Month: September 2018

Mungkinkah Liverpool Memenangkan Liga Inggris Musim Ini?

Mungkinkah Liverpool Memenangkan Liga Inggris Musim Ini?

Awalnya aku ingin menulis mengenai Filsafat, namun, dengan sedikit kesibukan di sana (Indicinema, silahkan cek featured post kami di home page) dan di sini (projek-projek di Museum Geologi), sepertinya tulisan mengenai filsafat akan sedikit menyulitkan…

Jadi, aku ingin bermain dengan statistik, dan sesudah Liverpool kembali memuncaki tabel Liga Inggris pada Matchday 6, aku akan menguji kemungkinan Liverpool memenangkan liga inggris… Setidaknya pada musim ini…

Dan, dikarenakan ini merupakan klub yang didukung sejak… sebelum aku lahir mungkin… Aku memilih klub ini. (lebih lagi, jika Liverpool tidak menang musim ini, mereka sudah resmi tidak menang selama 30 tahun 🙁 )

Jadi, err, Babah, kalau ada sedikit kepesimisan dariku di artikel ini mohon maaf, jangan lupa share di FB-nya Babah juga ya… Cheerios, selamat menikmati!

P.S. sebagian besar orang yang memang suka membaca mengenai sepakbola (my father included) kemungkinan sudah tahu hal-hal ini 😛

The Good Stuff

Jadi, ini adalah hal-hal positif dari awal musim ini…

Awal Musim Baik

A long time ago… Liverpool yang masih dipimpin oleh Bill Shankly mendapat 6 kemenangan berturut-turut pada 6 laga pertamanya.

Musim ini, Jurgen Klopp mendapat awal musim yang sama baiknya, 6 kemenangan liga, dalam 6 pertandingan. Selain itu, Liverpool juga telah bermain 7 pertandingan, satu dengan PSG, dan Liverpool juga memenangkan pertandingan tersebut… Gol pada menit-menit terakhir dari Roberto Firmino sukses memberi Liverpool 3 poin yang utuh.

Awal musim Liverpool kali ini, bisa secara resmi dinyatakan sebagai salah satu awal musim terbaiknya.

Kesamaan lain dari musim awal Bill Shankly dan Jurgen Klopp ada di jumlah pemain yang mereka gunakan di liga Inggris pada awal musim. Klopp menggunakan 15 pemain berbeda pada awal musim, sedangkan Shankly menggunakan 14.

Beberapa artikel menyebutkan ini sebagai lelucon/peribahasa… “If it ain’t broke, don’t fix it”

Dan sebenarnya, laga Liverpool kemarin kontra Southampton sedikit menunjukkan cara berputar dan mengganti siklus formasi, tanpa perlu banyak mengganti pemain.

Moh. Salah, yang biasa dimainkan di Sayap Kanan, berpindah posisi ke tengah, selagi Klopp menggunakan formasi 4-2-3-1, ketimbang formasi yang ia biasa gunakan, 4-3-3.

Pada belakang Salah, ada Xherdan Shaqiri, yang memberikan debut fenomenal, Sadio Mane, pada sisi sayap kiri, tepat sebelah Shaqiri, dan juga Firmino, pada sebelah kanan Shaqiri.

Ini tentu membuat orang merasa bingung… Southampton sedikit lengah, dan tidak mengantisipasi ini, dan Liverpool berdiri cukup tegap di hadapan mereka…

Akhir Matchday 6 berujung ke Liverpool berada di posisi nomor 1, dibelakangnya ada Manchester City, dan juga Chelsea, keduanya dengan 16 poin, dengan 5 kali menang, dan 1 kali seri.

This is looking really good!

Pemain-pemain baru…

Darimana perlu aku mulai mengenai ini…

Putar mesin waktu dan ingat-ingat final liga champions dimana Loris Karius melempar bola ke punggung kaki Karim Benzema dan bola melewati garis gawang yang seharusnya ia jaga… 🙁

Putar mesin waktu lagi… majukan sedikit, Karius mendapat sebuah tendangan rutin, tepat ke mukanya, dan membiarkan bola tendangan Gareth Bale masuk…

🙁

Jurgen Klopp mungkin merasa sedikit kesal, tetapi coba bayangkan fan-fan Liverpool militan, dan juga para warga Inggris yang ingin piala liga champions kembali ke negaranya tahun ini… Jika Klopp kesal, atau kecewa, mungkin para fans akan patah hati…

Jadi, muncullah dia… dibeli untuk harga yang memecahkan rekor… 65 Juta Poundsterling. (if I’m not mistaken, he’s the most expensive Liverpool player too)

Kiper keturunan Jerman Brazil yang mungkin dianggap ganteng oleh fans Shemar Moore ini bukan hanya cakep… Ia sangat tangguh dalam menjaga gawangnya…

Alisson Becker sudah menunjukkan, baik secara statistik (kuantitas Clean Sheet dan jumlah kebobolan), ataupun secara kualitas dan super save yang ia buat…

Kemampuan dia menjaga gawang sudah cukup untuk menggeser Ederson Moraes, yang juga bisa dibuktikan kualitasnya di klub Manchester City, menjadi kiper cadangan di timnas. Alisson is just that good.

Banyak orang mengkritik Klopp yang pernah bilang bahwa “Tren pemain mahal harus dihilangkan” dan ia malah memecahkan rekor dengan membeli Alisson. Tapi, ya, siapa yang bisa menyalahkan Klopp… Setidaknya ia telah sukses membantu Liverpool memimpin, dan hanya kebobolan 2 gol (satu karena blunder miliknya sih…) dalam 6 kali main di Liga Inggris.

Kepercayaan diri Alisson, dan juga kemampuannya bisa membantu Liverpool meraih piala Liga Inggris… Mengutip beberapa artikel yang berkomentar pada harga Alisson Becker… Selama 30 tahun, belum ada satupun kiper yang memiliki kepercayaan diri dan juga kemampuan teknis dengan level yang sama dengan Alisson.

Berikutnya, kita perlu mengingat ada sosok legenda di Liverpool, yang membantu klub tersebut memenangkan liga champions 13 tahun yang lalu… Steven Gerrard.

Sosok Midfielder ala Steven Gerrard sempat tiada di Anfield… Tetapi, juga ada beberapa penulis dan eks-pemain Liverpool mengatakan, sosok Stevie G itu sudah ditemukan di… Pemain asal Guinea ini…

Fakta Seru: Aku bertemu seorang Sports Promoter asal Guyana, yang memiliki seorang mentor yang membantu mengirimkan scout yang membantu RB Leipzig merekrut Naby Keita

On Topic…

Well, aku tidak bisa berbicara terlalu banyak mengenai Keita, namun, kemampuannya sepertinya tidak bisa diremehkan… Setahuku juga, Liverpool sudah ingin membeli Naby sejak waktu yang cukup lama (akhir 2017 jika aku tak salah), namun belum sempat-sempat karena ada banyak masalah, dan juga penundaan.

Keita juga diberikan jersey nomor 8, dan angka itu sangat ikonis, karena (sekali lagi) itu nomor jersey Steven Gerrard. Pertanyaannya ada di, apakah mungkin Keita bisa menjadi sosok yang mirip atau mungkin, mengimbangi Steven Gerrard? Well, we might not actually know… Not yet at least.

Berikutnya, pemain yang menarik diriku, adalah Xherdan Shaqiri, yang tadi sudah disebut…

Shaqiri tampak sebagai sosok orang yang humoris (ia sempat menjadi beberapa meme bahkan), namun ia tampil cukup kuat pada laga Southampton kemarin, dan sebenarnya, aku belum bisa memberikan komentar lebih lanjut mengenai dirinya… Ia baru tampil sekali, dan err… Liverpool juga memiliki terlalu banyak pemain tengah mengingat lini depannya biasa diisi 3 pemain.

Tidak ada pemain bagus yang dijual pada awal musim!

Lihatlah… Daftar pemain bagus Liverpool sejak aku mulai menonton liga inggris.

  • Fernando Torres
  • Luis Suarez
  • Daniel Sturridge
  • Raheem Sterling
  • Philippe Coutinho

Aku sebenarnya tidak punya ataupun tahu nama lain, tapi… umm, ini yang kuingat… Dan sepertinya Liverpool sangat hobi menjual pemain-pemain bagus ke tim lain…

  • Torres dibeli Chelsea, dan bermain dengan kurang optimal, sampai ia kembali ke Atletico
  • Suarez pindah ke Barcelona… Ini sih sebenarnya karena ia memang ingin pindah karena keluarga istrinya pindah ke sana… (dan umm… aku sempat mengira ini blunder penjualan Liverpool lain)
  • Sturridge tetap di Liverpool sampai sekarang… Hore!
    • Tapi err, ia tidak sebagus biasanya tanpa Suarez
  • Sterling pindah ke Manchester City… 🙁
  • Coutinho pindah ke Barcelona, sama seperti Suarez…

Err… 🙂 Setidaknya tahun ini tidak ada yang pindah, dan semoga, tidak ada yang pindah pada pertengahan musim.

The Bad Stuff

Ya, aku hanya akan membahas sedikit masalah mengenai Mo Salah. Tahun lalu, Mo Salah memukau dan menarik hati-hati fans sepakbola, apalagi fans LFC. Ia memecahkan rekor dengan mencetak 32 gol, dalam 38 pertandingan Liga Inggris.

Tahun ini, Salah tampak lebih ragu serta kurang efektif dalam menyerang… Dalam 6 pertandingan, Salah hanya dapat mencetak 3 gol, dan musim lalu, ia mencetak 7 gol hanya dalam 6 pertandingan.

