Month: July 2018

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy… Apa itu?

Sebenarnya, aku yakin, siapapun yang sudah pernah menonton sedikit serial dan/atau film Time Travel, atau AI, pernah mengerti, atau melihat teori unik ini.

Foresight Fallacy sendiri tercipta karena sifat manusia yang ada secara genetik. Tidak masalah apakah manusia itu kompetitif, santai, jahat, baik, atau bahkan megalomaniak… Semua manusia, secara spesies akan berkontribusi ke Foresight Fallacy.

Sebenarnya, Foresight Fallacy adalah hal yang amat sederhana, tetapi, banyak hal yang membuat kesederhanaan ini rusak, seperti tentunya, time travel sendiri yang pada dasarnya membuat orang-orang (terutama yang bukan penggiat science fiction) migraine tujuh galaksi.

Dan kupastikan, Foresight Fallacy adalah satu dari sedikit hal yang bisa memberikan warna ke spesies kita secara positif, jika dibandingkan dengan AI. Tentunya jika AI yang diciptakan tidak punya Human Drive, tapi, tentunya, siapa yang ingin AI dengan gaya berpikir seperti manusia?

Apa itu Foresight Fallacy?

Aku yakin semua orang pernah menonton suatu serial atau film dengan sedikit Foresight Fallacy.

Jadi, buatku yang baru belajar mengenai sifat manusia yang tidak bisa diprediksi itu, sebenarnya, buatku, Foresight Fallacy adalah alasan kenapa Season III dari The Flash adalah titik paling sampah serial tersebut.

Begini, akan kuberikan contoh mengenai kejadian dan human nature membingungkan ini… Dari serial tersebut…

Dalam 6 Bulan (waktu di serial) dari episode pertama season 3, Iris West-Allen, istri dari Barry Allen (The Flash) akan dibunuh oleh seorang makhluk yang berasal dari masa depan, dan bisa berlari lebih cepat daripada The Flash.

Manusia adalah makhluk yang memiliki drive, dan tentunya, meskipun Barry bukan lagi seorang manusia (he’s a metahuman πŸ˜‰ ) ia tetap memiliki drive yang sama.

Jadi, dengan mengetahui pasti apa yang akan terjadi di masa depan, kita sebagai manusia akan berencana untuk mengubah apa yang kita ketahui secara pasti dan yang pasti tersebut, menjadi tidak pasti…

Skor rating The Flash turun dari 82 di Metacritic (which was good, or at least, decent) menjadi 64. Aku sih tetap nonton, meski aku tahu ujungnya, namanya Superhero, mereka akan menang. Plus pihak TV masih ada kontrak dengan pemeran Iris West-Allen untuk setidaknya 3 season lagi. Jadi, hampir dipastikan bahwa dia akan selamat, dan serial itu sudah mencapai titik… -_-”

Untungnya, season 4 cukup bagus. Meski villain utama dari season 4 terlalu overpowered, dan kemungkinan besar, bahkan pasukan Kryptonian pun masih kalah melawan dia…

EHEM, sorry, off topic.

Masih bingung kah?

Nah, sebenarnya, Foresight Fallacy dalam kasus di atas tampak bagus, dan tidak sesuai dengan istilah fallacy, yang berarti kegagalan. Jadi, sebenarnya, kenapa Foresight adalah hal yang buruk? Bukannya mengetahui masa depan berarti melihat kesuksesan, dan jika kita gagal di masa depan, kita bisa merubah diri agar sukses?

Sebenarnya, Foresight Fallacy bukan kegagalan dari manusia, melainkan kegagalan dari masa depan yang pasti itu, dan ini alasan utama mengapa menurutku, manusia tidak akan pernah digantikan oleh AI.

Sebagai orang yang tidak pro akan AI…

Kalau para nanobiologis berusaha untuk memastikan AI tidak bisa memasukkan tubuhnya ke dalam manusia, dan kalau para ilmuwan komputer memastikan AI tidak akan pernah tercipta, kurasa para psikolog, antropolog, dan filsuf akan berpikir bahwa, meski AI sudah ada, akan sangat sulit untuk melihat AI yang mempunyai drive untuk merubah sesuatu.

Kepastian dari Ketidakpastian

Satu hal yang kita bisa pastikan dari manusia sendiri adalah… karena manusia sangat-sangat… labil. Kita adalah makhluk yang pastinya akan membuat dan melakukan hal baru tiap harinya.

Sebagai spesies, kepastian yang manusia bisa dapatkan hanya dari tiadanya kepastian.

Sifat ketidakpastian manusia sendiri paling tercerminkan oleh pasar saham.

Kita tidak akan pernah tahu secara pasti bagaimana cara untuk memprediksi pasar saham, dan andaikan kita tahu caranya… Foresight Fallacy akan bermain.

Misalnya, sebuah AI yang bisa memprediksi kenaikan saham dengan tingkat akurasi 100% diciptakan dan ada secara gratis… That’s good! Freelancer yang main saham akan senang juga tentunya!

Dalam 24 jam launching, AI sudah digunakan oleh 5 juta orang…

Pada hari dimana AI sudah dipakai 5 juta orang, ada prediksi baru muncul… (Ini benar-benar asal, karena, sebenarnya, siapa yang tahu tentang manusia?)

  • Besok, harga saham dari klab sepakbola Juventus akan turun sebesar 12% dikarenakan pensiunnya Cristiano Ronaldo, dan perginya Paulo Dybala, Gonzalo Higuain, serta Andrea Barzagli. (semoga Google cukup up to date, karena aku bener-bener acak milih pemain dari list yang ada di google πŸ˜› )
  • Besok, harga dari saham semua perusahaan minyak akan naik sebesar 100% dikarenakan, orang-orang makin menyukai minyak, dan entah mengapa, tidak ada enviromentalist yang sedang beraksi untuk menurunkan penggunaan minyak.
  • Dalam 8 jam, harga saham google akan turun 18% dikarenakan mereka lupa membayar pajak, dan akan menerima tuntutan hari ini juga, bisa berakhir bangkrut.

Berdasarkan prediksi ini, apa yang akan dilakukan orang yang bermain saham?

Jual semua saham yang dimiliki, terutama bagi yang memiliki saham dari Juventus, serta saham dari Google.. Segera beli saham minyak, selagi murah.

Dan disini, inilah saat ketidakpastian itu muncul…

  • Saham Juventus turun, dan bukan karena ditinggalkan beberapa pemain, melainkan karena AI bilang begitu.
  • Minyak? Naik! Sebelum esok hari, dia sudah naik, dikarenakan semakin sedikit orang mau menjual, dan banyak sekali yang menginginkannya.
  • Saham Google langsung dijual, dan ya, bisa saja tidak laku, jika betul mereka akan menerima tuntutan pajak dalam 8 jam, siapa yang ingin beli jika harganya mahal?

Jadi, berikutnnya, apa yang akan terjadi dari sini?

Human drive plays its part again.

Saham Juventus turun? Mungkin Ronaldo akan dibujuk untuk diam satu musim, dan Juventus akan beli beberapa pemain lagi, agar harga saham klub miliknya naik…

Minyak? Mungkin para “juragan” minyak puas dan bermalas-malasan, atau berhura-hura sampai uang habis, karena ia makin kaya… Mungkin semua pegawainya diajak liburan 2 minggu. Eh, pegawainya diajak liburan? Siapa yang kerja? Kualitas turun, harga anjlok dong?

Google? Mengetahui ia akan menerima tuntutan pajak, ia akan bersih-bersih dan bayar semua hutang perpajakannya sebelum ada tuntutan, dan harga saham google tetap stabil!

Menarik sekali ya manusia?

Jika ada hal yang pasti diprediksi oleh seseorang sebagai A, maka, yang terjadi malahan, B, dikarenakan kita akan melakukan A sebelum waktu prediksi A akan terjadi.

Kesimpulan.

Manusia adalah makhluk yang unik.

Kita memiliki kesadaran, kita memiliki pikiran, kita memiliki otak, dan paling penting, kita memiliki emosi.

Itulah intisari manusia yang sangat-sangat kompleks tetapi menarik ini.

Amat disayangkan bahwa kita sebagai manusia, sering lupa bahwa kita adalah makhluk yang tidak pasti, dan sangat… unik.

Antisipasi… Itulah alasan manusia tidak akan pernah digusur oleh Artificial intelligence, antisipasi manusia, dan emosi milik kita.

Sayangnya, terlalu banyak orang fokus ke emosi dan melupakan antisipasi, dan kelemahan itu, mungkin dimanfaatkan komputer untuk… ya, menggusur kita.

Sampai lain waktu ya!

Peran Pendidikan Dalam Merubah Tingkah Laku

Peran Pendidikan Dalam Merubah Tingkah Laku

Dalam dunia pendidikan, tidak jarang jika seseorang hanya mengkorelasikan pendidikan dengan ilmu, atau subjek-subjek yang dipelajari di sekolah, atau kuliah yang didengarkan dalam kampus. Tetapi, ironisnya, definisi Pendidikan dalam KBBI, serta Education dalam kamus Merriam-Webster, definisi pendidikan hampir tidak pernah dibatasi ke persekolahan, pekuliahan, ataupun hanya dalam subjek-subjek.

Dalam KBBI, definisi Pendidikan berbunyi seperti ini: Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Sedangkan, dalam Merriam-Webster, definisi education tertulis seperti ini.

A: the action or process of educating or of being educated.

B: the knowledge and development resulting from an educational process.

Dalam kedua definisi tersebut, dapat dianalisa dan disimpulkan dengan cukup jelas bahwa definisi pendidikan tidak selalu (bahkan, lebih jarang) berhubungan dengan sekolah, subjek, persekolahan, ataupun dengan akademis. Jadi, amat disayangkan ketika di Indonesia, ketika orang menyambungkan pendidikan dengan persekolahan.

Tingkah Laku yang Salah?

Apa hubungan dari pendidikan dan tingkah laku? Sebenarnya, harus diakui, dalam persekolahan, mau ada sebanyak apapun pendidikan karakter, atau acara yang bertujuan untuk menambah kedisiplinan, dan ketekunan seorang murid, lebih sering pendidikan ilmu tersebut tidak menempel, dan tidak dipedulikan oleh peserta pendidikan karakter tersebut.

(Sejujurnya, aku belum pernah mengikuti pendidikan karakter lebih dari sekali, dan yang pernah kuikuti pun, bisa dibilang, ironis. Pendidikan karakter tentang kedisiplinan dan yang memberikan pendidikan karakter tersebut tidak cukup disiplin untuk datang tepat waktu.)

Tetapi, jika dihubungkan dan dikorelasikan beberapa kali, apakah itu tugas dari sekolah untuk merubah, dan menambah kedisiplinan seorang siswa atau siswi? Mungkin sebuah sekolah akan sangat kecewa jika ada satu dua murid yang kurang disiplin dan menurunkan nilai rata-rata dari sekolah tersebut, maka, sekolah merasa wajib untuk membuat siswa-siswi tersebut lebih disiplin dari sebelumnya. Tujuan dari tindakan tersebut apa? Menjaga gengsi dan kebanggaan sekolah atas muridnya.

Jadi, sebenarnya, tugas siapakah itu untuk menjaga tingkah laku seorang remaja?

Pendidikan rumah. Setidaknya untuk menjaga siswa tersebut dari pengaruh buruk dari luar.

Kembali ke definisi awal, pendidikan lebih cocok untuk dipasangkan dengan kata berkembang, alih-alih dengan kata sekolah.

Jika ingin berkembang, apa yang perlu dilakukan seseorang? Atau mungkin, apa yang perlu dilakukan orang lain demi membantu perkembangan seseorang tersebut?

Tentunya, untuk menjaga tingkah laku, seseorang perlu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Individualitas

Bagaimana jika kita coba renungkan sedikit, sebenarnya, apa yang dilakukan siswa-siswi SMA ketika mereka ke sekolah? Atau mungkin, apa yang mereka ingin lakukan di sekolah?

