Month: April 2018

Project Preview: Sahabat Museum Geologi

Project Preview: Sahabat Museum Geologi

Mungkin yang sering main ke web ini seringkali denger, Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika, atau SMKAA (for short), nah… Sebenarnya Sahabat Museum ini, udah jadi keinginan beberapa Museum sejak SMKAA ini ngehits dan sukses selama 4 tahun kebelakang.

Jadi, aku dan sedikit kekepoanku pada ini, berusaha sounding ke Museum Geologi…

And oh boy, I’ll have to admit, this is… gonna be rather challenging.

Museum Geologi akan mengalami ulang tahun ke 90 pada 16 Mei… Dan… Pak Ma’mur, Kepala Divisi Edukasi dan Informasi, memintaku, atas sedikit requestan sana sini, untuk membantunya (dan menjalankan) Sahabat Museum Geologi yang diimpikan ada sejak 2 tahun yang lalu.

Pak Ma’mur sendiri cerita ke aku bahwa dibutuhkan Sahabat Museum, dan untuk posisi mengurusnya dibutuhkan cukup banyak hal… Seperti, konsistensi, determinasi, dan tentunya… anggota.

Untuk itu, ini akan menjadi sedikit project preview ke apa yang bisa diharapkan untuk dirilis setelat-telatnya bulan depan. Please, wish me luck…

Planned Clubs

Khasnya SMKAA adalah klub nya. Masing masing wajib melakukan sesuatu untuk mendapat sertifikat. Dan masing-masing klub juga diberikan akses ke events Museum, mendapatkan info pertama first hand, dan ya… Not here to discuss that actually…

Aku kepengen ngebahas klub apa aja yang mungkin direncanakan untuk Sahabat Museum Geologi ini… For now idenya baru ada empat… Tetapi semoga bisa dilaksanakan, dan tentunya bisa bermanfaat jika sudah resmi berjalan tadi.

Pak Ma’mur sendiri request untuk tolong membuat sebuah klub menulis, dan ceritakan dengan gaya santai tentang satu dan dua exhibit di Museum Geologi. Namanya masih TBD sih…

Selain itu, kayanya akan menarik jika ada klub yang membahas Earth Preservation, dan semacam gerakan go green dengan pembahasan lain-lain berdasarkan perspektif Geologi… Again, namanya TBD.

Mengikuti tenarnya Klab Edukator di Museum Asia Afrika, aku memberikan saran ke Pak Ma’mur untuk sebuah klub yang membahas guiding, touring, mungkin bahkan masuk ke ruangan storage-storage di Museum Geologi. Tentunya untuk mengenalkan Museum Geologi dalam in depth untuk yang memang dah in depth, dan juga dengan scope besar untuk publik. Of course, dengan tujuan untuk merespek nama Klab Edukator (aka Public Educator Corps), Namanya gak akan jauh-jauh dari Edukator. Perhaps, Geoeducators? I don’t know yet.

Dan terakhir, Pak Ma’mur dan aku berdiskusi kilat untuk sebuah klub yang akan gak main jauh-jauh dari sosmed… Untuk jadi agen promosi museum. Diantara empat ide klub ini, by far, ini yang paling belum mateng, jadi aku pun masih kurang yakin.

Jika klub sosmed/promosi ini gagal, atau kurang padat untuk dijadikan klub, aku sih kepengen Museum Geologi ini punya klub art. Menggambar secara abstrak tentang karya geologi, ataupun secara padat. Tapi ini mungkin rada sulit… Kita lihat dulu deh nanti.

Apakah ada yang menarik diantara keempat klub ini? Meski hanya gagasan, semoga bisa menjadi kenyataan.

Benefits?

Wah, ini sebenernya aku belum dapet scope nya sampai ikutan Milangkala SMKAA… Dan sejujurnya, Sahabat Museum Asia Afrika ini, dengan magis membuat orang-orang mau tetap dan berkontribusi, meski tidak diberi benefit yang banyak. Nah, aku sendiri mendapat info bahwa di Museum Geologi, 3 attempt sebelumnya membuat Sahabat Museum masih rada gagal karena kurang aura magis kaya SMKAA ini.

Jadi, sebenarnya, kalau membahas benefits yang bisa didapat dari Sahabat Museum Geologi, kira-kira apa ya?

Well, ada 3 hal menarik yang bisa ditawarkan ke Geolo-geeks, ataupun mahasiswa yang tertarik berkontribusi. Ketiga hal ini diusahakan tidak mengeluarkan dana banyak.

  • Storage Room Access! (Okay, ini perlu dibicarain dulu sama Pak Ma’mur, dan beberapa rekannya di Geologi)
    • Siapa sih yang gak mau masuk Behind The Scenes dari sebuah film? Kalau mungkin udah sukses dan mendapat izin untuk masuk ke Storage Room nya, mungkin sih gak bisa terlalu sering, tetapi tentunya ini akan menarik banyak Geolo-geek tadi, dan mungkin akses ke behind the scenes ini bisa menjadi metode PDKT utama ke geolo-geek ini…
  • Certificate
    • SMKAA berjalan karena 2 hal… Anggota lama yang senang berkontribusi, dan anggota baru yang awalnya cuma dateng buat sertifikat, tapi tiba-tiba jatuh cinta, jadi mau berkontribusi.  Yeah this is me, yang awalnya berencana mau gonta-ganti klub tiap tahun demi sertifikat… Tapi sekarang jadi super seneng dan juga kasihan sama club nya yang hanya punya 4 anggota, dan mau ikut mengurus.
  • Knowledge
    • Self Explanatory… Kalau orang ga dateng karena knowledge atau karena emang seneng, ini mungkin gak akan jalan. Jadi ini kayanya sebuah benefit penting, tapi obvious.

Tetapi, tentunya untuk ketiga benefit ini, diharapkan untuk juga mengkontribusikan waktu dan tenaga… Layaknya relawan yang dibayar dengan ilmu alih-alih uang seperti pegawai.

What to expect?

Di blog ini, harapkanlah tulisan tiap sabtunya…

Di dunia Museum Geologi? Mungkin bisa diharapkan… Bahwa ini akan berjalan. Aku akan sangat senang jika menerima kontributor ataupun calon anggota. Kabarkan saja, karena tentunya aku akan senang mengetahui bahwa dari gagasan yang menjadi tulisan ini… dapat menjadi sebuah kenyataan.

Tentunya, untuk Sahabat Museum Geologi ini, gak bakal bisa se fenomenal SMKAA, tetapi layaknya sebuah batu, ia akan mencapai bentuk penuhnya sesudah mengalami proses dan ditempa… Sebuah komunitas adalah sebuah proses. Banyak hal di dunia ini berproses… Kita tinggal bersabar dan membantunya berkembang.

In Conclusion

Terima kasih ke Pak Ma’mur… tanpanya, ini hanyalah impian.

Kesimpulan hari ini akan simpel, tetapi padat…

Make your dreams ideas, make your ideas a plan, make your plans a reality.

Aku akan sangat senang jika ada yang ingin spread the spirit of sharing, dan juga spread the love, tambahkan anggota satu atau dua, mencicil saja… Sampai akhirnya Sahabat Museum Geologi ini bisa menjadi kenyataan… Sudah sih, aku sejujurnya tidak ada tambahan lain…

Terima kasih ya… Ditunggu kontribusinya 😉 .

Until tomorrow…

Why You Should: Speak English

Why You Should: Speak English

So, you’ve read this article? http://dikakipelangi.com/programming-skill-penting-di-era-digital

I am officially making a “Why You Should” series now! After some success with the programming article, I’ll do my best to help explain some of the things I’m doing as a homeschooler… Of course with some of my rather unique activities it would be rather intriguing to pull one or two things together and form an article.

Of course, what’s the point of learning something, if you don’t have a reason to learn the thing? So, that’s what this article is for… to give you a reason, a justification, or whatever word you wanna use, to learn something. It’s important!

Like, it’s really funny when you have someone learn something because they must, not because they want to, or because they can benefit from it… Oh wait, that’s basically our education system… Gee, isn’t it surprising when people don’t wanna go to school.

Some of these answers would be taken from a meeting at Taman Bahasa Bandung and Capetang, 2 communities that can help you to practice your English communication skills, and also from LEDS, a place where you can practice debates in English and argue with people…

Their locations will be included below, and note that this is not a sponsored post, it’s time to give back to communities who have given me important experience and knowledge.

So, let’s head on to the article… (Btw normalnya mah serial ini akan ditulis pakai bahasa Indonesia, tapi karena artikelnya tentang ngomong Bahasa Inggris, jadi ini bakalan ditulis pake bahasa Inggris.)

Intercommunicative… Intercommunication

Intercommunicative… a word I seriously just made up 10 seconds ago… And to prove its existence I googled it… it doesn’t exist…

Intercommunication, engaging in a two way conversation, or communication. (This word does exist, in fact Google autocorrected intercommunicative with intercommunication)

Interconnectedness…

A Universal Mind

Holarchy

Evolution of Mind

And some other articles discussing about philosophy.. and stuff so complicated I don’t really wanna explain it here… But, overall it’s discussed that us humans will eventually develop and become a citizen of planet earth. And especially in the Evolution of mind article, we are eventually going to reach the point of complete evolution and become the voices of Earth.

English is a language that’s currently the most spoken language in the world, and for now, it’s the language that is globally used by everyone, anywhere, and I believe it’s also a language that can make the world more connected.

Right now, the world is basically connected… I’ve mentioned one or two times on how easy it is to get a bombing news in say, Palestine, than it is to get news about a theft near your house. And now, thanks to information technology on the complex levels, such as remotely controlling a satellite, and to the simpler ones, such as social media… We have a world linked with the touch of a finger.

But, seriously though, it would be really ironic for you to use social media (since I don’t use social media), to use google while searching and manipulating some images… Basically connect with the world, but you lose that capability to communicate with them. You may be connected, but you may not really communicate?

Isn’t it… devastating? You’re one step closer to the world, or perhaps, even you’re one keystroke away from communicating with the world… Yet, you’re unable to do so… because of the one barrier left… Linguistic barrier. (Wait, there’s also the emotional and physical barrier too, but those… are other things, that’s out of context)

So, speak English! It’s one way to connect with the world.

Conclusion of this chapter… Internet connects the world, English enables people to experience the world.

Culture

Culture is disappearing each day in the flickers of light from globalization, and honestly, through tourism, we can preserve the heritages left by the country. Take it from museums who have some of their guides require English Speaking capabilities, or have some of the English text on their displays.

Not only does English as a language helps us link and connect with other cultures, it also helps to make our culture more well known to the world, whilst indirectly enables our culture to be preserved, and not getting… “Swallowed” by other cultures. Because there comes a time where we must influence instead of getting influenced. And to influence, you would need a language to connect with everyone.

To influence is to lead, to be influenced is to follow.

Other than culture preservation, tourism enables a country to gain income, and of course, income is always a need, be it for a person, or a country.

Now, of course, leading is a good thing, and should we spread our culture, and “influence” other countries through our culture, following isn’t always a bad thing. There are times when we really do need to follow, and sometimes, we’ll have to deal with following.

And once again, we can’t share our own culture, nor experience a slice of other cultures without a language that should easily be introduced to countries. Of course, when you really want to learn about a culture, language is a crucial part of it, but when we want to experience slices of experiences, a global language would be most helpful.

Therefore, to conclude this part… Culture must be preserved, and shared, share it through a universal language.

Universal Language

Closing the conclusion of culture, we’ll move on to reason number 3, a reason that’s important, of course, but when you only give it a brief look, it’s no different than reason number 1, or number 2. Therefore, I’m discussing this.

In Star Trek, every species to join the Federation must be able to speak English, and fun fact, Lieutenant Uhura speaks 200 interspatial languages. Now, the only species that I know of to not speak English are the Klingons, course, they’re Klingons, and with their “Remain pure” stuff… The Klingons do have a right to not speak English.

On topic… When you take your time to get more than one look in Star Trek, the Universal Language is still… ENGLISH. And in our scale, for now, the language that citizens of Earth, or perhaps Humans as a species use to communicate is… English.

Can we agree?

Now, as to why this is different with the Intercommunication topic in the first paragraph… This sees English as a noun, whilst intercommunication is a verb, a process where English helps people communicate… Now, English isn’t a process, at least not in this paragraph. It’s an identity. It’s proof. Proof that you are… indeed, a citizen of Earth.

Does this mean that English is something people must speak English to be a citizen of Earth? Course not, but to be honest, why shouldn’t we speak English? I’ve heard people complain about patriotism, while truth is, it’s a matter of post colonialism trauma and not exactly a loss of patriotism.

For now, I’ll let you think as to WHY you’d not want to speak English, because right now, it appears to be more than a demand, or a skill… it’s a need.

English Completes Me

In an overkill-y sense, English is a language that completes a person. Why is that? Is this person so… “hopeless” he or she can’t find a spouse or partner, so they use English instead? PFFT… No, not really.

Currently, English is the most complete language, containing many words that newborn languages don’t have yet. And for some intellectuals, or people who wants to speak in a very comprehensive manner, using English is probably one of your best bets.

Since making a complicated sentence isn’t quite easy when you know a word, but you don’t know it in other languages, that’s basically why English exists. This universal language enables you to find newer words, and then discover their meaning, or perhaps “make” a word in your own language.

Isn’t that rather enjoyable?

Though, please note that this doesn’t necessarily mean you can only speak intellectually in English, it just makes it easier… And of course, don’t forget to respect and love your own culture and language… It’d be quite a pity to actually use English as an excuse to not know some words in your own Language…

That does happen to me though, sometimes I know the English word, but not the Indonesian word… Happens.

Concluding this chapter… Consider English as a very complete Language, and it’ll help you complete your own language. Respect both, and love both… Especially your own.

Special Thanks

Before we conclude, special thanks to… (in no particular order)

Taman Bahasa, for the spirit of all the members and ideas there, young and not so young… Your spirit and consistency amazes me.

LEDS, for the countless debates and all the knowledge, chats, arguments and news there… Your creativity in topics constantly intrigues me.

Capetang, for the conversations, and chats to keep me satisfied, and to learn new things once in a while… Thanks for the Public Relations and how you care about the community and their English speaking skills.

Now it’s time to conclude…

Conclusion

So, to conclude today, how, oh how, does one speak English… 1 word… PRACTICE!

English is best learned through practice, and through interaction, not through formulas in textbooks. What is this, math?