Ini mungkin sebuah musim buruk bagi Striker yang memiliki reputasi menyeramkan pada musim lalu (Harry Kane mendapat nasib yang sama ^^’ ) namun, semoga hal buruk yang sama tidak terjadi pada Liverpool musim ini…

Sedikit Statistik…

Aku akan membandingkan awal musim 2013/14, 2017/18, dan awal musim kali ini…

Pada tahun 2013/14 kemarin, Liverpool memiliki win streak 11 game, dan Luis Suarez mencetak 31 Gol sepanjang musim, (Satu gol yang bernilai cukup banyak sepertinya) awal musim itu juga cukup menarik…

Ah.. mencari statistik ini sedikit sulit sepertinya… Sebentar…

2013/14 Season, first 6 matches

Liverpool memiliki awal musim yang cukup bagus… Pada akhir matchday 6, Liverpool duduk di peringkat kedua, dengan 13 poin (4 Menang, 1 Seri, 1 Kalah), di bawah Arsenal yang memiliki 15 poin.

Liverpool hanya kemasukkan 4 gol, dan memasukkan 8 gol…

Rekor hasil Brendan Rodgers ini cukup baik, dan membuat para fans optimis…

Hasil Akhir Musim

Liverpool kalah tipis oleh Manchester City, hanya dengan selisih dua poin… Luis Suarez dijual (dikarenakan keinginan tinggal bersama keluarga Istrinya), dan Liverpool membeli cukup banyak pemain untuk mengawali musim berikutnya…

2017/2018 Season, first 6 matches

Ini sedikit menyedihkan… Liverpool hanya meraih 10 poin dalam 6 pertandingan, dikarenakan beberapa gol menit terakhir ketika mereka sudah memimpin, atau juga kalah telak…

Jika membahas sisi penyerangan, Liverpool sukses memasukkan 12 gol dalam 6 pertandingan… Tapi Liverpool juga kemasukkan 10 gol pada akhir laga keenam…

Liverpool hanya berdiri pada posisi menengah atas pada akhir laga keenam ini…

Rekor awal musim kali ini jauh lebih baik…

Hasil Akhir Musim

HMM! Moh. Salah mencetak 32 gol, tetapi, Manchester City telah jauh memenangkan liga inggris sebelum beberapa laga terakhir dengan 100 poin… Angkat bahu…

Liverpool berdiri di peringkat ke empat, dan juga masuk ke final Champions League… Tapi Karius memiliki insiden, dan Salah cedera, jadi mereka hanya masuk final saja… 🙁

2018/2019 Season, first 6 matches

6 kemenangan berturut-turut memberikan Liverpool peringkat teratas! Gol yang Liverpool cetak juga tidak sedikit! Tiap permainan, Liverpool mencetak setidaknya 2 gol (dengan pengecualian laga kontra Brighton) dan hanya kemasukkan ketika sudah memimpin dengan 2-0…

Seperti disebut, awal musim ini mendekati rekor, dan Liverpool mungkin bisa melanjutkan ini menjadi kemenangan… Who knows?

Kesimpulan

It’s okay to hope…

Meski kata ayahku ketika kita ingin meminta permintaan pada sebuah jin mistis, kita akan lebih mungkin diberikan Unicorn bersayap 4, baik jantan atau betina, ketimbang Liverpool menang liga Inggris…

🙁

Tapi, harapan adalah satu-satunya hal yang mengizinkan kita terus hidup, dan harapan juga satu-satunya hal yang bisa membalikkan sebuah kondisi yang sudah buruk.

Harapan mengubah banyak hal, dan jangan berhenti berharap… Meski hal-hal terasa tidak mungkin…

P.S. A psychological research believes that we have a 50% chance of skill improvement if we hope and are optimistic…

Promosi: Workshop Menulis Review Film

Promosi: Workshop Menulis Review Film

Hai Hai!

Ini Azriel! Aku sedang mengikuti lomba untuk menjadi Ambassador Bioskop Alternatif di Bandung nih… Sebagai tantangan, ada permintaan untuk membuat sebuah acara di Indicinema… Alhasil, sebagai seseorang yang memang suka menulis, dan juga suka film… Bagaimana jika aku membuat workshop yang akan berkutat di penulisan review film?

Sedikit detail lebih lanjut mengenai acara ini…

  • Lokasi di Indicinema, Jalan Banda No. 40, Gedung Bale Motekar
  • Ada donasi bagi Indicinema yang sudah menyediakan tempat, donasi senilai 10.000, dan itu sudah termasuk Pop Corn, serta air mineral.
  • Akan ada doorprize berupa voucher nonton film di Indicinema, bagi orang yang ingin membawa review film miliknya! 3 Review terbaik akan memenangkan doorprize!
  • Acara dilaksanakan tanggal 27 September, Pukul 16.00 sore sampai selesai, jangan terlambat ya, open gate sudah dari pukul 15.30.
  • Kalian akan bertemu denganku nanti! 😛
  • Untuk informasi lebih lanjut dan reservasi bisa kontak 08122146852
  • Acara ini terbatas! Jadi segera reservasi dengan format: Nama-Instansi-Workshop DKP

Sampai ketemu tanggal 27 September nanti!

The Individuality Disappearance

The Individuality Disappearance

Kepada Yth. Ilmu Sains

Aku terkadang sungguh-sungguh bingung kepadamu, dan orang-orang yang terus berusaha memajukan ilmu milikmu itu. Kurasa sekarang sebagian besar dunia sudah cukup gila, tapi ada apa denganmu selalu merusak hal-hal yang (katanya) mulia. Aku sungguh tak tahu.

Selamat datang di abad ke 22, siapa itu? Oh, dia adalah seorang manusia lain yang ikut berkontribusi ke pusaran data yang begitu besar ini, ia membiarkan dirinya terekspos demi memajukan tuhan agama yang begitu kuat dan maju secara teknologi… Dataisme.

Inspirasi:

  • Homo Deus, ditulis oleh Yuval Noah Harari
    • Aku merasa baik Sapiens dan Homo Deus bisa dijadikan satu tulisan per dua bab. Mungkin Homo Deus satu tulisan per bab malah.

Apa yang terjadi pada individualitas?

Harari menyindir orang-orang yang pada zaman dahulu menanyakan alasan Turis Jepang membawa kamera kemana-mana dan memfoto apapun yang mereka lihat. Sekarang, orang-orang melakukan ini juga, agar mereka bisa memberitahu orang-orang mereka sedang berlibur, dan mengecek lagi HP mereka, setiap 3 menit, untuk melihat siapa yang sudah memberikan Like.

Ketika manusia pada umumnya sedang berada di pantai, mereka akan memfoto pantai, dan diri mereka di pantai. Ketika mereka melihat gajah? Apa mungkin mereka mendatangi si Gajah dan bilang “Selamat pagi makhluk megah!” Gak, da mereka akan mengambil foto.

Individualitas kita tidak ada. Kita melakukan hal hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama.

Ketika ateisme dan agnostikme muncul pada awal abad ke 20, orang-orang memuja Humanisme. Baik itu dalam bentuk Liberal, atau Nasionalis.

(Intermezzo)

  • Liberal Humanisme percaya bahwa semua manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan setiap keputusan mereka mulia. Semua manusia sama berharganya di mata Liberal Humanis.
  • Nasionalis Humanisme percaya bahwa manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan keputusan yang mereka buat bisa membuat perbedaan. Ada manusia yang menghasilkan lebih banyak untuk negara, dan ada yang tidak. Manusia yang menghasilkan lebih banyak (baik itu nama baik, uang, atau, hanya pengaruh) otomatis lebih berharga dari pegawai biasa.

Dari kuatnya humanisme pada abad ke 20… Agama mulai menjadi suatu bentuk reaksi ke suatu tindakan.

Ada teknologi keluar? Oh, ulama, rabbi, dan juga pastur akan mencari hubungan teknologi itu, lalu memberikan justifikasi mengenai teknologi itu dan hubungannya dengan ayat suci. Agama telah dibuat dan dipercayai secara positif untuk mencari nilai positif serta negatif suatu teknologi.

Sebagai contoh yang tidak terlalu sensitif mengenai ilmu vs nilai-nilai… Lihatlah Video Assistant Referee (yang kupercaya sebagai alasan Kroasia kalah pas final, tapi, err, bukan salah mereka juga)

Teknologi seperti VAR seharusnya sudah ada (dan bisa) diimplementasikan pada piala dunia 2014, namun baru diterapkan pada 2018. Teknologi itu, pada akhirnya tetap saja hanya membandingkan pilihan si wasit, atau nilai-nilai seorang manusia, dengan bantuan teknologi.

Itulah alasan agama masih kuat pada abad ke 21, nilai-nilai yang ada pada suatu agama bisa digunakan untuk menilai pantas tidak-nya menggunakan suatu teknologi.

Pada akhir abad ke 20, hingga awal abad ke 21, tindakan seorang manusia dibentuk dari teknologi yang ia miliki, nilai-nilai yang ia miliki, serta juga, tentunya, individualitas miliknya.

Seseorang bisa saja mengambil hasil riset dengan suatu teknologi maju, seperti misalnya, ya, beberapa perangkat pada film Kingsman. Ia berhak melakukan itu, ia memiliki teknologi untuk melakukan itu, dan nilai-nilai miliknya menyatakan itu hal yang tak apa jika kita mengambil suatu barang yang masih dirahasiakan.

Seseorang juga berhak membeli saham apapun yang mereka inginkan. Mereka bisa, mereka berhak, dan nilai milik mereka mengatakan itu takpapa untuk membeli saham.

Kita hampir saja berada di dunia yang penuh dan lengkap dengan individualitas yang unik. Mungkin ada saja yang memiliki individualitas lebih kuat dari yang lain, tetapi semua orang punya level individualitas yang berbeda, dan ada cukup banyak pribadi unik…

Namun, hmm seiring berjalannya waktu, humanisme (bentuk paling mulia dan paling dihormati mengenai individualisme) mulai tertelan… Dan itu semua karena sains.

