Month: August 2018

Apa itu Uang?

Apa itu Uang?

Pertanyaan ini sederhana. Sebenarnya, apa itu uang? Dan bagaimana selembar uang bisa memiliki nilai? Terkadang banyak orang, tanpa memedulikan gelar ataupun pekerjaan (kecuali jika bekerja di bidang filsafat, atau misalnya, antropologi) sering bingung atas pertanyaan sederhana ini.

Jika kamu menanyakan pada penganut Marxism, atau penganut jenis komunisme lainnya, jawabannya akan cukup sederhana. “Uang adalah alat imajinatif dari para kapitalis.” Tetapi, semua orang menggunakan uang, semua orang memiliki uang (tanpa memedulikan nilainya), dan mayoritas orang, lucunya, tidak tahu apa peran uang dalam sejarah.

Aku sudah pernah membahas perannya Kapitalisme campur Kolonialisme dalam menambahkan kemajuan dari peradaban, tetapi, pada sisi lain, uang sendiri, takkan menjadi suatu hal yang bernilai tanpa adanya kapitalisme.

Umm, untuk mengurangi sedikit kebingungan dari apa yang terjadi pada serial Buku yang telah dibaca milikku, dan juga untuk memberi laporan buku-buku yang benar telah kubaca pada minggu ini, aku sepertinya akan membiasakan menuliskan inspirasi, dan juga beberapa kutipan dari sumber-sumber aku mendapatkan ilmu ini. (mungkin juga akan diselipkan komunitas dimana aku mendapat ide, sayangnya belum akan dilakukan untuk artikel ini.)

Sumber dan Inspirasi artikel:

  • Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Written by Yuval Noah Harari
  • The Ascent of Money, Written by Niall Ferguson
  • Sapiens: A Brief History of Mankind, Written by Yuval Noah Harari

Apakah Kertas Begitu Bernilai?

Nyatanya, uang tidak akan punya nilai kecuali kita percaya bahwa uang tersebut memiliki nilai.

Tanya warga Myanmar ketika ada seorang diktator yang menyatakan bahwa semua uang yang anda miliki sekarang hanya boleh digunakan untuk membeli uang baru. Jika aku tidak salah, uang baru itu bernilai 10 kali lipat lebih mahal dari desain uang yang lama.

Tindakan diktator tersebut mampu membuat seluruh warga Myanmar sekarat dan miskin, tetapi para diktator kaya. (jadi, sebenarnya, uang tersebut hanya tidak bernilai di dalam negeri ^^’ )

Berikutnya, coba kita pikirkan hal ini dalam bentuk fisik…

Apa beda uang 1.000 rupiah (desain baru tentunya), dan uang 100.000 rupiah? (sekali lagi, desain baru) Tentunya ada perbedaan warna, gambar pahlawan yang berada di lembaran uang tersebut, dan juga ada perbedaan angka yang bertuliskan di selembar uang tersebut. (if you ask an American about this, they have fewer differences, just a different design)

Apakah ada perbedaan tekstur? Tentu saja tidak. Perbedaan ukuran, ada sih… sebenarnya ada perbedaan sedikit. Uang 100.000 lebih besar 2 milimeter dari 50.000, sedangkan uang 50.000 lebih besar 2 milimeter dari 20.000, dan seterusnya, sampai uang 1.000 lebih kecil 12 milimeter kebanding uang 100.000.

Tetapi, selain perbedaan fisik yang terbilang minim tersebut, apakah uang memiliki nilai berbeda? Orang akan menjawab iya. Namun, sayangnya, tidak! Jika kita memercayai sebuah uang 5.000 sebagai alat untuk membeli 3 buah Beng-Beng (bukan sponsor, hanya saja, Beng-Beng begitu enak) maka, uang 5.000 sebenarnya hanya senilai 3 buah Beng-Beng.

Itu alasan 10.000.000 Dollar Zimbabwe (yang begitu tidak stabil dan terkena Hiperinflasi sampai 3 kali) hanya bisa digunakan untuk membeli 3 butir telur, atau mungkin, 2 Beng-Beng.

Faktanya, kita sebagai manusia percaya bahwa 10.000.000 dollar Zimbabwe nilainya sama dengan 2 Beng-Beng. Kita sebagai manusia percaya juga, bahwa 5.000 rupiah nilainya sama dengan 3 Beng-Beng (oke-oke, Beng-Beng di toko dekat rumah itu 1.700, cuman kan bisa dibuat bulat)

Jadi, yang perlu ditanyakan sesudah bab ini ada tiga.

  1. Apakah uang perlu dinilai sebagai barang, alih-alih sebagai… err, uang?
  2. Mengapa kita percayai uang?
  3. Uang, apakah uang itu?

Nilai Uang.

Uang, oh uang. Apa nilaimu? Apa bentukmu? Apakah kami membutuhkanmu?

Pertanyaan sederhana. Kita membutuhkan uang, karena kita membutuhkan sesuatu yang bernilai, dan penting untuk kemakmuran dan keselamatan hidup kita.

Jadi, sebenarnya, mengapa kita butuh uang? Karena kita membutuhkan barang yang bisa dibeli dari uang tersebut. Untuk apa kita memiliki uang terlalu banyak jika kita tidak membutuhkan, eh ralat… Menginginkan barang terlalu banyak? Sejujurnya, Upah Minimum di tiap daerah dan negara kurasa telah cukup untuk memberikan standar kehidupan yang paling rendah untuk seseorang, tetapi, karena ada orang yang menginginkan Mercedes paling baru untuk sebuah standar hidup, dan juga ada orang yang akan bahagia ketika sudah sukses makan KFC, atau makan di restoran mewah, maka… dari situ lah kita membutuhkan uang. Untuk mendapatkan keinginan kita.

Uang takkan bernilai, kertas juga takkan bernilai, jika uang tidak bisa mendapatkan barang-barang yang kita butuhkan, atau inginkan.

Jadi, coba pikir lagi, buat apa kita memiliki uang? Buat apa ktia makan di restoran all you can eat? Buat apa kita membeli mobil mewah? Ujung-ujungnya, kita membutuhkan uang untuk membeli kebahagiaan, dan kebahagiaan tersebut berasal dari mana? Dari barang yang menghasilkan endorphin di otak kita. (seperti disebut tadi, kebahagiaan tiap orang berasal dari tempat berbeda)

Ironisme dari kehidupan manusia lagi… Kita terjebak di dalam siklus tanpa henti, persis seperti siklus tanpa henti sebuah media…

  • Kita membutuhkan uang.
  • Mengapa? Karena kita membutuhkan serta menginginkan barang yang didapat dari uang tersebut.
  • Kita berusaha mendapatkan uang.
  • Kita mendapatkan uang yang cukup untuk membeli (setidaknya jika kamu menggunakan uang dengan pintar) 10 buah barang yang kita inginkan.
  • Kita membeli barang yang kita inginkan.
  • Kita menginginkan uang lagi. Jadi kita menciptakan bisnis, atau membeli properti ketika kita ada uang lebih.
  • Mengapa? Karena kita menginginkan barang (lain) yang sekali lagi… didapat dari uang.

Kesimpulan sederhana. Uang tidak bernilai. Barang yang kita beli tidak bernilai. Yang bernilai adalah hormon yang kita dapatkan sesudah mendapatkan uang.

Bahagia itu sederhana sebenarnya. Kita cukup mengatur otak kita untuk mendapatkan hormon endorphin dan serotonin ketika kita melakukan sesuatu yang gratis!

Buddha benar… The end of all suffering is the end of all wanting. Atau, semacamnya. Ya google saja Quotes-nya Buddha, entar juga ketemu kok.

Wait, then again, bank-bank di seluruh sudah sukses menghasilkan jutaan dollar dari orang yang tidak sabar untuk mendapat keinginannya. I think that’s called a credit card…

Ya, sudah ada watermark untuk courtesy image, jadi tolong, WordPress jangan marah ketika aku lupa memberi courtesy sebuah gambar. Hatur Nuhun.

Ehem, tadi sampai mana?

Oh iya…

Dalam dunia kapitalistik, amat disayangkan bahwa uang sangat dihubungkan dengan erat dengan kebahagiaan. Sayangnya, tidak ada yang mengerti atau prihatin mengenai hal ini.

Jadi, berikutnya, mari kita bahas alasan kita percaya pada uang.

In Money, We Trust.

Secara faktual, kita sebagai manusia percaya pada cukup banyak hal yang aneh, dan juga tidak masuk akal.

Sebagai seorang Debater (ENTP), aku amat senang ketika bisa membuktikan seseorang yang lain salah.

Mari kita lihat statistik total uang palsu yang digunakan untuk membeli suatu benda lain, setidaknya, di India. (sebenarnya, aku memilih India karena angka uang palsu di India begitu besar)

Secara total, ada uang palsu (dalam mata uang Rupee) senilai 3.15 triliun Rupiah yang digunakan untuk membeli barang pada akhir 2017 di India. Untuk menambah sedikit kelucuan. 3.15 triliun (dalam Rupiah) uang tersebut hanyalah berupa uang yang ditemukan dalam bentuk kertas. Selalu ada kemungkinan bahwa uang palsu tersebut digunakan beberapa kali, misalnya dalam transaksi dengan toko, lalu dari toko tersebut sebagai kembalian, dan dari kembalian tersebut digunakan untuk transaksi dengan teman, lalu ke toko lain, dan seterusnya.

(Oh iya, satu hal lagi.) Sistem bank yang mencatat uang yang kita miliki juga relatif mudah untuk dibobol seorang hacker yang andal, serta tidak mudah menyerah.

Tetapi, entah mengapa, kita masih percaya pada uang.

Maksudku, statistik telah seringkali membuktikan bahwa uang itu suatu hal yang mudah untuk dirusak, dipalsukan, dicuri, dan diambil dari orang lain… Tetapi, kita masih percaya pada uang.

Mungkin, ini faktor evolusi, and all that God Spot stuff, tetapi tentunya, anda sudah membaca artikel itu. Atau belum. Err, kalau belum, cepat-cepat baca! Klik disini. dikakipelangi.com/kunci-evolusi-manusia-secara-psikologi

Pada dasarnya, mengapa kita percaya pada uang?

Bagi seorang yang tinggal di daerah komunis, uang takkan bernilai. Semua hal telah disediakan oleh pemerintah, sehingga, untuk apa kita punya uang? Selembar kertas itu, tak bernilai.

Maksudku, jika memang uang dipandang sebagai alat untuk mendapatkan benda yang bernilai, mengapa kita membutuhkan uang, alih-alih, misalnya, usaha?

Kapitalisme mendukung uang, karena dengan adanya uang, nilai benda yang didapatkan dari uang tersebut dapat diputar dengan lebih mudah. (baca artikel ini… )

Ini pertanyaan yang ketiga buku yang kugunakan sebagai sumber tersebut tidak dapat jawab, tanpa kita masuk ke pertanyaan ketiga.

Apa itu uang?

Uang…

Jadi, coba ingat sedikit…

Kita telah membahas nilai uang, namun, kita sebenarnya tidak tahu apa itu uang.

Sebagai seorang Millennial… To Google!

a current media of exchange in the form of coins and banknotes; coins and banknotes collectively

Jadi, satu, uang adalah sebuah media yang portabel, digunakan untuk bertukar. Bisa dianggap sebagai koin, atau sebagai lembaran uang.

Tapi, umm. Sekarang, lebih dari 80% transaksi terjadi tanpa menggunakan uang. Sekarang uang berupa saldo, dimana kita memindahkan nilai saldo di suatu tempat, misalnya, di rekening bank kita, ke aplikasi Gojek, untuk bepergian (atau membeli makanan, atau bersih-bersih, atau… yah, you got that part).

Apakah Gopay, atau Grabpay itu memiliki bentuk fisik? No! Of course not.

Tetapi, apakah Gopay atau Grabpay itu memiliki nilai? Tentu saja!

Bukan hanya dalam aplikasi, baik E-Commerce layak Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, atau Electronic Transportation, layak Gojek, atau Grab, atau Uber… Tetapi, di bank juga, electronic banking juga bisa dihitung.

Sebenarnya, apa itu uang? Uang itu, saldo. Saldo untuk apa? Saldo yang berperan sebagai media untuk mendapatkan benda.

Mungkin anda berpikir bahwa nilai imajinatif serta saldo ini bukan hal yang penting sebelum ada pesatnya perkembangan teknologi. Namun, dari zaman dahulu, rekening bank kita tidak menyimpan uang tiap orang dalam brangkas masing-masing. Ada sebuah brangkas besar yang berisi uang, namun, jumlahnya, ku tidak tahu.

Apa yang disimpan secara pribadi oleh bank? Catatan. Bank mencatat uang yang kita miliki. Sesederhana itu… Bank hanya menghitung, menghitung, dan menghitung.

Jadi, mengapa kita percaya pada uang? Karena sekarang, tidak banyak media yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan benda. Dan sebagaimanapun juga ada pencurian uang, atau ada pemalsuan uang, tidak ada media yang begitu efektif, ataupun efisien dalam mendapatkan barang yang kita inginkan tersebut.

Nyatanya, meski ada uang elektrik berupa saldo, mata uang untuk hal tersebut sama saja… Bitcoin mungkin adalah sedikit perbedaan, namun… Hmm, kurasa ujung-ujungnya, sistem Bitcoin hanya mencatat dan mendapatkan uang, dan mungkin Bitcoin hanyalah sebuah mata uang baru.

Kesimpulan.

Humans trust many stupid things. But they’re smart enough to create it in the first place.

Jadi, sebenarnya, kutipan itu, cukup ironis. Kita percaya pada cukup banyak hal yang bodoh… Untuk menyebut beberapa…

  • Uang
  • Sosial Media
  • Hoax (apakah ini dihitung? Aku sih menghitungnya)
  • Hukum
  • Permainan
  • Kompetisi
  • Kesenjangan Sosial

Tetapi, di saat yang sama, kita cukup pintar untuk menciptakan benda itu.

Sepertinya kita adalah makhluk yang bersinar begitu terang, sampai-sampai cahaya dari tubuh kita membutakan diri kita sendiri.

Tetapi, ya, siapa yang bisa menyalahkan kita? Selain diri kita sendiri tentunya…

๐Ÿ™‚

Debat Tanpa Henti: Komunisme vs Kapitalisme

Debat Tanpa Henti: Komunisme vs Kapitalisme

Artikel hari ini terpercik dari cukup banyak hal yang membuatku tertarik pada topik sederhana namun sepertinya tidak akan pernah beres ini. Sebenarnya kata tertarik juga boleh diganti dengan kata sebal.

Pertama dari topik ini berasal dari sebuah acara di Asian Food Channel yang menggunakan Axian, atau Jason sebagai host. Kemarin, episode sedang datang ke negara sosialis yaitu Vietnam.

Iya, sosialis, tolong dengar terlebih dahulu.

Kedua, dari banyaknya broadcast dan/atau perdebatan yang diberikan oleh beberapa orang yang merasa bahwa Indonesia harus lebih fokus ke sosialisme dan keadilan ekonomi, alih-alih perkembangan.

Ironisnya, dari semua orang yang membuat broadcast atau mendebatku seperti itu, mereka sangat tidak suka dengan komunisme. Cukup tidak suka untuk menyatakan bahwa komunisme adalah pemerintahan yang tidak punya agama.

Tidak akan membahas ketidakpunyaan agama itu hari ini, melainkan aku akan membahas apa itu Komunisme dan Kapitalisme dengan detil. Agar akhirnya, orang-orang bisa memandang manakah yang lebih ideal untuk sebuah bangsa.

Tentunya, kurasa tidak akan ada orang-orang yang membuat broadcast seperti itu untuk membaca post seperti ini, lagi-lagi blog ini, tetapi, kali ini, aku menulis untuk kepuasan pribadi…

Kapitalisme

Jadi, apa itu kapitalisme? (ha, aku sudah menulis sedikit banyak tentang ini, tetapi tetap saja, masih ingin menulis lagi, ha)

Apakah betul, seperti beberapa poster kecil yang dipasang di tiang listrik yang berada di dekat balai kota, kapitalisme adalah satu-satunya alasan mengapa masyarakat masih melarat? Karena pemerintahan tidak peduli pada mereka dan lebih peduli pada uang yang mereka dapatkan?

Apakah betul, kapitalisme adalah sejenis cara buruk untuk korupsi dan mengambil uang negara? Apakah kapitalisme itu sejenis cara mengambil dan memotong anggaran yang hak masyarakat, dan bukan hak negara?

