populer, dan Total Football sendiri terpecah menjadi 3 pilar yang kusebut di atas sebelum direvolusikan oleh budaya sepakbola tiap negara.

Spanyol memfokuskan diri pada penguasaan bola dan perubahan posisi yang konstan. Ini awal dari lahirnya Tiki Taka. (But, please… don’t call it that, it’s more complicated than just Tiki Taka) Ini alasan mengapa La Liga Modern sangat bergantung pada penguasaan bola. Masih banyak reaktivitas yang bergantung dan cara dua formasi terbentuk dengan satu sama lain, namun umumnya, penguasaan bola adalah cara paling sederhana mendominasi pertandingan.

Jerman memfokuskan diri pada perubahan struktur yang cepat. Bundesliga menjadi sebuah liga yang bergantung pada transisi, dan seberapa rapih, efisien, dan terstruktur sebuah tim bisa mengatur dirinya. (Ini kelahiran dari Gegenpressing punya Jürgen Klopp, kujelaskan di bawah)

Italia pada sisi lain, menciptakan sejenis… apa bahasanya ya… Struktur yang rapih. Struktur dan kepadatan di sebuah liga ini tidak begitu bergantung pada ketiga pilar Total Football. Justru, struktur yang rapih dan permainan bertahan yang tertutup di Italia melahirkan sejenis pertandingan yang defensif, dan membuka serangan balik yang berbahaya. Arrigo Sacchi memanfaatkan serangan balik dan struktur yang sempurna ini dengan sistem 4-4-2 miliknya.

Reaktivitas tim Italia tampak lambat. Selama Catenaccio masih hadir (diagram di bawah) mereka merupakan tim yang paling terkena oleh sistem Total Football ini. 1-4-2-3 atau 1-4-3-2 yang umum dilihat di sistem Catenaccio ini tidak bisa bergantung pada serangan balik khas Italia karena adanya banyak lubang di sistem pertahanan ini ketika bertemu dengan tim-tim yang mengaplikasikan Total Football. Formasi khas Italia yang memanfaatkan Libero ini sudah mati. Akan kujelaskan di artikel lain, anda cukup tahu bahwa Catenaccio sudah tidak ada.

Seperti dilihat di gambar, Catenaccio memasang 1 pemain bertahan ekstra untuk merapihkan kesalahan dan menghindari serangan balik tercipta. Offside tidak berlaku karena pada era Catenaccio, offside dihitung dari pemain nomor tiga dari belakang, bukan nomor dua. Dalam kasus ini, pemain nomor 6 adalah pemain yang menjadi garis offside, bukan pemain nomor 4 seperti pada era modern.

Berarti terakhir adalah…

Inggris… umm. Sebelum terciptanya Liga Primer Inggris, Inggris sendiri merupakan liga yang sangat… apa bahasanya ya… Tertutup. Strategi paling mendasarnya adalah dengan melempar bola ke tengah lapangan, lalu ke kotak penalti dan sundul atau tendang bola tersebut ke belakang kiper. Ceritanya panjang, tetapi juga ada kok tim yang bermain sepakbola dengan indah di Liga Inggris sebelum tahun 1992 dimana Liga Primer Inggris tercipta.

Catatan, struktur dan posisi adalah dua hal yang berbeda. Posisi di sini bermaksud pada pergerakan pemain, perubahan posisi bisa merubah struktur meski itu tidak selalu terjadi. Jika struktur berubah, misalnya sebuah tim bertahan dengan formasi 3-4-3, dengan gelandang bertahannya turun untuk menjadi bek ketiga, dan kedua bek sayapnya maju untuk mempercepat transisi… Namun, ketika menyerang, tim yang sama langsung merubah formasi menjadi 4-3-3, dengan si gelandang bertahan kembali ke tengah lapang.

Variasi Pressing

Total Football yang tadinya satu ini terpecah menjadi 3, ketiganya juga memiliki variannya masing-masing, dan sekarang, karena revolusi dan budaya yang berbeda, tiap pelatih yang ingin mengaplikasikan Total Football harus mempelajari ketiganya secara terpisah, lalu mencari cara untuk menyatukan varian mereka ke sistem yang sama.

Wah, terima kasih evolusi taktik , anda mempersulit hal yang sama, dengan mempisahnya menjadi 3 hal berbeda, hanya untuk perlu disatukan kembali!