The Dividuality

Jadi, individual berarti suatu entitas yang tidak dapat dibagi menjadi dua… Namun, nyatanya, sains telah merendahkan definisi individualisme itu sendiri.

Sains membuktikan bahwa individu tidak ada. Tidak ada SATU entitas yang berperan dalam mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan. Kita butuh entitas kedua untuk mendorong dan mempersepsi tindakan tersebut… Karena ternyata, kesadaran pada otak kiri dan otak kanan kita berbeda jauh.

Sebelah otak kita berusaha membandingkan apa yang sedang terjadi dengan apa yang kita telah ketahui, atau apa yang kita inginkan. Ini diketahui dengan The Interpreting Self. Sedangkan, sebelah otak kita yang lain memastikan apa yang sedang terjadi ini dialami dengan betul, dan masuk secara empirik dalam otak kita. Belah otak ini diketahui dengan The Experiencing Self.

Ilmuwan telah menemukan cara untuk mengisolasi dan memisahkan kedua belah otak (oh, metode ini juga dipakai untuk Truth Serum dan juga pengendalian dan/atau pencucian otak ya…) untuk “Riset”. Ini sedikit menyeramkan sejujurnya.

Jadi, ilmuwan yang melakukan riset ini menunjukkan sebuah foto tas yang sama dengan pemiliknya yang sedang dipisahkan kedua belah kesadarannya ini… Ketika gambar ini ditunjukkan pada Experiencing Mind, subjek langsung saja bercerita tentang tas tersebut, seperti harganya, warnanya, mereknya, ada rusak di sebelah mana saja, dan lain-lain.

Tetapi, sampai gambar tersebut ditunjukkan ke Interpreting Mind, pemilik tas (dan subjek eksperimen) tidak menyadari bahwa tas tersebut miliknya. Untuk memperaneh, ketika Interpreting Mind sedang menerima informasi, cerocosan miliknya malahan membandingkan tas tersebut (yang sekarang telah ia sadari sebagai tas miliknya) dengan tas yang ia inginkan. Subjek mengkhayal terlalu parah hingga ia melupakan detil utamanya.

Ketika disatukan lagi, baru semua detil ia cerna dengan betul. Ia juga menyatakan bahwa ia menginginkan tas tersebut diganti dengan tas baru, ia menyatakan warna, tempat pembelian, dan kedua belah fakta.

Nyatanya, orang normal adalah orang yang memiliki keseimbangan antara Otak Kiri dan Otak Kanan ini. Ada beberapa orang dari ratusan subjek yang dites, tidak mampu berpikir dengan sistematis, dan membiarkan sebelah sisi yang terlalu kuat membunuh sisi lain. Jika ada sebelah sisi lain yang mati, ia hanya akan hidup lagi ketika sedang sangat kuat.

Aku takkan masuk terlalu dalam ke eksperimen ini… Namun intinya, otak kiri dan otak kanan kita membentuk dua bagian kepribadian kita. Yang mengkhayal dan bermimpi, serta yang berpikir dan menerima. Ini sudah sedikit mematikan fakta bahwa kita punya Free Will dan bebas bertindak… Ini dihasilkan dari diri kita yang tidak bisa memutuskan kapan ingin berpikir dengan logis, atau dengan khayalan…

Lalu, sebenarnya, dari mana kita bisa memutuskan kalau hari ini aku ingin melukis dengan khayalan, dan esok hari aku ingin bermain puzzle dengan logika?

Ternyata, kita juga telah memiliki sebuah pola yang sudah diprogram dari sananya, yang menentukan apa yang kita akan lakukan pada beberapa jam sebelum kita ingin melakukan hal tersebut. Ada beberapa kimia yang menyalakan listrik di otak kita, dan kimia tersebut menyulut rasa kita untuk bertindak dan melakukan sesuatu.

Karena zat-zat kimia itu muncul dalam hitungan menit (sampai jam malah) sebelum kita bertindak atau bahkan berpikir untuk bertindak… Nyatanya, kita tak punya kebebasan bertindak sama sekali.

Yeay! Untuk apa berusaha melakukan sesuatu kalau pada akhirnya kita disuruh oleh zat kimia untuk melakukan itu?

The Birth of Dataism

Jadi, dari manakah lahirnya kepercayaan baru ini? Kepercayaan pada data alih-alih kemuliaannya seorang individu? Kepercayaan pada algoritma, alih-alih kepada Tuhan?

Riset di abad ke 21 yang membahas kesadaran telah mengambil dan membunuh sesuatu yang sakral, lalu ia telanjangi dan tunjukkan ke pihak umum dalam bentuk hina. Dulunya kita percaya bahwa kita bebas untuk melakukan apa yang kita inginkan, sekarang ternyata, itu hanya sebatas unsur kimia yang mengatur tindakkan kita.

Dataisme telah menjelek-jelekkan alasan kita melakukan sesuatu, dan menyatakan apa yang tadinya merupakan Free Will, sebagai suatu rumus yang hanya berupa beberapa garis data dan dapat diatur dan dibaca kapanpun kita mau.

Ini adalah beberapa contoh dataisme telah merusak keindahannya seorang Manusia…

What’s That New Post on IG?

Sosial Media menyimpan data, dan semua data yang kita kirimkan ke sana telah dimiliki oleh perusahaan yang memiliki sosial media tersebut. Semua post yang kita buat, mereka ketahui.

Mereka juga berusaha menebak akun apa lagi yang kita akan ingin coba untuk gunakan di masa depan nanti. Kita juga seringkali percaya mengenai sugesti akun baru untuk difollow yang diberikan Instagram.

Hmm, ironis sekali. Kita percaya apa yang sebuah algoritma katakan.

Pada suatu titik, mungkin hanya akan ada kelas di Instagram…

  • Follow akun Artis
  • Follow akun Chef
  • Follow akun Model
  • Follow akun Politikus

dan seterusnya…

Waze, perlu belokkah aku?

Kita percaya pada Waze atau Google Maps?

Sekarang, banyak orang menggunakan Waze dan mengikuti apapun yang mereka katakan.

Data pergerakkan kita mereka perhatikan, serta juga mereka gunakan untuk database live mereka agar kita juga bisa membantu semua orang dalam mengikuti rute tercepat dan teraman untuk pulang.

Algoritma yang mereka gunakan menemukan rute apa yang kita akan atau ingin lewati nanti… Akhirnya, mungkin mereka sedang (atau mungkin sudah malahan) berpikir untuk memperbarui lagi algoritma tersebut. Misalnya, mereka tahu kita ingin melewati rute terlama ketika hari Rabu, mereka juga mungkin tahu kita ingin segera sampai rumah pada hari Senin, agar kita tidak melewatkan episode terbaru dari 9-1-1. Kemungkinannya, tiada batas!

Tentunya dengan resiko kita melakukan apa yang algoritma (yang hampir semua orang gunakan) katakan.

Privacy? Naaaah!

Google memiliki beberapa jam yang memonitor detak jantung, dan akan sangat mungkin jika mereka akan menjual detak jantung seseorang yang berpotensi memiliki penyakit… umm, Difteri misalnya!

Dengan data yang mereka miliki sekarang, juga mungkin untuk Google melakukan sesuatu seperti menyimpan DNA seluruh anggota keluargamu, lalu mengecek potensi tiap orang terkena penyakit Alzheimer, diabetes, dan juga macam-macam penyakit lainnya.

Resikonya, ya… Untuk mendapat bantuan, kita perlu membayarkan bantuan tersebut, serta tentunya memberikan DNA, dan mungkin catatan serta riwayat medis kita dan seluruh keluarga kita.

That’s it

Oke, iya, itu saja… namun… Bagaimana ini semua bisa melahirkan Dataisme? Sebuah kepercayaan (jika ini bukan agama) baru yang bisa saja menggantikan agama-agama kuat lainnya pada abad ke 22?

Dataisme dasarnya lahir dari kepercayaan seseorang yang tidak mau melihat seni dalam suatu hal. Biasanya orang yang merupakan seorang datais percaya bahwa sebuah musik, sebagaimanapun indahnya musik tersebut, hanyalah terdiri dari beberapa setelan frekuensi yang diatur dan dimainkan pada jeda detik yang spesifik.

Seorang datais juga percaya bahwa pikiran kita hanyalah sebatas kimia yang menyala dan merubah cara kita berubah serta berpikir. Ia tidak ingin melihat alasan kita berpikir, dan juga tidak ingin melihat mengapa kita berpikir seperti itu. Seorang datais lebih tertarik pada kimia yang membuat kita berpikir seperti itu, alih-alih pemikirannya.

Datais juga tentunya tidak peduli mengenai manusia yang berpikir secara sakral, sama seperti kita tidak peduli pada cara seekor Ayam berpikir (sebenarnya ada saja yang peduli, tapi mayoritas orang tidak).

Datais hanya menganggap kita lebih baik dari hewan karena kita mampu memproses data lebih baik daripada hewan, dan juga kita bisa memproses data lebih cepat dan lebih banyak dari hewan.

Dataisme menganut data, dan percaya bahwa akan ada suatu titik dimana dunia ini hanyalah berisi data dan data dan data. Tidak perlu ada manusia untuk berada dalam data tersebut, karena untuk apa kita punya manusia, jika kita punya superhuman yang memiliki chip komputer di dalam otaknya?

Datais menginginkan dunia ini menjadi begitu mentah, begitu abstrak, dan mereka menginginkan entitas yang kompeten dalam membuat data, menghitung data, serta memproses data.

Mereka tidak keberatan jika mereka mati, dan mereka malah hanyut dalam kuatnya badai data nanti, karena bagi mereka, data seperti tuhan. Kemampuan untuk diberitahu sebuah algoritma apa yang perlu dilakukan bagimu nanti lebih penting dari kemampuan untuk berkreasi sendiri.