ADUH! Pusing deh!

Tahu gak sih, selama aku ikut Pramuka Homeschooling tiap Rabu pada Taman Lansia, selama 2 setengah tahun, minimal 2-3 bulan sekali ada orang demo di depan gedung sate.

Ada yang teriak, ITU UANG MILIK RAKYAT! HENTIKAN! JANGAN COBA-COBA AMBIL! Ada beberapa orang yang memasang NAIKKAN GAJI BURUH! NAIKKAN! Juga ada petani yang menginginkan dan menyatakan bahwa Kemerdekaan itu tidak ada artinya selama uang masih dipegang negara, dan bla, dan bla, dan bla, dan seterusnya.

Belum lagi, masih ada beberapa warga di daerah Tamansari yang demo lewat Balai Kota ketika aku sedang menikmati Taman Sejarah… Mereka mengira bahwa pemerintah ingin mengambil lahan mereka untuk dijual, atau apalah.

Aku takkan protes jika orang-orang ingin demokrasi via demonstrasi, itu bukan masalah besar, tetapi, terkadang, orang-orang tidak mengerti, dan tidak MAU mengerti bahwa sebenarnya, kapitalisme hampir tidak sepenuhnya berarti keserakahan.

Intermezzo

Jin: HAHAHAH! SELAMAT! ANDA beruntung! Anda akan mendapat satu permintaan, karena anda menemukan saya!

Saya: WAH! Saya mau anak Naga campur Unicorn yang bersayap 4 dan bisa mengeluarkan api dari mulutnya!

Jin: Wah, tidak bisa! Lebih realistis sedikit dong!

Saya: Hmm… Saya mau mendapat anyak demonstrasi dan bentuk demokrasi terbuka yang lebih berkualitas dan dilakukan sesudah perhitungan matang.

Jin: Baiklah dek… Unicorn campur Naga mau yang Jantan atau Betina?

Lelucon didapat dari Babah (yang sepertinya menemukan via Twitter), silahkan klik namanya di kanan atas ๐Ÿ˜‰

Kembali ke Dunia Nyata

Jadi, apakah kapitalisme itu?

Kapitalisme berasal dari kata dasar, Kapita, atau Kapital.

Kapital bukanlah ibu kota, Kapital disini berarti pemasukkan.

Pada bentuk sedasar-dasarnya, kurasa siapapun itu akan mengerti jika aku menjelaskan kapitalisme sebagaimana berikut… Kapitalisme adalah sebuah cara pemerintahan mengelola sumber daya yang mereka miliki. Sumber daya tersebut biasanya dijual oleh negara agar pemiliknya bisa menggunakannya, dan negara menghasilkan laba.

Sederhana kan?

Nah, sekarang, yang perlu ditanyakan sebelum kita mendebat Kapitalisme dan Komunisme adalah… apa itu Komunisme?

Komunisme

TERNYATA KELOMPOK INI KOMUNIS? *Semua clickbait di Youtube yang berhubungan dengan politik*

Komunisme adalah sebuah cara mengelola pemerintahan dimana lebih dari 50% sumber daya dan lahan dikelola oleh pemerintah, dan tidak diperjualbelikan. Sederhana kah? Kurasa cukup sederhana.

Aku tidak tahu terlalu banyak mengenai apa yang dipermasalahkan orang-orang mengenai komunisme sendiri (selain fakta dimana Marxisme dan juga Leninis yang bermain dalam terciptanya komunisme), dan juga sejujurnya, aku juga tidak tahu apa perasaan orang-orang yang tinggal di negara berkembang dengan ideologi Komunis.

Mengapa negara berkembang saja? Karena kita sendiri masih negara berkembang. Dan juga, karena akan masuk akal jika negara yang maju untuk melakukan suatu tindakan yang bersifat preservatif alih-alih bertumbuh. Toh, mereka sudah maju.

Data didapat dari happyplanetindex.org update terakhir pada 16 Agustus 2018

Dari 5 negara komunis (Vietnam, Kuba, Tiongkok, Laos, serta tentunya, Korea Utara) yang masih berpikir secara komunis di dunia ini, hanya bisa didapatkan data untuk Vietnam, Kuba, dan juga (secara internal) Korea Utara.

Vietnam merupakan negara nomor 5 paling bahagia di dunia, Kuba juga merupakan negara nomor 8 paling bahagia di dunia. Juga didapatkan statistik di saluran TV Korea Utara bahwa mereka negara kedua paling bahagia di dunia, dimana nomor satunya adalah Tiongkok…

Finlandia adalah negara paling bahagia di dunia, dan tidak akan salah untuk menyebut bahwa mereka sedikit sosialis. Pajak yang ditagihkan ke setiap warga Finlandia lebih dari 50% (pada tahun 2018 ini, untuk memberi angka pas, adalah 56%), tetapi negara memberikan begitu banyak keuntungan dari pajak tersebut

Baiklah, aku merasa sedikit bingung disini… Kapitalisme memang menciptakan sedikit ketidaksamaan dan status sosial berdasarkan penghasilan, tetapi juga, untuk sebuah negara memiliki angka persamaan status sosial rendah (dikarenakan komunisme), perlu dilakukan komunisme yang drastis, dan bukan hanya sosialisme. Padahal kita tidak suka komunisme.

Mengakhiri Perdebatan…

Sebelum aku pergi ke komunitas debat untuk memulai debat, aku akan mengakhiri perdebatan dengan cara membuat sedikit pro dan kontra, tetapi aku tidak akan terlalu memfokuskan diri ke suatu sisi, dan akan dibuatlah gaya yang netral.

Pro dan Kontra Kapitalisme

Sedikit penjelasan sebelum masuk ke Pro dan Kontra…

Kapitalisme disini bukan dijelaskan hanya untuk laba. Kita harus berpikir lebih kritis. Aset milik kita manakah yang bisa dimanfaatkan untuk mendapat laba, dan dari laba tersebut, bisa datang aset apa? Apakah dari aset tersebut kita bisa memajukan teknologi? Membeli suatu hal yang kita tidak bisa beli? Apakah dari laba tersebut, negara akan korupsi?

Kurasa, berpikir terlalu kukuh mengenai suatu sudut pandang adalah tindakan yang amat bodoh, dan memperlambat majunya intelektual warga Indonesia. Jadi tolonglah, berpikir bahwa laba dari suatu sumberdaya yang kita miliki ini, pikirkan apa saja yang bisa didapatkan.

Pro dari Kapitalisme

  • Warga dibebaskan lebih banyak untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan, dan membeli apa yang mereka ingin beli.
  • Negara akan lebih mudah mendapat akses ke sumber daya yang tidak mereka miliki.
  • Banyak sumber daya lebih yang bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan negara.
  • Laba dan sumber daya dapat tumbuh dari udara kosong jika ada manajemen yang baik, dan juga… tentunya sedikit bunga di sana dan di sini.
  • OPINI: Kurasa Kapitalisme cocok untuk negara berkembang agar bisa menjadi negara maju.

Kontra dari Kapitalisme

  • Kesenjangan sosial yang tinggi.
  • Tragedy of Commons sangat mungkin terjadi, ketika seseorang menginginkan suatu sumber daya terlalu banyak hingga ada orang-orang yang tidak bisa menikmati sumber daya tersebut lagi.
  • Negara kapitalis akan melemah jika mata uang milik mereka terkena inflasi.
    • Catat bahwa inflasi bukan sepenuhnya salah pemimpin. Meski itu mungkin saja betul.
  • Warga yang kurang pintar membelanjakan uangnya bisa terjebak uang.

Meski sebenarnya, kurasa warga Indonesia akan lebih senang jika diterapkan pemerintahan sosialis kapitalis, tapi mohon ingat bahwa masih ada keterbatasan sumber daya, Kapitalisme tetaplah metode terbaik menurutku, setidaknya untuk sekarang.

Pro dan Kontra dari Komunisme

Komunisme juga, sekali lagi, tidak bisa hanya dilihat dari sudut sosialis.

Pikirkanlah ini dari kacamata milikmu, namun juga pikirkan ini dari kacamata orang-orang dengan penghasilan yang dibawah dirimu. Apakah mereka akan merasa lebih senang?

Pro dari Komunisme

  • Kesenjangan sosial minim.
  • Pemerintah dapat mengendalikan dan mengetahui lebih detil apa yang dimiliki oleh tiap warga.
    • Alhasil, lebih sedikit kemungkinan adanya pembelian mengenai barang-barang ilegal.
  • Tidak dibutuhkan uang untuk melakukan pemerintahan komunisme
    • Meski kontroversial, tidak salah juga ๐Ÿ™‚
  • Warga akan merasa lebih senang. Terutama jika mereka sejak lahir berada dalam negara komunis.

Kontra dari Komunisme

  • Tidak semua negara bisa menjalankan pemerintahan komunis, alasan utama dari kurangnya sumber daya.
  • Tidak banyak ruang untuk pertumbuhan negara.
    • Ini tentunya tidak sepenuhnya benar. Masalah dari ini adalah, tidak banyak dari negara komunis yang bisa dijadikan contoh, dan salah satu dari negara komunis tersebut sudah cukup maju, dimana satu dari negara komunis itu menganggap senjata nuklir sebagai pertumbuhan negara.
  • Pemerintah mampu mengeksploitasi dan memanfaatkan sumber daya yang telah dirasa sudah dibagi dengan adil, sisanya dapat digunakan untuk hal yang …Lihat kasus senjata nuklir di atas.
    • Masih bisa terjadi dengan pemimpin kapitalis yang korup. Namun, karena minimnya pemerintahan komunisme dan contoh terbaik adalah… Korut, Tiongkok, serta Kuba…

Bagaimana opsimu? Sebenarnya Komunisme masih mampu untuk memberikan ruang untuk pertumbuhan jika orang-orang yang berada dalam pemerintahan komunis tersebut mau menyisihkan uang untuk pertumbuhan… Namun, karena kurangnya contoh, dan juga sistem komunis yang dijalankan dengan optimal serta baik… Kurasa, banyak stigma yang muncul dari istilah tersebut sendiri.

Dan iya, Richard Marx… Eh, Karl Marx dan Lenin merupakan orang yang memberikan ide tersebut jadi, stigma makin buruk.

Kesimpulan

Berpikir kritis.

Apa susahnya berpikir kritis sesekali?

Kenapa banyak orang mau saja memanfaatkan orang yang tidak mau berpikir kritis ini?

Mereka memutuskan untuk memberikan sebuah frame dan membuat banyak orang melihat apa yang mereka ingin lihat. Aduh, jujur deh, aku mulai lelah dengan bangsa kita.

Sampai lain waktu. Indonesia masih Subuh, semoga kita akan bangun dan mau untuk berpikir lebih mandiri serta kritis.

P.S. tanggung kalau artikel ini beres dalam 1485 kata ditambahkan 15 kata lagi… Biar pas!

Hubungan Antara MBTI dan Temperamen Waldorf Pt. 1

Hubungan Antara MBTI dan Temperamen Waldorf Pt. 1

Kemarin, sesudah sedikit membahas kepribadian dengan Babah Bubi, aku semacam mendapat ide, dan penasaran… Apakah MBTI dan Temperamen Waldorf berhubungan?

Untuk yang belum tahu apa itu temperamen waldorf… -Karena tentunya, semua orang yang tahu tentang temperamen waldorf akan mengetahui MBTI itu apa-. Temperamen termasuk salah satu teori psikologi dan filsafat paling mendasar, dan diciptakan oleh Galen. Dahulu kala, Galen menyatakan bahwa temperamen adalah sumber penyakit, serta kepribadian.

Ada 4 temperamen, dan karena kita menggunakan Waldorf sebagai patokan, seseorang dapat memiliki 2, atau kadang 3 temperamen berbeda, selama temperamen tersebut bukanlah temperamen yang merupakan kebalikan dari temperamen milikmu.

4 Temperamen adalah, Choleric, Sanguine, Phlegmatic, dan Melancholic. Seorang yang dominan Choleric tidak mungkin menjadi setengah Phlegmatic, dan juga seorang yang dominan Melancholic, takkan memiliki kepribadian Sanguine. Begitu pula, sebaliknya.

Meski ada sedikit mistisisme yang tidak dapat aku masukkan ke dalam artikel ini (artikel ini sebuah artikel ilmiah), dapat dipastikan bahwa temperamen Waldorf ini ada, dan bisa dinyatakan sebagai benar. Disaat yang sama, kepribadian MBTI dapat dibuktikan dengan benar, dan memang takkan kudebat bahwa kepribadian MBTI cukup benar (kasus lain untuk akurasi dari tes MBTI, ada juga artikel mengenai itu… klik disini saja…), tetapi, apakah terkadang temperamen milik kita berkontradiksi dengan MBTI, atau justru, temperamen milik kita makin diperkuat oleh hasil tes MBTI?

Mari baca artikel ini!

Kompas MBTI

Sebelum masuk, kita akan masukkan kompas MBTI di awal artikel sebagai pembanding.

Introvert vs Extrovert
Observant vs Intuitive
Thinking vs Feeling
Judging vs Perceiving

Sekali lagi, silahkan klik artikel ini untuk informasi lengkap…

Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Keempat Temperamen

Berikut ini adalah keempat temperamen Waldorf, jika sudah mengetahui dan/atau tidak ingin mengetahui interpretasiku atas keempat temperamen ini, tetaplah baca, akan ada sedikit perbandingan dengan versi MBTI dari sebuah temperamen.

Choleric

๐Ÿ™‚

Maafkan aku Bubi… (Ibuku seorang Choleric berat, jadi… ya begitulah)

Interpretasi Galen

Dahulu kala Choleric terjadi ketika seseorang minum terlalu banyak. Jika mereka kurang minum, mereka akan terkena penyakit Cholera. Oleh karena itu, pada era Yunani, orang-orang percaya bahwa untuk menyembuhkan Cholera, yang dilakukan cukup sederhana, yaitu untuk minum sebanyak mungkin.

Choleric sendiri, pada zaman Yunani digunakan Galen untuk orang-orang ambisius dan berapi-api, seperti Jendral dan Kaisar Romawi yang mengatur kekaisaran amat megah tersebut.

Waldorf Choleric

Seorang Choleric adalah seseorang yang amat-amat-amat kompetitif, dan biasanya sedikit insecure. Pada dasarnya, seorang Choleric juga akan memberikan effort maksimal untuk melakukan sesuatu dan mereka paling senang jika diberi kesempatan untuk memimpin.

Choleric pada dasarnya sangat cocok untuk dijadikan pemimpin, ambisi dan semangat berkompetisi yang mereka punya tidak mampu diganti oleh orang lain, dan mereka mampu melakukan manajemen, serta mengatur hal-hal dengan efisien.

Ide-ide yang mereka miliki juga biasanya jarang dimiliki orang lain.

Sayangnya, seorang Choleric ini memiliki niatan dan keinginan untuk menyuruh seseorang melakukan sesuatu karena sebenarnya ia tidak ingin melakukan tindakan tersebut. Kecuali suatu pekerjaan dianggap sebagai tantangan, maka kecil kemungkinan seorang Choleric akan melakukan sesuatu.

Selain itu, seorang Choleric juga sangat agressif ketika ingin melakukan atau mengerjakan sesuatu, keagresifan si Choleric ini cenderung berbahaya, dan terkadang, seorang Choleric bisa saja rela melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.

Choleric MBTI

Sejujurnya, kurasa dari kompas MBTI, Choleric seseorang cenderung untuk masuk ke Intuitive, serta Judging.

Karena temperamen Choleric cukup cepat saat melakukan sesuatu, ia akan melakukan sesuatu berdasarkan Intuisi kebanding dengan memerhatikan baru melakukan, proses berpikir seorang Choleric akan berdasarkan insting, kebanding pengalaman.

Selain itu, tentunya, agresifnya tindakan seorang Choleric amat Judge-y. Amat cocok menurutku.

Untuk terakhir, kurasa Choleric juga menambahkan sedikit saja Thinking, karena ia akan berpikir dan memastikan suatu tugas terlaksana. Mana ada pemimpin yang tidak berpikir? Haha

Sanguine

Berputar berdasarkan Kompas Waldorf ke arah jarum jam, Sanguine!

Interpretasi Galen

Sanguine, ah… Sebenarnya, Sanguine ini berhubungan dengan darah dan tekanan darah seseorang.