Language is an art, and according to many cultural studies, art is best learned through practice. Of course, theories help, but if we don’t use all the theories we gained, our skill would be very limited, and they’d be… borderline useless…

So therefore, practice, practice, and practice! With help, you’d be able to speak English pretty fluently…

In fact you can try and join some of the communities I thanked there…

LEDS has its meeting during Saturdays at Baltos’s Top Floor in the foodcourt, starting from 16, or 16.30. Please come on time, otherwise you’ll miss some funny chats, or theories onto how you could, or should debate. Search LEDS in Instagram for further details, and please contact through the account.

Taman Bahasa holds its meeting Every Sunday from 8.00-10.30, it’s okay to come late… though you’ll miss some intriguing conversations. Held at ITB, right across the main entrance you’ll find a banner. Taman Bahasa has a Facebook fanpage, you can find it on your own 🙂 .

Capetang has its meeting Every Thursday, starting from 15.30, and again, it’s okay to come late, and its held at Taman Sejarah. Usually Capetang is bombed to the world through Humas Bandung’s Instagram account, so you can just check it out…

It doesn’t really matter who you are, where you’re from or what you did on all of these 3 communities, just come and practice your English…

Until next time of course, good night 🙂

Star Wars… Mengapa Dimulai Di Episode IV?

Star Wars… Mengapa Dimulai Di Episode IV?

Siang hari itu, entah kapan… atas dasar keisengan, aku membahas Star Wars dengan beberapa temanku membahas Star Wars. Dan salah satu atau dua dari mereka, belum pernah nonton episode 1-3, tapi udah nonton 4-6 yang keluar SESUDAH episode 1-3…

Wat? Star Wars ngeluarin Episode IV – IV sebelum I, II, dan III… LOL…

Biasanya Generation Z itu pada gak tahu sama fakta ini, dan menurut ilmu matematika, filsafat, dan logika… 4 itu keluar sesudah angka 1 sampai 3… Jadi, ya yang namanya Star Wars IV keluar sebelum Star Wars I ini… Jelas-jelas melawan hukum dasar logika…

Tapi, tunggu dulu, apakah ini berarti George Lucas itu… gak bisa ngurutin angka? Really… Not even the terrible conspiracy theorists would and/or could think like that… 😐 NO! Itu emang sengaja, dan ceritanya rada panjang (atau sebenernya pendek alias gak panjang-panjang amat)…

Jadi ya… mari kita bahas…

Darth Vader

Semula alasan Star Wars dimulai dengan Episode IV itu gara-gara si Vader ini… Gara-gara Darth Vader, tokoh yang kalau namanya ditranslasi dari Belanda ke Inggris, jadi Dark Father… Memang bener sih, Darth Vader ini dasarnya seorang ayah, yang Dark… (Not racism dark, more like… dark kaya artikel AI)

Nah, jadi, Darth Vader ini emang dari film pertama udah cleanly direncanain mau jadi Ayahnya Luke. Ketika konsep Star Wars masih abstrak di pikirannya George Lucas, Vader itu udah fix, pokoknya Vader = Anakin… Terserah lu mau bilang apa, ini cerita punya gw, Vader itu harus jadi Twisted Father of Luke Skywalker.

Dan iya nyatanya emang begitu…

Terus Darth Vader ini berkembang presence-nya dalam film, dan terus berkembang, sampai akhirnya di reveal di film ke 5 (EH, Film ke 5 tuh Episode II! Maksudnya di Episode V) bahwa Vader ini ternyataaaaa… Ayahnya Luke… “OMG! ORANG BELANDA GAK KAGET!”

Welp, revelation ini cukup mengagetkan untuk orang-orang yang memang nonton di masa-nya, dan gak kaya aku yang tahu Vader itu Anakin sebelum nonton, karena kesannya cuman… “ah gitu toh cara di reveal”. Kecuali kamu tinggal di Belanda, kayanya emang bakalan menarik melihat desperation Luke ketika menemukan orang yang kamu cari selama ini… terus ternyata, he was there all along… tapi itu bukan dia…

OOT: Quote Vader ke Luke itu bukan, dan gak pernah, Luke, I am your father Tapi…

  • Vader: If only you knew the power of the Dark Side… Obi-Wan never told you about what happened to yout father
  • Luke: He told me enough… He told me, YOU KILLED HIM!
  • Vader: Haha… No, I am your father
  • Luke: NOOOOO! NOOOO!!! dan #overkill

Use this knowledge to your power… Kecuali dikau mau ditepak oleh orang… Karena mereka gak suka kamu ngoreksi mereka yang merasa benar… Jangan lakukan ini ke fanboy die hard yang lupa 4 lines dari Film sepanjang itu… Siap-siap debat kalau kamu udah mau ngoreksi fanboy die hard… (Although kalau taruhan kamu menang sih 🙂 )

FYI, Banyak orang gak tahu conversation mendasar ini… Dan semua meme di Internet menuliskan I am your Father… Tapi dalam entah berapa ratus bahasa berbeda…

So What Happened?

Yah… Jadi, kurang lebih, perubahan judul di Star Wars, film pertama itu, sekitar 2 bulan sesudah rilis dan OMG laku pisan… Ketika DVD Star Wars baru mau keluar, dan Script untuk Episode V sedang ditulis, George Lucas yang udah nyiapin trilogi itu kepikiran bahwa… Kayanya… kalau aku gak nyeritain tentang Vader dan history-nya masuk ke Dark Side akan… aneh…

Jadi, apa yang George Lucas lakukan? Dia… Merubah nama Star Wars ketika rilis di DVD… Namanya menjadi Star Wars Episode IV: A New Hope…

Orang-orang bingung tentunya… “Lah, ini udah ngebikin film bagus, judul diubah-ubah… Apaan coba? Ini pengikut Pythagoras apa? Angka sucinya angka 4!” Ternyata ini karena George Lucas udah nyiapin trilogi dua kali, satu yang fokus ke Luke, satu yang fokus ke Anakin. Dan karena nama Episode ini dalam urutan kronologis timeline film, jadinya Episode Star Wars dimulai dari IV, sesudah masa gelap dan konversi Anakin ke Dark Side di Episode III . Btw aku punya teman yang nangis nonton Episode III.

Jadi, ini berarti Star Wars itu sebenernya gak rilis dengan Episode IV juga, cuma ketika Episode V alias sekuelnya ditulis script dan scene “No. I am your Father” itu… Baru George Lucas kepikiran bahwa… INI NIH! Potensi trilogi! Kali dua!!!

Course George Lucas itu sangat gutsy dan nekat untuk ngelakuin ini… Luckily the risk paid off, dan sayangnya sekarang gak bisa ngebuat “Episode -I: B.S.” Alias, Before Sith… Tapi dibuat sih Rogue One yang merupakan jeda dari III dan IV

In Conclusion

So, Gen X keatas, ini alasan Star Wars dimulai dari Episode IV, dan kalau nonton DVD-nya, emang Episode IV…

Dan untuk Gen Z… Ini alasan kenapa resolusi Star Wars I sampai III lebih bagus dari IV sampai VI… dan sejujurnya, ini very confusing at first, tapi pada akhirnya, dengan sedikit googling, dan niat… konek juga…

Tentunya ini berarti kalau kamu niat melakukan sesuatu, kamu bisa belajar hal baru! Itulah quote sakti hari ini!

Btw urutan nonton film dengan order kronologis timeline… Eps. I, Eps. II, Eps. III, Clone Wars (serial), Rogue One, Eps. IV, Eps. V, Eps VI, Eps VII, EPs VIII…

Sampai besok  🙂  .

Framing: Perspektif dan Boxing dari Media

Framing: Perspektif dan Boxing dari Media

Framing… Alasan media pada dasarnya sekarang telah menjadi suatu organisasi komersil. Framing disini tentunya berarti membatasi perspektif dari sebuah gambar, agar kita hanya melihat yang media ingin kita lihat, dan bukan gambar seutuhnya.

Tentunya di fotografi melakukan framing dan membatasi line of sight si kamera itu hal yang bagus, tapi kalau di jurnalisme? Framing mengurangi potensi dari si pembaca berita untuk mengutarakan dan memberikan opini-nya sendiri.

Media dasarnya bias… Ia akan menunjuk ke sebuah sisi cerita dan tidak menunjukkan sisi atau perspektif lain. Media juga dasarnya sangat subjektif, dan akan berusaha untuk highlight atau menunjukkan seseorang dari si sisi yang dipilih. 

Sebagai contoh jika politikus A memiliki media B, politikus A ini akan menggunakan siaran dan media tersebut untuk menujukkan misalnya, penghargaan, atau apa yang ia lakukan untuk memajukan sebuah desa misalnya. Tetapi jika politikus A ini ketahuan selingkuh, media B akan menolak atau bahkan tidak membahas sedikit pun topik ini.

Eh, tapi pas giliran politikus B yang saingan sama si A ini ketahuan masuk dunia narkoba, dia bahas habis-habisan dari perspektif yang bias.

Sama juga untuk siapapun yang memiliki media lain, dan sejujurnya, aku tidak mau terlalu menunjuk-nunjuk nama, karena itu juga membahas bias… ironisnya di artikel yang akan mengkritik bias.

Sebelum memulai, quote yang akan diutarakan hari ini adalah… “Information is the deadliest weapon.”

Langsung aja kita akan masuk ke artikelnya.

First Impressions

“You will never get a second chance to make a great first impression”

Or something like that…

Ini sebenernya innately psychological, dan kadang kalau kita gak tahu sama proses ini, ya nasib, udah jadi korban… Welp, ini literally ga ada hubungan apa-apa sama kenalan sama orang, tapi pada dasarnya manusia menyimpan informasi dalam clean slates. Dan yah, kadang kita subconsciously nyatet informasi di clean slate itu. Besar kemungkinan, sesuatu yang sebelumnya belum ada isinya itu jadi sesuatu yang negatif.

Ini sedikit menyedihkan dan pathetic mengingat bahwa banyak sekali hal di dunia ini yang hanyalah sebuah tumpukan kebohongan, atau… bukan whole truth. Seperti aku bilang diawal tadi, definisi framing itu hampir gak ada relasinya dengan kebohongan ataupun hoax. Tetapi framing adalah menutupi banyaknya perspektif yang ada, dan “memaksa” kita melihat satu-satunya perspektif yang tersisa.

Jadi, yah terkadang first impression ini merupakan satu dari beberapa hal paling krusial ketika media ingin memberikan stigma kepada suatu tokoh atau bahkan organisasi.

Coba… kalau mendengar North Korea, apa 3 kata yang tersirat? Kukasih 10 detik baru scroll ya… Scroll sampai ke bawah garis hitam itu.

 


 

Karena aku bukan mind reader, aku gak bisa nebak 3 kata atau frasa yang reader pikirin. Jadi aku mau nebak 5, dan kayanya 3 kata atau frasa yang kepikir gak jauh-jauh dari situ…

  • Kim Jong Un
  • Diktator
  • Bom Nuklir
  • Malnutrisi
  • Communism

Ada satu dari 5 kata itu yang tersirat? Itu kayanya karena stigma dan first impression yang buruk saja. Nyatanya, di Korea Utara sendiri meski memang merupakan suatu… well, kasarnya potensi pemicu World War III, dan iya mereka emang lagi bikin bom nuklir, dan udah punya… Kim Jong Un juga emang kaya diktator, terus kalau kita lihat mau detail mau gak detail, pemerintahan mereka emang tampak kaya komunisme. And yeah… malnutrisi 41% pada pertengahan 2017…

Tapi sebenernya, Korea Utara juga merupakan salah satu negara yang berpartisipasi di Konferensi Asia Afrika, dan pernah semacam “mensupport” anti kolonialisme, dan juga mereka punya hubungan baik dengan negara kita sendiri.

Tapi yah, siapa yang mau liat North Korea sebagai anti colonialism country, kalau google aja mensuggest “Flag”, “Nuclear”, “President”, “War”, dan “and South Korea” sebagai top 5 suggestion nya.

Of course ini bukan salah google, da mau gimana lagi emang yang sering disearch itu… Tapi kan orang-orang berpikir seperti ini hanya ketika melihat 3-4 berita. Hence, stigma dan stereotype dictatorship based government tersirat.

Framing

Nah, sekarang sesudah membahas first impression yang media akan manipulasi sampai entah gimana untuk orang-orang, kita akan masuk ke framing. Dan sejujurnya, ketika melihat ataupun membaca satu-dua berita, kita bisa ngebayangin sebenernya seberapa bias dan pihak apa yang media itu ingin ambil.

Untuk itu aku akan membahas topik yang kinda hits… ya itu penutupan Facebook…

Misalnya… coba klik link ini untuk berita dari Tribun Jabar…  http://jabar.tribunnews.com/2018/04/20/facebook-diblokir-bukan-hoaks-peluang-diblokir-semakin-besar-jika-ditemukan-hal-ini

Sekilas terbaca judulnya “Facebook Diblokir Hoaks, Peluang Diblokir Semakin Besar Jika Ditemukan Hal Ini“. Aku gak mau bilang apa-apa, silahkan judge sendiri. Opiniku udah mostly fixated di bagian yang aku buat italic. Baca artikel itu, yang ditunggu cuman audit-an doang dari pihak facebook atas data yang bocor. Selain itu facebook juga dibilang sebagai metode mengadu domba dan menciptakan hoax.

Sedangkan hoax-nya sendiri juga bukan salah si facebook, melainkan pengguna… Sayangnya aku gak bisa complain atas opini dari narasumber di berita tersebut… Tapi, sebenernya, masalah berikutnya dariku mengenai berita itu adalah fakta dia straight out ga mau nunjukkin sedikitpun opini orang Facebook dari situ…

Andaikan Facebook emang mau diblokir juga bukan masalah besar sih, tapi kan sebenernya kenapa gitu lho gak nunjukkin sedikitpun opini dari orang Facebook-nya atas kenapa audit info data bocor. Entah kenapa. Both sides of the story should have its say. Tribun disini tampaknya hanya mau menunjukkan opini dan negativitas dari pihak FB.

Untuk narasumber, atau opini karena pembuatan hoax dari FB-nya sendiri sekali lagi, aku gak mau complain. Itu udah teritori opini, bukan subjek framing. Honestly aku juga gak tahu apa opini yang Tribun bilang itu seutuhnya kata dari narasumber, tapi sekali lagi, itu bukan teritoriku.

Frame-nya udah jelas untuk kasus ini? Tribun mengambil perspektif pemerintah saja.

Aku akan tetap di topik menutup Facebook, tetapi dengan mencari berita lain di tempat aku baca berita… Tirto.id

https://tirto.id/ketua-dpr-sebut-menutup-facebook-bukan-tindakan-bijaksana-cHYz

Coba baca dulu beritanya ya…

Nah, dari berita itu, aku kepengen bilang aja bahwa kesan kenetralan ala Tirto itu sebenernya gak senetral berita Tirto pada umumnya, tapi ya dia cukup netral dengan mengambil perspektif frame yang lebih besar.