EHEM… maaf. Kembali ke topik…

Pressing sendiri terevolusi menjadi… entah berapa puluh jenis dan variasi. Pelatih-pelatih yang memasukkan pressing dalam sistemnya, atau membangun sistem pressing sebagai intisari timnya ada 5. Jürgen Klopp (Liverpool), Mauricio Pochettino (Spurs), Erik Ten Hag (Ajax), Thomas Tuchel (PSG), dan Pep Guardiola (Manchester City).

Aku akan membahas ketiga tim yang setidaknya masuk semi-final liga Champions. Liverpool-nya Klopp, Spurs-nya Pochettino, dan Ajax-nya Ten Hag.

Jürgen Klopp (Gegenpressing/Counter Pressing)

Klopp merupakan pelatih yang memanfaatkan pressing bukan sebagai metode untuk membangun serangan kembali. Melainkan untuk menyerang. Seperti disebut di atas, Bundesliga adalah Liga yang bergantung pada transisi dan perubahan struktur. Dengan kecepatan pemain yang ia miliki di Dortmund, Klopp memaksa lawannya untuk bertransisi atau menerima satu gol. Ketika pembangunan serangan melalui penguasaan bola gagal, ia ingin lawannya untuk terus bermain dan membangun serangan. Perubahan posisi yang tidak rapih dan struktur yang tidak jelas justru merupakan hal yang bagus. Klopp memenangkan 2 gelar Bundesliga dengan sistem yang “berantakan” ini.

Ada satu artikel khusus buatanku untuk Gegenpressing, jadi baca itu saja. Aku tidak akan banyak membahasnya.

Gegenpressing Klopp di Liverpool berbeda dengan di Dortmund yang mengandalkan posisi berantakan, alih-alih, Pressing Klopp bergantung pada struktur yang rapih dan pembangunan serangan yang bagus juga jika lawan memberikan bola-nya pada Liverpool.

Dasarnya, kau menyerang, kami bertahan (mereka punya Van Dijk  toh) lalu kami serang balik, dan kami sangat bagus dalam menyerang balik. Kau bertahan? Kami menyerang, dan kami bagus dalam menyerang.

Seperti tampak di diagram, Gegenpress meminta dua pemain (atau lebih) terdekat untuk melemparkan tubuhnya ke pemain yang merebut bola dari sebuah serangan.

Garis Kuning merupakan jalur pertama yang dimanfaatkaan untuk memaksa lawan mengoper ke pemain nomor dua, lalu pemain nomor 9 akan mencari jalur dan lari ke pemain yang menerima operan. Firmino adalah pemain yang mengatur pressing Liverpool.

Jika lawan bertransisi dan melewati 2 orang yang sedang pressing, Fabinho yang dimainkan menjadi gelandang jangkar (meski Wijnaldum dan Keita juga pernah bermain di posisi tersebut dengan nyaman, cetakan pemain yang Klopp cari dipenuhi Fabinho) akan merebut bola dan mendaur ulang serangan yang sudah dibentuk. Firmino menjadi pemain utama yang menentukan dan membentuk struktur counter-pressing Liverpool.

Mauricio Pochettino (Pressing High)

Jika Klopp menggunakan Pressing dengan tujuan untuk merebut bola dan kembali menyerang menggunakan bola yang hampir pasti akan direbut, Pochettino fokus ke struktur dalam memaksa lawan terus bermain. Pochettino tidak begitu ingin pemainnya untuk merebut bola, setidaknya tidak sebanyak Klopp, namun Pochettino memanfaatkan pressing untuk memperkecil ruang lawan, dan membuat mereka pindah ke posisi yang tidak nyaman.

Pochettino memanfaatkan sistem yang mirip dengan Klopp di Southampton, namun di Tottenham Hotspurs, ia menggunakan sistem yang hampir seluruhnya berbeda.

Di Spurs, Pochettino meminta keempat penyerangnya (dalam 4-2-3-1, keempat penyerang adalah 3 dan 1 yang di depan) untuk melakukan Pressing sebagai satu struktur ke barisan belakang lawan. 3 pemain akan diam di tempat, dan satu pemain akan maju. Lawan harus melewati si pemain yang akan maju ini dengan mengoper bola, baik langsung ke depan, atau ke midfield mereka dulu.