Seorang Sanguine biasanya menjadi seperti itu ketika darah miliknya “terlalu” banyak, dan juga mengalir melewati tubuhnya dengan santai.

Galen dulu menghubungkan Sanguine dengan para aktor teater. Mereka mampu melakukan sesuatu dengan senang, mereka tidak peduli pada apa-apa, dan mereka sangat-sangat sosial.

Pada zaman Yunani, ada sebuah penyakit bernama Sanguinas, itu terjadi ketika kita kekurangan darah, dan darah kita mengalir terlalu lambat. Untuk menyembuhkan penyakit itu, biasanya seorang “dokter” memberikan darah hewan untuk diminum.

Menjijikan.

Waldorf Sanguine

Sanguine pada dasarnya, merupakan Life of the Party.

Mereka orang yang senang menghibur dan juga senang berada di banyak teman-teman lainnya. Mereka sering bercanda, mereka juga cukup karismatik.

Selain itu, biasanya, seorang Sanguine juga amat sangat percaya diri atas diri mereka sendiri, mereka juga merasa yakin bahwa takkan ada hal buruk atau hal negatif yang terjadi.

Tanpa seorang Sanguine dalam lingkaran sosial akan membuat suatu hari yang amat-amat membosankan.

Kurangnya, terkadang mereka terlalu bahagia, sehingga mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kenyataan. Kurangnya kepedulian ini bisa membuat mereka berujung ke mereka melakukan sesuatu sebelum beres, atau bahkan mereka lupa apa yang akan mereka kerjakan.

Seorang Sanguine juga biasanya cenderung tidak punya malu, sanking tidak pedulinya mereka pada keadaan. Intinya, mereka memastikan semua orang senang dan mereka akan melakukan segala sesuatu yang ia anggap menyenangkan.

Sanguine MBTI

Berdasarkan kompas Waldorf (Choleric di posisi utara, Sanguine berada di posisi timur, Phlegmatic di selatan, dan Melancholic di barat), serta kompas MBTI, aku yakin Sanguine paling cocok untuk dihubungkan dengan…

Extrovert, sebagai orang yang mudah berteman dan berkomunikasi dengan orang lain, serta juga (sekali lagi) Intuitive. Kurasa Sanguine lebih cocok dimiripkan dengan Intuisi, sebagai orang yang melakukan sesuatu tanpa pola, dan hanya mengerjakannya. (kadang tidak sampai beres malah)

Sebenarnya, aku ingin menyebut Thinking, dikarenakan polar opposite Sanguine, yaitu Melancholic amat erat dengan feeling, tetapi, Sanguine juga tidak terlalu banyak berpikir. Jadi aku bingung untuk poros MBTI paling lemah seorang Sanguine itu apa…

Aku sendiri merasa, sebagai kepribadian yang amat santai, ia akan cocok dengan Perceiving, karena tentunya, ia tidak terlalu peduli dan akan mau mendengar opini yang berbeda, serta melihat sudut pandang lain.

Phlegmatic

Sekarang, tinggal 2 temperamen lagi ๐Ÿ˜‰

Interpretasi Galen

Sebagai seorang alchemist, Galen percaya bahwa seorang Phlegmatic diciptakan ketika seseorang terlalu sedikit bernafas dan/atau, terlalu banyak makan…

Aku, sebagai seorang millennial percaya bahwa Galen sedikit gila.

Bagaimanapun juga, Galen menghubungkan Phlegmatic dengan para buruh dan/atau budak, yang menjadi korban para Choleric melakukan sesuatu. (ouch, that’s cruel)

Note: Sebenarnya, Galen tidak secara eksplisit menyebut budak, atau buruh, ia lebih memaksudkan sebagai orang yang bekerja, namun, banyak ahli filsafat modern yang percaya bahwa ia memaksudkan pekerja sebagai buruh.

Phlegmatic biasanya cenderung melakukan sesuatu hanya ketika mereka sudah perlu melakukan itu, dan/atau ketika mereka tidak melakukan apa-apa. Sebagai polar opposite Choleric, seorang Phlegmatic lebih banyak berpikir agar ia tidak perlu mengeluarkan upaya terlalu banyak untuk mengerjakan sesuatu.

Phlegmatic dahulu dihubungkan dengan penyakit Phlegm. Apakah penyakit Phlegm? Penyakit yang berhubungan dengan pernafasan, dan jika seorang Phlegmatic terlalu banyak bernafas, maka Phlegm kurasa cukup cocok dan sesuai dengan definisi ini.

Dahulu Galen suka menyembuhkan Phlegm dengan makanan pedas, dan aku tidak mengerti mengapa.

Waldorf Phlegmatic

Seperti kata Galen, seorang Phlegmatic lebih suka berpikir kebanding melakukan.

Phlegmatic pada dasarnya akan berpikir dan berpikir terus sampai ia memiliki sistem untuk melakukan suatu tugas. Ia akan bekerja berdasarkan sistem itu dan ia akan merasa tidak nyaman jika sistem itu diganggu.

Phlegmatic juga biasanya cukup tenang dan merasa puas pada diri mereka. Seorang Phlegmatic tidak akan terlalu banyak berbicara hal yang tidak penting, karena ia biasanya memerhatikan sesuatu dulu sebelum melakukan dan mengerjakan tugas-tugasnya.

Selain itu, tampaknya mereka satu-satunya temperamen yang akan melakukan sesuatu tanpa ada yang menyuruh.

Kekurangan mereka ada di fakta dimana mereka terlalu banyak berpikir, dan juga amat mudah terkena penyakit malas.

Seorang Phlegmatic biasanya amat plin-plan, dan mereka tidak suka jika sistem mereka dirubah, atau mereka harus bekerja berdasarkan sistem lain.

Phlegmatic MBTI

Kurasa poros-poros MBTI Phlegmatic cukup jelas.

Phlegmatic adalah seseorang yang bekerja berdasarkan pengalaman serta pengamatan, maka tentunya, Phlegmatic adalah kepribadian yang Observant.

Selain itu, Phlegmatic juga sering dan suka berpikir, maka kepribadian lainnnya adalah, Thinking.

Aku juga merasa bahwa Phlegmatic bisa juga masuk ke Perceiving, sebagai orang yang sabar dan mau menunda pekerjaan sampai ada rencana yang matang, Phlegmatic akan amat cocok jika ingin menunggu mendapatkan semua faktor dan sudut pandang sebelum bertindak.

Melancholic

HWAAAA AKU LELAH! AKU INGIN INI BERES! :'(

Bercanda deng, itu hanya diriku yang ingin membuat suasana menjadi sedikit melankolis.

Interpretasi Galen

Galen oh Galen.

Aku ingin memulai dari penyakit temperamen sebelum masuk ke temperamennya untuk Melancholic.

Melancholism biasanya terjadi (FYI, Melancholism juga diketahui sebagai Depresi sekarang) ketika seseorang memiliki darah yang terlalu banyak, tetapi darah tersebut terlalu kental.

Ingin tahu cara menyembuhkannya? Buat dirimu terluka, pastikan semua darahmu terbuang, lalu minum yang banyak. Jika kamu cukup kaya, kamu bisa membeli lintah agar proses tidak begitu sakit.

Yap, kurasa Galen memang sedikit… gila.

Untuk memperparah, orang-orang depresi ini biasanya menjadi mati sesudah diberikan “obat dan terapi” ini.

Melancholic adalah kepribadian yang biasanya dieratkan oleh Scholar dan Penulis, setidaknya menurut Galen.

Para Melancholic senang berkontemplasi dengan perasaan yang berada dalam dirinya sendiri, dan cenderung suka menyendiri.

Melancholic Waldorf

Aku akan membalik order of appearance, sekali lagi, hanya untuk Melancholic.

Melancholic terlalu banyak khawatir pada suatu hal, ia sering kali lama menunda sebuah pekerjaan hanya demi memastikan semua kekhawatirannya hilang.

Ia juga dapat dengan mudah merasa rendah diri, entah mengapa. (sebenarnya Rudolf Steiner punya penjelasan, tetapi kurang ilmiah) Melancholic senang mengkhawatirkan dirinya sendiri dan juga merasakan pesimisme dalam dirinya. Ia sering merasa dan berkontemplasi pada hal-hal yang sebenarnya jarang dipikirkan orang lain.

Kabar baiknya! Melancholic yang sangat senang mengkhawatirkan hal-hal ini, biasanya satu-satunya orang yang cocok untuk memberi sugesti dan informasi atas hal-hal yang tidak akan terpikir oleh temperamen lainnya. MIsalnya, ketika sebuah tim menentukan rute, seorang Melancholic bisa saja mengingatkan bahwa pada akhir tahun, banyak jalan yang biasanya kosong dan pendek ditutup agar bisa diperbaiki.

Selain itu, Melancholic yang merasa kasihan pada dirinya sendiri dan orang lain juga bisa menjadi hati dan jiwa sekelompok tersebut. Ia bisa menjadi teman yang selalu mau mendengar serta bersimpati pada perasaanmu. Ia amat peka pada perasaan, dan cukup kreatif, karena ia paling banyak berkontemplasi hal-hal yang tidak perlu dikontemplasikan.

Galen mengakui dirinya sebagai Melancholic.

Melancholic MBTI

Nomor 1! Introvert! Seorang Extrovert tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk berpikir dan merasakan ketidaksenangan dirinya dengan keadaan. Melancholic juga cenderung mendapatkan energi dan merasa senang ketika ia hanya sendiri.

Nomor 2! Feeling! Sepertinya, memang hanya temperamen ini yang berhubungan dengan feeling. Untungnya, memang rasio orang Feeling vs Thinking cukup berat ke sisi Thinking.

Nomor 3! Judging. Mungkin akan ada yang merasa sedikit bingung mengenai ini, tetapi alasan aku menyebutkan judging dikarenakan Melancholic sering merasakan sesuatu tanpa ada bukti apapun untuk membelakanginya, sesudah fakta itu muncul, baru akan ada yang menanyakan…

Disclaimer: Artikel ini hanyalah sebuah sketsa asal berdasarkan ideku sendiri. Tidak ada suatu ilmu yang pasti, kecuali sudah berupa sejarah. Semua hal yang berada dibawah garis ini, hanyalah spekulasi, serta coretan asal.

Rekap

Sebelum kita masuk ke bagian dimana aku membandingkan MBTI dan Temperamen, aku akan melakukan rekap…

Dominan berarti suatu hal yang PASTI didapatkan oleh temperamen tersebut, sub dominan hampir pasti didapatkan jika dominan atau sub dominan dari temperamen kedua atau ketiga tidak mematikan hasil ini, dan Minor berarti suatu tambahan, hanya jika terjadi kebetulan dimana temperamen belum mengisi suatu kategori.

Selain itu, ada satu lagi yang tidak kusebutkan pada awal karakter yaitu, sub-minor. Seandainya seseorang itu murni hanya memiliki satu temperamen, maka kepribadiannya akan dibentuk dan menjadi seperti ini. Sub-minor dinilai dari kebiasaan, temperamen untuk cenderung lebih masuk ke sisi sebelah kanan, atau kiri.

Sub-Minor juga bisa dijadikan sebagai backup jika bahkan campuran dua kepribadian masih kurang satu kategori.

Choleric

  • Dominan: Intuitive
  • Sub-Dominan: Judging
  • Minor: Thinking
  • Sub-Minor: Extrovert

Pure Choleric akan menghasilkan ENTJ, atau Commander, orang yang hobi menyuruh-nyuruh orang lain.

Sanguine

  • Dominan: Extrovert
  • Sub-Dominan: Intuitive
  • Minor: Perceiving
  • Sub-Minor: Feeling

Pure Sanguine akan menghasilkan ENFP, juga diketahui sebagai Campaigner. Orang yang senang berkumpul dengan orang lain, mampu mempersuasi orang lain, dan juga sangat optimis.

Phlegmatic

  • Dominan: Observant
  • Sub-Dominan: Thinking
  • Minor: Perceiving
  • Sub-Minor: Introvert

Pure Phlegmatic akan menghasilkan ISTP, juga dikenal sebagai Virtuoso. Menurutku ini yang paling tidak cocok dengan kepribadian sebuah Phlegmatic murni. Seorang Virtuoso sangat senang mencoba hal baru, tetapi tetap memiliki dan mengikuti sistem yang ia miliki, ia akan terus memberikan update pada sistem miliknya. Kurasa ini tidak sepenuhnya salah, hanya tidak seratus persen benar juga…

Melancholic

  • Dominan: Introvert
  • Sub-Dominan: Feeling
  • Minor: Judging
  • Sub-Minor: Observant

Pure Melancholic akan menghasilkan kepribadian ISFJ, atau Defender. Seseorang yang selalu mau dan selalu baik hati pada orang lain. Ia selalu rela untuk membantu dan memastikan orang lain nyaman, meski ia terkadang tidak yakin pada dirinya sendiri.

The Arriadi-Hidayat System

Untungnya! Belum ada yang menciptakan sistem ini! Jadi aku bisa menyebut sistem ini sebagai milikku! HA!

Jadi, sistem ini bertujuan untuk membandingkan apakah hasil tes temperamenmu sesuai dengan MBTI milikmu? Untuk memastikan tes ini benar, bisa dicoba sendiri dengan mengikuti salah satu dari Waldorf Temperament test, dan juga tes MBTI di 16personalities.com untuk membandingkan.

Pada dasarnya, sistem ini akan memanfaatkan semua faktor yang telah dimasukkan tadi, dan membandingkannya dengan satu sama lain.

Sebagai contoh… (akan ada 4 contoh, masing-masing temperamen akan minimal jadi temperamen utama sekali)

Choleric dominan + Sanguine

Menciptakan pola ENTJ/ENFJ.

Hasil tersabut dihasilkan tergantung dominannya orang tersebut. Baik Protagonist ataupun Commander cukup cocok dalam menjawab kedua hal tersebut. Tentunya, Protagonist hanya akan mau menjadi pahlawan jika ia memang kompetitif, dan kurasa Commander memang benar imitasi lain dari Choleric.

Hasil tersebut didapat dari…

  • Choleric = Intuitive, Judging, Thinking
  • Sanguine = Extrovert, Intuitive, Feeling
  • Choleric + Sanguine = Extrovert, Intuitive, Thinking/Feeling, Judging
  • Hasil tersebut tidak didapatkan dengan asal, melainkan dengan membandingkan serta menggabungkan keduanya. Yang menentukan disini hanyalah lebih dominankah suatu sisi kebanding yang lain?

Contoh lain adalah…

Sanguine dominan + Phlegmatic

Menghasilkan pola ENTP/ESTP

Debater mungkin tampak lebih cocok untuk seorang Sanguine Choleric, tetapi, meski seorang Debater akan kompetitif, kurasa insting berpikir dan perencanaan seorang Phlegmatic mampu memberikan suplemen ke tingkat kepercayaan diri dan sosialnya seorang Sanguine, jadi kurasa, tidak benar-benar salah. ESTP, atau Entrepreneur, juga kurasa cocok. Entrepreneur cenderung memiliki pola bekerja dan sangat-sangat sosial, ia sering melihat dan melakukan sesuatu, dan mau untuk mendengar opini kedua, ketiga, dan seterusnya.

Hasil tersebut didapat dari…

  • Sanguine = Extrovert, Intuitive, Perceiving
  • Phlegmatic = Observant, Thinking, Perceiving
  • Sanguine + Phlegmatic = Extrovert, Intuitive/Observant, Thinking, Perceiving.

Phlegmatic dominan + Melancholic

Temperamen ini menghasilkan… ISFP/ISTJ

Mengapa? Sub Dominan dan Minor kedua hal ini sangat berlawanan, jadi akan sedikit menarik untuk membandingkannya. Untungnya, keduanya sama-sama Introvert yang melakukan pengamatan.

ISFP, atau Adventurer juga cocok dengan Phlegmatic + Melancholic yang memiliki karakter malas, sering berkontemplasi, mudah takut, tetapi kreatif dalam berkarya dan mau mencoba hal baru. Satu masalah adalah, penamaan Adventurer yang lebih cocok untuk para Sanguine, meski nyatanya mereka Introvert.

ISTJ, untuk seseorang yang lebih dominan sisi Thinking kebanding Feeling-nya… Mungkin paling cocok untuk Phlegmatic dan Melancholic. Phlegmatic tentunya selalu punya rencana, layaknya Logistician, dan kecemasan dari seorang Melancholic juga cocok untuk perencanaan yang tidak pernah tidak dimiliki seorang Logistician.

