Month: November 2018

Serial Self Help: Kekurangan.

Serial Self Help: Kekurangan.

Semua tempat dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jika anda punya waktunya.

Percaya atau tidak, manusia harus dan akan mengalami saat dimana anda kekurangan sesuatu, baik itu kekurangan teman, kekurangan waktu, kekurangan uang, kekurangan sabun, atau kekurangan energi.

Jika anda tidak memiliki satu saatpun dimana anda memiliki lebih sedikit dari yang anda butuhkan, anda tidak akan berusaha terlalu keras. Kita membutuhkan perasaan kurang, dan kita tidak boleh merasa cukup, atau merasa lebih dari cukup terlalu sering.

Tulisan self help ini akan terkesan kontradiktif dengan beberapa opiniku, namun, yang aku maksudkan dengan “perasaan kurang” disini adalah kekurangan hal-hal yang tidak termasuk dalam materi seperti sumber daya atau uang.

Mari kita masuk.

Jumlah Rata-rata

Apa yang seseorang akan lakukan jika anda perlu mencuci muka anda sehari dua kali, dimana satu botol berukuran 30 ml dapat bertahan selama 2 minggu?

Pada umumnya, jika botol tersebut memang memiliki volume 30 ml, orang-orang akan langsung berpikir bahwa tiap kali kita mencuci muka, kita menggunakan 1.07 ml (30 dibagi dengan 28, dimana 28 berasal dari 14 hari dan 2 kali penggunaan tiap harinya).

Nyatanya, tidak seperti itu.

Manusia pada umumnya menggunakan 20% lebih banyak ketika botol tersebut terisi dengan penuh, atau diatas 70%, menggunakan jumlah rata-rata, ketika isi botol berada dalam kisaran 25-65%, dan menggunakan 30% lebih sedikit ketika isi botol di bawah seperempat.

Perasaan aman memberikan sensasi seolah-olah kita tidak butuh menghemat, toh kita punya lebih banyak. Dan sesudah jumlahnya bersisa sedikit, anda akan mengurangi porsi anda lebih signifikan, demi memenuhi kuota kebutuhan, dan agar jumlah benda yang anda gunakan tidak habis.

Terdengar sederhana? Tentu saja. Ketika kita masih menggunakan angka seperti ini, kita masih bisa menganggap satu dan lain hal terlalu sedikit, dan hal yang lain terlalu banyak, karena biasanya kita merasa tenang saat ingin melakukan hal sepele seperti ini.

Bagaimana kalau kita merasa bahwa kita kekurangan waktu? Tidak seperti sabun muka, ketika anda tidak punya cukup waktu anda tidak bisa menghemat dan berharap tenggat waktu anda dapat bertahan sedikit lebih lama saja…

Terlalu sedikit? Tambahkan? Kurangi?

Waktu.

Tidak seperti uang, sabun, atau sumber daya, cara kita menghemat tidak dapat dengan mengurangi. Kita tidak bisa mengurangi waktu yang ada, atau waktu yang kita pakai. Jadi, bagaimana cara kita mencermati kurangnya waktu?

Oh, gampang.

Mungkin kita tidak bisa meminjam waktu, tidak sama seperti yang di atas sebagai solusi pendek, tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih efektif, suatu perasaan yang diberikan secara langsung oleh otak kita. Perasaan itu adalah tekanan. Tekanan ini mengubah dan mengatur anda, tergantung pada aktivitas yang anda sedang lakukan.

Seorang mahasiswa yang diberikan tugas pada tenggat waktu akan mengambil jatah waktu main, atau istirahat miliknya untuk mengerjakan tugas tersebut, dan tentunya, waktu yang akan diambil akan lebih banyak semakin sedikit dan cepat tenggat waktu yang diberikan.

Tekanan yang ada untuk mengerjakan tugas ini berdasarkan tenggat waktu akan mempercepat proses pengerjaan kita. Berdasarkan riset, mahasiswa yang diberikan tugas untuk membenarkan kesalahan gramatikal pada sebuah essay akan menemukan lebih banyak kesalahan jika waktu yang diberikan padanya lebih sedikit.

Riset pasnya memberikan data seperti ini.

  • Tenggat waktu: 2 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 37% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 1 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 52% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 3 hari, jumlah kesalahan yang ditemukan, 78% dari total kesalahan

Tekanan memberikan kita performa yang lebih tinggi dari seharusnya, dan tekanan ini adalah alasan anda bisa mengerjakan sebuah tugas yang pada kondisi santai membutuhkan waktu 6 jam, dalam waktu 1 jam. Namun sayangnya, tekanan yang sama dapat mengurangi performa anda juga.

Ketika anda tidak mengerjakan sebuah tugas yang sedang berada dalam tenggat waktu, otak anda akan terus menerus memberikan perintah untuk memulai pengerjaan tugas tersebut, dan sampai anda membereskan tugas tersebut, tidak akan ada hal yang membuat anda merasa nyaman, meskipun itu hal seperti memakan makanan favorit anda. Otak yang normal akan menyuruh anda untuk terus menerus kembali ke tugas tersebut sampai itu beres.

Senjata Makan Tuan

Sayangnya, kondisi ini bisa berujung buruk…

Pada kondisi biasanya, ini hal yang baik. Stimulus ini memberikan anda perintah untuk bekerja dan untuk menjadi lebih produktif. Namun, jika seseorang memiliki banyak pikiran dan banyak hal untuk dikerjakan, ini akan membuat anda masuk dalam proses yang namanya… Juggling. Pikiran anda akan terus menerus memberikan stimulus untuk mengerjakan suatu tugas. Sayangnya, sebelum tugas itu beres, anda sudah akan kembali lagi dan stimulus yang lain memberikan anda peringatan untuk mengatur uang di rumah tangga anda. Sebelum itu, stimulus yang lain memperingati anda untuk mengerjakan poster yang anda sudah akan kerjakan sebagai poster freelance.

Sebelum masalah ini beres, anda melempar masalah itu, dan selama bola tersebut di udara, anda diingatkan akan masalah baru.

Ini alasan manajemen waktu TIDAK sepenting manajemen kesadaran yang memang berada di level subconscious, tapi tanpa adanya peringatan dari kita sendiri untuk tidak melempar bola dan memutar masalah, kita hanya akan memperlambat produktivitas kita sendiri, dan kita tidak akan sempat mengatur waktu untuk melakukan suatu hal yang memang produktif.

Jadi, jika anda merasa tertekan untuk menyelesaikan 6 tugas sekaligus… Jangan pikirkan tugas lain saat mengerjakan satu tugas. Masukkan seluruh kesadaran anda ke satu tugas tersebut.

Terowongan

Tunneling.

Ketika anda tidak punya cukup waktu, tekanan bisa sekali lagi menjadi sebuah senjata makan tuan. Dalam proses bernama tunneling ini, anda akan melupakan hal yang seharusnya anda kerjakan segera, tapi karena adanya tekanan, anda membuat suatu kesalahan buruk, dan hasilnya, seluruh proses yang sudah anda rencanakan jadi hilang begitu saja, murni karena anda hanya bisa melihat satu cahaya, yaitu masalah besarnya, yang berada di ujung terowongan.

Tunneling adalah sebuah proses dimana otak kita berubah gaya berpikirnya dari pemikiran yang berbasis proses ke pemikiran berbasis hasil.

Ketika kita di dalam tekanan, kita tidak akan berpikir banyak mengenai proses, dan kita akan sepenuhnya berpikir ke hasil akhir. Ini dapat berakhir ke kita melakukan pilihan yang buruk, atau tidak membuat tindakan sama sekali ketika kita memang perlu bertindak.

Sebagai contoh…

Tiap tahunnya, ada sekitar 80-100 petugas pemadam kebakaran yang harus “pergi” ketika bertugas di Amerika Serikat. Ironisnya, 60% dari pemadam kebakaran tersebut meninggal bukan karena kecelakaan pada bangunan yang sedang kebakaran, tetapi karena mereka tidak menggunakan sabuk pengaman, alias… seatbelt.