Mengingat gaya hidup generasi Z yang amat sangat erat dengan teknologi, kurasa mayoritas (lebih dari setengah) pergi ke sekolah lebih untuk bertemu teman-temannya, kebanding untuk belajar. Mungkin beberapa orang pembaca akan terkejut, dan mungkin juga ada yang merasa bahwa anak/keponakan/sepupu anda tidak seperti itu, namun, aku yakin bahwa lebih banyak pelajar yang tidak suka pergi ke sekolah jika ia tidak memiliki teman.

Jadi, mereka ingin ke sekolah untuk bertemu teman-temannya? Sesudah bertemu, apa yang mereka ingin lakukan? Aku sendiri tidak jarang untuk pergi ke mall dan melihat serta mengamati anak-anak SMA pada jam pulang sekolah, ataupun pada weekend, dan apa yang mereka sebenarnya lakukan ketika mereka bersama? Menggunakan gadget mereka masing-masing dan entah menggunakan sosmed, atau bermain game. Kali ini, mungkin reaksi beberapa pembaca tidak akan takjub, melainkan lebih ke β€œOh, itu mah sudah biasa.”

Kuingatkan sedikit bahwa, suatu hal yang biasa bukan berarti suatu hal yang bagus. Tetapi, aku tidak akan membahas gawai dan gaya hidup yang erat dengan teknologi itu terlalu dalam kali ini.

Dalam subjek tingkah laku yang salah, sebenarnya, apa yang salah?

Salah-Benar suatu tindakan itu relatif, dan akan berbeda-beda tergantung ke yang menilainya. Tetapi, seorang remaja akan melakukan sesuatu yang dinilai masyarakat sebagai sesuatu yang salah, hanya jika diberikan terlalu banyak kebebasan, diberikan terlalu sedikit kebebasan, atau tidak diberi perhatian yang cukup.

Peran pendidikan disini, dan hubungannya pada tingkah laku seseorang berada di pengenalan, dan juga penegakkan tingkah laku yang dirasa benar.

Jika individualitas seseorang kurang kuat (biasanya dikarenakan kurangnya pendidikan rumah yang tepat) maka, akan sangat mungkin, seseorang akan terbawa dalam tingkah laku yang tidak baik ini.

Akan lebih baik menjadi seseorang yang terlalu memegang kuat pendapatnya sendiri, daripada seseorang yang tidak memiliki pendapat sendiri, dan hanya memihak dengan tujuan mengikuti, atau mendukung orang lain.

Menanamkan Individualitas

Jika gambaran mengenai pentingnya pendidikan dalam subjek ini sudah tersampaikan, biasanya akan muncul pertanyaan, caranya untuk mendidik dan menanamkan individualitas.

Seorang remaja biasanya sudah mulai memiliki pemikirannya sendiri, dan terkadang, jika gagasan dan/atau opini tersebut tidak dieksplorasi oleh seseorang yang ingin mengetahui opini-opini tersebut, serta asalnya, akan mudah terhapuskan lagi.

Orang tua dari seorang remaja tentunya akan merasa jauh lebih senang jika anaknya memiliki opini yang mirip dengannya, tetapi, jika seorang remaja memiliki perbedaan opini, apa salahnya untuk mendengar perbedaan opini tersebut?

Tetapi, perlu diingat bahwa dalam perbedaan opini, jangan sampai opini tersebut kosong, dan tidak didukung dengan fakta lain, pastikan ketika sedang berdiskusi mengenai opini seorang remaja, ada fakta atau kompensasi yang mendukung opini tersebut.

Untuk menanamkan individualitas, hal-hal yang perlu dilakukan sebenarnya cukup sederhana. Metode yang kurasa sebagai metode yang efektif adalah (ketika situasi sedang santai) dengan berdiskusi akan opininya dalam kasus atau masalah tersebut.

Tiap kali ada opini yang menarik, akan sangat baik jika orangtua ingin tahu mengapa pendapat tersebut bisa muncul, dan darimana asalnya. Jika opini itu dibelakangi dengan alasan yang bagus dan masih sesuai dengan nilai-nilai keluarga yang ditanamkan, meski tidak sama persis pun, kurasa tidak ada salahnya untuk menerima perbedaan pendapat tersebut.

Dengan berdiskusi dengan remaja dan membiarkannya mengeluarkan opini-opini serta gagasan yang ia miliki, maka remaja akan merasa lebih yakin akan opininya sendiri.

Tentunya, menanamkan individualitas tidak sebatas berdiskusi saja, masih ada cara lain. Tetapi, berdiskusi adalah cara paling efisien dan cukup efektif untuk mengetahui opini seorang remaja, merubah opini dan pandangan tersebut jika ada yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga, serta memastikan ia merasa percaya diri pada pendapatnya sendiri.

Percakapan yang bagus dan efektif adalah percakapan yang dua arah, dan bukan hanya yang satu.

Menariknya tulisan dan celotehanku ini, dikarenakan ide-ide disini dapat dengan mudah diterapkan ke tiap anak dan tiap keluarga, dikarenakan seberapa bebas nilai-nilai seorang keluarga, baik yang condong untuk agama, condong ke akademisi, ataupun condong ke kepribadian yang kuat.

Cukup saja artikel hari ini, dan sampai lain waktu!

Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Spoiler Alert: Ternyata Museum MACAN bukan Museum tentang Macan, melainkan singkatan dari Modern and Contemporary Art in Nusantara. Jadi jangan terlalu berharap untuk menemukan sejarah kehidupan tentang Macan, atau fosil-fosil Macan purba.

Aku sendiri yakin bahwa Reader sudah lihat foto di sosmed, entah itu di Timeline (or… yah, itu lah ya, tergantung sosmed kan namanya, padahal bendanya itu-itu aja) atau di Story. Atau, kalau anda saya, dan tidak main sosmed, mungkin nemunya di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status.

Entah kenapa aku gagal menemukan satu pun gambar di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status mengenai Exhibit Blockbuster Museum MACAN tahun ini. Tetapi, sejujurnya, buat apa menikmati gambar di sosial media yang dipasang dengan tujuan untuk pamer (no offense Bubi, atau Babah). Tujuan dari Seni bukan untuk dipasang di Sosial Media lagian πŸ™‚ tetapi untuk dinikmati.

Jadi, kumohon, jika Reader belum, dan ingin ke sini, tolong nikmati seni disini, bukan menikmati komentar dan Likes dari follower anda ya.

Nah, jadi sebenarnya, aku tahu tentang pameran Museum MACAN ini dari mana? Jadi begini… Aku menemukan sebuah tulisan di JakartaGlobe tentang pameran di Museum MACAN ini yang… Yah, aku gak mau bahas itu sejujurnya. Silahkan baca saja sendiri ya, yang ada aku jadi gregetan nih hehehe. http://jakartaglobe.id/features/instagram-slaves-damage-artworks-museum-macans-yayoi-kusama-exhibition/

Langsung saja ke artikelnya yah. Ini akan membahas sedikit banyak gaya seni Yayoi Kusama, serta sedikit riwayat hidupnya.

(FYI, yes, I am currently in Jakarta, and this post is written here, sementara berpisah dari Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, dan berjumpa dengan Museum Fatahilah [yang aku gak jadi datengin sayangnya] dan juga Museum MACAN)

Panorama Kusama

Yayoi Kusama terobsesi dengan titik-titik. Sepertinya hampir semua karya seni miliknya dicoreng titik di sana dan sini, dan semua karya miliknya yang populer bermain dengan polkadot, dan cenderung abstrak. Tetapi, tentu saja orang-orang sudah tahu tentang kedua hal ini.

Ada beberapa hal yang mungkin ingin anda ketahui, dan dari mana inspirasi Yayoi Kusama ini…

Pertama-tama, ia sering berhalusinasi. Ia sering membayangkan bahwa tanaman berbicara padanya, dan segala sesuatu yang ia lihat, sedikit demi sedikit menjadi abstrak, dan menjadi penuh dengan titik-titik warna-warni. Nah, jadi yang mungkin kita pandang sebagai karya seni dan lukisan, atau patung… Bagi Yayoi Kusama, mungkin itu adalah benda atau pandangan dunianya sehari-hari.

Dan uniknya, ia dan keluarganya tahu bahwa dia sedikit bermasalah.

Bahkan, ada satu titik di dalam karirnya, dimana Kusama memasukkan dirinya ke Rumah Sakit Jiwa, dan membeli tanah di sebrang rumah sakit jiwa tersebut. Kusama kemudian membangun studio di tanah yang ia beli, dan tiap hari, ia ditemani oleh suster untuk berkarya di studio tersebut.

Jadi, jika ingin ditanyakan, iya, Kusama memang gila.

Titik. Titik. Warna. Warni.

Semua lukisan Yayoi Kusama yang terbilang Family Friendly (ehem, beliau memiliki satu daftar karya seni mengenai kehidupan seorang “remaja” perempuan… Enough said) bermain dengan titik-titik dan warna dasar. Pada dasarnya, ia mewarnai sebuah kanvas dan membuat titik-titik di atas warna dasar tersebut.

Tiap titik menciptakan sebuah ilusi dan menumpuk dengan titik lain. Jika melihat gambarannya secara langsung, kamu mungkin akan pusing.

Selain itu, jika anda memang tahan melihat sesuatu yang begitu abstrak untuk waktu yang lama, akan ditemukan bahwa dalam setiap frame, ketebalan dan kontras cat yang digunakan konsisten. Gambar di atas ini menggambarkan titik merah yang tebal di bagian bawah, dan seiring naiknya lukisan, semakin tipis, dan semakin tipis.

One more thing, lukisan itu hanya satu dari sembilan lukisan dengan kanvas yang terhubung dengan satu sama lain.

Oke, mungkin itu terlalu gampang (untuk sekarang), jadi kita akan kasih lukisan lain…

Bentuk ini menjadi ilusi optik yang sangat sering ditemukan. Karya ini disebut Infinity Nets (hey, we have that now! It’s called the Internet) dan bukan Infinity War. . . *krik*

Tiap jaring menimpa jaring lain, dan sekali lagi, membuat anda pusing.

(2 jam di pameran ini, aku bergoyang ke kanan dan kiri…)

Kali ini, Kusama tidak menggambarkan pola yang konsisten, dan benar-benar hanya menggunakan garis, bentuk, serta warna untuk menyampaikan pikirannya.

Sebuah karya yang mirip dengan Infinity Nets di atas, adalah Infinity Nets lain, kali ini, berdasarkan beberapa sumber dan teks di Museum, terinspirasi dari bisikan laut di Jepang.

Sekali lagi, titik-titik. Kusama terobsesi dengan ini.

Mungkin tidak tampak dengan jelas, tetapi, seiring kita bergerak ke ujung lukisan ini, semakin mudah kita akan menyadari bahwa, jumlah titik lebih banyak, tetapi garis lebih sedikit.

Jika tiap blok yang terpisah dengan garis adalah simbolisasi untuk ombak, dan titik adalah air… Maka, kurasa, Kusama memberikan interpretasi bahwa sebuah ombak akan makin kuat semakin banyaknya ombak itu berisi dengan air, dan semakin erat ikatan antar gelombang yang bersatu untuk membuat ombak tersebut.

Manusia juga seharusnya seperti itu… Semakin banyak jenis dan orang, semakin kuat jika semakin bisa mengapresiasi perbedaan. HA! Selipan filsafat!

Speaking of Manusia… Ini adalah sebuah gambaran dari Kusama… Menggunakan gaya polkadot miliknya, dan juga dengan kawat besi dicat berwarna kuning untuk membelah mata kita lebih lanjut.

Aku tidak menangkap lebih banyak lagi dari karya yang ini… Tetapi, aku akan berikan Reader sebuah tantangan kecil… Bagi yang sukses memecahkan tantangan ini, akan diberikan hadiah berupa tiket akses ke Dikakipelangi.com secara gratis yang memang sudah dari sananya gratis. Jadi ya, lelucon ini garing, aku captain obvious, dan… EHEM, sorry, kembali ke topik utama.

Apa yang reader lihat di lukisan ini? CLUE: Anda sudah melihatnya.