Jika bola yang diberikan adalah bola lambung, Vertonghen atau Alderweireld akan menyundulnya dengan cepat, memberi bola untuk kedua gelandang jangkar, jika bola dioper melalui bawah, kedua gelandang jangkar atau 3 penyerang di depannya akan berusaha mengarah ke bola dan mendaur ulang serangan.

Pressing yang dilakukan Pochettino adalah Fake-Pressing. Mereka hanya melakukan pressing untuk memaksa lawan bermain, bukan karena mereka ingin memenangkan bolanya.

Pressing ini juga bermanfaat ketika menyerang, karena akan ada momen dimana lawan merubah posisi untuk melakukan zonal marking dan memberi jarak antara mereka dan lawan, dan memaksa lawan untuk menyisakan ruang dan garis-garis yang bisa dieksploitasi oleh ketiga penyerang tambahan Spurs (Dele Alli, Christian Eriksen, dan Son Heung Min biasa bermain di belakang Kane)

Seperti dilihat di gambar, pressing Pochettino sebenarnya tidak memiliki niatan untuk merebut bola, tetapi hanya untuk memaksa lawan terus memutar bola dan akhirnya mengirimkan pemain ke depan.

Dalam diagram ini, bek tengah bernomor 4 punya pilihan mengoper ke kiper, bek tengah yang lain, gelandang bertahan, atau bek kanan, semuanya dengan resiko bahwa striker nomor 9 atau pemain lainnya melanjutkan press.

Lawan akan memainkan bola jauh dan bek Spurs akan membuangnya untuk dikendalikan dan didaur ulang oleh kedua gelandang bertahan. Alderweireld sendiri (Nomor 4) memiliki angka kemenangan duel yang bagus, 69.6%, keempat paling besar di Liga Primer Inggris.

Erik Ten Hag. (Pass Lane Pressing).

Erik Ten Hag melakukan gaya pressing yang berbeda dari keduanya. Jika Pochettino berharap bahwa pressing digunakan untuk memaksa lawan membuat keputusan yang buruk, dan jika Klopp berharap bahwa pressing digunakan untuk merebut bola, Ten Hag meminta pemainnya melakukan pressing dalam situasi yang berbeda.

Ten Hag ingin pemainnya untuk melakukan marking yang rapih di midfield, lalu meminta salah seorang gelandang, atau sayapnya untuk meninggalkan orang yang ia mark, demi melakukan pressing ke pemegang bola. Ia juga meminta striker tengahnya untuk memaksa si pemegang bola untuk mengoper ke orang yang ditinggalkan tadi.

Dari situ, orang terdekat ke pemain tersebut akan melakukan press dengan cepat, dan memenangkan bolanya kembali.

Dasarnya ia memaksa lawan mengoper bola ke orang yang akan langsung dipressing, dan memenangkan bola.

Taktik ini membutuhkan pemainnya untuk memiliki penentuan waktu yang sempurna, dan intelegensia yang cukup serta kedisiplinan dalam memposisikan diri.

Karena marking yang rapih, lawan tidak memiliki opsi kecuali untuk mengoper ke pemain nomor 10. Begitu bola berjalan, 1 atau 2 pemain terdekat langsung berlari untuk merebut kembali bola dan mendaur ulang serangan.

DIAGRAM

Yap, 3 variasi taktiknya sudah dijelaskan, dan semoga anda tidak bosan membaca 1600 kata dari tulisanku… Sampai lain waktu!

Masalah Konsistensi

Masalah Konsistensi

Where were we?

Empat bulan kosong, mungkin lebih, dari mana kita? Apakah aku ada hutang serial yang perlu dibayarkan? Hmm.

Sepertinya membuat artikel mengenai Aladdin, atau, film apapun itu yang sedang ada di bioskop, bias jadi ide menarik. Tetapi untuk sementara, kita simpan saja dulu idenya.

Aku sudah menghabiskan bulan-bulan ini untuk menyerap ratus ribuan loc dan halaman dari buku-buku (oke, secara teknis memang E-Book, jadi hanya ratus ribuan location Kindle) tetapi buku tetaplah buku.

Ooh aku juga sudah menulis buku, dan kecepatanku menulisnya tidakburuk! Kurasa ia bisa beres sebelum 17 Agustus… Hmm…

Diantara banyak buku yang sudah kubaca, aku menemukan suatu jenis buku yang menggambarkan banyak ironi dan kekeliruan dari cara manusia berpikir.