Oke, mungkin ini terkesan bodoh, atau tidak masuk akal, karena mereka dilatih hingga mereka cukup kompeten dan melupakan seatbelt adalah hal yang… seharusnya tidak terjadi.

Tetapi dalam kondisi darurat, seorang pemadam kebakaran tidak bisa (bukan tidak mau, memang tidak bisa) melihat proses lebih dari cahaya di ujung terowongan yang merupakan api yang perlu dipadamkan. Ini mengakibatkan mereka untuk melupakan hal-hal kecil tapi krusial seperti… seatbelt.

Jadi, jika ada pemadam kebakaran yang meninggal karena tidak menggunakan sabuk pengaman pada serial Fox ciptaan Brad Falchuk yang dikenal dengan 9-1-1 -yang memang dipenuhi kecelakaan tidak masuk akal- itu justru kecelakaan masuk akal!

Oke, mengheningkan cipta dulu sebentar…

Nah, dari sini, seharusnya kita bisa simpulkan bahwa dalam tekanan, kita tidak bisa memilih dan membuat keputusan krusial, terutama yang memiliki dampak long term paling sedikit. Pada umumnya, seorang manusia akan membuat keputusan yang relatif baik dan membenarkan solusi yang ada di depan mata, tanpa mengkalkukasi adanya kemungkinan bahwa solusi jangka pendek tersebut bisa berujung sangat buruk.

Oleh karena itu, jangan buat keputusan ketika anda sedang merasa tertekan, kemungkinan besar anda akan membuat keputusan yang buruk.

Kesimpulan

Kita harus merasa kekurangan.

Kurangnya waktu, kurangnya uang, kurangnya teman membuat kita ingin mencari lebih banyak, dan menghargai apa yang kita sudah punya sekarang, memastikan bahwa kita tidak akan menghilangkan terlalu banyak dari apa yang kita sudah punya.

Ini harusnya perasaan seseorang yang merasa kurang. Menghargai apa yang sudah dia punya dan menghematnya.

Reflek orang-orang yang kekurangan biasanya adalah suatu keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi, bukan menghargai dan menghemat yang sudah ada…

Sampai lain waktu, semoga artikel hari ini dapat dinikmati!

Transisi Berita Padat

Transisi Berita Padat

Karena aku sedang mengikuti klub jurnalistik di Museum Konferensi Asia Afrika, aku memutuskan untuk menulis suatu artikel karena ini ditugaskan untuk menulis suatu artikel dengan gaya seperti Hard News (berita padat), berarti memiliki batas maksimal 8 paragraf (meski aku pembaca Tirto.id) dan 300 kata,

Semoga ilmuku menulis berita singkat seperti ini menjadi lebih baik, karena aku kesusahan menulis artikel pendek… Maklum, aku membaca portal berita dimana Hard news-nya saja setidaknya 12 paragraf.

Oh, dan iya, aku menulis berita padat mengenai berita padat, dan tolong jangan hitung paragraf sampai bagian “Selamat menikmati” di bawah ini.

Selamat menikmati.

Transisi Berita Padat

Warga-warga pada abad ke 21 memiliki kesulitan untuk melepaskan diri dari arus media yang begitu cepat, dan juga adanya banyak jenis berita. Tiap jenis memiliki target dan keuntungannya masing-masing.

Arus informasi yang begitu cepat ini membuat minat dan keinginan untuk membaca berita singkat yang dapat menjelaskan intinya dalam 3-4 paragraf pertama, beserta informasi suplemen dalam paragraf-paragraf berikutnya.

Wartawan serta penulis berita sudah membiasakan diri untuk mempercepat perpindahan informasi, dan bisa memberikan berita 10 menit sesudah kejadian. Dalam 10 menit itu, seorang wartawan handal sudah bisa memberikan informasi dengan gaya penulisan yang padat, singkat, dan tepat, serta memberikan informasi yang dicari oleh para konsumen berita.

Untuk mencapai informasi yang ditujukan oleh pembaca, wartawan biasanya memasukkan rumus penulisan sederhana yaitu 5W1H dalam 4 paragraf pertama. Efisiennya penulisan dan alokasi informasi ini membuat pembaca dapat menghemat banyak waktu untuk menyerap informasi.

Berita padat biasanya ditulis dengan tujuan memberikan informasi tanpa banyak membuang waktu pembaca. Tentunya, berita seperti ini paling cocok untuk diteripkan pada media internet yang memanfaatkan keterhubungan antar gawai atau benda elektronik sebagai portal menyampaikan informasi.

Dalam cepatnya arus informasi pada abad ke 21 ini, berita padat makin sering ditulis untuk mengisi dan memberikan pengetahuan bagi pembaca mengenai suatu kejadian atau informasi.

Selain efisiensi waktu dan mudahnnya menyerap informasi, berita padat menjadi jenis berita yang paling diminati oleh pembaca karena cepatnya berita mengenai suatu kejadian dapat sampai pada pembaca, yang sekali lagi, sesuai dengan tema efisiensi dan cepatnya arus informasi mengalir.

Meski banyak dicari serta dibaca pada pagi hari, berita padat memiliki satu kelemahan krusial karena tidak dapat menyampaikan seluruh informasi yang ada, dan bagi pembaca yang kurang cermat, membaca berita padat yang salah bisa berarti anda telah ditangkap gaya penulisan wartawan untuk berpikir dalam sudut pandang yang sama dengannya.

Oleh karena itu, sebaiknya kita membaca berita padat dengan lebih hati-hati serta teliti, terutama dengan derasnya aliran informasi yang sedang kita alami.

Kesimpulan

Menulis dengan batasan kata sedikit lebih susah tanpa adanya batasan kata.

Aku salut dengan wartawan yang bisa menangkap informasi dalam jumlah paragraf yang sedikit, biasanya di bawah 6 malah…

Ku sepertinya perlu belajar banyak dalam menulis berita padat, karena memang perlu latihan untuk menghemat kata dan membuat tulisan kita makin efisien…

Sekian hari ini, sampai lain waktu!

Tribute To Stan Lee: A Short Story

Tribute To Stan Lee: A Short Story

You will forever be a Superhero for me, and thousands, if not millions like me. May you rest in peace and find the meaning of life… Stan Lee. This is a short story, a monologue, perhaps… I would like to dedicate to Stan Lee.

Oh, and I’m competing for the English language search engine this time, because I’m emailing this to Marvel’s marketing team or something like that… Wish me luck.

Heroes

Early morning. Time doesn’t seem to flow, doesn’t it? Clock struck 7.07, okay, the clock is indeed a microwave, but nobody seemed to really care about that. Songs fuel my head. Five For Fighting’s 100 Years made me think about one’s life. Isn’t it an ironic time to listen to sad songs? Joy, I cannot feel any this morning, a chapter on a book I’m reading is about death, I didn’t get the best of sleep last night either…

Then a voice came to me, just as the lyrics hit “Time to buy and to lose yourself within a morning star.” My ears felt as if somebody called my name. I didn’t seem to get that the first time, seconds later, the voice called back, again it was my name being sound.

I didn’t want this song to be interrupted, but it’s my mother calling, and a mother’s order should never be questioned.

So, I walked a bit, each step felt heavy because the echoing on her voice and the lyrics have went all the way, from the singer’s point of view, he’s dying, just waiting for that final moment before everything ends, it was sung like this “I’m Ninety Nine for a moment, dying for just another moment” life seemed hollow when I opened the door to my mother’s room.

It’s time. Everyone knew it was bound to happen, yet we would simply reject and fear this very moment. He’s gone.