Dan jika ini pameran… Ini adalah hal pertama yang anda lihat di Museum.

Staring into Infinity

Pernahkah reader ke mall dan berdiri di antara dua kaca yang bersebrangan?

Aku sendiri pernah, dan aku masih saja amazed ketika melihat ada jumlah bayangan dari cermin tersebut yang tak terhingga. Aku pertama menyadari itu ketika aku berumur 7 tahun, dan aku masih saja tercengang dan takjub ketika cahaya sedang bermain dengan pikiran kita.

Ini mungkin karya seni yang membuat Kusama paling terkenal.

Memanfaatkan cahaya dan cermin untuk membuat sebuah pantulan yang tidak akan pernah habis.

Aku mau cerita sedikit, bahwa sebagai anak kecil (7-8 tahun) aku sangat senang dengan cahaya, dan awalnya, aku bahkan tidak tahu tentang cahaya dan apa itu. Aku hanya ingat bahwa cahaya itu selalu menyenangkan untuk dimainkan. Jadi, ketika di sekolah aku membuat periskop dengan cermin, aku menggunakan senter kecil dan memanfaatkan periskop tersebut sebagai pemantul cahaya.

Dengan bantuan cermin, aku pernah menggunakan si periskop untuk menyentuh target di belakangku dengan cahaya kecil itu.

Those were good times.

Dan sekarang, aku bertemu dengan karya seni indah ini.

Cahaya masuk ke mata kita dan dipantulkan oleh cermin. Cahaya yang masuk ke mata kita, tetapi, sudah dipantulkan oleh cermin lain sebelum diproses otak. Dan itu terjadi terus menerus, dalam kecepatan cahaya…

Efek tersebut menciptakan sebuah ruang tanpa batas dalam sebuah segi enam dengan luas tidak lebih dari 15 meter.

Kusama sendiri pernah mengalami sebuah saat dalam hidupnya di mana Kusama harus mengintip melalui titik kecil, dan katanya, ia melihat cahaya yang dipantulkan terus menerus. Jadi, dengan jiwa seni miliknya, ia ingin membagi pengalaman tersebut dengan Infinity Room miliknya ini.

Tentunya, pengalaman ini juga dibagi ke feed dan story semua orang yang posting, so… yeah…

Imagination itself nows no bounds.

Coba tebak ada berapa balon berisi lampu di ruangan ini yang benar-benar asli, dan bukan pantulan cermin…

Bingung?

Kuhitung sampai 3 ya… 1, 2, 3.

Ada total, 3 balon berlampu, yang berputar dalam cahaya tanpa batas ini… Ya, ini membuat puyeng.

Ketahui bahwa anda hanya punya waktu 60 detik untuk menikmati, jadi tolong, manfaatkan sebaik mungkin, dan jangan rusak bola lampu di dalam benda tersebut.

Semua titik dan bola yang Kusama buat sepertinya hanya fragmen dari imajinasinya… Dan, sekarang, ada satu aspek lagi dari imajinasi beliau yang belum di eksplor… Tanaman yang berbicara.

Speak to me, Nature…

Alam mendapat seorang messenger berupa Yayoi Kusama, yang mengakui pernah mendengar tanaman berbicara. Sejujurnya, ini mungkin saja sekarang jika kita menemukan alat untuk menerjemahkan keinginan si tanaman (which currently… we only have a prototype). Tetapi, Yayoi mendengar tanaman berbicara saat ia masih anak kecil… Sebelum ada teknologi ini.

Kusama sangat senang dengan Labu (fakta samping, lukisan pertama miliknya, adalah lukisan labu dengan titik-titik polkadot), dan sepertinya, Labu adalah juara 3 di hatinya, sesudah titik dan cermin. Bahkan labu buatan beliau masih harus ada titik-titik polkadot khas Kusama, agar kita tahu itu karya milik siapa πŸ˜‰

Pada penghujung pameran, kita bertemu dengan beberapa patung tanaman buatannya, yang… Ha, hold that thought.

Selain pahatan dan lukisannya yang sesuai dengan tanaman berbintik, Kusama sering memberikan satu dua selipan bentuk atau corak tanaman di lukisan infinity net atau lukisan abstrak miliknya. Gambar di atas ini memiliki corak bunga.

Dan, jika reader bingung, foto merah di atas, sesuai dengan gambar pertama yang reader lihat di artikel ku hari ini… πŸ˜‰ Gotcha! Sukses menebak? Try this then…

 

Lukisan ini memiliki corak warna yang sesuai dengan salah satu patung di atas, dan seharusnya, hanya dalam sekilas mata, pembaca tahu yang mana…

Tampak mirip kah?

Indah kan?

Hehehe…

Renungan.

One Man’s Junk, is Another Man’s Treasure.

Coba bayangkan setiap hari, kamu harus menggunakan kacamata baru dan melihat dunia dari sudut pandang baru. Mungkin kamu akan lebih dari lelah… Tetapi, tentunya, kita harus mau melihat dunia dari sudut pandang orang lain… Jadi, mari kita intip sudut pandang beberapa pengunjung museum…

  • Instagram Slave
    • Bagi para Instagram Slave, mungkin semua karya seni di atas hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan like, ataupun follower, atau mungkin story yang bagus, atau DP yang bagus untuk WA (Oke, ngaku dulu dikit, aku ganti DP aku pake foto infinity room, peace). Sebuah karya seni hanya sebatas… momen itu saja, dan hanya alat. Layaknya buruh, atau mesin pabrik yang menghasilkan sebuah produk.
  • Museum Addicts
    • Bagi para orang yang kecanduan museum, atau mungkin, penggiat museum… Mereka melihat dan mampu mengapresiasi tiap pameran. Belum tentu mereka bisa melihat apa arti atau intisari dari tiap karya, tetapi, hampir bisa dipastikan bahwa, seharusnya, mereka bisa respek dan mau ikut menjaga karya museum tersebut. Setiap pameran adalah bagian dari sejarah yang perlu dijaga, layaknya sebuah artifak, atau seorang… umm, aktor? mungkin? Tentunya, untuk dilihat, dan dinikmati.
  • Artists, Dreamers
    • Bagi para seniman dan juga para pemimpi… Mereka akan melihat dan memanfaatkan tiap karya seni untuk tentunya, melakukan kegiatan seni, serta menikmati satu dua hal. Mereka akan senang, terinspirasi, serta mereka juga akan menjaga dan menghormati tiap karya seni. Mereka juga akan berkontemplasi dan menimbang, melihat setiap karya dari banyak sudut pandang. Tiap karya berperan sebagai buku, dan sebagai mentor bagi mereka.
  • Yayoi Kusama
    • Membayangkan semua seni ini dalam mata Kusama… Aku sejujurnya merasa bahwa, bagi Kusama sendiri yang mengakui kegilaannya, tiap karya seni miliknya hanyalah interpretasi dari tiap tindakan dan tiap kali ia melihat sesuatu. Dunia seni miliknya yang unik dan menakjubkan ini hanyalah sebuah perspektif sehari-hari baginya… Then again, who knows?

To think like a Genius makes you crazy, to think like an Idiot makes you confused… Think like yourself, it’s the only way to grow. -Azriel Muhammad

Eh, tapi jangan lupa ya… Bukan berarti kita tidak boleh berpikir dalam sudut pandang orang lain, tetapi jangan maksa saja…

Sampai, lain, waktu!

Sugesti lucu dari Google Search #2

Sugesti lucu dari Google Search #2

Halo pembaca…

Aku sedang terkena fase dimana blog ini “beku” sesudah aku kesal pada sabtu malam.

Awalnya kukira Senin kemarin aku akan menulis sesuatu, tetapi, ujung-ujungnya tidak, jadi umm… HORE! Bolong!

Jadi, dalam kebolonganku, aku berusaha mencari beberapa hal menarik, dan umm… ya, tentunya, kita mengarah ke Google.com , karena kita manusia dan tentu saja kita berlari ke Google ketika tidak ada inspirasi, atau tidak tahu ingin menulis apa. Jadi, sekali lagi, mari kita buat artikel lucu-lucuan… Google search!

Have fun! and Laugh!

Aku sejujurnya kecewa dengan entry search yang ini… Kirain akan ada yang lebih lucu. Jadi, sama seperti artikel waktu itu, akan aku jawab tiap suggestion, tanpa memencet atau search terlebih dahulu.

  1. Nama buku yang diadaptasi menjadi film, film ketiga dari trilogi tersebut, keluar tahun 2016… HANG ON! Belum ada How To Train Of Dragon yang ketiga? Masih nanti? WHAT!
  2. Hmm, bagaimana ya cara melatih naga… Setahuku reptil tidak bisa dilatih.
  3. EHEM, nomor 1, tetapi film kedua, dan keluar tahun… 2014. (HORE BETUL! Jujur gak ngeklik, sampai aku menebak di site)
  4. HA… Apakah ini masalah yang begitu besar? Bukannya ada Command+Print Screen? Penasaran ah, kupencet. What? Command-Shift-4, dan harus menggunakan cursor untuk membuat screenshot yang presisi? They never make it simple for laptops don’t they…
  5. Wow, banyak sekali manusia gak ada kerjaan sampai mencet ini.
  6. What on earth is that?
  7. Ask Mum…
  8. Ehem, maaf, simpul menyimpulku pas-pasan.
  9. Ha… Aku gak tahu sih, aku belum pernah beli game di steam, bahkan di saat aku MASIH main game, jadi… *shrug*
  10. Ngomong aja… CIEH GAK PERCAYA DIRI!! *ehem* Jangan kaya aku juga sih, terlalu percaya diri.

Ya, dan dalam kekecewaan aku, aku menemukan yang berikut ini…

  1. What is my IP adalah sebuah situs untuk melihat IP address mu
  2. Apa itu cinta? Menurut hukum fisika, yang disambungkan dengan filsafat, cinta adalah atraksi yang tidak bisa ditolak, layaknya sebuah elektron yang selalu mengitari inti atom-nya.
  3. Lagu kayanya ini… K-Pop pula…
  4. EHEM, belum didoktrin K-Pop
  5. ASMR? Singkatan apa lagi ini…
  6. See number 1
  7. See number 3
  8. SMH? Something Honest?
  9. Golden Ball Award. Itu kalau gak salah merupakan award jadi-jadian dalam serial kocak Wipe Out. (Memencet dan… Azriel, you smarty pants…) Ternyata itu award dari Fifa…
  10. My name is Azriel

Yap, aku makin kecewa, berikan aku sesuatu yang menarik… OH wait! World Cup Finals 2 days ago!

Hmm, sepertinya lebih banyak orang tertarik Kroasia Nigeria dan Kroasia Denmark dibanding dengan… Kroasia Prancis. Hah…

OH JUSTRU GAK! Aku yakin hampir semua orang menonton final jadi tidak perlu googling hasil lagi. Menarik.

Croatia President, who might he be?

OH WOW…

It’s a she!

Kenapa aku langsung judgey dengan bilang bahwa itu he ya… Well, untungnya ini memberikan ide untuk artikel besok, jadi nantikan ya, Shetority (that’s a project in the DC TV Universe, long story, cuman aku sambungkan dengan feminisme dan juga Menteri perempuan di Indonesia πŸ˜‰ )

Aku masih berharap mendapatkan sesuatu yang lucu dari kata How… Jujur.

Aku kecewa.

Well I’ll be…

Ini pun sebenarnya tidak terlalu lucu, tetapi, tentu saja, orang-orang ingin tahu cara menggambar ala-ala otaku, jadi… silahkan.

  1. *angkat bahu*
  2. Masukkan sebuah lingkaran berwarna hitam di dalam sebuah elips. Jangan lupa berikan sedikit warna.
  3. uhhh..
  4. UHHHH…
  5. Selembar Rambut? Ha, gampang!
  6. Umm… Kaya Anime, tetapi pake grayscale dan balon yang memberi efek… Pizazz
  7. Gambar Mata, tapi jangan lupa berikan bola kelereng di dalam mata tersebut… (sindiran dari guru Art SD ku kalau membahas anime)
  8. Err… I give up.
  9. Lihat Burung Garuda, dan cari Pohon beringin di situ ya.
  10. Rose? Like, a girl named Rose? Rose Byrne?