Aduh, ini jujur begitu menakutkan… Kurasa ini adalah modern day cult yang benar-benar mungkin bisa memanggil setan milik mereka untuk menguasai bumi ini…

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini sangat sederhana…

Hargai individualitas anda, coba berpikir dulu alasan anda ingin melakukan sesuatu, dan jangan gunakan suatu mesin sebagai suatu peramal atau dukun.

Pikirkanlah alasan tersebut dengan detil, apa sebenarnya alasan kamu ingin melakukan ini? Apa itu karena sahabatmu melakukannya? Atau karena kamu ingin saja? Apa itu karena kamu disuruh oleh orang tuamu? Atau dari dirimu sendiri?

Kita masih punya kesempatan untuk kabur dari tsunami data yang akan datang begitu muncul AI dan Data Flood nanti… Manfaatkanlah kesempatan tersebut.

Modern Day Gods

Modern Day Gods

Sebagai pengisi konten sebuah situs yang sempat menuliskan mitologi, yang di buat ala-ala modern, dan juga sebagai penulis yang suka sejarah peradaban manusia… Aku ingin memberikan konfirmasi dasar, bahwa di dunia kita sekarang… Masih ada… Mungkin bukan Dewa, melainkan, Entitas kuat yang sedang berusaha mengubah dunia. Layaknya pada zaman dahulu, para dewa dalam mitologi yang membentuk dan menciptakan dunia yang kita miliki sekarang.

Siapakah Dewa, atau entitas tersebut?

Inspirasi:

  • Homo Deus: A brief history of Tomorrow
    • Kali ini, inspirasinya hanya satu saja, tetapi, semoga, artikel ini tidak begitu membingungkan dan tetap menarik untuk dibaca.

Dewa? Atau Peradaban?

Dewa, dan Dewa lagi.

Ribuan tahun yang lalu, selalu saja, dewa yang dijadikan benda pujaan, entitas contoh untuk “disalahkan” mengenai terciptanya suatu benda, baik itu sesuatu yang baik, atau sesuatu yang buruk.

Terkadang, dewa ini dielu-elukan karena kemampuannya menciptakan sesuatu seperti hujan, sungai, gempa, atau apapun itu. Terkadang juga, dewa ini ditakuti karena kemampuannya merusak sesuatu.

Manusia melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk memastikan hawa nafsu dewa atau dewi ini terpenuhi, agar mereka selalu diberikan berkah, dan diamankan dari kerusakan.

Sebagai contoh, Dewa Sobek dipuja, dan bahkan sampai sekarangpun, Sobek masih dianggap telah melakukan suatu tindakan yang amat mulia dengan membuat sungai nil. Sobek sendiri juga telah mengalirkan air dari sungai tersebut, agar air itu terus menerus mengalir, dan mengalir, ia telah menciptakan kanal, dengan bantuan 1000 manusia, Firaun, dan juga bahan-bahan dari seluruh kerajaan mesir.

Mendengar ironi dari situ?

Sebenarnya, beberapa ahli telah menyatakan bahwa dahulu, beberapa orang Mesir telah sukses membuat kanal agar sungai nil mengalir dengan lebih efisien. Sedangkan, pada beberapa teks mentah dari tablet-tablet di Mesir, bahwa Sobek, dewa Buaya lah yang membuat sungai Nil, dan kanal-kanal kecil agar air tersebut mengaliri seluruh negara itu.

Meski tidak baik jika kita seratus persen menyangkal keberadaan Sobek, perlu diketahui bahwa memang betul, Manusia mengerjakan kanal dari Sungai Nil, atas perintah dari Firaun. Sementara, yang tercatat, hanyalah Sobek yang melakukan pekerjaan kanal itu.

Beberapa antropolog menyatakan bahwa ini terjadi karena suatu teori yang amat erat dengan Brand. Pada akhirnya, manusia ingin melakukan sesuatu, dan hanya akan melakukan sesuatu, sesudah ada suatu merek yang mendukung mereka untuk mengerjakan tugas itu. Ada kemungkinan bahwa si merek ini tidak melakukan apa-apa, dan hanya ada sebagai pajangan dan cara untuk “menipu” kebanyakan orang untuk melakukan sesuatu.

Berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang, umm… Mungkin saja tidak ada dewa apapun pada zaman dahulu, dan itu hanya cara agar para raja dapat menakuti semua penduduk kerajaannya agar melakukan apa yang raja tersebut ingin mereka lakukan.

Banyak antropolog juga yakin bahwa teriakan brand dan merek yang dibungkus sebagai dewa pada zaman dahulu kala telah terdengar cukup keras, dan juga tercerminkan di masa sekarang.

Perlu dicatat bahwa sampai detik ini, manusia secara umum, meyakini bahwa Firaun dan Sobek lah yang membuat kanal di Mesir dan memajukan peradaban kuat itu hingga sekarang. Secara tidak langsung, kita takkan pernah percaya siapa yang melakukan apa, sampai kita tahu bahwa ada suatu bungkusan yang berupa merek, atau brand untuk melakukan si hal tersebut.

Jika bingung, mari kita kemas ini dalam satu kalimat, dan akan aku jelaskan kalimat tersebut.

Sobek, dan Firaun membuat kanal yang mengalirkan air di Sungai Nil.

Nyatanya, dari kalimat tersebut, yang membuat kanal untuk mengalirkan air di Sungai Nil tersebut bukanlah Sobek atau Firaun, melainkan… Rakyat Mesir. Sobek hanyalah bungkusan agar fakta tersebut lebih mudah dicerna oleh manusia.

The Modern Mirror

Liverpool F.C. Telah memenangkan Champions League 5 kali.

Namun pada sisi lain, yang memenangkan Champions League itu bukan orang bernama Liverpool kan? Melainkan tim, yang berada dalam naungan klub sepakbola tersebut.

Juga ada Mobil yang berusaha menyetir dirinya sendiri, jika anda lupa, memang ada… Google sedang membuatnya.

Tapi umm… Apakah betul Google yang membuatnya? Setahuku Google itu adalah search engine, bukan Artificial Superintelligence.

Siapa yang ingat mengenai Waymo, perusahaan startup yang Google beli? Siapa juga yang ingat Sebastian Thrun? Pionir ide tersebut? Kurasa hanya sedikit orang yang bisa mengingat Sebastian Thrun.

Sebenarnya, kita butuh brand ini karena kita merasa lebih baik melakukan sesuatu untuk “dipuja”. Kalau misalnya kita bilang ke orang, “I work for Google” itu sama saja dengan bilang ke orang lain, pada zaman Yunani kuno “I work at Zeus’s Temple”. Brand ini adalah suatu kesan megah, suatu kesan dewa yang menjiwai manusia, dan memberikan mereka nafsu serta drive untuk melakukan sesuatu.

Tanpa adanya suatu merek familier, suatu hal takkan punya jiwa. Dan jiwa tersebut, adalah asal hidup dan semangat manusia. Ini salah sekian alasan jutaan orang percaya dan memegang teguh agama milik mereka, dan ini juga salah sekian alasan, kita bisa merasa bangga jika kita bekerja untuk sebuah perusahaan yang telah diketahui banyak orang.

(Percaya padaku, kamu akan merasa lebih senang jika kamu bilang “I work for Amazon” alih-alih kamu bilang, “I work for Jeff Bezos” Tetapi, ada sedikit pengecualian untuk itu, dan akan aku bahas sedikit di belakang)

So, Are Companies Gods Now?

Pertanyaan besarnya adalah, apakah perusahaan telah memperkuat dirinya dengan memberikan suatu kesan pride jika kita bekerja untuk mereka? Apakah perusahaan bisa dianggap setara dengan dewa? Apakah itu hal yang salah?

Jika ada yang bertanya denganku, justru Dewa pada zaman dahulu kala adalah suatu perusahaan.

Firaun bisa dianggap sebagai CEO dari Perusahaan bernama Sobek yang beroperasi di pembuatan kanal, dan tentunya, semua petinggi Mesir di kala itu juga bisa dianggap sebagai CTO, CMO, C whatever O dari perusahaan tersebut. Sobek adalah merek, dan nama perusahaan, bukan orang yang melakukannya.

Tetapi, siapa yang melakukan pekerjaan kanal itu? Sobek. Padahal, jika dipikir lagi, Sobek adalah merek, dan bukan orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Namun, secara universal, merek ini telah terasa sebagai suatu jiwa dan suatu bentuk sendiri…

Jiwa nyata ini telah membuat pertanyaan seperti ini mungkin untuk dikatakan.

  • Who won the 2018 World Cup?” France! Padahal, Prancis… adalah sebuah negara 😉
  • Who is currently developing an Artificial Intelligence?” Every crazy genius… *OOPS* sorry, ralat… Singularity Univesity. dari namanya juga ketahuan ya, itu universitas
  • Who’s developing technology for us to go to space?” Elon Musk
    • Dalam kasus ini, Elon Musk telah mengalahkan SpaceX dalam kasus brand…
  • Who and Who, and Who…”

Begitu kuatnya jiwa mereka, benda mati ini terasa lebih hidup, sehingga kita akan menanyakan pertanyaan Who, alih-alih menanyakan pertanyaan What company, atau What country…

Pada akhirnya, kita mengasosiasikan sebuah benda mati sebagai sesuatu yang berjiwa karena benda itu sedang melakukan sesuatu yang… Out of our minds. It’s just that fascinating.

Tapi, pertanyaannya adalah, mengapa sesuatu yang tak berjiwa seperti ini bisa melakukan sesuatu seperti itu? Mengubah suatu dasar bahasa Inggris.

Kembali lagi ke otak dasar kita…

We are What we Worship

Kita pasti mengelu-elukan atau merasa wah pada suatu hal.