I didn’t feel much pain, regret or suffering… It didn’t hurt, I wasn’t touched, something’s wrong. The amount of emotions I use is only a little more than those of a sociopath, it appears to me I think too much, I talk too much, and I don’t feel one bit. The slightest bit of emotion I occasionally feel are there, but once it goes out, I push them back into my heart, right where it belongs. No tears should ever come out.

Our superhero, our artist, the creator of the world’s most loved heroes, he’s passed away, onto a better place now. Stan Lee, he’s gone.

There it goes. 95 years of experience, 95 brilliant years of creativity, 95 years of constant inspiration, and the last of those 95 years on his famous cameos… (even on a DC movie, yes, I won’t forget Teen Titans Go! To The Movies)

I wasn’t thinking much about it, I remembered my Mother’s promise to herself that she’d send flowers on the day of his passing, and I remembered what I said to myself years back, when I was just a child, still fantasizing on being a somebody…

8 year old me, wasn’t on my most Comic Book Geek phase… I was playing soccer a lot, and wanted to be a player somewhere, dreaming of fame, how ironic were my thoughts. Inspiration. Fame is nothing without successfully inspiring people.

Actually I forgot about that promise, I never really thought about it that much… I always wanted to inspire people, just like he did… The “How” never really came to me. I always liked being the center of attention, and it happened more than once when I tried to impress people by asking a complicated question in public seminars, one whose answer was already known by me just to make people know I ask such complicated questions. I’m not proud of it, never was, I was only looking for a temporary high.

I kept my thoughts to myself, I didn’t want to think much about it. I know I had to, and eventually I did.

Stan Lee wasn’t just a split second subtle cameo in movies, he was always energetic and happy. He influences and makes people feel safer about themselves, covering up one’s fears and insecurities with one of his superheroes.

Spider-Man convinces highschoolers to remain confident, giving them that sense of courage some people might be missing. Black Panther sends…

Forget about this. Who am I to talk about this really. We got the message that Stan Lee wanted to send through his superheroes, we don’t need anyone explaining it to us, we all have our interpretations, each one may be different, but they’re all as beautiful as one another.

Stan Lee does that. He gives us a sense of inspiration, he’s heroic in the sense he helped save people who are insecure, and felt weak… He gave them shelter, he gave them a sense of strength they really needed. That’s how I felt when I read the tales of his heroes, it served as a second home to hide away from your problems… Your mother in this house gives you the pep talk so when you leave this second home of yours, you’d face your problems with more courage, more responsibility.

How does one leave one’s mark, leaving others in awe, in inspiration… How.

Our human society and history works the way footsteps by the shore get washed by the waters.

The further you walk upshore, the less likely the waves would sweep your footprints, the stronger you put your feet down, the less likely those prints would vanish in one tide.

The walk is never easy, but when you reach a place so high that it won’t be swept away even when a Tsunami occurs… You’ll be someone everyone remembers the instant someone mentions something relevant to you.

Stan Lee is way up there, he’s definitely the first name someone thinks of when you hear a thought about Superheroes.

No one’s comparing anyone to anyone, everyone’s special in their own way, and everyone has their own ways to do things…

But, sometimes, one must have the courage and power to do something, stepping out of their comfort zone, and they must also be willing to take responsibility of the things they’ve done and made, even when they’re not at fault… (thank you Mark Manson for showing me that, but it’s not your day today, so, I think this mention is more than enough)

I want to inspire people. But, what have I done to accomplish my goal? Here I am, sitting in this couch, consuming my daily dose of post-modern philosophy and Marxism, doing absolutely nothing productive, and related to my goal.

Do I really want to inspire people? Why haven’t I done anything to accomplish that? I should start doing something…

Time to move myself, and I’ll write this… One more step further from the shoreline, leaving a tiny mark people might notice.

Reflection

I’m not going to reflect or conclude anything today, not much.

Just, be sure that one day, you should try to leave your mark, don’t stray away from living your life, but be prepared of death, leave a legacy, step further away from the shoreline, take responsibility, and be courageous of your actions.

Thank you for reading this article, it is a tribute after all.

May you rest in peace Stan Lee, forever you shall be a superhero to me.

Mereview Review: Nutcracker and The Four Realms

Mereview Review: Nutcracker and The Four Realms

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus selalu merasa senang dan bangga karena sekitar 10-20 tahun yang lalu, kota-kota kita dipenuhi dengan film bajakan.

Senang dan bangga disini bukan karena penuhnya film bajakan di kota-kota kita, melainkan, karena banyaknya bajakan, film dikeluarkan begitu cepat. Kita sudah bisa menonton sebuah film yang dirilis secara internasional, sekitar 3 hari sebelum orang-orang di US, atau Eropa mendapatkan giliran.

Sayangnya, tidak selalu kita mendapatkan kesempatan untuk menonton film-film tersebut pada hari dia keluar.

Karena hari ini aku sudah merencanakan untuk menonton Nutcracker and The Four Realms, aku akan mengulas ulasan orang-orang terhadap film tersebut.

Ulasan yang aku akan ulas tidak akan mengandung (atau setidaknya, meminimalkan) spoiler, dan aku akan memilih setidaknya 2, satu dari Google Audience Reviews, satu yang dapat ditemukan di Rotten Tomatoes, dan mungkin satu lagi dari sumber lain, entah itu blog, ulasan lain dari google reviews, atau IMDB, apapun.

Jadi, mari kita mulai. (aku akan memasukkan ulasan-ulasan tersebut di dalam artikel ini ya)

Google Reviews

Ulasan dibuat oleh pengguna Google, Kimberly Brown.

I was originally excited to watch this movie. The trailers looked interesting and the costumes and scenic design looked promising, so walking into the theatre, I had a good feeling.

The beginning was great! It set up the storyline really well and even introduced new ideas that were interesting and refreshing, although, 30 minutes into the film, you could see a switch in everything. It became a sloppy dialogue with VERY inconsistent errors to their own script, a female lead you found very annoying with her bratty attitude and a basic plot line that was predictable within the first five minutes.

Disney take note: the film is called THE NUTCRACKER and the four realms. Why was the actual nutcracker so weak in dialogue, character, strength, and chemistry? He barely did anything in the film besides follow around the leading female. Even the hero had no real change of heart and learned NOTHING.

Very disappointed Disney. VERY disappointed.

Terjemahan:

Sebelumnya, aku sangat antusias dan tidak sabar untuk menonton film ini. Trailer-trailer nya tampak menarik, kostumnya bagus, serta desain-desain yang indah tampak menjanjikan, jadi, aku masuk dalam bioskop dengan firasat baik.

Awal filmnya bagus! Ia mengatur dan membuka jalan untuk cerita, dan juga memasukkan ide-ide yang menarik serta baru. Sayangnya, 30 menit menuju film, segala sesuatu berjalan ke arah yang berbeda. Film ini menjadi percakapan berantakan dengan kesalahan yang SANGAT inkonsisten di dalam naskah buatan mereka sendiri, seorang perempuan sebagai tokoh utama yang anda akan lihat sebagai menyebalkan dan usil di dalam alur cerita yang dapat ditebak dalam lima menit pertama.

Disney, catat: Film ini berjudul THE NUTCRACKER and The Four Realms. Kenapa Nutcracker dalam film ini begitu lemah dalam percakapan, karakter, kekuatan, dan tidak mempunyai sedikitpun chemistry antar pemainnya? Ia tidak melakukan apapun yang signifikan selain mengikuti tokoh utama. Protagonis dalam film ini tidak punya sedikitpun perubahan dan tidak menjadi orang yang lebih baik.

Sangat kecewa Disney. SANGAT kecewa.

Catatan: Terpotong 6 kata demi mengurangi dan meminimalisir spoiler.

Thoughts:

Sejujurnya review ini lebih merujuk ke rasa kecewa seorang penonton yang memang sudah mengharapkan film yang bisa menjadi sebuah Christmas Classic to Watch With Family atau semacamnya, dan diberikan film yang kurang kuat.