Ini sedikit maksa, aku sedang kosong sekali kepalanya…

Back to basics.

WHY ARE THERE ONLY TV SERIES IN HERE?

  1. Serial TV Dystopian, kalau gak salah
  2. Serial TV favoritku.
  3. Serial TV tentang Zombie paling laku.
  4. Serial TV yang meminjam universe X-Men tapi hampir tidak ada hubungan cerita dengan X-Men sendiri.
  5. Serial TV… Zombie gitu?
  6. Umm… Pencet ah, bisi salah. The fudge… People watch this kind of garbage? (mengingat keeping up with the Kardashians… Yeah, apparently they do)
  7. Serial TV… Tentang, makanan sisa? Pencet dulu bentar… (OH… Right, another dystopia, since 1984 is tooootallly a common work of literature right?)
  8. Serial TV tentang kehidupan di kerajaan?
  9. Serial TV tentang… I give up… nama serial TV sekarang makin gak jelas.
  10. OOH! Ini gampang kayanya! Serial TV yang menceritakan tentang Shannara 8) Eh, itu kayanya berdasarkan buku deh? Hore aku betul!

In Conclusion

4 hal…

  • Kalau Google adalah seorang manusia ia akan kewalahan.
  • Google membuat kita cari hal yang gak perlu di Internet, tetapi tentunya juga mencari hal-hal yang perlu seperti ending dari Serial TV yang kita ketinggalan dan ingin catch up.
  • Aku mengetes general knowledge ku (yang sangat buruk ternyata) dengan membandingkannya dengan… umm, google.
  • Aku berharap artikel besok lebih menarik.

Sampai lain waktu…

Dear Museum Asia Afrika

Dear Museum Asia Afrika

Pernahkah anda merasa bahwa suatu hak milik anda direbut begitu saja? Sejujurnya aku merasakan itu hari ini… Tetapi, ya mau bagaimana lagi…

Jadi begini, ada acara dengan Ibu Menteri Luar Negeri kita, Retno L.P. Marsudi. Dan, oke… bentar dulu…

Catatan: Aku seorang Remaja, aku bisa dan akan merasa moody. Iya, bahkan remaja sesabar, sepintar, sekeren dan seganteng aku *Pembaca mau muntah* bisa merasa moody… Tolong tahu bahwa aku curhat, dan sekali lagi iya… aku curhat.

Jadi begini, jika remaja pada umumnya merasa galau kalau diputusin pacar, ditolak, di unfollow orang, di… apa aja sih? Umm… Itu lah ya.

Inilah cerita yang membuat aku sendiri, Azriel Muhammad… Galau.

SMKAA

Ah, SMKAA, sering sekali namanya kusebut, sering sekali aku berusaha kujelaskan (meski rada gagal, tapi tetep, ada usaha), dan juga sering sekali aku datangi acaranya. Aku belum pernah sekalipun kelewatan satu acara dari Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika ini. Hari ini kebetulan, ada acara dengan skala yang sangat besar, serta juga… melibatkan pihak atasan, dan juga pihak eksternal.

Hari ini, Ibu Menteri Luar Negeri kita, Retno Marsudi, diundang ke Gedung Merdeka, untuk memberikan talkshow 90 menit.

Mengenal aku, dan membaca tulisanku, aku niat, dan antusias pakai… BANGET! Aku datang jam 7.04, dan begitu sampai, aku langsung menaruh tasku di barisan depan, tepat di tengah. Aku belum mengambil foto, belum apa-apa, tetapi ya, aku sudah tek kursi paling depan.

Nah, sekarang ganti chapter.

Pendaftaran, Registrasi, Persiapan…

Entahlah, aku mulai kehilangan kontrol dan merasa sedikit kesal ketika menulis ini…

Jadi begini, pukul 8.00, pendaftaran telah dibuka. Aku langsung mendaftar dan menggunakan kaos, serta kembali ke kursiku, dengan ketakutan bahwa ada yang mungkin mau mengambil tempatku di tengah ini.

Sekitar 15-20 menit kemudian, orang-orang berdatangan. Dengan bantuan Usher Frontman (atau, apalah namanya), peserta dipandu dan diminta untuk duduk paling depan… Dan ini adalah momen yang cocok untuk flashback…

Flashback

(EHEM, tulisan ini tidak punya alur karena dia curhatan, bukan liputan)

Beberapa hari sebelumnya, Kakak Nimrod A. Aria, Koordinator Eksekutif dari SMKAA, pada dasarnya orang in charge paling atas dalam SMKAA, sudah bilang bahwa ini acara SMKAA, dan bukan ditujukan untuk umum, kecuali ada sisa kuota pada H-1. Nah, akan ada Usher frontman untuk mengatur kursi agar anggota SMKAA duduk paling depan.

Aku mah gak usah disuruh udah duduk di depan.

Sayangnya, kuota SMKAA tidak terpenuhi, hanya ada 70-an dari 200 batas… Sehingga, sisa kuota pun ditujukan untuk umum, dan pendaftaran dibuka…

Real Time.

HEUH… Tentunya, meski anggota SMKAA juga, tetap saja, ada yang namanya malu dan takut salah ini salah itu. Jadi, barisan depan terisi, dan hampir semua orang di barisan paling depan adalah peserta umum, mungkin ada andil salah di Usher dan juga panitia yang dari Kemenlu dan asal menyuruh orang untuk duduk di depan.

Aku belum keberatan, tentunya ketika anggota SMKAA sendiri diberikan kesempatan untuk duduk di depan, tetapi malu lah, atau apa lah.

Secara keseluruhan, diantara 25-an kursi yang berada di depan, 6 disisakan untuk pejabat Kemenlu, 3 (termasuk aku) disisakan untuk SMKAA, 6 untuk Paskibra dan Pramuka yang diundang, 10 sisanya diisi oleh tamu umum. Mahasiswa ITB, dan Unpad mengambil mayoritas.

Stroke of Bad Luck

Jadi begini, ingat, Kak Nimrod Aria yang aku sebut di atas? Belum ada yang tek kursi untuk Kak Aria… Sehingga, 3 anggota SMKAA yang berada di depan digusur, dan diminta untuk kembali ke belakang…

Ketiga anggota tersebut, sepengetahuanku digantikan oleh Kang Adew Habsta dan Kang Dani, keduanya adalah founder SMKAA.

Kursiku tetapi, digantikan oleh Kak Aria.

Awalnya, juga akan digusur peserta dari umum alih-alih peserta SMKAA, tetapi semua kakak-kakak kuliahan dari umum, menolak dan bilang bahwa mereka datang cepat, dan disuruh untuk duduk di depan. Aku, dan anggota SMKAA yang lain, diminta untuk mundur ke belakang dengan alasan…

“Ini bertiga sama-sama penting lho, ada 2 founder SMKAA, dan koordinator eksekutif-nya. Mundur ya? Sesama SMKAA…”

Jadi, umm, aku kesal.

Resolution…

Tentunya, aku bukan model orang yang mau dan tidak keberatan mengalah dan digusur ke barisan belakang… Aku jadi, tetap membiarkan kursiku diambil, tetapi aku berdiri di sisi pinggir…

Kurang lebih aku berdiri di sebelah situ.

Dan iya, aku berdiri di situ selama 90 menit++

Tetapi, pada akhirnya, panitia juga tahu aku bukan orang submisif, dan panitia juga tahu bahwa aku masih tidak ridho kursi aku diambil orang, dan aku diberikan kursi panitia di pinggir. Eh, aku gak bisa dan gak boleh bertanya, aku dihitung panitia, dan tujuan aku datang ke sini jadi terpotong setengah.

Ha, ya sudahlah, namanya juga nasib, setidaknya mendengar Bu Retno berbicara sudah cukup membuatku happy.

Tulisan A Day With Bu Menlu akan keluar esok malam, aku hanya menulis ini demi mengeluarkan amarah yang masih terpendam.

Iya, aku akan share ini dengan teman-teman di SMKAA, dan semoga masalah ini takkan terjadi lagi di lain waktu…

Asal Usul Kata: Wakanda

Asal Usul Kata: Wakanda

Artikel kilat hari ini. Follow up dari salut Wakanda Forever.

Banyak orang yang bingung, dan juga penasaran atas sebenarnya… Dari mana istilah Wakanda sendiri muncul? Sebenarnya, Wakanda adalah nama negara, tetapi… entar kita masuk ke situ.

Jadi begini, dari sekitar setengah view Salut Wakanda Forever masuk dari search term “Arti Kata Wakanda”. Iya, arti kata Wakanda, bukan arti dari Wakanda Forever sendiri…

Jadi, sebenarnya? Arti Wakanda itu apa?

Wakanda sebagai Negara

Wakanda adalah sebuah negara yang lokasinya berada di perbatasan Uganda dan Sudan (setidaknya di komik). Luas kota tersebut tidak lebih besar dari provinsi DKI Jakarta (kira-kira), tetapi tentunya, hampir seluruh persediaan Vibranium di dunia didapatkan dari negara tersebut.

Ia selalu berada dalam lokasi kecil tersebut, terisolasi dari dunia, memiliki dan melaksanakan perangnya sendiri, dan tidak “peduli” dengan dunia luar sampai kejadian di film Black Panther. Setidaknya, theoretically, lokasinya sesuai dengan yang di peta.

Nah, tetapi tentunya semua orang yang sudah menonton Black Panther tahu lah kurang lebih bagaimana ya. Reader kesini demi membaca apa arti dan asal usul dari kata Wakanda sendiri.

Kata Wakanda Dalam Fiksi

Jadi akan ada dua jenis jawaban, pertama-tama istilah Wakanda dan kenapa kerajaan terpencil di Afrika itu disebut Wakanda, dan juga dalam dunia kita bagaimana bisa muncul dan disebut Wakanda.

Sejujurnya, penamaan Wakanda sendiri dalam fiksi tidak masuk akal, dan tidak bisa ditemukan dengan begitu saja.

Ingin tahu kenapa?

Gini lho, Wakanda adalah negara terisolasi dan gak pernah dijajah, dan mereka bisa bicara bahasa Inggris, sehari-harinya saja menggunakan bahasa Inggris, so… tentunya itu masuk akal, tapi istilah Wakanda itu jauh sebelum leluhur di luar Wakanda punya bahasa Afrika, berarti, jika ingin berteori lebih lanjut, seharusnya Wakanda adalah asal dari bahasa Afrika.

Sehingga, untuk penamaan Wakanda sendiri secara fiksi hanya bisa diambil dari Bahasa Afrika murni… Atau bentar, umm… heuh, ada Bahasa Wakanda ya… Aduh ini jadi pusing deh.

(Menggunakan dan mencari klip dimana alfabet Wakanda pertama ditunjukkan) HORE! Wakanda dalam bahasa Wakanda secara harfiah ditranslasi menjadi… Wakanda! (Selamat dari harus membuat artikel 1000 kata mengenai bahasa Wakanda sendiri) EHEM, on topic.

Nah, dalam bahasa Afrika murni, dan jadul, seperti yang ditemukan di beberapa sastra dalam daerah Afrika jadul, Wakanda berarti Prosper, atau Makmur. Kurasa itu kata yang ditujukan, meski ada beberapa arti lain, seperti Concealed, atau Terselubung, dan juga Forward, atau Maju.

Ya, kurasa bahasa itu tidak hidup karena banyak sekali ambigu… Untungnya, ketiga arti itu sangat cocok untuk Wakanda, sebuah negara makmur, tersembunyi, dan juga tentunya, lebih maju dari negara lain.

Secara internal, alias dalam dunia fiksi, aku ingin berteori bahwa Wakanda (berdasarkan sastra jadul) berarti Makmur! (Oke, tersembunyi dan maju juga boleh deh)

Istilah Wakanda oleh Stan Lee

Pada zamannya Stan Lee menciptakan Black Panther, belum ada cukup informasi dan berita mengenai translasi sastra Afrika untuk dirinya menemukan dan menggunakan Wakanda dalam sastra Afrika sebagai contoh.