Mungkin anda pernah mendengar tentang seorang psikologis yang memenangkan Nobel di bidang Ekonomi, namanya tidak lain dari Daniel Kahneman, dan almarhum sobatnya, Amos Tversky. Kahneman menggambarkan miskonsepsi-miskonsepsi dan “Blunder” sederhana yang sering dilewatkan oleh orang-orang.

Banyakalasan orang-orang menjadikorban blunder ini. Mungkin karena mereka terlalu percaya diri, memang tidak tahu, dantidakberpikirsecararasionalsaja, tetapi, adabanyakalasan blunder-blunder initerjadi.

Dan hari ini, aku akan membahas salah satu blunder paling sederhana. Mengenai performa dan konsistensi. Kurasa ini artikel yang tepat, mengingat aku sudah hilang empat bulan lebih.

Fortuna’s Sprint

Seorang Komedian pernah bercanda, resep sukses? Oh, mudah!

Sukses = Bakat + Keberuntungan

Sukses skala besar = Bakat + Banyak sekali keberuntungan.

Pada kenyataannya, kita bisa merubah sedikit dari lelucon itu, dan menambahkan kerja keras dalam resep itu, dan kurasa, formula itu dapat diaplikasikan secara konsisten. Semakin beruntung seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan sukses.

Ya, berdoa saja ke Fortuna, dan berharap hari ini anda sedang beruntung. Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik yang sedikit di atas rata-rata. Namun, untuk mencapai titik sukses yang maksimal, anda perlu keberuntungan.

Kahneman menggambarkan situasi ini ketika ia sedang melatih sebuah pasukan pilot di militer Israel. (Don’t ask me how he got there, just read his book, Thinking: Fast, and Slow.).

Tetapi, untuk memberi bayangan angka yang lebih mudah, serta mempermudah analogi juga, kita bisa anggap Kahneman sedang melatih beberapa atlit sprint, hanya sebagai asisten.

Ia memberi sebuah instruksi sederhana dan menyatakan bahwa ia sudah menyiapkan hadiah bagi atlit yang paling sukses. Pelatih tersebut menyangkal dan menyatakan bahwa pemberian hadiah hanya menurunkan performa. Ia menyarankanuntuk menghukum atlit-atlit yang memiliki performa buruk.

Kahneman menyangkal.

Ia meminta sang pelatih untuk meminta tiap atlit untuk mengambil 5 sprint, dan melakukan hal yang sama keesokan harinya, dan juga esoknya lagi. Ia mengambil angka selama 3 hari, dan 5 sprint per harinya. Angka tersebut tidak disebutkan agar tidak ada tekanan untuk mengulangi hal yang sama.

Dan, ia mendapat hasil menarik. Anggap sajaada 5 atlitlari, danakuakanmemberinyanama-namaberbeda, danhasil yang miripdenganhasil yang Kahnemanjelaskan.

Catatan: Militer Israel tidakmemberikanizinuntukmengeluarkanangkanya, dan sebenarnya ia hanya menjelaskan performa di buku miliknya dengan 3 kata, baik, buruk, atau biasa. Angka disini sepenuhnya fiktif.

Catatan 2: Jika anda lupa, aku merubah angka di artikel ini menjadipelari sprint, untuk mempemudah pembuatan angka.

Di bawah 13.5detik = Baik

13.5-14.9 detik = Rata-rata

Di atas 15 detik = Buruk.

  • Atep
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.2 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 12.1 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.23 detik
  • Iwan
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 11.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 15.7 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.8detik
    • Rata-rata total: 14.1detik
  • Budi
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 13.6 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.8 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.26 detik
  • Kevin
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.5 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 12.9detik
    • Rata-rata total: 14.73detik
  • Ali
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.4detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.0 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.9detik
    • Rata-rata total: 14.43 detik

Dengan mudah dapat disimpulkan (dari rata-rata total) bahwa Iwan merupakan pelari paling berbakat di antara semuanya, dan Kevin merupakan pelari yang butuh lebih banyak kerja keras untuk bisa sukses.