Dari review ini, aku bisa menangkap 4 poin penting untuk apa yang bisa diharapkan pada film ini.

  • Premise dan pembuka film sudah bagus. Alur awal sudah cukup jelas, cerita cukup kuat di awal.
  • Banyak kejadian insignifikan dan terlalu banyak cerita yang bercampur-aduk dengan satu sama lain, ini menyebabkan kurangnya korelasi antar cerita, tanda naskah yang buruk.
  • Cerita terlalu mudah ditebak.
  • Cerita tidak ditutup dengan baik dan karakter utama tidak berubah menjadi orang yang lebih baik sesudah alur cerita. Sekali lagi, ini tanda naskah yang buruk dan kurang perencanaan pada penulisan awal.

Aku merasa review ini merupakan salah satu review user yang bisa menjadi sebuah Straight News yang cukup efektif. Ia dibawah 8 paragraf, dan dituliskan dengan cepat, rapih, serta to-the-point.

Sekian ulasanku pada ulasan dari Google user ini.

Recommended from Rottentomatoes.com

Ulasan dapat dibaca di https://www.whatiwatchedtonight.co.uk/the-nutcracker-atfr

Ulasan ini ditulis oleh Top Critic Rotten Tomatoes, Matt Hudson.

Oh, Nutcracker. You’re so glittery and magical. Why couldn’t you have been better??

The movies main issue is indeed the fact that in its quest to achieve a magical status, it loses sight of the story itself and ends up being rather bland and unengaging – which isn’t particularly Disney-like, but that’s how it is here. It’s sugary, sweet and all things nice, but there’s just something missing. Mackenzie Foy, however, isn’t one of the issues. She’s graceful and elegant with enough backbone to carry the story on her shoulders.

For its relatively tight runtime, there’s no real urgency throughout. Everything feels a bit too pedestrian and not even a delightful turn from Misty Copeland halfway through the movie can perk things up. There’s no denying that Nutcracker looks great. Victorian London shimmers and glows like those warm, nostalgic-looking Christmas cards and the Fourth Realm does possess a certain magic in the snow.

For all of its sparkly, sweety goodness, The Nutcracker and the Four Realms feels too soulless to really make an impression. Whilst Foy and Fowora-Knight are fun and the majority of visuals are nice to look at, everything else is disappointing in comparison and this is certainly no Christmas cracker. It is better than A Wrinkle in Time, however.

Terjemahan:

Nutcracker. Kamu begitu berkilauan dan ajaib. Kenapa kamu tidak lebih baik?

Masalah terbesar film ini adalah dalam mencoba mencapai tujuannya untuk menunjukkan keajaiban, ia kehilangan arah mengenai cerita, dan tampak terlalu tawar serta kurang aktif – Tidak seperti film Disney, tapi kenyataannya, Nutcracker kali ini seperti itu. Ia manis, dan dipenuhi hal-hal baik, tapi ada sesuatu yang kurang. Mackenzie Foy, bukanlah masalahnya. Ia cukup elegan serta anggun untuk memainkan peran seperti ini, di dalam cerita Nutcracker.

Untuk waktu film-nya yang relatif pendek, tidak ada perasaan tegang sepanjang film. Semuanya terasa terlalu lambat, dan bahkan tarian yang indah dari Misty Copeland setengah jalan melalui filmnya tidak bisa membuat hal terasa lebih baik. Tidak ada cara untuk menolak fakta bahwa Nutcracker tampak indah. London pada era Victoria berkilau dan bersinar seperti kartu Natal yang hangat dan memberikan perasaan nostalgia. Fourth Realm juga mempunyai perasaan sihir di dalamnya.

Meski kilau dan manis di dalamnya terasa, Nutcracker and The Four Realms terasa seolah tidak ada jiwa untuk meninggalkan kesan. Meski Foy dan Fowora-Knight menyenangkan untuk ditonton, dan efek visualnya enak untuk dilihat, sisanya tampak mengecewakan, dan ini bukan film yang cocok untuk menjadi klasik pada Natal. Untungnya, film ini lebih baik kebanding A Wrinkle In Time.

Catatan: dua paragraf dipotong.

Thoughts.

Sama seperti review penonton, kritikus berpamor besar di Rotten Tomatoes ini memberikan sudut pandang yang cukup negatif, tetapi tetap netral… Ia menambahkan sedikit mengenai pemilihan aktor serta efek visual, namun tidak ada yang lebih jelas selain kedua hal itu, dan tentunya… kritik bagi Disney.

Ini inti yang aku tangkap…

  • Film ini memiliki bungkus indah, dan alur dasar yang baik (mengingat ini remake, alur awal dan premise dari film seperti ini hampir pasti bagus). Namun eksekusi serta penjiwaan yang buruk memberikan rasa yang aneh ketika kita mencicip permen Nutcracker ini.
  • Kurang perasaan tegang dan aura positif serta hasrat dari tiap adegan mematikan perasaan menyenangkan dan menegangkan sepanjang film.
  • Pilihan aktor sudah cocok, Mackenzie Foy anggun, dan juga Jayden Fowora-Knight cukup menyenangkan untuk dilihat.
    • Sayangnya, aktor cocok bukan berarti film bagus jika tidak disertai penyutradaraan tepat, serta naskah yang memiliki kontinuitas.

Healthymouse.com

Healthymouse.com adalah sebuah blog yang ditulis oleh seorang Ibu dan sepertinya fangirl Disney sejak kecil, setidaknya itu cara ia menjelasakan dirinya… Untuk mendapatkan sudut pandang semi-bias, aku memutuskan untuk memasukkan ulasan miliknya.

From the very moment the film begins, you can’t help but instantly be in awe of the stunning visuals. The sets (many of them real sets and practical effects, not solely CGI) are dazzling, and it is incredibly exciting to see how the scenery changes from scene-to-scene. From the mansion where Clara is enjoying a holiday party, to every single one of the Realms, each is very unique, enchanting, and intricate.

Mackenzie Foy portrays Clara perfectly. I have seen The Nutcracker ballet every year for as long as I can remember, and Foy portrays the kind, brave, and curious Clara true to the character we all know and love!

Famed ballet dancer Misty Copeland plays the Ballerina, who serves as the narrator of the story, narrating through dancing, rather than speaking. I loved that they incorporated ballet into the film, even though its source material comes primarily from the original book. When Copeland begins her performance on-screen, you can’t help but become in awe of her stage presence and passion in ballet. She beautifully tells the story of the Four Realms through movement, showing how effective dance can be in storytelling.

This movie is incredibly visually stunning, with Knightley’s performance, and Misty Copeland’s ballet dance telling the story of the Four Realms are highlights of the film for me. I think Disney’s The Nutcracker and the Four Realms will definitely earn its place as a holiday classic. It brings a wonderful sense of comfort, filled with the spirit of the holidays, much in the same way that the Tchaikovsky ballet has been cemented as a classic. It is an absolutely gorgeous film full of the warmth (with just the right amount of adventure) that you’ll be looking for this season!

Terjemahan:

Sejak awal filmnya, penonton langsung terpukau karena efek visual yang mengagumkan. Latar (sebagian besar adalah latar asli, dan bukan hanya CGI) menakjubkan, dan melihat perubahan suasana sangat menyenangkan dari satu adegan ke yang lain. Mulai dari rumah mewah di mana Clara menikmati liburannya, hingga keempat dunia. Masing-masing dunia terasa unik, menarik, dan detil.

Mackenzie Foy memainkan Clara dengan sempurna. Aku sudah pernah melihat Ballet Nutcracker tiap tahunnya, dan aku belum pernah melihat Clara yang dimainkan dengan begitu baik hati, berani, serta penasaran, namun tetap sesuai dengan karakter Clara yang orang-orang lihat pada penampilan ballet-nya.