Dari judulnya saja, sebenarnya gak ada clickbait-nya sama sekali. Judul menarik gak harus clickbait kok. Opini dari sebuah pihak yang menentang pihak lain itu memberikan intrik yang baru, dan gak harus dikemas sebagai clickbait. Memasukkan opininya di judul sudah memberikan rasa penasaran.

Masuk ke beritanya… Pertama-tama, berita itu memberikan opini dari DPR, sebagai pihak ketiga yang gak langsung terlibat dalam kasus penutupan facebook. Di situ, Ketua DPR mengutarakan opininya dengan bilang bahwa Menutup Facebook itu gak bijak, dan itu disertai dengan opini dan argumen.

Selain itu, Kemenkominfo juga diberikan opini dan paragraf sendiri, mengutarakan hal-hal yang pihak FB perlu lakukan agar Facebook tidak diblokir karena skandal Cambridge Analytica.

Bukan cuma Kemenkominfo (meski tanpa ahli atau orang internal, dan hanya organisasinya yang utuh), saja yang diberikan hak bicara di berita tersebut. Facebook pun dibiarkan mengutarakan pendapat dan opininya.

Tidak seperti di Tribun tadi yang straight out menyangkal Facebook melakukan sesuatu, Tirto bilang bahwa ada perwakilan dari Facebook yang meminta maaf dan mengikut Rapat Dengar Pendapat. Opini dan permohonan maaf terkait kasus skandal itu-pun ada dan dicatat di berita itu.

Informasinya gak mau kubahas dengan detil, tapi kurang lebih kebayang lah ya? Toh beritanya udah ada link-nya di atas.

Jadi, menurutku frame-nya udah cukup jelas ya? Menurutku, artikel ini netral.

Nah dari Frame tersebut, baru kita melihat kesimpulan. Jangan ambil berita mentah-mentah, coba dianalisis dulu sedikit saja… tanyakan dirimu ketiga pertanyaan ini sebelum mengambil kesimpulan dari sebuah berita… Kalau mau hidup di zaman media dengan netral dan dengan clear sight, emang harus melakukan beberapa hal ini…

  • Pihak apa sajakah yang ada di berita tersebut?
  • Perspektif mana yang (paling) ditunjukkan di berita tersebut?
  • Apakah ada perspektif lain dari pihak yang belum ada di berita tersebut?

Nah, kalau emang mau netral mengambil opini dan gak kena frame yang dibuat media… Emang harus melihat ketiga hal itu. Dan jika ada satu saja pihak yang perspektifnya gak ditunjukkin, safe to say… berita itu bias. Dan andaikan ada informasi yang reader tahu nyata dari berita itu, jika emang mau melihat image yang digambar berita itu, gapapa, tapi coba cari perspektif lain… jangan sampai kamu kemakan sama first impression tadi

Hoax Versus Fake News

Ini topik yang masuk dalam framing… at least setidaknya menurutku ini adalah topik yang masih sangat relevan dengan framing. Kenapa ini relevan dengan framing? We’ll get there…

Hoax

Hoax adalah sebuah berita atau informasi  yang SENGAJA dibuat untuk mislead dan memberikan informasi palsu. Biasanya jika sebuah berita memutuskan untuk mengambil frame ini, pihak yang terugikan bisa dan akan dituntut sebagai sebuah organisasi yang memberikan informasi palsu.

Aku gak mau membahas Hoax dan melawannya, atau blah-blah-blah… tapi Hoax itu sebuah frame yang mudah sekali dibuat untuk menguntungkan suatu pihak. Dalam kasus politikus tadi, sangat mungkin kalau seorang politikus yang punya kekuatan atas suatu media membuat hoax yang detil dan cukup solid untuk frame (frame ini pun kalau ada yang ngerti) seorang saingan.

Information is truly the sharpest sword.

Fake News

Fake News… seringkali banyak orang gak bisa bedain antara Hoax sama Fake News. Tapi dimana Hoax dibuat dengan sengaja dan dengan full consciosuness dalam membuat beritanya, Fake News berarti si penulis berita gak tahu apa-apa yang dia omongin. Dia gak tahu apa yang dia tulis di berita.

Nah, Fake News berarti si penulis berita untuk frame suatu hal yang gak konsisten. Kaya semacam frame sebuah foto yang blur, dan ketika si jurnalis ditanyain itu fotonya apaan, dia gak ngerti. Kalau hoax adalah foto editan, Fake News adalah foto yang fotografernya sendiri gak tahu dia itu ngefoto apaan.

Filter your knowledge

Hubungan dengan Frame?

Karena frame konteksnya emang super sesuai dengan foto…

Ibaratkan berita sebagai foto… Seseorang memutuskan untuk frame sesuatu yang tidak nyata… Baik karena dia gak tahu itu gak nyata, atau dia sengaja edit itu foto biar gak nyata. Terus dia frame dan pasang di umum. Orang-orang percaya…

Really? You’d fall for that?

Framing disini bukan hanya dalam konteks perspektif, tapi juga dalam konteks kenyataan dan kebohongan. Jangan mau “ditipu” sama media yang gak ngambil whole picture dan crop banyak bagian dari gambar, ataupun mengedit gambarnya…

In Conclusion

Sekali lagi, kesan artikel ini dark.

Seolah-olah dunia ini tidak bisa dipercaya, dan media hanyalah fraud.

BUKAN! ITU BUKAN TUJUANKU! Curhat dikit… entah kenapa aku sendiri kalau menulis topik seperti ini memberikan kesan dark dan kaya conspiracy theorist. Selalu kesannya dark, and trust-no-one thing. Tapi gak, justru aku mau ngajak reader untuk bersama-sama bersyukur masih ada media netral dan positif, dan juga untuk filtering hal-hal yang benar dan yang tidak.

Aku pengen ngajak reader untuk berpikir lebih banyak, aku pengen ngajak reader untuk gak ngikutin flow mainstream, aku pengen ngajak reader untuk gak kemakan sama omongan seseorang tanpa tahu itu nyata atau gak.

Until next time!

Siapa Yang Akan Di”mati”kan di Avengers Infinity War?

Siapa Yang Akan Di”mati”kan di Avengers Infinity War?

Hmm, hmm, hmm… Sebagai fan MCU, dan juga komik-komikan marvel pada umumnya, menurutku, selain lokasi para Infinity Stones, juga penting untuk memberikan teori siapa yang akan mati… Dan sejujurnya, faktor yang perlu dilihat untuk film dengan budget, dan potensi profit sebanyak ini (mengingat bahwa masih akan ada sekuel dari film ini dan juga film-film sendiri dari para Avenger…) yang akan jadi faktor bukan cuman cerita… tapi kontrak si MCU, dan juga potensi profit dari si tokoh.

Yah, sayangnya ini bukan komik yang tinggal, “Udah, lu bunuh aja tuh Captain America… tar kita spin-off lagi”. Dikarenakan super cepatnya membuat komik jika dibandingkan dengan membuat sebuah film, maka spin-off sebagai alasan untuk menghidupkan karakter gak akan terlalu mudah. Oh, tentunya mengingat fakta bahwa spin off karakter bukan cuman menggambar ulang si karakter tapi tentunya mengganti aktor yang bisa se cucok Robert Downey Jr. untuk Iron Man akan… menarik.

Tentunya judulnya bilang di”mati”kan karena bagaimanapun juga faktornya bukan hanya cerita… Jadi gak bisa bilang meninggal, so let’s just consider one or two things here…

Faktornya banyak banget sekarang… (tanpa mengurutkan)

  • Internet reaction
  • Social-related stuff yang mungkin akan di post di Internet
  • Marketing
  • Cerita
  • Kontrak
  • Budget menyewa si aktor
  • Fans dari si tokoh
  • Dan banyaknya lagi…

Jadi ya… pikirkan dari potensi kontrak si bioskop, dan mari kita mulai secara alphabetical 😀 .

Ant-Man

Err… No, kayanya gak… Mengingat bahwa timeline Ant Man and The Wasp itu SESUDAH Infinity War, dan dirilis di bulan Juli, sesudah rilisnya Infinity War pada akhir bulan April ini, kayanya cukup obvious bahwa Scott Lang gak akan dibuat mati. Jadi, ya… tentunya di MCU pasaran Ant-Man yang semi komedi ini akan selalu ada, dan meski level penontonnya gak sebanyak, say Iron Man dalam terms tech based Marvel Movie, tetep aja ada orang yang suka nonton Superhero based movie with some comedy aspects in it…

Oh dan FYI, Ant-Man sendiri bukan bagian yang terlalu “tinggi” atau commercialized di Infinity War, tapi dia akan bermain peran kok. Don’t miss the funny stuff and acts from Ant-Man in the movie 🙂 .

Kesimpulan: Comedies are important! (Gak akan mati)

Black Panther

Uhh… Uhh… Uhh…

Jadi, pertama-tama, film ini super duper cocok dalam era post kolonialisme, yang sedang kita dan beberapa negara mantan di kolonisasi sedang alami ini. Black Panther juga mampu mengenai market Afrika dengan cukup baik. (meski dia di shoot di Australia)

Selain itu, Black Panther adalah salah satu film karya Marvel paling laku, dan dengan ngetrennya Meme dan joke Black Panther di negara kita sendiri, seperti Mba’ku, M’baku Jusuf T’challa, Tarian Khas Wakanda sesudah sambutan Pak RW dan Pak Camat, tentunya potensi profit dan gatebreaking untuk masuk ke pasar Afrika dari Black Panther sangat tinggi.

Ia kaya, ayahnya kaya, ia setia pada negaranya… Ialah, Jusuf T’challa

Selain itu udah ada sekuel, dan… yah, T’Challa kayanya gak mungkin di “mati” in sama MCU. At least not anytime soon.

Kesimpulan: Post Kolonialisme! (Gak akan mati)

Black Widow

Jadi, berikutnya kita kembali ke dunia Internet dan masalah sosial yang OMG sering pisan diungkit, dan juga dijadikan clickbait bedah buku… Feminisme… (seriusan, ini katanya udah jadi running joke 3 tahun di Sahabat Museum Asia Afrika, dan kata kakak-kakak disitu, masukkin Feminisme ke judulnya, dijamin setidaknya 50 cewe akan datang).

Nah, dengan sedikitnya tokoh perempuan di Infinity War, kalau Black Widow dibunuh, akan banyak sekali Feminism based posts nongol tuh namanya di Reddit, dan apa lah… Jadi, meski dalam banyaknya faktor lain (such as marketing, film kedepannya, fanbase) Black Widow jadi kandidat cocok, besar kemungkinan dia gak akan dibunuh kecuali Marvel mau dipandang sebagai sexist oleh beberapa fanatik feminisme di Internet…

Untuk film, setahuku banyak yang kepengen film Black Widow, tapi yah, kayanya gak bakalan ada… too bad. Mengingat satu dua faktor lain, kalau Black Widow akan ngilang dari MCU, alias kontrak Scarlett Johansson habis, gak bakal dibunuh.

Kesimpulan: Feminism! (Tipis lah)

Bucky Barnes (Winter Soldier)

Sebagai aktor, Sebastian Stan cukup kebuka, dan diizinkan studio untuk membuka satu atau lebih hal ke umum… dan setahuku Sebastian Stan sudah disewa untuk 9 film, dan setahuku Bucky baru nongol dengan role penting untuk 5 film? Jadi, Bucky masih ada hutang kontrak 4 film lagi sama Studio.

Selain itu, Bucky sendiri juga tampaknya akan menjadi temannya T’challa di film-film Black Panther… tampaknya dia dapet rumah baru di Wakanda… jadi… nope, he’s not gonna die…

Kesimpulan: Wakanda Forever! (Gak akan mati)

Captain America

WAHAHAHA!

Sesudah Wolverine yang katanya immortal itu dibunuh karena kebanyakan disiksa, ada cukup banyak teori di Internet, bilang bahwa karena Chris Evans itu main dengan jenggot, dan Hugh Jackman juga berjenggot pas dia mati, ada teori yang bilang Captain America akan…. dibunuh X-X

Yeah jenggotnya doang, namanya juga teori…

Tapi sebenernya masuk akal lho… Udah mah Chris Evans sendiri sebagai aktor gak mau main jadi Captain America lagi, potensi film berikutnya rendah, dan Chris Evans kayanya sudah cocok untuk pensiun dan gantung perisai.

Kesimpulan: Jenggot itu penanda akan mati untuk orang dengan regeneratif skills (Tinggi)

Doctor Strange

Pleaseeeee, jangan bunuh Cumberbatch!

Kebanyakan fangirl nya kayanya ini mah… (including my mom apparently)

Dalam aspek marketing, potensinya rendah untuk ngematiin Stephen Strange karena film seperti ini cukup kena ke philosopher dengan membahas Astral Realm and stuff. Well, with the market opened untuk fangirl, mystic things dan sequels, tentunya, Doctor Strange masih rendah kemungkinannya untuk dibunuh.

Tapi yang masih aku gak yakin itu, apakah Time Stone-nya akan diambil sama Thanos atau gak? Dan mengingat source power utamanya Doctor Strange itu dari Eye of Agamotto, maka umm… Mari kita lihat output Doctor Strange tanpa Eye of Agamotto kalau emang diambil Thanos.

Kesimpulan: Filsafat dan Mistis! (Tipis lah)

Falcon

Mengingat kesempatan Captain dibunuh, gak kecil-kecil amat, jadi ada kemungkinan… Falcon yang jadi wingman (pun intended) dari Steve Rogers ini akan mengambil peran seorang patriot ala Steve Rogers.

Falcon bisa aja sih dibunuh, mengingat kurangnya pasar. Tapi menurutku dengan lack of fanbase Falcon ini, membuat film segede Infinity War momen yang kurang pas buat ngebunuhnya. Kurang… monumental, fenomenal, atau apa lah kata yang pas…

Apakah mungkin akan ada film standalone Falcon? Kayanya gak sih, tapi siapa tahu 🙂

Kesimpulan: Wingman! (Tipis lah)

Guardians of The Galaxy

Sekali lagi, komedi! Dan kali ini adalah sebuah tim yang memang ngakak, dan juga punya pasarnya sendiri.

Sebagai currently satu-satunya film yang explore Marvel in Space dan merupakan tim dengan key hero-nya sendiri, probabilitas mereka dibunuh super rendah. Kecuali Nebula yang udah bilang di Vol. 2 bahwa dia ingin YOLO dan vengeance ke Thanos… terus jamin kalau Nebula mau nyobain aja vengeance-nya… kalau gak gagal dia mati, dia bakal ngebunuh Thanos dengan catatan dia mati…

Movie-wise? Yeah ada juga yang namanya… Guardians of the Galaxy Volume 3! Kalau mereka dibunuh, atau siapalah bakalan dibunuh, kayanya bakalan di film standalone punya mereka sendiri.