Seperti kusebut di bagian awal… Kita akan merasa lebih baik jika kita melakukan sesuatu untuk merek yang imajinatif ketimbang melakukan sesuatu untuk orang lain.

Dalam imajinasi kita, sukses bekerja untuk suatu dewa, atau suatu merek akan memberikan kita perasaan mencapai sesuatu, daripada kita sukses bekerja… Untuk bos kita.

Kita akan merasa lebih bangga mencapai sesuatu yang imajinatif, dan bukan suatu hal yang nyata.

Err, itu mungkin terdengar gila, tetapi, sekarang, imajinasi kita begitu kuat dan begitu mudah mengubah orang lain, sehingga yang tadinya imajinasi bisa muncul ke dunia nyata, dan meninggalkan bekas nyatanya…

Ratus ribuan anak bermimpi untuk bermain seperti Cristiano Ronaldo, padahal, sepakbola adalah permainan dimana hukumnya saja hanya muncul dari kepala kita, dan bisa dibilang, dibuat tanpa inspirasi apapun. (for all we know, orang Maya/Romawi/China menciptakan sepakbola dengan menendang buah melewati dua pohon karena sedang bosan)

Ratus ribuan mahasiswa bermimpi untuk bekerja di suatu perusahaan besar, seperti Google, Amazon, or, whatever really. Sekali lagi, google, amazon, dan perusahaan apapun hanya berguna, karena kita berpikir itu berguna, dan telah menjadi gaya hidup…

Jadi, kesimpulan hari ini sederhana… Manusia lebih suka mengkhayal dan hidup untuk khayalan mereka, alih-alih sesuatu yang real.

Wow, sometimes we are really smart, and sometimes, we can be really silly.

Sampai lain waktu!

P.S. Maaf jika anda bingung, Sobek bukan berarti kertas yang dirobek, tetapi Dewa berkepala Buaya yang menciptakan sungai nil dari keringatnya. Ini aneh? Iya, tanya saja sama orang Mesir zaman dahulu, cheers 😛

The American Way of Life

The American Way of Life

Minggu kemarin, aku mengulangi sebuah topik di klub debatku, membahas mengenai Gaya Hidup Amerika. Sejujurnya, aku tidak tahu apa itu gaya hidup amerika, jadi aku melakukan googling beberapa kali, dan beberapa kali lagi, masih belum ada hasil, setidaknya hari minggu kemarin.

Topik ini sudah pernah dilakukan 3 kali, namun, definisi tiap kali pengulangan topiknya selalu berbeda. Jadi, kali ini, sesudah melakukan riset yang cukup ekstensif, akan aku bahas, dan berikan definisi utuh ke apa itu gaya hidup amerika…

(Dan juga tentunya, untuk membuktikan orang-orang yang (sekali lagi) merusak rekor hampir sempurnaku dalam debat… salah…)

Inspirasi:

  • Jadi, ehh, ini mungkin tidak akan dikira, namun… Serial Last Man Standing
  • Tentunya, Komunitas Debatku, LEDS. Silahkan kunjungi kami tiap Minggu, pukul 16.00 sore di Balubur Town Square, lantai 3.

Selamat menikmati! (dan, ehh, dibuktikan salah)

Definisi…

Nomor satu dari american way of life ini, yang membuat topik dan pembahasannya selalu berbeda tiap waktu, adalah definisinya.

Sebenarnya… APA SIH DEFINISI American Way of Life.

Pada percobaan pertama topik ini, sekitar 1 setengah tahun yang lalu, kami berasumsi bahwa american way of life adalah gaya hidup yang ala luxury seperti dilakukan seleb di Hollywood, dan mengingat bahwa topiknya cukup kentara, kakak yang membawakan topik itu terbilang kalah.

Kita memutuskan untuk memberikan definisi lebih padat pada american way of life ini, bahkan menjadi satu halaman sendiri dari “kamus” topik debat dalam buku tebal milik juri debat kami.

Pada percobaan kedua topik ini, sekitar 10-12 bulan yang lalu, kelompokku kala itu berusaha melihat gaya hidup orang amerika sebagai negara yang terlalu liberalis, terlalu suportif akan LGBT, terlalu suportif akan kebebasan, dan tidak punya batasan norma, atau batasan kesopanan.

Topiknya cukup mulus, hanya saja, aku merasa ada yang tidak srek dengan pembawaan dan definisi milikku.

Untungnya, aku bercerita kepada Babah dan Bubi mengenai percobaan kedua ini, dan ternyata, justru sebaliknya. American Way of Life tuh kaya yang di Last Man Standing Zriel. Katanya.

Percakapan berakhir dengan menggantung, tapi aku berusaha mengambil kesimpulan singkat.

Tema diumumkan dan dua hari yang lalu… Topik ini keluar, dan aku diminta untuk mengambilnya. Sendiri. kelima orang yang datang dipecah menjadi 3 kelompok, dan aku diminta untuk melakukan ini sendiri. (Hatiku mengatakan bahwa! OOH! Ini tantangan! 4 vs 1 alih-alih 3 vs 2, hmm… Menarik!) Aku menyetujui permintaan tersebut.

Menghela nafas dalam, aku membuka google… Cek, cek, cek dan cek, aku melakukan cukup banyak riset mengenai ideologi negara, statistik, dan bla, dan bla. Toh, aku sudah sedikit mengingat apa itu American Way of Life, dan dikarenakan definisi kasarnya sudah tergambar, aku tidak mencari lebih lanjut.

Sesudah rekor 1 tahun+ tidak pernah kalah debatku rusak 1 bulan yang lalu, aku kembali lagi mengalami kekalahan, karena aku sedikit gagal melakukan definisi, dan garis besar topikku salah.

Aku menggambarkan American Way of Life sebagai rasisme, dan, kurasa itu kurang lengkap, kurang tepat, serta cukup bodoh.

Jadi, layaknya tiap murid SMA yang ingin melakukan pekerjaan dengan mudah, aku ke Wikipedia. Untungnya, aku ke Wikipedia untuk mengambil dua hal, dan bukan melakukan copy paste ke seluruh halaman wikipedia tersebut… Aku mengambil definisi, serta sumber. (WIkipedia adalah salah satu tempat terbaik, -jika bukan yang terbaik- tempat terbaik untuk mencari sumber)

Dan, ini yang kudapatkan…

Gaya hidup Amerika, atau dalam bentuk lebih sederhana, Gaya Amerika, adalah gaya hidup yang sangat nasionalis yang mampu membentuk cara berpikir, mendefinisikan kebahagiaan, serta memberikan rasa kebebasan.

Terdengar cukup, kasar… Tentu saja, ini Wikipedia, tapi, mari kita berikan Bold untuk kata-kata kunci yang bisa digunakan untuk riset lebih dalam.

Gaya hidup Amerika, atau dalam bentuk lebih sederhana, Gaya Amerika, adalah gaya hidup yang sangat nasionalis yang mampu membentuk cara berpikir, mendefinisikan kebahagiaan, serta memberikan rasa kebebasan.

Kurasa cukup jelas. Rasa Nasionalisme seorang warga negara Amerika Serikat yang bisa merubah cara orang berpikir. Dari sini, muncul banyak hal lain, seperti kenaifan American Dream, dan juga satu hal yang merujuk ke sisi negatif American Way of Life dalam negara multi etnisitas (tanpa imigran. Amerika memiliki banyak imigran yang menjadi legenda) seperti Indonesia sendiri… Yaitu, American Exceptionalism.

Exception for the Americans…

Jadi, uhh… Mari kita ingat beberapa orang yang begitu Narsis (meski dalam banyak sisi, orang itu bisa dibilang baik)… Alexander The Great (ada lebih dari 30 kota di Mesir dengan nama Alexandria, dia menjuluki dirinya sendiri Alexander The Great), Adolf Hitler (DUH), Kanye West (err, banyak sekali website psikologi menyatakan bahwa Kanye itu emang Narsis, dan emang sih, orangnya rada pikasebeleun)

Tidak ada kesalahan fakta dimana mereka memang orang yang hebat, tapi kenarsisan mereka tidak bisa dipungkiri.

Banyak sisa dari kenarsisan ini, dan juga banyak bukti dimana Amerika memang penuh dengan rasa bahwa mereka negara yang amat kaya. Itu mungkin tidak salah…

Tapi, coba catat ini…

American Exceptionalism muncul dari seorang Politikus Prancis pada tahun 1937. Seymour Martin Linset namanya. Ia menyatakan bahwa orang Amerika merasa bahwa dirinya perlu diberikan sebuah pengecualian khusus, hanya karena ia berasal dari negara yang merasa hebat ini. Sebenarnya, aku yakin, 100, tidak… 1000% bahwa Seymour Martin Linset ini menyindir habis-habisan Amerika…

Apa reaksi para jendral dan presiden Amerika pada saat itu?

Mereka menyetujui pernyataan Linset, bahwa orang Amerika boleh merasa berhak ketika ingin diberikan suatu pengecualian pada tindakannya.

Oke… Pada satu sisi, kita melihat bahwa mungkin Amerika ingin menyindir Linset balik dengan menyindir sindirannya. Tapi, kita juga bisa melihat kalau Amerika mungkin merasa bahwa itu bukan sindiran… dan menerimanya penuh-penuh sebagai cap dari ahli politik negara luar bahwa orang Amerika memang pantas diberikan pengecualian.

Aku tidak mau menyalahkan error dari belah pihak manapun. Namun umm, apakah betul American Exceptionalism ini telah masuk ke beberapa belah pihak Warga Negara Amerika?

Jadi, jika kita melihat bahwa ada suatu tanda eksepsionalis dari warga negara amerika, maka kurasa tidak ada kesalahan dari pihakku jika aku menyatakan fakta seperti ini bukan? “Gaya hidup amerika menyebabkan rasisme karena sifat terlalu nasionalistik dari beberapa orang yang tinggal di daerah pedalaman Amerika.”