Tetapi ia menemukan istilah Wakanda dengan mudah, karena di U.S. , komunitas African American menggunakan istilah Wakanda untuk Worship seseorang, ataupun alam. Worship bukan dalam aspek menyembah, tetapi memuja. Kaya ngefans lah. Itu semacam African American talk, kaya kalau zaman sekarang suka menggunakan Wurk alih-alih Work… Wakanda berarti Worship seseorang, ataupun alam. Jadi kalau misal cewe teenage zaman dulu ngefans sama Jackson 5, istilah North American slang-nya adalah… Wakanda sama Jackson 5…

Oke, itu gak masuk akal, tapi kenyataannya ini yang paling masuk akal.

Wakanda memiliki arti dalam (take a deep breath) 25 bahasa! Stan Lee memiliki akses paling mudah untuk slang di komunitas African American dalam U.S. alih-alih dalam bahasa Portugis, Afrika, atau Tamil…

Lagian, kalau mau dipikir-pikir… Wakanda yang berarti worship nature dan juga seorang tokoh sangat cocok…

  • Orang Wakanda memuja rajanya, alias Black Panther
  • Orang Wakanda cinta dengan alam, karena tanpa alam itu yang menydiakan Vibranium, ia akan hanya menjadi negara di Afrika yang namanya hilang begitu saja.
  • Stan Lee menggunakan slang tersebut dengan pintarnya dan membuat orang dan negeri yang cocok untuk kedua arti tersebut.

Sepertinya begitu saja artikel hari ini, tanpa kesimpulan, tanpa ba, tanpa bu…

Sampai lain waktu!

Epic Face Palm #1

Epic Face Palm #1

Ini adalah serial kilat, hanya digunakan untuk menyindir beberapa banyak hal yang aku temukan dalam satu bulan kemarin.

Semuanya adalah momen yang sangat cocok untuk diberikan gif ini…

Ya, aku mulai sangat suka dengan meme ini, jadi aku kepikiran untuk bikin serial mengenai ini. Selamat membaca dan ketawa miris!

Nonton Film Yuk!

Bukan aku yang menemukan. Aku kekeuh gak mau main sosial media.

Mari kita bahas setiap komentar secara merinci, dan kita bahas seberapa face palm worthy ini…

Entar petugas kebersihannya tugasnya apa dong? Bingung saya
Terus tugas petugas kebersihannya ngapain?

Nah, Teteh/akang, kira-kira petugas kebersihan tugasnya apa sih? Coba tuh, biasanya megang HP sehari 5-6 jam ada? Coba googling deh tugasnya petugas kebersihan. Buka halaman pertama, kedua ketiga, tiga-tiganya adalah petugas kebersihan puskesmas…

Jadi, sebenernya… apa kira-kira tugas utama petugas kebersihan? Tugas mereka pada dasarnya bersih-bersih (*Captain Obvious kambuh lagi*). Secara teknis, kedua orang ini tidak salah. Memang betul tugas mereka bersih-bersih… Tetapi, apakah sulit untuk mau gotong royong sedikit?

Begini, kira-kira dengan kondisi bioskop penuh (dan iya, ini bioskop besar, seperti misalnya Dolby Audio Studio 1 di Trans Studio Mall) dan semua orang memesan pop corn misalnya… Sekitar 3-4 petugas kebersihan perlu menghabiskan waktu sekitar… 2-4 detik setidaknya per sampah sisa popcorn. Mulai dari mengambil sampah, dan juga memasukkannya dalam trashbag.

Memang betul tidak semua orang memesan pop corn, ada yang sekeluarga cukup satu Pop Corn, dan juga ada yang seorang satu. Beda-beda… Tetapi dengan asumsi bahwa di dalam satu teater XXI besar, dengan jumlah rata-rata 300-350 kursi, berarti dibutuhkan waktu sekitar… misalnya ada 200 porsi popcorn yang dipesan, berarti 200 kali 3 (median 2 dan 4), 600 detik, hanya untuk sampah pop corn, dibutuhkan 10 menit. Jika teater penuh, ada banyak sampah, termasuk yang tidak di cup holder, tetapi juga yang di lantai, mungkin bisa mencapai 20 menit…

Tetapi dalam 20 menit itu… umm… kurasa, jeda antar film dalam satu teater sekitar 30 menit. Kurasa masih sesuai dengan waktu ya?

Eh, lupa! Ada yang namanya secret ending dan iklan kan? Belum harus nyapu… hahaha!

Iklan misalnya 10 menit, jadi jika jadwal masuk dalam teater adalah 18.35, berarti film dimulai 18.45. Berarti, petugas kebersihan hanya punya waktu 20 menit, tepat dengan estimasi untuk bersih-bersih. Memang sih, teater tidak selalu penuh. Jika iya bagaimana dong?

Tetapi aku ingat, saat aku menonton Thor: Ragnarok, jeda masuk ke teater telat sekitar 10 menit dari jadwal. Aku yakin pada saat itu, teater penuh, dan tidak ada orang yang mau membantu petugas kebersihan. Coba bayangkan jika orang-orang yang egois dan tidak mau membantu memungut sampahnya sendiri itu berada dalam posisi orang yang harus tertunda masuk teaternya. Pasti kesal kan?

Coba deh, bayangkan saja, apa salahnya membantu orang lain, demi kenyamanan dirimu sendiri, serta orang lain… Kurasa memungut sampahmu dan mengumpulkannya serta memasukkannya dalam plastik sampah membutuhkan waktu sekitar 10-20 detik. Jika detik itu diakumulasikan ke semua orang dalam bioskop… maka, akan ada banyak working hour yang didapat hanya dari investasi waktu pribadi.

Jangan terlalu egois, coba pikirkan berapa banyak orang yang kamu ambil haknya, serta berapa banyak kebaikan yang kamu lewati dari tidak memutuskan untuk tidak membuang sampah ke tempatnya. Ini daftarnya…

  • Kamu melewatkan kesempatan membantu petugas kebersihan
  • Kamu melewatkan kesempatan membuat sesama penonton merasa lebih nyaman
  • Kamu mengambil hak orang masuk ke bioskop tepat waktu
  • Kamu mengambil hak bioskop memasang iklan (jika orang-orang masuk telat, film langsung diputar sesudah 1 trailer. Setidaknya pas Thor: Ragnarok begitu)
  • Kamu mengambil hak sesama pengunjung punya teater yang rapih, dan bisa keluar dari kursi mereka dengan nyaman.

Sekarang tahu kenapa dengan meluangkan 30 detik saja pahalanya sangat banyak, serta banyak dosa yang dihindari?

Kan sudah Bayar
Kalo bantu petugas bioskop, digaji gak min? Kebangetan kalau sudah bayar tapi disuruh bantu-bantu

Apakah uang menyelesaikan semua masalah?

Seriusan…

Uang adalah hal yang penting, tanpa materi, kecil kemungkinan seseorang untuk bisa hidup, ataupun untuk bisa mendapat entertainment dan merasa senang. Tetapi, apakah uang itu segalanya?

Gini, aku gak mau preach soal agama… Tapi, apakah kita bisa menjadi seseorang yang baik dalam mata tuhanmu (agama apapun yang kau anut) hanya dengan uang? Apakah kamu bisa menjadi teman yang baik dengan uang? (OH, coba-coba jawab ya… Kalau menurutmu hanya dengan banyak traktir temanmu kamu diangggap teman yang baik, maka kurasa kamu telah dimanfaatkan teman-temanmu) Uang bukan segalanya.

Memang betul kita sudah bayar, tetapi seperti aku sudah sebut di atas, ini bukan masalah apa-apa, ini masalah gotong royong, dan membantu orang…

Coba pikir lagi, apa salahnya meluangkan 10-15 kalori (setara dengan 5 menit tidur), dan juga 20-30 detik waktumu untuk beres-beres sampah, demi menghindari mengambil hak orang, dan membuat orang merasa lebih senang…

Gak usah dibantu, nanti bayar gaji buta dan tambah pemalas

3 hal yang salah dengan kalimat ini…

  1. Bayar gaji buta? Umm… Mereka tetap harus sapu-sapu oke, mereka tetap harus buang sampahnya dan membawa trash bag yang sedikit berat. Mereka tetap kerja, dan ini bukan gaji buta.
  2. Tambah pemalas? Kamu yang malas… Buang 30 detik hidupmu buat bantu orang aja gak bisa. Sedangkan jika aku hitung gaya penulisan kalimatnya, setidaknya butuh 45-60 detik untuk membaca post, berpikir akan komentar ini, dan mengetik komentarnya…
  3. Kamu yakin orang-orang malah makin malas dengan dibantu orang lain? YAKIN? Justru gak… Mereka bersyukur ada yang bisa membantu mereka, dan mereka senang… Seriusan, kurasa kamu gak pikirin dulu deh kamu mau ngetik apa pas bilang ini…

Ini baru satu dari 3 hal yang bikin epic facepalm… HA! HA! HA!

Minum Kopi Yuk!

Aku speechless, dan di akun twitter itu sangat-sangat-sangat banyak hal yang membuat epic facepalm disitu. (Juga dishare Babah, silahkan klik namanya di atas)

Kayanya sih Om Indra itu Barista di Starbucks, dan dari tiap hari kerjanya ia menemukan banyak hal yang menyebalkan dan curhat di akun Twitter miliknya. Kurasa ini pantas diberikan hore ke Sosial Media for once…

Kenapa hore? Jaman dulu orang curhat gini paling ke Pacar/Sahabat/Istri/Suami/Diary…

Jadi sepertinya, salah satu budaya negatif kita selain datang terlambat (WAH! Ini mah udah dari kapan tahu!) adalah kita tidak tahu diri ketika sudah mengeluarkan uang.

Aku akan bahas secara sedikit singkat mengenai semua tweet itu, dari atas ke bawah.

  • Waw… Kayanya orang itu adalah model orang yang, kalau gak dia kadang buang sampah sembarangan, dia gak bisa lihat tuh tempat sampah ada dimana, jadi mumpung ada yang nyapu nih, buang ah…
  • Dasar gak modal… Tanggal tua kayanya tuh, atau gak… emang kopet dan gak tahu diri aja. Aku ingat pernah menemukan serangga di makananku sesudah setengah habis, dan aku bilang ke seorang waiter, katanya diganti, dan aku menolak, aku bilang aku hanya laporan saja. Dan ingat, aku menemukan serangga, memang sesuatu yang salah dari SoP… kalau urusan rasa sih, udah kamu minum, berarti gak ada yang salah mestinya!
  • Guy or girl has anger issues… Enough said
  • 3 tweet ini sama saja ya… satu part. Sekali lagi, orangnya cukup gak sopan buat bilang kata tolol ke seorang pegawai. Berikutnya, dia gak tahu peraturan makan, tapi ya, itu sedikit sering di Indonesia… Lagian juga, ngilangnya 30 menit… itu lama juga lho, wajar barista-nya beresin.
  • Atas nama siapa? Mmmrsch… Maaf mas, atas nama siapa? Ngomong tuh yang jelas kek… Kayanya lagi mainan HP tuh… Memang ya, HP itu udah kaya kacamata. Dibawa kemana-mana, dipakai kapanpun.
  • Ini sedih banget deh… Masa coba ada orang yang rela untuk ngebiarin ibunya dikawal orang lain ketika ia sendiri bisa ngawal… Aduh. Ibunya juga baik banget, terlalu baik malah sama anaknya. Hiks… :'(
  • Kembali ke masalah uang… Kan gak muat lagian… Aduhhhh
  • Astaga naga… Kampungan banget tuh orang, gak tahu yang namanya self service, lagian ini kalau memang starbucks bukannya internationally (or heck, globally) seperti itu? Yah, aku mah kasian sih kalau dia nganggap self service itu aneh, jangan-jangan emang betul orangnya kampungan…

Jadi ya, umm, dasar manusia… Tapi, sekarang, mari kita bahas Kulari ke Pantai.