Kesimpulan: Film ini film yang bukan Avengers tapi feature a team! (tipis lah, kecuali Nebula)

Hawkeye

BUNUH! BUNUH! BUNUH!

Ini opini: Honestly, Hawkeye itu rada lame… sayangnya. Dia bisa aja punya swag yang rada banyak, tapi gak, dia rada lame, dan terlalu… gak cocok buat dibiarin hidup, atau dibuat film standalone-nya.

Ini fakta: Jeremy Renner sendiri udah stuck and nyangkut di role Hawkeye cukup lama. Like looooonggg looooooong time, 6 tahun gitu? dan sejujurnya, dengan banyaknya stuff aneh baik secara tech di Wakanda, atau mistis di Kamar Taj, maka… kayanya potensinya rendah untuk film Hawkeye. Selain itu dengan banyaknya human tech-y stuff, dan makin banyak hal aneh di MCU, makin tipis kemungkinan human touch dari Hawkeye akan kepake. Currently mungkin Jeremy Renner semacam aset menunggu untuk dimatikan, atau untuk dipensiunkan oleh MCU.

Kesimpulan: Human touch tidak dibutuhkan lagi… (Mungkin?)

Hulk

Hulk itu tokoh yang perannya di MCU itu justru sebenernya… gimana ya… Kurang krusial dan meaningful. Kadang malahan Bruce Banner gak bisa menahan alter ego-nya dan asset miliknya dibalikkan menjadi beban, yang malah merugikan tim Avengers. Dan kayanya mulai boring di Avengers of Ultron pas dia berkali-kali dimanfaatin temper-nya.

Tapi baru saja di Thor: Ragnarok, signifikansi-nya dan peran humoris yang Hulk, (bukan Bruce Banner) bisa bawa… cukup dan emang tinggi, jadi dengan gaya Thor yang makin nyantai dan lucu abis diputusin Jane (kayanya karena kemahalan buat nyewa Natalie Portman), ini cocok untuk dibuat terus friendship antar Thor Banner, dan Thor Hulk ini.

Kesimpulan: Bros Forever, Hulk and Thor (Tipis)

Iron Man

Ah, Tony Stark… arrogant genius yang kickstart Marvel Cinematic Universe.

Ah, Robert Downey Junior… Aktor yang kemahalan untuk bisa disewa dan dibuatkan banyak film

Ah, Iron Man… tokoh yang sangat ikonis, dan sepertinya cocok untuk dibunuh dengan momentum yang dibawa di Infinity War kali ini.

Jadi, berdasarkan 3 persona yang secara teknis orang yang sama itu… Tampaknya banyak potensi untuk me “mati” kan Iron Man di Infinity War, dan ini opini… Kayanya dia bakalan mati untuk menghemat budget dan juga CGI untuk semua Iron Man suit yang dia pernah buat

Kesimpulan: Budget bisa digunakan untuk hal lain (TINGGI!  BANGET!)

Loki

Fangirl Tom Hiddleston… please, oh please.. jangan marah…

Untuk penikmat cerita sejati, Loki yang gak jadi mati sejumlah banyaknya dunia menurut para Asgardian (9 kali) ini… Mulai menyebalkan… Yeah,  sesudah usil ganggu, dan comat-comot ini, terus usil bantuin para pahlawan, Loki yang swag dan keren ini, sebenernya bisa banget dibunuh…

Mungkin entah sama Thanos pas ngasih Tesseract, atau entah kapan… tapi intinya, Loki mulai “ngebosenin” di MCU, dan potensi pelanjutan ceritanya makin rendah… kecuali mau dibuat gak jadi mati lagi…

Tapi mungkin aja sih mengingat reaksi internet itu mungkin, dan jika fangirl posting ke sosmed dengan muka sebel… yah… we’ll see… apakah dia akan dibiarkan hidup atau di”mati”kan.

Kesimpulan: Loki membuat aku binguuuuuuuuuuung… (Mungkin?)

Scarlet Witch

Scarlet Witch memberikan peran adolescence, dan sedikit inexperience juga. Meski dia gak entirely human, kayanya untuk memberikan human touch ke sesuatu di tahun 2018 ini tidak terbatas ke Hawkeye style yang literally human… Tapi dengan menunjukkan superhuman yang super vulnerable, dan meski sangat kuat, nyatanya dia masih manusia…

Jadi, Scarlet Witch itu calon banget buat gak dibunuh, sebagai pengganti human touch Hawkeye yang menurutku rada… boring. Dan Scarlet Witch sendiri punya kekuatan juga untuk memutar realitas dan menyelamatkan beberapa hal yang dirusak Thanos… Kayanya Wanda Maximoff masih lama dari mau ketemu sama Pietro…

Kesimpulan: Jangan bunuh aku dulu, biar aku tambel dulu ini kerusakannya… (Tipis lah)

Spider-Man

Nggak… Ada sekuel yang lagi dikerjain… Tom Holland dan immaturity-nya ini super cocok untuk mengisi gap humanity yang hilang tadi. Dan terlalu banyak geek kaya aku menjadikan dia sebagai role model, karena dasarnya karakternya mirip 🙂 . Mengejar cewe, tapi gak bisa, geek-y, doyan kaos, pinter (ini mah kayanya ngaku doang ya 😛 )…

Tom Holland juga baru banget mau make kostum buatan Om Stark, dan aku gak sabar ngeliatnya!

Kesimpulan: Geeks will rule the world (Gak akan mati)

Thor

THOR! Banyak yang ngira dia bakalan mati, karena perannya mulai membosankan sayangnya… Tapi ini tidak mengurangi fakta bahwa dirinya itu malahan mendapat peran baru sebagai raja dari Asgard, dan meski kehilangan mata-nya, ia tampak makin bijak, dan makin kece… Jadi, Chris Hemsworth yang makin keren ini, masih punya potensi market.

Mengingat Thor udah diputusin sama Jane Foster, yang ternyata juga seorang aktor dengan harga sewa mahal, dan kebetulan juga frustrasi sama The Dark World dan lain-lain, jadi diputusin off-screen, alhasil… potensi untuk love life di future films akan ada… Kalau emang mau di expand ke situ.

Terus banyak geek kepengen punya Mjolnir yang udah gak ada juga, dan kalau Thor-nya gak ada gak bisa jualan Mjolnir dong 🙁

Kesimpulan: Thor is the god of hammers, not thunder (Mungkin?)

Vision

Hiks… Hiks… Hiks…

Sedih deh… Kalau nonton trailer Infinity War aja kan keliatan ada ekstraksi Batu Akik paksa dari jidad-nya si Vision ini. Dan sebenernya kayanya sangat mungkin dia mati karena otaknya dia dicopot.

Selain itu, potensi dia dibunuh demi membuat penonton nangis beres tahu bahwa ada some form of romance diantara Vision sama Scarlet Witch… juga jadi potensi…

Dari market, yang ada malahan orang kangen sama Jarvis :/ tapi tentunya ini tidak mengurangi kesenangan dan happiness orang kalau liat Vision yang canggung tapi bijak itu… Well… We shall see.

Kayanya dia bakalan dibunuh, dan Wanda Maximoff akan kehilangan Vision, dan Pietro dalam 2 film Avengers… kasihan…

Kesimpulan: Romeo and Juliet bagus karena endingnya tragis… bunuh aku! (TINGGI! BANGET!)

In Conclusion

Sayangnya dunia perfilman sudah berubah. Sekarang komersil juga menjadi faktor produksi film, terutama dalam film sebesar ini yang bisa branch out menjadi puluhan film standalone. Tentunya, sekilas mengecewakan pisan, kalau tahu story ini sebenernya dilatar belakangi sebuah… marketing dan merchandising…

Tapi, ini tidak berarti bahwa ceritanya jadi gak bisa dinikmati dong…

Ceritanya akan tetep fun, meski dia ada semacam backstage action dalam bentuk marketing dan selling stuff, dan juga… yah… lot’s of stuff…

Anyways, until next time!

Codenames Duet: Belajar Vocabulary Melalui Game

Codenames Duet: Belajar Vocabulary Melalui Game

Review dari board game baru beli ini… Codenames Duet.

Sekilas, board game ini, terbilang meh… karena sebenernya dia cuman beberapa set angka dan kata yang semacam generated by teknik mengocok kita, dan sebenernya dia sangat rely ke human interaction… Sekilas, jika kita ga mau ngikutin cerita dari board game-nya sendiri, it’s a boring game… tapi gak kok, cerita di board game-nya membuat ini lebih menarik…

Tetapi, harus diakui, dia super seru game-nya, dan meski keodongan, dan kelemahan dari diriku sendiri sebagai pemain, tetep, game coop ini super cocok untuk mengisi waktu kosong 15-30 menit yang kamu punya itu, tapi gak tahu mau dipakai apa.

Regardless, langsung aja direview deh board game ini.

Sekilas Codenames Duet

Board Game ini adalah spin off dari Codenames original buatan Vladimir Chvatil. Dimana jika Codenames adalah team game yang idealnya dimainkan berenam, Codenames Duet ini bisa digunakan berdua, karena dia bukan game kompetitif melainkan cooperative.

Tentunya dari namanya, Codenames Duet ini cocok untuk dipakai ngedate, karena emang dia mainly di design untuk dimainkan berdua saja. (CIEEEEE berduaan) Tetapi, Duet ini masih bisa dimainkan oleh berapapun orang, dalam sebuah tim.

Duet ini masih dibuat oleh Czech Games, yang juga membuat board game beken lainnya, Through The Ages, yang butuh 12 jam untuk sebuah 4 player game, Adrenaline, yaitu semacam simulasi Third Person Shooter dalam board game, dan tentunya Original Codenames, yang udah keluar versi bahasa Indonesia-nya 😀 .

Duet ini didesain oleh desainer Codenames original-nya, Vladimir (or Vlaada) Chvatil, dan juga dengan bantuan temannya, Scot Eaton.

Story and How to Play

“Bro, ini gimana nih” tutur Code, seorang agen yang kurang beruntung…

“Aduh, gak tahu deh, gimana bisa coba, kita sebagai agen nyangkut di tempat umum kaya gini” Jawab partner agennya dia, Names.

“Ya udahlah, nasib.. terpaksa kita nemuin temen-temen kita. Waktu kita makin nipis lho, toh kita udah tahu daftar kode yang mungkin mereka pake”.

“Semoga aja kita gak ngomong ke si assassin, yang ada kita dibunuh bro…”

“Alah, kita kan agen, bisa lah pokoknya”.

Jadi, sekilas, ceritanya kita dan pasangan kita adalah agen rahasia yang mesti ngumpulin 11 teman agen kita, tanpa gak sengaja ketemu sama Assassin. Sounds simple enough right? Welp, umm… yah sekarang kita masuk ke how to play, dan gak, sebenernya sedikit… tricky

Step 1, kocok beberapa, like a lot in fact dari kartu yang ada di board, dan tata dalam bentuk seperti ini, 5 X 5… By the way satu kata itu dua sisi, dan sekali prep bisa buat dua kali main.

Nah, beres menata, ambil salah satu code card yang ada… dan cobalah bandingkan data yang ada di code card dengan chart di halaman ini. FYI, pastikan pasanganmu tidak melihat codecard sisimu, karena itu akan memaksamu mengganti code card.

Pasang code card seperti ini… Dan boleh dirotate kanan kiri, tapi jangan diputar depan belakang.

Di gambar itu, ada 3 warna, hijau, putih dan hitam. Untuk yang hijau berarti codename dan kata-kata yang benar, alias agen temanmu. Untuk yang hitam berarti si Assassin, alias kalau kamu deketin tuh assassin, bukan cuma patah hati, tapi bener-bener mati. Untuk yang putih itu, hanya orang awam yang reaksinya adalah… “Ni orang bilang apa sih?”.

Nah, jadi gimana… Apa yang dimaksud dengan codenames?

Bandingkan kata-kata dan chart yang sudah ada… Cari sebuah kata atau frasa yang berwarna hijau agar pasanganmu bisa korelasikan si kata itu dengan misalnya, dengan kata diatas, aku kepikiran “KAY! Guitar, Record, dan Country, kayanya cocok buat clue music nih”. Jadi aku bilang ke pasanganku, “Music” dan juga sebuah angka dari 1 -3, yang berupa jumlah codename yang bisa ditemukan dari clue disitu… Alhasil, pasanganku menebak ketiganya dengan benar, karena yaaay!

Nah, sesudah sukses… silahkan tutup seperti ini…

Tutuplah dengan agen berwarna hijau… Terus kalau si pasangan kita nebak yang warnanya hitam gimana? Yah, kamu langsung kalah dan mesti beres-beres dari awal, lalu mengulang, karena HORE! Game Coop! Kalau gak semua menang, semua kalah.

Tapi kalau pasangan kita nebak putih… nah…

Di atas itu ada chip waktu yang berwarna hijau? Setiap kali memberikan clue, salah satu chip hijau itu dibalik, menandakan berkurangya waktu kita, menjadi muka seorang… yah intinya itu penanda waktu saja… Kalau ada yang salah menebak, tapi bukan warna hitam, maka salah satu penanda hijau itu dipasang seperti di foto atasnya… Sebagai warna putih. Dan itu juga berarti waktunya berkurang satu.

Kita kalah juga kalau waktu, alias chip warna hijau habis… Jadi yaay, game coop! 🙂

Oh dan catatan, code card hanya berlaku dari sisi si pemberi clue, dan jika penjawab memiliki warna hitam untuk codename di clue atas pasangannya, maka… aman dan salah satu warna hitamnya tertutupi.

Tips mendasar: Cari sinonim dan putar definisi semua kata yang ada di chart, dan juga jangan kasih clue kalau di code card kamu warnanya hitam, meski clue itu efisien, kalau ada warna hitamnya cari clue lain… daripada kalah.

Also, kamu dan pasanganmu menang jika chip hijau habis!

Good luck 😀 Cause… It’s hard… 🙁

Sekarang baru kita review!

Review:

Review pendek dari Codenames, baik hal + nya dan – nya

Memanfaatkan Waktu Luang

Tentunya, Codenames, baik dari versi original dan yang duet ini super cocok untuk waktu luang 15-20 menitan, karena dengan prep dan juga bermain waktu yang akan terkonsumsi sama kok kaya satu match Mobile Legends. Bedanya yang satu mengajarkan kita perbendaharaan kata!