Hasil tersebut didapat dari…

  • Phlegmatic = Observant, Thinking, Perceiving
  • Melancholic = Introvert, Feeling, Judging
  • Phlegmatic + Melancholic = Introvert + Observant + Thinking/Feeling + Judging/Perceiving
  • Alasan hanya 2 dari 4 kemungkinan yang ditambahkan ke sini karena ingat bahwa ini campuran. Jika seseorang memiliki keduanya, Feeling dan Judging, maka ia seorang Melancholic murni, sedangkan jika seseorang memiliki kedua trait phlegmatic, yaitu Thinking dan Perceiving, maka ia seorang Phlegmatic murni.

Melancholic dominan + Choleric

Temperamen Melancholic dominan + Choleric, uniknya, menciptakan kedua personality MBTI yang hanya didapatkan 1 dari 100 orang untuk yang pertama, dan 1 dari 50 orang untuk kepribadian nomor dua… Temperamen ini menciptakan INTJ atau INFJ

Architect. (INTJ) Melancholic sebenarnya cukup cocok menjadi seorang visioner, tetapi ia kurang spark dan kepercayaan diri yang didapatkan dari sisi lain temperamen ini, yaitu Choleric. Architect adalah kepribadian yang amat jarang, dan kebetulan dimiliki Elon Musk. Architect adalah seorang alpha yang sedikit self centric, namun amat-amat punya banyak rencana. Melancholic dan Choleric menutup kedua ini.

Untuk satunya lagi, kita punya INFJ, atau Advocate. Kurang lebih, Advocate adalah Merlin. Selalu punya ide, selalu baik, dan selalu mau mengobrol denganmu. Ia orang yang kau datangi ketika kau membutuhkan, tetapi ia cukup kompetitif serta alpha untuk mendapatkan ilmu dan kebaikan yang ia miliki. Ia selalu mau menambahkan ilmu baru ke otaknya, dan seorang Advocate, takkan pernah lelah untuk memberi inspirasi pada orang lain.

Hasil tersebut, sekali lagi, dan untuk terakhir kalinya pada artikel ini… didapat dari

  • Melancholic = Introvert, Feeling, Judging
  • Choleric = Intuitive, Judging, Thinking
  • Melancholic + Choleric = Introvert, Intuitive, Feeling/Thinking, Judging.
  • Sebenarnya, Kemungkinan seorang Melancholic Choleric condong ke Feeling lebih tinggi, karena Choleric tidak selalu berkutat dengan Thinking, tetapi, potensi ada campuran temperamen ini memang ada… Tetapi langka.

Kesimpulan

Ini hanyalah sketsa dan coretan asal ketika bosan.

Jujur, aku tidak punya ide atau celotehan lain mengenai subyek ini, tetapi, mungkin akan ada saat aku membahas 8 kombinasi, atau lebih, jika ada misalnya… Choleric + Sanguine + Melancholic lainnya…

Karena sejujurnya, kurangnya Feeling (literally, kurangnya kepribadian feeling) disini membuatku sedikit khawatir bahwa ada beberapa temperamen yang tidak mencakup personality apapun, atau personality yang tidak mencakup temperamen apapun…

Sampai lain waktu!

Segelintir (FAN) Teori untuk: Avengers Endgame

Segelintir (FAN) Teori untuk: Avengers Endgame

Jadi begini, dengan Idul Adha berlangsung kemarin, dan juga beberapa kesibukan dan komitmen mengajar (dan mengurus adik) dalam 3 hari kemarin, aku kurang bisa memberikan informasi tambahan untuk blog. Oleh karena itu, aku akan melanjutkan tulisan dengan sebuah tulisan sederhana, mudah ditulis, dan mudah dimengerti.

Tentunya, karena best seller dari website ini adalah sindiran serta umpan-umpan pop culture, maka, aku akan menuliskan 3 teori untuk film Avengers keempat yang judulnya belum keluar. (kata aku kayanya tidak akan keluar sampai film tersebut keluar, dan diriku, merasa yakin)

Jadi, inilah 3 teori paling populer yang diciptakan, dan dibahas para Pop Culturist (Future Azriel disini, ternyata, istilah yang benar adalah, Pop Culturalist ) yang sepertinya tidak pernah punya pekerjaan di waktu luang, sehingga mereka rela menonton ulang beberapa adegan puluhan kali demi membuktikan suatu teori, dan melemparkan suatu postingan di Reddit dan mendapat debat, serta upvote dan downvote pada thread buatan mereka.

Hidup kita ini, tentunya dipenuhi produktivitas ๐Ÿ™‚

Bagaimanapun juga, mari memberikan 3 teori paling populer mengenai Film Avengers ke 4, yang akan keluar Mei 2019. Kalau orang ada yang ingin ganti mobil, atau ganti kalender, atau apapun pada 2019, 2019 aku akan mengganti poster… ๐Ÿ˜‰

Teori #1, Bruce Banner = . . . JENG JENG JENG!

Dear Reddit User Lomnafsk. Terima kasih atas ide dan kontribusimu pada teori ini. Meski iya, teori ini cukup sederhana, tetapi para Redditor, (aku tak tahu cara mengeja Redditor, maafkanlah jika ini salah) sepertinya memberikan banyak sekali menit dari hidup-hidup mereka untuk berkontribusi pada teori ini.

Sebenarnya, post awalnya dari Lomnafsk hanyalah berbunyi seperti ini, jika kita terjemahkan ke bahasa Indonesia… “Aku tahu banyak orang ingin membahas apakah Valkyrie, atau Korg selamat, tetapi, kurasa ada hal yang lebih penting untuk dibahas sekarang. Menurutku, Bruce Banner sebenarnya bukanlah Hulk, melainkan Loki, ini cukup menjelaskan alasan ia tidak bisa berubah, dan juga menjelaskan kecanggungannya saat bertemu Black Widow.”

Post tersebut, dasarnya tidak mencapai lebih dari 50 kata, namun, reaksi dan upvote yang didapatkan mencapai ribuan. Bahkan beberapa media film seperti Screenrant atau juga geek site seperti Comicbook.com ikut meliput dan membuka bahasan ini pada tempatnya.

Pada dasarnya, Loki yang panik memutuskan untuk pura-pura menjadi Hulk saat ia membiarkan bayangannya mati (ini Loki, kurasa ia tak sebodoh itu untuk mau mengkhianati Thanos hanya untuk sebuah tikaman) dan ketika ia dikalahkan Thanos, ia berharap Thor atau Heimdall akan mengirim dia ke tempat yang aman. Untungnya, ia betul dikirim ke tempat yang aman, berencana untuk melakukan sesuatu sebagai Bruce Banner, sampai ada saat yang tepat untuk kembali menjadi Loki, dan kembali usil melakukan sesuatu.

Teori ini menarik, bahkan dipercaya mayoritas fanboy… sampai sekitar 15-16 jam yang lalu.

Jadi, ada sebuah teori dimana Hulk akan dipanggil kembali oleh Shuri, dan Bruce Banner akan mampu berpikir dengan intelijen, meski ia memiliki fisik ala Hulk… Di komik, Bruce Banner seperti ini diketahui sebagai Professor Hulk.

https://www.express.co.uk/entertainment/films/997404/Avengers-Infinity-War-director-Joe-Russo-Bruce-Banner-Hulk-out-Avengers-4

Kurasa laman itu akan lebih baik menjelaskannya, karena sebenarnya, Professor Hulk ini masih sebuah teori, namun Joe Russo sendiri telah memastikan bahwa Loki bukanlah Hulk.

Inti dari laman itu adalah.

  • Bruce Banner sudah lelah mengorbankan kesadarannya demi menjadi Hulk
  • Hulk malas menjadi korban atas pilihan Bruce Banner untuk marah, atau atas kelalaiannya.
  • Hubungan tidak sehat, berakibat putus.
  • Sesudah putus, balikannya akan amat sulit
  • Hulk sendiri, dan tentunya Bruce, masih sedikit takut untuk melawan Thanos lagi, dan ketakutan itu akan mengakibatkan dirinya agar lebih ragu dalam menjadi Hulk dan membuang akal sehatnya
  • Teori ini makin dibuktikan benar mengingat Hulk menggunakan baju penuh pada poster Avengers 4.

Yap, sepertinya Russo bersaudara cukup kejam dan cukup niat untuk memotong suatu spoiler yang terencana, agar orang-orang berhenti berteori. Terkadang kuharap penulis naskah serta sutradara dan produser dari serial-serial DC akan melakukan itu, agar orang-orang tidak bisa menebak akhir sebuah musim karena ada spoiler yang direncanakan.

Masalahnya dengan spoiler berencana ini ada satu saja. Apakah betul Bruce Banner sudah move on dari Black Widow? Tapi tentunya, aku tak peduli mengenai hal ini, aku akan senang melihat Geeky Hulk kebanding melihat Natasha dan Bruce kembali lagi…

Kemungkinan anda sudah menonton ini di video Youtube dari channel lokal yang amat clickbait (seperti ini. INILAH ALASAN HULK TIDAK KELUAR PAS INFINITY WAR! WAJIB NONTON!), jadi ya… Semoga tetap ada informasi baru yang bermanfaat di sini.

Teori #2: Doctor Strange Sengaja Memberikan Time Stone

Teori ini cukup sederhana… Dan bisa dimulai dari melihat gambar pada adegan di Planet Titan, saat Thanos hampir membunuh Tony Stark.

(Reaksi dari Ibuku, dan sepupu perempuanku mungkin: WAW! Benedict Cumberbatch ganteng banget!)

Namun, para geeks tentunya akan melihat Time Stone, yang sekarang sedang menyala.

Jadi begini, Doctor Strange telah melihat 14.655.000 (semoga aku tidak salah, dan tolong, tolong, tolong, jangan koreksi aku di bagian komen) ada 4 teori besar dari sini, dan kurasa, sebagai seseorang yang telah melihat semua akhirnya, ia akan ingin satu kemungkinan yang menang itu sebagai kemungkinan yang terjadi.

  • Russo bersaudara malas menghabiskan waktu untuk Thanos merebut time stone sehingga mereka membuat plotline sederhana dengan Doctor Strange melemparnya dengan mudah.
    • Seriously bro? XD
  • Doctor Strange sedang mengaktifkan Time Stone, agar kejadian yang sama berulang terus menerus, dan terus menerus, dan terus menerus, sampai titik dimana 1 kemungkinan agar menang tersebut terjadi.
    • Aku suka ini, aku selalu suka dengan time loop, dan film seperti Groundhog day selalu menarik untuk ditonton. Meski aku belum menontonnya… ๐Ÿ™
    • Ini berarti kejadian krusial terjadi sebelum Thanos mengumpulkan semua Infinity Stone, dan mungkin, ini terjadi jika Star Lord yang sedang dibenci habis-habisan oleh Netizen agar sabar dan tidak membangunkan Thanos.
  • Doctor Strange terpaksa memberikan ini ke Thanos karena, Thanos baru bisa dikalahkan ketika ia telah mengumpulkan keenam Infinity Stone.
    • Ini sedikit malas, tetapi tentunya, intrik dari cara mengalahkan Thanos akan sedikit menutupi kurangnya kreatifitas dan sedikit kemalasan membuat ide plot ini.
  • Doctor Strange memberikan Time Stone ke Thanos karena tanpa Tony Stark, semua kemungkinan kemenangan yang telah ia lihat (semua = satu) membutuhkan Tony untuk tetap hidup.
    • Aku merasa teori nomor 3 dan nomor 4 akan disatukan, dan kurasa tidak ada salahnya jika kedua teori ini benar.
    • Ini semacam memberi konfirmasi bahwa tokoh yang dimainkan Robert Downey akan dibunuh pada akhir film keempat.

Teori mana yang anda sukai?

Teori #3: Peran Dunia Quantum

Aku berharap postingan ini akan mendapat viewer yang cukup optimal, sehingga mohon maaf untuk sedikit iklan internal.

Untuk teori nomor 3, bahkan jadi sebuah artikel, yang dapat dicek di dikakipelangi.com/dunia-quantum-di-ant-man/

Semoga pembaca tidak keberatan untuk memberikan aku satu view tambahan hari ini, hehehe

Kesimpulan

Kurasa, aku tidak mau menyimpulkan atau mau merenungkan apa-apa hari ini, jadi…

Berpikirlah…

Silahkan berpikir mengenai keempat teori ini, dan berkomentar!

Terima kasih, sampai lain waktu!

Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Statistika adalah sebuah sains yang amat-amat berhubungan dengan angka, dan biasanya, kuantitas. Jika seseorang ingin menanyakan apakah ujian kepribadian bisa dianggap sebagai suatu ujian yang hasilnya mampu diandalkan, kita perlu melihatnya secara statistik.

Tetapi, ada sebuah masalah krusial dari ujian kepribadian, terkadang, orang-orang tidak mau menerima hasil ujian kepribadian itu, dan menyalah-nyalahkan beberapa jawaban demi mendapatkan hasil yang diinginkan.

Masalah lain dari ujian kepribadian, adalah dari hasil yang didapatkan dari ujian tersebut. 90% dari hasil ujian kepribadian (terutama yang online, dan biasanya, yang online ini dijadikan patokan sebagai kepribadian seseorang dalam dunia nyata, bahkan ada orang yang dengan sengaja berlagak seperti kepribadian yang ditunjukkan oleh ujian tersebut) menggunakan kuantitas, layaknya statistika alih-alih kualitas, dan hasil pengamatan.

Psikologi memang cenderung mengarah ke statistika, tetapi, menurutku seni dan intisari psikologi bisa dianggap hilang jika memang betul psikologi akan mengarah ke statistika.

Untuk membuktikan bahwa psikologi bisa dianggap sebagai ilmu yang benar-benar dependen, meski tidak mengarah ke kuantitas lebih banyak daripada ke kualitas, kita perlu pertama-tama melihat ke dependensi ujian kepribadian pada hasil akhirnya.

Untuk ini, kita akan menggunakan ujian kepribadian MBTI, atau juga diketahui sebagai 16personalities. Tes paling umum dapat ditemukan di 16personalities.com

Part 1 akan menjelaskan teknis sebelum menguji statistik, sedangkan part 2 akan menguji statistik dengan semua faktor yang telah disampaikan pada part 1.

Cara Kerja Ujian Kepribadian

Biasanya, tiap ujian kepribadian menggunakan suatu jenis “poros” atau patokan untuk mendapatkan jawabannya. Yang Dimaksudkan disini adalah suatu template kepribadian yang cukup akurat. Pertanyaan digunakan sebagai metode untuk memilih template kepribadian milik kita.

Cukup mirip dengan political compass, dimana Kapitalisme dan Komunisme takkan mungkin berada di titik yang sama, seperti Nasionalisme dan Liberalisme takkan berada di titik yang sama… Introvert takkan mungkin menjadi Extrovert, Observant takkan mungkin menjadi Intuitive, dan seterusnya.

Pada dasarnya, template yang perlu diikuti sudah ada, ujian kepribadian hanya mengukur berdasarkan tingkah laku tiap kondisi, dan menunjukkan kita lebih condong ke sebelah mana.

Cara kerja ujian kepribadian biasanya fokus ke statistika dan tingkah laku seseorang dalam template tersebut jika dihadapkan ke sebuah situasi yang sama. Sebagai contoh, seorang extrovert takkan memutuskan untuk menyendiri ketika ada acara sosial, pada sisi lain, seorang introvert takkan mau untuk berada di tengah-tengah ruangan ketika ada sebuah kerumunan.

Jenis-jenis kepribadian MBTI

Poros-poros kompas MBTI kurang lebih seperti ini…

Introvert (I) Vs Extrovert (E)
Intuition (N) Vs Observation (S)

Thinking (T) Vs Feeling (F)
Judging (J) Vs Prospecting (P)

Selain itu juga ada satu poin lagi yang tidak ada hubungannya dengan hasil, tetapi lebih ke, kepercayaan diri kita saat memberikan jawaban.

Assertive (-A) Vs Turbulent (-T)

Semua poin ini akan dibandingkan dan diubah menjadi suatu hasil, jika kamu Extrovert yang menggunakan Intuisi, dan berpikir, serta suka berpikir berulang kali sebelum mengambil kesimpulan, maka kamu adalah seorang ENTP. Sesederhana itu sebenarnya. Hasil akhir tiap personality didapatkan dari sebuah daftar yang sudah ada, sebagai contoh, ENTP adalah seorang Debater, orang yang senang membuktikan orang lain salah dan mencari ide baru… dan seterusnya, bisa dicek saja di 16personalities.com tadi.