Yuk Lari ke Pantai!

Jadi, ini baru kemarin, dan ini adalah dua hal bagiku. Pertama-tama, ini epitome of irony dari film Kulari ke Pantai sendiri… Epitome berarti contoh yang JLEB! pas banget. Kedua ini berarti bahwa kayanya banyak banget orang nonton film latah doang, dia nonton film demi nonton film, atau mungkin demi sosmed. Umm, itu juga simbol ironi yang dibahas di Kulari ke Pantai… Tetapi, itu untuk besok saja yah…

Jadi, Kulari ke Pantai punya banyak pesan sponsor… Kalau memerhatikan, ada pesan sponsor untuk…

  • Indomilk
  • Gojek
  • Tolak Angin
  • Bank Mandiri
  • DLL

Tetapi, sebenarnya, yang kumaksud bukan pesan sponsor seperti itu, melainkan pesan sponsor yang berarti message penting, bahkan juga salah satu sindiran di film tersebut…

  • Banyak orang melakukan hal demi posting ke sosmed
  • Kita terlalu fokus dengan HP kita masing-masing
  • Foto itu sekarang foto orangnya, bukan foto orang+pemandangan (gak sepenuhnya betul, tapi… betul)
  • Mimikri sudah mengambil alih budaya kita… (kekeuh Postkolonialisme πŸ˜› ) kita lebih sering menggunakan bahasa Inggris sekarang. Aduh!
  • Dan masih banyak lagi family values dan saran parenting di film tersebut. Banyak sekali contoh yang jangan dicontoh, tetapi juga banyak hal yang patut dicontoh…

Nah, jadi begini. Film dimulai dengan sekitar beberapa orang (ini dalam teater ya, bukan film) buru-buru membalas WhatsApp, kasih komen, atau… entahlah, aku tidak cukup cepat untuk menangkap 30 screen sekaligus. Sesudah 30 detik pertama sejak lampu mati, baru screen HP mati satu per satu.

Kukira orang-orang disini punya something important to do, dan mau bereskan urusan di HP, ya sudahlah, itu kuterima…

Eh, gak dong! GAK DONG!

Sekitar 45 menit menuju film, tepat pada adegan dimana salah satu tokoh utama yang fokus dengan gadget diambil gadget-nya oleh Tante-nya… Ada ibu-ibu mainan HP. Mata yang lain masih terpaku dengan screen, kurasa ini hal yang bagus, mungkin dari 50-an orang yang menonton, ada satu doang yang nonton for the sake of nonton.

Sekali lagi, aku salah.

Seiring dengan film maju, aku sukses menghitung 13 orang berbeda dari rombongan berbeda yang bergiliran (atau kadang bersamaan) memegang handphone, sekedar balas WhatsApp, scrolling IG, atau entahlah… Aku gak peduli. Eh, aku peduli, cuman aku gak peduli untuk tahu apa yang mereka lakukan…

Jadi, sesudah banyak sekali pesan sisipan bahwa orang-orang terlalu fokus dengan HP-nya di abad ke 21 ini, tetap saja ada orang yang kekeuh memegang HP dalam film yang literally berusaha membuat orang untuk melakukan sebaliknya.

Kesimpulan

WOW! 2019 mau ganti presiden? Aku takkan melarang opini politikmu, ataupun menyebut opini politikku sendiri, tetapi tolong… 2018gantiperilaku.

Yuk, share hashtag itu di sosmed, dan untuk sekarang gunakan sosmed untuk hal yang bermanfaat. #2018gantiperilaku tiap kali kamu menemukan sesuatu yang menyebalkan. Mungkin jika feed, timeline, or whatever your social media calls it is filled with that hashtag… Mungkin kamu akan berubah.

Aku tidak bermaksud menghina budaya kita, atau bahkan orang kita. Tetapi sejujurnya, memang banyak hal yang orang-orang kita lakukan yang… kebangetan, dan gak sopan. Aku dan beberapa temanku pernah membahas, mau pemimpin kita sekarismatik Hitler (karismanya doang yang diambil, kekejamannya gak), sepintar Einstein (sekali lagi, hanya kepintarannya, dia sedikit… gila soalnya), dan juga memiliki semangat Soekarno… Jika orang-orang dan rakyatnya tidak mau berubah, maka tidak akan ada pengaruh mau pemimpin kita seperti apa.

Jadi, sebelum 2019 mau ganti presiden, ganti mobil, atau ganti istri, terserah lah… Coba dulu, sebelum 2019, jadilah pribadi yang lebih baik… #2018gantiperilaku

Sebaiknya orang-orang adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sampai lain waktu! Aku masih hutang review film Kulari ke Pantai, dan juga beberapa hal lain. Semoga tetap mau mendengar opiniku, dan kumohon maaf jika menyinggung orang di artikel ini. Namaste!

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. πŸ™‚

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Tanggal 4-6 Juli kemarin, Pusat Penelitian Nanosains Nasional (PPNN) mengadakan acara lagi, yang berupa variasi, ke acara Nanoscience for Kids 2 tahun yang lalu… Aku sudah pernah mengikuti acara Nanoscience for Kids, dan, dikarenakan “kangen” dengan jalan-jalan dan praktikum di lab, aku memutuskan untuk ikut lagi!

Kali ini, acaranya disebut Nanoteens dikarenakan temanya lebih cocok untuk remaja. Tema ini juga disertai slogan, “Tampil menarik dengan Nanoteknologi”. Temanya kurang lebih kosmetik dan produk-produk yang menggunakan Nanosains. Betul saja, dikarenakan tema kosmetik ini, rasio perempuan banding laki-laki mencapai 2 : 1. Dari 18 perserta, ada 12 perempuan, dan 6 laki-laki.

Jadi, langsung saja kita mulai laporannya! Formatnya akan dibuat sedikit berdasarkan waktu…

Registrasi (8.30-9.00)

Suasana ruangan di kala masih sepi…

Ini mungkin salah satu bagian dimana aku paling sebal sepanjang ketiga hari dalam rangkaian acara Nanosains ini. Kenapa aku sebal dengan registrasi?

Bukan registrasinya, tetapi apa yang terjadi dalam 30 menit diantara pembukaan dan registrasi.

Sebenarnya proses registrasi berjalan lancar, tidak ada apa-apa yang salah, aku juga senang dengan bertemu teteh-teteh dan kakak-kakak yang masih ingat aku dari 2 tahun yang lalu. Tas, notebook, dan polo shirt kuambil juga sesudah memberikan tandatangan dan registrasi ulang.

Tetapi, aku mulai sebal begitu masuk dalam ruangan. Semua orang memegang handphone.

Ya, semua orang, baik SMP, atau SMA, sedang memegang HP mereka masing-masing. Jujur, aku sudah move on dari orang-orang yang memutuskan duduk di belakang atau ketiga dari depan sebuah ruangan karena takut ditegur, atau ditanya-tanya. Ya sudah, itu hak mereka. Tetapi, sayangnya, aku belum (UHUK, tidak akan pernah, UHUK) bisa berdamai jika melihat sekitar 13 pasang mata terkunci dalam layarnya masing-masing.

Dan ya, dikarnekan kepo, aku memutuskan untuk berjalan dua kali mengitari ruangan dan mengecek apa yang sedang mereka lakukan. Kurang lebih ini yang aku dapatkan.

  • Baca artikel tentang hukum-hukum aerodinamika. (Good Job!)
  • Menggunakan kamera selfie HP sebagai cermin… :'(
  • Scrolling Instagram, entah follow akun apa saja… πŸ™„
  • Story diri sendiri… *facepalm*

Ya, sudahlah, setidaknya aku berpikir bahwa mereka mungkin masih belum cukup akrab untuk mau berkenalan. Who can blame them? (Uhuk, tiap coffee break dan lunch break juga mereka tetap pegang HP sih, kecuali beberapa orang yang mengajakku ngobrol mau gimana lagi kayanya…)

Tetapi, akhirnya ada pembukaan dari Professor Adhitya Gandaryus Saputro. Mirip-mirip dengan pembukaan tahun lalu, membahas nanosains, dan jika aku ingin meringkas pembukaannya…

“Nanosains adalah sains yang bergerak dalam benda-benda berukuran sangat kecil. Perubahan yang terjadi pada dunia Nano biasanya tidak tampak, dan memberikan kesan insignifikan… Ya iya, orang gak kelihatan. Tetapi jika dimanfaatkan dengan benar, perubahan dalam skala nano akan berpengaruh dalam kehidupan kita sendiri-sendiri. Seperti misalnya Hydrophobia, Hydrophilia. Itu alasan menurutku Nanosains adalah ilmu yang sangat penting untuk dipelajari, meskipun kecil sekali perubahannya, hasilnya signifikan”

Sesudah memberikan penjelasan sedikit tentang Nanosains, Professor Adhitya memberikan sedikit preview ke apa saja yang akan kita lakukan. Seperti misalnya, hands on membuat sesuatu, lab tour, dan juga demonstrasi.

Kuliah Pengenalan (9.00-10.30)
Prof. Bambang Sunendar

Sesi pertama… Berdasarkan opini yang aku dapatkan dari teman-temanku, ini sesi paling membosankan menurut mereka. (oke, iya, aku juga menganggap ini lebih membosankan dari 2 tahun yang lalu.)

Professor Bambang Sunendar memberikan penjelasan mengenai Nanosains, baik definisinya, penerapannya, sejarah mendetilnya, bagaimana bisa dimanfaatkan di benda sehari-hari… Et cetera.

Professor Bambang, sama seperti tahun lalu berangkat dari pemahaman bahwa, uniknya, semakin kecil teknologi, semakin efisien dan signifikan pengaruhnya. Selain itu, Professor Bambang juga memberikan penjelasan mengenai Nanobiologi, cara memanipulasinya, Nanobots, bagaimana ia bisa membangun diri sendirinya dengan mudah, serta juga sedikit insight mengenai seberapa signifikan pengaruh nanosains dalam dunia nyata.

Tetapi, aku ingin sedikit mengkritisi analogi yang digunakan Professor Bambang menjelaskan dan menggunakan analogi untuk signifikannya ukuran Nano dalam kehidupan sehari-hari. Professor Bambang menyebutkan sebuah zat yang katanya merupakan bensin bekerjanya seorang manusia. Ia menanyakan ke semua peserta bahwa zat inilah yang membuat kita berjalan, hidup dan pintar, dan ini alasan orangtua kita memaksa kita makan makanan yang sehat.

Banyak kata-kata yang tidak bisa didengar dari ruangan, hanya berupa bisikan. Ada yang bilang “Zat Besi”, “Oksigen”, “Vitamin” dan seterusnya. (Aku memutuskan untuk diam, padahal aku yakin yang Professor maksud adalah Protein) Terus, sekitar 3 menit pengulangan fakta, Professor Bambang menyebutkan kalimat seperti ini. “Kalau kalian kekurangan zat ini, bisa bisa kalian autis, atau gak bodoh. Makanya zat ini penting sekali. Masa kalian gak tahu sih?” Sejujurnya, kurasa ini sedikit menyinggung dan kurang professional. Mohon maaf jika opiniku juga menyinggung.

Kuliah ini dilanjutkan dengan Professor Bambang menjelaskan fenomena penting yang melibatkan Nanosains, baik itu natural, tidak sengaja, atau memang sengaja diciptakan manusia.

Statement ini ditambahkan dengan Professor Bambang bilang bahwa “Untuk belajar Nanosains, tidak akan bisa hanya belajar fisika, kimia, atau biologi, harus belajar ketiganya. Tetapi, jika ingin lebih spesifik, baru bisa belajar sesuatu seperti misalnya, Nanobiologi, Nanokimia, dan lain-lain.”

Dari sini, muncul bagian paling menarik di kuliah Professor Bambang…

Sedang ada riset untuk menggunakan ulang sampah kepiting, jagung, dan pisang untuk bahan-bahan lain. Seperti misalnya, bahan bakar, sel pengganti, dan lain-lain! Ini sangat menarik untukku, karena aku doyan makan kepiting, dan ternyata ada 800 ribu ton sampah kepiting tiap tahunnya.