Selain itu, game kilat ini cocok juga untuk orang yang gabut, karena meski dia mikir, mikirnya codenames ini gak terlalu “banyak”, dan dia bisa menjadi semacam vitamin anti gabut. Karena berusaha connect the dots antara satu dan dua hal itu biasanya membuat orang yang gak mau mikir jadi mau mikir 😀 .

Dan sejujurnya short playtime, dengan real thinking yang ada di Codenames ini bisa berarti dia akan memanfaatkan waktu luang dan nyantainya kita buat komunikasi dan nambah-nambah vocab.

Communicate

Komunikasi itu super penting di game kayak codenames gini, dan sejujurnya akan jauh lebih mudah jika kita mengenal karakter seseorang yang menjadi pasangan kita… Kenapa? Well, semakin sering kita ngobrol sama orang, semakin gampang juga kita tahu kalau orang ngomong record, maksud dia record teh apa musik, merekam, atau record kriminal?

Nah informasi kecil yang didapat melalui komunikasi ini yang bisa merubah dan juga diterapkan di Codenames. Sebenernya pas mainnya karena gak boleh ngomong diluar clue, dia gak terlalu cocok untuk digunakan sebagai metode komunikasi, tapi, main Codenames Duet ini jauh lebih mudah dengan orang yang kamu kenal.

Jadi, sebenernya ini poin plus, karena melalui Codenames Duet kita akan makin “kenal” sama seseorang, dan diluar main, kalau orangnya kepo-an, juga akan membuatmu makin mau kenal sama seseorang…

Artwork Menarik

Refer to this pic and just trust me…

Artwork orang awam, atau bystander-nya tentunya cocok, mulai dari snowman, board game geek, dan juga pizza delivery guy…

Untuk artwork agent, dari kanan atas ke kiri, terus turun… Patrick Stewart, Will Smith, Halle Berry, Jennifer Lawrence (I guess), Helen Mirren, and Jason Statham…

Yeah, dia rada resemble beberapa aktor yang mungkin pernah jadi agent di sebuah film… Not so sure…

Kurang Cocok Untuk Party Game

Yah sayangnya, Codenames Duet ini cocok untuk 6 orang kebawah, dan paling fun kalau berdua sebenernya. Game-nya memang dedesain untuk sedikitan, dan untuk orang yang hanya main board game berdua…

Begitu banyakan aja dikit jumlah pemainnya, misalnya 6, 8, 10, 12, akan jauh lebih Ideal dengan Codenames Original, dan untuk itu, game-nya competitive, jadi gak bisa semua senang…

Word Knowledge Reliant

Dia super rely ke pengetahuan kata dan vocabulary…. Ya, ini hal bagus sebenernya, tapi kalau kamu gak mau overthink dan kurang knowledgeable bahasa Inggrisnya, maka ya… Akan kesusahan.

Aku gak yakin apakah ini hal positif ataupun negatif, tetapi memang ada board game yang bener-bener rely ke skill kita di dunia nyata. Dan yah, sayangnya codenames merupakan salah satunya.

Sejujurnya tidak disarankan membeli Codenames Duet kalau…

  • A) Males belajar bahasa inggris (silahkan beli Codenames biasa sajah, sudah keluar versi Bahasa Indonesia)
  • B) Gak mau expand vocabulary (silahkan tumbuhkan niat expansion vocab dulu)
  • C) Gak punya temen main (silahkan cari teman main dulu, atau pacar, toh mainnya bisa berdua)
  • D) Kompetitif, dan kepengen menang (silahkan main board game kompetitif)

Jadi ya, selain 4 alasan itu, Codenames Duet ini compact,  fun dan super playable

In Conclusion

Enjoy playing board games!

Seriusan segitu aja… aku tak punya conclusion lain…

Until next time 🙂

Programming: Skill Penting Di Era Digital

Programming: Skill Penting Di Era Digital

Jadi, sering banget aku nyelipin dikit aku ngajar programming. Dan, akhirnya, akan ditulis juga, yeay…

Tulisan hari ini akan showcase beberapa hal kenapa belajar programming itu penting di abad ke 21 ini. Dan mungkin yang udah punya anak dalam kisaran umur 8-13 mau nitip anaknya ke aku di Kota Bandung ini dan belajar Programming? Monggo aja sih…

Well, mungkin bisa tinggalkan comment dan akan aku email kontak-nya ya…

On topic. Artikel hari ini akan membahas kepentingannya belajar programming di abad ke 21, sebuah skill yang memang kepakai, dan semoga tidak akan di take over oleh Artificial Intelligence…

Shoutout ke Procode CG untuk mengajarkanku programming dan mengizinkanku mengajar disana, sampai aku bisa membuka kelas sendiri. Terima kasih 🙂

Anyways, juga akan ada hasil programming dengan Turtle juga selama 6 minggu kemarin.

Life Skill

Definisi Life Skill ini gak boleh solid. Dia sesuatu yang harus fluid dan mengikuti jaman-nya. Mungkin di zaman industri, life skill paling berharga adalah… misalnya menjahit. Meski sekarang skill menjahit masih terpakai, tentunya tidak salah juga belajar life skill yang lebih sesuai dengan zamannya.

Pada zaman informasi dan digital ini, tentunya life skill yang paling penting dan sesuai zaman adalah programming. Di Indonesia sendiri, dari banyaknya fakultas, STEI, atau Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB adalah yang paling diminati. Meski untuk memasukki STEI sendiri skill programming semacam irelevan… Jika nanti memang ingin kuliah di bidang ini, headstart dan iseng-iseng nyoba make bahasa kaya Python dan lain-lain ini akan sangat membantu.

Intermezzo dikit, survival skills juga akan selalu terpakai, dan bisa dibilang, sangat sedikit life skill yang gak akan kepake lagi di masa depannya. Karena ironisnya, ketika zaman industri mempermudah penciptaan sebuah baju atau meja, dasar itu… yang namanya manusia ketika ada suatu hal yang gampang dibuat, 20 tahun kemudian harga baju atau meja handmade naik…

Nah, jadi alasan pertama untuk belajar programming adalah, ini life skill yang sekarang sangat relevan pada zamannya.

Fungsi dan cara kerja

Fungsi… kata yang bisa jadi ambigu karena programming memang punya istilah fungsi. Tapi, fungsi disini maksudku adalah mencari tahu cara kerja suatu hal…

Aku pernah main DOTA, #ngakuaja…

Dan sebenernnya fase aku main dota ini mirip-mirip dengan fase aku mulai belajar programming… Well, sesudah mencapai titik yang rada dalem, aku akhirnya kayak ngeh gitu… Oh, jadi kalau mau ngeprogram si karakter A, caranya gini-gini-gini. Ya… mungkin pakai analogi aja deh… Anak-anak zaman sekarang, atau mungkin Kids Zaman Now itu kekeuh main game, dan emang super suka make sosmed, ya, itu kayanya nasib… Aku sih no, tapi… kalau yang yes mau digimanain lagi…

Nah, kalau anak-anak belajar programming, setidaknya sosmed atau game ini gak bakalan bener-bener in vain, karena well, dengan skill programming mendasar, anak-anak bakalan mencoba connect the dots antara kedua hal ini… Karena dasarnya mereka dibuat oleh kode yang mirip-mirip, meski pada skala berbeda…

Untuk analogi… Misalnya internet, sosmed, dan apapun yang ada di HP itu di analogikan sebagai mobil, nah, si anak-anak ini diajarin cara nyetir mobilnya, dan sering pisan nyetir mobil itu. Kalau anak-anak itu diajarin engineering maka dia bakalan tahu cara si mobil itu jalan, dan bensin itu memutar mesin, yang memutar roda, dan rodanya berputar membuat mobilnya jalan.

Setidaknya dengan logika dasar itu, si anak juga bisa membuat suatu hal yang meaningful dan berguna, meski tidak bisa digunakan di real life layaknya sebuah mobil yang jauh lebih kompleks dari simple engineering, karena harus mikirin enak diliat lah (dalam kasus app dan game: Grafik), speedometer (user interface), fuel consumption (battery consumption), speaker, klakson (audio dan musik) dan lain-lain…

Tapi dengan skill programming mendasar, tentunya meski tidak bisa membuat mobil yang berjalan dan siap jual, membuat mesin sederhana untuk berputarnya saja bisa dong…

Nah itu lah pentingnya untuk tahu fungsi dan cara kerja suatu hal…

Persistensi

Waduh ini mah sebenernya suatu masalah yang juga bisa diatasi dengan banyak cara…

Programming salah satunya kok 😉 tetapi aku juga membahas sedikit tentang menulis dan cara itu membuatmu lebih persisten… Silahkan cek di link ini

Nah, kenapa seorang programmer harus persisten? Intinya, sebuah tantangan di programming gak bisa asal aja di atasi… Karena sebuah programmer yang bener-bener talented itu harusnya bisa memastikan suatu masalah tercover tanpa banyak lubang yang membuat bug, atau ngadatnya sebuah proses (proses programnya, bukan proses di dunia nyata).

Believe me, persistensi adalah hal yang sangat susah untuk didapatkan, tetapi kadang meski “maksa” juga, persistensi dapat didapatkan melalui cara yang unik, hanya saja caranya berbeda, dan tergantung orangnya. Ada yang harus persisten melawan challenge, ada yang gak persisten ngelawan challenge, tapi persisten dalam berkreasi…

Dalam konteks programming, seseorang harus persisten tidak hanya dalam menciptakan, tapi dalam membenarkan dan memperlembut jalannya program. WADUH itu mah… kalau ngebenerin kode, kita harus mau niat ngebaca dan ngebenerin, karena satu titik dua kelewatan dalam program 10000 line, maka ya… err… silahkan dicari 🙂

Selain itu, menciptakan program bukan hal yang susah-susah amat. Jauh lebih susah untuk memperlembut si program ini, biar dia yang tadinya kasar dan gak nyaman buat user jadi sesuatu yang lebih nyaman, gak banyak bug, dan juga lebih enak untuk dipakai…

Intinya, persistensi itu suatu hal yang dapat ditemukan melalui programming…

Creative Thinking

Berpikir kreatif… Ini suatu hal yang masih sangat relevan dengan persistensi…

Andaikan seseorang persisten, tapi dia gak mau berpikir kreatif, dia gak bakalan bisa nyelesain tantangan itu… So far sih, biasanya persistensi dan creative thinking ini relationship dua arah… Kalau orang berpikir kreatif, tapi gak persisten gak bakalan bisa selesai, kalau orang persisten, tapi gak terlalu kreatif mikirnya… ya… gitu deh.

Khusus untuk persistensi dan creative thinking ini, sebenernya dia semacam manfaat, tetapi menjadi alasan juga… Dengan sering-sering programming, seseorang akan mau berusaha untuk berpikir kreatif, dan jika dia gak bisa berpikir kreatif, dia akan stuck di sebuah challenge.

Ini semacam benefit karena, ini suatu hal yang seseorang bisa dapetin dari sering-sering programming. Dia akan mau mencari jalan lain, kalau jalan ini gak jalan, dan dia mau coba metode A sambil menimbang bahwa si A lebih efisien dari metode B.

Dan tentunya, creative thinking ini bukan hanya manfaat yang “stuck” di Programming doang. Dia akan pada akhirnya pindah dalam problem solving di dunia nyata… Course, ini penting dong…

Nah off topic dulu, sebenernya programming ini bisa saja diajarkan melalui suatu hal yang membutuhkan creative thinking. Kaya misalnya ngerjain maze, tapi maze ini mesti manual, dan gak boleh pake pensil melainkan lisan. Atau misal ngestack cup pakai perintah lisan… Yah banyak lah metodenya 🙂

Efisiensi

Efisiensi… Efisiensi… Efisiensi…

Ini hal yang seringkali didebat banyak orang… Efisiensi atau efektif? Jadi, efisiensi itu berarti… mendapatkan hasil semaksimal mungkin tapi dengan effort sepantasnya. Effort yang dikeluarin untuk hasil yang didapat sesuai.

Ini perlu di programming. Karena kadang ada program yang hanya melakukan A, tetapi butuh dikerjakan dengan WXYZ. Sedangkan juga ada program yang melakukan BCDEF, dengan pengerjaan V doang. Jadi, programmer yang talented, atau skilled biasanya bisa mengerjakan sebanyak-banyaknya, dengan kode seminim mungkin.

Ada joke di bahasa C++ kalau kita nulis variabel, bisa diketik dengan ;  sesudah variabelnya, dan juga bisa diketik dengan Enter, lalu ; didepan variabel yang baru.

Well, sebenernya ini gak ada bedanya, hasil keluar programmingnya sama-sama aja. Tapi kedua cara cocok dan masing-masing bisa menghemat 3 keystroke jika digunakan dengan benar. Kadang kalau nggak peduli sih… gak ngaruh… Tapi ya… kalau emang mau efisien banget, wah! Cucok ngehemat 3 keystroke dengan mencet ; dan Enter ; .

Kalau gak ngerti joke-nya gapapa, emang ngebingungin. Tapi intinya, programmer C yang super efisien bakalan merhatiin ; dan enter-nya mereka karena itu akan menghemat.

Selain itu, efisiensi disini tidak sebatas teks, tetapi juga untuk berpikir. Programmer yang skilled akan menyuruh komputernya untuk mengerjakan lebih banyak dengan perintah yang minimum… Yah, mungkin bakalan rada bingung, tapi begitulah.

Untuk menyimpulkan chapter ini, efisiensi disini dapat dilatih dan didapatkan dari programmer yang persisten. Semakin efisien sebuah programmer, maka akan lebih mudah juga untuk menyelesaikan kode tanpa harus banyak-banyak memberi perintah. Tentunya, ini mungkin saja bisa tercermin di dunia nyata, tergantung orangnya juga sih, kalau aku gak… dan kalau aku ngakunya iya, siap-siap diomelin Bubi… “Kamu tuh mungkin programming efisien, nyuci baju aja mesti 4 load”. Atau apa lah… 😀

In Conclusion

Btw, ada sedikit gangguan dari wordpress, sehingga hasil pekerjaan bulan kemarin akan di posting di link lain, yang nanti akan ada link-nya disini…

Nah, tapi untuk kesimpulan hari ini… Segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Dan terkadang manfaat itu bisa langsung, tidak langsung, ataupun hanya sebuah trait atau personality change saja… Nah, tetapi, jika diberikan sebuah kata manfaat, manfaat itu relatif 😀

Manfaat dari narkoba atau rokok misalnya, apaan coba… Tanya ke addict kedua hal itu, pasti ada manfaatnya. Jadi sebenernya manfaat itu gak selalu positif lho.

