Month: December 2018

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

Ini adalah sebuah serial yang mengupas road trip keluarga ke Jawa Tengah. Akan ada 10 episode, kurang lebih 1 episode per hari, + 2 episode untuk preparasi dan juga evaluasi. Berikut adalah sedikit tips dariku sesudah melihat persiapan dan akhirnya kembali pulang dari Jateng (yang hanya memasang 1 banner dari Gubernur mereka, Ganjar Pranowo, setidaknya di 4 kota/kabupaten yang aku datangi), dan apa yang bisa kita lakukan, sesuai dengan buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much, dan akan isu-isu kecil seperti packing dan planning yang seseorang akan hadapi jika mereka ingin melakukan road trip.

Selamat menikmati episode pertama!

Scarcity Trip

Catatan: Tidak ada satupun kata di Bahasa Indonesia yang cocok untuk menjelaskan Scarcity dalam konteks yang aku inginkan. Jadi, mohon maaf karena aku akan menggunakan istilah Scarcity alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia.

Scarcity. Semakin sedikit benda yang kita punya, maka semakin bernilai benda tersebut. Kasarnya, itu yang membuat seseorang menilai, memilah, dan memilih benda yang akan dibawa dalam sebuah road trip.

Ketika packing dan bersiap untuk sebuah perjalanan, ada 4 hal yang perlu anda perhatikan. Karena pada suatu titik, anda akan kehabisan salah satu dari 4 sumber daya yang mungkin dirasa penting ini.

  1. Space…
  2. Pace…
  3. Attire…
  4. Money…

Atau… SPAM! Shoot, that doesn’t sound right.

EHEM, ralat.

  1. Money
  2. Attire
  3. Pace
  4. Space

Atau, MAPS! Nah, kan enak.

Jika anda sedang kekurangan salah satu dari 4 sumber daya ini, mungkin sudah waktunya anda menghemat. Jika anda sudah kehabisan salah satu dari sumber daya ini, sebaiknya anda pulang, dan hentikan perjalanan, karena sebenarnya anda sudah telat.

Atau, anda bisa membuat rencana agar anda tidak kehabisan, dan pulang sesuai jadwal! Tetapi, sayangnya, tidak semua orang bisa membuat atau mengikuti rencana, dan seandainya tidak ada rencana yang dibuat, maka ini hal yang perlu anda lakukan untuk mencermati sumber-sumber daya di atas…

Money

Oke, ini mungkin hal yang paling sulit untuk diukur karena kemampuan finansial tiap orang berbeda, dan terkadang ada orang atau keluarga yang memaksakan untuk liburan meskipun kemampuan finansial mereka tidak mencukupi, alhasil mereka menghemat dan takut untuk mengeluarkan terlalu banyak uang, sehingga perjalanannya tidak dapat mereka menikmati.

Sebelum anda berangkat, atau sebelum anda bahkan berpikir untuk melakukan liburan, pastikan finansial keluarga anda cukup, serta anda yakin bahwa anda bisa bertahan selama anda sedang berlibur. Jika anda memaksakan liburan, akan lebih baik demi kewarasan dan kesabaran tiap orang untuk tidak memaksakan berlibur.

Tentunya, definisi cukup tiap orang berbeda, jadi sesuaikan dengan ekspektasi masing-masing.

How To Plan.

Jika anda bukan orang yang suka berencana terlalu panjang, setidaknya, uang adalah hal yang perlu anda perhatikan. Kita tidak ingin berlibur jika tidak ada cukup uang untuk melakukan hal-hal yang anda inginkan bukan? Anda ingin membeli batagor sepuasnya di Bandung, dan anda ingin mencoba semua Lunpia yang ada di Semarang? Silahkan, hanya saja, akan lebih bijak jika anda tidak mengambil jatah finansial di luar perencanaan awal anda.

Sebenarnya, merencanakan budget untuk uang yang akan dihabiskan saat berlibur tidak sulit. Semua orang dapat dengan mudah bilang bahwa mereka hanya akan menghabiskan sejumlah uang tiap harinya, tetapi… Mereka tidak dapat menahan diri dan… WUUSH! Dua kali lipat uang dari rencana awal dihabiskan.

Jadi, perencanaan yang anda dapat lakukan dengan uang cukup sederhana… Pengendalian diri.

Money Scarcity

Apa yang anda dapat, serta perlu lakukan jika anda sedang melewati fase berlibur dimana anggaran pembelanjaan anda bersisa ke 20% terakhir, atau mungkin, lebih sedikit? Tipsnya cukup sederhana.