Mereka merasa bahwa ras lain lebih rendah, mengapa? American Exceptionalism! Mereka merasa berhak diberikan pengecualian atas tiap tindakan yang mereka lakukan, dan mereka merasa spesial, murni karena mereka berasal dari… Amerika!

Definisi Terakhir.

Baca sini, baca sana, baca sini, baca sana.

Jadi, untuk menyimpulkan dari sekitar 3 tulisan Scholar, Tulisan William Herberg (seorang Sastrawan nasionalis berasal dari Amerika), beberapa blog post untuk foreign students yang ingin pergi ke Amerika, dan juga tentunya, definisi-definisi dari Wikipedia…

Aku dapat menyimpulkan bahwa…

Definisi akhir, paling mentah dari American Way of Life adalah…

Gaya hidup seseorang yang tinggal di Amerika… *Cue the facepalms*

Bercanda kok, santai…

Gaya hidup Amerika disebabkan individualitas negara (atau umm, Nasionalisme) yang begitu kuatnya sampai bisa merendahkan hal lain, atau berpikir bahwa sesuatu yang tidak sesuai dengan gambarannya pada Amerika Serikat yang sempurna ini sebagai lebih rendah. Berarti, kalau kita ingin memasukkan sesuatu sebagai American Way of Life, kita hanya bisa memasukkan hal-hal yang telah terjadi sejak zaman dahulu kala, mungkin 2-3 abad yang lalu, ketika Amerika masih dalam perkembangan.

Jadi, apa saja hal-hal yang dapat dimasukkan dalam bias ini?

  • Rasisme
  • Seksisme
  • Perasaan bahwa seseorang mampu dibebaskan
  • Kesenjangan Sosial yang tinggi
  • Fakta bahwa pemimpin akan, seringkali dianggap benar
  • Impian palsu dari American Dream
    • Fun Fact, Amerika Serikat menghabiskan banyak sekali uang untuk mengiklankan American Dream ini ke negara-negara di Eropa.
  • Kebebasan dari Warga Negara Amerika
  • Dan seterusnya

Sejujurnya, kita bisa melihat kuatnya bias warga Amerika yang hidup dengan cara Amerika sebagai suatu kabar baik. Setidaknya mereka punya individualitas amat kuat. Meski terbilang, terlalu kuat juga, sehingga menyalah-nyalahkan sesuatu yang kasarnya… benar.

Kesimpulan

Banyak orang merasa superior pada orang lain karena ia berbeda, dan hanya orang-orang yang sejenis ini bisa dianggap setara, karena menurutnya, perbedaan berarti inferioritas.

Meski terkadang beberapa orang yang menyatakan superioritas akan perbedaan ini sebagai orang yang suka melupakan satu dua fakta… Penindasan atas perbedaan terjadi.

Ketika ada seseorang merasa bahwa ia lebih benar dari orang lain, ia mengoreksi habis-habisan agama lain, dan dari hasil koreksi itu, ia melakukan hal yang amat mirip dengan orang-orang yang menerapkan Gaya hidup Amerika…

Nah, intiku sebenarnya, sebelum aku terlalu berbelit-belit…

Perbedaan memberikan warna dan kekuatan. Tanaman yang hidup di daerah Homogen mudah terkena parasit, serta wabah, tetapi, tanaman yang hidup di daerah heterogen? Tidak, tentu saja tidak. Oleh karena itu, perbedaan memang ada, dan perbedaan hanya ada untuk di hargai. Mohon hargai perbedaan orang-orang disekitarmu, warna berbeda, kepercayaan berbeda, dan juga kebahagiaan berbeda… Bukan menandakan bahwa kita lebih rendah.

Sampai lain waktu!

Epilog Selipan

(Uniknya, aku punya kenalan yang kurang suka dengan orang yang memiliki perbedaan agama dengannya. Ia juga tidak suka akan komunisme… Namun, dengan gaya mereka menyatakan ketidaksukaan antar perbedaan ini… Err, sangat erat dengan rasisnya Friedrich Nietzche. Juga erat dengan Komunisme)

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Pada serial ini, aku ingin mengupas ciptaan dan kreasi manusia dari yang paling mendasar hingga yang paling kompleks. Manusia telah berusaha membuat hidup mereka lebih mudah dinikmati, serta lebih nyaman untuk dilakukan sejak manusia lahir sebagai spesies. Namun, seiring perjalanan ini dilewati, kita telah berubah menjadi spesies lain, hanya karena apa yang telah kita ciptakan.

Ah Manusia…

Pada satu sisi, kita sangat sangat pintar. Kita menciptakan banyak hal untuk melakukan hal-hal yang kita tidak ingin lakukan, tapi pada sisi lain, kita cukup bodoh untuk membiarkan ciptaan kita mengatur gaya hidup kita sendiri.

Jadi, apakah manusia itu makhluk yang pintar? Ataukah manusia itu makhluk hidup yang justru, bodoh?

Inspirasi:

  • Sapiens (lagi) ditulis oleh Yuval Noah Harari
  • Essential Sh*t. Bollocks, why didn’t I think of that? ditulis oleh Anthony Rubino Jr.
  • Meditations, ditulis oleh Marcus Aurelius
    • Kaisar Roma terakhir yang waras dan tidak punya ambisi untuk membunuh dan/atau memperbudak manusia, menaklukkan dan/atau menguasai dunia.
  • Sedikit pembicaraan di Museum Geologi, dan juga Museum Konferensi Asia Afrika.
    • Geologi mengenai senjata dan evolusi manusia
    • MKAA mengenai perubahan dan sifat rakus manusia.

Footnote: Siapapun yang mendidik Commodus sesudah meninggalnya Marcus Aurelius merusak seluruh era bijak para keturunan Nerva-Antonine. Dari situ semua Roman Emperor segila (atau mungkin lebih gila dari) Hitler.

Hangatnya Kenyamanan

Nomor satu…

Ingatkan aku, pernahkah anda ke museum, situs arkeolog, gua purba, atau apapun yang berbau geologi/arkeologi, dan menemukan manusia purba? Nenek moyang kita?

Ingin tahu penyebab kematian nenek moyang kita yang paling sering, dan juga paling ditakuti. Ditusuk oleh Babi Hutan misalnya? Keinjak Mammoth? Terbunuh suku lain? Oh tidak.

Kita bicara era jauh sebelum era berburu. Dulu ketika kita masih nomaden dan herbivora.

Kita bicara sebuah waktu sebelum manusia takut mati kelaparan. Ketika masih cukup banyak pohon berbuah untuk makan di sebuah daerah selama lebih dari 1 bulan.

Sebelum kita berburu, kita paling takut oleh dingin.

Sebagai makhluk yang amat kreatif dan pintar, kita melakukan suatu hal lain untuk menghindari kedinginan. Terciptalah “ciptaan” pertama kita. Api.

Sejujurnya, jatuhnya api ke tangan manusia purba masih cukup jauh dari pemahaman antropolog, atau arkeolog yang sudah handal. Tetapi, layaknya teori pembuatan piramida, tiap orang memiliki teori masing-masing, dan teori itu sama-sama masuk akalnya.

Ada yang menyatakan bahwa kita menemukan api ketika sedang hujan deras, dan ada petir yang menyalakan sebuah pohon. Ketika kita mendekat, kita merasakan kehangatan dan kelembutan dari api itu. Tiap langkah yang kita ambil membuat kita lebih tertarik, dan tertarik atas kehangatan pada dinginnya hujan ini. Ketika kita biasa bersembunyi di dalam gua. Akhirnya kita mau untuk keluar ketika hujan, dengan api sebagai pelindung.

Ada juga yang berteori bahwa kita menemukan api karena ketidaksengajaan menggesek dan menggosok dua buah batu sampai ada percikan yang menyalakan api. Percikan itu jadi sumber kehidupan, dan kehangatan para manusia. Hore! Kita telah menciptakan sesuatu.

Ada juga yang percaya bahwa kita menemukan api sehabis gemuruh petir yang membakar dan menyalakan sebuah pohon, lalu kita mengambil sebilah tongkat kayu, dan membawa sumber hangat dan panas itu kemana-mana. Sampai api tersebut akhirnya mati, dan kita mencari percikan kehidupan sekali lagi.

Ya, bagaimanapun juga, ketika kita lihat manusia prasejarah menciptakan api, kita perlu melihat alasan mereka menciptakan api.

Kenapa mereka menciptakan api? Karena tentunya, mereka merasa lebih nyaman. Jauh lebih nyaman kebanding harus berjalan telanjang sambil menggigil karena dingin, atau berbaring di tenggorokan sebuah gua, hanya ditemani kehangatan tanah, yang lembab, dan terasa begitu dingin.

Api telah menjadi sebuah kebutuhan, karena manusia selalu ingin apa yang paling nyaman untuk mereka. Seiring jalannya waktu, leluhur kita sudah tak kuat lagi berjalan telanjang. Kita mulai berburu karena ternyata kita lebih kenyang sebagai karnivora (dan para pencinta daging pasti akan membela habis-habisan pentingnya kita sebagai karnivora untuk evolusi) dan kita memanfaatkan baju tebal sebagai suplemen dari kehangatannya api.

Ini hanya mengupas apa yang terjadi di daerah tropis. Ketika manusia bermigrasi ke daerah yang bersalju, kita sudah mulai berburu, dan kita menggunakan baju yang tebal. (para arkeolog dan antropolog begitu penasaran mengapa para Neanderthal bisa bertahan dengan baju yang lebih sedikit dari Sapiens dalam cuaca yang lebih dingin)

Apa yang api ciptakan?