Nah, untuk itu sebenernya penting untuk introspeksi diri dan melihat apakah manfaat yang kita rasa kita dapatkan bagus atau gak? Cocok dan worth-it gak? Kalau gak cocok kan sebenernya… rada-rada redundan. Karena sebenernya konyol lho… 🙁 kalau kita melakukan atau membeli suatu yang dirasa ada manfaatnya padahal nyatanya gak ada manfaatnya.

Oleh karena itu, disinilah dimana critical thinking dan creative thinking play a part. Kalau kita mau kreatif, mencari manfaat bukan hal yang susah. Kalau kita kritis, kita bisa tahu manfaat hal yang kita cari itu beneran bermanfaat, dan bukan cuma asal ngomong doang.

Until next time 🙂 semoga artikelnya enjoyable…

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Suatu malam, pasnya di kuliah terakhir, kita membahas sebuah film. Film itu membahas ke evolusi pikiran manusia, dan bagaiman kita sebagai spesies akan (pas-nya sudah sih) evolusi dari kemajuan agrikultur, terus industri, terus sekarang komunikasi, dan sampai akhirnya… kita akan bersatu pemikirannya.

Topiknya tentunya sangat relevan dengan interconnectedness. Dan banyak quack science/filsafat lagi…

Jadi, hari ini, aku akan membahas tentang si film ini, dan ilmu filsafat yang ada di dalamnya, tetapi mengemasnya dalam konsep teknologi, programming dan AI… Lagi tentunya. Sebelum artikel ini ada juga artikel AI yang lain, dan bisa dibaca dengan klik link ini…

Tentang filmnya… Film-nya sendiri film lama, dan judulnya udah aku lupakan, karena nginget judul itu super susah, dan juga nginget nama pembuat film-nya juga… susah… Tapi dia membahas kemiripan banyaknya hal dalam alam dan kemajuan manusia sebagai spesies. Orangnya sendiri merupakan expert computer science, yang belajar filsafat timur, dan juga medis, tetapi seriusan, aku gak inget namanya… Dan googling dengan keyword “Computer Science Expert with medical and philosophy background” tidak menghasilkan apa-apa.

Untungnya aku inget film-nya itu film tahun 80-an, kalau gak 83, 85, dan atas dasar itu… film ini sudah cukup lama gak dibahas, jadi mari kita bahas 😀

BTW Kemungkinan AI akan dibahas sesudah chapter Pattern ini, jadi jika gak minat baca tentang pola, maka silahkan di skip…

Patterns

Segala sesuatu dapat dimulai dari beberapa pola. Dan di film ini ditunjukkan bahwa dari gambar yang diambil dari bulan. Bumi dari luar angkasa sangat mirip dengan beberapa perumahan di US jika diambil dari atas pesawat.

Dari sini, ada quack-y science yang berusaha connect the dots antar si pola yang similer ini. Nah, atas kemiripan pola ini, ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah indirect symbol ke interconnectedness dan universal mind. Pola ini juga kurang lebih dibahas kalau si pola-pola ini akan pada akhirnya fit itself onto the puzzle, hingga kita yang dulunya super individualistik, menjadi sama dengan orang disekitar kita, dan menjadi gerigi yang menjalankan jam dengan orang dari negara kita, lalu negara kita akan menjadi gerigi untuk region seperti South East Asia, hingga akhirnya region ini adalah gerigi untuk planet Bumi.

Layaknya di Star Trek yang gak ngeliat international waters sebagai perbedaan asal negara, tapi melihat international waters sebagai lautan, dan setiap penghuni planet adalah warga dari planet itu.

Kembali ke Holarchy of course… Nah, dari teori holon ini, akhirnya kita akan menyatu dan melupakan border international dan menjadi warga planet Bumi.

Ini sedikit mengingatkanku pada bendera-bendera di Star Trek… Ketika logo dari bendera planet Bumi adalah sebuah bumi-nya sendiri.

Nah, tentunya masa depan Star Trek masih super duper jauh (Kalau akan ada intergalactic waters ala Star Trek nanti… semoga aku masih hidup untuk witness itu). Tetapi tentunya pola ini juga ditemukan di evolusi. Sejak bakteri pertama bahkan…

Saat bumi ini masih baru saja menjadi sebuah planet dengan air, tanpa adanya kehidupan… Kehidupan itu muncul begitu saja. Stephen Hawking pernah membahas probabilitas sebuah planet dengan adanya kehidupan ini… Dan sejujurnya belum ada pola. Kecuali nanti nongol di Multiverse tiba-tiba ada pola satu universe satu planet hidup. Intinya so far belum ada pola.

Tapi, sejak adanya kehidupan dalam bentuk algae dan bakteria, kehidupan bertumbuh makin kompleks, dan kompleks, dan kompleks. Si Bakteri, atau universal governor ini kekeuh bosen dengan apa yang ada dan menyuruh hal-hal kecil, yang lebih kecil dari debu ini untuk menyatu, dan membentuk hal baru.

Hal baru ini akan terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, terbentuk dan terbentuk sampai… entah kapan. Intinya, alam semesta, atau Universal Governor ini akan terus menciptakan hal baru dengan cara menyatukan banyaknya hal yang sudah ada ini. Sampai ada suatu spesies, atau realitas baru yang tercipta…

Nah, tentunya, sekarang si Universal Governor ini rada mentok dalam mau maksa evolusi… Ini nih manusia, dikasih otak malahan ngerusak bumi. Jadi mungkin dia akan maksa dan membuat sebuah generasi yang hidupnya super duper rely ke sosmed, teknologi, dan internet 😀 . Jika kita akan menjadi spesies yang lebih kompleks dalam jutaan tahun, si Universal Governor ini akan mencari cara untuk memaksa kita menjadi lebih kompleks dalam waktu yang gak selama itu.

Oh, tapi mungkin aja sih kita tidak akan physically menyatu dalam catatan sebuah spesies, mungkin saja kita akan menyatukan pikiran kita, dan yah… sudah dibahas di atas. Tapi, pola pikiran ini belum ada sayangnya… Karena so far baru Manusia yang cukup intelijen untuk interconnect minds secara manual. Tapi for your information, struktur otak Lumba-lumba jauh lebih kompleks dari struktur otak kita, dan manusia rata-rata IQ-nya dibawah seekor simpanse…

On topic…

Nah, sekarang baru aku mau bahas teknologi, dalam konteks dimana si mesin akan (ATAU SUDAH bahkan) menyatukan kita…

Global Connection

Sekarang untuk menyatukan kami para manusia, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tentunya ada metode yang “paling” mudah. Sekarang jarak antara negara dan border mulai makin invisible. Seperti seringkali dibahas. Kita akan mengetahui sebuah pengeboman di Syria, dalam waktu yang sangat rendah. Mungkin jika dihitung berapa lamanya, paling lama berita tentang terrorism gitu mungkin teh udah ada di website berita Indonesia sesuai dari waktu tempuh Jakarta Bandung, sebelum macet tentunya. Sekitar 90-120 menit.

Tentunya ini semacam bukti dari blurring dan pengurangan jarak antar dua tempat ini. Meski kita gak physically ada disana, kita sudah ada di sebuah stream of ideas. Dimana kita menerima, ataupun memberikan informasi ke seluruh dunia.

Sekarang juga, dengan membaca artikel ini, kita sudah support Interconnectedness dan memperdekat jarak antara diriku dan dirimu. Gak, ini bukan joke referensi PDKT, kaya kadang aku suka nge cie in kalau keluar kata berduaan… Kali ini serius.

Interconnectedness sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu koneksi pemikiran dalam skala global.

Nah, untuk itu, aku akan mengambil internet untuk cross reference si koneksi pemikiran ini… Aku akan google internet dengan internet… 🙂

Definisi mentah, langsung kopas: a global computer network providing a variety of information and communication facilities, consisting of interconnected networks using standardized communication protocols. (Sebuah komputasi [penghitungan] global  yang memberikan bermacam jenis informasi dan fasilitas berkomunikasi, yang termasuk network interconnected menggunakan protokol komunikasi)

Dari definisi mentahan aja ada kata yang sangat mirip, yaitu global network dan communication, dan bahkan ada kata interconnected juga. Untuk pemikiran, tentunya bisa digunakan sinonim Ide, dan kurang lebih, banyak orang bertukar ide di internet. Ide yang ditukar-menukar ini… Kualitasnya gak usah dibahas, emang ada banyak typical internet people, tapi tetep, kasarnya dia sebuah ide yang ditransfer.

Udah dong ketemu modern day interconnectedness… Quest kita selesai!

YES BEBAS!

(OY AZRIEL!)

Ah shoot, diprotes…

(Kamu lupa bahas AI 🙁 )

AI itu bahasa jepang untuk cinta… Jadi AI KAMU! itu bisa ditranslate jadi cinta kamu :3 …

(Enough of the jokes… bahas AI dong…)

Takut terkesan dark…

(Nasib, udah dijanjiin)

Ya sudahlah, mari berkomitmen…

Percakapan antara diriku dan pikiranku sudah dituangkan, jadi, mari kita bahas Artificial Intelligence, dan bagaimana dia bisa semacam mengikuti pola yang aku maksud diatas, atau bahkan menjadi Interconnectedness planet bumi yang selama ini dicari-cari sama Universal Governor ini…

Interconnectedness in Artificial Intelligence

Jadi, ingat kalimat ini sebagai disclaimer di conversation di atas Takut terkesan dark… Ini memang terkesan dark. Bukan hanya dari teori grow-smarter-and-destroy-humanity-thing-y . Tapi memang, mereka bener-bener bisa… like… yeah replace us.

Jadi… Artificial Intelligence bisa berupa software seperti Ultron, dan Skynet, ataupun juga bisa hardware seperti Baymax. Ultron dan Skynet ini yang akan diambil dan dibahas di artikel ini.

AI macam Ultron dapat dengan mudah membuat kopian dirinya dan memindahkan kesadarannya ke sebuah mesin lain. Dia juga bisa menyuruh mesin untuk membuat dirinya agar banyak fodder machine untuk mentransfer dirinya sendiri. Selain mentransfer kesadarannya yang se infinite internet (literally), dia bisa menduplikasi dirinya. See where this is going?

Singkat cerita, AI akan dengan mudah mengcover universal mind dan interconnectedness pada level global karena jika seluruh penghuni bumi non-organik, mereka punya suatu built in Interconnectedness, dalam bentuk internet, yang punya definisi yang nearly sama persis 🙁

Selain itu, dia bukan cuma bakalan menyatukan pemikiran planet bumi ini, tetapi mereka juga jauh lebih pintar dari kita. Dan mereka gak kena bias emosi. Jadi jika musuh bumi terbesar saat ini adalah Trump dan Kim Jong Un… Well, dalam beberapa bulan/tahun, mereka akan menjadi AI. They outsmart us, they ignore their feelings, cause they don’t have any, they are basically connected by design.

Jadi buat apa Universal Governor ini nyimpen kita… eventually entar bakalan diganti sama model baru juga… pertanyaannya kan kapan…

TETAPI! Ingat, Universal Governor ini gak bakalan ngebunuh kita, atau menciptakan pembunuh kita kecuali dia bener-bener perlu. Wait, kayanya prosesnya udah dimulai deh… Oh dear…

Virus!

Bukan virus komputer, tapi virus yang berusaha dimusnahkan di board game macam pandemic!

Yeah well, virus ini spesies baru yang ukurannya EXTREMELY kecil. Tidak mengikuti proses atau pola yang sudah ada… Dan yah, dasarnya ada cult atau conspiracy theorist, yang support bahwa Virus akan memushankan manusia. Karena mereka gak peduli sama pola yang udah ada, dari bakteri ke tumbuhan, dan lain-lain tadi, dan sampai akhirnya, mereka memang senjata paling ampuh untuk genosida spesies…

Hanya paragraf pendek aja, dari dunia filsafat dan biologi, virus itu hal super baru dan dia semacam keluar dari pola, jadi mungkin aja tujuannya dia diciptakan untuk memusnahkan kita… Kenapa tidak? 🙁

In Conclusion

Kesimpulan hari ini… Mungkin terkesan dark…

Gak ada tujuan dari kita udah stray dari tujuan dan logika mendasar spesies. Gak ada nilai plus dari kita berusaha untuk survive. Semua hal yang dimulai ada ujungnya, dan sejujurnya, waktu yang super relatif ini akan menentukan. Kenapa menurutku gak ada tujuannya dari kita berusaha survive atau stray dari logika mendasar spesies?

Sejujurnya menurutku sudah cukup telat. Dengan AI yang makin maju itu, dan virus yang makin kuat itu, dirasa dua itu yang akan balapan mengalahkan kita… Apakah kita akan mati dengan cara organik atau anorganik tapi? nah…

Untuk memberi cahaya dan membagi sedikit hope 🙂 . . . Kembali ke menjauhi atau stray dari logika mendasar spesies. Manusia cukup pintar untuk berhenti, mengembangkan AI manusia cukup pintar untuk membunuh virus. Hanya saja, kapan kita akan berhenti? Jangan sampai Loren Allred benar dan… ini terjadi….

Yah well, just feel that what you have is enough, and everything will be fine 😉

Sampai (semoga) besok!

PT Barnum: Kisah Seorang Pemimpi

PT Barnum: Kisah Seorang Pemimpi

Greatest Showman related stuff… lagi…. dan lagi…. dan lagi….

Seperti aku pernah bilang, their songs will never be enough… Yah, intinya adalah, film seperti Greatest Showman akan either memikatmu sampai kamu nonton 6 kali (FYI aku gak nonton 6 kali juga, hanya metaphor), atau kamu gak mau nonton lagi.

Tetapi yang orang-orang gak tahu adalah Greatest Showman adalah film yang largely fictional. Di beberapa pembahasan soundtrack ku, aku udah bilang bahwa yang namanya Phillip Carlyle itu karakter yang fiksi, dan sebenernya banyak perubahan nama dari film itu, tapi kurang lebih garis besarnya, mirip sih…

Jadi, buat yang kepengen masuk ke dunia nyata, meski PT sudah seringkali menghapus garis batasan antara fantasi dan kenyataan, silahkan saja lanjut ke bawah.

Barnum and Bailey’s Circus

“Tuan Barnum, harus kuakui, kamu orang yang punya imajinasi liar, dan aku percaya bahwa orang-orang kelas bawah juga pantas tersenyum dan menikmati sebuah pertunjukkan” Pertanyaan James Anthony Bailey cukup mengintrik PT Barnum, yang sambil memutar-mutar topinya menjawab…

“Tentu, sesudah kesuksesan ku dalam membawa banyak hal yang tak nyata, seperti Tom Thumb, Manatee, dan makhluk kecil lainnya, kamu akan ke aku untuk mengkhayal dan keluar dari dunia nyata”. Jawabnya, dengan senyuman khasnya.