Perlu dilihat, tetapi, di antara semua sprint ini, Budi yang memiliki konsistensi terbaik. Budi tidak pernah mendapat angka yang begitu buruk, ia hanya mendapat 3 hasil rata-rata. Pada sisi lain, Kevin juga satu-satunya pelari yang tidak menerima penurunan kualitas. Hasilnya selalu membaik, meski pada hari ketiga, ia tetap bukan yang tercepat, dan ia hanya mendapat hasil rata-rata.

Kahneman ingin menyampaikan bahwa, terkadang, kita terlalu cepat mengambil keputusan dan menyatakan bahwa kemampuan tiap pelari di bawah rata-rata, atau di atas rata-rata tanpa data yang cukup. Selain itu, juga ada fakta bahwa, pada akhir hari, semua orang pernah merasa menjadi rata-rata.

Melihat  dari hasil rata-rata tiap pelari, performa rata-rata mereka pada ketiga hari tidak begitu berbeda. (Oke, 0.3 detik mungkin perbedaan besar dalam sprint 100 meter, tapi, anda mengerti maksudku apa)

Kelima pelari tersebut memiliki bakat dan kerja keras yang berbeda tentunya, namun pada akhirnya, tidak ada pelari dengan bakat selevel Usain Bolt dari mereka berlima. Hanya ada yang lebih baik dari rata-rata, dan yang memang biasa-biasa saja.

Dewi pelit

Seberapa baik hasilanda, atau seberapa buruk hasil anda, berapapun angka anda, pasti akan ada perubahan.

Anda mungkin sedang beruntung, jadi anda mendapat hasil baik. Lalu, juga, jangan lupa, jika hasil anda buruk, sepertinya tidak mungkin angka tersebut bisa menurun lebih parah. Bagi orang yang mendapat hasil buruk, satu-satunya jalan adalah keatas.

Seberapa baik anda, seberapa berbakat anda, anda hanyalah manusia rata-rata. Bakat hanya bisa memberikan anda suatu hasil rata-rata yang lebih baik. Sisanya, kita perlu bergantung pada kerja keras, dan sayangnya, dewi yang pelit dan plin-plan… alias Fortuna.

Fortuna mungkin dewi yang disembah oleh para prajurit dan raja Romawi, namun, kata Fortuna sendiri juga dapat digunakan untuk perumpamaan keberuntungan.

Satu hari anda memiliki performa luar biasa. Hari lain? Performa anda biasa-biasa.

Orang yang begitu berbakat hanya muncul sesekali tiap generasi. Kecuali anda Cristiano Ronaldo, Michael Jordan, Taylor Swift, atau Albert Einstein, yang memiliki nilai rata-rata (dari bakat) yang begitu tinggi, serta dengan kerja keras yang cukup… Anda perlu bergantung pada keberuntungan, dan kerja keras.

The Law of Success

Bagian dari artikel ini semacam mendukung kepercayaan untuk tidak percaya pada motivator. Motivator biasanya mendukung fakta bahwa orang-orang istimewa.

Aku mendukung sebaliknya. Orang-orang yang memang istimewa akan sukses begitu mereka bekerja keras.

Untuk sukses, ada 4 unit yang perlu dijadikan faktor. Bakat, Kerja Keras, Keberuntungan, dan yang terakhir, skill.

Kurang lebih, rumusnya seperti ini.

Skill = Kerjakeras + bakat. Sukses = Skill + keberuntungan.

Keberuntungan dapat membuat anda sukses, tapi pada akhir harinya, anda perlu bakat dan kerja keras. Salah satu tidak cukup lagi…

Orang-orang sekarang mencari “The Next Google” dan mereka juga tertarik untuk membuat sebuah startup yang sukses. Sayangnya, ini tidak mungkin kecuali anda memiliki keberuntungan yang sangat banyak, atau bakat yang sangat banyak.

Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik di mana anda sedikit di atas rata-rata. Anda butuh kerja keras dan terus menerus belajar agar anda memiliki satu set skill yang dapat dimanfaatkan secara konsisten, dan bukan hanya saat beruntung.

Bagaimana cara anda sukses? Anda harus konsisten, dan anda berharap akan keberuntungan. Konsistensi yang cukup dapat memberi anda suatu bentuk kesuksesan kok.

Just don’t pray to be someone THAT special and work hard enough… Anda akan sukses.

Jadi, apa rahasia konsistensi? Kerja keras, dan kerja terus. Hasilnya tidak akan bohong.