  • Turunkan kelas, turunkan ekspektasi.
    • Terkadang, ada beberapa orang yang memaksakan diri mereka untuk makan dengan anggaran yang sama seperti yang mereka miliki ketika 80% dari anggaran mereka masih tersisa. Ini sulit untuk dilakukan jika anggarannya tersisa sedikit, jadi hal terbaik dan terefisien yang seseorang bisa lakukan adalah menurunkan pengeluaran anda. Tidak apa-apa kok untuk tidur di hotel yang tidak sesuai dengan ekspektasi anda jika hanya untuk semalam 😉 .
  • Berhenti untuk berpikir.
    • Kasarnya. Jangan membeli hal-hal yang anda tidak perlukan. Sebelum membeli sesuatu, atau memilih tempat makan, berhenti untuk sejenak, berpikir. Apakah saya benar-benar membutuhkan ini? Apakah saya perlu membeli ini? Kenapa saya perlu membeli ini? Silahkan berkontemplasi dan pikirkan. Jika anda memang menilai bahwa anda perlu mengeluarkan uang untuk hal tersebut, lakukan saja.
  • Modis = Modal Diskon, Atau, Modal Gratis
    • Ya, dengan Traveloka, Trivago, atau AirBNB kita bisa mendapatkan promosi dan menghemat uang. Ini bermanfaat tentunya 😉
  • Sisakan uang untuk pulang.
    • Ya, berlibur termasuk pulang pergi. Jangan lupa jika anda masih harus lewat tol untuk pulang, atau membeli tiket kereta, itu juga mengonsumsi sepeser dari anggaran anda.
    • Oh iya. Jika anda cukup pintar, anda bisa melewati jalur alternatif dan membayar lebih sedikit daripada jika anda melewati tol. Tapi ya, jangan lupa, jika jalur alternatif tersebut berarti anda harus melewati 2 jam ekstra karena macet, maka itu resiko yang perlu diambil.

Benefits of Money.

Uang dapat anda manfaatkan untuk memperbaharui beberapa sumber daya lain yang anda butuhkan. Jika anda memang tidak sedang dalam kondisi kekurangan uang, anda dapat memanfaatkannya untuk jasa Laundry dan mendapatkan kembali pakaian. Anda juga bisa mengirimkan barang yang anda tidak perlukan lagi untuk mendapatkan ruang kembali. Tentunya, jika digunakan dengan bijak, anda tidak akan merasa kekurangan uang, alih-alih, anda akan merasa mendapat pakaian lebih, ruang lebih, dan mungkin, waktu lebih.

Attire

Attire, atau… Baju.

Ya, ini sedikit menarik. Tidak seperti Uang, Baju justru menyedot beberapa sumber daya lain yang kita miliki. Jadi, membahasnya akan menjadi hal yang menarik tentunya.

Baju secara tidak langsung mengukur waktu kita bisa berlibur, dan baju juga mengurangi ruang yang kita miliki di mobil, jadi, kita perlu membawa baju dengan bijak.

How To Plan

Sesuaikan jumlah baju dengan hari anda sudah yakin akan pergi. Semakin luas mobil atau alat transportasi anda, semakin mudah anda dapat merencanakan baju-baju yang anda akan bawa. Jika anda cukup pintar dengan manajemen ruang anda, dan mampu melakukan packing gulung, di mobil yang cukup luas, maka anda bisa menciptakan sedikit atau banyak room for comfort. Ruang untuk kenyamanan anda ini, dapat mencegah adanya kekurangan baju.

Attire Scarcity

Oke, anda masih ada 3 hari lagi untuk berlibur, tetapi, baju anda tersisa ke 1 stel baju pergi, dan 1 stel baju tidur. Apa yang anda bisa lakukan?

  • Pakai dua kali.
    • Oke, ini terkesan menjijikan bagi beberapa orang, tetapi menggunakan baju dua kali adalah hal yang bijak, terutama bagi baju tidur. Percaya padaku, baju tidur anda tidak akan kotor dalam satu malam, jadi menggunakan satu baju tidur untuk dua malam adalah ide yang baik untuk menghemat. Tidak sepenuhnya disarankan untuk baju pergi meski bisa dilakukan ketika sudah mepet banget.
  • Manfaatkan Laundry.
    • Manajemen waktu, taruh barang ke Laundry, dan ambil pada pagi berikutnya. Gunakan jasa express jika anda sedang buru-buru tentunya. Baju kembali bisa dipakai!
  • Tidur dengan baju pergi.
    • Tepat sebelum anda tidur, gunakan baju pergi sebelum masuk kasur. Pergi dengan baju itu esok paginya, dan anda dapat menghemat satu stel baju!
  • Beli baju.
    • Bukan saran terbaik karena ini mengambil ruang yang berharga, serta uang yang juga berharga, tetapi ini bisa dimanfaatkan juga tentunya.