Penari balet terkenal Misty Copeland memainkan sang Ballerina, yang berperan sebagai narrator cerita ini, narasinya dilakukan via menari, alih-alih berbicara. Tarian yang mereka masukkan ke dalam film ini begitu menarik, meskipun memang betul sumbernya berasal dari buku orisinil Nutcracker. Ketika Copeland memulai penampilanya, kita tidak bisa menahan diri untuk tidak takjub pada aura dan hasrat Copeland untuk menari. Ia menari dengan begitu indah dan menunjukkan seberapa efektifnya menari untuk memberikan sebuah pesan.

Film ini begitu menakjubkan secara visual, dengan penampilan Knightley serta tarian Misty Copeland menceritakan keempat dunia ini adalah bagian paling menarik dari film ini untukku. Kurasa Disney’s The Nutcracker and The Four Realms akan mendapatkan tempat yang cocok sebagai Holiday Classic. Ia memberikan perasaan nyaman, lengkap dengan semangat natal, mirip dengan cara balet Tchaikovsky telah menjadi sebuah klasik. Ini adalah film yang indah, dan penuh dengan kehangatan, serta petualangan yang anda akan nantikan pada musim liburan seperti ini.

Catatan: 3 paragraf kupotong, paragraf tersebut kurasa hanya menambahkan detil ketika poin-poin penting telah dimasukkan. Jika anda ingin melihat review penuhnya, anda bisa membaca ini: http://thehealthymouse.com/nutcracker-and-the-four-realms-review/

Thoughts

Bias pada ulasan ini cukup terasa, ulasan ini tidak membahas alur cerita berantakan yang disebutkan oleh penonton, serta kritikus professional. Sejujurnya ulasan ini yang memang berasal dari seorang blogger sangat mirip dengan cara seorang fanboy komik akan menjaga serta memastikan film yang ia nantikan sepanjang tahun tetap terasa bagus, meski ia sendiri tahu film tersebut jelek.

Setidaknya, kali ini, aku bisa mengambil sesuatu yang tidak dijelaskan dengan cukup kuat pada dua ulasan sebelumnya, yakni… Sisi baik dari film ini…

  • Seperti tipikalnya film Disney, efek visual dari film ini begitu kuat, dan seperti biasa, selalu menarik untuk dilihat, tidak pernah kurang bagus atau terkesan kasar.
  • Pemilihan aktor yang baik, hanya lemah dalam bagian naskah dan penyutradaraan.
  • Tarian yang diselipkan sebagai narasi begitu bagus dan kuat sehingga bisa berbicara layaknya barisan kata dalam naskah seperti narrator pada umumnya di film Disney.

Kesimpulan

Ini artikel panjang, tapi jika kamu hanya membaca salah satu bahasa, ia sebenarnya tidak lebih dari 1200 kata.

Kesimpulan artikel ini sederhana, terkadang kita tidak bisa melihat satu hal dari sudut pandang saja. Memang betul, review 2/3 kritikus di Rotten Tomatoes menyatakan film ini sampah, tapi kenyataannya, masih ada 1-2 hal yang bisa dinikmati pada film.

Meski aku belum menonton, kata kuncinya adalah… bersabar. Jika kita sabar dan ingin melihat penilaian kita sendiri pada filmnya, film ini akan bisa dinilai dengan lebih baik.

Membuat Keputusan Untuk Membaca Shakespeare.

Membuat Keputusan Untuk Membaca Shakespeare.

Ehem…

Bahkan sebagai millennial, anak SMA, homeschooler, penggiat sastra, pemimpi, seorang yang tidak realistik, dan orang yang menyukai hal-hal dalam bentuk abstrak… Aku masih bingung dan merasa bahwa diriku, Azriel. sebagai seorang anomali karena aku membaca Shakespeare.

Membaca disini tentunya bukan hanya membaca best seller miliknya seperti Hamlet, Romeo and Juliet, dan Midsummer Night’s Dream… Oh tidak… aku membaca yang aneh-aneh juga, seperti Adonis and Venus, Julius Caesar (catatan: naskah Julius Caesar tidak terbilang “aneh” hanya… underrated), dan Merchant of Venice.

Ya, jadi ceritanya aku menemukan situs bernama Project Gutenberg ketika mencari buku gratis yang legal, dan aku memutuskan untuk mendownload suatu kompilasi berjudul “Shakespeare”. Aku tidak menyesal, namun… Aku sedikit malu membaca beberapa darinya karena sangat banyak naive love story di dalamnya, dan aku tidak suka cerita cinta (hampir) sama sekali.

Jadi, aku sering menanyakan kembali pada diriku… “Azriel… “Why the fudge did you read all those works of Shakespeare?” Karena bahkan, kakak-kakak mahasiswa Sastra Inggris, dan lulusan sastra inggris di Klub Global Literacy pun…  Tidak baca Shakespeare kecuali mereka disuruh.

Aku memutuskan untuk menuliskan alasannya saja… Kuharap jika anda juga tertarik membaca Shakespeare, artikel ini dapat membujuk anda untuk TIDAK masuk ke dalam loophole ini. Jangan pernah memutuskan untuk membaca Shakespeare, run now, while you still can.

So, are you dumb?

Catatan: Aku tidak bodoh, aku pintar.

Tapi, aku sering memikirkan keputusanku untuk membaca Shakespeare.

Maksudku, tidak semua orang dapat membaca Shakespeare dengan mudah karena kata “ringan” tidak ada dalam satupun naskah Shakespeare.

Terkadang, cerita-cerita yang dimasukkan dalam naskah-naskah Shakespeare memang tidak masuk akal, jika dia tidak bisa dimasukkan dalam level tidak jelas seperti sinetron, tapi… cerita yang tidak masuk akal ini dapat dibawakan dengan sangat bagus dan dibuat seolah-olah masuk akal.

Sejujurnya, kurasa serial-serial seperti Stranger Things juga menggunakan taktik tidak-masuk-akal-tapi-diceritakan-dengan-bagus yang mirip, tetapi Shakespeare dapat mengubah mitos-mitos yang membuat orang merasa enek, dan… ia merubahnya menjadi suatu hal yang indah.

🙁

Intip Adonis and Venus misalnya.

  • Dewi Venus menjelaskan dalam monolog miliknya ini, perasaannya yang amat-amat dielu-elukan dan dilebay-lebaykan ke pembaca/penonton, karena pacarnya dibunuh.
  • Ia menjelaskan cara pacarnya dibunuh, dan mengapa si pacarnya ini bisa sangat-sangat cakep meski mati.
    • Catat bahwa pacarnya mati karena sedang berburu babi hutan lalu organ vitalnya ditusuk oleh sang babi hutan tersebut.
  • Ia menjelaskan bahwa pacarnya ini perlu diubah menjadi suatu tanaman yang indah agar ia mampu diingat sepanjang masa, dan ia melakukan itu.
  • Oh, ia juga langsung “move on” pada akhir naskah.

Ini mungkin bukan picture-book sinetron tapi, astaga, bahasa yang dia gunakan cukup dan sangat indah, sampai titik terlalu lebay (puitis, tapi lebay)… sehingga ia menjadi bagus.

Jadi, kecuali anda cukup naif untuk menerima cerita-cerita Shakespeare yang idealistik, dan siap untuk berpikir ke diri anda sendiri 15 menit kemudian… “why did I read that” maka, silahkan.

Untungnya, cerita-cerita Shakespeare yang aku lebih suka adalah… yang realis-satirik. Bukan yang sejarah saja, tetapi, realis-satirik. Contoh terbaikku sebenarnya Merchant of Venice.

Welcome to the Real World

Shakespeare memiliki 2 jenis karya yang realistik.

Satu yang benar-benar realis karena merupakan bagian dari sejarah, seperti misalnya Cleopatra and Antony (Cleopatra and Antony merupakan sebagian drama, sebagian satirik, dan juga sejarah, tetapi mayoritas orang memasukkannya dalam folder sejarah).