Sederhana. Karena hangatnya api ini begitu enak. Kita jadi menciptakan banyak hal lain untuk memperkuat rasa hangat tersebut. Kita menciptakan senjata karena daging yang berminyak dan lemak tersebut membuat diri kita merasa lebih hangat, baik karena persediaan lemak yang bertambah di tubuh kita dan juga karena struktur nutrisi milik daging.

Kita memanfaatkan kulit hewan buruan kita sebagai baju, karena kita tidak pernah puas. Kita selalu menginginkan apa yang lebih nyaman, dan kehangatan = nyaman. 2 tambah 2 jadi 4, sehingga, BAM! Tercipta lagi baju tebal.

Kalau nenek moyang kita tidak menemukan atau memanfaatkan api puluhan ribu tahun yang lalu… Kita mungkin akan berjalan dalam kondisi telanjang kemanapun kita pergi.

Ini mungkin hal yang normal beberapa puluh ribu tahun yang lalu, namun sekarang, ini telah menjadi suatu taboo.

Kebutuhan Api?

Kita membutuhkan api, bahkan puluh ribuan tahun dari kita mulai tahu cara memanfaatkannya. Beberapa antropolog die hard bahkan menyatakan bahwa kita sudah diperbudak oleh api, kita mencari cara untuk memastikan bahwa api selalu ada, karena tanpanya kita bisa merasa kedinginan, makanan tidak bisa dimasak dengan benar, dan kita takkan bisa mandi dengan air panas.

Sudah ada puluhan cara menciptakan api, semakin lama api yang diciptakan lebih panas, lebih membara, dan semakin lama, semakin sedikit bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan api. Pada dasarnya, kita tetap menciptakan hal yang sama, kita tidak menciptakan api jenis B, api jenis C, mau apapun warnanya, seberapa besar atau seberapa panas zatnya, bara api yang digunakan para Homo erectus dan manusia modern tetap sama.

Tetapi, meski kita telah mau diperbudak oleh api, dengan menciptakannya terus menerus, kita tetap membutuhkannya. Lagipula, siapa yang tidak mau hidup nyaman dan hangat?

Tajamnya Kekejaman

Manusia selalu berusaha melakukan apapun yang mereka bisa lakukan sebagai spesies untuk mendapatkan apa yang mereka nilai sebagai paling nyaman. Menahan diri sepertinya tidak mungkin sekarang.

Seiring mereka berusaha untuk membuat suatu hal lebih nyaman dan mudah untuk mereka, seiring mereka melakukan sesuatu untuk mempermudah apa yang mereka lakukan.

Oleh karena itu… Terciptalah senjata.

Senjata pertama-tama digunakan sebagai alat untuk berburu. Dengan bentuk dasar, sebuah tombak. Senjata paling efisien, paling kuat, dan paling mudah digunakan untuk membunuh.

Pada bentuk mentahnya, senjata tombak ini hanyalah sebuah batang kayu yang diperhalus menggunakan batu, lalu ditempelkan ke batu lain, yang dibentuk dengan khusus, sehingga memiliki mata tombak yang panjang.

Tombak ini cukup versatil dan bisa digunakan untuk menusuk dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri, untuk dilempar, untuk memukul, dan tentunya, untuk membunuh.

Kata terakhir itu perlu diberikan sebuah catatan dengan sound effect “ding-ding-ding”.

Dari memburu dan membunuh hewan karena kita ingin merasa nyaman dengan perut penuh, dan lidah yang puas menyentuh daging matang (meski tidak dibumbui sama sekali), kita juga merasa bahwa jika ada manusia lain berusaha menyentuh hewan calon buruan kita… Kita akan mneyerang.

Senjata yang tadi kita manfaatkan untuk berburu, dialihfungsikan.

Kita juga membunuh, dan berperang, demi mendapatkan sumber daya paling kaya dan paling nikmat. Mungkin peperangan pertama bermula dari seorang manusia yang berburu lembu dan tiba-tiba mereka bertemu dengan kelompok manusia lain, yang juga berburu lembu.

Karena ia bukan makhluk rasional, dan amat serakah, ia merasa bahwa akan lebih baik makan dua lembu dengan perjuangan yang berat, daripada bekerja sama dan membunuh dua lembu, lalu membagi hasil.

Dari situ, terjadilah konflik sederhana atas sumber daya. When has that stopped?

 

Apa yang telah diciptakan senjata?

Sebuah tombak sederhana yang bisa digunakan dari dekat dan juga dari jauh telah sukses mencoreng nama baik manusia. Namun, tombak juga telah berubah bentuk ratus ribuan kali, sampai ia menjadi senjata yang paling ampuh bagi para infantri.

Sekarang, infantri cenderung menggunakan senjata api, yang terkadang digunakan di jarak dekat juga (meski hanya untuk sekedar, membuat orang pingsan), desain multifungsi dan bisa digunakan dari jarak jauh dan dekat ini masih tercermin sampai sekarang.

Senjata manusia purba telah memberi sedikit inspirasi desain senjata modern, apalagi pada era kerajaan, dimana senjata masih menggunakan pedang dan perisai.

Tetapi, ketika kita berbicara mengenai senjata… Ciptaan terkuatnya tentunya adalah rasa iri, serta rasa rakus. Dari kedua emosi dasar yang berasal dari simpanse tersebut… Muncullah perang.

Kebutuhan Senjata?

Senjata tentunya telah menjadi kebutuhan… Kita membutuhkan senjata untuk berperang, karena…

Sejujurnya alasan manusia berperang sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku. Kurasa senjata hanyalah cermin dari keserakahan manusia, tapi ya, siapa yang sebenarnya peduli? :'(

Kita takkan berperang kecuali kita mampu mendapatkan sesuatu dari perang tersebut. Hanya saja, banyak orang melewatkan apa yang mereka mungkin dapatkan jika sumber daya tersebut dimanfaatkan dari sudut lain.

Memang, kita takkan pernah bisa lepas dari berebut, dari konflik, dari keserakahan, dan juga dari kebutuhan senjata. Senjata ada sebagai alat untuk mengambil, dan memastikan apa yang kita punya tidak diambil. Ia sebuah simbol keamanan, serta simbol peperangan.

Kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin merasa aman, kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin berperang. Manusia terjebak dalam sebuah zona dimana kita terpaksa untuk memiliki senjata, karena tanpanya, takkan ada jaminan bahwa kita akan memiliki suatu bentuk keamanan. Pada sisi lain, kita hanya butuh senjata karena sudah ada yang memiliki senjata, yang mengancam keamanan dan kesejahteraan milik kita.

Siapapun yang memercik api konflik duluan telah membawa kita ke siklus tanpa henti ini.

BERSAMBUNG!

The Energy Burst

The Energy Burst

Energi. Seberapa pentingkah itu?

Tentunya, energi merupakan hal terpenting di dunia kita ini. Mau dilihat dari sudut pandang apapun, tanpa adanya energi, tidak ada satu pun hal yang bisa dicapai jika tidak ada energi.

Energi bisa berarti bahan bakar, bisa berarti listrik, bisa berarti energi yang kita gunakan untuk bergerak, berpikir, dan bekerja.

Energi itu amat penting.

Namun, ketika kita kembali ke statistika, sepertinya manusia sedang melakukan lompatan ke sebuah jurang, dan mereka takkan mungkin kembali. One small step for a man? NO! One message for every man, Mankind is jumping to one big cliff that you’re never climbing back.

Inspirasi dan Sumber

  • Sapiens: A Brief History of Mankind by Yuval Noah Harari
  • A Brief History of Nearly Everything by Peabo Bryson. Wait no. Bill Bryson
  • Our Last Invention by James Barrat
  • A Bunch of Documentaries, whose names I have certainly forgotten. From National Geographic Channel.

The Energy Pitfall

Jadi, begini…

Masih ingat tahun 1890? Kuatnya kolonialisme di Bumi berarti secara teknis, manusia yang paling maju, yaitu bangsa eropa, sedang mendapatkan energi dan sumber daya dengan cara menggunakan energi manusia lainnya. Mereka memperbudak manusia yang mereka anggap Inferior demi mendapatkan suatu sumber daya.

Ironisnya, meski jumlah budak pada akhir abad ke 19 ada ratus ribuan (atau lebih), tetap saja dibutuhkan manusia yang sama-sama dari ras sok “superior” tersebut yang tetap melakukan pekerjaan menial, atau pekerjaan yang dibilang hina.

Pada sisi lain, estimasi energi sekali pakai, (atau terbatas) pada tahun 1890 tidak mencapai lebih dari konsumsi dua manusia rata-rata pada abad ke 21.

Lebih dari 100 tahun yang lalu, seluruh umat manusia hanya mengonsumsi energi (pada basis tahunan) setara dengan satu seperempat manusia pada abad ke 21.

Angka estimasi yang dapat dihitung dengan matematika didapat dari zmescience.com.

18.0 Terra watt-hour, atau TWh.

Seorang manusia menggunakan 5.67 X 10 pangkat 20 (0 nya ada 21, berarti sekitar 567000000000000000000000) Joule, tiap tahunnya.

That’s like. . . a lot.

Sebenarnya, kita menggunakan energi sebanyak itu untuk apa? Eits, tunggu dulu. Ada topik lain yang ingin kubahas.

Modern Day Slavery?

Perbudakan di zaman modern mungkin terkesan tidak nyata. Meski ada beberapa pekerja yang dibayar amat-amat-sangat murah pada era teknologi ini, dan ada banyak laporan mengenai itu, tapi, itu bukan topik kita hari ini.

Jika memang tujuan dari umat manusia adalah untuk “menghemat” energi, janganlah lupa bahwa bisa ada energi sendiri yang kita produksi dari makanan yang kita makan.