Benefits of Attire

Semakin banyak baju yang anda miliki, semakin besar kemungkinan anda bisa memperpanjang liburan anda di luar rencana. Tetapi, perhatikan sumber daya yang lain juga ya 😉

Pace

 

Pace, alias waktu. Waktu membatasi beberapa orang, terutama yang bekerja. Jika anda sudah menyisakan satu hari untuk beristirahat, anda dapat beristirahat pada hari tersebut, tetapi, ternyata, satu hari sesudahnya adalah hari kerja, dan anda ingin berlibur satu hari lebih lama! Ya, hari istirahat anda dapat diambil. Sayangnya, hari kerja anda… tidak dapat diambil. 🙁

Jadi, bagaimana cara melawan waktu?

How To Plan

Ini ironis. Anda akan merencanakan sesuatu berdasarkan energi atau waktu yang anda miliki. Sayangnya, anda tidak bisa mendapatkan gambaran yang bagus mengenai waktu itu sendiri, jika anda tidak punya rencana. Untuk merencanakan sesuatu dan mendapatkan waktu terbanyak, pilihlah saat anda tidak memiliki banyak pekerjaan untuk dilakukan, dan ciptakan “slack” atau room-for-comfort agar anda tidak terpepet ketika ingin pulang.

Time Scarcity

Dalam waktu 13 jam anda sudah harus berada di kantor. Google Maps memberikan anda jalan tol dan perjalanan tersebut akan memakan waktu 4 jam 30 menit. Kemungkinan, anda harus memotong jam tidur, apa yang anda bisa lakukan?

  • Rute/Transportasi alternatif
    • Anda bisa menghemat waktu 90 menitan jika anda melewati Subang dari Cirebon ke Bandung. Jika anda pintar dan mau berpikir untuk sebentar, anda bisa menemukan rute alternatif dan menghemat sedikit waktu.
  • CEGAH ADANYA TIME SCARCITY
    • Jika anda sedang dalam krisis waktu, memang tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali memotong jam tidur, atau berburu-buru, atau mencari rute alternatif. Jadi, hal terbaik yang anda bisa lakukan adalah mencegah adanya time scarcity dengan planning yang baik. Sejujurnya, dengan tidak memiliki room-for-comfort dan lebih awas dalam perencanaan, itu sepertinya satu-satunya cara untuk mengatasi time scarcity.
    • Once you’re in it, you’re doomed. 😀

Benefits of Time

Space

Space. The final frontier. These are the vacations of the starship Enterprise. Its five-week mission: to explore strange new cities, to seek out new places and new tourist destinations, to boldly go where no man has gone before.

EHEM! Bukan Space luar angkasa bro. Space = Ruang.

Ini adalah hal terakhir yang akan aku bahas, dan… Ini dapat dicegah dengan mudah juga.

How To Plan

Pack light.

*thumbs up*

Serius sih, perencanaan dan manajemen ruang yang bagus, seperti menyisakan satu tas khusus untuk baju kotor, atau satu tas khusus untuk barang belanjaan adalah contoh manajemen ruang yang efektif.

Manajemen ruang terbaik dapat dilakukan dengan menyediakan satu tas, atau tempat khusus untuk benda-benda seperti baju kotor, barang belanjaan, serta hal-hal yang diperlukan secara darurat.

Space Scarcity

HAH! Anda butuh ruang di bagasi?

  • Stop. Beli. Hal. Yang. Anda. Tidak. Butuhkan.
    • Sama seperti uang, jangan beli hal yang anda tidak butuhkan. Anda harus mau berkompromi sesekali, jangan beli sesuatu sampai anda yakin anda membutuhkannya.
  • Kirim barang ke rumah.
    • 🙂 Manfaatkan JNE, atau TIKI, dan kirim barang milik anda ke rumah anda sendiri. Masalah anda akan selesai. Ada ruang yang dibebaskan, dan anda bisa memasukkan lebih banyak barang dalam bagasi!

Kesimpulan

Tanganku lelah, dan sekarang aku perlu menikmati time room-for-comfort yang sudah aku ciptakan.

Cheerios!

Anti Aktivis: Melawan Insting Urgensi

Anti Aktivis: Melawan Insting Urgensi

Aktivis. Terkadang kita melihat seorang aktivis sebagai sumber keributan, kemacetan, dan banyak lagi kekacauan. Terkadang lagi, aktivis dapat kita lihat sebagai tanda bahwa ada hal yang perlu dibenahi pada saat itu juga!