Sayangnya waktu sedikit habis, jadi professor Bambang sedikit flash forward. Dan langsung menyimpulkan.

Sejujurnya, aku tidak menangkap 100% kuliah 90 menit dari Professor Bambang ini. (Psikologi menyatakan bahwa kita ujung-ujungnya akan mengingat hanya 25% dari seluruh informasi yang otak kita terima) Tetapi amat disayangkan bahwa Professor Bambang memberikan sedikit kesan negatif pada tengah kuliah.

Secara keseluruhan, jika aku ingin membandingkan kuliah Professor Bambang di Nanoscience dan Nanoteens, kurasa Nanoscience for Kids lebih sukses dalam membuat kuliah pengenalan yang lebih mudah dimengerti, dan lebih terstruktur. Sayangnya, Nanoteens yang memang lebih condong ke aplikasi dan penerapan, tidak bisa keep up dengan pengenalan ke Nanosains yang lebih detil dan lebih luas jangkauannya, seperti di Nanoscience for Kids.

Aku sendiri sedikit bingung jika ingin memberikan sebuah kuliah mengenai sains yang kompleks ini ke anak SMA. Bukan hanya itu, hanya ada waktu 90 menit, dan kemungkinan membuat mereka merasa bosan sangat tinggi. Sekarang tantangannya bertambah, harus lebih spesifik ke penerapan, dan bukan hanya teori.

Kurasa penggunaan video juga menarik dan cocok untuk ini, sayangnya dalam kuliah pengenalan kali ini, tidak ada video yang ditunjukkan.

Nanokosmetik 10.45-12.00
Teteh Atsarina Larasati Anindya

Teh Laras memberikan materi berikutnya sebelum kita makan siang. Kali ini, temanya bukan penerapan nanosains secara luas, melainkan penerapan nanosains spesifik ke bidang kosmetik, dan hanya bidang kosmetik saja.

Pertama-tama, Nanokosmetik adalah kosmetik yang menggunakan teknologi Nano…

Oke, oke… Pernah melihat iklan produk make-up menggunakan emas, atau pasta gigi yang menggunakan arang? Atau mungkin yoghurt Sour (nama cewe) yang menggunakan Charcoal?

Jadi begini, pada dasarnya, semua produk diatas menggunakan nanoteknologi.

Semua nanoteknologi dalam kosmetik, menggunakan carrier untuk membawa alat yang bisa membawa benefitnya secara aman. Pada dasarnya, banyak zat yang sering digunakan dalam Nanokosmetik, seperti…

  • Emas. Emas bisa berubah warna, sesuai dengan nama Latin Emas yaitu Aurum, yang berarti Rainbow Metal. Dengan alterasi kimia yang tepat dan carrier yang pelan dalam memberikan paketnya, Emas bisa merubah warnanya, serta memberikan “glimmer” yang bagus. Sebuah cat rambut Nano dari Jepang dapat berubah warna tiap harinya, jika kita menyemprotnya dengan zat yang sudah disediakan sepaket dengan membelinya. Dan sekarang aku ingat kenapa orang Jepang suka membuat banyak fashion statement.
  • Perak. Seperti di mitologi Eropa, Perak dinyatakan bisa membunuh bakteri yang buruk. (iya, di mitologi dipakai untuk membunuh Lycanthrope, atau Werewolf) Biasanya perak ditemukan di pasta gigi, yang katanya lebih efektif dalam membersihkan suatu zat.
  • Silica. Silica adalah bahan pembuat kaca. Biasanya, Silica digunakan untuk bedak agar memberikan efek berkilau dan mengilap. Silica juga adalah bahan paling sering dibawa dalam nanokosmetik.

Masih banyak lagi, tetapi aku akan membahas sesuatu yang lebih penting lagi (dalam kacamataku). Carrier Nano. Ada banyak jenis Nanocarrier, banyak fungsi, dan banyak bentuk. Aku paling mengingat Carbon Nanotube, dan juga liposome, tetapi juga ada banyak lagi.

Pada dasarnya, Nanocarrier ini adalah Mang Gofood yang mengantarkan Makanan (seperti Emas, Perak, dan Silica di atas). Nanocarrier ini memastikan paket yang berupa unsur, atau zat yang penting bisa sampai tepat tujuan, serta juga memastikan bahwa paket itu tidak tercecer dengan berantakan, dan semua bagian yang membutuhkan si paket mendapatkannya.

Nanocarrier membuat objek beberapa kali lipat lebih efisien.

Eh, tetapi ingat ya, semakin mahal zat dan efisiensinya, harganya juga makin… wah… :O

Sebuah tube kecil nanokosmetik sejumlah 30ml berharga 450 dollar karena menggunakan emas dan platina. Harga per mililiternya seharga, 15 dollar… o_O

Teh Laras juga membahas beberapa banyak hal mengenai teknisnya menguji Nanokosmetik, serta Health Risk dari beberapa Nanokosmetik, dan cara kita mencermati nanokosmetik yang riskan dan lebih banyak menghasilkan pengaruh negatif dibanding positif.

Presentasi diakhiri dengan sebuah foto Syahrini (yang katanya dipilih karena dia menggunakan banyak sekali nanokosmetik) dan reminder untuk pintar memilih kosmetik.

Sesudah itu, kita makan siang dengan (restoran hanya akan disebut inisialnya saja biar tidak iklan) McD, dan aku yang ingin melihat pameran ITB di Aula Timur pergi ke situ, dan juga sholat di masjid salman, karena sudah sekalian ke depan πŸ˜‰ (oke, aku juga sholat disitu buat minum teh, tapi tetep sholat di masjid)

Membuat Sabun (13.00-14.30)
Teh Sri Ayu

Sabun! Kita membuat Sabun!

Fast forward 2 hari. Aku melupakan nama satu bahan yang sangat krusial dan aku dimarahin sama Bubi. Nasib. Untungnya aku menemukan nama bahan tersebut!

Sesudah makan siang, kita diberikan Jas Lab, dan dibagi kelompoknya. Aku sekelompok bersama 4 perempuan, dan kita mendapat asisten, atau lebih tepatnya guide, dari Kak Yusuf Yuda, atau boleh dipanggil Kak Ucup…

Jadi, pada dasarnya, membuat sabun itu sangat mudah! Prosesnya diberi contoh oleh Teh Sri Ayu, dengan beberapa bahan yang sudah ditimbang dan tinggal dicampur. Kita juga diberikan handout untuk teori dibalik si sabun, dan juga cara pembuatan, serta alat dan bahan.

Resep yang diberikan setara dengan 1 kali mencetak sabun, dan karena kita diminta membuat 3 batang sabun, rasio dari resep itu dikali tiga.

Bahan yang digunakan adalah…

  • Virgin Coconut Oil, Palm Oil, Olive Oil
  • NaOH padat (Juga diketahui sebagai, Lye Powder)
  • Vitamin C
  • Kopi bubuk untuk pewangi
  • Aquadest untuk melarutkan

Cara membuatnya pun cukup sederhana…

  • Campur VCO, Palm Oil, dan Olive Oil sesuai resep yang diikuti (perbedaan rasio berarti perbedaan tekstur dan mudahnya larut)
  • Larutkan ke dalam Beaker Glass dan aduk menggunakan stirrer. Panaskan sampai 40-50 derajat celsius.
  • Masukkan Vitamin C 0.1 gram, NaOH sesuai rasio dan resep, dan Kopi bubuk 0.01 gram ke dalam beaker glass. Biarkan teraduk sebentar.
  • Aduk, aduk, dan aduk sampai warna menjadi keputihan.
  • Cetak ke dalam cetakan!
  • Tunggu memadat, sekitar 18-24 jam. Keluarkan dari cetakan sesudah memadat
  • 2 minggu sesudah padat, sabun bisa digunakan.

Jika ada yang menanyakan ke aku, apa bagian paling sulit dalam membuat sabun DIY… Jawabannya adalah menimbang.

Aku sedang memasukkan VCO ke dalam timbangan… dan karena harus presisi, kita meneteskan sedikit, dan sedikit, dan sedikit sampai akhirnya jumlah tercukupi.

Itu tidak rumit, hanya butuh finesse dan ketelitian… Sayangnya aku tidak punya keduanya. Untungnya, tidak ada hal buruk terjadi! (belum)

Sekarang, hanya akan ada foto, karena beneran, membuat sabun itu sangat mudah

Mungkin stirrer tidak terlihat dengan jelas, tetapi, ada sebuah pil yang berputar karena elektromagnetisme di bawahnya. Jadi, sekarang, kita tidak perlu mengaduk manual! Hore!

Mesin dibawahnya disebut, (ya, captain obvious kembali…) Electromagnetic Stirrer.

Sesudah diaduk, tinggal dicetak, dan tinggal ditunggu padat! Hasil jadi akan ada di post yang akan kukeluarkan besok, karena ini baru laporan Day 1.

Masker Kaolin Clay (15.00-16.30)
Teh Sri Ayu

Sekali lagi, sesudah sholat ashar dan juga coffee break (FYI, aku juga comot beberapa hal untuk dibawa dan dikonsumsi di Hotel) praktikum kembali dimulai. Kali ini membuat masker dari Kaolin Clay, yang katanya bisa digunakan untuk mengencangkan kulit dan membuat seseorang awet muda. Aku dan mukaku yang boros ini mungkin malah jadi awet tua kalau pakai ini. Eh curcol detected.

Kaolin Clay juga diketahui dengan nama Aluminum Oksida, atau AlO2, tetapi yang berasal dan terkena hawa dingin dari pegunungan di China.

Dan sekali lagi, proses pembuatan masker ternyata juga cukup sederhana, berikut bahan, disusul dengan cara pembuatan.

  • Kaolin Clay
  • Vitamin C
  • Oatmeal
  • Pewarna Kosmetik

Maskernya berbentuk bubuk, dan cara membuatnya hanya dengan menumbuk dan mencampur.

  • Timbang 0.03 gram Vitamin C, 15 gram Kaolin Clay, dan 5 gram Oatmeal.
  • Masukkan Vitamin C dalam tempat penumbukkan (alu, jika aku tidak salah), berikan pewarna.
  • Masukkan Kaolin Clay, dan Oatmeal.
  • Tumbuk, tumbuk, tumbuk, dan tumbuk sampai menjadi bubuk.

Sudah, ternyata untuk membuat bonding level Nano cukup dengan menumbuk!

Tetapi, disinilah saat kelompokku membuat kesalahan.

Pertama-tama, pewarna hanya diberikan ke Vitamin C sebagai indikator bahwa, jika Kaolin Clay dan Oatmeal sudah menjadi warna biru, (atau setidaknya ada titik-titik biru) maka masker sudah tercampur. Nah, kita memasukkan vitamin C ke tempat Kaolin Clay dan Oatmeal sebelum diwarnai… Jadi, sekarang, maskernya sudah jadi, tapi kita tidak tahu seberapa tertumbuk hasil masker bubuk kita… ^^’

Selain itu, karena kita sudah tanggung mencampur Oatmeal dan Vitamin C, saat kita memasukkan Kaolin Clay, ada sedikit yang tumpah, jadi kita semua harus bersih-bersih, dan memastikan rasionya masih cukup.Untungnya, ini bukan praktikum yang resmi, atau yang dinilai, dan untungnya lagi, kita masih belajar. Jadi, mari kita lihat foto saja ya!

Kalau Bubi yang lihat foto ini mungkin reaksinya, “Azriel mah mana kuat numbuk, gak ada tenaganya.” Untungnya hasilnya tampak cukup tertumbuk kok… Lihat saja.

Hasil sesudah aku menumbuk 3 menit. Masih sedikit bertekstur, tetapi lebih rata.

Ya, setidaknya maskernya sudah bisa dipakai sesudah menumbuk 10-15 menit.

Tanganku sangat lelah beres menumbuk. Bahkan menulis 2250 kata pun tidak selelah menumbuk 15 menit.

Untungnya, aktivitas hari itu beres, dan aku kembali ke hotel!