Sampai lain waktu!

 

 

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp – Mainz 05

Jürgen Klopp. Salah satu pelatih terbaik dunia, dikenal karena gaya melatihnya yang tidak umum, jenggotnya yang tidak dicukur, dan kebiasaannya selebrasi dengan sangat lebay… hingga kacamatanya ia rusak. Akhir musim Liga Inggris kali ini melihat Klopp memecahkan rekor Runner Up dengan poin terbanyak sepanjang sejarah Liga Primer Inggris. Meski masih belum juara juga, (next year will be our year!) pasukan Liverpool pimpinannya merupakan satu-satunya tim Liverpool yang dapat memenangkan 30 pertandingan dalam satu musim Liga Inggris sejak tahun 1960.

Musim ini juga musim pertama dimana dia membawa pulang trofi Liga Champions ke Inggris. Meski ia tidak mampir dulu ke Manchester untuk memamerkannya, warga di Merseyside terus mendukungnya.

Serial (yang aku sudah entah memulai beberapa ratus namun belum pernah dibereskan, tolong doakan aku bisa bereskan serial ini) ini akan menceritakan dengan singkat karir Klopp dan kisah hidupnya. Selamat menikmati!

Bermain, Bertahan, dan Berlari

Klopp memulai karirnya sebagai pemain di Mainz 05, sebuah klub kecil yang bermain di divisi dua Jerman, belum pernah sekalipun, Mainz merasakan perasaan bermain di Divisi pertama. Meskipun begitu, karir pemainnya tidak begitu gemilang, karena sebagai pemain, ia hanya terperangkap di divisi dua Liga Jerman.

Kesempatan terbaiknya untuk mendapatkan promosi ke Bundesliga gagal karena kesalahan yang ia buat saat bermain menjadi bek kanan. Mainz kalah pada hari terakhir karena Klopp memberikan bola ke lawan di ujung kotak penalti. Skornya berada di 2-1, dan Mainz yang sedang mengumpulkan bola dan menciptakan begitu banyak peluang terpukul karena kesalahan Klopp. Skornya turun ke 3-1, dan seandainya mereka mencetak gol pun, perjalanan menuju kenaikan ke Bundesliga masih jauh, mereka masih butuh satu gol lagi.

Seandainya pertandingan tersebut berakhir dengan hasil seri, Mainz akan naik dan merasakan permainan di divisi satu Bundesliga. Mereka gagal.

Oke, ia membuat kesalahan, tetapi… Tidak perlu disangkal, ia merupakan salah satu pemain bertahan terbaik di divisi dua, terkenal akan stamina-nya, dan beberapa gol cantik yang ia sering cetak.Sangat aneh. Klopp sendiri memiliki kebiasaan menendang tendangan bebas meskipun ia bermain di posisi Bek Tengah atau Bek Kanan. Ini mungkin alasan salah satu penendang bebas favorit Klopp di Liverpool adalah seorang Bek Kanan muda, orang Scouse yang tumbuh di akademi Liverpool, tidak lain dariTrent Alexander-Arnold.

Kegagalannya sebagai pemain di Mainz tidak menutup karirnya untuk menjadi pelatih, justru, Klopp mendapat mentor terbaiknya di Mainz, bersama dengan Wolfgang Frank, dan pelatih Jerman yang satu ini menjadi figur terpenting dalam proses pembentukan Klopp sebagai pelatih. Ia sudah dilatih oleh Frank sejak ia masih menjadi pemain.

Frank merupakan seorang jenius dalam memanfaatkan sistem. Ia menciptakan sistem hardcore, heavy metal yang melelahkan tetapi efisien. Sebuah sistem yang sangat bergantung pada pressing. Dasarnya, Frank meminta pemainnya untuk melemparkan badannya ke pemain lawan yang merebut bola. Ini merupakan dasar dari taktik modern yang dikenal dengan Gegenpress.

Pada akhir karirnya sebagai pemain di usia 33 (umum bagi seorang pemain bertahan, terutama di divisi dua untuk bermain di usia ini) ia menjadi asisten pelatih untuk Wolfgang Frank.