Kedua adalah, yang realis satirik… Ehem, Romeo and Juliet. Tapi, TIDAK! AKU TIDAK MAU MEMBAHAS DRAMA ITU! Aku lebih suka menjadikan Merchant of Venice sebagai contoh.

Shakespeare bukan jenis orang yang suka menyindir orang-orang yang berkuasa pada zaman tersebut, ia suka menyindir orang-orang yang berada pada kelas bawah justru.

Merchant of Venice merupakan gambaran sempurna dari sindiran warga kelas bawah yang terkena rentenir dan perlu kabur atau semacamnya demi keamanan dan kehidupan.

Tetapi, masalahnya, jika kita ingin membahas realita sebagai contoh dan “jiplakan” untuk mengecek kenyataan yang sedang kita nikmati pada zaman sekarang… Shakespeare tidak pernah bisa dijadikan contoh.

Jadi, tujuannya membaca satirik tidak cukup jelas jika itu bukan untuk mencari kesalahan pada sistem-sistem dan cara berpikir hal yang disindir oleh satir tersebut. Selain tentunya menikmati seni tersebut, alasan untuk melihat dunia nyata melalui kacamata Shakespeare tidak lagi valid.

Thou Art Confused

Worst part of Shakespeare.

Kita tidak bisa melakukan teknik speed-reading hampir sama sekali karena sebagian besar kata subjek dan verb to be menggunakan bahasa jadul…

Thou menjadi You, Art menjadi Are, Thee menjadi… aku tak tahu, pokoknya itu lah ya…

Jadi, untuk membaca Shakespeare, amat disayangkan kita harus mau mengambil waktu yang relatif lama untuk membacanya. You have better things to do.

Kesimpulan

Tl;Dr Jangan membaca Shakespeare kecuali anda siap dicap aneh, karena ia tidak relevan lagi, tidak begitu efektif lagi, dan juga tidak dapat dibaca cepat demi sastra ringan saja…

Tetapi, ini bukan berarti bahwa Shakespeare merupakan karya sastra yang buruk, hanya saja, ia tidak begitu efektif atau realistik lagi, tidak seperti pada zaman emasnya…

Jika anda memang ingin membaca Shakespeare, silahkan saja, tetapi ingat, membaca Shakespeare memiliki resiko kecanduan, terutama jika karakter anda kebetulan seperti saya…

Selamat menikmati pilihan yang anda buat, dan jangan menyesali keputusan tersebut… 😉

Self-Help Series: Pilihan

Self-Help Series: Pilihan

Pernahkah anda merasa terjebak dalam situasi yang anda optimis, apapun yang anda lakukan, atau anda pilih, opsi itu akan berujung pada ketidakbahagiaan? Sesudah belajar filsafat Tiongkok selama 6 minggu, kurasa ini waktu yang tepat untuk menuliskannya.

Apakah kebahagiaan itu, bagaimana cara mendapatkannya? Terkadang kita tidak diberi pilihan untuk mendapatkan rasa bahagia, dan karena konsep kebahagiaan akan cukup erat dengan filsafat, kurasa tidak akan terlalu banyak psikologi abad ke 21 pada artikel ini. Psikologi yang dimasukkan berada pada era-era Freud.

Semoga artikel ini bisa anda baca dengan perasaan bahagia!

The Ice Cream Parlor

Ya, mari kita masuk ke hal paling sederhana tapi membingungkan. Memilih rasa es krim di sebuah toko.

Ambil sebuah anggapan bahwa anda tidak punya pilihan sedikit pun sebelum anda memilih toko, dan ada dua toko yang lokasinya tepat bersebelahan, menggunakan AC, dan juga memiliki tempat duduk yang sama-sama nyaman. Hari sedang panas, jadi es krim yang dikonsumsi dalam ruangan ber-AC akan tentunya membuat kita merasa lebih nyaman.

Nah, dari kedua toko ini, ada sebuah toko yang menyajikan 4 pilihan rasa, yaitu Coklat, Vanilla, Stroberi, dan yang terakhir, Cookies and Cream (dalam teori original, tidak ada Cookies and Cream, jadi aku berasumsi siapapun yang membuat teori ini tidak punya selera es krim yang baik).

Toko yang lain, menyajikan… Coklat, Vanilla, Stroberi, Cookies and Cream, Rocky Road, Butter Pecan, Bubble Gum, Blueberry, Choco Chip, Mint Choco Chip, Matcha, dan Salted Caramel. 12 rasa secara total, berarti ada 3 kali lipat jumlah pilihan rasa kebanding yang sebelumnya.

Kira-kira, pilihan toko pertama, atau kedua yang akan membuatmu merasa lebih bahagia sebelum memesan, ketika memakan, dan sesudah memesan?

Jawabannya ternyata lebih sulit dari yang orang-orang kira-kira.

Mungkin orang akan beranggapan, “lebih banyak opsi, lebih banyak kemungkinan kita memilih rasa yang kita sukai alhasil lebih banyak juga orang-orang yang lebih happy karena mereka memilih rasa yang mereka memang sukai.” Padahal, kemungkinan kita memilih rasa yang tidak enak berkali-kali lipat lebih besar kebanding memilih rasa yang enak…

Orang-orang akan merasa lebih bahagia jika ia tidak harus memilih dari opsi yang begitu banyak. Kurang lebih, ini cara seseorang akan berpikir untuk memesan, saat memakan, dan sesudah memesan… Yang anda akan dengar sedikit ironis, tapi nyata.

  • Sebelum memesan, orang-orang akan jauh lebih bingung ketika perlu melihat dan memilih dari 12 opsi ketimbang 4. Ini mungkin hal yang paling obvious ketimbang fase-fase sesudahnya, tapi tetap layak disebutkan karena banyak orang pergi ke suatu restoran tanpa rencana sedikitpun ingin memesan menu apa. Nyatanya, meski benda yang dipesan sudah sama persis, yaitu Es krim, orang-orang tetap kebingungan memesan es krim apa…
    • Oh, iya, jangan lupa jenis orang yang pergi keluar rumah tanpa tahu ingin ke restoran apa… Itu juga sangat mungkin menjadi korban keplin-plan-an
  • Saat memakan es krim, ia akan berpikir… “Oh iya, tau gitu aku mesen es krim rasa … aja ya… es krim ini kayanya kalah enak sama yang itu.” Dengan jumlah opsi yang lebih dikit, flavor palette dan opsi yang bisa kita ambil jauh lebih sedikit. Coba ingat fakta bahwa, biasanya orang yang memesan es krim coklat tidak akan memesan es krim stroberi, kecuali memang lagi ngidam, dan juga pemesan cookies and cream tidak akan memesan es krim vanilla, karena pada dasarnya mereka sama persis dengan perbedaan adanya cookie yang sangat enak itu..
    • Dengan opsi yang banyak, penyesalan akan lebih mungkin terjadi, terutama jika citarasa dua es krim mirip dan kita memesan yang tidak sesuai dengan selera milik kita.
  • Sesudah memesan, jika opsinya memang banyak, kebanyakan orang akan langsung merencanakan kapan berikutnya ia akan kesana atau setidaknya, mereka akan merencanakan apa yang akan mereka pesan berikutnya. Jika opsi yang disediakan memang sedikit, orang-orang sudah tahu akan memesan apa berikutnya anda datang ke tukang es krim tersebut.
    • Tentunya, ini berarti penjualan di tukang es krim yang banyak opsi berpotensi lebih tinggi, tetapi, ia harus membayar dengan rasa kebingungan dan kebahagiaan si pembeli. Oh, ini alasan sampel disediakan, agar mereka makin bingung dan makin penasaran.

Jadi, ingat baik-baik…  Es Krim minimarket > Es krim toko.