Ini adalah hal yang salah secara mendasar. Sejujurnya, aktivis tidak dapat menjadi lebih menyebalkan lagi daripada aktivis yang kita miliki sekarang. Metode yang mereka gunakan tidak efektif, mereka sering mengeluarkan komen irelevan, dan banyak orang yang merasa kesal karena hal-hal yang mereka lakukan membuat mereka kesal, meski memang betul, kekesalan itu didapat secara tidak langsung.

Jadi, artikel ini membahas mengenai alasan insting urgensi yang diciptakan, atau mungkin, diistilahkan oleh Hans Rosling, dan mengapa aktivis perlu mengurangi bertindak sesegera mungkin. Karena percaya padaku, mereka mulai menjadi lebih menyebalkan daripada efektif.

Inspirasi:

  • Factfulness: Ten Reasons We’re Wrong About The World, and Why Everything is Better Than You Think. Ditulis oleh Hans Rosling, Ola Rosling, dan Anna Rosling-Ronlund

Insting Urgensi

Seperti yang banyak politikus lakukan untuk merubah mindset seseorang… Ada 10 insting di dalam buku Factfulness (yang kebetulan sudah cukup sejalan dengan yang aku pikirkan), dan insting nomor 8 ini, (kalau aku tidak salah) adalah insting yang paling mudah dimanfaatkan agar orang-orang membuat keputusan yang salah.

Pada dasarnya, insting urgensi membuat kita berpikir ada sebuah masalah Long-Term yang perlu diselesaikan dengan solusi Short-Term (atau sebaliknya, intinya sama-sama konyol dan tidak pada tempatnya), seolah-olah tidak ada usaha sedikitpun untuk berusaha menghilangkan masalah tersebut secara sedikit demi sedikit.

Masalah long term seperti ini bisa dilihat dalam gerakan-gerakan revolusi yang dimanfaatkan oleh aktivis dan demonstran (?) agar pemerintah, atau orang-orang ikut bergerak dan mendukung perubahan yang sedang disuarakan.

Iya, memang betul, konteks yang aku aplikasikan di sini terkesan dan memang lebih condong ke sisi negatif.

Tetapi, yang aktivis, atau politikus berusaha lakukan adalah untuk merubah mindset seseorang dengan tempo secepat-cepatnya dan membuat mereka bertindak tanpa berpikir secara menyeluruh. Kukira masalah seperti ini hanya terjadi di media Indonesia dan juga di beberapa partai yang ingin menunjuk dan menunjuk ke suatu masalah jangka pendek yang perlu diselesaikan secara jangka panjang (atau sebaliknya) namun, ternyata, kasus media dunia seperti ini.

Percaya padaku, sedikit saja ada kesalahan, mereka akan guncarkan sesuai dengan metode dan nilai-nilai yang ingin dibandingkan olehnya, dan BUM! Seolah-olah tidak ada kemajuan sama sekali oleh pemerintah kita, pemerintah sebelah sana, dan pemerintahan lainnya.

Intinya, insting urgensi sendiri berusaha menyempitkan dunia kita ke satu sudut pandang yang diberikan oleh orang-orang (karena itu yang ada di depan mata) dan memaksa otak kita untuk segera bertindak dan menyelesaikan masalah tersebut.

Sedikit Perbandingan

Memang betul, insting urgensi ini dimanfaatkan aktivis serta politikus di seluruh dunia (Looking at you, Trump, Greenpeace, Feminists) tetapi, ketiga penulis buku ini berasal dari… Swedia. Mengingat bahwa mayoritas orang Swedia (minus Zlatan, oops) cukup baik pada satu sama lain, tidak ada banyak hoax atau fake news, atau frame yang memang sengaja dibuat agar orang-orang bertindak.

Di Indonesia, Amerika, atau beberapa negara berkembang lainnya yang memiliki konflik politik yang berjalan terus menerus dan menerus, insting urgensi akan berperan lebih banyak kebanding negara yang politiknya berjalan lebih lancar, atau negara yang tidak terlalu liberal. (Cough, Prancis, Cough)

Gerakan Anti-Aktivis

Oh hey! Ini ironis! Gerakan yang anti penggerak!

Aku sudah cukup sering memberikan ceramahan dalam bentuk artikel mengenai bahayanya framework sebuah media pada konsumennya, dan mengapa kita harus lebih pintar dan membaca framework tiap media secara netral, dan memilih media yang jelas-jelas tidak bias. Namun, insting urgensi ini membuat aku merasa lebih banyak hal yang perlu dibenahi mengenai cara kita berpikir mengenai sesuatu.

Memang, dibenahinya tidak perlu dilakukan pada saat ini juga sih.