Namun, hanya dalam tahun kedua Klopp menjadi asisten pelatih, Frank mendapatkan hasil buruk. Mainz mengalami krisis ketika pemain-pemain kuncinya dibeli oleh tim-tim di Bundesliga, dengan gaji yang jumlahnya tidak main, dan dengan kemampuan finansial klub tersebut yang di bawah rata-rata, bahkan untuk klub divisi dua, (ini ditandai dengan stadion yang biasa hanya terisi seperempatnya saja, sponsor hanya berasal dari perusahaan berbasis lokal, dan juga akademi yang pada dasarnya tidak berjalan dengan baik) mereka tidak dapat menemukan pengganti yang pantas.

Ini berujung buruk, tentunya. Awal Januari, ketika Bundesliga memulai pertandingan kembali sesudah istirahat 1 bulan, Mainz berada di posisi relegasi ke divisi 3, yang hanya berisi pemain semi-professional, dan hampir tidak mendapatkan uang sama sekali dari siaran Televisi, hanya dari tiket pertandingan dan sponsor. Frank pun dipecat. Klopp menjadi orang pertama yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Awal Mula…

Jürgen Klopp adalah orang yang karismatik, lucu, dan terkadang berapi-api. Selama ia menjadi asisten pelatih, Klopp menggunakan selera humor serta keterbukaannya untuk membujuk direktur Klub dalam memilih dia sebagai pengganti Frank. Dengan kemampuan finansial yang rendah, direktur klub tersebut setuju, asalkan ia tidak meminta gaji lebih tinggi dari Frank.

Hasil Klopp langsung tampak. Ia memanfaatkan sistem yang sama, dengan efisiensi lebih, dan gaya motivasi yang tidak dimiliki oleh Frank.

Tengah musim ia ditunjuk, hasil Mainz membaik dengan efisiensi sistem baru yang Klopp berikan, alih-alih melemparkan pemain ke muka lawan yang sedang memegang bola dan hanya melakukan High Pressing, Klopp meminta pemainnya untuk lebih percaya diri ketika memegang bola, dan langsung melakukan pressing ketika bola tersebut direbut. Ini menciptakan pertandingan yang sukses. Setidaknya, jika pertandingannya tidak dimenangkan, penontonnya mendapat pertandingan yang menegangkan.

Dampak strategi Klopp sepertinya tidak hanya berhenti di lapangan. Gaya pertandingan yang menyenangkan dan “Heavy-Metal” ini menarik sejumlah penonton, menaikkan jumlah orang yang menonton pertandingan di Mainz sampai 15%.

Klopp tidak berhenti di situ. Ia ingin memberikan pemainnya semangat lebih, dan ia tahu persis pertandingan seperti apa yang memberikannya semangat ketika ia masih menjadi pelatih. Pada derbi-derbi dengan klub di sekitar kota Mainz, hampir bisa dipastikan stadion penuh. Derbi terpenuh yang Klopp rasakan sebagai pemain merupakan musim dimana Mainz hampir meraih promosi, namun gagal.

Klopp merasa seolah-olah ia dapat berlari 5 kilometer lebih banyak jika ada supporter yang menyanyikan lagu, dan ia merasa bahwa pemain-pemainnya akan bisa bermain dengan semangat lebih banyak jika ada supporter yang menonton, apalagi yang mendukung.

Untuk ini, Klopp perlu (sekali lagi) memanfaatkan kemampuan sosialisasi dan karismanya. Ia tidak hanya membujuk sekedar teman-temannya saja… Ia membawa Mainz ke level baru. Gaya pertandingan yang dikenal dengan Carnival Club yang ia bawa dari Mainz.

Tiap hari Jumat, tepat satu hari sebelum pertandingan, atau hari Minggu, satu hari sesudah pertandingan FSV. Mainz 05 mengadakan sebuah acara di balai kota Mainz dengan tujuan mengajak orang untuk ikut ke stadion dan menonton sepakbola.

Pada awal-awal acara ini digelar, banyak orang merasa tersentuh. Klopp yang memang karismatik dan lucu ini membuat orang-orang merasa bahwa sebuah klub yang harusnya menghasilkan banyak uang masih cukup peduli untuk membuat acara seperti ini dengan tujuan mengajak orang untuk menonton pertandingannya.