Itu berlaku jika anda mengejar rasa kepuasan tentunya…

Memilih

Jadi, sesudah sebuah riset menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manusia akan merasa lebih puas ketika tidak ada banyak pilihan, ini tidak mengurangi fakta bahwa ketika kita diminta untuk memilih sesuatu, kita tetap akan memilih, baik itu karena kewajiban, atau itu karena keinginan.

Jadi, bagaimana cara kita menghindari pilihan yang buruk?

Ada dua cara untuk “menghindari” pilihan yang buruk, namun sayangnya, kedua cara tersebut tidak benar-benar bisa membuat kita bersih dari segala pilihan buruk. Karena tentunya, tanpa ada pilihan baik, tidak akan ada pilihan buruk, tanpa ada pilihan buruk, takkan ada pilihan baik, dan kita bisa merasakan kebahagiaan jika kita menikmati pilihan yang kita buat, dan menikmati proses pemilihan tersebut.

Ya, kedua metode ini bukan metode yang “inspiratif” atau yang “motivasional” seperti yang orang Indonesia biasanya inginkan. Tetapi jika buku Self Help dengan judul “Subtle art of not giving a F*** ” telah masuk Indonesia, kurasa ini momen yang tepat untuk benar-benar menulis buku self help yang orang Indonesia butuhkan. (Bukan seperti buku Chairul Tanjung pada umumnya)

Menerima

Cara menghindari pilihan yang buruk nomor satu adalah dengan menerima, dan tentunya, menyadari bahwa pilihan yang kita buat memang sebuah pilihan yang buruk.

Maksudku, kita selalu bisa mengantisipasi satu dan lain hal, tetapi pada akhirnya ketika kita mendapatkan sebuah pilihan buruk, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerimanya, ketika masalahnya tidak terlalu besar, apalagi untuk masalah kecil.

Kita punya energi yang sangat terbatas untuk digunakan, dan juga, kita tidak bisa peduli pada tiap hal, baik itu hal yang besar, atau yang kecil. Jadi, kemampuan untuk memilih hal apa yang bisa kita anggap “Masa Bodoh” adalah hal yang sangat penting.

Kita tidak ingin membuang energi kita dan ruang untuk berpikir kita hanya karena kita telah memilih restoran yang salah untuk makan siang. Ada restoran baik dan ada restoran buruk, terkadang kita perlu bersabar dan ingat untuk jangan pergi ke restoran tersebut lagi, karena, misalnya, porsinya kecil.

Intinya, pada sebuah tindakan yang bisa dibilang hampir irelevan dengan keputusan hidup, jika itu memang tidak penting, jangan anggap masalah sepele seperti itu sebagai tindakan yang krusial dan marah-marah ketika ada hal yang tidak ideal, atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika kita mau menerima bahwa kita membuat kesalahan atau membuat pilihan yang salah, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Memaafkan diri kita sendiri jauh lebih penting ketika ingin merasa tenang kebanding dengan berusaha terlalu keras untuk meminta maaf pada orang lain.

Bersabar

Kamu tidak akan pernah ingin membuat keputusan yang penting dan yang tidak bisa diterima atau disepelekan dengan terburu-buru.

Jika pilihan yang akan kamu lakukan memang benar-benar penting, maka bersabarlah. Lebih cepat bukan berarti lebih baik…

Pikirkan semua bentuk sumber daya yang kamu rela untuk habiskan dan gunakan demi memecahkan satu masalah, atau membuat satu keputusan… Jika sumber daya dan waktu tersebut memang terasa pantas untuk digunakan dan dimanfaatkan demi keputusan tersebut… (misalnya, membuang 10 hari libur demi mencari lahan untuk rumah) lakukan.

Jika tidak… Ya… Jangan.

Keputusan yang buruk bisa dihindari, tetapi seandainya ia akan terjadi, anda akan merasa lebih baik jika anda tidak menggunakan terlalu banyak energi anda dari yang anda seharusnya gunakan. Jika anda sudah rela dan sudah menggunakan energi lebih banyak dari seharusnya… Pastikan keputusan yang anda buat memang benar 😉

Kesimpulan

Kebahagiaan bukan hasil, melainkan proses. Keinginan untuk menerima dan menikmati proses suatu hal, baik itu proses memilih benda, atau proses menikmati suatu makanan, suatu sofa… itulah rasa puas yang nyata.

Bukan berusaha pamer ke orang bahwa anda mendapatkan benda itu, melainkan menikmati benda yang anda dapatkan…

Jangan salah gunakan rasa puas yang anda berhak nikmati untuk rasa puas ketika mendapat pengakuan dari orang lain.

Should We Eat Beef?

Should We Eat Beef?

Sesudah berhenti makan daging selama 2 bulan kurang atau lebih, tubuhku sendiri tidak merasa terlalu banyak perubahan, tetapi aku memang berhenti memakan daging sapi bukan (hanya) untuk membuat diriku merasa lebih sehat, tetapi untuk mengurangi emisi metana, serta untuk mengurangi kekejaman pada hewan yang dilakukan tiap harinya.

Oke, memang ada orang yang menyatakan… “Lah, kan sapinya udah mati, gak ngaruh mau kita makan atau gak…” *melirik ke salah satu nama di atas...* namun, meskipun begitu, kalau kita memakan daging sapi, secara tidak langsung kita sudah berkontribusi ke tempat-tempat pemotongan daging dimana banyak kekejaman dilakukan tiap harinya, dan kita sudah memberikan dukungan pada industri daging.

We don’t want that.

Inspirasi: Should We Eat Meat? Ditulis oleh Vaclav Smil

Jadi, tanpa basa-basi, secara netral, aku akan menanyakan ke dunia… “Apakah sebaiknya kita memakan daging?”

Keuntungan…

Kalau kita mau membicarakan keuntungan, tentunya kita perlu melihatnya dari sudut pandang orang yang memakan daging karena mereka membutuhkannya, dan juga orang yang memakan daging karena mereka menyukainya.

Bahkan sebelum kita menjadi Homo sapiens, kita sudah beternak dan memakan daging sapi atau kerbau, jadi kurasa keuntungan daging sapi sudah cukup untuk masuk sampai level sejarah, antropologi, atau paleontologi.

Evolusi

X-Men adalah sebuah serial komik (yang kemudian diadapatasikan menjadi film) dimana ada sekumpulan manusia yang telah berubah menjadi mutan dan mendapatkan kemampuan superior.

Homo superior, nama spesiesnya. Dikarenakan ada evolusi pada genetika beberapa manusia, mereka berubah menjadi mutan, mendapatkan kemampuan yang sebelumnya hanya merupakan fiksi ilmiah (iya X-Men itu fiksi).

Evolusi dari manusia menjadi mutan pasti terjadi karena suatu dorongan tidak langsung dari genetika manusia yang merubah struktur DNA kita dan WHOOSH! Lahirlah mutan.

Sebelum kita bisa membayangkan kekuatan magnet, regenerasi cepat, membaca pikiran, memanipulasi api, bergerak begitu cepat dan semacamnya, coba ingat-ingat mutan pertama yang berjalan di atas bumi ini… Kita.

Homo sapiens merupakan mutasi yang superior dari Homo erectus, dan kita adalah spesies yang memusnahkan, atau mengusir para Neanderthal (aku tidak percaya ini, namun karena ini sudah diteorikan dan diterima oleh khalayak umum, aku akan menggunakan versi ini, ketimbang teori dimana seluruh orang Eropa adalah keturunan dari Neanderthal dan Sapiens) dari tempat tinggalnya.

Dasarnya, mutasi pikiran ini berasal karena kita memiliki genetika yang cocok untuk menerima diet daging sapi atau kerbau.

Kita memakan daging, dan ukuran tengkorak otak kita lambat laun membesar, membesar, dan membesar. Semakin sempurna evolusi ini, lahirlah kita, Homo sapiens.