Begini, intinya, aktivis memanfaatkan kelengahan kita, dan kita akan menerima satu atau dua berita buruk (yang disengaja) sesekali. Tidak lama sesudah itu, ada gerakan aktivis yang bilang “Lanjutkan Subsidi BBM” atau, “VIVE LA REVOLUTION!!!” dengan 100 tanda seru, mungkin juga kita akan menemui “Kembali Syariah”    -_-”    dan terakhir, “Make America Smart Again” . Aku sebenarnya mendukung yang terakhir, presiden US sekarang itu… Yeaaaahhh begitulah.

Aktivis dari negara manapun, mengenai bidang apapun sangat menyukai satu berita buruk, karena begitu ada berita buruk, insting urgensi manusia langsung TENG-TONG dan ketika insting urgensi kita menyala, kita melihat dunia dari sudut pandang yang jauh lebih negatif kebanding positif. Oleh karena itu, aktivis, atau politikus apapun akan lebih sering menakut-nakuti dan memberikan konteks negatif demi mengaktifkan insting milik kita ini.

Sesudah ada konteks negatif? Kita akan dengan cepat melihat ada masalah, dan kita akan mencari solusi begitu ada masalah. Terkadang, solusi tercepat adalah memilih pemimpin baru karena satu atau dua kesalahan kecil yang ia buat (pemimpin tetap manusia), dan terkadang solusi tercepat adalah ikut menjadi aktivis dan ikut pro kepada masalah tersebut juga. Sesudah ada dukungan pada masalah ini, maka akan ada lebih banyak suara yang ingin merujuk pada perubahan tersebut, dan semakin banyak suara, semakin cepat adanya perubahan instan, seperti yang mereka inginkan.

Kesimpulan

Oh perubahan, kau begitu membuatku bingung. Ketika ada perubahan yang jelas-jelas positif, mengapa banyak sekali orang yang melihat sisi negatifnya saja?

Sedikit hal negatif, langsung diberikanlah banyak sekali sisi negatif sebagai suplemen dan juga framework.

Aktivis yang bergerak dalam kebanyakan bidang, terutama yang menghabiskan beberapa tahun, jika bukan puluhan tahun untuk satu perubahan, selalu melihat hal dari sudut pandang awal. Dari sudut pandang tersebut, ia akan maju dan terus mendorong yang ia lihat, dan mungkin membuat 3, 40, 500, 6 juta orang merasa kesal, dan ikut dalam perubahan yang ia dorong.

Tidak mungkin ada perubahan instan, dan tiap kali adanya demonstrasi, yang mereka lakukan malah cenderung kontra produktif karena membuat orang-orang merasa kesal kebanding merasa perlu adanya perubahan.

Berhenti berpikir seolah-olah dunia ini tidak berubah sedikit pun, perubahan ada, meski memang lambat.

Terima kasih!

Self Help Series: Tujuan

Self Help Series: Tujuan

Introspeksi adalah sebuah masalah unik.

Beberapa orang terlahir, atau terlatih dengan kepercayaan diri yang membuat mereka bisa melakukan hal seperti ini dengan sederhana, dan tanpa merasa gugup sedikit pun. Tetapi, juga ada sangat banyak orang yang tidak bisa melakukan hal sederhana ini.

Bagi mereka yang penasaran, aku memberikan sebuah petunjuk sederhana, dan tidak bersifat ala motivator yang (maaf) naif, secara ekstrim, mungkin aku akan menganggap teknik ini sebagai teknik yang counter-intuitive, dan terkesan ironis jika dilihat dari satu sudut pandang.

Introspeksi, siapkah anda untuk berintrospeksi ria sesudah membaca artikel ini?

Jadi, mari baca artikel ini sebelum anda dimakan oleh nafsu dan melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas.

Kausalitas

Untuk apa seseorang butuh Tujuan?

Dasarnya, dunia ini penuh dengan kausalitas (kausalitas = bahasa snob/nerd/filsuf untuk sebab akibat). Dunia ekonomi dipenuhi dengan sebab akibat, dunia kimia pada dasarnya juga dipenuhi dengan sebab akibat, dan hampir semua ilmu, atau tindakan, sangat berhubungan dengan sebab akibat. Jadi, sebelum kita lanjut, mari bertanya… Apa tujuan dari tujuan?

Tujuan adalah sebab anda melakukan sesuatu. Misalnya, gua mau kerja di kantor yang gajinya tinggi. Oke, dalam tindakan itu (yang berupa sebuah akibat) anda memiliki sebab. Sebab tersebut, ternyata, Karena gua kepengen punya Pajero.

Ya, sejujurnya aku tidak memberikan jempol pada orang di atas, tetapi, jika itu tujuan hidup anda, maka saya akan menghargainya, sebagaimana tiap makhluk hidup perlu dihargai.