Meski belum tampak, (dan belum ada orang yang benar-benar tahu ide Klopp secara jangka panjang) rencana Klopp sukses. Sanking suksesnya rencana ini, dan sering terjadinya stadion yang tiketnya terjual habis, Klopp meminta walikota untuk membuat stadion baru bagi Mainz. Permintaan tersebut awalnya ditolak, namun dengan bantuan sponsor (perusahaan asuransi asal kota Mainz) yang Klopp dapatkan, Stadion Mainz sekarang merupakan hasil dari Carnival Club milik Klopp ini.

Musim pertama Klopp di FSV Mainz belum benar-benar menunjukkan perbedaan dari permainan. Ia hanya fokus pada mental, fisik, dan finansial. Perubahan taktik drastis baru tampak ketika klub tersebut memiliki uang dan anggaran untuk mendapatkan pemain-pemain baru.

Revolusi Finansial

Klopp mengakhiri musim pertamanya (17 pertandingan) dengan sebuah kemenangan, memastikan bahwa Mainz selesai dalam posisi keenam Bundesliga 2.

Uang yang ia terima dari penjualan tiket musim lalu, dan tiket musiman, serta sponsor baru dari perusahaan asuransi lokal yang sudah memberikan uang untuk mendapatkan hak nama stadion dimanfaatkan untuk merenovasi stadion dan meningkatkan kapasitas.

Klopp siap berburu pemain di divisi dua. Apa yang Klopp cari? Klub-klub modern, biasanya di papan atas bergantung pada direktur olahraga untuk mencari pemain, namun Klopp belum bisa melakukan itu, ia harus bertahan dengan anggaran dan kemampuan finansial yang ia miliki.

Klopp memutuskan untuk mencari pemain berdasarkan kepribadian sebelum kemampuan. Aku yakin bahwa ia memercayai konsep nurture over nature dan ia yakin orang yang tepat dapat dibentuk menjadi pemain yang bagus.

Klopp selalu menanyakan 3 pertanyaan yang sama ke sebuah pemain, dan ketika wawancara, ia meminta pemain yang akan direkrut untuk membawa pacar atau istrinya. Pacar atau istri sang pemain diberikan tur kota oleh asisten pelatih, termasuk tempat-tempat turisme, tempat berbelanja, dan juga taman-taman.

Ini tampak seperti sebuah gerakan yang ia ambil dari Jean-Michel Aulas, presiden Lyon, yang bersikeras bahwa pemain harus dibuat senang dan tenang agar bisa memberikan performa yang baik. Aulas bersikeras untuk menghabiskan 10-15% anggaran untuk menyewa konselor untuk membantu pemain merasa senang di kota tinggal barunya, serta sesekali mengingatkan bahwa mereka sudah berjanji untuk mengajak istrinya nonton film.

Klopp melakukan hal yang mirip, dengan versi jangka pendek dan anggaran terbatas. Ia tidak bisa menyewa konselor begitu saja.

Dalam mata Aulas, pemain yang performanya buruk tinggal dijual ke klub yang lebih kecil untuk mengembalikan uang yang habis untuk gaji serta konselor, dan pemain yang performanya baik akan menghasilkan uang yang lebih dari uang yang didapat dari gaji serta konselor, memperbanyak nilai klub.

3 pertanyaan pertama Klopp adalah…

  1. Apakah kau menyukai latihan? Dan kau harus menyukai latihan untuk bisa bertahan di sistem Klopp, itu sistem yang sangat berat. Klopp tidak keberatan jika ia harus menolak pemain seperti Leo Messi jika ia tidak menyukai latihan.
  2. Kau tahu kami siapa?
  3. Apakah kau ingin bermain bagi kami?

Dari tampaknya, Carnival Club yang sedang dirancang Klopp ini tidak akan bertahan jika pemainnya tidak bangga untuk bermain bagi Mainz.

Klopp memiliki satu perbedaan krusial dari Aulas. Aulas melihat bahwa ia butuh uang dan ini dilakukan untuk membuat pemainnya bermain lebih baik, dan untuk menaikkan nilai pasar si pemain, ini adalah hal yang berbasis statistika…

Klopp melakukannya agar si pemain mencintai klab sepakbolanya dan rela melakukan performa yang baik, di sistem yang berat, karena itu dibutuhkan. Ini tindakan yang dilakukan karena cinta, bukan ilmiah.

Klopp baru memulai tugasnya sebagai pelatih di Mainz, dan ia tidak akan berhenti begitu saja. Lagipula, Carnival Club miliknya belum beres dibangun.

Bersambung