Introversion vs Extroversion

Pada dasarnya, Introvert vs Extrovert membedakan cara kita membuat diri kita sendiri lebih segar, dan aura yang kita keluarkan ketika kita bersama orang lain.

Sayangnya, kalau aku membahas secara statistik, Extroversion dan Introversion ini seringkali disalahmanfaatkan. Secara statistik, diantara 5 orang yang mendapat hasil Introvert pada ujian kepribadian, hanya 1 orang yang benar-benar introvert.

Alasan dari ini adalah, banyak orang tidak dapat mengambil atau melihat social circle yang mereka gunakan untuk test. Ada orang yang memang 100% extrovert pada hampir semua tes yang mereka ambil, karena pada situasi sosial manapun, mereka extrovert. Tetapi, ada orang yang merasa canggung pada social circle tertentu, seperti pada keluarga, atau dengan teman. Mereka hanya menggunakan satu lingkaran sosial, dan melupakan lingkaran sosial yang lain.

Oleh karena itu, biasanya Introversion dan Extroversion ini paling inakurat dibandingkan semua yang lain. Tanda terbaik untuk kegagalan dan ketidak dapat diandalkannya kepribadian data.

Intuition vs Observant

Intuisi dan Observasi ini biasanya merujuk melihat cara seseorang bertindak ketika melakukan sesuatu. Seseorang yang intuitif biasanya melakukan tindakannya secara langsung, dan lebih banyak improvisasi kebanding merencanakan. Seseorang yang observan justru sebaliknya, dan selalu memiliki rencana sebelum melakukan sesuatu.

Statistik ini biasanya cukup akurat, tetapi juga sering terjadi inakurasi dikarenakan orang yang menjawab tidak ingin mengakui dirinya sebagai orang yang… Tidak beraturan ketika bekerja.

Terkadang, seseorang yang dibesarkan atau berada dalam lingkungan yang dipenuhi orang observan, suka merasa bahwa mereka observan, seperti orang lain dalam lingkarannya, padahal mereka sebenarnya intuitif yang mengikuti rencana seorang observan.

Thinking vs Feeling

Ini mungkin faktor paling mudah, serta faktor paling akurat diantara keempat kompas ini.

Tentunya, seorang pemikir akan lebih mudah untuk menggunakan logika untuk menjawab sesuatu, dan biasanya, ia juga akan menggunakan logika, alih-alih perasaan dalam sebuah personality test.

Seseorang yang sensi-an dan mengikuti emosi, juga tidak akan berpikir dalam sebuah personality test, ia akan mengikuti apa yang ia rasakan.

Sayangnya, jika aku perhatikan, kualitas dan ciri-ciri seseorang yang berpikir ataupun merasa… Mereka cenderung menggunakan logika untuk merubah hasil asli dari personality test ini, sama seperti seseorang yang menggunakan emosi, membiarkan emosinya merubah hasil personality test yang mereka ambil.

Untungnya, Thinking vs Feeling ini tetaplah faktor dan ideologi paling akurat.

Judging vs Prospecting (or Perceiving. Kalau kamu bukan Millennial)

Jadi, sesudah kita melihat suatu hal dari beberapa sudut pandang, entah melakukannya dengan logika, perasaan, mengamati dengan lebih detil, atau dengan langsung loncat dengan menggunakan intuisi… Akan ada hasil akhir yang perlu diambil. Inilah cara orang-orang memutuskan untuk mengambil kesimpulan.

Ada orang yang langsung memutuskan untuk judge, terkadang, mereka tidak mau melihat apa-apa yang dilakukan dan langsung menggunakan opini mereka, alih-alih melihat dari sudut pandang lain. Orang yang memutuskan untuk Judge, biasanya tidak mau mendengar alasan Ba-Bi-Bu, tapi, atau apapun semacamnya. Mereka hanya melihat dari satu sisi, dan tidak melihat alasan di balik tindakan tersebut.

Tetapi, juga ada orang yang tidak menggunakan opini mereka, dan mereka memutuskan untuk berpikir, apa sudut pandang, apa alasan, apa yang membuat mereka bertindak atau berpikir seperti itu. Dari sini, mereka bisa memutuskan untuk menyukai, atau membenci tindakan tersebut.

Statistika antara Judging atau prospecting ini biasanya cukup stabil, meski ada sedikit kasus dimana seseorang ingin melihat grey area pada satu titik, dan ingin langsung mengambil kesimpulan pada kasus lain.

Masalah-Masalah…

Sayangnya, ketika seseorang ingin keluar dari statistika, hanya ada satu cara untuk mengeluarkan diri dari statistika tersebut… Statistika yang membuktikan bahwa statistika tersebut salah.

Masalah-masalah tersebut berada di… Cara hasil tersebut didapatkan.

Hasil didapatkan dari persentase, seberapa extrovert seseorang jika dibandingkan dengan Introversi miliknya. Sayangnya, ini terkadang bisa menciptakan sebuah error, dan ini kesalahan fundamental pada sistem tiap personality test, terutama yang online.

Terkadang ada seseorang yang memiliki perbedaan persentase antar keduanya hanya 2%. Misalnya, ada orang yang 49% Introvert, dan 51% Extrovert. Orang tersebut akan dinilai tetap sebagai Extrovert, meski ia sangat-sangat dekat untuk berubah menjadi seorang Introvert.

Aku sendiri untungnya tidak pernah mengalami masalah ini. Sesudah menyadari dan mengetahui bahwa menyalahjawabkan beberapa hasil itu tidak akurat, hampir semua persentase antara poros-porosku, memiliki perbedaan 40% atau lebih.

Extrovert 100%, Intuition 92%, Thinking 87%, dan Prospecting 92% juga.

Aku merasa cukup yakin ini betul karena aku paling senang ketika aku membuktikan orang lain salah, dan aku rasa hasil ini cukup memuaskan.

Tetapi, aku juga memiliki seorang teman yang mendapatkan hasil INTJ, tetapi hasilnya sangat-sangat tipis untuk berubah menjadi ESFP… Persentase tertingginya hanya 66%, sedangkan, yang lainnya mencapai 51/49, dan statistik lain juga kecil.

Selain itu, ada masalah lain, selain batas yang terkadang amat tipis ini, dan kadang bisa condong ke sisi lain ketika menjawab tes untuk kedua kalinya.

Karena mayoritas tes ini dilakukan online, ada masalah krusial… Ketika kita tidak mendapatkan human contact dan merasa malu ketika menjawabnya. Ironisnya, ada pertanyaan tentngang kepedulian kita pada perasaan orang lain… Ketika menjawab, ada orang yang berpikir tentang perasaan orang lain disekitarnya, tetapi, ia menjawab pertanyaan ini langsung secara kebalikannya.

Ya, masalah tidak ada human contact ketika melakukan tes bisa menjadi faktor.

Masalah terakhir…

Apakah testimoni bisa diandalkan?

Begini, terkadang ada orang yang memang mendapatkan hasilnya dengan benar, tetapi, ia hanya merasa bahwa hasil yang ia dapatkan sebagai sesuatu yang benar, karena ia senang bahwa personality miliknya mirip dengan… Elon Musk, misalnya, maka ia akan menganggap hasil itu benar, padahal, itu belum tentu…

To Be Continued

Apakah ujian kepribadian betul tidak dapat diandalkan 100%?

Aku hanya akan memberikan faktor dan masalah-masalah, lalu akan mengujinya, setelah mendapatkan statistik cukup banyak, pada minggu depan…

Sampai minggu depan ya!

Gojek Eks-SMKAA

Gojek Eks-SMKAA

Jadi, kemarin pulang dari MKAA sesudah mengevaluasi dan menyortir serta menerima dan menolak beberapa aplikan SMKAA. Mungkin semua yang dilakukan sudah beres, dan sektiar pukul 18.15 aku memesan Gojek. Hal yang biasa aku lakukan.

Tetapi, ada semacam petir yang menyambar, dan dari sekitar puluhan Gojek dalam radius 500 meter dari Museum, datanglah Gojek yang pada tahun lalu, yaitu 2017/2018, merupakan Admin dari SMKAA.

Long-long-long story, kalau aku perlu menjelaskan SMKAA itu apa, dan apa yang dilakukan di sana. Jika penasaran, bisa cari di google, bisa cari di website ini dan masih banyak tempat lain.

Tetapi, secara keseluruhan, jika kakak yang membaca merupakan admin, koordinator, atau anggota dari SMKAA, dan kebetulan kena broadcast dariku… Kurang lebih, ini cerita yang kudapatkan darinya.

Selamat menikmati!

Rutinitas dan Ketidaksengajaan

Seperti biasa, keluar dari sekretariat, langsunglah aku berjalan keluar, melalui pintu samping. Kaki kanan, kaki kiri, melangkah, berderap maju ke depan. Semakin mendekat aku dengan pintu, semakin ingat aku meninggalkan sesuatu.

Nametag! Tanpa itu, takkan mungkin aku bisa keluar… Sebenarnya mungkin saja sih, semua satpam yang mengizinkan orang keluar ataupun masuk hampir pasti ingat bahwa aku anggota aktif, dan kemungkinan besar, mereka akan ingat aku sebagai orang yang, menaruh nametag dalam dompet, dan ketika terburu-buru, larinya cukup cepat.

Ya, aku sudah ditegur beberapa kali untuk jangan berlari terlalu cepat. (terjadi dua kali pada open house, ketika booth hampir dibuka dan aku meninggalkan suatu barang dalam sekretariat, aku tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan itu)

Jadi, aku berjalan dengan cepat, dan kembali ke sekretariat, mengambil nametag milikku, dan seperti biasa, tiap kali aku meninggalkan kartu akses tersebut, aku diberikan pandangan seperti ini: -_-” atau, seperti ini ^^' .

Keluar, aku menunjukkan nametag, dan diizinkan keluar.

Tidak seperti biasanya, nametag milikku baru kuperbaiki dan kupasang tali yang baru, dan untuk pertama kalinya dalam 8-10 bulan, aku memakai nametag itu, alih-alih memasukkannya dalam dompet. (biasanya jika ini kulakukan, berikutnya aku datang ke Museum, nametag akan tertinggal di rumah ๐Ÿ˜ )

Hampir tiap kali aku pulang, aku selalu meminta Mang Gojek untuk menjemput di Gedung Merdeka, meski ia tadinya berada di Kimia Farma, tepat di sebrang pintu keluar samping Museum.

Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku yang sedang menggunakan nametag, dan dijemput dengan Gojek, seperti biasa… langsung mendapat sapaan. “Mas, mas anak Globlit ya? Mas Azriel kan?”

Aku hanya mengangguk, dan dari situ, ceritanya mulai.

Sapaan, sampai Percakapan

Kang Sidik Permana.

Namanya sempat menggugah ingatanku sedikit, siapa ya, hmm, aku seperti pernah melihat ataupun membaca namanya pada suatu tempat… Siapa, dan dimana?

Aku sempat yakin bahwa aku pernah membaca nama tersebut, pada suatu tempat, entah dimana, melalui apa.

Ketika mengirimkan pesanan tersebut, aku masih berusaha mengingat-ingat. Aku bahkan sempat menggumamkan nama itu cukup keras, namun sepertinya tidak ada yang mendengarkan.

Jadi, aku berjalan, dan berjalan. Sekitar di tengah jalan, aku berusaha mengingatkan dan mencoba untuk mengingat siapakah dia. Sesampainya di pintu, seperti kuceritakan, aku berlari kembali ke sekretariat dengan perasaan tidak enak. Aku selalu merasa kurang baik jika membuat orang menunggu. Jadi, aku berlari, dan berlari, dan berlari, mengambil nametag, dan keluar lagi.

Aku tidak mengenal semua satpam secara pribadi, tetapi tidak ada yang berkomentar, dan ada beberapa yang menyapaku karena sepertinya sudah pada mengenal diriku.

Sesampainya aku pada Gedung Merdeka, dan sesudah aku naik pada motor, kita mulai mengobrol.

“Kang, Akang anak Globlit ya? (Globlit = Global Literacy)”

“Hah? Akang tahu dari mana?” Aku bertanya sembari mengingat-ingat beberapa anggota yang datang ke sekretariat memakai jaket Gojek atau Grab, seperti Akang Sidik di sini.

“Haha, saya admin waktu zamannya Fri jadi Koor Eksekutif. Tahun lalu”

“Oh, saya baru tahu, pantes aja namanya terkesan familier.”

“Tahu saya dari klab mana gak?”

“Uhhh…” Suaraku cukup segan menjawab, karena sepertinya aku pernah bertemu dengan Kang/Kak Sidik ini, tetapi, aku masih merasa tidak yakin dia siapa…

“Cinemaker bukan Kak?” Waktu itu, aku pernah melihat seseorang masuk ke sekretariat dengan nametag atas nama klab Cinemaker, yang menggunakan jaket Grab… Jadi, aku langsung menjawab, atas reflek tentunya, dan juga berdasarkan ingatan sementara.

“Bukan, ahahaha… Aku dari Maghribi.”

“OH! Berarti kenal Kak Sagia ya?” Kakak Sagia merupakan admin dan juga anggota paling aktif dari klub Maghribi, yang sekarang hampir vakum ini… Hiks.

“Kenal dong, masa gak kenal sih? Kak Sagia kan sudah lama di SMKAA. Ngomong-ngomong, tadi bahas apa?”

“Iya, tadi membahas penerimaan anggota sama juga upacara buat besok 17-an Kak”

“Oh… Berapa klub yang datang?”

Aku semacam menelan jawaban, karena mungkin hanya setengah dari 13 klab yang datang kemarin, dan aku tidak ingin memberi tahu Kak Sidik yang ceria, serta selalu tersenyum dan bercanda ini, bahwa SMKAA sedang sedikit kesulitan SDM dan anggota.

Aku memberikan jawaban yang jujur saja, sejujurnya aku tidak tahu cara memberikan lapisan gula pada coklat yang pahit ini. “Iya kak, hehe, tadi yang datang hanya Globlit, SahabArt, Journativist, Guriang, Edukator, Heiwa, dan juga Maghribi.”

“Waduh, dikit atuh ya? Eh, adminnya sekarang ada berapa sih?”

Dan, aku merasa makin putus asa. Kak Sidik yang dulunya merupakan admin, (berarti mungkin salah satu anggota paling aktif di SMKAA) dan selalu ceria ini, terpaksa mendengar sedikit kabar buruk.

“Sekarang adminnya setahuku, ada 5 Kak…”

“Siapa aja, bentar, inget-inget dulu… Koor Eksekutifnya Aria, terus ada Ulva, siapa lagi ya?”

“Ada Kak Sagia, ada Kak Emir, sama Kak Salsa”

(Koreksi fakta: Ternyata ada 8 admin, hanya saja, ketika rapat, admin ini juga memegang tugas sebagai koordinator, sehingga, aku tidak mengetahui bahwa mereka admin juga, mereka juga bekerja di balik layar)

“Sagia jadi admin lagi?”

Nadanya menyatakan pernyataan, dan aku sepertinya terpaksa menjawab… ugh.

“Iya kak, tidak terlalu banyak yang ingin jadi admin jadi Kak Sagia ditarik jadi admin, untungnya rekrutmennya tampak cukup lebih sukses kebanding tahun lalu. Semoga yang daftar konsisten.” Dalam hati aku merasa lebih senang bahwa jawabanku telah sukses dilapiskan sedikit kabar baik.

“Wah, berapa yang daftar tuh?”

“Aku belum dapat angka pasnya, tetapi kurang lebih dapat 250, lumayan banyak tuh.”

“Semoga yang kemakan seleksi alam gak banyak ya…”

Semoga…

Seleksi Alam

Semua komunitas, dan apapun yang bersifat kerelawanan memiliki satu masalah besar.

Banyak orang kurang berkomitmen dalam melakukan sesuatu.

Jadi, seleksi alam inilah alasan sebuah klub yang mendapat 20 pendaftar, hanya memiliki 4 anggota. Ini juga alasan bahwa sebuah klub yang mendapat 100 pendaftar, kesusahan mendapatkan koordinator.

Orang-orang merasa tidak sesuai dengan suatu hasil klub, dan tidak sesuai dengan bayangan mereka, dan menghilang. Jadi, aku memutuskan untuk bercerita… dan sedikit curhat.