Sebelum anda melakukan tindakan, anda harus memiliki sebab akibat terlebih dahulu. Percaya padaku, keputusan buruk tidak akan terjadi jika anda berpikir lebih tenang dan bertanya kepada diri anda sendiri. Jika anda punya sebab, anda bisa lebih mendalami hal yang anda lakukan, karena anda berharap bahwa sebab anda akan tercapai, sehingga, lebih banyak usaha akan ada keluarkan untuk memenuhi sebab tersebut.

Akibat tiap sebab akan berujung sama. Akibatnya adalah kesadaran diri. Ini akan aku bahas lebih lanjut di bawah.

Bagaimana anda mendapat sebab? Bertanya. Semudah itukah?

HA! (awalnya aku ingin mengisi ini dengan meme, tetapi aku tidak menemukan sebab yang cukup substantif)

Sayangnya, rasa takut untuk bertanya sering dialami semua orang. Bagi beberapa orang, mereka takut menyuarakan atau menanyakan pendapat mereka bagi orang lain. Bagi beberapa orang lain, mereka tidak ingin bertanya pada diri mereka sendiri.

Mereka merasa takut untuk mengetahui tujuan mereka sendiri.

Rasa Takut.

Catatan: EHEM. Maaf, aku akan terdengar seperti motivator naif dalam paragraf pembuka bagian dari artikel ini.

Courage is not the absence of fear. But the ability to act in spite of it.

-Mark Twain

Jadi, anda takut? Bagus. Rasakan perasaan itu. Lawan. Masalah anda akan beres. Perasaan takut bukan hal yang bisa dihindari, karena takut sendiri, akan selalu mengejar anda. Pada suatu titik, anda harus mau untuk berdiri dan berusaha melawan perasaan tersebut.

Nah, sekarang masuk ke opini yang semi sarkastis dan kontra intuisi milikku.

Coba tanyakan pada diri anda pertanyaan “Kenapa?” sebelum anda bertindak. Pertanyaan “Kenapa?” adalah pertanyaan yang penting jika anda ingin melakukan hal-hal yang lebih produktif, bermanfaat, dan juga untuk mengurangi efek samping. Terkadang, pertanyaan sederhana ini juga bisa membuahkan solusi yang anda cari-cari. “Kenapa?” hanyalah sebuah sebab, dan jawabannya adalah akibat. Jika kita berbicara dari sudut pandang kausalitas, tanyakan “Kenapa?” pada diri anda sendiri dan siap-siap untuk menertawakan beberapa hal-hal bodoh yang anda lakukan.

Anda akan tertawa karena anda tidak punya alasan yang baik, atau alasan anda sebenarnya konyol. Atau, kasus paling parah. Anda melakukan sesuatu dan meluangkan energi, serta sumber daya, untuk melakukan sesuatu yang tidak memiliki tujuan.

Sebagai contoh…

  • Kenapa saya makan di kafe ini? Harga menunya begitu mahal, makanannya gak enak, pelayanannya buruk… Kenapa sih?
  • Oh iya, saya diajak oleh teman-teman saya! Mungkin saya memilih untuk makan di sini karena saya ingin bertemu teman-teman saya.
  • Tetapi, Kenapa saya mau saja diajak teman-teman saya ke sini? Bukannya ada banyak opsi lain untuk makan.
  • Oh iya, saya mau diajak teman-teman saya ke sini karena mereka menyukai tempat ini.
  • Kenapa mereka menyukai tempat ini? Ini mungkin opsi yang buruk!
  • *terdengar suara cekrik, dan layar HP menunjukkan sebuah sosmed* OH! Karena itu!

Dari sini, kita bisa menemukan faktor. Faktor-faktor, sekali lagi, menyumbang ke sebab dalam dunia yang dipenuhi dalam kausalitas.

Faktor utama dari kasus di atas adalah karena tempat ini enak dilihat dan dapat menjadi sumbangan ke akun sosial media. Bagi beberapa orang, ini tentunya sudah biasa, namun, untuk beberapa orang yang ingin melakukan kontemplasi ala Nietzsche, mereka akan menyadari… seberapa bodohnya mereka.

Jika anda ingin mencari tujuan anda, anda harus menjadi seseorang yang cukup berani untuk menanyakan hal-hal yang anda rasa benar, pada diri anda sendiri.

Selamat menikmati mengobrol dengan batin anda, dan siap-siap merasa konyol.

Nilai-nilai

Kausalitas sendiri memiliki 3 bagian.