“Aku yakin, jika aku memutuskan untuk membuka bisnis pertunjukan untuk kelas rendah seperti yang kamu lakukan, aku akan ditertawakan habis-habisan. Jadi, bagaimana jika kau kupinjamkan uang untuk membuka sebuah sirkus?” Tawarannya tentunya sulit ditolak…

“Aku akan menerimanya, tentunya senyuman para penonton adalah harga yang tidak bisa dibayar dengan uang”

Barnum sendiri bukan seorang pebisnis sirkus… Iya memulai bisnisnya dengan membuat beberapa “Hoax” seperti jendral kecil yang pendek itu, dan beberapa hewan yang gak tampak nyata.

Ketika hoax-hoax Barnum ini menjadi kabar burung di kota, seorang playwright bernama James Anthony Bailey memutuskan untuk sesekali memberikan sebuah show yang mistis, dan bukan sekedar drama. Bailey tetapi sangat takut untuk kehilangan status sosialnya yang tinggi. Jadi, dia mengontak Barnum, dan menawarkan pinjaman dan kontrak untuk membuat sebuah sirkus di Manhattan.

Tentunya seluruh perjanjian ini dibuat hanya untuk menghasilkan uang untuk Bailey, dan Bailey sendiri tidak mau diberikan relasi nama dan kontrak yang publik oleh seseorang yang memicu kontroversi super cepat.

Sirkus itu akhirnya disebut Barnum and Bailey’s Circus (sedikit aneh, mengingat Bailey gak mau afiliasi yang bisa merusak namanya karena dia bekerja dengan Barnum), dan dengan harga tiketnya yang murah, para penonton yang datang kesini langsung takjub gak kepalang. Mereka memang terbilang kelas rendah di zamannya, para buruh, tukang jualan buah, tukang koran keliling, tukang pos, atau mungkin di Indonesia, mang-mang baso… Tapi mereka dapat mengalami suatu hal yang mengagumkan.

Namun, sayangnya, sirkus ini, terutama para Siegfried, alias para performer di sirkus ini ditolak masyarakat umum. Mereka yang aneh ini dianggap merusak nama baik kota, dan juga penduduknya, karena mereka hanyalah suatu hoax dan suatu hal yang palsu.

Banyak sekali konflik terjadi pada sirkus ini, dan sejujurnya banyak orang kurang yakin apa saja yang terjadi, dan pas-nya kapan, karena dengan banyaknya drama dan event di Greatest Showman yang perlu di cross check kebenarannya.

Pada akhirnya, sirkus ini emang kebakaran sampai habis, dan penghasilan sirkus ini diambil Bailey, semua ketika PT sedang touring membawa penyanyi Opera dari Swedia… Jenny Lind.

Jenny Lind ini memang tokoh nyata, dan PT Barnum memang mengajaknya tour ke seluruh Amerika. Bukan hanya untuk menaikkan status sosialnya, tapi juga untuk menghasilkan uang tentunya.

Meski begitu, jika kita memang benar-benar mau membahas hidupnya PT secara kronologis, kita harus kembali ke saat dia masih anak-anak… dan ya… ceritanya menarik 🙂

Early Life

PT Barnum memang anak dari seorang tailor, sama seperti di film. Dan iya sangat-sangat miskin. Tetapi tidak seperti di filmnya, ayahnya tidak meninggal saat dia masih umur remaja, melainkan ayahnya meninggal sesudah ia mendapatkan pekerjaan pertama-nya. Jadi dia tidak pernah menjadi street cred juga seperti di Greatest Showman. Meski ia bukan anak jalanan juga, status sosial PT Barnum masih terbilang rendah.

Pekerjaan pertama yang ia dapatkan adalah sebagai seorang penulis koran lokal, dan dia masih berada di kota kelahirannya, yaitu Bethel, di Connecticut.

Sebelum ayahnya meninggal ia sudah menikahi istrinya, Charity Hallett… Asal Bethel, dan sayangnya tidak berasal dari keluarga kaya. Dalam Greatest Showman, itu hanya sedikit dramatisir saja untuk mendeskripsikan cinta-nya Charity pada PT Barnum.

Ketika ayahnya sudah pulang, ia baru mulai merantau bersama istrinya ke New York. Sepanjang perjalanan dari Connecticut ke New York, ia membuat beberapa show untuk mendapatkan uang, sebagai modal memenuhi impiannya di New York. Masuk ke show business.

Ketika dia tiba di New York, beberapa orang sudah mulai kenal pada nama Barnum, karena dia membawa seorang Budak yang buta dan sudah kejang-kejang sebagai pertunjukkan untuk orang-orang. Uniknya, karena dia membawa budak berkulit hitam, pada zamannya, ini tidak menjadi kontroversi, malahan jadi hiburan 🙁 Ia juga membawa seorang suster yang dia klaim sebagai mantan suster dari Presiden George Washington.

Impiannya bisa dibilang tercapai di New York…

Masuknya Barnum Dalam Bisnis Pertunjukkan

Barnum sampai di New York dengan sebuah tujuan, yaitu membeli sebuah teater tertutup di Broadway.

Untuk itu, Barnum rada… nekat dan memanfaatkan loophole dan meminjam 1000 USD dan membeli teater tertutup tersebut, mengubahnya menjadi sebuah Museum.

Tidak seperti di Greatest Showman, Barnum membuka Museum ini dengan gaya ala sirkus, tetapi tanpa teatrikal amazement-nya. Dia hanya memajang beberapa manusia aneh, dan suruh mereka menjadi dirinya sendiri. Museum ini tidak sepenuhnya laku, tetapi itu lebih dari cukup untuk mengundang beberapa orang untuk datang ke Barnum Museum miliknya ini.

Sesudah ia bosan dengan menampilkan hal yang sama, pada tahun 1842, ia mulai membuat hoax dalam skala besar. Hoax pertamanya diketahui sebagai Jendral dengan nama Tom Thumb. Jendral ini ia bilang sebagai mantan Jendral, namun ya, jika belum ngeh juga, kata hoax yang udah dibilang beberapa kali ini… Memang membuktikan bahwa marketing dan image dapat mengubah suatu fakta.

Tom Thumb ini cukup laku karena sepertinya orang-orang di zaman itu super suka sama yang namanya freaks… General ini dibayar untuk diketawain orang karena pendeknya dia. Selain Tom Thumb, Barnum juga membuat hoax lain bernama Feejee Mermaid, seekor Manatee dengan kepala Monyet.

Rada gak jelas sebenernya para hoax ini, karena banyak orang punya masalah membuktikan keasliannya…

Tetapi Hoax ini memberikan dia kesempatan super besar. Ketika berita panas mengenai makhluk aneh punya Barnum ini mulai mendingin, baru dia dikontak oleh James Anthony Bailey.

Bailey’s Offer

Ketika ia bertemu dengan Bailey ini, PT Barnum langsung nerima tawarannya untuk membuka sebuah sirkus yang berisi hal-hal super aneh, tetapi dengan gaya teatrikal sesuai saran dari Bailey.

Sesudah sirkus ini menjadi show yang cukup laku, lucunya, Barnum sendiri tidak pernah memanage si sirkus ini sesudah koreografi dan sirkus gak jelas ini tercipta…

Ia malahan touring ke Eropa dengan Tom Thumb, menghasilkan cukup banyak visitor dan duit setiapkali ia menawarkan sebuah museum untuk menjadikan si Tom Thumb ini sebagai temporary exhibit.

Dasarnya, manusia pendek ini hanyalah aset, dan Barnum sendiri sebenernya gak terlalu peduli sama sirkusnya, karena ia tidak pernah berada di sana ketika sirkus ini booming di kotanya.

Nah, anehnya lagi, Barnum hanya ngeliat orang-orang sebagai sebuah metode mendapatkan uang, dan dirinya dengan hati pemimpi dan pengkhayalnya bertemu dengan Jenny Lind. Opera singer asal swedia ini super duper laku di Eropa, dan ketika Barnum datang padanya, ia menawarkan Miss Lind ini untuk ke Amerika.

Eh, bentar, sirkusnya gimana?

Welp, sirkusnya cukup laku, dan dia sendiri gak pernah terlalu peduli pada sirkusnya. Yang rada sedih adalah fakta bahwa ia hanya memberi instruksi dan panduan dasar untuk si sirkus, dan para anggota museum ini makin ke sini makin laku. Tapi ya, tetep aja sih, banyak sekali hater-nya.

Nah,  kembali ke Barnum… Dia pulang ke USA dengan sebuah aset baru. Miss Jenny Lind.

Jenny Lind’s Tour

Ya… PT sendiri gak pernah peduli sama sirkusnya, dia cuman pengen terkenal, dan kayanya ini membuat Bailey kesel… tapi sebelum kesitu, kita bahas dulu tour-nya Jenny Lind, yang berjalan pada 1850.

She made Barnum pretty rich.

Tapi err, Barnum sendiri naik level swag-nya sesudah ngebawa Jenny ke tour ini, dan dia sangat senang ketika ia beneran naik status sosialnya. Sedihnya adalah, Jenny Lind sendiri merasa lonely, dan dia kabur saat tour… Pas-nya di show nomor 93.

Jenny Lind cukup pintar, gak kaya para Siegfried, untuk tahu bahwa Barnum cuman ngeliat dia sebagai aset, karena sepanjang dia tour, kesan yang didapat adalah overexposure dan juga overmarketing. Miss Lind ngerasa ini hal super gak aman buat dia, jadi langsung cut ties dan dadah Mr. Barnum. Beres cut ties dia langsung kabur.

Kaburnya Jenny Lind ini ngebuat Barnum rugi… 🙁 Dia tetep harus bayar sewa buat 37 show lagi (130 show tour), dan Jenny-nya sudah dibayar. Dari biaya tour, biaya sewa, dan biaya champagne… dia kehilangan 500.000 USD, which is a lot! Sisa uangnya Barnum dibawah 25.000 USD sesudah kerugian dia dalam tour ini.

Dan untuk merusak team morale lagi 🙂

Bailey menutup sirkus milik mereka berdua secara paksa…

Burn The Circus DOWN!

Ketika Barnum touring bareng Jenny Lind… Bailey tahu bahwa sirkusnya ga diperhatiin lagi. Dia ngerasa ini udah gak sehat, terutama mengingat apa saja yang sudah terjadi dengan marahnya beberapa warga ke si sirkus ini…

Jadi, dia menyewa beberapa orang dari Angry mob ini untuk membakar sirkusnya. Semua persentase yang Barnum pantes dapetin diambil sepenuhnya sama Bailey. Yeah, pasti heartbroken banget sih ketika dicolong hak dan duitnya, terus udah rugi finansial juga… Itu mah udah… sempurna untuk breakdown! Tapi, Barnum cukup pinter untuk menggunakan sisa duitnya untuk membuat sirkus yang lebih dia perhatikan!

Akhirnya dia membuat sirkus baru, ketika umurnya 46 tahun, kurang lebih di tahun 1856 (4 tahun sesudah kejadian sirkus dan juga gagalnya dia dengan tour Miss Lind), dia membuat sirkus dengan format yang masih kepake sampai sekarang. Sirkusnya dalam tenda portable 😉 dan dia tour keliling suatu negara, city by city.

Jadi, sebenarnya yang Barnum lakukan itu hanyalah mencampur beberapa hal menjadi sirkus yang formatnya masih kepakai sampai sekarang…

Hal yang dia campur termasuk: Touring untuk lebih banyak duit, teater, hal-hal aneh agar orang harus ngayal, dan juga tentunya, showmanship.

Meski Barnum disini jauh lebih jerk-ish dan penuh skandal, tidak seperti filantropis di Greatest Showman, brilliance-nya sangat-sangat tidak perlu di question…

In Conclusion

Persistensi…

Barnum itu orang yang kayanya masih ditendang ketika udah jatuh ke tanah. Tetapi dia cukup persisten untuk berdiri lagi, meski dia udah babak belur.

4 tahun sesudah dia gagal total, diambil segala propertinya, dibakar sirkusnya, dan juga dikhianati… Ia tetap punya banyak ide dan akhirnya diingat sebagai raja dari para sirkus 😀 . Semua itu cuman gara-gara dia mau hemat dan incorporate metode tour yang dia lakukan dengan hoax-hoax dan aset miliknya.

Tentunya, meski dia sangat scandalous, dan fraud-like, dia tetap memorable karena banyaknya ide dia untuk show business, sambil convince orang-orang aneh untuk di respek sama society… Jadi, terkadang seberapa buruknya seseorang, pada ujungnya, dia tetap meninggal sebagai orang nyeleneh super pede, yang kalau dikatain sama koran sebagai fraud… malahan dia sindir tuh koran dengan nulis buku dengan judul itu… (sama juga untuk humbug).

Sampai besok 🙂

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Dalam dunia nyata, infinite mind bisa saja berarti sebagai sebuah terapi dari PTSD, dan abis baca-baca dikit tadi pagi yang terkesan adalah sebuah motivational-y things. Dan yah, itu rada-rada gak cocok sama bayanganku.

Nah, tapi Infinite Mind di dunia filsafat punya arti yang berbeda… karena sebenarnya dari topik interconnectedness dan universal mind, sebuah Infinite Mind adalah governor dari Universal Mind-nya sendiri. Dan dia semacam supir dari mobil alam semesta ini.

Catat sedikit dulu, bahwa pertanyaan hal yang membuat alam semesta ini tick dan tock selalu diberikan jawaban jelas, dan dogmatik. Terus jawaban ini juga biasanya terhubung dengan dunia supernatural, dan jawaban ini turun dari generasi-generasi sebelumnya, tanpa ada yang mau bother ngedebat sedikitpun… Atau kalau didebat dianggap rada-rada gila dan aneh orangnya.

Jawaban ini biasanya dijawab dengan jawaban… tuhan. Dan… err… yah turun dulu dikit dah.

Tapi, karena ini subyek sensitif, harap catat disclaimer ini dulu sebelum masuk dalam artikel:

Artikel ini membahas dari perspektif filsafat, jadi dimohon untuk jangan nyangkut di paradigma dari yang kita ketahui, dan tolong jangan menilai di muka…

Untuk sekarang juga tolong sedikit kesampingkan definisi tuhan dulu, karena jawaban itu sudah terlalu pasti dan solid sehingga tidak bisa didebat dari perspektif empiris.