“Kak, pas angkatanku tuh banyak banget yang menghilang, Globlit ada 20 anggota, bisa sisa cuman 4 anggota aktif. Klub-klub juga mulai banyak yang kesusahan Kak, ada Klub yang mendapatkan anggota dibawah 5 malahan.”

“Yah… Kamu teh jadi koor Zriel?”

“Wakil Koor, minimal jadi anggota 2 tahun untuk menjadi koor kalau di Globlit.”

“Okey… Padika sama Damar masih suka muncul?”

“Iya dong, mereka kan tutor.”

“Sebenarnya seleksi alam ini sudah jadi masalah yang cukup lama, dan terkadang, klub-klub hampir perlu vakum. Eh, ngomong-ngomong, sebenarnya… Maghribi nasibnya gimana sekarang?”

Dan, aku merasa cukup patah hati jika aku harus menyatakan kenyataan ini kepadanya.

Klub Maghribi, beserta Abada, sudah bisa dinyatakan vacuum. Koordinatornya menghilang, pas open house saja tidak muncul. Maghribi terkadang memiliki Kak Sagia, dan Abada memiliki Kang Wisnu, founder klub tersebut. Tetapi, klub tersebut sudah hampir mati.

“Kak, sebenarnya sih… Maghribi yang mendapatkan anggota yang kalau tidak pindah klub (Globlit mendapatkan satu anggota dari klub tersebut) benar-benar menghilang. Koordinatornya pun menghilang. Open House tidak ada kabar. Abada juga hampir mendapat nasib yang sama” Aku terpaksa menyatakan kenyataan ini padanya. Tetapi reaksinya cukup optimistis.

“Haha… Masalahnya sama saja sih kalau Maghribi teh. Yang diprioritaskan adalah yang memiliki bahasa Prancis paling bagus, koordinatornya memang sangat-sangat fasih bahasa Prancisnya, tetapi… Yah… Ia sangat sibuk.”

Mendengar dan merasakan aura positif dan selalu happy dari Kak Sidik ini membuatku mau untuk lebih terbuka.

“Iya Kak. Koor Maghribi bahkan diminta untuk ketemu Pak Desmond (kurator MKAA, dan founder SMKAA) tapi yah… Nongol aja gak, padahal Pak Desmond udah kosongkan jam kerja sampai tiga kali.”

“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, hehehe”

Sekali lagi, optimisme yang Kak Sidik miliki cukup membuatku kagum.

“Eh, tadi Pak Desmond udah balik ya?” Kak Sidik bertanya lagi, hmm, ia sudah melupakan masalah tadi, sungguh menyenangkan!

“Sudah sepertinya, aku gak liat sih.”

“Hahaha… eh, pas zamannya Fri tuh memang suka juga yang suka menghilang, untungnya bisa dikontak, berdasarkannya curhatanmu, kayanya susah untuk merubah komitmen orang nih, hehehe.”

Logika…

Mendengar kata Logika pada tengah-tengah percakapan, entah membahas apa, aku ditanya… “Eh, ngomong-ngomong soal Logika (koordinator eksekutif dua tahun yang lalu, 2016/2017), dia masih suka dateng gak sih?”

“Datang dong, hehehe, setidaknya pas acara. Hampir belum pernah menghilang terlalu lama. Tapi aku tuh sebenarnya belum pernah ketemu Kak Fri.”

“Fri lagi sibuk nih, hehehe.” sepertinya ia tahu soal ini.

“Tapi, aku merhatiin sih, Kak Logika kalau ke acara, sering banget datang bersama istrinya…” OOPS, this is totally not gossip

“Oh, Firda. Iya, Firda tuh admin, sama juga satu klub bareng aku di Maghribi… saat zamannya Logika, mereka emang sering kerja bareng. Mereka beruntung banget bisa ketemu di tempat yang sama.”

“Oh begitu toh…” Pikirku, mendapatkan orang untuk diajak bicara mengenai ini juga cukup beruntung.

Dari bincangan soal Logika, aku bertanya tentang bagaimana ia bisa sukses menjadi Koor Eksekutif, anggota yang daftar untuk SMKAA sudah hampir mencapai ribuan.

Curhat dan Curhat

Terus dan terus aku bercerita mengenai para klub, dan Kak Sidik selalu bertanya siapa koordinatornya. Ada beberapa anak baru yang ia tidak ketahui, dan ia tidak terkejut jika mereka jarang menampakkan muka.

Terus, entah bagaimana, Kak Sidik tahu bahwa aku meninggalkan sesuatu di Sekretariat. Mungkin ketika aku meminta maaf dan bilang bahwa aku mau masuk lagi sebentar, meski sudah keluar.

Bagaimanapun juga, ini berujung ke curhat… lagi.

Aku cerita bahwa nametag ku ketinggalan, dan kadang kalau itu nametag tidak kubawa, bisa-bisa saja dimarahi oleh salah satu dari banyaknya satpam. Aku bercerita satpam itu satpam yang paling galak diantara semua satpam lain.

Ia tertawa dan bertanya, “Rambutnya cepak ya?”

Aku hanya menjawab “Ya, betul”

“Oh iya, itu mah Pak Taryana. Kalau saya manggilnya Pak Komandan tapi… paling galak tuh.” nadanya seperti biasa sambil bercanda. Seiring berjalan, aku melihat kanan dan kiri, dan sayangnya, sebentar lagi aku akan sampai rumah.

“Iya sih, wajar lah kalau ada satpam yang galak. Cuman saya yang gak bawa nametag masa disuruh keluar lagi dan masuk lewat depan, kaya pengunjung…” Terus curhat nih… ^^'

“Emang gitu Pak Taryana. Untung aja pas kasus Laptop kecolongan yang jaga bukan dia. Kalau sama dia, itu satpam pada habis dimarahin semua.”

“Oh gitu…” Aku sejujurnya tidak terkejut sama sekali, meskipun Pak Taryana sudah kenal sama aku, tetap saja, ia akan mengikuti protokol. Orang seperti itu biasanya memang sangat taat peraturan.

Tidak banyak lagi sih yang perlu diceritakan, ada beberapa cerita dan sindiran lagi… Bagaimana kadang kita suka lupa waktu ketika di sekretariat, karena itu memang tempatnya sedikit punya sihir agar kita tidak pulang-pulang, ceritanya begitu.

Sayangnya, aku sudah sampai rumah, dan aku didoakan agar sukses terus…

Dengan perasaan senang aku hanya membalas terima kasih, dan memberikan jawaban amin dalam hati. Tidak ada banyak reaksi lain dariku.

Kesimpulan.

Ketidaksengajaan terjadi. Tetapi, ketidaksengajaan itu pasti punya alasan yang kuat dibelakangnya. Oleh karena itu, kurasa ketidaksengajaan kali ini, berbuah dengan sukses.

Terima Kasih Kak Sidik, hatur nuhun!

Ironisnya Lomba 17-an

Ironisnya Lomba 17-an

Artikel ini sangat dan sangat dan sangat mungkin membuat beberapa orang merasa kecewa pada opiniku, serta juga kesal. Tetapi, sekali lagi, blog ini cukup segmented, dan untungnya! Pembaca setia blog ini mungkin merasakan hal yang sama.

Read with caution. (Baca dengan saksama, dan berhati-hati)

17 Agustus Tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita. Hari Merdeka! Nusa dan Bangsa! Hari lahirnya bangsa Indonesia… Mer-De-Ka! Sekali Merdeka tetap Merdeka! Selama Hayat masih dikandung Badan! Kita tetap, Setia! Tetap, Sedia! Mempertahankan Indonesia! Kita tetap, setia! Tetap, Sedia! Membela negara kita!

17 Agustus hanyalah satu dari banyaknya lagu pemberi semangat yang akan dikumandangkan pada esok pagi, hari kemerdekaan. Amat disayangkan bahwa akan ada banyak orang yang mengetahui sebagaimana mengecewakannya beberapa bangsa muda yang akan menjunjung dan “memajukan” bangsa Indonesia ini.

Lagu lain yang cocok dan bagus untuk dikumandangkan demi menyalakan bara api semangat adalah lagu berikut…

Bangun pemudi pemuda, Indonesia! Tangan bajumu singsingkan! Untuk Negara! Masa yang akan datang, kewajibanmulah. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa! Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.

Sayangnya, meski aku bukan motivator, aku mengetahui bahwa bagaimanapun juga, ada banyak hal yang kurasa sedikit tidak tepat dan tidak patut untuk dilakukan oleh generasi millennial ini.

Ini mungkin kali ke 14.650.505 aku menuliskan dan/atau marah-marah tanpa alasan jelas mengenai para generasi Z. IYA! Generasiku sendiri, tapi tetap, generasi Z!

Tetapi, untungnya, kali ini, aku memiliki alasan yang sedikit lebih jelas, jauh lebih jelas bahkan… Untuk marah-marah.

(Ketahui bahwa aku mengetahui ini terkesan agresif dan cukup mengesalkan. Mohon maaf jika tersinggung)

Lomba Agustusan

Pada 17 Agustus tentunya, ada banyak lomba dilaksanakan.

Diantaranya mungkin ada untuk “Membangkitkan semangat pemuda”, “Memberikan hasrat untuk berkompetisi”, “Melatih kerjasama!” dan “Menumbuhkan cinta pada negara”. Bla, Bla, Bla.

Oke, iya, aku tahu itu alasan yang dikira sebagai benar, tetapi serius, untuk apa sih dilakukan lomba agustusan? Masalah membangkitkan semangat pemuda ini sama sekali tidak akan berpengaruh jika semangat perlombaan hanya akan dilaksanakan sekali dalam setahun. Keesokan hari apakah semangat dan hasrat untuk berlomba ini akan tetap ada? Kurasa tidak.

Aku sendiri akan lebih senang jika lomba agustusan dirubah menjadi suatu bentuk tur sejarah, atau apapun semacamnya. Namun, ya, kurasa itu hal yang buruk, dan tidak… Meriah. Ternyata, tradisi dan tujuan lomba Agustusan yang ikonis memang ada suatu pesan sponsor sejarah terselip didalamnya.

Sebenarnya, apa tujuan dan tradisi dari lomba pada tanggal 17 Agustus ini?

Secara filosofis dan secara tradisi, untungnya, lomba balap karung dan makan kerupuk punya semacam tradisi unik sendiri (keduanya mungkin yang paling ikonik).

Balap Karung sebagai simbolisasi baju ketika masyarakat Indonesia kesusahan, dan Makan Kerupuk sebagai simbolisasi makanan ketika masyarakat Indonesia kesusahan.

Oke, aku bisa mengapresiasi itu, sungguh, aku sangat suka fakta kecil terselip disana dan disini. Namun, yang benar-benar menyedihkan bagiku adalah ketika terkadang ada orang-orang yang tidak tahu.

Sayangnya lomba 17 Agustus ini cenderung membuat suatu hal yang mengecewakan dimana, dari tahun 50-an, Bangsa Indonesia melupakan fakta-fakta yang menjadi intisari serta jiwa lomba 17 Agustusan. Aku tidak akan mengeluh mengenai semangat yang terlupakan, aku bisa merasakan hal yang mirip pada itu, namun aku merasa buruk dan kecewa pada pesan-pesan penting yang terlupakan seperti ini.

(sekali lagi, aku merasa aneh ketika berkomentar pada hal sepele, tetapi, eh…)

Semangat bangsa ini pergi kemana sejujurnya.

Apa yang terjadi pada semangat yang kita miliki pada lomba Agustusan, dan mengapa semangat yang sama tidak bisa dituangkan pada hal yang lebih produktif…

(ehem, kata orang yang, EHEM! Semangat untuk mengoreksi orang lain)

Sekali lagi, kembali pada meme di atas.

Kembali ke Tepukan Jidad

Jadi begini. Gojek sekarang memilih satu Driver dan memberikan ceritanya pada aplikasi Gojek. Bisa cari, dan scroll, ada di bagian bawah.

Aku, sesudah penasaran pada cerita kali ini, memutuskan untuk melihat ceritanya.

Scroll, Scroll, dan Scroll… Ini yang kudapat pada bagian bawah, sangat lucu ya.

Mereka memutuskan untuk MENGELUH pada sebuah cerita yang seharusnya memberikan kesan inspiratif. Keluhannya pun tidak dipikirkan dengan benar, dan sangat, amat malas.

Ini adalah beberapa reaksi mentalku siang tadi.

  • Wow, orang-orang ini tidak cukup niat untuk melakukan email dan memberikan kritik dan sarannya langsung ke orang-orang yang memang dilatih untukย  mengurus alasan seperti ini.
  • Orang-orang ini kurang ajar ya… Masa sok tahu banget tentang Gojek sih.
  • Haduh, kenapa orang Indonesia malas dan terkadang (maaf) bodoh sekali sih?
    • Gojek sudah ada sejak 2010, dan bukan menggunakan Aplikasi, hanya layanan telpon dan SMS saja.
    • Gofood, dari zaman pertama keluar, memberikan tagihan 20% pada aplikasi sebagai layanan penyediaan aplikasi, serta kenyamanan yang ditagihkan pada orang yang memesan.
    • Rute? Minta pakai Google Maps kah? Aku juga kadang suka menemukan driver yang pemilihan rutenya kurang baik sih, tapi, ya, aku tidak akan pernah menyalahkan orang untuk itu. Aku selalu bisa memberikan opsi rute yang lebih baik, alih-alih memberikan bintang 1 dan mengeluh.
  • Wah, ironis ya! Aku membaca ini 1 hari sebelum hari dimana bangsa Indonesia harus amat-amat semangat dan seharusnya amat bahagia juga!

Ketidaksengajaan

Untungnya, ada hal baik terjadi padaku hari ini.

Pulang dari evaluasi dan juga menerima aplikan SMKAA (ceritanya panjang, hehehe) aku mendapat driver yang merupakan anggota aktif pada tahun 2017/2018. Ia merupakan Admin pada zaman eksekutif sebelumnya, dan yang menjadi koordinator serta sekretaris pada tahun lalu.

Selama perjalanan, ia bercerita tentang SMKAA pada saat dia menjadi Admin dan Sekretaris, juga bercerita tentang beberapa perubahan yang aku alami, dan mengapa perubahan itu terjadi.

Secara keseluruhan, itu bisa menjadi artikel sendiri.

Tetapi, aku merasa sangat senang menemukan seseorang yang sempat (dan masih) bersemangat untuk berkontribusi pada masyarakat, alih-alih menjadi seseorang yang kurang ajar, dan hanya bisa mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

Bukan hanya bangsa kita tidak semangat, bangsa kita, terutama generasi muda, kurang memiliki individualitas. Mereka mengikuti angin keras (biasanya selebgram atau artis apa lah) yang meniupkan diri mereka. Diri mereka hanya berdiri sekeras kertas, berlawanan dengan inti pancasila ketiga, yaitu Pohon Beringin, pohon dengan akar amat kuat.

Kesimpulan

Terima kasih pada dikakipelangi.com dan kedua orangtuaku yang memberikan wadah untuk mengeluh dan/atau berkomentar pada hal-hal yang menurutku kurang pas.

Aku rasa, lomba 17 Agustus itu suatu tradisi yang bagus, dan meriah (aku tidak menyukainya, tetapi tujuannya bagus). Namun, sayangnya, seiring bergulirnya generasi dan tahun demi tahun berlalu, orang-orang makin lupa, dan makin lupa pada intisari tradisi itu.

Ini yang kurasa mengecewakan.

Semoga tidak ada yang tersinggung, kecewa, atau kesal pada artikelku.

Sampai esok hari!

Psychology of Clickbait

Psychology of Clickbait

Sejujurnya, mengenai media di Indonesia, jauh lebih memalukan ketika kita melihat video rekomendasi dari YouTube Indonesia tanpa login, kebanding dengan melihat Clickbait dari berita.

Mengenai konten YouTube, sesudah cukup lama mengobrol dan juga iseng-iseng mengintip beberapa laman pada kemarin sore, harus diakui, saluran-saluran YouTube lokal, terutama saluran YouTuber Indonesia, terbilang, haduuuuh! Parah banget deh, beneran.

Bahasa bukan masalah yang terlalu besar (kecuali tentunya, jika ada kata-kata kasar) bagiku, menurutku justru, masalah utama mereka ada di konten, dan juga dari cara mereka memberikan judul.

Channel Indonesia seperti, umm, kalau gak salah ada yang namanya Calon Sarjana, dan juga tentunya beberapa channel YouTube lain, tanpa bias pada konten (lebih ke cara penyampaian konten) cenderung memiliki clickbait yang amat lebih parah dibandingkan dengan clickbait dari media berita.