(Intermezzo: Industri makanan modern memakan sekitar 3% total energi dari seluruh energi konsumi kita)

Untuk melakukan transportasi, kita bisa saja berjalan. Untuk melakukan produksi barang, bisa saja kita lakukan manual. Selain itu, manusia juga bisa berlari dan memutar sebuah mesin yang menghasilkan listrik, layaknya hamster di iklan dan di serial kartun.

Mungkin tidak bisa dihitung perbudakan juga sih…

Oke, nama bagian ini diganti saja…

Man-chine thing.

Man machine 🙂

Anyways. Maksudku dari perbudakan adalah… Bagaimana, dan seberapa efisienkah jika seorang manusia, atau mungkin, sejumlah manusia dibayar untuk menghasilkan listrik?

Beberapa orang suka berlari, jadi kenapa tidak jika mereka mendapat uang dan menghasilkan listrik dari berlari?

Masalahnya sebenarnya bukan hanya di kecepatan dan lain-lain… Tetapi lebih ke, kurangnya produk yang mampu dihasilkan oleh sebuah man-generated electricity.

Seorang manusia bisa berlari dan menghasilkan sekitar 40 watts (give or take) jika ia memutar roda, baik dengan berlari, atau mungkin, dengan bersepeda selama sekitar 1 jam… Ada sebuah teknologi yang relatif efisien sedang mendukung perubahan itu, dan sudah ada sepeda statis yang mampu menghasilkan energi.

Namun, itu berarti, untuk mendapatkan KWh yang cukup dengan kebutuhan dunia sekarang, jika kita menggunakan sepeda, (dengan hitungan 10W = 0,001 KWh) akan dibutuhkan…

Hitungan:

  • Satu Tahun, dibutuhkan 567 X 10 pangkat 20 Joule
  • Satu Hari, dibutuhkan 567 X 10 pangkat 20 / 365.
    • Hasil: 1,5534247 X 10 pangkat 20 Joule
  • 1 Joule = 2,27 KwH
    • Kebutuhan energi seluruh umat manusia per hari dalam KwH, 3,523 X 10 pangkat 7.
  • Jika 1 jam bersepeda menghasilkan 0,004 KwH, maka dibutuhkkan setidaknya…
    • 3,523 / 0,004 = 880. X 10 Pangkat 7…
  • Secara total, berarti dibutuhkan 880 X 10 pangkat 7 jam untuk menghasilkan energi yang cukup tiap harinya.
  • 880 triliun, atau quadriliun, atau apapun itu mampu dicapai dengan tentunya, ratus ribuan manusia juga…
    • Jika setiap manusia bersepeda selama 4 jam tiap harinya, dengan populasi berusia 15-40 (masih fit) yang mencapai angka 1,5 milyar -an maka kebutuhan energi itu…
      • 0,004 per jam, 4 jam kerja = 0,016 KwH per manusia.
      • 0,016 X 1,5 milyar = 24000000 Kwh
      • Angka 24 X 100000 tersebut… hanya mampu mempenuhi 8-12 persen-an dari kebutuhan total tiap harinya.
        • Catat bahwa ini adalah hasil pekerjaan seluruh manusia dengan usia 15-40 tahun.

Tentunya angka itu hanya gambaran kasar. 🙂 Namun, hmm, coba ingat lagi sedikit, mengapa kita perlu berpikir mengenai solusi seperti ini?

Karena kita mengonsumsi energi begitu banyak.

Untuk apakah energi itu kita pakai?

Our Energy Usage

Baiklah, ini ada sedikit statistik kasar ke persentase dan perbandingan energi apa saja yang kita gunakan tiap harinya…

  • Dari seluruh TwH yang kita konsumsi tiap harinya, listrik, dan alat elektronik mencapai 39.3% dari konsumsi seluruh dunia.
  • Elektronik disusul oleh transportasi. Dimana mencapai 29.2 persen dari “stok” energi dunia.
  • Turun ke, Industri… Pabrik-pabrik dan perindustrian skala besar memakan 22.8% dari banyaknya energi di atas.
  • 91.3% energi dunia sudah tercatat, berikutnya kita hanya perlu turun ke hal-hal yang lebih minor. Kebutuhan Rumah hanya mengambil 6.4% energi dunia.
  • 2.3% terakhir berada di kategori lain-lain

Ketahui bahwa tentunya, rumah, industri, dan yang lain-lain ini juga menggunakan listrik. Namun catatan di atas hanya menunjukkan benda-benda non elektronik, seperti gas, bahan bakar fosil, dan lain-lain.

Nah, tentunya, kita perlu pikirkan, mengapa kita menggunakan begitu banyak listrik? Mengapa kita perlu memanfaatkan transportasi, alih-alih berjalan saja misalnya, dan memakan begitu banyak stok energi di dunia?

Time’s Ticking

Sayangnya, banyak orang merasa, aku tidak terkecuali, bahwa sumber daya terpenting seorang manusia bukanlah apa yang telah diberikan bumi ini, melainkan, waktu!

Dengan menggunakan Bahan Bakar Fosil, kita bisa menghemat begitu banyak waktu dan melewati perjalanan 60 kilometer misalnya, hanya dalam 90 menit, atau lebih cepat malah.

Pesawat terbang telah membuat kita bisa pindah ke suatu daerah lain dalam hitungan hari, jika zaman dahulu kapal membutuhkan hitungan tahun.

Tetapi, jika masalahnya memang waktu, tentunya manusia sedang berpikir dan menimbang-nimbang untuk memotong kebutuhan energi bukan? Ya… Sebenarnya sih, waktu itu bukan masalah besar, yang jadi masalah besar adalah, apa yang orang-orang menggunakan waktu ini.

The Other Pitfall: Procrastination

Siapa yang tidak melakukan ini? Semua orang tentunya telah membuang cukup lama dari hidupnya untuk browsing hal-hal tidak masuk akal, atau hal selewat saja di Google, dan juga hal-hal tidak penting di sosmed… Who doesn’t do that?

Masalahnya, sekarang begitu banyak orang yang bisa melewati begitu lama dan begitu banyak jam di harinya untuk hal tidak produktif ini. I don’t really mind that. Ya, sebenarnya sih betul, aku tidak keberatan, tetapi, energi yang dikonsumsi dari hal tidak produktif ini amat sangat banyak. Manfaatnya juga biasanya sedikit.

Sebagai contoh, jika seseorang follow sebuah akun yang bertemakan… I don’t know hmm… Yang produktif we lah ya? Misalnya akun bertemakan fakta unik atau fakta seru, dan anda mendapat sebuah fakta menarik tiap harinya…

Apakah anda betul mengingatnya? 🙁

Bisa dibilang ingatanku cukup baik, aku tidak ingin menyombongkan diri, tetapi aku punya ingatan yang lebih baik dari rata-rata, dan aku bisa mengingat beberapa hal tidak penting yang aku google. (seperti misalnya, di daerah mana Axolotl tinggal, mitos-mitos mengenai media, kasus-kasus tuduhan atas berita palsu) Orang-orang pada umumnya, belum tentu mengingat hal tersebut, atau bahkan, semua hal yang mereka lihat.

Percaya padaku, mereka melihat banyak hal di internet.

The Energy Spent By Procrastination

HP rata-rata, mengonsumsi sekitar 4 KwH jika ingin di charge sampai penuh tiap hari, pada Tiap tahunnya.

Seberapa banyak kah itu? Sedikit. Mungkin isi ulang saldo tiap tahunnya hanya bertambah 50 sen, atau sekitar 7,000 rupiah. Oke sedikit, cukup sedikit.

Tapi, sekarang, ada orang yang charge HP sampai 3 kali satu hari, biasanya orang yang main game dengan konsumsi batre berat. Selain itu, juga ada rumah dengan 3-4 HP. Jika tiap rumah memiliki 3 HP, misalnya, masing-masing di charge 2 kali satu hari, rumah itu akan mengkonsumsi 16 KwH tiap tahunnya.

Bahkan jika dikali dengan semua rumah di satu negara, atau satu planet ini, angka itu masih relatif kecil. Hanya sekitar 3-5%

Tetapi, sekarang ada juga yang bernama internet! (belum lagi komputer, tapi karena ini lebih targeted, maka aku akan menyindir HP secara spesifik)

Pada tahun 2018, semua layanan internet, termasuk internet di rumah, internet di luar rumah, dan juga Port WiFi milikmu… Sudah mengkonsumsi 17% dari semua listrik di dunia.

That’s quite a lot. Belum lagi masih ada estimasi naiknya 17% tersebut sampai 25 atau 30% pada tahun 2025.

Jadi, 22% dari hampir 40% listrik di dunia ini dimakan oleh HP-HP dan layanan internet milik kita.

Sebenarnya juga tidak terlalu banyak, hanya sekitar 9% dari listrik dunia.

Hmm…

Baiklah.

Awalnya aku ingin memberikan sugesti topik ini ke komunitas debatku jika aku menemukan statistik menarik, namun ternyata tidak.

Kurasa tidak ada salahnya sedikit bereksperimen dan menilai satu dan lain hal dari beberapa sudut pandang.

Kesimpulan

Jadi, intinya, semua energi di sini dapat ditujukan untuk hal lain, dan juga banyak hal yang lebih efektif.

Kurasa semua hal punya tujuannya, dan meski aku tidak ingin melakukan judging, atau tindakan yang cukup offensive… Akan lebih baik jika kita bisa menghemat energi.

Ingat bahwa kita sebagai manusia membutuhkan aset yang amat penting, dan tidak bisa dikembalikan lagi, layaknya semua hal di dunia ini.

Waktu.

Spend your days, but make sure that they add up.

Sayangnya dalam Bahasa Indonesia quote itu tidak begitu catchy.

Habiskan hari-harimu, tapi pastikan bahwa hasilnya bertambah.

Bagaimanapun juga, tetaplah produktif, dan sampai lain waktu!