Malam…

Hotel Neo di Dipatiukur, sesudah pulang malam, beres menonton Ant-man, kamarku.

Roommate ku sedang bermain dengan teman-temannya di kamar lain. Jadi, aku makan malam sesudah Ant-Man sendiri, dan langsung tidur.

Sabuk adalah hiasan, sengaja ditaroh disitu biar orang-orang bisa fokus ke satu objek.

Hari ini sudah beres, sampai besok!

Avengers 4, pengaruh dari Ant Man and The Wasp

Avengers 4, pengaruh dari Ant Man and The Wasp

Dunia Quantum di Ant Man.

Baca artikel itu terlebih dulu ya… Karena akan terasa lebih full feeling (apakah ini terminologi yang benar?) baca artikel ini sesudah membaca artikel tersebut, karena akan ada semacam update dan juga pembaharuan informasi dari artikel tersebut.

Tapi, andaikan belum baca artikel itu pun, seharusnya sih, masih bisa dipahami artikelnya, namun kalau mau baca full feeling, baru baca keduanya.

Sesudah menonton Ant-Man and The Wasp, yang ada malah keluar makin banyak pertanyaan alih-alih makin jelasnya cerita Infinity War. Namun, untungnya, hampir semua pertanyaan tentang Dimensi Quantum terjawab…

Jadi, pertama-tama, kalau belum menonton Ant-Man and The Wasp ataupun Infinity War, sebaiknya jangan baca lebih lanjut. Kecuali tidak keberatan diberikan spoiler… Ini disclaimer, jangan lupa bahwa ini disclaimer.

Pertanyaan yang terjawab

Beberapa pertanyaan yang berusaha kucari tahu jawabannya…

  1. Apakah kita bisa loncat pindah dimensi untuk mengaksesnya? Ataukah, satu-satunya cara masuk ke Dimensi Quantum adalah dengan mengecil sampai subatomik?
  2. Jika ukuran dimensi quantum begitu kecil, apakah kejadian di dimensi quantum tidak ada artinya ke dunia nyata MCU?
  3. Apa yang terjadi dalam dimensi quantum MCU?

Untungnya, film Ant Man and Wasp sudah menepati janjinya yang mengklaim bahwa dunia kuantum akan dieksplor. Ketiga pertanyaan ini mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

  1. Berdasarkan apa yang diberi tahu di film kemarin, satu-satunya cara masuk ke dimensi kuantum yang bisa dibalikkan (alias tidak dengan merusak regulator) adalah dengan memasang tracker dan membuat seseorang masuk dalam ukuran kuantum, (tentunya juga dengan regulasi dari Quantum Tunnel) lalu dikeluarkan lagi oleh orang-orang yang berukuran normal.
    1. Ini berarti bahwa untuk sekarang, dunia quantum dapat diakses dengan portal yang ukurannya ultra mini itu, dan hanya dilewati saat berada dalam ukuran subatomik. Teori pribadiku meyakini bahwa gerbang quantum yang berwarna pelangi itu, tiap kali seseorang memasukki Quantum Realm.
  2. Untuk sekarang, sepertinya, tiap kali ada terbukanya gerbang ke dimensi quantum, jika eksposur energi terlalu banyak, akan ada perubahan energi Quantum yang bisa merubah properti seseorang. Seperti yang terjadi pada Ava Starr (di komik, dia bukan Ghost, melainkan White Tigress) saat harus mengalami Quantum Phase. Tentunya, selama Janet Van Dyne berada di dalam dunia Quantum juga dia mengalami perubahan yang cukup signifikan pada dunia nyata.
    1. Dengan pengecualian Secret Ending, dimana Ant Man masuk ke dalam Quantum Realm untuk mengambil energi yang katanya punya properti medis… Oke, akan ada waktunya membahas ini di bawah.
  3. Eksplorasi ke Dunia Quantum sendiri tidak dilakukan terlalu banyak di film ini, namun dalam sekitar 10-15 menit Michael Douglas alias Hank Pym berada di dalam dimensi Quantum, beberapa hal ini terjadi, dan aku bisa sedikit menakar apa yang terjadi di dalam dimensi Quantum.
    1. Paling mudah diketahui adalah Tardigrade, sejenis serangga mikroskopis yang bisa hidup meski tidak ada oksigen, ataupun meski tidak ada ruang dan waktu. Dengan hanya ada Tardigrade di dalam dunia Quantum, aku yakin bahwa mereka adalah simbol, dan hanya simbolisasi saja bahwa ruang dan waktu tidak berjalan dengan normal. Tentunya, siapa yang benar-benar yakin, wong Janet jadi tua banget selama 30 tahun nyangkut di dimensi ini.
    2. Banyak sekali perubahan energi yang tidak masuk akal. Seperti fluktuasi energi dan perubahan warna yang sangat instan. Selain itu, Janet yang juga bisa menyeimbangkan Quantum Equilibrium seseorang dengan hanya sebuah sentuhan. Mungkin seperti ia sebut, ini adalah hasil evolusi, dikarenakan mutasi DNA, entah mungkin karena radiasi yang berlebihan dan memicu mutasi DNA dari seorang manusia, atau mungkin, murni karena energi Quantum yang berusaha diambil Scott Lang di Secret Ending.
    3. Sepertinya Radiasi Quantum, Gravitasi Quantum, Dualitas Quantum, atau apa lah yang belakangnya Quantum juga merubah pikiran seorang, memberikan bayangan serta image yang tidak masuk akal. Tiap detiknya seseorang akan makin gila dan tidak sadarkan diri selama berada di dalam Quantum Realm. Ketika relativitas dan waktu sudah seimbang lagi, baru seseorang akan merasa sedikit stabil, dan mungkin sadarkan diri. Sekali lagi, lihat nomor 2 untuk detil, aku sejujurnya masih sedikit bingung.

Jadi, sisi baiknya adalah, pertanyaan sebelum Ant Man and The Wasp sudah terjawab!

Sekarang, kabar buruk!

Apa Yang Terjadi?

Jadi, sepanjang film itu, ada beberapa (aku ada 5) pertanyaan yang akan mungkin muncul. Tetapi, pertanyaan ini bukan scientific saja, karena sepertinya setengahnya masuk dalam subjek takdir juga.

  1. Apa yang menyebabkan evolusi pada Dimensi Quantum?
  2. Apa kekuatan energi dalam dunia Quantum? Mengapa eksposur ke energi Quantum langsung membuat seseorang menjadi mutan? (mutasinya berbeda)
  3. Mengapa Ant-Man diminta untuk segera mengambil Energi Quantum? (Ini mungkin karena mereka gak ngeh bahwa sedang ada perang dengan Thanos, jadi ini satu-satunya yang aku anggap udah case closed, tetapi aku menanyakan ini saat keluar bioskop, jadi kumasukkan artikel…)
  4. Properti penyembuhan Quantum?
  5. Apakah Ant-Man akan terdampar dalam Dimensi Quantum selamanya? Apakah Wasp dan Ant Man mungkin bisa kembali?

Lucunya, 3 dari 5 pertanyaan ini hanya muncul di Secret Ending. Sejujurnya juga aku sedikit bingung dengan Quantum Phase dan Quantum Entanglement, serta tentang Tardigrade dalam dimensi Quantum, dan secara teknis, ini 8 pertanyaan, tapi karena beberapa pertanyaan tersebut hanya… Suplemen ke pertanyaan sebelumnya, kuhitung itu sebagai satu pertanyaan.

Jadi, mari kita berteori dengan apa yang telah, dan mungkin terjadi dengan 5 pertanyaan ini.

Tunggu! Aku rasa aku beruntung! Baru saja ada artikel yang berasal dari wawancara resmi dari beberapa orang di balik Infinity War, seperti konsultan fisika, sutradara, dan produser untuk apa yang akan diekspansi dalam Avengers tanpa judul yang keempat ini! Artikel ini baru keluar 48 menit yang lalu! Terima kasih Screenrant! (silahkan cari sendiri ya, aku tidak memasang link)

Ini mengatakan bahwa sangat memungkinkan bagi Ant-man yang sedang nyangkut dalam dimensi Quantum ini untuk Time Travel melalui dimensi Quantum, dan muncul di Battle of New York, alias di saat Avengers pertama. Paragraf ini resmi, dan dilengkapi foto Ant-man yang muncul di Battle of New York.

Untuk paragraf berikutnya, ini teori.

Ant-man yang menghilang seperti ini akan memberikan semacam spoiler ke cerita Infinity War, bagaimanapun ia mengetahuinya, ia akan memberikan spoiler dan akan lebih berhati-hati dengan Infinity Stone, untuk merubah jalur waktu agar bumi tidak dibuat punah oleh Thanos.

Pertanyaan terakhir sudah dijawab! Ant-man akan kembali, Michelle Pfeiffer telah memberikan afirmasi bahwa ia akan kembali untuk beberapa adegan minor, serta juga Evangeline Lilly yang sudah nongol di beberapa foto set Avengers 4.

Jadi, untuk menjawab 3 pertanyaan lainnya. Ini berdasarkan fisika, serta filsafat, dan tentunya, apa yang sudah diberi tahu oleh pihak Marvel secara resmi!

  • Evolusi Quantum dikarenakan waktu yang tidak jelas arusnya. Jika evolusi pada umumnya membuat sebuah spesies untuk bertahan hidup selama mungkin, maka evolusi yang biasanya butuh waktu ribuan, ratus ribuan tahun untuk berpengaruh, bisa saja instan. Ini berarti bahwa waktu sebenarnya mengalir dengan normal, tetapi partikel dalam dunia quantum mungkin terus menerus berubah, mengikuti ketidakpastian waktu yang mendasar di dunia quantum.
  • Nomor dua mungkin dikarenakan properti tidak jelas di dunia Quantum, mungkin ada radiasi, yang memang menyebabkan mutasi, seperti sering disebut di science fiction. Nah, tetapi, jika radiasi yang biasanya minor menyebabkan mutasi secara jangka panjang, ketidakpastian waktu mempercepat proses ini. Berikutnya juga jika ada partikel kuantum yang terikat dengan seseorang, tentunya ketidakpastian Quantum ini juga akan mengejar, dan merubah seorang manusia.
    • Nomor 1 dan 2 ini sudah memastikan sesuatu. Dunia Quantum MCU mempengaruhi seseorang secara biologis, secara fisika, dan juga secara kimiawi.
  • Penyembuhan Quantum…
    • Secara teori, ini bisa juga dijawab oleh side note yang aku tambahkan tadi. Dikarenakan anehnya properti dunia Quantum, mungkin penyembuhan Quantum disebabkan oleh biologi, fisika atau kimia. Mungkin juga dengan cara membalikkan waktu via partikel quantum! Jika jawabannya berhubungan dengan waktu, aku akan sungguh senang!

Kesimpulan

Mari kita bahas relativitas, serta karma, dan juga good-luck bad-luck.

Aku cukup beruntung untuk cukup membaca dua artikel yang baru keluar untuk menyelesaikan artikel ini, dan semoga cukup banyak berteori tentang Ant-Man.

Mungkin aku sudah melakukan suatu hal yang baik.

Ant-man, di sisi lain, cukup apes untuk mendapatkan ketiga ilmuwan yang membantunya keluar dari dimensi Quantum untuk dibunuh dalam 3 detik sebelum ia akan ditarik keluar dari dimensi quantum.

Tetapi, apakah itu berarti Ant-man seseorang yang jahat? Sehingga karma memukulnya dengan keras?

Menurutku tidak. Kalau kata aku, Ant-man sedang disiapkan untuk sesuatu yang lebih… “greater good”, dengan tujuan untuk membantu Avengers menang, alam semesta membiarkan dirinya nyangkut dalam alam Quantum, dan memaksanya untuk kembali ke masa lalu, masa sebelum Avengers dan S.H.I.E.L.D. runtuh. Untuk melakukan sesuatu yang hebat, ia ditantang alam semesta.

Kurasa setiap orang seperti itu. No risk, no glory.

Sampai lain waktu! Tanganku lelah!