Sesudah disclaimer rada panjang, langsung weee masuk yuk…

Defining Infinite

Nah, kalau kita mau masuk rada dalem… gak mungkin kalau gak punya definisi infinite… Nah, of course semua orang tahu logo infinite gimana, dan kurang lebih itu membahas sebuah cycle yang ga berhenti-henti, makanya dia logo-nya gak punya ujung. Tampak seperti sebuah loop…

Tapi, dasarnya Infinite itu berarti sesuatu yang… mengagumkan, tapi dia… err, menurut orang Yunani dengan konsep Apeiron mereka, infinite itu sia-sia, dan juga menakutkan…

Sebelum kujelasin, ada juga definisi lain dari infinity, yang berarti tak terbatas. Karena gak ada batasnya itu, dia jadi tak jelas, alias Gaje, dan juga, dia gak mau terikat dan terestriksi sama suatu peraturan… Alhasil, infinity adalah sesuatu yang… tampak… chaotic. Dari kata chaotic itu, dia branch out ke suatu hal yang kuat, tapi menggunakan kekuatannya untuk hal semena-mena.

Karena membaca paragraf rada panjang gitu mungkin aja membingungkan… jadinya kubuat jadi chart aja deh…

  • Infinity = mengagumkan. Menurut orang Yunani… Rasa kagum dari infinity itu menakutkan.
  • Infinity = sia-sia, karena dia tidak tak berbatas, info mengenai dirinya jadi gak jelas
  • Infinity = gak jelas, karena dia gak mau terikat ataupun terestriksi aturan, jadi dia gak punya bentuk. Menurut hukum alam, hal yang gak punya bentuk ataupun tujuan, itu hal yang… semena-mena.
  • Infinity = chaotic, tentunya kalau gak ada bentuk dia chaotic.

Nah, sekilas, sesuatu yang gak ada batasnya itu… negatif banget. Dan apakah sesuatu yang berbatas itu hal yang baik? Gak juga sih, kalau kita liat dalam perspektif seperti… ini.

  • Finite = terbatas, tertib, tertata, jelas, dan aman
  • Finite = pasti, hal yang aman biasanya aman karena dia jelas
  • Finite = Harus diperjelas, dan harus ditata, kalau belum jelas, buat sampai dia jelas.

Nah, jika ngeh, hal yang bersifat positif aku buat italic, dan aku ubah warna dari hal yang jelas negatif… Tapi, sekali lagi, coba pikir deh… Ini itu mirip banget sama konsep Order and Chaos dari orang Mesir. Jadi, infinite dan finite ini, konsep yang berarti order and chaos, dimana satu itu rapih dan tertata, dan satu itu berantakan, dan perlu ditata.

Keduanya sama-sama netral, gak ada yang negatif ataupun berbahaya…  karena sesuatu yang chaotic juga sebenernya ga selalu negatif kok. Cuman ya berantakan dan kacau aja 😉

Apakah Realitas Finite?

Nah, beres dapetin definisi, langsung masuk pertanyaan terbesar hari ini, dan sejujurnya ini akan membawa kita kembali ke Democritus, terus ke fisika quantum, dan sejujurnya sangat-sangat membingungkan.

Untuk mencari tahu apa realitas yang finite, kita harus cari bentuk-bentuk lain dari realitas tentunya. Selama ini, orang-orang (or at least physics) menjelaskan bahwa realitas berdasarkan dua cara, atau mungkin arah adalah istilah yang lebih tepat.

Ada orang yang melihat dari ukuran paling massive ke ukuran kecil, ada orang yang mencari tahu dari hal-hal yang lebih kecil dahulu sebelum melihat yang besar.

Dari situ kita bisa lihat, apakah ada hal yang infinitely small, dan apakah ada hal yang infinitely large?

Untuk patokan abstrak, cukup pake yang namanya angka 🙂 Abstraknya, ada satu hal yang infinite, dan ada angka yang belum ada batasnya, tapi terbatas. Jadi sayangnya untuk patokan abstrak, yang biasaku bahas, gak bisa dipake hari ini…

Nah, untuk pertama-tama, kita bahas yang paling kecil dulu sebelum kita masuk ke yang besar…

Infinitesimal (Infinitely Small)

Kembali ke Democritos, orang yang pertama kali memunculkan konsep Atom…

Dan konsep dari Atomos (ancient greek for Atom) sendiri adalah unsur yang tidak bisa dibagi lebih lanjut lagi menjadi hal yang lebih kecil, dan kecil lagi. Untuk itu, apakah karena dia gak bisa dibagi lagi dia jadi sesuatu yang, tidak terbatas?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan itu Atomos sendiri berarti, indivisible, dan andaikan kita mengambil tali sepanjang 30 centimeter, dan membaginya sampai habis, dan habis, dan habis, mengikuti Paradoks Zeno, mencari titik tengah dari suatu hal sampai tepar…

Coba bagi tali pendek, menjadi dua, dan bagi tali yang udah jadi dua itu jadi 4, dan ulangi lagi sampai jadi 8, dan ulangi sampai kamu pusing, dan serasa seolah-olah si tali itu udah gak ada batasnya… Well… umm… Yah, andaikan si tali itu udah dipotong menjadi kecil banget itu… dia tetap saja merupakan bagian dari satu tali yang finite itu… Kalau ini terkesan kaya holarchy, atau kaya quanta… sabar… (or click the holarchy article)

Menjawab pertanyaan di atas tadi…

Justru kebalikannya sih… Sanking kecilnya dia sebenarnya terbatas. Dia tidak cukup kecil untuk jadi sesuatu yang infinite, karena suatu hal itu tidak bisa terlalu kecil untuk menjadi berbatas. Eh tapi kan sekarang kita udah di abad ke 21, dan di abad ke 21 ini, konsep sesuatu yang paling kecil itu Quantum particles…

Yap itu ada betulnya, dan bahkan sampai sekarang, banyak hal yang terbilang serba relatif gara-gara Quantum Gravity… Tapi dari penemuan quantum fields, dll, banyak hal yang akan (atau sudah) berubah… Untuk itu development perspektif kita harusa kembali ke ruang-waktu dan partikel sejak zaman Isaac Newton…. relevansi akan nyusul di bawah.

Jadi, awalnya Newton bilang bahwa ruang dan waktu itu dua entitas terpisah, dan partikel itu sudah cukup untuk menciptakan suatu hal yang baru… karena dia adalah entitas sendiri… Dari sini lah

Terus nongol Faraday – Maxwell, dimana partikel itu gak ada artinya sampai adanya medan gelombang yang mengubah banyak hal. Then we have Einstein’s Special Relativity, yang setuju pada teori Faraday dan Maxwell yang bilang bahwa medan dan partikel itu terpisah… tapi ruang dan waktu itu nyatu dan saling bisa mempengaruhi satu sama lain…

Einstein pun belum beres sih, dia juga bilang di general relativity, secara teknis medan juga bisa mempengaruhi ruang, dan ruang bakalan mempengaruhi waktu. Hubungan segitiga antara medan,  ruang dan waktu ini disebut co variant fields.

Eh terus ada Quantum mechanics 🙂 yang pecah lagi, dan bilang bahwa dalam dunia quantum itu, medan dan partikel itu punya 2 way relationship yang mirip banget sama ruang-waktu. Tapi si Quantum mechanics pun malah jadi makin nyatu lagi… Nah, dari quantum mechanics ini, baru naik dia ke yang paling baru… quantum gravity. Dimana segala sesuatu itu relatif, dan akan berubah sambil mempengaruhi satu sama lain…

JAMIN PUSING! Iya kan? Jangan bohong lu… 😀

Kalau ga pusing bagus! Tapi kalaupun iya gapapa, it’s a bit hard to take in…

Nah, apa relevansi ini sama filsafat dari infinity? Well, intinya, teori mengenai alam semesta ini akan terus menerus berubah, dan kadang menjadi lebih sederhana… tapi seringnya sih jadi makin rese dan memberi migrain. Tapi, ya, ini menunjukkan bahwa suatu universe quanta yang infinite itu mungkin aja kok…

Oh wait, kita belum masuk quanta…

Bentar dulu, sebelum masuk quanta, so far, perspektif kita mengenai alam semesta ini makin kecil, dan mengecil, mengecil untuk sekarang, dan kayanya kalau kita bicara hal yang relatif ini, apakah mungkin kalau yang menjalankan alam semesta itu sebuah partikel yang infinitely small? Well balik lagi… nggak… Nah, sekarang baru masuk quanta…

P.S. sorry, se sorry-nya sorry kalau pusing, karena memang sejujurnya, ini overwhelming. Mengingat ada satu hal yang mematikan teori lain karena sebuah argumen absolut… Jadi, dia cukup rese… Ya, oleh karena itu… maaf banget kalau bingung.

Quanta! Pembunuh Argumen Infinitesimal

Menurut quantum physics, Quanta (atau bagian) dari realitas itu adalah benang-benang yang menenun dirinya menjadi suatu bentuk atau force yang fundamental. Pada dasarnya si realitas ini dibangun dari bagian yang finite, baru menjadi satu.

Tapi apakah si satu ini infinite? Yah sedikit menaikkan hope reader dulu… Hasil jaringan antar tenunan benang ini gak berbentuk! Wah cirinya Infinity!

Nah, sekarang membunuh argumen infinitesimal-nya… Gak dia gak infinite, cuman gak ada bentuknya aja… Kenapa bisa ada batasnya? Jadi ya, pertama-tama meski dia gak ada bentuknya, tenunan ini terbatas, dan bisa diukur… Meski dia gak pernah nyangkut dalam suatu stasis dan selalu berubah, dia selalu ada di masa kini, tanpa peduli apapun yang pernah ataupun akan terjadi.

Nah, tetapi sekali lagi, perubahan quanta ini terbatas, karena kembali lagi ke poin pertama… jaringnya sendiri sudah terbatas, dan suatu hal yang truly infinite itu pasti-nya fundamentally infinite… Dan lagian, kalau perubahannya bisa diatur dan diprediksi, meski dia diluar dari batas waktu, tetep aja finite.

Okay, jadi sesudah semacam membunuh definisi bottom to top dari infinite universe, sekarang coba nyatetnya dari bawah ke atas!

Infinitely Large?

Tanpa maksud memberi harapan palsu… err… jadi, ketahui saja bahwa alam semesta kita itu hanya satu dari sekian banyaknya alam semesta. Dan semua alam semesta ini bisa diukur dengan perubahan quanta, jadi ya, benang tadi masih merupakan aspek dari suatu angka infinity ini. Dan karena itu, kayanya kecil sekali kemungkinan ada suatu yang massively infinite… Maafkan…

Objection!

Layaknya sebuah lawyer yang gak terima kliennya bersalah, ada saja penolakan yang dibuat beberapa orang…

Big Bang and Black Hole

Segala sesuatu ada awal dan akhirnya… Nah, kita sudah somehow narrow it down bahwa, big bang akan menjadi awalan dari si alam semesta ini, dan diakhiri oleh black hole.

Layaknya order dan chaos, akhir dan awal juga sama aja, dan eventually suatu ledakkan energi yang akan menciptakan alam semesta ini akan dimakan gravitasi, yang dihasilkan oleh ledakkan yang sama.

Pertanyaannya adalah, kalau emang alam semesta itu terbatas, shrink dan grow dari si alam semesta itu gimana? Dia akan tumbuh dan mengecil terus, mengikuti sebuah cycle yang endless… Sampai-sampai, ya… kesannya infinite kan?

Before and After the Universe

Kan sekarang pasti ya, ada big bang dan black hole… berarti ada awal dan akhir kan?

Nah, sebelum si awalnya itu ada apaan? Sebelum big bang ada apa?  Ada vacuum? Ada tuhan? (UPS, tetep sih, katanya Thomas Aquinas emang gini)… Nah jawaban yang paling lucu berasal dari Benedictus Spinoza… “Sebelum tuhan menciptakan alam semesta, tuhan menciptakan neraka untuk orang yang menanyakan penciptaan alam semesta.”

Yeah well, ada betulnya juga sih… Apaan yang ada sebelum ada alam semesta ini, dan apa yang ada sesudahnya? Ini mungkin menciptakan kebingungan… Karena jika yang ada hanyalah kehampaan, baik sebelum atau sesudah, tentunya setidaknya ada yang terjadi dari kehampaan itu sampai-sampai ada big bang…

Tapi, menurut Aristotle juga, the universe has not always existed. Jadi, tentunya, ada suatu sense yang tak berhingga untuk menciptakan suatu hal yang berhingga…

Atau mungkin aja kehampaan ini gak ada batasnya… who knows?

Alam Semesta itu merecycle dirinya sendiri!

Yah, kembali ke yang pertama, ketika awal dan akhir itu ada, maka suatu hal itu tampak seolah-olah infinite, karena sesudah suatu hal berakhir, maka ada hal baru yang mulai.

Jadi, ada orang yang menanyakan seperti ini… “Apakah cycle alam semesta itu tak berhingga? Atau dimensi alam semesta yang tak berhingga?”.

Sejujurnya aku kurang mengerti penjelasan ini, tapi, kayanya gak beda-beda jauh dari argumen pertama…

 

Dan kayanya segitu aja argumen dari para lawyer yang membela ketidak-berhingga-an.

In Conclusion

Mari kita simpulkan artikel hari ini…

Aku yakin sih pada ngarep, lah ini orang… ayo cepet dong bilang… APAKAH ALAM SEMESTA INI TERBATAS ATAU GAK!?

Untuk itu, aku mau minta maaf, aku gak mau menyimpulkan itu, silahkan simpulkan sendiri…

Tolong jangan marah 😀

Lucu gak sebenernya kalau pada ngeh… artikel ini tidak membahas sedikit pun mengenai Infinite Mind ini… Tapi coba deh, inget dikit, apa yang kira-kira menjalankan alam semesta ini? Nah…

Untuk itu, aku akan quote mendiang Stephen Hawking (Yes, aku sering banget ngequote Professor Hawking). Keberuntungan adalah suatu hal yang presisi, dan dasarnya dialah sebuah fundamental dari hukum fisika yang gak bisa dijelaskan dengan mudah. Namun, sebuah keberuntungan tentunya dicocokan untuk tiap orang. Tanpa ilmu filsafat, kita takkan bisa menjelaskan keberuntungan. Keberedaan kita sendiri merupakan sebuah desain yang dicocokan untuk kita sendiri, dan jika kita ingin hidup, tidak banyak yang bisa diubah mengenai itu.

Bingung koneksinya apa? Nah, koneksinya itu ada di Infinite Mind… Tentunya, yang mengendalikan alam semesta ini adil, dan mampu memberikan tiap orang kekuatan dan kelemahannnya.

Semoga artikel ini,  dapat menghibur dan mencerahkan, sampai besok 😀