  • Sebab: Tujuan anda melakukan sesuatu, atau sebuah kejadian yang mengakibatkan kejadian lain.
  • Tindakan: Bagi beberapa filsuf tindakan adalah sebab, tapi karena akusedang membahas filsafat dan psikologi introspeksi, sebab masih belum nyata sampai adanya tindakan.
  • Akibat: Sekali lagi, akibat juga bisa dilihat sebagai tindakan bagi filsuf post-modern. Namun, karena ini filsafat dan psikologi introspeksi, akibat hanya ada satu jenis yang nyata. Yaitu, lebih mendalami.

Masalahnya, terkadang kita merasa takut (sekali lagi) pada apa yang orang lain akan pikirkan mengenai kita, atau berkata pada kita jika ada sebab, atau tindakan yang tidak cocok dengan pemikiran orang tersebut.

Jika anda merasa seperti itu, coba anda tanyakan lagi pada diri anda sendiri. “Kenapa?” saya peduli dengan pikiran orang lain? Sesudah anda bertanya, coba bandingkan tiap faktor tersebut dengan nilai-nilai yang anda sudah miliki, dan apakah itu sesuai? Apakah anda memiliki nilai yang baik? Mengapa anda memiliki nilai seperti itu?

Coba tanyakan lagi, dan sesuaikan diri anda dengan nilai-nilai yang anda miliki.

Kesimpulan

Obat kontemplasi adalah obat yang mampu bekerja dengan efektif, tapi dengan sedikit kelemahan berupa beberapa efek samping.

Efek samping dari melakukan metode introspeksi ini bisa berupa:

  • Berkontemplasi terlalu banyak dan melupakan bahwa anda punya pekerjaan yang seharusnya anda lakukan, tetapi karena anda terlalu banyak menanyakan mengapa saya melakukan ini… ups 🙁 .
  • Tertawa terbahak-bahak dan merasa bahwa anda sangat bodoh karena melakukan hal-hal tanpa tujuan jelas.
  • Menyadari bahwa anda salah. (ini bisa dilihat sebagai efek baik melainkan efek samping)
  • Menyalahkan orang-orang di sekitar anda karena tidak mengingatkan anda bahwa sebenarnya anda punya banyak kesalahan.
  • Diberikan tatapan “really?” oleh orang-orang di sekitar anda karena mereka mengingatkan tetapi anda tidak ingin mendengar sampai anda mendengar suara batin anda sendiri.
  • Mencoba mengoreksi orang lain dan mengajak mereka untuk berkontemplasi juga, namun dengan cara memaksa.
  • Berdebat selama berjam-jam dengan pasangan berusaha memperebutkan, siapa yang memberikan ide baik untuk berkontemplasi begitu lama dan menemukan semua kesalahan dalam berkomunikasi, dan dalam mengerjakan hal-hal.
  • Dan terakhir. Menyadari bahwa anda berdebat berjam-jam hanya untuk ingat anda berkontemplasi karena artikel ini.

Harap gunakan obat kontemplasi ini dengan bijak dan tidak terlalu sering menggunakannya.

Tambahan

Mohon maaf karena blog ini hampir berdebu, akan segera diperbaiki. 😉

Skor Pemain: Liverpool vs Everton

Skor Pemain: Liverpool vs Everton

Merseyside Derby kemarin cukup menegangkan, sesudah membaca beberapa artikel mengenai skor pemain pada partai-partai sebelum ini, kurasa ini saat yang tepat untuk membuat artikel cepat seperti ini…

Selamat menikmati.

Catatan: 1, Banyak sekali kesalahan 2, Penampilan sangat buruk. 3, Penampilan buruk. 4, Tidak ada dampak.  5, Minimum dampak. 6, Penampilan rata-rata. 7, Penampilan baik. 8, Penampilan sangat baik. 9, Penampilan hampir sempurna. 10, Penampilan sempurna.

Alisson Becker. (7)

Reaksi-reaksi bagus dari Alisson pada babak pertama menjaga clean sheet dari Liverpool. Sesudah menangkis sundulan Andre Gomes yang berada tepat di depan mata, ia tidak diberikan tendangan yang begitu menantang, tetapi, ia tetap menjaga gawangnya dengan cukup baik. Memberikan sentuhan pada menit-menit terakhir pertandingan untuk membantu Alexander-Arnold mengumpan.

(Photo by Clive Brunskill/Getty Images)

Andrew Robertson. (7)

Banyak umpan bagus, banyak operan yang menantang pertahanan Everton, dan cukup krusial dalam mendorong bola jauh lebih dalam dari sisi sebelah kiri.

Joe Gomez. (7)

Gomez bermain dengan cukup baik, dan mengejar striker-striker Everton dengan cukup rapih. Skornya yang tinggi diberikan karena clearance ketika bola hampir melewati garis yang ia buat pada babak pertama.