Clickbait / Hoax? Clickbait+Hoax?

Clickbait Vs Hoax. Masalah terbesar diantara kedua hal tersebut adalah, dua-duanya cukup membingungkan dan juga memberikan gambaran salah dari pesan utama berita, informasi, tersebut.

Begini, dalam sebuah berita, informasi terbesar tentunya berada di alasan kita memutuskan untuk membaca berita tersebut. Jika sensasi penasaran tersebut timbul pada judul dalam bentuk ledakan, yang kita akan harapkan dari suatu berita atau informasi tersebut sebagai negatif.

Maka sejujurnya, clickbait tersebut sudah bisa menggeser inti utama dari pesan yang ingin dikirimkan. Meskipun konten bagus, sebuah clickbait bisa meninggikan ekspektasi kita, dan konten yang tadinya halus dan benar tersebut, akan cenderung diprospek sebagai konten yang buruk.

Mula-mula aku berpikir bahwa acara Trans TV (atau Trans7) On The Spot adalah satu dari sekian banyaknya siaran TV lokal yang biasanya jelek, sebagai siaran yang cenderung bagus. Memang betul, On The Spot mungkin cukup memberikan general knowledge yang tentunya menarik juga. Sayangnya, satu hal buruk yang On The Spot lakukan adalah dengan memberikan gaya penulisan clickbait pada tiap judulnya.

Contoh: 7 Tempat Di Dunia Dimana Kamu Takkan Mungkin Tenggelam

Acara TV itulah yang menjadi awal dari konten YouTube Indonesia dengan judul full capslock, dan biasanya penuh dengan clickbait, lebih penuh lagi malah daripada media.

YouTube yang biasanya mendapati kontennya diisi oleh sesama pengguna, akan menghasilkan jauh lebih banyak clickbait dibandingkan dengan reporter yang tentunya mengisi media dimana dia bekerja dengan setidaknya, hasil konten seorang professional. (meski iya, terkadang kontennya sama-sama sampah, setidaknya jika kita ingin mencerna, konten dari reporter tidak sesampah konten dari pengguna) Pada ujungnya, seorang reporter atau penulis artikel professional lebih intelijen dari orang-orang yang diberikan hasil karya tulisnya, dan jika mereka membuat hoax atau clickbait, akan jauh lebih parah, dan jauh lebih misleading.

Nah, bagi seseorang yang cukup cermat, menghindari clickbait tentunya mudah. Tetapi, jika kamu sudah termakan pada clickbait itu, biasanya kamu akan berujung ke salah satu dari 3 reaksi ini.

  • Clickbait mengecewakan, tidak ada bedanya (pada konten) jika artikel tersebut menggunakan clickbait kebanding dengan artikel yang tidak menggunakan clickbait.
  • Clickbait ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan konten.
  • Clickbait cukup menarik, dan ternyata, konten cukup sesuai dengan clickbait, dan sukses memenuhi sensasi.

Sesudah membaca beberapa riset psikologi oleh Professor Ekonomi (jadi begini, seorang ahli pemasar yang bagus dan ahli ekonomi yang bagus akan menemukan pola psikologi, dan juga sebaliknya, seorang psikologis yang bagus akan menggunakan ilmu psikologi untuk pemasaran serta ekonomi) George Loewenstein…

Kita cenderung memberikan ekspektasi jauh lebih banyak jika kita mendapatkan sensasi yang berupa ledakan di awal-awal. Jika rasa penasaran kita meledak pada awal sebuah artikel, kita akan meninggikan ekspektasi milik kita. Itulah alasan mengapa artikel non clickbait tidak akan mengecewakan, meski kontennya buruk, dan itu juga alasan mengapa (layaknya sebuah artikel) tiap merek, terutama yang sudah ternama, (E.G. Aqua) memiliki suatu judul, atau suatu tagline dan catchphrase.

Tagline tersebut berfungsi agar orang meninggikan ekspektasi saat meminum produk, atau ingin membeli produk tersebut. Jika produk sudah ternama, ekspektasi tersebut menambahkan sensasi ekstra, dan sensasi tersebut lah yang bisa membuat kita berpikir tidak jernih, dan membiarkan pikiran kita mempengaruhi indra kita. (Misalnya karena tagline, kita berpikir Aqua lebih enak dibandingkan merek lain)

Jadi, apa yang dilakukan oleh para media yang ingin menggait pembaca yang doyan dan mudah ditipu dengan clickbait? Diciptakanlah hoax yang banyak, agar reaksi yang didapatkan adalah reaksi yang positif atas clickbait, alih-alih reaksi negatif.

Seperti sering disebut, media pada umumnya adalah sebuah perusahaan yang bergerak demi keuntungan dan laba, (bukan laba-laba ๐Ÿ˜€ ) jika media memberikan apa yang orang-orang inginkan, ia akan mendapatkan pembaca, dan pembaca menghasilkan uang. Jika orang-orang menginginkan konten berkualitas, maka media akan menciptakan konten edukatif dan berkualitas.

Sayangnya, orang-orang Indonesia menginginkan sensasi, serta konten yang tak tentu kebenarannya. Untuk memperparah, orang Indonesia yang biasanya lebih mudah ditipu dan diberikan informasi salah, akan juga senang jika diberikan informasi yang salah, tetapi menggemparkan tersebut.

Hoax ditambahkan pada media agar orang-orang tidak kecewa pada clickbait. Orang-orang juga hanya menginginkan, dan akan lebih senang dengan clickbait.

Keduanya saling melengkapi dengan kuat.

Siklus Media Indonesia

Kita terjebak dalam sebuah siklus tanpa henti mengenai media dan konten yang sampah.

  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Pembaca menginginkan konten yang bombastis
  • Media memberikan konten bombastis jika ada
  • Pembaca puas, menunggu konten bombastis berikutnya
  • Jika tidak ada konten bombastis, media terpaksa menciptakan konten bombastis agar pembaca tetap datang.
  • Pembaca yang kurang intelijen mengira bahwa konten bombastis yang difabrikasi tadi sebagai sesuatu yang nyata dan tetap menginginkannya.
  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Terus menerus berputar siklus ini.

Makanya, akan amat diapresiasi jika ada sebuah portal media yang anti hoax, dan anti clickbait, itu akan membantu memperlambat siklus tanpa henti ini.

Tidak seperti rantai makanan yang sangat mudah didisrupsi, mendisrupsi siklus ini jauh lebih sulit tanpa edukasi pada konsumer media yang tanpa henti ini. Kita tidak perlu memiliki pasukan yang bisa mengajarkan orang-orang cara untuk lebih cermat dengan menganalisa hoax. Sebenarnya, bukan (hanya) hoax musuh utama kita…

Kalau berdasarkan analisa, akan lebih mudah jika media yang memiliki clickbait dipotong secara seutuhnya. Siklus tanpa henti ini takkan ada jika kita sebagai konsumer media meminta sesuatu yang bombastis. Penamaan sebuah menu tidak perlu terlalu menarik, asalkan kita tahu bahwa rasanya enak. Sayangnya, bagi orang Indonesia, nama menu tersebut jauh lebih penting dibandingkan dengan rasa makanan tersebut.

Jika clickbait dihilangkan, orang-orang takkan secara tidak sadar meninggikan ekspektasi pada awal artikel, dan media juga tidak akan perlu untuk memenuhi keinginan ekspektasi yang tinggi tersebut.

Siklus tanpa henti ini adalah langkah pertama untuk menciptakan warga Indonesia yang lebih kritis.

Kurangnya Kecermatan

Kesalahan dan blunder warga Indonesia dapat dengan mudah ditemukan dari banyaknya media yang menunjukkan arah agar orang-orang membenci atau tidak menyukai satu hal… Sayangnya, ada hal kontradiktif yang warga Indonesia dukung.

Jika ini membingungkan…

Aku sering menyebut dimana zaman sekarang (ini global issue, bukan hanya lokal, meski iya, di Indonesia cukup parah), banyak sekali orang menyalahpersepsikan Ideologi Politik.

  • Kapitalisme dilihat sebagai kekejaman demi keuntungan, padahal intinya berada di Kapitalisme yang mendukung pertumbuhan alih-alih menahan keseimbangan.
  • Nasionalisme sering dilihat sebagai Fasisme (the Politic F Word, Fascist), padahal nyatanya nasionalisme dan fasisme itu hal yang sama-sama mendukung cinta pada negara, serta cinta pada pemimpin, hanya saja, ada perbedaan dosis yang cukup banyak.
  • Komunisme (di Indonesia) dilihat sebagai ideologi tanpa agama, nyatanya komunisme bertujuan untuk menyamaratakan kodrat sosial masyarakat, dan mendukung keseimbangan ekonomi yang stabil.
  • Sosialisme di Indonesia cukup dicintai, padahal, sosialisme, (layaknya nasionalisme dan fasisme) dan komunisme adalah hal yang sangat mirip, hanya dengan dosis berbeda.
  • Orang Indonesia (setidaknya berdasarkan pengamatanku) tidak mengerti Imperialisme… Padahal jika mereka mengerti, imperialisme akan dilihat sebagai sesuatu yang lebih parah dari komunisme, dan sama juga, tidak punya agama.

Sosialisme vs Komunisme disini cukup ironis.

Seorang teman/tutorku bilang kemarin bahwa orang Indonesia benci komunisme, padahal mereka amat sangat mencintai produk sosialis, seperti BBM dengan subsidi, kesehatan yang ditanggung pemerintah, dan seterusnya.

Lucu sekali sebenarnya…

Kesalahpahaman sederhana ini terjadi karena kita kurang mau menganalisa, dan media (terutama di YouTube) tidak membantu dengan memberikan kita suatu konten yang tidak terlalu perlu di analisa, dan tinggal ditelan mentah-mentah.

The Media Mistake

Media, tentunya aku maksudkan bukan hanya yang di bawah naungan suatu perusahaan… Seperti pada Instagram, atau media seperti dikakipelangi.com ini membuat satu kesalahan fatal jika ingin memajukan ilmu warga Indonesia, serta konsumer media.

Banyak orang tidak diberikan ilmu dan tidak diberikan izin untuk menganalisa.

Mereka hanya diberikan suatu hasil kesimpulan seseorang, dan (secara terpaksa) disuruh menelan hasil analisa orang tersebut, karena kurangnya individualitas.

Sebagai contoh, aku sangat menginginkan untuk mengetahui apa itu Syiah, dan mengapa banyak orang tidak suka pada Syiah, dan apa juga bedanya dengan Sya’i.

Sesudah berusaha mencari di Google, aku diberikan 6-7 post dari blog yang mengulangi hadist yang berbeda, tetapi dengan makna yang sama.

Semua post tersebut pokoknya menyatakan bahwa… “Jangan ada syiah, syiah itu buruk, hindari syiah, dan bla bla bla bla bla” Tidak ada satupun artikel ataupun tulisan yang menjelaskan syiah itu apa, dan mengapa syiah sebaiknya dihindari.

Kita hanya diberikan masakan (masakan disini kumaksudkan sebagai analisa) dan tidak diberikan kesempatan untuk memasak bahan-bahan kita sendiri, menciptakan masakan kita sendiri.

Untungnya, aku dijelaskan perbedaan Sya’i dan Syiah oleh Babah, dan cukup beruntung juga, hehehe, ternyata Sya’i dan Syiah tidak begitu berbeda, setidaknya menurut analisaku, itu semacam sebuah perang saudara karena perbedaan filosofi.

Kenapa kita tidak diberikan kesempatan untuk menganalisa sendiri?

Semua blog, terutama yang di halaman pertama hanya memaksa kita untuk membenci syiah, dan kita tidak diberikan sedikit pun informasi yang bisa kita analisa sendiri.

Sungguh mengkhawatirkan sekali media Indonesia ini.

Kesimpulan

Seriusan, sebenarnya aku sudah menyimpulkan tiap bagian dari artikel ini beberapa kali.

Tetapi, kesimpulan utamanya ada di perubahan. Kita tidak bisa memulai perubahan sendiri, tetapi kita bisa berusaha untuk berubah sendiri, dan merubah orang-orang disekitar kita, agar pasukan pendukung perubahan ini akan terus bertambah.

Sampai lain waktu!

Adakah tips untuk mendapatkan Blog Viewer?

Adakah tips untuk mendapatkan Blog Viewer?

Terkadang ada cukup banyak orang merasa bahwa konsistensi itu nomor satu dalam menulis, dan sejujurnya one day one post adalah langkah yang sangat baik dan optimal untuk mendapatkan viewer di blog. Konsistensi memang penting untuk mendapatkan kemampuan menulis, tetapi, untuk apa menulis jika tidak ada seorangpun yang membaca?

Jawaban dari pertanyaan ini tentunya sederhana, banyak penulis menulis demi… menulis. Untuk mengeluarkan gagasan dan juga perasaan yang terpendam (what Azriel?) tetapi, seiring waktu, akan keluarlah percikan untuk mendapatkan viewer lebih. Banyak orang tidak ingin terjebak dengan hal yang sama, dan akan berusaha menulis untuk mendapatkan 1 dari 3 jenis viewer, setidaknya menurutku.

Bagaimanapun juga, mari kita masuk ke artikelnya, dan mungkin disini akan ditemukan beberapa tips (bukan semuanya, tentunya semua yang ditulis disini amat subjektif, baik secara opini, ataupun kemampuan) untuk mendapatkan viewer di blog, tanpa menggunakan media sosial lain.

(Review Fakta: 27.000 Viewer dalam 1 tahun, 3000-an didapat via Link WhatsApp, atau Instagram, mayoritas sisanya berasal dari search engine)

Tips disini murni cara untuk menggait viewer via Search Engine, atau Blog Reader (seperti WordPress Reader, Blogpost Timeline, dan semacamnya).

Jenis Pembaca

Ada 3 jenis pembaca yang ingin digait dalam menulis sebuah blog post.

Semuanya memiliki karakteristik masing-masing, dan semuanya juga memiliki cara untuk dibawa agar mengunjungi blog milikmu.

Pembaca Setia

Ciri khas para pembaca setia biasanya ditemukan dari seseorang yang mengunjungi blogmu kalau tidak seminggu sekali, sehari sekali… Ia biasanya datang untuk melihat karya tulismu, dan dalam statistik, ialah orang yang menambahkan 1 view ke tiap post terbarumu.

Yah, sebenarnya, kita takkan tahu siapa pembaca setia kita, kecuali jika ia memang teman dekat, dan/atau keluarga… Tetapi, jika para pembaca setia ini merupakan orang asing yang belum pernah anda temui di dunia nyata, maka kemungkinan besar, ia sangat menyukai konten yang anda tulis, meskipun tidak ada tema yang membelakangi.

(FYI: Blog dikakipelangi.com ini tidak punya tema sedikitpun. Aku sering menulis tentang Pop Culture, sering menulis tentang humaniora, psikologi, sejarah, dan juga masih banyak lagi.)

Jujur saja, menggait pembaca setia yang merupakan orang asing amat sulit. Tentunya mendapatkan orang yang selewat saja cukup mudah, tetapi mendapatkan orang yang datang ke blog ini (terutama via search engine) lebih dari sekali akan amat sulit.

Cara Mendapatkan Pembaca Setia…

  • Ajaklah beberapa teman dekatmu dan juga keluargamu untuk sesekali berkunjung ke blog milikmu. Jika ia anggap tulisanmu menarik, maka ia akan datang sekali lagi, dan juga sekali lagi, sampai-sampai ia akan mengunjungi blogmu pada basis mingguan, atau bahkan, harian.
  • Tulis sesuatu dengan tema, atau buat tulisan yang bersambung. Tentunya, gunakanlah tautan pada akhir artikel yang menghubungkan artikel A dengan tema C dan artikel B dengan tema C juga. Sama bagi yang bersambung.
    • Jika perlu, dan belum sempat menulis, tambahkan release date sambungan pada akhir artikel, terutama pada cerita. Jika pembacanya memang suka dengan tulisan yang tidak kilat seperti para Social Media junkie inginkan, mereka akan benar-benar datang kembali. (tentunya jika ingat, hihihi)
  • Sejujurnya, mendapatkan pembaca setia mungkin adalah jenis pembaca yang paling sulit untuk ditemukan. Percaya pada diriku.

Pembaca Selewat

Pembaca selewat.

Mungkin 15.000 dari 24.000 total viewer yang datang dari search engine merupakan pembaca selewat.