Perubahan krusial pada genetika kita terpicu karena diet kita pada waktu itu menunjukkan bahwa kita memakan hewan sapi lebih sering ketimbang sayuran dan buah. Jadi, jika ada orangtua yang kesusahan memberi makan anak mereka apel ketimbang sosis, jangan terkejut, jawaban dari alasan tersebut ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Mendebat: Aku rasa alasan ini tidak sesuai karena dia berkontradiksi dengan alasan orang-orang tidak memakan daging sapi. Mengapa? Bahkan sampai sapi diternakkan pada era Sapiens awal di Mesopotamia, tidak ada kawin paksa, atau penyembelihan yang dilakukan dengan brutal. Konsumsi dan stok daging sapi yang ada pada zaman dimana evolusi masih berlangsung, belum sebanyak sekarang. Seandainya kita akan menciptakan superhuman, daging sapi bukanlah alasannya.

Kebutuhan Zat Besi

Anemia.

Sesekali, penderita anemia akan merasa lemah dan lemas karena kurangnya suplai zat besi di dalam darah mereka. Penderita anemia akan seringkali diminta untuk mengonsumsi daging sapi agar stok zat besi di dalam hemoglobin mereka meningkat.

Apakah kita perlu memberi makan penderita anemia daging sapi sebagai suplai cadangan hemoglobin?

Kurasa penderita anemia memang memerlukan suplai zat besi, tetapi apakah suplai zat besi tersebut harus berasal dari daging sapi? Atau adakah alternatif lain?

Kenyataannya memang ada alternatif lain, seperti bayam, jamur, kentang, dan juga banyak kacang-kacangan serta sayuran lain. Meskipun memang banyak jamur dan bayam yang merupakan hasil dari eksperimentasi GMO dan berpotensi merusak sel-sel anda… Apalagi daging sapi yang dihasilkan atas kawin paksa, dan juga diberi makanan yang paling murah dan penuh dengan bahan kimia.

Kandungan zat besi di daging sapi dan di bayam pun, tidak terlalu berbeda jauh jika kita ingin memperbanyak konsumsi bayam.

  • 100 gram bayam mengandung 2.8 mg Zat Besi
  • 100 gram daging sapi mengandung 2.6 mg zat besi.
  • 2.8 mg zat besi di bayam terserap sekitar 75% (2.1mg) dimana zat besi di daging akan terserap 90% (2.34)

Jadi, dengan memakan 150 gram Bayam, kita sudah mendapat hampir 1 setengah kali lipat kandungan zat besi dari yang kita butuhkan.

Sekali lagi, alasan untuk seseorang memakan daging… sudah dianulir 😛

Memang Doyan

Orang-orang yang memakan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan rasa dan mengisi endorphine kebanding yang memakan daging sapi karena mereka membutuhkannya… Lebih susah untuk kita ajak berhenti memakan daging sapi.

Terkadang, mereka mengerti pun mengenai kekejaman pada sapi dan juga emisi metana seorang sapi hidup tidak ada pengaruhnya sama sekali. Meski kita tidak bisa memberikan gambaran umum (gambaran umum = bahasa sopan dari stereotipe) bagi orang-orang konsumer daging, mayoritas memang hanya ingin mengisi perut mereka dengan daging sapi.

Jadi, ketimbang memberikan statistik, kita perlu memberikan solusi…

Jenis rasa yang didapat dari mengonsumsi daging sapi ada pada tekstur dan gurihnya si daging. Kegurihan dan tekstur yang sama sayangnya tidak bisa didapatkan pada daging lain. Hal yang setahuku paling mirip dengan daging sapi adalah daging babi, dan untuk orang Islam, rasanya tidak mungkin mengonsumsi daging babi.

Jika anda juga bukan seorang Muslim, dengan mengonsumsi daging babi anda juga mengorbankan kesehatan anda, jadi, kusarankan jangan terlalu sering.

Bahkan sesudah menimbang dan melihat beberapa opsi lainnya, jika anda memang begitu menyukai daging sapi, sebagai seorang humanis, maka aku akan menghormati keputusan tersebut. Tidak ada banyak alternatif lain sehingga kurasa jika anda memang ingin mengonsumsi daging sapi, tidak ada salahnya.

Kekurangan

Aku tidak akan membahas soal resiko kesehatan dari mengonsumsi daging sapi (percaya padaku, angkanya sangat kecil, hanya 0.12% orang yang meninggal karena adanya penyakit yang tidak terhapuskan dari daging tersebut, itu terjadi lebih karena kesalahan memilih daging, ketimbang kualitas daging yang disediakan). Aku hanya ingin menunjukkan sisi negatif karena adanya kekejaman yang terlibat dalam industri peternakan, terutama di Amerika.

Film-film dokumenter dan feature sudah cukup sering membahas kekejaman yang nyata dalam dunia peternakan, film seperti Okja, serta dokumenter seperti The Men Who Made Us Fat telah membahas seberapa besar niatan orang-orang dalam industri makanan untuk menggarap keuntungan.

Ya, sejujurnya menangkap hal seperti ini tidak begitu mudah, terutama mengingat seberapa krusial peran media dalam memberikan kita informasi.

Tetapi, dari beberapa situs aktivis yang aku tangkap, daging sapi yang “Oke” untuk dimakan berasal dari Australia, karena mereka dibebaskan dan dibiarkan berlarian sepanjang hidupnya. Sapi yang kalian tidak ingin makan berasal dari U.S. karena… inilah kehidupan daging sapi di Amerika, dan di Peternakan-Pabrik pada umumnya di seluruh dunia.

  • Sapi langsung dipisahkan dari ibunya begitu ia lahir agar mereka tidak mengonsumsi susu yang bisa dialihkan bagi manusia.
  • Jika mereka kurang beruntung (atau beruntung, tergantung cara kamu melihatnya) sapi-sapi akan langsung dipotong untuk menghasilkan daging sapi muda. Mereka hanya akan hidup untuk waktu sekitar 16-20 minggu.
  • Ukuran kandang sapi yang dipotong bagi sapi muda hanya memberikan ruang sisa sekitar 15-20 centimeter untuk mereka bernafas sebelum mereka disembelih. Mereka tinggal di dalam kotak kayu kecil ini sepanjang hidupnya. Oh, ketika mereka melihat cahaya, itu adalah cahaya saat mereka masuk ke surga sapi…
  • Jika sapi tersebut jantan dan lebih beruntung, mereka akan diternak dan ditumbuhkan dalam kandang kecil, dan mereka akan pup langsung dalam kandang, memakan jagung GMO yang lebih murah dari rumput.
    • Pup mereka tidak akan dibersihkan
  • Karena pup mereka tidak dibersihkan, maka… mereka akan terjangkit penyakit. Jadi apa yang dilakukan pabrik? Membuka lahan? Menyewa pembersih feses? Oh tidak, terlalu mahal… mereka membeli antibiotik, dan memasukkan antibiotik tersebut pada makanan si sapi.
    • 80% antibiotik di Amerika diberikan pada sapi, 20% baru dikonsumsi manusia.
  • Oke, mereka sudah cukup besar… Mereka akan disuruh membuat satu sapi betina hamil agar sapi tersebut menghasilkan anak baru, dan juga susu.
  • Sesudah itu? Sembelih.

Silahkan simpulkan sendiri…

Kesimpulan

Hidup penuh dengan pilihan.

Terkadang, pilihan yang kita buat tidak mengubah apa-apa, dan mungkin memang tidak ada perubahan signifikan, tetapi, pilihan yang kita buat, akan merubah sesuatu, kapanpun itu.

Aku memutuskan untuk berhenti memakan daging demi planet kita, dan mungkin, itu tidak akan ada pengaruhnya nanti ketika kita tinggal di luar angkasa… Jadi, apa yang sebenarnya akan berubah?

Ya… semoga kita bisa tahu itu nanti…

Sampai lain waktu.