Virgil van Dijk. (6)

Pengendalian bola yang baik di udara, dan memenangkan sebagian besar air duel yang ia hadapi. Namun, ada satu atau dua clearance yang kurang rapih dari pemain asal Belanda ini. Memberikan “assist” dan membuat Jordan Pickford melakukan blunder yang memenangkan pertandingan ini bagi Liverpool.

Trent Alexander Arnold. (7)

Sama seperti Robertson, bek kanan muda ini bermain dengan cukup baik. Memberikan umpan, mengambil tendangan sudut, dan bertahan dengan cukup tenang ketika Everton menyerang. Tendangannya pada menit terakhir mampu menciptakan blunder dari Pickford yang berujung ke sebuah gol.

Georginio Wijnaldum. (5)

Aku perlu Google untuk membantu mengeja namanya dengan benar. Dampak yang ia buat minim, tidak banyak operan bagus, hanya sedikit tekanan di sana dan di sini. Secara menyeluruh No. 5 Liverpool ini hampir tidak terlihat sepanjang pertandingan.

Fabinho. (8)

Fabinho memberikan Liverpool tekanan yang cukup krusial bagi lini tengah Everton. Sepanjang babak pertama, 3 tackle dari Fabinho mampu memenangkan bola dan menciptakan serangan balik yang dimanfaatkan Shaqiri dan Mané, sayangnya peluang-peluang tersebut tidak dieksekusi dengan baik. Sedikit memburuk pada babak kedua, namun masih melakukan beberapa tackling yang bagus.

Sadio Mané. (6)

Mané menerima tiga peluang yang baik sepanjang permainan, sayangnya ia gagal mencetak dan menciptakan apapun dari peluang tersebut. Meski eksekusi gagal darinya, ia masih bermain dengan cukup baik dan membuat pertahanan Everton kewalahan.

Roberto Firmino. (4)

Satu tendangan ke arah gawang yang mampu ditangkap dengan mudah, dan itu saja. Firmino tidak tampil dengan begitu baik dan sering kewalahan dalam situasi satu lawan satu. Ia juga memiliki masalah ketika berusaha berlari dan memulai counter attack pada beberapa menit terakhir. Hampir tiada dampak.

Xherdan Shaqiri. (6)

Sama seperti Mané, Shaqiri menerima satu peluang baik, dan ikut membantu menciptakan peluang. Sayangnya ia gagal mencetak gol dalam situasi satu lawan satu tersebut. Bagaimanapun juga, beberapa umpan dan omperan dari Shaqiri mampu menciptakan beberapa peluang.

Mohamed Salah. (6)

Lini depan Liverpool sedikit kesulitan dengan formasi 4-2-3-1 yang Klopp terapkan ketika Xherdan Shaqiri bermain. Mohamed Salah mungkin memiliki paling sedikit masalah di antara Striker Liverpool lainnya, tetapi pada partai kemarin, cukup jelas bahwa ia kurang nyaman memimpin lini depan Liverpool. Gagal memberikan tendangan ke arah gawang, ia hanya membantu menciptakan peluang yang gagal dieksekusi. Bagaimanapun juga, dampak Moh. Salah pada permainan masih tampak.

Cadangan

Naby Keita: 6. Tidak cukup waktu untuk melakukan hal yang krusial.
Daniel Sturridge: 7. Membuat pertahanan Everton kewalahan dengan sedikit Dribbling dan satu tendangan yang di blok seorang bek.
Divock Origi: 8. Ia memenangkan permainan ini karena ia berada di tempat yang tepat saat Pickford melakukan blunder. Selain itu, ia hampir mencetak gol juga pada menit-menit akhir, sayangnya bola tersebut tertahan oleh tiang gawang.

Membahas Blunder Pickford.

Pickford sebenarnya membuat blunder ini bukan karena kurang perencanaan, tapi menurutku karena ia pendek. Setidaknya untuk kiper. Tinggi Pickford hanyalah 1.82 meter, ini memberikan dia lebih sedikit room for error untuk membuat kesalahan ketika loncat. Kurangnya pengalaman Pickford mengatasi situasi seperti ini memberikan Liverpool 3 poin yang mereka butuhkan untuk bersaing dengan City untuk gelar liga Inggris.

Ekstra Konten untuk pembaca setia.

Mohon maaf karena blog ini kosong, aku sedang berusaha menyelesaikan buku yang kutulis, dan juga sempat kekurangan ide. Kurasa agar ada sedikit lebih banyak konten, dan blog ini tidak begitu kosong aku akan menuliskan artikel kilat dan sederhana seperti ini.

Dan juga, karena belum ada media olahraga Indonesia yang memiliki skor pemain seperti ini… 😀

Kurasa aku akan balik aktif pada minggu ketiga Desember… Sampai ketemu lagi ya!