Apakah karakteristik dari pembaca selewat? Mereka orang yang datang sekali, bilang hai pada satu artikel yang menangkap mata mereka pada google search, dan dadah, kemungkinan besar mereka takkan kembali.

Tentunya, pembaca selewat ini adalah jenis orang yang ingin ditargetkan jika ingin menghasilkan duit cepat via iklan. Tetapi, seseorang yang pintar akan memanfaatkan pembaca selewat, dan merubahnya menjadi pembaca setia.

Pembaca selewat mungkin adalah jenis pembaca yang paling sulit digait secara permanen, karena biasanya, blog (terutama yang segmented, seperti blog milikku ini…) itu didatangi hanya ketika ada yang dicari. Blog mana yang perlu didatangi, tentunya ditunjukkan oleh Google.

Cara Menggait Pembaca Selewat

  • Ikuti Google Trends, pelajari pola search, sesuai dengan bahasa yang kautuliskan di blog (jika bahasa Inggris, buatlah current issue dunia, dan jika bahasa Indonesia, buatlah artikel tentang hal yang pop secara lokal. Atau, buatlah sesuatu dalam bahasa Inggris, tetapi mengenai Indonesia, itu akan menjadi sesuatu yang menarik juga) dan buatlah sesuatu yang mungkin membuat blog mu berada di halaman pertama sebuah google search.
  • Pelajari Search Engine Optimization, agar tulisanmu bisa dibaca orang yang google sesuatu secara spesifik.
  • Buatlah artikel yang menjelaskan sesuatu yang belum pernah dituliskan orang lain.
  • Jika memang ingin secara spesifik menggait Pembaca Selewat, tidak ada salahnya keluar dari tema buatan atau segmentasi blogmu. Gaya penulisan, jika bisa, jangan buat terlalu kompleks… Kurangi bahasa dan istilah yang biasa di skim read (ironisnya, skim reading adalah jenis istilah yang kumaksud, istilah yang biasanya hanya beberapa orang ingin baca)

Tentunya, jika pembaca selewat memang tidak akan berubah menjadi pembaca setia (atau jenis pembaca ketiga), akan lebih baik jika kita lemparkan post yang menarik berkali-kali, sehingga mereka akan datang terus. Pada sisi lain, kita bisa menyesuaikan gaya penulisan, dengan memanfaatkan fitur wordpress agar pembaca selewat ini, akan mau mencoba menjadi… Pembaca Kepo.

Pembaca Kepo

Pembaca Kepo ini, pada dasarnya, adalah pembaca selewat. Tetapi, mereka tidak hanya membaca selewat lalu close, dan melupakan nama blog yang menyajikan tulisan dari topik yang mereka cari.

Pembaca kepo ini, biasanya klik tombol-tombol, baik di kanan, dan di kiri, atau mungkin Hyperlink pada kata-kata dan paragraf di artikel.

Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai blog ini, dan mungkin juga merasa bahwa blog itu akan bisa memberikan bacaan menarik selain klikan yang ia buat tadi.

Berdasarkan memerhatikan statistik selama 3 bulan terakhir, sekitar 20% dari pembaca yang mendatangi artikel Arti Wakanda Forever, menjadi pembaca kepo.

Sayangnya, karena kurangnya persiapan dari diriku dan juga dari kejutan viewer dan visitor artikel tersebut… Aku tidak bisa menaikkan statistik pembaca kepo dan pembaca selewat.

Amat disayangkan, aku baru melakukan tips yang aku tuliskan ini, sekitar seminggu sesudah gelombang ribuan pembaca telah melewati artikel tersebut. (website ini hampir down, atau setidaknya, ngadat)

Agar pembaca, dan calon penulis tidak mengikuti kesalahan yang aku buat, selalu bersiap untuk membuat para pembaca selewat ini, menjadi pembaca kepo…

Cara Membuat Pembaca Selewat Menjadi Kepo…

  • NOMOR 1! Paling sederhana, dan juga paling efisien. Tambahkan Hyperlink. Serius, adanya Hyperlink pada sebuah artikel yang sudah menarik, yang mengarah ke artikel yang sama menariknya, atau mungkin, lebih menarik… Bisa saja menambah dan menggugah selera para pembaca untuk terus mencicipi, dan mengintip hidangan yang blog anda sajikan.
    • Artikel dengan Hyperlink biasanya menggait 40% pembaca selewat untuk memberikan klik pada hyperlink tersebut. Alhasil, 40% view tambahan.
  • Berikutnya, sama seperti pada cara menggugah pembaca setia… Adalah dengan membuat artilkel yang bersambung. Setidaknya, berikan mereka lebih dari satu kesempatan untuk mengunjungi blog anda. Jika mereka memang suka, mereka akan ingat nama blog-nya kok.
  • Buatlah theme blog yang enak dilihat. Ingat, enak dilihat. Aku bisa dibilang beruntung, aku sudah memiliki tema blog yang menarik, dengan watercolor, dan juga warna yang tak terlalu gelap sampai titik… edgy, dan juga tidak terlalu terang sampai ke titik, flashy. Tetapi, jika penulis blog ingin menarik orang, tariklah mereka bukan dari tulisan milikmu saja, tetapi juga dari perbandingan warna yang menarik serta bagus.
    • Enak dilihat dan menarik berbeda. Aku memiliki teman yang berkomentar mengenai tema blog, katanya itu kurang menarik. Untungnya, blog milikku cukup enak dilihat, dan perbedaannya ada di prioritas kita. Aku lebih suka gambar (dan diberikan juga… hehehe) yang enak dilihat, dan tidak terlalu flashy sampai menarik.
    • Atraksi utama Dikakipelangi.com tetap tulisan, tetapi tentunya, layaknya mall yang nyaman… mall itu perlu enak, dingin, serta enak untuk parkir. Kita tidak hanya datang ke mall untuk sebuah toko, (meski memang ada saatnya kita ingin ke sebuah toko spesifik) tetapi kita ingin ke mall dan menikmati aura mall tersebut juga.

Nah, jangan lupa untuk menarik orang agar mereka datang lagi, dan bukan hanya datang sekali, lalu sudah deh, dadah….

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini ada dua.

Satu! Hidup adalah proses, sama juga seperti menulis dan mendapatkan pembaca. Kita tidak bisa hanya mendapatkan pembaca dari sebuah artikel, tentu saja kita perlu berusaha, dan membiarkan pembaca yang datang agar, berproses, dari seseorang yang hanya lewat,ย  terus menjadi penasaran, hingga akhirnya ia membaca dengan setia.

Nomor dua adalah, hindari sensasi yang hanya sensasional, dan memiliki makna minim.

Clickbait mungkin efektif, terutama bagi rakyat Indonesia, tetapi, apakah clickbait benar-benar sepadan dengan resiko orang-orang merasa tertipu dan tidak pernah kembali lagi? Apakah kamu ingin mendapatkan pembaca selewat saja?

Percaya sama aku, dengan pembaca selewat, menemukan momen agar mereka datang kembali dan kembali lagi akan sulit. Kita butuh momen untuk menembak layaknya sniper, yang benar-benar! JLEB! Ini momenku, ayo kita gait pembaca selewat sebanyak-banyaknya.

Jangan terlalu bahagia dengan momen atau topik buatanmu jika yang datang hanyalah orang yang lewat. Kamu akan ingin juga mendapatkan pembaca setia, atau setidaknya, pembaca yang kepo.

Sampai lain waktu!

Consistency Vs Success

Consistency Vs Success

Tulisan pendek dan (EDIT: ehem, sesudah menulis, sepertinya tidak terlalu) sederhana hari ini…

Apakah konsistensi dapat mengalahkan kesuksesan yang hanya sementara?

Sebenarnya ide tulisan ini muncul ketika aku mendapatkan suatu kilatan ide yang berasal entah dari mana mengenai sebuah materi kuliah pada tahun lalu… Akurasi Vs Presisi.

Entah mengapa aku menjadi ingat pada pembicaraanku dulu saat aku kelas 3 SD, dimana aku masih cukup sering mengikuti sepakbola, tidak seperti sekarang dimana aku hanya menonton saat piala dunia.

Tim dukungan ayahku dan diriku, Liverpool, kebetulan masuk Final F.A. Cup pada tahun 2012. Melawan Chelsea di final, dan meski ada sedikit kontroversi ketika Andy Carroll seharusnya menyamakan skor 2-2 (Iya, itu bola masuk ke belakang garis, aku serius) tetapi tidak dilihat oleh wasit (dan para generasi baru nonton piala dunia 2018, kumohon, belum ada VAR) sehingga Liverpool kalah…

Artikel konsistensi vs sukses hari ini takkan ada hubungannya pada final 6 tahun lalu, tetapi lebih ke kiper-kiper yang kesambar petir ketika situasi tegang.

Brad Jones, seorang kiper Australia, yang dipuji-puji temanku dulu, karena selama ia dimainkan, Brad Jones sangat-sangat sukses dalam melakukan super save. Mirip Jordan Pickford dan Cho Hyun Woo ketika piala dunia dan kedua kiper tersebut tiba-tiba jadi super duper jago dan melakukan banyak sekali super save.

Pada sisi lain, ketika kita bicara konsistensi dan sukses, akan cukup banyak orang yang merasa bahwa sebuah sukses ketika permainan skala besar (terutama saat FA cup dan turnamennya bersifat eliminasi alih-alih poin) akan tampak jauh lebih wah terbanding saat permainan biasa-biasa saja.

Consistency Vs Success, which is better?

Dalam kasus kiper tadi, perlu diingat-ingat bahwa kiper juga seringkali memerintahkan Defender agar bisa menghalangi dan memastikan bola tidak masuk ke posisi dimana ia harus melakukan sebuah super save. Jika bola sudah masuk ke dalam posisi yang canggung dan perlu ditangkap dengan loncatan akrobatis, maka sejujurnya, kiper itu memiliki andil salah dalam memberikan perintah pada Defender untuk menghalangi para Striker.

Tetapi, apa yang lebih menarik? Kiper menangkap crossing sebelum ada serangan, atau kiper loncat entah sejauh apa dan memukul bola agar tidak masuk ke gawang?

Tentunya, super save akan jauh lebih menarik daripada gerakan penampilan biasa dan konsisten.

Itu alasan para penonton yang melihat Korea Selatan main akan senang, karena kiper Cho Hyun Woo (dan rambutnya yang ala Boyband Korea) telah sukses melakukan entah beberapa kali tembakan yang tepat sasaran.

Jadi, sebenarnya, apakah sukses secara sesekali lebih baik dibanding konsistensi?

Failure of Consistency

Konsistensi didapatkan bukan secara persentase saja, tetapi juga dari angka itu secara mentah-mentah. Mengerti maksudnya?

Semakin sering seorang situasi atau pemain diuji konsistensinya, maka semakin sering juga titik konsisten itu akan roboh, dan tidak lagi jadi konsisten hingga mereka gagal…

Coba anggap saja statistiknya seperti ini, (sekali lagi dalam kasus kiper)

Statistik dikutip dari premierleague.com

128 Clean Sheet dalam 320 pertandingan (40%), 0 error yang mengakibatkan gol, dan 0 kali penanganan bola yang buruk hingga bola masuk. (ketika ada yang menendang bola begitu kuat hingga kiper tidak bisa menangkap atau menepis sampai bola masuk)

93 Clean Sheet dalam 237 pertandingan (39%), 7 kali error, 6 penanganan buruk

48 Clean Sheet dalam 128 pertandingan (37.5%), 4 error, 2 kali penanganan buruk

13 Clean Sheet dalam 29 pertandingan (44%), 2 kali error, 1 kali penanganan buruk

Nah, untuk melihat konsistensi, perlu dicatat bahwa suatu konsistensi hanya bisa dilihat dari seberapa jarang ia gagal dibandingkan dengan seberapa sering ia sukses.

Kiper pertama adalah kiper legendaris Peter Schmeichel, jadi jangan terlalu terkejut…

Kedua, juga dari Manchester United, adalah kiper yang berpotensi untuk menjadi kiper legendaris, David De Gea.

Ketiga, adalah kiper Chelsea, Thibaut Courtois, cukup konsisten.

Untuk nomor empat, Loris Karius, kiper Liverpool, tentunya sampai pindahnya Alisson Becker dari AS Roma.

Jika kita lihat angka kegagalan, tentunya, paling konsisten adalah Peter Schmeichel.

Namun, jika kita lihat persentase, Loris Karius adalah kiper yang memiliki persentase clean sheet terbesar. Tetapi, ia sangat-sangat sering melakukan blunder hingga sebuah gol terjadi.

Pada sisi lain, jika kita lihat jumlah angka, David De Gea melakukan 5 kali error lebih banyak dari Karius, dan juga 5 kali menangani bola dengan buruk lebih banyak dari Karius. Tetapi, De Gea lebih sering sukses dibandingkan Karius, sehingga, De Gea jauh lebih sukses.

Seberapapun konsisten seseorang, pasti akan ada gagalnya, (kecuali kamu demigod, atau kamu Peter Schmeichel) dan semakin sering konsistensi itu diuji, maka semakin sering konsistensi itu akan gagal.

Reliability of Success

Nah, kembali dalam kasus suksesnya sukses, kita akan melihat jumlah save yang dibuat oleh Jordan Pickford, Hugo Lloris, serta tentunya, kiper anggota boyband kita, Cho Hyun Woo, pada piala dunia.

Alasan Liga Inggris dibuat untuk konsistensi tentunya dikarenakan seringnya ada permainan untuk mengambil sampel, tidak seperti Piala Dunia yang, paling banyak juga hanya akan ada 7 permainan.

Pickford hanya benar-benar sukses dalam menciptakan momen yang sensasional ketika melawan Swedia.

Dari 7 shot on Target (hanya saat melawan Swedia) pada gawang Jordan Pickford, ia sukses membiarkan seluruh tembakan itu agar keluar dari gawang, dan seluruh save tersebut, tidak ada yang biasa-biasa saja, minimal membutuhkan loncatan untuk memastikan bola itu tidak masuk ke gawang.

Secara keseluruhan, sebenarnya, success rate penyelamatannya pada piala dunia mencapai 72% untuk ketujuh permainannya untuk Inggris.

Tetapi, untuk klabnya Everton, ia hanya mencetak 14 clean sheet dari 69 permainan, hanya 20% persentase clean sheet yang ia miliki, dan blunder yang ia hasilkan juga sebanyak David De Gea (7), padahal jumlah permainan yang ia mainkan baru seperempat dari total permainan De Gea.

Hugo Lloris, yang membawa Prancis juara dan memainkan 6, alih-alih 7 permainan selama Piala Dunia, hanya memiliki 68% save chance, tetapi ternyata, save yang ia buat biasanya bagus. Diantara 19 shot on target pada Prancis, ia menyelamatkan 13. Defender Prancis yang bagus juga menjadi faktor mengapa ia hanya perlu menghadapi 19 shot on target…

Untuk Tottenham, statistik Lloris juga cukup konsisten, 74 Clean sheet dari 204 permainan, berarti ia mencapai persentase 35%. Tetapi, sayangnya, Lloris melakukan sangat banyak blunder (seperti pada final piala dunia). Dengan total, 25 blunder (incredible) yang menghasilkan gol, dan juga 7 kegagalan menangkap bola.

Cho Hyun Woo, pada sisi lain…

Memiliki persentase save 80%, dari 20 shot on target yang dilemparkan padanya dalam 3 permainan. (Korsel berada dalam grup yang sulit sejujurnya) Cho Hyun Woo, sukses melakukan 16 penyelamatan dari 20 shot on target. Dan aku yang menonton seluruh pertandingannya mengakui bahwa semuanya penyelamatan yang bagus.

FC Daegu sayangnya tidak memiliki statistik penyelamatan untuknya…

Kesimpulan

Jadi, bagaimana? Apakah lebih baik memiliki konsistensi yang serius terbanding kesuksesan sesekali? Apa pilihanmu?

Menurutku aku lebih suka konsistensi, karena sejujurnya, kita tidak bisa menilai kapan kesuksesan tiba-tiba itu akan muncul.

Tetapi, para penonton di rumah pasti mengingat banyak super save yang dibuat Cho Hyun Woo, seorang kiper yang sejujurnya, hampir tidak diketahui namanya sampai piala dunia.

Konsistensi itu dibutuhkan, tetapi tentunya kesuksesan selalu menghibur dan akan menjadi tontonan menarik.